AKTIVITAS IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH (IRM) DI KABUPATEN BANTUL, 1992 – 2002

unmetered
unlimited

AKTIVITAS IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH (IRM)
DI KABUPATEN BANTUL, 1992 – 2002
 Oleh Team www.web.unmetered.co.id
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Dalam perjalanan sejarah nasional, keberadaan organisasi Muhammadiyah memiliki peranan penting. Berbagai aktivitas dan amal usaha Muhammadiyah ditampilkan sebagai upaya menjawab dan mengantisipasi kebutuhan umat Islam dan bangsa, baik melalui jalur pendidikan, pelayanan dan peningkatan kesejahteraan sosial, penyediaan sarana ibadah, serta berbagai aktivitas keagamaan lainnya.[1]

1

 

Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada tanggal 18 November 1912 bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 di Kampung Kauman, Yogyakarta.[2] Dalam rentang waktu 90 tahun, aktivitasnya sampai sekarang masih dapat dirasakan hampir merata di seluruh daerah. Keberhasilan Muhammadiyah dalam membina umat, tidak terlepas dari ketepatannya dalam menentukan arah dan prinsip yang melandasi cita-cita perjuangannya, yaitu disamping meningkatkan kesejahteraan kehidupan umat sekaligus melakukan pemurnian ajaran Islam dan pembaruan dalam metode pemahaman yang dikenal dengan istilah tajdid. Terdapat dua perbedaan dalammemformulasikan konsepsi tajdid, yakni tajdid untuk mengembalikan kepada aslinya (pemurnian) dengan mengambil sumber hukum yang tegas (qath’i), dan tajdid sebagai modernisasi, ditujukan pada persoalan yang belum ada hukum yang tegas (dhani), seperti : metode, sistem, teknik, strategi dan sebagainya.[3]

Umat Islam di era modernisasi saat ini, dituntut lebih peduli dan terpanggil untuk meneruskan serta mengembangkan cita-cita yang telah dirintis oleh KH. Ahmad Dahlan. Perwujudannya dapat dilihat semakin maraknya pembangunan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi di daerah.[4]
Secara kuantitatif, Muhammadiyah telah berhasil menampilkan diri sebagai organisasi Islam dan organisasi dakwah yang paling berpengaruh sampai sekarang. Hanya saja secara kualitatif belum menampakkan keberhasilannya dalam mewujudkan gagasan pembaruannya dan lebih disibukkan oleh kegiatan rutinitas. Menurut pendapat M. Yunan Yusuf bahwa dalam proses perkembangan cita-cita tajdid Muhammadiyah lebih mengarah pada pemurnian ajaran Islam, sehingga terlihat isu sentral pembaruannya berkisar pada pemberantasan takhayyul, khurafat, syirk dalam bidang aqidah, serta membersihkan bid’ah dalam masalah ibadah.[5]Hal ini menimbulkan anggapan bahwa ide dan gagasan Muhammadiyah yang dicetuskan belum dapat mencapai sasarannya.  Menurut Harun Nasution, pembaruan tersebut tidak terbatas pada pemurnian dengan mengambil dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah tetapi pembaruan dalam menafsirkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ditambahkan pula, bahwa pembaruan itu juga mengandung fikiran, aliran, gerakan, dan usaha untuk mengubah pemahaman dan adat istiadat institusi-institusi lama dan lain sebagainya agar disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekarang, juga dampak yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.[6]
Dengan lahirnya pergerakan Muhammadiyah dalam sejarah Indonesia terbuka bagi perkembangan di berbagai bidang, baik sosial kemasyarakatan maupun bidang keagamaan.[7]Usaha tajdid yang dilakukan Muhammadiyah membawa perubahan dalam kehidupan keberagamaan dengan tujuan memurnikan umat Islam dengan sumber aslinya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.[8] Usaha tersebut berfungsi untuk membebaskan umat Islam dari belenggu kekolotan, kesyirikan yang bertalian dengan pemujaan pada pohon-pohon, batu-batu, dan benda-benda keramat, yang oleh sebagian masyarakat hal itu  masih  dipercayai . [9]
Ikatan Remaja Muhammadiyah (selanjutnya disingkat IRM) yang dibahas dalam studi ini merupakan salah satu organisasi otonom[10] Muhammadiyah. Dahulu organisasi ini bernama Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang didirikan di Surakarta pada tanggal 18 Juli 1961. Pada masa inilah para pelajar Muhammadiyah beraktivitas sampai dengan perubahan segmentasi garapan dari pelajar menjadi remaja.[11]
IRM merupakan organisasi dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar[12]di kalangan remaja dengan mengambil aqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pada hakikatnya, IRM memiliki arah pengembangan untuk mencapai sumber daya manusia yang optimal dalam kehidupan sosial keagamaan. Keberadaan IRM menjadi sangat penting, karena peranan pentingnya dalam kehidupan masyarakat mampu menambah wawasan keilmuan dan meningkatkan kreativitas remaja baik di bidang keagamaan maupun bidang sosial kemasyarakatan.
Sejak tahun 1992 sampai 2002, IRM sebagai organisasi sosial keagamaan mengalami perkembangan yang signifikan. Perkembangan ini didukung oleh struktur kepemimpinan yang terbagi menjadi kepemimpinan vertikal dan horizontal. Struktur vertikal terdiri dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, dan Pimpinan Ranting. Adapun IRM di Bantul merupakan organisasi yang berada pada pimpinan tingkat daerah, sedangkan struktur kepemimpinan horizontal terdiri dari Ketua Umum, Ketua Bidang atau Lembaga, Sekretariat Umum dan Bendahara Umum, serta Anggota[13].
Aktivitas IRM merupakan media pendukung usaha dakwah Islam Muhammadiyah, dan mengembangkan amal usaha Muhammadiyah agar dapat mencapai tujuan yang dimaksud.[14] Bentuk aktivitas IRM merupakan wujud dari pemahaman isi dan kandungan Al-Qur’an dan As-Sunnah, meliputi : bidang sosial kemasyarakatan dan bidang keagamaan, misalnya, bentuk pengajian umum, pengajian akbar, pelatihan-pelatihan kader, bazar, bakti sosial, dan lain sebagainya.[15] Dalam aktivitas organisasi IRM bertujuan untuk menumbuhkan kader-kader muda Muhammadiyah di berbagai tingkat struktural. Secara khusus IRM menyampaikan ajaran kebaikan dengan benar. Dalam pencapaiannya tidak terlepas dari peran mahasiswa, santri dan pelajar sebagai sumber daya manusia yang menunjang keberhasilan pelaksanaan program kerjanya. Peranan mereka menyelenggarakan kegiatan di kota memberi tambahan pengalaman dalam memacu kreatifitas berorganisasi mereka di tingkat daerah.[16] Kegiatan pendukung yang diselenggarakan oleh IRM  Daerah Bantul ialah mengundang mubaligh dari kota untuk mengisi pengajian. Dari kegiatan itu pertumbuhan IRM mulai meluas ke wilayah Bantul.[17]
Keberadaan IRM Daerah Bantul merupakan perkembangan organisasi sebelumnya yakni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (selanjutnya ditulis IPM). Di Bantul aktivitas IPM diawali dengan berdirinya group-group kelompok belajar (sekarang ranting) di Sanden, Srandakan dan Sewon pada tahun 1964-1965.[18] Setahun kemudian terbentuk IPM Bantul Selatan. Pada tahun 1966 pertumbuhan group-group kelompok belajar di beberapa tempat seperti kelompok belajar Trirenggo, Bantul Kota, Pandak, Imogiri, Kretek, Bambanglipuro dan Kasihan serta IPM Bantul Selatan, merupakan embrio bagi pembentukan pimpinan daerah IPM Bantul.[19]
Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul sendiri didirikan pada tahun 1965, kemudian selang 2 tahun didirikan IPM Daerah Kabupaten Bantul oleh Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1967. Pihak Muhammadiyah merestui keberadaannya dalam rangka melengkapi pembinaan kader yang sudah ada pada waktu itu, yaitu Pimpinan Daerah Aisyiah, Pimpinan Pemuda Muhammadiyah dan Pimpinan Daerah Nasyi’atul Aisyiah.[20]
Pada kurun waktu 1967-1971 sosialisasi IPM didukung oleh keberadaan lembaga pendidikan yang telah didirikan Muhammadiyah sebelumnya, yaitu Sekolah Lanjutan Pertama Muhammadiyah Gesikan (SLTP M Gesikan) sekarang menjadi SLTP M 1 Bantul didirikan pada tahun 1955 dan Sekolah Menengah Umum Muhammadiyah 1 Bantul yang didirikan tahun 1965. Aktivitas IPM pada awal periode ini disinyalir turut serta dalam gerakan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda (KOKAM) dalam menumpas komunis di tingkat daerah dan pada tahun 1967 para pelajar tidak lagi terjun secara praktis di bidang politik dan kembali ke bangku sekolah. Kegiatan organisasi IPM pada masa ini difokuskan pada sosialisasi program  organisasi  di sekolah-sekolah Muhammadiyah daerah Bantul.[21]
Tahun 1971 hingga 1988 merupakan pertumbuhan IPM baik di tingkat cabang maupun ranting-ranting sekolah, bahkan pelajar dari Sekolah Menengah Umum Negeri pun turut serta tergabung dalam kelompok belajar di kampung-kampung, sehingga tidak dapat dipungkiri perkembangan aktivitas IPM  sudah meluas di lingkungan masyarakat. Perkembangan aktivitas itu, meliputi bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan.[22]
Keadaan IPM  tidak kondusif lagi, karena pada tahun 1988 pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mengatur asas tunggal organisasi yakni Pancasila dan batasan penggunaan istilah pelajar dalam organisasi internal sekolah selain Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).[23] Teguran secara implisit disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga R.I., Akbar Tanjung dalam Konferensi Pimpinan Wilayah IPM tahun 1992 Yogyakarta, agar IPM melakukan penyesuaian dalam tubuh keorganisasiannya. Untuk itu, IPM membentuk Tim Eksistensi yang secara intensif membahas problematika IPM pada waktu itu. Pada akhirnya, diputuskanlah perubahan nama IPM menjadi IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah) dan disahkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanggal 18 November 1992 bertepatan dengan 22 Jumadil Awal 1413 H,  melalui SK. No. 53/SK.PP/IV.8/1.b/1992.[24]  Sosialisasi IRM baru dilakukan pada tahun 1993 termasuk di pimpinan daerah Bantul. Dengan demikian terjadi beberapa penyesuaian usaha dan aktivitas yang tertuang dalam maksud dan tujuan IRM.[25]
Maksud dan tujuan IRM ialah terbentuknya remaja muslim yang berakhlaq mulia dan berilmu dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam, sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wata’ala.[26]
Perjalanan IRM Daerah Bantul 1992-2002 secara umum terbagi dalam tiga tahap, yaitu tahun 1992-1993 merupakan masa transisi. Pada tahap ini Pimpinan Daerah IPM  Bantul melakukan sosialisasi pimpinan ranting sekolah-sekolah di daerah Bantul bahwa organisasi Muhammadiyah yang beranggotakan pelajar berganti nama baru yaitu IRM. Tahap perkembangan I yaitu pada tahun 1993-1998, IRM melalui pasang surut keorganisasian, sehingga menunjukkan aspek dinamikanya menyangkut usaha dan aktivitas sosial keagamaannya.[27] Tahap perkembangan II, IRM memasuki tahun 1998 mengalami perkembangan keorganisasian meskipun masalah internal organisasi menghambat aktivitas IRM di bidang sosial kemasyarakatan di Bantul. Pada periode 2000-2002 didirikan suatu bidang khusus yang menangani permasalahan remaja, problematika dan isu-isu aktual yakni  bidang hikmah dan advokasi. Dengan adanya  bidang hikmah dan advokasi. IRM Bantul, merasa perlu melakukan sosialisasi program bidang tersebut, antara lain secara intern organisasi dengan menjalin kemitraan dengan organisasi otonom Muhammadiyah maupun dengan organisasi ekstern Muhammadiyah yaitu Ikatan Putra Nahdlatul Ulama dan Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama Cabang Bantul. Dengan kata lain, IRM secara langsung dan terus berupaya memberdayakan remaja  dan umat Islam  secara luas untuk mencapai aktivitas dan usahanya.[28]
Perkembangan IRM pada masyarakat Bantul itu telah banyak mengalami perubahan. Perubahan ini meliputi beberapa aspek kehidupan masyarakat, di antaranya bidang agama, pendidikan, sosial dan budaya, menyangkut perubahan struktural dan perubahan sikap serta tingkah laku dalam hubungan antara manusia.[29]
Dalam melaksanakan dan memperjuangkan keyakinan dan cita-citanya, IRM senantiasa menempuh cara yang ditetapkan Islam. Dengan dasar tersebut maka organisasi ini berjuang mewujudkan syari’at Islam dalam kehidupan perseorangan, keluarga dan masyarakat.[30]

Batasan dan Rumusan Masalah

Penulisan Skripsi tentang “Aktivitas Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) di Kabupaten Bantul, 1992-2002”, dimaksudkan untuk menguak aktivitas IRM daerah Kabupaten Bantul dalam menjalankan misi keorganisasian dan mengembangkan aktivitasnya, baik di bidang keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu, penulisan ini akan menguak IRM  Daerah Bantul  dari tahun 1992 sampai 2002 yang dipilah dalam 3 sub bahasan, yaitu  pemurnian agama di kalangan remaja, pengembangan dakwah IRM, dan kepeloporannya dalam pembinaan moral.
Tahun 1992 sebagai awal pembahasan, karena tahun tersebut merupakan peralihan atau perubahan nama dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah. Perubahan ini menyebabkan perubahan orientasi mendasar dalam menjalankan aktivitas organisasi. Hal itu terjadi merata dalam struktur kepemimpinan organisasi termasuk Pimpinan Daerah IPM Kabupaten Bantul, sehingga harus mengikuti perubahan nama menjadi Pimpinan Daerah Ikatan Remaja Muhammadiyah Kabupaten Bantul. Tahun 2002 dijadikan sebagai akhir dari pembahasan karena tahun ini organisasi IRM dalam menjalankan organisasi telah menunjukkan perkembangan aktivitas secara baik. Adapun tahun 2002  dapat dilihat dari dekat perkembangan terakhir organisasi ini.
Agar pembahasan ini lebih terarah dan terencana perlu dirumuskan permasalahan-permasalahan yang diharapkan mampu membantu menguak persoalan-persoalan di atas atau sebagai bahan acuan penelitiannya, yaitu :
Bagaimanakah kondisi sosial keagamaan masyarakat Bantul dan aktivitas Muhammadiyah Daerah Bantul sebagai salah satu organisasi sosial masyarakat di Bantul ?
Bagaimanakah asal-usul organisasi  dan perkembangan organisasai  IRM Daerah Bantul, serta apakah yang menjadi tujuan dan pedoman aktivitasnya?
Apakah aktivitas organisasi IRM Daerah Bantul di bidang keagamaan  dan sosial kemasyarakatan? Mengapa aktivitas tersebut dilakukan oleh IRM Daerah Kabupaten Bantul? Faktor-faktor apa sajakah yang menyertai aktivitas tersebut dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Bantul?

