Hukum Umroh Studi Komparasi Antara Mazab Maliki dan Mazhab Syafi'i

unmetered
unlimited
BAB I
 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia tidak sekedar sebagai binatang yang berakal. Bukan pula sebuah benda mati yang tunduk kepada undang-undang atau kekuasaan, dan bukan sebuah mesin yang bergerak di bawah hukum tertentu atau di atas jalan yang telah digariskan. Ia adalah akal, hati, keimanan, perasaan, ketaatan, kepatuhan dan kecintaan. Dalam semua itu terdapat rahasia kekuatan, kecermerlangan, kreasi dan pengorbanannya. Dengan demikian, ia dapat mengatasi kesulitan dan mampu membuat hal-hal yang luar biasa. Ia berhak memikul amanat Allah yang tidak dapat dipikul oleh langit, bumi, dan gunung. Semuanya enggan untuk memikulnya, sehingga dipikul oleh manusia, dan sampailah ia kepada sesuatu yang tidak pernah dicapai oleh para malaikat, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati.[1]
Hubungan manusia dengan Tuhannya, bukan hanya hubungan yang legal atau logis dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban-Nya, tunduk di hadapan-Nya dan mentaati perintah-perintah serta hukum-hukum-Nya.      Melainkan sesuatu yang harus diiringi dan dihubungkan dengan kerinduan dan kecintaan.[2]Seorang Muslim membutuhkan suatu santapan hati dan bekal cinta. Ia merasa butuh untuk memenuhi harapannya, dan untuk memuaskan rasa dahaganya dari masa ke masa. Ia juga merasa butuh memenuhi gelasnya, namun apalah artinya sebuah gelas yang diisi namun tidak pernah terpenuhi? Ia pun merasa butuh untuk membanjiri gelas yang dipenuhi tapi tidak pernah banjir?[3]
Islam sebagai agama paripurna telah memberikan tuntunan kepada para pemeluknya agar melakukan berbagai kewajiban. Islamtelah mensyari’atkan berbagai bentuk ibadahyang dapat membersihkan jiwa seseorang, mengangkat derajat rohani dan jasmaninya serta tidak menyia-nyiakan kepentingan manusia untuk memakmurkan dunianya. salah satu bentuk amal ibadah bagi orang Islam adalah melaksanakan ibadah ‘umrah.[4]Dalam hal ini, ka’bah dan syi’ar-syi’ar Allah yang ada di sekelilingnya, adalah sesuatu yang paling baik untuk merealisasikan keinginannya dan menghibur kerinduan serta kecintaannya.
Umat Islam diwajibkan melakukan berbagai ritual, yang adakalanya ritual tersebut pernah dilakukan umat-umat sebelumnya. Perintah salat, misalnya merupakan bentuk syari’at klasik pada masa Ibrahim AS dan Nabi-nabi sebelumnya, bahkan Gereja Kristen Ortodoks hingga kini juga melakukan ritual salat yang tidak berbeda jauh dengan umat Islam.
Di antara ritual yang amat menggoreskan kenangan dan magis bagi para pelakunya adalah ibadah haji dan ‘umrah. Sesungguhnya ibadah haji dan ‘umrah adalah menapak tilas leluhur kita, Nabi Ibrahim AS yang menginjakkan kaki di kota yang gersang dan tandus, Mekkah al-Mukarramah. Rangkaian ibadah haji meliputi ih}ra>m, wuqu>f di ‘Arafah, t}awa>f, sa’i, mabit di Muzdalifah dan Mina>, melempah jumrah, tahallul, dan dikerjakan secara berurutan.  Sedangkan ibadah ‘umrah dilaksanakan sama seperti ibadah haji, minus wuqu>fdi ‘Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina>, serta melempar jumrah. Ibadah ‘umrah juga dapat dilakukan sewaktu-waktu, berbeda dengan ibadah haji yang telah ditentukan waktunya.
Dilihat dari aspek moral spiritualnya, ibadah ini merupakan puncak taqarrub ilahiyah (upaya pendekatan diri kepada Allah). Sedang dilihat dari aspek sosial edukatifnya ibadah ini merupakan upaya pendekatan kemanusiaan. Dengan demikian, di dalam pelaksanaannya nilai-nilai moral berpadu dengan nilai-nilai sosial. Di samping itu juga diorientasikan untuk menghayati perjuangan Nabi Ibrahim AS dalam meletakkan monumen ajaran tauhid (keesaan Tuhan), sesuatu yang kemudian secara serius juga diperjuangkan oleh Nabi Muhammad SAW.[5]
Menurut pendapat jumhur ulama’, ibadah haji disyari’atkan pada tahun 6 H. Namun, menurut Ibnul-Qayyim ibadah haji disyari’atkan pada tahun 9/10 H.[6]Karena pada tahun itu, kaum muslimin di Madinah dan di seluruh tanah Arab menunaikan ibadah haji ke Mekkah yang telah bersih dari berhala-berhala.[7]Dalam pada itu, tidak seorang ulama’ pun yang berbeda pendapat tentang hukum haji. Kesemuanya tanpa kecuali sepakat, bahwa ibadah haji wajib dikerjakan oleh orang Islam yang mampu. Siapa yang mengingkarinya, berarti ia telah kafir.[8]Dalil kewajiban haji adalah firman Allah SWT:
ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا [9]
وأتموا الحج والعمرة لله [10]
Sementara itu, para ulama’ berbeda pendapat tentang hukum ‘umrah, apakah ‘umrah itu wajib atau sunnah hukumnya. Mereka terbelah ke dalam dua kubu. Kubu pertama, yaitu golongan ulama’ yang mewajibkan ‘umrah adalah ulama’ Sya>fi’iyyah [11]dan Hana>bilah. Pendapat ini juga sejalan dengan ‘Umar, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abba>s, dan Ja>bir bin ‘Abdullah dari kalangan sahabat, Sa’i>dbin Jubai>r dan Sa’i>d bin al-Musayyab dari kalangan tabi’in. Kubu kedua, yaitu golongan ulama’ yang menyatakan bahwa ‘umrah itu sunnah adalah ulama’ Ma>liki>yyahdan Hana>fi>yyah. Pendapat ini juga dinyatakan oleh Ibnu Mas’u>ddari kalangan sahabat.[12]
Kedua pendapat yang berbeda ini tentu amat bertentangan secara diametral. Pendapat yang mewajibkan ‘umrah, mengharuskan seorang muslim agar mengerjakannya tatkala ia telah mempunyai kemampuan fisik dan finansial, dan  apabila ia tidak mengerjakannya, maka ia berdosa. Sedang pendapat yang menyatakan ‘umrah itu sunnah, hanya menganjurkan dengan sangat seorang muslim agar mengerjakan ‘umrah, tanpa dikenai sanksi dosa.
Menilik dari kedua implikasi di atas, kiranya perbedaan pendapat tentang hukum umrah menarik untuk diperbandingkan. Dalam skripsi ini, akan diperbandingkan antara pendapat mazhab Sya>>fi’i dan mazhab Ma>liki. Mazhab Sya>fi’idipilih karena mazhabinilah yang berkembang luas dan dianut hampir seluruh rakyat Indonesia. Sedang, mazhab Ma>likidipilih karena Ima>masy-Sya>fi’i, sebagai pendiri maz|habSya>fi’i pernah berguru dan menimba ilmu dari Ima>mMa>lik.
B.    Pokok Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, dapat ditarik beberapa permasalahan yang perlu dibahas yaitu:
1.         Bagaimanakah istinba>t} yang dikemukakan mazhab Sya>fi’i dan mazhab Ma>liki mengenai hukum ‘umrah?
2.         Bagaimanakah validitas dalil yang digunakan oleh kedua mazhab tersebut mengenai masalah di atas?
3.       Manakah di antara kedua pendapat di atas yang ra>jih?

C.    Tujuan dan Kegunaan

Skripsi ini diharapkan mampu memberikan jawaban bagi pokok masalah yang telah dipaparkan. Untuk lebih jelasnya, tujuan pembahasan ini adalah:
1.       Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai istinba>t hukum ‘umrah.
2.       Untuk menjelaskan akurat-tidaknya dalil yang digunakan oleh kedua mazhabtersebut.
3.       Untuk mendapatkan pendapat yang ra>>jih antara kedua pendapat yang bertentangan ini.
Sementara, kegunaan dari pembahasan skripsi ini adalah:
1.       Diharapkan berguna sebagai sumbangan pemikiran dalam disiplin ilmu syari’ah, khususnya ilmu fiqh ibadah komparatif.
2.       Diharapkan dapat memperluas cakrawala pemikiran fiqh ibadah dan menambah perbendaharaan informasi pengetahuan hukum Islam.
D.    Telaah Pustaka
Sebelum menganalisa lebih lanjut, penyusun akan menela’ah karya-karya yang membahas seputar masalah ini. Salah satu rujukan penting dalam fiqh perbandingan, yaitu Bida>yah al-Mujtahidbuah karya Ibn Rusyd secara sepintas membahas hukum ‘umrah. Beliau menerangkan adanya perbedaan pendapat antara kubu ulama’ yang menyatakan bahwa ‘umrah itu wajib, dan kubu ulama’ yang menyatakan bahwa ‘umrah itu sunnah. Selain itu, diterangkan pula dalil-dalil apa saja yang menjadi landasan kedua kubu ulama tersebut. Sebab terjadinya pendapat ialah adanya perlawanan hadis-hadis dalam soal ini, serta tentang perintah menyempurnakan apakah berarti wajib atau tidak.Akan tetapi, Ibn Rusyd hanya memaparkan perbedaan pendapat ini, tidak sampai menerangkan mana pendapat yang rajih. [13]
‘Abd ar-Rahman al-Jaziri dalam karyanya kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-‘Arba’ah  juga menerangkan perbedaan pendapat tentang hukum ‘umrah ini. Beliau juga tidak lupa menerangkan secara ringkas dalil-dalil kedua golongan ulama’ itu. Menurut penyusun, Dalam kitab ini hanya dijelaskan bahwa suatu pekerjaan yang diwajibkan dalam haji juga diwajibkan dalam umroh, begitu juga pekerjaan yang disunnahkan dalam haji disunnahkan pula dalam umroh. Tetapi beliau agaknya cenderung pada pendapat yang menyatakan bahwa ‘umrah itu wajib karena menempatkan pembahasan ulama yang mewajibkan ‘umrah di atas garis.[14]
M. ‘Ali> as}-S{a>bu>ni> dalam karyanya, Rawa>i’ al-Baya>n: Tafsi>r A<ya>t al-Ah}ka>m secara sepintas menyinggung tentang hukum ‘umrah. Beliau hanya menjelaskan perbedaan pendapat antara ulama Sya>fi’iyyah dan Hana>bilah dengan ulama’ Ma>likiyyahdan Hana>fiyyah dan menyertakan  alasan berdasarkan dalil saja. . Beliau, dengan mengutip ucapan asy-Syauka>ni> lebih memilih pendapat yang menyatakan bahwa ‘umrah itu sunnah.[15]
Ima>m an-Nawa>wi, sebagai ulama’ Sya>fi’iyyahjuga menerangkan perbedaan pendapat tentang hukum ‘umrah ini. Beliau menjelaskan bahwa Ima>masy-Sya>fi’i, dalam qaul qadimnya menyatakan bahwa ‘umrah itu sunnah, dan dalam qaul jadidnya, ‘umrah itu wajib. Beliau juga secara sepintas membahas dalil ulama lain yang menyatakan bahwa ‘umrah itu sunnah.[16]
Ibn Quda>mah al-Maqdisi> dalam kitabnya, asy-Syarh al-Kabi>r  menerangkan adanya perbedaan pendapat antara segolongan ulama’ yang menyatakan bahwa ‘umrah itu wajib dan segolongan ulama’ yang menyatakan bahwa ‘umrah itu sunnah. Beliau juga tidak lupa menjelaskan dalil-dalil yang dijadikan pegangan masing-masing golongan tersebut. Namun, beliau sebagai ulama’ Hana>bilahjelas memilih pendapat yang menyatakan bahwa ‘umrah itu wajib.[17]
Sejauh penelusuran penyusun, belum ada skripsi yang membahas mengenai hukum umrah pada umumnya.

E.    Kerangka Teoritik

Kajian tentang hukum ‘umrah, apakah wajib atau sunnah tentu tidak terlepas dari kajian tentang dali>>latau sumber hukum sebagai dasar tempat bertolak dalam melakukan penggalian hukum istinba>t al ahka>m. Tanpa lebih dahulu mengkaji dali>>l atau sumber hukumnya, kajian untuk menguaknya akan menjadi tidak utuh.
Para ulama membagi da>lilatau sumber hukum atas dua bentuk. Pertama, da>lil-da>lil yang disepakati keabsahannya, dan kedua, da>lil-da>lilyang tidak disepakati keabsahannya. Empat da>lilatau sumber hukum yang disepakati adalah al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Para ulama juga bersepakat bahwa istidla>l(proses pencarian sebuah dalil hukum) mengikuti hirarki di atas, yakni apabila ada suatu peristiwa atau kasus, maka seseorang yang ingin mengetahui hukumnya harus merujuk terlebih dahulu pada al-Qur’an. Apabila ia menemukannya, ia harus mengambil dan melaksanakannya. Bila ia tidak menemukannya, ia beralih ke as-Sunnah. Demikian pula, bila ia tidak menemukannya, ia akan menoleh ijma’tentang kasus tersebut. Dan terakhir kali, bila ia tidak menemukannya, ia akan berijtihad menggunakan Qiyas.[18]
Dalam hukum melaksanakan ibadah Haji semua ulama’ sepakat bahwa ibadah Haji wajib dikerjakan oleh orang Islam yang mampu sekali seumur hidup. Dalil kewajiban haji dalam firman Allah SWT :
ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا [19]
وأتموا الحج والعمرة لله [20]
Akan tetapi para fuqaha berbeda pendapat dalam hal kewajiban umrah. Dalam kajian ini, mazhabMa>likimengatakan bahwa ‘umrah itu sunnah, dengan mengetengahkan dali>l h}adis berupa tanya jawab tentang hukum ‘umrah, yang kemudian dijawab Nabi bahwa hukumnya tidak wajib. H{{adis ini diriwayatkan oleh Ima>mat-Tirmi>zi>, yang selengkapnya berbunyi:
حدثنا محمد بن عبد الأعلى الصنعاني حدثنا عمر بن علي عن الحجاج عن محمد بن المنكدر عن جابر أن النبي صلى الله عليه وسلم سئل عن العمرة أواجبة هي؟ قال لا وأن تعتمروا هو أفضل [21]
Sedangkan mazhabSya>fi’iyang menyatakan bahwa ‘umrah itu wajib mengemukakan dali>l h}adis, mengenai pertanyaan ‘A<isyah kepada Nabi tentang kewajiban jihad terhadap wanita. Lalu dijawab Nabi, bahwa para wanita diwajibkan melakukan jihad yang tidak perlu menumpahkan darah, yaitu haji dan ‘umrah. H{{adis tersebut diriwayatkan oleh Ima>m Ahmad bin Hanba>l, yang selengkapnya berbunyi:
حدثنا محمد بن فضيل قال ثنا حبيب بن أبي عمرة عن عائشة ابنة طلحة عن عائشة قالت قلت يا رسول الله هل على النساء من جهاد ؟ قال نعم عليهن جهاد لا قتال فيه الحج والعمرة [22]
Berbeda dengan al-Qur’anyang semuanya otentik dari Allah, kebenaran suatu h}adis Nabi tergantung pada kebenaran berita yang disampaikan pembawa berita tentang h}adis.[23]Suatu h}adis bila berkualitas s}ah}i>h} dan atau h}asan, maka wajib diamalkan berdasarkan kesepakatan para pakar h}adis, ulama-ulama usu>li>terpercaya dan para fuqaha>’.[24]Sedangkan apabila h}adisitu berkualitas d}a’i>f, maka tidak dapat dijadikan hujjah.
Sebuah h}adisuntuk dapat dikatakan berkualitas s}ah}i>h}harus memenuhi beberapa kriteria tertentu, yakni (1) Rangkaian sanad sejak Ima>m pentakhrij h}adis hingga sahabat harus bersambung. (2) Para perawi yang menuturkan h}adis itu merupakan orang-orang yang adil. (3) Para perawi yang menuturkan h}adisitu merupakan orang-orang yang sempurna hafalannya (tama>m ad}-d}abt}). (4) H{adis itu tidak sya>z. (5) H{adis itu tidak ber’illat.[25]
Sedangkan kriteria h}adish}asan sama seperti h}adis s}ah}i>h}, hanya saja kekuatan hafalan para perawinya di bawah para perawi h}adis s}ah}i>h}.[26]Sementara itu, suatu h}adisdikatakan d}a’i>fapabila tidak memenuhi kriteria-kriteria h}adiss}ah}i>h} dan h}asan. Hal ini adakalanya karena kredibilitas perawinya yang kurang adil atau karena terjadi keterputusan dalam sanadnya,  atau pun sebab lainnya. H{adis d}a’i>f, di antaranya h}adis maqlu>b, mud}t}arib, mursal, munqat}i’, mu’d}al, munkar dan lain-lain.[27]
Dengan demikian, untuk mengetahui kualitas suatu h}adis, harus dilakukan penelitian tentang para perawinya serta ditelusuri apakah h}adis itu sya>z dan atau ber’illat atau tidak.
Untuk menyelesaikan pertentangan dari dua dalil tersebut sebagai langkah awal, adalah dengan menggunakan  al-jam´u wa at-taufiq, yakni dengan mengumpulkan dalil yang bertentangan itu, kemudian mengkompromikannya sesuai dengan syarat-syarat yang bertentangan. Bila solusi tersebut tak terselesaikan, maka dilakukan langkah lain, yaitu dengan na>sikh mansu>kh dengan membatalkan salah satunya. Dan alternatif terakhir yaitu tarji>h(mengunggulkan salah satunya) atau dengan tawaqquf (menangguhkan pengamalan keduanya hingga nampak dalil yang lebih kuat).[28]Dalam masalah ini, metode yang diterapkan pada perbenturan dua dalil di atas adalah metode tarji>h, sebab pada salah satu dua dalil tersebut terdapat indikasi yang lebih menguatkan daripada yang lain, sehingga tidak memungkinkan diterapkannya metode al-jam´u wa at-taufiq, na>sikh mansu>kh dan apalagi tawaqquf.
Metode tarji>h yang digunakan untuk menyelesaikan pertentangan dalil (Ta`’a>rud} al-Adilah) di atas adalah tarji>h ba`in an-nus}u>s}.[29] Dalam hal ini, penyusun akan menggunakan pendekatan melalui ‘ulu>m al-h}adis dan us}u>l al-fiqh. Pendekatan melalui ‘ulu>m al-h}adis dapat dilakukan dengan melihat beberapa aspek, yakni tarjih dengan melihat turunnya riwayat, cara periwayatan, usia perawi ketika meriwayatkan, penunjukan lafal (dengan memperhitungkan lafal yang ada dalam teks), kandungan matn atau teks yang diriwayatkan sebagai perantara hukum serta faktor-faktor lain yang mendukung dalil tersebut.[30]Dalam hal ini, penulis akan mengunakan kaidah-kaidah tarjih yang berkenaan dengan hal-hal yang menjadi tolak ukur pembedaan dua dalil di atas, sehingga mampu menggambarkan perbandingan, yang selanjutnya dapat diambil suatu kesimpulan mana yang paling kuat (ra>jih}) dari kedua pendapat tersebut. Kaidah-kaidah itu adalah sebagai berikut:
1.    Dari segi sanad
a.    Menurut jumhur ulama, dapat dilakukan dari sisi kuantitas para perawi, yaitu menguatkan h}adis yang sanadnya lebih banyak daripada h}adisyang bersanad relatif sedikit, karena kemungkinan terjadinya kesalahan dalam satu riwayat yang diriwayatkan oleh banyak perawi sangat kecil.
b.   H{adi>s yang perawinya lebih kuat ingatannya (d}a>bit}),lebih kuat agamanya, lebih bisa dipercaya (siqah), dan lebih taqwa ditarjih daripada h}adis yang tidak diriwayatkan oleh perawi h}adis lain yang tidak demikian.
c.    Men-tarjih h}adis yang diterima dan dipelihara seorang perawi melalui hafalannya daripada h}adis yang diterima dan dipelihara hanya melalui tulisan.[31]
d.   Men-tarjih h}adis sahabat yang mengalami sendiri peristiwa daripada h}adis riwayat sahabat yang tidak mengalaminya.
e.    Men-tarjih h}adis riwayat orang yang menerimanya secara langsung daripada h}adis yang diriwayatkan seseorang yang menerimanya melalui perantara.
f.    Men-tarjih h}adis riwayat orang yang menyebutkan sabab al-wurud-nya atas h}adis riwayat orang yang tidak menyebutkannya.
g.   Men-tarjih h}adis riwayat yang keadilan perawinya diketahui melalui pernyataan banyak orang, praktek dalam kehidupan sehari-hari dan perawi yang mengamalkan h}adis yang diriwayatkan daripada yang tidak demikian.[32]
2.    Dari segi matan
a.    Teks umum yang belum dikhususkan lebih didahulukan daripada teks umum yang telah dikhususkan.
b.   Teks yang mengandung larangan lebih didahulukan daripada teks yang mengandung perintah.
c.    Teks yang mengandung perintah didahulukan daripada teks yang menunjukkan kebolehannya saja.
d.   Makna hakekat dari suatu lafal lebih didahulukan daripada makna majaznya.
e.    Teks yang sifatnya perkataan lebih didahulukan daripada teks yang sifatnya perbuatan.
f.    Teks yang muhkamlebih didahulukan daripada teks yang mufassar, karena lebih pasti.
g.   Teks yang s}ari>h (jelas) didahulukan daripada teks yang bersifat kina>yah (sindiran).[33]

F.     Metode Penelitian

Metode Penelitian adalah suatu cara bertindak menurut sistem aturan atau tatanan yang bertujuan agar kegiatan praktis terlaksana secara rasional dan terarah sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal dan optimal.[34]
Adapun langkah-langkah dalam penelitian ini adalah:
1.    Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan (Library research) yaitu penelitian yang kajiannya dilakukan dengan menelusuri dan menela’ah literatur atau penelitian yang difokuskan pada bahan-bahan pustaka.
2.      Sifat Penelitian
Penelitian ini berdasarkan analisis deskriptif-komparatifyaitu pemaparan apa adanya terhadap apa yang dimaksud oleh suatu teks dengan cara memparafrasekan dengan bahasa penyusun. Sehingga dari penelitian tersebut dapat menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat dari obyek kajian tersebut. Di samping itu, penelitian ini juga bersifat komparatif, [35]yakni membandingkan antara pendapat mazhab Sya>fi’i dan mazhab Ma>liki tentang hukum ‘umrah.
3.      Sumber Data
Data-data yang penyusun kumpulkan terdiri dari dua kategori yaitu:
a)       Data primer, berupa kitab al-Umm, al-Muwatta’, kitab al-Fiqh ‘ala al-Madzahib, Bida>yah al-Mujtahid.
b)       Data sekunder berupa kitab-kitab yang membahas tentang fiqh ibadahditambah buku-buku lain yang berkaitan dengan masalah ini. Sedangkan mengenai kita>b h}adis, akan digunakan kita>b-kita>b h}adis yang dikenal dengan nama al-kutub at-tis’ah.
Setelah pengumpulan bahan kepustakaan, kemudian dilakukan peninjauan data dan diklasifikasikan untuk mempermudah langkah analisis dengan menempatkan masing-masing data sesuai sistematika yang telah direncanakan.
4.    Analisis Data
     Dalam penelitian ini, analisis data yang digunakan adalah:
a)      Deduktif, yaitu metode penarikan kesimpulan yang diawali dari pernyataan yang bersifat umum menuju pernyataan yang bersifat khusus dengan menggunakan penalaran (berpikir rasional).[36]
b)      Induktif, yaitu kerangka berpikir yang didahului oleh fakta-fakta secara khusus atau peristiwa-peristiwa yang kongkret, kemudian ditarik ke hal-hal yang umum.[37]
       5.   Pendekatan Penelitian
Dalam penyusunan skripsi ini, penyusun menggunakan pendekatan ulu>m al-h}adis dan us}u>l fiqh untuk menilai sejauh mana kesahi>hanh}adis yang digunakan dali>ldalam istinba>thukum kedua mazhabdi atas dan kaidah-kaidah us}u>l yang dipakai dalam metode pen-tarjihan hukum.

