KONTRIBUSI AZYUMARDI AZRA DALAM HISTORIOGRAFI ISLAM INDONESIA

unmetered
unlimited

          Sejarah adalah pertanggungjawaban masa silam. Dalam pertangggungjawaban tersebut manusialah yang menentukan arti masa silam itu. Artinya bukan masa silam sebagai tabularasa, melainkan masa silam yang lembaran-lembarannya telah ditulisi oleh manusia dengan tindakan-tindakannya. Tindakan-tindakan itulah yang dinamakan sejarah sebagai peristiwa. Dalam mempertanggungjawabkan masa silam, manusia berhak dan wajib memberikan arti sehingga sejarah sebagai peristiwa tersebut menjadi sejarah sebagai kisah, sejarah sebagai tulisan, yang mempunyai pokok kaidah sejarah  sebagai ilmu.    
Historiografi Islam Indonesia, setidaknya dalam beberapa dasawarsa terakhir, ditandai beberapa perkembangan penting baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif karya-karya sejarah semakin banyak baik yang ditulis sejarawan Indonesia sendiri maupun sejarawan Asing. Terlepas dari tingkat kualitasnya yang berbeda-beda, karya-karya sejarah ini telah memberikan sumbangan yang signifikan baik upaya pemahaman yang lebih akurat terhadap sejarah Islam Indonesia secara keseluruhan.[1]
Dalam perkembangan historiografi di Indonesia beberapa corak historiografi yang cukup menonjol, antara lain: historiografi tradisional, historiografi kolonial, dan historiografi Nasional. Ketiga corak historiografi itu biasanya tidak berangkat dari kepentingan ilmiah, sehingga historiografi tersebut bukan pengkisahan sejarah yang memberi kebenaran berdasarkan landasan metodologis yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ketiganya berangkat dari kepentingan legitimasi kultural dan politis, yaitu pengkisahan yang kadang-kadang mengarah pada pembenaran. Pembenaran terhadap identitas dan jati dirinya sebagai suatu komunitas. Pada masa kemerdekaan, upaya untuk melihat sejarah dari aspek nasional, memandang sejarah dari masyarakat Indonesia sangat dominan. Sebagai konsekuensinya dari kesadaran kultural, historiografi yang berkembang adalah sejarah ideologis, yang berusaha menanamkan nilai-nilai nasionalisme, heroisme, dan patriotisme.
Sejarah menjadi bagian suatu bidang studi yang bersifat kritis. Perkembangan sejarah ilmiah membawa pengaruh dan perkembangan isu sejarah. Studi sejarah mengarah pada penyempitan fokus dengan disertai kedalaman analisis. Isu teoritis dan metodologis sejarah sebagai ilmu mulai menjadi salah satu perhatian. Namun isu tersebut masih terbatas pada lingkungan sejarawan. Di luar sejarawan profesional, isu itu masih dipengaruhi oleh pewarisan nilai, terutama melalui karya-karya biografi para tokoh, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup, pengumpulan data, menguji kebenaran data serta penafsiran tidak dilakukan secara ketat.
Hasil karya sejarawan itu sendiri merupakan kejadian sejarah yang dikondisikan oleh kebudayaan jaman dan lingkungan sosial dari sejarawan yang bersangkutan. Konsekuensinya pada satu sisi kesimpulan sejarah dan kebenaran sejarah mencerminkan kisah dan latar belakang dari sejarawan. Sebagai manusia yang hidup bermasyarakat berbagai nilai dan kepentingan kebudayaan dimana dia melakukan dan berkembang ikut membentuknya.
Dunia sejarah memang bukan hal yang asing bagi Azyumardi Azra. Ia melihat ada dua kecenderungan dalam penulisan sejarah Islam Indonesia. Pertama, penulisan sejarah Islam Indonesia cenderung dipahami sebagai “sejarah politik” atau sejarah lama yang umumnya bersifat naratif dan deskriptif atau ensiklopedis. Kedua, penulisan sejarah yang menggunakan ilmu-ilmu bantu, yang cenderung dipahami sebagai “sejarah sosial” atau “sejarah baru”. Baginya sejarah sosial ini lebih menekankan kepada kajian atau analisis terhadap faktor-faktor sosial yang mempengaruhi terjadinya berbagai peristiwa sejarah itu sendiri. Penggunaan ilmu bantu dalam Historiografi Islam Indonesia, tidak bisa dipungkiri telah memperkuat dan mengembangkan corak baru.
Dalam perspektif kecenderungan dan perkembangan baru dalam Historiografi Islam Indonesia, adalah penerbitan beberapa karya besar sejarah yang oleh Azyumardi Azra akan mempengaruhi corak Historiografi Islam Indonesia di masa-masa mendatang. Suatu filosofi yang menegaskan, bahwa perkembangan historis disuatu wilayah tertentu tidaklah terjadi dan berlangsung dalam situasi vakum dan isolatif. Tetapi ia terkait dengan peristiwa-peristiwa pada kawasan lain. Dengan demikian pada perspektif ini, sejarah Indonesia harus dilihat dan ditempatkan dalam kerangka sejarah dunia pada umumnya, bukan sejarah yang berdiri sendiri.
BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
Sejarah adalah pertanggungjawaban masa silam. Dalam pertangggungjawaban tersebut manusialah yang menentukan arti masa silam itu. Artinya bukan masa silam sebagai tabularasa, melainkan masa silam yang lembaran-lembarannya telah ditulis manusia melalui tindakan-tindakannya. Tindakan-tindakan itulah yang dinamakan sejarah sebagai peristiwa. Artinya masa silam itu bukan hanya sebagai simbol, tetapi masa silam itu dapat berperan menguatkan solidaritas dari suatu komunitas[2]. Dalam mempertanggungjawabkan masa silam, manusia berhak dan wajib memberikan makna sehingga sejarah sebagai peristiwa tersebut menjadi sejarah sebagai kisah, sejarah sebagai tulisan, yang mempunyai   kaidah pokok  sebagai ilmu[3]
Adapun makna itu tidak lain adalah asas yang menentukan saling hubungan bagian-bagian terhadap suatu keseluruhan. Bila keseluruhan itu adalah kehidupan, gerak atau dinamika suatu bangsa, maka bagian-bagian dari kisah atau pertanggungjawaban itu harus disusun sedemikian rupa sehingga senantiasa berlandaskan atas dinamika kehidupan bangsa tersebut. Hal ini menjadi lebih menarik bila itu adalah bangsa yang belum lama mengalami proses dekolonisasi. Suatu proses untuk mandiri, suatu proses untuk mendewasakan  diri setelah berhasil melepaskan diri dari penjajahan bangsa lain. Hal itu disebabkan oleh karena setelah sekian lama bangsa lain itu menyejarah di buminya, maka kini bangsa yang baru merdeka itu harus memberikan pertanggungjawaban terhadap masa silamnya.
Demikian pula dengan bangsa Indonesia, yang sejak permulaan Abad ke-20 ini bergejolak dan sedikit demi sedikit secara bersama-sama dan terorganisasi berusaha menuntut kemerdekaan, akhirnya berhasil memproklamasikan kemerdekaan bangsa pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejak proklamasi Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, bangsa Indonesia wajib mempertanggungjawabkan masa silamnya. Hal itu tidak berarti memutar balikkan fakta yang ada demi kejayaan bangsa Indonesia, bukan berarti bahwa semua prestasi bangsa Belanda bisa diganti dengan prestasi bangsa Indonesia begitu saja. Sejarah sebagai kisah haruslah berdasarkan fakta yang benar[4]. Sebagaimana yang pernah diungkapkan Sartono Kartodirdjo, sejarah dalam arti obyektif menunjukkan kepada kejadian atau peristiwa itu sendiri, ialah proses sejarah dalam aktualitasnya.[5]
Kemerdekaan telah menggugah rasa kepribadian, mendorong bangsa Indonesia untuk mencari defenisi yang lebih jelas mengenai identitas bangsa melalui sejarah. Seiring dengan perjalanan bangsa yang semakin kompleks, bangsa Indonesia mempunyai perhatian dan kesadaran historis pada bangsanya sendiri.[6] Hal ini terbukti dengan adanya keinginan yang sangat kuat dalam masyarakat sesudah merdeka untuk memiliki sejarah nasional sendiri yng tidak lagi ditulis oleh penjajah Belanda.[7]
Dalam perkembangan historiografi Indonesia terdapat beberapa corak historiografi yaitu historiografi tradisional, historiografi kolonial, historiografi nasional dan historiografi modern.[8]Historiografi tradisional lebih awal muncul sebelum adanya kesadaran historis. Corak historiografi tradisional diperlihatkan oleh babad, tambo, hikayat, silsilah, lontara dan sebagainya. Di samping orientasinya yang bersifat lokal atau etnis-kultural, juga sering bersifat simbolik dalam arti di belakang apa yang dikatakan terdapat makna yang sesungguhnya.[9] 
Peristiwa atau kejadian dalam historiografi tradisional selalu berpusat pada kekuatan gaib, bukan ditentukan oleh aksi atau di motivasi manusia. Dominasi kekuatan gaib digambarkan begitu menonjol di luar diri manusia. Pola cerita seperti itu disebut sebagai mitos atau cerita kepercayaan.[10]Lebih lanjut Raymond William mengatakan, seperti dikutip Taufik Abdullah bahwa historiogafi tradisional lebih “the myth of concern” yang berfungsi sebagai pemantapan nilai dan tata atau makna simbolik dari pandangan masyarakat.[11] 
Membicarakan perkembangan historiogafi Indonesia tidak dapat mengabaikan historiografi yang dihasilkan oleh sejarawan kolonial. Mereka mempunyai tradisi dalam historiografi kolonial yang cukup lama, dengan visi dan interpretasi yang telah berubah, tetapi pokok perhatin tetap difokuskan pada peranan bangsa Belanda di tanah seberang. Belanda dalam historiografi kolonial banyak mengedepankan aspek politis, ekonomis dan institusional.[12]Selain dengan menjadikan para pejuang Indonesia sebagai pemberontak atau aksi militer, bahkan perusuh.[13]Historiografi kolonial sama sekali mengesampingkan peranan bangsa Indonesia.
Historiografi Indonesia mengalami perkembangan ketika muncul kesadaran historis, setelah kemerdekaan. Pada awal kemerdekaan sejarah di lihat dari aspek nasional, dan sebagai konsekuensi dari kesadaran kultural yang timbul adalah sejarah ideologis. Sejarah ideologis adalah sejarah yang menanamkan nilai dan semangat nasionalisme, heroisme, dan patriotisme.[14]
Adapun corak sejarah yang muncul setelah kemerdekaan menghasilkan corak  sejarah yang berbentuk biografi maupun karya lain yang lebih berfungsi sebagai cara untuk  mengusir imperialisme. Oleh karena itu, menurut Sartono Kartodirdjo dalam penulisan sejarah nasional perlu cakrawala baru baik dalam historiografi tradisional, kolonial dan nasional.[15]  Perkembangan penulisan sejarah tradisional menuju pada perubahan historiografi modern dimulai sekitar tahun 1957, yakni setelah adanya tulisan Hoesein Djajadiningrat “Critische Beschauwing Van de  Sadjarah Va Banten“, yang mengkaji secara kritis tradisi penulisan babad dalam khasana sastra, mengakhiri periode historiografi tradisional.[16]
B.   Batasan dan Rumusan Masalah
Azyumardi Azra yang dilahirkan pada tanggal 5 Agustus 1955 di Lubuk Alung adalah cendekiawan muslim yang banyak menghasilkan karya dengan  beragam tema seperti agama, pendidikan dan sejarah. Untuk memudahkan dalam pengkajian pada penelitian ini penulis mencoba membatasi pemikiran Azyumardi Azra sebagai seorang sejarawan. Penelitian ini membahas tentang sejarah terutama yang berkaitan dengan penulisan sejarah Islam Indonesia yang dilakukan oleh Azyumardi Azra dengan pandangan dan analisisnya.
Secara lebih jelas penelitian ini akan melihat kontribusi Azyumardi Azra dalam historiografi Islam Indonesia. Adapun yang dimaksud dengan kontribusi dalam penelitian ini adalah sumbangan, pemikiran dan ide-idenya dalam karya ilmiah mengenai rekonstruksi masa lampau yang berkaitan dengan umat Islam Indonesia. Penulis membatasi permasalahan pada pemikiran dan ide-ide Azyumardi Azra yang berkaitan dengan historiografi Islam Indonesia yang tersusun dalam berbagai karya ilmiah yang ditulisnya sampai sekarang.
Permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
a.    Bagaimana perkembangan historiografi Islam Indonesia ?
b.    Siapa Azyumardi Azra dan bagaimana pandangannya tentang historiografi Islam Indonesia ?
c.    Apa kontribusi  Azyumardi Azra dalam historiografi Islam Indonesia ?
C.   Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Penelitian ini difokuskan pada diri Azyumardi Azra untuk menggali pemikiran, ide, dan kontribusinya dalam historiografi Islam Indonesia. Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:
1.    Untuk mengetahui perkembangan Historiografi Islam Indonesia
2.    Untuk mengetahui pandangan Azyumardi Azra terhadap Historiografi Islam Indonesia.
3.    Untuk mengetahui kontribusi Azyumardi Azra dalam Historiografi Islam Indonesia.  
Penelitian ini diharapkan dapat memberi kegunaan sebagai berikut:
1.    Diharapkan dapat memberi kontribusi dalam penelitian sejarah selanjutnya dan dapat merefleksikan kembali perkembangan Historiografi Islam Indonesia.
2.    Diharapkan dapat mengungkapkan permasalahan dalam Historiografi Islam Indonesia dan memberi andil terhadap perkembangan historiografi dewasa ini.
3.    Menambah wawasan keilmuan dan intelektual bagi penulis dan peminat sejarah.
D.       Tinjauan Pustaka
Pemikiran dan ide-ide Azyumardi Azra dalam Historiografi Islam Indonesia menarik untuk dikaji. Hal ini mengingat tulisan-tulisan yang bersangkutan dengan pembahasan tersebut belum pernah dilakukan. Namun terdapat beberapa buku atau karya tulis yang membahas tentang topik yang berhubungan dengan judul diatas.
Untuk mendukung penulisan ini, beberapa buku sebagai sumber penlitian mengenai historiografi Islam Indonesia diantarannya adalah:
Historiografi Islam Kontemporer: Wacana, Aktualitas dan Aktor Sejarah, karyaAzyumardi Azra. Dalam pembahasannya buku ini dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama berisi tentang wacana dan konsep sejarah yang meliputi historiografi kontemporer Indonesia, peranan hadits dalam perkembangan historiografi awal Islam dan lain-lain. Bagian kedua berisi aktualitas sejarah. Bagian ketiga tentang  para pelaku sejarah modern dan bagian yang terakhir berisi tentang para tokoh sejarah klasik.
Perspektif Islam di Asia Tenggara, editor Azyumardi Azra. Buku ini membahas tentang Islam di Asia Tenggara sampai Abad ke-20, Islam di dunia Melayu, Islam dan dunia muslim dan filsafat Islam di Asia Tenggara. Dalam pendahuluan buku ini, Azyumardi Azra berbicara tentang historiografi nasional yang dipengaruhi oleh unsur Islam.
Buku editor Taufik Abdullah dan Abdurahman Surjomihardjo yang berjudul Ilmu Sejarah dan Historiografi: Arah dan Perspektif. Buku ini merupakan kumpulan dari beberapa tulisan, dalam pembahasannya dibagi menjadi tiga bagian dengan lima belas bab. Secara garis besar buku ini membahas tentang arah dan perspektif historiografi di beberapa negara, sistematik disiplin ilmu sejarah dan retorika sejarah.[17]
Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: Suatu Alternatif, oleh Sartono Kartodirdjo. Dalam buku ini dibahas tentang kecenderungan beberapa penulisan sejarah Indonesia dan beberapa garis pokok perkembangan penulisan sejarah Indonesia ataupun memberikan cakrawala baru dalam segi teori dan metodologi.
Penulis lain yang membahas historiografi adalah Soedjatmoko (ed) dalam bukunya An Introduction to Indonesian Historiography yang diterjemahkan menjadi Historiografi Indonesia: Suatu Pengantar.  Buku ini memuat berbagai keterangan mengenai sumber sejarah dan sumbangan berbagai disiplin untuk penulisan sejarah.
Kontribusi Hamka dalam Historiografi Islam Indonesia. Tulisan ini merupakan karya ilmiah dari Ummu Kulsum mahasiswa fakultas Adab IAIN SUKA Yogyakarta tahun 1993. Dalam penelitiannya penulis membahas tentang biografi Hamka, persepsi Hamka tentang Islamisasi di Indonesia dan pendapat hamka tentang penulisan sejarah.
Skripsi tentang Kontribusi Kuntowijoyo dalam Historiografi Islam Indonesia. Skripsi ini merupakan karya Suyono, mahasiswa fakultas Adab IAIN SUKA Yogyakarta tahun 2003. Dalam penelitiannya, penulis membahas tentang corak historiografi Islam Indonesia, historiografi Islam dalam pandangan Kuntowijoyo serta gaya dan corak penulisannya.
 
E.   Landasan Teori
Segala aspek yang terkait dengan karya sejarah dan pemikiran sejarah Azyumardi Azra, kiranya dapat dipahami sebagai kontribusinya dalam Historiografi Islam Indonesia. Menurut Frans Rosental,  “Historiografi Islam adalah karya sejarah yang ditulis oleh penganut agama Islam dan berbagai aliran. Sebagai agama pembawa perubahan, Islam merupakan agama yang peduli sejarah, seperti dalam al-Quran surat Yusuf ayat 111: “Sesungguhnya dalam sejarah itu terdapat pesan-pesan sejarah yang penuh perlambang, bagi orang-orang yang dapat memahaminya”. 
