KOMUNIKASI DAKWAH UKKI (UNIT KEGIATAN KEROHANIAN ISLAM) JAMA’AH AL KAUTSAR TERHADAP MAHASISWA IST AKPRIND YOGYAKARTA

unmetered
unlimited

KOMUNIKASI DAKWAH UKKI (UNIT KEGIATAN KEROHANIAN ISLAM) JAMA’AH AL KAUTSAR TERHADAP MAHASISWA IST “AKPRIND” YOGYAKARTA
 
BAB I

PENDAHULUAN

A.    Penegasan Judul

Upaya memahami konsep-konsep yang ada pada skripsi ini yang berjudul: “KOMUNIKASI DAKWAH UKKI (UNIT KEGIATAN KEROHANIAN ISLAM) JAMA’AH AL KAUTSAR TERHADAP MAHASISWA IST “AKPRIND” YOGYAKARTA. Maka akan dijelaskan istilah-istilah yang terdapat dalam judul tersebut, penjelasan beberapa istilah sebagai berikut:
1.      Komunikasi Dakwah
Komunikasi dakwah adalah suatu bentuk komunikasi yang khas dimana seorang (mubaligh/komunikator) menyampaikan pesan-pesan yang bersumber atau sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah dengan tujuan agar orang lain (komunikan) dapat berbuat amal shaleh sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan.[1]
Jadi pengertian komunikasi dakwah adalah suatu kegiatan untuk mengkomunikasikan pesan-pesan ajaran Islam. yang dilakukan oleh UKKI Jama’ah al Kautsar terhadap mahasiswa IST AKPRIND., dengan tujuan untuk merubah situasi dan kondisi komunikan menjadi lebih baik, taat (saleh), berakhlak mulia, dan   mempunyai norma-norma agama Islam. Kegiatan berkomunikasi dakwah dibatasi pada: Pengajian Rabu Pagi, Pengajian Jum’at Siang, Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni, Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), dan Pendampingan Agama Islam (PAI)
2.       UKKI Jama’ah al Kautsar
         UKKI Jama’ah al Kautsar merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak dalam bidang keagamaan yang bersifat religius bagi mahasiswa atau mahasiswi muslim di lingkungan Institut Sains dan Teknologi “AKPRIND” Yogyakarta. UKKI Jama’ah al Kautsar dijadikan sebagai wadah untuk mengkomunikasikan kegiatan dakwah dalam menanamkan nilai-nilai atau norma-norma agama Islam pada mahasiswa IST AKPRIND.[2]
3.  IST AKPRIND Yogyakarta
IST AKPRIND Yogyakarta adalah sebuah perguruan tinggi swasta yang berlatar belakang pendidikan sains dan teknologi, terletak di jalan Kalisahak, komplek POLRI, Balapan, Yogyakarta. dimana kegiatan-kegiatan UKKI Jama’ah al Kautsar diselenggarakan.
4.  Mahasiswa IST AKPRIND Yogyakarta
Mahasiswa dalam kamus ilmiah populer adalah siswa atau pelajar pada perguruan tinggi.[3] Maksud dari mahasiswa dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang belajar atau kuliah di IST AKPRIND. dalam penelitian ini penulis membatasi pada mahasiswa yang menjadi anggota jama’ah  pengajian al Kautsar.
Jadi maksud dari penegasan judul secara keseluruhan tersebut  adalah penelitian tentang pelaksanaan kegiatan Pengajian Rabu Pagi, Pengajian Jum’at Siang, Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni, Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), Pendampingan Agama Islam (PAI) yang dilaksanakan oleh UKKI Jama’ah al Kautsar periode 2004/2005 dalam rangka mengkomunikasikan dakwah Islam terhadap mahasiswa IST AKPRIND. Penelitian ini pada aspek subyek dibatasi pada kondisi keagamaan, dan hubungan kemasyarakatan; obyek dibatasi pada pandangan obyek terhadap Da’i. Pada aspek materi dibatasi pada alasan mengapa materi itu diberikan dilihat dari aspek kontekstual. Pada aspek metode dibatasi pada tentang alasan mengapa metode tertentu yang digunakan dan pada aspek media dibatasi pada tentang alasan mengapa menggunakan media dan media apa saja yang digunakan. 

B.     Latar Belakang Masalah

Komunikasi Islam sebagai suatu dakwah, melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu kewajiban bagi seluruh muslim dimanapun mereka berada menurut kemampuannya. Hal ini pula dapat merupakan kewajiban bagi umat secara keseluruhan. Oleh karena itu didalam komunikasi dakwah Islam, adalah perjuangan menegakkan yang ma’ruf terhadap yang munkar, perjuangan menegakkan yang haq menghapuskan kebathilan.
Oleh karenanya dakwah sebagai komunikasi dalam Islam, dapat dikategorikan sebagai jihad, jihad bukan hanya semata-mata peperangan, tetapi mempunyai arti yang lebih luas termasuk menyiarkan dan menyampaikan ideologi, pengetahuan serta ajaran-ajaran kebenaran kapada manusia.[4]
Kewajiban berdakwah ini ditegaskan oleh Allah dalam firmannya:
ولتكن منكم امة يدعون الى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر والئك هم المفلحون. (ال عمران : 104)
Artinya: “Dan hendaklah diantara kamu ada sebagian umat yang menyeru kepada kepada kebajikan dan mencegah kemunkaran, merekalah orang-orang yang beruntung”.[5] (Q.S. Ali-Imran : 104)
Hal di atas dapat dipahami mengingat misi utama dakwah adalah mengembalikan manusia pada fitrahnya, mengembalikan fungsi hidupnya sebagai kholifah dan mengembalikan fungsi hidupnya semata-mata mengabdi kepada Allah.
Dakwah merupakan kewajiban bagi umat Islam, baik secara individu maupun secara kelompok, secara individu dilakukan oleh perorangan yang tidak terikat dengan suatu lembaga atau organisasi, adapun secara kelompok dilakukan oleh suatu organisasi, lembaga atau unit kerohanian, maka lembaga dakwah Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND sebagai salah satu wadah kegiatan  bagi mahasiswa, yang ada di IST AKPRIND, merasa perlu untuk malaksanakan kegiatan dakwah terhadap mahasiswa IST AKPRIND, sebagai wujud mengkomunikasikan dakwah Islamiyah
Dengan adanya kegiatan dakwah, diharapkan apa yang telah disampaikan kepada mahasiswa secara otomatis akan menjadikan agama sebagai pedoman, pengendalian sikap, tingkah laku, serta menjalankan perintahnya serta menjauhkan segala larangannya dengan penuh kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.
UKKI Jama’ah al Kautsar merupakan unit kegiatan mahasiswa yang bergerak dalam bidang keagamaan yang bersifat religius bagi mahasiswa atau mahasiswi muslim dilingkungan Institute Teknologi Sains “AKPRIND” Yogyakarta yang berfungsi sebagai lembaga dakwah kampus. UKKI Jama’ah al Kautsar mempunyai peranan dan tanggung jawab yang sangat besar atas kegiatan religius yang bernafaskan Islam. Lewat lembaga inilah diharapkan kreatifitas dan inisiatif mahasiswa muslim yang dikembangkan menjadi media bagi pengembangan agama Islam dapat meningkatkan kemurnian nilai-nilai dan norma Islam dilingkungan kampus yang pada akhirnya diharapkan mampu membentuk generasi muda Islam yang berakhlakul karimah.
Namun demikian, lembaga ini tidak hanya bergerak dalam bidang keagamaan saja tapi juga non keagamaan seperti sosial kemasyarakatan dan pengembangan intelektual.
Melihat kenyataan yang ada, mahasiswa IST AKPRIND Yogyakarta bahwa dari sejumlah pemeluk agama Islam yang ada belum seluruhnya memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam secara baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa IST AKPRIND dilihat dari segi ekonomi menengah keatas, tingkat keberagamaannya masih sangat rendah, dasar pendidikan umum dan lingkungan sosial kemasyarakatan yang minim akan ajaran agama Islam. Maka dalam kondisi tersebut, Jama’ah al Kautsar perlu mengadakan kegiatan sebagai wujud komunikasi dakwah Islamiyah yang berfungsi untuk menambah, mendalami dan mengamalkan ajaran agama Islam, seperti pengajian rutin satu minggu sekali,  Pengajian Rabu Pagi, Pengajian Jum’at Sore, Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni, Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), Pendampingan Agama Islam (PAI).
Kegiatan dakwah yang dilakukan oleh UKKI Jama’ah al Kautsar telah memberikan sumbangan yang berarti bagi terciptanya suasana kampus penuh dengan norma-norma Islam serta sumbangan bagi syiar Islam khususnya dilingkungan kampus.
Berdasarkan hal tersebut diatas penulis terdorong untuk mengadakan penelitian guna mengetahui bagaimana pelaksanaan kegiatan komunikasi dakwah yang diterapkan oleh UKKI Jama’ah al Kautsar terhadap mahasiswa IST AKPRIND, dilihat dari unsur-unsur yang meliputi: subyek, obyek, materi, metode, media komunikasi dakwahnya. Namun penulis membatasi kegiatan komunikasi dakwah yang dilakukan pada periode 2004/2005.
C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mengemukakan rumusan masalah sebagai berikut, yaitu:
Bagaimana pelaksanaan kegiatan Pengajian Rabu pagi dan Jum’at siang, Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni, Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), dan Pendampingan Agama Islam (PAI) yang dilaksanakan oleh  UKKI Jama’ah al Kautsar dalam rangka mengkomunikasikan dakwah Islam terhadap mahasiswa IST AKPRIND  Yogyakarta.

D.    Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian sebagai berikut
Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan pengajian Rabu pagi dan Jum’at siang, Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni, Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), Pendampingan Agama Islam (PAI) yang dilaksanakan oleh UKKI Jama’ah al Kautsar dalam rangka mengkomunikasikan dakwah Islam terhadap mahasiswa IST AKPRIND Yogyakarta.

E.     Kegunaan Penelitian

1.      Secara teori: hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu dakwah terutama yang berkaitan dengan perkembangan unit kegiatan kerohanian Islam.

2.      Secara praktis:

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil kebijakan dalam perkembangan UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND.

b.  Sebagai motivasi bagi UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND agar tetap konsisten sebagai sebagai media dakwah Islamiyah dalam mengembangkan agama Islam di IST AKPRIND.

F.     Kerangka Pemikiran Teoritik

1.                              Tinjauan Tentang Komunikasi
a.  Pengertian Komunikasi
Secara etimologi komunikasi berasal dari bahasa inggris: “communication” yang menurut Astrid S. Susanto  Istilah communication berasal dari perkataan latin “communicare” yang artinya “berpartisipasi” ataupun “memberitahukan”. [6]
 Secara terminologi banyak yang mendefinisikan diantaranya adalah:
1). Menurut Carl I. Hovland, yang dikutip oleh Prof. Drs. Onong Uchjana Effend,MA, Ilmu Komunikasi adalah upaya yang sistemis untuk merumuskan secara tegas asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap.[7]
2). Menurut Prof. H. Muhammad Daud Ali, SH dan H. Habibah Daud, SH, komunikasi adalah proses penyampaian lambang bahasa(oleh komunikator) untuk mengubah tingkah laku manusia.[8]
Beberapa definisi diatas dapat didisimpulkan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tak langsung melalui media.
b.      Komponen-Komponen Komunikasi
Upaya memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilancarkan secara efektif, maka harus menunjukkan lima unsur komunikasi yaitu:
1).  Komunikator (comunicator, source, sender) adalah orang yang menyampaikan pesan kepada komunikan. Dalam Penelitian ini yang menjadi komunikan adalah Da’i atau para anggota UKKI Jama’ah Al Kautsar
2).  Pesan (massage) adalah suatu bentuk pernyataan yang didukung oleh lambang. Pesan ini berupa materi-materi dakwah yang disampaikan oleh Da’i.
3).  Media adalah sarana atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya. Dimana dalam penelitian ini medianya melalui media lisan, tulisan, audio visual, akhlak,lukisan.
4). Komunikan adalah orang yang menerima pesan. Didalam penelitian ini yang menerima pesan adalah mahasiswa atau mahasiswi  IST AKPRIND.
5).  Efek adalah dampak sebagai pengaruh dari pesan. Pesan yang disampaikan kepada audiens disini diharapkan dapat meningkatkan kondisi keagamaan yang semula rendah menjadi tinggi, setelah mereka menerima ajaran-ajaran apa yang diberikan dari UKKI Jama’ah Al Kaustar IST AKPRIND.
c.       Bentuk-Bentuk Komunikasi
Bentuk-bentuk komunuikasi berdasarkan komunikan yang dihadapi komunikator, komunikasi tatap muka dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu komunikasi antar persona dan komunikasi kelompok.
1).  Komunikasi Antar Persona
            Komunikasi antar persona (persona communication) adalah komunikasi antara komunikator dengan seorang komunikan.[9]Komunikasi ini dianggap paling efektif dalam hal mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang, karena sifatnya dialogis atau percakapan. Arus balik bersifat langsung, sehingga komunikator mengetahui tanggapan komunikan ketika itu juga, komunikator mengetahui apakah komunikasinya itu positif atau negatif, berhasil atau tidak. Jika tidak komunikator dapat meyakinkan komunikan ketika itu juga karena ia dapat memberi kesempatan kepada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya.

2).  Komunikasi Kelompok

               Komunikasi kelompok (Group Communication) adalah komunikator dan komunikan berada dalam situasi saling berhadapan dan saling melihat .komunikasi kelompok menimbulkan arus balik langsung.[10]
Komunikasi kelompok diklasifikasikan menjadi dua yaitu:
a). Komunikasi Kelompok Kecil
Suatu komunikasi dinilai komunikasi kelompok kecil (Small group communication) bila situasi komunikasi seperti itu dapat diubah menjadi komunikasi antar persona dengan setiap komunikan. Dalam komuniaksi kelompok kecil komunikator menunjukkan pesannya kepada benak atau pikiran komunikan, misalnya kuliah, ceramah, diskusi, seminar dan rapat.dalam situasi komunikasi sepertri itu logika berperan penting. Adapun prosesnya berlangsunng secara dialogis dan sirkuler. komunikan pada kelompok kecil ini bersifat homogen.
b). Komunikasi Kelompok Besar
Suatu situasi komunikasi dinilai sebagai komunikasi kelompok besar (large group communication) jika antar komunikator dan komunikan sukar terjadi komunikasi antar persona. Kecil kemungkinan untuk terjadi dialog seperti halnya komunikasi kelompok kecil. Pada komunikasi seperti itu para komunikan menerima pesan yang disampaikan komunikator lebih bersifat emosional, lebih-lebih apabila komunikannya bersifat heterogen atau beragam jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, usia dan pengalamannya.
Pesan yang disampaikan komunikator dalam situasi komunikasi kelompok besar, ditujukan kepada hati atau perasaannya, misalnya kegiatan rapat raksasa. Komunikan pada kelompok besar ini bersifat heterogen.[11]
d.      Komunikasi Dakwah
Komunikasi dakwah adalah komunikasi yang unsur-unsurnya disesuaikan visi dan misi dakwah. Menurut Toto Tasmara, bahwa komunikasi dakwah adalah suatu bentuk komunikasi yang khas dimana seseorang komunikator menyampaikan pesan-pesan yang bersumber atau sesuai dengan ajaran al Qur’an dan Sunnah, dengan tujuan agar orang lain dapat berbuat amal shaleh sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan.
Jadi dari segi proses komunikasi dakwah hampir sama dengan komunikasi pada umumnya, tetapi yang membedakan hanya pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Adapun tujuan komunikasi pada umumnya yaitu mengharapkan partisipasi dari komunikan atas ide-ide atau pesan-pesan yang disampikan oleh pihak komunikator sehingga pesan-pesan yang disampaikan tersebut terjadilah perubahan sikap dan tingkah laku yang diharapkan, sedangkan tujuan komunikasi dakwah yaitu mengharapkan terjadi nya perubahan atau pembentukan sikap atau tingkah laku sesuai dengan ajaran agama Islam.
Harold D. Lasswell pernah mengungkapkan suatu pertanyaan untuk terpenuhinya suatu komunikasi melalui kata-kata bersayab, yaitu:who says what to whom in what channel with what effect.
Apabila pertanyaan tersebut diatas dapat kita jawab, maka komunikasi dapat kita jawab, komunikasi dakwahpun dapat memenuhi criteria tersebut:
Who                            : Setiap pribadi muslim
Says what                    :  Kepada manusia pada umumnya (didalam penelitian ini adalah mahasiswa yang mengikuti kegiatan komunikasi dakwah yang diterapkan oleh UKKI Jama’ah Alkautsar)
In what Channel         : Memakai media atau saluran dakwah apa saja yang syah secara hukum, didalam penelitian ini media yang digunakan adalah UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND.
With what Effect        :  Terjadinya perubahan dalam pengetahuan pemahaman dan tingkah laku atau perbuatan (amal shaleh) sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan oleh komunikasi.[12]
Dengan demikian unsur-unsur serta proses komunikasi dakwah hampir sama dengan unsur-unsur dan proses komunikasi pada umumnya.

e.       Dasar dan Hukum Komunikasi Dakwah

Pelaksanaan komunikasi dakwah didasarkan pada ajaran agama Islam yaitu: alqur’an dan hadist. Adapun ayat yang menjadi dasar pelaksanaan komunikasi dakwah didalam lingkup mahasiswa adalah:
ولتكن منكم امة يدعون إلىالخير ويأ مرون بالمعروف وينهون عن المنكر و أولئك هم المفلحون{الامران 104}
Artinya: “dan hendaklah diantara kamu ada sebagian umat yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemunkaran, merekalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S Ali-Imron:104)
من رأ منكم منكرا ﻓﻠﻳﻐﻴﺮﻩ ﺑﻴﺩﻩ ﻓﺄنلم يستطع فبلسا نه ﻓﺄن لم ﻳﺴﺘﻃﻊ ﻓﺒﻘﻠﺒﻪ سوﺫﻟﻚ ﺍﺿﻌﻑ ﺍﻻﻳﻣﺎﻥ
Artinya: “ barang siapa diantara kamu melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubahnya (mencegahnya) dengan tangannya, apabila ia tidak sanggup, maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman” (H.R. Bukhari)[13]

f.       Tujuan Komunikasi Dakwah

Islam adalah agama yang berorientasi kepada amal shaleh, dan menghindarkan pemeluknya maupun bukan pemeluknya dari perbuatan atau amal yang munkar. Amal shaleh yang dimaksudkan sudah barang tentu semua tingkah laku yang selaras sesuai dengan pedoman-pedoman dasar agama,yaitu al Qur’an dan Sunnah Rosulullah
Salah satu tugas Rosulullah Muhammad SAW adalah membawa amanah suci berupa menyempurnakan akhlak yang mulia kepada manusia. Dan akhlak yang mulia ini tidak lain adalah Al Qur’anul karim itu sendiri sebab hanya kepada Qur’an sajalah setiap pribadi muslim itu berpedoman.tujuan dakwah dalam arti luas adalah menegakkan ajaran agama Islam pada setiap insan baik individu maupun masyarakat. Allah berfirman:
والله يدعو الى الجنة والمغفرة باذنه ويبين ايته للناس لعلهم يتذكرون (البقرة: 221)
                  Artinya: “Dan Allah menyeru kepada jalan ke surga dan ampunan dengan izin-Nya, dan dia menerangkan ayat-ayatnya kepada manusia agar manusia memperoleh pelajaran.” (Q.S Al-Baqarah:   221)[14]
Firman Allah tersebut secara tegas mengajak manusia agar senantiasa beramak shaleh yang menyebabkannya dapat memasuki surga Allah. Disamping itu, Allah juga mengajak manusia menuju kepada ampunan-Nya, jangan menyekutukan-Nya serta jangan memenuhi hawa nafsu.
Terwujudnya Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin bagi seluruh alam, tidak lepas dari usaha aktivitas dakwah itu sendiri dari segi hirarki, tujuan dakwah dapat dibagi menjadi dua macam yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dakwah adalah merupakan sesuatu yang hendak dicapai dalam seluruh aktivatas dakwah. Sedangkan tujuan khususnya yaitu agar seluruh pelaksanaan komunikasi dakwah dapat jelas diketahui kemana arahnya ataupun jenis kegiatan apa yang hendak dikerjakan kepada siapa berdakwah dengan cara bagaimana dan sebagainya secara terperinci sehingga tidak terjadi overlappingantara juru dakwah yang satu dengan yang lain yang hanya disebabkan masih umumnya tujuan yang hendak dicapai.[15]
Dalam konteks ini, dakwah tidak hanya sekedar berkhotbah di masjid,tetapi dakwah merupakan suatu aktivitas pribadi muslim dalam segala aspeknya. Dakwah dapat menyorot semua bidang.
Dengan demikian, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa tujuan dari komunikasi dakwah itu adalah:
1). Bagi setiap pribadi muslim: dengan melakukan dakwah berarti     bertujuan untuk melaksanakan salah satu kewajiban agamanya, yaitu Islam
2). Tujuan daripada komunikasi dakwah ini, adalah terjadinya   perubahan tingkah laku, sikap atau perbuatan yang sesuai dengan pesan-pesan (risalah) Alqur’an dan sunnah.