Tujuan dan Kegunaan

Sesuai dengan obyek penelitian di atas, penelitian ini bertujuan untuk :
Memaparkan kondisi sosial keagamaan masyarakat Bantul dan mengungkap aktivitas Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul secara khusus.
Memaparkan latar belakang berdiri dan berkembangnya IRM Daerah Bantul  serta mengungkap tujuan dan pedoman aktivitasnya.
Mengungkap aktivitas dan alasan IRM di Bantul, 1992-2002, serta mengungkap pengaruhnya terhadap masyarakat Bantul terutama kalangan remaja.
Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna :
1.         Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi Muhammadiyah Daerah Bantul untuk menentukan langkah Muhammadiyah Daerah Bantul selanjutnya.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   
2.         Memberikan sumbangan pemikiran bagi kemajuan aktivitas IRM Daerah Bantul dan memberikan sumbangan khasanah keilmuan dan kepustakaan Islam bercorak lokal atau kedaerahan.
3.         Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi Pimpinan Daerah Ikatan Remaja Muhammadiyah Kabupaten Bantul dalam melakukan aktivitas dan usaha, khususnya dalam rangka membina para anggota, kader dan umat pada umumnya.

D        Tinjauan Pustaka

Penelitian mengenai aktivitas keagamaan telah banyak dilakukan, namun masih jarang penelitian yang membahas tentang aktivitas keagamaan yang dilakukan oleh remaja. Oleh karena itu, penelitian ini menitikberatkan pada aktivitas keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang dilakukan oleh organisasi IRM. Bahasan yang berkenaan dengan tema yang diangkat sangat jarang, sehingga penulis mengambil penelitian yang bersifat lokal. Beberapa hanya yang relevan dengan  penelitian ini, antara lain ialah buku yang berjudul Peran Serta Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul Dalam Era Pembangunan, yang disusun pada tahun 1989 oleh PDM Bantul. Dalam pembahasannya buku ini memaparkan sejarah berdirinya, pertumbuhan dan perkembangan Muhammadiyah Bantul serta beberapa amal usaha yang dijalankannya. Meskipun kapasitas buku ini hanya informasi, tetapi mampu menguak perjalanan Muhammadiyah dari tahun 1921 sampai 1989.
Penelitian serupa tetapi mengambil kajian berbeda dilakukan Oleh Yudia Wahyudi (SPI-’95) dengan judul Skripsi Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul 1965-1999 (Kajian Terhadap Amal Usahanya). Skripsi ini lebih mendalam mengkaji amal usaha Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul dari awal pertumbuhan sampai perkembangan organisasi hingga tahun 1999. Dalam pembahasan skripsi ini dijelaskan adanya peran serta organisasi otonom dalam perkembangan amal usaha Muhammadiyah namun masih bersifat umum, untuk itu  IRM akan dijadikan bahan penelitian skripsi selanjutnya.
Adapun tulisan Agung Danarto Ketua PP IRM periode 1990-1993 yang berjudul Mozaik perjalanan IPM  dari Masa ke Masa, merupakan laporan umum pertumbuhan dan perkembangan IPM dari periode ke periode dengan mengambil aspek dinamika organisasi, serta bukan merupakan sebuah karya ilmiah.
Ikatan Remaja Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul secara ilmiah belum pernah dijadikan bahan penelitian dalam penulisan skripsi. Oleh karena itu, dalam penulisan skripsi ini akan dibahas mengenai aktivitas keagamaan dan sosial kemasyarakatan IRM yang dimulai pada tahun 1992 sampai 2002.

E         Landasan Teori

Penelitian ini merupakan penelitian sejarah yang ingin menghasilkan bentuk dan proses pengkisahan atas peristiwa-peristiwa manusia yang telah terjadi di masa lalu.[31] Adapun dalam penulisan skripsi ini diambil sosiologi sebagai ilmu bantunya, karena sosiologi akan memberikan pengetahuan tentang struktur sosial dan proses masyarakat yang timbul dari hubungan antara manusia dalam situasi dan kondisi yang berbeda untuk menguak keadaan masyarakat.[32] Perubahan dan perkembangan masyarakat dari bentuk sederhana ke bentuk yang lebih kompleks[33] dalam mewujudkan segi dinamikanya, disebabkan karena para warganya mengadakan hubungan satu dengan yang lainnya, baik dalam bentuk perseorangan maupun kelompok dari lapisan sosial. Secara sinkronis, pendekatan ini diambil dari masyarakat itu, aktivitas keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang dilakukan oleh remaja.
Dari pemahaman tersebut dalam Penelitian ini mempergunakan pengertian aktivitas sebagai teori dasar, bahwa kegiatan IRM ini merupakan kekuatan pikiran yang terimplementasikan.[34]Menurut Soerjono, dalam usahanya itu dilingkupi oleh unit-unit yang terorganisasikan secara formal akan mencapai tujuan tertentu dalam masyarakat tertentu dan bersifat profesional untuk mengubah pola-pola budaya bangsa menjadi budaya baru yang dianggap akan menguntungkan kehidupan bangsa di masa depan.[35]  Aktivitas sosial IRM berupaya untuk menjadi pelopor pembinaan moral di kalangan  remaja, juga termasuk didalamnya pelajar. Dalam hal ini sosiologi perlu menempuh dua cara, yaitu kultural dan struktural, sedangkan aktivitas  keagamaannya dijelaskan bahwa tiap-tiap aktivitasnya memiliki tujuan keagamaan.[36] Dalam hal ini aktivitas keagamaan IRM di antaranya : melakukan pemurnian dan modernisme atau usaha tajdid.
Pemurnian keagamaan merupakan gagasan yang berusaha menerjemahkan ide keagamaan agar menjadi kekuatan transformatif untuk menumbuhkan struktur dan tatanan sosial yang baik dan lebih baik partisipatif terbuka dan emansipatoris. Hal ini dimaksudkan bahwa aktivitas yang disertai strategi, berupa kebijakan organisasi yang merupakan suatu cita-cita untuk menjunjung tinggi hakikat dan martabat kemanusiaan (moral) sehingga aktivitas keagamaan ini memunculkan visi yang dapat dijadikan daya untuk memungkinkan sebuah aktivitas keagamaan melakukan antisipatif tentang obsesi dan cita-cita yang ingin dicapai, yaitu masyarakat utama (madani).  Daya seperti ini memiliki visi transformatif, dan memberikan motivasi pada masyarakat itu sendiri. Adapun pendapat ini disampaikan oleh Soerjono Soekamto yang mengartikan aktivitas atau activity ialah hal-hal yang dilakukan manusia yang berfungsi suatu organisme atas dorongan, perilaku, dan tujuan yang terasosiasikan berwujud tanggapan-tanggapan yang terorganisasikan.[37]
Dari teori di atas memberikan gambaran secara luas, bahwa untuk mewujudkan usaha dan gagasan tadi perlu memfungsikan struktur organisasi. Sistemnya dapat dilihat dalam struktur kepemimpinan baik di tingkat daerah, cabang, maupun ranting. Dari sini dapat dipahami, bahwa suatu sistem sosial adalah menemukan dan memahami fungsi suatu bagian itu, sehingga mampu menciptakan keadaan yang seimbang, harmonis dalam masyarakat tertentu, yaitu remaja.[38] Di sinilah terjadi hubungan struktural fungsional konsepsi pemikiran Muhammadiyah secara struktural dengan pemikiran usahanya. Menurut Abdul Munir Mulkhan, secara struktural pemikiran Muhammadiyah merupakan interpretasi Wahyu dan Sunnah dengan mempergunakan akal pikiran yang tersusun dalam suatu rumusan dasar. Pada satu segi pemikiran Muhammadiyah derivatif (berdasarkan) pada Wahyu dan Sunnah sebagai hasil dan produk penjabarannya dan segi lain pemikiran Muhammadiyah secara operasional dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Hubungan fungsional tersebut merupakan hubungan antara Wahyu dan Sunnah dengan konsepsi pemikiran Muhammadiyah, unit kerja, amal usaha serta anggota Muhammadiyah.[39]
Remaja yang dimaksudkan sebagai anggota IRM adalah mereka yang berusia antara 12 sampai 22 tahun, baik memiliki status sosial sebagai pelajar, mahasiswa, atau remaja pada umumnya. Pada fase ini, remaja memasuki tahapan kematangan atau kemasakan. Pada usia ini pengaruh perkembangan individu turut serta menentukan pengalaman sosialnya, dan keadaan ini mendorong mereka lebih peka terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral. Hal ini didukung aspek penting yang mempengaruhi pengalaman sosial remaja, yaitu pendidikan, sehingga mampu memperdalam sifat-sifat yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.[40]

F         Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu proses yang berawal pada minat untuk mengetahui fenomena tertentu dan selanjutnya menjadi gagasan, teori, konsep, pemilihan metode penelitian dan selanjutnya akan melahirkan gagasan dari teori baru. Proses ini akan mengalami perulangan.[41] Berdasarkan tempatnya, penelitian bisa digolongkan menjadi 3 macam, yaitu penelitian yang dilakukan di perpustakaan (library research), penelitian yang dilakukan di laboratorium (laboratorium research).[42] Karena penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan di lapangan, maka penelitian ini termasuk dalam field research, yang lebih merupakan studi tentang kajian aktivitas keagaman, dan sosial kemasyarakatan.
Adapun tahapan atau langkah-langkah kegiatan penelitian ini akan dilakukan melalui empat prosedur yaitu :
1.         Pengumpulan data (heurestik)
Heuristik berasal dari bahasa Yunani Heurisken yang berarti memperoleh, sedangkan yang dimaksud heuristik adalah teknik atau seni, mengumpulkan data yang tidak mempunyai peraturan-peraturan umum. Ia tidak lebih dari suatu ketrampilan menangani bahan-bahan.[43]Berkaitan dengan topik yang akan diteliti yaitu aktivitas keagamaan dan sosial kemasyarakatan organisasi IRM Daerah Bantul maka teknik pengumpulan data yang penulis pergunakan dalam penelitian ini adalah :
a           Wawancara
Untuk mengumpulkan sumber lisan penulis menggunakan metode interview, yaitu teknik pengumpulan data dengan tanya jawab sepihak, yang dikerjakan secara sistematis dan berdasarkan pada tujuan penelitian.[44]
Dalam penelitian ini jenis interview yang penulis pergunakan adalah bebas terpimpin, yaitu dengan tidak terikat kepada kerangka pertanyaan-pertanyaan, melainkan dengan interviewer (pewawancara) dan situasi ketika wawancara dilakukan.[45] Sedangkan cara menyampaikan pertanyaan yang telah ditulis secara beraturan, tidak terikat dengan nomor urut dari pedoman interview (Interview Guide) yang berfungsi sebagai alat pengumpul sumber primer dan sekunder. Adapun pihak-pihak yang dijadikan nara sumber atau informan adalah para tokoh Muhammadiyah, mantan aktivis IPM dan yang sudah atau sedang menjadi aktivis IRM Daerah Kabupaten Bantul.
b          Dokumentsi
Dalam pengumpulan sumber tertulis, penulis menggunakan metode dokumenter, yaitu teknik penelitian, teknik penyelidkan, yang ditujukan karena penguraian dan penjelasan terhadap apa yang telah lalu melalui sumber dokumentasi.[46]
Metode ini dimaksudkan untuk mengumpulkan sumber primer dan sekunder, yaitu melalui sumber yang diperoleh dari dokumen, buku, foto dan arsip. Dari beberapa sumber yang ada kemudian penulis menyaring hal-hal yang relevan dengan topik bahasan.
c           Observasi langsung
Observasi atau pengamatan langsung dilakukan oleh penulis untuk memperoleh fakta nyata tentang aktivitas IRM Daerah Bantul dan hal-hal yang berkaitan kemudian dilakukan pencatatan.
2.         Kritik dan Verifikasi
Kritik atau verifikasi adalah mengadakan kritik terhadap data yang diperoleh untuk mendapatkan kredibilitas dan otensitas data. Untuk itu penulis dalam penelitian ini melakukan dengan :
a           Kritik ekstern, adalah meneliti otensitas sumber, untuk meneliti otensitas sumber ini penulis melakukan evaluasi dari sumber yang telah diperoleh, baik terhadap sumber primer maupun sumber sekunder sehingga diperoleh sumber yang akurat.
b          Kritik intern, meneliti kebenaran isi sumber dalam meneliti kebenaran isi sumber penulis melakukan perbandingan antara sumber data tertulis dengan informasi yang diperoleh dari wawancara.
3.         Interpretasi,
Setelah mengadakan kritik, penulis berusaha menganalisa dan memberi interpretasi terhadap data yang valid, kredibel dan relevan dengan topik bahasan.
4.         Historiografi,
Bagian ini merupakan penulisan penelitian berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses pengujian dan analisa yang kritis dengan memberikan keterangan-keterangan atau penjelasan yang dapat dipahami. Adapun bentuk dari penelitian ini adalah skripsi.
Adapun pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian adalah pendekatan sosiologis, yaitu memperhatikan peristiwa-peristiwa yang merupakan proses-proses masyarakat yang timbul dari hubungan antara manusia dalam situasi dan kondisi yang berbeda untuk menguak keadaan masyarakat. [47]

