MAJELIS TA’LIM MINHAJUL KAROOMAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP MASYARAKAT DESA WEDOMARTANI, NGEMPLAK, SLEMAN, YOGYAKARTA 1995-2002 M

unmetered
unlimited
MAJELIS TA’LIM MINHAJUL KAROOMAH
 DAN PENGARUHNYA TERHADAP MASYARAKAT
DESA WEDOMARTANI, NGEMPLAK, SLEMAN,
YOGYAKARTA1995-2002 M
 Oleh Team www.web.unmetered.co.id
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

            Allah menciptakan bumi berbeda dengan bulan dan bintang-bintang. Bumi dihiasi dengan kehidupan, udara bersih, iklim yang sehat dan tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam. Kemudian Allah menciptakan yang paling sempurna yaitu manusia. Manusia dilengkapi akal dan kekuatan yang dapat membuka pintu ilmu. Manusia diberi kesadaran dan kebebasan untuk memilih jalan hidup. Semua itu dimaksudkan agar manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai kholifah di muka bumi.[†]
            Pada hakekatnya manusia mempunyai kecenderungan untuk bertuhan. Manusia dalam hidupnya mempunyai tiga fungsi yang harus diemban yaitu sebagai makhluk religi, sebagai makhluk sosial, dan sebagai makhluk individu. Sebagai makhluk religi manusia dilahirkan telah memiliki atau membawa bakat untuk percaya pada Tuhan. Sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu berhubungan atau membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Begitu juga sebagai makhluk individu, manusia mempunyai kemandirian akan tetapi sifat mandirinya itu tidak akan bertahan lama dan berjalan dengan baik karena dibalik itu terdapat sifat kebersamaan yang membutuhkan manusia dengan manusia yang lain.[‡]
            Peran agama Islam dalam pembinaan umat manusia menjadikan manusia sebagai makhluk yang sempurna. Umat Islam adalah masyarakat yang berfondasikan persaudaraan, cinta kasih, saling menolong dan menasehati. Tidak ada perbedaan kulit putih dan kulit hitam, besar dan kecil, kaya dan miskin. Melalui Islam, manusia mengetahui sejarah, yakni sejarah yang dimulai sejak Allah menciptakan makhluk hingga sekarang ini. Dengan Islam, manusia menyadari masa depannya dan tempat kembalinya. Tuhan menentukan tujuan hidupnya dan memerintahkannya agar manusia meniti jembatan ke sana kelak (Akhirat). Manusia akan menperoleh kebahagiaan sesuai dengan usaha dan amalnya.[§]
            Seiring dengan kemajuan zaman, banyak hal dapat kita nikmati dari perkembangan diberbagai bidang yang melaju begitu cepat yang dapat membawa pengaruh besar terhadap masyarakat. Manusia tidak boleh lari dari padanya karena takut menghadapi dampak negatif yang dibawanya itu. Kondisi tersebut merupakan tantangan  yang harus dihadapi dengan semangat juang dan rasa optimisme.[**]
           Lemahnya iman dan kurangnya pengetahuan agama akan berpengaruh terhadap kesadaran manusia dalam mejalankan ajaran agama. Norma dan aturan yang sudah ada sulit diterapkan karena kurangnya pemahaman  dan pembiasaan sejak kecil. Dengan kata lain, orang tua kurang memperhatikan pendidikan agama terhadap anak atau bisa pula pengaruh dari lingkungan sekitarnya yang jauh dari nilai-nilai agama sehingga seringkali sikap dan tingkah lakunya kurang sesuai dengan ajaran agama Islam yang berdasarkan AL- Qur’an dan As –Sunnah.
            Dalam kondisi demikian, maka perlu adanya suatu tindakan  atau upaya pembenahan penerapan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan manusia. Masuknya iman ke dalam hati manusia adalah atas petunjuk atau hidayah yang datang dari Allah, dan petunjuk itu tidak akan datang dengan sendirinya tanpa usaha untuk mendapatkannya. Nilai dan ajaran Islam tidak hanya dikenal dan dimengerti tetapi harus dilembagakan dan dibudayakan agar berlaku dalam kehidupan sehari-hari, karena nilai dan ajaran Islam mampu menjadi kendali dan pedoman dalam kehidupan manusia.[††]
            Dalam konteks seperti  di atas, lembaga pengajian mempunyai peranan penting guna menciptakan pola pikir, sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan ajaran Islam. Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah yang berada di Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman  mempunyai peranan seperti itu.
            Majelis ini merupakan salah satu kelompok pengajian yang berada di Desa Wedomartani. Majelis ini mulai melangkah pada tahun 1995 yang mula-mula berbentuk rombongan pengajian dan mujahadah yang didirikan oleh Kyai Haji Achmad Dana, S.IP yang pada waktu itu sebagai pengasuh. Pada perkembangannya Majelis ini mampu meningkatkan semangat keagamaan masyarakat Desa Wedomartani dan sekitarnya. Dari waktu ke waktu anggota jamaah semakin bertambah banyak sehingga pengaruhnya terhadap masyarakat pun semakin meluas.
            Aktivitas Majelis ini bergerak dalam bidang keagamaan, sosial kemasyarakatan dan sosial budaya. Dalam  bidang keagamaan meliputi; mujahadah, pengajian mingguan, dan pengajian selapanan (35 hari). Adapun dalam bidang sosial kemasyarakatan usaha-usaha yang dilakukan Majelis ini adalah mengadakan pengobatan atau penyembuha secara Islami. Dalam bidang sosial budaya Majelis berusaha untuk meluruskan adat atau budaya yang melenceng dari ajaran-ajaran Islam. [‡‡]
            Segala jenis aktivitas Majelis tidak hanya bermanfaat bagi santri tetapi juga berdampak positiv bagi masyarakat sekitar. Ini berarti Majelis tersebut telah memberikan pengaruh terhadap perilaku masyarakat Desa Wedomartani baik dalam bidang sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan, maupun sosial budaya.
B. Batasan dan Rumusan Masalah
            Permasalahan pokok yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah mengenai sejarah berdirinya, perkembangan dan aktivitas-aktivitas Majelis yang berpengaruh terhadap masyarakat sekitar tahun 1995-2002. Tahun 1995 sebagai tahun berdirinya Majelis dan tahun 2002 sebagai batas waktu dilakukannya penelitian ini.
            Berdasarkan latar belakang  yang diuraikan  di atas dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana  kondisi masyarakat Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman sebelum berdirinya Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah?
2.      Bagaimana sejarah berdirinya Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dan perkembangannya dalam kurun waktu 1995-2002?
3.      Bagaimana aktivitas Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dan pengaruhnya terhadap masyarakat Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman?
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
            Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah:
1.      Untuk mengetahui kondisi masyarakat Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman sebelum berdirinya Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah.
2.      Mengungkapkan  tentang sejarah dan perkembangan Majelis Ta’lim       Minhajul Karoomah.
3.      Untuk mengetahui bentuk-bentuk aktivitas Majelis dan pengaruhnya terhadap masyarakat Desa Wedomartani dalam bidang sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan, dan sosial budaya.
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat berguna:
1.      Menambah wawasan kepada pembaca mengenai latar belakang, aktivitas, perkembangan serta pengaruh Majelis terhadap masyarakat Desa Wedomartani.
2.      Sebagai bahan masukan bagi para orang tua bahwa pembinaan moral keagamaan perlu perhatian yang intensif, sehingga bisa melahirkan generasi yang berkepribadian muslim yang dapat diandalkan.
3.      Menambah khasanah pengetahuan Islam terutama Sejarah Peradaban Islam.
D. Tinjauan Pustaka
Penelitian terhadap Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah di Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan, padahal kalau dilihat dari sumbangannya terhadap pemberdayaan masyarakat di wilayah Desa Wedomartani mempunyai peranan yang tidak sedikit.
            Di sini penulis mencoba untuk melakukan perbandingan terhadap penulisan skripsi lain, di antaranya:
–     Dalam skripsinya Mustangin Yang berjudul “Aktivitas Jami’iyyah Pengajian Ikhwanul Muslimin Depok, Sleman (1978-2000)”. Dalam skripsi ini dijelaskan tentang aktivitas-aktivitas JPIM yang meliputi bidang keagamaan, seni dan budaya serta faktor-faktor yang melatar belakangi aktifitasnya. Penulisan skripsi ini menonjolkan peran dan pengaruh JPIM terhadap pembinaan generasi muda di Condongcatur.
–   Skripsi Achmad Rizal  berjudul “Aktivitas Jam’iyyah Ta’lim wa Mujahadah di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta (1991-2000).  Skripsi ini menjelaskan tentang perkembangan Jam’iyyah Ta’lim wa Mujahadah, serta aktifitasnya yang mampu memberikan peranan penting terhadap para jama’ah terutama dalam bidang keagamaan.
            Pembahasan skripsi di atas hanya terfokus pada aktivitas yang berpengaruh terhadap para jama’ah pengajian bukan masyarakat umum, sementara penulisan ini, penyusun berusaha untuk mendapatkan pembahasan  yang secara spesifik mengkaji peran dan pengaruh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah tidak hanya bagi para jama’ah Majelis tetapi terhadap masyarakat Desa Wedomartani dalam bidang keagamaan, bidang sosial kemasyarakatan, dan sosial budaya. Berangkat dari kenyataan ini, maka penyusun berusaha untuk meneliti tentang keberadaan Majelis ini dengan judul “Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta 1995-2002”. 
E. Landasan Teori
                         Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Challenges and Respons (Tantangan dan Jawaban). Menurut Arnold J. Toynbee setiap peradaban yang timbul di dunia karena adanya tantangan, tantangan tersebut kemudian mendapat jawaban.[§§]Dalam hal ini peneliti melihat ada beberapa tantangan yang ada pada masyarakat Desa Wedomartani Seperti masih lemahnya pengetahuan agama, banyaknya praktek-praktek penyakit masyarakat seperti judi dan  minum-minuman keras serta sering terjadinya kasus warga yang kerasukan roh-roh makhluk halus. Dari permasalahan-permasalahan tersebut, semua itu harus ada jawabannya. Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah menjawab semua permasalahan tersebut.
Untuk menjawab semua tantangan itu, maka Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah berusaha melakukan pendekatan terhadap masyarakat dengan melakukan berbagai kegiatan keagamaan yaitu mujahadah dan pengajian. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat lebih mengenal tentang ajaran-ajaran Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits sehingga mampu untuk membentengi diri dari perbuatan maksiat. Selain mengadakan pengajian dan mujahadah Majelis ini juga mengadakan penyembuhan atau pengobatan secara Islami.
Selanjutnya penulis juga menggunakan teori evolusi yang dikemukakan oleh Johan Gottfried Herder. Menurutnya manusia dan kehidupannya mengalami perubahan dan perkembangan ke arah kesempurnaan, menuju dunia  yang lebih baik, dan masa depan yang bahagia.[***]Adapun teori  ini penulis gunakan untuk mengetahui proses perubahan dan perkembangan masyarakat Desa Wedomartani dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah.  
Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Sosiologis, yaitu memperhatikan peristiwa-peristiwa yang merupakan proses yang terjadi dalam masyarakat yang timbul dari hubungan antar manusia dalam situasi dan kondisi yang berbeda untuk mengungkapkan keadaan masyarakat dan juga meninjau gejala dari aspek-aspek sosial, yang mencakup antara lain golongan sosial yang berperan, hubungan dengan golongan lain, konflik dengan golongan lain, nilai-nilai sosial, berdasarkan kepentingan. Adanya perbedaan yang bervariasi di masyarakat sekitar Majelis, baik dalam tingkat pendidikan, ekonomi maupun agama terkadang bisa menimbulkan konflik diantara mereka.[†††]
 Pendekatan ini dipergunakan dalam menggambarkan peristiwa masa lalu, sehingga di dalamnya terungkap segi-segi sosial dari peristiwa yang dikaji. Dimensi kelakuan manusia dalam kontruksi sejarah dengan pendekatan Sosiologis itu bahkan dapat dikatakan sejarah sosial, karena pembahasannya mencakup golongan sosial yang berperan, jenis hubungan sosial, pelapisan sosial dan peran serta statusnya.[‡‡‡]
F. Metode Penelitian
            Studi ini merupakan kajian sejarah oleh karena itu metode yang digunakan adalah metode sejarah (historis), yaitu suatu metode yang ditempuh melalui proses menguji dan menganalisa secara kritis terhadap rekaman peristiwa masa lampau, agar dapat menemukan data yang otentik dan dipercaya.[§§§]
            Metode ini meliputi empat tahap, yaitu:
1.      Heuristik atau pengumpulan sumber data.
Heuristik berasal dari bahasa Yunani Heurishenyang berarti memperoleh. Sedangkan yang dimaksud heuristik adalah teknik atau seni mengumpulkan data yang tidak mempunyai peraturan-peraturan umum, ia tidak lebih dari suatu ketrampilan menangani bahan-bahan.[****]
Berkaitan dengan topik yang akan diteliti yaitu tentang Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah yang berada di Desa Wedomartani, maka teknik pengumpulan data yang penulis pergunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Dokumentasi
Dalam pengumpulan sumber tertulis, penulis menggunakan dokumenter yaitu  tehnik penulisan, tehnik penyelidikan yang ditujukan karena penguraian dan penjelasan terhadap apa yang telah lalu melalui sumber dokumentasi.
Metode ini dimaksudkan untuk mengumpulkan sumber primer dan sumber skunder, yakni melalui sumber yang diperoleh dari dokumen, foto dan arsip-arsip. Selanjutnya penulis menyaring hal-hal yang relevan dengan topik bahasan.
b. Observasi
Dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan yang sistematik atas fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam observasi penulis ikut serta dalam berbagai kegiatan yang dilakukan Majelis atau yang disebut observasi partisipan.
c. Wawancara
Untuk mengumpulkan sumber lisan penulis mempergunakan metode interview, yaitu teknik pengumpulan data dengan wawancara untuk mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden.[††††]Wawancara dilakukan dengan pengasuh, pengurus, jamaah Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah, serta sebagian warga Desa Wedomartani.                         