g.      Unsur-Unsur Komunikasi Dakwah

Kalau diperhatikan secara seksama dan mendalam, maka pengertian dari pada dakwah itu tidak lain adalah komunikasi. Hanya saja yang secara khas dibedakan dari bentuk komunikasi yang lainnya, terletak pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan adanya usaha agar tercapai tujuan tersebut yang meliputi unsur-unsur komunikasi dakwah yang telah dijelaskan diatas bahwa antara komunikasi dakwah dengan dakwah hampir sama oleh karena itu, unsur-unsur komunikasi dakwah sama isinya dengan unsur-unsur komunikasi dakwah. 
Unsur-unsur pelaksanaan kegiatan komunikasi dakwah adalah sesuatu yang harus ada, bagian-bagian yang terkait, yang membentuk satu kesatuan fungsi dalam pelaksanaan kegiatan komunikasi dakwah. Unsur-unsur tersebut adalah:
1). Subyek Komunikasi Dakwah
                  Suatu kegiatan dakwah akan mencapai tujuan komunikasi dakwah yang sesuai dengan ajaran agama Islam, maka membutuhkan beberapa persyaratan diantaranya Da’i, yang mempunyai tugas memberikan masukan-masukan demi terciptanya jiwa yang baik kepada sasarannya. Subyek dakwah atau Da’i itu sendiri berarti orang yang melaksanakan tugas-tugas dakwah.
            Menurut Ahmad Suyuti Da’i atau  مبالغ adalah berasal dari bahasa Arab  ” بلغ– يبلغ”yang berarti orang yang menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat penerima dakwah.[16]
                        Menurut Muriah dalam bukunya yang berjudul Metodologi Dakwah Kontemporer bahwa Da’i dibagi menjadi dua kriteria yaitu umum dan khusus. Secara umum adalah setiap muslim dan muslimat yang berdakwah sebagai kewajiban yang melekat tidak terpisahkan dari misinya dari sebagai penganut Islam sesuai dengan perintah “بلغو عنىولوآية”. Sedangkan secara khusus adalah mereka yang mengambil keahlian khusus dalam bidang dakwah Islam dengan kesungguhan dan qodrah khasanah.[17]
            Dari beberapa definisi di atas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa Da’i adalah orang yang menyampaikan ajaran Islam atau risalah Allah kepada seseorang atau kelompok sebagai sasaran dakwahnya dengan cara lisan, tulisan, ataupun perbuatan yang nyata.

Syarat-syarat Da’i atau mubaligh

Adapun persyaratan yang harus dimiliki oleh seorang Da’i atau mubaligh, antara lain:
a). Meguasai tentang isi al-qur’an dan sunnah Rosul serta hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam.
b). Mempunyai kepribadian yang taqwa kepada Allah
c). Mengetahui dan menguasai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada hubungannya dengan berdakwah, misalnya perbandingan agama, ilmu jiwa, ilmu sosial dan ilmu pengetahuan umum lainnya.
d).  Bertaqwa sesuai dengan garis-garis Dinul Islam.[18]
2).  Obyek Komunikasi Dakwah
            Obyek komunikasi dakwah adalah orang-orang yang dituju oleh kegiatan dakwah, Sebelum kita mempengaruhi seseorang yang menjadi sasaran dakwah kita, masyarakat atau orang yang bersangkutan hendaknya dipelajari betul-betul kondisi dan keadaannya. Untuk ini seorang Da’i atau mubaligh hendaknya memperlengkapi dirinya dengan pengetahuan ilmu jiwa, ilmu masyarakat, ilmu politik, ilmu sejarah, antropologi, dan lain-lain.
            Untuk mengetahui keadaan seseorang atau masyarakat, dilakukan klasifikasi (pembagian) seseorang menurut derajat fikirannya:
a). Ummat yang berfikir kritis
Tergolong orang-orang yang berpendidikan dan orang-orang yang berpengalaman. Orang-orang yang hanya dapat dipangaruhi, jika fikirannya dapat menerima dengan baik. Golongan ini disebut ummat yang rational.
b). Ummat yang mudah dipengaruhi
Suatu masyarakat yang gampang dipengaruhi oleh faham baru tanpa menimbang-nimbang secara matang apa yang dikemukakan kepadanya. Golongan ini dapat dimasukkan dalam kategori ummat yang irrational.
c). Ummat yang bertaqlid
Golongan yang fanatik buta berpegang kepada tradisi dan kebiasaan turun temurun. Yang dipandangnya benar hanya kebiasaan yang diwarisi dari nenek moyangnya, tanpa menyelidiki salah atau benarnya, sebaliknya segala yang bertentangan dengan tradisi nenek moyangnya dianggapnya salah. Ada pula orang yang bertaqlid kepada suatu faham atau pendirian, suatu agama atau aliran, yakni orang yang mengikuti sesuatu tanpa dan fanatik kepada pendirian itu.[19]
3).  Materi Komunikasi Dakwah
Secara garis besar materi komunikasi dakwah itu adalah semua yang ada pada ajaran agama Islam itu sendiri yang meliputi tiga hal pokok yaitu: Aqidah (keimanan), Syari’ah (keIslaman), Akhlak (Ihsan).[20]
Adapun ditinjau dari segi dan tujuan dakwahnya adalah:
a). Tujuan Aqidah : bertujuan menanamkan aqidah (keyakinan)  yang    mantap dalam hati setiap muslim sehingga keyakinan tentang ajaran Islam tidak lagi dicampuri dengan sikap keragu-raguan.
b). Tujuan Syariah : bertujuan menanamkan kepatuhan terhadap hukum-hukum yang disyari’atkan oleh Allah SWT.
c). Tujuan Akhlak :bertujuan membentuk kepribadian muslim yang berbudi pekerti yang luhur, dan dihiasi dengan sifat-sifat terpuji dan bersih dari sifat-sifat tercela.[21]
Merujuk dari ketiga materi dakwah diatas akhlak merupakan manifestasi Iman, Islam, dan Ihsan sebagai refleksi sifat dan jiwa yang secara spontan dan terpola pada diri seorang sehingga melahirkan perilaku yang konsisten tergantung pada pertimbangan berdasarkan keinginan tertentu.[22]
Dalam artian, ketika semakin mantap dan kuat keimanan seseorang maka semakin taat beribadah dan semakin baik pula akhlaknya. Dengan demikian akhlak tidak dapat dipisahkan dari ibadah, juga tidak dapat dipisahkan dari akidah (keimanan) karena kualitas akidah akan sangat mempengaruhi pada kualitasa ibadah yang kemudian juga dapat berpengaruh pada kualitas akhlak.
Dalam ajaran Islam, akhlak merupakan salah satu ajaran inti dalam Islam, fenomena ini dikuatkan dengan hati yang disabdakan oleh hati Muhammad SAW
إنما بعثت لأتمم مكارم الاخلاق (رواه البخارى)
Artinya : “Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. (HR. Bukhori dan abu Hurairah r.a)[23]
Pada akhirnya tujuan pokok pelaksanaan komunikasi dakwah Islamiyah adakanlah mengajak umat manusia kejalan yang benar agar manusia menyembah kapada Allah SWT semata dan bertaqwa. Hal tersebut sesuai dengan perintah Allah SWT dalam sebuah firmannya:
ياايهاالناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم والذين  من قبلكم لعلكم تتقون (البقرة: 17)
Artinya: “Hai manusia sembahlah Allah yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Albaqarah :17).[24]
4). Metode komunikasi Dakwah
Metode komunikasi dakwah yaitu cara-cara yang dipergunakan seorang Da’i untuk menyampaikan materi dakwah, yaitu al Islam atau serentetan kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu. Pada prakteknya komunikasi dakwah pada mahasiswa ini dituntut agar para Da’i untuk bisa memililh metode yang tepat untuk memberikan pengarahan pada mahasisaw. Karena situasi dan kondisi mahasiswa yang berbeda-beda, maka sudah barang tentu penggunaan metode ini tergantung pada situasi dan kondisi mahasiswanya. Maka metode yang digunakan, diantaranya adalah: ceramah, tanya jawab, diskusi dan demonstrasi atau peragaan.
a).  Metode Ceramah
Metode ceramah sering disebut metode informasi, yakni penerangan secara lisan oleh mubaligh atau Da’i sebagai komunikator kapada kelompok mahasiswa sasaran sebagai komunikan. Metode ini sangat tepat apabila sasaran yang dihadapi merupakan kelompok yang berjumlah besar dan diperlukan secara sekaligus.
b).  Metode Tanya Jawab
Metode ini dapat dikatakan lanjutan dari metode ceramah, yaitu proses tanya jawab antara mubaligh dengan peserta pengajian. Sifatnya memang sama dengan metode ceramah., dalam hal sama-sama menggunakan lisan.hanya bedanya, dalam metode ceramah peranan aktif berada pada mubaligh, sedangkan dalam metode tanya jawab peranannya bisa timbal balik.
c).   Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu bentuk komunikasi gagasan yang dilakukan dalam suasana demokratis. Dari suatu diskusi dapat diperoleh dari membaca atau mendengar suatu ceramah.
d).  Metode Demonstrasi/ Peragaan
Metode Demonstrasi yaitu memberi contoh atau memperagakan atau mempertunjukkan. Metode ini lebih tepat digunakan untuk materi yang menyangkut praktek ibadah, seperti cara berwudlu, praktek sholat, cara merawat jenazah dari mulai memandikan hingga menguburkan, dan lain sebagainya.
5). Media Komunikasi dakwah
Media komunikasi dakwah adalah sarana dan prasarana yang digunakan untuk menyampaikan materi komunikasi. Maka media komunikasi merupakan alat obyektif yang menjadikan saluran menghubungkan ide dengan sasaran komunikasi. Menurut bentuk penyampaiannya ada beberapa bentuk media yang dapat digunakan, antara lain:
a).  Media Lisan:
Media lisan adalah media komunikasi dengan menggunakan potensi hati, lisan, dan pikiran. Materi dari metode ini berupa: debat, dialog, diskusi, ceramah, pengajian, seminar-seminar, serta pemberian nasihat secara pribadi.[25] 
b). Media Tulisan
Media tulisan adalah metode yang digunakan dengan perantaraan tulisan, misalnya: buku-buku, majalah, buletin, brosur, surat kabar, kuliah-kuliah tertulis, spanduk, dan pamflet.[26]
c). Media Akhlak
Media akhlak adalah penyampaian dengan menggunakan perbuatan nyata atau dengan contoh-contoh, misalnya silaturrohmi, kebersihan dan lain-lain.
d). Media Lukisan
Media lukisan adalah media dengan menggunakn gambar-gambar hasil dari seni lukis, foto, cerita. Bentuk lukisan menarik perhatian orang, untuk dipakai menggambarkan suatu maksud ajaran yang ingin disampaikan kepada orang lain.
e). Media Audiovisual
Media audio visual adalah suatu media penyampaian untuk merangsang penglihatan dan pendengaran sasaran dakwah, bentuk media ini adalah: TV, sandiwara, radio.
Sedangkan masdar helmy membaginya empat macam:
(1)   Media tercetak, yaitu segala brang cetakan seperti: surat kabar,majalah, dan buku.
(2)   Media visual, yaitu media yang dilihat seperti: Tv, foto, lukisan.
(3)   Media auditif, yaitu media yang didengar seperti: radio, tape, suara film
(4)   Media pertemuan, yaitusegala macam pertemuan seperti: arisan, halal bihalal, rapat-rapat, konfrensi
6). Pengajian
Salah satu dari bermacam-macam bentuk pelaksanaan kegiatan komunikasi dakwah adalah pengajian. Pengajian merupakan pendidikan non formal yang khusus dalam bidang agama.[27]
Menurut Hiroko Hirokasi pengertian pengajian adalah perkumpulan informal yang bertujuan mengajarkan dasar-dasar agama pada masyarakat umum.[28]
Berdasarkan dua pengertian diatas dapat difahami bahwa pengajian adalah penyelenggaraan belajar agama Islam dalam masyarakat yang diberikan oleh Da’i terhadap orang dalam waktu dan tempat tertentu, dedngan tujuan agar mengerti, memahami, akan ajaran Islam kemudian mengamalkan.
7). Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT)
            Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) dilaksanakan tidak dapat ditentukan waktunya, kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menambah kerohanian yang mungkin selama menjalankan tugasnya banyak kekurangan untuk itu kegiatan ini juga unuk refleksi diri agar UKKI Jama’ah al Kautsar bertambah maju, juga untuk training kepengurusan, kegiatan ini sangat cocok untuk mengkomunikasikan dakwah Islam karena kegiatan ini berlangsung semalam suntuk. Sehingga berbagai macam kegiatan yang selama kepengurusan UKKI belum terlaksanakan disini akan dilaksanakan, pesertanya dikhususkan bagi para pengurus dan sekalligus untuk menyatukan perbedaan visi dan misi dalam kepengurusan UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND.[29]
8). Pendampingan Agama Islam
            Pendampingan Agama Islam ini diberikan diluar jam kuliah, yang mana bertujuan untuk menambah pemahaman tentang agama Islam, dilihat juga dari kondisi mahasiswa IST AKPRIND yang sebagian besar berlatar belakang pendidikan umum, walaupun PAI tidak masuk dalam sks tapi PAI diwajibkan bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah agama Islam, karena dalam hal ini mata kuliah agama Islam hanya dua sks, demikian sehingga pengurus UKKI Jama’ah al Kautsar merasa perlu untuk menambah pegetahuan tentang agama Islam.[30]