G.    Sistematika Pembahasan

Skripsi ini terdiri dari lima bab, yang terdiri atas satu bab pendahuluan, tiga bab pembahasan materi dan satu bab penutup.
Bab pertama adalah pendahuluan yang dirinci atas beberapa anak bab, yakni: latar belakang masalah, pokok masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tela’ah pustaka, kerangka teoritik, metode penelitian dan sistematika pembahasan. Pada dasarnya bab ini tidak termasuk dalam materi kajian, tetapi lebih ditekankan pada pertanggungjawaban ilmiah.
Pada bab kedua berisi tinjauan umum tentang ‘umrah yang dirinci dalam beberapa anak bab berupa pengertian, syarat-syarat dan waktu, serta rukun-rukun ‘umrah.
Pada bab ketiga, penyusun akan melihat riwayat kehidupan pendiri mazhab mali>ki dan Sya>fi’i. Untuk itu, dalam bab ini dikemukakan riwayat kehidupan kedua ulama’ ini. Dan tidak lupa, dipaparkan pendapat kedua mazhab ini beserta dali>l berupa h}adis.
Pada bab keempat, penyusun mengkomparasikan pemikiran kedua mazhab di atas serta melacak kesahi>han dali>l h}adis kedua mazhab tersebut dan melakukan tarjih.
Akhirnya pada bab kelima, yakni penutup, penyusun mengemukakan kesimpulan umum dari kajian skripsi secara keseluruhan. Hal ini terutama dimaksudkan sebagai penegasan jawaban permasalahan yang telah dikemukakan, kemudian penyusun melengkapinya dengan daftar pustaka.
                               
BAB II
TINJAUAN UMUM

Pengertian ‘Umrah

Dipandang dari sisi bahasa, ‘umrah berarti ziarah. Disebut demikian karena di dalamnya terdapat unsur menziarahi rasa kasih sayang. Diambil dari kata i’timar, dikatakan “I’timara fahuwa mu’tamir yaitu zara.”[38]
Menurut pengertian syara’, ‘umrah ialah berziarah ke Baitullah al-Haram dengan melakukan t}awa>f, sa’i> antara s}afa> dan marwah, serta bercukur atau menggunting rambut.[39]
‘Umrah dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1.      ‘Umrah yang terpisah dari haji (mufradah). Waktunya sepanjang tahun, menurut kesepakatan semua ulama mazhab. Namun waktu yang paling utama  menurut Imamiyah adalah bulan Rajab. Sedangkan menurut mazhablain, adalah pada bulan Ramad}a>n.
2.      ‘Umrah yang terpadu atau bersama haji (‘Umrah Tamattu’). Orang yang beribadah haji harus melaksanakan ‘umrah terlebih dahulu, kemudian melakukan amalan-amalan haji pada satu kali perjalanan, sebagaimana yang dilakukan oleh para jama’ah haji yang datang dari berbagai negara yang jauh dari Makkah al-Mukarramah. Waktunya adalah bulan-bulan haji, yaitu: Syawwa>l, Z|ulqa’dah, Dan Z||ulh}ijjah, menurut kesepakatan ulama mazhab. Namun mereka berbeda pendapat tentang bulan Z||ulh}ijjah: apakah satu bulan penuh termasuk bulan haji, atau sepertiga pertama? Menurut orang yang mengatakan bahwa ‘umrah itu wajib, gugurlah kewajiban itu bila telah melakukan ‘umrah yang bersama atau terpadu dengan haji.
Sayyid Al-Khui memberikan penjelasan tentang perbedaan antara ‘umrah mufradah (terpisah dari haji) dengan ‘umrah tamattu’ (bersama haji) dengan beberapa hal di bawah ini:
1.      T{awa>fseorang wanita pada ‘umrah mufradah (terpisah dari haji) hukumnya wajib dikerjakan, tetapi tidak wajib dalam ‘umrah tamattu’ (‘umrah bersama haji).
2.      Waktu ‘umrah tamattu’ (bersama haji) dimulai dari awal bulan Syawwa>l sampai pada hari kesembilan bulan Z|ulh}ijjah. Sedangkan waktu ‘umrah mufradah (‘umrah yang terpisah dari haji) adalah sepanjang tahun.
3.      Orang yang melakukan ‘umrah tamattu’ (‘umrah bersama haji) hanya dibolehkan memendekkan rambutnya saja. Sedangkan orang yang melakukan ‘umrah mufradah (berpisah dari haji) boleh memilih antara memendekkan atau mencukur rambutnya.
4.      ‘Umrah tamatttu’ dan haji terjadi sekali dalam satu tahun tetapi kalau ‘umrah mufradah tidak.
Dalam buku ad-Di>n wa al-H{ajj ‘ala Mazahib al-Arba’ah karya al-Kara>rah dijelaskan bahwa Ima>m Ma>lik dan Ima>m asy-Sya>fi’i> mengatakan bahwa  orang yang melakukan ‘umrah mufradah dihalalkan melakukan apa saja, sampai bergaul dengan istrinya kalau dia telah bercukur atau memendekkan rambutnya, baik telah membayar (memberikan) kurban atau belum.[40]

Syarat-Syarat dan Waktu ‘Umrah

Fuqaha’ telah sepakat di dalam menetapkan beberapa syarat bagi ibadah haji dan ‘umrah, di mana pelaksanaanya menjadi tidak wajib kalau salah satu dari syaratnya tidak ada.
Yang dimaksud dengan syarat-syarat tersebut adalah: 1). Beragama Islam. 2). ‘A<qil (berakal sehat). 3). Ba>lig(dewasa). 4). Merdeka. 5), Istit}a>’ah (mampu). Beberapa syarat di atas telah menjadi kesepakatan para fuqaha.
Persyaratan-persyaratan ini, lebih jelasnya akan diterangkan satu persatu sebagai berikut:
1.      Beragama Islam
Syarat pertama ini merupakan syarat mutlak bagi orang yang akan melaksanakan ibadah haji dan ‘umrah menurut mazhab H{ana>fi, Sya>fi’i> dan H{anbali>. Sementara itu, menurut mazhabMa>liki, Islam adalah syarat sah, bukan syarat wajib. Karena itu, orang kafir tetap mempunyai (dikenai) kewajiban ini, namun hajinya tidak sah. Hal ini berhubungan  dengan hukum duniawi. Adapun mengenai urusan akhiratnya, maka ada perbedaan pendapat dari ulama fiqih. Apakah di akhirat kelak, (orang-orang kafir) akan disiksa karena tidak melaksanakan kewajiban ‘umrah atau tidak? Perbedaan seperti ini dapat dilihat dalam taklif syariat.[41]Adapun orang yang murtad, menurut mazhab H{ana>fi> dan H{anbali>, ia tidak wajib (sunnah) melakukan ibadah ’umrah. Sedangkan menurut mazhab Sya>fi’i, ibadah ‘umrah tetap diwajibkan atas orang murtad yang mampu, namun tidak sah hingga ia memeluk Islam kembali.[42]
2.      ‘Aqi>l
Orang yang tidak berakal seperti gila, ayan atau idiot tidak wajib ‘umrah, kecuali ia sembuh dari penyakit itu. Dan seandainya ia tetap melaksanakan (‘umrah) dalam keadaan gila, maka ‘umrahnya tidak sah.[43]
3.      Ba>lig
Anak kecil (di bawah usia) tidak wajib ‘umrah, akan tetapi, kalau ia ber’umrah, maka ‘umrahnya dingggap sah, tetapi dikategorikan (dihukumi) sebagai ‘umrah sunnah.[44]
4.      Merdeka
Yang dimaksud dengan  merdeka di sini ialah bukan budak belian, hamba sahaya, yang terikat dengan tugas kewajiban yang dibebankan oleh tuannya. Sedangkan untuk ibadah ‘umrah ini, sangat memerlukan waktu yang lama. Di samping itu pula, sudah barang tentu budak tersebut tidak mempunyai biaya untuk ongkos haji, karena dia di bawah kekuasaan orang lain.
Pengertian budak dalam dunia Islam ialah para tawanan dalam peperangan antara muslim (jiha>d fi> sabililla>h) melawan musuh non Islam. Kemudian ada informasi mengatakan bahwa tawanan Islam diperbudak oleh musuh (non Islam). Maka tawanan musuh yang berada di tangan muslim berhak pula dibuat sebagai budak, boleh diperjual-belikan. Jadi dengan syarat, di pihak musuh terlebih dahulu memperbudak tawanan muslim yang berada di tangan mereka. Dengan demikian, andaikata ada perbudakan dewasa ini, maka tidak sesuai lagi dengan persyaratan tersebut. Berarti dewasa ini, dunia Islam tidak mengenal lagi perbudakan.. [45]
5.      Mampu
Mampu artinya tidak wajib berhaji bagi orang yang tidak mampu. Dan kalau pun ia berhaji, maka hajinya sah. Hal ini selaras dengan firman Allah:
ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا [46]
Mengingat karena banyaknya kesukaran-kesukaran untuk pergi ke Baitullah, banyak hal yang menyangkut dalam kategori orang yang dianggap mampu atau kuasa untuk pergi melaksanakan ibadah ‘umrah. Mampu di sini  meliputi dua hal: pertama, yang di dalamnya terkait laki-laki, perempuan, dan kedua, khusus wanita.
  1. Yang di dalamnya terkait laki-laki dan perempuan, antara lain:
1)   Mampu bekal dan kendaraan
Menurut Hanafiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah kemampuan atas bekal dan kendaraan ini dengan catatan ada bekal berlebih untuk menutupi hutang, kebutuhan pangan, sandang, papan, kendaraan yang biasa dipakai, alat-alat kerja serta untuk memenuhi kebutuhan nafkah wajib selama ia pergi. Sedangkan, menurut Malikiyyah, kemampuan di sini adalah kemungkinan secara fisik sampai ke Mekkah dan tempat-tempat ibadah, baik dengan berjalan kaki maupun dengan kendaraan. Hal ini juga dengan catatan, orang yang akan beribadah itu tidak terlalu terkena kesukaran yang berat.[47]
2)Kesehatan badan atau jasmani
Untuk menunaikan ibadah haji diperlukan adanya kesehatan jasmani. Mengenai kesehatan badan atau jasmani ini, ulama berbeda pendapat, apakah termasuk syarat wajib atau bukan?
H{ana>fiyyah dan Ma>likiyyah tetap menganggap syarat wajib ‘umrah artinya tanpa kesehatan, maka ‘umrah tidak wajib dilaksanakan juga tidak perlu mewakilkan pelaksanaannya kepada orang lain dan atau mewasiatkan (kepada anaknya) untuk di’umrahkan.
Pendapat Sya>fiiyyah dan H{ana>bilah menyatakan bahwa kesehatan badan atau jasmani tidak termasuk syarat wajibnya haji. Mereka bersandar pada h}adi>s Nabi SAW, yang mengatakan: kemampuan berhaji ialah kalau seseorang telah memiliki bekal dan kendaraan, tidak termasuk di dalamnya kesehatan badan atau jasmani.
3)      Perjalanan yang aman
        Ima>m asy-Sya>fi’i, Ima>m Hanafi, dan Ima>m Ah}mad bin H{anbalsepakat mengatakan, bahwa amannya perjalanan termasuk syarat wajib melaksakan haji dan ‘umrah. Karena arti mampu, termasuk di dalamnya.
Sedang Ima>myang lain mengatakan, bukan termasuk syarat wajib melainkan syarat yang tidak mutlak dan mengandung nilai wajib.   
  1. khusus bagi perempuan.
Seorang perempuan hendaklah ketika berangkat haji, bersama-sama dengan muhrimnya. Menurut Ima>masy-Sya>fi’i, bahwa yang disyaratkan yang menjadi mahram itu adalah suaminya, atau dengan perempuan lain yang dipercaya bisa menjamin keamanan seorang perempuan dalam perjalanan pulang pergi. Menurut jumhur ulama, seorang suami tidak boleh melarang istrinya untuk melaksanakan ‘umrah (yang fard}u), baik diizinkan atau tidak ia pun boleh pergi berhaji tanpa izin suaminya. Sedang Ima>mAbu Hanifah dan Ima>mAhmad sependapat atas disyaratkannya mahram dalam hal ini, bahkan kalau tidak ada mahram, maka wanita itu tidak haji, tetapi ia mewakilkan hajinya itu kepada orang lain. Sebab, ia dikategorikan sebagai orang yang lemah atau sakit dan tidak dapat melaksanakan ibadah haji secara sempurna.[48]  
Mengenai kapan ‘umrah dapat dilaksanakan? ‘Umrah dapat dilaksanakan di seluruh hari dalam setahun. Dan pada bulan Ramad}a>n, disunahkan berdasar pada sabda Nabi SAW:

فإذا جاء رمضان فاعتمري فإن عمرة فيه تعدل حجة [49]

Menurut pandangan mazhabH{ana>fi>, dimakruhkan (makru>h tah}ri>m) melakukan ‘umrah pada hari ‘Arafah dan empat hari sesudahnya, sehingga siapa yang melakukan ‘umrah pada hari-hari itu, diwajibkan membayar denda. Disebabkan hari-hari itu merupakan hari yang teramat sibuk dengan pelaksanaan haji, dan ‘umrah pada saat itu juga menyibukkan sesorang dari konsentrasi haji yang dapat saja mengakibatkan terjadinya cacat. Untuk itulah ia dimakruhkan. Sementara mazhab Sya>fi’i> berpendapat bahwa sepanjang tahun merupakan waktu yang disediakan unuk ihram ‘umrah dan seluruh aktifitasnya tanpa terkecuali. [50]

C.  Rukun ‘Umrah

Rukun merupakan suatu perbuatan yang mesti dikerjakan (tidak dapat tidak), karena kalau ditinggalkan, maka ibadah ‘umrah tersebut tidak sah.
Menurut mazhabMa>liki dan H{anbali>, rukun ‘umrah adalah ih{ra>m,t}awa>f dan sa’i> antara s}afa> dan Marwah. Sedang menurut mazhabH{ana>fi>, rukun ‘umrah hanya satu, yaitu t}awa>fsebanyak empat kali putaran. Adapun menurut mazhabSya>fi’i rukun ‘umrah ada 5 yaitu; ih}ra>m disertai niat, t}awa>f di Baitullah, sa’i> antara S{afa> dan Marwah, Bercukur untuk tah{allul, dan Tertib.[51]
Berikut penjelasan tentang rukun ‘umrah:
1.     Ih}ra>m 
Ih}ra>m menurut mazhab H{ana>fi> merupakan syarat ‘umrah, sedangkan menurut mazhab Ma>liki, Sya>fi’i dan H{anba>li> merupakan rukun. Ih}ra>madalah niat seseorang untuk melakukan ibadah haji atau ‘umrah. Menurut mazhab H{ana>fi>, ih}ra>m harus disertai dengan niat dan talbiah atau perbuatan yang mewakili talbiah, bisa berupa zikir apa saja atau menggiring hewan kurban. Sedang menurut mazhab Ma>liki>, Sya>fi’i dan H{anba>li>, ih}ram harus disertai dengan niat, dan tidak diharuskan dengan pembacaan talbiah atau pun menggiring hewan kurban.[52]Pelaksanaan ih}ra>muntuk ‘umrah seperti pelaksanaan ihram untuk haji, hanya saja orang yang ber’umrah mengatakan:
Tuhanku, aku hendak melaksanakan ‘umrah, mudahkanlah aku dan terimalah ‘umrah yang aku lakukan, sesungguhnya engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Selain mengucapkan talbiyah, disunnahkan juga bagi orang yang berih}ra>muntuk ‘umrah apa yang disunahkan pada orang yang berih}ra>m untuk haji. Begitu pula larangan ihram untuk haji dilarang pula dalam ihram untuk ‘umrah.[53]Untuk memulai ih}ra>m, seseorang harus memulainya dari miqat makani. Miqat makani ini berbeda-beda tergantung dari arah orang itu datang. Miqat penduduk Mesir, Syam (Suriah, Lebanon, Palestina dan Yordania), Maroko, Spanyol, Turki adalah Juhfah, sebuah desa antara Mekkah dan Madinah. Sedangkan miqat penduduk Irak dan masyriq adalah Z|atu ‘Irqin. Sementara, miqat penduduk Madinah adalah Z|u al-H{ulaifah. Dan miqat penduduk Yaman dan orang–orang yang melalui jalan mereka adalah Yalamlam.[54]
Dalam pada itu, seseorang yang sudah ih}ra>m, baik untuk haji maupun umrah dilarang melakukan beberapa hal, yaitu:
1.       Larangan yang khusus bagi pria, yaitu:
a.          Memakai pakaian berjahit, seperti celana, baju, jubah dan kain sarung.
b.         Memakai tutup kepala, seperti topi, serban dan sebagainya, tetapi tidak dilarang memakai payung atau berteduh di bawah pohon dan lainnya.
c.          Memakai sepatu yang menutupi dua mata kaki, tetapi dibolehkan memakai terompah.
Larangan tersebut diterangkan oleh Rasulullah SAW dalam h}adis, bunyinya:
حدثنا يحي بن يحي قال قرأت على مالك عن نافع عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عما يلبس المحرم من الثياب؟ قال: لا يلبس القمص ولا العمائم ولا السراويلات ولا البرانس ولا الخفاف إلا أحد لا يجد نعلين فليلبس الخفين وليقطعهما أسفل من الكعبين ولا تلبسوا شيئا من الثياب مسه الزعفران ولا الورس [55]
2.       Larangan yang khusus bagi wanita, yaitu; menutup muka dan kedua telapak tangan.
3.       Larangan bagi pria dan wanita adalah sebagai berikut:
a.          Memakai pakaian yang dicelup dengan sesuatu yang harum, dan harumnya itu berkelanjutan sampai selesai ihram.
b.         Bercukur atau menghilangkan rambut, seperti yang dijelaskan dalam surah al-Baqarah:
ولا تحلقوا رؤسكم حتى يبلغ الهدي محله [56]
c.          Memotong kuku. Dasar hukumnya adalah dengan menganalogikannya kepada larangan memotong rambut, kecuali jika kuku itu pecah yang mengakibatkan seseorang menjadi terganggu melaksanakan ibadah, maka kuku itu boleh dipotong tanpa mesti membayar fidyah.
d.         Melangsungkan pernikahan, baik sebagai wali yang mengakadkan, sebagai wakil, atau sebagai calon suami atau istri menurut mazhab Ma>liki>, Sya>fi’i dan H{anba>li>. Apabila orang yang sedang ihram tetap melakukan akad nikah, maka nikahnya tidak sah dan fasakh satu kali cerai menurut Ima>m Ma>lik. Sedang menurut Ima>m asy-Sya>fi’i dan Ahmad, maka nikahnya fasakh (rusak) tanpa cerai. Ketentuan ini didasarkan atas sabda Rasul SAW yang berbunyi:
لا ينكح المحرم ولا ينكح ولا يخطب [57]
Sementara menurut mazhab H{ana>fi>, hal ini diperbolehkan. Sebab ih}ra>m itu sendiri tidak menghalangi layaknya seorang wanita melakukan akad nikah. Yang dilarang adalah melakukan senggama. Jadi, ih}ra>mitu seperti haid}, nifa>s dan zihar sebelum dibayar kafaratnya. Persamaannya terletak dalam hal masing-masing menghalangi seggama, bukan sahnya akad. Pendapat ini juga berdasarkan perbuatan Rasul SAW yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas:
عن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم تزوج ميمونة وهو محرم [58]
e.          Dalam pada itu, semua mazhabsepakat bahwa orang yang ih}ra>m dilarang melakukan jima’, berciuman, dan perbuatan-perbuatan yang mengarah pada jima’.
f.          Berbantah, bertengkar dan melakukan kejahatan atau maksiat. Kedua larangan ini didasarkan pada firman Allah SWT:
فمن فرض فيهن الحج فلا رفث ولا فسوق ولا جدال فى الحج [59]
g.         Memburu binatang buruan yang ada di darat, baik dengan membunuh atau pun menyembelih. Hal ini berlaku bila binatang itu halal dimakan, apabila binatang tersebut tidak halal dimakan, maka menurut mazhab H{ana>fi>, Sya>fi’i dan H{anbali orang yang ihram boleh memburunya. Sedang menurut mazhab Ma>liki>, tetap tidak diperbolehkan. Adapun binatang yang hidup di laut, menurut semua mazhab boleh diburu. Dasar larangan ini adalah firman Allah:
أحل لكم صيد البحر وطعامه متاعا لكم وللسيارة وحرم عليكم صيد البر ما دمتم حرما [60]
h.         Memakan daging binatang buruan yang didapat dengan suruhan atau atas bantuan sendiri
i.           Mencabut rumput, memotong dahan atau menebang pohon yang ada di tanah haram.[61]
2.       T{awa>f  di Baitullah
T{awa>fartinya mengelilingi, maksudnya ialah mengelilingi Baitullah.[62] T{awa>f ini disepakati umat Islam sebagai rukun dalam ‘umrah berdasarkan firman Allah:
     وليطوفوابالبيت العتيق [63]
Untuk melaksanakant}awa>f dengan baik dan benar, seseorang harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu:
a.        Menutup aurat yang harus ditutupi seperti halnya ketika salat.
b.       Suci dari najis, hadas besar dan kecil.
c.        Memulai t}awa>fdari hajar aswad, dengan menempatkan posisi tubuh bagian kiri sejajar dengan hajar aswad.
d.       Mengelilingi Baitullah dari arah kiri tubuhnya.
e.        Mengelilingi Baitullah sebanyak tujuh kali putaran.
f.        Melakukan t}awa>fdi Masjid al-haram.
g.       Tidak berpaling dari t}awa>f kepada perbuatan lain.[64]
3.                                Sa’i> antara S{afa>dan Marwah
Mazhab Ma>liki, Sya>fi’i dan Hanbali memandang sa’i> sebagai rukun ‘umrah. Sehingga, tanpa sa’i>, ibadah  ‘umrah tidak sah, dan tidak dapat diganti dengan dam (denda menyembelih kambing). Sedangkan menurut mazhab Hanafi, sa’i> merupakan wajib haji, bukan rukun haji, sehingga apabila ditinggalkan, tidak sampai membatalkan haji, namun wajib diganti dengan fidyah.[65]
 Untuk melaksanakan sa’i>dengan baik, orang yang sa’i> harus memenuhi beberapa persyaratan, yakni:
a.        Memulai sa’i> dari s}afa>, dan mengakhirinya di Marwah.
b.       Melakukan sa’i>sebanyak tujuh kali. Perjalanan dari S{afa>ke Marwah dihitung sekali, dan dari Marwah ke S{afa>dihitung sekali.
c.        Melakukan sa’i> setelah t}awa>f .
4.       Bercukur untuk Tah}allul
Bercukur ini dilakukan setelah kita selesai mengerjakan sa’i>. Caranya adalah, paling sedikit kita menggunting rambut sebanyak tiga lembar. Kalau wanita, cukup menggunting ujung rambutnya, dan juga paling sedikit tiga lembar. Apabila ini sudah dilakukan, maka segala macam larangan dalam masa kita menggunakan pakaian ih}ra>mhaji maupun ‘umrah sudah dibolehkan atau dihalalkan (tah}allul). Kita diperbolehkan mengganti pakaian ih}ra>mdengan pakaian biasa.[66]
5.                                Tertib
 Rukun ‘umrah, hendaklah dikerjakan secara tertib atau berurut, sejak rukun pertama sampai terakhir. Berarti, kalau tidak ada salah satu saja rukun yang kita kerjakan itu tidak tertib, seperti mendahulukan sa’i>, kemudian baru t}awa>fmaka ‘umrah kita batal.
BAB III
PENDAPAT MAZ|HAB MA<LIKI DAN MAZ|HAB SYA<FI’I TENTANG HUKUM ‘UMRAH
A.       Mazhab Ma>liki
1.        Biografi Pendiri Mazhab Ma>liki>
Ima>m Ma>lik bin Anas yang juga sering dipanggil dengan Abu> Abdilla>h nama lengkapnya adalah Ma>lik bin Anas bin Ma>lik bin ‘Amr bin Hari>s bin Gaiman. Menurut keterangan yang paling masyhur Ima>m Ma>lik dilahirkan pada tahun 93 H atau 712 M di kota Madinah. Keterangan ini diperkuat oleh az-Z|ahaby dan Ibn Farihun.[67]Ayahnya, Anas bin Ma>lik termasuk seorang tabi’in, sedangkan ibunya bernama al-‘A>liyah binti Syurai>k bin ‘Abd ar-Rahma>n bin Syurai>k al-Azdiyah.
Selama hidupnya, Ima>m Ma>lik tidak mau turut dalam urusan politik dan pemerintahan, bahkan sering menentang kebijakan kebijakan penguasa yang menyimpang dari kebenaran. Ia meninggal pada hari ahad tanggal 10 Rabi’ul awal 179 H (789 M) dalam usia 87 tahun. Saat itu pemerintahan Islam berada di tangan Khalifah Harun ar-Rasyid dari Bani Abbasiyah.
Ima>m Ma>lik tumbuh dan mendapat pendidikan di kota Madinah dalam suasana yang diliputi para sahabat, tabi’in, kaum ansor dan para cendekiawan serta para ahli hukum agama, ia dibesarkan di lingkungan masyarakat yang berpendidikan dan mempunyai keyakinan beragama yang sangat kuat.
Dalam usia yang relatif muda, yaitu sekitar umur 10 tahun, Ima>m Ma>lik telah hafal al-Qur’an dan sejumlah H{adi>s.[68]Ia mempelajari h}adi>s dari kakeknya yang ada saat itu yang merupakan seorang ulama terkenal dan dipandang sebagai perawi hadis. Di samping itu ayahnya Anas dan pamannya Ra>bi’ juga merupakan ulama h}adi>s yang banyak meriwayatkan h}adi>s  dari kakeknya. Ima>m Ma>lik juga belajar h}adi>s  dari pamannya yang bernama Abu> Suhail, seorang ulama terkenal pada masa itu.[69]
Setelah beliau menguasai dasar-dasar ilmu fiqh dan ilmu h}adi>s, beliau juga mengembangkan pengetahuaannya dengan jalan:
a.        Menghadiri pertemuaan para ulama di Masjid al-Haram dan tempat-tempat lain di Makkah. Tempat tersebut selalu dikunjungi oleh para ulama dari berbagai penjuru dunia, terutama pada saat musim haji. Di situlah Ima>m Ma>lik beserta para ulama mengadakan diskusi mengenai ilmu agama Islam.
b.        Ima>m Ma>lik mengadakan diskusi dengan ulama-ulama di Madinah. Dalam forum diskusi ini, Ima>m Ma>lik berjumpa dengan Ima>m Abu> H{ani>fah sewaktu beliau bermukim di Madinah.
c.        Ima>m Ma>lik mengembangkan ilmu pengetahuannya juga dengan cara membaca kitab atau tulisan-tulisan yang berkaitan dengan ilmu agama.
d.        Mengadakan diskusi dengan para muridnya yang bertempat di rumah beliau sendiri, yang juga dihadiri oleh ulama kenamaan pada zaman itu, seperti Muh}ammad bin H{asan.[70]

Di antara karya Ima>m Ma>lik adalah kitab al-Muwat}t}a’.  Kitab tersebut ditulis pada tahun 144 H atas anjuran Khalifah Ja’far al-Mansur. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Abu Bakar al-Abhary, asar Rasulullah SAW, sahabat dan tabi’in yang tercantum dalam kitab al-Muwat}t}a’  sejumlah 1.720 buah. Kitab al-Muwat}t}a’  mengandung dua aspek, yaitu aspek hadis dan aspek fiqh. Adanya aspek h}adi>s itu adalah karena al-Muwat}t}a’  banyak mengandung h}adi>s – h}adi>s yang berasal dari rasulullah SAW.