2.      Verifikasi atau kritik sumber, yaitu tahap menguji otentisitas sumber. Verifiaksi ini ada dua macam yaitu otentisitas atau kritik eksteren dan kredibilitas atau kritik interen. Kritik eksteren dilakukan unuk menguji keaslian sumber dengan menyeleksi segi-segi fisik dari sumber yang ditemukan. Kritik interen dilakukan dengan menelusuri kredibilitas sumber berdasarkan proses-proses dalam kesaksian, oleh karena itu kritik dilakukan sebagai alat pengendali atau pengecekan proses-proses itu serta mendeteksi adanya kekeliruan yang mungkin terjadi.[‡‡‡‡]  
3.      Interpretasi atau penafsiran data yang telah di uji kebenarannya. Dalam tahapan ini penulis mencoba menafsirkan fakta sejarah dengan membandingkan  antara satu fakta sejarah dengan fakta yang lainnya sehingga muncul hubungan yang rasional antara kenyataan yang diperoleh dengan fakta yang ada.
4.      Historiografi sebagai tahap akhir dalam metode ini yaitu menyajikan sintesis berdasarkan bukti-bukti yang sudah dinilai, kemudian disusun secara sistematis dalam sebuah karya tulisan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan.[§§§§]
G. Sistematika Pembahasan
            Guna mempermudah pembahasan dalam skripsi ini, maka sistematika pembahasan akan disusun sebagai berikut:
            Bab pertama adalah pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, batasan dan perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan. Uraian dalam bab ini akan memberikan kemudahan dan sebagai gambaran ringkasan mempelajari   skripsi ini.
            Bab kedua  membahas tentang gambaran umum Desa Wedomartani  yang meliputi kondisi  Geografis dan Demografis, yaitu keadaan alam dan iklim, letak dan batas Geografis, jumlah penduduk, dan mata pencaharian. Selanjutnya dibahas  kondisi sosial budaya dan kondisi sosial keagamaan beserta sarana dan prasarananya. Bab ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran singkat tentang kondisi dan keadaan masyarakat di wilayah Desa Wedomartani.
            Bab ketiga membahas tentang Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah yang meliputi: Sejarah Majelis, yaitu yang menjadi latar belakang berdirinya, perkembangan Majelis dari tahun 1995-2002 apakah mengalami peningkatan, perubahan, atau mengalami penurunan, struktur pengurusan, dan aktivitas-aktivitas Majelis dalam masyarakat yang meliputi bidang sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan, dan sosial budaya. 
            Bab keempat pembahasan difokuskan pada pengaruh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah terhadap masyarakat Desa Wedomartani yang meliputi bidang sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan dan sosial budaya.
            Bab kelima adalah merupakan bab penutup berisi kesimpulan, saran-saran yang diharapkan dapat menarik dari uraian pada bab sebelumnya sehingga menjadi rumusan yang bermakna.
Kerangka Skripsi
Halaman judul
Halaman nota dinas
Halaman pengesahan
Halaman motto
Halaman persembahan
Kata pengantar
Daftar isi
Bab I   Pendahuluan
a.       Latar Belakang Masalah
b.       Batasan Dan Rumusan Masalah
c.       Tujuan dan Kegunaan
d.      Tinjauan Pustaka
e.       Landasan Teori
f.        Metode Penelitian
g.       Sistematika Pembahasan
Bab II  Gambaran Umum DesaWedomartani,Ngemplak,Sleman.
a.       Kondisi   Geografis dan Demografis.
b.       Kondisi Sosial kemasyarakatan.
c.       Kondisi Sosial Keagamaan
d.      Kondisi Sosial Budaya
Bab III   Gambaran Umum Majelis Ta’lim Minhajul Karomah
a.       Sejarah berdirinya
b.      Perkembangannya
c.       Struktur Kepengurusan
d.      Aktivitas Majelis Ta’lim Minhajul Karomah
–          Bidang Sosial Keagamaan
–          Bidang Sosial Kemasyarakatan
–          Bidang Sosial Budaya.
Bab IV  Pengaruh Majelis Ta’lim Minhajul Karomah Terhadap Masyarakat Desa           Wedomartani, Ngemplak, Sleman.
a.       Bidang Sosial Keagamaan
b.      Bidang Sosial Kemasyarakatan
c.       Bidang Sosial Budaya
Bab V  Penutup
a.       Kesimpulan
b.      Saran-saran
                                          Daftar Pustaka
Al Math, Muhammad Faiz. Keistimewaan Islam.Jakarta;Gema Insani       Press.1995
Amin, M. Masyhur. Dinamika Islam; Sejarah Tranformasi dan Kebudayaan. Jogjakarta;LPKSM.1995.      
Al Munawar, Said Agil Husain. Al Qur’an Membangun Tradisi Kesalean     Hakiki.Jakarta;Cipta Press.2002
Abdurrahman, Dudung. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta;PT.Logos Wacana Ilmu.1999
Ariyani, Wulansari. Yayasan Syajarotul Thayyibah Dalam Perspektif  Sejarah Keagamaan di Kecamatan Kebumen.(1985-1998) Jogyakarta : Skripsi S-1 FAK.Adab IAIN SU-KA .2000.
Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Jogjakarta;Bulan Bintang.1997.
Kartodirjo, Sartono. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta; Gramedia Pustaka Utama. 1992.
Mustagin. Aktifitas Jami’iyyah Pengajian Ikhwanul Muslimin Depok, Sleman (1978-2000). Jogjakarta;Skripsi S-I Fakultas Adab IAIN SU-KA.2001.
.
MAJELIS TA’LIM MINHAJUL KAROMAH DAN PENGARUHNYA
TERHADAP MASYARAKAT DESA WEDOMARTANI, NGEMPLAK, SLEMAN, YOGYAKARTA 1995-2002 M
(Kajian Historis)

 


Proposal Skripsi
Diajukan Pada Fakultas Adab
Institut Agama Islam Negeri Jogjakarta
Untuk Dapat Di seminarkan Dalam Rangka Penulisan Skripsi
Oleh :
Sigit Wicaksono
99122347
SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM
FAKULTAS ADAB
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2004
BAB II
GAMBARAN UMUM DESA WEDOMARTANI, NGEMPLAK, SLEMAN, YOGYAKARTA
          
A. Kondisi Geografis dan Demografis.
Desa Wedomartani termasuk dalam wilayah Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta yang memiliki luas wilayah 1232,9910 Ha dengan kondisi tanah yang subur. Keadaan ini memberikan dampak pada kondisi ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat setempat. Di daerah ini banyak ditemukan sawah dan tegalan yang sedikitnya membantu kondisi keuangan dan kebutuhan pangan masyarakat Wedomartani.
 Desa Wedomartani memiliki batas geografis sebagai berikut:
–          Sebelah Utara dibatasi oleh Desa Sukoharjo.
–          Sebelah Selatan dibatasi oleh Desa Maguwoharjo.
–          Sebelah Barat dibatasi oleh Desa Minomartani.
–          Sebelah Timur dibatasi oleh Desa Selomartani.
Jarak Desa Wedomartani dari pusat pemerintahan Kecamatan ± 5 km, jarak dengan Ibu kota Kabupaten ± 14 km, sedangkan jarak dari Ibu kota Propinsi ± 17 km. Perlu diketahui Desa Wedomartani terdiri dari 80 RW dan 178 RT. Kondisi geografis desa ditinjau dari suhu udara memiliki suhu rata-rata mencapai 36º C. Sementara banyaknya curah hujan sekitar 133 mm/tahun.[*****]  
Berdasarkan data tahun 2002 jumlah penduduk di wilayah Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman berjumlah 18.140 jiwa. Laki-laki 9.004 orang sedangkan perempuan 9.136 orang.
TABEL. I.
KOMPOSISI JUMLAH PENDUDUK TAHUN 2002
No
Kelompok pendidikan
Jumlah
Kelompok tenaga kerja
Jumlah
1
2
3
4
5
6
00-03 tahun
04-06 tahun
07-12 tahun
13-15 tahun
16-18 tahun
19- keatas
1.074 orang
1.114 orang
2.495 orang
827 orang
594 orang
12.036 orang
10-14 tahun
15-19 tahun
20-26 tahun
27-40 tahun
41-56 tahun
57- keatas
1.660 orang
1.094 orang
1.742 orang
2.763 orang
3.866 orang
3.700 orang
Jumlah
18.110 orang
Jumlah
14.825 orang
            Sumber: Data Monografi Desa Wedomartani tahun 2002
                Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa keadaan penduduk usia pendidikan jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia tenaga kerja. Pada kenyataanya usia 5 sampai 18 tahun adalah usia tingkat kanak-kanak sampai dengan SLTA. Sedangkan usia 19 ke atas adalah tingkat perguruan tinggi. Adapun dari kelompok tenaga kerja usia 14 sampai 57 tahun.
Dalam pembicaraan pertanian rakyat di daerah Desa Wedomartani akan dibicarakan mengenai tanaman bahan makanan pokok. Hal ini dikarenakan pencaharian pokok masyarakat di daerah Desa Wedomartani adalah petani. Jenis tanaman bahan makanan pokok di daerah Desa Wedomartani antara lain; padi, jagung, kacang tanah, ketela pohon, ketela rambat. Mengenai luas panen dan produksi bahan makanan pokok di daerah Desa Wedomartani adalah sebagai berikut:
TABEL .11.
HASIL DARI SEKTOR PERTANIAN DESA WEDOMARTANI
No
Jenis tanaman
Luas tanah (Ha)
Produksi (Ton)
1
2
3
4
5
Padi
Jagung
Kacang tanah
Ketela pohon
Ketela rambat
190,65
19,2
8
7,25
1,2
531,3
63,0
25,2
42,5
0,5
Sumber: Data Monografi Desa Wedomartani tahun 2002
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah hasil produksi di daerah Desa Wedomartani yang paling banyak adalah padi, perlu diketahui juga bahwa waktu panen dalam satu tahun untuk tanaman padi dua sampai tiga kali sedangkan untuk tanaman jagung, kacang tanah, ketela pohon, dan ketela rambat cuma satu kali dalam satu tahun.
Dalam usaha peningkatan hasil perkebunan, diarahkan pada peningkatan penghasilan para petani, dengan cara meningkatkan tehnik penanaman dan cara pengelolahan hasil produksi. Jenis tanaman perkebunan yang ada di daerah Desa Wedomartani antara lain: rambutan, pisang, pepaya, salak, jambu, belimbing, tembakau, kelapa.
TABEL. III.
TANAMAN PERKEBUNAN DI DESA WEDOMARTANI TAHUN 2002.
No
Jenis tanaman
Luas tanah (Ha)
Produksi (Ton)
1
2
3
4
5
6
7
Rambutan
Pisang
Pepaya
Salak
Jambu
Tembakau
Kelapa
1,105
1,6
0,5
0,9
2
13
5
12,3
5
5,3
7
4,5
130
4,7
Sumber: Data Monografi Desa Wedomartani tahun 2002
Dari berbagai jenis tanaman yang tersebut di atas semuanya merupakan tanaman perdagangan. Sementara dari sektor peternakan yang dapat dijadikan sebagai bagian dari kondisi sosial ekonomi masyarakat meliputi,
TABEL. IV.
JUMLAH TERNAK DESA WEDOMARTANI
TAHUN 2002.
No
Ternak
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Sapi perah
Sapi biasa
Ayam kampung
Ayam ras
Domba
Kambing
Itik
Kerbau
Kuda
Babi
50 ekor
11 ekor
15.000 ekor
500 ekor
50 ekor
566 ekor
300 ekor
4 ekor
6 ekor
15 ekor
Jumlah
16502 ekor
            Sumber: Data Monografi Desa Wedomartani tahun 2002
Kalau diperhatikan pada tabel di atas menyatakan bahwa penduduk Desa Wedomartani sebagian besar memelihara ternak kecil atau dikenal istilah ternak unggas yaitu ayam kampung. Hal ini disebabkan peternakan hewan kecil merupakan peternakan yang murah dibandingkan dengan pemeliharaan hewan besar seperti sapi dan kambing. Sehingga hampir setiap rumah penduduk Desa Wedomartani memelihara ternak hewan kecil yaitu ayam kampung.[†††††]
Kondisi sosial  ekonomi masyarakat di samping dapat dilihat dari penghasilan pertanian, perkebunan, peternakan seperti di atas juga dapat dilihat dari mata pencaharian sebagai berikut,
TABEL .V.
KOMPOSISI PENDUDUK MENURUT MATA PENCAHARIAN
TAHUN 2002.