G.    Metode Penelitian

Pengertian metode adalah cara untuk menyampaikan suatu maksud. Berarti metode penelitian adalah cara untuk mencapai tujuan penelitian.[31]
1. Subyek dan Obyek Penelitian
a.       Subyek penelitian adalah sumber tempat memperoleh keterangan penelitian.[32] Adapun yang menjadi subyek penelitian disini adalah:
1). Para pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar.
2). Anggota UKKI Jama’ah Al Kautsar
3). Da’i
b.      Obyek penelitian adalah kegiatan komunikasi dakwah UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND.
2.  Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dimaksud adalah suatu cara yang ditempuh untuk memperoleh data yang lengkap, akurat, obyektif dan dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian.
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penekitian ini adalah:
a.       Metode Interview/ wawancara
Metode interview dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewe) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Bentuk wawancara yang digunakan bentuk wawancara bebas terpimpin, dimana informan diberikan kesempatan untuk mengungkapkan pendapat serta jawaban seluas-luasnya. Metode ini disamping digunakan untuk memperoleh data secara langsung dari sumber data juga untuk memperkuat atau memperjelas data tertulis, yaitu data tentang kegiatan komunikasi dakwah UKKI Jama’ah al Kautsar terhadap mahasiswa IST AKPRIND serta gambaran umum tentang UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND.
Informan yang diwawancarai adalah:
1). Ketua dan pengurus UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND
2). Anggota UKKI Jama’ah al Kautsar
3). Da’i
b.      Metode observasi
Metode observasi digunakan untuk pencatatan dan pengamatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki.[33] Jenis observasi  yang gunakan adalah jenis observasi non partisipan, yakni peneliti tidak terlibat langsung didalam setiap kegiatan yang berlangsung sekalipun penulis datang dan mengikutinya, metode ini untuk memperkuat serat menguji kebenaran data yang telah didapat dari interview dan dokumentasi.
Dalam hal ini yang diobservasi adalah: sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan komunikasi dakwah yang dilakukan oleh UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND.
c.       Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah penyelidikan yang ditujukan pada penguraian dan penjelasan apa yang telah lalu melalui sumber-sumber dokumen. Jelasnya metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data dengan cara mempelajari catatan-catatan, arsip-arsip dan dokumen-dokumen yang ada didaerah penelitian.[34] Metode ini penulis gunakan untuk mengumpulkan data-data tentang catatan-catatan UKKI Jama’ah al Kautsar, yaitu:
1). Hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan komunikasi dakwah terhadap mahasiswa IST AKPRIND.
2).  Program kerja dan bentuk-bentuk kegiatan.
3).  Sejarah dan tujuan berdirinya.
4).  Struktur kepengurusan
5).  Keadaan pengurus dan anggotanya
3.  Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbarui dan konsep validitas dan realibilitas dan disesuaikan dedngan tuntunan pengetahuan, kriteria dan paradigma sendiri. Karena dalam penelitian menggunakan metode diskriptif kualitatif untuk meningkatkan kepercayaan datanya maka menggunakan teknis keabsahan data dengan cara:
a.       Triangulasi, yaitu pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sesuatu dari luar atau dari sumber lain untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data yang telah ada. Berguna untuk membandingkan dan mengecek balik kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda hal ini dicapai dengan:
1). Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2)      Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen
b.      Pengecekan anggota: yaitu anggota yang terlibat dalam proses pengumpulan data yang sangat penting dalam pemeriksaan derajat kepercayaan. Yang dicek dengan anggota yang terlibat meliputi data, kategori analitis, penafsiran dan kesimpulan.
Pengecekan anggota yaitu para peserta pelaksana kegiatan pengajian UKKI Jama’ah al Kautsar atau anggota yang terlibat dalam pengajian dapat dimanfaatkan untuk memberikan informasi atau data-data tentang pelaksanaan kegiatan pengajian. Pengecekan anggota ini dilakukkan dengan bentuk diskusi dengan bentuk diskusi dengan anggota-anggota atau peserta pengajian yang terlihat cukup berpengetahuan dan berpengalaman.
4.  Metode Analisis Data
Metode analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. [35]
Tujuan analisi data adalah menyederhanakan data dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan dengan jalan data yang dikumpulkan dan diklarifikasikan.
Dalam penganalisaan data yang telah terkumpul, dalam hal ini penulis akan menggunakan teori-teori pemikiran yang telah dikemukakan, dimana data-data yang telah terkumpul akan disampaikan apa adanya.
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapatlah penyusun ambil beberapa kesimpulan, yaitu:
Dengan menggunakan metode Ma’āni al-Hadisׂ, hadis tentang keuntungan jual beli tidak hanya bisa dipahami secara tekstual tetapi juga dapat dipahami secara kontekstual. Faktor historis pada saat disabdakan hadis ini, sangat membantu dalam memahami hadis secara benar. Para ulama berbeda pendapat hadis keuntungan jual beli. Dalam memahami hadis ini mereka ada yang memahami secara tekstual hadis, ada juga yang memahaminya secara kontekstual. Secara tekstual hadis tersebut
  1. Penutup
Alhamdulillah, rasa syukur kehadirat Ilahi Rabbi atas rahmat dan Inayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan segala kemampuan yang ada. Penulis menyadari masih banyak kesalahan dan kekurangan yang masih diperlukan saran dan kritik dari berbagai pihak terhadap skripsi ini.
Harapan penulis, kajian ini tidak cukup hanya sampai di sini, tetapi mengharapkan pengembangan lebih lanjut dari kajian ini, dan dalam sebuah pasar diharapkan adanya persaingan yang sehat. Namun persaingan sehat disini tidak berarti persaingan sempurna, tetapi suatu persaingan yang bebas dari penimbunan, penyelundupan, dan lain sebagainya sehingga akan terwujudnya suatu jalinan perdagangan yang sesuai dengan syari’at Islam. Maka sebagai masyarakat muslim sudah seharusnya dalam melakukan jual beli tidak hanya mengejar keuntungan duniawi semata, tetapi juga keuntungan ukhrawi, yaitu bertindak secara jujur dan amanah, bukan sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Amrullah, Metodololgi Dakwah Islam: Sistem Dan Teknik Dakwah, (Yogyakarta :masitda, 1986)
Ali, Daud Muhammad, Daud Habibah , Lembaga-Lembaga Islam Di Indonesia, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1995)
Amin, Mansur, Metode Dakwah Islam Dan Beberapa Keputusan Tetang Aktivatas Keagamaan, (Yogyakarta :Sumbangsih, 1980)
Arifin, M. Tatang, Menyusun Rencana Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafika, 1995)
Bachtiar, Wardi, Metodologi Ilmu Dakwah, (Jakarta: Logos, 1997)
Bahreisy, Salim, Terjemah Riadhus Shalihin II, (Bandung: PT. Al Ma’arif, 1986)
Departemen Agama RI, Alqur’an Dan Terjemahannya, (Jakarta :Yayasan Penyelenggaraan Penterjemah Alqur’an)
Djalaluddin, Muhammad, terjemah Mau’idhotul Mukminin, (Semarang: CV. Asy Syifa’, 1993).
Echols, E. John, Shadily Hasan, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta : Pt Gramedia)
Effendy, Uchjana Onong, Dinamika Komunikasi, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2000)
——————————, Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek, (Bandung Remaja Rosdakarya,2000)
Helmy, Masdar, Dakwah Dalam Alam Pembangunan, (Semarang :Toha Putra, 1973)
Horikashi, Hiroko, Kyai Dan Perubahan Sosial, (Jakarta: P3M, 1987)
Kuswata, Toha Agus, Kusumah Surya Kuswara, Komunikasi Islam Dari Zaman Ke Zaman,(Jakarta: Arikha Media Cipta, 1990).
IST AKPRIND Press, Buku Panduan pendampingan Agama Islam “Mengenal lebih Jauh tentang Islam”, (Yogyakarta: IST AKPRIND Press,2004)
Moleong, J. Lexy, Metodologi Ilmu Dakwah, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2000)
Muriah, Metode Dakwah Kontemporer, (Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2000)
Said, M, Tarjamah Al Qur’an Al Karim, (Bandung: Al Ma’arif, 1987)
Surachmat, Winarto, Pengantar Penelitian Ilmiah, (Bandung: Turisto,1980)
Syukir, Asmuni, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al ikhlas:1983)
Tasmara, Toto, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997)
UII Press Yogyakarta, ( Anggota IKAPI), Kemantapan Tauhid Dengan Ibadah Dan Akhlakul Karimah, ( Yogyakarta: UII Press, 1991)
UKKI Jama’ah Alkutsar, Mustah II, (Yogyakarta: Jama’ah Alkautsar IST AKPRIND, 2004)
Ya’kub, Hamzah, Publisistik Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1981)
Zein, Muhammad, Metode Pendidikan Agama Islam Pada Lembaga Non Formal, (Yogyakarta IAIN Sunan Kali Jaga, 1975)
Daftar Revisi
No
Halaman
Paragraf / Baris
Tertulis
Seharusnya
1.
5
Baris 2
Institut Teknologi Sains
Institut Sains dan Teknologi
2.
4
Baris 1
Kepada kepada
Kepada
3.
10
Baris 1
komunikan
komunikator
4.
10
Baris 4
Mahasiswa dan mahasiswi IST AKPRIND
Mahasiswa dan mahasiswi yang menjadi anggota jama’ah kegiatan UKKIJA IST AKPRIND
5.
15
Baris 2
سوذلك
وذلك
6.
22
19.
Footnote: 23 Ibid., hlm. 123
23. Muhammad Djalaluddin Al Qasimi, Terjemah Ma’uidhotul Mukminin, (Semarang: CV. Asy Syifa, 1993). Hlm. 406
7.
31-32
Baris 1
Tidak Ada Footnote
35. Lexy J. Moleong, Metodologi Ilmu Dakwah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 175
8.
35
Baris 1, 3
Nma, dillingkungan
Nama, di lingkungan
10.
40
Baris 4
Mendkumentasikan
Mendokumentasikan
11.
43
Baris 2
jadawal
Jadwal
12.
46
Baris 2
dilaksanakanmenjadi
Dilaksanakan menjadi
13.
48
Di Tabel II
ubtuk
untuk
14.
51
Baris 1
Diksar I, I dan II
Diksar I dan II
15.
58
Baris 1
Oarng tua, sesame
Orang tua, sesama
16.
67
Baris 1
Syar’I
Syar’i
17.
69
Baris 3
Ali Yusuf  S.Sy, S.Thi
Ali Yusuf S.Hi
18.
70
Baris 2, 5, 6
Pajaran, khususnyatentang,Fakults
Ajaran, khususnya tentang, Fakultas
19.
72
Baris 1, 4
Diuatarakan, JAma’ah, Sehinggga, mahasiswadan
Diutarakan, Jama’ah, Sehingga, mahasiswa dan
20.
75
Baris 3
bertanyakepada, penannya
bertanya kepada, penanya
21.
78
Baris 2
Pembukuaan
Pembukaan
22.
79
Baris 3,4
wktunya, entegan, agamaIslam
waktunya, entengan,agama Islam
23.
82
Baris 3
Jamah, Jma’ah
Jama’ah, Jama’ah
24.
83
Baris 3
Pembina
Pemateri
25.
86
Baris 3, 6, 7
jepada, saba, katif
kepada, sabar, aktif
26.
90
Baris 2&5
musli, pendidkan
Muslim, pendidikan
27.
91
Baris 1&2
Da;am, menyanyakan
Dan, menanyakan
28.
93
Baris 1
trerlaksana secar
terlaksana secara
29.
94
Baris 1
Da’i luar temporal
Da’i temporal
BAB II
GAMBARAN UMUM UNIT KEGIATAN KEROHANIAN ISLAM (UKKI) JAMA’AH AL KAUTSAR ISTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI  “AKPRIND” YOGYAKARTA
A.    Sejarah Berdiri Dan Tujuan Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jama’ah Al Kautsar
Unit kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jama’ah al Kautsar merupakan wadah kegiatan yang bersifat religius bagi mahasiswa muslim yang berkedudukan di Institute Sains dan Teknologi “AKPRIND“ Yogyakarta, didirikan pada tanggal 15 November 1991.
Lembaga ini adalah satu-satunya unit kegiatan keislaman ditingkat Sains dan Teknologi “AKPRIND“ Yogyakarta dan berfungsi sebagai lembaga dakwah kampus, organisasi ini bersifat terbuka, independent, ilmiah, sosial dan religius yang berorientasi pada peningkatan iman dan takwa.
Organisasi ini dibari nama Jama’ah Al Kautsar, diambil dari nama sebuah mushola milik Institute Sains dan Teknologi “ AKPRIND “ Yogyakarta, yaitu Mushola al Kautsar. Di Mushola al Kautsar inilah sekretariat Unit Kegiatan Kerohanian Islam ( UKKI ) Jama’ah al Kautsar dan disinilah aktivitas-aktivitas keagamaan dilaksanakan. Sehingga dengan demikian nama Jam’ah al Kautsar bukanlah nama suatu golongan tretrntu atau pengikut suatu madzhab tertentu, namun hanya sekedar nama saja. Hal seperti ini juga terjadi diperguruan-perguruan tinggi lain, seperti di UGM ada Unit Kegiatan Kerohanian Islam “Sholahuddin” nama ini diambil dari nma masjid UGM yaitu masjid Sholahuddin, kemudian di UNY ada UKKI dengan nama “Jama’ah Al mujahidin”. Nama ini diambil dari nama sebuah masjid yang ada di UNY yaitu masjid “Al mujahidin”.
Latar belakang berdirinya Unit Kegiatan Kerohanian Islam Jama’ah al Kautsar berawal dari inisiatif para mahasiswa muslim sehingga dapat membentuk generasi muda muslim yang memiliki integritas keilmuan, keimanan, keislaman yang mantap serta memiliki akhlakul karimah.[36]
Kurangnya aktivitas keagamaan dillingkungan kampus menjadi latar belakang utama  berdirinya organisasi ini. Pendidikan agama Islam yang diperoleh dari bangku kuliah belum mampu menciptakan suatu masyarakat kampus yang penuh dengan norma-norma/nilai-nilai Islami, sementara semakin maraknya kegiatan non keagamaan menambah lebih jauhnya kehidupan kampus dari nilai-nilai agama Islam.
Oleh karena itu dengan berdirinya Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jama’ah al Kautsar inilah diharapkan mampu menciptakan suasana kampus yang penuh dengan norma-norma Islami menuju terbentuknya generasi muda Islami yang mempunyai integritas keilmuan dan keislaman yang tinggi.[37]
Adapun tujuan dari organisasi ini, sebagai mana telah disebutkan dalam AD/ART organisasi adalah sebagai berikut:
1.      Meningkatkan ukhuwah Islamiyah dilingkungan Institut Sains dan Teknologi “AKPRIND” pada khususnya dan masyarakat muslim pada umumnya.
2.      Membina mahasiswa muslim agar mempunyai integritas keilmuan dan ke Islaman yang tinggi
3.      Meningkatkan dan mengembangkan kemurnian nilai-nilai dan norma-norma Islam dilingkungan kampus Institut Sains dan Teknologi “AKPRIND” Yogyakarta.[38]
B.     Struktur Organisasi
Salah satu tolok ukur dalam melihat atau menentukan keberhasilan atau tingkat kemajuan suatu lembaga atau organisasi. Maka dapat dibuat cara pengorganisasiannya. Ciri organisasi yang baik ditandai dengan adanya susunan pembagian kerja yang kompak, teratur dan sistematis dalam rangka mencapai tujuan lembaga atau organisasi tertentu. Selain itu juga penempatan personil sesuai dengan kemampuannya atau bidangnya.
Struktur organisasi yaitu hubungan kerjasama antara orang-orang sesuai dengan fungsinya masing-masing yang telah ditetapkan dan diatur serta disusun, sehingga merupakan kerangka yang seimbang, dinamis dan berkesinambungan.
Adapun bagan struktur kepengurusan UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND periode 2004-2005 dibagi dalam tiga divisi yaitu divisi UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam), divisi PAI (Pendampingan Agama Islam), divisi BMM (Baitul Mal Mahasiswa) adalah sebagai berikut :
Bagan Organisasi UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND periode 2004/2005[39]

Diklat

 

UKKI

 

Adm & Keu

 

pengajaran

 

 


Organization Chart
Susunan pengurus UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta adalah sebagai berikut:
1.   Ketua Umum                                       : Mistriono
2.   Sekretaris Jenderal                               : Tri Suratno
      a. Bendahara                                       : Apriyani
      b. Tim Kaderisasi                                 : 1. Aswayudin
                                                                     2. Sri Utami
                                                                     3. Lis Sugiarti
                                                                     4. Titi Nurchasanah
                                                                     5. Nurrohmah
     c. Tim Litbang                                      : 1. Mustaqim
                                                                     2. M. Irfan
                                                                     3. Amelia Abdul Karim
DIVISI UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam)
Pembina                                                     : Dra. H. Arifah Budiarty. MZ
Ketua Divisi UKKI                                   : Taufik Dwi Septian
Wakil Ketua Divisi UKKI                        : Irsyad Hardianto
1.   Kabid Diklat                                        : Adi Triyono
       Tim Diklat                                          : 1. Aswan
                                                                     2. Zulfan Effendy
                                                                     3. Priyadi
                                                                     4. Rahmadhany
                                                                     5. Adi Purwowidodo
2.   Kabid Kemuslimahan                          : Yakti Sugi Lestari
      Tim Kemuslimahan                              : 1. Yustinata
                                                                     2. Fathiyaturrohmi
                                                                     3. Meryanti
                                                                     4. Firsty Manat Asri
                                                                     5.Yulismawati
3.   Kabid Bimbingan Umum                    : Pantes Sulistyo
      Tim Bimbingan Umum                        : 1. Hendro
                                                                     2. Fitriyah
                                                                     3. Mismaryani
                                                                     4. Syafrudin
                                                                     5. Ari Purnomo
4.   Kabid Kajian                                       : Anton Tri Santoso
      Tim Kajian                                           : 1. Ibnu Abu Abas
                                                                     2. Endardi
                                                                     3. Yudy Sistyo Budi
                                                                     4. Memas Aryanto
                                                                     5. Tofa Nugroho
5.   Kabid Eksternal                                  : Ahmad Rizal
     Tim Eksternal                                      : 1. Liswanto
                                                                     2. Pujianto
                                                                     3. Diah Sundusiah
                                                                     4. Hariati Harahap
                                                                     5. Nurrohmah
DIVISI PAI (Pendampingan Agama Islam)
Ketua Divisi PAI                                       : R. Moch Thohir Yasin
Wakil Ketua Divisi PAI                            : Agung Widodo
1.   Kabid Pengajaran                                : Sunardi
      Tim Pengajaran                                    : 1. Nugroho
                                                                     2. Tri Nuri Yanto
                                                                     3. Endang Pramudyiastuti
                                                                     4. Basti
2.   Kabid Kurikulum                                : Rahmat Riyadhi Lubis
      Tim Kurikulum                                    : 1. Yatinah
                                                                     2. Sukarni Astuti
                                                                     3. Sti Sobakhul B
3.   Kabid Kemahasiswaan                        : Saprial Budiono
      Tim Kemahasiswaan                            : 1. Sulasih
                                                                     2. Tomy Irawan
                                                                     3. Dedy
4.   Kabid Minat dan Bakat                       : Deny Nur Fatwa
      Tim Outbond                                       : 1. Mezi Martono
                                                                     2. Yusuf
                                                                     3. Sujiman
      Tim Iptek                                             : 1. Mauladi
                                                                     2. Irfan
                                                                     3. Abdiansyah
DIVISI BMM (Baitul Mal Mahasiswa)
Ketua Divisi BMM                                    : Aris Muthohar
Wakil Ketua Divisi BMM                         : Erly Kurniawan
1.   Kabid Administrasi dan Keuangan     : Ichi aftriani
      Tim Administrasi                                 : 1. Nurdiana Marsaoly
                                                                     2. Findy Mahmud
                                                                     3. Nita Widyastuti
                                                                     4. Rosdiana Dewi S. F
2.   Kabid Distribusi                                  : Rosidah
      Tim Distribusi                                      : 1. Sgit Kurniawan
                                                                     2. M. Abdur Rosyid
                                                                     3. Jasriyal
                                                                     4. Eko Suryani
3.   Kabid Pemasaran                                 : Habibilah
      Tim Pemasaran                                    : 1. Rosita
                                                                     2. Yulita
                                                                     3. Agus[40] 
           