G        Sistematika Pembahasan

Penyajian penelitian yang berbentuk penulisan skripsi ini akan dipilih menjadi 5 bab, yaitu :
Bab pertama, berisi pendahuluan yang terdiri dari : latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab kedua, pada bagian ini pembahasan diawali dengan diungkapkannya keadaan sosial keagamaan masyarakat Bantul, lalu pembahasan dilanjutkan mengenai aktivitas Muhammadiyah di Bantul. Pembahasan ini diakhiri dengan diungkapkannya Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul dan pembinaan remaja.
Bab ketiga, pembahasan  akan difokuskan pada keberadaan Ikatan Remaja Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul, dan bertujuan untuk mengungkap asal-usul pendirian organisasi ini sampai berdirinya Pimpinan Daerah IRM  Bantul, serta pola persebarannya di lingkungan sekolah maupun masyarakat pada umumnya. Untuk itu,  perlu diketahui lebih mendalam perkembangan yang dicapai organisasi dan di bagian akhir bab ini dipaparkan tujuan dan pedoman aktivitas IRM sampai dengan tahun 2002.
Pada bab keempat, pembahasan akan menguraikan IRM dan masyarakat Bantul 1992-2002, dengan rincian pembahasan menyangkut aktivitas yang dilakukannya, meliputi : usaha pemurnian agama di kalangan remaja, pengembangan dakwah IRM, dan Kepeloporan IRM dalam pembinaan moral.
Bab kelima merupakan rangkaian penutup skripsi ini, yang berisi simpulan dan saran-saran penulis menyangkut pokok permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya.
BAB II
MUHAMMADIYAH DI KABUPATEN BANTUL

Sosial Keagamaan Masyarakat Bantul

Bantul[48] secara administrasi merupakan sebuah kabupaten yang terdiri atas 17 Kecamatan, 75 desa, 935 dusun[49], sebagaimana tabel di bawah ini :
Tabel 1
Jumlah Dusun, Desa dan Statusnya serta Kecamatan
Kabupaten Bantul tahun 2001
No
Kecamatan
Jumlah Desa
Jumlah Dusun
Status Desa/Kelurahan
Pedesaan
Perkotaan
1
Srandakan
2
43
Poncosari
Trimurti
2
Sanden
4
62
Srigading
Gadingsari
Murtigading
Gadingharjo
3
Kretek
5
52
Tirtohargo
Parangtritis
Tirtosari
Tirtomulyo
Donotirto
4
Pundong
3
49
Seloharjo
Panjangrejo
Srihardono
5
Bambanglipuro
3
45
Sumbermulyo
Sidomulyo
Mulyodadi
6
Pandak
4
49
Caturharjo
Triharjo
Gilangharjo
Wijirejo
7
Bantul

23

 

5

50
Sabdodadi
Palbapang
Bantul
Ringinharjo
Trirenggo
8
Imogiri
8
72
Selopamioro
Sriharjo
Karangtengah
Kebonagung
Karangtalun
Imogiri
Wukirsari
Girirejo
9
Dlingo
6
59
Mangunan
Muntuk
Temuwuh
Jatimulyo
Terong
Dlingo
10
Jetis
4
64
Patalan
Canden
Trimulyo
Sumberagung
11
Pleret
5
47
Bawuran
Wonolelo
Segoroyoso
Wonokromo
Pleret
12
Piyungan
3
60
Sitimulyo
Srimulyo
Srimartani
13
Banguntapan
8
58
Tamanan
Jagalan
Singosaren
Wirokerten
Jambidan
Potorono 
Baturetno
Banguntapan
14
Sewon
4
63
Pendowoharjo
Timbulharjo
Bangunharjo
Pendowoharjo
15
Kasihan
4
53
Tamantirto
Ngestiharjo
Bangunjiwo
Tirtonirmolo
16
Pajangan
3
55
Guwosari
Triwidadi
Sendangsari
17
Sedayu
4
54
Argodadi
Argomulyo
Argosari
Argorejo
Sumber :                Bagian Tata Pemerintahan Sekretaris Kabupaten dan Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul
Di Bantul mayoritas penduduknya menganut agama Islam,[50] sebagaimana tabel berikut ini :
Tabel 2
Prosentase Penduduk Menurut Agama Yang Dianut
Per Kecamatan tahun 2001
No
Kecamatan
Islam
Katolik Roma
Kristen
Hindu
Budha
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
Srandakan
Sanden
Kretek
Pundong
Bambanglipuro
Pandak
Bantul
Jetis
Imogiri
Dlingo
Pleret
Piyungan
Banguntapan
Sewon
Kasihan
Pajangan
Sedayu
96,86
99,30
95,48
97,66
89,14
95,91
95,08
97,96
98,97
99,93
99,90
98,66
93,86
97,34
91,36
98,77
91,31
0,8
0,62
2,37
1,39
9,60
1,08
2,81
0,50
1,17
0,04
0,09
0,81
3,70
1,52
4,75
0,41
6,37
0,32
0,06
2,05
0,95
1,25
2,99
2,05
1,53
0,35
0,03
0,01
0,53
1,73
1,01
3,55
0,82
2,30
0,01
0,01
0,10
0,00
0,00
0,01
0,05
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,69
0,09
0,15
0,00
0,01
0,00
0,01
0,00
0,00
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
0,01
0,00
0,02
0,04
0,19
0,00
0,01
100,00
100,00. 100,00. 100,00. 100,00. 100,00. 100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
Jumlah
95,96
2,48
1,44
0,10
0,02
100,00
Tahun  2000
1999
1998
1997
1996
96,01
95,95
96,02
96,11
96,45
2,68
2,74
2,69
2,36
2,24
1,18
1,18
1,17
1,21
1,20
0,11
0,11
0,11
0,11
0,09
0,02
0,02
0,01
0,02
0,02
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
Sumber data: Kantor Departemen Agama Kabupaten Bantul
Dari sumber data di atas hampir 96 persen penduduk Bantul memeluk Agama Islam dan 4 persen lainnya memeluk agama Katolik Roma, Kristen, Hindu dan Budha.
Adapun aktivitas keagamaannya dapat dilihat pada sarana dan pra sarana tempat ibadah yang didominasi oleh masjid dan mushola, sebagaimana tabel berikut ini[51] :
Tabel 3
Sarana Peribadatan Masjid dan Mushola
Per Kecamatan Tahun 2001
No
Kecamatan
Masjid
Mushola
1999
2001
Perubahan
1999
2001
Perubahan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
Srandakan
Sanden
Kretek
Pundong
Bambanglipuro
Pandak
Bantul
Jetis
Imogiri
Dlingo
Pleret
Piyungan
Banguntapan
Sewon
Kasihan
Pajangan
Sedayu
43
63
53
63
57
41
76
74
100
88
50
69
118
90
99
56
70
46
64
53
68
57
52
84
74
100
89
55
69
128
99
99
57
72
3
1
0
5
0
11
8
0
0
1
5
0
10
9
0
1
2
12
3
16
11
4
7
29
4
15
10
9
11
27
23
35
10
14
13
3
19
13
4
9
33
4
16
14
17
12
32
23
35
10
16
1
0
3
2
0
2
4
0
1
4
8
1
5
0
0
0
2
Jumlah
1.210
1.266
73
240
273
57
  Sumber : Departemen Agama Kabupaten Bantul.
Selain sarana dan pra sarana peribadatan di atas dari sumber yang sama di Bantul juga tersedia sarana dan pra sarana peribadatan yang lain yaitu : Langgar, Gereja Katolik, Gereja Kristen Protestan, Kapel, Vihara, Cetiya, dan Pura.
Keragaman kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Bantul dapat dilihat dengan adanya berbagai organisasi masyarakat[52] baik ormas keagamaan, ormas aliran kepercayaan, ormas sosial, dan lembaga swadaya masyarakat, serta ormas dengan kesamaan kegiatan. Adapun ormas keagamaan di Bantul terdapat 36 buah, sebagaimana tabel  berikut ini :


Tabel 4
Organisasi Kemasyarakatan di Kabupaten Bantul
No
Nama
Klasifikasi
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
Wanita Islam
Wanita Katholik Republik Indonesia
Aisyiah
Muslimat NU.
Parisada Hindu Dharma Indonesia
Majelis Ulama Indonesia
Dewan Masjid Indonesia
Nahdlatul Ulama (NU)
Lembaga Pendidikan Taruna Al-Quran
Wanita Syarikat Islam
Muslimin Indonesia
Persatuan Wanita Kristen Indonesia
Dewan Pimpinan Daerah Forum Komunikasi Ahlussunnah Wal Jamaah
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
Paguyuban Werh Kreise III
Persatuan Wredatama R.I.
Ferib ABRI/TNI dan POLRI.
Himpunan Wanita Karya
Persit Kartika Candra Kirana
Dharma Pertiwi Bakti Cabang XXX Kodim 0729 Bantul
Legiun Veteran RI (LVRI)
Fatayat NU.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah
Nasyiatul Aisyiah (NA)
FKPPI.
Pepabri
Dharma Wanita Peratuan kab. Bantul
Gerakan Pemuda Anshor
PD. IRM.
Tim Penggerak PKK. Kab. Bantul
Peradah Indonesia
Perkumpulan keluarga Berencana Indonesia.
Kerta Wredatama
Dewan Pimpinan Daerah Polisi R.I.
Dewan Pimpinan Cabang Kemala
Forum Komunikasi Karang Taruna
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Kecil
Besar
Kecil
Kecil
Kecil
Kecil
Sedang
Sedang
Kecil
Sedang
Kecil
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Kecil
Kecil
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Kecil
Sedang
Sedang
01/ormas/keagamaan/XI/93
03/ormas/keagamaan/IX/93
04/ormas/keagamaan/IX/93
06/ormas/keagamaan/IX/93
07/ormas/keagamaan/IX/93
09/ormas/keagamaan/IX/93
11/ormas/keagamaan/IX/93
13/ormas/keagamaan/IX/93
12/ormas/keagamaan/IX/93
20/ormas/keagamaan/II/93
03/ormas/keagamaan/XI/93
05/ormas/keagamaan/XI/93
08/ormas/keagamaan/XI/93
12/ormas/keagamaan/XI/93
17/ormas/keagamaan/XI/93
18/ormas/keagamaan/XI/93
19/ormas/keagamaan/XI/93
20/ormas/keagamaan/XI/93
23/ormas/keagamaan/XI/93
41/ormas/keagamaan/XIII/93
52/ormas/keagamaan/XII/93
53/ormas/keagamaan/IX/93
Sumber data :      Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kabupaten Bantul
Di Bantul, Muhammadiyah merupakan salah satu ormas keagamaan yang memiliki fungsi untuk meningkatkan peranannya dalam berbagai bidang kehidupan sosial masyarakat. Aktivitas Muhammadiyah Bantul[53] meliputi : bidang keagamaan, bidang pendidikan, bidang sosial, bidang kesehatan, bidang ekonomi, dan bidang budaya. Sampai dengan sekarang PDM Bantul memiliki 7 majelis[54] yang terdiri dari Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran, Majelis Pengembangan Kader dan Sumber Daya Insani, Majelis Wakaf dan Kehartabendaan, Majelis Pembina Kesejahteraan Sosial dan Pengembangan Masyarakat, Majelis Pembina Kesehatan, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Majelis Ekonomi.
Didalam aktivitas dakwahnya Muhammadiyah secara berdampingan dan bersama-sama dilakukan dengan ormas keagamaan yang lain seperti Nahdlatul Ulama, Persis, Al Irsyad dan lain-lain. Dengan demikian, ormas tersebut dapat mencapai fungsinya di masyarakat.[55]

Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul sebagai Usaha Tajdid (Pembaruan)

Bertolak dari Surat Pengesahan Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 48 PMD Tanggal 17 Agustus 1966, sebagaimana telah dibahas sebelumnya aktivitas keagamaan Muhammadiyah di Bantul mendapatkan legitimasinya. Meskipun, aktivitas PDM Bantul telah dilakukan sebelum tahun 1966, dan pada gilirannya usaha tajdid atau pembaruan[56]PDM Bantul terus dilangsungkan.

Seiring perjalanan PDM Bantul telah didirikan 20 Pimpinan Cabang, 98 Pimpinan Ranting yang beranggotakan 10.937 orang. Dari 98 ranting  Muhammadiyah baru 66 pimpinan ranting yang memiliki Surat Keputusan PDM, dan 32 pimpinan ranting lainnya belum memiliki Surat Keputusan PDM[57].

Selama ± 37 tahun perjalanan PDM Bantul telah berhasil melakukan pembaruan di berbagai bidang yaitu di bidang pendidikan dengan mendirikan fasilitas sekolah yang terdiri dari 119 Taman kanak-kanak, 48 Sekolah Dasar Muhammadiyah, 4 Madrasah Tsnawiyah Muhammadiyah, 8 Sekolah Menengah Atas muhammadiyah dan 6 Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah[58]. Selain itu, di bidang kesehatan PDM Bantul telah memiliki Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Bantul sejak tahun 1966 dan di tahun 1995 dirintis Rumah Sakit Bersalin Muhammadiyah di Srandakan[59].

Di bidang keagamaan, aktivitas PDM Bantul sangat variatif. Keinginannya untuk melakukan pembaruan ditempuh dengan berbagai macam aktivitas keagamaan, yaitu : pengajian, pelatihan muballigh, pelatihan da’i dan lain-lain. Kapasitas Muhammadiyah sebagai ormas keagamaan didukung oleh keberadaan pondok pesantren Asy-Syifa di Jogodayoh, Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul. Peran serta Majelis Tabligh[60]dan Tarjih[61]di bidang keagamaan turut membina warga masyarakat Bantul.

Aktivitas kelompok-kelompok pengajian seperti Baitul Arqom dan Baitul Arqom II pada hakikatnya merupakan gerakan dakwah Islam Amar ma’ruf nahi munkar PDM Bantul.[62]Dari aktivitas pengajian tersebut muncul pembagian wilayah daerah Bantul menjadi 3 wilayah dakwah PDM Bantul yang meliputi : Wilayah Bantul bagian Timur terdiri dari PCM Imogiri, PCM Pleret, PCM Banguntapan, dan Wilayah Bantul bagian Tengah terdiri dari PCM Bantul, PCM Kretek, PCM Sewon Utara, PCM Sewon Selatan, PCM Bambanglipuro, PCM Pundong, PCM Jetis. Selain itu, Wilayah Bantul bagian selatan kelompok dakwah PDM terdiri dari PCM Pajangan, PCM Sedayu, PCM Kasihan, PCM Srandakan, PCM Pandak Timur. Adapun kegiatan dakwah PDM yang rutin dilakukan ialah pengajian pimpinan dan pengajian muballigh, serta mengelola 304 buah masjid, 142 mushola, 350 orang tenaga khotib, dan 450 orang muballigh[63].