No
Mata pencaharian
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Petani
Buruh tani
PNS
Pedagang
ABRI
Swasta
Pensiunan
Pertukangan
Jasa
2.978 orang
2.346 orang
153 orang
631 orang
167 0rang
1.629 orang
194 orang
451 orang
138 orang
Jumlah
8.687 orang
            Sumber: Data Monogarfi Desa Wedomartani tahun 2002
Berdasarkan jumlah penduduk seperti tersebut di atas, sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah sebagai petani. Tanah Desa Wedomartani sebagian besar berupa sawah, tegalan dan ladang yang mencapai luas 711.2340 Ha. Berdasarkan  kenyataan tanah yang seluas itu maka tidaklah heran apabila kebanyakan penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Dalam hal ini ada dua macam arti dari pertanian. Pertama pertanian dalam arti sempit yaitu bercocok tanam atau menanam tumbuh-tumbuhan, dengan maksud agar tumbuh-tumbuhan dapat berkembang biak menjadi lebih banyak untuk dipungut hasilnya. Tujuan pokok menanam tumbuh-tumbuhan yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup, agar manusia jangan sampai kehabisan bahan makan. Yang kedua dalam arti luas, tidak hanya meliputi pertanian dalam arti yang sempit seperti yang telah disebutkan di atas, tetapi meliputi juga cabang-cabang produksi seperti, pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan dan kehutanan.[‡‡‡‡‡]
Berdasarkan data-data tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Wedomartani cukup beragam. Walaupun secara geografis pertanahan di Desa Wedomartani kebanyakan berupa tanah sawah dan tegalan, namun penduduk setempat tidak hanya mengandalkan dari sektor pertanian tetapi juga mengandalkan sektor-sektor lain seperti peternakan, perkebunan dan juga sebagai pegawai, buruh, ABRI, pedagang, dan lain-lain.
Masyarakat Desa Wedomartani dilihat dari keadaan geografis tanahnya menunjukan masyarakat petani, tetapi dalam kenyataan keseharianya tidak sepenuhnya menunjukan sebagai masyarakat petani, mengarah kepada masyarakat industri meskipun tidak sepenuhnya, sebuah masyarakat yang mengalami transformasi. Dari kegiatan-kegiatan seperti di atas, masyarakat Desa Wedomartani mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sesuai dengan tingkat ekonomi masing- masing.
B. Kondisi Sosial Kemasyarakatan.
            Daerah Wedomartani merupakan daerah kawasan pedesaan, Hal ini bukan dikarenakan daerah yang letaknya jauh dari perkotaan Yogyakarta, akan tetapi ada beberapa ciri yang melekat pada masyarakat Wedomartani. Ciri-ciri ini meliputi beberapa hal yaitu dengan adanya interaksi sosial yang sangat tinggi, semangat gotong royong maupun semangat untuk bermusyawarah dalam memecahkan persoalan bersama.[§§§§§]
Sebagai halnya masyarakat pedesaan di Indonesia pada umumnya masyarakat Desa Wedomartani mempunyai hubungan atau interaksi yang kuat. Kuatnya hubungan atau interaksi sosial ini ditujukan dengan adanya hubungan saling mengenal diantara warga di samping solidaritas sosial yang dipenuhi dengan semangat kekeluargaan yang kuat.
Masyarakat Desa Wedomartani mempunyai asas kekeluargaan dan gotong royong yang begitu kuat, segala tugas yang menyangkut masalah pribadi, seperti mendirikan rumah, punya hajad, terutama hal-hal yang menyangkut kepentingan umum seperti membuat jalan, membuat masjid, dan kegiatan-kegiatan lainya dapat terselesaikan dengan mudah. Jiwa gotong royong, kekeluargaan dan kerja sama yang baik antara warga masyarakat dengan pemerintah daerah yang demikian kuat dalam kehidupan sehari-hari merupakan faktor pendukung kerukunan antara masyarakat dan bangsa.
            
C. Kondisi Sosial Keagamaan.
Agama yang banyak dianut oleh penduduk Desa Wedomartani cukup beragam, namun mayoritas penduduknya adalah menganut agama Islam. Kondisi tersebut tidak menjadikan timbulnya konflik di masyarakat. Kehidupan beragama dikalangan para penduduk masing-masing agama dapat berjalan dengan baik dan saling menghormati antara agama satu dengan agama yang lain. Mengenai agama dan kepercayaan yang ada di Desa Wedomartani ialah Agama Islam, Agama Katholik, Agama Kristen, Agama Hindu, dan Agama Budha. Berdasarkan observasi yang diperoleh selama di lapangan, pemeluk masing-masing agama tahun 2002 dapat dilihat dalam tabel berikut.
TABEL. VI.
PENGANUT AGAMA DESA WEDOMARTANI
No
Agama
Jumlah
1
2
3
4
5
Islam
Katholik
Hindu
Kristen
Budha
16.266 orang
1.205 orang
63 orang
591 orang
15 orang
Jumlah
18.140 orang
            Sumber: Data Monografi Desa Wedomartani tahun 2002
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah pemeluk Agama Islam merupakan agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat Desa Wedomartani disusul Agama Katholik, Agama Kristen, Agama Hindu, dan Agama Budha. Dengan mengetahui jumlah pemeluk agama di Desa Wedomartani, perlu juga dipaparkan mengenai sarana peribadatan. Adapun sarana peribadatan yang ada di Desa Wedomartani adalah sebagai berikut :
TABEL .VII.
TEMPAT PERIBADATAN.
No
Nama tempat ibadah
Jumlah
1
2
3
4
5
Masjid
Mushola
Gereja
Pura
Vihara
41 buah
47 buah
3 buah
1 buah
2 buah
Jumlah
94 buah
    Sumber: Data Monografi Desa Wedomartani tahun 2002
Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah sarana peribadatan umat Islam menempati jumlah terbanyak sesuai dengan besarnya jumlah pemeluk agama tersebut. Umat Islam Desa Wedomartani sebagai umat mayoritas terdiri dari berbagai faham keagamaan dan organisasi ke-Islaman baik yang bercorak modern maupun yang bercorak tradisional seperti Muhammadiyah, NU, Islam Jama’ah dan sebagainya. Sungguhpun demikian masih terdapat umat Islam yang tidak berpegang teguh pada ajaran-ajaran Islam seperti melaksanakan sholat dan puasa. Umumya mereka adalah orang-orang yang masih memegang kuat adat istiadat Jawa yang juga berkembang di daerah Desa Wedomartani, seperti upacara-upacara tertentu seperti nyadran, kematian, kelahiran seringkali masih dipengaruhi oleh budaya tersebut.
Sebelum berdirinya Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah kehidupan keagamaan masyarakat Desa Wedomartani kurang berjalan dengan baik. Kegiatan-kegiatan keagamaan pada waku itu belum berjalan begitu semarak dan berkembang. Ada beberapa gambaran umum masyarakat Desa Wedomartani tentang kondisi kehidupan keagamaan sebelum berdirinya Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah
a. Pengajian anak-anak  
Pengajian anak-anak di Desa Wedomartani pada waktu itu sangat sedikit sekali atau jarang dilakukan karena mengingat kurangnya tenaga pengajar (ustad). Sesekali memang ada pengajian anak-anak tetapi pengajian ini berjalan kurang begitu semarak karena kurangnya tenaga penggerak atau penggerak pelaksana pengajian.
b. Pengajian remaja
Pengajian remaja di Desa Wedomartani juga sangat sedikit, karena kebanyakan anak-anak muda sering bergabung dengan pengajian bapak-bapak seperti pengajian dan yasinan yang diadakan setiap malam Jum’at . Adapun waktu pelaksanaan pengajian tersebut dilaksanakan setelah menunaikan ibadah sholat Isyak yang bertempat di Mushola, Masjid, dan di rumah penduduk.
c. Pengajian ibu-ibu.
Pengajian ibu-ibu di Desa Wedomartani diadakan setiap bulan sekali yang bertempat di rumah penduduk secara bergantian.
d. Pengajian bapak-bapak
Kegiatan keagamaan bapak-bapak di Desa Wedomartani diadakan rutin setiap malam Jum’at sehabis melaksanakan sholat Isyak yaitu pengajian dan yasinan. Kegiatan ini bergabung bersama-sama dengan pemuda, dengan tujuan untuk membiasakan diri belajar apa yang dilaksanakan pengajian bapak-bapak agar dapat ditiru oleh para pemuda dan diharapkan mampu untuk menjadi generasi penerus yang dapat diandalkan khususnya dalam bidang keagamaan.[******]
D. Kondisi Sosial Budaya.
   Masyarakat Desa Wedomartani dalam mengembangkan kebudayaannya secara selektif, karena kebudayaan dalam hal ini dilihat mekanisme kontrol bagi kelakuan dan tindakan-tindakan sosial manusia. Menurut J.J. Honigman (seorang ahli antropologi) kebudayaan itu ada tiga wujud:
  1. Wujud pertama adalah wujud ideal dari kebudayaan, sifatnya abstrak tidak dapat diraba atau difoto, lokasinya ada dalam kepala-kepala atau dengan perkataan lain dalam alam fikiran warga masyarakat. Di mana kebudayaan bersangkutan itu hidup. Ide-ide dan gagasan manusia banyak yang hidup bersama dalam suatu masyarakat, memberi jiwa kepada masyarakat. Gagasan itu tidak berada lepas satu dari yang lain, melainkan selalu berkaitan, menjadi satu sistem. Wujud ideal dari kebudayaan ini, yaitu  adat istiadat.
  2. Wujud kedua adalah kebudayaan yang disebut sistem sosial, mengenai tindakan berpola dari manusia itu sendiri, sistem sosial ini terdiri dari aktifitas-aktifitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul dengan manusia lain. Sebagai rangkaian aktifitas manusia dalam suatu masyarakat, sistem sosial ini bersifat kongkrit, terjadi disekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto dan didokumentasikan.
  3. Wujud ketiga adalah kebudayaan yang disebut kebudayaan fisik berupa seluruh total dari hasil fisik dari aktifitas, perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat. Maka sifatnya paling kongkrit dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat dan difoto.[††††††]
Dalam pendekatan sosial budaya, masyarakat Desa Wedomartani memiliki budaya yang “khas” satu model masyarakat yang kuat. Sebagai masyarakat yang memiliki rasa kebersamaan, masyarakat Desa Wedomartani tetap memiliki identitas sebagai komunitas yang menjunjung arti ketenangan dan kebersamaan (tepo seliro). Budaya masyarakat Desa Wedomartani dikembangkan dalam bentuk gotong-royong yang merupakan ciri khas dari kehidupan budaya masyarakat pedesaan.
   Dengan sistem gotong-royong ini dapat memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan individu maupun kepentingan umum. Salah seorang anggota warga masyarakat misalnya mempunyai hajad atau mempunyai kepentingan membangun rumah, dengan kesadaran hati dan rasa kebersamaan masyarakat dilingkungannya datang untuk membantu hajad atau kepentingan tersebut. Dalam kepentingan umum, seperti dalam perbaikan jalan, perbaikan masjid ataupun kepentingan umum lainnya dikerjakan secara gotong-royong atau kerja bakti, budaya semacam ini masih melekat kuat pada masyarakat Desa Wedomartani.
Upacara  adat pun masih mewarnai kehidupan masyarakat Desa Wedomartani karena singkretisme kebudayaan Jawa dengan Agama Islam tetap meresap ke dalam masyarakat Jawa, terlebih daerah ini merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram yang merupakan pusat Singkretisme Islam di Jawa. Di dalam masyarakat Desa Wedomartani ada beberapa perilaku adat yang masih berlaku dan dilaksanakan diantaranya:
1. Nyadran
Nyadran bisanya dilaksanakan pada bulan ruwah. Sebelum pihak keluarga ngirim ke kuburan dengan membawa dupa atau kemenyan dan bunga, kuburan terlebih dahulu dibersihkan baik itu secara perorangan maupun secara gotong-royong. Bisa ditambahkan di sini bahwa pada bulan Ruwah di samping membersihkan makam keluarga yang telah meninggal, juga ada yang nyekar, ngijingdan nyungkup. Kegiatan upacara ini bertujuan untuk meminta do’a supaya mendapat rejeki, mendapatkan jodoh dan sebagainya. Bagi yang beragama Islam bertujuan memintakan ampun keluarga yang telah meninggal kepada Allah SWT.
2. Upacara kelahiran
Upacara ini dilaksanakan ketika seseorang dari warga ada yang melahirkan. Upacara ini dibagi menjadi dua yaitu Tasyakuran saat bayi baru lahir dan selapanan yaitu genap 35 hari kelahiran.
3. Upacara Perkawinan.
Upacara adat perkawinan di daerah Desa Wedomartani hampir sama dengan upacara di daerah lain. Hanya ada perbedaan kecil saja, mungkin hanya beda istilah atau namanya saja. Urut-urutanya adalah sebagai berikut:
–          Babat alas atau merintis jalan
–          Nglamar atau meminang
–          Srasahan atau asok tukon
–          Tarub, siraman dan upacara ngerik atau paes temanten
–          Malam midodareni
–          Upacara Ijab atau akad nikah
–          Upacara panggih temanten
Dalam upacara ini biasanya diadakan pertunjukan kesenian rakyat berupa campursari dan malam harinya kethoprak atau wayang kulit.
4. Upacara kematian
Apabila ada salah seorang dari warga yang meninggal biasanya langsung diadakan upacara seperti peringatan tujuh hari meninggal, empat puluh hari meninggal, seratus hari meninggal dan seribu hari meninggal. Adapun acara pada peringatan tersebut adalah pembacaan puji tahlil dan yasinan yang bertujuan untuk mendo’akan yang meninggal supaya mendapat ketenangan di alam sana (kubur) dan diberi ampunan atas dosa-dosa yang diperbuat.
5. Masyarakat Desa Wedomartani juga membudayakan peringatan hari-hari besar seperti, peringatan hari besar nasional dan hari besar Islam. Dari beberapa peringatan PHBN dan PHBI tersebut juga dimeriahkan dengan kesenian, perlombaan, dan juga pengajian.[‡‡‡‡‡‡]
Sampai saat ini budaya atau adat tersebut masih dilestarikan karena adanya nilai-nilai sakral di dalamnya. Dengan demikian, budaya yang biasa dilaksanakan oleh masyarakat Desa Wedomartani cukup banyak, akan tetapi budaya-budaya tersebut masih sedikit yang mengandung nilai-nilai Islam.                
