plasa

Media Gambar dalam Pengajaran Kosakata Bahasa Arab Di TK Al-Islam I Jamsaren Jawa Tengah

Media Gambar dalam Pengajaran Kosakata Bahasa Arab Di TK Al-Islam I Jamsaren Jawa Tengah ( Oleh Team www.seowaps.com )
 BAB I
PENDAHULUAN
 A.    Penegasan Istilah
Untuk memperoleh kesatuan pengertian dan menghindari kesalahpahaman dalam memahami judul skripsi ini, maka penulis menganggap perlu adanya beberapa batasan dan penegasan istilah sebagai berikut:
1.      Media Gambar
Media adalah alat.[1]Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium. Secara harfiah medium berarti perantara atau pengantar. Media adalah pengantar pesan dari pengirim kepada penerima.
Sedangkan gambar adalah hasil dari pelahiran perasaan serta fantasi dalam bentuk goresan. Gambar dapat berupa tiruan barang, orang, binatang, tumbuhan dan sebagainya.[2] Maka yang disebut dengan media gambar adalah perantara atau pengantar pesan dalam bentuk goresan atau dapat juga berupa tiruan barang, orang, binatang, tumbuhan dan sebagainya dari pengirim pesan ke penerima pesan.
2.      Pengajaran Kosakata Bahasa Arab
Pengajaran adalah operasionalisasi dari kurikulum yang terjadi apabila terdapat interaksi siswa dengan lingkungan belajar yang diatur oleh guru untuk mencapai tujuan. Sedangkan proses pengajaran atau interaksi belajar ditandai dengan adanya sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lain yaitu tujuan, bahan, metode, teknik, pendekatan, media dan penilaian.[3]
Kosakata artinya perbendaharaan kata.[4] Kosakata (vocabulary) dalam bahasa arab disebut mufrodat. Sedangkan bahasa Arab didefinisikan sebagai kata-kata yang digunakan bangsa Arab dalam mengutarakan maksud, perasaan maupun pikiran mereka. Disamping itu bahasa Arab merupakan bahasa agama, ilmu pengetahuan dan bahasa internasional.
Adapun yang dimaksud dengan judul skripsi ini adalah pengajaran sebagian kosakata/mufrodat yang diambil dari tema panca indra, warna-warna dan beberapa benda yang ada di sekitar sekolah atau rumah dengan menggunakan media gambar yang bertujuan agar anak mengenal dan menguasai kosakata tersebut dengan baik dan benar.
3.      TK Al-Islam I Jamsaren Surakarta
Dalam PP RI No. 27 tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah, bab I pasal I ayat (2) dinyatakan bahwa yang diamaksud dengan Taman Kanak-kanak (TK) adalah salah satu bentuk pendidikan dini bagi anak usia empat tahun sampai memasuki pendidikan dasar.[5] lebih lanjut dijelaskan bahwa satuan pendidikan prasekolah meliputi Taman Kanak-kanak, Kelompok Bermain dan Penitipan Anak. Taman Kanak-kanak berada di jalur pendidikan sekolah sedangkan Kelompok Bermain dan Penitipan Anak terdapat di jalur pendidikan luar sekolah..
TK Al-Islam I ini merupakan sebuah lembaga pendidikan sekolah yang bercirikan Islam yang terletak di jantung kota Surakarta, tepatnya di Jl. Veteran No. 261 Surakarta.
4.      Studi Eksperimen
Studi artinya kajian, telaah, penelitian. Eksperimen berasal dari kata eksperiment(Inggris) yang berarti percobaan (John M Echols dan Hassan Sadily, 1987: 225). Sedangkan percobaan berarti usaha untuk mencoba sesuatu, usaha hendak berbuat atau melakukan sesuatu. [6]
Adapun maksud penggunaan istilah eksperimen dalam skripsi ini adalah sebagai usaha melakukan atau mencoba penggunaan media gambar untuk mengenalkan kosakata bahasa Arab pada anak usia prasekolah.
5.      Anak Usia Prasekolah
Yang dimaksud dengan anak usia prasekolah adalah mereka yang berusia antara 3-6 tahun.[7] Menurut Biechler dan Snowman (1993), mereka biasanya mengikuti program prasekolah dan kindergarten, sedangkan di Indonesia umumnya mereka mengikuti program tempat penitipan anak (3 bulan-5 tahun) dan kelompok bermain (usia 3 tahun), sedangkan pada usia 4-6 tahun biasanya mereka mengikuti program Taman Kanak-Kanak.
Jadi yang dimaksud skripsi ini adalah sebuah penelitian dengan ujicoba (eksperimen) media gambar dalam pengajaran kosakata bahasa arab pada anak usia prasekolah di TK Al-Islam I pada kelas nol besar (kelompok B4) Jamsaren Surakarta yang bertujuan untuk mengenalkan kosakata bahasa Arab pada anak usia prasekolah dan mempermudah penguasaannya. Dipilihnya media gambar sebagai salah satu alternatif pemilihan media pengajaran karena media gambar dianggap lebih tepat dan lebih optimal hasilnya bagi anak usia prasekolah, sehingga akan mempermudah para pelajar untuk trampil dan mahir dalam berbahasa Arab sesuai dengan tujuan pengajaran bahasa Arab.