Ima>m Ma>lik mengumpulkan sejumlah besar h}adi>s dalam kitabnya kemudian memilihnya selama bertahun-tahun. h}adi>s-h}adi>s itu dipilih oleh Ima>m Ma>lik setiap tahun, mana yang lebih sesuai untuk kaum muslim dan mana yang paling mendekati kebenaran. Ada yang meriwayatkan bahwa hal itu dilakukan Ima>m Ma>lik selama 40 tahun.

Adapun yang dimaksud kandungan dari aspek fiqh adalah karena kitab al-Muwat}t}a’ itu disusun berdasarkan sistematika dengan bab-bab pembahasan seperti layaknya kitab fiqh. Ada kitab t}aha>rah, s}ala>t, zaka>t, puasa, nikah dan seterusnya. Setiap kitab dibagi lagi menjadi fasal, yang fasalnya mengandung fasal-fasal yang hampir sejenis. Dengan demikian maka hadis-hadis di dalam al-Muwat}t}a’  itu menyerupai kitab fiqh.[71]

Kitab al-Mudawwanah al-Kubra’ merupakan kumpulan risalah yang memuat tidak kurang dari 1.036 masalah dari fatwa Ima>m Ma>lik yang dikumpulkan Asad bin al-Furat al-Naissa>buri yang berasal dari Tunis.
2.        Metode Istinbat Mazhab Ma>Liki
Ima>m Ma>lik tidak pernah menyusun dasar-dasar mazhab yang dibangunnya dalam sebuah kitab, sebagaimana yang dilakukan oleh Ima>m as-Sya>fi’i>, yang membukukan sendiri dasar-dasar yang menjadi sumbernya dalam menggali hukum dan dan menerangkan sebab-sebab yang menyebabkan dasar itu dijadikan sebagai hujjah, serta kedudukan masing-masing dasar itu dalam teori istidla>l.
Oleh karena itu untuk mengetahuinya harus dilakukan penelusuran terhadap karya-karya monumental beliau yaitu kitab al-Muwat}t}a’dan kitab fatwa beliau al-Mudawwanah al-Kubra’.[72]Dalam kitab al-Muwat}t}a’ diterangkan sebab-sebab Ima>m Ma>lik menjadikan al-Qur’an dan al-H{adi>s sebagai sumber utama. Selain itu Ima>m Ma>lik juga menerangkan alasannya menggunakan ijma’ ahli madinah sebagai dasar hukum dan dasar penggunaan qiyas untuk menetapkan hukum. Qadi al-Iyad dalam kitabnya al-Mada>rik sebagaimana dikutip oleh Hasbi as-Siddieqy  mengatakan dasar yang dijadikan sumber dalam menetapkan hukum adalah al-kita>b, as-sunnah, amal ahl al-madi>nah, dan al-qiya>s.[73] Di tempat lain as-Syatibi mengklaim bahwa ada empat macam dasar mazhab Ma>liki dalam menetapkan hukum, yaitu al-kita>b, as-sunnah, ijma>’ dan ar-ra’yu. Adapun qaul as-saha>bah dimasukkan dalam kategori as-sunnah sementara al-maslahah al-mursalah, sadd az-zari>ah, al-‘urf, istihsa>n serta istisha>b dimasukkan dalam kategori ar-ra’yu.[74] Adapun penekanannya masing-masing dasar sebagai berikut:
a.        Al-Qur’an
Imam Malik memandang al-Qur’an sebagai pokok pangkal hukum syari’at, pegangan umat Islam yang pertama. Al-Qur’an dalam pandangan Imam Malik adalah lafadz dan makna. Karenanya tidak boleh terjemahan al-Qur’an digunakan dalam shalat. Dalam memegang al-Qur’an ini meliputi pengambilan hukum berdasarkan z}ahir nas}s} al-Qur’an atau keumumannya, meliputi mafhu>m al-mukha>lafah yang dinamakan dalil dan mafhu>m al-muwa>faqah yang dinamakan  fahwa dengan memperhatikan illatnya.
b.        As-Sunnah
Dalam berpegang kepada sunnah sebagai dasar hukum, Ima>m Ma>lik melakukan cara yang dilakukan dalam berpegang kepada al-Qur’an. Apabila dalil syar’i menghendaki penta’wilan maka yang dijadikan pegangan adalah arti ta’wil tersebut. Apabila terdapat pertentangan antara makna z}a>hir al-Qur’an dengan makna yang terkandung dalam sunnah sekalipun jelas, maka yang dipegang adalah makna z}a>hir al-Qur’an. Tetapi apabila makna yang dikandung oleh as-Sunnah tersebut dikuatkan oleh Ijma>’ Ahl al-Madi>nah, maka beliau lebih mengutamakan makna yang terkandung dalam sunnah dari pada z}a>hiral-Qur’an (sunnah yang dimaksud disini adalah sunnah mutawa>tir dan masyhu>r).[75]
Adapun Ima>m Ma>lik berpendapat bahwa kedudukan as-sunnah terhadap al-Qur’an ada tiga:[76]
1)       Men-taqri>r hukum atau mengkokohkan hukum al-Qur’an.
2)       Menerangkan apa yang dikehendaki al-Qur’an, men-taqyid kemutlakannya dan menjelaskan kemujmalannya.
3)       Sunnah dapat mendatangkan hukum baru yang tidak disebut dalam al-Qur’an.
c.        Ijma>’ Ahl al-Madi>nah
Ijma>’ ahl al-madi>nah ini ada beberapa macam diantaranya ijma’ ahl al-madina>h yang asalnya dari al-naql hasil dari mencontoh Rasulullah SAW. Bukan dari ijtihad ahl al-madina>h seperti ukuran mud, penentuan tempat atau tempat dilakukannya amalan rutin.
Di kalangan Mazhab Ma>liki, ijma>’ ahl al-madi>nah lebih diutamakan dari pada khabar aha>d, sebab ijma>’ ahl al-madi>nah merupakan pemberitaan oleh jama’ah sedang khabar aha>d hanya merupakan pemberitaan perorangan. ijma’ ahl al-madi>nah ini ada beberapa tingkatan yaitu :
1)       Kesepakatan ahl al-madi>nah yang asalnya adalah al-Naql.
2)       Amalan ahl al-madi>nah sebelum terbunuhnya ‘Usma>n bin ‘Affa>n. Hal ini didasarkan bahwa belum pernah diketahui ada amalan ahl al-madi>nah waktu itu yang bertentangan dengan sunnah Rasul.
3)       Amalan ahl al-madi>nah itu dijadikan pendukung, pentarji>h atas dua dalil yang saling bertentangan.
4)       Amalan ahl al-madi>nah sesudah masa keutamaan yang menyaksikan amalan Nabi SAW.[77]
d.        Fatwa Sahabat
Yang dimaksud sahabat disini adalah sahabat besar yang pengetahuan mereka terhadap suatu masalah itu didasarkan pada an-naql. Menurut Ima>m Ma>lik, para sahabat besar tidak akan memberi fatwa kecuali atas dasar apa yang dipahami dari Rasulullah SAW. Namun demikian beliau mensyaratkan bahwa fatwa sahabat tersebut tidak boleh bertentangan dengan hadis marfu>’ yang dapat diamalkan dari fatwa sahabat yang demikian ini lebih didahulukan dari pada qiyas dan adakalanya Ima>m Ma>lik menggunakan fatwa tabi’in besar sebagai pegangan dalam menentukan hukum.
e.        Khabar Aha>d dan Qiyas.
Ima>m Ma>lik tidak mengakui khabar aha>d sebagai sesuatu yang datang dari Rasulullah SAW, jika khabar aha>d ini bertentangan dengan sesuatu yang sudah dikenal masyarakat Madinah, sekalipun hanya dalil dari hasil istinba>t kecuali khabar aha>d itu dikuatkan oleh dalil-dalil lain yang qat’i>. Dalam menggunakan khabar aha>d ini, Ima>m Ma>lik tidak selalu konsisten, kadang-kadang ia mendahulukan Qiyas daripada khabar aha>d. Kalau khabar aha>d itu tidak dikenal atau tidak populer dikalangan masyarakat Madinah maka hal itu dianggap sebagai petunjuk bahwa khabar aha>d bukan berasal dari Rasulullah SAW. Dengan demikian, khabar aha>d tersebut tidak digunakan sebagai dasar hukum, tetapi menggunakan qiyas dan maslahah.
f.         Al-Istihsa>n
Menurut Mazhab Ma>liki, al-istihsa>n adalah mengambil maslahah yang merupakan bagian dalam dalil yang bersifat kully (menyeluruh) dengan mengutamakan al-istidla>l al-mursal daripada qiyas. Dari Ta’ri>f di atas, jelas bahwa al-istihsa>n lebih mementingkan maslahah juz’iyyah atau maslahah tertentu dibandingkan dengan dalil kully atau dalil yang umum atau dalam kata lain sering dikatakan bahwa al-istihsa>n adalah beralih dari satu qiyas ke qiyas yang lain yang dianggap lebih kuat dilihat dari tujuan syari’at diturunkan. Tegasnya, al-istihsa>n selalu melihat dampak sesuatu ketentuan hukum, jangan sampai membawa dampak merugikan tapi harus mendatangkan maslahah atau menghindari madarat, namun bukan berarti istihsan adalah menetapkan hukum atas dasar ra’yu semata, melainkan berpindah dari satu dalil ke dalil yang lebih kuat yang kandungannya berbeda. Dalil kedua ini dapat berwujud ijma’, ‘urf  atau al-maslahah al-mursalah.
g.        Al-Mas}lah}ah} al- Mursalah
Al-Mas}lah}ah al-Mursalah adalah maslahah yang tidak ada ketentuannya, baik secara tersurat atau sama sekali tidak disinggung oleh nash, dengan demikian maka al-mas}lah}ah} al-mursalah itu kembali  kepada memelihara tujuan syar’iat diturunkan.
Azas atau pondasi fiqh Islam adalah kemaslahatan umat, tiap-tiap maslahah dituntut oleh syara’ dan tiap-tiap yang memberi madarat   dilarang oleh syara’. Ini adalah dasar yang disepakati ulama. Mazhab Ma>liki menghargai maslahah dan menjadikannya sebagai salah satu dasar yang berdiri sendiri bahkan Mazhab Ma>liki kadang-kadang mentahks}I>s}kan al-Qur’an dengan dasar maslahah.[78]
h.           Sadd az-Z|ara>i ‘
Z|ari>’ah menurut lugah, bermakna wasi>lah  dan makna sadd az-zari>’ah ialah menyumbat wasi>lah.[79] Mazhab Ma>liki menggunakan sadd az-zari>’ah sebagai landasan dalam menetapkan hukum. Menurut golongan ini semua jalan atau sebab yang menuju kepada haram atau terlarang hukumnya haram atau terlarang, dan semua jalan atau sebab yang menuju kepada yang halal, halal pula hukumnya.
i.         Istis}h}a>b
Mazhab Ma>liki menjadikan Istis}h}a>b sebagai landasan dalam menetapkan hukum. Istis}h}a>b  adalah tetapnya suatu ketentuan hukum untuk masa sekarang atau yang akan datang berdasarkan atas ketentuan hukum yang sudah ada di masa lampau. Jadi sesuatu yang telah diyakini tersebut hukumnya tetap seperti hukum pertama, yaitu tetap ada, begitu pula sebaliknya. Misalnya seorang yang telah yakin sudah berwudhu, kemudian datang keraguan apakah sudah batal atau belum  maka hukum yang dimiliki oleh tersebut adalah belum batal wudhunya.[80]
j.            ‘Urf dan Adat Kebiasan.
‘Urf adalah urusan yang disepakati oleh segolongan manusia dalam perkembangan hidupnya :
الأمر الذي تتّفق عليه جماعة من النّاس في مجارى حياتها [81]
العمل المتكرّر من الأحاد والجماعة  [82]
Golongan Ma>likiyah meninggalkan qiyas apabila qiyas itu berlawanan dengan ‘urf, disamping itu golongan Ma>likiyah mentakhs}I>s}kan umum dan mentaqyidkan mutlak dengan ‘urf.[83]
3.      Pendapat Mazhab Ma>liki> tentang Hukum ‘Umrah.
Mazhab Ma>liki> berpendapat bahwa ‘umrah hukumnya sunnah mu’akkadah sekali seumur hidup.[84]Mereka mengemukakan alasan-alasan sebagai berikut:
a.    Dalam  berbagai ayat yang menunjukkan kewajiban haji seperti firman Allah SWT, “Wa Lilla>hi ‘ala an-Na>si Hijj al-Baiti”[85], “Wa azzin fi an-Na>si bi al-Hajji”[86]dan ayat lainnya, ‘umrah tidak disebutkan.
b.    Dalil h}adis berupa tanya jawab tentang hukum umrah, yang kemudian dijawab Nabi bahwa hukumnya tidak wajib. Hadis ini diriwayatkan oleh Ima>m at-Tirmizi, yang selengkapnya berbunyi:
حدثنا محمد بن عبد الأعلى الصنعاني حدثنا عمر بن علي عن الحجاج عن محمد بن المنكدر عن جابر أن النبي صلى الله عليه وسلم سئل عن العمرة أواجبة هي؟ قال لا وأن تعتمروا هو أفضل [87]
c.    Ayat dan h}adisyang dijadikan dalil oleh mazhab Sya>fi’i seharusnya ditafsirkan (di-ihtimalkan) atas ibadah yang sudah mulai dilaksanakan. Sebab ungkapan firman Allah “Wa Atimmu al-Hajja wa al-‘Umrata lillahi” [88]memberi pengertian bahwa ibadah itu sudah mulai dilakukan, dan apabila suatu ibadah sudah mulai dilakukan, maka hukum menyempurnakannya menjadi wajib, meskipun itu ibadah sunnah.[89]
B.    Mazhab Sya>fi’i`
1.       Biografi Pendiri Mazhab Sya>fi’i
Imam asy-Sya>fi`’i sebagai pendiri mazhab Sya>fi’i merupakan salah satu tokoh hukum Islam yang amat terkenal. Nama lengkapnya adalah Muh}ammad bin Idri>s asy-Sya>fi’i al-Quraisyi>. Dilahirkan di desa Gazah Palestina pada tahun 150 H / 767 M, dan wafat di Mesir pada tahun 204 H / 819 M. Silsilah beliau dengan Nabi Muhammad bertemu pada datuk mereka, Abd al-Manaf. Jelasnya adalah Muh}ammad bin Idri>s bin al-`Abba>s bin ‘`Usma>n bin Sya>fi’ bin Syu’`aib bin ‘`Ubaid bin Ali> Yazi>d bin Ha>syim bin Mut}t}alib bin ‘Abd al-Mana>f datuk Nabi Muhammad SAW. [90]
Sya>fi’ bin Syu’`aib adalah yang menjadi nisbat asy-Syafi’i. Sya>fi’ bertemu Nabi pada masa kecilnya dan ayahnya masuk Islam pada saat perang Badar.[91]Jadi asy-Syafi’i adalah keturunan Quraisy, tetapi ibunya bukan dari keturunan Quraisy tetapi berasal dari suku ‘Ad (dari Yaman) bukan keturunan ‘Alawiyyah.[92]
Sejak dilahirkan ia sudah menjadi yatim,  pengasuhan dan bimbingan waktu kecil adalah di bawah sang ibu. Sejak kecil asy-Sya>fi’i sudah menampakkan kecintaan dan kecerdasannya. Hal ini terlihat dengan kemampuannya menghafal al-Qur’an sejak usia 7 tahun, proses belajar pertama ia pergi ke daerah Huzail (pedalaman) yang mana  merupakan tempat orang-orang yang paling ahli dalam bahasa Arab. Imam asy-Sya>fi’i menimba ilmu dengan berbagai guru, baik yang berkaitan dengan sya`ir-sya`ir, tata bahasa maupun sastra-sastra Arab. Maka tak heran dia sangat ahli dalam kebahasaan Arab.[93]
Ketika umurnya mencapai dua tahun, ibunya membawa ke Hijaz dan ke qabilahnya yaitu penduduk Yaman, karena ibunya Fatimah merupakan keturunan dari suku Azdiyah dan tinggal di suku tersebut. Akan tetapi ketika umurnya mendekati usia 10 tahun, ibunya khawatir kalau nasab anaknya yang mulia dari suku Quraisy akan dilupakan dan dihilangkannya, sehingga ibunya membawa asy-Sya>fi’i ke Mekah. Perpindahan ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal yaitu:
1.       Mekah adalah tanah kelahiran bapak dan nenek moyang Ima>m asy-Sya>fi’i. Maka ibunya ingin anaknya dibesarkan diantara keluarga ayahnya yang mempunyai kedudukan sosial yang terpandang dan mendapat berbagai fasilitas dari Bait al-Mal, karena administrasi pemerintahan pada waktu itu memang menyediakan tunjangan khusus bagi segenap anggota keluarga Quraisy dari keturunan Ha>syim dan Mut}t}alib yaitu keluarga dekat Nabi SAW.
2.       Karena kota Mekah merupakan tempat ulama, fuqaha’, para penyair dan para sastrawan sehingga Ima>m asy-Sya>fi’i dapat berkembang dalam bahasa Arab yang murni dan mengambil cabang-cabang keilmuan yang dikehendaki. Walaupun Yaman dan Palestina itu lebih utama bagi ibunya karena daerah kaumnya yaitu Azdiyah.[94]
Ima>m asy-Sya>fi’i memulai kegiatannya menuntut ilmu sejak masa kecilya di Mekah. Walaupun ia dibesarkan sebagai anak yatim piatu dalam asuhan ibunya serta hidup dalam kekurangan dan kesempitan, akan tetapi semangat untuk menuntut ilmunya tidak pudar. Sang ibu, Fatimah, mengirimkan asy-Sya>fi’i unrtuk belajar ke Kutta>b(semacam taman kanak-kanak). Dengan kemauannya yang keras dan dorongan dari ibunya, ia mendatangi para ulama dan menulis apa yang bermanfaat mengenai hal-hal  yang penting.[95]
Dari pengembaraan ilmiah yang telah dilakukan, Ima>m asy-Sya>fi’idapat mengenal berbagai macam ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh para ulama; mulai pemikiran ulama yang didasarkan pada h}adis maupun ra’yu, tetapi ia banyak dipengaruhi oleh corak pemikiran Irak yang dijadikan dasar pengembangan mazhabnya pertama kali di Mekah, yaitu dengan mengaktifkan kembali halaqah di Masjid al-Haram.[96]
Untuk pendalaman h}adis, Ima>m asy-Sya>fi’i pergi ke Madinah  dengan berguru kepada Ima>m Ma>lik bin Anas. Ia mampu menyelesaikan pendidikan dengan baik, hal ini dibuktikan dengan kemampuan menghafal kitab al-Muwat}t}a>’ karya Ima>m Ma>lik yang dibaca dengan  di depan sang guru, hal ini membuat kekaguman tersendiri bagi Ima>m Ma>lik.[97]
Karena merasa masih harus memperdalam pengetahuannya, ia kemudian  pergi ke Irak, untuk memperdalam lagi ilmu fikih, kepada para murid Abu> H{ani>fah yang masih ada. Dalam perantauannya tersebut, Ima>m asy-Sya>fi’i sempat mengunjungi Persia dan beberapa tempat lain.[98] Pada waktu itu dia menyusun kitab us}u>l fiqh yang pertama dalam Islam yaitu “ar-Risa>lah”.
Sebagai pecinta ilmu, asy-Sya>fi’i mempunyai banyak guru, begitu banyaknya guru Ima>m asy-Sya>fi’i sehingga Ima>m Ibn H{ajar al-‘Asqala>ni> menyusun satu buku khusus yang bernama T}awali at-Tasib yang di dalamnya disebut nama-nama ulama yang pernah menjadi guru Ima>m asy-Sya>fi’i, antara lain: Ima>m Muslim bin Kha>lid, Ima>m Ibrahi>m bin Sa’id, Ima>m Sufya>n bin Uyainah, Ima>m Ma>lik bin Anas, Ima>m Ibra>hi>m bin Muh}ammad, Ima>m Yah}ya> bin H{asan, Ima>m Waki>’, Ima>m Fud}ail bin ‘Iya>d}.[99]
Aktivitas di bidang pendidikan dimulai dengan mengajar di Madinah dan menjadi asisten Ima>m Ma>lik. Waktu itu usianya sekitar 29 tahun. Sebagai ulama fikih namanya mulai dikenal, muridnya pun berdatangan dari berbagai penjuru wilayah Islam. Selain sebagai ulama fikih ia pun dikenal sebagai ulama ahli h}adis, tafsi>r, bahasa dan sastra Arab, ilmu falak, ilmu us}u>l dan ilmu ta>rikh.[100]
Ima>m asy-Sya>fi’i digelari Na>s}ir as-Sunnah artinya pembela Sunnah karena sangat menjunjung tinggi Sunnah Nabi Muhammad SAW. Abd al-H{ali>m al-Jundi, menulis  buku dengan judul, al-Ima>m asy-Sya>fi’i, Na>s}ir as-Sunnah wa Wa>d}i’ al-Us}u>l. Di dalamnya diuraikan secara rinci bagaimana sikap dan pembelaan asy-Sya>fi’i terhadap Sunnah. Intinya adalah bahwa Ima>m asy-Sya>fi’i sangat mengutamakan Sunnah Nabi SAW dalam melandasi pendapat-pendapat dan ijtihadnya. Karena itu ia sangat berhati-hati dalam menggunakan qiyas. Menurutnya, qiyas hanya dapat digunakan dalam keadaan terpaksa yaitu dalam masalah mu’amalah (kemasyarakatan) yang tidak didapati nas}s}nya secara pasti dan jelas di dalam al-Qur’an  atau H{adis s}ah}ih}, atau tidak dijumpai dalam ijma’ sahabat. Qiyas sama sekali tidak dibenarkan dalam urusan ibadah. Dalam penggunaan qiyas, asy-Sya>fi’`i menegaskan bahwa harus diperhatikan nas-nas Al-Qur’an dan Sunnah yang telah ada.[101]
Ima>m asy-Sya>fi’i tinggal di Baghdad selama 2 tahun. Atas wewenang yang diberikan gurunya, Muslim bin Kha>lid az-Zanji> –seorang ulama besar yang menjadi mufti di Mekah–, Ima>m asy-Sya>fi’i mengeluarkan fatwa-fatwa selama tinggal di Baghdad. Pendapat-pendapat Ima>m asy-Sya>fi’i yang difatwakan tersebut dinamakan dengan  qaul qadim. Ketika itu, pengaruh mazhab Sya>fi’i  mulai tersebar luas di kalangan masyarakat, kemudian untuk sementara waktu dia terpaksa  pergi meninggalkan  Bagdad menuju Makkah untuk memenuhi panggilan  hati yang masih haus ilmu pengetahuan.[102]
Pada tahun 198 H. asy-Sya>fi’`ikembali ke Baghdad untuk merawat dan mengembangkan benih-benih mazhab yang telah ditebarkan. Pada saat itulah pengaruhnya mengalami perkembangan pesat. Hampir tidak ada lapisan masyarakat Baghdad yang tidak tersentuh oleh roda pemikirannya, dan di antara pilar-pilar pendukung mazhab Sya>fi’`i yang masyhur adalah Ah}mad bin H{anbal, az-Za’farani, Abu S|aur, al-Karabisi. Keempat orang inilah yang tercatat sebagai periwayat qaul qadim yang tertuang dalam kitab al-Hujjah.[103]