BAB III
 MAJELIS TA’LIM MINHAJUL KAROOMAH
DALAM LINTASAN SEJARAH
A. Sejarah berdiri.
Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah yang dijadikan obyek penelitian ini berdiri pada tanggal 11 Oktober 1995 yang letaknya di Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta. Majelis ini didirikan oleh K.H. Achmad Dana,    S. IP., yang bermula dari suatu kelompok pengajian dan mujahadah yang berada di Desa Wedomartani. Kemudian pada tahun 1995 itulah pengajian tersebut dinamakan Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah yang berarti jalan menuju kemuliaan. Nuansa pengajian dalam Majelis ini tidak hanya membekali pengetahuan agama kepada jama’ah, tetapi yang lebih penting adalah mengasah rohani untuk lebih dekat kepada Allah.
Sebelum Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah berdiri, keadaan Desa Wedomartani masih merupakan tempat yang rawan dalam segala hal praktek-praktek syirik, tindakan amoral seperti mabuk, judi dan banyak dari warga setiap harinya kerasukan roh-roh makhluk halus sehingga boleh dikatakan bahwa kondisi masyarakat Desa Wedomartani sangat memprihatinkan dan jauh dari nilai-nilai agama. Kehidupan penduduk masih sederhana, sebagian besar dari mereka adalah masyarakat petani. Dalam masyarakat tersebut masalah agama sangat kurang, bahkan sebagian besar masih buta terhadap ajaran agama Islam.[§§§§§§]
Sebelum Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah berdiri mayoritas penduduk Desa Wedomartani menganut agama Islam. Tetapi sebagian dari mereka tidak pernah mengerjakan sholat, zakat, puasa, walaupun ia mengaku beragama Islam. Di samping itu sebagian dari mereka ada yang menganut aliran kepercayaan yang berbau mistis. Hal ini dapat dilihat dari tingkah laku mereka sehari-hari yang masih memuja roh-roh nenek moyang dan percaya terhadap kekuatan goib atau daya magis yang terdapat pada benda-benda, binatang, dan hal-hal lain yang dianggap sakti. Dengan keadaan demikian maka semakin lengkap istilah kerawanan baik dalam kehidupan materiel maupun  spiritual keagamaan.
Melihat kondisi yang demikian maka  Kyai Haji Acmad Dana merasa tergugah hatinya dan berusaha untuk meluruskan kehidupan keagamaan masyarakat Desa Wedomartani yang benar berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadist. Kesadaran itulah yang kemudian mendorong hasratnya untuk mengkaji dan mendalami dan sekaligus ingin mendapatkan pengalaman kaagamaan. Banyak cara yang dilakukan oleh K.H Achmad Dana untuk melakukan pengkajian dan pendalaman, dan juga pengalaman keagamaan. Untuk mendalami ilmu agama ia belajar di pondok pesantren Wakhid Hasyim. Di samping  mendalami ilmu agama di pondok pesantren, beliau juga belajar ilmu umum di perguruan tinggi APMD mengambil jurusan ilmu politik.[*******]Di dalam dirinya terdapat keyakinan bahwa agama merupakan bekal manusia untuk mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan hidup sejati di dunia dan di akhirat. Ajaran agama bukan untuk dikaji secara ilmiah, tetapi untuk dijadikan pedoman hidup agar bisa mendatangkan kebahagian di dunia dan di akhirat. Agama merupakan instrumen untuk mendekat kepada Allah SWT. Pengajian dan segala bentuk pengkajian yang hanya menekankan pada aspek kognitif tidak akan sampai kepada dataran tawakal yang sebenarnya, karena untuk menjadi takwa sampai menuju tawakal yang sebenarnya seseorang dituntut untuk menyerahkan diri secara total akan kebenaran Allah. Semua itu dilakukan sebagai wahana untuk pencarian kebenaran yang hakiki. 
Setelah belajar dari pondok pesantren Wakhid Hasyim dan memperoleh gelar akademik dari AMPD maka ia berkeinginan untuk mendirikan sebuah Majelis pengajian  yang bisa menjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Wedomartani. Pada tahun 1995 berdirilah sebuah  Majelis pengajian yang diberi nama Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah.
Langkah pertama yang dilakukan oleh Kyai Haji Achmad Dana antara lain adalah melakukan pendekatan kepada sesepuh, tokoh-tokoh masyarakat dari semua golongan dan kelompok. Mereka diajak dialog  dimintai pendapat dan pemikirannya, diajak menganalisa keadaan secara jujur dan obyektif melihat permasalahan-permasalahan kongkrit yang dihadapi oleh masyarakat Wedomartani secara keseluruhan dan mencari jalan sebaik-baiknya yang disetujui bersama untuk memperbaiki keadaan dan memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Wedomartani, dan meminta do’anya agar Majelis ini mampu untuk menjawab semua permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Wedomartani terutama dalam bidang keagamaan.      
Ide dasar pendirian Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah diawali rasa keinginan dan permintaan dari tokoh masyarakat dan masyarakat Desa Wedomartani pada umumnya untuk memiliki sebuah lembaga pengajian yang berfungsi untuk meningkatkan iman dan takwa dan menambah pengetahuan ajaran agama.
Pendirian Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah diorientasikan pertama, sebagai pelayanan kepada masyarakat yang memiliki semangat untuk mendalami dan memperluas ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang keagamaan. Kedua, merupakan kebutuhan internal manusia yang mendalam yaitu ketenangan rohani, maka Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah ini juga mengadakan penggemblengan rohani terutama bagi penderita sakit mental maupun terapi bagi pecandu narkoba, sehingga 10% santri dari  Majelis ini adalah orang-orang tersebut di atas.
Selanjutnya nama Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah diambil dan dipakai dengan harapan semoga Majelis ini dapat menjadi sebuah lembaga yang bisa mencetak generasi yang berakhlak mulia yang bertakwa kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
Kemudian mulailah beliau merintis mengadakan pengajian dan mujahadah di masyarakat Desa Wedomartani. Kegiatan Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah berpusat di rumah  K.H. Achmad Dana. Pengajian  dilaksanakan pada hari Senin dan hari Rabu mulai ba’da Magrib sampai Isyak. Jumlah jama’ah yang datang pada pengajian tersebut masih sedikit. Mereka berasal dari teman, tetangga, dan sebagian masyarakat Wedomartani. Pengajian diadakan di masjid dan di rumah K.H. Achmad Dana. Materi yang diberikan kepada para jama’ah kaitannya dengan persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari masyarakat meliputi bidang Aqidah, Tauhid, Fiqih, Syariah, Akhlak. Dengan demikian masalah-masalah keagamaan menjadi relevan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar yang dihadapi dan dihayati oleh masyarakat yang memberikan pegangan, arah dan makna hidup, sehingga agama menjadi fungsional bagi kehidupan manusia.
Di samping menjawab pertanyaan-pertanyaan yang belum diketahui jawabannya oleh jama’ah, juga ada konsultasi segala masalah yang dialami para jama’ah mulai dari masalah keluarga, penyakit dan sebagainya. Dengan selalu merujukan pengatasannya kepada Al Qur’an. 
Sambutan masyarakat terhadap kegiatan pengajian Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah yang disampaikan oleh K.H. Achmad Dana sangatlah baik, hal ini dapat diketahui dari banyaknya masyarakat yang mengikuti pengajian setiap kali diselenggarakan. Mereka dengan kesadaran sendiri datang ke Majelis untuk menuntut ilmu melalui pengajian.
Kehadiran Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah di tengah-tengah masyarakat Desa Wedomartani telah mampu mengubah keadaan serta lingkungan mereka. Masyarakat mulai dapat merasakan arti dan mengambil manfaat dengan adanya Majelis tersebut terutama dalam bidang keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Banyak diantara warga masyarakat Wedomartani yang kemudian menjadi santri dan mengaji ke Majelis, sehingga mereka menjadi muslim yang taat dan patuh, bahkan secara tidak langsung masyarakatlah yang berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dan lingkungan Majelis sebagai pusat pengembangan dan penyiaran Islam.
B. Perkembangannya.
Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah  sebagai lembaga keagamaan dalam perjalanannya yang mengembangkan misi dakwah Islamiyah banyak mengalami hambatan dan rintangan atau dengan kata lain perkembangan Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah mengalami pasang surut.
Laju perkembangan Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah pada awal berdirinya tahun 1995-1996 belum begitu menggembirakan. Hal ini dikarenakan keberadaan Majelis belum begitu dikenal oleh masyarakat luar Desa Wedomartani. Pada saat itu santri baru berjumlah 40 orang, tetapi dampak dari keberadaan Majelis tersebut telah dapat dirasakan oleh masyarakat Wedomartani, mereka setidaknya tidak terlalu buta tentang pengetahuan ajaran-ajaran Islam.
Pada periode selanjutnya tahun 1997-1999 perkembangan Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah mengalami kemajuan yang begitu pesat yang ditandai dengan banyaknya jumlah  jama’ah/santri yang bergabung untuk mengikuti pengajian di Majelis ini. Adapun jama’ah/santri yang datang tidak hanya dari masyarakat Wedomartani tetapi sudah menyebar keseluruh penjuru kecamatan. Adapun jama’ah yang datang antara lain dari; Ngaglik, Berbah, Kalasan, Cangkringan, Prambanan. Dalam periode ini jumlah santri mencapai 200 orang. Perkembangan pesat ini dikarenakan karena keberadaan Majelis dengan segala aktifitasnya sudah dikenal oleh masyarakat luar Desa Wedomartani.
Dengan meningkatnya jumlah santri/jama’ah yang datang di Majelis maka pada periode selanjutnya tahun 2000-2002 frekuensi pengajian pun ditambah, kalau semula hanya dilakukan setiap hari Senin dan hari Rabu maka ditambah hari Sabtu dan juga pengajian Selapanan (setiap 35 hari sekali). Untuk membedakan antara santri senior dan junior maka oleh K.H. Achmad Dana  membuat kelas-kelas. Kelas-kelas itu antara lain; kelas Awaliyah, kelas Riyadhoh, kelas Jurus, kelas Ketabiban. Adapun setiap kenaikan kelas diberikan ijazah atau tambahan amalan. Dengan dibuatnya kelas-kelas ini ternyata berdampak positif bagi para santri karena mereka yang sudah lama belajar di Majelis di samping memperoleh pengetahuan ajaran agama juga memperoleh pengetahuan tentang  ilmu  pengobatan/penyembuhan secara Islami.
Pembinaan pengajian di Majelis ini dilakukan dengan sabar. Beliau berprinsip bahwa menyampaikan ajaran agama harus dilakukan dengan sabar. K.H. Achmad Dana hanya berdo’a kepada Allah mudah-mudahan Allah menunjukan jalan yang benar dan tepat kepada para jama’ah di dalam mengarungi kehidupan yang penuh masalah ini agar hidupnya mendapat kebahagiaan. Beliau tidak pernah mengadakan promosi, pasang iklan atau tindakan yang lain. Informasi pengajian di Majelis ini lebih banyak diketahui dari mulut ke mulut. Hal ini ternyata dapat lebih dipercaya dibandingkan dengan informasi apapun.
Di samping itu, daya tarik bagi para jama’ah/santri yang tidak kalah menariknya adalah kemampuan tabib dari K.H. Achmad Dana dan bagi para santri tentunya yang sudah mencapai tingkat ketabiban. Beliau dipercaya memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit yang diderita oleh masyarakat, misalnya, penyakit sepuh (tua), lumpuh, kanker, tumor, pegal-pegal dan sebagainya. Oleh karena itu setelah selesai pengajian, biasanya banyak diantara para jama’ah dan warga masyarakat  yang datang berkonsultasi tentang penyakit tersebut. K.H. Acmad Dana biasanya hanya menunjukan beberapa ayat, kemudian jama’ah diminta untuk mengamalkan apa yang ada di dalam surat tersebut.
Selain penyakit phisik sebagaimana disebutkan di atas, beliau juga dipercaya sebagai konsultan penyakit non phisik, misalnya keretakan rumah tangga, gangguan jiwa, kerasukan roh-roh makhluk halus, pencandu narkoba dan sebagainya. Segala permasalahan yang dihadapi oleh para jama’ah bisa dikonsultasikan pada beliau.
Pengajian ini bebas dalam arti kata tidak ada ikatan apapun, akan menjadi jama’ah aktif atau tidak. Semua orang boleh mengikuti pengajian tanpa terikat oleh aturan apapun. Bahkan untuk mengikuti pengajian tidak disyaratkan dengan aturan tertentu, baik formal maupun non formal. Tidak ada baiat, tidak harus pandai membaca lafal tertentu, dan sebagainya. Sehingga hal ini memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka yang masih minim tentang pengetahuan agama, tetapi berkeinginan untuk mengetahui dan mengamalkan ajaran agama.
Beliau mengakui bahwa dengan ijin Allah mereka terasa terikat sehingga seolah-olah ada ‘magnit’ yang menarik untuk datang ke tempat pengajian. Datang ke tempat pengajian seakan panggilan Allah. Tidak ada ikatan apa-apa tidak ada promosi apa-apa, ikatannya hanya panggilan Allah. Inilah yang menjadi pengikat sesama jama’ah pengajian di Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah.
Berangkat dari gambaran di atas, perjalanan Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dalam kurun waktu yang relatif singkat atau masih muda boleh dibilang mengalami perkembangan yang cukup pesat. Majelis ini di samping bergerak dibidang sosial keagamaan juga bergerak dibidang sosial kemasyarakatan dan sosial budaya. Status ganda ini bukan merupakan sebuah nama, namun predikat yang ada ini diharapkan dan diupayakan semaksimal mungkin untuk bisa direalisasikan dalam tindakan yang nyata.