Perkembangan penulisan sejarah di Indonesia pada masyarakat, antara jaman yang satu dengan yang lainnya cenderung berbeda. Misalnya Pengkisahan sejarah pada masyarakat tradisional, yaitu masyarakat yang didominasi oleh magis-religius, cenderung anonim, karena dalam masyarakat tradisional kisah sejarah milik kolektif[18]. Menurut Taufik Abdullah, hal ni membuktikan bahwa Historiografi adalah ekspresi kultural dan pantulan bagi keprihatinan sosial masyarakat atau kelompok sosial yang menghasilkannya[19].
Sejarawan dalam merekonstruksi suatu peristiwa sejarah dipengaruhi oleh titik pandang pribadi dan imajinasi. Proses rekonstruksi tersebut dipengaruhi oleh nilai-nilai yang berkembang di masyarakatnya. Maka tidak berlebihan bila dikatakan bahwa sejarah yang benar adalah suatu sejarah yang ditafsirkan sesuai dengan kaidah-kaidah yang cocok dengan cakrawala cultural masyarakatnya  (sejarah masa kini).[20]Dengan kata lain, historiografi merupakan hasil dari berbagai latar belakang yang terakumulasi dalam sebuah kebudayaan. Ia dibentuk oleh kebudayaan di mana si penulis sejarah hidup, sehingga ia tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan yang melahirkannya.
Dasar-dasar pemikiran di atas, penulis pandang cukup untuk dijadikan acuan dalam skripsi ini, sehingga dalam studi ini dapat mendeskripsikan, menganalisis kontribusi pemikiran Azyumardi Azra dalam historiografi Islam Indonesia.
Penelitian ini adalah penelitian sejarah pemikiran yang berbicara tentang pikiran-pikiran sejarawan, mentalitas atau pandangannya tentang historiografi melalui karya-karyanya. Pendekatan Biografi akan digunakan dalam meneliti kehidupan Azyumardi Azra, sehingga dapat diungkap siapakah Azyumardi Azra, selain latar belakang pandangannya tentang historiografi Islam Indonesia.
F.   Metode Penelitian
Metode penelitian sejarah disebut juga metode sejarah. Metode itu sendiri berarti cara, jalan atau petunjuk teknis yang dilakukan dalam proses penlitian[21]. Dalam kaitannya dengan penuliasan skripsi ini, metode adalah suatu jalan atau petunjuk agar sampai pada penulisan sejarah yang berjudul Kontribusi Azyumardi Azra dalam Historiografi Islam Indonesia. Penelitin ini ingin menghasilkan bentuk dan proses pengkisahan peristiwa-peristiwa manusia yang telah terjadi di masa lalu[22]. Melalui penelitian sejarah ini diharapkan dapat dihasilkan penjelasan tentang pandangan Azyumardi Azra terhadap Historiogrfi Islam Indonesia dan Kontribusinya dalam Historiografi Islam Indonesia. Adapun tahapan penelitian ini sebagai berikut[23]:
1.    Heuristik atau pemgumpulan data. Karena penelitian ini adalah penelitian literatur, maka proses pengumpulan data dilakukan denan bahan dokumen-dokumen[24]melalui pencarian buku-buku, jurnal, makalah dan lainnya[25]. Dalam mencari data, penulis berusaha menghimpun baik sumber primer  (karya sejarah yang ditulis Azyumardi Azra) maupun sekunder (komentar-komentar yang dilontarkan pada Azyumardi Azra, seperti pandangannya tentang pemakaian sumber dan pendekatan yang dipakai dalam penulisan historiografi Islam Indonesia selama ini). Kemudian penulis mengklasifikasikannya dalam sub keilmuan tersendiri, apakah karya tersebut karya sejarah atau bukan, untuk dipilih sumber yang tergolong sumber sejarah.[26]   
2.    Verifikasi atau kritik sumber, yaitu tahap menguji keabsahan sumber-sumber yang telah terkumpul dan dievaluasi baik melalui kritik ekstern maupun intern. Kritik ekstern penulis lakukan dikarenakan sebagian karya Azyumardi Azra telah mengalami perubahan atau cetak ulang, kemudian kritik intern penulis lakukan dengan menganalisis isi sumber dengan cara mencari bukti-bukti untuk memperkuat sumber atau fakta[27].
3.    Interpretasi atau penafsiran. Pada tahap ini penulis melakukan proses penafsiran fakta-fakta yang terlepas satu sama lain untuk dirangkaikan, sehingga menjadi satu kesatuan yang harmonis atau utuh dan logis.
4.    Historiografi, merupakan bentuk penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian yang telah dilakukan sebagai penelitian sejarah yang menekankan aspek kronologis[28].
G. Sistematika Pembahasan.      
          Sistematika dalam pembahasan skripsi ini terdiri dari lima bab, yang disusun menjadi sejarah yang kronologis. Bab satu sekaligus bab pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penlitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
          Bab dua menguraikan tentang perkembangan historiografi Islam Indonesia. Dalam bab dua ini berisi tentang corak awal historiografi Islam Indonesia, corak dan tema penulisan sejarah Islam Indonesia. Bab ini dimaksudkan untuk memberikan deskripsi yang jelas tentang perkembangan historiografi Islam Indonesia.
          Bab tiga membahas tentang sketsa Azyumardi azra dengan melihat pada riwayat hidupnya dan hasil–hasil karyanya, khususnya tentang karya sejarahnya. Bab ini dimaksudkan untuk untuk mengetahui riwayat hidup Azyumardi Azra serta karya-karyanya, sehinggga dapat diketahui adanya penulisan-penulisan sejarah Islam Indonesia. 
          Bab empat mengulas tentang pemikiran dan ide Azyumardi Azra dalam historiografi Islam Indoneisa. Bab ini berisi tentang pandangan Azyumardi Azra terhadap historiografi Islam Indonesia, gaya dan corak penulisan sejarah Islam menurut Azyumardi Azra dan analisis terhadap penulisan sejarah Azyumardi Azra yang dilakukan oleh penulis. Bab ini dimaksudkan untuk menjelaskan pemikiran dan ide Azyumardi Azra dalam historiografi Islam Indonesia baik pandangannya maupun gaya dan corak dia dalam penulisan historiografi Islam Indonesia. 
          Bab lima merupakan bab penutup yang berisi tentang kesimpulan dan saran-saran. Dalam bab ini akan disimpulkan hasil penelitian yang merupakan jawaban atas permasalahan yang ada.
BAB II
HISTORIOGRAFI ISLAM INDONESIA
A.       Corak Historiografi Nasional Indonesia
Perkembangan historiografi Indonesia memiliki beberapa corak yang mendominasi, di antaranya adalah historiografi tradisional, historiografi kolonial, historiografi nasional dan historiografi modern atau kontemporer.[29]Historiografi tradisional mendominasi perkembangan penulisan sejarah. Sebagai wujud dari kesadaran historis terhadap bangsanya, corak historiografi tradisional muncul sebelum adanya kesadaran nasional. Corak ini mendominasi pada penulisan babad, lontara, hikayat, tambo, silsilah dan yang lainnya.
Historiografi tradisional mempunyai nilai sejarah yang berbeda-beda karena tercampur unsur mite dalam sejarah dan mengandung banyak anakronisme sehingga antara “Dichtungdan Whrheitnya” perlu dipilahkan.[30]  Di samping itu, historiografi tradisional memiliki orientasi yang bersifat etnis kultural (baca: historiografi modern) sekaligus bersifat simbolik.[31]Artinya, di belakang apa yang dikatakan secara terbuka, terletak makna yang sesungguhnya ataupun pesan kultural yang ingin disampaikan. Suatu peristiwa tertentu yang kadang-kadang bersifat ajaib kemungkinannya mengatakan sesuatu yang bersifat historis. Jadi, historiografi tradisional sering berfungsi sebagi aktualisasi pandangan hidup. Historiografi tradisional sering cenderung mengaburkan dua macam realitas sejarah, yakni realitas obyektif yang terjadi dan realitas yang berupa penghayatan kultural kolektif. Sebagian besar historiografi ini memuat tindakan yang dilakukan bukan oleh manusia melainkan oleh dewa-dewa. Pada umumnya historiografi ini mencari keterangan tentang sesuatu pada hal-hal yang di luar sejarah, sebab dan akibat tidak terletak pada rangkaian peristiwa. Hal ini dapat dilihat dalam peristiwa atau kejadian yang selalu berpusat pada kekuatan gaib atau mitos diluar diri manusia yang digambarkan begitu menonjol. Dengan kata lain, peristiwa pada manusia ditentukan oleh kekuatan gaib bukan ditentukan oleh aksi atau motivasi dari manusia itu sendiri.[32]
Hal lain yang menonjol dalam historiografi tradisional adalah bahwa semua peristiwa berkisar sekitar kerajaan dengan raja sebagai pusatnya, sedangkan apa yang terjadi diluar itu jarang disinggung, misalnya hikayat Pasai dan hikayat Perang Sabil. Hikayat Aceh menarik karena terdapat beberapa cerita yang terpengaruh Hindu namun mendapat sisipan Islam.[33]Seperti dikisahkan dalam Hikayat tersebut bahwa raja suatu malam pernah bermimpi dengan Nabi Muhammad SAW yang mengajarinya melafalkan kalimat Syahadat[34]. Adapun dari segi isinya, dapat dibagi menjadi dua bagian[35]. Pertama, berisi anjuran untuk berperang sabil dengan menunjukkan pahala, keuntungan, dan kebahagiaan yang akan diraih. Kedua, berisi berita mengenai tokoh atau keadaan peperangan di suatu tempat yang patut disampaikan kepada masyarakat untuk mendorong semangat orang-orang muslimin yang sedang berjihad. Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Taufik Abdullah, Hikayat Aceh dan sejarah Melayu termasuk historiografi tradisional yang terkenal di dunia Islam Melayu, karena kisahnya yang banyak mengandung unsur Islam.
Menurut Taufik Abdullah, bahwa historiografi yang dihasilkan masyarakat merupakan ekspresi kultural masyarakat yang menghasilkan sejarah. Pantulan tersebut terlihat dalam historiografi tradisional yang dapat dipakai sebagai alat untuk memahami pola kesejarahan masyarakat penganutnya.[36]Walaupun kesadaran historisitas kita menunjukkan perbedaan yang besar antara corak historiografi tradisional seperti babad, hikayat, tambo dan lainnya dengan corak historiografi modern,[37]namun tidak dapat begitu saja dikatakan bahwa historiografi tradisional bertentangan dengan historiografi modern. Beberapa hal penting yang memang membedakan kedua jenis historiografi ini, misalnya pada corak penulisan dan metodologinya. Kepastian historisitas adalah ukuran yang utama bagi penulisan sejarah modern. 
Dalam historiografi tradisional unsur mitos begitu mendominasi dalam penulisan, karena dalam mitos tidak ada unsur waktu dan juga kronologi, tidak ada awal maupun akhir, dengan penulisan kisah manusia yang religius magis. Corak tradisional  pada penulisan sejarah Wali Songo di Jawa yang digambarkan mempunyai kekuatan gaib (kesaktian diluar diri manusia) tidak menekankan pada fakta tentang penyebaran agama Islam ditanah Jawa. Dalam sejarah Melayu juga terdapat kecenderungan penyusunan sejarah dengan muatan  mitos dan fakta yang disamarkan.[38]Selain muatan mitologis, historiografi tradisional mempunyai fungsi sosial psikologis, sehinggga terdapat kohesi dalam masyarakat antara lain dengan memperkuat kedudukan dinasti sebagai kekuatan pusat atau sering disebut rajasentrisme.[39]Kronologi dalam historiografi tradisional yang lebih muda usianya merupakan benih sejarah yang terpusat pada tindakan manusia.
Dalam hal ini sudah mulai tampak hal-hal yang esensial bagi cerita sejarah, yakni adanya batasan waktu dan urutan kejadian. Meskipun pada masa-masa terakhir perkembangannya historiografi tradisional semakin jelas menunjukkan historitas serta periodesasi, namun jenis historiografi ini tidak dapat berkembang sebagaimana di dunia Barat. Historiografi ini juga memuat campuran antara unsur mitologis, eskhatologis, dan kronologis. Dengan demikian, kredebilitas atau kadar kepercayaan yang bisa diperoleh dari corak historiografi tradisional lebih ditentukan oleh penghayatan kultural si pembaca. 
Pada awal abad ke enam belas, bangsa Barat mulai menguasai wilayah Indonesia. Hal itu menyebabkan akulturasi antar budaya yang telah ada dengan kebudayaan bangsa Barat. Akulturasi yang terjadi secara langsung membawa dampak pada penulisan Sejarah Indonesia. Persoalan-persoalan yang ditulis dalam historiografi tradisional yang sebagian besar berkisar pada lingkungan kerajaan, maka pada abad tersebut mengalami pergeseran kearah persoalan kekuasaan atau lebih pada persoalan hubungan, akibat hubungan, atau tentang kekuasaan bangsa Barat itu sendiri.[40]
Penulisan sejarah pada abad ini sering disebut sebagai historiografi kolonial. Fokus penulisan lebih ditekankan pada peranan bangsa Belanda di tanah seberang. Peranan bangsa Belanda pada historiografi kolonial memberi tekanan pada aspek politik, ekonomi, dan institusional. Aspek politik dapat dilihat misalnya, pada penulisan para penjajah (Belanda) yang lebih mengedepankan aspek politis dengan menjadikan para pejuang Indonesia sebagai pemberontak atau aksi militer, bahkan perusuh.[41]Corak historiografi kolonial yang pengkisahannya tentang peristiwa politik dan militer sekitar VOC dan pemerintahan kolonial yang sudah tidak lagi menonjolkan peranan bangsa Indonesia.[42]
Aspek politik lain dalam historiografi kolonial dapat dilihat pada penulisan babad Giyanti yang menceritakan perebutan kekuasaan yang menyebabkan tanah Jawa dibagi menjadi dua bagian, yakni  masing-masing dibawah kekuasaan Susuhunan dan Sultan. Selain aspek politis dapat kita telusuri juga dalam cerita Babad Tanah Jawi yang lebih mengedepankan dongeng atau akulturasi dan sinkretisme, Islam dan Hindu.[43]  Misalnya kisah tentang pelayaran orang Belanda oleh orang Belanda sendiri. Ciri lain dari historiografi kolonial adalah rakyat tidak mendapat peran yang layak; rajasentris yang mengedepankan peran kerajaan dengan pendiri tokoh Belanda;  terlihat dramatis, tokoh Indonesia berperan sebagai figuran atau pelengkap dari kisah-kisah yang ditulis dalam historiografi kolonial.[44] 
Lain halnya dengan penulisan sejarah yang bercorak tradisional, yang banyak mengandung unsur mitos, namun pada corak historiografi kolonial unsur mitos sudah mulai berkurang. Walaupun corak historiografi kolonial ini sangat mendominasi selama masa penjajahan Belanda. Namun, menurut Mohammad Ali, “bahwa penulisan sejarah Indonesia yang dihasilkan oleh orang Belanda lebih tepat disebut sebagai sejarah bangsa Belanda di Indonesia “. [45] 
Historiografi kolonial menggugah kesadaran sejarah bangsa Indonesia sebelum masa kemerdekaan. Hal ini memberi dampak pada corak penulisan sejarah Indonsia yang sebelumnya lebih berpihak ke Barat (kolonialisme), maka pada masa berikutnya menjadi lebih berwawasan nasional. Pengingkaran-pengingkaran yang menjiwai historiografi kolonial menimbulkan rangsangan untuk membangkitkan kesadaran sejarah sebagai resonansi kesadaran kehidupan politik di satu pihak, dan pada pihak lain sebagai ekspresi aspirasi nasional untuk menemukan kembali identitasnya[46]. Konsep sejarah nasional berangkat dari kesadaran ideologis dan keprihatinan intektual. Maka sejarah nasional adalah catatan peristiwa di masa lalu yang secara nasional (berdasarkan kesadaran idelogis) dianggap penting dan relevan.[47]Sebagai pantulan kesadaran kultural, penulisan sejarah nasional lebih kearah sejarah ideologis yang menanamkan nilai-nilai nasionalisme, heroisme dan patriotisme. Dengan demikian, historiografi nasional memperlihatkan sikap perlawanan terhadap kolonialisme Barat.[48]
Suatu fenomena yang menarik dalam historiografi Indonesia yakni  maraknya corak penulisan biografi pahlawan, tokoh politik, dan pemimpin-pemimpin baik lokal maupun nasional. Seperti penulisan biografi pangeran Diponegoro. Biografi tokoh tersebut bertujuan sebagai pewarisan nilai dan perjuangannya, selain sebagai pemicu untuk mengusir imperialisme di Indonesia.[49]
Dalam historiogrfi nasional, hubungan sejarawan dengan masyarakat  tampak erat. Hal ini terlihat pada semangat tinggi sejarawan untuk mengungkap masa lalu lebih akurat. Keterkaitan emosional mereka dengan masa kini yang didukung semangat nasionalisme yang melingkupi sejarawan. Manakala nasionalisme bergelora pencarian jawaban tersebut tidak banyak introspektif, namun upaya tersebut sebagai besar akan berupa tulisan-tulisan yang mendasar tentang penulisan sejarah yang nasionalis serta mitos-mitos nasional. Seperti pemanfaatan mitos politis kerajaan-kerajaan yang menjadi pelopor kesatuan, mitos tentang penjajahan Belanda selama 350 tahun, ataupun mitos Soeharto sebagai bapak pembangunan. Mitos sebagai alat penolong bagi manusia yang berkaitan dengan masa lmpau, kini dan masa mendatang, bahkan mitos digunakan pula sebagai alat legitimasi kekukasaan. Hal itu dapat dilihat pada masa Orde Baru yang syarat dengan mitos-mitos dalam penulisan sejarah nasional Indonesia.[50] 
Penulisan sejarah semakin berkembang sejak diselenggarakan seminar nasional sejarah Indonesia di Yogyakarta pada tahun 1957. Peristiwa tersebut dianggap sebagai Periode historiografi modern dan titik tolak kesadaran sejarah baru.[51]  Sampai kurun waktu tahun 1960–an penulisan sejarah yang ideologis menjadi corak historiografi Indonesia.[52]Sementara di tahun 1970-an muncul kesadaran sejarawan untuk melatakkan tekanan peranan sejarah orang Indonesia dalam penulisan sejarah Indonesia.[53]
Parasejarawan profesional mencoba membuka wawasan baru dalam penulisan sejarah akademis. Hal itu dilakukan melalui perumusan masalah yang tematis dan mendasar dengan sikap kritis terhadap sumber. Sejarah tidak lagi ditulis berdasar ideologis dan politik tetapi sudah merambah pada tema-tema sejarah lain dengan corak penulisan sejarah  kritis.[54]Dalam historiografi modern terdapat lebih banyak pendekatan baru untuk menilai suatu peristiwa sejarah. Keotentikan sumber dipertimbangkan, tidak sekedar penulisan yang lebih sebagai pesanan penguasa seperti yang terjadi pada era Orde Baru.[55] 
B.   Corak Awal Historiografi Islam Indonesia
Franz Rosental, mengatakan ” bahwa salah satu motivasi yang mendorong perkembangan pesat historiografi Islam terdapat dalam konsep Islam sebagai agama yang mengandung sejarah “.[56]Historiografi Islam pada dasa warsa terakhir telah menunjukkan perkembangan baik dari segi kualitas maupun kuantitas.[57]Historiografi Islam sebagai unsur dari historiografi Indonesia juga telah menunjukkan perkembangannya, dengan munculnya sejarawan dengan berbagai karya-karyanya tentang umat Islam Indonesia.[58]
Pada awal perkembangannya, kebanyakan historiografi Islam Indonesia berisi mitos dari pada sejarah dalam pengertian Barat.[59] Menurut De Graaf, historiografi Islam Indonesia tentang sejarah awal Islam tidak terlalu bisa dijadikan pegangan, walaupun begitu tidak dapat diabaikan sama sekali. Hal ini disebabkan karena historiografi tersebut adalah hasil pribumi  dan merupakan produk tradisi kebudayaan yang sama dan bukan pada historitasnya.   
