KONSEP KECERDASAN EMOSI DANIEL GOLEMAN DAN RELEVANSINYA DENGAN KESEHATAN MENTAL ZAKIAH DARADJAT

unmetered
unlimited
KONSEP KECERDASAN EMOSI DANIEL GOLEMAN DAN RELEVANSINYA DENGAN KESEHATAN MENTAL ZAKIAH DARADJAT

Oleh www.web.unmetered.co.id

BAB I

PENDAHULUAN

Penegasan Judul

Dalam penelitian ini penulis memberi judul “KONSEP KECERDASAN EMOSI DANIEL GOLEMAN DAN RELEVANSINYA DENGAN KESEHATAN MENTAL ZAKIAH DARADJAT”
Untuk menghindari  kesalahan dan demi terarahnya pembahasan, maka penulis merasa perlu untuk menegaskan istilah-istilah pokok yang terdapat dalam judul tersebut. Adapun judul yang perlu dijelaskan adalah:
Konsep 
Diambil dari kata “concept” (Inggris)  yang mempunyai arti konsep, bagan dan pengertian.[1]Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pengertian, pendapat, rancangan, cita-cita yang telah dipikirkan.[2]Konsep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gambaran ide, pengertian, pendapat, maupun gagasan  Daniel Goleman tentang kecerdasan emosi  dan pendapat Zakiah Daradjat tentang kesehatan mental.
Kecerdasan Emosi”
Istilah ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman  pada tahun 1995[3]dan  untuk pertama kalinya dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Petersolovey dari Horvard University dan Jhon Mayer dari University of Newhampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan hidup manusia, antara lain empati, mengungkapkan, memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan mengendalikan diri.[4]Jadi, kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk merasakan, memahami, mengarahkan emosi,  sehingga dapat dimenej secara proposional ketika berhadapan dengan tantangan hidup, musibah, dan perlawanan orang lain.
Relevansi         
Relevansi berarti hubungan, kaitan.[5]Dan yang dimaksud relevansi dalam studi ini yaitu keterkaitan konsep kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat.
Kesehatan Mental
Yaitu kesehatan berasal dari kata  “sehat” yang berarti dalam keadaan fisik yang baik, bebas dari sakit.[6]Dalam Undang-Undang RI bahwa sehat adalah keadaan  yang meliputi kesehatan badan, mental, sosial bukan hanya dari penyakit cacat dan kelemahan.[7]Mental (dari kata Latin mens, mentis) artinya jiwa, roh, nyawa, dan semangat.[8]“Mental” adalah kepribadian yang merupakan  kebulatan yang dinamik dari seseorang yang tercermin dalam cita-cita, sikap, dan kepribadian.[9]Jadi, kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi dan  merasakan secara positif kebahagiaan, kemampuan dan fungsi jiwanya yang berupa fikiran, perasaan, sikap, pandangan, dan keyakinan hidup.[10]

Latar Belakang Masalah

Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang  dengan pesatnya, bukan hanya di bidang teknologi, informasi, kedokteran, pertanian, akan tetapi juga di bidang  psikologi, yaitu tentang konsep kecerdasan manusia.
Konsep kecerdasan manusia, jika dilihat dari sejarah perkembangannya pada mulanya lahir akibat adanya berbagai tes mental yang dilakukan oleh berbagai psikolog untuk menilai manusia ke dalam berbagai tingkat kecerdasan. Diistilahkan atau lebih dikenal dengan kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient). Tes IQ adalah cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan  tingkat kecerdasan  seseorang . Jadi menurut teori ini, semakin tinggi IQ seseorang maka semakin tinggi pula kecerdasannya.[11]
Seiring dengan perkembangannya, tes inteligensi yang muncul  pada awal abad ke-20 yang dipelopori oleh Alferd Binet (1980),[12]ternyata tes inteligensi memiliki kekurangan atau kelemahan.  Kekurangan itulah yang melatarbelakangi  munculnya teori baru dan sebagai alat untuk menyerang  teori tersebut.  Teori baru ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman yang dikenal dengan istilah Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence). Menurut Daniel Goleman, EQ sama ampuhnya dengan IQ, dan bahkan lebih.[13]Terlebih dengan adanya hasil riset terbaru yang menyatakan bahwa kecerdasan kognitif (IQ)  bukanlah ukuran kecerdasan (Intelligence) yang sebenarnya, ternyata emosilah parameter yang  paling menentukan dalam kehidupan manusia. Menurut Daniel Goleman (IQ) hanya mengembangkan 20 % terhadap kemungkinan kesuksesan hidup,  sementara 80 % lainnya  diisi oleh kekuatan-kekuatan lain.[14]Ungkapan Goleman ini  seolah menjadi jawaban bagi situasi  ‘aneh’ yang sering terjadi di tengah masyarakat,  di mana ada orang-orang yang diketahui ber-IQ tinggi ternyata tidak mampu mencapai prestasi yang lebih baik dari sesama yang ber-IQ lebih rendah.
Kelebihan  lain dari kecerdasan emosi ini adalah kenyataan bahwa kecerdasan  emosi bukanlah kecerdasan statis yang diperoleh karena ‘warisan’ orang tua seperti IQ. Selama ini  telah diketahui bahwa seseorang yang terlahir dengan IQ rendah tidak dapat direkayasa untuk menjadi seorang jenius. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang dilahirkan dari orang tua ber-IQ tinggi kemungkinan besar akan ‘mengikuti jejak’ orang tuanya dengan ber-IQ tinggi juga. Adapun  kecerdasan emosi dapat tumbuh dan berkembang seumur hidup dengan belajar. Cerdas tidaknya emosi seseorang tergantung pada proses pembelajaran, pengasahan, dan pelatihan yang dilakukan sepanjang hayat.[15]       
Seseorang yang belum memiliki kecerdasan emosi biasanya akan mudah mengalami gangguan kejiwaan, atau paling tidak  kurang dapat mengendalikan emosinya, dan mudah larut dalam kesedihan apabila mengalami kegagalan. Apabila muncul perilaku-perilaku negatif yang disebabkan oleh kurangnya kecerdasan emosi, maka tidak mengherankan  bila merugikan bagi orang lain yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu, kecerdasan emosi  sangat diperlukan bagi setiap orang, karena dengan kecerdasan emosi orang akan memiliki rasa introspeksi yang tinggi, sehingga manusia tidak akan mudah marah, egois, tidak mudah putus asa, dan selalu memiliki rasa lapang dada dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.[16]
Survey telah membuktikan  terhadap orang tua dan guru-guru adanya kecenderungan  yang sama diseluruh dunia, yaitu generasi sekarang, lebih banyak mengalami kesulitan  emosional daripada  generasi sebelumnya: lebih kesepian dan pemurung, lebih brangasan dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif.[17]Dan dari hasil penelitanya Daniel Goleman  menemukan  situasi yang disebut dengan when smart is damb, ketika orang cerdas jadi bodoh . Daniel Goleman menemukan bahwa  orang Amerika yang memiliki kecerdasan atau IQ diatas 125 umumnya bekerja kepada orang yang memiliki kecerdasan rata-rata 100. artinya, orang yang cerdas umumnya bekerja kepada orang yang lebih bodoh darinya. Jarang sekali orang yang cerdas secara intelektual sukses dalam kehidupan. Melainkan  orang-orang yang biasalah yang sukses dalam kehidupanya karena kecerdasan emosinya.
Lantas apakah  yang menentukan sukses dalam kehidupan ini? Bukan kecerdasan intelektual akan tetapi kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional diukur dari kemamapuan mengendalikan emosi dan menahan diri. Dalam kesehatan mental kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang  yang paling tinggi dalam kecerdasan emosionalnya. Ia biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan, ketika belajar tekun  dapat menyesuaikan diri, dapat mengembangkan potensi, dan berhasil dalam mengatasi berbagai gangguan dan dapat mengendalikan emosinya. Dan faktor-faktor ini pula  yang menjadikan manusia sehat mentalnya.
Daniel Goleman menceritakan dalam kisah nyata betapa fatalnya orang yang tidak memiliki kecerdasan emosional. Pada suatu saat ada seorang anak  meminta izin kepada orang tuanya  untuk menginap dirumah  kawanya. Sementara anak itu pergi, orangtuanyapun  pergi untuk  menonton opera. Taklama dari itu, anak tersebut kembali kerumah karena tidak betah tinggal di rumah temanya. Pada saat itu, orangtuanya masih menonton opera. Anak nakal itu mempunyai rencana, ia ingin membuat kejutan untuk orangtuanya ketika pulang kerumah pada waktu malam. Ia akan diam di teile dan jika orangtuanya datang, ia akan meloncat dari toilet itu sambil berteriak. Beberapa saat kemudian, orangtuanya pulang dari opera menjelang tengah malam. Ketika melihat lampu toilet di rumahnya masih menyala mereka menyangka ada pencuri di rumahnya. Mereka masuk kerumah perlahan-lahan  sambil membuka pintu untuk segera mengambil pistol  lalu mengendap naik  ke atas loteng  tempat toilet itu berada. Ketika sampai di atas, tiba-tiba terdengar teriakan dari toilet itu. Ditembaklah orang yang berteriak itu  sampai lehernya putus. Dua jam kemudian  anak itu meninggal dunia.
Bisa dibayangkan betapa menyesalnya kedua orangtua itu, mereka bertindak terlalu cepat. Mereka mengikuti emosi takut dan kehawatiranya sehingga panca indranya belum sempat menyampaikan informasi  yang lengkap tentang orang  yang meloncat dan berteriak itu, seharusnya mereka menganalisis dulu mereka lihat siapa orang itu. Kisah diatas  menunjukkan akibat kecerdasan emosi yang tidak terlatih atau  kategori kecerdasan emosi rendah mereka memperturutkan emosinya dalam bertindak.
Emosi sangat mempengaruhi kehidupan manusia ketika dalam mengambil keputusan,  tidak jarang suatu keputusan diambil melalui emosinya. Tidak ada sama sekali keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasionalnya. Karena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional. Jika seseorang memperhatikan keputusan-keputusan dalam kehidupan manusia, ternyata keputusannya lebih banyak  ditentukan oleh emosi daripada akal sehat. Emosi yang begitu penting itu sudah lama ditinggalkan oleh para peneliti  padahal tergantung kepada emosilah bergantung  suka, duka, sengsara dan bahagianya manusia. Bukan kepada rasio. Karena itulah Goleman mengusulkan  selain memperhatikan kecerdasan otak, manusia juga harus memmperhatikan kecerdasan emosi. [18]
Manusia secara alamiah merindukan kehidupan yang tenang dan sehat baik jasmani maupun rohani. Kesehatan yang bukan menyangkut badan saja, tetapi juga kesehatan mental. Suatu kenyataan menunjukkan bahwa peradaban manusia yang semakin maju berakibat pada semakin kompleksnya gaya hidup manusia. Banyak orang terpukau dengan modernisasi, manusia menyangka dengan modernisasi itu serta merta akan membawa kepada kesejahteraan.  Banyak orang yang lupa bahwa di balik modernisasi yang serba gemerlap dan memukau itu  ada gejala yang dinamakan ketidaksehatan mental.[19]
Kebahagian manusia tidak tergantung pada fisik melainkan pada faktor pertumbuhan emosinya. Karena emosi sebagai tenaga-tenaga penggerak dalam hidup, yang menyebabkan manusia berkembang maju, dan mundur ke belakang..[20]Tidak seorang pun yang tidak menginginkan  ketenangan dan kebahagiaan dalam hidupnya, setiap orang akan berusaha mencarinya, meskipun tidak semua dapat mencapai yang diinginkannya itu. Bermacam sebab dan rintangan yang mungkin terjadi, sehingga banyak orang yang mengalami kegelisahan, kecemasan, ketidakpuasan dan emosi yang berlebih-lebihan.
Dapat dikatakan, semakin maju orang atau masyarakat, semakin banyak pula komplikasi  hidup yang dialaminya. Persaingan, perlombaan, dan pertentangan akibat kebutuhan dan keinginan yang harus tetap dipenuhi  menjadikan  orang sulit  untuk memperoleh mental yang sehat.
Sesungguhnya kesehatan mental, ketentraman jiwa, atau kecerdasan emosi tidak banyak tergantung oleh faktor-faktor luar seperti keadaan sosial, ekonomi, politik, akan tetapi lebih tergantung pada cara dan sikap dalam menghadapi faktor-faktor tersebut. Adapun yang menentukan ketenangan dan kebahagiaan hidup di antaranya adalah kesehatan mental dan kecerdasan emosi, yaitu cara seseorang menanggapi suatu persoalan dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri. Kesehatan mental dan kecerdasan emosi pula yang menentukan  orang mempunyai kegairahan hidup atau bersikap pasif.
Orangyang sehat mentalnya tidak akan lekas merasa  putus asa,  pesimis, dan apatis karena dia dapat menghadapi semua rintangan atau kegagalan dalam hidup dengan tenang dan wajar, serta menerima kegagalan itu sebagai suatu pelajaran yang akan membawa sukses nantinya.[21]Begitu pula  yang diungkapkan Daniel Goleman bahwa kerugian pribadi akibat rendahnya kecerdasan emosional dapat berkisar mulai dari kesulitan perkawinan, pendidikan anak, buruknya kesehatan jasmani, hambatan perkembangan intelektual, hingga ketidaksuksesan karir.[22] 
Karenaadanya fenomena diatas, dan kehidupan masyarakat di sekitar, bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari konflik-konflik maupun problem-problem  yang tidak jarang manusia mengalami ketegangan-ketegangan, pesimis, frustasi, dan stres.
 Dalam keadaan demikian, sebagaian orang lantas menyelesaikannya dengan cara emosional, dan sering kali sembrono, serampangan, lantah dan  menyimpulkan atau melontarkan pernyataan yang sebenarnya belum final  pengkajiannya pada waktu sedang emosi. Ini semua dilakukan karena belum adanya kecerdasan emosi, dan menjadikan mental tidak sehat. Padahal dari generasi ke generasi  manusia semakin cerdas akan tetapi ketrampilan emosional dan  sosialnya merosot tajam. Hal ini pula yang melemahkan kecerdasan emosi. Akibatnya, muncul patologi sosial yang ada dalam berbagai bentuk penyakit kejiwaan. Seperti krisis kepercayaan, ketidakjujuran, kebosanan, malasuai, dan kejenuhan hidup sehingga munculnya penyakit-penyakit kejiwaan yang berdampak negatif pula pada tata kehidupan pribadi dan sosial yang mengakibatkan ketidaksehatan mental atau  tidak adanya kesehatan mental.
Padapersoalan ini, maka sangat krusial konsep Daniel Goleman  diangkat sebagai solusi karena pada dasarnya konsep-konsep Daniel Goleman mencoba melihat aspek afeksi manusia khususnya pada perasaan atau emosi manusia. Dan konsep-konsep yang ditawarkan Daniel Goleman akan  mengantarkan manusia untuk memperoleh  mental yang sehat (kesehatan mental) karena perasaan  dapat mempengaruhi kesehatan mental, jadi perasaan yang ditempatkan pada tempatnya akan memperoleh mental yang sehat.  konsep Zakiahpun merupakan konsep yang cocok diterapkan pada zaman sekarangsss ini 

 Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang yag telah diungkapkan di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana konsep kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman?
2.      Bagaimana konsep kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat?
3.      Bagaimana relevansi kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat?

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Berangkat dari rumusan masalah, maka penulis mengharapkan adanya tujuan  yang hendak dicapai dalam penulisan skripsi ini. Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah:
Untuk mendeskripsikan konsep kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman.
Untuk mendeskripsikan konsep kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat.
Untuk mengetahui relevansi kecerdasan emosi Daniel Goleman dengan kesehatan mental Zakiah Daradjat.
Adapun kegunaan penelitian ini adalah:
1.      Secara teoritik penelitian ini  diharapkan dapat  menambah  khazanah ilmu pengetahuan, wawasan, serta kepustakaan, terutama yang berhubungan dengan kesehatan mental dan kecerdasan emosi.
2.      Secara  praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dan masukan bagi masyarakat pada umumnya dalam memahami kecerdasan emosi Daniel Goleman dan kesehatan mental Zakiah Daradjat.
3.      Menawarkan dan memberikan langkah alternatif dalam proses pembentukan pribadi yang cerdas emosi dan sehat mentalnya.