A.       Kemudian asy-Sya>fi’i merasa terpanggil untuk memperluas lagi mazhabnya,[104] dengan berbekal semangat dan tekad dia mengembara ke negeri Mesir. Di negeri ini, asy-Sya>fi’i meneliti dan menelaah lebih dalam lagi ketetapan fatwa-fatwanya selama di Baghdad, kemudian muncullah rumusan-rumusan baru yang kemudian terkenal dengan istilah qaul jadi>d yang tertulis dalam kitab al-Umm, al-Imla, Mukhtas}ar Muzani dan al-Buwaiti. Di antara pendukung dan periwayat qaul jadid yang terkenal adalah : al-Buwaiti, ar-Rabi` al-Jaizi, al-Muradi, al-H{armalah dan Abdullah bin az-Zubair al-Makki.[105]

Masa muda asy-Sya>fi’idihabiskan untuk menuntut ilmu pengetahuan di pusat-pusat ilmu pengetahuan, seperti kota Mekah, Madinah, Kufah, Syam dan Mesir. Beliau mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk mempelajari ilmu tafsir, fiqih, dan hadis kepada guru-guru yang banyak tersebar di berbagai pelosok negerinya.
Guru-guru asy-Sya>fi’i terdiri dari berbagai aliran. Misalnya Sufyan bin Uyainah di Mekah dan Ima>m Ma>lik bin Anas adalah golongan ahli h}adi>s,di Irak beliau berguru pada golongan dari ahli ra’yi, aliran Imam Hanafi dan di Yaman golongan fiqh aliran mazhabal-Auza’i. Karena bermacam-macam aliran itulah, maka Ima>m Sya>fi’i terkenal sebagai ima>m yang sangat hati-hati dalam menentukan hukum serta beliau terkenal sebagai ahli qiyas.

B.        Adapun murid-murid beliau tersebar di negeri, di Mekah ada Abu Bakar al-H{umai>di, Ibrahi>m bin Muh}ammad al-`Abba>s, Abu Bakar Muh}ammad bin Idris, Mu>sa bin Abi al-Ja>rud, kemudian di Bagdad, diantara muridnya adalah H}asan as-Sa’bah az-Za’farani, al-H{usain bin Ali> al-Karabisiy, Abu T{ur al-Kalbiy dan Ahmad bin Muhammad. Sedangkan di Mesir di antara muridnya adalah al-Buwait}i, Isma>’il, al-Muza>ni>, Muh}ammad bin Abdulla>h bin ‘Abd al-H{akam dan ar-Rabi>’ bin Sulaiman.[106]

Sebagai seorang ilmuwan yang multi disipliner, Ima>m asy-Sya>fi’i memiliki karya ilmiah yang sangat banyak. Menurut riwayat Ima>m Abu> Muh}ammad al-H{asan bin Muh}ammad al-Marwaziy –seperti yang dikutip an-Nawawi–  bahwa karya ilmiah Ima>m asy-Sya>fi’i mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, kesusastraan arab dan lainnya.36Metode Ima>m asy-Sya>fi’i dalam mengarang buku itu ada yang langsung ditulis sendiri atau pun dengan cara mendiktekan kepada murid-muridnya. Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang kapan Ima>m asy-Sya>fi’i mulai menulis pendapat-pendapat dan pemikirannya. Apakah ketika beliau berada di Mekah atau ketika berada di Bagdad. Menurut riwayat yang masyhur, beliau mulai menulis karyanya ketika di Mekah sebelum datang ke Iraq untuk yang kedua kalinya. Karya-karya beliau terkenal dengan materi yang luas dan analisa yang dalam khususnya ar-Risa>lah dan al-Umm. Di antara karya-karyanya, yaitu:
1.       Ar-Risa>lah. Kitab ini merupakan kitab pertama kali yang ditulis ulama dalam bidang us}u>l fiqih. Kitab ini disusun dua kali, pertama ketika beliau berada di Bagdad yang kemudian dikenal dengan ar-Risa>lah al-Qadi>mah, yang kedua ketika beliau berada di Mesir yang dikenal dengan ar-Risa>lah al-Jadi>dah. Namun yang sampai kepada kita sekarang adalah ar-Risa>lah yang kedua.[107]
2.       Kitab al-Hujjah. Kitab ini termasuk dalam qaul qadim dalam bidang fiqih dan furu’, karena disusun ketika Ima>m asy-Sya>fi’i berada di Bagdad. Isi kitab ini secara umum ditujukan untuk menanggapi pendapat yang dikemukakan oleh ulama Iraq khususnya pendapat Muhammad bin al-Hasan.[108]
3.       Al-Musnad. Musnad asy-Sya>fi’i merupakan kitab yang berisi riwayat hadis-hadis asy-Sya>fi’i. Sistematika penyusunan dan pembahasan kitab ini mengikuti sistematika kitab-kitab fiqih yakni secara berurutan, diawali dengan masalah ibadah, kemudian munakahah, kemudian masalah jiha>d, kemudian masalah qad}a>’ dan jinayah. Kitab ini termasuk kitab yang diperhatikan ulama h}adis pada abad kedua Hijriah dan merupakan kitab h}adis pertama yang sampai kepada kita yang menggunakan “mi’ya>r” ilmu h}adis.[109]
4.       Kitab al-Umm. Kitab al-Umm merupakan kitab yang berisi masalah-masalah fiqih yang dibahas berdasarkan pokok-pokok pikiran Ima>m asy-Sya>fi’i yang terdapat dalam kitab ar-Risalah. Kitab al-Umm ini diriwayatkan oleh ar-Rabi>’ bin Sulaima>n al-Mura>di.
B.      Metode Istinbat Mazhab Syafi’i
Dalam memetik (istinba>t}) suatu hukum, Ima>m asy-Sya>fi’i dalam bukunya ar-Risa>lahmenjelaskan bahwa ia memakai empat dasar: al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’, Qiyas. Kelima dasar ini yang kemudian dikenal sebagai dasar-dasar mazhab Sya>fi’i. Dasar pertama dan utama dalam menetapkan hukum adalah al-Qur’an. Apabila dalam al-Qur’an tidak ditemukan  hukum suatu masalah, ia beralih pada Sunnah Nabi SAW. as-Sunnah yang dipakai adalah as-Sunnah yang nilai kuantitasnya mutawatir (perawinya banyak) maupun ahad (perawinya satu orang) yang berkualitas s}ah}ih} dan h}asan, bahkan as-sunnah d}a`if. Adapun syarat-syarat untuk as-sunnah d}a`if adalah; tidak terlalu lemah, dibenarkan oleh kaidah umum atau dasar kulli (umum) dari nas}s}, tidak bertentangan dengan dalil yang kuat atau s}ah}ih} dan h}adis tersebut bukan untuk menetapkan halal dan haram atau masalah keimanan, melainkan sekedar untuk keutamaan amal (fad}a>’il al-`a’ma>l) atau untuk himbauan (targi>b) dan anjuran (tarhi>b).[110]
Dalam pandangan asy-Sya>fi’i, hadis mempunyai kedudukan yang begitu tinggi setingkat dengan al-Qur’an dalam kedudukannya sebagai sumber hukum Islam yang harus diamalkan. Karena, menurut Ima>m asy-Sya>fi’i, hadis itu mempunyai kaitan yang sangat erat dengan al-Qur’an. Bahkan menurutnya, setiap hukum yang ditetapkan Rasulullah SAW pada hakikatnya merupakan hasil pemahaman yang ia peroleh dari memahami al-Qur’an.[111]
Dan satu hal yang perlu diketahui bahwa Ima>m asy-Sya>fi’i tidak bersikap fanatik terhadap pendapat-pendapatnya, hal ini nampak pada suatu ketika ia pernah berkata: “Demi Allah aku tidak peduli apakah kebenaran itu nampak melalui lidahku atau melalui lidah orang lain.”.[112]Adapun penjelasan dari masing-masing sumber hukum tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Al-Qur’an
Asy-Sya>fi’i>menegaskan bahwa al-Qur’an membawa petunjuk, menerangkan yang halal dan yang haram, menjanjikan balasan; surga bagi yang ta’at dan neraka bagi yang durhaka, serta memberikan perbandingan dengan kisah-kisah umat terdahulu. Semua yang diturunkan Allah dalam al-Qur’an adalah h}ujjah (dalil, argumen) dan rahmat. Menurutnya, setiap kasus yang terjadi pada seseorang pasti mempunyai dalil dan petunjuk dalam al-Qur’an.[113]
Menurut asy-Sya>fi’i, al-Qur’an mengandung 3 hal yaitu; amr, nahi dan khabar serta apa yang tercantum di dalamnya dalam bentuk istikhba>r dan istifha>m, maksudnya adalah penetapan (taqri>r)atau ancaman. Yang dikehendaki dari amr adalah wajib, sunnah dan mubah, sedang yang dikehendaki dari nahi adalah haram, makruh dan tanzih.[114]
Kemudian, nas}-nas}hukum yang terkandung dalam al-Qur’an –kira-kira 500 ayat– terbagi dalam 6 macam; 1). Umu>m dan Khusu>s. 2). Mujmal dan Mufassar. 3). Mut}laq dan Muqayyad. 4). Isba>t [positif] dan Nafi> [negatif]. 5). Muhkam dan Muta>syabih. 6). Na>sikh dan Mansu>kh.[115]
b.       As-Sunnah
Asy-Sya>fi’i>menegaskan bahwa as-Sunnah merupakan hujjah yang wajib diikuti, sama halnya dengan al-Qur’an. Untuk mendukung pendapatnya ini, ia mengajukan dalil, baik berupa dalil naqli maupun dalil aqli. Asy-Sya>fi’imengemukakan bahwa Allah secara tegas mewajibkan manusia menaati Rasulullah SAW.[116]
      As-Sunnah selain sebagai sumber yang kedua setelah al-Qur`an juga sebagai pelengkap yang menginterpretasikan isi kandungan al-Qur`an, sehingga kedudukan as-Sunnah atas al-Qur`an sebagai berikut:
1.       Ta`kid, menguatkan dan mengokohkan al-Qur`an.
2.       Tabyin, menjelaskan maksud nas al-Qur`an.
3.       Tasbit, menetapkan hukum yang tidak ada ketentuan nasnya dalam al-Qur`an.[117]
Mengenai pembagian khabar (sunnah), mazhab Sya>fi’imembaginya menjadi 3; khabar mustafid}, khabar mutawa>tir dan khabar a>had. Al-Ma>wardi>juga tidak lupa berbicara masalah keadaan serta sifat-sifat para rawi, isnad serta hal-ihwalnya.
Mengenai khabar mutawa>tir, mazhab Sya>fi’i>memandang kebenarannya bersifat pasti sehingga khabar itu mutlak harus diterima sebagai dalil. Sedang selain khabar mutawa>tir, kesahihan khabar itu dapat diketahui melalui penelitian dengan menggunakan kriteria tertentu. Secara lebih rinci, persyaratan h}adis s}ah}ih} itu diuraikan oleh asy-Sya>fi’i>sebagai berikut:
1.       Sanad h}adis itu haruslah bersambung sampai kepada Nabi SAW.
2.       Perawinya harus siqah(terpercaya) dalam hal keagamaannya dan dikenal sebagai orang yang selalu bicara benar.
3.       Perawi mengerti makna h}adis yang diriwayatkannya serta mengetahui hal-hal yang dapat mengubah makna (bila ia meriwayatkan dengan makna), atau dapat menyampaikan hadisnya persis seperti yang didengarnya jika ia meriwayatkan berdasarkan hafalan, atau memelihara kitabnya jika ia meriwayatkan dari kitab.
4.       Riwayatnya selalu sesuai dengan riwayat para ahli (ahl al-hifz} wa as-siqa>t).
5.       Perawi tidak melakukan  tadli>s, artinya tidak meriwayatkan dari seseorang kecuali h}adis yang benar-benar didengarnya dari orang tersebut.
6.       Persyaratan ini harus dipenuhi pada setiap tingkatan dalam jalur periwayatan hadi>s tersebut.[118]
c.        Ijma’
Ijma’ menurut para ulama us}u>l adalah kesepakatan para mujtahid dalam suatu masa setelah wafatnya Nabi SAW atas suatu perkara agama. Asy-Sya>fi’i> menegaskan bahwa ijma’ merupakan dalil yang kuat, pasti, serta berlaku secara luas pada semua bidang. Sesuatu yang telah disepakati oleh generasi terdahulu, walaupun mereka tidak mengemukakan dalil Kitab atau Sunnah, dipandangnya sama dengan hukum yang diatur berdasarkan Sunnah yang telah disepakati. Menurutnya, kesepakatan atas suatu hukum menunjukkan bahwa hukum itu tidak semata-mata bersumber dari ra’yu (pendapat) karena ra’yu akan selalu berbeda-beda.[119]
Ima>m asy-Sya>fi’i mendefinisikan ijma` sebagai konsensus ulama’ di masa tertentu atas suatu perkara berdasarkan riwayat  Rasul. Karena menurutnya mereka tidak mungkin sepakat dalam perkara yang bertentangan dengan as-Sunnah.[120]
Ima>m asy-Sya>fi’i membagi ijma`menjadi dua yaitu ijma>’ s}ari>h dan ijma>’ suku>ti>. Namum yang paling diterima olehnya adalah ijma>’ s}ari>h  sebagai dalil hukum. Hal ini menurutnya, dikarenakan kesepakatan itu disandarkan kepada nas}s}, dan berasal dari secara tegas dan jelas sehingga tidak mengandung keraguan. Sedangkan ijma>’ suku>ti> ditolaknya karena bukan merupakan kesepakatan semua mujtahid. Dan diamnya mujtahid menurutnya, belum tentu mengindikasikan persetujuannya.
Melihat kondisi kehidupan para ulama di masanya yang telah terjadi ikhtilaf dikalangan mereka, maka menurutnya, ijma` hanya terjadi dalam pokok-pokok fard}u dan yang telah mempunyai dasar atau sumber hukum.[121]
d.       Qiyas
Qiyas adalah menyamakan perkara yang tidak ada nas}s} hukumnyakepada  perkara lain yang sudah ada nas}s}} hukumnya karena adanya persamaan illat hukum. Muhammad Abu Zahrah menjelaskan bahwa ulama yang pertama kali mengkaji qiyas (merumuskan kaidah-kaidah dan dasar-dasarnya) adalah asy-Sya>fi’i.[122]Asy-Sya>fi’i>menyatakan bahwa qiyas itu ada beberapa macam dengan tingkat kejelasan dan kekuatan yang berbeda. Suatu qiyas dianggap berada pada tingkatan paling kuat apabila keberadaan hukum pada far’ (kasus cabang) lebih kuat (aula) daripada keberadaannya pada as}l(kasus pokok).[123]
Sejalan dengan itu, berdasarkan tingkat kejelasan illah sebagai landasan penetapan hukum bagi far’, para ulama membagi qiyas menjadi tiga macam sebagai berikut:
1.       Qiyas aqwa>, yakni apabila berlakunya hukum pada far’ lebih kuat daripada berlakunya pada as}l karena keberadaan illah lebih nyata pada far’ daripada  as}lSebagai contoh, asy-Sya>fi’i>mengemukakan sebuah hadi>syang menyatakan bahwa Allah mengharamkan seorang mukmin berprasangka buruk kepada orang mukmin lainnya. Berdasarkan ini, menuduhnya secara tegas tentu lebih utama lagi keharamannya.[124]
2.       Qiyas musa>wi,> yaitu apabila hukum far’ sama derajatnya dengan hukum as}l. Al-Gazza>li> mengemukakan contohnya sebagai berikut. Rasulullah SAW mengatakan, bila seorang laki-laki mengalami kepailtan (ifla>s) atau meninggal dunia, maka pemilik tiap-tiap barang (yang ada di tangan orang yang meninggal tersebut) lebih berhak atas barangnya. Berdasarkan qiyas, ketentuan tersebut diberlakukan juga bagi perempuan yang mengalami keadaan yang sama.[125]
3.       Qiyas ad}’af, yaitu apabila keberadaan hukum pada far’ lebih lemah daripada keberadaannya pada as}l.

C.     Qiyas merupakan dalil syara’ yang telah ditetapkan secara meyakinkan. Qiyas mempunyai beberapa unsur yang harus dipenuhi yaitu, maqi>s, maqi>s ‘alaih dan illat. Karenanya, suatu peristiwa tidak boleh diqiyaskan kepada suatu peristiwa yang telah ada nas}s} hukumnya berdasarkan kesamaan perkara yang bukan illat syar’i. Qiyas termasuk perkara yang amat rumit yang hanya dilakukan oleh para ulama mumpuni yang memahami nas}-nas}, hukum-hukum dan realitas. Ima>m Sya>fi’i>, seperti yang dikutip an-Nabha>ni>, berkata bahwa tidak seorang pun boleh melakukan qiyas sehingga ia menjadi ‘alim, mengetahui dengan baik sunnah Nabi, pendapat para ulama salaf dan bahasa Arab. Ia juga harus mempunyai akal yang sehat sehingga mampu membedakan antara yang rancu (musytabih), tidak tergesa-gesa mengeluarkan pendapat, dan tidak enggan mendengar pendapat orang yang menentangnya. Sebab dengan mendengarkan orang lain, bisa jadi mengingatkan apa yang terlewat dan kesalahan yang ia yakini benarnya.[126]

3.       Pendapat Mazhab Sya>fi’i tentang Hukum Umrah
Mazhab Sya>fi’i berpendapat bahwa ‘umrah hukumnya wajib dilakukan sekali seumur hidup.[127]Mereka mengemukakan alasan-alasan sebagai berikut:
a.    Allah SWT berfirman:
وأتموا الحج والعمرة لله [128]
Ayat ini memerintahkan kita agar menyempurnakan ibadah haji dan ‘umrah. Menyempurnakan artinya melakukan sesuatu hingga tuntas dan utuh. Maka hal ini menunjukkan bahwa perintah menyempurnakan ibadah haji dan ‘umrah hukumnya wajib. Selain itu, pada umumnya al-Amr itu menunjukkan arti wajib, dan pada dasarnya antara ma’tuf ‘alaih yaitu lafal al-hajji dan ma’tuf yaitu lafal al-‘umrah mempunyai kesamaan hukum.
b.    Dalil berupa h}adis, mengenai pertanyaan ‘A<isyah kepada Nabi tentang kewajiban jihad terhadap wanita. Lalu dijawab Nabi, bahwa para wanita diwajibkan melakukan jihad yang tidak perlu menumpahkan darah, yaitu haji dan umrah. H{adis tersebut diriwayatkan oleh Ima>m Ah}mad bin H{anbal, yang selengkapnya berbunyi:
حدثنا محمد بن فضيل قال ثنا حبيب بن أبي عمرة عن عائشة ابنة طلحة عن عائشة قالت قلت يا رسول الله هل على النساء من جهاد ؟ قال نعم عليهن جهاد لا قتال فيه الحج والعمرة [129]
BAB IV
ANALISIS DAN TARJI<H{
A.    Validitas Kesahi>han h}adi>s
Ketika seorang mujtahid menetapkan suatu hukum maka hal itu tidak bisa dipisahkan dari keberadaan dalil-dalil yang mendasarinya. Mazhab Ma>liki> berpendapat bahwa ‘umrah hukumnya sunnah mu’akkadah sekali seumur hidup.[130] Dalil yang digunakan adalah h}adi>s berupa tanya jawab tentang hukum ‘umrah, yang kemudian dijawab Nabi bahwa hukumnya tidak wajib. H{adi>s ini diriwayatkan oleh Ima>m at-Tirmizi, yang selengkapnya berbunyi:
حدثنا محمد بن عبد الأعلى الصنعاني حدثنا عمر بن علي عن الحجاج عن محمد بن المنكدر عن جابر أن النبي صلى الله عليه وسلم سئل عن العمرة أواجبة هي؟ قال لا وأن تعتمروا هو أفضل [131]
Sedangkan mazhabSya>fi’iberpendapat bahwa ‘umrah hukumnya wajib dilakukan sekali seumur hidup. Dalil yang digunakan adalah h}adi>s mengenai pertanyaan ‘A<isyah kepada Nabi tentang kewajiban jihad terhadap wanita. Lalu dijawab Nabi, bahwa para wanita diwajibkan melakukan jihad yang tidak perlu menumpahkan darah, yaitu haji dan ‘umrah. H{adi>stersebut diriwayatkan oleh Ima>m Ah}mad bin H{anbal, yang selengkapnya berbunyi:
حدثنا محمد بن فضيل قال ثنا حبيب بن أبي عمرة عن عائشة ابنة طلحة عن عائشة قالت قلت يا رسول الله هل على النساء من جهاد ؟ قال نعم عليهن جهاد لا قتال فيه الحج والعمرة [132]
Untuk mengetahui validitas (kesahi>han) dalil yang digunakan baik oleh mazhab Ma>liki maupun mazhab Sya>fi’i yang dalam hal ini berupa h}adi>s, maka perlu diperhatikan kaidah-kaidah yang berhubungan dengan kesahihan sanadh}adi>s dan matannya. Dalam penelitian sanad, ada beberapa kaedah yang harus dipenuhi sebagai syarat untuk menentukan kesahihannya. Kaedah-kaedah tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian,[133]yakni kaedah-kaedah yang bersifat umum (mayor) dan kaedah yang bersifat khusus (minor). Unsur-unsur kaedah mayor kesahihan sanad h}adi>s adalah:
a.    Sanadnya bersambung (muttas}il)
b.    Seluruh periwayat dalam sanad bersifat ‘adil.
c.    Seluruh periwayat dalam sanad bersifat d}a>bit}.
d.   Sanad h}adi>s itu terhindar syuzu>z.
e.    Sanad h}adi>s itu terhindar dari illat.
Dari kaedah-kaedah mayor tersebut diperinci lagi kepada kaedah-kaedah minor yang harus dipenuhi sebagai syarat h}adi>s itu berkualitas (s}ah}i>h} sanadnya). Unsur-unsur kaedah minor di atas antara lain:
a.    Sanad bersambung.
Suatu sanad dapat dikatakan bersambung apabila :
1.       Seluruh perawi dalam sanad itu benar-benar siqah (adil dan d}a>bit}).
2.       Antara masing-masing perawi dengan perawi terdekat sebelumnya yang ada dalam sanad itu benar-benar telah ada hubungan periwayatan h}adi>s secara sah menurut ketentuan at-tahammul wa ‘ada> al-h}adi>s.
b.    Periwayat bersifat ‘adil
Seseorang dapat dikatakan adil, bila memenuhi persyaratan berikut:
1.       Muslim.
2.       Mukalaf.
3.       Melaksanakan ketentuan agama.
4.       Memelihara muru’ah.
c.    Periwayat bersifat d}a>bit.
Unsur-unsur kaedah minor dari kaedah mayor perawi yang d}a>bit}adalah:
1.         Perawi memahami dengan baik riwayat yang telah diterimanya.
2.         Perawi itu hafal dengan baik riwayat yang telah diterimanya.
3.         Perawi itu mampu meriwayatkan riwayat yang telah dihafalnya itu dengan baik kapan saja dia menghendaki dan sampai saat dia menyampaikan riwayat itu kepada orang lain.[134]
d.   Terhindar dari Syuzu>z(Kejanggalan)
Menurut pendapat Ima>m as-Sy>afi’i, unsur-unsur kaedah minor dari  kaedah ini adalah sebuah h}adi>sdikatakan berkemungkinan mengandungsya>z apabila:
1.       H{adi>s itu memiliki lebih dari satu sanad.
2.       Para periwayat h}adi>s itu seterusnya siqah.
3.       Matn atau sanad itu ada yang mengandung pertentangan.[135]
e.    Terhindar dari ‘Illat
Unsur-unsur kaedah minor yang ditetapkan dari kaedah mayor di atas adalah sebuah hadis dinyatakan ber’illat apabila :
1.       Sanad yang tampak muttas}il dan marfu>’ ternyata muttas}il tetapi mauqu>f.
2.       Sanad yang tampaknya muttas}il dan marfu>’, ternyata muttas}il tapi mursal (hanya sampai pada tabi’in)
3.       Terjadi percampuran antara satu h}adi>s dengan h}adi>s lain.
4.       Terjadi kesalahan penyebutan riwayat karena kemiripan nama dan sebagainya sedang kualitasnya tidak sama-sama siqah.[136]
Sedangkan untuk menentukan suatu matn yang berkualitas s}ah}i>h} maka ada dua unsur kesahihan matn yang harus dipenuhi yaitu :
a.    Terhindar dari syuzu>z(kejanggalan)
b.    Terhindar dari ‘illat (cacat).[137]
Penelitian mengenai kesahihan matn ini tidak mudah dilakukan apalagi kitab-kitab khusus yang menghimpun berbagai matnyang mengandung syuzu>zataupun illat belum ada.[138]Selain persyaratan di atas, ulama h}adi>smenerangkan tanda-tanda yang berfungsi sebagai tolak ukur bagi matn yang s}ah}i>h}. Adapun tolak ukur penelitian matn (Ma’a>yir Naqd al-Matn) yang dikemukakan para ulama tidaklah seragam, ada yang terlalu ketat ada pula yang longgar. Menurut al-Kha>t}ib al-Bagdadi, suatu matn h}adi>s baru yang dinyatakan maqbu>l (diterima karena berkualitas s}ah}i>h}) apabila:
a.    Tidak bertentangan dengan akal sehat.
b.    Tidak bertentangan dengan hukum al-Qur’an yang muhkam.
c.    Tidak bertentangan dengan h}adi>s  mutawa>tir.
d.   Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama salaf.
e.    Tidak bertentangan dengan h}adi>s  a>ha>dyang kesahihannya lebih kuat.[139]
Pendapat tersebut kelihatan cukup selektif, namun ada pula yang melonggarkan persyaratan tersebut sebagaimana Ibn al-Jauzi> dalam karyanya “al-Maudu>rat” yang dikutip oleh Syuhudi Ismail menyatakan: “Setiap h}adi>syang bertentangan dengan akal ataupun ketentuan agama maka ketahuilah bahwa h}adi>s tersebut adalah h}adi>spalsu.” [140]Selanjutnya jumhur ulama h}adi>s menjelaskan tanda-tanda matn h}adi>syang palsu itu adalah:
a.    Susunan bahasa rancu.
b.    Kandungan pernyataannya bertentangan dengan akal sehat dan sulit diinterpretasikan secara rasional.
c.    Kandungan pernyataannya bertentangan dengan tujuan pokok ajaran Islam.
d.   Kandungan pernyatannya bertentangan dengan sunnatulla>h.
e.    Kandungan pernyataannya bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an ataupun h}adi>s mutawa>tir.
f.     Kandungan pernyataannya berada di luar kewajaran diukur dari petunjuk umum ajaran hukum Islam.[141]
Selanjutnya akan dijelaskan mengenai metode penerimaan dan penyampaian h}adi>s  (at-Tah}ammul wa Ada>’ al-H{adi>s) yang dalam hal ini ada delapan macam, yaitu:[142]
a.    Sama’ min lafz}i asy-Syaikhihi, yakni mendengar sendiri dari perkataan gurunya, baik secara didiktekan maupun tidak, baik dari tulisan maupun hafalan. Cara yang demikian merupakan cara yang tertinggi, sedang lafal-lafal yang digunakan dalam metode ini adalah akhbarani>, akhbarana>, haddasani>, haddasana>, sami’tu dan sami’na>.