Di bidang sosial, aktivitas PDM Bantul meliputi kegiatan khitanan massal, bakti sosial, pengobatan cuma-cuma, memberikan bantuan korban bencana alam banjir misalnya di PCM Kretek, memberikan santunan kepada anak yatim, dan turut mengelola zakat fitrah di beberapa SMA Negeri seperti Dlingo, Pajangan dan Kasihan.[64]

Di bidang seni dan budaya, PDM Bantul membina group seni “Laras Sworo” yang merupakan kesenian gending Jawa yang diisi dengan dakwah pengajian. Pada tahun 2000 PDM juga membina Karawitan Paguyuban Muslim “Manunggal Karso”, pembinaan macapat paguyuban muslim “Manunggal Karso” dan pentas Karawitan dan Pagelaran Wayang kulit paguyuban muslim “Manunggal Karso”.[65]

Sampai dengan tahun 2003, PDM Bantul telah memiliki 6 organisasi otonom yang merupakan penerus dan pelangsung amal usaha Muhammadiyah di masyarakat, yaitu : ‘Aisyiah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiah, Ikatan Remaja Muhammadiyah, Kwarda Hizbul Wathan, dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah.[66]

 

Pembinaan Remaja

PDM Bantul di dalam pembinaan kader secara langsung dilaksanakan oleh suatu badan yang bernama Badan Pendidikan Kader dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah atau BPKAMM. Adapun pembinaan[67]dilakukan secara formal dan non formal.

Pendidikan formal bagi kader PDM Bantul dilaksanakan di Sekolah-Sekolah Muhammadiyah dengan kegiatan pelatihan dan penataran. Sedangkan pendidikan non formalnya, PDM Bantul memberi wadah kader untuk belajar dan aktif berorganisasi, yaitu Ikatan Remaja Muhammadiyah. Berbagai aktivitas pembinaan kader BPKAMM PDM Bantul meliputi penyelenggaraan Tadarus Al-Qur’an, pelatihan dan pengajian di bulan Ramadhan, dan tuntunan berpakaian yang Islami.

Pada tahun 2000 pembinaan remaja PDM Bantul dilaksanakan oleh Majelis Pengembangan Kader dan Sumber Daya Insani dan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah. Aktivitas pembinaan remaja PDM Bantul meliputi diskusi dan sarasehan mengenai pensosialisasian Badan Perwakilan Desa (BPD), menyelenggarakan dialog dan Bedah Buku berjudul “Dinamika Politik dan Muhammadiyah, dan melakukan pembinaan remaja dalam rangka Tabligh Akbar Tahun 2000 dan Apel KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) di lapangan Dwi Windu Bantul pada tanggal 1 Juli 2000.

Usaha PDM Bantul dalam memberikan pembinaan remaja di sekolah ditempuh dengan cara memberikan pembekalan dalam rapat kerja yang terdiri dari kepala sekolah Muhammadiyah baik SD, SMP, dan SMA. Selain itu, PDM Bantul berupaya mengaktifkan kembali peran AMM Bantul di dalam Forum pengajian AMM. Peran serta pembinaan PDM Bantul di dalam melakukan pembinaan remaja dan amal usahanya[68]dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel.5
Kunjungan Pembinaan dan Pengawasan Kepada Amal Usaha
No
Sasaran
Tahun Kunjungan (Kali)
1996
1997
1998
1999
2000
1
SD M/MI M
Tidak terekam
18
17
2
SMP M/MTS.M
Tidak terekam
6
14
8
3
SMA M
Tidak terekam
3
2
2
4
SMK M
Tidak terekam
2
3
6
5
RSKIA PKU
Tidak terekam
1
2
1
6
PDM
Tidak terekam
1
1
1
Sumber :  PDM Bantul, Arsip Laporan PDM Tahun 1995-2000

Kunjungan pembinaan di atas secara periodik dijadikan bahan pertimbangan kebijakan PDM Bantul berikutnya dan secara berkesinambungan dilakukan perbaikan sistem pembinaan agar dapat mencapai tujuan pembinaan umat dimaksud.[69]

 

BAB III

IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH 

DAERAH KABUPATEN BANTUL

Asal-Usul Organisasi

Proses terbentuknya IRM di Bantul tidak terlepas oleh keberadaan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Bantul. Pada tahun 1960-an keadaan sosial politik secara luas dipengaruhi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Agar tidak merusak gerakan Islam, maka Muhammadiyah memandang perlu untuk memberikan perlindungan kepada para anggota, kader, dan generasi muda dari pengaruh tersebut. Atas prakarsa Pemuda Muhammadiyah dalam sebuah konferensi Pemuda Muhammadiyah di Surakarta, maka didirikanlah Ikatan Pelajar Muhmmadiyah atau IPM pada tanggal 18 Juli 1961.[70]

34

 

Aktivitas Muhammadiyah pada masa itu cukup semarak. Aktivitasnya sudah memasuki wilayah di daerah, termasuk Bantul.[71] Pertumbuhan sekolah-sekolah Muhammadiyah di Bantul turut mendukung aktivitas IPM yang masih dilakukan oleh group belajar atau kelompok belajar. Pada tahun 1964 hingga tahun 1965 aktivitas kelompok ini masih terbatas di Bantul bagian selatan yang meliputi daerah Srandakan,Sanden, yang nantinya menjadi cikal bakal (embrio) IPM Bantul Selatan. Para tokoh aktivis IPM Bantul Selatan terdiri dari Mulyono PRS, Sismaryadi, Rukiman, dan Jauhari. [72]

Pertumbuhan aktivitas IPM di Bantul ditandai dengan munculnya group belajar di Pepe, Trirenggo, yang para aktivisnya terdiri dari Sugito, Swasono, Subandiono, Marzuki dan Sahari.[73]
Pada tahun 1967, didirikanlah IPM di tingkat daerah atau kabupaten yang  kepengurusannya terdiri dari Basyir Dahlan (Ketua), Sumarno PRS (Sekretaris Umum), Aswonah (Bendahara) dan Mulyono PRS, Sismayadi, Sunardi, dan Mahsuni (Anggota)[74]. Aktivitas IPM Daerah Bantul pada tahun ini ialah mendirikan pimpinan ranting di sekolah-sekolah Muhammadiyah dan Pimpinan Cabang di seluruh daerah Bantul. Secara administrasi IPM belum tertata rapi seperti sekarang ini, namun aktivitasnya di masyarakat mulai mendapatkan tempat terutama aktivitas dakwahnya. Aktivitas dakwah IPM Bantul tersebut ialah pengajian akbar yang melibatkan muballigh dari luar Bantul yang terdiri dari ustadz Muhammad Yusuf dari Magelang Ustadz Muhadi Zaenal dari Kota Yogyakarta dan Letnan Kolonel Haji Umar Syaid.[75] Adapun aktivitas pengkaderan IPM Bantul dimulai dengan keikutsertaan dalam Basic Training di Klaten pada tahun 1967. Sistem atau pola pengkaderan PD IPM berikutnya ialah Training Centre. Pola ini dilangsungkan selama 3 hari 3 malam yang diakhiri dengan pengajian paripurna. Setelah tahun 1969 pasca Kongres IPM di Palembang sistem pengkaderan IPM, terdiri dari : Taruna Melati, Masa Bimbingan Anggota (Mabita) sekarang menjadi Mabica (Masa Bimbingan Calon Anggota), pelatihan instruktur atau Choaching Instructur.[76]
Aktivitas dakwah IPM didukung oleh adanya group kesenian ludruk dengan nama group “Muslim Modern” yang merupakan media dakwah IRM dalam bentuk pengajian. Di bidang seni dan olahraga IPM Bantul bersama-sama Majelis Pendidikan turut serta dalam Pekan Olah Raga dan Seni (PORSENI) dan pawai Drum Band yang diikuti oleh SPG Muhammadiyah Bantul dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.[77]

Perkembangan IRM

Selama ± 20 tahun aktivitas IPM Bantul (1971-1991) terus mengalami perkembangan organisasi, kader dan dakwah.
Aktivitas dakwah IPM Bantul pada tahun 1971 cukup dinamis ditandai dengan diadakannya pembinaan kader di daerah-daerah, seperti Pimpinan Cabang IPM Sedayu, Sewon, Kretek, Kasihan, Pajangan, dan Pandak.[78]
Pada tahun 1971, aktivitas PD IPM dipusatkan di kantor sekretariat yang didirikan di Jalan Basuki Rahmat 2 Bantul. Sekretariat tersebut secara bertahap telah dilengkapi dengan almari, mesin ketik dan alat kantor lainnya.[79]Pada masa inilah aktivitas IPM dengan ormas Pelajar Islam Indonesia, Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama tergabung dalam KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia). Dengan demikian pada masa ini secara langsung IPM juga berpartisipasi dalam mengantisipasi perkembangan politik Indonesia.[80]
Pada tahun 1973 didirikanlah ranting sekolah di SPG Muhammadiyah Kretek di Sorobayan, Sanden, di SMP Muhammadiyah Sedayu di Tamantirto Kasihan. Sementara itu, pimpinan cabang IPM Srandakan, Sanden dan Sewon sedang dalam kevakuman.[81] Proses pelatihan kader juga dilaksanakan pada masa ini misalnya di daerah Piyungan, Sewon, Dlingo, dan di SLTP Pandak.[82]
Pada tahun 1975 antara IPM dengan PII terjadi pembagian ruang kerja. PII menggarap wilayah di perkotaan sedangkan IPM mengarap wilayah di pedesaan. Adapun wilayah IPM tersebut mencakup daerah di sejumlah kecamatan yaitu Piyungan, Banguntapan, Imogiri, Kasihan, Srandakan, Sanden dan Kretek.[83]
Keberadaan IPM di sekolah-sekolah Muhammadiyah semakin kuat dengan dikeluarkannya PDM no. 17/PP/1976 Bab VI.2 dan SK PPM Majlis Pendidikan dan Pengajaran No. E-1/183/1976 Bab IV. B tentang keberadaan IPM di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang langsung di bawah bimbingan Kepala Sekolah dan Guru.[84]
Pada tahun 1977-1983 keberadaan aktivitas IPM sudah meluas ke berbagai sekolah negeri di Bantul. Hal ini ditandai dengan banyaknya aktivis dalam kepengurusan IPM merupakan pelajar dan mahasiswa dari sekolah negeri. Hal ini merupakan keberhasilan pengembangan dakwah IPM Bantul pada waktu itu yang sebelumnya berdakwah di pedesaan.[85]
Aktivitas dakwah IPM Bantul pada tahun 1978 adalah kegiatan kepramukaan yaitu kemah bakti atau kemah dakwah yang dilakukan di Lapangan Mojo dan di Lapangan Ngangkruk Mulyodadi pada tahun 1979.[86]Kegiatan Bulan Ramadhan merupakan aktivitas rutin IPM Bantul. Selain itu, kegiatan pelatihan Taruna Melati, Mabica dan Mabita juga dilakukan pada masa tersebut. [87]
Keberadaan IPM dengan PII, IPNU dan IPPNU sedang dalam tekanan pemerintah pada tahun 1985. Perihal Undang-Undang No. 8 Tahun 1985 mengenai asas tunggal Pancasila sebagai satu-satunya asas dan hanya OSIS (organisasi siswa intra sekolah) yang diperbolehkan menjadi wadah aktivitas pelajar di sekolah. PII yang menolak asas tersebut dibubarkan oleh pemerintah, sedangkan IPNU dan IPPNU melakukan penyesuaian dengan merubah istilah pelajar menjadi Ikatan Putra Nahdlatul Ulama dan Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama.[88]
Sementara itu, IPM yang masih mempergunakan istilah pelajar terus didesak oleh pemerintah, hingga pada akhirnya dalam konferensi pimpinan wilayah IPM di Yogyakarta pada tanggal 18 Nopember 1992 bertepatan dengan 22 Jumadil Awal 1413 Hijriah, maka IPM sesuai dengan Surat Keputusan No. 53/SK.PP/IV.B/1.b secara resmi IPM diubah namanya menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM). Semenjak itulah segmentasi garapan IRM berubah dari pelajar menjadi remaja dan secara struktural keorganisasian diikuti mulai Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, Pimpinan Ranting/Pimpinan Kelurahan.[89]
Di Bantul, proses pergantian nama baru dilakukan pada tahun 1993 dengan diikuti penyesuaian keadministrasian organisasi IRM.[90] IRM Daerah Bantul pada masa tersebut telah memiliki 8 Pimpinan Cabang, 41 Pimpinan Ranting/Pimpinan Kelurahan, 2 Pimpinan Ranting yang non aktif pada tahun 1996 ialah Pimpinan Ranting Sekolah IRM SMA Muhammadiyah II Bantul dan Pimpinan Ranting IRM SMA Muhammadiyah Srandakan.

Tujuan dan Pedoman Aktivitas

Secara struktural organisasi IRM mempunyai 5 tingkatan, yang terdiri dari : Pimpinan Pusat yang  membawahi Pimpinan Wilayah (Propinsi) di seluruh Indonesia, Pimpinan Wilayah  membawahi kesatuan daerah di tingkat Propinsi, Pimpinan Daerah membawahi kesatuan cabang di tingkat Kabupaten, Pimpinan Cabang membawahi kesatuan ranting di tingkat kecamatan, dan pimpinan ranting membawahi kesatuan anggota di sekolah atau desa.
Sebagaimana organisasi yang lain IRM dilengkapi dengan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Khittah Perjuangan dan Kepribadian IRM. Keempat sendi IRM tersebut dijadikan pedoman kerja yang merupakan hasil dari proses Muktamar[91] tingkat pimpinan Daerah/Kabupaten dan rapat anggota sebagai mana diatur dalam pasal VIII Anggaran Rumah Tangga IRM.[92] Selama kurun waktu 1992 – 2002 Pimpinan Daerah IRM telah melaksanakan 12 kali musyawarah daerah.
Adapun tujuan IRM pada waktu mempergunakan nama IPM sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar IPM pasal 3, sesuai asas Islam, IPM bertujuan sebagai berikut :
“Terbentuknya pelajar muslim yang berakhlak mulia, cakap, percaya diri sendiri dan berguna  bagi masyarakat dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.”
Tujuan Muhammadiyah, yaitu :
“Berpegang teguh akan ajaran Allah dan RasulNya, bergerak membangun segenap bidang dan lapangan dengan menggunakan cara serta menempuh jalan yang diridhai Allah.”[93]
Pada tahun 1992 perubahan nama turut mempengaruhi redaksi tujuan di atas sebagaimana diatur dalam pasal 3 Anggaran Dasar IRM, berikut :
“Terbentuknya remaja muslim yang berakhak mulia dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran Islam, sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala”.[94]
Bunyi tujuan IRM di atas merupakan implementasi organisasi yang berdasarkan Pancasila sesuai pasal 2 Anggaran Dasar IRM pengertian Pancasila terutama sila Ketuhanan Yang Maha Esa sama artinya dengan keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Tahun 2000 pasca Muktamar XII IRM di Jakarta, Tujuan IRM mengalami perubahan redaksi lagi yang disesuaikan dengan asas organisasi yaitu Islam, sebagaimana berikut ini :
“Terbentuknya remaja muslim yang berakhlak mulia dan berilmu dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam, sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”[95]
Adapun Pimpinan Daerah IRM Kabupaten Bantul dalam meng-aplikasikan maksud dan tujuan organisasi dijabarkan ke dalam berbagai bidang, yaitu : bidang pengkaderan, bidang pengkajian, dan pengembangan dakwah, bidang Irmawati, bidang pengkajian ilmu pengetahuan, bidang pengkajian ketrampilan dan wirausaha, bidang pengkajian dan pengembangan seni dan budaya. Pada tahun 2000 PD IRM Bantul menambahi 1 bidang lagi, yakni bidang Hikmah dan Advokasi.[96]
BAB IV
IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH  (IRM)