Telaah Pustaka

Telaahpustaka sangat berguna dan merupakan bagian integral dalam sebuah penelitian ilmiah, dalam skripsi ini digunakan buku-buku yang membahas persoalan  Daniel Goleman tentang  kecerdasan emosi. Paradigma kecerdasan yang berkembang sampai saat ini sungguh sangat kompleks, mulai dari Intelligence Quotient (IQ), Emotional Intelligence (EQ), Adversity Quotiens(AQ), Emotional Spiritual Quotient (ESQ), sampai pada TransendentalIntelligence (TQ) yang dikatakan sebagai puncak kecerdasan manusia. Adapun penulis hanya memusatkan atau terfokus pada temuan baru Daniel Goleman yaitu kecerdasan emosi. Begitupula dengan kesehatan mental, ternyata banyak sekali buku-buku Zakiah Daradjat yang membahas tentang persoalan kesehatan mental baik secara langsung maupun tidak langsung
Pembahasan tentang kecerdasan emosi ini telah diteliti oleh beberapa peneliti antara lain, dalam skripsi Kurniawati yang berjudul Unsur-Unsur Kecerdasan Emosi Daniel Goleman dalam perspektif Alqur’an.[23]
Dalam buku “Kecerdasan Emosional” diterangkan bahwa pandangan manusia tentang kecerdasan manusia itu terlalu sempit, mengabaikan  serangkaian penting kemampuan yang sangat besar pengaruhnya dalam menentukan  keberhasilan manusia dalam kehidupan. Dengan memanfaatkan penelitian yang menggemparkan tentang otak dan perilaku, Goleman memperlihatkan faktor-faktor yang terkait mengapa orang yang ber-IQ tinggi gagal dan mengapa orang yang ber-IQ sedang saja sukses. Faktor-faktor ini mengacu pada satu cara lain untuk menjadi cerdas, yaitu suatu cara yang disebutnya kecerdasan emosional. Ini merupakan ciri-ciri yang menandai orang yang menonjol dalam kehidupan nyata.[24]
Dalam buku “ Kecerdasan Emosi  untuk Mencapai Puncak Prestasi” Goleman mendapatkan gambaran mengenai ketrampilan yang dimiliki oleh para kinerja di segala bidang dari pekerja tingkat bawah  sampai posisi eksekutif. Satu-satunya faktor yang paling penting bukanya IQ, pendidikan tinggi, atau ketrampilan teknis melainkan kecerdasan emosi. Dan Daniel memberikan petunjuk yang spesifik dan ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan ini dengan menjelaskan unsur-unsur kecerdasan emosi.[25]
Steven J. Stein dan Howard dalam buku “Ledakan EQ” menyebutkan bahwa kecerdasan emosi dapat meningkatkan kinerja penjualan perusahaan-perusahaan  terkemuka di dunia dan menghadirkan bukti ekstensif hubungan kecerdasan emosi dengan kesuksesan dan mengungkapkan hasil penelitian terhadap 42.000 responden di 36 negara. Menurut Howard kecerdasan emosi  merupakan serangkaian kecakapan yang memungkinkan manusia melapangkan jalan di dunia  yang rumit, aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh misteri dan kepekaan yang penting.[26]
Jeanne Segal dalam buku “Melejitkan Kepekaan Emosional”  menjelaskan bahwa emosi dan akal adalah dua bagian dari satu keseluruhan. EQ mengingatkan pada ukuran standar kecerdasan otak dan wilayah EQ adalah hubungan pribadi dan antar pribadi, bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, dan kemampuan adaptasi sosial. Bila  EQ seseorang tinggi  mereka mampu memahami berbagai perasaan secara mendalam manakala perasaan-perasan muncul dan benar-benar dapat mengenali diri sendiri.[27]
Zakiah Daradjat dalam buku “Kesehatan Mental” menjelaskan arti kesehatan mental.  Menurutnya, yang menentukan  ketenangan dan kebahagiaan hidup adalah kesehatan mental, dan kesehatan mental pula yang menentukan tanggapan seseorang terhadap persoalan dan kemampuannya dalam menyesuaikan diri. Orang yang sehat mentalnya tidak akan lekas merasa putus asa, pesimis, atau apatis, karena orang tersebut dapat menerima rintangan atau kegagalan dalam hidupnya dengan tenang dan wajar.[28]

Landasan Teori

Tinjauan Mengenai Kecerdasan Emosi

Inteligensi (kecerdasan) berasal dari bahasa latin “intelligere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain.[29]
Kecerdasan (Intelligence) adalah daya reaksi penyesuaian yang cepat dan tepat baik secara fisik atau mental terhadap pengalaman-pengalaman baru,  membuat pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siap untuk  dipakai apabila dihadapkan pada fakta-fakta atau kondisi baru.[30]Menurut W. Stern, kecerdasan adalah  kesanggupan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan cepat dan tepat. Adapun menurut Alfred Binet, seorang tokoh utama perintis pengukuran intelligenceyang hidup antara tahun 1857-1911, mendefinisikan  inteligensi sebagai tindakan yang terdiri atas tiga komponen yaitu :
a.       Kemampuan untuk mengarahkan fikiran.
b.      Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan.
c.       Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri.[31]
Sementara itu, menurut Stern Berg intelligence (kecerdasan) adalah  kemampuan yang memiliki lima karakeristik umum yaitu kemampuan untuk belajar, mengambil manfaat dari pengalaman, berfikir secara abstrak,  beradaptasi, dan memotivasi diri sendiri dalam menyelesaikan masalah secara tepat.[32]
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa intelligence (kecerdasan) merupakan suatu kemampuan untuk mengarahkan, memahami, dan menyesuaikan jiwa, fikiran, tindakan, serta menyelesaikan masalah yang dihadapi secara tepat. Di antara faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi, antara lain pembawaan, kematangan, pembentukan, minat, dan kebebasan.[33]
Secaraetimologis, kata emosi berasal dari bahasa latin e (x) yang berarti keluar dan movere yang berarti bergerak.[34] Menurut Oxford English Dictionary, emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan fikiran, perasaan, nafsu, atau keadaan mental yang hebat. Sebenarnya dalam bidang psikologi, masalah emosi merupakan masalah yang belum terpecahkan, hal ini dapat dilihat dari tidak adanya pernyataan  yang jelas tentang definisi emosi itu sendiri. Dan para psikolog telah berusaha memberi pengertian emosi namun pernyataan mereka masih terbentur dengan tidak adanya pemisahan secara jelas antara definisi dari perasaan dan emosi sehingga masih ambiguitas. Menurut M. Alisuf Sabri, batas perbedaan antara  emosi dan perasaan terletak pada sifat kontak yang terjadi. Dalam perasaan ditemukan kesediaan kontak dengan  situasi (baik positif maupun negatif). Adapun dalam emosi kontak itu seolah-olah menjadi retak atau terputus misalnya pada saat kita sangat terkejut, ketakutan, mengantuk, dan sebagainya.[35] 
Untuk lebih memperjelas tujuan  pembahasan dalam penulisan ini, penulis ingin  mengutip pengertian emosi  menurut beberapa ahli. Menurut Ahmad Fauzi, emosi adalah setiap keadaan pada diri seseorang  yang disertai dengan warna afektif, baik pada  tingkat  yang lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang kuat (mendalam).[36]Tipe-tipe emosi meliputi kegembiraan, kesedihan, cinta, benci, marah, takut, dan sebagainya. Dan masing-masing dapat dialami dalam taraf yang berbeda-beda sejak dari yang ringan hingga yang ekstrim.[37]
Adapun J. Bruno mendefinisikan emosi dari dua sudut pandang. Pertama secara fisiologis, emosi adalah proses perubahan jasmani karena perasaan yang meluap. Kedua secara psikologis, emosi merupakan reaksi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan.[38]
Sementara Daniel Goleman merumuskan emosi  sebagai perasaan dan fikiran-fikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi  dapat dikelompokkan pada rasa  amarah, kesedihan, takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel, dan malu.[39]
Istilah kecerdasan emosi pertama kali dilontarkan  oleh psikolog Petersolovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire pada tahun 1990, dengan menyebutkan kualifikasi-kualifikasi emosi manusia yang meliputi empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, pengendalian amarah, kemandirian,  kemampuan menyesuaikan diri, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan dan kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat.
Istilah ini populer pada tahun 1995 dan dipopulerkan oleh Daniel Goleman, seorang psikolog dari Harvard University dalam karya monumentalnya berjudul Emotional Intelligence. Karyanya ini menjadikan beliau terkenal khususnya di bidang psikologi. Hasil risetnya yang menggemparkan  dengan mendefinisikan apa arti cerdas, dan dengan adanya temuan baru tentang otak dan manusia, memperlihatkan mengapa orang yang ber-IQ tinggi justru gagal sementara orang yang ber-IQ sedang menjadi sukses.
Faktor inilah menurut Daniel yang dapat memacu seseorang pada suatu cara lain untuk menjadi cerdas yang disebutnya kecerdasan emosi. Dalam risetnya Daniel Goleman memiliki  kurang lebih lima ribu perusahaan yang tersebar di seluruh dunia, Daniel mendapatkan gambaran ketrampilan yang dimiliki para bintang  kinerja di segala bidang, yang membuat mereka berbeda dengan yang lainnya. Dari pekerjaan tingkat bawah sampai posisi eksekutif, faktor yang terpenting bukan kecerdasan intelektual, pendidikan tinggi atau ketrampilan teknis, melainkan kecerdasan emosi.[40]
 Menurut Robert K. Cooper, kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk merasakan, memahami secara efektif, menerapkan  daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi.[41]
Kecerdasan emosi adalah kemampuan memahami perasaan diri sendiri dan kemampuan memahami perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi yang baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.[42] Kecerdasan emosi dalam perspektif sufi adalah kemampuan untuk tetap mengikuti tuntutan agama, ketika berhadapan dengan musibah, keberuntungan, perlawanan orang lain, tantangan hidup, kelebihan kekayaan, dan juga kemiskinan.[43]
Adapun menurut John Gottman, kecerdasan emosi ini mencakup kemampuan untuk mengendalikan dengan hati, menunda perasaan, memberi motivasi diri, membaca isyarat sosial orang lain, dan menangani naik turunnya kehidupan.[44]

Tinjauan Mengenai Kesehatan Mental

Kesehatan mental mempunyai beberapa pengertian menurut sudut pandang masing-masing orang dan sistem yang digunakan.
Kesehatan berasal dari kata “sehat” yang berarti dalam keadaan fisik yang baik, bebas dari sakit.[45]Adapun “mental” adalah kepribadian yang merupakan kebulatan dinamik dari seseorang yang tercermin dalam cita-cita, sikap, dan perbuatan.[46]Mental adalah semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap, dan perasaan yang dalam keseluruhan atau kebulatannya akan menentukan tingkah laku, cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan, atau yang menggembirakan dan menyenangkan.[47]
Mengenaikeanekaragaman konsep  kesehatan jiwa (mental), beberapa ahli mengemukakan orientasi umum dan pola-pola  wawasan kesehatan jiwa (mental). Dalam penelitian ini akan diuraikan pandangan pakar kesehatan jiwa (mental). Menurut Saparinah Sadli, terdapat tiga orientasi dalam kesehatan jiwa (mental) yang dapat dijadikan ukuran, yaitu:
a.       Orientasi klasik,  seseorang dikatakan sehat apabila tidak mempunyai keluhan tertentu, seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri, atau perasaan tak berguna, yang semuanya menimbulkan perasaan “sakit” atau “rasa tak sehat” serta mengganggu efisiensi kegiatan sehari-hari. Orientasi klasik ini banyak dianut di dunia kedokteran.
b.      Orientasi penyesuaian diri, seseorang dianggap sehat secara psikologis  apabila ia mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan orang lain dan lingkungan sekitarnya.
c.       Orientasi pengembangan potensi, seseorang dianggap mencapai taraf kesehatan mental, bila seseorang mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga seseorang dapat dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri.[48]
Jadi, kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.
Fungsi-fungsi jiwa seperti fikiran, perasaan, sikap jiwa,  pandangan dan keyakinan hidup, harus dapat saling membantu dan bekerja sama satu sama lain, sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan, yang menjauhkan orang dari perasaan ragu dan bimbang, serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan (konflik).
Dengan demikian, perubahan-perubahan tidak akan menyebabkan kegelisahan dan kegoncangan jiwa. Kesehatan yang penulis maksud di sini adalah terwujudnya keserasian antara fungsi kejiwaan serta terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungan yang didasarkan pada keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta diarahkan untuk mencapai kehidupan yang bermakna, bahagia dunia dan akhirat.
Pola wawasan yang berorientasi penyesuaian diri berpandangan bahwa kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri merupakan unsur pertama dari kondisi mental yang sehat. Dalam hal ini, penyesuaian diri diartikan secara luas yakni secara aktif berupaya memenuhi tuntutan lingkungan tanpa kehilangan harga diri, atau memenuhi  kebutuhan-kebutuhan pribadi tanpa melanggar hak-hak orang lain. Penyesuaian diri yang pasif dalam bentuk serba menarik diri atau serba menuruti tuntutan lingkungan adalah penyesuaian diri yang tidak sehat, karena biasanya akan berakhir dengan isolasi diri atau menjadi mudah terbawa situasi yang melingkupinya. 
Pola wawasan yang berorientasi pengembangan potensi pribadi. Menurut pandangan ini, kesehatan mental terjadi bila potensi-potensi kreatifitas, rasa humor, rasa tanggung jawab, kecerdasan, kebebasan bersikap dikembangkan secara optimal sehingga mendatangkan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.
Zakiah Daradjat mengatakan bahwa apabila kesehatan mental terganggu dapat menyebabkan orang tidak mampu menggunakan kecerdasannya. Keabnormalan emosi dan tindakan  juga  dapat disebabkan oleh terganggunya kesehatan mental. Pada keadaan tertentu terganggunya kesehatan mental dapat menyebabkan orang tidak mampu menggunakan kecerdasannya.[49]

Metode Penelitian

Jenis Penelitian
Setiap penulisan karya ilmiah tidak dapat lepas dari metode, karena metode merupakan cara bertindak dalam upaya, agar kegiatan penelitian dapat terlaksana atau tercapai  hasil yang maksimal.[50]Jenis penelitian dalam rangka penulisan skripsi ini adalah penelitian pustaka (library research), yaitu mengambil bahan-bahan penelitian dari beberapa buku atau majalah yang mendukung penelitian ini.[51]Maka, berdasarkan konsep ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan literer, yaitu sumber datanya atau obyek utamanya adalah bahan-bahan pustaka yang ada kaitannya dengan persoalan yang diteliti. Tahap operasional penelitian pustaka ini  adalah memilih dan mengkaji  karya-karya Daniel Goleman dan Zakiah Daradjat dengan mengfokuskan pada batasan konsep kecerdasan emosi dan kesehatan mental.
Sumber Data
Data-data dalam penelitian ini diperoleh melalui penelusuran karya-karya pemikiran Daniel Goleman yang berkaitan dengan kecerdasan emosi  dan Zakiah Daradjat yang  berkaitan dengan kesehatan mental.
a.       Sumber Data Primer
Yaitu data yang diperoleh  langsung dari pihak subyek penelitian sebagai informasi yang dicari, berupa karya Daniel Goleman  Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence) dan Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi (Working With Emotional Intelligence), yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Adapun mengenai kesehatan mental digunakan buku-buku karya Zakiah Daradjat  yang berjudul  Kesehatan Mental, Islam dan Kesehatan Mental, serta Peranan Agama dalam Kesehatan Mental.
b.      Sumber Data Sekunder
Yaitu sumber data yang diperoleh  dari pihak lain maupun karya-karya lain seperti Steven J. Stein dan Howard E. Book dalam Ledakan EQ,, Ary Ginanjar Agustian dalam Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ), Jeanne Segal dalam Melejitkan Kepekaan Emosional, Usman Najati dalam Belajar EQ dan SQ dari Sunah Nabi, Hasan Langgulung dalam Teori-Teori Kesehatan Mental, Rudy Hariyono dalam  Tehnik Mencapai Ketenangan Jiwa,  Latipun dalam Kesehatan Mental Konsep dan Penerapan. Selain itu sumber diambil dari jurnal, seperti Jurnal Dakwahedisi Januari-Juni 2001, dan majalah  Ummiedisi spesial tahun 2002 tentang Anak Cerdas Dunia Akhirat.
Analisis data
Setelah data-data yang diperlukan terkumpul, selanjutnya penulis mengelola dan mengklasifikasikan sesuai dengan pokok-pokok bahasan dalam skripsi ini. Untuk menganalisis data yang telah terkumpulkan digunakan metode berfikir induktif yang bersifat deskriptif analisis yaitu  memusatkan diri pada masalah-masalah  yang ada, kemudian data yang sudah terkumpul  disusun, dijelaskan, dan dianalisis.[52]
Dalam hal ini penulis akan berusaha  mendeskripsiksn terlebih dahulu pemikiran Daniel tentang kecerdasan emosi dan Zakiah Daradjat mengenai kesehatan mental, kemudian mempelajari berbagai pemikiran atau  pandangan  Daniel dan Zakiah, khususnya tentang kecerdasan emosi dan kesehatan mental. Dari data yang didapat itu diadakan proses analisis  secara kritis, dan dibuat suatu kesimpulan  yang bersifat umum yang selaras dengan rumusan masalah.

Sistematika Pembahasan

Untuk lebih memudahkan dalam pembahasan skripsi ini, maka disusunlah sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab pertama adalah pendahuluan,yang  terdiri dari: penegasan judul, latar belakang masalah,  rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, telaah pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab kedua membahas biografi Daniel Goleman dan Zakiah Daradjat, yang berisi  mengenal Daniel Goleman:  boografinya, latar belakang pendidikannya, hasilkaryanya. Kemudian mengenal Zakiah daradjat: biografinya, latar belakang pendidikannya, perjalanan kariernya, aktivitas dalam lembaga atau organisasi, tandapenghargaan atau penghormatan,serta karya-karyanya.
Bab ketiga, membahas konsep kecerdasan emosi dalam pandangan Daniel Goleman, yang berisi: pengertian kecerdasan emosi, dan unsur-unsur kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman.
Bab keempat, membahas tentang konsepsi kesehatan mental menurut Zakiah Daradjat,terdiri dari pengertian kesehatan mental, pengaruh kesehatan mental dalam hidup, ciri-ciri manusia yang sehat mentalnya,  syarat-syarat yang diperlukan dalam pembangunan mental, serta relevansi konsep kecerdasan emosi daniel Goleman dengan kesehatn mental Zakiah Daradjat.
Bab kelima merupakan  bab terakhir yang memuat tentang kesimpulan, saran  dan penutup.
BAB II
BIOGRAFI  DANIEL GOLEMAN DAN ZAKIAH DARADJAT

Mengenal  Daniel Goleman

Biografi Daniel Goleman
Daniel Goleman adalah seorang tokoh psikolog kontemporer yang namanya melejit lewat karya monumentalnya “Emotional Intelligence”. Daniel Goleman dilahirkan di Stockton California dan saat ini tinggal di Berkshires Massachusetts bersama istrinya, Tara Bennet, serta kedua anaknya Fay Goleman dan Irving Goleman.
Latar Belakang Pendidikan Daniel Goleman
Daniel Goleman menyelesaikan pendidikan strata satunya (graduate education) di Harvard University dan mendapat beasiswa dengan predikat Magna Cumlaude. Adapun strata dua (MA) dan strata tiga (Ph.D) dalam bidang Psikologi Klinik dan Perkembangan Pribadi (Clinical Psychology dan Personality Development) diraih di Universitas Harvard, dan saat  ini Daniel Goleman  menjadi dosen di almamaternya.
Selama dua belas tahun Daniel Goleman mempelajari tentang ilmu otak dan perilaku manusia. Hal ini dapat dilihat dari tulisan- tulisannya pada surat kabar The New York Times dan artikel-artikelnya yang dimuat di seluruh dunia. Berkat tulisan-tulisan Daniel Goleman yang dimuat di surat kabar bergengsi dunia serta usahanya yang ulet menghantarkannya banyak menerima penghargaan jurnalistik, termasuk dua nominasi bagi the pulizer prize atas tulisannya di surat kabar tersebut dan career achievement  award (penghargaan prestasi kerja) pada jurnalisme dari American Psycological Association(Asosiasi Psikologi Amerika). Untuk menghargai usahanya dalam mengkomunikasikan ilmu-ilmu ke publik, Daniel Goleman dipilih sebagai anggota pada The American Association to the Advancement of Science (Asosiasi Amerika pada Peningkatan Ilmu atau Sains).
Kegigihan berkarier dalam bidang keilmuan menjadikan Daniel Goleman   sebagai penasehat internasional dan menjadi dosen di berbagai  pertemuan-pertemuan bisnis dunia dan kelompok-kelompok profesional di kampus-kampus ilmiah (perguruan tinggi).
Daniel Goleman juga menjadi pendiri Emotional Intelligence Services (pelayanan intelligensi emosional) serta pendiri Collaborative for Social and Emotional Learning (Kolaborasi Pelajaran Sosial dan Emosional) pada The Yale University Child and Studies Center sekarang menjadi The University  Ilionis di Chicago yang bertujuan untuk memperkenalkan pelajaran-pelajaran literasi emosional di sekolah-sekolah dan salah satu tanda keberhasilan usahanya yaitu adanya ribuan sekolah di seluruh dunia  mengimplementasikan  program ini.
Pemikiran Daniel Goleman sebelumnya banyak dipengaruhi oleh David C Mc. Clelland (almarhum), beliau seorang profesor di Harvard University. Daniel Goleman sendiri mengakui dalam karyanya bahwa sebagian besar bukti yang menjadi dasar kesimpulan penelitiannya adalah dari penelitian beliau. Daniel Goleman mengakui bahwa pandangan visioner profesornya tentang sikap dasar kecakapan dan upayanya yang gigih untuk mencari kebenaran telah lama menjadi inspirasi bagi dirinya. Daniel Goleman juga banyak dipengaruhi oleh pemikiran riset Yoseph Ledoux, seorang ahli saraf di Center for Neural Science di New York University. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya pemikiran beliau dijadikan rujukan dan wawancara yang sedang dilakukan oleh Daniel Goleman. Daniel  juga banyak bekerja sama dengan istrinya tercinta yang seorang psikoterapi dalam perjalanan intelektualnya. 
Hasil Karya Daniel Goleman
a.       Emotional Intelligence
b.      Working With Emotional Intelligence
c.       Vital Lies
d.      Simple Truth The  Medicative Mind
e.       The Creative Spirit (penulis pendamping)
f.       Primal Leadership
g.      The Emotionally Intelligent Work Place
Di antara karya intelektualnya yaitu Emotional Intelligence dan Working With Emotional Intelligence merupakan karya monumental Dainel Goleman. Kedua buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Buku Daniel Goleman beredar dan tersebar luas di berbagai negara baik di negara barat maupun negara timur. Dan buku sensasionalnya yang berjudul Emotional Intelligence yang diterbitkan pada tahun 1995 merupakan salah satu buku “best seller” dan sudah diterjemahkan ke dalam tiga puluh bahasa, di Eropa, Asia, dan di Amerika terkopi lebih dari lima ribu kopian.[53]