C. Struktur kepengurusan           
Setiap lembaga akan teratur dan rapi apabila dalam lembaga tersebut tersusun suatu organisasi yang baik. Dalam menjalankan program kerjanya, Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah telah memiliki sruktur kepengurusan yang baik. Setelah kepengurusan tersusun, maka tiap-tiap bidang kerja menangani tugasnya masing-masing, namun demikian masih dalam satu kendali sehingga tugas yang dilaksanakan mengarah kepada tujuan yang telah direncanakan. Agar semua pengurus mengetahui bidang dan tugasnya masing-masing, maka perlu adanya pembagian tugas sehingga tidak terjadi tumpang tindih pekerjaan.
Adapun daftar pengurus dan pembagian tugasnya adalah sebagai berikut;
Ø  Ketua :       1. Nur Wahid
                                2. Nur Majid
Ø  Sekretaris: 1. Nur Affandi
                                 2. Nur Baiti
Ø  Bendahara :1. Nur Taufik
                                  2. Nur Azizah
Ø  Seksi-seksi   :
I.       Keorganisasian                                         II. Humas
1.      Nur Rosyid                                               1. Nur Mahmudi
2.      Nur Ilham                                                 2. Nur Romli
3.      Nur Ikhsan                                                3. Nur Fauzi 
4.      Nur Fahmi                                                 4. Nur Husni
5.      Nur Anwari                                                5. Nur Shobari
6.      M. Anwar Aziz                                           6. Nur Bardan
7.      Nur Hidayat.                                               7. Akhid Kurniawan
           III. Penalaran                                                 IV. Dakwah
 1. Nur Husain                                                   1. Nur Abidin
 2. Nur Hadid                                                     2. Nur Burhan
 3. Nur Rozi                                                       3. Nur Salam
 4. Nur Hidayati                                                 4. Aris Diyanto
 5. Nur Khamidah                                              5. Sidiq Rokhamadi 
 6. Nur Hadi                                                       6. Nur Hasanah
 7. Tri Widayati                                                  7. Nur Habiba
Adapun pembagian tugas adalah sebagai berikut;
·         Ketua
            Bertugas mengkoordinir dan bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang telah dilakukan masing-masing seksi, mengadakan tata tertib terhadap bawahan, mengadakan musyawarah bila dipandang perlu.
·         Sekretaris
            Bertugas melaksanakan hal-hal yang berhubungan dengan administrasi Majelis, mencatat kejadian-kejadian penting berkaitan dengan majelis, membuat undangan, menginventaris surat-surat masuk, membuat surat perizinan atau pemberitahuan.
·         Bendahara
            Mengumpulkan sumber dana dari santri setiap bulan sekali, membuat anggaran belanja, menggunakan keuangan seefisien mungkin.
·         Keorganisasian
            Seksi keorganisasian mempunyai tugas mengurusi masalah tentang ketidakaktifan santri.
·         Penalaran
            Seksi penalaran mempunyai tugas mengadakan kegiatan yang bersifat edukatif, diantarannya; berdiskusi tentang masalah yang dihadapi oleh umat Islam, mengadakan latihan calon khotib atau retorika, latihan merawat jenazah.
·         Humas
            Humas atau hubungan masyarakat di lembaga apapun kedudukannya sangatlah penting, karena pekerjaan ini langsung berhubungan dengan masyarakat. Adapun tugas humas di Majelis ini adalah mencari dan menyampaikan informasi yang positif, menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat, informasi masuk dan keluarnya tentang dunia Islam, menyebar undangan, bertugas menerima tamu.
·         Dakwah
            Seksi ini mempunyai tugas dan tanggung jawab yang banyak sekali, karena hampir semua kegiatan Majelis berfokus pada seksi ini. Adapun tugasnya meliputi;
–          Pelaksanaan sholat lima waktu
–          Pelaksanaan sholat Jum’at diantarannya, persiapan muadzin, persiapan khotib.
–          Pelaksanaan pengajian rutin lapanan setiap Kamis pon dan pengajian tahunan milad dan haul.
–          Menyusun kegiatan yang berkaitan dengan program dakwah.
–          Mengikuti acara-acara lomba.[†††††††]
D. Aktifitas Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah
            Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah sebagai lembaga penyiaran agama Islam dan juga lembaga sosial ini tumbuh dan berkembang bersama warga masyarakat, oleh karena itu tidak hanya secara kultur lembaga ini diterima oleh masyarakat, bahkan telah ikut serta membentuk dan memberikan corak serta nilai kehidupan kepada masyarakat yang senantiasa tumbuh dan berkembang
            Para pemimpin dan santri memiliki kekuatan yang cukup kuat untuk mempelopori pembaharuan mendasar dalam kehidupan masyarakat yang sedang membangun. Dengan berdasarkan potensi yang dimiliki, baik pola hubungan dan jaringan kerja, sistem nilai yang dianut dan dikembangkan, sumberdaya yang tersedia serta potensi rohaniah dan kepemimpinan yang ada, Majelis dapat berbuat banyak atau memberikan arahan dalam kerja dan usaha-usaha perubahan dan pelayanan masyarakat. Dengan begitu sebuah lembaga mampu berperan secara selektif di dalam menggerakan swadaya dan partisipasi masyarakat serta mempersiapkan kader sebagai unsur agent of change yang bekerja dan mengabdikan dirinya untuk kepentingan masyarakat.[‡‡‡‡‡‡‡]
            Teori perubahan sosial yang dikemukakan oleh Arnold J. Toynbee yaitu Challenges and Respons (tantangan dan jawaban), yaitu gerak sejarah itu terjadi karena adannya rangsangan untuk mengadakan reaksi dengan menghadapkan tantangan untuk melakukan perubahan.[§§§§§§§]Hal itulah yang dilakukan oleh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah. Melihat berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Wedomartani yang semakin komplek mendorong K.H Achmad Dana melalui Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah tergerak untuk mengadakan aktifitas sebagai upaya untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Wedomartani.
            Aktifitas Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dalam usahanya untuk melakukan perubahan terhadap masyarakat Wedomartani meliputi bidang sosial keagamaan, bidang sosial kemasyarakatan, dan bidang sosial budaya. Kegiatan itu dilaksanakan secara terpadu antara kegiatan Majelis dengan warga masyarakat yang diharapkan akan mampu memperbaiki dan mengubah kondisi sosial masyarakat. Adapun aktifitas itu adalah sebagai berikut,
I. Bidang Sosial Keagamaan.
            Di dalam aktifitas keagamaan ini dikembangkan nilai-nilai yang bersumber pada ajaran yang bersumber pada ajaran agama Islam yang berintikan Tauhid. Jiwa Tauhid ini yang selalu dihidupkan dan dikembangkan oleh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dan diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat beserta lingkungannya.
            Di samping masalah Tauhid, pendidikan agama yang diberikan adalah masalah yang berkaitan dengan persoalan kehidupan sehari-hari pada masyarakat seperti bidang Aqidah, Syari’ah, Akhlak, Fiqih dan lain sebagainya. Dengan demikian masalah keagamaan menjadi relevan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar yang dihadapi oleh masyarakat yang memberikan pegangan, arah dan makna hidup, sehingga agama menjadi fungsional bagi kehidupan manusia.
            Dalam rangka pembinaan masyarakat Wedomartani, aktifitas Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah sejak berdirinya tahun 1995 mengadakan berbagai kegiatan yang teknis pelaksanaannya dilaksanakan secara terpadu antara Majelis dengan masyarakat Desa Wedomartani. Adapun kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah meliputi,
1) Pengajian mingguan.
            Pengajian mingguan ini merupakan pengajian Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah yang ditujukan bagi santri dan masyarakat Wedomartani khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Pengajian ini bermula dari bentuk pengajian biasa yang tidak terikat dengan penjadwalan dan pengaturan waktu, namun pada perkembangannya ternyata bentuk pengajian ini dirasakan cukup penting dan dianggap perlu demi peningkatan dan pemahaman terhadap nilai-nilai keagamaan.
            Pengajian mingguan ini terdiri dari tiga pengajian yakni, pengajian hari Senin, pengajian hari Rabu, dan pengajian hari Sabtu. Adapun waktu pelaksanaannya untuk hari Senin dan hari Rabu dimulai dari jam 18.00-19.00, sedang untuk hari Sabtu dimulai dari jam 17.00-18.00. WIB.
a. Pengajian hari Senin.
            Pengajian ini rutin diadakan sekali dalam seminggu yaitu setiap hari Senin. Pengajian hari Senin ini memang ditujukan bagi santri dan masyarakat sekitar. Pada pelaksanaan pengajian ini, mulanya hanya metode ceramah yang dimulai sejak tahun 1995, yang begitu banyak mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya masyarakat yang mengikuti pengajian. Pengajian ini di isi dengan ceramah-ceramah keagamaan yang dimaksudkan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman keagamaan kepada para jama’ah/santri, adapun teknis pelaksanannya jama’ah/santri datang kira-kira jam 18.00 atau sebelum menunaikan ibadah sholat magrib. Setelah itu jama’ah/santri menunaikan sholat magrib berjama’ah. Adapun yang sering menjadi Imam adalah K.H. Achmad Dana. Jama’ah terdiri dari remaja dan bapak-bapak. Setelah melaksanakan sholat magrib berjama’ah para santri langgsung menuju ruang pengajian. Adapun tempat pengajian biasanya di rumah K.H. Achmad Dana namun terkadang dilaksanakan di masjid.
            Sebelum pengajian dimulai terlebih dahulu diawali dengan mujahadah yang dipimpin oleh para santri yang dianggap mampu untuk memimpin acara tersebut. Setelah selesai mujahadah pengajian pun dimulai. Adapun yang menjadi penceramah adalah K.H. Achmad Dana sendiri dan terkadang asistennya apabila beliau berhalangan hadir.
            Materi yang diberikan dalam pengajian pun disesuaikan dengan perkembangan dan pemikiran masyarakat yang banyak mengambil dari contoh-contoh yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat, meskipun dalam penyampaian materi lebih ditekankan pada pemahaman masalah Aqidah, Tauhid, dan permasalahan Fiqih (hukum Islam), dan juga permasalahan sosial kemasyarakatan lainnya.[********]Materi ini diberikan karena persoalan-persoalan tersebut dianggap mendasar dalam agama Islam yang diharapkan mampu memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat Wedomartani.
b. Pengajian hari Rabu.
            Pengajian hari Rabu merupakan pengajian rutin yang dilaksanakan oleh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah yang diperuntukan bagi masyarakat Wedomartani dan masyarakat umum. Pengajian ini mulai dilaksanakan sejak tahun 1995. Tidak juah berbeda dengan pengajian hari Senin, pengajian hari Rabu ini di isi oleh K.H Achmad Dana selaku pendiri dari Majelis tersebut. Adapun materi yang disampaikan pada pengajian ini adalah masalah-masalah ke-Islaman mencakup persoalan Aqidah, Fiqih, serta persoalan-persoalan lain yang berhubungan dengan Muamalah  seperti masalah perdagangan, yang secara keseluruhan dapat memotifasi para santri dan masyarakat untuk mempraktekan aktifitas-aktifitas yang bernuansa amal salih dalam kehidupan sehari-hari.
c. Pengajian hari Sabtu.
            Berbeda dengan pengajian hari Senin dan pengajian hari Rabu, pengajian hari Sabtu ini dilaksanakan pada jam 17.00-18.00 yang dihadiri oleh warga Desa Wedomartani dan masyarakat dari luar Desa Wedomartani. Pengajian ini mulai dilaksanakan pada tahun 2000.  Adapun  penceramah dalam pengajian ini adalah K.H Achmad Dana. Materi yang disampaikan pada pengajian tersebut di samping masalah Aqidah, Tauhid, Fiqih juga disampaikan masalah Syari’ah. K.H Achmad Dana dalam pembicaraan masalah Syari’ah menyangkut beberapa persoalan. Persoalan yang dimaksud antara lain berkenaan dengan jual beli, nikah, nazar, sholat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain.
            Adapun tujuan pemberian masalah bidang Syari’ah kepada para jama’ah dan masyarakat pada pengajian ini antara lain,
–          Menciptakan suasana kehidupan masyarakat yang giat dalam berzakat, shodaqoh, waqaf, sesuai dengan pedoman dan tuntunan syari’at Islam sehingga tercipta masyarakat Islam yang bahagia, tentram, dan damai yang diliputi suasana kekeluargaan yang akrab.
–          Menanamkan sikap gotong-royong masyarakat yang sejalan dengan tuntunan syari’at Islam, dengan demikian kehidupan masyarakat tidak terjadi perpecahan di antara umat Islam.
–          Mengikis habis peribadatan yang berdasarkan diri pada adat dan kebiasaan masyarakat yang bertentangan dengan syari’at Islam.
–          Menunjukan kepada masyarakat mengenai sistem peribadatan yang sesuai dengan tuntunan syari’at Islam.
–          Mengurangi dan membrantas penyakit masyarakat yang ada pada masyarakat seperti, perjudian, miras, perzinaan dan syirik.
–          Mendorong anggota masyarakat untuk giat beramal shaleh guna mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.   
2). Pengajian Selapanan (35 hari).