Adapun diskripsi pekarjaannya adalah sebagai berikut:
1.      Dewan Pembina
tugas dari pada dewan Pembina adalah membimbing dan mengarahkan pengurus dalam melaksanakan kegiatan organisasi baik diminta maupun tidak.
2.      Ketua Umum
a.       Bertanggung jawab terhadap seluruh pelaksanaan agenda Jama’ah al Kautsar.
b.      Ketua berhak membuat kebijakan atau keputusan umum, serta berwenang dalam mendelegasikan pengurus dalam kegiatan keluar atau kepentingan lainnya.
c.       Mengkoordinir semua divisi melaksanakan agenda yang telah ditetapkan
d.      Mensolidkan semua personil yang ada di Jama’ah al Kautsar
e.       Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan musyawarah tahunan Jama’ah al Kautsar
3.      Sekretaris Umum
a.       Membantu semua tugas ketua dan membantu dalam membuat kebijakan
b.      Bertanggung jawab terhadap seluruh urusan administrasi Jama’ah al Kautsar
c.       Bertanggung jawab atas rapat-rapat yang diadakan oleh pengurus
d.      Mendokumentasikan setiap acara kegiatan
e.       Membuat arsip kegiatan Jama’ah al Kaustar
f.       Mengkoordinasikan kesekretariatan Jama’ah al Kautsar
g.      Mewakili ketua umum jika dalam pelaksanaan berhalangan hadir
4.      Bendahara (urusan keuangan)
a.       Mengelola dan bertanggung jawab atas semua keuangan organisasi
b.      Melakukan audit keuangan dan penyusunan anggaran dan pendapatan organisasi serta pembukuan keuangan oraganisasi
c.       Mengecek serta meminta informasi kepada panitia setiap kegiatan terhadap setiap uang yang digunakan
5.      Tim Kaderisasi
a.        Membuat konsep kaderisasi yang jelas terarah terukur serta standarisasi pengkaderan
b.        Membuat buku besar keanggotaan kepengurusan Jama’ah al Kautsar
c.        Menyiapkan dan membina potensi sumber daya manusia sebagai generasi penerus dalam kepengurusan Jama’ah al Kautsar
d.       Mengadakan up grading pengurus bekerjasama dengan litbang
e.        Membuat formulir pendaftaran serta KTA
f.         Membentuk tim pemandu
6.      Bidang Penelitian dan Pengembangan
a.       melakukan evaluasi dalam pelaksanaan seluruh agenda yang diadakan oleh Jama’ah al Kautsar
b.      Melakukan penelitian dan pengembangan terhadap Jama’ah al Kautsar
Meliputi : apa yang dibutuhkan oleh setiap devisi, pengurus, mahasiswa pada umumnya dan pihak rektorat
c.       Membuat inovasi dan manajemen yang baik untuk Jama’ahal Kautsar
d.      Mengoptimalkan perpustakaan yang sudah ada
e.       Mengadakan up grading pengurus
f.       Melakukan kajian dan pengembangan terhadap tiga devisi yang ada dalam Jama’ah al Kautsar
DIVISI-DIVISI
1.      Ketua Divisi
a.       Bertanggung jawab terhadap seluruh pelaksanaan agenda atau program kerja seluruh bidang yang ada dibawahnya.
b.      Membuat kebijakan khusus sesuai devisi yang diamanahkan
c.       Mengkoordinir semua bidang untuk dapat melaksanakanagenda yang telah ditetapkan
d.      Mensolidkan personil yang ada disetiap bidang
e.       Melaksanakan dan memimpin rapat divisi secara rutin
f.       Membantu semua bidang yang berada dibawahnya dan membuat semua program kerja
g.      Melakukan inovasi terhadap semua perkembangan devisi
2.      Wakil Kepala Divisi
a.       Membantu semua tugas devisi
b.      Mendkumentasikan setiap acara kegiatan
c.       Membantu semua bidang yang ada
d.      Membuat manual semua kegiatan atau memudahkan semua bidang dalam pelaksanaan tugasnya
3.      Kepala Bidang
a.       mensolidkan personil yang ada didalam bidangnya
b.      Membuat planning kedepan selain yang sudah ada didalam diskripsi kerja
c.       Melakukan inovasi dan melakukan kreativitas
d.      Silaturrahmi kepengurus
4.      Tim Di Setiap Bidang
a.       Melaksanakan semua program yang diagendakan oleh setiap bidang yang ditanganinya
b.      Silaturrahmi terhadap seluruh tim yang berada didalamnya
c.       Saling koordinasi dan konsolidasi
d.      Melaporkan setiap permasalahan yang ada terhadap Kabidnya
e.       Kerja tim yang diutamakan bukan kerja perorangan
DIVISI UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam)
1.      Bidang Diklat (Pendidikan dan Latihan)
a.       Melaksanakan pendidikan dasar I, II, III sehingga dapat membentuk SDM yang mampu menjadi pioneer yang tangguh
b.      Menyelenggarakan kegiatan yang mengarah terselenggaranya SDM yang bisa baca tulis Al Qur’an serta pengalamannya
c.       Mengadakan kegiatan yang mengarah pada kesehatan pengurus dan menciptakan SDM yang mengenal seni
2.      Bidang Kemuslimahan
a.       Mengkoordinir dan bertanggung jawab atas semua kegiatan dari bidang kemahasiswian
b.      Mengadakan opini public tentang ketaqwaan
c.       Mengadakan sosialisasi dengan seminar keakhwatan
d.      Merangkul seluruh mahasiswi di IST AKPRIND
3.      Bidang Binum (Pembinaan Umum)
a.       Mengkoordinir dan bertanggung jawab terhadap Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)
b.      Menyelenggarakan bakti sosial sebagai bukti nyata pembinaan yang telah dilakukan oleh Jama’ah al Kautsar
4.      Bidang Kajian
Melaksanakan kegiatan untuk menigkatkan wawasan keIslaman yang mendukung terciptanya SDM yang mempunyai keseimbanganantara iman, taqwa dan ilmu pengetahuan
5.      Bidang Eksternal
a.       Mengkoordinir semua kegiatan yang berada di eksternal Jama’ah al Kautsar
b.      Merangkul komponen yang berada diluar Jama’ah al Kautsar, seperti rektorat, HMI, UKM, ISTA KALISA dan komponen lain yang berhubungan dengan kelancaran kegiatan Jama’ah al Kautsar
c.       Mengadakan hubungan dengan LDK yang lain dan mencari informasi tentang segala aktifitas yang berhubungan dengan LDK tersebut
DIVISI PAI (Pendampingan Agama Islam)
1.      Bidang Pengajaran
a.       Silaturrahmi kedosen agama
b.      Mencari dan menyusun jadwal tentor
c.       Membuat absensi
d.      Pelaksanaan PAI
e.       Postest PAI
2.      Bidang Kurikulum
a.       Menyusun jadawal pertemuan PAI
b.      Menyusun kurikulum
c.       Sosialisasi kurikulum ketentor
d.      Membuat atau merevisi buku materi pokok PAI
3.      Bidang Kemahasiswaan
a.       Mengkoordinasi pendaftaran PAI
b.      Mengetahui kegiatan yang dilakukan anggota
c.       Silaturrahmi antar jurusan
d.      Outbound
e.       Kuliah umum
f.       Melakukan koordinasi keanggotaan antar PAI
4.      Bidang Iptek
a.  Tim Outbound
1).  Membentuk tim outbond
2).  Mengadakan pelatihan serta kegiatan outbond
3).  Mengadakan acara santai ala outbound
b.  Tim Iptek
1).  Mengadakan pelatihan perakitan Protocol Control (PC)
2).  Mengadakan pelatihan install software
3).  Mengadakan pelatihan linux
DIVISI BMM (Baitul Mal Mahasiswa)
1.      Bidang Administrasi dan Keuangan
a.       Menangani administrasi keuangan serta menyusun laporan keuangan
b.      Mengerjakan jurnala buku besar
c.       Menangani sistem dokumantasi dan sisitem keanggotan
d.      Menyusun laporan keuangan secara periodik
2.      Bidang Distribusi
a.       Melaksanakan distribusi pembiayaan
b.      Menerima hasil pembiayaan
c.       Mendistribusikan dana
3.      Bidang Pemasaran
a.       Memberikan pelayanan kepada calon dan anggota serta bertindak sebagai penerima dana masuk
b.      Memaasarkan program organisasi dan memberikan penjelasan kepada calon anggota tentang program organisasi
c.       Menangani semua dokumen dan pekerjaan yang dikomunikasikan dengan anggota
4.      Bidang Biro Usaha
a.       Melakukan kegiatan usaha secara mandiri
b.      Melakukan koordinasi dan konsolidasi terhadap usaha yang dibuat
c.       Membuat usaha yang permanent yang mampu menopang semua Jama’ah al Kautsar secara keseluruhan[41]
C.    Keadaan Anggota
Keadaan anggota dari tahun ketahun mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini terlihat dari sejak awal berdirinya Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jama’ah al Kautsar, yaitu pada tahun 1991 yang hanya terdiri atas beberapa mahasiswa. Saat ini UKKI Jama’ah al Kautsar sudah menampung kurang lebih 250 anggota mahasiswa maupun mahasiswi.[42]
Anggota Unit Kegiatan Kerohanian Islam Jama’ah al Kautsar seluruhnya adalah mahasiswa IST AKPRIND Yogyakarta yang berasal dari berbagai jurusan yang ada diperguruan tinggi tersebut.
Jika dilihat dari latar belakang pendidikannya, anggota UKKI Jama’ah al Kautsar sebagian besar berasal dari sekolah umum yaitu SLTA, SMK, dan sebagian kecil dari Madrasah Aliyah (MA). jika ditinjau dari segi ekonomi maka keadaan anggota UKKI Jama’ah al Kautsar sebagian besar adalah dari keluarga yang berekonomi kuat dan saling menghormati dan menghargai hal ini nampak pada kekompakan para anggota dalam mengadakan berbagai macam kegiatan.[43]
D.    Sarana dan Prasarana yang Dimiliki
Sarana dan prasarana merupakan hal yang penting dalam mencapai suatu tujuan. Tanpa adanya fasilitas yang memadai maka kegiatan yang akan dilaksanakanmenjadi kurang maksimal hasilnya atau tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Adapun sarana dan prasarana yang dimiliki UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta adalah sebagai berikut:
Tabel I
Sarana dan Prasaran yang ada Di Mushola kampus S1[44]
No
Nama Barang
Jumlah
Keterangan
1.
Almari Perpustakaan Jama’ah Al Kautsar
1 Buah
Baik
2.
Almari Pengurus Jama’ah Al Kautsar
1 Buah
Baik
3.
Almari Sepatudan Barang Jama’ah Al Kautsar
1 Buah
Baik
4.
Amplifier
3 Buah
2 Baik & 1 Rusak
5.
Salon Pengeras Suara
8 Buah
Baik
6.
Mix
4 Buah
3 Baik & 1 Rusak
7.
Tape Player
1 Buah
Rusak
8.
Cermin
2 Buah
1 Baik & 1Rusak
9.
Papan Tulis Besar
1 Buah
Baik
10.
Papan Tulis Kecil
2 Buah
Baik
11.
Hijab
1 Buah
Baik
12.
File Box “trend”
8 Buah
Baik
13.
Penyangga Buku
6 Buah
Baik
14.
Buku-buku Perpustakaan
354 Buah
Baik & Perlu di rawat
15.
Karpet
4 Buah
Baik
16.
Sajadah
3 Buah
Baik
17.
Mukena
8 Pasang
4 Pasang Bersih & 4 Pasang Kotor
18.
Jam Dinding
2 Buah
1 Baik & 1 Mati
19.
Pengatur Waktu Sholat
1 Buah
Baik
20.
Tiang Hijab
1 Buah
Baik
21.
Kotak Saran
1 Buah
Kurang Terawat
22.
Toa
2 Buah
Baik
23.
Tikar
6 Buah
4 Buah Panjang & 2 Buah Pendek
24.
Meja
1 Buah
Baik
25.
Stempel
1 Stempel JA & 14 Stempel kegiatan
Baik & 2 Rusak
26.
Bantalan Stempel
2 Buah
1 Baik & 1 Rusak
27.
Jumbo Air
3 Buah
Baik
28.
Kotak Amal
2 Buah
Baik
29.
Lemari Mukena
1 Buah
Baik
30.
Bendera Lambang Jama’ah Al Kautsar
1 Buah
Baik
31.
Bendera Lambang AKPRIND
1 Buah
Baik
32.
Papan Mading
2 buah
Baik & Perlu Ditingkatkan
33.
Komputer
2 Unit
Baik, kecuali Floppy Disk minta diganti
34.
Stabilizer
1 Buah
Baik
35.
Dispenser
1 Buah
Baik
Tabel II
Sarana dan Prasarana yang ada Di Mushola Kampus D3[45]
No
Nama Barang
Jumlah
Keterangan
1.
Almari Besi ubtuk Mukena dll
1 Buah
Baik
2.
Karpet
4 Buah
Baik
3.
Meja
1 Buah
Baik
4.
Komputer
1 Unit
Baik
5.
Papan Tulis Besar
1 Buah
Baik
6.
Hijab Kayu
3 Buah
Baik
7.
Mukena
4 Pasang
Baik
8.
Kotak Amal
1 Buah
Baik
9.
Sajadah
1 Buah
Baik
10.
Cermin
2 Buah
Baik
11.
Stabilizer
1 Buah
Baik
12.
Toa
1 Buah
Baik
              