Mengenal Zakiah Daradjat

  1. Biografi Zakiah Daradjat
Kampung Kota Merapak kecamatan Ampek Angkek, Bukit Tinggi  pada tahun tiga puluhan merupakan sebuah wilayah damai dan religius. Orang-orang menjalani hidupnya dengan perasaan aman, tanpa ada perasaan takut maupun khawatir terhadap kejahatan apapun.  Jika tiba waktu sholat, orang bergegas pergi ke masjid menunaikan kewajibannya sebagai muslim. Begitu aman dan religiusnya, sehingga penduduk kampung ini dengan tenang tanpa rasa khawatir sedikitpun dapat meninggalkan rumahnya, meskipun tidak dikunci.[54]
Zakiah Daradjat dilahirkan di ranah Minang, tepatnya di kampung Kota Merapak, kecamatan Ampek Angkek, Bukit Tinggi, pada tanggal 6 November 1929. Anak sulung dari pasangan suami istri Daradjat ibn Husein, bergelar Raja Ameh (Raja Emas) dan Rapi’ah binti Abdul Karim, sejak kecil tidak hanya dikenal rajin beribadah, tetapi juga tekun belajar. Kedua orangtuanya dikenal aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Ayahnya dikenal aktif di Muhammadiyah, sedangkan ibunya bergiat di Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).[55]
Sebagaimana umumnya masyarakat Padang, kehidupan keagamaan mendapat perhatian serius di lingkungan keluarganya. Keluarga Zakiah sendiri  bukan dari kalangan ulama atau pemimpin agama. Kakek Zakiah dari pihak ayah menjabat sebagai Kepala Nagari dan dikenal sebagai tokoh adat di Lambah Tigo Patah Ampek Angkek Candung. Kampung Kota Merapak sendiri pada dekade 30-an dikenal sebagai kampung relijius. Zakiah menuturkan, “jika tiba waktu shalat, masyarakat kampung saya akan meninggalkan semua aktivitasnya dan bergegas pergi ke masjid untuk menunaikan kewajibannya sebagai muslim.” Pendeknya, suasana keagamaan di kampung itu sangat kental.
Dengan suasana kampung yang relijius, ditambah lingkungan keluarga yang senantiasa dinafasi semangat keislaman, tak heran jika sejak kecil Zakiah sudah mendapatkan pendidikan agama dan dasar keimanan yang kuat. Sejak kecil Zakiah sudah dibiasakan oleh ibunya untuk menghadiri pengajian-pengajian agama. Pada perkembangannya, Zakiah tidak sekedar hadir, kadang-kadang dalam usia yang masih belia itu, Zakiah sudah disuruh memberi ceramah agama.[56]
  1. Latar Belakang Pendidikan Zakiah Daradjat
Pada usia enam tahun, Zakiah sudah mulai memasuki sekolah. Pagi belajar di Standaardshool (Sekolah Dasar) Muhammadiyah, sementara sorenya mengikuti sekolah Diniyah (sekolah dasar khusus agama). Hal ini dilakukan karena ia tidak mau hanya menguasai pengetahuan umum, ia juga ingin paling tidak mengerti masalah-masalah dan memahami ilmu-ilmu keislaman. Setelah menamatkan sekolah dasar, Zakiah melanjutkan ke Kulliyatul Muballighat di Padang Panjang.
Seperti halnya ketika duduk di sekolah dasar, sore harinya Zakiah juga mengikuti kursus di SMP. Namun, pada saat duduk di bangku SMA, hal yang sama tidak bisa lagi dilakukan oleh Zakiah. Ini karena lokasi SMA yang relatif jauh dari kampungnya, yaitu di Bukit Tinggi. Kiranya dasar-dasar yang diperoleh di Kulliyatul Mubalighat ini terus mendorongnya untuk berperan sebagai muballighah hingga sekarang.[57]
Pada tahun 1951, setelah menamatkan SMA, Zakiah meninggalkan kampung halamannya untuk melanjutkan studinya ke Yogyakarta. Di kota pelajar itu, Zakiah masuk fakultas Tarbiyah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN). Di samping di PTAIN Zakiah juga kuliah di fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII). Akan tetapi, Kuliahnya di UII harus berhenti di tengah jalan.[58]


Kemudian pada tahun 1956, Zakiah bertolak ke Mesir  dan langsung diterima (tanpa tes) di Fakultas Pendidikan Universitas Ein Shams, Kairo, untuk program S2. Zakiah berhasil meraih gelar MA dengan tesis tentang problema remaja di Indonesia pada tahun 1959 dengan spesialisasi Mental-Hygiene dari Universitas Ein Shams, setelah setahun sebelumnya mendapat diploma pasca sarjana dengan spesialisasi pendidikan dari universitas yang sama. Selama menempuh program S2 inilah Zakiah mulai mengenal klinik kejiwaan. Ia bahkan sudah sering berlatih praktik konsultasi psikologi di klinik universitas.[59]
Setelah meraih MA, Zakiah tidak langsung pulang, tetapi Zakiah menempuh program S3 di universitas yang sama. Ketika menempuh program S3 kesibukan Zakiah tidak hanya belajar. Pada tahun 1964, dengan disertasi tentang perawatan jiwa anak, Zakiah berhasil meraih gelar doktor dalam bidang Psikologi dengan spesialisasi kesehatan mental dari universitas Ein Shams.[60]
  1. Perjalanan Karir  Zakiah Daradjat
1 November 1964       Pegawai bulanan Organik, sebagai Ahli Pendidikan Agama, di Departemen Agama (Depag) Pusat.
10 Agustus 1965         Pegawai Negeri Sementara Ahli Pendidikan Agama, Depag.
September 1965          Ahli Pendidikan Agama Tk. I di Depag.
28 Maret 1967             Kepala Dinas Penelitian dan Kurikulum pada Direktorat Perguruan Tinggi Agama dan Pesantren Luhur. Pangkat: Ahli Pendidikan Agama Tk. I, Depag.
25 September 1967     Pegawai Tinggi Agama pada Diperta dan Pesantren Luhur, Depag.
17 Agustus 1972         Direktur Pendidikan Agama, Depag.
28 Oktober 1977         Direktur Perguruan Tinggi Agama, Depag.
1 Oktober 1982           Diangkat sebagai Guru Besar IAIN Jakarta.
30 Mei 1985                Anggota Dewan Guru Besar, Depag.
30 Oktober 1984         Dekan Fakultas Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
1983-1988                   Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), periode 1983-1988.
25 November 1994     Anggota Dewan Riset Nasional.
1992-1997                   Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), periode 1992-1997.[61]           
  1. Aktivitas dalam Lembaga/Organisasi
1970                            Salah seorang pendiri dan ketua “Lembaga Pendidikan Kesehatan Jiwa, Universitas Islam Jakarta”.
1970-1974                   Andalan Nasional Kwartir Pramuka.
1975                            Anggota Pacific Science Association
1978 Okt-1979 Mei    Anggota Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional.
1981-1983                   Anggota Dewan Siaran Nasional.
1983 – sekarang          Pendiri dan Ketua “Yayasan Pendidikan Islam Ruhama”, Jakarta.
1990 – sekarang          Salah seorang pendiri dan ketua “Yayasan Kesehatan Mental Bina Amaliah”, Jakarta.
1969- sekarang            Kuliah Subuh RRI
1969 – sekarang          Pembicara dalam Mimbar Agama Islam di TVRI.[62]
  1. Tanda Penghargaan/Penghormatan
Desember 1965     Medali Ilmu Pengetahuan dari Presiden Mesir (Gamal Abdul Naser) atas prestasi yang dicapai dalam studi/ penelitian untuk mencapai gelar doktor. Diterima dalam Upacara “Hari Ilmu Pengetahuan”.
10 Oktober 1977   Tanda kehormatan “Orde of Kuwait  Fourth Class” dari pemerintah kerajaan Kuwait (Amir Shabah Sahir As-Shabah) atas perayaannya sebagai penerjemah bahasa Arab, dalam kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto.
16 Oktober 1977   Tanda Kehormatan Bintang “Fourth Class Of The Order Mesir” dari presiden Mesir (Anwar Sadat) atas perayaannya sebagai penerjemah bahasa Arab, dalam kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto.
23 Juli 1988           Piagam penghargaan Presiden RI Soeharto atas peran dan karya pengabdian dalam usaha membina serta mengembangkan kesejahteraan kehidupan anak Indonesia dalam rangka hari anak nasional di Jakarta.
1990                      Tanda Kehormatan Satya Lancana karya satya tingkat I.
17 Agustus 1995   Tanda kehormatan Bintang Jasa Utama sebagai tokoh wanita/Guru Besar fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
1996                      Tanda Kehormatan Satya Lancana karya satya 30 tahun atau lebih.
19 Agustus 1999   Tanda Kehormatan Bintang Jasa Putera Utama sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia.[63]
  1. Hasil Karya  Zakiah Daradjat
Dalam masa aktif di Depag, Zakiah Daradjat mulai menulis buku di samping mengajar. Karya-karya atau buku karangan Zakiah kebanyakan merupakan kumpulan tulisan yang diangkat dari kuliah-kuliah dan ceramah-ceramahnya. Selain menulis buku, Zakiah juga giat menerjemahkan buku. Buku yang diterjemahkannyapun berkisar kepada masalah-masalah psikologi.[64]


a.     Penerbit PT Bulan Bintang
1)    Karangan Sendiri
a)     Ilmu Jiwa Agama, 1970
b)    Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental,1970
c)     Problema Remaja di Indonesia, 1974
d)    Perawatan Jiwa untuk Anak-Anak, 1982
e)     Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia, 1971
f)      Perkawinan yang Pertanggung Jawab, 1975
g)     Islam dan Peranan Wanita, 1978
h)    Peranan IAIN dalam Pelaksanaan P4, 1979
i)       Pembinaan Remaja, 1975
j)       Ketenangan dan Kebahagiaan dalam Keluarga, 1974
k)    Pendidikan Orang Dewasa, 1975
l)       Menghadapi Masa Menopouse, 1974
m)  Kunci Kebahagiaan, 1977
n)    Membangun Manusia Indonesia yang Bertakwa kepada Tuhan YME, 1977
o)    Kepribadian Guru, 1978
p)    Pembinaan Jiwa/Mental, 1974
2)    Terjemahan
a)     Pokok-Pokok Kesehatan Mental, 1974
Judul Asli   :    Usus-Shihah an-Nafsiyah
Pengarang   :    Prof. Dr. Abdul Aziz El-Quusy
b)    Ilmu Jiwa; Prinsip-prinsip dan Implementasinya dalam Pendidikan, 1976
Judul Asli   :    Ilmu-Nafsi, Ususuhu wa Tathbiqatuhu Fit-Tarbiyah
Pengarang   :    Prof. DR. Abdul Aziz El-Quusy
c)     Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat, 1977
Judul Asli   :    As-Shihah an-Nafsiyah
Pengarang   :    Prof. Dr. Mustafa Fahmi
d)    Bimbingan Pendidikan dan Pekerjaan, 1978
Judul Asli   :    At-Taujih at-Tarbawy wal-Mihany
Pengarang   :    Prof. Dr. Attia Mahmoud Hana
e)     Anda dan Kemampuan Anda, 1979
Judul Asli   :    Your Abilites
Pengarang   :    Virgina Bailard
f)      Pengembangan Kemampuan Belajar pada Anak-anak, 1980
Judul Asli   :    Improving Children’s Ability
Pengarang   :    Harry N. Rivling
g)     Dendam Anak-Anak, 1980
Judul Asli   :    Understanding Hostility  in Children
Pengarang   :    Prof. Dr. Mustafa Fahmi
h)    Anak-Anak yang Cemerlang, 1980
Judul Asli   :    Helping The Gifted Children
Pengarang   :    Prof. DR. Paul Wetty
i)       Mencari Bakat Anak-Anak, 1982
Judul Asli   :    Exploring Children’s Interests
Pengarang   :    G.F. Kuder/ B.b. Paulson
j)       Penyesuaian Diri, Pengertian dan Peranannya dalam Kesehatan Mental, jilid I-II, 1982
Judul Asli   :    At-Takayyuf an-Nafsy
Pengarang   :    Prof. Dr. Mustafa Fahmi
k)    Marilah Kita Pahami Persoalan Remaja, 1983
Judul Asli   :    Let’s Listen to Youth
Pengarang   :    H. H. Remmers/ C. G. Hacket
l)       Membantu Anak Agar Sukses di sekolah, 1985
Judul Asli   :    Helping Children Get Along In School
Pengarang   :    Goody Koonzt Bess
m)  Anak dan Masalah Seks,1985
Judul Asli   :    Helping Children Understand Sex
Pengarang   :    Lester A. Kirkendall
b.    Penerbit Gunung Agung
1)    Kesehatan Mental, 1969
2)    Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, 1970
3)    Islam dan Kesehatan Mental, 1971
c.      Penerbit YPI Ruhama
1)        Shalat Menjadikan Hidup Bermakna, 1988
2)        Kebahagiaan, 1988
3)        Haji Ibadah yang Unik, 1989
4)        Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental, 1989
5)        Do’a Menunjang Semangat Hidup, 1990
6)        Zakat Pembersih Harta dan Jiwa, 1991
7)        Remaja Harapan dan Tantangan, 1994
8)        Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, 1994
9)        Shalat untuk Anak-Anak, 1996
10)   Puasa untuk Anak-Anak, 1996
d.    Pustaka Antara
1)        Kesehatan, jilid I, II, III, 1971
2)        Kesehatan (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan), jilid  IV, 1974
3)        Kesehatan Mental dalam Keluarga, 1996
e.      Karangan Bersama
1)        Pelajaran Tafsir Al-Qur’an jilid I, II, III untuk Murid-Murid Madrasah Ibtidaiyyah bersama dengan H.M. Nur Asyik, MA (Bulan Bintang), 1968.
2)        Pendidikan agama Islam untuk SD (6 jilid), bersama dengan Anwar Yasin, M,Ed, Prof. H. Boestami, Ismail Hamid, KH. Nasaruddin Latif, H. Nazar, H. Saaduddin Djambek, Syuaib Hasan. (Mutiara), 1974
3)        Pendidikan Agama Islam untuk SMA (6 jilid), bersama Drs. M. Ali Hasan   dan Drs. Paimun, (bulan Bintang), 1978.
4)        Pendidikan Agama Islam untuk SPG (3 jilid), bersama Drs. M. Ali Hasan (Proyek Pengadaan Buku SPG-Depag. P&K), 1997.
f.      Karangan Bersama Sebagai Tim Pengarang/Penyusun
1)        Pendidikan Agama Islam untuk SD (6 jilid)
Sebagai penanggung jawab (Depag, RI), 1978
2)        Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam (6 Jilid)
Sebagai penanggung jawab merangkap anggota (Depag, RI), 1978
3)        Metode Khusus Pengajaran Agama Islam
Sebagai ketua merangkap anggota (Proyek Pembinaan PTA/ IAIN, 1980/ 1981
4)        Metode Pendidikan Agama (C.V. Forum, 1981)
5)        Ilmu Fiqih
Sebagai ketua merangkap anggota  (Proyek pembinaan PTA/ IAIN), 1982
6)        Pengantar Ilmu Fiqih II
Sebagai anggota tim penyusun
7)        Buku Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam untuk SMA, 1978
Sebagai anggota tim penyusun
8)        Buku (Naskah) PMP untuk SD, 1976
Sebagai anggota tim penyusun
9)        Buku Pengajaran Agama Islam di Sekolah Dasar, 1967.
Sebagai ketua merangkap anggota tim penulis
10)   Buku Pedoman Pelaksanaan P4 bagi Lembaga Pendidikan Agama Islam Tingkat Tinggi dan Atas, 1981
Sebagai tim penyusun naskah
11)   Buku Perbandingan Agama, 1980
Sebagai ketua merangkap  anggota tim penyusun naskah
12)   Pedoman Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa, 1980.
Sebagai konsultan dan ketua tim editor
13)   Bimbingan Praktis Agama Islam untuk OSIS,1980
14)   Texs Book Methodik Khusus Pengajaran Agama ,1980.
Sebagai ketua merangkap anggota.
15)   Penyusun Ensiklopedia Islam, 1979
Sebagai ketua, penyusun tim redaksi, editor.
16)   Informasi tentang IAIN, 1782.
Sebagai ketua tim penyelenggara, penyusun, penilai.
17)   Buku Statistik IAIN, 1982.
Pedoman umum/ Dasar kerja MPKM dan BPKM
18)   Buku Teks Islam untuk Humaniora, 1981
Sebagai editor dan penyelenggara.
19)   Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Hukum dan sosial, 1981.
Sebagai editor dan penyelenggara
20)   Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Filsafat, 1981
Sebagai editor dan penyelenggara.
21)   Buku Teks Islam Untuk Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, 1981.
Sebagai editor dan penyelenggara
22)   Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Sejarah, 1981.
Sebagai editor dan penyelenggara.
23)   Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Kedokteran II, 1982.
Sebagai penanggung jawab
24)   Buku Teks Islam Untuk Disiplin Ilmu Bahasa, 1982.
Sebaga penanggung jawab
25)   Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Ekonomi, 1982
Sebagai penanggung jawab
26)   Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Pertanian, 1982.
Sebagai penanggung jawab
27)   Buku Teks Islam untuk Disiplin Ilmu Psikologi, 1982.
Sebagai tim penyusun
28)   Perbandingan Agama II, 1982.
Sebagai ketua merangkap anggota
29)   Ilmu Tasawuf, 1981.
Sebagai konsultan.
BAB III
KONSEP KECERDASAN EMOSI DANIEL GOLEMAN