Penulisan Sejarah Islam Indonesia pada awal tidak seperti yang kita lihat sekarang ini. Akan tetapi lebih pada peristiwa-peristiwa yang mempunyai kekuatan-kekuatan  gaib (sakti)[60] dan tidak  berlandaskan pada aturan ilmu sejarah. Babad, hikayat, silsilah, tambo lebih bertumpuh pada mitos dari pada mengedepankan fakta. Sehingga pada karya-karya yang dihasilkan muatan sejarah sangat bervariasi.[61]
Secara khusus penulisan sejarah Islam di Indonesia belum mendapatkan tempat sendiri, maksudnya kajian tentang sejarah lebih banyak pada historiografi Islam Indonesia secara umum, sedangkan historiografi Islam secara khusus belum mendapatkan pemusatan kajian-kajian.[62]Seperti Hamka dan Uka Djandrasasmita.
Sebagaimana yang dilakukan oleh Hamka, yang mengkaji Islam Indonesia dengan karya yang berjudul “Sejarah Umat Islam Indonesia”.[63]Sumber yang digunakan adalah buku-buku sejarah yang dikarang oleh penulis muslim, seperti Sejarah Melayu oleh Tun Sri Lanang, Hikayat Raja-raja Pasai oleh Syaikh Nuruddin Raniri, Sejarah Cirebon, buku tulisan Inggris dan Belanda tentang Indonesia dan Tanah Melayu, dan tulisan tangan yang tidak tercetak yang disimpan oleh para Sultan atau keluarganya. Begitu juga pada karya Uka Djandrasasmita, Sejarah Nasional III, yang membahas zaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Djandrasasmita mendekati sejarah Islam di Indonesia sebagai bagian dari sejarah nasional Indonesia yang menekankan pada sejarah sebagai suatu proses yang terjadi karena pergeseran elemen-elemen masyarakat. Dengan demikian penulisan sejarah Islam Indonesia sudah dimulai sejak awal Islam masuk walaupun dalam bentuk-bentuk yang sederhana. Adapun contoh corak awal historiografi Islam Indonesia adalah sebagai berikut:
1.    Hikayat.
Hikayat ini merupakan bentuk cerita yang selalu disampaikan dalam bentuk puisi yang sering disebut sajak. Seperti halnya pada hikayat yang berisi tentang raja dan kerajaan, maka setelah agama Islam masuk penulisan sejarah menjadi berubah pada penulisan sekitar penyebaran agama, tokoh agama, sebutan raja berubah menjadi Sultan. Dalam perkembangannya penulisan sejarah sekitar tokoh agama menjadi  tokoh sejarah didalam banyak hikayat, misalnya Hikayat Amir Hamzah, dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiah. Walaupun tidak jarang dalam hikayat tersebut kita temukan pemaparan tentang tokoh  atau pahlawan Islam yang bersifat mitos, misalnya tentang Iskandar Zulkarnain yang hidup sebelum Islam, oleh penulis sejarah dimasukkan sebagai tokoh pahlawan Islam. Hikayat Nabi yang merupakan penulisan asli Indonesia adalah kitab al-Anbiya. Selain itu, terdapat Hikayat Sulalatus Salathin, Sejarah Negeri Kedah, Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Hang Tuah (pahlawan kerajaan), Hikayat Cirebon.[64]
Menurut Sartono Kartodirdjo, penulisan hikayat mengandung unsur raja sentrisme. Hikayat lebih bercerita tentang Raja dan kekuasaannya, sejarah diluar kerajaan tidak disinggung secara universal tetapi penulisannya bersifat parsial[65]. Seperti yng diungkapkan oleh Azyumardi Azra, penulisan hikayat semacam ini lebih concern terhadap para raja dan keluarga istana atau petinggi negara; ia sangat tidak berminat membahas berbagi hal pada tingkat rakyat jelata[66]. Akibatnya, sebagian besar penulisan hikayat ini hanya membicarakan perincian konversi para penguasa, keluarga kerajaan, dan pembesar negara lainnya.     
2.    Khabar
Mengenai istilah khabar ini Franz Rosental menyebutkan sebagai salah satu bentuk dasar historis Islam. Bentuk historiografi Islam yang paling tua yang langsung berhubungan dengan cerita-cerita perang dengan uraian yang baik dan sempurna yang biasanya mengenai sesuatu kejadian yang kalau ditulis hanya menjadi beberapa halaman saja. Dalam bahasa Aceh, khabar diistilahkan dengan haba yang berarti khabar. Haba merupakan suatu karya narasi yang berbentuk puisi.[67]
Di dalam konteks karya sejarah yang lebih luas perkataan khabar sering dipergunakan sebagai “laporan, kejadian atau cerita”. Di dalam penulisan sejarah ada tiga hal yang merupakan ciri khas bentuk khabar
  1. Di dalam khabar tidak terdapat adanya hubungan sebab akibat di antara dua atau lebih peristiwa-peristiwa. Tiap-tiap khabar sudah melengkapi dirinya sendiri dan membiarkan saja cerita itu tanpa adanya dukungan dari referensi yang lain sebagai pendukungnya.
  2. Bentuk khabar tetap dengan mempergunakan cerita pendek, memilih situasi dan peristiwa yang disenangi. Peristiwa selalu disajikan dalam bentuk dialog antara pelaku peristiwa, sehingga meringankan ahli sejarah melakukan analisa terhadap peristiwa itu kepada pembaca.
  3. Bentuk khabar dapat dikatakan lebih banyak merupakan gambaran karunia yang beraneka ragam. Sebagai cerita-cerita pertempuran yang terus-menerus, dan sebagai suatu ekspresi yang artistik, khabar juga memerlukan penyajian secara puisi.  
3.    Tambo
Istilah tambo berasal dari bahasa Minangkabau, yakni cerita historis tentang silsilah nenek moyang mereka.  Tambo biasanya kebanyakan berisi penuturan sastra lisan dalam bentuk pepatah dan syair-syair yang panjang. Tambo menceritakan adat, sistem pemerintahan, dan aturan kehidupan sehari-hari bagi orang Minangkabau. Tambo sering disampaikan oleh para penutur cerita (tukang Kaba) di tempat-tempat perhelatan yang sering diadakan oleh masyarakat.[68] 
Salah satu fungsi karya tambo adalah memperkokoh identitas kelompok dan memperkuat solidaritas serta dimaksudkan sebagai pelajaran yang dapat dipetik oleh masyarakat. Karya sejarah tradisional  ini (tambo) memuat banyak mitos, legenda, dan cerita tokoh.[69]Tambo tentang asal usul Negeri menceritakan anak Zulkarnain berlayar dan berhenti di gunung Merapi, ketika masih sebesar telur ayam, selanjutnya berubah menjadi daratan luas.[70]
4.    Kisah
Kisah biasa berisi tentang cerita pengembaraan seseorang dan rentetan kejadian yang dialaminya. Makna cerita ini mengalami perkembangan makna, karena kisah pengembaraan memiliki keterkaitan dengan suatu kelompok. Dengan demikian, kisah tidak hanya sebuah cerita  tetapi juga sebagai pelestarian identitas kelompok dan contoh atau pelajaran untuk generasi berikutnya.
5.    Silsilah
Silsilah merupakan bentuk historiografi yang sejak  awalnya mengandung informasi sejarah. Silsilah berasal dari bahasa arab yaitu Al-Ansab jamak dari nasab yang berarti silsilah (geneology), yang bertujuan untuk menjaga kemurnian keturunan suatu kabilah.[71]  Penulisan silsilah di Indonesia juga bertujuan untuk mempertahankan identitas kelompok dan solidaritas dari keturunannya, namun sering terlihat sebagai pemujaan terhadap tokoh (baca: mitos).[72]Silsilah tokoh dalam historiografi Islam tradisional sering dihubungkan dengan tokoh-tokoh terkenal sebelumnya seperti Nabi, Wali, Ulama, dan Pahlawan Islam.
C.   Tema Historiografi Islam Indonesia.
Banyak karya-karya sejarah yang telah ditulis baik oleh sejarawan profesional maupun sejarawan amatir. Mereka menghasilkan beragam bentuk, corak, dan tema tentang sejarah Islam Indonesia. Fenomena ini menjadi wajar seiring dengan tumbuhnya kesadaran historis Islam Indonesia. Seminar penulisan sejarah Islam di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dari tanggal 8 sampai 10 Juni 1983, merupakan rintisan awal untuk melahirkan teori dan metodologi penulisan sejarah Islam di Indonesia.
Seminar ini diikuti oleh para cendekiawan muslim dari IAIN dan berbagai Perguruan Tinggi Umum lainnya. Pada kesempatan itu dibahas lima makalah yang berkaitan dengan historiografi. Pertama, penulisan sejarah Islam di Indonesia (pembahasan masalah metodologi), oleh Mukti Ali. Kedua, Islam pada Masa Pendudukan Jepang (Sebuah Tinjauan tentang Peranan Ulama dan Pergerakan Muslim di Indonesia), oleh Nourouzzaman Shidiqi. Ketiga, Historiografi Islam di Indonesia (Kemungkinan Studi Pertumbuhan dan Perkembangan) oleh Muin Umar. Keempat, Islam di Indonesia dalam Perspektif sejarah Kontemporer oleh Ahmad Syafi’i Ma’arif. Kelima, Metodologi Studi Sejarah Islam di Indonesia; beberapa cacatan dari praktek penyelidikan tentang abad ke-19 oleh Karel A. Steenbrink.
Tentang pembagian tema-tema penulisan sejarah Islam Indonesia, Muin Umar menyusun sebuah kerangka alternatif dalam penulisan sejarah Islam Indonesia dengan merujuk pada karya Franz Rosental, A History of Muslim Historiography,[73]sebagai berikut:
1.    Tema yang Berkisar pada Sejarah Lokal
Kedudukan sejarah lokal sangat digemari karena langsung berhubungan dengan sejarah mereka sendiri. Penulisan-penulisan sejarah lokal banyak dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan aqidah dan fiqih disamping kebanggaan bila dapat menceritakan tanah tempat kelahirannya[74]
Penulisan sejarah lokal banyak dilakukan oleh penulis-penulis terdahulu dalam bentuk yang sederhana, atau sering disebut sebagai historiografi tradisional. Sejarah lokal Indonesia yang di edit oleh Taufik Abdullah merupakan sebuah penulisan sejarah Islam Indonesia.[75]Sejarah lokal dalam historiografi tradisional adalah, babad, hikayat, tambo, silsilah dan haba. Misalnya Hikayat Banjar, Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Kutai bercerita tentang kekuasaan atau kerajaan dari suatu daerah tertentu.
2. Tema-tema Sejarah yang Mengkaji Penulisan Sejarah Islam Indonesia secara Universal.
Penulisan sejarah Islam Indonesia secara umum ditujukan dalam kajian Hamka yang brjudul Sejarah Umat Islam Indonesia.[76]Kemudian dalam karya lain oleh Nuruddin ar-Raniri yang berjudul Bustan as-Salathinyakni tentang Raja-raja dari Kerajaan Islam Indonesia.[77]
3.  Tema Penulisan Sejarah Islam Indonesia tentang Sejarah Militer
Salah satu karya sejarah yang menunjukan tentang Sejarah Militer ditulis oleh T. Ibrahim Alfian dalam disertasinya  yang telah dibukukan, berjudul Perang di Jalan Allah: Aceh 1873-1912.  Karya ini merupakan salah satu karya sejarah yang mengungkap tentang perang sipil yang melawan penjajah di tanah Aceh.[78]
4.    Penulisan Sejarah Tokoh (Biografi) 
          Penulisan sejarah tentang tokoh salah satunya ditulis oleh Uka Djandrasasmita yang berjudul Sultan Agung Tirtayasa: musuh-musuh besar kompeni Belanda. Merupakan karya sejarah yang menuliskan tentang tokoh atau pejuang  melawan  imperialisme.[79]
5.    Penulisan Novel Sejarah
Novel sejarah lahir sebagai jawaban intelektual dan literer terhadap problematika suatu jaman dengan menggunakan masa lampau sebagai refleksi. Eksistensi dan popularitas dari novel sejarah menunjukkan kesadaran sejarah yang tinggi dikalangan masyarakat pada waktu itu. Melalui novel-novel sejarah ini cerita sejarah merasuk secara mendalam di dalam hati orang-orang Islam. Novel sejarah sebagai media untuk memahami Islam sebagai suatu fenomena sejarah.[80]Mereka yang buta huruf dapat memperoleh kegemilangan sejarah Islam ketika mendengarkan para pengkisah novel sejarah. 
Novel sejarah yang secara sengaja menggunakan peristiwa sejarah sebagai bahan, memunyai ikatan kepada “historical truth”. Novel sejarah dikenal sebagai pendukung gerakan nasionalisme melawan kolonialisme.[81]Sebagaimana yang diungkapkan Muin Umar, penulisan historiografi Islam akan menjadi mengagumkan sebagai suatu ekspresi para intelektual, apabila memperhatikan novel sejarah. Lebih lanjut dalam penulisan novel sejarah, Muin Umar memberikan contoh karya  Said Hasan bin Said Muhammad Ulee Abu Syamah  yang ditulis dengan  huruf Arab berbahasa Aceh dan karya Muhammad Dara yang berjudul Hikayat Putrae Baren[82].
Walaupun demikian novel sejarah tetap masih banyak kekurangannya untuk dijadikan alat membuat sejarah sebagai bagian dari pengalaman intelektual muslim. Hal ini disebabkan oleh adanya unsur subyektivitas dari para pengkisah novel sejarah yang sangat tinggi. Sehingga diperlukan penafsiran ulang terhadap novel sejarah.
Dalam makalahnya, Muin Umar memberikan alternatif tema-tema penulisan Sejarah Islam Indonesia, antara lain melalui tema yang dikelompokkan dengan periodesasi sejarah Islam Indonesia. Muin Umar mengajukan empat periodesasi secara kronologis,[83]yaitu:
a. Historiografi Islam periode awal masuknya agama Islam di Indonesia sampai Abad ke-16 Masehi. Tentang penulisan Sejarah Islam Indonesia sekitar masuknya Islam, terdapat bahan-bahan yang disampaikan dalam seminar di Medan pada tahun 1963.[84] 
b Historiografi Islam periode perlawanan terhadap kolonialisme, terutama pada masa penetrasi politik Barat yang menimbulkan reaksi di Aceh, Banten,  Mataram, Banjar, Goa dan di tempat-tempat lainnya.
c. Historiografi Islam masa awal abad ke-20 seperti terlihat pada karya Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, merupakan sejarah politik di Indonesia pada awal abad ke-20.[85]
          Penulisan sejarah Islam Indonesia adalah hal yang  menarik untuk dijadikan kajian. Oleh karena itu, banyak para ahli baik asing maupun lokal yang melakukan kajian terhadap Islam di Indonesia. Sejarah Islam Indonesia sendiri sudah banyak dikaji dalam bentuk, corak, dan tema yang beragam namun dari sekian banyak karya tidak dapat secara tegas disebut sebagai karya historiografi Islam Indonesia. Karena sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Azyumardi Azra, baik sejarawan asing maupun lokal sampai sekarang belum mampu merumuskan paradigma historis yang dapat dijadikan pegangan bersama dalam penulisan historiografi Islam.