            Pengajian selapanan ini merupakan bentuk aktifitas Majelis yang diperuntukan bagi masyarakat umum. Di samping sebagai kegiatan pengajian,  acara ini juga dijadikan media silaturrohim bagi jama’ah pengajian masyarakat Wedomartani dengan jama’ah pengajian luar Desa Wedomartani, seperti, Berbah, Prambanan, Cangkringan, Bantul, Ngemplak dan sebagainya. Pengisi materi dalam pengajian ini adalah K.H. Achmad Dana selaku pendiri dari Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dan terkadang didatangkan penceramah dari luar. Adapun jama’ah yang hadir dalam pengajian ini terdiri dari anak-anak, remaja, bapak-bapak, dan ibu-ibu. Peserta pengajian yang datang dalam pengajian ini pada waktu dilakukan penelitian sekitar 200-250 orang. Mereka berlatar belakang profesi yang berbeda-beda dari pedagang kecil, petani, buruh sampai pegawai pemerintah dan swasta.  Pada umumnya materi yang disampaikan dalam pengajian ini di samping dari Al-qur’an dan Al-hadist juga  diambil dari kitab Riyadhus Sholiqin yang meliputi bidang Aqidah, Akhlak, Fiqih, dan Tauhid serta permasalahan-permasalahan lain yang berhubungan dengan kajian Muamalah. Materi tersebut dimaksudkan untuk merangsang semangat para jama’ah dan masyarakat pada umumnya untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan. Adapun pengajian selapanan ini dilaksanakan di Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah yang berpusat di rumah K.H. Achmad Dana.
            Pola dan bentuk pengajian yang dilaksanakan ini memilki tujuan untuk mendapatkan dan mencari ridhlo Allah SWT, menambah pengetahuan dan wawasan seputar agama Islam, memupuk keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT serta tercapainya ketentraman jiwa dan juga sekaligus sebagai wahana media silaturrahim kaum muslimin dan muslimat di Desa Wedomartani dan sekitarnya.
            Teknis pelaksanaan pengajian selapanan ini adalah sebagaimana pelaksanaan pengajian pada umumnya. Sebelum para jama’ah datang biasanya diawali dengan sholawatan dan hadroh yang dibawakan oleh para santri dan  ibu-ibu. Sholawatan ini berakhir apabila pengajian akan segera dimulai. Pengajian diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an dan sholawat Nabi, setelah selesai pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an dan sholawat Nabi kemudian dilanjutkan dengan mujahadah. Mujahadah dimaksudkan agar para jama’ah memantapkan hati, menyucikan hati dan ingat kepada Allah agar nantinya mudah untuk menerima apa yang penceramah berikan. Setelah mujahadah selesai kemudian dilanjutkan dengan penyampaian penceramah pengajian oleh da’i. dari keseluruhan materi yang disampaikan, lalu penceramah memberikan  kesimpulan.
            Penerapan pola pengajian ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para jama’ah untuk menggali dan mencari pengetahuan dari materi ke-Islaman. Di samping mencari bentuk pemahaman yang komprehensip terhadap materi-materi yang belum dipahami, lebih dari itu adalah pengajian semacam ini juga dimaksudkan untuk memberikan solusi alternatif atas permasalahan-permasalahan yang muncul di tengah-tengah masyarakat guna menghindari kesalahpahaman para jama’ah tentang ajaran Islam yang benar.[††††††††]  
II. Bidang Sosial Kemasyarakatan.
            Dalam hidup berkelompok manusia senantiasa mendapatkan pengaruh dari kelompoknya, sehingga dalam memanifestasikan tingkah lakunya sehari-hari menampakan ciri-ciri psikologis diri kelompok tersebut.[‡‡‡‡‡‡‡‡]Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah memiliki ciri khas ke-Islaman, karakteristik ini sangat dominan mewarnai interaksi Majelis dengan masyarakat. Demikian pula halnya Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah yang kenyataannya bisa dikatakan telah banyak mempengaruhi masyarakat Desa Wedomartani dengan ciri khasnya sendiri. Adapun aktifitas yang dilakukan oleh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan sosial kemasyarakatan warga Desa Wedomartani adalah penyembuhan atau pengobatan secara Islami.
            Dalam pelaksanaan kegiatan ini bermaksud tidak hanya kepada pasien tapi kepada orang banyak, yaitu memperlihatkan bagaimana cara penyelesaian masalah dan penyembuhan yang dilakukan dengan pendekatan agama Islam, sehingga dalam aplikasinya berdasarkan kepada Al-Qur’an dan Al-Hadist. Dalam kegiatan ini ditegaskan kepada masyarakat dan pasien khususnya, bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat kekuatan spiritual yang luar biasa dan mempunyai pengaruh mendalam atas diri manusia. Ia membangkitkan pikiran, menggelorakan perasaan, menggugah kesadaran dan menajamkan wawasan. Manusia yang berada dalam pengaruh Al-Qur’an ini seakan menjadi manusia baru yang diciptakan kembali.[§§§§§§§§]
            Kegiatan ini dimaksudkan agar masyarakat (pasien) dapat melaksanakan dan menyadari akan fungsi agama sebagai kebutuhan dan kewajiban kepada Allah SWT. Meyakini bahwa agama Islam (Al-Qur’an) salah satu obat dan pembentukan kepribadian manusia seutuhnya. Salah satu unsur kepribadian manusia adalah keyakinan beragama. Maka dengan sendirinya keyakinan itu akan dapat mengendalikan prilaku, tindakan, dan sikap dalam hidup, karena jiwa yang sehat penuh dengan keyakinan beragama itulah yang menjadi pengawas segala tindakan.[*********]
            Keimanan merupakan relasi yang mulia dengan makhluknya (manusia) dengan Allah. Karena yang demikian manusia sebagai makhluk yang paling sempurna yang ada di muka bumi, sedangkan semulia-mulia sifat yang ada dalam tubuh manusia itu ialah hatinya dan yang semulia-mulia sifat yang ada dalam hati itu ialah keimanan.
            Di samping itu kegiatan penyembuhan secara Islami ini bermaksud untuk memberi motifasi kepada masyarakat (pasien) bahwa dalam Islam ada anjuran untuk melaksanakan dan mengamalkan ajaran-ajaran Allah yang telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengikuti atau tidak. Mengamalkan ajaran agama akan dapat berpengaruh dalam menanamkan akhlak yang pada akhirnya akan merasakan sukses sebagai hamba Allah yang taat.[†††††††††]
            Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dalam memberikan bantuan penyembuhan terhadap masyarakat (pasien) yang mengalami berbagai penyakit baik itu penyakit fisik maupun non fisik seperti penyakit sepuh (tua), gangguan kejiwaan, kerasukan roh-roh makhluk halus, stres, pecandu narkoba, kanker, tumor dan lain-lain tentu ada yang menggerakannya. Tujuan Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dalam mengadakan penyembuhan antara lain, tolong menolong sesama manusia dan berdakwah melalui penyembuhan. Tolong menolong dan berdakwah inilah yang mendorong Majelis untuk  membuka pelayanan dalam bidang penyembuhan atau pengobatan. Tentunya ini tidak terlepas dari ajaran agama Islam yang mengatakan bahwa tolong menolong orang lain dan mengajak kebenaran (berdakwah) merupakan suatu kebaikan dan kebaikan itu mendapat pahala dari Allah dan dapat memuaskan hidup manusia.
            Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan peneliti selama penelitian, pengobatan/penyembuhan dilakukan oleh K.H.Acmad Dana dan dibantu oleh para santri. Adapun proses penyembuhan yang dilakukan oleh K.H Achmad Dana kepada pasien yang mengalami berbagai penyakit seperti ganguan jiwa ,kerasukan roh-roh makhluk halus, stress, pecandu narkoba dan lain-lain yaitu, tahap konsultasi. Ini dilakukan langsung begitu pasien datang. Mulailah hubungan terjalin dengan mengamati pasien, keluhan-keluhan yang dirasakan oleh pasien mulai dari rasa sakit fisik, sakit kejiwaan, kanker, tumor, sedih, takut, kurang percaya diri dan lain-lain. K.H. Acmad Dana pun menampakan sikap yang simpatik memperhatikan pembicaraan pasien. Apapun yang dikatakan pasien adalah untuk menggali informasi dari pasien berkenaan dengan penyakit yang sedang dideritanya.
            Setelah pasien berkonsultasi, K.H Achmad Dana juga menanyakan keluarganya mengenai kebiasaan hidup keluarga, pergaulan sosialnya sampai pada awal mula pasien mengalami sakit. Dalam hal ini penulis ingin menjelaskan secara singkat mengenai bentuk-bentuk penyembuhan/pengobatan yang dilakukan oleh K.H. Acmad Dana.[‡‡‡‡‡‡‡‡‡]
1). Rajah
            Yang dimaksud dengan rajah ialah potongan-potongan dari ayat Al-Qur’an yang ditulis pada sehelai kertas dan di isi dengan lafadz-lafadz do’a. Dalam pembuatan atau penulisan rajah ini berbeda-beda bentuknya disesuaikan dengan jenis penyakit yang diderita oleh pasien. Biasanya rajah ini dimasukan ke dalam air putih untuk diminumkan kepada pasien.
2). Do’a.
            Khalayak umum, anggota masyarakat di manapun mereka berada dan bagaimanapun keadaannya, semuanya membutuhkan tempat  mengadu untuk menentramkan perasaan yang sedang dihadapinya. Tempat meminta guna memenuhi kebutuhan dan keinginannya yang tidak mungkin dicapai dengan tehnologi yang canggih sekalipun.
            Allah SWT memberikan petunjuk agar kita meminta kepada-Nya. Dia tahu apa yang tersembunyi dihati manusia dan dialah yang paling dekat dengan hati manusia. Nabi Muhammad SAW menjelaskan petunjuk-petunjuk Allah tentang macam-macam do’a, sesuai dengan kebutuhan dan keadaan yang dibutuhkan oleh manusia. Ada do’a  ketika seseorang sedang mengalami kesusahan, penderitaan, ketakutan, dan sebagainya. Ada do’a ketika manusia memperoleh kebahagiaan, kepuasan, dan kegembiraan. Do’a-do’a ini amat penting guna memperkuat kesehatan mental baik untuk penyembuhan, pencegahan, maupun untuk pembinaan. Do’a-do’a inilah yang dipergunakan oleh K.H.Achmad Dana untuk mengobati para pasien.
3). Dzikir
            Dzikrullah merupakan resep Al-Qur’an tentang cara mendapatkan rasa tenang dan tentram. Dalam hal ini dzikir merupakan terapi yang dapat menghadirkan rasa tumakninah, yakni perasaan tenang dan tentram yang mendalam sebagai anugrah dari Allah SWT. Dalam Al-Qur’an surat Arro’du ayat 13 yang artinya “Orang-orang yang bertaubat yaitu orang yang beriman, hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah (dzikrullah), ingatlah dengan dzikrullah, hati menjadi tenang”. [§§§§§§§§§]     
            Secara sederhana hal  di atas dapat dirumuskan baik itu ingin mendapat ketenangan dan ketentraman maka dekatilah Dia yang maha tenang dan tentram yakni Allah SWT. Sedangkan manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan dzikrullah adalah sebagai berikut.
–          Dzikrullah sebagai sarana  komunikasi untuk mendekatkan diri kepada Allah.
–          Menjadi golongan yang unggul yakni orang-orang yang banyak melakukan dzikrullah.
–          Allah menyediakan ampunan dan pahala yang banyak bagi mereka yang banyak melakukan dzikrullah.
–          Dzikrullah membentengi diri dari bencana.
4). Puasa.
            Dalam kaitannya dengan penyembuhan gangguan jiwa yang meliputi depresi, stress dan kecemasan ini dapat dilakukan dengan puasa. Yang berarti tidak hanya menahan dari makan dan minum tetapi menahan dari segala perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan kesesatan.
            Secara psikologis puasa ini mengandung hikmah sebagai berikut:
–          Mengendalikan diri terhadap nafsu-nafsu dari dorongan jahat yang ada dalam diri manusia dengan jalan secara langsung menghadapi sumber dari nafsu dan dorongan itu.
–          Di samping mengembangkan fungsi pengendalian diri, mereka yang berpuasa secara sengaja dan sepenuh disadari berupaya untuk mengembangkan dan meningkatkan serta mengarahkan diri terhadap hal-hal yang serba baik dan yang diridloi Allah SWT.
–          Berpuasa juga terbukti bisa mengobati penyakit yang sedang diderita oleh orang yang melakukan puasa.[**********]  
III. Bidang Sosial Budaya.
            Perubahan sosial budaya banyak diakibatkan oleh program-program pemerintah sehingga peranan Majelis menjadi lemah, maka mereka mencari kemungkinan-kemungkinan untuk mengatur sendiri proses pengembangan pedesaan. Dari sinilah timbul keinginan mereka untuk turut serta, bermotifasi, membaharui dan mendominasi dalam pengorganisasian program-program pengembangan lingkungan dan potensi intelektual dan pengajaran yang mereka miliki.[††††††††††]Sehubungan dengan perubahan sosial budaya tersebut Majelis senantiasa berusaha untuk berperan aktif dan membentuk budaya masyarakat sesuai dengan kultur pedesaan dan sesuai dengan ajaran Islam.
 Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah juga senantiasa memelihara dan menjaga tradisi masyarakat Desa Wedomartani seperti, gotong-royong, upacara nyadran, upacara kematian, upacara kelahiran, upacara perkawinan dan peringatan PHBN dan PHBI. Hanya saja Majelis berusaha untuk meluruskan budaya atau adat yang dianggap melenceng dari ajaran-ajaran Islam. 
 Di samping itu juga mengadakan ukhuwah Islamiyah dengan masyarakat dan salah satunya adalah mengadakan acara halal bi halal serta menjaga hubungan baik dengan masyarakat. Untuk merintis budaya yang Islami pada santri diwajibkan untuk berusaha berbusana muslim baik itu di dalam Majelis maupun di luar Majelis. Di samping itu juga diwajibkan untuk mengucapkan salam apabila saling bertemu baik itu dengan sesama santri maupun dengan masyarakat.   