Konsep Kecerdasan Emosi dalam Pandangan Daniel Goleman

1.      Pengertian Kecerdasan Emosi
Akar kata emosi adalah:  movere  kata kerja bahasa Latin  yang berarti “menggerakkan, bergerak”  ditambah awalan  “e”  untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak  merupakan hal mutlak dalam emosi. Semua emosi, pada dasarnya adalah  dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang telah ditanamkan secara berangsur-angsur (evolusi), dan emosi  juga sebagai  perasaan dan fikiran-fikiran khas, suatu keadaan biologis  dan psikologis serta serangkaian  kecenderungan untuk bertindak. Emosi dapat dikelompokkan pada rasa amarah, kesedihan, takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel dan malu.[65]
Kecerdasan emosi adalah kemampuan memahami perasaan  diri sendiri, kemampuan memahami perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan  kemampuan mengelola emosi dengan  baik pada diri sendiri, dan dalam hubungan dengan orang lain.[66]
Adapun dalam buku yang lain Daniel Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengandalkan dorongan hati dan tidak berlebih-lebihan dalam kesenangan, mengatur suasana hati  dan menjaga agar bebas dari stres, tidak melumpuhkan kemampuan berfikir,  berempati, dan berdoa.[67]Dengan demikian yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk memahami serta mengatur suasana hati agar tidak melumpuhkan  kejernihan berfikir otak rasional, tetapi mampu menampilkan beberapa kecakapan, baik kecakapan pribadi maupun kecakapan antar pribadi.
2.      Unsur-Unsur Kecerdasan Emosi Menurut Daniel Goleman
Daniel Goleman berpendapat ada dua macam kerangka kerja kecakapan emosi yaitu kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Masing-masing dari kecakapan tersebut memiliki ciri-ciri tertentu yang digabung menjadi lima ciri. Adapun kelima ciri-ciri tersebut adalah:
a.      Kesadaran Diri
Para ahli psikologi menggunakan metakognisi untuk menyebutkan proses berfikir dan metamoduntuk menyebut kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Adapun Daniel Goleman  lebih menyukai istilah kesadaran diri untuk menyebut dua kesadaran di atas.[68]
Kesadaran diri menurut Daniel Goleman bukanlah perhatian yang larut ke dalam emosi akan tetapi lebih merupakan modus netral yang mempertahankan refleksi diri di tengah badai emosi.[69]
Kesadaran diri yaitu mengetahui apa yang ia rasakan pada suatu saat, dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri, dan kepercayaan diri yang kuat.[70]
Dalam buku Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman memaparkan contoh kesadaran diri yaitu :
“Alkisah, di Jepang ada seorang Samurai yang suka bertarung. Samurai ini menantang seorang guru Zen untuk menjelaskan konsep surga dan neraka. Tetapi pendeta menjawab dengan nada menghina, ”Kau hanyalah orang bodoh, aku tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk orang macam kamu.” Merasa harga diri direndahkan, Samurai itu naik darah. Sambil menghunus pedang, ia berteriak, ”Aku dapat membunuhmu karena kekurangajaranmu.” “Nah,” jawab pendeta itu dengan tenang, ”Itulah neraka.” Takjub melihat kebenaran yang ditunjukkan oleh sang guru, amarah yang menguasai diri samurai itu menjadi tenang, menyarungkan pedangnya, dan membungkuk sambil mengucapkan terima kasih pada sang pendeta itu atas penjelasannya. ”Dan” kata sang pendeta, ”Itulah surga.”[71]
Kesadaran mendadak Samurai terhadap gejolak perasaannya adalah  inti dari kecerdasan emosional, yaitu kesadaran akan perasaan diri sendiri waktu perasaan itu timbul.
Kesadaran diri tidak terbatas pada mengamati diri dan mengenali perasaan akan tetapi juga menghimpun kosa kata untuk perasaan dan mengetahui hubungan antara  fikiran, perasaan, dan reaksi.[72]
Menurut Daniel Goleman kesadaran seseorang terhadap titik lemah serta kemampuan pribadi seseorang juga merupakan bagian dari kesadaran diri. Adapun ciri orang yang mampu mengukur diri secara  akurat adalah:
1)      Sadar tentang kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya.
2)      Menyempatkan diri untuk merenung, belajar dari pengalaman.
3)      Terbuka terhadap umpan balik yang tulus, bersedia menerima perspektif  baru, mau terus belajar dan mengembangkan diri sendiri.
4)      Mampu menunjukkan rasa humor dan bersedia memandang diri sendiri dengan perspektif yang luas.[73]
Kesadaran diri memang penting apabila seseorang  ceroboh, tidak memperhatikan dirinya secara akurat, maka hal itu akan merugikan dirinya dan berdampak negatif  bagi oarang lain.  Oleh sebab itu, manusia harus pandai-pandai mencari tahu siapa dirinya. Kesadaran diri juga tidak lepas dari rasa percaya diri. Percaya diri memberikan asuransi mutlak  untuk terus maju. Walaupun demikian, percaya diri bukan berarti nekad.  Menurut Daniel Goleman  rasa percaya diri erat kaitannya dengan  “efektivitas diri”,  penilaian positif  tentang kemampuan kerja diri sendiri. Efektifitas diri cenderung pada keyakinan seseorang mengenai apa yang ia kerjakan dengan menggunakan ketrampilan yang ia miliki.[74]
Percaya diri memberi kekuatan untuk membuat keputusan yang sulit atau menjalankan tindakan yang diyakini kebenarannya. Tidak adanya percaya diri dapat menjadikan rasa putus asa, rasa tidak berdaya, dan meningkatnya keraguan pada diri sendiri.
Adapun ciri  dari orang yang memiliki rasa percaya diri adalah:
1)      Berani tampil dengan keyakinan diri, berani menyatakan keberadaannya.
2)      Berani menyuarakan pandangan yang tidak populer dan bersedia berkorban demi kebenaran.
3)      Tegas, mampu membuat keputusan yang baik kendati dalam keadaan tidak pasti dan tertekan.[75]
Adanya kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi pemahaman diri. Adapun  ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat manusia berada dalam kekuasaan perasaan. Orang yang memiliki keyakinan yang lebih baik tentang perasaannya adalah pilot yang handal bagi kehidupan mereka, karena mempunyai kepekaan lebih tinggi akan perasaan mereka yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan. Keputusan masalah pribadi maupun profesi. Kesadaran diri  tidak lain adalah kemampuan untuk mengetahui keadaan internal. Kesadaran diri sangat penting dalam pembentukan konsep diri yang positif. Konsep diri adalah pandangan pribadi terhadap diri sendiri, yang mencakup tiga aspek yaitu :
1)      Kesadaran emosi,  yaitu tahu tentang bagaimana pengaruhnya emosi terhadap kinerja, dan kemampuan menggunakan nilai-nilai untuk memandu pembuatan keputusan.
2)      Penilaian diri secara akurat, yaitu perasaan yang tulus tentang kekuatan-kekuatan dan batas-batas pribadi, visi yang jelas tentang mana yang perlu diperbaiki, dan kemampuan untuk belajar dari pengalaman orang lain.
3)      Percaya diri  yaitu keyakinan tentang harga diri dan kemampuan diri.
b.      Pengaturan Diri
Menurut Daniel Goleman pengaturan diri adalah  pengelolaan impuls dan perasaan yang menekan. Dalam kata Yunani kuno, kemampuan ini disebut sophrosyne, “hati-hati dan cerdas dalam mengatur kehidupan, keseimbangan, dan kebijaksanaan yang terkendali” sebagaimana yang diterjemahkan oleh Page Dubois, seorang pakar bahasa Yunani.[76]
Menurut Daniel Goleman, lima kemampuan pengaturan diri yang umumnya dimiliki  oleh staf performer adalah pengendalian diri, dapat dipercaya, kehati-hatian, adaptabilitas, dan inovasi.[77]
1)      Pengendalian Diri
Pengendalian diri adalah mengelola dan menjaga agar emosi dan impuls yang merusak tetap terkendali. Orang-orang yang memiliki  kecakapan pengendalian diri ini adalah sebagai berikut :
a)      Mengelola dengan baik perasaan-perasaan  impulsif dan emosi-emosi yang menekan.
b)      Tetap teguh, berpikir positif, dan tidak goyah bahkan dalam situasi yang paling berat.
c)      Berpikir dengan jernih dan tetap terfokus kendali dalam tekanan.[78]
2)       Dapat dipercaya dan kehati-hatian yaitu memelihara norma kejujuran dan integritas. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Bertindak menurut etika dan tidak pernah mempermalukan orang.
b)      Membangun kepercayaan lewat keandalan diri dan otentisitas.
c)      Mengakui kesalahan sendiri dan berani menegur perbuatan tidak etis orang lain.
d)     Berpegang kepada prinsip secara teguh bahkan bila akibatnya adalah menjadi tidak disukai.[79]
3)      Kehati-hatian, yaitu dapat diandalkan dan bertanggung jawab dalam memenuhi kewajiban. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Memenuhi komitmen dan mematuhi janji.
b)      Bertanggung jawab sendiri untuk memperjuangkan tujuan mereka.
c)      Terorganisasi dan cermat dalam bekerja.
4)      Adaptabilitas
Adaptabilitas yaitu keluwesan dalam menanggapi perubahan dan tantangan. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Terampil menangani beragamnya kebutuhan, bergesernya prioritas, dan pesatnya perubahan.
b)      Siap mengubah tanggapan dan taktik  untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.
c)      Luwes dalam memandang situasi.[80]
Adaptabilitas menurut keluwesan dalam mempertimbangkan bermacam-macam perspektif untuk suatu situasi  pada gilirannya. Keluwesan ini tergantung pada ketanggguhan emosi atau kemampuan untuk tetap merasa nyaman dalam ambiguitas dan tetap tenang dalam menghadapi sesuatu yang tidak terduga. Orang yang  kemampuannya kurang dalam menyesuaikan diri akan dihantui ketakutan, kecemasan, ketidaknyamanan yang mendalam akibat perubahan. Adapun berubahnya realitas merupakan bagian dari kehidupan yang  tidak terelakkan, terutama dalam dunia bisnis. Kecakapan lain yang mendukung adaptabilitas adalah  rasa percaya diri, khususnya kepastian yang  memungkinkan seseorang dengan cepat  mengatur tanggapan yang sesuai, dan melepaskan apa saja tanpa pertimbangan terlalu banyak. Adapun kecakapan lain yang berhubungan dengan adaptabilitas adalah inovasi. [81]
5)      Inovasi yaitu bersikap terbuka terhadap gagasan-gagasan dan pendekatan-pendekatan baru, serta informasi terkini. Orang dengan kecakapan ini :
a)      Selalu mencari gagasan baru dari berbagai sumber.
b)      Mendahulukan solusi-solusi yang orisinal pemecahan masalah.
c)      Menciptakan gagasan-gagasan baru.
d)     Berani mengubah wawasan dan mengambil resiko akibat pemikiran baru mereka.[82]
Tindakan inovatif  memerlukan unsur kognitif dan emosi. Bisa mempunyai wawasan kreatif merupakan unsur kognitif. Adapun untuk merasakannya memerlukan kecakapan  emosi, seperti percaya diri dan ketekunan.
Berkaitan dengan adanya unsur emosi dalam proses inovasi, Daniel Goleman menambahkan  bahwa landasan emosi  seorang inovator adalah senang menikmati orisinalitas. Pada saat orang lain sibuk berkutat dengan hal-hal remeh, dan merasa ketakutan yang luar biasa terhadap resiko gagasan barunya, seorang inovator dapat dengan cepat mengidentifikasi isu-isu penting  dan menyederhanakan masalah yang  semula tampak  sangat rumit. [83]
Secara sederhana, Daniel Goleman membagi tahapan penting dalam inovasi ini. Dalam dua tahapan  pertama inisiasi yaitu munculnya gagasan cemerlang. Kedua, implementasiyaitu mewujudkan gagasan tersebut. [84]
c.       Motivasi
Yaitu menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun  menuju sasaran, membantu untuk mengambil inisiatif untuk bertindak secara efektif, dan untuk bertahan menghadapi kegagalan atau frustasi.[85]Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting yang berkaitan dengan memberi perhatian, memotivasi diri sendiri, menguasai diri sendiri, dan berkreasi.
Untuk menumbuhkan motivasi seseorang perlu adanya kondisi flow pada diri orang tersebut. Flow adalah keadaan lupa sekitar, lawan dari lamunan dan kekhawatiran, bukannya tenggelam dalam kesibukan yang tak tentu arah. Momen flow tidak lagi bermuatan ego. Orang yang dalam keadaan flow menampilkan penguasaan hebat terhadap apa yang mereka kerjakan, respon mereka sempurna  senada dengan  tuntutan yang selalu berubah dalam tugas itu, dan meskipun  orang menampilkan  puncak kinerja saat sedang flow, mereka tidak lagi peduli pada bagaimana mereka bekerja, pada fikiran sukses atau gagal.  Kenikmatan  tindakan itu sendiri yang  memotivasi mereka.[86]
Flow merupakan puncak kecerdasan emosional. Dalam flow emosi tidak hanya ditampung dan disalurkan, akan tetapi juga bersifat mendukung, memberi tenaga, dan selaras dengan tugas yang dihadapi. Terperangkap dalam kebosanan, depresi, atau kemeranaan kecemasan menghalangi tercapainya keadaan flow.
Menurut Daniel Goleman, salah satu cara untuk mencapai flowadalah  dengan sengaja memusatkan perhatian sepenuhnya pada tugas yang sedang dihadapi. Keadaan konsentrasi tinggi merupakan  inti flow.
Flow merupakan keadaan yang bebas dari gangguan emosional, jauh dari paksaan, perasaan penuh motivasi yang ditimbulkan oleh ekstase ringan. Ekstase itu tampaknya merupakan  hasil samping dari fokus perhatian yang merupakan hasil prasyarat keadaan flow.
Mengamati seseorang yang dalam keadaan flowmemberi kesan bahwa yang sulit itu mudah, puncak performa tampak alamiah dan lumrah. Ketika dalam keadaan flow otak berada pada keadaan  “dingin”.
Adapun selain itu yang berkaitan dengan motivasi adalah optimisme. Menurut Daniel Goleman optimisme seperti harapan berarti memiliki pengharapan yang kuat bahwa secara umum, segala sesuatu dalam kehidupan akan sukses kendati ditimpa kemunduran dan frustasi. Dari titik pandang kecerdasan emosional, optimisme merupakan sikap yang menyangga orang agar  jangan sampai jatuh dalam kemasabodohan, keputusasaan atau depresi bila dihadang kesulitan, karena optimisme membawa keberuntungan dalam kehidupan asalkan optimisme itu realistis. Karena optimisme yang naif membawa malapetaka.[87]
Orang yang optimis memandang kemunduran sebagai akibat  sejumlah faktor yang bisa diubah, bukan kelemahan atau kekurangan pada diri sendiri. Berbeda dengan orang pesimis yang memandang kegagalan sebagai penegasan  atas sejumlah kekurangan fatal dalam diri sendiri yang tidak dapat diubah. Menurut Daniel Goleman, ciri-ciri dari orang yang memiliki  kecakapan optimis adalah sebagai berikut: 
1)      Tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan dan kegagalan.
2)      Bekerja dengan harapan untuk sukses bukannya takut gagal.
3)      Memandang kegagalan atau kemunduran sebagai situasi yang dapat dikendalikan  ketimbang sebagai kekurangan pribadi.[88]
Kerabat dekat optimisme adalah harapan. Harapan yaitu  mengetahui langkah-langkah yang diperlukan untuk meraih sasaran dan memiliki semangat serta energi untuk menyelesaikan tingkah-tingkah tersebut, harapan merupakan daya pemotivasi utama, maka ketidakhadirannya membuat orang tak berdaya.
Menurut Daniel Goleman, ada empat kemampuan motivasi yang harus dimiliki, yaitu:
1)      Dorongan prestasi yaitu dorongan untuk meningkatkan atau memenuhi standar keunggulan. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Berorientasi pada hasil, dengan semangat juang tinggi untuk meraih tujuan dan memenuhi standar.
b)      Menciptakan sasaran yang menantang dan berani mengambil resiko yang telah diperhitungkan.
c)      Mencari informasi sebanyak-banyaknya guna mengurangi ketidakpastian dan mencari cara yang lebih baik.
d)     Terus belajar untuk meningkatkan kinerja yang lebih  baik.
2)      Komitmen, yaitu menyelaraskan diri dengan sasaran kelompok atau lembaga. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Siap berkorban demi sasaran lembaga yang lebih penting.
b)      Merasakan dorongan semangat dalam misi yang lebih besar.
c)      Menggunakan nilai-nilai kelompok dalam pengambilan keputusan dan penjabaran pilihan-pilihan.
d)     Aktif mencari peluang guna memenuhi misi kelompok
3)      Inisiatif (initiative), yaitu kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Siap memanfaatkan peluang.
b)      Mengejar sasaran lebih dari yang dipersyaratkan atau diharapkan dari mereka.
c)      Berani melanggar batas-batas dan aturan-aturan yang tidak prinsip bila perlu, agar tugas dapat dilaksanakan.
d)     Mengajak orang lain melakukan sesuatu yang tidak lazim dan bernuansa petualangan.
4)      Optimisme, yaitu kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Tekun dalam mengejar sasaran kendati banyak halangan dan kegagalan.
b)      Bekerja dengan harapan untuk sukses bukannya takut gagal.
c)      Memandang kegagalan atau kemunduran sebagai situasi yang dapat dikendalikan  ketimbang sebagai kekurangan pribadi.[89]
d.      Empati
Menurut Daniel Goleman, empati adalah memahami perasaan dan masalah orang lain dan berfikir dengan sudut pandang mereka, menghargai perbedaan perasaan orang mengenai berbagai hal.[90]Menurut Daniel, kemampuan mengindera perasaan seseorang sebelum yang bersangkutan mengatakannya merupakan intisari empati. Orang sering mengungkapkan perasaan mereka lewat kata-kata, sebaliknya mereka memberi tahu orang lewat nada suara, ekspresi wajah, atau cara komunikasi nonverbal lainnya. Kemampuan memahami cara-cara komunikasi yang sementara ini dibangun di atas kecakapan-kecakapan yang lebih mendasar, khususnya kesadaran diri (self awareness)  dan kendali diri (self control). Tanpa kemampuan mengindra perasaan individu  atau menjaga perasaan itu tidak mengombang-ambingkan seseorang, manusia tidak akan peka terhadap perasaan orang lain.[91]
Empati menekankan pentingnya mengindra perasaan dari perspektif orang lain sebagai dasar untuk  membangun hubungan interpersonal yang sehat. Bila kesadaran diri terfokus pada pengenalan emosi sendiri, dalam empati perhatiannya diraihkan pada pengenalan emosi orang lain. Seseorang semakin mengetahui emosi sendiri, maka ia akan semakin terampil membaca emosi orang. Dengan demikian, empati dapat difahami sebagai kemampuan mengindra perasaan dan perspektif orang lain.
Tingkat empati tiap individu berbeda-beda. Menurut Daniel Goleman, pada tingkat yang paling rendah, empati mempersyaratkan kemampuan  membaca  emosi orang lain, pada tataran yang lebih tinggi, empati mengharuskan seseorang mengindra sekaligus menanggapi  kebutuhan atau perasaan seseorang yang tidak diungkapkan lewat kata-kata. Di antara yang paling tinggi, empati adalah menghayati masalah  atau kebutuhan-kebutuhan yang tersirat di balik perasaan seseorang.[92]  Adapun kunci untuk memahami perasaan orang lain adalah mampu membaca pesan  nonverbal  seperti ekspresi wajah, gerak-gerik dan nada bicara. Hal ini terbukti dalam  tes terhadap lebih dari  tujuh ribu orang di Amerika Serikat serta delapan belas negara lainnya. Dari hasil tes ini diketahui bahwa orang yang mampu membaca pesan orang lain dari isyarat nonverbal ternyata lebih pandai menyesuaikan diri secara emosional, lebih populer, lebih mudah bergaul, dan lebih peka dibandingkan dengan orang yang tidak mampu membaca isyarat nonverbal.[93]Namun ada kalanya seseorang tidak memiliki kemampuan  berempati. Menurut Daniel Goleman, empati tidak ditemukan kepada orang yang melakukan kejahatan-kejahatan sadis. Suatu cacat psikologis yang ada umumnya ditemukan pada pemerkosa, pemerkosa anak-anak, dan para pelaku tindak kejahatan rumah tangga. Orang-orang ini tidak mampu berempati, ketidakmampuan untuk merasakan penderitaan korbannya memungkinkan mereka melontarkan kebohongan kepada diri mereka sendiri sebagai pembenaran atas kejahatannya. Hilangnya empati sewaktu orang-orang melakukan kejahatan pada korbannya hampir senantiasa merupakan bagian dari siklus emosional yang mempercepat tindakan kejamnya.[94]Selain itu, empati tidak ditemukan pada penderita eleksitimia (ketidakmampuan mengungkapkan emosi). Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan  mereka untuk mengetahui apa yang sedang mereka rasakan. Selain bingung dengan perasaannya sendiri, penderita eleksitimiajuga bingung apabila ada orang lain yang mengungkapkan perasaannya kepadanya. Secara emosional, penderita ini tuli nada, tidak bisa mendeteksi kata atau tindakan yang bersifat emosional.
Empati yang berlebihan dapat mendatangkan stres, kondisi ini disebut “empathy distruss”, stres akibat empati. Menurut Daniel Goleman, stres akibat empati ini sangat lazim terjadi  bila seseorang merasakan kesusahan yang  mendalam, karena seseorang sangat empatik berhadapan dengan seseorang yang sedang dalam suasana hati negatif, dan kemampuan pengaturan dirinya tidak mampu  untuk menenangkan stres akibat simpati mereka sendiri. Untuk menghindari stres ini, diperlukan suatu seni mengelola emosi, sehingga manusia tidak terbebani oleh rasa tertekan yang menular dari orang yang sedang  dihadapi.[95] 
Menurut Daniel Goleman, ada lima kemampuan empati, yaitu :
1)      Memahami orang lain, yaitu mengindera perasaan-perasaan orang lain, serta mewujudkan minat-minat aktif terhadap kepentingan-kepentingan mereka. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Memperhatikan isyarat-isyarat emosi dan mendengarkannya dengan baik
b)      Menunjukkan kepekaan dan pemahaman terhadap perspektif orang lain.
c)      Membantu berdasarkan pemahaman terhadap kebutuhan dan perasaan orang lain.
2)      Mengembangkan orang lain yaitu, mengindera kebutuhan orang lain untuk berkembang dan meningkatkan kemampuan mereka. Orang lain dengan kecakapan ini:
a)      Mengakui dan menghargai kekuatan, keberhasilan dan perkembangan orang lain.
b)      Menawarkan umpan balik yang bermanfaat dan mengidentifikasi kebutuhan orang lain untuk berkembang.
c)      Menjadi mentor, memberikan pelatihan pada waktu yang tepat, dan penugasan-penugasan yang menantang serta memaksa dikerahkannya ketrampilan seseorang.
3)      Orientasi pelayanan  yaitu mengantisipasi, mengakui, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelanggan. Orang yang memiliki kecakapan ini:
a)      Memenuhi kebutuhan pelanggan dan menyesuaikan semua itu dengan pelayanan atau produksi yang tersedia.
b)      Dengan senang hati menawarkan bantuan yang sesuai.
c)      Mencari berbagai cara untuk meningkatkan kepuasan dan kesetiaan pelanggan.
d)     Menghayati perspektif pelanggan, bertindak sebagai penasehat yang dipercaya.
4)      Memanfaatkan keragaman yaitu menumbuhkan kesempatan (peluang) melalui pergaulan dengan bermacam-macam orang. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Hormat dan mau dengan orang-orang dari berbagai macam latar belakang.
b)      Memahami beragamnya pandangan dan peka terhadap perbedaan antar kelompok.
c)      Memandang keberagaman sebagai peluang menciptakan lingkungan yang memungkinkan semua orang sama-sama maju kendati berbeda-beda.
d)     Berani menentang sikap membeda-bedakan dan intoleransi.
5)      Kesadaran politik  yaitu mampu membaca kecenderungan sosial dan politik yang sedang berkembang. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Membaca dengan cermat hubungan kekuasaan yang paling tinggi
b)      Mengenal dengan baik semua jaringan sosial yang penting.
c)      Memahami kekuatan-kekuatan yang membentuk pandangan-pandangan serta tindakan-tindakan klien, pelanggan, atau pesaing.
d)     Membaca dengan cermat realitas lembaga maupun realitas di luar.[96]
e.       Ketrampilan Sosial
Ketrampilan sosial (social skills), adalah kemampuan untuk menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan ketrampilan untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan untuk bekerjasama dalam tim.
Dalam memanifestasikan kemampuan ini dimulai dengan mengelola emosi sendiri yang pada akhirnya manusia harus mampu menangani emosi orang lain. Menurut Goleman, menangani emosi orang lain adalah seni yang mantap untuk menjalin hubungan, membutuhkan kematangan dua ketrampilan emosional lain, yaitu manajemen diri dan empati. Dengan landasan keduanya, ketrampilan berhubungan dengan orang lain akan matang. Ini merupakan kecakapan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Tidak dimilikinya kecakapan ini akan membawa pada ketidakcakapan dalam dunia sosial atau berulangnya bencana antar pribadi. Sesungguhnya karena tidak dimilikinya ketrampilan-ketrampilan inilah yang menyebabkan orang-orang yang otaknya encer pun gagal dalam membina hubungannya.[97]
Dalam berhubungan dengan orang lain, manusia menularkan emosinya kepada orang lain atau sebaliknya semakin trampil seseorang secara sosial, semakin baik mengendalikan sinyal yang dikirimkan.
Kesadaran sosial juga didasarkan pada kemampuan perasaan sendiri, sehingga mampu menyetarakan dirinya terhadap bagaimana orang lain beraksi. Menurut Daniel Goleman, apabila kemampuan antar  pribadi ini tidak diimbangi dengan kepekaan perasaan terhadap kebutuhan dan perasaan diri sendiri serta bagaimana cara memenuhinya, maka ia akan termasuk dalam golongan bunglon-bunglon sosial yang tidak peduli sama sekali bila harus berkata ini dan berbuat itu.
Secara lebih luas, Daniel Goleman menjelaskan bahwa ketrampilan sosial, yang makna intinya adalah seni menangani emosi orang lain, merupakan dasar bagi beberapa kecakapan :
1)      Pengaruh yaitu terampil menggunakan perangkat persuasi secara efektif. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Trampil dalam persuasi.
b)      Menyesuaikan prestasi untuk menarik hati pendengar.
c)      Menggunakan strategi yang rumit seperti memberi pengaruh tidak langsung untuk membangun konsensus dan dukungan.
d)     Memadukan dan menyelaraskan peristiwa-peristiwa dramatis agar menghasilkan sesuatu yang efektif.
2)      Komunikasi, yaitu mendengarkan serta terbuka dan mengirimkan pesan serta meyakinkan. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Efektif dalam memberi dan menerima, menyertakan isyarat emosi dalam pesan-pesan.
b)      Menghadapi masalah-masalah sulit tanpa ditunda.
c)      Mendengarkan dengan baik, berusaha untuk saling memahami, dan bersedia berbagi informasi secara utuh.
d)     Menggalakkan komunikasi terbuka dan tetap bersedia menerima kabar buruk sebagai kabar baik.
3)      Manajemen konflik, yaitu merundingkan dan menyelesaikan ketidaksepakatan. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Menangani orang-orang sulit dan situasi tegang dengan diplomasi dan taktik.
b)      Mengidentifikasi hal-hal yang berpotensi menjadi konflik, menyelesaikan perbedaan pendapat secara terbuka, dan membantu mendinginkan situasi.
c)      Menganjurkan debat dan diskusi secara terbuka.
d)     Mengantar ke solusi menang-menang.
4)      Kepemimpinan, yaitu mengilhami dan membimbing individu atau kelompok. Orang dengan kecakapan:
a)      Mengartikulasikan (kata-kata jelas) dan membangkitkan semangat untuk meraih visi serta misi bersama.
b)      Melangkah di depan untuk memimpin bila diperlukan, tidak peduli sedang di mana.
c)      Memadu kinerja orang lain namun tetap memberikan tanggung jawab kepada mereka.
d)     Memimpin kuat teladan.
5)      Katalisator perubahan, yaitu mengawali atau mengelola perubahan. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Menyadari perlunya perubahan dan dihilangkannya hambatan.
b)      Menantang status quo untuk mengatakan perlunya perubahan.
c)      Menjadi pelopor perubahan dan mengajak orang lain ke dalam perjuangan itu.
d)     Membuat model perubahan seperti yang diharapkan oleh orang lain.
6)      Membangun hubungan, yaitu menumbuhkan hubungan yang bermanfaat. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Menumbuhkan dan memelihara jaringan tidak formal yang meluas.
b)      Mencari hubungan-hubungan yang saling menguntungkan.
c)      Membangun dan memelihara persahabatan pribadi di antara sesama mitra kerja.
7)      Kolaborasi dan kooperasi,  yaitu kerja sama dengan orang lain demi tujuan bersama.
a)      Menyeimbangkan pemusatan perhatian kepada tugas dengan perhatian kepada hubungan.
b)      Kolaborasi berbagai rencana, informasi, dan sumber daya.
c)      Mempromosikan iklim kerja sama yang bersahabat.
d)     Mendeteksi dan menumbuhkan peluang-peluang untuk kolaborasi.
8)      Kemampuan tim, yaitu menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama. Orang dengan kecakapan ini:
a)      Menjadi teladan dalam kualitas tim seperti respek, kesediaan membantu orang lain, dan kooperasi.
b)      Mendorong setiap anggota tim berpartisipasi secara aktif dan penuh antusiasme.
c)      Membangun identitas tim, semangat kebersamaan dan komitmen.[98]
Seluruh ciri-ciri manusia yang memiliki EQ tinggi sebagaimana dirumuskan Daniel Goleman merupakan ciri yang harus dimiliki oleh para star performer, tetapi juga dapat diterapkan pada segala aktivitas termasuk dalam berdakwah. Dalam hal ini Goleman menyatakan bahwa aturan kerja ini telah berubah, manusia dinilai berdasarkan tolak ukur baru, tidak hanya berdasarkan tingkat kepandaian, atau berdasarkan pelatihan dan pengalaman, tetapi juga berdasarkan sikap baik mengelola diri sendiri dan berhubungan dengan orang lain. Aturan hampir tidak berhubungan dengan yang dahulu dianggap penting saat menuntut ilmu. Kemampuan akademik hampir tidak berkaitan dengan standar ini. Alat ukur baru ini sudah dengan teknik yang memadai untuk mengerjakan tugas-tugas, namun berbeda dengan yang lama, alat ukur baru ini memusatkan perhatian pada kualitas pribadi.  Hal ini dapat dilihat dengan adanya ciri-ciri EQ yang dikemukan Daniel Goleman, seperti kesadaran diri, pengaturan diri, dan motivasi dibandingkan dengan kecakapan sosial (empati dan ketrampilan sosial).
Adanya ciri-ciri tersebut di atas, juga telah memperlihatkan hubungan antara kelima dimensi kecerdasan emosi dan dua puluh lima kecakapan emosi. Dan menurut penulis skala yang ditetapkan Daniel Goleman di atas tidak seorangpun yang sempurna melaksanakan mempunyai profil kekuatan dan batas-batas sendiri. Untuk itu yang harus dilakukan adalah bagaimana belajar untuk terus berbenah diri menjadi profil ideal tersebut.
BAB  IV