B.     Latar Belakang Masalah

Bahasa Arab sebagai bahasa asing tetap menempati posisi penting di Indonesia, khususnya bagi umat Islam, tidak lain karena kedudukan bahasa Arab sebagai bahasa agama umat Islam. Bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an dan Al-Hadist, keduanya adalah dasar agama Islam serta bahasa kebudayaan Islam seperti filsafat, ilmu kalam, ilmu hadis, tafsir dan lain sebagainya.[8]
Dari uraian tersebut, tergambar dengan jelas betapa urgennya untuk mengetahui bahasa Arab bagi umat Islam, bahkan bahasa Arab dijadikan sebagai bagian dari mata pelajaran pendidikan agama Islam yang tak terpisahkan. Maka tidak berlebihan jika bahasa Arab perlu mendapat penekanan dan perhatian seksama mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak sampai pada lembaga pendidikan tinggi, baik negeri ataupun swasta, umum maupun agama untuk digalakkan dan diajarkan. Hal ini tentu disesuaikan dengan taraf  kemampuan dan perkembangan anak didik.[9]
Kita semua memahami bahwa pendidikan usia dini memiliki peran yang cukup strategis dan sekaligus krusial bagi proses perkembangan anak dalam masyarakat, karena pada usia dini berbagai aspek kepribadian seseorang mulai berkembang dan tumbuh. Pertumbuhan dan perkembangan pada suatu tahap menentukan keberhasilan seseorang dalam menjalankan tugas perkembangan pada tahap perkembangan selanjutnya, termasuk dalam hal perkembangan bahasa.
Berdasarkan hasil penelitian Mc Laughlin (1978) dan Ganesee (1978) mengemukakan bahwa anak-anak lebih cepat memperoleh bahasa tanpa kesukaran daripada orang dewasa.[10]Pendapat ini didukung oleh Joan Beck yang menyatakan bahwa anak akan menggunakan bahasa dengan baik sebelum umur lima tahun, ia juga belajar bahasa lebih mudah pada tahun-tahun ini dibandingkan pada masa berikutnya oleh karena keadaan fisik otaknya yang sedang berkembang.[11]
Dari pendapat tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang sangat penting untuk membentuk mental yang positif bagi kehidupannya. Anak dapat diberi modal dasar berupa ketrampilan bahasa asing, mengingat pada masa ini anak masih sangat baik ingatannya. Pengajaran bahasa pada anak bila dimulai sejak dini akan lebih bagus dan optimal hasilnya daripada pengajaran kepada orang dewasa. Hal ini dikarenakan pada saat itu otak anak masih lentur sehingga dapat diukir ucapan yang akurat.
Proses belajar mengajar merupakan suatu kegiatan melaksanakan kurikulum suatu lembaga pendidikan agar dapat mempengaruhi peserta didik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan pendidikan pada dasarnya mengantarkan siswa menuju perubahan tingkah laku baik intelektual, moral maupun sosial agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan makhluk sosial.[12]
Taman Kanak-kanak merupakan suatu lembaga pendidikan formal paling awal. Dengan pengertian lain, pendidikan prasekolah secara formal diwujudkan dalam bentuk Taman Kanak-kanak yang pada hakekatnya merupakan tempat bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain. Sesuai dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0125/U/1994 tanggal 16 Mei 1994 disebutkan bahwa program kegiatan belajar TK bertujuan untuk: membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, ketrampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.[13]
Untuk mencapai tujuan pendidikan diatas, maka diuraikan menjadi program kegiatan belajar dalam rangka pengembangan kemampuan dasar yang meliputi:
1.      Daya Cipta
2.      Bahasa
3.      Daya Pikir
4.      Ketrampilan
5.      Jasmani[14]
Pengajaran bahasa Arab bagi anak prasekolah adalah suatu aktivitas atau proses penguasaan pengetahuan ketrampilan belajar mengajar yang diarahkan untuk mendorong, membimbing, mengembangkan dan membina ketrampilan bahasa Arab fusha. Pengajaran bahasa Arab di TK ini bertujuan untuk memberikan bekal bahasa asing dalam bentuk yang sangat sederhana yaitu dalam bentuk penguasaan kosakata, karena kosakata sangat memegang peranan penting dalam bahasa asing, terlebih dalam proses belajar mengajar bahasa arab. Kualitas berbahasa seseorang jelas tergantung pada kualitas dan kuantitas kosakata yang dimiliknya. Semakin banyak kosakata yang dimiliki maka semakin besar juga kemungkinan untuk trampil berbahasa.[15]
Salah satu aspek yang menentukan keberhasilan pengajaran bahasa Arab khususnya dalam pengajaran kosakata ini adalah aspek metodologi. Sebab metodelah yang menentukan isi dan cara mengajar.[16] Dalam metodologi pengajaran terdapat dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar. Dari bermacam-macam alat bantu dalam berbagai ragam dan bentuk, ternyata alat bantu yang berupa gambar merupakan alat bantu yang paling efektif dan efisien untuk mengajarkan kosakata dalam bahasa Arab.