               Pada Tabel I tentang Sarana dan Prasarana yang ada di Mushola S1 IST AKPRIND, menunjukkan bahwa sudah cukup baik, demikian halnya pada Tabel II tentang Sarana dan Prasarana yang ada di Mushola D3 juga memberikan gambaran bahwa  sarana dan prasarana cukup memadai, sehingga diharapkan dapat mencukupi semua kegiatan komunikasi dakwah yang dilaksanakan oleh Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND.
E.     SUMBER DANA
               Dana merupakan hal yang tak kalah penting dalam mewujudkan tujuan dari suatu kegiatan, tanpa adanya dana yang mencukupi kegiatan yang akan dilaksanakan tidak akan berjalan dengan baik.
               Adapun dana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan Unit Kegiatan Kerohanian Islam diperoleh dari :
1.      Subsidi dari kampus IST AKPRIND Yogyakarta
2.      Bantuan yang tidak mengikat
3.      Kerjasama dengan lembaga lain yang saling menguntungkan[46]
BAB III
BENTUK-BENTUK PELAKSANAAN KEGIATAN UNIT KEGIATAN KEROHANIAN ISLAM (UKKI) JAMA’AH AL KAUTSAR DI IST AKPRIND
A.  Bentuk Kegiatan Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta
Pelaksanaan kegiatan dalam mengkomunikasikan dakwah Islam UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND pada periode 2004/2005 berjalan secara efektif, selama bulan puasa dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan Ramadhan seperti: Ramadhan dikampus, Bazar Ramadhan dan lain-lain, yang merupakan kegiatan tersendiri secara terpisah dengan waktu yang lebih intensif.
Pelaksanaan kegiatan dakwah Islam dikelola oleh pengurus UKKI Jama’ah al Kautsar, baik pada tingkat perencanan maupun tingkat operasional dilapangan semua anggota UKKI Jama’ah al Kautsar ikut dilibatkan. Pada tingkat teoritis pegurus UKKI Jama’ah al Kautsar menyiapkan pokok bahasan materi, jadwal dan tempat pelaksanaan. Adapun masalah pemateri, metode dan media disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Secara teknis pengurus UKKI Jama’ah al Kautsar mengatur tempat pelaksanaan, konsumsi, akomodasi dan masalah finansial.
Bentuk-bentuk kegiatan yang dilaksanakan oleh UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta periode 2004/2005 dalam ragka mengkomunikasikan dakwah Islam di IST AKPRIND Yogyakarta meliputi beberapa bidang, yaitu:
1.      Kegiatan keagamaan
Kegiatan keagamaan merupakan kegiatan rutin yang sudah dilaksanakan sejak awal berdirinya UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan setiap minggunya. Kegiatan keagamaan ini berupa: Pengajian Rabu Pagi, Pengajian Jum’at Siang, Pengajian Tafsir Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni , Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), Pendampingan Agama Islam (PAI).
2.       Bidang Pendidikan dan Latihan
            Kegiatan pendidikan dan Latihan ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan sesekali tiap semester. Kegiatan ini dilaksanakan untuk para mahasiswa-mahasiswi dengan tujuan untuk memberikan bekal kepengurusan dalam organisasi, perekrutan mahasiswa baru dan menambah pengetahuan dan dapat berbicara bahasa Arab. Kegiatan pendidikan dan latihan yang pernah dilaksanakan adalah pelatihan bahasa Arab, training pembekalan pengurus I, II, serta Diksar I, I dan II.
  1. Bidang Pembinaan Umat
                        Kegiatan pembinaan umat ini dilaksanakan sebagai upaya pembinaan anggota UKKI Jama’ah Al Kautsar mahasiswa-mahasiswi muslim dilingkungan IST AKPRIND itu sendiri dalam mengenal Hari-hari Besar Islam (PHBI). Adapun bentuk kegiatan ini adalah Ramadhan di kampus, Pekan Idul Fitri, Baksos, Halal bi Halal, Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi.
4.      Bidang Pemasaran
      Kegiatan pemasaran ini dilaksanakan untuk dapat melatih anggotanya dalam mencari dana, maupun penginformasian suatu kegiatan yang diadakan oleh UKKI Jama’ah Al Kautsar. Adapun kegiatan ini dilaksanakan setiap ada acara UKKI Jama’ah Al Kautsar. Kegiatan ini seperti: mencari donatur, publikasi BMM (brosur, stiker, spanduk, pembatas buku), pengumpulan pakaian bekas, pelatihan  marketing pengurus.[47]
                  Selanjutnya dijelaskan bentuk-bentuk kegiatan UKKI Jama’ah al Kautsar dalam mengkomunikasikan dakwah Islam terhadap mahasiswa IST AKPRIND khususnya kegiatan keagamaan yang berupa Pengajian Rabu Pagi, Pengajian Jum’at Siang, PengajianTafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni, Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) serta Pendampingan Agama Islam (PAI) yang dilaksanakan pada periode 2004/2005.
BPelaksanaan Kegiatan Komunikasi Dakwah Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Jama’ah al Kautsar
1.      Pengajian Rabu Pagi
Pengajian Rabu Pagi ini diperuntukkan bagi mahasiswa dan mahasiswi yang dilaksanakan selama kurang lebih satu jam ( 06.00-07.00) dan bertempat di Mushola Al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta. Dengan agenda acara pembukaan, penyampaian materi, pengumuman-pengumuman, penutup dengan membaca do’a-do’a.
            Adapun unsur-unsur kegiatan Pengajian Rabu Pagi adalah sebagai berikut:
a.       Subyek Pengajian Rabu Pagi
Subyek Pengajian Rabu Pagi adalah Dosen atau ustadz yang memberikan kajian pada Pengajian Rabu Pagi bagi mahasiswa dan mahasiswi jika dilihat dari segi kondisi keagamaannya  adalah sebagai berikut:
1)  .  Abdul Halim
         Beliau adalah salah satu penceramah di berbagai tempat pengajian dan juga sebagai khotib jum’at di beberapa masjid. Pekerjaan sebagai guru juga tidak menghalangi untuk berkomunikasi dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat, terutama dalam bidang yang menyangkut bidang sosial keagamaan, hal ini terlihat dengan masih konsistennya menjadi penceramah di berbagai tempat pengajian. [48]
2)  .  Drs. Hawawi. MS
         Pekerjaannya sebagai Dosen di IST AKPRIND Yogyakarta, Fakultas Teknik Informatika. Perannya dalam memberikan ceramah pada kegiatan Pengajian Rabu Pagi dijalani sejak kegiatan pengajian Rabu Pagi diadakan. [49]
3) .  Wawan Gunawan, Lc
         Bapak Wawan Gunawan adalah seorang sarjana lulusan Mesir, pekerjaannya adalah sebagai Dosen Teknik Mesin di IST AKPRIND, beliau juga aktif dalam kegiatan keagamaan yang ada di masyarakat, juga sering menjadi penceramah di beberapa Pengajian terutama sering menjadi penceramah di beberapa perguruan tinggi.[50]
4) .  Hamim Zakarsih
         Beliau adalah seorang ustadz di sebuah pondok pesantren Krapyak, perannya menjadi pemateri di kegiatan Jama’ah al Kautsar. Sejak tahun 2002 hinggga sekarang, dan beliau juga aktif dalam kegiatan di masyarakat Krapyak.[51]
5) .  Drs. Waharyani. M.Ag
            Beliau sebagai dosen agama Islam di IST AKPRIND, selain menjadi Dosen Agama di IST AKPRIND beliau juga menjadi pemateri di beberapa daerah di Yogyakarta, serta beliau mempunyai tanggung jawab pada kegiatan di lingkungannya karena beliau sebagai Pembina kegiatan kepemudaan di lingkungannya. Dengan begitu tidak dapat diragukan lagi tentang pengetahuan keagamaanya.[52]
6) .  Drs. Didik Purwodarsono
            Beliau adalah sebagai Pembina disebuah organisasi Nahdatul Ulama di Cabang Yogyakarta, selain itu beliau juga aktif di berbagai kegiatan keagamaan yang ada dimasyarakat, beliau ditunjuk menjadi pemateri di Jama’ah al Kautsar  sejak tahun 2003 hingga sekarang.[53]
Maksud didatangkannya Da’I dari berbagai profesi dan tempat, adalah seperti yang diungkapkan seperti yang diungkapkan oleh Sdr. Mistriono selaku Ketua Umum UKKI Jama’ah al Kautsar, adalah sebagai berikut:
                  “Penunjukan pemateri yang bermacam-macam profesi dan pekerjaannya, memungkunkan perluasan wawasan bagi peserta pengajian dan mempertinggi kualitas dan mutu dalam pelaksanaan kegiatan Pengajian rabu Pagi, sedang subyek komunikasi dakwah yang tidak tetap sengaja didatangkan oleh pengurus guna menyegarkan kembali suasana pengajian serta menghilangkan kejenuhan bagi para peserta pengajian Rabu Pagi.”[54]
                  “Penunjukan pemateri menurut saya sudah sesuai dengan kondisi Da’i jika dilihat dari segi keagamaannya, yakni mereka yang lebih dalam memahami agamaIslam  dan menguasai mater sehingga materi yang disampaikan dapat diterima oleh audiens,sedang dari segi sosial kemasyarakatannya, beliau lebih mampu mengajak mahasiswa untuk dapat mempelajari agama Islam dengan baik dan benar.”[55]
      Adapun mengenai syarat-syarat yang ditentukan bagi seorang Da’i atau pemateri Pengajian Rabu Pagi bagi mahasiswa dan mahasiswi adalah seorang Da’i harus mampu menguasai materi yang disampaikan dan siap menghadapi audiens. Jadi ketika seorang Da’i mereka hendak menjadi pemateri Pengajian dia harus siap baik dari segi penguasaan materi maupun mental.
 Da’i yang sering ditunjuk oleh pengurus UKKI Jama’ah al Kautsar, yang memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, seperti yang diutarakan oleh sdr. Tri Suratno selaku Sekretaris Umum UKKI Jama’ah al Kautsar bahwa:
“Mereka semua adalah Da’i yang sudah sering menjadi pemateri pengajian dan jika dari dosen, mereka adalah dosen dari fakultas yang berbeda-beda. Jadi kemampuan penguasaan materi Pengajian Rabu Pagi sudah dianggap memadai. Dalam melakukan komunikasi dakwah pada kegiatan Pengajian Rabu Pagi, mereka hanya berfungsi sebagai Da’i atau penyampai materi yang tugasnya adalah menyampaikan materi yang sudah terjadwal. Mereka belum dapat berfungsi sebagai pelindung yang benar-benar dapat memperhatikan kebutuhan dari peserta pengajian. Apalagi kegiatan pengajian ini hanya dilaksanakan satu minggu sekali, jadi intensitas pertemuan hanya beberapa kali saja sehingga amat sulit bagi seorang Da’i untuk bisa memahami keadaan dan sifat-sifat dari anggota dan hal ini akan sangat mempengaruhi efektifitas dari pelaksanaan komunikasi dakwah yang dilakukan.”[56]
Pernyataan Sdr. Tri Suratno dapat dijelaskan bahwa :yang menjadi pemateri (Da’i) pengajian, jika dari dosen mereka berasal dari Fakultas yang berbeda-beda dan sesuai dengan kemampuannya terutama dalam bidang keagamaan. Dan dari segi sosial kemasyarakatannya mereka mamapu engajak mahasiswa untuk dapat lebih aktif dalam menyimak materi yang di sampaikan, akan tetapi mereka hanya dapatmemberikan materi saja, namun belum dapat menjadi pelindung bagi peserta pengajian, karena intensitas pertemuan yang hanya satu minggu sekali.
Pelaksanaan Pengajian Rabu Pagi langsung dipandu oleh pengurus yang bertugas saat itu. Yaitu bertugas sebagai pembawa acara dengan memulai kegiatan dengan pembukaan sebagai tanda dimulainya kegiatan dengan bacaan “Basmalah” secara bersama- sama, kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi sebagai acara intinya, dan selanjutnya pengumuman-pengumuman, kemudian acara yang terakhir adalah acara penutup disertai dengan membaca do’a-do’a. Jadi proses Pengajian Rabu Pagi dipandu oleh pengurus kemudian pemberian materi dari dosen atau Da’i temporal.
b.      Obyek Pengajian Rabu Pagi
Obyek Pengajian Rabu Pagi berjumlah sekitar 20 orang. Dari jumlah tersebut mereka memiliki keaktifan yang berbeda-beda.
Berikut nama-nama peserta Pengajian Rabu Pagi
1)  . Anton Tri Santoso                           11). Adi Triono
2)  . Ebit Arifin                                       12). Tri Suratno
3)  . Aris Mutohar                                   13). Ici Aftrini
4)  . Aswahyudin                                     14). Lis Sugiarti
5)  . Mistriono                                         15). Yekti Sugi Lestari
6)  . Taufiq Dwi S.S                                16). Titi Nurchasanah
7)  . U. Ikhrom                                        17). Mery Yanti    
8)  . Herman Susilo                                 18). Sri Lestari      
9)  . Thohir                                              19). Sri Utami
10). Eka Apriyanto                                 20). Apriyani[57]
Dalam pelaksanaannya dari jumlah tersebut, tidak semuanya bisa selalu hadir rutin karena berbagai kesibukan masing-masing mahasiswa, antara lain yang biasanya muncul adalah bersamaan dengan praktikum, kuliah, organisasi, dan kesibukan yang lain. Tetapi hal ini tidak menjadi kendala dari pelaksanaan Pengajian Rabu Pagi, kegiatan ini tetap berjalan lancar tiap minggunya. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh Da’i nya yang setiap minggunya berganti-ganti, sehingga kegiatan ini tidak terkesan monoton.
Pandangan Obyek terhadap Da’i seperti yang di ungkapkan oleh Sdri. Lis Sugiarti, bahwa:
“ Pemateri pada Pengajian Rabu Pagi, selalu ganti tiap minggunya sehingga kegiatan tidak monoton, dan materi yang disampaikan oleh Da’i bagi saya sudah cukup mengena oleh peserta, sehingga saya dapat selalu hadir mengikuti pengajian ini.”[58]
“ Menurut saya bahwa, Da’i dalam Pengajian Rabu Pagi sudah sesuai, karena dalam setiap minggunya berganti sehinggga tidak membosankan dan materi yang disampaikan sudah cukup lengkap dan bervariasi.” [59]
c.       Materi Pengajian Rabu Pagi
Materi yang diberikan dalam Pengajian Rabu Pagi bagi mahasiswa dan mahasiswa di IST AKPRIND ini dirahkan pada tercapainya tujuan Pengajian Rabu Pagi, yaitu agar mahasiswa dan mahasiswi mampu memahami dan memperdalam agama Islam dengan baik dan benar, dilihat dari latar belakang keagamaannya mahasiswa IST AKPRIND adalah dari pendidikan umum, memiliki keimanan dan ketaqwaan dan dapat menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim daan memiliki akhlak yang mulia dan terpuji.
Dalam pelaksanaannya materi yang diberikan adalah tentang aqidah, syari’ah, dan akhlak. Berikut disajikan tema-tema Pengajian Rabu Pagi yang telah disampaikan:
1).  Aqidah
            Materi ini disampaikan untuk menanamkan keimanan kepada para mahasiswa, sehingga diharapkan para mahasiswa dapat menjadi insan yang beriman dan mempercayai segala apa yang telah ditentukan oleh Allah SWT.[60] Adapun pokok bahasan materi Aqidah yang telah disampaikan adalah:
a). Tanda-tanda cinta kapada Allah
b).  Azab/ siksa kubur
c).  Menumbuhkan kenikmatan dalam beribadah
d).  Iman kepada hari Akhir
e).  Mencari keridloan Allah
f).  Yakinlah kita kepada Allah
g).  Aqidah Islam dan penyimpangannya
h). Pendangkalan aqidah melalui TV misteri
2).  Syariah
            Materi ini diberikan kepada mahasiswa agar dapat melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh agama Islam, atau dengan kata lain agar mahasiswa dapat menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.
            Adapun pokok bahasan Syariah yang telah disampaikan pada Pengajian Rabu Pagi di IST AKPRIND adalah:
a).  Puasa dan kesehatan
b).  Keutamaan sholat berjama’ah 
c).  Masalah politik yang dihadapi negara Islam
d). Membentuk kampus Islami
e). Tampilan orang Islam
3).  Akhlak
            Materi ini diberikan kepada mahasiswa sebagai pembinaan tingkah laku mahasiswa, agar mereka memiliki sifat-sifat yang terpuji dan dapat bersikap baik terhadap diri sendiri, oarng tua, keluarga maupun terhadap sesame manusia yang lain.
            Adapun pokok bahasan Akhlak yang telah disampaikan pada kegiatan Pengajian Rabu Pagi di IST AKPRIND adalah:
a).  Islam dan akhlak seorang dokter
b).  Bagaimana tuntunan Islam tentang “berpacaran”
c).  Permasalahan umat Islam
d).  Pribadi sabar dan tangguh
e).  Hati yang beku
f).  Menebar salam ala Rosulullah
g). Karakteristik remaja
h). Kerukunan antar umat beragama[61]
d.   Metode Pengajian Rabu Pagi
Metode merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan melihat kemampuan mahasiswa dan mahasiswi sebagai anggota pengajian dan materi-materi yang disampaikan, maka ada beberapa metode yang dilakukan oleh Da’i atau penyampai materi dalam menyampaikan materi, dengan maksud agar materi yang di sampaikan dapat di mengerti oleh anggota pengajian.[62]
Adapun metode-metode yang digunakan dalam Pengajian Rabu Pagi bagi mahasiswa dan mahasiswi adalah sebagai berikut:
1).  Metode Ceramah
      Metode ceramah digunakan untuk menyampaikan dan menjelaskan materi secara lisan di hadapan peserta pengajian. Semua materi yang diberikan menggunakan metode ceramah, dengan didukung oleh metode yang lainnya. Metode ini bertujuan agar materi yang disampaikan dapat diterima oleh peserta pengajian dengan baik, metode ini efektif digunakan untuk audiens yang berjumlah banyak.
2).  Metode Tanya Jawab
            Dalam pelaksanaannya metode ini setelah materi disampaikan dengan metode ceramah, peserta diberikan kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas atau belum dipahami dan dilanjutkan diberikan jawaban dari pemateri yang sesuai dengan pertanyaan yang diajukan atau sebaliknya yakni pemateri yang menanyakan kepada peserta.
            Dalam metode tanya jawab ini dipandu oleh seorang moderator yang juga adalah anggota UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND, seorang moderator memandu jalannya proses tanya jawab, jadi pertanyaan yang diajukan harus melalui moderator. Dengan demikian diharapkan semua pertanyaan dapat dijawab oleh pemateri dan jika pemateri belum bisa menjawab, maka akan dilemparkan keforum kemudian di diskusikan dengan melibatkan semua peserta pengajian, sehingga persoalan yang muncul dapat dipahami dan terbahas oleh peserta pengajian.
            Jadi dalam pelaksanaannya baik metode ceramah, tanya jawab,itu selalu digunakan pada saat kegiatan Pengajian Rabu Pagi sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Dengan demikian diharapkan dengan metode yang tepat maka suasana Pengajian Rabu Pagi akan selalu hidup, dinamis dan bersemangat.bahkan kalau temanya sangat menarik dan metode yang sesuai, pelaksanaannya bisa melebihi waktu yang ditentukan.
            Metode yang digunakan pada kegiatan Pengajian Rabu Pagi ini sudah sesuai dengan materi dan obyek sasaran komunikasi dakwahnya. Dengan kedua metode ini forum Pengajian Rabu Pagi ini tidak terkesan monoton, dan tema yang dibahas dapat dibicarakan secara mendalam karena sudah melibatkan semua komponen baik itu dari mahasiswa IST AKPRIND maupun para anggota UKKI Jama’ah Al Kautsar, sehingga banyak pemikiran dan ide yang muncul dari setiap orang yang terlibat didalamnya.
            Menurut pengamatan,mahasiswa IST AKPRIND dapat terlibat aktif di dalam forum ini, artinya ia dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan memberikan sumbangana pemikiran.[63]
d.      Media Pengajian Rabu Pagi
 Media yang digunakan dalam Pengajian Rabu pagi adalah:
1). Media Lisan
            Dalam pelaksanaannya materi-materi yang disampaikan melalui lisan sebagai media utama. Melalui media lisan metode ceramah, tanya jawab dapat dilaksanakan. Mengingat kegiatan Pengajian Rabu Pagi berupa kegiatan komunikasi secara langsung, maka media lisan sangat efektif digunakan untuk menyampaikan materi, sehingga terbentuk komunikasi yang efektif antara pemateri dengan peserta dan materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
2).  Media Tulisan
            Media tulisan merupakan media pendukung dari media lisan. Media ini digunakan dalam menjelaskan sumber-sumber atau dasar-dasardari materi yang dibahas. Wujudnya berupa ayat-ayat Al Qur’an, Hadist, atau tulisan lain yang berbahasa Arab seperti do’a-do’a yang dituliskan di papan tulis. Penggunaan media tulisan juga di dukung oleh media lisan. Penggunaan media tulisan ini juga berfungsi untuk memperjelas materi, karena dapat dibantu dengan sarana papan tulis.[64]
            Kegiatan Pengajian Rabu Pagi yang dilaksanakan oleh UKKI Jama’ah Al Kautsar  IST AKPRIND Yogyakarta terhadap mahasiswa IST AKPRIND ini sudah terlaksana secara rutin setiap minggu, dengan peserta yang cukup banyak dan materi yang dibahas cukup bervariasi dengan suasana yang dinamis dan hidup.
2.   Pengajian Jum’at Siang
            Pengajian Jum’at Siang dikhususkan bagi mahasiswi yang dilaksanakan setiap hari Jum’at pada pukul 12.00-13.00 (60 menit) yang bertempat di Mushola Al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta. dengan agenda acara: pembukaan, inti, pembacaan do’a-do’a, penutup.[65]
            Adapun unsur-unsur Pengajian Jum’at Siang adalah sebagai berikut:
a.       Subyek Pengajian Jum’at Siang
Subyek Pengajian Jum’at Siang adalah dosen dan Da’i temporal khususnya perempuan jika dilihat dari segi kondisi keagamaannya adalah sebagai berikut :
1). Dra. Nafiatul Ummami
            Saya menjadi Asisten Dosen  di IST AKPRIND, selain menjadi asisten dosen saya aktif di organisasi Nasiatul Aisyiah (NA), dengan kesibukan yang padat setiap harinya, saya masih menyempatkan diri sebagai pengajar TKA/TPA di daerah Demangan, dan sering diundang untuk mengisi pengajian di beberapa tempat.[66] 
2). Dra. Ekantini, M.Ag
            Beliau adalah salah seorang Asisten Dosen di IST AKPRIND Yogyakarta, beliau adalah salah satu penggerak berdirinya UKKI Jama’ah al Kautsar, keaktifannya sebagai remaja masjid di daerah gejayan membuatnya dikenal di beberapa tempat sebagai ustadzah yang sering diundang dalam acara-acara Pengajian khususnya keputrian.[67]
3).  Isna
            Isna adalah seorang mahasiswa UGM Fakultas Ilmu Budaya, mengambil Jurusan sastra Arab, dan beliau sebagai fasilitator setiap kegiatan Pengajian Jum’at Siang sejak Tahun 2001 hingga sekarang.[68]
4).  Dewi
            Dewi adalah seorang mahasiswa IST AKPRIND mengambil jurusan Teknik Informatika. Dia sebagai pengurus UKKI Jama’ah al Kautsar, selain aktif di UKKI Jama’ah al Kaustar dia juga sebagai pengajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) di daerah Godean. [69]
Mereka adalah pemateri yang ditunjuk oleh pengurus UKKI Jama’ah al Kautsar, melihat dari berbagai latar belakang pendidikan maupun keagamaannya, bahwa pemateri pada kegiatan Pengajian Jum’at Siang mereka tidak diragukan lagi tentang kondisi keagamaan dan hubungan sosial kemasyarakatannya, sudah cukup sesuai dengan tugas-tugas yang mereka emban selama ini.
Hal ini sesuai dengan komentar Sdri. Yekti Sugi Lestari selaku ketua Bidang kemuslimahan di Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND tentang tanggapannya terhadap subyek komunikasi dakwah jika dilihat dari segi kondisi keagamaan dan sosial kemasyarakatannya, bahwa:
      “ Subyek Pengajian Jum’at Siang ini adalah dosen wanita yang memahami hal tentang keputrian, dan jika mengundang Da’i dari luar dia juga harus lebih faham tentang keputrian. Jadi ada kesesuaian antara materi yang disampaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh pemateri dari segi keilmuan. Dengan demikian ia dapat melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang pemateri yaitu berusaha untuk mentransfer ilmu yang dimiliki dan membuat obyek komunikasi dakwah mengerti terhadap apa yang disampaikan.”[70]
Pernyataan Sdri. Yekti Sugi Lestari dapat dijelaskan, bahwa: Da’i pada Pengajian Jum’at Siang nereka harus perempuan dan mereka dapat menguasai materi keputrian yang secara otomatis mereka dapat mentransfer ilmunya kepada peserta Pengajian Jum’at Siang.
Pelaksanaan Pengajian Jum’at Siang tidak ada syarat khusus yang harus dipenuhi bagi seorang pemateri pengajian, namun yang terutama adalah kesanggupan dari seorang personil yang bersangkutan yang sudah ditunjuk oleh pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar untuk menjadi pemateri pada Pengajian Jum’at Siang yang tugasnya adalah menyampaikan materi yang telah terjadwal dan jika dari dosen dia harus seorang perempuan yang paham tentang wanita muslim, karena Pengajian ini dikhususkan bagi mahasiswi saja.
Kemampuan dan kesiapan yang dimiliki, maka mereka berusaha untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar untuk menjadi pemateri pada kegiatan komunikasi dakwah yakni Pengajian Jum’at Siang.
b.      Obyek Pengajian Jum’at Siang
Obyek kegiatan Pengajian Jum’at Siang adalah:
1).  Yekti Sugi Lestari                            10).  Nurlaila
2).  Ici Aftrini                                   11).  Nur Saidah                              
3).  Titi Nurchasanah                             12).  Anik. S
4).  Sri Lestari                                  13).  Elly. S                                     
5).  Sri Utami                                   14).  Desty Nurchasanah                 
6).  Apriyani                                     15).  Vyra
7).  Meri Yanti                                 16).  Thyna
8).  Lis Sugiyarti                              17).  Ade Ismayanti
9).  Endang. S                                  18).  Mismariani[71]
18 peserta Pengajian Jum’at Siang ini tidak semuanya dapat hadir, hal ini disebabkan karena:
1).  Publikasi yang dibuat kurang menarik.
2).  Cenderung memikirkan study
3). Kurangnya respon kader yang menangani masalah kemahasiswian
4).  Banyaknya kegiatan diluar organisasi
5).  Bentroknya jadwal kuliah dihari jum’at
6).  Sedikitnya jumlah mahasiswi di IST AKPRIND[72]
Melihat kendala yang dihadapi peserta pengajian ini dapat dikatakan bahwa mereka sebenarnya memiliki semangat untuk mengikuti kegiatan Pengajian Jum’at Siang. Namun dikarenakan dari publikasi yang kurang menarik sehingga mereka tidak semangat untuk mengikuti, dari jumlah mahasiswi di IST AKPRIND sedikit sehingga yang mengikuti kegiatan ini sedikit, mereka banyak yang mengikuti organisasi sehingga tidak sempat untuk mengikuti Pengajian Jum’at Siang, karena manurut mereka kuliah lebih penting sehingga mereka banyak yang malas mengikuti kuliah daripada Pengajian karena jadwal kegiatan bersamaan dengan jadwal kuliah, kader kurang solid sehingga mereka tak akan kompak atau kurang ada yang menangani masalah kegiatan ini. namun hal ini tidak menjadi kendala dan diharapkan dengan publikasi yang menarik dengan perlahan-lahan mereka akan banyak yang mengikuti , bahkan sampai sekarang kegiatan Pengajian Jum’at Siang ini tetap berjalan dengan lancar setiap minggunya.
Hal ini kemungkianan disebabkan dari materi yang disampaikan oleh seorang Da’i yang dapat mudah diserap oleh peserta, seperti yang diutarakan oleh Sdri. Ici Aftrini, bahwa:
“ Saya sering mengikuti Pengajian Jum’at Siang, karena menurut saya ada salah satu pemateri yang mana beliau menyampaikan materi yang itu bagi saya menarik dan mudah diresapi oleh peserta pengajian”[73]
Dari pernyataan Sdri. Ici Aftrini juga dibenarkan oleh Sdri. Titi Nur chasanah, bahwa:
“ Saya akan lebih tertarik mengikuti Pengajian Jum’at Siang , jika pemateri nya enak, dalam artian materi yang disampaikan dapat mengena oleh peserta pengajian”[74]
c.   Materi Pengajian Jum’at Siang
Materi pengajian yang disampaikan pada Pengajian Jum’at Siang bagi mahasiswi di IST AKPRIND, diarahkan pada tercapainya tujuan komunikasi dakwah terhadap mahasiswi, yaitu agar mereka memiliki pemahaman yang benar terhadap peran wanita dalam Islam dan dapat mengamalkan semua kewajibannya sebagai wanita muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun materi-materi yang telah disampaikan pada kegiatan Pengajian Jum’at Siang bagi mahasiswi adalah materi kawanitaan dalam Islam. Materi ini diberikan untuk memberikan dasar-dasar dalam peran wanita muslim dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dengan demikian mahasisiwi diharapkan dapat memiliki landasan yang benar sebagai wanita muslim dalam menjalankan kewajibannya dalam kehidupan sehari-hari yang dibenarkan oleh Allah. Pokok bahasan materi kewanitaan Islam yang telah disampaikan adalah:
1).  Hikmah sholat pokok bahasannya meliputi:
a).  Rukun sholat
b).  Syarat sahnya sholat
2).  Muslimah funky tapi syar’i pokok bahasannya meliputi:
a).  Berpakaian funky tapi sopan
b).  Menutup aurat
3).  Jilbabku sayang jilbabku malang pokok bahasannya meliputi:
a).  Tata cara berjilbab menurut hukum Islam
b).  Jilbab dan hijab
c).  Jilbab gaul 
4).  Muslimah kreatif muslimah berprestasi pokok bahasannya meliputi:
a).  Gender
b).  Praktek merangkai bunga dan membuat aneka masakan
5).  Bagaimana membangun rasa PD pokok bahasannya meliputi:
a).  Cara berbicara didepan audiens
b).  Cara berpenampilan dimuka umum
c).  Menghilangkan krisis PD
6).  Membentuk pribadi dan jati diri muslimah pokok bahasannya meliputi:
a).  Akhlakul karimah
b).  Muslimah sejati tapi syar’i
7).  Bagaimana menjaga hati
a).  Menjauhkan diri dari sifat iri dengki
b).  Berperilaku menurut syar’i
8).  Manajemen waktu  
a).  Cara mengatur waktu dengan baik
b). Waktu adalah uang
c).  Menghargai waktu[75]
Materi yang telah diberikan kepada mahasiswi dalam pengajian Jum’at Siang, maksud diberikannya materi tersebut agar mahasiswi mengetahui tentang apa hikmah sholat, menggunakan jilbab yang Islami, berbusana muslim yang menurut Syar’I serta agar menjadi remaja yang mempunyai rasa kepercayaan diri tinggi dan berilmu pengetahuan yang luas.
Harapan selanjutnya mereka mampu melaksanakan, mengamalkan serta menularkan kepada sesama muslimah di lingkungan IST AKPRIND secara benar.
d.   Metode Pengajian Jum’at Siang
Metode yang digunakan dalam Pengajian Jum’at Siang adalah:
1).  Metode Ceramah
Metode ini digunakan untuk memudahkan dalam penyampaian materi secara sekaligus kepada mahasiswi yang berada dalam satu jama’ah pengajian. Materi ini digunakan dalam Pengajian Jum’at Siang karena bentuk kegiatannya adalah komunikasi langsung jadi lebih efektif jika menggunakan metode Ceramah.
2).  Metode Tanya Jawab
            Dengan menggunakan metode tanya jawab diharapkan peserta dapat memahami materi-materi yang telah disampaikan, sehingga semua permasalahan yang belum dapat dipahami oleh peserta pengajian dapat terselesaikan, metode tanya jawab merupakan tindak lanjut dari metode ceramah.
3).  Metode Demonstrasi/Percontohan
Da’i memberikan contoh dengan memperagakan atau praktek tentang materi yang disampaikan. Metode ini digunakan untuk menyampaikan materi tentang praktek memakai jilbab yang Islami, mengkafani, tayamum, serta wudhu. Dengan metode ini diharapkan mahasiswi dapat mengamalkan dan mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Metode ini digunakan karena mengingat materi yang disampaikan tidak mudah diterima jika dijelaskan dengan metode ceramah dan tanya jawab, maka tindak lanjut dari metode tersebut adalah dengan menggunakan metode Demonstrasi.
Metode yang digunakan dalam Pengajian Jum’at Siang ini sudah sesuai dengan kondisi mahasiswi karena mereka akan lebih dapat memahami jika disertakan dengan praktek. Jadi menurut penulis metode yang digunakan sudah sesuai dengan kondisi dan situasi yang dihadapi, namun tidak dapat diketahui sejauh mana efektifitas materi yang bisa dipahami oleh mahasiswi dengan metode yang digunakan dalam kegiatan Pengajian Jum’at Siang.
e.   Media Pengajian Jum’at Siang
                  Media yang digunakan dalam Pengajian Jum’at Siang adalah:
1).  Media Lisan
Media lisan digunakan dalam bentuk ceramah atau tanya jawab, dengan media lisan seorang pemateri dapat memberikan penjelasan secara luas dari materi yang disampaikan. Dalam pelaksanaannya semua materi disampaikan secara lisan dan didukung dengan media yang lainnya..
2).  Media Tulisan
Media tulisan digunakan sebagai media pendukung atau penguat dari materi yang telah disampaikan oleh media lisan. Media ini digunakan dalam menyampaikan materi yang berbahasa Arab, seperti niat wudlu, tayamum, dan mengkafani jenazah serta do’a-do’anya dan materi-materi yang lainyang membutuhkan penjelasan secara tertulis. Dalam pelaksanaannya pemateri menulis materi tersebut di papan tulis dan kemudian menjelaskannya melalui media lisan. Metode ini digunakan untuk mempermudah peserta pengajian dalam menerima materi yang sulit, sehingga dapat dibantu dengan menggunakan sarana papan tulis.
3).  Media Tingkah laku
Da’i menjelaskan materi melalui contoh nyata melalui perbuatan. Media ini digunakan dalam menjelaskan contoh pelaksanaan wudlu, tayamum, cara berjilbab, dengan didukung media lisan dalam memberikan penjelasan. Media ini digunakan agar semua peserta dapat memahami materi yang disampaikan.
3.   Pengajian Tafsir Ayat Ash Shabuni
            Pengajian Tafsir Ayat Ash Shabuni dilaksanakan setiap malam sabtu atau jum’at malam, bertempat di masjid Baitul Hikmah dimulai ba’da maghrib sekitar 18.30-20.00 (90 menit). Berhubung tempat di IST AKPRIND kurang memadai kemudian menggunakan tempat di masjid Baitul Hikmah. Kajian ini membahas masalah tafsir ayat Ahkam Karya Ash Shabuni. Dengan agenda acara pembukaan sebagai tanda dimulainya acara dengan mambaca “basmalah” kemudian penyampaian materi (inti) acara yang terakhir ditandai dengan pembacaan do’a-do’a atau penutup.[76]
Adapun unsur-unsur kegiatan Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni sebagai berikut:
a.       Subyek Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni
Subyek Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash shobuni  adalah Ustadz Ali Yusuf S. Hi. beliau adalah seorang Ustadz disebuah pendidikan ulama Tarjih Muhammadiyah.[77]
Latar belakang sosial kemasyarakatan Ustadz ali yusuf sangat bagus, hal ini dapat dilihat dari sikap beliau dalam menyampaikan materi kepada peserta pengajian, seperti diungkapkan oleh Sdr. Mistriono yang menjadi peserta penagjian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni Bahwa:
“Beliau adalah seorang Ustadz yang berpandangan demokratis, dia menghargai semua pendapat audiens, jadi beliau menyerahkan kepada audiens mengikuti pendapat siapa dalam kajian Tafsir Ayat Ahkam karya Ash Shabuni ini. Dengan begitu audiens bisa dengan mudah menyerap materi apa yang telah disampaikan karena beliau sangat menghargai semua pendapat dari audiens.”[78]
Pernyataan Sdr. Mistriono dapat dijelaskan, bahwa: Ustadz Ali Yusuf beliau adalah orang yang berpandangan demokratis, sehingga secara otomatis peserta pengajian akan lebih bebas dalam memilih ajaran mana yang menurut mereka sesuai.
Tidak terlepas dari syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang Da’i dia harus dapat menguasai materi, berwibawa serta dapat menyampaikan materi dengan baik. Dengan hal ini dalam penyampaian materi audiens dapat dengan mudah memahami materi yang disampaikan oleh seorang Da’i.
Ustadz Ali Yusuf jika dilihat dari latar belakang keagamaan dan pendidikannya sangat cocok jika beliau menjadi pemateri dalam pengajian ini, seperti yang beliau utarakan, adalah:
“Saya lulusan dari Fakultas Syariah atau hukum Islam, sehingga sesuai dengan materi yang disampaikan yaitu tentang syariah atau hukum Islam, dan memang bidang saya disini, yaitu tentang hukum, saya juga sering memberikan kajian khususnya tentang ayat-ayat Ahkam.’[79]
“ Ustadz Ali Yusuf menurut saya sudah sesuai dengan materi yang beliau berikan, karena dari latar belakang pendidikan dari Fakultas Syariah.”[80]
Ada kesesuaian antara ilmu yang dimiliki oleh seorang Da’i atau pemateri dengan materi yang disampaikan. Dengan demikian ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Secara otomatis ia dapat memberikan ilmu yang dimiliki kepada obyeknya dan membuat obyek komunikasi dakwah menjadi mengerti dan paham terhadap apa yang disampaikan.
b.      Obyek Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni
Obyek pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni adalah sasaran komunikasi dakwah pada kegiatan Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni yaitu sama dengan obyek Pengajian Rabu Pagi, mereka adalah pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND. Adapun personalianya seperti yang sudah tercantum pada kegiatan Pengajian Rabu Pagi, seperti yang sudah diuraikan.
Pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar ini sebenarnya mempunyai keaktifan untuk hadir dalam pengajian ini, karena dengan banyaknya kendala yang dihadapi oleh mereka yaitu dengan kesibukan mereka yang berbeda-beda yaitu salah satunya adalah mengerjakan tugas laporan praktikum dan kesibukan-kesibukan lainnya, sehingga mereka berhalangan untuk hadir.
Obyek Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni ini adalah sama dengan obyek Pengajian Rabu Pagi, namun kondisi yang ada di pengajian ini terlihat bahwa mahasiswa dan mahasiswi dapat aktif didalam pengajian.[81]
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pemateri yang sama setiap minggunya sehingga audiens dapat memahami materi apa yang disampaikan karena mereka sudah dapat beradaptasi dan mengerti cara dan bagaimana sifat pemateri tersebut.
Seperti yang diutarakan oleh Sdr. Anton Tri Susanto, bahwa:
 “ Pemateri yang sama setiap minggunya, beliau adalah Ustadz Ali Yusuf, menurut saya beliau sudah cukup ahli dalam bidang tafsir Ayat Ahkam sehingga akan sangat mudah bagi audiens untuk dapat menyesuaikan diri, disamping hal tersebut dari pemateri dapat menghargai atau menerima semua pendapat atau ide yang diberikan oleh Audiens, jadi audiens bisa mengikuti ajaran dari siapa saja dari kajian Tafsir Ahkam ini. jadi mereka tidak di tuntut untuk selalu sama pendapatnya dengan pemateri atau harus mengikuti jalan yang dianut oleh pemateri, tapi pemateri sangat membebaskan audiens untuk memilih ajaran yang terbaik bagi mereka, karena hal tersebut kembali lagi pada diri mereka sendiri atau tergantung pada niat dari mereka dalam mengikuti Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni.”[82]
Pernyataan Sdr. Anton Tri Susanto dapat dijelaskan, bahwa: Ustadz Ali yusuf adalah seorang Da’i yang demokratis, beliau menghargai semua pendapat yang disampaikan oleh audiens, dan audiens dibebaskan untuk mengikuti ajaran manapun yang dianggap itu sesuai menurut peserta pengajian. Karena hal tersebut kembali lagi pada diri mereka sendiri.
c.       Materi Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shabuni
Materi yang disampaikan pada Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni bagi Pengurus dan Anggota UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND, diarahkan pada tujuan komunikasi dakwah terhadap pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar, yaitu agar mereka memiliki pemahaman yang benar terhadap hukum-hukum Islam dan dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun materi-materi yang telah disampaikan pada kegiatan Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni bagi pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar  adalah materi syariah tentang ibadah kepada Allah. Sehingga dengan demikian peserta pengajian diharapkan dapat memiliki landasan yang benar dalam melakukan ibadah. Pokok bahasan materi hukum-hukum Islam yang telah disampaikan oleh Ustadz Ali Yusuf adalah bab wudlu, sholat dan Hukum bangkai. Adapun pembahasannya meliputi:
1)      Wudlu pembahasannya meliputi:
a).  Ayat-ayat tentang wudlu
b).  Asbabun Nuzul dari ayat tersebut
c). Tafsir ayat-ayatnya
d).  Kandungan hukum wudlu
e).  Hikmatut Tasyri’
2).  Sholat pembahasannya meliputi:
a).  Ayat-ayat tentang sholat
b).  Asbabun Nuzul ayat tersebut
c).  Tafsir ayat-ayatnya
d).  Kandungan hukumnya
e).  Hikmatut tasyri’
f).  Nash-nash tentang sholat
3).  Haramnya Bangkai
a).  Ayat-ayat tentang bangkai
b).  Asbabun nuzul ayat tersebut
c).  Tafsir ayat-ayatnya
d).  Kandungan hukum-hukumya
e).  Hikmatut tasyri’[83] 
Materi yang telah diberikan kepada mahasiswa dan mahasiswi dalam Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni, maksud diberikannya materi tersebut adalah agar mahasiswa dan mahasiswi dapat mengetahui tentang kandungan hukum-hukum wudlu, Ayat-ayat wudlu serta asbabun nuzulnya, serta dapat mentafsirkan dari ayat-ayat yang ada, sehingga dalam melaksanakan wudlu dapat mengikuti pendapat ulama yang mereka anggap shahih dan mengetahui dalil-dalilnya. Karena wudlu merupakan salah satu syarat sahnya sholat.
Dilanjutkan dengan kandungan hukum-hukum sholat, dan ayat-ayat yang ada serta tafsirnya dari materi tersebut mahasiswa dan mahasiswi dapat menunaikan ibadah sholat dengan baik dan benar.
Tanggapan dari peserta Pengajian Tafsir Ayat Ahkam tentang materi yang diberikan dalam kegiatan pengajian ini, seperti yang diungkapkan oleh Sdr. Mistriono, bahwa: 
Selain materi tersebut mahasiswa dan mahasiswi dapat memahami tentang haramnya bangkai dan bangkai yang halal dimakan serta kandungan hukum yang nantinya mereka dapat mengikuti pandapat ulama dan dalil-dalilnya yang mereka anggap itu baik.”[84]
Hal ini dibenarkan oleh Sdr. Adi Triyono, bahwa:
“  Selain berbagai macam materi yang telah disampaikan peserta dapat lebih memahami tentang haramnya bangkai dan bangkai yang halal dimakan serta kandungan hukum yang nantinya peserta dapat mengikuti pendapat mana saja yag mereka anggap sesuai dan baik bagi mereka sendiri.”[85]
Materi tersebut disampaikan melihat kondisi dari mahasiswa dan mahasiswi di IST AKPRIND. Dari sebagian besar pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar yang menjadi sasaran dakwah disini berlatar belakang pendidikan umum, walaupun mereka mau menjalankan sholat dalam kesehariannya, namun mereka belum memiliki pengetahuan yang baik tentang hukum-hukum sholat, wudlu, maupun tentang hukum-hukum Islam lainnya seperti: haramnya bangkai. Maka diberikanlah materi tersebut, dan Pengajian ini baru dilaksanakan pada periode 2000/2001.
d.      Metode Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni
Metode yang digunakan dalam Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni adalah sebagai berikut:
1).  Metode Ceramah
Da’i memberikan penjelasan secara lisan tentang materi yang disampaikan kepada mahasiswa dan mahasiswi sebagai peserta Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni. Metode ini digunakan untuk mempermudah seorang Da’i atau pemateri dalam menyampaikan materi komunikasi dakwahnya secara sekaligus kepada mahasiswa dan mahasiswi dalam satu forum.
2).  Metode Tanya Jawab
            Metode ini dilakukan oleh Da’i dan peserta melakukan tanya jawab, peserta diberi kesempatan untuk bertanya kepada apa yang belum paham tentang materi yang diberikan oleh Da’i. Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni ini pertanyaan dibatasi dengan dua orang penanya, hal ini disebabkan karena kondisi Da’i yang sudah tua dan beliau harus mengatur waktunya dalam mengisi materi dikarenakan setelah mengisi materi dari Pengajian ini beliau mempunyai kesibukan yang sangat padat setiap harinya. Tapi dengan terbatasnya pertanyaan tidak mengurangi pemahaman dari audiens apa yang telah disampaikan oleh Da’i.
3).  Metode Demonstrasi/ Percontohan
Da’i memberikan contoh dengan memperagakan atau praktek tentang materi yang disampaikan. Metode ini digunakan untuk menyampaikan materi tentang paraktek wudlu, sholat, dengan metode ini diharapkan mahasiswa dan mahasiswi dapat mempraktekkan materi tersebut dalam kehidupan sehari-harinya. Tetapi dalam memperagakan materi tersebut Ustadz Ali Yusuf tidak dapat maksimal dalam mempraktekkannya dikarenakan kondisi fisiknya yang tidak memungkinkan. Namun dari Ustadz Ali memperagakan audiens dapat bertanya langsung atas penjelasan yang disertai peragaan tersebut. Sehingga audiens dapat benar-benar paham apa yang telah disampaikan oleh Da’i.
e.       Media Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni
Media yang digunakan dalam kegiatan Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni adalah sebagai berikut:
1).  Media Lisan
            Materi-materi yang disampaikan menggunakan media lisan sebagai media utamanya. Mengingat kegiatan Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni berupa komunikasi secara langsung, maka media lisan sangat efektif digunakan dalam menyampaikan materi, sehingga akan terbentuk komunikasi yang efektif antara Da’i dengan peserta dan materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
2).  Media Tulisan
            Media tulisan merupakan media pendukung dari media lisan. Media ini digunakan dalam menjelaskan sumber-sumber atau dasar-dasar dari materi yang dibahas. Wujudnya berupa ayat-ayat Al Qur’an, hadist atau tulisan-tulisan lain yang berbahasa Arab seperti do’a-do’a yang dituliskan dipapan tulis. Penggunaan media tulisan juga didukung oleh media lisan. Dengan demikian diharapkan materi yang disampaikan dapat mudah diserap oleh peserta pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni.
3).  Media Tingkah laku
            Da’i menjelaskan materi dengan contoh nyata melalui perbuatan. Media ini digunakan dalam menjelaskan contoh pelaksanaan wudlu, sholat, dan dengan didukung media lisan dalam memberikan penjelasan. Media ini akan lebih mudah dipahami jika dibarengi dengan peragaan dari Da’i nya.
4).  Media Audio Visual
      Media yang digunakan dapat dikembangkan tidak hanya terbatas pada media tulisan dan media lisan. Ada beberapa materi yang efektif  disampaikan dengan media Audio Visual. Media Audio Visual yaitu media penyampaian untuk merangsang penglihatan dan pendengaran sasaran komunikasi dakwah, media ini berbentuk:TV, Computer, VCD, Radio dan lain-lain.
Seperti film-film palestina, dapat disampaikan dengan memutar film-film tentang ajaran hukum-hukum Islam dengan memutar CD yang diputar melalui media Computer dan kemudian dijelaskan secara lisan bagaimana ajaran-ajaran hukum Islam dalam menaggulangi kesalahan pemahaman ayat-ayat ahkam
Kegiatan Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni yang dilaksanakan oleh UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta ini sudah terlaksana secara rutin setiap minggunya, dengan materi yang dibahas sudah bervariasi dengan suasana yang dinamis dan hidup.
4.      Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT)
            Kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) ini pelaksanaannya tidak dapat ditentukan waktunya tetapi sering ada kegiatan ini. yang bertempat di Mushola D3 IST AKPRIND Yogyakarta. Malam Bina Iman dan Taqwa ini dilaksanakan semalam suntuk, dimulai dari pukul 18.00-Pagi. Dengan agenda acara: Pembukaan, Tilawah bersama, Sholat Isya’ berjama’ah, makan malam, kajian (Inti), Istirahat, refleksi tentang Jama’ah Al Kautsar, pengumuman dan rapat lain, istirahat (boleh tidur), Tadzabur dan sholat tahajut, tidur lagi, sholat dan tadarus, penutup.[86]
            Adapun unsur-unsur kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa adalah sebagai berikut:
a.       Subyek Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT)
Subyek Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) adalah sebagai berikut:
1).  Ali Yusuf , S.Hi
2).  Adri Suharno[87]
Mereka adalah orang yang telah memberikan kajian pada kegiatan Malam Bina Iman dan taqwa (MABIT). Dalam Kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) ini benar-benar dibutuhkan seorang pemateri yang sanggup untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang pemateri setelah ditunjuk oleh pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar.
Mengingat dari tujuan diadakannya Malam Bina Iman dan Taqwa ini adalah untuk menambah keimanan para pengurus serta pengembangan diri pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar kedepan. Dan pelaksanaannya kegiatan ini memakan waktu yang cukup lama, dalam hal ini pemateri harus mampu mengemban tugasnya sesuai dengan ilmu yang dimilikinya serta dia juga harus bersedia untuk mengisi pada jadwal yang telah ditentukan walaupun waktunya terlalu malam.
Jika dilihat dari sosial kemasyarakatan seorang Da’i pada Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), seperti diutarakan oleh Bapak Adri Suharno, bahwa:
 “ Saya rela datang ke lokasi walaupun mendapatkan tugas mengisi kajian yang terlalu malam waktunya, karena hal ini sudah dilandasi niat untuk mengabdikan diri demi pengembangan pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar kedepan, karena dengan perkembangan dan bertambah majunya pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar, maka kondisi keberagamaan mahasiswa di IST AKPRIND akan semakin baik, baik itu pengurus maupun anggotanya.”[88]
“ Bapak Adri Suharno, menurut saya orang yang entengan dalam hal menyiarkan agama Islam, walaupun mengisi pada waktu yang terlalu malam beliau tetap berusaha hadir dalam acara tersebut.”[89]
b.      Obyek Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT)
            Obyek Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) yang dilaksanakan oleh UKKI Jama’ah al Kautsar  adalah sebagai berikut:
1).  Mistriono                                    16).  Apriyani
2).  Tri Suratno                                 17).  Aswahyudin
3).  Lis Sugiarti                                18).  Amelia Abdul Karim
4).  Titi Nurchasanah                        19).  Liswanto
5).  Taufiq Dwi Septian                   20).  Fitriah 
6).  Adi Triono                                  21).  Mismaryani
7).  Yakti Sugi Lestari                      22).  Ari Purnomo
8).  Ici Aftrini                                   23).  Ahmad Rizal
9).  Aris Mutohar                             24).  Pantes Sulistyo
10).  Anton Tri Suratno                    25).  Mustaqim
11).  Sri Utami                                 26).  Rahmat Riyadhi Lubis
                  12).  Dyah Sundusiah                      27).  Nita Widyastuti
13).  Pujiati                                       28).  Agung Widodo
14).  Rosita                                       29).  Meryanti
15).  Yulita                                       30).  Sunardi[90]
Pengurus dan Anggota UKKI Jama’ah Al Kautsar sebagai peserta kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) memiliki keaktifan untuk datang, karena kegiatan ini dilaksanakan tidak menentu.
Kondisi obyek Malam Bina Iman dan Taqwa terlihat bahwa anggota dan pengurus yang dapat hadir cukup banyak.[91]
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh Da’i dan materi yang disampaikan menarik tidak monoton, serta bersamaan dengan hari libur sehingga mereka banyak yang dapat hadir.
Seperti yang diutarakan oleh Sdr. Adi Triyono, bahwa:
“Dengan kondisi yang memungkinkan ini maka peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan maksimal dan pada saat materi disampaikan mereka memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Karena itu mereka banyak yang melemparkan pertanyaan kepada Da’i atau pemateri.”[92]
Pernyataan Sdr. Adi Triyono terseut dapat dijelaskan, bahwa: dengan kondisi yang memungkinkan dalam artian, Da’i dan materi yang disampaikan menarik tidak monoton, dan bersamaan dengan hari libur maka pesertanya lumayan banyak. Dan  peserta saat mengikuti pengajia dapat maksimal dan mereka memiliki rasa keingintahuan yag tinggi, sehingga banyak yang melamparkan pertanyaan kepada Da’i.
Dengan mereka mengikuti dan menyimak materi secara seksama diharapkan materi yang disampaikan dapat diserap oleh para peserta dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, selain hal tersebut di dalam acara Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) ini benar-benar terbentuk komunikasi langsung antara pemateri dan peserta berjalan dengan lancar. Hal ini sesuai dengan tujuan diadakannya kegiatan ini yaitu pengembangan diri pengurus dan anggotanya yang nantinya diharapkan keberagamaan anggota dan pengurusnya akan lebih baik dan komunikasi dakwah akan dapat berjalan lancar dan dinamis.
c.       Materi Malam Bina Iman dan Taqwa
Materi yang disampaikan pada kegiatan komunikasi dakwah Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) bagi pengurus dan anggota UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta, diarahkan pada tercapainya tujuan pengembangan diri terhadap pengurus dan anggota UKKI Jama’ah Al Kautsar, yaitu agar mereka dapat mengembangkan diri demi berkembangnya Jama’ah Al Kautsar kedepan.
Adapun materi yang disampaikan pada kegiatan komunikasi dakwah Malam Bina Iman dan Taqwa bagi pengurus dan anggotanya ini adalah materi manajemen pengembangan diri UKKI Jama’ah Al Kautsar kedepan. Materi ini diberikan untuk pelatihan dasar kapemimpinan secara baik dan benar. Yang berlandaskan dengan Aqidah Islam. Pokok bahasan materi manajemen pengembangan diri ini meliputi:
1).  Penyatuan visi dan misi kepengurusan UKKI Jama’ah Al Kautsar
2). Mempersiapkan diri dalam medan dakwah kampus sesuai dengan GBHP (Garis-garis Besar Haluan Program) Jama’ah Al Kautsar.
3).  Penyiapan kader Jama’ah Al Kautsar kedepan
4).  Cara perekrutan kader
5).  Membentuk pribadi muslim yang Islami
6).  Mempererat tali silaturrahmi antar pengurus
7).  Cara pengkoordinasian antar anggota Jama’ah Al Kautsar[93]
 Materi yang telah disampaikan kepada para peserta dalam kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), dapat diambil kesimpulan maksud diberikannya materi tersebut adalah agar pengurus dan anggotanya yang menjadi peserta MABIT mengetahui tentang manajemen pengembangan diri demi berjalannnya UKKI Jama’ah Al Kautsar dalam merekrut, pelatihan kader baru serta menyatukan visi dan misi kepengurusan UKKI Jama’ah Al Kautsar. Sehingga mereka dapat menjalankan UKKI Jama’ah Al Kautsar dengan baik.
Materi tersebut diberikan melihat kondisi pengurus Jama’ah Al Kautsar serta tujuan diadakannya kegiatan ini yaitu untuk menyatukan perbedaan yang ada baik itu visi maupun misi kepengurusan dan usaha pengembangan UKKI Jama’ah Al Kautsar. Karena walupun kesehariannya mereka menjalankan tugas sebagai pengurus dan dapat dikatakan mereka lebih banyak mengenal agama Islam di lingkungan IST Akprind tetapi didalam acara ini untuk menambah Iman dan Taqwa para pengurusnya.
d.      Metode kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT)
Metode yang digunakan dalam kegiatan komunikasi dakwah Malam Bina Iman dan Taqwa adalah sebagai berikut:
1). Metode Ceramah
            Metode ini selalu digunakan dalam menyampaikan beberapa materi-materi karena dari materi yang diberikan membutuhkan penyampaian secara lisan untuk memudahkan penyampaian materi. Pemateri dapat menyampaikan materi secara sekaligus kepada peserta yang jumlahnya banyak. Dengan demikian diharapkan peserta dapat memahami semua materi yang telah disampaikan.
2).  Metode Tanya Jawab
            Setelah pemateri menyampaikan pokok bahasannya melalui metode ceramah, maka peserta diberi kesempatan untuk bertanya tentang materi yang telah disampaikan atau sebaliknya Da’i yang bertanya kepada peserta untuk mengetahui materi yang telah disampaikan. Metode ini digunakan untuk mengetahui efektifitas penyampaian materi sejauh mana pemahaman peserta dalam menangkap materi yang sudah dijelaskan.
            Metode tanya jawab memberikan kesempatan para peserta untuk menanyakan hal-hal yang belum ia pahami kepada pemateri atau Da’i. Dengan adanya pertanyaan mendorong Da’i untuk memberikan penjelasan secara rinci.
e.       Media Malam Bina Iman dan Taqwa      
Adapun media yang digunakan dalam Malam Bina Iman dan Taqwa adalah:
1).  Media Lisan
            Da’i menyampaikan materi melalui lisan. Secara umum materi disampaikan melalui lisan. Walaupun dengan menggunakan metode yang berbeda-beda. Dalam pelaksanaannya semua materi disampaikan melalui media lisan dan didukung dengan media lainnya. Media ini digunakan agar dalam pelaksanaan kegiatan Pengajian Malam Bina Iman dan Taqwa dapat berjalan dengan lancar mengingat peserta yang banyak jumlahnya, sehingga media ini efektif digunakan dalam kegiatan ini.
2).  Media Visual (proyektor)
            Media ini digunakan sebagai media pendukung media lisan. Dalam pelaksanaannya Da’i menggunakan proyektor untuk menjelaskan materi yang banyak dan nantinya dapat ditulis oleh peserta, dalam menjelaskan materi dengan menggunakan proyektor disertai dengan penjelasan secara lisan. Alasan menggunakan media proyektor karena dalam kegiatan ini materi yang disampaikan sangat banyak, maka diharapkan peserta dapat mencatat dan menyimak materinya dengan baik dan benar.
5.      Pendampingan Agama Islam (PAI)
Kegiatan Pendampingan Agama Islam (PAI) dilaksanakan tiga kali dalam seminggu, yaitu hari rabu, kamis, sabtu pukul 08.00-10.00 WIB yang bertempat di Mushola Al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta. pelaksanaannya meliputi acara: pembukaan, tilawah, materi klasikal, tanya jawab, penutup.[94]
Pelaksanaan Pendampingan Agama Islam (PAI) dipandu oleh pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar kemudian pada acara pemberian materi diberikan oleh seorang pengajar. Kegiatan Pendampingan Agama Islam (PAI) berdiri pada periode 1997/1998..
Adapun unsur-unsur Kegiatan Pendampingan Agama Islam adalah sebagai berikut:
a.       Subyek Pendampingan Agama Islam (PAI)
Pengajar pada kegiatan Pendampingan Agama Islam (PAI) adalah Ustadz dari luar dan pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta. Adapun nama-nama pengajar pada kegiatan komunikasi dakwah Pendampingan Agama Islam (PAI) bagi mahasiswa dan mahasiswi di IST AKPRIND Yogyakarta adalah:
       No    Nama                                               Pekerjaan
       1).     Ali Yusuf S.Hi                                 Staff Pengajar
       2).     Husein                                              Penerjemah kitab
       3).     Agung Widodo                                Mahasiswa[95]
Mereka semua adalah staf pengajar yang bertugas mengajar pada kegiatan Pendampingan Agama Islam (PAI) di IST AKPRIND Yogyakarta. Syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi seorang pengajar secara formal tidak ditentukan, namun yang terutama mereka dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang pengajar yaitu mampu mengisi kegiatan Pendampingan Agama Islam (PAI) dengan materi –materi yang sesuai dengan jadwal dan mata kuliah Agama Islam yang ada di IST AKPRIND Yogyakarta.
Jika dilihat dari segi kondisi keagamaan seorang Pengajar pada kegiatan Pendampingan Agama Islam, seperti yang diutarakan oleh Sdr. Moch Thohir Yasin, bahwa:
“Sdr. Husein mampu menguasai materi keagamaan dan sesuai dengan materi yang dia sampaikan, karena beliau adalah seorang penerjemah kitab, selain itu beliau juga sering mengisi pengajian di beberapa tempat, sehingga dengan kemampuan keilmuan keagamaan yang lebih dalam maka  ilmu yang mereka miliki dapat ditransfer kepada peserta Pendampigan Agama Islam (PAI).”[96]
Dari pernyataan Sdr. Moch Tohir, dikuatkan lagi oleh pernyataan Sdr., selaku Sekretaris Umum Jama’ah al Kautsar, bahwa kondisi keagamaan dan sosial kemasyarakatan dari salah satu pengajar PAI , adalah:
“ Sdr. Agung Widodo adalah seorang mahasiswa IST AKPRIND, beliau adalah salah satu pendiri Jama’ah al Kautsar, dan menjadi takmir masjid di daerah gejayan, selain kegiatannya yang padat beliau masih sempat sebagai guru privat agama Islam, sehingga kemampuannya dalam menyampaikan teori agama Islam sudah tidak diragukan lagi.[97]
Dalam pelaksanaannya dalam seminggu ada tiga kali pertemuan, setiap pertemuan selalu ganti pengajar. Hal ini dibuat agar para mahasiswa tidak bosan dengan pengajar dan materi yang diberikan.
Ada beberapa hal yang harus dipenuhi bagi seorang pengajar dalam hal sosial kemasyarakatan pada kegiatan PAI, yaitu:
“Dia harus sabar dalam menghadapi mahasiswa yang mereka semua aktif dan kritis, mempunyai niat yang ikhlas dan menjalankan fungsinya sebagai pengajar, serta mampu menyampaikan materi sesuai dengan agenda acara yang sudah diatur.”[98]
“ Pengajar dari PAI, mereka sebagian besar bersifat sabar, apalagi dalam menghadapi peserta yang aktif dan kritis, serta mereka mampu menyampaikan materi dengan agenda acara yang sudah diatur.”[99]
b.      Obyek Pendampingan Agama Islam (PAI)
Mahasiswa yang mengikuti kegiatan PAI berjumlah sebanyak 18 mahasiswa. Adapun nama-nama dari mahasiswa yang mengikuti PAI adalah sebagai berikut:
1).  Septa P.N                          10).  Johan Sabori
2).  Karyadi                             11).  Juliandi
3).  Rusman Lodik                  12).  Radis triono
4).  Sri Lestari                          13).  Wahyu Koco Prahoro
5).  Mulyono                            14).  Saifuddin
6).  Dewi Lestari                     15). Dedy Prasetyo
7).  Wahyudin                         16). Abu Shomad
8).  Neneng Hastuti                 17). Fitriati
9).  Muh. Azis                         18).  Wahyuni[100]
Jumlah tersebut, 5 mahasiswi dan 13 mahasiswa diantaranya angkatan 2003/2004 dengan keaktifan rata-rata 75% dan semangat untuk mengikuti kegiatan fluktuatif, hal ini disebabkan karena:
“ 1).  PAI tidak masuk dalam sks jadi untuk rutin mengikuti PAI sulit
2).  Banyak yang mengikuti kegiatan di kampus seperti: organisasi
3).  Kurangnya kesolitan pengurus PAI
4).  Sosialisasinya kepada mahasiswa kurang
5).  Materi yang disampaikan kurang mengena kepada peserta.”[101]
Pernyataan Sdr. Moch Thohir dapat di jelaskan, bahwa: keatifan dari peserta PAI yang fluktuatif disebabkan karena PAI tidak masuk dalam sks jadi untuk rutin mengikuti PAI sulit, banyak yang mengikuti organisasi, kurang kesolitan pengurus PAI, sosialisasi kepada mahsiswa kurang, dan materi yang disampaikan oleh pengajar mungkin kurang menarik sehingga pesertanya sedikit.
     