KONSEPSI KESEHATAN MENTAL MENURUT ZAKIAH DARADJAT

Pengertian Kesehatan Mental

Pemikiran Zakiah Daradjat tentang kesehatan mental dapat dilihat dari sejarah pendidikan dan pengalaman Zakiah sebagai konsultan ketika menghadapi klien atau orang-orang yang menghadapi berbagai macam problema dalam kehidupannya, termasuk para penderita penyakit atau gangguan kejiwaan. Dari sinilah dapat diketahui secara jelas pemikiran Zakiah, demikian pula dengan melihat karya-karya Zakiah  sebagai seorang psikolog.
Banyak pengertian dan definisi tentang kesehatan mental  yang diberikan oleh para ahli sesuai dengan pandangan di bidang masing-masing. Zakiah Daradjat dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar kesehatan jiwa di IAIN “Syarif Hidayatullah Jakarta” mengemukakan empat buah rumusan kesehatan jiwa yang lazim dianut para ahli. Keempat rumusan tersebut disusun mulai dari rumusan-rumusan yang khusus sampai dengan yang lebih umum.[99]
1.      Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa(neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose)
Berbagai kalangan psikiatri (kedokteran jiwa) menyambut baik definisi ini. Seseorang dikatakan bermental sehat bila terhindar dari gangguan atau penyakit jiwa, yaitu adanya perasaan cemas tanpa diketahui sebabnya, malas, hilangnya kegairahan bekerja pada diri seseorang dan bila gejala ini meningkat akan menyebabkan penyakit anxiety, neurastheniadan  hysteria. Adapun orang yang sakit jiwa biasanya akan memiliki pandangan berbeda dengan orang lain inilah yang dikenal dengan orang gila.
2.      Kesehatan mental adalah: kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat sera lingkungan tempat ia hidup.
Definisi ini lebih luas dan bersifat umum  karena berhubungan dengan kehidupan manusia pada umumnya. Menurut definisi ini seseorang dikatakan bermental sehat bila dia menguasai dirinya sehingga terhindar dari tekanan-tekanan perasaan atau hal-hal yang menyebabkan frustasi. Orang yang mampu menyesuaikan diri akan merasakan kebahagiaan dalam hidup karena tidak diliputi dengan perasaan-perasaan cemas, gelisah, dan ketidakpuasan. Sebaliknya akan memiliki semangat yang tinggi dalam menjalani hidupnya. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri, harus lebih dahulu mengenal diri sendiri, menerima apa adanya, bertindak sesuai kemampuan dan kekurangan. Ini bukan berarti  harus mengabaikan orang lain.
Dalam definisi ini orang yang sehat mentalnya ialah orang yang dapat menguasai segala faktor dalam hidupnya, sehingga dapat menghindarkan diri dari tekanan-tekanan perasaan yang menimbulkan frustasi.
3.       Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain, serta terhindar dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa.
Definisi ini lebih menekankan pada pengembangan dan pemanfaatan segala daya  dan pembawaan yang dibawa  sejak lahir, sehingga benar-benar membawa manfaat bagi orang lain dan dirinya sendiri.
Dalam hal ini seseorang harus mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang dimilikinya dan jangan sampai ada bakat yang  tidak baik untuk tumbuh yang akan membawanya pada ketidakbahagiaan hidup, kegelisahan, dan pertentangan batin. Seseorang yang mengembangkan potensi yang ada untuk merugikan orang lain, mengurangi hak, ataupun menyakitinya, tidak dapat dikatakan memiliki mental yang sehat. Karena memanfaatkan potensi yang ada dalam dirinya untuk mengorbankan hak orang lain.
4.      Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positif  kebahagiaan dan kemampuan dirinya.
Seseorang dikatakan memiliki mental sehat apabila terhindar dari gejala penyakit jiwa dengan memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk menyelaraskan fungsi jiwa dalam dirinya. Kecemasan dan kegelisahan dalam diri seseorang lenyap bila fungsi jiwa di dalam dirinya seperti fikiran, perasaan, sikap, jiwa, pandangan, dan keyakinan hidup berjalan seiring sehingga menyebabkan adanya keharmonisan dalam dirinya.
Keharmonisan antara fungsi jiwa dan tindakan dapat dicapai antara lain dengan  menjalankan ajaran agama dan berusaha menerapkan norma-norma sosial, hukum, dan moral. Dengan demikian akan tercipta ketenangan batin yang menyebabkan timbulnya kebahagiaan di dalam dirinya. Definisi ini menunjukkan bahwa fungsi-fungsi jiwa seperti fikiran, perasaan, sikap, pandangan dan keyakinan, harus saling menunjang dan bekerja sama sehingga menciptakan keharmonisan hidup, yang menjauhkan orang dari sifat ragu- ragu dan bimbang, serta terhindar dari rasa gelisah dan konflik batin.
Dapatlah dikatakan bahwa kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala-gejala gangguan dan penyakit jiwa, dapat menyesuaikan diri, dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin dan membawanya pada kebahagiaan bersama, serta tercapainya keharmonisan jiwa dalam hidup. Ada beberapa definisi penting yang perlu di jelaskan dalam konsep kesehatan mental Zakiah Daradjat.
a.       Pengertian mengenai terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan ialah berkembangnya seluruh potensi kejiwaan secara seimbang sehingga manusia dapat mencapai kesehatannya secara lahiriah maupun batiniah serta terhindar dari pertentangan batin keguncangan, kebimbangan, dan perasaan dalam menghadapi berbagai dorongan dan keinginan.
b.      Pengertian terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri ialah usaha untuk menyesuaikan diri secara sehat terhadap diri sendiri yang mencakup pembangunan dan pengembangan seluruh potensi dan daya yang terdapat dalam diri manusia serta tingkat kemampuan memanfaatkan potensi dan daya seoptimal mungkin sehingga penyesuaian diri membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi diri sendiri maupun orang lain.
c.       Pengertian tentang penyesuaian diri yang sehat terhadap lingkungan  dan masyarakat merupakan tuntunan untuk meningkatkan keadaan  masyarakatnya dan dirinya sendiri sebagai anggotanya. Artinya, manusia tidak hanya memenuhi tuntutan masyarakat dan mengadakan perbaikan di dalamnya tetapi juga dapat membangun dan mengembangkan dirinya sendiri secara serasi dalam masyarakat. Hal ini hanya bisa dicapai  apabila masing-masing  individu dalam masyarakat sama-sama berusaha meningkatkan diri secara terus menerus  dalam batas-batas yang diridhoi Allah.
d.      Pengertian berlandaskan  keimanan dan ketakwaan adalah masalah keserasian yang sungguh-sungguh antar fungsi-fungsi kejiwaan dan penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya hanya dapat terwujud  secara baik dan sempurna apabila usaha ini didasarkan atas keimanan  dan ketakwaan kepada Allah SWT.  Dengan demikian, faktor agama memainkan peranan yang besar dalam pengertian kesehatan mental.
e.       Pengertian bertujuan untuk mencapai kehidupan yang bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat  adalah kesehatan mental bertujuan untuk mewujudkan kehidupan yang baik, sejahtera, dan bahagia bagi manusia secara lahir dan batin baik jasmani maupun rohani, serta dunia dan akhirat[100]