DAN MASYARAKAT BANTUL

Pemurnian Agama di Kalangan Remaja

Di Bantul keragaman sosial keagamaan menambah variasi dan dinamisasi umat. IRM sebagai salah satu ormas keagamaan yang beranggotakan remaja secara fungsional turut berperan di dalam melangsungkan dakwah Muhammadiyah. Dengan berbagai macam aktivitas dakwah, IRM berupaya menjadi salah satu pilar kader Muhammadiyah dengan melakukan gerakan Islam murni.[97]

43

 

Sampai sekarang kehidupan keagamaan masyarakat Bantul masih  dipengaruhi oleh tradisi yang merupakan kebiasaan masyarakatnya dalam menjalankan aktivitas keagamaan. Keadaan tersebut masih dilestarikan oleh sebagian umat yang note benemerupakan masyarakat Jawa. Aktivitas masyarakat Bantul tersebut ialah peringatan kematian dari tujuh hari sampai dengan peringatan seribu hari, mitoni (memperingati tujuh bulan kehamilan), menyelenggarakan ruwatan, labuhan di pantai selatan, menyelenggarakan wayang kulit semalam suntuk dan lain sebagainya.[98]Hal ini disebabkan oleh sebagian besar masyarakat Bantul yang bermata pencaharian petani, sehingga cara/pola berpikirnya masih sederhana. Oleh karena itu, IRM sebagai organisasi yang berakidah Islam senantiasa mendasarkan aktivitasnya pada syariat Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.[99]

Aktivitas keagamaan IRM dalam rangka memurnikan agama Islam di kalangan remaja dilakukan oleh bidang dakwah. Selain itu, prosesnya melibatkan bidang pengkaderan, bidang Irmawati, dan bidang pengkajian ilmu pengetahuan. Secara umum kegiatan dakwah IRM dilakukan untuk penyeragaman visi dan misi sebagai gerakan Islam dan keilmuan, kekaderan dan kemasyarakatan.
Proses paling awal bidang dakwah ini ialah kegiatan Masa Bimbingan Calon Anggota (Mabica) dan Masa Pembekalan Anggota (Mabita). Aktivitas IRM ini secara rutin dilakukan setiap tahun pada saat tahun ajaran baru untuk Mabica dan Mabita pada akhir tahun khusus siswa kelas 3. Proses awal pengkaderan menjadi dasar perjuangan IRM  Bantul kemudian dilakukan konsolidasi, kaderisasi dan kristalisasi.
Pada tahun 1993 rangkaian aktivitas dakwah IRM Bantul ialah dengan diselenggarakannya Taruna Melati 1 dan 2,Pelatihan Instruktur Cabang, Pelatihan Da’i, Kelompok Studi Islam, Pendidikan Khusus Irmawati dan Pendidikan Kilat Kelompok Ilmiah Remaja.[100]
Adapun materi dakwahnya meliputi penanaman ajaran Islam yang benar, mensuri tauladani Nabi Muhammad Sallahu’Alai Wasallam, tuntunan ibadah sholat, aqidah Islam, ke-IRM-an, artikel-artikel penting mengenai pengertian manfaat berorganisasi, dan pengetahuan mengenai psikologi bagi siswa pada masa puber, serta psikologi remaja bagi siswa Sekolah Menengah Atas.[101]
Aktivitas dakwah keagamaan IRM Bantul didukung oleh forum dakwah Komunitas Angkatan Muda Muhammadiyah fastabiqul khoirot[102]. Forum ini pada perkembangannya menjadi forum bersama di antara badan otonom Muhammadiyah di Bantul. Forum tersebut lebih bersifat internal sehingga pengaruh aktivitasnya belum banyak bagi masyarakat.
Secara khusus, aktivitas IRM Putri atau Irmawati di bidang keagamaan turut serta memberikan pembinaan akidah dan pemahaman serta pengamalan ajaran Islam kepada seluruh remaja. Aktivitasnya dilakukan dengan jalan memberikan pembekalan kepada remaja puteri mengenai adabul Islam, membekali remaja puteri dengan berbagai ketrampilan khusus, seperti : menjahit, memasak, membuat kerajinan, dan lain sebagainya.[103] Kegiatan-kegiatan tersebut pada gilirannya akan dapat berguna bagi diri sendiri dan masyarakat. IRM Bantul pada masa ini aktivitasnya didukung oleh iuran anggota sebesar Rp. 200,00, Sumbangan Wajib Organisasi (SWO) dan Sumbangan Wajib Peserta (SWP), serta sumbangan dari para donatur.[104]
Hasil Musyawarah Daerah XII di Bantul ditandai dengan pergantian kepengurusan dan program kerja yang ditetapkan pada tanggal 11 Februari 1996. Aktivitas PD IRM diawali dengan penertiban kerja pimpinan organisasi dan difungsikannya regional meeting sebagai wadah komunikasi antar pimpinan cabang. Pada tahun inilah Pimpinan Cabang IRM di Pleret didirikan. Kegiatan pembinaan di beberapa cabang dan pimpinan ranting dilakukan dengan turba (turun ke bawah).
Usaha konsolidasi PD IRM Bantul dalam menjalin komunikasi dengan PDM Bantul dan Pemerintah Kabupaten Bantul terus digalakkan.[105] Antara IRM dengan PDM Bantul masih sangat jarang diselenggarakan silaturrahmi, sehingga terkesan IRM dan PDM Bantul jalan sendiri-sendiri.
Pembinaan PD IRM Bantul kepada para kader ditempuh dengan mengikutsertakannya pada sebuah kepanitiaan seperti dalam Mabica dan Maperta. Di samping itu, aktivitas PD IRM dalam melakukan penyaringan minat dan bakat siswa, meliputi : pendidikan kepramukaan, kecinta-alaman (Palang Merah Remaja), pleton inti, dan kelompok ilmiah remaja.[106]
Usaha IRM Bantul dalam rangka menindaklanjuti penyelenggaraan penertiban pimpinan, maka diselenggarakan penataran khusus bagi sekretaris dan bendahara serta menyebarluaskan pedoman pembuatan Kartu Tanda Anggota ke Pimpinan Cabang dan Pimpinan Ranting. Realisasi penertiban administrasi realisasi anggaran pengeluaran dan belanja organisasi (RAPBO) mewarnai aktivitas IRM Bantul. Pada masa ini telah digalakkan infaq pimpinan dan iuran pimpinan.[107]
Pada tahun 1997 PD IRM membentuk forum pertemuan pelatihan kader bagi Pelatihan Instruktur 1 dan Taruna Melati 2. Forum tersebut dibentuk untuk mewadahi komunikasi para kader IRM agar dapat saling bertukar pengalaman dan belajar bersama.
Diskusi pimpinan merupakan salah satu kegiatan IRM Bantul yang berfungsi untuk membahas permasalahan keagamaan (bahtsul masail) di masyarakat. Imbauan dan ajakan untuk gemar membaca diupayakan dengan pengadaan buku-buku bacaan agama di perpustakaan sekretariat.
Pasca Pemilu 1998 di Imogiri proses PD IRM telah memasuki Musyawarah Daerah XIII dan dilanjutkan dengan konferensi pimpinan cabang di Pundong pada tanggal 5-6 Desember 1998. Adapun aktifitas keagamaan PD IRM pada masa ini tetap mengacu pada permasalahan dan bidang garap pengkaderan. Setelah dirumuskannya sistem pengkaderan IRM maka kualitas kadernya pun dapat dijaga. Dalam hal ini IRM bekerja sama dengan Badan Pembina Kader, PDM dengan Angkatan Muda Muhammadiyah mengamati prestasi akademik para kader dan membangun konsep serta materi pengkaderan. Di Bantul, Irmawati turut serta di dalam melakukan pendidikan mental remaja puteri dan pendidikan keluarga sakinah di tingkat cabang dan ranting.
Dari berbagai aktivitas keagamaan IRM tersebut merupakan fungsionalisasi transformasi, distribusi, dan prestasi akademik kader, setelah konsep dan materi pengkaderan dibangun. Para kader inilah nantinya menjadi alat penyeimbang situasi dan kondisi sosial keagamaan di masyarakat misalnya dengan meningkatkan pembinaan dan pembinaan studi serta prestasi studi terutama dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dan Arab.
Kegiatan orientasi jurnalistik menjadi kegiatan yang diminati kalangan remaja. Di Pimpinan Cabang Piyungan misalnya diselenggarakan pelatihan jurnalistik yang diikuti oleh 62 peserta yang terdiri dari ranting SMA dan SMP. Sebagai tindak lanjut kegiatan tersebut diterbitkan buletin “Kharisma” pada tanggal 15 Maret 1998 di SMA Muhammadiyah Piyungan. Didalam bulletin ini informasi dan kreatifitas remaja dapat ditampung. Secara tidak langsung remaja diberdayakan untuk berdakwah di lingkungannya (lihat lampiran 1).
Pada tahun 1999, pasca konferensi cabang IRM di Piyungan, pada tanggal 27-28 Nopember 1999. Aktivitas keagamaan dalam bentuk penyadaran, pemberdayaan dan pembelaan kepada para remaja, serta berpartisipasi aktif sebagai pemantau pemilu.
Sesuai dengan program kerja yang telah ditetapkan pada tanggal 25 Maret 2001, di Pleret IRM dan pasca Musyawaah XIV di Pandak Timur, pada tanggal 25-26 Nopember 2000 terus menerus diupayakan perencanaan dan memposisikan kader di kalangan remaja. Hal ini merupakan proses integrasi IRM Bantul sebagai konsekuensi logis adanya interaksi yang baik dengan masyarakat.
Pada periode ini IRM Bantul telah merintis pembuatan buku pedoman pimpinan menyusun landasan sistem kaderisasi dan mensosialisasikannya kepada pimpinan cabang, dan ranting, serta masyarakat, misalnya dengan kegiatan silaturahmi. Usaha IRM dalam menjalankan pembinaan kader juga dilakukan dengan menjalin kerjasama antara IRM dengan pemuda Muhammadiyah Nasyiatul ‘Aisyiah, PDM dan lain-lain. Aktivitas Mabica dan Maperta diselenggarakan IRM Bantul pada siswa kelas 1 dan 3. Pelaksanaan pelatihan da’i turut dijadikan IRM  Bantul target penyiapan dan penyediaan kebutuhan da’i remaja di Bantul.[108]
Kegiatan dakwah syiar dan pengkajian keIslaman merupakan hasil konferensi pimpinan cabang IRM di Sanden pada tanggal 2-3 Februari 2002 di Sekolah Muhammadiyah. Diikuti pengkajian tentang tuntunan hidup Islami bagi remaja, menjawab tantangan dan isu problematika yang marak di kalangan remaja, serta memberikan wacana Islam modern[109] yang syarat dengan muatan dakwah yang kompleks. Transformasi ilmu dilakukan kepada masyarakat agar setidaknya telah memiliki ketahanan pendidikan (education = tarbiyah, kebudayaan kemanusiaan).[110] Pada masa itu, para remaja di Bantul lebih dominan telah berpendidikan Menengah Pertama dan Menengah Atas.
Berbagai aspek kehidupan dilakukan atas dasar kesadaran adanya pertanggungjawaban kepada Tuhan. Sebagai konsekuensi dari sikap ini, maka dalam berbagai tindakan dan perilaku sehari-hari tidak terlepas dari nilai-nilai moral keagamaan. Oleh karena itu aktivitas keagamaan yang berkembang di daerah ini merupakan target pencapaian IRM. Nilai ibadah dan aktivitas ini tidak dapat disejajarkan dengan ibadah-ibadah khusus yang aturannya telah ditentukan dalam ajaran Islam. Aktivitas keagamaan IRM ialah ibadah umum yang aturan-aturannya tidak ditentukan secara pasti dalam Islam. Ibadah umum mempunyai pengertian sebagai tindakan yang tidak dilarang oleh Tuhan dan bertujuan untuk mengajak kepada kebaikan serta kemanfaatan. Dengan diadakannya aktivitas tersebut secara langsung maupun tidak akan meningkatkan spiritualitas bagi orang yang mengikutinya khususnya masyarakat Bantul yang nota bene merupakan tempat diadakannya aktivitas tersebut.