Beberapa hal yang menyebabkan semangat mahasiswa-mahasiswi yang naik turun dalam mengikuti PAI ini tidak mengganggu kelancaran dari kegiatan PAI tersebut, karena kegiatan PAI masih berjalan sesuai dengan jadwal.
Pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar yang terutama di bagian divisi PAI mencoba memberikan solusi dari beberapa masalah tersebut, seperti yang diutarakan oleh Sdr. Mistriono selaku Ketua Umum UKKI Jama’ah al Kautsar, bahwa:
“Pertama, mungkin jika kegiatan PAI ini di SK kan dari Rektor peserta akan bertambah banyak, karena nantinya PAI ini menjadi sebuah kegiatan yang diwajibkan bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah agama Islam karena dengan mengikuti PAI akan mempengaruhi nilai mata kuliah PAI. Kedua, jadwal pelaksanaan PAI disesuaikan dengan mahasiswa yang kiranya mereka dapat mengikutinya. Ketiga, diadakan refleksi tentang kesolitan kepengurusan PAI yang selama ini kurang kompak agar bisa jadi solit kembali. Keempat, sosialisasi kepada mahasiswa lebih diperbanyak bukan hanya dari guru agama Islam saja tetapi langsung kepada mahasiswa didalam kelas dan ditempel pamflet-pamflet. Kelima, materi yang kurang menjadi masukan bagi pengurus divisi PAI untuk dapat mencari pemateri yang mereka benar-benar menguasai materi yang disampaikan dan dapat mengajak mahasiswa untuk dapat mengikuti agenda acara PAI secara keseluruhan walaupun setiap pertemuan berbeda pemateri yang perlu diperhatikan adalah pengembangan materi yang diberikan oleh pengajar adalah metode yang digunakan karena mahasiswa menyukai hal-hal yang baru dan variatif sehingga dengan demikian kegiatan PAI menjadi berkembang dan tidak monoton.”[102]
Pernyataan Sdr. Mistriono tersebut, bahwa: solusi agar peserta PAI bertambah banyak yaitu dengan cara, pertama PAI di SK kan jadi kegiatan ini bersifat wajib. Kedua jadawal pelaksanaan PAI disesuaikan dengan mahasiswa yang dapat mengikui kegiatan ini. Ketiga diadakan refleksi kembali agar kesolitan pengurus PAI dapat di bangun kembali. Keempat sosialisasi kepada mahasiswa ditingkatkan bukan hanya dari dosennya saja. Kelima  menunjuk pemateri yang benar-benar dapat menguasai materi yang akan disampaikan kepada peserta PAI.
c.       Materi Pendampingan Agama Islam (PAI)
Materi yang disampaikan pada kegiatan Pendampingan Agama Islam bagi mahasiswa dan mahasiswi di IST AKPRIND Yogyakarta adalah sebagai berikut:
1).  Ma’rifatullah:
a).  Urgensi mengenal Allah SWT
b).  Metode mengenal Allah
c).  Pengaruh ma’rifatullah bagi pembentukan pribadi
d).  Pengimanan dan pengenalan terhadap Allah
2).  Ma’rifatu Rasul
a).  Kebenaran Rasulullah
b).  Khatimah
3).  Hijab dan Jilbab
a).  Pedoman berjilbab
b). Hijab dan hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai seorang muslimah
4).  Pergaulan mahasiswa Islam
a).  Epistimologi dan aplikasi akhlak dalam konteks
b).  Pergaulan Islam
c).  Ukhuwah Islamiyah
5).  Dakwah Islamiyah
a).  Kewajiban dakwah
b).  Dakwah suatu kewajiban
6).  Ilmu dalam perspektif Islam
a).  Islam dalam memandang Islam
b). manfaat ilmu
7).  Al Qur’an cahaya kebenaran
a).  Al Qur’an pegangan hidup
b).  Kewajiban muslim terhadap Al Qur’an[103]
Dalam pelaksanaannya penyampaian materi tersebut diatur (dijadwal) dan pengajar menyampaikan materi sesuai dengan jadwal yang telah dibuat, khusus untuk materi tambahan tergantung kreatifitas dari pemateri.
Tanggapan peserta terhadap materi yang disampaikan didalam kegiatan PAI, seperti yang diungkapkan oleh Sdr. Fitriati selaku peserta PAI, bahwa:
“Semua materi yang disampaikan sudah disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa dan materi yang belum diajarkan di dalam  kelas mata kuliah agama Islam. Hal ini sesuai dengan tujuan diadakannya PAI, yaitu untuk menambah pengetahuan agama Islam yang hanya 2sks, serta dilihat dari kondisi mahasiswa di IST Akprind yang rata-rata mereka berlatar belakang pendidikan umum. Maka diharapkan materi yang diberikan dapat dipahami dan diamalkan oleh mahasiswa dalam kehidupannya sehari-hari.”[104] 
“ Materi yang telah disampaikan menurut saya sudah sesuai dengan kemampuan mahasiswa IST AKPRIND yang berlatar belakang pendidkan umum, dan ini juga untuk menambah materi agama Islam yang hanya 2 sks, maka dari saya mengikuti kegiatan ini diharapkan dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.”[105]
d.      Metode Pendampingan Agama Islam (PAI)
Metode yang digunakan oleh pengajar dalam menyampaikan materi pada kegiatan PAI adalah:
1).  Metode Ceramah
            Metode ceramah merupakan penjelasan secara lisan dari pengajar kepada mahasiswa sebagai peserta didik PAI. Dalam pelaksanaannya metode ini selalu digunakan dalam menyampaikan materi-materi yang ada, dan juga terkadang dikombinasikan dengan metode yang lain sebagai pendukung dalam penjelasan materi, sehingga peserta dapat memahami maksud materi yangdiberikan.
2).  Metode Tanya Jawab
            Pengajar memberi kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti atau sebaliknya pengajar bertanya kepada peserta untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa bisa menangkap materi yang disampaikan dan tentang hal-hal lainnya yang berkaitan dengan materi. Metode tanya jawab dilaksanakan pada setiap materi, artinya setiap pertanyaan peserta bisa muncul dan tentu harus diberi jawaban. Dalam penerapannya metode tanya jawab didukung dengan metode ceramah. 
3).  Metode Hafalan
Penggunaan metode hafalan, pengajar langsung menyampaikan materi kepada peserta dengan cara hafalanlangsung , kemudian peserta mengikuti dengan menghafalkanlafadz-lafadz yang dibunyikan oleh pengajar. Dalam pelaksanaannya materi ini digunakan dalam pemberian materi hafalan surat-surat pendek do’a-do’a harian.
Metode yang digunakan pada kegiatan komunikasi dakwah PAI sudah bervariasi sesuai dengan materi yang disampaikan. Menurut penulis penerapan metode tersebut sudah sesuai, karena dalam mengahadapi mahasiswa sebagai peserta didik PAI, seorang pengajar harus dapat menerapkan metode yang tepat agar sesuai dengan materi yang disampaikan, sehingga materi akan diterima oleh mahasiswa dengan baik dan suasananya tidak monoton sehingga mahasiswa tidak bosan untuk mengikuti kegiatan PAI.
e.       Media Pendampingan Agama Islam (PAI)
Media yang digunakan dalam PAI adalah:
1).  Media Lisan
Dalam pelaksanaannya media lisan digunakan di saat menyampaikan materi dengan metode-metode tersebut. Melalui media lisanlah pengajar menjelaskan materi baik melalui metode ceramah, tanya jawab, atau metode-metode lainnya. Media lisan sebagai media utama yang digunakan dalam penyampaian materi pada kegiatan PAI. Karena bentuk kegiatan ini adalah komunikasi secara langsung sehingga sesuai dengan kegiatan yang diadakan.
2).  Media Tulisan
Dalam pelaksanaannya media tulisan digunakan dengan media papan tulis maupun tulisan-tulisan yang ada dibuku, tulisan dipapan tulis berupa do’a-do’a dan surat-surat pendek dan tulisan arab untuk memberikan pelajaran tulaisan arab. Dalam penerapannya media tulisan didukung oleh media lisan dalam memberikan penjelasan. Setiap menyampaikan materi semua pengajar menggunakan media tulisan karena materi yang disampaikan terdapat teori yang berbahasa Arab. Sehingga hal ini cocok digunakan media tulisan dalam menyampaikan semua materi.
3).  Media Audio Visual
Dalam pelaksanaannya agar materi bisa diterima dengan jelas oleh peserta yaitu dengan diputarkan film-film Islami dengan menggunakan bantuan computer untuk memutar CD. Hal ini akan sangat menarik mahasiswa untuk mengikuti kegiatan ini. jadi materi yang disampaikan tidak membosankan.s
Jadi pelaksanaan kegiatan PAI bagi mahasiswa dan mahasiswi IST AKPRIND ini sudah dapat trerlaksana secar baik sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan, dengan peserta yang memiliki keaktifan untuk hadir dan materi yang sudah disampaikan juga sudah mencakup beberapa hal sesuai dengan kondisi mahasiswa serta metode dan media yang sudah bervariasi.  