 Alternatif kerangka penulisan sejarah Islam Indonesia yang disampaikan  Muin Umar  tidak menutup kemungkinan adanya kerangka penulisan sejarah Islam Indonesia yang lain. Namun menurut penulis, penulisan kerangka tersebut cukup memadai untuk dapat mengkaji lebih lanjut perkembangan dan pertumbuhan historiografi Islam Indonesia.
Kerangka penulisan yang disampaikan oleh Muin Umar terlihat bahwa perkembangan historiografi Islam Indonesia selalu berjalan seiring dengan perkembangan historiografi Indonesia. Hal tersebut terlihat dalam corak historiogfrafi tradisional, historiografi kolonial, historiografi nasional dan historiografi modern maupun historiografi kontemporer.[86]
Tentang penulisan Sejarah Islam Indonesia, Ibrahim Alfian mengatakan, bahwa masih banyak tema-tema penulisan sejarah Indonesia dilakukan oleh orang-orang Barat. Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa dirinya belum puas terhadap historiografi Islam Indonesia karena masih minimnya penulis yang berasal dari Indonesia. Selain itu, ia juga menyarankan kepada para sejarawan muslim untuk lebih memperbanyak karya tentang sejarah Islam, sehingga perkembangan sejarah Islam akan semakin pesat.[87]  
Dalam penulisan historiografi yang dilakukan oleh Barat terhadap Islam di Indonesia, ada beberapa sikap yang cenderung  mempengaruhi penulisan historiografi nasional.[88]  Pertama, cenderung untuk menngatakan bahwa historiografi Nasional telah mengalami keterputusan (discontinuity) dengan masuknya Islam dan jatuhnya kerajaan Hindu Jawa (Majapahit). Mereka beranggapan bahwa sejak tahun 1500 hingga sekarang penduduk pribumi khususnya di Jawa harus dipandang sebagai orang Islam. Kedua, menekankan tidak adanya keterputusan sejarah, yang ada hanyalah kesinambungan. Mereka mengambil kesimpulan bahwa datangnya Islam hanyalah menyentuh bagian-bagian atas dari kehidupan, tidak menukik jauh kedalam kesadaran dan bahkan juga tidak terpantul secara merata dalam struktur sosial.
Berbeda dengan  Hary J. Benda, seorang sejarawan yang menekankan kembali hal yang sebenarnya tidak terlalu asing dalam pemikiran sejarah, yaitu sejarah sebagai medan    dimana kedua unsur perubahan dan persambungan sering bertemu. Dengan kata lain, datangnya Islam tidak dapat begitu saja dikatakan berakhir suasana kultural dan politik kehidupan. Sebaliknya, tidak dapat juga dikatakan bekas-bekas Hindu Jawa yang masih kelilhatan dalam sistem politik kesultanan Islam harus dianggap sebagai bukti dari berlanjutnya zaman Hindu Jawa, meskipun kekuasaan politik Islam telah bercokol.
Dengan datang serta menyebarnya Islam, apalagi dengan terbentuknya komunitas Islam dan berdirinya pusat-pusat kekuasaan politik Islam. Salah satu hal yang penting dalam catatan sejarah adalah memperhatikan dinamika dari pembentukan interpretasi dan perjalanan dalam pola prilaku. Peranan Islam dalam sejarah nasional di Indonesia sejak Abad ke-15 terutama sejak Abad ke-17 dan seterusnya sangat besar. Mungkin di suatu masyarakat sangat besar dan kuat, sedangkan di masyarakat lain terutama pada tahap awal proses Islamisasi lebih lemah,  tetapi secara hipotesis tanpa lebih dulu melihat fakta-faktanya,  peranan Islam secara keseluruhan sangat besar atau dengan kata lain, sejak berdirinya berbagai macam kesultanan, Islam merupakan kekuatan historis yang cukup besar dalam dinamika sejarah.
Sebagaimana yang terungkap di atas peran Islam sangat besar dalam penulisan historiografi nasional. Secara teoritis ada beberapa hal yang bisa di lihat. Pertama,  Islam sebagai dasar kesadaran yang membentuk etos dan pandangan hidup. Islam  menentukan pola corak interpretasi terhadap situasi yang mengitari diri. Dalam interpretasi inilah tersalur segala hasrat normatif  dan pengetahuan akan kenyataan  struktural yang obyektif. Kedua, Islam sebagai dasar ikatan solidaritas dari komunitas-komunitas pemeluknya. Hal ini akan menjadi jelas ketika kekuasaan politik dari masing-masing komunitas telah di perdaya atau ditiadakan oleh kolonialisme. Dalam konteks ini sejarawan akan berbicara tentang Islamisme sebagai pranasionalisme. Sebelum cita-cita nasionalisme yang telah dirumuskan sebagai dasar keutuhan bangsa terwujud, Islam telah memberikan dasar cita kesatuan dan anti kolonialisme, dua hal yang merupakan landasan perkembangan nasionalisme. Ketiga, Islam sebagai agama universal, memberikan kepada pemeluknya kosmopolitanisme Islam. Perasaan sebagai bagian dari masyarakat penganut yang menjembatani berbagai ikatan politik dan kultural memberikan suatu corak komunitas yang bersifat antar bangsa.           
BAB III
SKETSA TENTANG AZYUMARDI AZRA
A.Riwayat Hidup dan Pendidikan Azyumardi Azra[89]
Azyumardi Azra lahir pada 4 Maret 1955 di Lubuk Alung, Sumatera Barat, dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang agamis. Ia besar di lingkungan Islam modernis.  Tapi, ia justru merasa asyik dalam tradisi Islam  tradisional. “Pengalaman keislaman saya yang lebih intens justru setelah saya mempelajari tradisi ulama dan kecenderungan intelektual mereka,” ujarnya. Anak ketiga dari enam bersaudara ini dibesarkan oleh ayah  dan ibunya. Ibunya mengajar sebagai guru agama dan ayahnya berprofesi sebagai tukang kayu dan pedagang (modal kecil), yaitu pedagang kopra dan cengkih. “Meski  kehidupan kami dalam kondisi sulit, tetapi ayah menginginkan anak-anaknya harus sekolah,” kata Azyumardi.
Mengenai kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, Azyumardi  mengakui “yang sangat berbekas dalam diri saya adalah ayah saya yang punya cita-cita agar anaknya sekolah semua, padahal ekonomi keluarga kami sulit. Namun beliau tetap mendorong agar belajar, ujarnya dengan nada  sendu.  Ayah dan ibu saya sadar benar bahwa menuntut ilmu itu  warisan yang paling besar yang bisa diberikan kepada  anak-anaknya. “Orang tua saya selalu berusaha mendorong sehingga alhamdulillah semua anaknya menjadi sarjana,”  tuturnya lagi.
Pengalaman keagamaan Azyumardi Azra ketika kecil tergolong miskin atau bahkan kering, hal ini disebabkan karena Azyumardi Azra tidak mengikuti tradisi yang ada di Minang, yaitu setiap hari harus menginap di surau untuk memperoleh pendidikan agama. Kenyataan ini tidak terlepas dari kondisi lingkungan keagamaan tempat dia lahir dan  dibesarkan. Ia lahir dari keluarga Minang yang kuat dengan kemuhamadiyahannya. Seperti kita ketahui, Muhammadiyah adalah kelompok modernis yang, dalam istilah dia, sangat menonjol kesahajaannya dalam beragama. Pada tradisi Muhammadiyah, takhayul, bid’ah, dan khurafat ditentang keras. Berbeda dengan  kalangan Nahdlatul Ulama, yang apresiatif terhadap ibadah ritual. Kebetulan pula dia berbeda dengan orang-orang Minang pada umumnya.
Menurut tradisi, anak-anak Minang mendapatkan pendidikan agamanya di surau atau di langgar. Khususnya anak lelaki, setiap hari mereka mesti  pergi ke surau, menginap di sana untuk belajar mengaji dan shalat. Azyumardi Azra tidak mengikuti tradisi yang ada di Minang, yang mana setiap hari harus menginap di surau untuk memperoleh pendidikan agama. Akan tetapi, pendidikan agama dia terima dari ibunya sendiri, di rumah. Ibunya lulusan madrasah Al-Manar, sekolah yang juga didirikan kalangan  modernis Sumatera Barat, yang sangat dipengaruhi oleh gerakan pembaruan Rasyid Ridha dari Mesir. Suasana keberagamaan seperti itu terus berlanjut sampai  dia pindah ke Jakarta untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Azyumardi Azra memulai pendidikan formal sekolah dasar di sekitar rumahnya. Kemudian Azyumardi meneruskan pendidikannya ke PGAN Padang. Dari kecil, Azyumardi memang dikenal sebagai anak yang rajin dan pandai. Bahkan ketika sekolah di PGAN Padang, teman-temannya sempat memberinya nama julukan “Pak Karmiyus”, karena Pak Karmiyus adalah guru Aljabar dan Ilmu Ukur (sekarang matematika). Pasalnya bila Pak Karmiyus tidak hadir, teman-temannya sering meminta bantuan Azyumardi untuk menjelaskan mata pelajaran yang sama di depan kelas. Bak pepatah Kok kajadi mancik ketek-ketek alah bulek ikuanyo. Yang artinya, kalau memang tikus sedari kecil  sudah bulat ekornya. Maksudnya adalah apabila seseorang akan maju tanda-tandanya sudah ada dan dapat dilihat sejak masih kecil.
Setelah lulus dari PGAN (1975), Azyumardi sempat bersilang pendapat dengan kedua orangtuanya. Orang tuanya menginginkan agar Azyumardi Azra kuliah di IAIN Padang, namun Azyumardi memilih kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Akan tetapi, melihat kemauan keras anaknya,  akhirnya Azyumardi diizinkan orang tuanya untuk berangkat dan hijrah ke Jakarta. Ia melanjutkan kuliah di Fakultas Tarbiyah, IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Jakarta (1976). Selama menjadi mahasiswa IAIN Jakarta, ia aktif dalam berbagai organisasi intra dan ekstra kampus. Ia Pernah menjadi ketua umum Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah (1979-1982), dan ketua umum  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat (1981-1982).
Di IAIN Jakarta, dia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebuah organisasi kemahasiswaan yang juga tidak menekankan pengalaman ibadah ritual. Jadi, pengalaman keagamaan dia sejak kecil hingga beranjak dewasa memang sangat bersahaja, kering, jauh dari pernak-pernik yang mengesankan.  Di tengah kesibukan belajarnya, ia menyempatkan diri bekerja sebagai wartawan majalah Panji Masyarakat, dari 1979 sampai 1985. Selain itu ia pernah mencoba menempuh karir di LRKN LIPI (1982-1983). 
Setelah menyelesaikan kuliah S1 (1982), Azyumardi memperoleh beasisiwa dari Fulbright Foundation untuk melanjutkan program S2 di Columbia University, New York, Amerika Serikat. Setahun setelah menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Tarbiyah, tepatnya 13 Maret 1983, Azyumardi menyunting gadis pilihannya, Ipah Farihah, yang berasal dari kota  hujan Bogor. Ipah lahir di Bogor 19 Agustus 1959, yang dikenalnya ketika menjadi aktivis kampus. Ipah adalah adik kelas Azyumardi di Fakultas Tarbiyah, dan pernah aktif di HMI Cabang Ciputat. Dari pernikahan itu, keluarga Azyumardi-Ipah dikaruniai  empat orang anak, Yaitu, Raushan Fikri Husada, Firman El-Amny Azra (keduanya lahir di New York), Muhammad  Subhan Azra, dan Emily Sakina Azra.
Gelar MA diperolehnya pada 1988 dari Departemen Bahasa-bahasa dan Kebudayan Timur Tengah, di universitas tersebut. Barulah ketika dia menempuh pendidikan pasca sarjana, dia merasakan ada perubahan yang cukup besar dalam pengalaman keagamaannya, yaitu ketika mendalami Islam bukan dengan pendekatan dogmatis, tetapi melalui pendekatan historis. Karena konsentrasi studi saat itu adalah sejarah Islam, lebih khusus lagi mengenai tradisi ulama yang cenderung sufistis dan kecenderungan keagamaan dalam ilmu tasawuf.
Dari sinilah kemudian Azyumardi Azra menemukan pengalaman keagamaan yang baru dalam mendalami Islam, kalau dulu begitu bersahaja, kering, sebagaimana umumnya tradisi keagamaan di Minang. Pada saat itu Azyumardi Azra berubah pemikirannya menjadi modernis yang bisa mengapresiasikan tasawuf.  
Dengan pemahaman keagamaan seperti itu, pada tahun 1991, Azyumardi Azra berkesempatan mengunjungi Arab Saudi. Satu hal yang sangat berkesan sesampainya  di sana ialah keharuan dalam dirinya. Dia menyadari tempat yang dia pijak itulah Rasulullah pernah bersusah- payah menegakkan Islam. Semua kenangan itu seolah menjelma menjadi sebuah buku, film, atau video yang memperlihatkan bagaimana  Rasulullah dan para sahabat berjuang mengadakan pencerahan di tengah-tengah masyarakat jahiliyah.
Sejarah pertumbuhan Islam yang telah dia pelajari seakan  hidup kembali dalam rangkaian-rangkaian kisah yang sangat nyata. Dia juga  membayangkan bagaimana suasana dan keadaan abad ke-17, ketika para ulama Indonesia mulai berdatangan dan belajar di sana, dengan keadaan yang  penuh keterbatasan, jauh berbeda dengan sekarang yang serba mudah, mereka berjuang menimba ilmu agama untuk kemudian kembali ke Indonesia. Padahal untuk sampai ke Makkah saja mereka harus melalui perjalanan laut berbulan-bulan. Tidak sedikit yang tidak sempat sampai ke Tanah Suci karena keburu wafat di tengah  perjalanan. Sungguh perjalanan pencarian ilmu yang  sangat berat. Saat itulah dia merasakan betapa yang  telah dia lakukan selama ini tidak ada apa-apanya. “Mereka, para ulama pendahulu kita, sungguh luar biasa”.  Yaitu ketika ulama-ulama jawa melakukan pendalaman ilmu agama melalui hubungan mereka dengan ulama yang ada di Mekkah dan Madinah. Para ulama inilah yang kemudian memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi berlangsungnya proses revolusi keagamaan.
Pada saat Azyumardi Azra melihat al-Masjid al-Haram, Ka’bah, bukit Uhud, dan lokasi jejak-jejak sejarah, dia merasakan kesedihan yang sangat, kecuali kesyahduan yang dalam. “Melihat jejak-jejak sejarah, seakan-akan melihat lintasan perkembangan Islam yang hidup. Betapa gerakan pembaruan Wahabi di Arab Saudi begitu bersahaja dalam memandang ajaran agama sehingga membuat kita kehilangan bukti-bukti sejarah yang begitu penting dan banyak. Barangkali yang tertinggal hanya masjid-masjid dan Ka’bah, sementara yang lainnya harus dimusnahkan dengan alasan menghindari bid’ah dan khurafat. Tidak ada lagi bekas tempat Rasulullah dibesarkan oleh pengasuhnya yang penuh kasih, Halimatus Sa’diyah. Tidak ada lagi kuburan para sahabat yang begitu besar jasanya bagi perkembangan Islam. Tidak ada lagi situs-situs yang kita butuhkan untuk merekonstruksi sejarah permulaan Islam. Sungguh suatu hal yang amat  menyedihkan”.
Pandangan keagamaan yang lebih apresiatif terhadap ritual ibadah dan diwarnai dengan tasawuf ternyata memang lebih semarak dan kaya. Dalam menjalani kesibukan sehari-hari, misalnya, dia senantiasa berupaya melaksanakan prinsip-prinsip qana’ah sikap merasa puas dan sudah cukup dengan apa yang ada, sabar tanpa harus menjadi pasif alias tetap melaksanakan aktivitas sebaik-baiknya. “Aktivisme tetap kita pegang, sementara qana’ah kita butuhkan sebagai pengimbang agar kita tidak stres”.
Azyumardi juga sangat percaya kepada takdir. “Bahwa perjalanan hidup kita tidak bisa direncana-rencanakan karena Allah jualah yang menetapkan semuanya. Yang bisa kita lakukan, hanyalah melakukan apa yang sudah menjadi tanggung jawab kita dengan sebaik-baiknya”. Dia yakin betul, kalau prinsip itu kita jalankan, insya Allah hasilnya baik. Allah Maha Adil.  Setiap kali dia ditanya bercita-cita apa, pasti  selalu menjawab, “Tak punya cita-cita apa pun.”  Dia hanya melakukan apa yang menurut dia baik dengan  sebaik-baiknya. Selebihnya, dia serahkan kepada Allah. Bagi Azyumardi cita-cita bukanlah hal krusial dalam hidup. Lebih-lebih bersifat obsesi. Baginya, prinsip hidup lebih penting daripada cita-cita. Karenanya, bekal  perjalanan hidupnya adalah komitmen dalam menjalankan prinsip: Apa yang dikerjakan hari ini labih baik dari kemarin. Dalam berprinsip, Azyumardi agaknya ingin meneladani hadis Nabi Muhammad Saw. Dengan menjalankan prinsip sebaik-baiknya, maka pencapaian terhadap sesuatu hanyalah merupakan implikasi dari komitmen tersebut, bukan merupakan suatu keinginan. Dengan demikian, tidak mengherankan jika  Azyumardi, yang mengaku tidak punya cita-cita ini, justru menjadi figur  yang dicita-citakan seseorang. Itulah prinsip Azyumardi, dalam pemahaman dia, yang  disebut tawakkal di  Indonesiakan menjadi tawakal dalam Islam.