b.    Al-Qira>’ah ‘ala> asy-Syaikh (al-‘Arad}), yakni si pembaca menyuguhkan h}adisnya ke hadapan sang guru, baik ia sendiri yang membaca maupun orang lain yang membacanya sedang dia mendengarnya, sedang lafal-lafal yang dipergunakan dalam metode iniadalah qara’tu ‘alaihi, quri’a ‘ala> fula>n wa ana> asma’u, haddasana> atau akhbarana> qiratan ‘alaihi.

c.    Al-Ija>zah, yakni pemberian izin dari seseorang kepada orang lain untuk meriwayatkan h}adi>s dari padanya atau kitab-kitab periwayatannya yang metode ini diperselisihkan oleh para ulama tapi jumhur muh}addisi>n membolehkan periwayatan dengan metode ini, metode ija>zah ini ada tiga tipe antara lain :
1.       Ija>zah fi Mu’ayyanin li Mu’ayyanin, adalah izin meriwayatkan sesuatu yang tertentu kepada orang tertentu dengan lafal Ajaztu laka riwa>yah al-kita>b al-fula>ni ‘anni>.
2.       Ija>zah Fi> Gairi Mu’ayyanin li Mu’ayyanin, adalah izin untuk meriwayatkan sesuatu yang tidak tertentu kepada orang yang tertentu dengan lafal Ajaztu laka jami>’a masmu>’ati> aw marwiyya>ti>.
3.       Ija>zah Gairi Mu’ayyanin, adalah izin untuk meriwayatkan sesuatu yang tidak tertentu kepada orang yang tidak tertentu dengan lafal Ajaztu li al-muslimi>na jami>’a masmu>’ati>.
d.   Al-Muna>walah, yakni seorang guru memberikan sebuah naskah asli kepada muridnya atau salinan yang sudah dikoreksi untuk diriwayatkan. Metode al-Muna>walah ini ada dua tipe :
1.       Dengan dibarengi ija>zah, lafal yang digunakan antara lain Ha>za> sama>’i au riwa>yati> ‘an fula>nin fa arwihi au anbi’ni au anbi’na.
2.       Tanpa dibarengi ija>zah, lafal yang digunakan antara lain Ha>za> sama>’i au riwa>yati, na>wilni>, na>wilna>.
e.    Al-Muka>tabah, yakni seorang guru yang menulis sendiri atau menyuruh orang lain menulis beberapa h}adi>s kepada orang di tempat lain yang ada di hadapannya, metode inipun ada dua tipe yaitu :
1.       Dengan dibarengi ija>zah, lafal yang digunakan antara lain Ajaztu laka ma> katabtuhu ilaika, Ajaztu ma> katabtuhu ilaika.
2.       Tanpa dibarengi ija>zah, lafal yang digunakan antara lain H{addasani> fula>nun kita>batan, akhbarani> fula>nun kita>batan, kataba ilayya fula>nun.
f.      Al-Wija>dah, yakni memperoleh tulisan h}adi>s orang lain yang tidak diriwayatkannya baik dengan lafal as-Sama>’,al-Qira>’ah maupun selainnya, dari pemilik h}adi>s atau pemilik tulisan tersebut. Metode ini pun masih diperselisihkan di kalangan ulama. Lafal yang digunakan adalah Qara’tu bi khat}t}i fula>nin, Wajadtu bi khat}t}i fula>nin, Haddasana> fula>nun wija>datan.
g.    Al-Was}iyyah, yakni pesan seseorang yang dikatakan mati atau bepergian, dengan sebuah kitab supaya diriwayatkan. Ibnu Sirin membolehkan periwayatan dengan metode ini sedang jumhur ulama tidak membolehkannya kecuali dengan ija>zah dari pewasiat. Lafal yang digunakan adalah Aus}a> ilayya fula>nun bi kita>bin qa>la fi>hi haddasana>…..
h.    Al-I’la>m, yakni pemberitahuan guru kepada muridnya bahwa h}adi>s yang diriwayatkannya adalah riwayatnya sendiri yang diterima dari seorang guru, dengan tidak mengatakan (menyuruh) agar si murid meriwayatkannya. H{adi>s yang diriwayatkan berdasarkan al-I’la>mini tidak boleh, karena adanya kemungkinan bahwa sang guru telah mengetahui bahwasanya dalam h}adi>s tersebut ada cacatnya. Lafal yang digunakan adalah a’lamani> fula>nun qala haddasana> …..
Sedangkan cara meriwayatkan (menyampaikan) h}adi>s yang dalam ilmu hadisnya disebut Ada>’ al-H{adi>s  ini pun berbeda-beda karena cara yang dipakai untuk menerima h}adi>s dari guru yang memberikan pun berbeda-beda. Perbedaan lafal dalam menyampaikan h}adi>s ini mengakibatkan perbedaan nilai suatu h}adi>s yang diriwayatkan.[143]Lafal-lafal untuk menyampaikan h}adi>s itu dapat dikelompokkan kepada dua kelompok yaitu:
a.    Lafal untuk meriwayatkan hadis bagi para ra>wi’ yang mendengar langsung dari gurunya, lafal-lafal itu  tersusun sebagai berikut :
 سمعنا، سمعت  Kedua lafal  ini menjadikan nilai h}adi>s yang diriwayatkannya tinggi martabatnya,
kemudian lafal :  حدثني, حدثنا (دثنا، نا، ثنا، نى، ثنى)
kemudian lafal :  (أخانا، أبانا، أرنا، انا) أخبرنا، أخبرنى
kemudian lafal :(نباء ناء)  أنباءنا
kemudian lafal :ذكرلى (لنا) فلان، قال لى (لنا)
Terkadang pula digunakan lafal قثنا  berartiقال حدثنا atau  قثنى yang berarti قال حدثنى
b.    Lafal riwayat bagi ra>wi  yang mungkin mendengar sendiri atau tidak mendengar sendiri. Lafal yang digunakan adalah Anna, ‘an, h}ukiya, ruwiya.
c.    H{adi>s yang diriwayatkan dengan s}igat ini tidak dapat digunakan untuk menetapkan bahwa Nabi benar-benar menyabdakan, kecuali ada qarinah lain.[144]
Untuk h}adi>s Mu’an’an (yang meriwayatkan dengan lafal ‘an) dan h}adi>s yang Muannan (yang diriwayatkan dengan lafal anna) dapat dinilai bersambung sanadnya bila telah memenuhi syarat-syarat berikut :
a.    Pada sanad h}adi>s yang bersangkutan tidak terdapat tadli>s (penyembunyian cacat).
b.    Para periwayat yang namanya beriring dan di antarai oleh lambang ‘an ataupun annaitu telah terjadi pertemuan.
c.    Periwayatan yang menggunakan lambang ‘an ataupun anna adalah periwayatan yang terpercaya (siqah).[145]
Berdasakan teori-teori kesahihan h}adi>s di atas, penyusun akan mencoba menganalisis sanaddan matn h}adi>s mengenai permasalahan ini sehingga bisa diketahui valid tidaknya h}adi>s  itu dijadikan hujjah.
Dalil yang digunakan mazhab Ma>liki adalah h}adi>s yang diriwayatkan oleh Ima>mat-Tirmizi berbunyi:
حدثنا محمد بن عبد الأعلى الصنعاني حدثنا عمر بن علي عن الحجاج عن محمد بن المنكدر عن جابر أن النبي صلى الله عليه وسلم سئل عن العمرة أواجبة هي؟ قال لا وأن تعتمروا هو أفضل [146]

 


Setelah mendapatkan sanad h}adi>stersebut, maka perlu diteliti biografi para perawi untuk mengetahui apakah sanadnya muttas}ilatau tidak serta apakah para perawi di atas adil dan d}a>bit}. Berikut pemaparan biografi mereka:
1.      Ima>m at-Tirmizi
a.        Nama Lengkap: Muh}ammad bin ‘I><sa> bin Saurah bin Mu>sa> ad}-D{{ah}h}ak Abu I<<sa> at-Tirmizi>. Beliau wafat pada tahun 279 H.
b.       Guru dan muridnya di bidang periwayatan hadis: Guru beliau banyak sekali antara lain, Qutaibah, Abu> Mus}’ab, al-Bukhari> dan lain-lain. Murid b eliau juga banyak sekali antara lain, Ahmad bin ‘Abdullah bin Da>u>d al-Marwazi, Muhammad bin Mahbu>b Abu al-‘Abbas,  Ahmad bin Yu>suf an-Nasafi.
c.        Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1).       Ibn Hibban: Muh}ammad bin ‘I><sa siqah. Beliau merupakan orang yang mengumpulkan, menulis  dan menghafal hadis.
2).       Al-Mustagfiri: Muh}ammad bin ‘I><sa siqah.
3).       Al-Idrisi: Muh}ammad bin ‘I><sa merupakan salah  satu Imam hadis panutan. Aku pernah mendengar Muh}ammad bin ‘I><sa berkata, ‘Ketika aku telah menyusun kitab h}adisku, lalu kuperiksakan kepada ulama hijaz, Irak dan Khurasan, kemudian mereka semua menyatakan persetujuannya akan kitabku.[147] 
Dari pernyataan para kritikus ulama di atas, tidak diragukan lagi bahwa Muh}ammad bin ‘I><sa merupakan salah satu Ima>m h}adis yang diakui kapasitas keilmuan dan kepribadiannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sanad beliau dengan Muh{ammad bin ‘Abd al-A’la> as}-S{an’a>ni muttas}il.
2.      Muh{ammad bin ‘Abd al-A’la> as}-S{an’a>ni
a.        Nama Lengkap: Muh{ammad bin ‘Abd al-A’la> as}-S{an’a>nial-Qaisi> Abu>‘Abdilla>h. Beliau berdiam di kota Basrah dan wafat di kota yang sama pada tahun 254 H.
b.       Guru dan muridnya di bidang periwayatan hadis: Guru Muh{ammad bin ‘Abd al-A’la> as}-S{an’a>ni cukup banyak, antara lain; Marwa>n bin Mu’a>wiyah, ‘Umar bin Ali> al-Muqaddami>, Mu’tamir bin Sulaima>n dan lain-lain. Murid beliau juga banyak antara lain; Muslim dan Abu> Da>u>d, at-Tirmizi, an-Nasa>’i>, Ibnu Ma>jah dan Hila>l bin al-‘Ala>’, Abu> Zur’ah dan lain-lain.
c.        Pernyataan para ulama kritikus hadis tentang dirinya:
1).       Abu> Zur’ah: Muh{ammad bin ‘Abd al-A’la> as}-S{an’a>ni siqah.
2).       Abu> H{a>tim: Muh{ammad bin ‘Abd al-A’la> as}-S{an’a>ni siqah.
3).       Ibn H{ibba>n: Muh{ammad bin ‘Abd al-A’la> as}-S{an’a>ni siqah.
4).       Al-Bukha>ri>: Muh{ammad bin ‘Abd al-A’la> as}-S{an’a>ni siqah.
5).       An-Nasa>’i>: Muh{ammad bin ‘Abd al-A’la> as}-S{an’a>ni merupakan orang yang terbaik. [148]
Tampak dari penilaian para kritikus h}adi>s, Muh{ammad bin ‘Abd al-A’la> as}-S{an’a>ni adalah orang yang siqah. Dengan demikian, sanad beliau dengan ‘Umar bin ‘Ali muttas}il.
3.      ‘Umar bin ‘Ali>
a.        Nama Lengkap: ‘Umar bin ‘Ali> bin ‘At}a>’ bin Miqdam (al-Muqaddami>).
b.       Guru dan muridnya di bidang periwayatan hadis: Guru  ‘Umar bin ‘Ali> bin ‘At}a>’ bin Miqdam (al-Muqaddami>) banyak sekali, antara lain Isma>’il bin Abi> Kha>lid, Yah}ya> bin Sai>d al-Ans}a>ri>, Hisya>m bin Urwah dan lain-lain. Murid beliau juga banyak, antara lain Abu> Z{afar ‘Abd as-Sala>m bin Mut}ahhar, Qutaibah bin Sai>d, Muh}ammad bin Hisya>m bin Abi Khairah as-Sudu>si>, dan lain-lain.
c.        Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1).       ‘Abdullah bin Ahmad: ‘Umar bin ‘Ali merupakan orang yang baik, namun mudallis.
2).       Yahya bin Main; ‘Umar bin ‘Ali adalah mudallis, namun baik perangainya.
3).       Ibn Sa’d: ‘Umar bin ‘Ali siqah, juga mudallis berat.
4).       Hisyam bin ‘Urwah: ‘Umar bin ‘Ali adalah orang baik, tetapi mudallis. Aku tidak menerima riwayatnya kecuali ia berkata haddasana>.
5).       Al-A’masy: ‘Umar bin ‘Ali adalah orang baik, tetapi mudallis. Aku tidak menerima riwayatnya kecuali ia berkata haddasana>.
6).       Abu Hatim: Ia orang jujur. Kalau tidak karena tadlis-nya, tentu kami akan menerimanya. Namun kami khawatir ia mengambil h}adi>s dari orang yang tidak siqah.
7).       Ibn ‘Adiyy: Saya harap ia tidak mengapa.
8).       Ibn Hibban: ‘Umar bin ‘Ali adalah orang siqah.
9).       As-Sa>ji>: ‘Umar bin ‘Ali  orang yang sangat jujur.
10).   Al-‘ijli: ‘Umar bin ‘Ali orang yang siqah.[149]
Tampak dari penilaian para kritikus h}adi>s, ‘Umar bin ‘Ali merupakan orang yang siqah, dapat dipercaya, meskipun ia menggunakan lambang ‘an dalam periwayatannya. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa ‘Umar bin ‘Ali muttas}il sanadnya dengan H{ajja>j.
4.      Hajja>j bin Art}a>h
a.       Nama Lengkap: Hajja>j bin Art}}a>h bin S||aur bin Hubairah bin Syara>hi>l an-Nakha’i> Abu> Art}a>h al-Kufi>. Beliau berdiam dikufah dan wafat dikota yang sama  pada tahun 145 H.
b.       Guru dan muridnya di bidang periwayatan hadis: Guru beliau  banyak sekali, antara lain asy-Sya’bi>, At}a>’ bin Abi Raba>h}, Amr bin Syu’aib dan lain-lain. Murid Beliau juga banyak, antara lain Mans}u>r bin al-Mu’tamir, Muh}ammad bin Isha>q, Qais bin Sa’ad al-Makki> dan lain-lain.
c.        Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1)         Al-‘Ijli>: Hajja>j bin Art}}a>h faqih, namun dia lemah. Ia pernah berkata, ‘Kecintaan akan harta dan kedudukan telah membinasakanku.’
2)         Yahya bin Ma’i>n: Hajja>j bin Art}}a>h sangat jujur, dan tidak kuat serta mudallis.
3)         Ibn al-Madini: Saya tinggalkan (hadis-hadis) Hajja>j bin Art}}a>h dengan sengaja dan tidak saya tulis hadisnya sama sekali.
4)         Abu H{a>tim: Hajja>j bin Art}}a>h sangat jujur namun mudallis. Apabila ia mengatakan haddasana, maka ia benar, tidak diragukan kejujuran dan hafalannya, tetapi kalau pendengaran h}adisnya diragukan, maka h}adisnya tidak dijadikan hujjah.
5)         Ibn al-Mubarak: Hajja>j bin Art}}a>h mudallis, dan matru>k (hadisnya ditinggalkan).
6)         An-Nasa>’i: Hajja>j bin Art}}a>h tidak kuat.
7)         Ibn ‘Adiyy: Para ulama mencela periwayatan Hajja>j bin Art}}a>h karena ia men-tadlis dari az-Zuhri dan perawi lainnya.
8)         Ya’qu>b bin Syaibah: Hajja>j bin Art}}a>h seorang yang lemah hadisnya, dan melakukan banyak id}tira>b (kesalahan).
9)         As-Sa>ji>: Hajja>j bin Art}}a>h mudallis, sangat jujur, buruk hafalannya, dan hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah dalam masalah furu’ dan hukum.[150]
Dari pernyataan para kritikus di atas, Hajja>j bin Art}}a>h merupakan seorang mudallis yang lemah, buruk hafalannya, namun juga seorang yang faqih. Semua kritikus hadis sepakat ia adalah orang yang hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah, kecuali ia berkata bahwa ia menerima hadis dengan kata haddasana>. Berhubung, Hajja>j bin Art}}a>h tidak mengatakan menerima hadis ini dengan lambang haddasana, namun dengan lambang ‘an, dapat dikatakan bahwa Hajja>j bin Art}}a>h tidak muttas}il sanadnya dengan Muh}}ammad bin al-Munkadir. Atau, bisa pula Hajja>j bin Art}}a>h sesungguhnya menerima hadis ini dari perawi lain, lalu menisbatkannya secara langsung kepada Muh}}ammad bin al-Munkadir. Atau Hajja>j bin Art}}a>h memang benar menerima hadis ini dari Muh}}ammad bin al-Munkadir, tetapi lupa materi hadisnya secara keseluruhan, tentang konteks hadisnya, atau ia menganggap apa yang sebenarnya bukan hadis sebagai hadis yang berasal dari Nabi.
5.      Muh}}ammad bin al-Munkadir
a.        Nama Lengkap: Muh}ammad bin al-Munkadir bin Abdilla>>h bin al-Hudair bin ‘Abd al-‘Uzza> bin A<mir bin al-H{a>ris bin H{a>risah bin Sa’ad bin Taim bin Murrah at-Taimi> Abu> ‘Abdilla>h. Beliau berdiam di Madinah dan wafat di kota yang sama pada tahun 131 H.
b.       Guru dan muridnya di bidang periwayatan hadis: Guru Muhammad bin al-Munkadir bin Abdilla>h bin al-Hudair banyak sekali, antara lain Abu> Hurairah, ‘A<isyah, Abi> Ayyu>b, dan lain-lain. Murid beliau juga banyak antara lain Zaid bin Aslam, ‘Amr bin Di>na>r, az-Zuhri>, dan lain-lain.
c.        Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1)         Ishaq bin Rahawaih: Muh}ammad bin al-Munkadir merupakan orang yang jujur, dan tidak ada orang yang lebih layak diterima hadisnya  selain dia.
2)         Al-Humaidi: Muh}ammad bin al-Munkadir siqah.
3)         Yahya bin Ma’in: Muh}ammad bin al-Munkadir siqah.
4)         Abu Hatim: Muh}ammad bin al-Munkadir siqah.
5)         Ibn Hibban: Muh}ammad bin al-Munkadir siqah dan merupakan salah satu tokoh qari’.[151]
Dari penilaian para kritikus hadis di atas, tampak Muh}ammad bin al-Munkadir merupakan orang yang siqah, sehingga meskipun ia menggunakan lambang ‘an dalam periwayatannya ia dapat dipercaya. Artinya, Muh}ammad bin al-Munkadir muttasil sanadnya dengan Jabir RA.
6.      Ja>bir bin Abdulla>h.
a.        Nama Lengkap: Ja>bir bin Abdulla>h bin ‘Amr bin H{ara>m bin S|a’labah al-Khazraji> as-Silmi> Abu ‘Abdilla>h. Beliau berdiam dikota Madinah dan wafat dikota yang sama pada tahun 78H.
b.       Guru dan muridnya di bidang periwayatan hadis: Guru Ja>bir bin Abdulla>hbanyak sekali, antara lain Nabi Muhammad SAW, Abu> Bakar, ‘Umar, ‘Ali>, Abu> ‘Ubaidah, dan lain-lain. Dan di antara murid beliau Sai>d bin Musayyab, asy-Sya’bi>, At}a’ bin Abi> Raba>h}, dan lain-lain.
Beliau merupakan s}ah}a>bat, suatu tingkatan yang paling tinggi yang tidak perlu diteliti kembali sifat ‘adalahnya. Mengenai Ja>bir bin Abdulla>h, sejarah mencatat bahwa beliau tidak ketinggalan mengikuti satu peperangan pun setelah ayahnya, Abdullah wafat.[152]
Dari pemaparan biografi para periwayat di atas, dapat disimpulkan bahwa semua rawi yang meriwayatkan hadis di atas siqah dan sanadnya muttas}il  kecuali Hajja>j bin Art}}a>h. Hajja>j bin Art}}a>h yang di kalangan ahli h}adisdikenal sebagai seorang yang mudallis. Semua kritikus h}adis sepakat ia adalah orang yang h}adisnya tidak dapat dijadikan hujjah, kecuali ia berkata bahwa ia menerima h}adis dengan kata haddasana>. Berhubung, Hajja>j bin Art}}a>h tidak mengatakan menerima h}adis  ini dengan lambang haddasana, namun dengan lambang ‘an, dapat dikatakan bahwa Hajja>j bin Art}}a>h tidak muttas}il sanadnya dengan Muh}}ammad bin al-Munkadir. Atau, bisa pula Hajja>j bin Art}}a>h sesungguhnya menerima h}adis ini dari perawi lain, lalu menisbatkannya secara langsung kepada Muh}}ammad bin al-Munkadir. Atau Hajja>j bin Art}}a>h memang benar menerima h}adis ini dari Muh}}ammad bin al-Munkadir, tetapi lupa materi h}adisnya secara keseluruhan, tentang konteks h}adisnya, atau ia menganggap apa yang sebenarnya bukan h}adis sebagai h}adis  yang berasal dari Nabi. Dengan demikian, h}adis ini merupakan h}adis d}a’if.
Untuk menilai sejauh mana kesahihan matan h}adis, maka isi h}adis itu harus diuji dengan al-Qur’an, as-Sunah yang lebih kuat, fakta sejarah dan akal sehat. Namun, perlu diingat tidak semua h}adis yang bertentangan dengan salah satu keempat tolok ukur pasti ditolak. Untuk menilai kesahihan matan h}adis, diperlukan ketelitian, kecermatan yang mumpuni, di samping pengalaman yang cukup.
Pertama, al-Qur’an. Dari titik ini, timbul pertanyaan isi h}adis itu sesuai atau tidak dengan isi al-Qur’an? Sejauh pengetahuan penyusun, ayat-ayat al-Qur’an yang menyebutkan masalah ‘umrah, tak ada yang menjelaskan hukumnya secara definitif. Dalam hal ini, ada ayat yang berbunyi:
وأتموا الحج والعمرة لله [153]
Dalam ayat ini, disebutkan lafal al-‘Umrah yang dikaitkan dengan lafal al-Hajj yang diperintahkan untuk disempurnakan. Dalam memahami ayat ini, para ulama berbeda pendapat. Satu hal yang mereka sepakati yakni hukum haji adalah wajib. Sedangkan mengenai al-‘Umrah yang menjadi ma’t}uf dari ma’t}uf ‘alaih lafal al-Hajj, para ulama berbeda pendapat. Ulama yang mengatakan bahwa hukum ma’t}uf  dan ma’t}uf ‘alaih adalah sama, akan mengatakan bahwa umrah juga wajib hukumnya. Sedangkan, ulama yang mengatakan bahwa ma’t}uf tidak mesti sama dengan hukum ma’t}uf ‘alaih akan mengatakan bahwa hukum umrah tidak mesti sama dengan hukum haji. Pada langkah ini, belum bisa diputuskan apa hukum umrah dalam al-Qur’an.
Kedua, as-Sunnah yang lebih kuat. Hadis yang dijadikan dalil oleh mazhab Maliki menyatakan dengan gamblang bahwa hukum umrah tidak wajib. Kemudian, hal ini perlu diteliti apakah ada hadis lain yang semakna dengannya atau malah bertentangan? Sejauh penelusuran penyusun memang ada hadis yang memperkuat matan hadis ini, di samping ada pula  h}adi>s lain yang menentang matan h}adi>s ini.
Di antara h}adi>s yang memperkuatnya yaitu h}adi>s yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah yang berbunyi:
حدثنا هشام بن عمار حدثنا الحسن بن يحيى الخشني حدثنا عمر بن قيس أخبرني طلحة بن يحيى عن عمه إسحق بن طلحة عن طلحة بن عبيد الله أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول الحج جهاد والعمرة تطوع [154]
Matan h}adi>s di atas menyamakan haji dengan jihad, sementara umrah dikatakan tat}awwu’ yaitu tidak wajib. Untuk mengetahui apakah rangkaian periwayatan matan di atas bersambung atau tidak, penyusun menelusurinya lewat CD Kutub at-Tis’ah. Ternyata didapat keterangan bahwa semua perawinya siqah kecuali Umar bin Qais. Ia adalah seorang yang matruk al-h}adi>s. Ini artinya h}adi>s-h}adi>snya tidak dapat dijadikan hujjah. Dan karenanya, gugurlah hadis “al-Hajj Jihad wa al-Umrah tat}awwu’”, yaitu tidak dapat dijadikan syahid (penguat) h}adi>s yang dijadikan dalil oleh mazhab Maliki.
Langkah ketiga yaitu membenturkannya dengan fakta sejarah, atau bisa pula sabab al-wurud atau konteks h}adi>s ini disampaikan. Sejauh pengetahuan penyusun, dalam kitab al-Bayan wa at-Ta’rif , h}adi>s yang dijadikan dalil oleh mazhab Maliki tidak tercantum di dalamnya. Ini artinya h}adi>s itu tidak atau belum diketahui sabab al-wurudnya atau memang tidak ada. Dan kapan h}adi>s ini mulai beredar juga sulit dilacak, apakah muncul setelah firman Allah atau sebelumnya? Hal ini sulit dilacak.
Langkah terakhir menilik sejauh mana keselarasannya dengan akal sehat. H}adi>s ini yang berkaitan dengan amal ibadah tentu tidak perlu dan memang tidak layak ditimbang dengan akal. Karena ibadah yang berkaitan dengan ritual, secara konsensus umat, diterima secara ta’abbudi  sehingga amat tidak layak ditimbang dengan akal.
Akan tetapi ada satu hal yang mengganjal penyusun kenapa h}adi>s ini menjelaskan hukum umrah secara gamblang seperti layaknya kitab fiqh atau orang alim ditanya tentang suatu persoalan agama? Padahal istilah wajib dan sebagainya belum muncul pada masa Nabi SAW. Pada masa itu, belum dikenal adanya pembagian lima macam hukum yang kini telah dibakukan.
Dari kecurigaan ini, penyusun menyangsikan h}adi>s ini berasal langsung dari Nabi SAW. Menurut penyusun, matan h}adi>s ini berasal dari selain Nabi, bisa tingkatan sahabat atau di bawahnya. Menurut dugaan penyusun, matan h}adi>s ini adalah perkataaan s}ahabat Jabir, yang kemudian oleh salah seorang perawi di bawahnya dinisbatkan kepada Nabi. Ini berdasarkan keterangan as-San’a>ni> yang mengatakan h}adi>s itu mauqufpada Jabir.
Dengan demikian, menurut hemat penyusun matan h}adi>s ini pun d}a’if, dan berarti h}adi>s ini berkualitas d}a’if, d}aif pada sanad dan juga matannya.
Adapun dalil yang digunakan maz|hab Sya>fi’i adalah h}adi>s mengenai pertanyaan ‘A<isyahkepada Nabi tentang kewajiban jihad terhadap wanita. Lalu dijawab Nabi, bahwa para wanita diwajibkan melakukan jihad yang tidak perlu menumpahkan darah, yaitu haji dan umrah. H{adi>stersebut diriwayatkan oleh Ima>mAh}mad bin H{anbal yang berbunyi:
حدثنا محمد بن فضيل قال ثنا حبيب بن أبي عمرة عن عائشة ابنة طلحة عن عائشة قالت قلت يا رسول الله هل على النساء من جهاد ؟ قال نعم عليهن جهاد لا قتال فيه الحج والعمرة [155]
 