BAB IV
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Setelah menyusun dan menganalisa data yang ada, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Pelaksanaan kegiatan komunikasi dakwah yang diadakan oleh Jama’ah al Kautsar, jika dilihat dari Unsur-Unsur Kegiatannya
a.                                     Subyek Komunikasi Dakwah
Subyek kegiatan komunikasi dakwah UKKI Jama’ah al Kautsar di IST AKPRIND adalah dosen AKPRIND dan  Da’i luar temporal. Para Da’i ahli dalam agama Islam. Subyek pada kegiatan Jum’at Siang di khususkan Da’I perempuan karena pengajian ini dikhususka bagi mahasiswi saja. Akan tetapi subyek pada kegiatan Pengajian Jum’at Siang ini harus menguasai materi tentang keputrian. Sedangkan pada kegiatan yang lainnya Yaitu: kegiatan pengajian Rabu Pagi, Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni, Malam bina Iman dan Taqwa (MABIT), pendampingan Agama Islam (PAI) yang ditunjuk sebagai Da’i adalah sebagian besar berasal dari Dosen IST AKPRIND itu sendiri. Da’I pada pada setiap kegiatan keagamaan yang diadakan oleh UKKI Jama’ah al Kautsar jika dilihat dari latar belakang keagamaan mereka bagus dalam hal pengetahuan ajaran agama Islam, serta ilmu yang mereka miliki sudah sesuai dengan materi yang mereka sampaikan terhadap sasaran dakwahnya. Dari segi relasi antara Da’i dan peserta terjalin hubungan harmonis, sehinggga Da’i dapat lebih mudah mendorong mahasiswa untuk lebih aktif mengikuti setiap kegiatan yang diadakan oleh UKKI Jama’ah al Kautsar.
b.   Obyek Komunikasi Dakwah
Obyek komunikasi dakwah adalah seluruh anggota dan pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar serta mahasiswa muslim IST AKPRIND Yogyakarta. Dalam pelaksanaanya Obyek komunikasi dakwah tidak semuanya dapat hadir dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh UKKI Jama’ah al Kautsar, karena problem yang mereka hadapi diantaranya adalah: jadwal kegiatan Jama’ah al Kautsar bersamaan dengan jadwal kuliah, mereka ada yang mengerjakan tugas praktikum, banyak yang mengikuti organisasi lain yang ada di IST AKPRIND, dan kesibukan lainnya yang menyebabkan mereka berhalangan untuk hadir. Tetapi hal ini tidak menjadi kendala bagi semua pelaksanaan kegiatan komunikasi dakwah Jama’ah al Kautsar, karena semua kegiatan dapat terlaksana setiap minggunya.   
c.   Materi Komunikasi Dakwah
Materi kegiatan komunikasi dakwah mencakup beberapa bidang bahasan sesuai dengan sasaran komunikasi dakwahnya, materi ini meliputi semua bidang yang ada dalam ajaran Islam, diantaranya meliputi: Materi Aqidah, Syariah, Akhlak. Maksud diberikannya mater Aqidah yaitu untuk menanamkan keyakinan pada peserta pengajian agar mereka mempunyai keyakinan yang mantap atas semua yang ditentukan oleh Allah, materi Syariah bertujuan agar para peserta pengajian mempunyai kepatuhan terhadap hukum-hukum yang disyariatkan oleh Allah, materi Akhlak diberikan kepada peserta pengajian diharapkan semua peserta pengajian mempunyai kepribadian yang mulia, berbudi pekerti yang luhur, dan dapat berbuat baik terhadap diri sendiri, orang tua, keluarga maupun terhadap sesama manusia, khusus Pengajian Jum’at Siang materi pembahasannya kajian tentang keputrian, dengan diberikannya materi keputrian ini diharapkan para pserta pengajian dapat menjalankan kewajiaban wanita muslim dengan baik dan benar, serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. 
d.   Metode Komunikasi Dakwah
Metode yang digunakan Da’i dengan memvariasikan antara metode ceramah, tanya jawab serta demonstrasi, metode ceramah digunakan untuk menyampaikan materi secara langsung, metode ini efektif digunakan untuk peserta yang banyak jumlahnya. Metode tanya jawab metode ini dilaksanakan dengan cara memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya kepada pemateri hal-hal yang belum dipahami, dengan demikian permasalahan dapat terselesaikan dengan baik dan dapat terjawab. Metode demonstrasi bertujuan untuk mempraktekkan materi seperti: praktek wudlu, sholat, mengkafani jenazah, hal ini untuk mempermudah penyampaian materi yang diberikan, sehingga audiens dapat menerima materi tersebut dengan baik dan benar.
e.   Media Komunikasi Dakwah
Media komunikasi dakwah yang digunakan bukan hanya media lisan dan tulisan saja, tetapi sudah berkembang dengan menggunakan media audio visual, serta proyektor, dalam pelaksanaanya media lisan sebagai media utamanya, media tulisan merupakan media pendukung dari media lisan, media audio visual dengan memutar film-film Islami dengan menggunakan komputer, dengan demikian efektif digunakan untuk menyampaikan materi.
f.       Tanggapan Obyek Dakwah
Obyek dakwah dalam pelaksanaan kegiatan memberikan tanggapan yang positif kepada Da’i, bahwa Da’i dari segi pengetahuan dan ketrampilan berdakwah serta relasi dengan peserta pengajian bisa di terima dan di pahami.
  1. Saran-saran
Setelah mendapatkan gambaran tentang pelaksanaan komunikasi dakwah yang dilaksanakan oleh UKKI Jama’ah Al Kautsar dalam rangka mengkomunikasikan dakwah Islam terhadap mahasiswa IST AKPRIND Yogyakarta berdasarkan data, analisa, serta pembahasan, maka akan diberikan beberapa pokok pikiran sebagai sumbang saran dalam upaya meningkatkan kualitas komunikasi dakwah mahasiswa melalui UKKI Jama’ah Al Kautsar.
Adapun saran yang dikemukakan adalah:
1.      Kepada Pengurus Devisi UKKI
a.       Dalam menentukan personalia pengelola program komunikasi dakwah hendaknya dilakukan secara selektif dan proporsional, mengingat tugas yang  harus dijalankan terutama kegiatan yang dilaksanakan diluar kampus IST AKPRIND Yogyakarta.
b.      Upaya merekrut sebanyak mungkin peserta pengajian, dengan cara: dengan publikasi yang menarik. 
2.      Kepada Pengurus Devisi PAI
a.       Dalam kegiatan PAI hendaknya pengurus lebih banyak mempublikasikan kegiatan PAI dari kelas kekelas, bukan hanya dari dosennya saja, karena kegiatan ini sifatnya diwajibkan, jadi dengan demikian mahasiswa akan banyak yang mengikuti.
b.      Dalam menyusun kurikulum hendaknya diperbanyak dan diperluas lagi.
c.       Dalam mencari tentor atau pengajar hendaknya yang benar-benar mampu dan ahli dalam bidangnya.
3.      Kepada Anggota UKKI Jama’ah Al Kautsar
a.       Untuk peserta pengajian hendaknya menghadiri pengajian secara rutin, serta memperhatikan apa yang disampaikan oleh Da’i (pemateri)agar dapat memahami isi dari pengajian tersebut.
b. Selalu meningkatkan kualitas diri sebagai bekal dalam melakukan komunikasi dakwah dengan saling bertukar pikiran dan pengalaman.
C.  Kata Penutup
 Syukur Al hamdulillah berkat rahmat, taufiq, hidayah serta inayah dari Allah SWT, penulisan skripsi yang berjudul “ Komunikasi Dakwah UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam) Jama’ah Al Kautsar terhadap Mahasiswa IST AKPRIND Yogyakarta” dalam mengkomunikasikan dakwah Islam di IST AKPRIND Yogyakarta telah terselesaikan dengan baik.
Dengan segala usaha dan kemampuan yang penulis lakukan sehingga sehingga skripsi ini dapat terselesaikan, maka penulis mengucapkan terimakasi yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu serta memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis.
Dengan segala kekurangan dan kelebihan skripsi ini, penulis menantikan kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca dan pemerhati komunikasi dakwah Islamiyah dalam pengembangan dakwah baik secara keilmuan maupun praktis
Akhir kata, jika ada salah penulisan kata kami mohon maaf yang sebesar-besarnya,dengan mengharap Ridho Allah SWT, semoga skripsi ini memberikan manfaat kepada penulis, para pembaca serta perkembangan ilmu pengetahuan dan khususnya ilmu komunikasi dakwah Islam. Amin.
Yogyakarta, Januari 2005
            Penulis