Tawakal bukan berarti pasrah kepada Allah tanpa mempedulikan sunnah-Nya. Tawakal itu adalah trust in God, percaya bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik selama kita berbuat yang terbaik. Maka orang-orang yang bertawakal pasti selalu berusaha melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya. Keyakinan itu dia ekspresikan dengan zikir bismillahi tawakkaltu `alAllahi la haula wa quwwata illa billahi, dengan nama Allah aku bertawakal kepada-Nya, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan izin-Nya yang selalu dia ulang-ulang dalam berbagai kesempatan seakan  telah menjadi pegangan. Dengan kalimat tawakkaltu itu dia selalu merasa lebih yakin, merasa mendapatkan kekuatan lebih dalam menghadapi tantangan-tantangan yang ada.
Azyumardi juga meyakini perlunya bersikap Uzlah, pengasingan diri, bagi setiap pribadi Muslim di zaman modern ini. Uzlah itu tidak berarti kita harus memencilkan diri dari kehidupan ramai, ke tengah hutan  atau tempat sepi lainnya, dan melupakan dunia ramai. Tetapi lebih tepat kita artikan sebagai upaya mengambil jarak, secara nilai, dari kehidupan dunia sehingga kesucian rohani kita tetap bisa dijaga dari pengaruh-pengaruh yang merusak. Kalau sudah uzlah, ya uzlahnya dalam masyarakat ramai. Karena di situlah terdapat kesimpangsiuran nilai, yang satu sama lain lebih sering tidak cocok. Misalnya nilai-nilai konsumerisme yang menggoda kita setiap hari.
Setelah lulus dari S2, seharusnya ia pulang ke Tanah Air karena tidak ada biaya untuk program selanjutnya. Tetapi Karena memperoleh Columbia University President Fellowship, ia melanjutkan pada departemen sejarah. Dari jurusan ini ia memperoleh gelar M.Phil pada 1990. Sedangkan gelar doktor diraihnya dari Departemen Sejarah Columbia University, pada 1992, dengan disertasi, “The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Netwoks of Middle Eastern and Malay Indonesia `Ulama’ in the  Seventeenth and Eighteent Centuries”, yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan dengan  judul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Bandung: Mizan, cetakan ke-4, 1998). Disertasi Doktor yang relatif berat itu merupakah hasil penelitian di beberapa tempat, antara lain di Mesir, Belanda, dan Saudi Arabia. Penelitian itu, atas biaya  Ford Foundation, dengan membutuhkan waktu satu tahun.
Modal pengalaman wartawan memudahkan dia untuk menganalisis data dan mengorganisirnya menjadi tulisan disertasi. Sehingga setelah mengumpulkan data, dia  menulis disertasi yang tebalnya 600 halaman relatif  cepat, dari September 1991 sampai Juni 1992. Selain karena terbiasa menulis, ia bersungguh-sungguh dan tekun.
Setelah menyelesaikan program S3, Azyumardi diberi kesempatan lagi mengikuti program Post Doctoral di Oxford University selama setahun. Menurut Azyumardi, sepertinya semua  sudah diatur Allah dengan rapi dan mulus. “Tentang gelar master yang dua, itu karena pada awalnya saya mengambil kajian Timur Tengah. Itu merupakan  spesialisasi, tetapi karena di kajian Timur Tengah sepesialisasinya tidak jelas, lalu saya pindah ke jurusan sejarah. Ini juga terkait dengan beasiswa, untuk MA ini saya dapat beasiswa dari Fulbright, hanya sampai S2, Sedangkan S3 tidak ada, saya berarti harus cari sendiri, dan ternyata ada di Departemen Sejarah. Beruntung, saya dapat beasiswa lagi,” urainya dengan wajah berbinar. Semua itu diraih Azyumardi melalui kerja keras penuh kesabaran. Dari awal, dia memang telah memasang tekad untuk memanfaatkan setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya, agar mencapai hasil yang maksimal. Ia tidak lupa menyempatkan diri untuk selalu berdoa dan memperbaiki  ibadah. Tapi, tetap saja peran Allah terasa sangat dominan dalam setiap kesuksesan itu. Sebab, sampai sekarang, ia merasa, apa yang ia dapatkan selalu jauh  lebih dari yang ia duga dan rencanakan.
Sekembali ke Indonesia, pada tahun 1996, tugas-tugas keilmuan pun menunggu. Azyumardi diserahi tugas sebagai wakil Direktur Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat (PPIM) di Jakarta. Ia juga dipercaya menjadi dosen tamu pada University of Philippines (1997) dan Universiti Malaya (1997). Aktif   sebagai anggota pada SC SEASREO (Souhteast Asian Studies Regional Exchange Program) Toyota Foundation & The Japan Foundation (1998 sampai sekarang). Selain itu, ia termasuk salah seorang pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), dan Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS).
Belum lagi genap setahun di PPIM, Prof. Dr. HM. Quraish Shihab, rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, meminta Azyumardi terlibat dalam kepemimpinan IAIN. “Saya sempat menolak. Saya lebih senang menjadi  independent scholar, menjadi pengamat atau peneliti saja. Saya beberkan sederet alasan, sampai sembilan poin, tapi tidak satu pun diterima Pak Quraish,” jelas Azyumardi. “Tapi nggak tahulah, saya sebenarnya lebih senang begini ketimbang jadi birokrat,” tuturnya  menanggapi tawaran tersebut. Quraish Shihab berkeras meminta Azyumardi menduduki jabatan Pembantu Rektor I yang menangani masalah akademik. Setelah mempertimbangkan masak-masak, akhirnya dia terima kehormatan itu sebagai amanat yang harus dia jaga dengan penuh komitmen dan istiqamah. Lalu, ia diangkat menjadi Pembantu Rektor 1 sejak Februari 1998. Namanya sering menghiasi berbagai media karena analisisnya yang memang tajam. Jadi tak heran kalau dia  sering dijadikan narasumber bagi wartawan yang menginginkan berita aktual dan patut untuk disimak. Semua itu menunjukkan kalau pemikiran Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA. yang kini menjabat sebagai rektor  UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, memang jernih,  akurat, dan tajam.
Sejak menjadi rektor IAIN Jakarta, dia dan  istri selalu saja mendengar saran agar mau berpakaian begini, seharga ini, mengubah penampilan, supaya terlihat lebih elite, dan seterusnya. Hal ini sangat membahayakan sekali, jika tanpa Uzlah, bahkan dapat mengakibatkan dia terperosok. Tidak  mustahil asal-muasal rusaknya pribadi dan masyarakat kita karena ketidakmampuan melakukan uzlah terhadap godaan-godaan materialisme seperti itu.
Jauh dari Uzlah mendorong manusia untuk melakukan korupsi, menghalalkan segala cara, guna menemuhi kebutuhan sesaat. Dengan sikap Uzlah, Azyumardi bisa tetap bertahan meski godaan-godaan seperti itu semakin gencar. Pandangan hidup seperti itu, dalam berbagai tulisannya, dia sebut dengan istilah neosufisme. Tasawuf yang tidak membuat kita asyik dengan kehidupan keakhiratan semata, akan mendorong kita lebih aktif meraih sukses di dunia modern yang supersibuk ini.
B. Karya-karya Azyumardi Azra
Azyumardi adalah tokoh pemikir yang tidak pernah diam.                         Obsesinya yang besar untuk mengubah pemikiran Islam di Indonesia, telah pula ditorehkan melalui karya-karya geniusnya, baik dalam bentuk tulisan artikel dan esei yang dimuat di berbagai media massa maupun sejumlah buku yang pernah di terbitkannya. Azyumardi mengakui, hingga tahun 1999, sudah lebih 13 buku yang diterbitkannya sebagian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Arab. Adapun buku-buku sejarahnya adalah Historiografi  Islam Kontemporer: Wacana, Aktualitas, dan Aktor Sejarah (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002); Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Bandung: Mizan, 1998), Perspektif Islam di Asia Tenggara (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1984). Menuju Masyarakat Madani: Gagasan, Fakta, dan Tantangan dan  Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana &  Kekuasaan (Bandung: Rosdakarya, 1999), Konflik Baru Antar-Peradaban: Globalisasi, Radikalisme, dan  Pluralitas (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002); Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal, (Bandung: Mizan, 1999).
Adapun karya-karyanya yang bukan sejarah adalah, Islam dan Masalah-Masalah Kemasyarakatan (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), Perkembangan Modern dalam Islam (Yayasan Obor Indonesia, 1985), Mengenal Ajaran Kaum Sufi(Jakarta: Pustaka Jaya, 1984) Agama di Tengah Sekularisasi Politik (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1985). Pergolakan Politik Islam (Jakarta: Paramadina, 1996). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Esei-esei Intelektual Muslim & Pendidikan Islam (Ciputat: Logos, 2002), Islam Reformis: Dinamika Intelektual dan Gerakan (Jakarta: Rajawali Pers, 2002), Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam (Jakarta: Paramadina, 2002), Islam Substantif: Agar Umat Tidak Jadi Buih (Bandung: Mizan, 2002) Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi; Reposisi Hubungan Agama dan Negara: Merajut Kerukunan Antarumat (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2002), Menggapai Solidaritas: Tensi antara Demokrasi, Fundamentalisme, dan Humanisme (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002).
Pada tahun 2003, Azyumardi Azra kembali menerbitkan buku barunya, yaitu buku terjemahan yang berasal dari tesis MA-nya di Colombia  University, 1988. Buku berjudul Surau: Pendidikan Islam Tradisional di Tengah Modernisasi dan Transisi (Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 2003). Dalam tulisan ini, Azyumardi mengulas dan menganalisis tentang surau di Sumatera Barat. Buku yang diedit Idris Thaha ini dilengkapi dengan beberapa tulisan baru yang mengaitkan surau dengan fenomena munculnya pesantren di ranah Minang.
Artikel substantifnya yang dipublikasikan secara internasional, antara lain, “Education, Law, Mysticisme; Constructing Social Realities”, dalam Mohd. Taib Osman (ed.), Islamic Civilization in the Malay World, (Kuala Lumpur & Istanbul, Dewan Bahasa dan Pustaka & IRCICA, 1997), “A Hadhrami Relegious Scolar in Indonesia: Sayyad Uthman”, dalam U. Freitag & W.G. Clarence-Smith (eds), Hadhrami Tranders, Scholars, and Statesmen in the Indian Ocean 1950-1960, (Leiden: E.J. Brill, 1977) dan Saat ini, ia sedang menyiapkan tiga manuskrip bukunya berbahasa Inggris, yang  akan dicetak oleh sebuah penerbit di Singapura. Ketiga buku tersebut adalah: Islam in Indonesia: Continuity and Changes in Modern World, Islam  in Malay-Indonesian World, dan Islam, Ulama and the State System.
Di sela-sela kesibukannya sebagai rektor, ia masih produktif menulis karena menulis bagi dia sebagai suatu keharusan. Jadi tidak mengherankan jika sekiranya Azyumardi dikenal di tingkat nasional bahkan internasional. Kemampuannya menulis sejarah khususnya perkembangan  Islam dengan data padat dan valid sudah teruji. Oleh karena itu, Taufik Abdullah memuji bakatnya di bidang itu. Akan tetapi seringkali, konon, ia menolak disebut sebagai sejarawan. Ia lebih suka disebut sebagai pengamat sejarah. Lukisan sejarahnya tak sekadar kisah kronologis yang kering dari tafsir atas setiap makna kejadian. Setidaknya pada beberapa bukunya terlihat betapa ia  mampu dengan baik menghadirkan analisis menarik atas berbagai peristiwa sejarah. Sejarah kemudian menjadi tak  sekadar kisah catatan atas lipatan waktu. melainkan juga  makna-makna yang memiliki signifikansi bagi upaya memproyeksi masa depan.
Dunia tulis-menulis dikenal Azyumardi Azra sejak mahasiswa. Sebelum lulus dari IAIN Jakarta, Azyumardi  telah terjun di dunia jurnalistik, yaitu menjadi  wartawan pada majalah Panji Masyarakat. Di majalah inilah, ia berkenalan dan mempertajam dunia pemikiran  Islam. Di bidang jurnalistik, Azyumardi termasuk penulis yang   produktif. Sampai saat ini, dia masih punya agenda khusus, paling tidak, dalam sehari, ia harus menulis. “Itu membutuhkan disiplin sebab seharian menulis di kamar juga membosankan,” ujarnya menjelaskan. Ketika menjadi dosen di almamaternya, tradisi tulis-menulis itu terus diasah, dan semakin tajam. Selain menekuni pekerjaan sebagai dosen, ia juga menjadi anggota Dewan Redaksi Jurnal Ulumul Quran, Islamika, dan Editor-in-Chief Studia Islamika.
BAB IV
AZYUMARDI AZRA DAN HISTORIOGRAFI
ISLAM INDONESIA
A. Pandangan Azyumardi Azra tentang Sejarah dan Historiografi Islam Indonesia
          Azyumardi Azra adalah cendekiawan dan sejarawan muslim Indonesia yang mempunyai corak tersendiri dalam penulisan sejarah Islam Indonesia. Dalam penulisan tentang sejarah dan umat Islam, Azyumardi Azra selalu bertitik-tolak dari ajaran-ajaran Islam terutama dari al-qur’an dan hadits. Menurut Azyumardi Azra, historiografi awal Islam pada hakikatnya merupakan historiografi Arab yang berkembang sejak Islam pertama kali disampaikan Nabi Muhammad SAW sampai abad ke-3 H.
Historiografi awal ini mempunyai sumber dasar keagamaan, karena Islam telah memberikan kesadaran sejarah kepada kaum muslimin, baik melalui al-Qur’an maupun melalui diri Muhammad sendiri sebagai figur historis.[90]Maka tidak mengherankan kalau dalam karyanya kajian historis lebih menonjol. Baginya sejarah adalah kenangan dan sumber identitas personal yang menghubungkan masa silam.
Pemahamannya terhadap Islam sebagai agama yang dihayati sejak kecil dan keterlibatannya secara langsung dengan pergerakan Islam, membuat Azyumardi Azra berusaha memahami berbagai peristiwa sejarah dan kejadian-kejadian Islam yang menyangkut sejarah umat Islam, karena sejarah menghubungkan masa silam, masa sekarang dan mendatang melalui penempatan setiap kehidupan individu sebagai mata rantai di antara satu generasi ke generasi selanjutnya. Sikap Azyumardi Azra tersebut bukan suatu tindakan yang menyimpang. Seperti dikatakan Frans Rosental, “bahwa motivasi utama yang mendukung perkembangan pesat bagi penulisan sejarah Islam, terletak pada konsep Islam sebagai agama yang mengandung sejarah”.
Azyumardi Azra dalam menulis sejarah menggunakan beberapa pendekatan[91], misalnya pendekatan sejarah sosial. Menurut Azyumardi Azra, harus diakui dalam kurun terakhir ini, sejarah Islam di Indonesia tidak dapat lagi dilihat dari perspektif  lokal, sebagaimana selama ini cenderung dilakukan oleh sejarawan, tetapi dalam perspektif global. Sejarah Islam Indonesia harus dilihat dalam kaitannya dengan perkembangan historis Islam di kawasan-kawasan lain. Pendekatan ini sejalan dengan  pendekatan yang dipakai oleh Fernand Braudel yang kemudian lebih dikenal sebagai pendekatan sejarah total atau sejarah sosial. Azyumardi Azra dalam melihat perkembangan  Islam di Indonesia, khususnya pada abad ke-17 dan 18 dalam kaitannya dengan kebangkitan “jaringan ulama” di Makkah dan Madinah, dan mengaitkannya banyak bagian dunia muslim lainnya[92]. Menurutnya,  perjalanan historis Islam di Indonesia sepanjang sejarah tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Islam di Arabia dan kawasan-kawasan muslim lainnya. Kajian-kajian tentang Islam di Indonesia yang tidak memperhitungkan faktor ini akan gagal memahami Islam di Nusantara secara akurat.
Menurut Azyumardi Azra, sejarah sosial dapat didefinisikan menjadi tiga bagian[93]. Pertama, sejarah sosial dalam pengertian sejarah tentang gerakan-gerakan sosial (social movements) yang muncul dalam panggung sejarah. Kedua, sejarah sosial dalam arti kombinasi antara sejarah sosial dengan sejarah ekonomi. Kombinasi ini terjadi berdasarkan pada asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi mampu menjelaskan tentang struktur-struktur dan perubahan-perubahan sosial budaya dan politik dalam masyarakat. Ketiga, sejarah sosial dalam pengertian sejarah total (total history), yaitu sejarah yang mengacu kepada sejumlah aktivitas manusia yang agak sulit diklasifikasikan karena begitu luasnya, seperti kebiasaan, adat istiadat, dan kehidupan sehari-hari. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan menggunakan pendekatan atau analitis lain untuk memahami momen historis yang lain. Sebagaimana yang pernah diungkapkan, bahwa penulisan sejarah sekarang semakin sosiologis (siciological history), atau antropologis (anthropological history), dan seterusnya[94]. Disamping itu, Azyumardi Azra juga mengingatkan pada sejarawan yang menggunakan pendekatan sosial secara fanatik akan menciptakan “mispersepsi” tentang Islam. Maka sulit untuk melabelkan Azyumardi Azra mengikuti satu pendekatan teoritis saja, karena Azyumardi Azra melakukan peminjaman teori dan metodologi Barat secara kritis seraya melakukan sintesis-sintesis teori dan tetap bertitik tolak pada al-Qur’an.