Pengaruh Kesehatan Mental dalam Hidup

Cara menentukan  pengaruh mental  tidak mudah, karena mental tidak dapat dilihat, diraba atau diukur secara langsung. Manusia hanya dapat melihat bekasnya dalam sikap, tindakan, cara menghadapi persoalan, dan akhlak. Oleh ahli jiwa dikatakan bahwa pengaruh mental itu dapat dilihat pada perasaan, pikiran, kelakuan, dan kesehatan.
1.      Pengaruh Kesehatan Mental terhadap Perasaan
Pengaruh kesehatan mental terhadap perasaan akan terlihat dari cara orang menghadapi kehidupan ini. Misalnya ada orang yang  menghadapinya dengan kecemasan dan ketakutan. Banyak hal-hal kecil yang mencemaskannya, kadang-kadang hal remeh, yang oleh orang lain tidak dirasakan berat,  akan tetapi bagi dirinya hal  itu sudah  sangat berat sehingga menyebabkannya gelisah, tidak bisa tidur, dan hilang nafsu makan.  Mereka sendiri tidak mengerti dan tidak dapat menahan atau mengatasi kecemasannya. Inilah yang dalam istilah  kesehatan mental dinamakan anxiety dan phobia atau takut yang tidak pada tempatnya.[101]  Jadi di antara gangguan  perasaan yang disebabkan oleh terganggunya kesehatan mental adalah rasa cemas (gelisah), iri hati, sedih, merasa rendah diri, pemarah, dan  ragu (bimbang).
2.      Pengaruh Kesehatan Mental terhadap Pikiran
Di antara masalah yang sering menggelisahkan orang tua, adalah menurunnya  kecerdasan dan kemampuan anaknya dalam pelajaran atau semangat belajarnya menurun, jadi pelupa, dan tidak sanggup memusatkan perhatian.[102]
Mengenai pengaruh kesehatan mental atas pikiran, memang besar sekali. Di antara gejala yang bisa dilihat yaitu sering lupa, tidak bisa mengkonsentrasikan pikiran tentang sesuatu hal yang penting, kemampuan berfikir menurun, sehingga merasa seolah-olah tidak lagi cerdas, pikirannya tidak bisa digunakan, kelemahan dalam bertindak, lesu, malas, tidak bersemangat kurang inisiatif, dan mudah terpengaruh oleh kritikan-kritikan orang lain, sehingga mudah meninggalkan rencana baik yang telah dibuatnya hanya karena kritikan orang lain. Semuanya itu bukanlah suatu sifat yang datang tiba-tiba dan dapat diubah dengan nasehat dan teguran saja, akan tetapi telah masuk terjalin ke dalam pribadinya yang tumbuh sejak kecil.
3.      Pengaruh Kesehatan Mental terhadap Kelakuan
Ketidaktentraman hati, atau kurang sehatnya mental, sangat mempengaruhi kelakuan dan tindakan seseorang, seperti nakal, pendusta, menganiaya diri sendiri atau orang lain, menyakiti  badan orang atau hatinya dan berbagai kelakuan menyimpang lainnya.  
4.      Pengaruh Kesehatan Mental terhadap Kesehatan Badan
Di antara masalah yang banyak terjadi dalam masyarakat maju, adalah adanya kontradiksi yang tidak mudah dimengerti yaitu masalah kesehatan. Kalau pada masa dahulu, penyakit dan bahaya yang sangat mencemaskan orang adalah penyakit menular dan penyakit-penyakit yang mudah menyerang.  Penyakit-penyakit tersebut dapat diatasi dengan obat-obatan  dan cara-cara pencegahan yang ditemukan para ahli. Akan tetapi, pada masyarakat maju telah timbul suatu penyakit  yang lebih berbahaya dan sangat menegangkan  yaitu penyakit gelisah, cemas, dan berbagai penyakit  yang tidak dapat diobati oleh ahli-ahli kedokteran. Karena penyakit itu timbul  bukan karena kekurangan pemeliharaan kesehatan atau kebersihan akan tetapi karena kehilangan ketenangan jiwa.[103]

Ciri-ciri Manusia yang Sehat Mentalnya

1.      Ciri Manusia yang Sehat Mentalnya
Orang yang sehat mentalnya adalah orang-orang yang mampu merasakan kebahagian dalam hidup, karena orang-orang inilah yang dapat merasa bahwa dirinya berguna, berharga dan mampu menggunakan segala potensi dan bakatnya semaksimal mungkin, yang membawa kebahagiaan bagi  dirinya sendiri dan orang lain. Di samping itu, ia mampu menyesuaikan diri dalam arti yang luas (dengan dirinya, orang lain, dan suasana sekitar). Orang-orang inilah yang terhindar dari kegelisahan dan gangguan jiwa, serta tetap terpelihara moralnya.
Maka orang yang sehat mentalnya, tidak akan merasa ambisius, sombong, rendah diri dan apatis, tapi ia adalah wajar, menghargai orang lain, merasa percaya kepada diri sendiri dan selalu gesit. Setiap tindak dan tingkah lakunya, ditunjukkan untuk mencari kebahagiaan bersama, bukan kesenangan dirinya sendiri. Kepandaian dan pengetahuan yang dimilikinya digunakan untuk  kemanfaatan dan kebahagiaan bersama. Kekayaan dan kekuasaan yang ada padanya, bukan untuk bermegah-megahaan dan mencari kesenangan diri sendiri, tanpa mengindahkan orang lain, akan tetapi digunakannya untuk menolong orang yang miskin dan melindungi orang yang lemah. Seandainya semua orang sehat mentalnya, tidak akan ada penipuan, penyelewengan, pemerasan, pertentangan dan perkelahian dalam masyarakat, karena mereka menginginkan dan mengusahakan semua orang dapat merasakan kebahagiaan, aman tentram, saling mencintai dan tolong-menolong.
2.      Manusia  yang Kurang Sehat Mentalnya
Manusia  yang kurang sehat ini sangat luas, mulai dari yang seringan-ringannya sampai kepada yang seberat-beratnya. Dari orang yang merasa terganggu ketentraman batinnya, sampai kepada orang yang sakit jiwa. Gejala yang umum, yang tergolong kepada yang kurang sehat dapat dilihat dalam beberapa segi antara lain pada:
Perasaan                     :       Yaitu perasaan terganggu, tidak tenteram, rasa gelisah, tidak tentu yang digelisahkan, tapi tidak bisa pula mengatasinya (anxiety); rasa takut yang tidak masuk akal atau tidak jelas yang ditakuti itu apa (phobi), rasa iri, rasa sedih, sombong, suka bergantung kepada orang lain, tidak mau bertanggung jawab, dan sebagainya.
Pikiran                        :            Gangguan terhadap kesehatan mental, dapat pula mempengaruhi pikiran, misalnya anak-anak menjadi bodoh di sekolah, pemalas, pelupa, suka bolos, tidak bisa konsentrasi, dan sebagainya. Demikian pula orang dewasa mungkin merasa bahwa kecerdasannya telah merosot, ia merasa bahwa kurang mampu melanjutkan sesuatu yang telah direncanakannya baik-baik, mudah dipengaruhi orang, menjadi pemalas, apatis, dan sebagainya.
Kelakuan                    :            Pada umumnya kelakuan-kelakuan yang tidak  baik seperti kenakalan, keras kepala, suka berdusta, menipu, menyeleweng, mencuri, menyiksa orang, membunuh, dan merampok, yang menyebabkan orang lain menderita dan teraniaya haknya
Kesehatan                   :            Jasmani dapat terganggu bukan karena adanya penyakit yang betul-betul mengenai jasmani itu, akan tetapi rasanya sakit, akibat jiwa tidak tenteram, penyakit yang seperti ini disebut psychosomatic. Di antara gejala penyakit ini yang sering terjadi seperti sakit kepala, merasa lemas, letih, sering masuk angin, susah nafas, sering pingsan, bahkan sampai sakit yang lebih berat, lumpuh sebagian anggota jasmani, kelu lidah  saat bercerita, dan  tidak bisa melihat (buta) yang terpenting adalah  penyakit jasmani itu tidak  mempunyai sebab-sebab fisik sama sekali.[104]
Inilah gejala-gejala kurang sehat yang agak ringan, dan lebih berat dari itu, mungkin menjadi gangguan jiwa (neourose) dan terberat adalah sakit jiwa (psychose).
3.      Syarat-syarat yang Diperlukan dalam  Pembangunan Mental
Di antara syarat-syarat terpenting dalam pembangunan mental adalah:
a.       Pendidikan.
Pendidikan yang dimulai dari rumah tangga, dilanjutkan di sekolah, dan  juga dalam masyarakat. Pembangunan mental, mulai sejak anak lahir, di mana semua pengalaman yang dilaluinya mulai lahir, sampai mencapai usia dewasa (21 tahun), menjadi bahan dalam pembinaan mentalnya. Maka syarat-syarat yang diperlukan, dalam pendidikan baik di rumah, sekolah maupun masyarakat ialah kebutuhan-kebutuhan pokoknya harus terjamin, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan psikis dan sosial. Di mana harus terjamin makan minum yang cukup memenuhi syarat kesehatan untuk pertumbuhannya di rumah, sekolah dan masyarakat, maka anak-anak itu harus:
1)      Merasa disayangi oleh ibu-bapak, guru, dan kawan-kawannya. Anak yang merasa kurang disayangi, atau kurang diperhatikan kepentingan dan kebutuhannya, akan merasa hidup menderita. Apabila ia merasa tidak disayangi, terutama waktu kecil ia tidak akan pernah merasa kasih sayang kepada orang lain dan tidak akan merasakan kesayangan orang kepadanya di kemudian hari, ia akan cenderung kepada perasaan sedih, murung, menyendiri dan benci kepada masyarakat atau orang di sekitarnya. Emosinya mungkin tidak matang.
2)      Merasa aman, tentram, di mana ia tidak sering dimarahi, dihina, diperlakukan tidak adil, diancam, orang-orang yang berkuasa di sekelilingnya tidak sering bertengkar, kebutuhannya yang pokok terpenuhi (keadaan ekonomi yang sangat kurang ikut mempengaruhi mental anak apabila ia berada dalam kelompok orang-orang yang mampu) dan lain-lain, yang menyebabkannya tidak aman.
3)      Merasa bahwa ia dihargai, misalnya kalau ia berbicara atau bertanya didengar dan dijawab seperlunya, jika ia bersalah, ditegur atau dimarahi tidak di hadapan kawan-kawannya, ia tidak merasa diejek, diremehkan, dibandingkan dengan yang lain, dan sebagainya.
4)      Merasa bebas, tidak terlalu diikat oleh peraturan-peraturan dan disiplin yang terlalu keras, ia bebas memilih teman (dalam batas yang tidak merusak), bebas memilih pakaian yang disukainya (dalam batas yang tidak melanggar susila), dan bebas membelanjakan uang jajannya, dan sebagainya.
5)      Merasa sukses, sejak kecil orangtua harus mendidik dan mengajar anak sesuai dengan kemampuan bakat dan pertumbuhannya, jangan sampai anak merasa bahwa terlalu jauh yang harus dijangkaunya, atau terlalu berat yang harus diusahakannya. Karena kalau anak merasa tidak mampu melaksanakan sesuatu yang diharapkan darinya, ia akan merasa gagal. Kegagalan-kegagalan itu akan membawa pada tekanan jiwa dan menimbulkan frustasi, yang akhirnya mungkin menyebabkan hilangnya kepercayaan kepada diri sendiri.
6)      Kebutuhannya untuk mengetahui harus dapat terpenuhi, pertanyaannya dijawab, kepadanya diberi kesempatan untuk dapat mengenal sesuatu yang diinginkannya. 
b.      Pembinaan Moral
Pembinaan moral harus dilakukan sejak kecil, sesuai dengan umurnya. Karena setiap anak dilahirkan belum mengerti mana yang benar mana yang salah dan belum tahu batas-batas atau ketentuan-ketentuan moral yang berlaku dalam lingkungannya. Pendidikan moral harus dilakukan pada permulaan di rumah dengan latihan terhadap tindakan-tindakan yang dipandang baik menurut ukuran-ukuran lingkungan tempat ia hidup. Setelah anak terbiasa bertindak sesuai dengan yang dikehendaki oleh aturan-aturan moral, serta kecerdasan dalam  kematangan berfikir telah terjadi, barulah pengertian-pengertian yang abstrak diajarkan.
Pendidikan moral yang paling baik terdapat dalam agama. Maka pendidikan agama yang mengandung nilai-nilai moral, perlu dilaksanakan sejak anak lahir (di rumah), sampai duduk di bangku sekolah dan dalam lingkungan masyarakat tempat ia hidup.
c.       Pembinaan Jiwa Taqwa
Jika menginginkan anak-anak dan generasi yang akan datang hidup bahagia, tolong-menolong, jujur, benar dan adil, maka mau tidak mau, penanaman jiwa taqwa perlu sejak kecil. Karena kepribadian (mental) yang  unsur-unsurnya terdiri dari antara lain keyakinan beragama, maka dengan sendirinya keyakinan itu akan dapat mengendalikan kelakuan, tindakan dan sikap dalam hidup. Karena mental sehat yang penuh dengan keyakinan beragama itulah yang menjadi polisi, pengawas dari segala tindakan.
Jika setiap orang mempunyai keyakinan beragama, dan menjalankan agama dengan sungguh-sungguh, tidak perlu ada polisi dalam masyarakat karena setiap orang tidak mau melanggar larangan-larangan agama karena merasa bahwa Tuhan Maha Melihat dan selanjutnya masyarakat adil makmur akan tercipta, karena semua potensi manusia (man power) dapat digunakan dan dikerahkan untuk dirinya sendiri.
Pembangunan mental tak mungkin tanpa menanamkan jiwa agama pada tiap-tiap orang. Karena agamalah yang memberikan nilai-nilai yang dipatuhi dengan suka rela, tanpa adanya paksaan dari luar atau polisi yang mengawasi atau mengontrolnya. Karena setiap kali terpikir atau tertarik hatinya kepada hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agamanya, taqwanya akan menjaga dan menahan dirinya dari kemungkinan jatuh kepada perbuatan-perbuatan yang kurang baik itu.[105]
Mental yang sehat ialah yang iman dan taqwa kepada Allah S.W.T, dan mental yang beginilah yang akan membawa perbaikan hidup dalam masyarakat dan bangsa.
Taqwa dan iman sama pentingnya dalam kesehatan mental, fungsi iman dalam kesehatan mental adalah menciptakan rasa aman tentram, yang ditanamkan sejak kecil. Obyek keimanan yang tidak akan berubah manfaatnya dan ditentukan oleh agama. Dalam agama Islam, terkenal enam macam pokok keimanan (arkanul iman). Semuanya mempunyai fungsi yang menetukan dalam kesehatan mental seseorang.[106]
BAB  IV