Pengembangan Dakwah IRM

Tahun 1992 merupakan awal perubahan segmentasi garapan IRM dari pelajar menjadi remaja. Dari sinilah pengembangan dakwah IRM dimulai. Aktivitasnya dilakukan langsung di masyarakat, dalam usahanya menumbuhkan keinsafan dan penanaman makna hidup yang kokoh dalam masyarakat melalui berbagai bidang seperti bidang pengkaderan, bidang pengkajian dan pengembangan dakwah, bidang pengkajian  ketrampilan dan wirausaha, bidang pengkajian dan pengembangan seni dan budaya dan bidang Irmawati.
Pembuatan peta dakwah IRM Bantul sebagai aktivitas paling awal cukup memberikan kemudahan dalam memberikan informasi mengenai data-data problematika umat. Sebagai usaha nyata IRM melakukan pembinaan umat di masyarakat, maka dilakukan wisata dakwah. Kegiatan ini langsung berhadapan dengan masyarakat. Adapun aktivitasnya meliputi pengajian pimpinan, pengajian dalam rangka memperingati Hari Besar Islam penerbitan bulletin dakwah, dakwah IRM-putri (Irmawati) dan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an.
Pada tahun 1996-1997 merupakan puncak dakwah Irmawati Bantul yang aktivitasnya terdiri ceramah dan dialog. Forum Irmawati, lintas cabang, bedah buku, pengintensifan pengajian, pendidikan khusus Irmawati II, pengajian konsultasi Irmawati, serta penertiban dan penyeragaman busana muslim bagi remaja puteri di sekolah dan di masyarakat muslim Bantul.[111]
Penggalian minat dan bakat seni merupakan perwujudan kepedulian IRM Bantul pada seni dan budaya. Aktivitasnya meliputi kajian seni-budaya, pekan olahraga dan seni remaja Islam, pentas seni Islami, dan mengakomodir group seni di seluruh pimpinan cabang dan ranting. Kegiatan dan aktivitas tersebut merupakan usaha IRM dalam rangka lebih mengefektifkan dakwah di seluruh wilayah Bantul.[112]
Pada tahun 1996 dan 1997 IRM Bantul melaksanakan pendidikan kewirausahaan dan pameran hasil usaha anggota dan warga Muhammadiyah.[113]Aktivitas ini turut menumbuhkan khasanah keilmuan dan wacana yang berbeda bagi proses interaksi dan integrasi IRM di masyarakat.
Kegiatan pengembangan dakwah IRM Bantul pada tahun 1998-1999 kurang semarak, karena dipengaruhi oleh situasi dan kondisi sosial dan politik negara yang labil. Krisis ekonomi tidak menjadikan kendala berarti dalam melakukan pengembangan konsep dienul Islam di kalangan remaja Bantul.[114]Berbagai upaya IRM Daerah Kabupaten Bantul dalam melakukan pengembangan dakwah.[115] Sebuah organisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang merupakan sumber permasalahan yang saling berkaitan dengan tim kerja, yaitu dipengaruhi oleh tujuan, kepemimpinan, kebutuhan anggota, pengambilan  keputusan, norma-norma dan masyarakat. [116]
Sikap pluralisme antar golongan jamaah seperti Salafi, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir pada tahun awal 1999 cukup mempengaruhi proses pemilihan kader IRM dan pada akhir tahun 1999 hal tersebut sudah tidak berimbas kepada IRM Bantul lagi.[117]
Dalam satu dekade terakhir IRM Bantul telah memiliki 12 Pimpinan Cabang, 39 Pimpinan Ranting Sekolah yang terdiri dari 4 ranting sekolah Madrasah Tsanawiyah  Muhammadiyah, 9 Ranting Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah dan 6 Ranting Sekolah Menengah Kejuruan Muhammadiyah dan 20 Ranting sekolah Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah yang masing-masing juga melakukan aktivitas pengembangan dakwah.
Kepeloporan IRM dalam Pembinaan Moral.
Sesuai dengan kodratnya, manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, karena kehidupan manusia tidak terpikirkan di luar masyarakat. Individu-individu tidak bisa hidup dalam keterpencilan selama-lamanya. Untuk bertahan hidup dan hidup sebagai manusia sebagaimana mestinya, setiap individu membutuhkan orang lain. Dari saling ketergantungan tersebut kemudian terbentuklan masyarakat.[118]
Hidup bersama orang lain atau bermasyarakat oleh orang Bantul dinilai sangat tinggi. Hal ini karena dalam kehidupan desa, seorang individu tidak dapat hidup dalam lingkungan. Identitasnya terdapat dalam lingkungan tersebut tetapi dilingkupi oleh komunitasnya, masyarakat dan alam sekitar. Untuk itulah IRM yang bergerak di bidang sosial keagamaan memiliki kontrol sosial (control social) di masyarakat. Usaha IRM dalam rangka mencapai fungsi sosial direalisasikan dalam berbagai macam aktivitas tindakan dan perilaku sehari-hari yang tidak terlepas dari nilai-nilai moral keagamaan. Aktivitas IRM yang berkembang di Bantul merupakan kegiatan yang mengandung unsur keagamaan dan tujuan keagamaan yang syarat dengan nilai ibadah. Aktivitas tersebut misalnya menumbuhkan kepekaan remaja pada masalah-masalah sosial, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat secara luas. Adapun aktivitas IRM Bantul tersebut terdiri dari : bakti sosial, pasar murah, mengumpulkan infaq untuk korban banjir di Kecamatan Kretek dan lain sebagainya.[119]Aktivitas tersebut dalam satu dekade terakhir cukup menjadi penggerak (driving force) IRM Bantul di masyarakat.
Usaha lain IRM Bantul dalam rangka menangani berbagai permasalahan para anggota di sekolah-sekolah dan memberikan ceramah di masyarakat dan IRM berupaya melakukan usaha preventif.[120] Upaya preventif IRM Bantul diwujudkan ke dalam rekomendasi dan usulan yang ditujukan kepada PDM  Bantul terutama Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah agar turut membina Pimpinan Ranting Sekolah oleh Kepala Sekolah dan guru. Rekomendasi juga ditujukan kepada pemerintah, berisi tentang perlunya pengawasan yang ketat terhadap peredaran obat-obatan terlarang di kalangan remaja dan iklan yang tidak sesuai dengan norma agama. Pengalaman berintegrasi IRM dengan berbagai lapisan masyarakat inilah nantinya yang akan memberikan nilai lebih dari sisi aktivitas keagamaannya.
Pada tahun 2000 PD IRM Bantul melaksanakan kegiatan talk show yang bertemakan “Seks Bebas dan Bahaya Narkoba” di Balai desa Srigading, Sanden, Bantul. Aktivitas tersebut selain diikuti Pimpinan Ranting IRM dan Pimpinan Cabang IRM juga dihadiri sejumlah ormas lain seperti IPNU, IPPNU, NA, PM dan remaja Bantul pada umumnya. IRM didalam melakukan aktivitas sosial tersebut berusaha untuk mencapai tujuan-tujuan keagamaan yang syarat dengan penyampaian nilai-nilai moral.
Pembinaan remaja IRM Bantul turut memperkuat pembinaan agama Islam kepada para remaja, dengan aktivitas rutin seperti pengajian di sekolah-sekolah. Gerakan penyadaran dan pengendalian berbagai macam penyakit masyarakat dilakukan oleh pemerintah, aparat hukum dan masyarakat.[121].
Adapun aktivitas IRM Bantul yang lain ialah menanggapi isu-isu aktual seperti dukun santet, penculikan, aksi infasi Amerika Serikat ke Irak. Secara umum aktivitas tersebut dilakukan oleh sebuah Bidang Khusus IRM Bantul yang bernama Hikmah dan Advokasi.[122]
Bentuk nyata IRM Bantul untuk menciptakan pemerintahan yang bersih (clean government), maka bidang hikmah dan advokasi mengeluarkan sebuah pernyataan sikap tegasnya menolak segala bentuk politik uang (money politics) di segala tingkat birokrasi (lihat lampiran 2), mulai dari desa sampai dengan pusat. Dengan bekerja sama  dengan ormas lain dan masyarakat seperti IPNU, IPPNU, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dan Salafi aktivitas tersebut direalisasikan bersama-sama sampai sekarang.[123]
BAB V

PENUTUP

Simpulan
Secara umum kehidupan sosial keagamaan masyarakat di Bantul sangat dinamis. Kehidupan keagamaan masyarakat Islam turut mendominasi aktivitas dan kegiatannya. Muhammadiyah merupakan salah satu ormas keagamaan yang turut serta mengaktifkan sosial keagamaan umat Islam Bantul. Di dalam melakukan aktivitas keagamaannya, turut membina para remaja di Bantul, khususnya remaja Muhammadiyah. Hal ini terus dilakukan sejalan dengan gerak dan langkah amal usaha Muhammadiyah yang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan umat di Bantul.

56

 

IRM (dulu IPM) merupakan organisasi otonom Muhammadiyah yang secara fungsional menjadi pelangsung dan pelopor Muhammadiyah. Gerak dan aktivitasnya di Bantul ditandai dengan dibentuknya Pimpinan Daerah IPM (sekarang IRM) pada tahun 1967. Pertumbuhan dan perkembangan organisasi didukung oleh keberadaan Pimpinan Cabang dan Pimpinan Ranting di seluruh wilayah Bantul. Mabica, Maperta dan Pelatihan kader-kader lain, merupakan usaha IRM Bantul di dalam melakukan perluasan dan pembinaan kader. Pada tahun 1992 merupakan periode peralihan yang ditandai dengan pergantian nama IPM menjadi IRM. Dengan demikian, terjadi perubahan tujuan dan pedoman aktivitas. Segmentasi ruang garapannya semakin luas, dari pelajar menjadi remaja. IRM di dalam aktivitasnya berpedoman pada Muktamar, Hasil Musyawarah Wilayah, Hasil Musyawarah Daerah, dan Musyawarah Cabang dan Rapat Kerja. Pedoman aktivitas tersebut disesuaikan dengan kebutuhan, situasi dan kondisi IRM di Bantul.

Partisipasi aktif IRM dalam berbagai kegiatan keagamaan turut serta melakukan pemurnian keagamaan di Bantul. Sebagai pelopor, pelangsung amal usaha Muhammadiyah memiliki kewajiban untuk menyampaikan gerakan Islam Muhammadiyah di masyarakat. Aktivitas IRM dalam gerakan Islam amar ma’ruf nahi munkar diterapkan di segala aspek kehidupan bermasyarakat. Berbagai aktivitas IRM di bidang keagamaan ialah membentuk kelompok-kelompok kajian keIslaman, mengadakan pengajian dan pelatihan-pelatihan seperti pelatihan da’i serta mengadakan pelatihan Kader Taruna Melati 1,2 dan pendidikan khusus Irmawati. Pembinaan keagamaan IRM Bantul terus dilakukan pengembangan dakwah sejalan dengan derasnya arus informasi dan teknologi. Penerapan hidup agamis di kalangan remaja Bantul turut membentuk moral (akhlak) dan keimanannya (aqidah). Pada akhirnya, pembinaan tersebut diharapkan mampu membentuk kepribadian remaja yang Islami dan mampu menjadi pelopor umat mengenai moral di lingkungannya maupun di masyarakat Bantul. Bentuk nyata IRM Bantul misalnya dituangkan dalam rumusan pernyataan sikap penolakan terhadap segala bentuk money politic dimanapun.

Saran

Kehidupan sosial keagamaan masyarakat Bantul dapat terwujud dengan adanya kerjasama di berbagai pihak. Dengan melibatkan seluruh umat, element masyarakat yang variatif di Bantul dalam kehidupan beragama dapat harmonis dan idealis, misalnya dalam menanggulangi molimo, maraknya playstation dan lain-lain.
Pertumbuhan dan perkembangan IRM di Bantul tidak dapat terlepas dari proses kesejarahannya. Oleh karena itu dalam rangka memperbaiki sistem dan kerja serta kebijakan organisasi, maka perlu dilakukan tim observasi organisasi baik tingkat cabang dan ranting.
Meskipun peran serta IRM Bantul dalam beraktivitas di masyarakat sudah dijalankan secara utuh, namun aktivitas tersebut belum mampu dirasakan gerakannya secara luas oleh masyarakat Bantul. Proses interaksi IRM dengan elemen masyarakat merupakan keberhasilannya dalam berintegrasi dan memanajemen konflik orgnisasi. Perwujudannya adalah pada aktivitas keagamaan dan sosial masyarakat, terutama dapat dilihat pada waktu menyebarluaskan rekomendasi sebagai bentuk penolakan IRM terhadap money politic dalam pemerintahan.
Bagi Penulis selanjutnya yang tertarik dengan bahasan ini, sekiranya lebih mencermati data, kemudian memahami dan menguasai metodologi penulisan secara benar, serta memperhatikan struktur dalam bahasa penulisan.
DAFTAR PUSTAKA
1.      Daftar Buku
Abdul Munir Mulkhan. Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah. Yogyakarta : Persatuan, 1990.
Arif Ashari dan Mimien Maimunah. Muhammad Abduh dan Pengaruhnya di Indonesia. Cet. I, Surabaya : Al-Ikhlas, 1996.
Bahrein T. Sugihen. Sosial Pedesaan (suatu pengantar). Jakarta : Grafindo Persada, 1996.
Berkhofer, Robert F. Jr. A Behavioral Approach to Historical Analysis. New York : The Free Press, 1996.
Deliar Noer. Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942. Cet. I, Jakarta : Pustaka LP3ES, 1980.
Departemen Agama R.I.. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta : Intermasa, 1990.
Dudung Abdurrahman. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999.
_______, Pengantar Metode Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah. Yogyakarta : IKFA Press, 1998.
Ensiklopedia Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta : Logos, 1996
Ensiklopedia Islam. Jakarta : Anda Utama, 1993
Fuad Amsyari. Masa Depan Umat Islam Peluang dan Gerakan. Jakarta: Bulan Bintang, 1975.
G. JJ. Renier. Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah. Terj. Muin Umar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1997.
Gottschalk, Louis. Mengerti Sejarah. Edisi II, Jakarta : UI Press, 1969.
Harun Nasution. Pembaruan dalam Islam, Sejarah, Pemikiran dan Gerakan. Jakarta : Bulan Bintang, 1975.
Idham Samawi (pengantar Damarjati Supadjar). Membangun Bantul di Era Otonomi. Bantul: Serat Emas, 2003.
Johnson, Doyle Paul. Sociological Theory dialihbahasakan oleh Robert M. Z. Lawang. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jilid II, Jakarta : Gramedia, 1986.
Kuntowidjoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Cet. I, Yogyakarta : Yayasan Bermuda, 1995.
Leonardo D. Marsam, dkk. Kamus Praktis Bahasa Indonesia. Surabaya : Karya Utama, 1983.
Masri Sangarimbun dan Sofian Effendi. Metode Penelitian Survei. cet. I, Jakarta : LP3ES, 1989.
M. Margono Poespo Soewarno. Gerakan Islam Muhammadiyah. Cet. IV, Yogyakarta : Persatuan, 1989.
M. Dawam Raharjo (pengantar). Gerakan Keagamaan dalam Pergulatan Civil Society. Analisis perbandingan visi dan misi LSM dan ormas berbasis keagamaan, Jakarta : LSAF dan IAF, 1999.
M. Yunan Yusuf. Cita dan Citra Muhammadiyah. Jakarta : Panjimas, 1985.
P.P. IPPNU. Sejarah Perjalanan IPPNU (Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama) 1955-2000. cet. I, Jakarta : PP. IPPNU, 2000.
P.P. IRM, Pengangat Franz Magnis Suseno. Melawan Kekerasan Tanpa Kekerasan. cet. I, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000.
Polama, Margaret M. Sociology Contemporer. yang diterjemahkan oleh Yasogama. Sosiologi Kontemporer. Jakarta : Rajawali, 1984.
Soerjono Soekamto. Kamus Sosiologi. Edisi Baru, Jakarta : Raja Grafindo, 1993.
_______________. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali, 1990.
Sondang P. Siagian, MPA. Teori Pengembangan Organisasi. Jakarta : Bumi Aksara, 1997.
Sutrisno Hadi. Metologi Research. Yogyakarta : Andi Offset, 1992.
Syamsu Yusuf. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2000.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta : Balai Pustaka (Dep. P & K), 1988.
Tom Campbell. Tujuh Teori Sosial, Sketsa Penelitian, Perbandingan. Yogyakarta : Kanisius, 1994.
Umar Hasyim. Muhammadiyah Jalan Lurus dan Tajdid, Dakwah Kaderisasi dan Pendidikan Kritik dan Terapinya. Surabaya : Bina Ilmu, 1990.
Winarto Surakhmad. Pengantar Penelitian Ilmiah : Dasar Metode dan Teknik. Bandung : Tarsito, 1986.
Yudia Wahyudi. Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul 1965-1999 (Kajian Dinamika Amal Usahanya). Yogyakarta : tidak diterbitkan, 2001.
2.      Daftar Dokumen
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah  (BAPPEDA) Kabupaten Bantul. Laporan Data Pokok Pembangunan Daerah Kabupaten Bantul tahun 2002. Bantul : Bappeda Bantul, 2002.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Bantul. Bantul dalam Angka Tahun 2001. Bantul : BPS Bantul, 2001.
Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Arsip data ormas di Kabupaten Bantul sejak 12 Juli 2003.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah. Yogyakarta : Persatuan, 1983.
_______. Muqoddimah Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah. Yogyakarta : PPM, 1990.
_______. Materi Induk Perkaderan Muhammadiyah. Cet.I, Yogyakarta : Persatuan, 1994.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bantul. Peran Serta Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul dalam Era Pembangunan (sebuah informasi). Bantul : PDM, 1989.
_______. Arsip Laporan Musyawarah Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bantul periode 1985-1999. Bantul : PDM, 1990.
_______, Arsip Laporan Tahunan Muhammadiyah Bantul 1991-1992.
_______, Arsip Laporan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bantul periode 1995-2000, Bantul : PDM, 2000.
_______, Arsip Hasil Tanfidz Musyawarah Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bantul tahun 2001, Bantul : PDM Bantul, 2001.
Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Kumpulan Materi Pengkaderan IPM Wati, Yogyakarta tahun 1982
Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah, Pedoman Anggota IRM 1993-1995, Yogyakarta : Kurnia Kalam Semesta, 1995.
_______, Arsip Hasil Tanfidz Mukatamar X, Surabaya, 11-15 Maret 1996.
_______, Arsip Hasil Tanfidz Muktamar XII, 8-11 Juli 2000.
_______, Arsip Hasil Tanfidz Muktamar XIII, 10-13 Oktober 2002.
Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Pedoman Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Yogyakarta : PW IPM, 1984.
Pimpinan Wilayah Ikatan Remaja Muhammadiyah DIY, Panduan Konferensi Wilayah Yogyakarta, Yogyakarta : Mitra Komunika, 2001.
_______, Data Base Pimpinan Wilayah IRM DIY Bagian Organisasi PW IRM DIY, Yogyakarta : PW IRM DIY,  2003.
Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Arsip Surat Keputusan Ikatan Pelajar Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul Periode 1981-1983.
______, Panduan Masa Bimbingan Calon Anggota,  Bantul : PD IPM Bantul, 1989
______, Arsip Hasil Tanfidz Musyawarah Daerah X IPM tahun 1991, Bantul : PD IPM, 1991.
Pimpinan Daerah IRM. Kabupaten Bantul, Arsip Hasil Tanfidz Musyawarah Daerah XII IRM Kabupaten Bantul, 23-25 Desember 1995, Bantul : PD IRM, 1995
______. Arsip Hasil Tanfidz Musyawarah Daerah XIV IRM Kabupaten Bantul. tahun 2001.
______. Panduan Masa Bimbingan Calon Anggota PD IRM Kabupaten Bantul. (Bantul : PD IRM, 2001).