Dalam menggunakan sumber penulisan, Azyumardi Azra menggunakan sumber yang berasal dari pribumi, seperti; naskah-naskah klasik yang bagi Azyumardi Azra memberi informasi yang sangat kaya daripada sumber-sumber Barat tentang Islam dan masyarakat muslim Nusantara. Historiografi tradisional- yang banyak memberikan sejumlah informasi kepada kita tentang informasi kondisi masyarakat dan lembaga sosial-keagamaan serta pola-pola umum ihwal cara bagaimana Islam dikenalkan dan dikembangkan- diperlukan oleh sejarawan mana pun yang tertarik pada sejarah Islam di Indonesia karena dapat melengkapi sisi lain dari gambaran yang bersal dari sumber-sumber Barat, Cina, dan Arab[95]. Selain itu, sumber-sumber dari Barat, Cina, dan Arab dipakai Azyumardi Azra,  setelah melakukan seleksi dan penafsiran yang cukup. Menurutnya, sejauh menyangkut penggambaran Islam di Asia Tenggara,  khususnya di Indonesia, datangnya kekuasaan kolonial tidaklah membuat keadaan pengkajian Islam menjadi baik. Misalnya pengkajian Islam dilihat dari sudut kepentingan pengukuhan status quo kolonialisme.[96]Karena itu peneliti yang menggunakan sumber-sumebr kolonial ini harus selalu mawas diri terhadap bias kolonial dalam sumber yang dikajinya, sehingga tidak tersesat mengikuti pandangan kolonialis. Hal ini disebabkan penulisan pada masa itu didominasi oleh kalangan kolonialisme yang sebenarnya mereka itu adalah para pengembara, utusan perdagangan, administrator kolonial, dan bahkan misionaris, yang perhatian utamanya pada perdagangan, pemerintahan kolonial, dan penyebaran Kristen. Akibatnya sebagian informasi mereka berkaitan dengan perdagangan atau menawarkan gambaran yang aneh-aneh (exotic) tentang Indonesia[97]. Oleh karena itu, peneliti yang menggunakan sumber-sumber asing harus selalu waspada terhadap bias mereka dalam sumber yang dikajinya, sehingga ia tidak tersesat mengikuti pandangan mereka.
Sebagaimana ditegaskan Roff,  sejak jaman kolonial sampai akhir-akhir ini, terdapat hasrat yang luar biasa besarnya di kalangan pengamat dan peneliti ilmu sosial barat yang secara konseptual mengurangi tempat dan peranan Islam beserta kebudayaannya, baik di masa lampau maupun sekarang di dalam masyarakat Indonesia.[98]Pengurangan itu, menurut Azyumardi Azra terlihat dalam berbagai studi Snouck Hurgronje yang sebagian tidak utuh dan sebagian lagi berlebihan. Misalnya, melalui pemilah-milahan sosiologis atas masyarakat muslim tertentu, dengan memunculkan “varian-varian” yang umumnya dipandang bertentangan dan terlibat dalam pergumulan intens, bukan hanya dalam lapangan keagamaan, tetapi juga dalam bidang lain, termasuk sosial, ekonomi, dan politik.
Lebih lanjut Azyumardi Azra mengatakan, masalah utama sumber-sumber asing adalah jarang mengungkapkan kehidupan Islam Nusantara. Jika mereka memberikan informasi tentang Islam, sebenarnya  informasi itu telah rusak karena kekeliruan pandangan (misperception)[99]. Fenomena itu menurut Von Mehden, sebagai kecenderungan sekuler keilmuan sosial barat, sehingga  harus selalu dilihat dengan penuh kewaspadaan.
Azyumardi Azra dalam meminjam teori dan metodologi Barat sangat selektif dan aplikatif. Ia menyarankan agar sejarawan lebih  mengedepankan  kesadaran sejarah dalam penulisan sejarah Islam. Kesadaran sejarah lebih dimaknai sebagai warisan sendiri dan bentuk tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi.
Segi positif dari karya sejarah Islam Indonesia yang ditulis Barat, setidaknya, telah memberikan wacana pemikiran maupun bahan referensi bagi sejarawan Indonesia. Perlu kehati-hatian dalam penggunaan sumber sejarah dari barat secara selektif,  aplikatif, dan komparatif agar dapat  menilai sumber tersebut untuk menulis sejarah Islam dan tidak terjebak dalam salah satu sumber. Maka hal yang penting dalam penulisan sejarah Islam Indonesia haruslah tetap berpedoman pada al-Qur’an dan Hadits. 
Perhatian Azyumardi Azra mengenai pendidikan sejarah sangat besar, hal ini dapat dibuktikan melalui pengamatan Azyumardi Azra terhadap kesan masyarakat yang takut berbicara masalah sejarah, besaral dari anggapan bahwa sejarah adalah suatu disiplin akademis yang rumit yang hanya bisa ditangani dan seolah-olah menjadi hak istimewa kalangan akademisi atau sejarawan profesional (historian by training)[100]. Menurut Azyumardi Azra pendidikan sejarah sangat baik untuk ditanamkan atau bahkan menjadi penting sebagai partisipasi atau tanggung jawab sejarawan terhadap kesadaran sejarah  umat Islam.
Sejarah bagi Azyumardi Azra merupakan  kenangan yang dibentuk sehingga memiliki makna. Proses ini melibatkan penyelaman dan penafsiran terhadap masa silam, untuk kemudian kembali ditafsirkan dalam kaitannya dengan masalah masa kini. Seperti yang pernah ditulis oleh Becker, nilai utama dari sejarah adalah sebuah perluasan ingatan pribadi (personal memory) dan sebuah perluasan yang memungkinkan keterlibatan tidak hanya sejarawan profesional dan sejarawan informal, tetapi juga masyarakat banyak.
B.   Gayadan Corak Penulisan Sejarah Azyumardi Azra
Azyumardi Azra dalam menulis sejarah Islam Indonesia sangat beragam, dari segi teori, metodologi atau pendekatan. Penggambaran Azyumardi Azra tentang sejarah Islam tidak hanya sebuah kajian deskriptif, tetapi juga analitis historis.  Dalam karya Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana dan Kekuasaan, Azyumardi Azra tidak berusaha mencari Struktur Sejarah Asia Tenggara, tetapi menjadikan Asia Tenggara sebagai unit kajian. Dengan demikian, ia bukan saja berada dalam wacana wilayah yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara akademis, tetapi juga lebih bebas membicarakan berbagai gejala historis yang lebih relevan untuk memahami kawasan ini. Azyumardi Azra melihat dan menunjukkan betapa dunia Islam ini bukan saja diikat oleh sebuah agama yang universal, abadi dan rasa hayat eskatologis sejarah yang sama, tetapi juga secara empiris dan historis oleh jaringan intelektual keulamaan. Ia mencoba mensintesiskan peristiwa sejarah dengan menggunakan pendekatan antropologi, metodologi sejarah modern dan teori politik kontemporer[101]. Melalui buku ini ia melakukan analisis tentang peradaban Islam di Asia Tenggara, Islamisasi Asia Tenggara, Islam di Negeri Bawah Angin dalam masa perdagangan, Bahasa Politik Islam di Asia Tenggara, Tradisi Politik Kesultanan Melayu di Nusantara serta Nasionalisme, Etnisitas, dan Agama di Asia Tenggara.
Baginya renaisans bukan berarti kebangkitan. Apa yang tengah berlangsung  dikalangan masyarakat muslim di kawasan ini sebenarnya masih berada dibawa tingkatan itu. Yang terjadi adalah peningkatan antusiasme atau attachment kaum muslimin Asia Tenggara terhadap Islam atau dalam Istilah yang populer di Indonesia adalah berlangsungnya “santrinisasi”,  yang lebih intens dibandingkan dengan yang terjadi pada masa silam. Proses santrinisasi  diindikasikan secara kuantitatif dalam peningkatan jumlah jemaah haji setiap tahunnya, pertumbuhan jumlah masjid, kemunculan lembaga-lembaga Islam seperti Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Bank Mu’amalat Indonesia (BMI), dan Bayt al-Mal wa at-Tamwil (BMT).  
Melalui buku ini Azyumardi Azra mengajak sejarawan untuk merumuskan suatu paradigma historis yang dapat dijadikan pegangan bersama mengenai pengkajian Islam dengan berbagai aspeknya di Asia Tenggara. Menurutnya,  baik  sejarawan asing maupun lokal sampai sekarang belum mampu merumuskan paradigma historis yang dapat dijadikan pegangan bersama.  Konsentrasi studi-studi tentang Islam di Asia Tenggara yang dilakukan  oleh sejarawan lokal pada umumnya pada masa modern awal abad XX hingga masa-masa terakhir, jarang sekali yang mau melakukan studi pada masa sebelumnya.  Studi Islam periode awal hingga akhir abad ke-19 memerlukan “ketabahan ekstra”.[102] Berani menghabiskan waktu untuk menguasai ilmu-ilmu lain seperti bahasa Belanda. Siap mengumpulkan bahan-bahan atau arsip yang terpencar dimana-mana. Siap membaca arsip dan naskah tulisan tangan yang tidak mudah dibaca dan dipahami. Harus bisa berada dengan apa yang pernah ditulis orang lain khususnya sejarawan asing.
Karya Azyumardi Azra yang sarat data dan analitis  adalah Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. pendekatan yang dipakai Azyumardi Azra untuk menulis karya ini adalah pendekatan multidisipliner dengan menggunakan ilmu-ilmu lain, seperti antropologi, sosiologi, ilmu politik, perbandingan agama. Azyumardi Azra melihat perkembangan Islam di Indonesia, khususnya pada abad ke-17 dan 18, dalam kaitannya dengan kebangkitan “Jaringan Ulama” Mekkah dan Madinah, dan dunia Islam lainnya. Dengan mengangkat tema dan kecenderungan intelektual yang dikembangkan sejumlah “ulama Jawa” di Nusantara setelah mereka kembali dari Timur Tengah. Pada mulanya, kontak di kalangan mereka terjalin melalui perdagangan antara Asia Tenggara dan Timur Tengah. Para pedagang dari Timur Tengah banyak dan sering mengunjungi kota-kota pelabuhan di Asia Tenggara. Jaringan yang terbentuk dengan Timur Tengah, khususnya Mekkah dan Madinah, pada periode tersebut tidak hanya terbatas dibidang ekonomi perdagangan, tapi pada saat yang sama juga melibatkan unsur-unsur agama dan budaya.[103]Para ulama inilah yang kemudian memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi berlangsungnya proses revolusi keagamaan. Setidaknya, menurut Azyumardi Azra, ada dua cabang jaringan para ulama pada waktu itu: pertama, melalui ‘Abd Al-Rauf Al-Sinkili dari Aceh dan Syaikh Yusuf dari Makassar, dan kedua, melalui Abu Thahir bin Ibrahim Al-Kurani, Muhammad Hayyah Al-Sindi dari India, dn Muhammad ‘Abd Al-Karim Al-Samman sampai kepada murid-murid Jawi yang lebih belakangan[104]. Azyumardi Azra memandang, perjalanan historis Islam di Indonesia sepanjang sejarah tidak bisa dipisahkan dari perkembangan Islam di Arabia dan kawasan-kawasan muslim lainnya.[105]Kajian-kajian tentang Islam di Indonesia yang tidak memperhatikan faktor ini akan gagal memahami Islam di Indonesia secara akurat.
Karya tersebut merupakan kajian pertama yang menggunakan sumber-sumber Arab secara ekstensif dan menjadi karya penting dalam bidang sejarah sosial-intelektual Islam. Karya ini berusaha menjawab beberapa masalah pokok: pertama, bagaimana jaringan keilmuan terbentuk di antara ulama Timur Tengah dengan murid-murid Melayu-Indonesia? Bagaimana sifat dan karakteristik jaringan itu? Apakah ajaran atau tendensi intelektual yang berkembang dalam jaringan?. Kedua, apa peran ulama Melayu-Indonesia dalam transmisi kandungan intelektual jaringan ulama itu ke Nusantara? Bagaimana modus transmisi itu?. Ketiga, apa dampak lebih jauh dari jaringan ulama terhadap perjalanan Islam di Nusantara?.  Melalui kajian ini, Azyumardi Azra merubah persepsi bahwa sejarah tidak hanya sekeder sejarah politik belaka, sebagaimana yang terjadi terhadap periode  menjelang ekspansi  Eropa pada abad ke-17 dan 18. Periode ini sering dipandang sebagai masa gelap dalam sejarah muslim. Namun Azyumardi Azra berhasil mengungkapkan bahwa abad ke-17 dan 18 merupakan salah satu masa yang paling dinamis dalam sejarah sosial-intelektual kaum muslimin[106]
Perkembangan historis yang berlangsung dalam masyarakat manapun tidaklah selalu linier. Proses-proses historis selain menghasilkan kontinuitas, juga melibatkan perubahan-perubahan, yang bersumber dari krisis, revolusi, dan semacamnya. Melalui karya tersebut Azyumardi Azra menawarkan beberapa pendekatan dalam historiografi. Pertama, pendekatan psycho-history  untuk menjelaskan tokoh-tokoh penting tertentu dalam sejarah Islam Indonesia. Kedua, pendekatan quantive history untuk menjelaskan perkembangan sosial-ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Ketiga, pendekatan prosopography history  untuk mengungkapkan pembentukan kelas-kelas sosial, atau perubahan tertentu dalam lapisan-lapisan masyarakat sepanjang sejarah.
Karya yang diedit oleh Azyumardi Azra, Perspektif Islam di Asia Tenggara merupakan kumpulan tulisan sejarawan Barat. Buku yang terdiri dari enam bab ini bisa disebut sebagai buku pedoman yang dapat dipakai oleh sejarawan muslim dalam mengkaji Islam di Asia  Tenggara,  khususnya yang mengambil sumber asing. Menurut Azyumardi Azra tulisan-tulisan yang tercakup di dalam buku ini  pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua bagian besar[107]. Pertama, tulisan-tulisan yang lebih bersifat sejarah sosial dan politik, yang mengungkapkan perkembangan Islam di Asia Tenggara secara runtut sejak kedatangan Islam sampai masa modern, tepatnya setelah negara-negara Asia Tenggara lepas dari penjajah kolonial. Kedua, tulisan-tulisan yang lebih melihat sejarah Islam di kawasan ini dalam konteks lain, yang menyangkut sejarah intelektual, pemikiran, dan institusi-institusi Islam. Tulisan ini tentu saja belum menggambarkan sepenuhnya kompleksitas Islam di Asia Tenggara. Buku ini lebih dimaksudkan sebagai pengantar bagi penelitian dan penulisan lebih lanjut.
Selain karya-karya di atas, Azyumardi Azra menyusun karya historiografi seperti Historiografi Islam Kontemporer: Wacana, Aktualitas dan Aktor Sejarah. Karya ini lebih sebagai pengetahuan lebih lanjut untuk dapat mengetahui perkembangan historiografi Islam pada masa awal Islam hingga sekarang, baik dari segi penulisan maupun dari segi sumber-sumber yang dipakai. Dengan tegas Azyumardi Azra menyebutkan, perkembangan historiografi awal Islam muncul seiring dengan perkembangan Islam di dunia Arab, karena Islam yang diterima Nabi Muhammad turun di Jazirah Arabia, tepatnya di Mekkah dan Madinah. Untuk itu, perkembangan historiografi awal Islam ini tidak bisa dipisahkan dari perkembangan ajaran-ajaran Islam ataupun kaum muslimin. Dengan kata lain, perkembangan historiografi awal Islam ini dapat dipastikan selalu bersandar pada landasan sumber dan ajaran Islam; al-Quran dan Hadits. Azyumardi Azra lebih banyak menekankan pada peran Hadits pada perkembangan historiografi awal ini. Hadits menempati posisi dan mempunyai peran penting dalam perkembangan dan penulisan sejarah Islam pada masa awal. Hadits merupakan sumber informasi yang tidak bisa diabaikan dalam penulisan sejarah Islam, khususnya yang berkaitan dengan penulisan historiografi awal Islam.
Dalam karya ini, Azyumardi Azra berhasil mengurai, membahas, dan memaparkan secara jelas dan panjang lebar tentang contoh-contoh penulisan sejarah pada masa itu. Bahkan, ia membongkar kekeliruan-kekeliruan kalangan orientalis dalam menjelaskan kedudukan dan peran Hadits bagi umat Islam. Pandangan-pandangan orientalis tentang Hadits dipaparkannya, dengan menghadirkan dan membandingkannya dengan pandangan-pandangan dari kalangan pemikir Islam. Azyumardi Azra menyatakan, kesadaran sejarah muslim dan tradisi penulisan sejarah awal Islam, dibangkitkan al-Quran dan Hadits. Nabi Muhammad menunjukkan wawasan historis yang tajam dan luas tentang masa lalu, yang juga sangat mempengaruhi atau bahkan menentukan serta mengarahkan masa depan manusia ke arah yang lebih baik.
Azyumardi Azra memaparkan dan menjelaskan istilah-istilah kunci dalam teori dan konsep penulisan sejarah. Misalnya, sejarah sosial dialogis, sejarah Islam totalitas, sejarawan akademis dan sejarawan informal, pembebasan sejarah, dan pembebasan budaya. Ia juga percaya, sejarah berperan penting dalam mewujudkan integrasi bangsa Indonesia yang kini dilanda berbagai masalah yang mengarah kepada disintegrasi.