KONSEPSI KESEHATAN MENTAL MENURUT ZAKIAH DARADJAT

Pengertian Kesehatan Mental

Pemikiran Zakiah Daradjat tentang kesehatan mental dapat dilihat dari sejarah pendidikan dan pengalaman Zakiah sebagai konsultan ketika menghadapi klien atau orang-orang yang menghadapi berbagai macam problema dalam kehidupannya, termasuk para penderita penyakit atau gangguan kejiwaan. Dari sinilah dapat diketahui secara jelas pemikiran Zakiah, demikian pula dengan melihat karya-karya Zakiah  sebagai seorang psikolog.
Banyak pengertian dan definisi tentang kesehatan mental  yang diberikan oleh para ahli sesuai dengan pandangan di bidang masing-masing. Zakiah Daradjat dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar kesehatan jiwa di IAIN “Syarif Hidayatullah Jakarta” mengemukakan empat buah rumusan kesehatan jiwa yang lazim dianut para ahli. Keempat rumusan tersebut disusun mulai dari rumusan-rumusan yang khusus sampai dengan yang lebih umum.[107]
5.      Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa(neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose)
Berbagai kalangan psikiatri (kedokteran jiwa) menyambut baik definisi ini. Seseorang dikatakan bermental sehat bila terhindar dari gangguan atau penyakit jiwa, yaitu adanya perasaan cemas tanpa diketahui sebabnya, malas, hilangnya kegairahan bekerja pada diri seseorang dan bila gejala ini meningkat akan menyebabkan penyakit anxiety, neurastheniadan  hysteria. Adapun orang yang sakit jiwa biasanya akan memiliki pandangan berbeda dengan orang lain inilah yang dikenal dengan orang gila.
6.      Kesehatan mental adalah: kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat sera lingkungan tempat ia hidup.
Definisi ini lebih luas dan bersifat umum  karena berhubungan dengan kehidupan manusia pada umumnya. Menurut definisi ini seseorang dikatakan bermental sehat bila dia menguasai dirinya sehingga terhindar dari tekanan-tekanan perasaan atau hal-hal yang menyebabkan frustasi. Orang yang mampu menyesuaikan diri akan merasakan kebahagiaan dalam hidup karena tidak diliputi dengan perasaan-perasaan cemas, gelisah, dan ketidakpuasan. Sebaliknya akan memiliki semangat yang tinggi dalam menjalani hidupnya. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri, harus lebih dahulu mengenal diri sendiri, menerima apa adanya, bertindak sesuai kemampuan dan kekurangan. Ini bukan berarti  harus mengabaikan orang lain.
Dalam definisi ini orang yang sehat mentalnya ialah orang yang dapat menguasai segala faktor dalam hidupnya, sehingga dapat menghindarkan diri dari tekanan-tekanan perasaan yang menimbulkan frustasi.
7.       Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain, serta terhindar dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa.
Definisi ini lebih menekankan pada pengembangan dan pemanfaatan segala daya  dan pembawaan yang dibawa  sejak lahir, sehingga benar-benar membawa manfaat bagi orang lain dan dirinya sendiri.
Dalam hal ini seseorang harus mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang dimilikinya dan jangan sampai ada bakat yang  tidak baik untuk tumbuh yang akan membawanya pada ketidakbahagiaan hidup, kegelisahan, dan pertentangan batin. Seseorang yang mengembangkan potensi yang ada untuk merugikan orang lain, mengurangi hak, ataupun menyakitinya, tidak dapat dikatakan memiliki mental yang sehat. Karena memanfaatkan potensi yang ada dalam dirinya untuk mengorbankan hak orang lain.
8.      Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positif  kebahagiaan dan kemampuan dirinya.
Seseorang dikatakan memiliki mental sehat apabila terhindar dari gejala penyakit jiwa dengan memanfaatkan potensi yang dimilikinya untuk menyelaraskan fungsi jiwa dalam dirinya. Kecemasan dan kegelisahan dalam diri seseorang lenyap bila fungsi jiwa di dalam dirinya seperti fikiran, perasaan, sikap, jiwa, pandangan, dan keyakinan hidup berjalan seiring sehingga menyebabkan adanya keharmonisan dalam dirinya.
Keharmonisan antara fungsi jiwa dan tindakan dapat dicapai antara lain dengan  menjalankan ajaran agama dan berusaha menerapkan norma-norma sosial, hukum, dan moral. Dengan demikian akan tercipta ketenangan batin yang menyebabkan timbulnya kebahagiaan di dalam dirinya. Definisi ini menunjukkan bahwa fungsi-fungsi jiwa seperti fikiran, perasaan, sikap, pandangan dan keyakinan, harus saling menunjang dan bekerja sama sehingga menciptakan keharmonisan hidup, yang menjauhkan orang dari sifat ragu- ragu dan bimbang, serta terhindar dari rasa gelisah dan konflik batin.
Dapatlah dikatakan bahwa kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala-gejala gangguan dan penyakit jiwa, dapat menyesuaikan diri, dapat memanfaatkan segala potensi dan bakat yang ada semaksimal mungkin dan membawanya pada kebahagiaan bersama, serta tercapainya keharmonisan jiwa dalam hidup. Ada beberapa definisi penting yang perlu di jelaskan dalam konsep kesehatan mental Zakiah Daradjat.
f.       Pengertian mengenai terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan ialah berkembangnya seluruh potensi kejiwaan secara seimbang sehingga manusia dapat mencapai kesehatannya secara lahiriah maupun batiniah serta terhindar dari pertentangan batin keguncangan, kebimbangan, dan perasaan dalam menghadapi berbagai dorongan dan keinginan.
g.      Pengertian terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri ialah usaha untuk menyesuaikan diri secara sehat terhadap diri sendiri yang mencakup pembangunan dan pengembangan seluruh potensi dan daya yang terdapat dalam diri manusia serta tingkat kemampuan memanfaatkan potensi dan daya seoptimal mungkin sehingga penyesuaian diri membawa kesejahteraan dan kebahagiaan bagi diri sendiri maupun orang lain.
h.      Pengertian tentang penyesuaian diri yang sehat terhadap lingkungan  dan masyarakat merupakan tuntunan untuk meningkatkan keadaan  masyarakatnya dan dirinya sendiri sebagai anggotanya. Artinya, manusia tidak hanya memenuhi tuntutan masyarakat dan mengadakan perbaikan di dalamnya tetapi juga dapat membangun dan mengembangkan dirinya sendiri secara serasi dalam masyarakat. Hal ini hanya bisa dicapai  apabila masing-masing  individu dalam masyarakat sama-sama berusaha meningkatkan diri secara terus menerus  dalam batas-batas yang diridhoi Allah.
i.        Pengertian berlandaskan  keimanan dan ketakwaan adalah masalah keserasian yang sungguh-sungguh antar fungsi-fungsi kejiwaan dan penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya hanya dapat terwujud  secara baik dan sempurna apabila usaha ini didasarkan atas keimanan  dan ketakwaan kepada Allah SWT.  Dengan demikian, faktor agama memainkan peranan yang besar dalam pengertian kesehatan mental.
j.        Pengertian bertujuan untuk mencapai kehidupan yang bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat  adalah kesehatan mental bertujuan untuk mewujudkan kehidupan yang baik, sejahtera, dan bahagia bagi manusia secara lahir dan batin baik jasmani maupun rohani, serta dunia dan akhirat[108]

Pengaruh Kesehatan Mental dalam Hidup

Cara menentukan  pengaruh mental  tidak mudah, karena mental tidak dapat dilihat, diraba atau diukur secara langsung. Manusia hanya dapat melihat bekasnya dalam sikap, tindakan, cara menghadapi persoalan, dan akhlak. Oleh ahli jiwa dikatakan bahwa pengaruh mental itu dapat dilihat pada perasaan, pikiran, kelakuan, dan kesehatan.
5.      Pengaruh Kesehatan Mental terhadap Perasaan
Pengaruh kesehatan mental terhadap perasaan akan terlihat dari cara orang menghadapi kehidupan ini. Misalnya ada orang yang  menghadapinya dengan kecemasan dan ketakutan. Banyak hal-hal kecil yang mencemaskannya, kadang-kadang hal remeh, yang oleh orang lain tidak dirasakan berat,  akan tetapi bagi dirinya hal  itu sudah  sangat berat sehingga menyebabkannya gelisah, tidak bisa tidur, dan hilang nafsu makan.  Mereka sendiri tidak mengerti dan tidak dapat menahan atau mengatasi kecemasannya. Inilah yang dalam istilah  kesehatan mental dinamakan anxiety dan phobia atau takut yang tidak pada tempatnya.[109]  Jadi di antara gangguan  perasaan yang disebabkan oleh terganggunya kesehatan mental adalah rasa cemas (gelisah), iri hati, sedih, merasa rendah diri, pemarah, dan  ragu (bimbang).
6.      Pengaruh Kesehatan Mental terhadap Pikiran
Di antara masalah yang sering menggelisahkan orang tua, adalah menurunnya  kecerdasan dan kemampuan anaknya dalam pelajaran atau semangat belajarnya menurun, jadi pelupa, dan tidak sanggup memusatkan perhatian.[110]
Mengenai pengaruh kesehatan mental atas pikiran, memang besar sekali. Di antara gejala yang bisa dilihat yaitu sering lupa, tidak bisa mengkonsentrasikan pikiran tentang sesuatu hal yang penting, kemampuan berfikir menurun, sehingga merasa seolah-olah tidak lagi cerdas, pikirannya tidak bisa digunakan, kelemahan dalam bertindak, lesu, malas, tidak bersemangat kurang inisiatif, dan mudah terpengaruh oleh kritikan-kritikan orang lain, sehingga mudah meninggalkan rencana baik yang telah dibuatnya hanya karena kritikan orang lain. Semuanya itu bukanlah suatu sifat yang datang tiba-tiba dan dapat diubah dengan nasehat dan teguran saja, akan tetapi telah masuk terjalin ke dalam pribadinya yang tumbuh sejak kecil.
7.      Pengaruh Kesehatan Mental terhadap Kelakuan
Ketidaktentraman hati, atau kurang sehatnya mental, sangat mempengaruhi kelakuan dan tindakan seseorang, seperti nakal, pendusta, menganiaya diri sendiri atau orang lain, menyakiti  badan orang atau hatinya dan berbagai kelakuan menyimpang lainnya.  
8.      Pengaruh Kesehatan Mental terhadap Kesehatan Badan
Di antara masalah yang banyak terjadi dalam masyarakat maju, adalah adanya kontradiksi yang tidak mudah dimengerti yaitu masalah kesehatan. Kalau pada masa dahulu, penyakit dan bahaya yang sangat mencemaskan orang adalah penyakit menular dan penyakit-penyakit yang mudah menyerang.  Penyakit-penyakit tersebut dapat diatasi dengan obat-obatan  dan cara-cara pencegahan yang ditemukan para ahli. Akan tetapi, pada masyarakat maju telah timbul suatu penyakit  yang lebih berbahaya dan sangat menegangkan  yaitu penyakit gelisah, cemas, dan berbagai penyakit  yang tidak dapat diobati oleh ahli-ahli kedokteran. Karena penyakit itu timbul  bukan karena kekurangan pemeliharaan kesehatan atau kebersihan akan tetapi karena kehilangan ketenangan jiwa.[111]

Ciri-ciri Manusia yang Sehat Mentalnya

4.      Ciri Manusia yang Sehat Mentalnya
Orang yang sehat mentalnya adalah orang-orang yang mampu merasakan kebahagian dalam hidup, karena orang-orang inilah yang dapat merasa bahwa dirinya berguna, berharga dan mampu menggunakan segala potensi dan bakatnya semaksimal mungkin, yang membawa kebahagiaan bagi  dirinya sendiri dan orang lain. Di samping itu, ia mampu menyesuaikan diri dalam arti yang luas (dengan dirinya, orang lain, dan suasana sekitar). Orang-orang inilah yang terhindar dari kegelisahan dan gangguan jiwa, serta tetap terpelihara moralnya.
Maka orang yang sehat mentalnya, tidak akan merasa ambisius, sombong, rendah diri dan apatis, tapi ia adalah wajar, menghargai orang lain, merasa percaya kepada diri sendiri dan selalu gesit. Setiap tindak dan tingkah lakunya, ditunjukkan untuk mencari kebahagiaan bersama, bukan kesenangan dirinya sendiri. Kepandaian dan pengetahuan yang dimilikinya digunakan untuk  kemanfaatan dan kebahagiaan bersama. Kekayaan dan kekuasaan yang ada padanya, bukan untuk bermegah-megahaan dan mencari kesenangan diri sendiri, tanpa mengindahkan orang lain, akan tetapi digunakannya untuk menolong orang yang miskin dan melindungi orang yang lemah. Seandainya semua orang sehat mentalnya, tidak akan ada penipuan, penyelewengan, pemerasan, pertentangan dan perkelahian dalam masyarakat, karena mereka menginginkan dan mengusahakan semua orang dapat merasakan kebahagiaan, aman tentram, saling mencintai dan tolong-menolong.
5.      Manusia  yang Kurang Sehat Mentalnya
Manusia  yang kurang sehat ini sangat luas, mulai dari yang seringan-ringannya sampai kepada yang seberat-beratnya. Dari orang yang merasa terganggu ketentraman batinnya, sampai kepada orang yang sakit jiwa. Gejala yang umum, yang tergolong kepada yang kurang sehat dapat dilihat dalam beberapa segi antara lain pada:
Perasaan                     :       Yaitu perasaan terganggu, tidak tenteram, rasa gelisah, tidak tentu yang digelisahkan, tapi tidak bisa pula mengatasinya (anxiety); rasa takut yang tidak masuk akal atau tidak jelas yang ditakuti itu apa (phobi), rasa iri, rasa sedih, sombong, suka bergantung kepada orang lain, tidak mau bertanggung jawab, dan sebagainya.
Pikiran                        :            Gangguan terhadap kesehatan mental, dapat pula mempengaruhi pikiran, misalnya anak-anak menjadi bodoh di sekolah, pemalas, pelupa, suka bolos, tidak bisa konsentrasi, dan sebagainya. Demikian pula orang dewasa mungkin merasa bahwa kecerdasannya telah merosot, ia merasa bahwa kurang mampu melanjutkan sesuatu yang telah direncanakannya baik-baik, mudah dipengaruhi orang, menjadi pemalas, apatis, dan sebagainya.
Kelakuan                    :            Pada umumnya kelakuan-kelakuan yang tidak  baik seperti kenakalan, keras kepala, suka berdusta, menipu, menyeleweng, mencuri, menyiksa orang, membunuh, dan merampok, yang menyebabkan orang lain menderita dan teraniaya haknya
Kesehatan                   :            Jasmani dapat terganggu bukan karena adanya penyakit yang betul-betul mengenai jasmani itu, akan tetapi rasanya sakit, akibat jiwa tidak tenteram, penyakit yang seperti ini disebut psychosomatic. Di antara gejala penyakit ini yang sering terjadi seperti sakit kepala, merasa lemas, letih, sering masuk angin, susah nafas, sering pingsan, bahkan sampai sakit yang lebih berat, lumpuh sebagian anggota jasmani, kelu lidah  saat bercerita, dan  tidak bisa melihat (buta) yang terpenting adalah  penyakit jasmani itu tidak  mempunyai sebab-sebab fisik sama sekali.[112]
Inilah gejala-gejala kurang sehat yang agak ringan, dan lebih berat dari itu, mungkin menjadi gangguan jiwa (neourose) dan terberat adalah sakit jiwa (psychose).
6.      Syarat-syarat yang Diperlukan dalam  Pembangunan Mental
Di antara syarat-syarat terpenting dalam pembangunan mental adalah:
d.      Pendidikan.
Pendidikan yang dimulai dari rumah tangga, dilanjutkan di sekolah, dan  juga dalam masyarakat. Pembangunan mental, mulai sejak anak lahir, di mana semua pengalaman yang dilaluinya mulai lahir, sampai mencapai usia dewasa (21 tahun), menjadi bahan dalam pembinaan mentalnya. Maka syarat-syarat yang diperlukan, dalam pendidikan baik di rumah, sekolah maupun masyarakat ialah kebutuhan-kebutuhan pokoknya harus terjamin, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan psikis dan sosial. Di mana harus terjamin makan minum yang cukup memenuhi syarat kesehatan untuk pertumbuhannya di rumah, sekolah dan masyarakat, maka anak-anak itu harus:
7)      Merasa disayangi oleh ibu-bapak, guru, dan kawan-kawannya. Anak yang merasa kurang disayangi, atau kurang diperhatikan kepentingan dan kebutuhannya, akan merasa hidup menderita. Apabila ia merasa tidak disayangi, terutama waktu kecil ia tidak akan pernah merasa kasih sayang kepada orang lain dan tidak akan merasakan kesayangan orang kepadanya di kemudian hari, ia akan cenderung kepada perasaan sedih, murung, menyendiri dan benci kepada masyarakat atau orang di sekitarnya. Emosinya mungkin tidak matang.
8)      Merasa aman, tentram, di mana ia tidak sering dimarahi, dihina, diperlakukan tidak adil, diancam, orang-orang yang berkuasa di sekelilingnya tidak sering bertengkar, kebutuhannya yang pokok terpenuhi (keadaan ekonomi yang sangat kurang ikut mempengaruhi mental anak apabila ia berada dalam kelompok orang-orang yang mampu) dan lain-lain, yang menyebabkannya tidak aman.
9)      Merasa bahwa ia dihargai, misalnya kalau ia berbicara atau bertanya didengar dan dijawab seperlunya, jika ia bersalah, ditegur atau dimarahi tidak di hadapan kawan-kawannya, ia tidak merasa diejek, diremehkan, dibandingkan dengan yang lain, dan sebagainya.
10)  Merasa bebas, tidak terlalu diikat oleh peraturan-peraturan dan disiplin yang terlalu keras, ia bebas memilih teman (dalam batas yang tidak merusak), bebas memilih pakaian yang disukainya (dalam batas yang tidak melanggar susila), dan bebas membelanjakan uang jajannya, dan sebagainya.
11)  Merasa sukses, sejak kecil orangtua harus mendidik dan mengajar anak sesuai dengan kemampuan bakat dan pertumbuhannya, jangan sampai anak merasa bahwa terlalu jauh yang harus dijangkaunya, atau terlalu berat yang harus diusahakannya. Karena kalau anak merasa tidak mampu melaksanakan sesuatu yang diharapkan darinya, ia akan merasa gagal. Kegagalan-kegagalan itu akan membawa pada tekanan jiwa dan menimbulkan frustasi, yang akhirnya mungkin menyebabkan hilangnya kepercayaan kepada diri sendiri.
12)  Kebutuhannya untuk mengetahui harus dapat terpenuhi, pertanyaannya dijawab, kepadanya diberi kesempatan untuk dapat mengenal sesuatu yang diinginkannya. 
e.       Pembinaan Moral
Pembinaan moral harus dilakukan sejak kecil, sesuai dengan umurnya. Karena setiap anak dilahirkan belum mengerti mana yang benar mana yang salah dan belum tahu batas-batas atau ketentuan-ketentuan moral yang berlaku dalam lingkungannya. Pendidikan moral harus dilakukan pada permulaan di rumah dengan latihan terhadap tindakan-tindakan yang dipandang baik menurut ukuran-ukuran lingkungan tempat ia hidup. Setelah anak terbiasa bertindak sesuai dengan yang dikehendaki oleh aturan-aturan moral, serta kecerdasan dalam  kematangan berfikir telah terjadi, barulah pengertian-pengertian yang abstrak diajarkan.
Pendidikan moral yang paling baik terdapat dalam agama. Maka pendidikan agama yang mengandung nilai-nilai moral, perlu dilaksanakan sejak anak lahir (di rumah), sampai duduk di bangku sekolah dan dalam lingkungan masyarakat tempat ia hidup.
f.       Pembinaan Jiwa Taqwa
Jika menginginkan anak-anak dan generasi yang akan datang hidup bahagia, tolong-menolong, jujur, benar dan adil, maka mau tidak mau, penanaman jiwa taqwa perlu sejak kecil. Karena kepribadian (mental) yang  unsur-unsurnya terdiri dari antara lain keyakinan beragama, maka dengan sendirinya keyakinan itu akan dapat mengendalikan kelakuan, tindakan dan sikap dalam hidup. Karena mental sehat yang penuh dengan keyakinan beragama itulah yang menjadi polisi, pengawas dari segala tindakan.
Jika setiap orang mempunyai keyakinan beragama, dan menjalankan agama dengan sungguh-sungguh, tidak perlu ada polisi dalam masyarakat karena setiap orang tidak mau melanggar larangan-larangan agama karena merasa bahwa Tuhan Maha Melihat dan selanjutnya masyarakat adil makmur akan tercipta, karena semua potensi manusia (man power) dapat digunakan dan dikerahkan untuk dirinya sendiri.
Pembangunan mental tak mungkin tanpa menanamkan jiwa agama pada tiap-tiap orang. Karena agamalah yang memberikan nilai-nilai yang dipatuhi dengan suka rela, tanpa adanya paksaan dari luar atau polisi yang mengawasi atau mengontrolnya. Karena setiap kali terpikir atau tertarik hatinya kepada hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agamanya, taqwanya akan menjaga dan menahan dirinya dari kemungkinan jatuh kepada perbuatan-perbuatan yang kurang baik itu.[113]
Mental yang sehat ialah yang iman dan taqwa kepada Allah S.W.T, dan mental yang beginilah yang akan membawa perbaikan hidup dalam masyarakat dan bangsa.
Taqwa dan iman sama pentingnya dalam kesehatan mental, fungsi iman dalam kesehatan mental adalah menciptakan rasa aman tentram, yang ditanamkan sejak kecil. Obyek keimanan yang tidak akan berubah manfaatnya dan ditentukan oleh agama. Dalam agama Islam, terkenal enam macam pokok keimanan (arkanul iman). Semuanya mempunyai fungsi yang menetukan dalam kesehatan mental seseorang.[114]
BAB VI
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pada bagian akhir ini, penulis dapat mengemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Berdasarkan konsep  Daniel Goleman tentang manusia yang memiliki kecerdasan emosi, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Daniel Goleman sangat mengakui eksistensi manusia sebagai mahluk individu  dan mahluk sosial, dengan pernyataannya  bahwa kecerdasan emosi manusia dapat ditumbuhkan dengan langkah awal yaitu pada kecerdasannya  mengenali emosi sendiri dan mengelolanya sampai pada kecerdasan dalam membina hubungan dengan orang lain.
1.      Kecerdasan emosi bekerjasama sinergis dengan ketrampilan kognitif, inti dalam kecerdasan emosi tidak cukup hanya memiliki perasaan. Kecerdsan emosi menuntut manusia untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan pada diri sendiri dan orang lain, untuk menggapainya dengan tepat, menerapkannya dengan efektif informasi dan energi emosi dalam kehidupan, pekerjaan, atau kreatifitas sehari-hari. Ketika menggunakannya tidak hanya otak analisis tapi juga emosi dan intuisi. Kecerdasan emosi tidaklah ditentukan sejak lahir akan tetapi dipakai dan dapat meningkat atau terus dikembangkan sepanjang hidup sejalan dengan usia, dan pengalaman diri. Karena semua orang mempunyai potensi untuk itu dengan bermodal  motivasi dan usaha yang benar  maka mereka dapat menguasainya. Dan kecerdasan emosi dapat ditumbuhkan dengan langkah awal lewat perbaikan diri sendiri, maka akan terbentuklah manusia yang berahlakul karimah karena dengan perbaikan emosi dirilah akan terjadi gelombang perbaikan sosial.
2.      Kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman: adalah kemampuan memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengandalkan dorongan hati dan tidak berlebih-lebihan dalam kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar bebas dari stres, tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati, dan berdoa; yang mencakup lima unsur yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi diri, berempati,  dan ketrampilan sosial. Kelima unsur kecerdasan emosi  Daniel Goleman adalah suatu langkah untuk memperoleh kesehatan mental Zakiah Daradjat secara umum. Konsep kesehatan mental  Zakiah Daradjat adalah bagaimana mencapai keseimbangan dunia dan akherat dalam artian sukses hubungan sesama manusia, dan hubungan sesama Allah SWT. Ketika mental  mempengaruhi  dalam kehidupan sehari-hari, seperti ketidak sehatan mental dapat mempengaruhi dalam perasaan, fikiran, tingkah laku, dan kesehatan badan, maka kelima unsur kecerdasan emosi dapat diterapkan sebagai penawarnya.
3.      Adapun konsep kesehatan mental Zakiah Daradjat adalah
Bebasnya seseorang dari segala macam gejala dan keluhan hidup (penyakit kejiwaan). Adanya kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkunganya, tanpa dia sendiri kehilangan identitas dirinya. Kemampuan mengembangkan potensi pribadi seperti kreativitas, rasa humor, rasa tanggung jawab, kecerdasan, kebebasan bersikap secara optimal dikembangkan, sehingga membawa manfaat bagi diri sendiri atau  lingkungannya, dan pentingnya agama atau ketuhanan, memiliki daya yang dapat menunjang kesehatan mental seseorang sebagai akibat dari keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan, serta berusaha secara sadar merealisasikan atau menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari sehingga kehidupannya dijalani sesuai dengan tuntutan-tuntutan keagamaan.
Zakiah juga menambahkan bahwa agama atau keyakinan merupakan faktor penentu dalam pembentukan kesehatan mental. Agama memiliki daya yang dapat menunjang kesehatan mental dan kesehatan mental diperoleh  sebagai akibat dari keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan serta menerapkan tuntunan-tuntunan keagamaan  di dalam kehidupannya.
Mental yang sehat sangat diidamkan oleh semua manusia maka diperlukan cara untuk membina kondisi mental agar senantiasa sehat dan jauh dari segala bentuk gangguan kejiwaan, karena kondisi mental sangat mempengaruhi dalam kehidupan, hanya orang yang sehat mentalnyalah yang mampu mengatasi kesukaran-kesukaran atau rintangan dalam hidup, tidak lekas merasa putus asa, psimis atau apatis  karena ia dapat menghadapi semua rintangan atau kegagalan dalam hidup dengan tenang dan wajar dan menerima kgagalan itu sebagai suatu pelajaran yang akan membawa sukses nantiya. Proses untuk membina kesehatan mental perlu da usa-usaha. Menurut Zakiah Daradjat yang dijadikan bahan penyelidikan atau tanda-tanda dari kesehatan mental adalah tindakan, tingkah laku atau perasaan,dan kesehatan badan. 
Kelima unsur-unsur kecerdasan emosi dan dua puluh lima kecakapan emosi apabila dijalankan secara benar, akan menciptakan manusia yang terbebas dari segala macam gejala atau keluhan terhadap penyakit kejiwaan, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan mengembangkan potensi  seperti kreativitas, rasa humor, tanggung jawab, dan kebebasan bersikap secara optimal.dan unsur-unsur kecerdasan emosi Daniel Goleman bisa dijadikan proses untuk mendapatkan mental yang sehat atau ketika mempengaruhi fikiran, perasaan, kelakuan, dan kesehatan badan maka kesadarandiri, pengaturandiri, motivasi, empati,dan ketrampilan sosial ada relevansinya. karena kelimanya merupakan unsur-unsur kesehatan mental Zakiah Daradjat secara umum
Konsep kecerdasan emosi Daniel Goleman relevansinya dengan kesehatan mental bisa dilihat pada proses untuk mencapai mental yang sehat. Namun konsepnya Daniel Goleman tidak bisa dijadikan tolak ukur untuk mencapai mental yang sehat Zakiah Daradjat secara sempurna. Karena Daniel  tidak menyinggung sedikitpun  tentang adanya makhluk ciptaan tuhan Daniel  hanya menawarkan atau menekankan bagaimana hubungan yang harmonis, penuh integritas pada manusia atau lingkungan secara umum bila kelima unsur sudah ada pada seseorang, maka secara umum dia sehat mentalnya
Berdasarkan rumusan atau konsep Daniel Goleman   tentang unsur-unsur kecerdasan emosi dapat ditarik kesimpulan bahwa Daniel Goleman sangat  mengakui keadaan manusia sebagai makhluk individu, dan makhluk sosial dengan pernyataannya bahwa kecerdasan emosi manusia dapat ditumbuhkan dengan langkah awal yaitu, dengan kecerdasanya mengenali emosinya sendiri dan mengelolanya sampai pada kecerdasan dalam  membina hubungan dengan orang lain. Adapun mental yang sehat Zakiah Daradjat menambahkan adanya makhluk ciptaan Allah.
Dengan memahami konsep kecerdasan emosi Daniel Goleman dan kesehatan mental Zakiah Daradjat, secara tepat dan benar serta diterapkan sehari-hari, seseorang akan dapat merasakan kebahagiaan dan  ketentraman batinnya, terhindar dari  gangguan, penyakit jiwa, dan mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri dan lingkungannya, serta baiknya hubungan sesama manusia dan hubungan dengan Allah SWT. Relevansi kecerdasan emosi dengan kesehatan mental menjadi kontribusi bagi bimbingan dan penyuluhan Islam.
B.     Saran
Saran-saran yang dapat penulis sampaikan pada  skripsi ini adalah bahwa penelitian ini bukan merupakan hasil final. Oleh karena itu, penulis mengharapkan untuk diuji kembali oleh para intelektual di bidang psikologi, khususnya jurusan bimbingan dan penyuluhan islam karena penulis hanya menekankan pada kecerdasan emosi Daniel Goleman dan kesehatan mental  Zakiah Daradjat
Kecerdasan emosi merupakan masalah yang perlu dilatih dan dikembangkan begitu pula kesehatan mental. Keduanya merupakan sifat yang mendasar dalam kehidupan, seiring dengan tuntutan zaman yang semakin berkembang dan maju serta banyaknya problema yang dihadapi manusia. Manusia dituntut memperluas pengetahuan di segala bidang untuk  menghadapi kemungkinan semakin meningkatnya penderita penyakit mental dan ketidak cerdasan emosi dimasyarakat.
Dengan mempelajari dan menerapkan konsep kecerdasan emosi Daniel Goleman dan kesehatan mental Zakiah Daradjat dalam kehidupan, akan menjadikan manusia mampu mengantisipasi dalam menghadapi segala kemungkinan yang terjadi, dan lebih mendekatkan diri dan meningkatkan rasa keimanan  kepada Allah SWT.
C.     Kata Penutup
Alhamdulillah dengan segala kerendahan hati setelah melewati proses yang begitu panjang dan melelahkan, berkat rahmat hidayah dan ridho Allah  skripsi ini dapat terselesaikan. Dan penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kejanggalan isi susunan kalimatnya ataupun pembahasannya. Sehingga penulis berharap karya kecil ini  mendapat masukan, kritik dan evaluasi untuk kemajuan bersama.
Selanjutnya semoga karya kecil ini dapat bermanfaat bagi penulis  khususnya dan para pembaca atau fakultas amin-amin ya robal alamin  terimakasih atas semuanya  mohon maaf atas segalanya.