DATA PERTANYAAN

1.      Bagaimanakah keadaan sosial keagamaan masyarakat Bantul?
2.      Apa sajakah aktivitas yang dilakukan oleh Muhammadiyah Bantul?
3.      Mengapa aktivitas tersebut penting dilakukan terutama di dalam pembinaan kepada para remaja?
4.      Bagaimanakah asal-usul IRM Bantul dan perkembangan apa saja yang dicapai, serta apa yang menjadi tujuan dan pedoman aktivitasnya?
5.      Apakah kegiatan/aktivitas IRM Bantul di masyarakat dan mengapa hal tersebut dilakukan?
DATA IRM KABUPATEN BANTUL*)
1.      Pimpinan Cabang IRM Kabupaten Bantul
a.       PC IRM Pundong
b.       PC IRM Kretek
c.       PC IRM Sanden
d.      PC IRM Bambanglipuro
e.       PC IRM Bantul
f.        PC IRM Kasihan
g.       PC IRM Pleret
h.       PC IRM Banguntapan Utara
i.         PC IRM Piyungan
j.         PC IRM Imogiri
k.       PC IRM Srandakan
l.         PC IRM Banguntapan
2.      Pimpinan Ranting SMP M/Mahasiswa M IRM se-Kabupaten Bantul.
a.       SMP M Bantul, Jl. Gajah Mada 7B Kabupaten Bantul 55711
b.       SMP M Piyungan, Piyungan Srimartani Pos Piyungan Kabupaten Bantul 55792.
c.       SMP M Srandakan, Jl. Pandansimo Poncosari Srandakan Kabupaten Bantul 55762.
d.      SMP M Sanden, Jl. Sorobayan Gadingsari Sanden Kabupaten Bantul 55763.
e.       SMP M 1 Pundong, Blali Seloharjo, Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul 55771
f.        SMP M 2 Pundong, Gulan, Srihardono Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul 55782.
g.       SMP M 1 Bambanglipuro, Bekang Mulyodadi Bambanglipuro, Kabupaten Bantul.
h.       SMP M 2 Bambanglipuro, Derman, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Kabupaten, Bantul 55764.
i.         SMP M Pleret, Gondowulung, Kanggotan, Pleret Kabupaten Bantul 55791.
j.         SMP M Kretek, Tegalsari, Donotirto, Kecamatan Kretek Kabupaten Bantul 55772.
k.       SMP M Kasihan, Senggotan, Tirtonirmolo, Kasihan, Kabupaten, Bantul 55181.
l.         SMP M 2 Sedayu, Sumberan, Argodadi, Sedayu Kabupaten Bantul, 55752.
m.     SMP M 1 Sedayu, Jl. Wates Pedes, Argomulyo, Sedayu Kabupaten Bantul 55753.
n.       SMP M Banguntapan, Wiyoro Lor, Baturetno, Banguntapan Kabupaten Bantul 55197.
o.       SMP M Pandak Kuroboyo, Caturharjo, Pandak, Bantul 55761.
p.       SMP M 1 Dlingo Terong, Dlingo, Kabupaten 55761.
q.       SMP M 2 Dlingo, Seropan, Muntuk, Dlingo Kabupaten Bantul 55783.
r.        SMP M Sewon, Bandung, Pendowoharjo, Sewon Kabupaten Bantul 55188.
s.        SMP M Jetis, Pulokandang, Canden, Jetis, Kabupaten Bantul 55781
t.        MTs M Trisigan, Murtigading, Sanden, Kabupaten Bantul 55763
u.       MTs Peleman, Bangunjiwo, Kasihan, Kabupaten Bantul 55184
v.       MTs M Jl. Basuki Rahmat no. 2 Bantul Kabupaten bantul 55173
w.     MTs M Jl. Jogodayoh Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul 55764.
3.      Pimpinan Ranting SMA M/SMK M  IRM se-Kabupaten Bantul
a.       SMA M I Bantul Jl. Urip Sumoharjo 4A Kabupaten Bantul 55711.
b.       SMA M Kasihan Jl. Bantul Km 6 Mrisi Tirtonirmolo Kasihan Bantul 55181.
c.       SMA M Piyungan, Piyungan, Srimartani, Kabupaten Bantul 55792.
d.      SMA M Sanden, Jl. Sorobayan Gadingsari, Sanden Kabupaten Bantul 55763.
e.       SMA M  Imogiri, Imogiri Pos Imogiri Kabupaten Bantul 55782.
f.        SMA M Kretek, Jl. Parangtritis Km 20 Gadingharjo, Donotirto, Kretek, Bantul 55772.
g.       SMA M Pleret, Jl. Kanggotan Pleret Kabupaten Bantul 55791
h.       SMA M Sewon, Jl. Mredo Bangunharjo Sewon Kabupaten Bantul 55188.
i.         SMA M 2 Dlingo, Jl. Jatimulyo, Dlingo, Kabupaten Bantul 55793.
j.         SMK M (Teknologi) Manding Desa Trirenggo, Kecamatan atau Kabupaten Bantul 55714.
k.       SMK M (Teknologi) Nglarang Desa Mulyodadi Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul.
l.         SMK M (Ekonomi) 2 Bejen Bantul 55711.
m.     SMK M (Ekonomi) Kretek, Jl. Tegalsari Donotirto Kretek Kabupaten Bantul 55772.
n.       SMK M (Teknologi) Jl. Imogiri Pos Imogiri Kabupaten Bantul 55782.
o.       SMK M (Teknologi) Pelemsari Srimartani Pos Piyungan, Kabupaten Bantul 55792.