Azyumardi Azra juga mengkaji “ulama perempuan” dalam sejarahnya, yang dipandangnya masih sangat langka. Kajian sejarah biografi ulama perempuan masih sangat jarang dilakukan para sejarawan Islam. Tidak ketinggalan, ia membahas pula perspektif sejarah para keturunan Cina, khususnya di Indonesia. Pada bagian akhir karya ini, Azyumardi Azra lebih menekankan bahasannya pada sejarah (biografi) para tokoh, pemikir, pembaharu, ulama, penemu, dan lainnya, yang pemikiran-pemikirannya berpengaruh dalam sejarah perkembangan Islam. 
Dalam Konflik Baru Antar Peradaban: Globalisasi, Radikalisme, dan Pluralitas,  Azyumardi Azra berhasil menganalisis dan mengkritisi perkembangan Islam kontemporer yang bersentuhan dan berkaitan dengan modernisasi, globalisasi, liberalisasi, demokrasi, radikalisme, terorisme, nasionalisme, civil society, dan partai politik Islam. Secara keseluruhan, tema pokok kajian lebih bersifat kekinian, dengan pendekatan historis analitis.[108]Karya ini menjelaskan, bahwa munculnya banyak masalah yang berkembang belakangan ini dapat menggiring kearah konflik baru antar peradaban, khususnya peradaban Barat dan Islam. Jika kecenderungan konflik baru peradaban ini terus berlanjut dapat berakibat adanya benturan, sekaligus menjadi tantangan bagi umat manusia, khususnya umat Islam. Konflik baru ini justru meningkatkan rasa solidaritas antar umat Islam, bukan berbuntut pada perpecahan maupun permusuhan. Dengan adanya konflik baru ini, umat Islam semakin erat mengikatkan tali persaudaraannya.
Konflik antara Barat dan Islam semakin meningkat volumenya, sejak peristiwa 11 september 2001 lalu, yang diasosiasikan sebagai perwujudan dari skenario yang dibuat Samuel Huntington clash of civilizations. Sumber fundamental dari konflik dalam dunia baru ini pada dasarnya tidak lagi ideologi atau ekonomi, melainkan budaya. Budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber konflik yang dominan. Negara akan tetap menjadi aktor yang paling kuat dalam percaturan dunia, tetapi konflik politik global yang paling prinsipil akan terjadi antara bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok karena perbedaan peradaban mereka.
Pertentangan antar peradaban akan mendominasi politik global. Garis-garis pemisah antar peradaban akan menjadi garis-garis pertentangan di masa depan[109].  Azyumardi Azra menolak “doowed scenario” yang akan membawa manusia dan peradaban ke dalam jurang tanpa dasar. Bagi Azyumardi Azra, menghadapi kecenderungan ini, cara yang paling mungkin untuk mencegah terjadinya  clash of civilizations adalah melalui dialog antar peradaban-peradaban (civilizational dialogius).
Dalam catatan sejarah Azyumardi Azra, sejak pertengahan 1990-an, berbagai dialog peradaban, khususnya di antara Islam dan Barat telah diselenggarakan oleh banyak kalangan dengan maksud agar kecenderungan ketegangan dan konflik Barat dan Timur semakin diminimalisir. Namun, dialog antar peradaban ini belum menmukan titik temunya, karena masih bertahannya mispersepsi, prasangka, dan distorsi di bawah sadar masyarakat-masyarakat yang berasal dari berbagai peradaban yang berbeda, yang kemudian meluap dan meledak sewaktu-waktu. Kecenderungan ini menjadi bukti nyata, bahwa wacana dan praksis dialog antar peradaban belum menunjukkan kemajuan berarti dan signifikan.   
Dalam karya ini, Azyumardi Azra berusaha mengurai akar-akar persoalan yang dihadapi Islam dan Barat, dengan memunculkan ketegangan ataupun konflik antar peradaban. Dengan pengalaman belajar di Amerika, dan didukung oleh pengetahuan keagamaan yang luas, karya ini diharapkan lebih mendalam dan menjadi bahan referensi untuk mencari titik temu dialog antar peradaban (Barat dan Islam), sebagai masa depan umat manusia semakin baik.  
Karya Menuju Masyarakat Madani: Gagasan, Fakta, dan Tantangan. Menolak penilaian bahwa prospek masyarakat madani dalam tatanan Indonesia baru tidak begitu cerah karena diakibatkan oleh perkembangan politik dan krisis moneter. Menurut Azyumardi Azra,  prospek masyarakat madani tidak sekelabu itu, karena masyarakat madani tidak identik dengan kemunculan kelompok-kelompok, yang mengatasnamakan demokrasi dan demokratisasi, yang berkeinginan mengubah status quo politik. Dengan kata lain, perkembangan masyarakat madani lebih dari sekedar pertumbuhan gerakan-gerakan dan kemunculan kelas menengah yang kritis dan oposional terhadap rezim-rezim yang opresif.[110]Masyarakat madani adalah masyarakat yang secara relatif-harfiah dapat dipahami sebagai “masyarakat beradab”, berbudaya atau bertamadun, yang lebih dari sekedar gerakan-gerakan pro-demokrasi, mengacu ke kehidupan yang berkualitas, toleransi untuk menerima berbagai pendangan politik dan sikap sosial yang berbeda.[111]  Dengan menggunakan pendekatan sejarah sosial,  Azyumardi Azra menunjukkan gambaran bagaimana dinamika masyarakat Indonesia, yang memiliki berbagai potensi besar dalam mencari rumusan masyarakat madani.
Islam Substantif: Agar Umat tidak Jadi Buih, merupakan kumpulan dari sembilan puluh lima hasil wawancara. Karya ini merekam pandangan dan pemikiran Azyumardi Azra mengenai hubungan Islam dan politik. Dinamika pergumulan dan pergulatan liku-liku perubahan politik (umat Islam) dan Indonesia pra dan pasca tumbangnya rezim Soeharto, dipaparkan secara mendalam dan jernih. Azyumardi Azra juga membuat perkiraan masa depan dan prilaku politik umat Islam, para tokoh politik Islam, dan partai-partai Islam yang tumbuh menjelang masa-masa akhir pemerintahan presiden Habibie.[112]
Karya ini terbagi menjadi lima bagian. Pertama, terdiri dari dua puluh satu wawancara, menyangkut pertanyaan tentang  peran, perilaku, dan hubungan ulama dan umara (pemerintahan). Menurut Azyumardi Azra, ulama dan umara harus saling bekerja sama, dan menjadi mitra. Penjelasan ini kemudian diperkuat dengan dalil-dalil agama bahwa kedudukan ulama dan umara disebut setara dalam al-Qur’an. Oleh karena itu, hubungan keduanya harus harmonis, meski harus tetap saling mengingatkan.
Pada bagian kedua, terdiri dari enam belas wawancara, tentang munculnya partai agama (Islam) dan penggunaan agama dalam politik. Azyumardi Azra menyutujui dan memperbolehkan para pemeluk agama, termasuk juga kalangan muslim, membawa agama ke dalam lingkaran politik pada konteks level political ethics. Agama diperlukan untuk membimbing tingkah laku dan moral atau akhlaq dalam berpolitik. Azyumardi Azra menawarkan konsep-konsep substantif agama yang dapat dan seharusnya menjiwai konsep dan aktivitas politik, termasuk partai politik. Misalnya, Islam mengajarkan keadilan (al-ādl), egalitarianisme (al-musāwā), musyawarah (syūrā) dan sebagainya.
Pada bagian ketiga, terdiri dari delapan belas wawancara, yang menyoroti perilaku politik pada era reformasi. Azyumardi Azra merekam kenyataan bahwa kekerasan, money politics, arak-arakan dalam kampanye, pengerahan massa, pertikaian, perpecahan, dan interupsi mewarnai dunia perpolitikan Indonesia.
Interusi adalah sesuatu yang biasa dan wajar dalam politik. Dan interupsi yang baik tetap berpegang pada akhlaq dan moral politik. Namun dilihat dari realitas politik, interupsi yang dilakukan para elit politik cenderung mengabaikan akhlaq atau etika politik. Mereka mngeluarkan interupsi dengan kata-kata kasar, vulgar, cenderung menampakkan rasa sakit hati.
Pada bagian keempat, terdiri dari tiga puluh empat wawancara, memaparkan sepak terjang para elit, aktor, dan tokoh politik. Mereka yang disoroti Azyumardi Azra, antara lain, Amien Rais, Megawati, Abdurrahman Wahid, Nurchalis Madjid dan B.J. Habibie. Pandangan dan penilaian Azyumardi Azra terhadap tokoh-tokoh ini berkaitan dengan pencalonan mereka sebagai presiden. Dan pada bagian kelima, menyoroti masalah lembaga pendidikan yang dipimpinnya, IAIN Syarif Hidayatullah.
Karya ini merupakan salah satu kontribusi Azyumardi Azra untuk membangun tradisi dialog yang semakin terbuka. Dalam dialog tersimpan makna bahwa hal-hal yang tersekat atau tertutup bisa dibuka lebar-lebar, karena dialog adalah merupakan ruang untuk saling mengerti dan memahami, dalam bahasa agama, dialog bisa mempererat tali silaturrahmi.
Selain karya-karya di atas, terdapat juga karya Azyumardi Azra tentang Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal. Dalam karya ini Azyumardi Azra menggunakan pendekatan multidisipliner. Azyumardi Azra berusaha menjelaskan, bahwa dinamika Islam Indonesia tidak pernah terlepas dari dinamika dan perkembangan Islam di kawasan-kawasan lain, khususnya wilayah yang kini disebut sebagai Timur Tengah. Sejak awal kedatangan Islam, Islamisasi awal, munculnya jaringan ulama, bangkitnya modernisme Islam, sampai kepada tumbuhnya nasionalisme Indonesia, seperti tercermin dalam pengalaman Syarikat Islam. Kerangka, koneksi, dan dinamika global itu, sekali lagi bisa dipastikan membentuk, atau setidak-tidaknya mempengaruhi dinamika dan tradisi Islam lokal di Indonesia.
Awal sejarah Islam di Indonesia tampak problematis dan rumit. Banyak masalah yang muncul meliputi asal usul dan perkembangan awal Islam di kawasan ini. Masalah-masalah itu muncul tidak hanya karena perbedaan-perbedaan tentang apa yang dimaksud dengan “Islam” itu sendiri oleh para sarjana, tetapi jauh lebih penting adalah sedikitnya data yang memungkinkan merekonstruksi suatu sejarah yang bisa dipercaya (reliable). Oleh karena itu, proses Islamisasi di Indonesia harus dilihat dari perspektif global dan lokal. Dari perspektif global, Islamisasi di Indonesia harus dipahami sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika dan perubahan yang terjadi dalam dunia Islam secara global, bahkan dengan dunia Eropa. Namun, pada saat yang sama, proses Islamisasi harus dilihat dari perspektif lokal. Hal ini karena masyarakat muslim lokal juga memiliki “jaringan kesadaran kolektif” (networks of collective memory) tentang proses Islamisasi yang berlangsung dalam masyarakat. Lebih jauh, Azyumardi Azra menekankan pentingnya penggunaan jaringan global dan lokal, dengan kedua perspektif tersebut, akan dapat memiliki pemahaman yang lebih akurat tentang Islamisasi dan pembentukan identitas Islam di Indonesia. 
Perhatian Azyumardi Azra terhadap sejarah Islam Indonesia kontemporer lebih menonjolkan pentingnya penerapan ilmu bantu sejarah. Sebagaimana pernah diungkapkan, bahwa sejarah sekarang semakin sosiologis (sosiological history), atau antropologis (anthropological history) dan seterusnya.[113]  Sebagai upaya memahami sejarah Islam dari sudut pandang sosiologis ataupun antropologis dengan bertitik tolak kepada pemikiran umum bahwa Islam sebagai agama yang muncul dengan keanekaragaman sejarah dan sosial budaya dari masyarakatnya[114].
Penggunaan ilmu-ilmu bantu sejarah dalam penulisan sejarah tidak bisa dipungkiri telah memperkuat dan mengembangkan corak baru dari apa yang selama ini sering disebut kalangan sejarawan Indonesia sebagai sejarah baru, sebagai kontras dari sejarah lama yang umumnya bersifat naratif-deskriptif, atau sejarah ensiklopedis[115].Azyumardi Azra dalam menulis sejarah tidak hanya penggambaran deskriptif, tetapi lebih sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran historis.
Pada proses perjalanan sejarah, peristiwa yang terjadi merupakan akibat dari peristiwa sejarah sebelumnya, sehingga antara peristiwa masa lalu dengan peristiwa masa kini mempunyai kontinuitas. Artinya ketika Azyumardi menulis peristiwa sejarah ia selalu menghubungkan antara masa lalu dengan masa kini melalui proses penyelaman dan penafsiran ulang. Dalam penulisan sejarah Islam, Azyumardi Azra mempunyai kelebihan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tunner, bahwa sejarah tidak lebih merupakan politik masa depan. Hal ini terlihat dalam karyanya yang lebih bertitik tolak pada peristiwa-peristiwa sejarah yang ditampilkan adalah berkaitan dengan agama, karena merupakan suatu upaya membentuk kesadaran historis umat Islam.  
C.       Analisis tentang Penulisan Sejarah Islam Indonesia        Azyumardi Azra
Penulisan sejarah Islam pada hakekatnya merupakan historiografi Arab yang berkembang sejak periode Islam yang pertama kali disampaikan Nabi Muhammad SAW sampai abad ke-3 H, yang mempunyai sumber dasar keagamaan.[116]Islam memberikan kesadaran sejarah kepada kaum muslimin, baik melalui al-Qur’an maupun melalui diri Muhammad sendiri sebagai figur historis.
Perkembangan historiografi awal Islam tidak bisa dipisahkan dari perkembangan ajaran Islam maupun komunitas muslim itu sendiri. Al-Quran dan Hadits mempunyai arti penting dalam historiografi Islam di masa awal. Perkembangan historis yang berlangsung dalam masyarakat selalu mengalami perubahan yang akan menimbulkan kontinuitas. Demikian halnya dengan dinamika Islam Indonesia tidak pernah terlepas dari dinamika dan perkembangan Islam di kawasan lain. Kerangka, koneksi, dan dinamika global akan membentuk atau setidak-tidaknya mempengaruhi dinamika dan tradisi Islam lokal di Indonesia. Pembentukan tradisi keulamaan dan keilmuan Islam Indonesia atau Asia Tenggara secara keseluruhan sangat terkait dengan dinamika Islam pada tingkat global dan lokal.
Bangkitnya jaringan ulama di Haramain sejak akhir abad ke-15 menarik semakin banyak penuntut ilmu dari berbagai kawasan dunia muslim. Setidak-tidaknya sejak akhir abad ke-16 para penuntut ilmu dari Nusantara mulai berdatangan ke Haramain. Mereka kemudian dikenal sebagai “murid-murid jawi”. Jaringan ulama yang berpusat di Haramain menyebar ke berbagai wilayah dunia Islam, khususnya kawasan Samudera Hindia, yang mencakup Afrika Utara dan Timur, Arabia Selatan dan Timur, Asia Selatan, Anak Benua India, dan Nusantara.
Pada abad ke-17, tingginya intensitas dan kontak intelektual keagamaan antara Timur Tengah dengan Indonesia, yang pada esensinya bertujuan mendekatkan “low tradition” Islam di Indonesia dengan “great tradition“, tradisi normatif dan idealistik, sebagaimana terdapat dalam sumber-sumber ajaran Islam, yakni, al-Quran dan Hadits. Sebagai basis historis dan sekaligus doktrinal Islam awal yang sangat krusial dan sentral bagi eksistensi dan pengalaman historis Islam di masa-masa selanjutnya.
Menurut Azyumardi Azra, perjalanan historis Islam Indonesia harus dilihat dari perspektif global dan lokal sekaligus. Dari perspektif global, Islam di Indonesia harus dipahami sebagai bagian  yang tidak terpisahkan dari dinamika dan perubahan yang terjadi dalam dunia Islam secara global, bahkan dengan dunia Eropa[117]. Namun, pada saat yang sama, perkembangan Islam juga harus dilihat dari perspektif lokal. Hal ini karena masyarakat muslim lokal juga memiliki “jaringan kesadaran kolektif” (networks of collective memory) tentang perkembangan Islam yang berlangsung dalam masyarakat. Dengan perspektif global dan lokal, akan dapat memiliki pemahaman yang lebih akurat tentang perjalanan Islam dan pembentukan identitas Islam di Indonesia. Penulisan sejarah Islam dari sudut keindonesiaan menjadi penting karena signifikansi umat Islam dalam proses-proses sejarah Indonesia. Umat Islam Indonesia merupakan bagian penting yang permanen dalam dinamika keindonesiaan, sehingga masa depan Indonesia juga menjadi sangat terpengaruh oleh pasang surutnya umat Islam.
Membaca pemikiran Azyumardi Azra berarti membaca samudera keilmuan yang begitu luas cakupannya. Hal ini dikarenakan, pemikiran Azyumardi Azra tidak hanya mencakup satu bidang keilmuan saja, tetapi juga merambah kepada komprehensivitas segala bidang ilmu yang diramu sedemikian rupa dan dikontekstualisasikan secara integral dengan substansinya sendiri yang didasarkan pada pengalaman dan gulatan pemikirannya selama bertahun-tahun.