عن

 

                                                                 

 


Setelah mendapatkan sanad h}adi>stersebut, maka perlu diteliti biografi para perawi untuk mengetahui apakah sanadnya muttas}ilatau tidak serta apakah para perawi di atas adil dan d}a>bit}. Berikut pemaparan biografi mereka:
1.      Ah}mad bin H{anbal
a.        Nama lengkapnya: Ah}mad bin Muh}ammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad asy-Syaiba>ni> Abu> Abdilla>h al-Marwa>zi> al-Bagda>di> (164-241 H).
b.       Guru dan muridnya di bidang periwayatan hadis: Guru Ahmad bin Hanbal cukup banyak, antara lain Sufya>n bin ‘Uyainah, Yahya> bin Sa’I>d al-Qat}t}a>n, asy-Sya>fi’i> dan lain-lain. Murid beliau juga banyak, antara lain al-Bukha>ri>, Muslim, Abu> Dau>d, asy-Sya>fi’i>, Yahya> bin Ma’i>>>n, dua orang putranya Abdulla>h dan Sa>lih dan lain-lain.
c.        Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1)         Ibnu Ma’i>n: Saya tidak melihat orang yang lebih baik (pengetahuannya di bidang h}adi>s) melebihi Ahmad.
2)         Al-Qat}t}}a>n: Tidak ada orang datang kepada saya yang kebaikannya melebihi Ahmad. Beliau adalah hiasan umat.
3)         Asy-Sya>fi’i>: Saya keluar dari Bagdad dan di belakang saya tidak ada orang yang lebih paham tentang Islam, lebih zuhud, lebih wara’, dan lebih berilmu daripada Ahmad.
4)         An-Nasa>’i: Ahmad itu adalah seorang ulama yang siqah dan ma’mu>n.
5)         Ibn Sa’ad: Ahmad itu siqah, sabt dan s}adu>q. [156]           
Tidak ada seorang kritikus pun yang mencela Ahmad bin Hanbal. Pujian yang diberikan orang kepadanya adalah pujian yang berperingkat tinggi dan tertinggi. Dengan demikian, pernyataannya yang mengatakan bahwa dia telah menerima riwayat hadis di atas dari Muhammad bin Fudail dengan metode as-sima>’ dapat dipercaya. Hal ini berarti bahwa sanad anatara beliau dan Muh}ammad bin Fud{ail bersambung sanadnya.
2.      Muh}ammad bin Fud{ail
a.       Nama Lengkap: Muh}ammad bin Fud{ail bin Gazwa>n bin Jari>r ad{-D{abbi>. Beliau berdiam di Kufah dan wafat di kota yang sama pada tahun 295 H.
b.       Guru dan muridnya di bidang periwayatan hadis: Beberapa Guru Muh}ammad bin Fud{ail bin Gazwa>n bin Jari>r ad{-D{abbi, antara lain Isma’i>l bin Abi> Kha>lid, Abi> Ish}a>q asy-Syaiba>ni>, Yah}ya> bin Sa’i>d  al-Ans}a>ri> dan lain-lain. Sedangkan di antara murid beliau, Ah}mad bin Hanbal, ‘Amr bin Ali> al- Falla>si>, Abdulla>h bin ‘Umar dan lain-lain.
c.        Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1).       Usma>n ad-Da>rimi>: Muh}ammad bin Fud{ail siqah.
2).       Yah{ya> bin Ma’i>n: Muh}ammad bin Fud{ail siqah.
3).       Abu Zur’ah: Muh}ammad bin Fud{ail sangat jujur.
4).       Abu> H{a>tim: Muh}ammad bin Fud{ail nerupakan syaikh (kapasitas keilmuannya diakui).
5).       Abu Daud: Muh}ammad bin Fud{ail merupakan orang syi’ah.
6).       Ibn Hibban: Muh}ammad bin Fud{ail siqah, namun syi’ahnya berlebih-lebihan.
7).       Ibn Sa’d: Muh}ammad bin Fud{ail siqah dan sangat jujur serta banyak meriwayatkan h}adis.
8).       Al-‘Ijli: Muh}ammad bin Fud{ail siqah namun syi’ah.[157]
Dari pernyataan kritikus ulama di atas, tampak Muh}ammad bin Fud{ail merupakan orang yang jujur, siqah, namun berhaluan syi’ah. Meskipun, ia berhaluan syi’ah, h}adisnya dapat diterima sepanjang h}adis yang diriwayatkannya tidak menonjolkan ajaran-ajaran syi’ah. Dan karena, h}adis ini tidak bersinggungan dengan aliran kelompoknya, maka dapat dikatakan bahwa Muh}ammad bin Fud{ail siqah, dapat diterima dan muttas}il sanadnya dengan H{abi>b bin Abi> ‘Amrah.
3.      H{abi>b bin Abi> ‘Amrah
a.        Nama Lengkap: H{abi>b bin Abi> ‘Amrah al-Qas}s}a>b Abu> ‘Abdillah al-H}amani>. Beliau berdiam di Kufah dan wafat di tempat yang sama pada tahun 142 H.
b.       Guru dan murid dalam periwayatan : Guru H{abi>b bin Abi> ‘Amrah antara lain Muja>hid, Sai>d bin Zubair, ‘A<isyah binti T{alh}ah dan lain-lain. Murid beliau diantaranya as-S|auri, Muh}ammad bin Fud}ail, Jari>r, Syu’bah, Kha>lid  al-Wa>sit}i> dan lain-lain.
c.        Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1)         Yahya bin Ma’in: H{abi>b bin Abi> ‘Amrah siqah.
2)         An-Nasa’i>:H{abi>b bin Abi> ‘Amrah siqah.
3)         Abu H{a>tim: H{abi>b bin Abi> ‘Amrah merupakan orang yang s}a>lih.
4)         Ahmad bin H{anbal: H{abi>b bin Abi> ‘Amrah orang yang mumpuni keilmuannya dan siqah.
5)         Ibn H{ibban: H{abi>b bin Abi> ‘Amrah siqah.[158]
Berdasarkan pernyataan para kritikus di atas, dapat disimpulkan bahwa H{abi>b bin Abi> ‘Amrah siqah, sehingga pernyataannya bahwa ia menerima h}adis dari ‘A<isyah binti T{alh{ah, meskipun menggunakan lambang ‘an dapat diterima.
4.      ‘A<isyah binti T{alh{ah
a.       Nama Lengkap: ‘A<isyah binti T{alh{ah bin ‘Ubaidilla>h.
b.       Guru dan muridnya di bidang periwayatan hadis:  Guru beliau antara lain, ‘A<isyah binti Abu> Bakr. Muridnya antara lain,  H{abi>b bin Abi> ‘Amrah, Sa>lim bin Abi> Umayyah, ‘Abdulla>h bin al-H{a>ris dan lain-lain.
c.        Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1)         Yah}ya> bin Ma’i>n: ‘A<isyah binti T{alh{ah siqah, hujjah.
2)         Al-Ijli>: ‘A<isyah binti T{alh{ah siqah.
3)         Ibn H{ibba>n: ‘A<isyah binti T{alh{ah siqah.[159]
Berdasarkan pernyataan para kritikus di atas, dapat disimpulkan bahwa ‘A<isyah binti T{alh{ah siqah, sehingga pernyataannya bahwa ia menerima h}adis dari ‘A<isyah binti Abu> Bakr, meskipun menggunakan lambang ‘an dapat diterima.
5.      ‘A<isyah binti Abu> Bakr
a.        Nama Lengkap: ‘A<isyah binti Abu> Bakr as{-S{iddi>q Ummu ‘Abdillah at-Taymiyyah. Beliau berdiam dan wafat di kota Madinah pada tahun 58 H.
b.       Guru dan muridnya di bidang periwayatan hadis:  Guru beliau antara  lain, Rasulullah SAW, Abu Bakar as-Siddiq, Hamzah, Fa>t}imah binti Rasul, ‘Umar bin Khat}t}a>b dan lain-lain. Murid-muridnya antara lain, Ibrahim bin Ya>zid bin Syuraih, Abu ‘Abdillah, Abu ‘Iyad}, ‘A<isyah binti T{alh{ah bin ‘Ubaidillah.[160]
c.        Pernyataan para kritikus hadis tentang dirinya:
1)         Az-Zuhri>: Jika ilmu ‘A<isyahdikumpulkan bersama istri-istri Nabi yang lain dan ilmu perempuan yang lain, maka ilmu ‘A<isyahlah yang lebih utama.
2)         ‘Urwah: ‘A<isyahadalah orang yang paling berilmu.
3)         ‘At}a bin Abi> Raba>h: ‘A<isyahadalah orang yang paling faqih, paling alim, dan paling bagus pendapatnya dibanding orang lain.
4)         Abu> Burdah meriwayatkan dari ayahnya: Jika kami mempunyai masalah, maka kami pergi ke ‘A<isyah, dan pasti kami akan mendapatkan ilmu.[161]
Beliau merupakan s}ah}a>bat, suatu tingkatan yang paling tinggi yang tidak perlu diteliti kembali sifat ‘adalahnya.
Dari penelitian tentang kepribadian para perawi di atas, nampak bahwa semua rawi yang meriwayatkan h}adisdi atas siqah dan sanadnya muttas}il. Dengan demikian, sanad hadis ini berkualitas s}ah}ih}.
Untuk meneliti kesahihan matan h}adis yang dijadikan dalil oleh mazhab Syafi’i, perlu diadakan kajian ulang apakah isi h}adis itu sesuai dengan al-Qur’an, as-Sunnah yang lebih kuat, fakta sejarah dan akal sehat. Mengenai akal sehat, di muka telah diterangkan bahwa ibadah umrah bersifat ta’abbudi  yang tidak bisa dicerna akal.
Meskipun h}adis ini secara sanad sahih, namun matannya perlu diteliti sebab yang dinamakan h}adis adalah kesatuan antara sanad dan matan.
Pertama, al-Qur’an. Dalam ayat al-Qur’an yang menyebutkan lafal al-Umrah tidak disebutkan secara pasti apa hukumnya. Dan para ulama dalam hal ini berbeda pendapat, ada yang mengatakan wajib dan ada yang mengatakan tidak wajib. Karenanya, langkah pertama belum bisa menentukan apakah hukum umrah dalam al-Qur’an.
Langkah kedua, yakni mencari h}adis yang sesuai dengan matan h}adis di atas, dan yang juga bertentangan. Dalam pada itu, ternyata ada h}adis yang semakna dengan matan h}adis di atas, dan ada pula yang bertenangan dengannya.
Di antaranya h}adis yang mendukung matan h}adis ini adalah asar riwayat Abu Dawud yang berbunyi:
حدثنا محمد بن قدامة بن أعين وعثمان بن أبي شيبة المعنى قالا حدثنا جرير بن عبد الحميد عن منصور عن أبي وائل قال قال الصبي بن معبد كنت رجلا أعرابيا نصرانيا فأسلمت حتى أتيت عمر بن الخطاب فقلت لهيا أمير المؤمنين إني كنت رجلا أعرابيا نصرانيا وإني أسلمت وأنا حريص على الجهاد وإني وجدت الحج والعمرة مكتوبين علي فأتيت رجلا من قومي فقال لي اجمعهما واذبح ما استيسر من الهدي وإني أهللت بهما معا فقال لي عمر رضي الله عنه هديت لسنة نبيك صلى الله عليه وسلم[162]
Dari penelusuran para perawi h}adis ini, didapat keterangan semua perawinya siqah, yang berarti secara sanad dapat dipertanggungjawabkan. Namun, ada pula hadis lain yang bertentangan dengan h}adis yang dijadikan dalil mazhab Syafi’i, yaitu h}adis “al-Hajj jihad wa al-Umrah tatawwu’.” Hadis ini diriwayatkan Imam Ibnu Majah, dan setelah diteliti ada perawi yang tidak siqah. Karenanya, h}adis ini tidak mengganggu h}adis yang mendukung dalil mazhab Syafi’i.
Langkah ketiga yaitu melihat lebih jauh fakta sejarah yang melingkupi h}adis itu. Setelah meneliti, didapat keterangan bahwa h}adis itu muncul adanya kecemburuan kaum wanita terhdap kaum pria. Kaum wanita merasa berkecil hati karena mereka tidak diwajibkan berjihad, padahal pahala yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya amat besar. Maka dari itu, Aisyah bertanya kepada Rasul apakah kaum wanita juga wajib berjihad agar memperoleh balasan pahal yang besar? Nabi menjawab bahwa kaum wanita juga wajib berjihad yang tidak perlu menumpahkan darah yaitu haji dan umrah.
Menarik untuk dicermati bahwa kedua ibadah ini dikatakan Nabi sebagai jihad kaum wanita. Padahal kaum pria juga diwajibkan melaksanakan ibadah haji. Dalam pada itu, timbul pertanyaan apakah umrah diwajibkan kepada kaum wanita saja? Ternyata tidak, bahkan Nabi dan para sahabat juga melakukan umrah. Ini artinya, sabda Nabi berkaitan dengan jihad bagi wanita adalah ibadah haji dan umrah yang bila dilaksanakan dengan baik dan benar pahalanya akan setara dengan jihad yang dilakukan kaum pria. Hal ini merupakan keistimewaan yang diberikan kepada kaum wanita, mereka tidak perlu berjihad; berperang di medan laga, namun hanya dengan melaksanakan ibadah haji dan umrah, mereka bisa mendapat pahala jihad.
Semua ulama sepakat bahwa haji adalah wajib, sedangkan mengenai umrah mereka berbeda pendapat. Dalam hadis ini, umrah disetarakan dengan jihad, yang artinya umrah itu hukumnya wajib, dan dalam hal ini, Nabi tidak mengkhususkan kewajiban ini pada kaum wanita saja, yang artinya juga wajib bagi kaum pria. Karena memang tidak ada nass syar’i yang menjelaskan hal itu. Ini bisa kita lihat pada praktek Nabi yang juga melaksanakan umrah. Dengan demikian, kaum pria di samping wajib berjihad juga diwajibkan melaksanakan ibadah haji dan umrah jika mampu. Makna seperti inilah yang bisa disimpulkan karena memang tidak ada nass yang mengatakan bahwa umrah itu hanya wajib bagi kaum wanita.
Dalam pada itu, bila kita meninjau ulang firman Allah:
وأتموا الحج والعمرة لله [163]
Fi’il amr dalam ayat di atas masuk kategori amr. Dan amr dalam pandangan ulama us}u>l mempunyai arti yang berbeda-beda. Menurut jumhur, amr pada dasarnya menunjukkan arti wajib. Namun ada pula ulama, seperti al-Gazza>li, al-A<midi> yang mengatakan bahwa amritu harus ditangguhkan terlebih dahulu (tawaqquf) sampai didapatkan qarinah(indikasi) yang mengatakan bahwa amr itu menunjukkan arti wajib, sunnah atau pun mubah. Bila pendapat kedua yang dipegang, berarti ada qarinahberupa h}adis –yaitu h}adis ini dan yang semakna dengannya– yang menjelaskan makna ayat di atas. Yaitu perintah menyempurnakan ibadah haji dan umrah ini hukumnya wajib.
Dengan demikian, matan h}adisini yang dijadikan dalil oleh mazhab Syafi’i juga berkualitas s}ah}ih}.
B.    Tarjih
Setelah memaparkan dan mendiskusikan takhrij h}adis yang dijadikan dalil oleh mazhab Syafi’i dan mazhab Maliki, penyusun men-tarjih pendapat mazhab Sya>fi’i dengan alasan:
1)       Perawi h}adi>s mazhab Sya>fi’i yaitu ‘A<isyahlebih masyhur tentang keadilan dan kekuatan pribadinya dibandingkan perawi h}adi>s mazhab Ma>>likiyaitu Ja>bir. Periwayatan oleh perawi seperti ini dianggap lebih kuat karena ketetapan hati kepadanya lebih tinggi, dan adanya z}ann dengan ucapannya lebih kuat.
2)       Perawi h}adi>s mazhab Sya>fi’i yaitu ‘A<isyahlebih mengetahui dan lebih kuat ingatannya, lebih wara’ dan lebih taqwa ketimbang Ja>bir, perawi h}adis mazhab Ma>liki>. Periwayatan oleh perawi dengan sifat tersebut adalah lebih kuat karena ia lebih kuat menimbulkan zann.
3)       Perawi h}adi>s mazhab Sya>fi’i yaitu ‘A<isyahterlibat langsung dengan apa yang diriwayatkannya. Dalil dalam bentuk ini lebih kuat daripada dalil yang perawinya –dalam hal ini Ja>bir– yang tidak seperti itu. Karena perawi yang terlibat langsung lebih tahu tentang apa yang diriwayatkannya.
4)       Perawi h}adi>s mazhab Sya>fi’i yaitu A<’isyahadalah seorang faqih sedangkan Ja>bir, meskipun faqih, namun tidak sefaqih A<’isyahyang merupakan istri Nabi SAW. Bahkan diriwayatkan oleh Abu> Burdah dari ayahnya bahwa mereka jika mempunyai masalah, maka mereka akan pergi ke A<’isyah, dan mereka pasti akan mendapatkan ilmu tentang pemecahannya.
5)       H{adi>s mazhab Sya>fi’i lebih tinggi nilai isna>dnya(rangkaian perawi) dibanding h}adi>s mazhab Ma>liki, dalam arti lebih pendek jarak antara Nabi dengan yang Ima>m yang membukukan h}adisitu. Karena dengan semakin pendek jarak isnadnya, maka semakin jauh kemungkinan adanya kesalahan dan kebohongan.
6)       H{adi>s mazhab Ma>liki diperselisihkan tentang mauqu>fnya  dibanding h}adi>s mazhab Sya>fi’i yang disepakati marfu’nya kepada Nabi. Perawi h}adi>s mazhab Sya>>>fi’i, yaitu A<’isyahadalah orang yang bertanya langsung kepada Nabi. Menurut keterangan as}-S{an’a>ni>,  h}adisyang dijadikan dalil mazhab Ma>liki> mauqu>f pada Ja>bir. Sesungguhnya orang yang ditanya oleh orang Arab pedesaan itu adalalah Ja>birsendiri, bukan Nabi.[164]
7)       H{adi>s mazhab Sya>fi’i menimbulkan hukum wajib, sedang h}adi>s mazhab Ma>liki menimbulkan hukum nadb. H{adi>sdalam bentuk wajib didahulukan daripada yang nadb karena pada yang wajib menuntut kehati-hatian.
8)       Salah satu perawi h}adismazhab Ma>>>liki, yaitu Hajja>jbin Art}a>>>hdikenal mudallis, buruk hafalannya sehingga kualitas h}a>di>s yang diriwayatkannya patut dipertanyakan. Dari keterangan juga disebutkan, bahwa ia meriwayatkan h}adi>s dari orang yang didengarnya langsung dan juga dari orang yang tidak didengarnya. Sehingga apa yang diriwayatkannya menjadi tidak akurat.
9)       H{adi>>syang dijadikan dalil oleh mazhab Sya>fi’i berkualitas s}ah}i>h}. Sedangkan h}adi>s yang dijadikan dalil oleh mazhab Ma>liki merupakan h}adi>s d}a’if yaitu h}adi>s mudallas.
10)   H{adi>>syang dijadikan dalil oleh mazhab Sya>fi’i diriwayatkan dengan cara langsung mendengar dari Nabi, sedangkan h}adi>s yang dijadikan dalil oleh mazhab Ma>liki khabar yang berlaku pada tempat dan masa Nabi. Khabar yang diriwayatkan melalui pendengaran lebih utama karena jauh dari kemungkinan adanya kesalahan.
Dengan demikian menurut hemat penyusun, Imam Syafi’i mungkin menetapkan wajibnya hukum umrah berdasarkan kaidah kebahasaan yang berlaku. Yaitu, adanya kesamaan hukum antara ma’tuf alaih dengan ma’tuf, sehingga beliau berpendapat bahwa hukum haji dan umrah itu sama yaitu wajib. Asumsi pertama dikarenakan lafal al-Umrah diatafkan kepada lafal al-Hajj dengan menggunakan huruf ataf  wawu yang hal ini sesuai dengan kaidah Al-fiyyah Ibnu Malik :
قاعطف بوا و سا بقا اولا حقا  #  في الحكم او مصاحبا موافقا [165]
Dari kaidah di atas dapat dipahami bahwa huruf at}af wawu merupakan salah satu huruf yang berfungsi sebagai penengah antara kalimat sesudahnya dengan kalimat sebelumnya yang dalam hal ini mengikuti kesemuanya, baik dari segi lafal maupun hukumnya [166]yang mendahuluinya, belakangan ataupun secara bersamaan. Karena huruf at}af wawu itu sendiri mempunyai fungsi mutlak. Sesuai dengan kaidah : 
فالعطف مطلق بوا و[167]
Apabila mengacu pada penafsiran Imam Syafi’i terhadap ayat “wa atimmu al-hajja wa al-umrata lillahi.” ditafsirkan dengan kerjakanlah haji dan umrah secara sempurna maka tidaklah cukup berhaji dengan meninggalkan umrah.[168]
Menilik dari uraian di atas dapat kita lihat bahwasanya penyusun lebih cenderung kepada imam Syafi’i yang menyatakan hukum melakukan umrah merupakan suatu kewajiban.berdasar h}adis yang menjelaskan salah satu dasar fondasi Islam adalah ibadah ‘umrah. H{adis tersebut diriwayatkan oleh Ima>m al-Baihaqi yang selengkapnya berbunyi:
أخبرنا علي بن محمد بن عبد الله بن بشران العدل أنبأ أبو جعفر محمد بن عمرو البختري الرزاز ثنا محمد بن عبيد الله بن يزيد ثنا يونس بن محمد ثنا معتمر هو ابن سليمان عن أبيه عن يحي بن يعمر قال قلت لابن عمر يا أبا عبد الرحمن إن قوما يزعمون أن ليس قدر قال فهل عندنا منهم أحد قال قلت لا فابلغهم عني إذا لقيتهم أن ابن عمر برئ إلى الله منكم وأنتم برء اء منه سمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال بينما نحن جلوس عند رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ جاء رجل عليه سحناء سفر و ليس من أهل البلد يتخطى حتى ورك بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم كما يجلس أحدنا فى الصلوة ثم وضع يده على ركبتي رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال يا محمد ما الإسلام ؟ فال أن تشهد أن لا إله إلا الله و أن محمدا رسول الله و أن تقيم الصلوة وتؤتي الزكوة و تحج البيت و تعتمر و تغتسل من الجنابة و تتم الوضؤ وتصوم رمضان قال فإن فعلت هذا فأنا مسلم قال نعم قال صدقت [169]
BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari penelitian yang dilakukan dalam skripsi ini, ada beberapa hal yang dapat penyusun simpulkan :
1.       Mazhab Ma>liki> yang berpendapat bahwa ibadah ‘umrah itu hukumnya sunnah dilaksanakan sekali seumur hidup berlandaskan dalil berupa h}adis yang diriwayatkan oleh Ima>m at-Tirmizi dari Ja>bir RA. Sementara mazhab Sya>fi’i yang berpendapat bahwa ibadah ‘umrah itu hukumnya wajib dilaksanakan sekali seumur hidup berlandaskan dalil berupa h}adis yang diriwayatkan oleh Ima>m Ah}mad bin H{anbal dari A<’isyah RA.
2.       H{adis yang dijadikan dalil oleh mazhab Ma>liki yang melalui rangkaian sanad Muh}ammad ‘Abd al-A’la> as}-S}an’a>ni>, ‘Umar bin ‘Ali>, H{ajja>j bin Art{a>h, Muh}ammad bin al-Munkadir dari sahabat Ja>bir RA ternyata berkualitas d}a’if sanadnya. Kesemua rawi ini siqah kecuali H{ajja>j bin Art}a>h yang dikenal mudallis dan buruk hafalannya. H{adis ini dalam istilah ‘ulu>m al-h}adis disebut h}adis mudallas yang termasuk kategori h}adis d}a’if. Dan setelah diteliti matan h}adisnya, disimpulkan bahwa matannya juga d}a’if karena redaksinya hampir sama dengan redaksi kitab fiqh, di samping pembagian lima macam hukum belum dikenal pada masa Nabi. Karenanya, matan h}adis itu dicurigai merupakan perkataan sahabat Jabir, bukan sabda Rasul.  Dengan demikian, h}adis yang dijadikan dalil oleh mazhab maliki d}aif sanad dan matannya. Sedangkan h}adis yang dijadikan dalil oleh mazhab Sya>fi’i yang melalui rangkaian sanad Muh}ammad bin Fud}ail, H{abi>b bin Abi> ‘Amrah, ‘A<isyah binti T{alh}ah dari sahabat ‘A<isyah binti Abu> Bakar as}-S{iddi>q berkualitas s}ah}ih} sanadnya karena semua perawinya siqah dan bersambung sanadnya. Mengenai matannya, setelah diteliti, ternyata juga sejalan dengan h}adis lain yang sanadnya dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, h}adis yang dijadikan dalil oleh mazhab Syafi’i s}ah}ih} sanad dan matannya.
3.       Menurut penyusun, pendapat yang lebih raji>h adalah pendapat mazhab Sya>fi’i karena berlandaskan h}adis yang s}ah}ih}.
B.    Saran-saran
1.       Perbedaan antara berbagai mazhab adalah suatu rahmat yang harus disikapi dengan arif, bukan dengan menonjolkan fanatisme kubu per kubu. Adanya berbagai macam perbedaan justru akan membuka cakrawala pemikiran kita sehingga kita dapat melihat persoalan dengan lebih jelas.
2.       Manakala terdapat pertentangan dalil dalam masalah hukum Islam hendaknya ditela’ah kembali validitasnya dan segala sesuatu yang berkaitan agar bisa diambil metode yang tepat, apakah dengan kompromi, nasakh atau pun tarji>h.
3.       Penelitian ini bukanlah penelitian final, namun merupakan suatu penelitian yang selanjutnya dapat mengeksploitasi lebih lanjut dan menghubungkan dengan disiplin ilmu yang lain secara integral.
Akhirnya penyusun mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah Yang Maha Kuasa, dengan petunjuk, kekuatan dan rahmat-Nya sehingga penelitian ini dapat terselesaikan. Namun penelitian ini menurut penyusun jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif dapat diberikan untuk kesempurnaan penelitian yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA

A.    Kelompok Al-Qur’an/Tafsir

Departemen Agama Republik Indonesia. al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta:  Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al Qur’an. 1981/1982.
Hamka, Tafsi>r al-Azha>r, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.
S{abuni, M. ‘Ali> as-, Rawa>i’ al-Baya>n: Tafsi>r Aya>t al-Ah}ka>m, Mekkah: tnp, t.t.

B.    Kelompok Hadis/Ulumul-Hadis

‘Asqala>ni, Ahmad bin ‘Ali> bin Hajar al-, Tahzi>b at-Tahzi>b, Hyderabad: Majlis Da’irah al-Ma’a>rif an-Niz}amiyyah, 1325 H.
…………, al-Isabah fi Tamyiz as}-S{ahabah, Beirut: Dar Sadir, 1328 H.
Ah}mad bin H{anbal, Musnad Ah}mad bin H{anbal, Beirut: Dar al-Fikr, t.t.
Bukha>ri, al-, Ta>>ri>kh al-Bukha>ri al-Kabi>>r, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1986.
H{ajja>j. Yu>suf Mizzi al-, Tahzib al-Kama>l fi Asma> ar-Rija>l,  ditahqiq oleh Ah}mad ‘Ali> ‘Ubaid dan H{{asan Ahmad Aga>, Beirut: Dar al-Fikr, 1994.
Ibn H{ajar, Fath al-Ba>ri>, Ttp: Maktabah as-Salafi, t.t.
Isma’il, M. Syuhudi, Kaedah Kesahi>han H{adi>s, cet. 2 Jakarta: Bulan Bintang, 1995.
………, Metodologi Penelitian H{adi>s Nabi, cet.1 Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Naisa>bu>ri, al-Ima>m Abu> al-H{usain Muslim ibn al-H{ajja>j ibn Muslim al-Qusyairi an-, al-Ja>mi’ as{-S{ah}ih}, Beirut: Dar al-Fikr, t.t.
Rahman, Fatchur, Ikhtis}ar Must}alah H{adi>s, Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1974.
S{an’a>ni as}-, Subul as-Sala>>m, Ttp: Maktabah Dahlan, t.t.
T{ahha>n, Mah}mu>d, Taisi>r Mus}t}alah al H}adi>s, T. tp: Dar al-Fikr, t.t.
Tirmizi>, Abu> ‘Isa> Muh}ammad bin ‘Isa> bin Sau>rah at-, Sunan at-Tirmizi>, Beirut: Dar al-Fikr, 1983.
Z|ahabi, az-, al-Kasyif fi Ma’rifah Man Lah Riwayah fi al –Kutub as-Sittah, T.tp: Dar al-Kutub al-H}adisiyyah, t.t.

C.    Kelompok Fiqh/Us}u>l Fiqh

Abd. Madjid, Ahmad, Seluk Beluk Ibadah Haji dan ‘Umrah,  Surabaya: Mutiara Ilmu, 1993.
Asnawi, ‘Abd ar-Rah}im al-, T{aba>qat asy-Sya>fi’iyyah,  Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1987.
Beik, Khudori, Ta>rikh al-Tasyri’ al-Islamiy, Indonesia: Dar Ihya wa al-Kutub al-Arabiyyah, 1981.
Dahlan, Abdul Azis, et.al, Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996.
Daqir, ‘Abd al-Ganiy ad-, al-Ima>m asy-Sya>fi’i: Faqi>h as-Sunnah al-Akbar, Damaskus: Dar al-Qalam, 1990.
Do’i, Abd. Rahman I, Shariah The Islamic Law, alih bahasa Basri Iba dan Wadi Maskuri, cet. 1 , Jakarta: Rineka Cipta, 1993.
Gazza>li, al-, al-Mustas}fa>, Beirut: Dar a-Fikr, t.t.
Ghazali, M. Basri dan Djumadris, Perbandingan Mazhab, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992.
Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtasid, Indonesia: Dar Ihya’, t.t.
Jaziri, Abdur-Rahman al-, al-Fiqh ‘alal-Mazahib al-‘Arba’ah, Beirut: Dar al-Fikr, 1996.
Khallaf, Abd al-Wahhab, Ilm Usul al-Fiqh, Kairo: Dar al-Qalam, 1978.
Maltawi, Hasan Kamil al-, Fiqh al-‘Iba>dah ‘ala mazhab al-Ima>m Ma>lik, Kairo: Maktabah asy-Syakhs}iyyah al-Misriyyah,1996.
Maqdisi, Ibn Qudamah al-, asy-Syarh al-Kabir, dicetak bersama dengan Ibn Qudamah, al-Mugni, Mesir: tnp, 1346 H.
Matdawam, Noor, Pelaksanaan Haji dan ‘Umrah, Yogyakarta: Yayasan “BINA KARIER” LP5BIP, 1986.
Mawardi, al-, al-Hawi al-Kabir, diedit oleh Mahmud Matraji, Beirut: Dar al-Fikr, 1994.
Mughniyyah, M. Jawad, Fiqih Lima Mazhab, alih bahasa Masykur A.B, dkk., Jakarta: Lentera Basritama, 1996.
Nahrawi, Ahmad, al-Ima>m asy-Sya>fi’i fi> Mazhabaih al-Qadi>m wa al-Jadi>d, diterbitkan oleh pengarangnya untuk kalangan terbatas, 1994.
Nasution, Lahmuddin,  Pembaruan Hukum Islam dalam Mazhab Syafi’i,  Bandung: Rosda Karya, 2001.
Nawawi, Abi Zakariya Muhyi ad-Din an-, Tahzib al-Asma>’ wa al-Lugah, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, tt.
Nawawi, an-, al-Majmu’, Kairo: Zakaria ‘Ali Yusuf, t.t.
Qardawi, Yusuf al-, Fiqh Perbedaan Pendapat antar Gerakan Islam, cet. ke-4 , Jakarta: Robbani Press, 2002.
Ramli, Mutawakil, Mari Memabrurkan Haji: Kajian dari Berbagai Mazhab, Bekasi: Gugus Press, 2002.
Shiddieqy, Hasbi ash-, Pokok-pokok Pegangan Imam-imam Mazhab dalam Membina Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1972.
Shiddieqy, M. Hasbi ash-, Pedoman Haji, Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
Suyuti, Abul -Fadl Abdur-Rahman as-, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, diedit oleh ‘Abdul-Wahhab ‘Abdul-Latif, Beirut: Dar al-Fikr, 1988.
Sya>fi’i, Asy- >, ar-Risa>lah, ditahqiq oleh Ahmad Muhammad Sya>kir, (Beirut: Dar al-Fikr, 1309 H.
Sya>t}ibi, Abu> Isha>q asy- >, al-Muwa>faqa>t, Ttp: Da>r al-Fikr al-‘Ara>bi>, 1975.
Syarifuddin, Amir, , Usul Fiqh I, Jakarta: Logos, 1999.
Syarqa>wi, Abd ar-Rahma>n as-, Aimmah al-Fiqh at-Tis’ah, alih bahasa Mujiyo Nurcholis, cet. 1 Bandung: al-Bayan, 1974.
Syirazi, Abu Ishaq asy-, al-Muhazzab fi Fiqh al-Imam asy-Syafi’i, Beirut: Dar al-Fikr, t.t.
Syurbasi, A. Asy-, Al-Aimmah al-Arba`ah, terjemahan Jalil Huda dan A. Ahmadi, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1993.
Tim Penyusun, Mengenal Istilah dan Rumus Fuqoha, Kediri: MHM, 1997.

Yafie, Ali. Menggagas Fiqih Sosial,  Bandung: Mizan, 1995.
Yanggo, Huzaimah Tahida, Pengantar Perbandingan Mazhab, Jakarta: Logos, 1997.
Zahrah, M. Abu>, asy-Sya>fi’i Haya>tuh wa ‘As}ruh wa A<<<<ra’uhu wa Fiqhuhu, cet. ke-2 , Beirut: Dar al-Fikr, 1948.
Zakaria. M., Aujaz al-Masa>lik Ila> Muwat}t}a’, cet. 3, Beirut: Da>r al-Fikr, 1973 M / 1393 H), I: 17-19.
Zuhaili, Wahbah az-, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Beirut: Dar al-Fikr, 1989.

D.    Kelompok Buku lain

Ali, Atabik dan A. Zuhdi Muhdlor, Kamus al-‘Ashri, Jogjakarta: Multi Karya Grafika, t.t..
Bakker, Anton, Metode-metode Filsafat, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986.
Bisri, Adib dan Munawwir AF, Kamus al-Bisri, Surabaya: Pustaka Progresif 1999.
Cholil, Munawwar, Biografi Empat Serangkai Imam mazhab, cet. ke-9, (Jakarta : Bulan Bintang, 1955), hlm. 200.
Hadi, Sutrisno, Metodologi Research, Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fak. Psikologi UGM, 1980.
Madjid, Nurcholish, Perjalanan Religius ‘Umrah dan Haji, Jakarta: Paramadina, 1997
Munawwir, A. Warson Kamus al-Munawwir, Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.
Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press, 1986.
Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, cet.3 (Jakarta: PT. Ichtiar Baru, Van Hoeve, 1994), IV: 328.
           
           
.
.
           
Lampiran I
TERJEMAHAN
BAB
HLM
FOOTNOTE
TERJEMAHAN
I
4
9
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
10
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.
9
19
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
20
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.
10
21
Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi kepada Muhammad bin Abdul A’la as-San’ani diteruskan kepada ‘Umar bin Ali dari Hajjaj Muhammad bin al-Munkadir dari Jabir bin Abdullah, Bahwasannya  seseorang bertanya kepada Rosulullah SAW: “beritahu kepada saya apakah ‘umrah itu wajib atau tidak?”Rosulullah menjawab: “Tidak, tetapi jika kamu melaksanakan ‘umrah itu lebih baik bagi engkau.
22
Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal kepada Muhammad bin fudhail dari ‘Aisyah binti Thalhah dari  ‘Aisyah binti Rasulullah SAW dikatakan bahwasannya : ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah: ‘Ya Rasulullah, Apakah wanita itu berkewajiban untuk berjihad? Rosulullah SAW menjawab: ‘Benar, yaitu jihad yang tidak ada peperangan didalamnya, haji dan ‘umrah”.
II
24
9
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
26
12
Maka apabila bulan Ramadhan datang, maka lakukanlah ibadah ‘umrah. Karena (pahala) ‘umrah di bulan Ramadhan sebanding dengan ibadah haji.
30
18
Yahya bin Yahya menceritakan kepada kami (Imam Muslim), dia berkata, ‘Saya membaca (hadis) kepada Imam Malik’, dari Nafi’, dari Ibn ‘Umar, bahwasanya Rasulullah SAW ditanya mengenai apa yang (boleh) dipakai orang yang sedang ihram? Lalu Rasul menjawab, “Orang yang sedang ihram tidak boleh mengenakan kemeja, serban, celana, mantel, sepatu kulit (yang menutupi kedua mata kaki), kecuali apabila seseorang tidak menemukan sandal. Hendaklah ia memakai sepatu kulit (khuff), dan potonglah hingga di bawah kedua mata kaki. Dan janganlah kalian mengenakan busana yang diberi minyak za’faran atau wars (parfum).  
19
Dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyembelihan.
31
20
Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah, menikahkan atau pun melamar.
21
(Diriwayatkan) dari Ibn ‘Abbas RA, bahwasanya Rasul SAW menikahi Maimunah ketika beliau sedang ihram.
32
22
Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafas, berbuat fasik dan  berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakn haji.
23
Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan yang berasal dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu  dan bagi para pejalan kaki. Dan diharamkan bagi kalian buruan yang ada di darat selama kalian masih ihram.
33
26
Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).
III
44
15
Urusan yang disepakati oleh segolongan manusia dalam perkembangan hidupnya.
16
Perbuatan yang diulang-ulang oleh seseorang dan atau segolongan.
45
21
LIHAT BAB I, HLM. 10, FN. 21.
63
62
LIHAT BAB I, HLM. 4, FN. 10.
63
LIHAT BAB I, HLM. 10, FN. 22.
IV
64
2
LIHAT BAB I, HLM. 10, FN. 21.
65
3
LIHAT BAB I, HLM. 10, FN. 22.
74
17
LIHAT BAB I, HLM. 10, FN. 21.
84
24
LIHAT BAB I, HLM. 4, FN. 10.
86
25
Hisyam bin Ammar menceritakan kepada kami (Ibn Majah), al-hasan bin Yahya al-Khusyani menceritakan kepada kami, umar bin Qais menceritakan kepada kami, Talhah bin Yahya menceritakan kepada kami, dari pamannya Ishaq bin Talhah, dari Talhah bin Ubaidillah, bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Ibadah haji itu jihad dan umrah itu sunnah,”
88
26
LIHAT BAB I, HLM. 10, FN. 22.
95
33
Muhammad bin Qudamah bin A’yun dan Usman bin Abi Syaibah menceritakan kepada kami (Abu Daud), keduanya berkata, Jarir bin Abd al-Hamid menceritakan kepada kami, dari Mansur, dari Abi Wa’il, ia berkata, as-Subai bin Ma’bad berkata, “Saya adalah orang Arab yang beragama Kristen, lalu saya masuk Islam, kemudian saya mendatangi Umar bin Khattab, dan berkata kepadanya, ‘Wahai Amir al-Mu’minin, saya adalah orang Arab yang beragama Kristen lalu saya masuk Islam dan saya sangat ingin berjihad. Saya tahu bahwa haji dan umrah itu diwajibkan atasku, lalu saya mendatangi salah seorang pria dari kaumku, lalu ia menjawab, gabunglah haji dan umrah itu dan sembelihlah hewan kurban semampumu, dan saya melakukan ihram untuk melaksanakan haji dan umrah itu sekaligus.’ Lalu Umar menjawab, ‘Anda telah diberi petunjuk untuk mengikuti sunnah Nabi SAW,”
97
34
LIHAT BAB I, HLM. 4, FN. 10.
100
36
Maka hubungkanlah antara kata sebelumnya dan kata setelahnya dengan wawu, dan hukumnya sama dan selaras.
101
38
Wawu merupakan huruf penghubung yang bersifat mutlak.
102
40
Ali bin Muhammad bin Abdillah bin Busyran al-Adl menuturkan kepada kami (al-Baihaqi), Abu Ja’far Muhammad bin Amr al-Bukhturi menuturkan kepada kami, Muhammad bin Ubaidillah bin Yazid menuturkan kepada kami, Yunus bin Muhammad menuturkan kepada kami, mu’tamir bin Sulaiman menuturkan kepada kami, dari ayahnya, dari Yahya bin Ya’mar, ia berkata, “Saya berkata kepada Ibn Umar, ‘Wahai Abu Abdirrahman, ada satu kaum yang berprasangka bahwa takdir itu tidak ada.’ Ibn Umar bertanya, “Adakah salah seorang mereka di antara kita?” Yahya menjawab, “Tidak.” Lalu Ibn Umar berkata, “Maka sampaikanlah kepada mereka apabila kamu bertemu dengan mereka bahwa Ibn Umar berlepas diri dari kalian, dan kalian berlepas dari Allah. Sesungguhnya saya mendengar Umar bin Khattab berkata, “Tatkala kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW tiba-tiba datang seorang pria yang baru datang bepergian, dan ia bukanlah penduduk sini, lalu ia mendekat hingga duduk bersimpuh di hadapan Rasulullah SAW seperti salah seorang dari kami duduk dalam shalat, kemudian ia meletakkan tangannya di atas kedua lutut Rasulullah SAW, lalu bertanya, “Wahai Muhammad, apa Islam itu?” Rasul menjawab, “Kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke Baitullah, berumrah, mandi jinabat, menyempurnakan wudhu dan berpuasa di bulan Ramadhan.” Lalu ia bertanya lagi, “Apakah bila saya melakukannya saya adalah orang muslim?” Rasul menjawab, “Ya.” Lalu pria itu berkata, “Engkau benar.”