           
BAB 1V
PENGARUH MAJELIS TA’LIM MINHAJUL KAROOMAH TERHADAP MASYARAKAT DESA WEDOMARTANI, NGEMPLAK, SLEMAN
YOGYAKARTA
            Setiap masyarakat tentu akan mengalami perubahan dan perubahan itu diawali dengan adanya pola-pola berpikir baru, gagasan baru dan pengetahuan baru pada umat manusia. Pada dasarnya makhluk yang bernama manusia hidup dalam sebuah masyarakat tidak pernah mau diam tetapi senantiasa mengalami perubahan-perubahan sekali pun tidak sama cepat. Masyarakat senantiasa hendak menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan lewat adaptasi hendak dipulihkan kesamaan atau keseragaman sosial dengan menciptakan keadaan baru.[‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡]
            Dalam menganalisa perubahan pola kehidupan masyarakat sebagai salah satu perubahan sosial (social change), maka penguraiannya secara deskriptif analisis dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah dilakukannya aktivitas. Dengan begitu analisis dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peran dan pengaruh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah terhadap daerah penelitian.[§§§§§§§§§§]
            Teori evolusi yang dikemukakan oleh Herder menggambarkan perkembangan masyarakat Wedomartani bergerak secara uniliniear, mengikuti jenjang tahap demi tahap menuju ke arah kemajuan (progresif), ke arah yang semakin sempurna.[***********]Proses perubahan sosial yang dialami oleh masyarakat Wedomartani yang akan dibahas pada bab ini hanya sebatas tiga bidang  aspek kehidupan yaitu bidang sosial keagamaan, sosial kemasyarakatan, dan sosial budaya yang semuanya terjadi karena adanya pengaruh yang sangat besar dari Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dengan segala aktivitasnya.          
Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dalam usahanya untuk melakukan perubahan  dalam bidang sosial keagamaan, bidang sosial kemasyarakatan, dan bidang sosial budaya sangat didukung oleh masyarakat di dalam aktifitasnya, Majelis selalu melibatkan warga masyarakat sehingga apa yang telah dilakukan oleh Majelis bisa dirasakan oleh masyarakat.
            Sehubungan dengan perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Wedomartani, Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah mempunyai peranan yang sangat besar. Letak Majelis yang berada di daerah pedesaan dan tidak ada pagar pembatas dengan pemukiman atau rumah-rumah penduduk ini memungkinkan lembaga ini untuk memahami persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
            Dari semua kegiatan Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dalam bidang sosial keagamaan, bidang sosial kemasyarakatan, bidang sosial budaya di tengah-tengah masyarakat Wedomartani telah banyak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Dari kenyataan potensi Majelis yang demikian itu, maka Majelis dapat dijadikan sebagai pelopor adanya perubahan sosial pada beberapa aspek kehidupan, perubahan sosial itu adalah sebagai berikut,
A. Bidang Sosial Keagamaan.
            Seperti yang telah dijelaskan pada bab III, bahwa kondisi masyarakat Wedomartani sebelum adanya Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah merupakan desa yang rawan dalam segala hal sehingga pada waktu itu di daerah Desa Wedomartani kegiatan keagamaan sangat minim kecuali kegiatan sholat. Sangat sedikit orang untuk mendalami ilmu agama seperti melalui pengajian dan lain sebagainya. Bahkan pemudanya banyak yang menjadi pengangguran dan sering berbuat tindakan amoral.[†††††††††††]
            Kondisi keagamaan masyarakat yang demikian lambat laun bisa diatasi dengan adanya aktivitas yang dilakukan oleh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah melalui program-program kegiatan keagamaan yang dilakukan di Desa Wedomartani seperti Pengajian, mujahadah, dan pembinaan keagamaan kepada masyarakat, maka sedikit demi sedikit mulai ada peningkatan kesadaran dalam menjalankan ibadah.
Pengaruh yang dibawa oleh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah pada masyarakat Wedomartani terutama mereka yang bermata pencaharian sebagai petani, buruh tani, dan pedagang adalah semangat untuk menyekolahkan putra-putri mereka kejenjang yang lebih tinggi. Sebelumnya taraf pendidikan mereka sangat rendah banyak yang tidak sekolah dan hanya menempuh pendidikan sekolah dasar. Sekarang taraf pendidikan para remaja di wilayah Wedomartani paling rendah adalah lulusan SLTP, di samping itu ada yang meneruskan ke jenjang perguruan tinggi.[‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡]Selanjutnya bagi mereka yang perprofesi sebagai PNS, guru, adalah mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menyekolahkan anak-anaknya pada sekolah Islam. Serta semangat cinta agama dan lebih memahami arti esensi serta misi ajaran Islam lebih mendalam.   
Di bawah ini akan dipaparkan beberapa perubahan yang terjadi pada masyarakat Wedomartani setelah adanya kegiatan yang dilakukan oleh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dalam bidang sosial keagamaan:
  1. Timbulnya kesadaran dari warga masyarakat pergi ke Masjid untuk sholat berjama’ah.
  2. Semakin semaraknya berbagai acara keagamaan di Desa Wedomartani seperti, pengajian, mujahadah, serta sholawatan.
  3. Pergaulan anak laki-laki semakin terkendali dan mereka mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk seperti, mabuk, judi, mencuri dan lain-lain.[§§§§§§§§§§§]
  4. Kalau dulu banyak di antara warga yang setiap harinya kerasukan roh-roh makhluk halus, sekarang jarang dijumpai karena dihati mereka telah tertanam ajaran agama yang kuat.
  5. Praktek-praktek syirikpun jarang dijumpai indikasi ini terlihat dari semakin jarangnya ditemukan kembang-kembang sesaji di daerah Wedomartani.
  6. Kebiasaan mengucap salam apabila hendak masuk rumah sendiri maupun masuk rumah orang lain.
  7. Masyarakat semakin menyadari pentingnya pendidikan agama.
  8. Semakin tingginya kesadaran masyarakat terutama perempuan untuk memakai jilbab.[************]
Perubahan yang terjadi pada masyarakat Wedomartani ini merupakan nilai tambah bagi masyarakat untuk menambah pengetahuan khususnya dalam bidang keagamaan, sehingga mereka mampu menerima ajaran-ajaran Islam yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Perubahan ini merupakan sesuatu yang dapat dirasakan oleh masyarakat Wedomartani. Semangat orang untuk mendalami ilmu-ilmu agama dan peningkatan terhadap aktivitas keagamaan masyarakat merupakan perubahan dan peningkatan yang memang diharapkan oleh K.H. Achmad Dana selaku pengasuh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah.
Salah satu ciri keberhasilan sebuah lembaga seperti Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dalam memajukan pengetahuan ajaran agama masyarakat Desa Wedomartani ditandai dengan besarnya minat masyarakat untuk ikut gabung/mengaji di Majelis. Minat ini biasanya tumbuh karena melihat keberhasilan sebuah lembaga keagamaan seperti Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dalam menghasilkan sumberdaya yang berkualitas, yang secara praktis dapat menggunakan ilmunya dalam bermasyarakat. Semakin banyak jama’ah/santri yang datang di suatu Majelis pengajian menandakan tanggapan masyarakat sangat baik terhadapnya, dan hal ini sangat berkaitan dengan nilai kharismatik sang Kyai serta keahliannya dalam mengelola pendidikan yang ada.
B. Bidang Sosial Kemasyarakatan.
            Seperti telah dijelaskan pada bab III bahwa usaha-usaha yang dilakukan oleh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dalam memenuhi kebutuhan sosial masyarakat Desa Wedomartani adalah mengadakan penyembuhan atau pengobatan terhadap para warga yang mengalami sakit, baik itu fisik maupun non fisik secara Islami.
            Selain sebagai kegiatan sosial, kegiatan ini juga bertujuan sebagai media  berdakwah melalui penyembuhan, agar masyarakat dapat melaksanakan dan menyadari akan fungsi agama sebagai kebutuhan dan kewajiban kepada Allah SWT dan meyakini bahwa Al-Qur’an merupakan salah satu obat dan pembentukan kepribadian manusia seutuhnya.
            Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial tentu banyak kekurangan di samping ada sisi baiknya. Bagaimanapun pandainya seseorang dalam bidang ilmu tertentu tidaklah berguna jika ilmu tersebut tidak dinyatakan dan diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat.
            Sebagai seorang yang beragama K.H. Achmad Dana mengatakan bahwa ia terpanggil dan terdorong untuk ikut serta terjun dalam bidang sosial kemasyarakatan, khususnya dalam membantu masyarakat yang menderita berbagai penyakit, baik itu penyakit fisik maupun penyakit non fisik dengan berpedoman pada ayat Al-Qur’an yang artinya, ‘…Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa’.   (Al Maidah : 2).[††††††††††††]
            Dengan berpegang teguh pada ayat inilah tolong menolong itu sebagai suatu keharusan (kewajiban) bagi setiap orang. Maka menolong orang lain sebagai penggerak sekaligus tujuan dalam menekuni penyembuhan secara Islami. Dalam kehidupan sehari-hari beliau semakin jelas komitmennya, banyak masyarakat yang datang untuk meminta bantuan dalam upaya kesembuhan suatu penyakit bahkan di luar persoalan itu, beliau menerima dengan penuh antusias dan lapang dada.
            Dalam penyembuhan yang dilakukan oleh K.H. Achmad Dana, adanya upaya perbaikan dari kondisi yang buruk, negatif, terganggu jiwanya kepada kondisi yang baik, positif bagi kesembuhan dan kesejahteraan hidupnya. Beliau sendiri justru terjun dalam hal penyembuhan didorong oleh keinginan melaksanakan kewajiban berdakwah, ialah dengan jalan menolong atau merawat pasien yang menderita berbagai penyakit. Menyadarkan dari berbagai perbuatan manusia yang penuh nafsu kepada perbuatan yang penuh dengan cahaya Illahi.
            Dakwah dengan penyembuhan ini menurut K.H. Achmad Dana lebih terasa hasilnya, karena biasanya setelah pasien sembuh, baik pasien maupun keluarganya mudah menerima pesan-pesan dan nasehat-nasehat dari beliau untuk mengikuti dan menjalankan ajaran agama Islam seperti Sholat, Zakat, Puasa, mengaji, ibadah-ibadah sunnah dan lain sebagainya.[‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡]Dengan demikian dakwah itu tidak hanya berbicara di mimbar (ceramah) tetapi lebih merupakan tindakan yang nyata dan hal ini membuktikan bahwa agama dapat mengatasi problematika kehidupan manusia.
            Dengan adanya kegiatan tersebut nampak terasa pengaruhnya terhadap kehidupan sosial masyarakat Wedomartani terutama masalah kesehatan baik itu kesehatan jasmani maupun rohani. Serta meringankan beban masyarakat terutama masalah keuangan. Karena dalam pelaksanaan kegiatan tersebut tidak dipungut biaya. Hal ini sangat membantu sekali terutama masyarakat golongan menengah ke bawah yang bermata pencaharian sebagai petani, buruh tani, pertukangan, dan pedagang. Di samping mereka yang bermata pencaharian sebagai PNS, ABRI, Swasta. 
            
C. Bidang Sosial Budaya.
            Perubahan kebudayaan bisa terjadi karena adanya interaksi yang bersifat komunikatif seperti menyampaikan buah pikiran secara simbolis. Perubahan tersebut mencakup cara berfikir dan tingkah laku yang terjadi pada sekelompok masyarakat. Di samping itu perubahan kebudayaan juga meliputi pengetahuan, kesenian, kepercayaan, adat istiadat, hukum, serta kebiasaan manusia dalam bermasyarakat.[§§§§§§§§§§§§]
            Sehubungan perubahan budaya yang terjadi pada masyarakat Wedomartani, Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah banyak berperan dalam pembentukan budaya masyarakat. Dengan interaksi yang terjalin antara para santri Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dan masyarakat Wedomartani, maka semua gerak dan tingkah laku yang dilakukan oleh Kyai dan para santri banyak diikuti oleh masyarakat. Seperti dalam kehidupan sehari-hari, pakaian yang dikenakan oleh para santri diikuti dan ditiru oleh masyarakat. Sehingga masyarakat membiasakan memakai busana atau pakaian yang sebagaimana dianjurkan dalam ajaran Islam yaitu menutup aurat.
            Pada bab II telah dijelaskan bahwa masyarakat Wedomartani pada saat ini juga masih melestarikan budaya atau adat yang berlaku dalam masyarakat. Dalam hal ini akan dipaparkan beberapa perubahan yang terjadi pada budaya/adat masyarakat Wedomartani setelah adanya Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah,
1. Upacara Nyadran.
            Upacara nyadran yang dilaksanakan oleh masyarakat Wedomartani sebelum adanya Majelis Talim Minhajul Karoomah bertujuan untuk meminta do’a kepada yang meninggal supaya mendapatkan rejeki, mendapatkan jodoh, umur panjang dan sebagainya. Dan juga dalam acara tersebut para warga membawa sesaji, membakar kemenyan, membakar dupa. Setelah adanya Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah acara nyadran tetap dilestarikan hanya saja upacara ritual seperti membawa sesaji, membakar kemenyan, membakar dupa sedikit demi sedikit dihilangkan dan tujuannya bukan untuk meminta rejeki, jodoh akan tetapi mendo’akan keluarga yang telah meninggal agar segala dosa yang diperbuat selama hidup di dunia mendapat ampunan dari Allah SWT.
2. Upacara Kelahiran, Upacara Perkawinan, Upacara Kematian.
            Pengaruh yang menonjol pada acara tersebut pada masyarakat Wedomartani setelah adanya Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah adalah kesadaran dari warga untuk mengadakan acara pengajian setiap mereka mengadakan acara perkawinan dan tasyakuran bayi juga akhiqoh bagi mereka yang mampu. Untuk acara upacara kematian diadakan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an hingga khatam  sampai 7 hari kematian.