Azyumardi Azra adalah sosok sejarawan yang unik. Keunikan Azyumardi Azra terletak pada pemikiran beliau karena disamping sebagai ahli sejarah, juga sebagai agamawan, budayawan, serta akhir-akhir ini menjadi pengamat politik karena seringnya mengomentari masalah politik dewasa ini. Ia adalah representasi tokoh yang sangat peka terhadap persoalan-persoalan, baik persoalan di Indonesia sendiri maupun di luar Negeri. Pemikiran Azyumardi Azra telah mewakili pandangan sekarang atau kekinian berdasarkan evaluasi sejarah. Sehingga untuk dapat memahami pemikiran Azyumardi Azra tentang sejarah sangatlah tidak mudah karena membutuhkan sebuah ketelitian. Dalam bidang ilmu sejarah Azyumardi Azra telah banyak memberikan khasanah pemikiran baru melalui karya-karyanya.  
Usaha-usaha yang dilakukan oleh Azyumardi Azra inilah yang layak untuk disebut sebagai sejarawan yang mampu menganalisis peristiwa dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan serta sumber-sumber yang dipakai secara akurat. Azyumardi Azra adalah sejarawan yang tulisannya tidak diragukan lagi, sebagai buktinya adalah karyanya tentang Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII  yang sangat menarik dan merupakan kontribusi besar kepada literatur, tidak hanya bagi Asia Tenggara, tetapi lebih umum lagi untuk pemahaman tentang dunia muslim pada abad ke-17 dan 18. Bahkan, Azyumardi Azra telah berhasil mendemontrasikan pentingnya jaringan keilmuan dan spiritualitas yang secara impresif menghubungkan individu-individu dalam bentuk-bentuk yang mungkin tidak kita ketahui di masa silam.
Berdasarkan hal di atas Azyumardi Azra bukan saja memberikan basis yang obyektif untuk memahami sejarah Islam Indonesia dalam konteks sosial-intelektual. Karya ini merupakan langkah awal dalam upaya menyelidiki sejarah sosial-intelektual ulama dan pemikiran Islam di Indonesia, khususnya dalam dalam kaitannya dengan perkembangan pemikiran Islam di pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah. Akan tetapi, ia juga berhasil mengembangkan beberapa tema yang betul-betul komprensif. Tidak heran banyak dari kalangan menilai Azyumardi Azra telah berhasil memberikan pemahaman secara obyektif terhadap situasi-situasi historis umat Islam dalam setiap peristiwa sejarah terutama dengan analisis yang diajukannya. Hal ini terjadi karena sampai saat ini belum terdapat kajian yang komprehensif tentang Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara Abad ke-17 dan ke-18. Meski terdapat kajian-kajian penting tentang beberapa tokoh ulama Melayu-indonesia pada abad ke-17 dan ke-18, tetapi tidak banyak upaya dilakukan untuk mengkaji secara kritis tentang sumber-sumber pemikiran mereka, dan khususnya tentang bagaimana gagasan dan pemikiran Islam mereka transmisikan dari jaringan ulama yang ada dan pengaruhnya terhadap perjalanan historis Islam di Nusantara.
Pada penulisan sejarah Islam Indonesia, Azyumardi Azra tidak sekedar memberikan informasi tentang berbagai aspek dari sejarah Islam di Indonesia, tetapi juga menunjukkan secara tidak langsung hal-hal yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Harus disadari bahwa masalah akademis yang menyangkut sejarah dan masyarakat Islam tidak terletak pada besar atau kecil konspirasi upaya meniadakan atau mengaburkan Islam, tetapi pada keberhasilan akademis untuk menyalin pilihan normatif dan subjektif menjadi pertanyaan akademis dan obyektif. Sebagaimana diungkapkan Taufik Abdullah, Azyumardi Azra telah telah menunjukkan beberapa penyalinan yang bertanggungjawab dan jujur sehingga bisa menghasilkan karya yang berharga[118]
Selain sebagai seorang cendekiawan muslim, yang pemikirannya bertitik-tolak pada ajaran Islam terutama al-Qur’an dan Hadits, Azyumardi Azra berusaha menangkap setiap fenomena sejarah secara ilmiah, terutama penggunaan ilmu bantu sejarah, teori-teori sosial, pendekatan serta sumber yang dipakai. Dalam hal ini, Azyumardi Azra tidak memaksakan diri untuk menghindari teori-teori sosial dan metodologi Barat yang konvensial. Ia meminjam teori barat dalam rangka perbendaharaan pemikiran dan  melakukan kritik atau sintesis-sintesis teori tersebut. pemahaman Azyumardi Azra tentang agama dan penguasaan teori-teori sosial menjadikan Azyumardi Azra dalam mempelajari sejarah dan realita sosial umat Islam Indonesia secara obyektif.
Azyumardi Azra dalam menulis sejarah menggunakan sumber pribumi dan asing dengan seleksi dan adaptasi yang cukup.  Penelitian  yang akan menggunakan sumber dari Barat harus selalu mawas diri terhadap bias Barat. Kajian Graaf dan Milner ternyata banyak menggunakan istilah-istilah yang lazim barlaku dalam tradisi Kristen dan Eropa dan begitu saja dipasangkan pada tradisi Islam, Seperti penyebutan para fungsionaris Islam (ulama) dengan istilah semacam “uskup” dan “pendeta”[119]yang pada gilirannya dapat menggiring orang kepada miskonsepsi dan distorsi dalam memandang Islam[120]. Karena itulah bagi orang yang ingin mencari obyektivitas, sumber-sumber asing ini tidaklah lebih reliable daripada sumber-sumber pribumi.[121]Seperti yang diungkapkan M. Amien Rais, dalam menggunakan sumber Barat diperlukan sikap hati-hati dan ekstra teliti karena sendi-sendi Barat yang selama ini dianggap valid oleh banyak kalangan, sesungguhnya palsu dan rapuh. Tujuan Barat sebenarnya adalah untuk menguasai dan menjajah Timur, walaupun mungkin saja disertai ingin tahu tentang kebudayaan lain, bahkan mereka yang paling simpatik pun masih menyelip pendapat-pendapat yang menyesatkan[122]. Karena alasan inilah orang semestinya membaca penuturan orang-orang Eropa tentang  masyarakat muslim lokal di Indonesia secara sangat berhati-hati. Jika kita menyibakkan kelemahan-kelemahan studi-studi Barat terhadap Islam di Indonesia, itu tidak berarti kita menafikan kontribusi mereka dalam pengkajian Islam di kawasan ini. Betapapun juga, pada segi-segi tertentu, mereka telah membantu dalam memahami fenomena, ekspresi, dan penerjemahan Islam Indonesia.
Mengenai komentar yang ditujukan pada dirinya, Azyumardi Azra tidak banyak berkomentar, ia hanya mengatakan bahwa hal itu wajar dan ia sendiri tidak banyak tahu tentang julukan yang diberikan padanya. Bahkan Azyumardi Azra sendiri kurang confident untuk menyebut dirinya sebagai seorang sejarawan, paling banterseringkali hanya disebut sebagai “peneliti sejarah”.[123]
BAB V
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Berdasarkan serangkaian pembahasan seperti yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, kesimpulan yang dapat ditarik dari telaah mengenai kontribusi Azyumardi Azra terhadap historiografi Islam Indonesia adalah sebagai berikut.
Pada awal perkembangannya, kebanyakan historiografi Islam Indonesia berisi mitos, yang berfungsi sebagai aktualisasi pandangan hidup. Historiografi yang dihasilkan merupakan ekspresi kultural masyarakat yang menghasilkan sejarah, sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk memahami pola kesejarahan masyarakat.
Penulisan sejarah Islam Indonesia pada awalnya tidak seperti yang kita lihat sekarang ini. Penulisan sejarah Islam Indonesia tidak berlandaskan pada aturan sejarah. Walaupun kesadaran historisitas kita menunjukkan perbedaan yang besar antara corak historiografi awal dengan corak historiografi modern, dalam penulisan historiografi Islam Indonesia, Azyumardi Azra tidak mengabaikan penulisan historiografi pada masa awal. Hal ini disebabkan karena historiografi tersebut memberikan sejumlah informasi tentang kondisi masyarakat dan lembaga sosial-keagamaan serta pola-pola umum, Islam dikenalkan dan dikembangkan. Sebagaimana dikatakan De Graaf, historiografi Islam Indonesia tentang awal Islam tidak terlalu bisa dijadikan pegangan. Walaupun demikian, hal ini tidak dapat diabaikan sama sekali. Nilainya terletak pada kenyataan bahwa historiografi tersebut, adalah hasil pribumi dan merupakan produk tradisi kebudayaan yang sama.    
Sebagai cendekiawan muslim yang berkiprah dengan beragam pemikiran, tema-tema pemikirannya meliputi berbagai latar belakang ilmu seperti sejarah, agama, pendidikan, budaya, dan politik. Khusus dalam pemikiran sejarah, Azyumardi Azra memiliki pemikiran tersendiri. Misalnya dalam menganalisis setiap peristiwa, Azyumardi Azra lebih menekankan pada kajian historisnya, yang dilihat dalam perspektif sejarah. Lingkungan pendidikan Azyumardi Azra secara tidak langsung telah mengajarkan sejarah, sehingga menjadikannya sebagai seorang sejarawan yang sangat diperhitungkan di komunitasnya.
Dalam pandangan Azyumardi Azra, historiogrfi Islam Indonesia masih cenderung deskriptif. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan sejarawan dalam menyeleksi sumber-sumber baik sumber lokal maupun sumber asing. Baginya, menulis sejarah Islam yang didasarkan analisis sumber secara selektif dan tetap didasarkan pada al-qur’an dan hadits sangat diperlukan. Menurutnya penulisan historiografi Islam Indonesia masih kurang akurat. Hal ini disebabkan karena secara historis studi-studi tentang Islam di Indonesia sampai waktu-waktu belakangan lebih banyak dilakukan oleh kalangan asing daripada sarjana pribumi. Bahkan, terdapat kesan kuat bahwa studi-studi yang meletakkan paradigma teoritis tentang Islam di Indonesia hampir seluruhnya ditulis sarjana luar. Visi, pemahaman, dan apa yang kita ketahui tentang Islam di Indonesia sering kita terima begitu saja tanpa kritisme yang memadai.
Tema pemikiran Azyumardi Azra merupakan reaksi atau tanggapan terhadap persoalan-persoalan historiografi Islam Indonesia. Tema-tema tersebut dikembangkan secara interpretatif dalam penelitian dan penulisan. Berdasarkan hal-hal yang telah diungkapkan di atas, Azyumardi Azra telah memberikan upaya akademis untuk studi mengenai historiografi Islam Indonesia yang terlihat dalam tulisan-tulisannya.
B.   Saran-Saran
Kajian tentang kontribusi Azyumardi Azra dalam historiografi Islam Indonesia secara disengaja atau tidak disengaja telah mencerminkan subjektivitas. Oleh karena itu, penyusun mengusahakan subjektivitas tersebut diminimalisir dengan penelusuran literatur secara komprehensif. Hendaklah bagi peneliti yang akan mengkaji pemikiran Azyumardi Azra untuk melakukan penelitian lapangan dengan menggunakan metode wawancara, karena penulis hanya mampu dengan menggunakan kajian pustaka. Penulis juga berharap agar peneliti selanjutnya lebih memperbanyak sumber dan mengenalinya secara obyektif dan komprehensif.
Penulis berharap untuk para peminat kajian historiografi Islam Indonesia lebih memperluas wawasan dan lebih mengedepankan analisis secara kritis. Khususnya tentang kajian mengenai Azyumardi Azra, hendaknya dilakukan secara selektif mengingat beragam tema pemikirannya.
C.   Kata Penutup
Penulis sudah berusaha seoptimal mungkin dalam menyusun skripsi ini, namun tidak ada gading yang tidak retak, tidak ada manusia yang sempurna. Oleh karena itu, penyusun mengharap saran, kritik dari para pembaca demi kesempurnaan karya ilmiah ini.
Meneliti seorang tokoh berarti membaca samudera pemikiran tokoh tersebut. Usaha seperti ini akan menghadapi kemungkinan terjadinya bias pemahaman (biased Understanding) bila pendekatan yang digunakan kurang tepat. Dalam karya ini, penulis menggunakan pendekatan biografis yang berusaha meneliti kehidupan Azyumardi Azra sehingga dapat diungkap siapakah Azyumardi Azra, ide dan pemikirannya serta pandangannya terhadap historiografi Islam Indonesia. 
Konsekuensi pemikiran Azyumardi Azra yang dituangkan dalam skripsi ini mungkin akan mengalami perubahan pemahaman (an going process of understanding). Hal ini disebabkan pemahaman penyusun dalam memahami karya-karya Azyumardi Azra. Akhirnya semoga skripsi ini memberikan manfaat kepada para pembaca yang budiman dan khususnya bagi penulis secara pribadi.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik. Sejarah Lokal di Indonesia, Yogyakarta: UGM Press, 1996.
            Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia,Jakarta: LP3ES, 1996.
            dan Surjomiharjo. Ilmu Sejarah dan Historiografi Indonesia,Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1992.
            dan Sharon Siddique. Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara,  Jakarta: LP3ES, 1988.
Abdurrohman, Dudung. Metode Penelitian Sejarah, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.
Alfian, Ibrahim. Perang di Jalan Allah: Aceh 1873-1912, Jakarta: Sinar Harapan, 1987.
            Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah, Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, 1999.
Ambary, Hasan Muarif. Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam  Indonesia, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001.
Azra, Azyumardi. Historiografi Kontemporer Indonesia: Wacana, Aktualitas, dan Aktor Sejarah, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003.
           Perspektif Islam di Asia Tenggara, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989.
            Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan, 1998.
           Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana dan Kekuasaan, Bandung: PT Rosdakarya, 1999.
            Konflik Baru antar Peradaban: Globalisasi, Radikalisme, dan Pluralitas, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.
            Menuju Masyarakat Madani: Gagasan, Fakta, dan Tantangan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000.
            Islam Substantif: Agar Umat Tidak Jadi Buih, Bandung: Mizan, 2000.
            Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal, Bandung: Mizan, 2002.
Burhanudin, Jajat. Dan Ahmad Baedowi. Transformasi Otoritas Keagamaan: Pengalaman Islam Indonesia, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 16, Jakarta: PT Cipta Indonesia, 1999.
Frederick, William H. dan Soeri Soeroto. Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah Revolusi,  Jakarta: LP3ES, 1984.
Gattschalk, Louis. Understanding History: a Primer of Historical Method, diterj. Nugroho Notosusanto, Mengerti Sejarah,  Jakarta: UI Press, 1986.
Gazalba, Sidi. Pengantar Ilmu Sejarah,  Jakarta: Bhratara, 1981.
Hamka. Sejarah Umat Islam Indonesia,  Jakarta: Bulan Bintang, 1976.
Hariyono. Mempelajari Sejarah Secara Efektif,  Yogyakarta: Pustaka Jaya, 1995.
Hasmy. Sejarah Masuknya Agama Islam,  Jakarta: al-Ma’arif, 1981.
Huntington, Samuel P, “Benturan Antar Peradaban: Masa Depan Dunia Politik”, dalam Nasir Tamara. Agama dan Dialog Antar Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1996. 
Kartodirdjo, Sartono. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, Jakarta: Gramedia, 1992.
            Pemikiran dan Perkembangan Historiografi: Suatu pengantar Alternatif,  Jakarta: Gramedia, 1982.
            Kebudayaan dan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah, Yogyakarta: UGM Press, 1994.
Kuntowijoyo.  Metodologi Sejarah,  Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994.
            Pengantar Ilmu Sejarah,  Jakarta: Bina Aksara, 1987.
            Budaya dan Masyarakat, Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1999.
            Periodesasi Sejarah Kesadaran Keagamaan Umat Islam Di Indonesia: Mitos, Ideologi, Ilmu, Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Sejarah Pada Fakultas Budaya UGM, Yogyakarta: 12 Juli 2001.
Loir, Henri Chambert dan Hasan Muarif Ambary. Panggung Sejarah: Persembahan kepada Prof.Dr.Denys Lombard, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999.
Malik, Maman Abdul. “Historiografi Tradisional: Sisi Lain dari Pujangga Kraton”, dalam Sugeng Sugiyono (ed.), Bunga Rampai: Bahasa Sastra dan Kebudayaan Islam, Yogyakarta: Fakultas Adab, IAIN Sunan Kalijaga, 1993.
Soedjatmoko (ed.). An Introduction to Indonesian Historiography, diterj. Mien Djubhar, Historiografi Indonesia: Sebuah Pengantar, Jakarta: Gramedia, 1995.
Suharto, Toto. Epistemologi Sejarah Kritis Ibnu Khaldun, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003.
Suroto. Teori dan Bimbingan: Apresiasi dan Sastra Indonesia, Jakarta: Erlangga, 1990.
Suryanegara, Ahmad Mansur. Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, Bandung, Mizan, 1996.
Suyono. Kontribusi Kuntowijoyo dalam Historiografi Islam Indonesia, Yogyakarta: Skripsi Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, 2003.
Tjandrasasmita, Uka. Sejarah Nasional III: Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1976.
Umar, Muin. Historiografi Islam: Pertumbuhan dan Perkembangan, dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar pada Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta: 7 November 1997.
           Historiografi Islam,  Jakarta: Rajawali Press, 1984.
            dkk (ed.). Penulisan Sejarah Islam Indonesia dalam Sorotan Seminar IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta: Dua Dimensi, 1985.
www. Azyumardi-Azra.com-it’s me, Kamis 25 Desember 2003.
Yatim, Badri. Historiografi Islam,  Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
  
www.web.unmetered.co.id
unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "KONTRIBUSI AZYUMARDI AZRA DALAM HISTORIOGRAFI ISLAM INDONESIA"