[1] John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1996), hlm. 313
[2] Pusat Pembinaan Bahasa Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm. 520
[3]Steven J. Stein dan Howard E. Book, Ledakan EQ, (Bandung: Kaifa, 2002), hlm. 17
                [4] Laurence E. Shapiro, Mengajarkan Emosional Inteligensi pada Anak, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997), hlm. 5
[5] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud), Kamus Besar Bahasa  Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), hlm. 738
[6]Peter  Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern English Press, 1991), hlm. 1350
[7] A. Syafi’i Mufid, Dzikir sebagai Pembina Kesehatan Jiwa, (Surabaya: Bina Ilmu, 1984), hlm. 30
[8]Kartini Kartono, Hygiene Mental, (Bandung: Mandar Maju, 2000),  hlm. 3
[9]Mushal dkk., Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1979), hlm. 86
[10]Jalaluddin dan Ali Ahmad Zen, Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan, (Surabaya: Putra Al-Ma’arif, 1995), hlm. 98-99
[11] Sukamto, Sejarah Perkembangan Tes Inteligensi Suatu Sarana Pengungkap Psikologis, (Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Cokroaminoto, 1984), hlm. 15
[12] Saifuddin  Azwar, Pengantar Psikologi Inteligensi, (Yogyakarta: Pustaka  Pelajar, 1966), hlm. 51
[13] Lihat Sukidi,Kecerdasan Spiritual” Harian Kompas, 15 Desember, 2000
[14]Maurice J. Elias, dkk., Cara-Cara Efektif Mengasuh Anak dengan EQ, (Bandung: Kaifa, 2000), hlm. 11
[15] Majalah Ummi, “Anak Cerdas Dunia Akhirat”, Edisi Spesial No. 4 th 2002, hlm. 19
[16]Casmini, Jurnal Dakwah, “Arti Penting Kecerdasan Emosi dalam Dakwah”, 11 Januari-Juni 2001,  hlm. 99
[17]Mailto: Secapramana @Yahoo.Com
[18]Ferysyifa @Netscape.net
[19] Ahmad Mubarok, Solusi Krisis Kerohanian Manusia Modern, (Jakarta: Paramadina, 1999),  hlm. 13-14
[20] Jalaluddin Rakhmat, Meraih Cinta Ilahi Pencerahan Sufistik, (Bandung: Rosdakarya, 2001), hlm. 234
[21]Zakiah Daradjat, Kesehatan…,  hlm. 16
[22] Daniel Goleman, Emotional Intelligence, terj. T. Hermaya, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991), sampul depan
[23] Kurniawati, skripsi: “Unsur-unsur Kecerdasan Emosi Menurut Daniel Goleman dalam Perspektif Alqur’an”, (Yogyakarta: IAIN Suka, 2000)  tidak di terbitkan
[24]Daniel Goleman, Emotional Intellegence, terj. T. Hermaya, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991)
[25]Daniel Goleman, Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi,terj. Alex Tri Kantjono, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001)
[26]Steven  J. Stein dan Howard E. Book, Ledakan EQ,  (Bandung: Kaifa, 2002)
[27]Jeanne Segal, Melejitkan Kepekaan Emosional, (Bandung: Kaifa, 2001)
[28]Zakiah Daradjat, Kesehatan…, hlm. 90
[29]A. Budiarjo dkk,  Kamus Psikologi, (Semarang: Dhara Prize, 1987), hlm. 211
[30]Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indnesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm.78
[31]Saifuddin Azwar, Pengantar Psikologi Intelligensi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996),  hlm. 6
[32]Rita L. Atkinson dkk., Pengantar Psikologi, (Jakarta: Erlangga, 1996), hlm. 129
[33]Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), hlm. 55-56
[34]Al-Atapunang, Manusia dan Emosi (Maumere: Sekolah Tinggi Filsafat  Katolik Ledalero, 2000), hlm. 47
                [35] M. Alisuf  Sabri, Pengantar Psikologi Umum dan Pengembangan, (Jakarta: Pedoman Ilmu  Jaya, 1993), hlm. 74
[36] Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982), hlm. 59. Warna afektif adalah  perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatan manusia sehari-hari.
[37]Marcolm Hardy, Steveheyes, Pengantar Psikologi, (Jakarta: Erlangga, 1988), hlm. 59
[38] Ahmad Fauzi, Psikologi Umum(Bandung: Pustaka Setia), hlm. 55
[39] Majalah Ummi,  “Anak Cerdas Dunia Akhirat”,   hlm. 21
[40]Daniel Goleman, Emotional…, sampul belakang.
[41]Ary Ginanjar Agustian,  Rahasia Sukses Membangun  Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, (Jakarta: Arga, 2002), hlm. 44
[42]Daniel Goleman, Emotional…, hlm. 512
[43]Komarudin Hidayat, Menyinari Relung-Relung Ruhani, (Bandung: Hikmah, 2002), hlm. 173
[44]John Gottman, Jon De Claire, Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1990), hlm. 2
[45] Peter  Salim, Kamus…,.  hlm. 1350
[46] Mursal, Kamus…,  hlm. 86
[47]Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, (Jakarta: Bulan Bintang,  1975), hlm. 33
[48] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islami, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm. 132
[49] Zakiah Daradjat, Kesehatan…., hlm 14.
[50] Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius 1996),  hlm. 10
[51] Ibid,  hlm. 65
[52]Winarno Surachmand, Dasar dan Tehnik Research, (Bandung: Tarsito, 1982), hlm. 140
[53]Webside:  htpp://www.eiconsortium.org/members/goleman. htm. dan pada sampul belakang buku kecerdasan emosi Daniel Goleman.
[54] Arief Burhan, Red UQ, Agama Sebagai Terapi Lebih Dekat dengan Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Ulumul Qur’an:” Jurnal Ilmu dan Kebudayaan”, Vol. V tahun 1994, hlm. 17
[55] Yatim Badri dkk., Perkembangan Psikologi Agama dan Pendidikan Islam di Indonesia 70 Tahun Prof .Dr. Zakiah Daradjat, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hal. 4
[56] Ibid, hlm. 5
[57] Ibid, hlm. 5-6
[58] Ibid, hlm. 6
[59] Ibid, hlm. 8
[60] Ibid, hlm. 9
[61] Ibid, hlm. 59
[62] Ibid, hlm. 60
[63] Ibid.., hlm. 60
[64] Mahyuzar Rahman, Tesis “Pembinaan Moral Remaja Telaah Atas Pemikiran Zakiah Daradjat”,  (IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1999), hlm. 22-28
                [65]Daniel Goleman, Emotional Intelligence, terj. T. Hermaya, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm. 7
                [66]Daniel Goleman, Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi, terj. Alex Tri Kantjono (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), hlm. 512
                [67]Daniel Goleman, Emotional…, hlm. 45
                [68]Daniel Goleman, Emotional Intelligence, hlm. 63
                [69] Ibid., hlm. 64
                [70] Forum Kajian Budaya dan Agama (FkBA),” Kecerdasan Emosi dan Quantum Learning”,(Yogyakarta: FkBA, 2000), hlm. 3
                [71]Daniel Goleman, Kecerdasan Emosional,   hlm. 62
                [72] Ibid., hlm. 428
                [73] Ibid., hlm. 97
                [74] Ibid., hlm. 110-111
                [75]Ibid., hlm. 107
                [76] Ibid., hlm. 111-112
                [77] Ibid., hlm. 77
[78] Daniel Goleman, Kecerdasan…, hlm. 130-131
[79]Daniel Goleman, Kecerdasan…, hlm. 142-144
[80] Ibid., hlm. 151
[81] Ibid., hlm. 157-158
[82]Ibid., hlm. 151
[83] Ibid., hlm. 150
[84] Ibid., hlm. 165
[85]Ibid., hlm. 514
[86]Daniel Goleman, Emotional…, hlm. 128
[87] Ibid., hlm. 123
[88] Ibid., hlm. 196
[89]Daniel Goleman, Kecerdasan.., hlm. 181-196 & 214
[90]Daniel Goleman, Emotional.., hlm. 428
[91]Forum kajian Budaya dan Agama, Kecerdasan Emosi Quantum Learning, hlm. 34
[92]  Ibid., hlm. 215
[93] Daniel Goleman, Emotional…, hlm. 136
[94] Ibid., hlm. 149-150
[95] Ibid., hlm. 230
[96]Daniel Goleman, Kecerdasan…, hlm. 219
[97] Daniel  Goleman, Emotional…, hlm. 158-159
[98]Goleman, Kecerdasan…, hlm. 271-350
[99] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan  Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm.  132
[100]Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental dalam Pendidikan dan Pengajaran, Pidato Pengukuhan Guru Besar  Tetap di IAIN Sarif Hidayatullah, (Jakarta: 1984), hlm. 4-7.
[101] Zakiah Daradjat,  Pembinaan Jiwa atau Mental, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hlm. 8
[102] Ibid,… hlm 10
[103] Zakiah Daradjat, Pembinaan…., hlm. 12
[104]Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental,(Jakarta: Bulan Bintang 1970),hlm. 39-42
[105] Ibid., hlm. 42-46
[106]Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hlm. 13-14.
[107] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan  Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm.  132
[108]Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental dalam Pendidikan dan Pengajaran, Pidato Pengukuhan Guru Besar  Tetap di IAIN Sarif Hidayatullah, (Jakarta: 1984), hlm. 4-7.
[109] Zakiah Daradjat,  Pembinaan Jiwa atau Mental, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), hlm. 8
[110] Ibid,… hlm 10
[111] Zakiah Daradjat, Pembinaan…., hlm. 12
[112]Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental,(Jakarta: Bulan Bintang 1970),hlm. 39-42
[113] Ibid., hlm. 42-46
[114]Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hlm. 13-14.
www.web.unmetered.co.id
unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "KONSEP KECERDASAN EMOSI DANIEL GOLEMAN DAN RELEVANSINYA DENGAN KESEHATAN MENTAL ZAKIAH DARADJAT"