3. Peringatan PHBN dan PHBI sebagai kegiatan rutin masyarakat Desa Wedomartani setiap tahun hanya diperingati oleh warga dengan mengadakan berbagai lomba dan pertunjukan kesenian rakyat. Setelah adanya Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah  selain mengadakan berbagai lomba dan pertunjukan kesenian rakyat, masyarakat Wedomartani juga mengadakan pengajian, mujahadah, dan sholawatan.[*************]
            Hasil nyata dari pengaruh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dalam bidang sosial budaya terutama mereka yang permata pencaharian  sebagai petani, buruh tani, pedagang, pertukangan adalah mereka sedikit demi sedikit  meninggalkan budaya atau adat yang dilarang oleh Agama Islam.
            Itulah beberapa peran dan pengaruh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Desa Wedomartani, maka terbukti dengan jelas bahwa keberadaan  Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah di tengah-tengah masyarakat Wedomartani telah mampu untuk mengubah kondisi budaya masyarakat walaupun perubahan tersebut secara bertahap.                 
                          
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
            Berdasarkan uraian dan penjelasan pada bab terdahulu, dan sebagai akhir dari pembahasan skripsi ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
            Keadaan masyarakat  Desa Wedomartani sebelum adanya Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah merupakan desa yang masih rawan terhadap segala hal, praktek-praktek syirik, tindakan amoral seperti, mabuk, judi, dan banyak setiap harinya warga yang kerasukan roh-roh makhluk halus. Ini semua akibat dari masih minimnya pengetahuan keagamaan yang dimiliki oleh masyarakat Wedomartani . 
Pendirian Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah yang dipelopori oleh K.H. Achmad Dana memang sangat diharapkan oleh masyarakat Wedomartani guna memperbaiki dan meluruskan keadaan masyarakat sebagaimana tersebut di atas. Sehingga tingkah laku dan pola pikir mereka sesuai dengan ajaran Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Perkembangan pesat Majelis terjadi  pada tahun 1997-1999 dan 2000-2002. Indikasi tersebut ditandai dengan banyaknya jumlah jama’ah/santri yang bergabung untuk mengikuti pengajian di Majelis ini.
   Di samping bergerak dalam bidang sosial keagamaan,  yang meliputi pengajian mingguan, pengajian selapanan, dan mujahadah, pada tahun 1997 Majelis tersebut juga bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan dan bidang sosial budaya. Dalam bidang sosial kemasyarakatan aktivitas yang dilakukan Majelis adalah mengadakan penyembuhan/pengobatan secara Islami. Adapun dalam bidang sosial budaya aktivitas yang dilakukan Majelis adalah berusaha meluruskan budaya atau adat yang melenceng dari ajaran-ajaran Islam. 
Segala aktivitas yang dilakukan oleh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah tersebut ternyata membawa pengaruh besar terhadap masyarakat Wedomartani, dalam berbagai aspek kehidupan yaitu bidang sosial keagamaan antara lain, masyarakat Wedomartani mulai ada peningkatan kesadaran dalam menjalankan ibadah baik itu ibadah sunnah maupun ibadah wajib, adanya kesadaran dari warga untuk pergi ke masjid guna sholat berjam’ah, serta semakin semaraknya berbagai kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat Wedomartani seperti, pengajian, mujahadah, sholawatan dan lain-lain. Dalam bidang sosial kemasyarakatan yaitu dengan adanya pengobatan/penyembuhan yang dilakukan oleh Majelis secara gratis maka sedikit meringankan dan membantu  beban masyarakat masalah kesehatan, baik itu kesehatan fisik maupun non fisik dan juga keuangan. Adapun dalam bidang sosial  budaya yaitu masyarakat sedikit demi sedikit mulai meninggalkan adat atau budaya yang dilarang oleh Agama Islam.
B. SARAN-SARAN
            Setelah mengadakan penelitian di Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah di Desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman, maka di sini penulis akan sedikit memberikan saran-saran atau masukan yang mungkin berguna bagi santri, pengasuh Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah guna meningkatkan kualitas kegiatan yang sudah berjalan.
  1. Kepada para santri agar lebih ditingkatkan interaksinya dengan masyarakat sehingga hubungan santri dan warga masyarakat makin baik dan harmonis. Dan setelah selesai belajar dari Majelis, bisa mengembangkan, menggunakan,  menempatkan diri serta mengamalkan ilmunya di manapun berada sehingga ilmu yang telah didapat selama belajar di Majelis dapat bermanfaat dan diabdikan.
  2. Kepada pengasuh, supaya ditingkatkan integrasi Majelis dengan masyarakat luar Desa Wedomartani pada umumnya dan masyarakat Wedomartani pada khususnya, sehingga keberadaan Majelis dan segala aktifitasnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas dan tidak hanya terbatas pada masyarakat Wedomartani.
  3. Kepada pemerintah setempat agar memperhatikan keberadaan Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah mengingat peranannya terhadap masyarakat sangat tinggi dalam pengembangan swadaya masyarakat.
Kata penutup:
            Dengan mengucap syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas petunjuk dan hidayah-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, dengan menyadari keterbatasan dan kemampuan penulis dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Maka penulis mengharapkan dan akan sangat menghargai saran serta kritik demi kesempurnaan penulisan di masa mendatang.
            Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya serta dapat menambah khasanah perbendaharaan Sejarah dan Peradaban Islam. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
Al Math, Muhammad Faiz. Keistimewaan Islam. Jakarta: Gema Insani Press. 1995.
Amin, M. Masyhur. Dinamika Islam: Sejarah Tranformasi dan Kebudayaan. Yogyakarta: LPKSM. 1995.
Al Munawar, Said Agil Husain. Al Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki. Jakarta: Cipta Press. 2002.
Abdurrahman, Dudung. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu. 1999.
Arifin, H. Muhammad. Psikologi Dakwah: Suatu Pengantar Study. Jakarta: Bumi Aksara. 1993.
Ariyani, Wulansari. Yayasan Syajaratul Thayyibah Dalam Perspektif Sejarah Keagamaan di Kecamtan Kebumen (1985-1998). Yogyakarta: Skripsi S-1 Fakultas Adab IAIN SU-KA. 2000.
Daradjat, Zakiyah. Pendidikan Agama Dalam Pembinaan Mental. Jakarta: Bulan Bintang. 1982.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Perubahan Pola kehidupan Masyarakat. Jakarta: Dekdikbud. 1991.
Departemen Agama. Al qur’an dan Terjemahan. Semarang: Asy-Syifah. 1994.
Gazalba, Sidi. Islam dan Perubahan Sosial Budaya: Kajian Islam Tentang Perubahan Masyarakat. Jakarta: Pustaka Al Husna. 1993.
Gottschalk, Lois. Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah, Terjemahan Nugroho Notosusanto. Jakarta: UI Press. 1999.
Gazalba, Sidi. Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu. Jakarta: Bathara Karya Aksara. 1981.
Hasan, Nasihin. Dinamika Pesantren. Jakarta: P3M. !998.
Jalaludin. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafinda Perkasa. 1997.
Kartodirjo, Sartono. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1993.
Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bintang Budaya. 1997.
Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. 1981.
Monografi Desa Wedomartani. 2002.
Najati, Usman. Al qur’an dan Ilmu Jiwa, Terjemahan Achmad Rofi’. Bandung: Pustaka. 1985.
Renies, G.JJ. Metode dan Manfaat Ilmu Sejarah, Terjemahan Muin Umar. Jogjakarta: Pustaka Pelajar. 1997.
Suratmad, Winarto. Pendekatan penelitian Ilmiah: Dasar Metode dan Tehnik. Bandung: Tarsito. 1980.
Santoso, Nugroho. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer. Jakarta: Yayasan Idayu. 1978.
Salamun. Sejarah dan Kebudayaan. Yogyakarta: Pusat penelitian Sejarah dan Budaya. 1980.
Soekamto, Sarjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali. 1990.
Ziemik, Manfred. Pesantren dan Perubahan Sosial. Jakarta: P3M. 1986. 
            

[*] Departemen Agama, Al Qur’an dan Terjemahan (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemahan/Penafsiran Al Qur’an, 1990), hlm. 919.
[†] Muhammad Faiz al Math, Keistimewaan Islam  (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hlm. 13.
[‡] Masyhur Amin, Dinamika Islam:Sejarah Transformasi dan Kebudayaan (Yogyakarta: LPKSM, 1995),hlm. 94.
[§] Muhammad Faiz al Math, Keistimewaan Islam  (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hlm. 18.
4 Said Agil Husein al Munawar, Al Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki (Jakarta: Cipta Press, 2002), hlm. 288.
[††] Sidi Gasalba, Islam dan Perubahan Sosial Budaya: Kajian Islam Tentang Perubahan Masyarakat  (Jakarta: Pustaka Al Husnah, 1983), hlm. 171.
[‡‡] Wawancara dengan Achmad Dana, Tanggal  7 Oktober 2003.
[§§] Wulansari Ariyani, Yayasan Syajarotun Thyibah Dalam Perspektif  Sejarah Keagamaan di Kecamatan Kebumen(1985-1998)  (Skripsi S-1 Fakultas Adab IAIN SU-KA, 2000), hlm. 19.
[***]  Sidi Gazalba, Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu  (Jakarta: Bathara Karya Aksara, 1981), hlm. 134.
  
[†††] Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. 4.
[‡‡‡] Dudung Abdurrohman, Metodologi Penelitian Sejarah  (Jakarta: Logos, 1999), hlm. 11.
[§§§] Lois Gottschalk, Mengerti  Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto (Jakarta: UI Press, 1999), hlm. 32.
[****] G. JJ. Renies, Metode dan Manfaat Ilmu Sajarah; Terjemahan Muin Umar (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm. 113.
[††††] Winarto Suratmad, Pendekatan Penelitian Ilmiah: Dasar Metode dan Teknik (Bandung, Tarsito, 1980), hlm. 153.
     
[‡‡‡‡] Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya, 1995), hlm. 99.
[§§§§] Nugroho Santoso, Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (Jakarta: Yayasan Idayu, 1978), hlm. 15.
[*****]  Monografi Desa Wedomartani tahun 2002.
[†††††]  Wawancara dengan Bejo Santoso, Tanggal 13 Desember 2003.
[‡‡‡‡‡] Salamun, Sejarah dan Budaya(Yogyakarta: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, 1980), hlm. 40.
[§§§§§] Suyoso dan Puji Wati, Sosiologi Pedesaan (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1989), hlm. 341.
[******]  Wawancara dengan Achmad Dana, Tanggal  8 Januari 2004.
[††††††]  Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: Rineka Cipta, 1981), hlm. 187.
[‡‡‡‡‡‡]  Wawancara dengan Bejo Santoso, Tanggal 8 Desember 2003.
[§§§§§§]  Wawancara dengan Achmad Dana, Tanggal 8 Januari 2004.
[*******]  Wawancara dengan Achmad Dana, Tanggal 12 Januari 2004.
[†††††††] Dokumen Majelis Ta’lim Minhajul Karoomah, dikutip tanggal 29 Maret 2004.
[‡‡‡‡‡‡‡] Nasihin Hasan, Dinamika Pesantren  (Jakarta: P3M, 1998), hlm. 112.
[§§§§§§§] Sidi Gazalba, Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu  (Jakarta: Bhatara, 1981), hlm. 141.
[********] Wawancara dengan Muheri,  Tanggal 20 Desember 2003.
[††††††††] Wawancara dengan Achmad Dana, Tanggal 14 Maret 2004.
[‡‡‡‡‡‡‡‡] H.M. Arifin, Psikologi Dakwah: Suatu Pengantar Studi  (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), hlm. 102.
[§§§§§§§§] Ustman Najati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, Terjemahan Ahmad Rofi’ Ustman  (Bandung: Pustaka, 1985), hlm. 189.
[*********]  Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama Dalam Pembinaan Mental(Jakarta: Bulan Bintang, 1982), hlm. 45.
[†††††††††] Jalaludin, Psikologi Agama  (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 143.
[‡‡‡‡‡‡‡‡‡] Wawancara dengan Achmad Dana, Tanggal 8 Januari 2004.
[§§§§§§§§§] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan (Semarang: Asy-Syifah, 1994), hlm.  315.
[**********] Wawancara dengan Achmad Dana, Tanggal 10 Maret 2004.
[††††††††††] Manfred Ziemek, Pesantren dan Perubahan Sosial (Jakarta: P3M, 1986), hlm. 189.
[‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡] Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hlm. 163.
[§§§§§§§§§§] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Perubahan Pola Kehidupan Masyarakat (Jakarta: Dekdikbud, 1991), hlm. 65.
[***********]  Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, hlm. 162.
[†††††††††††] Wawancara dengan Sarijo, Tanggal 20 April 2004.
[‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡] Wawancara dengan Bejo Santoso, Tanggal 4 Juli 2004.
[§§§§§§§§§§§] Wawancara dengan Sarijo, Tanggal 20 Mei 2004.
[************] Wawancara dengan Bejo Santoso, Tanggal 13 Januari 2004.
[††††††††††††]  Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan (Semarang: Asy-Syifah, 1994), hlm. 153.
[‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡‡] Wawancara dengan Achmad Dana, Tanggal 12 Maret 2004.
[§§§§§§§§§§§§] Sarjono Soekamto, Sosiologi Suatu Pengantar  (Jakarta: Rajawali, 1990), hlm. 341 
[*************] Wawancara dengan Bejo Santoso, Tanggal 12 Maret 2004.
www.web.unmetered.co.id
unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "MAJELIS TA’LIM MINHAJUL KAROOMAH DAN PENGARUHNYA TERHADAP MASYARAKAT DESA WEDOMARTANI, NGEMPLAK, SLEMAN, YOGYAKARTA 1995-2002 M"