[1]Abulhasan Ali An-Nadwi, Ibadah: Shalat, Zakat, Puasa, Haji, Alih bahasa Hery Noer Ali dkk, (Bandung: Risalah, 1985), hlm. 256.
[2] Ibid.
[3]Ibid., hlm. 258-259.
[4]Suparman Usman, Hukum Islam: Asas-Asas dan Pengantar Studi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, cet.II, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002 ), hlm. 185.
[5]Ali Yafie, Teologi Sosial, (Yogyakarta: LPKSM,1997 ), hlm. 185.
[6] M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Haji, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1999), hlm. 7.  
[7]Hamka, Tafsir al-Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), II: 130.
[8]‘Abd ar-Rahman al-Jaziri, kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-‘Arba’ah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), I: 600.
[9]‘Ali Imran (3): 97.
[10]Al-Baqarah (2): 196.
[11]Imam asy-Syafi’i dalam qaul qadimnya mengatakan bahwa umrah itu sunnah, dan dalam qaul jadidnya, umrah itu wajib. Dalam hal ini, qaul beliau yang dijadikan pegangan adalah qaul jadid karena merupakan hasil akhir dari penelitiannya. Lih. Abu Ishaq asy-Syirazi, al-Muhazzab fi> Fiqh al-Ima>m asy-Sya>fi’i>, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), I: 195; Abdul Azis Dahlan, [et.al], Ensiklopedi Hukum Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996), VI: 1683.
[12] Ibn Rusyd, Bida>yah al-Mujtahid wa Niha>yah al-Muqtas}id, (Indonesia: Dar Ihya’, t.t.), I: 235; al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir, diedit oleh Mahmud Matraji, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), V: 43; an-Nawawi, al-Majmu’, (Kairo: Zakaria ‘Ali Yusuf, t.t.), VII: 8; M. Jawad Mughniyyah, Fiqih Lima Mazhab, alih bahasa Masykur  dkk., (Jakarta: Lentera Basritama, 1996), hlm. 218.
                [13] Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, I: 236.
                [14] Abd ar-Rah}ma>n al-Jazi>ri>, kitab al-Fiqh ‘ala> al-Mazahib al-‘Arba’ah, I: 640.
                [15] M. ‘Ali> as}-S{a>bu>ni>, Rawa>i’ al-Baya>n: Tafsi>r A<ya>t al-Ah}ka>m, (Mekkah: tnp., t.t), I: 246.
[16]An-Nawawi, al-Majmu’, VII: 8
[17]Ibn Qudamah al-Maqdisi, asy-Syarh al-Kabir, dicetak bersama dengan Ibn Qudamah, al-Mugni, (Mesir: tnp., 1346 H.), III: 160.
[18]Abd al-Wahha>b Khalla>f, Ilm Us}u>l al-Fiqh, (Kairo: Dar al-Qalam, 1978), hlm. 21.
[19]‘Ali Imran (3): 97.
[20]Al-Baqarah (2): 196.
[21] Abu> ‘I<sa> Muh}ammad bin ‘I<sa> bin Saurah at-Tirmizi>, Sunan at-Tirmizi>,(Beirut: Dar al-Fikr, 1983), II: 205.
[22] Ah}mad bin H{anbal, Musnad Ah}mad bin H{anbal, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), VI: 165.
[23] Amir Syarifuddin, Usul Fiqh, (Jakarta: Logos, 1999), I: 83.
[24] Mahmu>d T}ah}h}a>n, Taisir Mus}t}alah al H}adis, (t. tp: Dar al-Fikr, t.t), hlm. 31 &39. 
[25] Abu> al-Fad}l Abd ar-Rah}man as-Suyu>t}i>, Tadri>b ar-Ra>wi> fi> Syarh} Taqri>b an-Nawawi>, diedit oleh ‘Abd al-Wahhab ‘Abd al-Lat}i>f, (Beirut: Dar al-Fikr, 1988), I: 63.
[26] Ibid., I: 158.
[27] Ibid., I: 179.
[28]Muhammad Ibrahim Muhammad al-Hafnawy, at-Ta´arud} wa at-Tarji>h, cet. ke- 2 (t.tp., Dar al-Wafa´, 1987), hlm. 168-167.
[29] At-Tarji>h bain an-nus}u>s} adalah menguatkan salah satu nas}s} yang saling bertentangan baik al-Qur´an maupun as-Sunnah.
[30]Al-Hafnawi, at-Ta’`a>rud} wa at-Tarji>h}, hlm 307.
[31] Nasrun Haroen, Ushul Fiqh, hlm 197-198
[32]Al-Hafnawi, at-Ta’a>rud}, hlm 307-323
[33] Nasrun Haroen, Ushul Fiqh,hlm.199.
[34]Anton Bakker, Metode-metode Filsafat, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986), hlm. 6.
[35]Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 9-10.
[36]Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fak. Psikologi UGM, 1980), hlm. 42.
[37]Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 12-13..
[38]Mutawakil Ramli, Mari Memabrurkan Haji: Kajian dari Berbagai Mazhab, hlm. 164; Ibrahim Anis dkk., al-Mu’jam al-Wasi>t}}}, (Ttp: tnp, t.t.), hlm. 628; A. Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), hlm. 592; Adib Bisri dan Munawwir AF, Kamus al-Bisri, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1999), hlm. 520; Atabik Ali dan A. Zuhdi Muhdlor, Kamus al-‘Ashri, (Jogjakarta: Multi Karya Grafika, t.t.), hlm. 158.
[39] Noor Matdawam, Pelaksanaan Haji dan ‘Umrah, (Yogyakarta: Yayasan “BINA KARIER” LP5BIP, 1986), hlm. 20.
[40]Dikutip dari Muhammad Jawad Mugniyyah, Fiqih lima mazhab, alih bahasa Masykur A.B dkk., (Jakarta: Lentera Basritama, 1996), hlm. 217-218.
[41]Ahmad Abd. Madjid, Seluk Beluk Ibadah Haji dan ‘Umrah ( Surabaya: Mutiara Ilmu, 1993), hlm. 25.
                [42] ‘Abd ar-Rah}ma>n al-Jazi>ri>, al-Fiqh ‘ala> al-Mazahib al-‘Arba’ah, hlm. 572.
[43] Ahmad Abd.Madjid, Seluk Beluk Ibadah Haji dan ‘Umrah, hlm. 32.
[44] Ibid., hlm. 31.
[45]Noor Matdawam, Pelaksanaan Ibadah Haji dan ‘Umrah, hlm 33
[46]‘Ali Imran (3): 97.
[47] ‘Abd ar-Rah}ma>n al-Jazi>ri>., al-Fiqh ‘ala> al-Mazahib al-‘Arba’ah, I: 573.
[48]Ahmad Abd. Majid, Seluk Beluk Ibadah Haji dan ‘Umrah, hlm 24-30.
 
[49] Al-Ima>m Abu> al-H{usain Muslim ibn al-H{ajja>j ibn Muslim al-Qusyairi an-Naisa>bu>ri, al-Ja>mi’ as{-S{ah}ih}, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), IV: 61.
[50] ‘Abd ar-Rah}man al-Jazi>ri>, al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-‘Arba’ah, hlm. 616-617.
[51]Noor Matdawam, Pelaksanaan Ibadah Haji dan ‘umrah, hlm. 38
                [52] ‘Abd ar-Rah}man al-Jazi>ri>, al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-‘Arba’ah, hlm. 578.
[53]Mutawakil Ramli, Mari Memabrurkan Haji: Kajian dari Berbagai Mazhab, hlm. 166.
[54] ‘Abd ar-Rah}man al-Jazi>ri>, al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-‘Arba’ah, I: 578-579; Jawad Mugniyyah, Fiqih Lima Mazhab, hlm. 225.
[55] Al-Ima>m Abu> al-H{usain Muslim ibn al-H{ajja>j ibn Muslim al-Qusyairi an-Naisa>bu>ri, al-Ja>mi’ as{-S{ah}ih, IV: 2.
[56]Al-Baqarah (2): 196.
[57] Al-Ima>m Abu> al-H{usain Muslim ibn al-H{ajja>j ibn Muslim al-Qusyairi an-Naisa>bu>ri, al-Ja>mi’ as{-S{ah}ih, IV: 136.
[58]Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, I: 375.
[59]Al-Baqarah (2): 197.
[60]Al-Maidah (5): 96.
                [61] Abd ar-Rahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-‘Arba’ah, hlm. 582-586.
[62]Noor Matdawam, Pelaksanaan Ibadah Haji dan ‘Umrah, hlm. 59.
[63]Al-Hajj (17): 29.
                [64] Abd ar-Rah}ma>n al-Jazi>ri>, al-Fiqh ‘ala> al-Mazahib al-‘Arba’ah, hlm. 590.
[65]Mutawakil Ramli, Mari Memabrurkan Haji: Kajian dari Berbagai Mazhab, hlm. 169
[66]Noor Matdawam, Pelaksanaan Ibadah Haji dan ‘Umrah, hlm. 105.
[67]M. Zakaria, Aujaz al-Masa>lik Ila> Muwat}t}a’, cet. 3, (Beirut: Da>r al-Fikr, 1973 M / 1393 H), I: 17-19.
[68] Abd ar-Rahma>n as-Syarqa>wi, Aimmah al-Fiqh at-Tis’ah, alih bahasa Mujiyo Nurcholis, cet. 1 (Bandung: al-Bayan, 1974),  hlm. 59.
[69]Abd. Rahman I Do’i, Shariah The Islamic Law, alih bahasa Basri Iba dan Wadi Maskuri, cet. 1 (Jakarta: Rineka Cipta, 1993),  hlm. 145.
[70]  M. Basri Ghazali dan Djumadris, Perbandingan Mazhab, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992), hlm. 61-62.
[71]  Huzaimah Tahido Yanggo, Pengantar Perbandingan Mazhab., hlm. 118.
[72]  Ibn H{ajar, Fath al-Ba>ri>, (Ttp: Maktabah as-Salafi, t.t.), I: 4.
[73]  Hasbi ash-Shiddieqy, Pokok-pokok Pegangan Imam-imam Mazhab dalam Membina Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1972), I: 171.
[74]  Abu> Isha>q as-Sya>t}ibi>, al-Muwa>faqa>t, (Ttp: Da>r al-Fikr al-‘Ara>bi>, 1975), III: 364.
[75] Huzaimah Tahida Yanggo,  Pengantar Perbandingan Mazhab, (Jakarta: Logos, 1997), hlm. 106.
[76] Hasbi ash-Shiddieqy, Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1997), I: 200-201.
[77]  Ibid., hlm. 107.
[78] Abi> Isha>q asy-Sya>t}ibi>, al-Muwa>faqa>t,  II: 118.
[79]  Hasbi ash-Shidieqy, Pokok-pokok Pegangan Imam Mazhab., hlm. 221.
[80]    Huzaimah Tahido Yanggo, Pengantar Perbandingan Mazhab., hlm. 112.
[81]  Abi> Isha>q asy-Sya>t}ibi, al-Muwa>faq>at, II: 228.
[82]  Ibid.
[83]  Ibid.
[84]Hasan Kamil al-Maltawi, Fiqh al-‘Iba>dah ‘ala mazhab al-Ima>m Ma>lik, (Kairo: Maktabah asy-Syakhs}iyyah al-Misriyyah, 1996), hlm. 297.
[85]Ali Imran (3): 97.
[86]Al-Hajj (22): 27.
[87] Abu> ‘I<sa> Muh}ammad bin ‘I<sa> bin Saurah at-Tirmizi>, Sunan at-Tirmizi>, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), II: 205.
[88]Al-Baqarah (2): 196.
[89]M.’Ali<> as}-S{abu>ni>, Rawai>’ al-Baya>n: Tafsi>r Ay<>at al-Ahkam, (Mekkah : tnp., t.t), I : 24; Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, (Semarang: Toha Putera, t.t), I: 236; Ibn Qudamah al-Maqdisi, al-Mugni, (Mesir: Matba’ah al-Manar, 1346 H), III: 160; ‘Abd ar-Rah}ma>n al-Jaziri>, al-Fiqh ‘ala> al-maza>hib al-Arba’ah, I: 640.
[90] ‘Abd ar-Rah}im al-Asnawi Ijmal ad-Din, T{aba>qat asy-Sya>fi’iyyah,  (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1987), hlm. 18.
[91] M. Abu> Zahrah, asy-Sya>fi’i Haya>tuh wa ‘As}ruh wa A<<<<ra’uhu wa Fiqhuhu, cet. ke-2 (Beirut: Dar al-Fikr, 1948), hlm. 16-17.
[92]Ibid. hlm. 17. Akan tetapi Munawwar Cholil cenderung pada riwayat yang mengatakan bahwa ibunya berasal dari keturunan `Alawiyyah. Lihat Munawwar Cholil, Biografi Empat Serangkai Imam mazhab, cet. ke-9, (Jakarta : Bulan Bintang, 1955), hlm. 200.
[93]Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, (Beirut: Dar al-Fikr, 1989) I : 35.
[94]A. Nahrawi, al-Ima>m asy-Sya>fi’i fi> Mazhabaih al-Qadi>m wa al-Jadi>d, diterbitkan oleh pengarangnya untuk kalangan terbatas, 1994, hlm. 29. Dan Ali Yafie. Menggagas Fiqih Sosial,  (Bandung: Mizan, 1995),  hlm. 40
[95] ‘Abd al-Ganiy ad-Daqir, Al-Ima>m asy-Sya>fi’i: Faqi>h as-Sunnah al-Akbar, (Damaskus: Dar al-Qalam, 1990), hlm. 54.
[96]M. Abu Zahrah, asy-Syafi’i., hlm. 28.
[97] Khudori Beik, Ta>rikh al-Tasyri’ al-Islamiy, (Indonesia; Dar Ihya wa al-Kutub al-Arabiyyah, 1981), hlm. 251.
[98]Muhammad Jawad Mughniyyah, Fiqh Lima Mazhab, hlm. xxix.
[99] Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, cet ke-3 (Jakarta: PT. Ichtiar Baru, Van Hoeve, 1994), IV: 328.
[100] Ibid., hlm.328. Lihat pula M. Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib, hlm. 449,dan Khudori Beik¸ Tarikh Tasyri` al-Islami,  hlm. 253.
[101]Tim Penyusun, Ensiklopedi, IV:329.
[102]Ibid, hlm. 328. Lihat pula Khudori Beik, Ta>ri>kh at-Tasyri> al-Islamy, hlm. 253-254.
[103]Tim Penyusun, Mengenal Istilah dan Rumus Fuqoha, (Kediri: MHM, 1997),
hlm. 112-113.
[104]Sebenarnya kepergian asy-Sya>fi’ike Mesir atas permintaan wali negeri Mesir, Abba>s bin Musa untuk memberikan pengajaran di Masjid Amr bin As. Hal ini buat asy- Sya>fi’idirasa cukup berat, karena harus meninggalkan banyak murid di Bagdad. Dan pengajaran di Mesir dilakukan siang hari di Masjid dan  malam hari dilakukan di rumahnya. Lihat Ensiklopedi Islam, Tim Penyusun, cet III (Jakarta: PT. Ichtiar baru, Van Houve, 1994), IV: 328.
[105]Tim Penyusun, Mengenal Istilah dan Rumus Fuqoha,  hlm. 113.
[106]A. Asy-Syurbasi, Al-Aimmah al-Arba`ah, terjemahan Jalil Huda dan A. Ahmadi, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 1993), hlm.151-152
36) Abi Zakariya Muhyi ad-Din an-Nawawi, Tahzib al-Asma>’ wa al-Lugah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, tt), hlm. 53.
[107]A. Nahrawi, al-Ima>m asy-Sya>fi’i fi> Mazhabaih al-Qadi>m wa al-Jadi>d, diterbitkan oleh pengarangnya untuk kalangan terbatas, 1994, hlm. 716.
[108] Ibid., hlm. 712
[109]A. Nahrawi,  al-Imam, hlm. 210.
[110]Muhammad bin Idris as-Syafi’i, ar-Risa>lah, (Beirut:  Dar al-Fikr, t.t.). hlm.508.
[111] Ibid, hlm. 508
[112]Yusuf al-Qardawi, Fiqh Perbedaan Pendapat antar Gerakan Islam, cet. ke-4 (Jakarta: Robbani Press, 2002), hlm. 190.
                [113] Asy-Sya>fi’i>, ar-Risa>lah, ditahqiq oleh Ahmad Muhammad Sya>kir, (Beirut: Dar al-Fikr, 1309 H), hlm. 17-20.
                [114]Dikutip dari Mahmu>d Mat}raji>, “Muqaddimah” dalam al-Ha>wi> al-Kabi>r, I: 27.
                [115] Ibid.,I: 29.
                [116] Asy-Sya>fi’i>, ar-Risa>lah,, hlm. 79-85.
[117] Ibid, hlm. 190.
                [118] Asy-Sya>fi’i>, ar-Risa>lah, hlm. 370-372.
                [119]Lahmuddin Nasution,  Pembaruan Hukum Islam dalam Mazhab Syafi’i,  (Bandung: Rosda Karya, 2001), hlm. 87.
[120] Asy-Sya>fi’i, ar-Risa>lah,hlm. 472.
[121]T.M.  Hasbi ash-Shidieqy, Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab, (Semarang: PT. Pustaka Rizqi Putra), hlm. 28.
[122]Abu Zahrah, asy-Syafi`i  Hayatuhu wa Asruhu wa Ara’uhu wa Fiqhuhu, (Beirut: Dar al-Fikar, 1418 H. / 1997), hlm.298.
                [123] Asy-Sya>fi’i>, ar-Risa>lah, hlm. 512-513.
                [124] Ibid., hlm. 514-515.
                [125] Al-Gazza>li>, al-Mustas}fa>, (Beirut: Dar a-Fikr, t.t), II: 283.
                [126] Ibid.,  III: 313 dan 326.
[127]Asy-Syafi’i, al-Umm, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t), II: 188.
[128]Al-Baqarah (2): 196.
[129]Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), VI: 165.
[130]Hasan Kamil al-Maltawi, Fiqh al-‘Iba>dah ‘ala> mazhab al-Ima>m Ma>lik, (Kairo: Maktabah asy-Syakhs}iyyah al-Misriyyah, 1996), hlm. 297.
[131] Abu> ‘I<sa> Muh}ammad bin ‘I<sa> bin Saurah at-Tirmizi, Sunan at-Tirmizi, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), II: 205.
[132]Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), VI: 165.
[133]M. Syuhudi Isma’il, Kaedah Kesahihan Hadis, cet. 2 (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), hlm. 119.
                [134] Ibid., hlm. 135-136.
[135]Ibid.,  hlm. 139.
[136] Ibid.,  hlm. 49.
[137] Muhammad Syuhudi Isma’il, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, cet.1 (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 124.
[138] Ibid., hlm. 126.
[139] Ibid., hlm.126.
[140] Ibid., hlm. 126-127.
[141] Ibid., 127-128.
[142] Fatchur Rahman, Ikhtisar Mustalah Hadis, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1974), hlm. 243-251.
[143] Ibid., hlm. 152.
[144] Ibid., hlm. 252-255.
[145] Muhammad Syuhudi Isma’il, Metodologi Penelitian, hlm. 83.
[146] Abu> ‘I<sa> Muh}ammad bin ‘I<sa> bin Saurah at-Tirmizi>, Sunan at-Tirmizi>,(Beirut: Dar al-Fikr, 1983), II: 205.
[147] Ahmad bin ‘Ali> bin Hajar al-‘Asqala>ni>, Tahzi>b at-Tahzi>b, (Hyderabad: Majlis Da’irah al-Ma’a>rif an-Niz}amiyyah, 1325 H), IX: 386-389; az-Z}ahabi, al-Kasyif fi Ma’rifah Man Lah Riwayah fi a –Kutub as-Sittah, (T.tp: Dar al-Kutub al-H}adisiyyah, t.t), III: 86
[148] Ahmad bin ‘Ali> bin Hajar al-‘Asqala>ni>, Tahzi>b at-Tahzi>b, IX: 289; az-Z}ahabi, al-Kasyif, III:66; al-Bukha>ri, Ta>rikh al-Bukha>ri al-Kabi>r, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1986), I:174.
[149] Ahmad bin ‘Ali> bin Hajar al-‘Asqala>ni>, Tahzi>b at-Tahzi>b, VII: 485-487. az-Z}ahabi, al-Kasyif, II:319; al-Bukha>ri, Ta>rikh al-Bukha>ri al-Kabi>r, VI:180.
[150]Al-‘Asqala>ni>, Tahzi>b at-Tahzi>b, II: 196-199; al-Bukha>ri, Ta>rikh al-Bukha>ri al-Kabi>r, II: 378.
[151]Al-‘Asqala>ni>, Tahzi>b at-Tahzi>b, IX: 473-475; al-Bukha>ri, Ta>rikh al-Bukha>ri al-Kabi>r, I: 219-220.
                [152] Al-‘Asqala>ni>, Tahzi>b at-Tahzi>b, II: 42-43; al-Bukha>ri, Ta>rikh al-Bukha>ri al-Kabi>r, II: 207.
[153]Al-Baqarah (2): 196.
[154]Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t), I: 245.
[155] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), VI: 165.
[156] Ahmad bin ‘Ali> bin Hajar al-‘Asqala>ni>, Tahzi>b at-Tahzi>b, (Hyderabad Majlis Da’irah al-Ma’a>rif an-Niz}amiyyah, 1325 H), I: 72-76.              
[157] ِِِAl-‘Asqala>ni>, Tahzi>b at-Tahzi>b., IX: 405-407; al-Bukha>ri, Ta>rikh al-Bukha>ri al-Kabi>r, I: 207.
[158] ِِِAl-‘Asqala>ni>, Tahzi>b at-Tahzi>b., II: 188-189; al-Bukha>ri, Ta>rikh al-Bukha>ri al-Kabi>r, I: 174.
[159] Abu a>l-Hajja>j Yu>suf al-Mizzi>, Tahzib al-Kama>l fi Asma> ar-Rija>l,  ditahqiq oleh Ahmad ‘Ali> ‘Ubaid dan H{{asan Ahmad Aga>, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), III:169.
[160] az-Z}ahabi, al-Kasyif fi Ma’rifah Man Lah Riwayah fi al–Kutub as-Sittah,III:476.   
                [161] Al-‘Asqalani, al-Isabah fi Tamyiz as}-S{ahabah, (Beirut: Dar Sadir, 1328 H), II: 36.
[162]Abu Daud as-Sijistani, Sunan Abu Daud, (Beirut: Dar al-Fikr, 1999), II: 158-159.
[163]Al-Baqarah (2): 196.
                [164] As}-S{an’a>ni, Subul as-Sala>m, (Ttp: Maktabah Dahlan, t.t.), II: 179.
[165]Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Andalasi, Nazmul al-Khulashoh Alfiyyah Ibnu Malik, (Surabaya: Al-hidayah, t.t ) hlm. 53.
 
[166]Mus}t}afa> al-Ghalayni, Jami ad-Durus al-‘Arabiyah,, (Sudan, Beirut 1987 M / 148 H), III: 244-245.
[167]Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Andalasi, Nazmul al-Khulashoh Alfiyyah Ibnu Malik, (Surabaya: Al-hidayah, t.t ) hlm. 53.
[168]‘Abd al-Wahhab bin Ahmad bin Ali al-Ansari asy-Syafi’i, al-Mizan al-Kubra, (Dar al-Fikr ), II: 234.
[169] Al-Ha>fiz Abu> Bakr Ah}mad bin al-H{usain bin ‘Ali al-Baihaqi>, as-Sunan al-Kubra>,IV: 349.
unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Hukum Umroh Studi Komparasi Antara Mazab Maliki dan Mazhab Syafi'i"