[1]Umar Hasyim, Muhammadiyah Jalan Lurus dan Tajdid, Dakwah Kaderisasi dan Pendidikan Kritik dan Terapinya, (Surabaya : Bina Ilmu, 1990), hlm., v-vi
[2]Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, (Yogyakarta : Persatuan, 1983), hlm., 7, dikutip dari Yudia Wahyudi,  Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul (Kajian Terhadap Dinamika Amal Usahanya) 1965 – 1999, (Skripsi Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2001), hlm., 1
[3]Dikutip dari Syakirman M. Noer, Pemikiran Pembaruan Muhammadiyah Formulasi Konsep Tajdid dan Implementasinya pada Kurikulum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah, (Tesis S2 Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1994), hlm., 1.
[4]Umar Hasyim, Muhammadiyah Jalan Lurus, hlm., 6.
[5] M. Yunan Yusuf, Cita dan Citra Muhammadiyah, (Jakarta : Panjimas, 1985), hlm., 4.
[6] Ibid., hlm., 17. Lihat juga Harun Nasution, Pembaruan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta : Bulan Bintang, 1975), hlm., 11
[7]Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900 – 1942, Cet. IV, (Jakarta : Pustaka LP3ES, 1988), hlm., 87
[8]PP. Muhammadiyah, Anggaran Dasar, hlm., 7
[9]Arif Ashari dan Mimien Maimunah Z., Muhammad Abduh dan Pengaruhnya di Indonesia, Cet. 1, (Surabaya : Al-Ikhlas, 1996), hlm., 91
[10]Yang dimaksud dengan Organisasi Otonom ialah “badan yaang dibentuk persyarikatan yang dengan bimbingan dan pengawasannya diberi hak dan kewajiban untuk mengatur rumah tangganya sendiri, membina warga persyarikatan tertentu dalam bidang-bidang kegiatan tertentu dalam rangka mencapai maksud IRM Muhammadiyah”. Dituangkan dalam Keputusan PP. Muhammadiyah No. 1/PP/1982 tentang Qo’idah Organisasi Otonom. Dikutip dari Pimpinan Wilayah IPM. DIY, Buku Pedoman Ikatan Pelajar Muhammadiyah. (Yogyakarta : PW. IPM. DIY., 1984), hlm., 31
[11]Pimpinan Pusat IRM, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IRM, hasil Tanfidz Keputusan Muktamar XII Jakarta 8-11 Juli 2000, hlm.,23.
[12]Gerakan amar ma’ruf nahi munkar merupakan usaha IRM untuk megajak umat Islam memeluk Islam dan memahami ajaran dengan benar dan meninggalkan aktivitas yang tidak bermanfaat. Dalam Ensklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta : Logos, 1996), hlm., 100, diartikan perintah untuk berbuat kebaikan daripada berbuat keburukan.
[13]Wawancara dengan Arif Widayanto (21) PD IRM 2000-2002, Pada tanggal 9 Maret 2002 di Sanden, Bantul
[14]PDM Kabupaten Bantul, Peran Serta Muhammadiyah Kabupaten Bantul, (Bantul : PDM, 1989), hlm., 14. Lihat skripsi Yudia W, Muhammadiyah, hlm., 43.
[15]Wawancara dengan Ninik Susilowati (22) PD IRM 1998-2000, pada tanggal 23 Februari 2002, di Badegan, Bantul.
[16]Wawancara dengan Arif Widayanto (21), pada tanggal yang sama.
[17]Wawancara dengan Bapak Arba Riksawan Qomaru (33) PD IPM 1991-1993, pada tanggal 18 Maret 2002 di Sanden, Bantul.
[18]Wawancara dengan Bapak Basyir Dahlan (56), pada tanggal 13 Maret 2001, di Pepe, Trirenggo, Bantul.
[19] Wawancara dengan Bapak  Sujarwanto (51), pada tanggal 1 Maret 2002 di Perumahan Karangjati Indah 1, Kasihan,  Bantul.
[20]Wawancara dengan Bapak Suwandi DS. (44), pada tanggal 9 Maret 2001 di Ganjuran, Bambanglipuro,  Bantul.
[21]Wawancara dengan Bapak Sumarno PRS (56), pada tanggal 3 Maret 2001 di Sribit, Bambanglipuro, Bantul
[22]Wawancara dengan Bapak Supriyanto (43), pada tanggal 13 Maret 2002 di Jln. Prof. Dr. Soepomo H. 192 Bantul.
[23]PP IRM 1993-1995, Pedoman Anggota IRM, (Yogyakarta :  Kurnia Kalam Semesta, 1995), hlm., 60
[24] Ibid., hlm., 61.
[25]Wawancara dengan Bapak Arba Riksawan Qomaru (33), PD IPM 1991-1993, pada tanggal 9 Maret 2001, di Sanden, Bantul.
[26]PP IRM, 1993-1995, Pedoman Anggota IRM, hlm., 9
[27]Wawancara dengan Bapak Arba Riksawan Qomaru (33), dan Bapak Aris Syamsugito (29), PD IPM 1993-1995, pada tanggal 12 Maret 2002, di Kadirojo, Palbapang, Bantul.
[28] Ibid., dan wawancara dengan Arif Widayanto (21), PD IRM, 2000-2002, pada tanggal 5 Mei 2002.
[29]Fuad Amsyari,  Masa Depan Umat Islam Indonesia Peluang dan Tantangan, (Bandung : Mizan, 1993), hlm., 167.
[30]Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta, Materi Induk Perkaderan Muhammadiyah, Cet. 1. (Yogyakarta : Persatuan, 1994), hlm., 114.
[31]Dudung Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm., 5.
[32]Soerjono Soekamto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : Rajawali, 1990), hlm., 19, lihat juga Berkhofer, Robert F, Ir., A Behavioral Approach to Historical Analysis, (New York : The Free Press, 1971), hlm., 67-74, lalu lihat Ibid., hlm., 90.
[33]Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Cet. I, (Yogyakarta : Yayasan Berbudaya, 1995), hlm., 13.
[34]Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (t.p. 1991), hlm., 34
[35]Fuad Amsyari, Masa Depan Umat Islam Indonesia, hlm., 166. juga dilihat Hendro Puspito, Sosiologi Sistematik, (Jakarta : Grafindo, 1989), hlm., 259.
[36]Soerjono Soekamto, Kamus Sosiologi, Edisi Baru, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993), hlm., 323-324.
[37] Ibid. hlm., 9
[38]M. Dawam Rahardjo (Pengantar), Gerakan Keagamaan Dalam Pergulatan Civil Society Analisis Perbandingan Visi dan Misi LSM dan Ormas Berbasis Keagamaan, (Jakarta : LSAF dan TAF, 1999), Lihat Juga Poloma, Margaret M, Sociology Contemporer,  diterjemahkan Yasogama, (Jakarta : Rajawali, 1984), hlm., 23. Lihat Bahrein T. Sugihen, Sosiologi Pedesaan, suatu pengantar, (Jakarta, Grafindo Persada, 1996), hlm., 64. Lihat juga Johnson, Doyle Paul, Sosiological Theory dialih bahasakan oleh Robertz Mz. Lawang, Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid II, (Jakarta : Gramedia, 1986), hlm., 100-1003 dan 124-123.
[39]Abdul Munir Mulkhan, Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Usaha Muhammadiyah, Cet. I, (Yogyakarta : Persatuan, 1990), hlm., 108-109
[40]Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2000), hlm., 184.
[41]Masri Sangarimbun dan Sofian Efendi, Metode Penelitian Survei, Cet-I, (Jakarta : LP3ES, 1989), hlm., 12.
[42]Dudung Abdurrahman, Pengantar Metodologi Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah, (Yogyakarta : IKFA Press, 1988), hlm., 20
[43]G. JJ. Renier, Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah, Terj. Muin Umar, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1997), hlm., 113
[44]Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta : Andi Offset, 1992), hlm., 193
[45]Ibid., hlm., 207
[46]Winarto Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah : Dasar Metode dan Teknik, (Bandung : Tarsito, 1986), hlm., 132
[47]Soerjono Soekamto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : Rajawali Press, 1990), hlm., 19
[48]Secara geografis, Kebupaten Bantul terletak antara 07o 44’04”-08o00’27” Lintang Selatan dan 110o12’34”-110o31’08” Bujur Timur. Di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul, di sebelah Utara berbatasan dengan kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo, di sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, dan dikutip dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul, Laporan Data Pokok Pembangunan Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2002. (Bantul : Bappeda, 2002), hlm., 5
[49]Ibid., hlm., 5-7                                                 
[50]Badan Pusat Statistik Kabupaten Bantul, Bantul dalam Angka Tahun 2001, (Bantul : BPS, 2002), hlm., 106.
[51]Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul, Laporan Data Pokok Pembangunan Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2002, (Bantul, Bappeda, 2002), hlm., 111.
[52]Untuk penulisan selanjutnya dipakai istilah Ormas
[53]Untuk selanjutnya dipakai istilah PDM Bantul
[54]Yang dimaksud : Badan Pembantu Pelaksaaan Kegiatan Operasional Muhammadiyah
[55]PDM Bantul, Tanfidz Musyawarah Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bantul Tahun 2003, hlm., 37-39.
[56]Yang dimaksud ialah pembaruan atau pemurnian sebagai upaya pemeliharan matan (isi) ajaan Islam yang didasarkan dan bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun pengertian yang lain, ialah peningkatan pengembangan modernisasi, dan pengertian modernisasi, ialah menempatkan tajdid sebagai usaha rasional dalam penafsiran, pengamalan dan perwujudan ajaran Islam dengan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dikutip dari Abdur Munir Mulkhan, Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah, cet 1, (Yogyakarta: Persatuan, 1990), hlm., 215.
[57]PDM Bantul, Laporan Tahunan dalam Angka Tahun 2000
[58]PDM Bantul dalam angka tahun 2003
[59]PDM Bantul, Peran Serta Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul dalam Era Pembangunan, (sebuah informasi), (Bantul : PDM, 1989), hlm,.12
[60]Yang dimaksud ialah gerakan dakwah yang bertugas memberikan pengarahan dan pembinaan kepada umat dalam hal tuntunan praktis mengenai khitanan, kematian, kelahiran, dan perkawinan denan penjelasan agama. Dikutip dai Margono Poespo Suwarno, Gerakan Islam Muhammadiyah, Cet IV, (Yoyakarta : Persatuan, 1995), hlm., 56.
[61]Yang dimaksud ialah pelaksana dan pengakomodir usaha Muhammadiyah dengan memberikan fatwa dan nasehat yang didasarkan pada hukum Islam dan merumuskannya menjadi tuntunan Islam terutama di bidang Tauhid, Ibadah, dan Muamalah, lalu dijadikan pedoman hidup  pada anggota dan keluarga Muhammadiyah, Ibid., hlm., 58.
[62]PDM Bantul, Arsip Laporan PDM Kabupaten Bantul periode 1995-2000, hlm., 26.
[63] Ibid., hlm., 25-27.
[64]Yudi Wahyudi, Muhammadiyah Daerah Kabupaten Bantul, 1965-1999 (Kajian Terhadap Amal Usaha) Sebuah Skripsi Fakultas Adab yang tidak diterbitkan, hlm., 38
[65]PDM Bantul, Laporan Muhammadiyah tahun 1995-2000, hlm., 20
[66] Ibid,, hlm., 12-13
[67]Yang dimaksud, ialah pembaruan, penyempurnaan, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik, dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, tt), hlm., 117
[68]PDM Bantul, Arsip Laporan PDM Bantul pada tahun 1995-2000, hlm., 21
[69]Wawancara dengan Suwandi DS (44 th), pada tanggal 15 Maret 2003 di Ganjuran, Bambanglipuro, Bantul. Ditambahkan bahwa pembinaan remaja muhammadiyah dilakukan untuk membentenginya dari pengaruh negatif.
[70]PP IRM, Tanfidz Keputusan Muktamar XII IRM  di Jakarta Tahun 2000, hlm., 23.
[71]Pada waktu sebelumnya yaitu tahun 1919 di Yogyakarta  telah muncul group belajar “Siswo Darmo” dan pada tahun 1920 terus mengalami perkembangan,lihat Umar Hasyim, Muhammadiyah Jalan Lurus dalam Tajdid, Dakwah, Kaderisasi dan Pendidikan Kritik dan Terapinya, (Surabaya : Bina Ilmu, 1990), hlm., 171.
[72]Wawancara dengan Bapak Basyir Dahlan (56 th), pada tanggal 13 Februari 2003, di Pepe Pasutan, Trirenggo, Bantul.
[73] Ibid.
[74]Ibid. ditambahkannya bahwa pada periode berikutnya kepengurusan merupakan perpanjangn periode sebelumnya dan terjadi pergantian sekretaris dari Sumarno PRS menjadi Muhari Hanafi
[75]Wawancara dengan Bapak Sumarno, PRS (56 th) pada tanggal 23 Maret 2003, di Sribit, Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul.
[76] Ibid.
[77] Ibid.
[78]Wawancara dengan Bapak Sujarwanto (51 th) pada tanggal 11 Maret 2003 di Perum Karangjati Indah I, Kasihan Bantul.
[79] Ibid.
[80] Ibid.
[81] Ibid.
[82] Ibid.ditambahkan pula, bahwa di dalam pelatihan tersebut sudah dilengkapi buku pendalaman materi yang disusun oleh Yusron Asrofi, MA
[83]Wawancara dengan Bapak Supriyanto (43 th), pada tanggal 8 Maret 2003 di Jl. Prof. Dr. Soepomo SH, 192 Bantul dan Bapak Sahari (49 th) pada tanggal 15 April 2003, di Pepe Trirenggo, Bantul dan Wawancara dengan Bapak Muhari Hanafi (49 th) pada tanggal 13 Maret 2003 di Karangber, Guwosari, Pajangan, Bantul.
[84]Wawancara dengan Bapak Basyir Dahlan (56 th), pada tanggal 13 Februari 2003, di Pepe Pasutan, Trirenggo, Bantul.
[85]Wawancara dengan Bapak Waluyo, Jpe (47 th) pada tanggal 15 April 2004 di Pepe, Trirenggo, Bantul.
[86]Wawancara dengan Bapak Supriyanto (43 th) pada tanggal 8 Maret 2003 di Jl. Prof. Dr. Soepomo, SH. 192 Bantul.
[87]Wawancara dengan Bapak Suwandi DS (44 th) pada tanggal di Mulyodadi, Bambanglipuro, Bantul.
[88] PP. IPPNU, Sejarah Perjalanan IPPNU 1955-2000, (Jakarta : PP. IPPNU, 2000), hlm., 82.
[89]PP. IRM, Pedoman Anggota Ikatan Remaja Muhammadiyah, (Yogyakata : Kurnia Kalam Semesta, 1995), hlm., 61
[90]Wawancara dengan Bapak Arba Riqsawan Qomaru (33 th) pada tanggal 9 Maret 2003 di Sanden, Bantul.
[91]Yang dimaksud : proses permusyawaratan tertinggi tingkat pusat yang pada gilirannya dijadikan pedoman bagi Musyawarah Wilayah, Musyawarah Daerah, Pimpinan Wilayah/Propinsi
[92]Dikutip dari PP IRM, Pedoman Anggota IRM, (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 1995), hlm., 31 – 49
[93]Dikutip dari M. Margono Poespo Suwarno, Gerakan Islam Muhammadiyah, Cet IV, (Yogyakarta : Persatuan, 1995), hlm., 92
[94]Dikutip dari pasal 3 Anggaran Dasar IRM Hasil Muktamar IRM di Kendal tahun 1994 hlm., 9 – 10
[95]PP IRM,  Arsip Keputusan Muktamar IRM Jakarta tahun 2000, hlm 25
[96]Arsip IRM Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2003.
[97]Wawancara dengan Bapak Sahari (49 th), pada tanggal 15 April 2003, di Pepe, Trirenggo, Bantul
[98] Ibid.
[99]PP. IRM, Pedoman Anggota Ikatan Remaja Muhammadiyah, (Yogyakarta : Kurnia Kalam, 1995), hlm., 5.
[100]Wawancara dengan Bapak Aris Syamsugito (29 th) pada tanggal 12 Maret 2003 di Kadirojo, Palbapang, Bantul.
[101] Ibid., ditambahkannya, bahwa keberadaan aktivitas ini juga didukung oleh buku pedoman Mabica kepada setiap anggota.
[102] Ibid.,yang artinya gemar berbuat kebaikan.
[103] Ibid.
[104]Wawancara dengan Ninik Susilowati (22 th), pada tanggal 15 Maret 2003 di Badegan, Bantul, ditambakannya bahwa laporan keuangan disampaikan setiap 2 tahun pada waktu Musyawarah Daerah IRM Bantul.
[105]Wawancara dengan Bapak Sahari (49 tahun), pada tanggal 15 april 2003 di Pepe, Trirenggo, Bantul
[106]Wawancara dengan Ninik Susilowati (22 th), pada tanggal 15 Maret 2003 di Badegan, Bantul.
[107] Ibid.
[108]Pelaksanaannya pada bulan Oktober 2001, dikutip  dari Arsip PD IRM Bantul periode 2000-2002
[109]Misalnya wacana tentang gender, Islam liberal dan politik
[110]Wawancara dengan Abdul Harist (21 th) dan Arif W (22 th) pada tanggal 19 Maret 2003 di PDM Bantul.
[111]Arsip IRM Bantul 1995-1997, hlm.,    dan wawancara dengan Arif Widayanto (22 th) pada tanggal 12 Maret 2003 di Sanden, Bantul.
[112] Ibid.
[113]Wawancara dengan Bapak H. Sahari (49 th), pada tangal 15 April 2003 di Pepe, Trirenggo, Bantul.
[114]Wawancara dengan Arif Widayanto (22 th), pada tanggal 19 Maret 2003 di Sanden Bantul.
[115]Yang dimaksud, ialah penyiaran dakwah menurut Drs. Sholahuddin Sanusi, dakwah = usaha merubah keadaan negatif pada keadaan yang positif, memperjuangkan yang ma’ruf atas yang munkar, memenangkan yang hak diatas yang batil, dalam Pembahasan Tentang Prinsip-Prinsip Dakwah Islam (Semarang : Ramadlan, 1964, hlm., 9 dan 11)
[116]Sondang P. Siagian, Teori Pengembangan Organisasi, (Jakarta : Bumi Aksara, 1997), hlm., 162
[117]Wawancara dengan Arif Widayanto (22 th), pada tanggal 19 Maret 2003, di Sanden Bantul.
[118]Tom Campbell, Tujuh Teori Sosial, Sketsa Penelitian, Perbandingan, (Yogyakarta : Kanisius, 1994), hlm., 3
[119]Wawancara dengan Arif Widayanto (22 th) dan Abdul Harist (22 th) pada tanggal 12 Maret 2003 di PDM Bantul.
[120]Wawancara dengan Arif Widayanto (22 th) dan Hanif Latif (22 th) pada tanggal 19 Maret 2003 di PDM Bantul
[121]Penyakit masyarakat tersebut diantaranya banyaknya penyewaan Play Station, Visual Cinema Digital (VCD), perjudian togel.
[122]Wawancara Abdul Harist (22 th) pada tanggal 19 Maret 2003 di PDM Bantul
[123]Wawancara dengan Arif Widayanto (22 th), pada tanggal 19 Maret 2003 di Sanden, Bantul.
*) PW IRM DIY, Data Base Wilayah IRM DIY Kader Bidang Organisasi, Januari 2003.

Tag : AKTIVITAS IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH (IRM)

unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "AKTIVITAS IKATAN REMAJA MUHAMMADIYAH (IRM) DI KABUPATEN BANTUL, 1992 – 2002"