[1] Toto Tasmoro, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), hlm. 49
[2] UKKI Jama’ah al Kautsar, MUSTAH II (Yogyakarta: Jama’ah al-Kautsar IST  AKPRIND, 2004),  hlm. 82.
[3] Pius a. Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), hlm. 427
[4] Agus Toha Kuswata dan Kuswara Surya Kusumah, Komunikasi Islam Dari Zaman ke Zaman, (Jakarta: Arikha Media Cipta, 1990),  hlm. 15.
[5]Departeman Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahannya, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah Alqur’an), hlm. 93.
[6] Astrid S. Susanto, Komunikasi Dalam Teori dan Praktek, hlm. 14
[7] Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 10.
[8] Muhammad Daud Ali dan Habibah Daud, Lembaga-Lembaga Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995),hlm. 169.
[9] Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 8.
[10] Ibid., hlm.14
[11] Onong Uchjana Effendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, (Bandung: PT. Aditya Bakti, 2000), hlm 72.
[12] Ibid,  hlm. 48-49.
[13] H. Salim Bahreisy, Terjemah Riadhus Shalihin II, (Bandung: PT. Al Ma’arif, 1986), hlm. 201
[14] M. Said, Terjamah Al Qur’anul Karim, (Bandung : Al Ma’arif 1987), hlm. 32
[15] Asmuni Syukir, Dasar-dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al Ikhlas, 1983), hlm.51-54.
[16] Ahmad Suyuti, Amtsilatu Tasrifiyah, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1997), hlm. 11
[17] Muriah,Metodologi Dakwah Kontemporer, (Yogyakarta :Mitra Pustaka, 2000), hlm. 23
[18] Masdar Helmi, Dakwah Dalam Alam Pembangunan, (Semarang: Toha Putra, 1973), hlm 48 
[19] Hamzah Ya’kub, Publisistik Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1981),  hlm 32-33
[20] Ibid.,  hlm. 20
[21] Mansur Amin, Metode Dakwah Islam Dan Beberapa Keputusan Tentang Aktivitas Keagamaan, (Yogyakarta: Sumbangsih, 1980), hlm. 24-25
[22] UII Press Yogyakarta (Anggota IKAPI), Kemantapan Tauhid Dengan Ibadah dan Akhlakul Karimah, (Yogyakarta: UII Press, 1991), hlm. 86
[23]Muhammad Djalaluddin Al Qasimi, Terjemah Mau’idhotul Mukminin, (Semarang: CV. Asy Syifa’), hlm. 406
[24] Ibid., hlm. 5
[25]Amrullah Ahmad, Metodologi Dakwah Islam; Sistem Metode dan Teknik Dakwah, (Yogyakarta: Masitda, 1986), hlm. 34-36
[26] Ibid.,  hlm., 47-48 
[27]Muhammad Zein, Metode Pendidikan Agama Islam Pada Lembaga Pendidikan Non Formal, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1975), hlm. 17
[28] Hiroko Horikashi, Kyai Dan Perubahan Sosial, (Jakarta: P3M, 1987), hlm. 116
[29]Dokumentasi, Buku Laporan Kegiatan Malam Bina Iman danTaqwa (MABIT), dikutip 26 Desember 2004
[30]Dokumentasi, LPJ UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRINDperiode 2003/2004, dikutip 21 April 2004
[31] Tatang M. Arifin, Menyusun Rencana Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafika,1995), hlm. 92
[32] Ibid., hlm 93
[33] Ibid.,  hlm. 136
[34] Winarto Surachmat, Pengantar Penelitian Ilmiah, (Bandung: Turisto, 1980), hlm. 123.
[35] Ibid.,  hlm. 190
[36]Dokumentasi, Mustah II UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta, dikutip 18 Desember 2005
[37]Dirangkum dari hasil wawancara denaan Tri Suratno selaku Sekretaris Umum UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND
[38] Ibid., hlm. 3
[39]Monografi Pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta Periode 2004/2005, dikutip 28 Desember 2005
[40]Dokumentasi, Kumpulan SK UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND periode 2004/2005, dikutip29 Desember 2005
[41] Ibid., hlm. 4-6
[42] Ibid., hlm. 1
[43]Wawancara dengan Mistriono selaku Ketua Umum UKKIJA Periode 2004/2005, 22 Desember 2004
[44]Dokumentasi, LPJ Kepengurusan Periode 2003/2004, dikutip 20 Desember 2004 
[45] Ibid., hlm. 19-20
[46] Ibid., hlm. 11
[47]Dokumentasi, LPJ Pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND 2003/2004, dikutip 27 Desember 2004.
[48]Wawancara dengan  Sdr. Aswahyudin, selaku peserta Pengajian Rabu Pagi, 7 Maret 2005
[49] Ibid., 7 Maret 2005
[50]Wawancara dengan Sdri. Apriyani, selaku peserta Pengajian Rabu Pagi, 8 Maret 2005
[51]Dokumentasi, Buku Laporan` Kegiatan Pengajian Rabu Pagi, dikutip 7 Maret 2005
[52] Ibid., hlm. 4
[53]Wawancara dengan Sdr. Ebit Arifin selaku Ketua Kajian UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta, 7 Maret 2005
[54]Wawancara dengan Sdr Mistriono selaku Ketua Umum UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta, 26 Desember 2004
[55]  Wawancara dengan Sdri. Sri Utami selaku Peserta Pengajian Rabu Pagi, 27 Desember 2004
[56] Wawancara dengan Sdr. Tri Suratno selaku Sekretaris Umum UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND, 27 Desember 2004
[57]Dokumentasi, Daftar Absensi Pengajian Rabu Pagi, dikutip 31 Desember 2004
[58]Wawancara dengan Sdri. Lis Sugiarti selaku Peserta Pengajian Rabu Pagi, 31 Desember 2004. 
[59]Wawancara dengan Sdr. Anton Tri Susanto selaku Kepala Bidang Kajian, 31 Desember 2004
[60] Ibid., 31 Desember 2004
[61]Ibid., dikutip 31 desember 2004
[62]Ibid., di kutip 28 Desember 2005
[63]Observasi, 4 Januari 2005
[64]Ibid., dikutip 1 Januari 2005
[65]Dokumentasi, Buku Kegiatan Pengajian Jum’at Siang, dikutip 3 Januari 2005
[66]Wawancara dengan Dra. Nafiatul Ummami, selaku Pemateri dalam kegiatan Pengajian Jum’at Siang, 8 Maret 2005
[67]wawancara dengan Sdri. Ade Ismayanti selaku Peserta Pengajian Jum’at Siang, 10 Maret 2005
[68]Dokumentasi, Buku Laporan Kegiatan Jum’at Siang, dikutip 7 Maret 2005
[69] Ibid., hlm 6
[70]Wawancara dengan Yekti Puji Lestari selaku peserta Pengajian Jum’at Siang,  4 Januari 2005
[71]Dokumentasi, Buku Absensi Pengajian Jum’at Siang, dikutip 27 Desember 2005 
[72] Ibid., dikutip 29 Desember 2005
[73]Wwancara dengan Sdri. Ici Aftrini selaku Peserta Pengajian Jum’at Siang, 4 Januari 2005
[74]Wawancara dengan Sdri. Titi Nur chasanah selaku Peserta Pengajian Jum’at Siang, 4 Januari 2005
[75] Ibid., 29 Desember 2004
[76]Dokumentasi, Buku Laporan Kegiatan Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni, dikutip 27 Desember 2004
[77] Ibid., 4 Januari 2005
[78]Wawancara dengan Sdr. Mstriono selaku Ketua Umum UKKI Jama’ah al Kautsar IST AKPRIND Yogyakarta, 5 Januari 2005
[79]Wawancara dengan ustadz Ali Yusuf S. sy, M. thi selaku pengurus di Pendidikan ulama tarjih muhammadiyah, 7 Januari 2005.
[80]Wawancara dengan sdr Aris Mutohar selaku Peserta Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni,  5 Januari2005
[81]Observasi, 6 Januari 2005
[82]Wawancara dengan Anton Tri Susanto selaku Peserta pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni, 7 Januari 2005
[83]Ibid., dikutip 10 januari 2005
[84]Wawancara dengan Mistriono selaku Ketua Umum UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND, 4 Januari 2005
[85]Wawancara dengan Sdr. Adi Triono selaku Peserta Pengajian Tafsir Ayat Ahkam Ash Shobuni, 4 Januari 2005
[86]Dokumentasi, Buku Laporan Kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa(MABIT), dikutip 12 januari 2005
[87] Ibid., dikutip 13 Januari 2005
[88]Wawancara dengan Bapak Adri Suharno selaku Pemateri pada kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT), 2 Januari 2005
[89]Wawancara dengan Sdr. Mistriono selaku Ketua Umum UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND, 4 Januari 2005
[90]Dokumentasi, Buku Laporan Kegiatan MABIT UKKI Jama’ah Al Kautsar IST AKPRIND, dikutip 12 januari 2005
[91]Observasi, 31 Desember 2005
[92]Wawancara dengan Sdr. Adi Triyono selaku Peserta Malam Bina Iman dan Taqwa, 2 januari 2005
[93] Ibid.dikutip 27 Desember 2005
[94]Dokumentasi, Buku Laporan Kegiatan Pendampingan Agama Islam (PAI), dikutip 14 Januari 2005
[95]Ibid., dikutip 12 Januari 2005
[96]Wawancara dengan Sdr. Moch Thohir Yasin selaku kepala Bidang Pendampingan Agama Islam (PAI), 13 Januari 2005
[97]Wawancara dengan Sdri. Septa P.N selaku Peserta Pendampingan Agama Islam, 8 Maret 2005
[98]Wawancara dengan Sdr. Tri Suratno selaku Sekretaris Umum UKKI Jama’ah al kautsar IST AKPRIND Yogyakarta, 11 Januari 2005
[99]Wawancara dengan Sri Lestari selaku Peserta Pendampingan Agama Islam (PAI), 11 Januari 2005
[100]Dokumentasi, Program Kerja Pengurus UKKI Jama’ah Al Kautsar, dikutip 11 Januari 2005
[101] Ibid., 13 Januari 2005
`               [102] Wawancara dengan Mistriono selaku Ketua Umum UKKI JAma’ah Al Kautsar, 12 Januari 2005.
[103] IST AKPRIND Press Yogyakarta, Buku Panduan PAI Mengenal Lebih Jauh Tentang Islam,  (Yogyakarta: IST AKPRIND Press, 2004)
[104]Wawancara dengan Sdri.Fitriati selaku Peserta Pendampingan Agama Islam (PAI), 12 Januari 2005
[105]Wawancara dengan Sdr. Abu Shomad selaku peserta PAI, 11 Januari 2005 
Tag: KOMUNIKASI DAKWAH UKKI (UNIT KEGIATAN KEROHANIAN ISLAM) JAMA’AH AL KAUTSAR TERHADAP MAHASISWA IST “AKPRIND” YOGYAKARTA
unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "KOMUNIKASI DAKWAH UKKI (UNIT KEGIATAN KEROHANIAN ISLAM) JAMA’AH AL KAUTSAR TERHADAP MAHASISWA IST AKPRIND YOGYAKARTA"