Media gambar sangat penting digunakan dalam usaha memperjelas pengertian pada peserta didik sehingga dengan menggunakan media gambar peserta didik lebih memperhatikan terhadap tanda benda atau hal-hal yang belum pernah dilihatnya yang berkaitan dengan materi pengajaran. Gambar dapat membantu guru dalam mencapai tujuan instruksional, karena gambar termasuk media yang mudah dan murah serta besar artinya untuk mempertinggi nilai pengajaran.[17] Dengan gambar, pengertian dan pengalaman peserta didik menjadi lebih luas, lebih jelas dan tidak mudah dilupakan serta lebih konkrit dalam ingatan dan asosiasi peserta didik. Oleh karena itu pengalaman langsung dan pengalaman konkrit yang kemudian menuju kemampuan abstrak merupakan cara belajar yang efektif dan efisien.
Sisi menarik dari penggunaan media gambar ini adalah tercapainya iklim belajar yang menyenangkan dan lebih menarik perhatian belajar. Anak dapat belajar sambil bermain dengan suasana riang gembira. George Lozanov seperti yang dikutip oleh Mulyanto Sumardi dalam pidato naskah pengukuhannya menyatakan bahwa hanya dalam keadaan riang gembira dan senang siswa akan mudah mengaktualisasikan seluruh potensi yang terpendam.
Dengan demikian media dirasa sangat urgen dan sangat signifikan dalam proses belajar mengajar. Urgensi media pendidikan juga dipertegas dengan sebuah teori yang menyatakan bahwa totalitas prosentasi banyaknya ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dimiliki seseorang terbanyak dan tertinggi melalui indra mata dan pengalaman langsung melakukan sendiri.
Sebagai calon pengajar bahasa, seorang guru harus memahami sifat dan asumsi dasar mengenai anak prasekolah dalam proses belajar mengajar. Dalam buku pengembangan anak usia Taman Kanak-kanak dikemukakan tentang asumsi dasar mengenai anak yang meliputi :
Pertama, setiap anak adalah unik. Setiap anak akan berkembang sesuai dengan tempo dan kecepatannya masing-masing.
Kedua, anak berkembang melalui beberapa tahapan sebagaimana perkembangan manusia pada umumnya. Anak sebagai sosok manusia yang utuh mengalami aspek fisik, kognitif, afektif maupun intuitif yang saling berkaitan.
Ketiga, setiap anak adalah “pelajar” yang aktif. Belajar bagi anak adalah segala sesuatu yang dikerjakannya, sedangkan bermain adalah wahana belajar dan bekerja bagi anak. Pada usia prasekolah anak senang memperhatikan, mencium, membuat suara, meraba dan mengecap. Lingkungan yang “kaya” akan banyak memberikan rangsangan mental sehingga dapat menumbuhkan minat anak dan menggiatkan mereka aktif belajar.[18]
Taman Kanak-kanak Al-Islam I sebagai salah satu lembaga pendidikan yang bercirikan Islam mengarah pada pembentukan kebiasaan Islami pada diri anak didik baik dalam segi kehidupan sehari-hari yang bersifat pribadi maupun kehidupan kemasyarakatan. Dan secara umum tujuan Pengembangan kehidupan Beragama (PKB) di TK adalah menanamkan benih-benih keimanan dan ketaqwaan sedini mungkin dalam kepribadian anak didik sebagaimana terlihat dalam perkembangan kehidupan jasmaniah dan rohaniah sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Berdasarkan observasi yang penulis lakukan, pengajaran bahasa Arab di TK Al-Islam I ini belum dilaksanakan secara intensif dan optimal. Bahasa Arab  baru diajarkan dalam bentuk yang sangat sederhana dan  hanya sebatas  pada pengenalan angka-angka dalam bahasa Arab dari 1 hingga 10. Maka dari itu, mengingat pentingnya mempelajari bahasa Arab bagi umat Islam yang dimulai sejak usia dini, penulis tertarik untuk mengenalkan lebih dalam bahasa Arab pada anak usia prasekolah dengan menggunakan media yang kiranya sesuai bagi tingkat perkembangan anak usia ini. Selain itu, usia prasekolah merupakan usia emas, dimana anak dapat mengingat segala hal yang diajarkan padanya dengan mudah dan cepat. Sebagaimana kata mutiara yang berbunyi  “Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir diatas batu dan belajar diwaktu besar bagaikan mengukir diatas air” 
Kegunaan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses belajar mengajar yang dilaksanakan di TK Al-Islam I Jamsaren Surakarta, khususnya dalam memberikan ketrampilan dalam berbahasa asing. Berdasarkan uraian diatas, penulis menganggap penting untuk mengadakan penelitian tentang Media Gambar Dalam  Pengajaran Kosakata Bahasa Arab Di TK Al-Islam I Jamsaren Surakarta Jawa Tengah (Studi Eksperimen Pada Anak Usia Prasekolah Kelompok B4)”

C.    Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.      Sejauh mana belajar bahasa Arab dengan menggunakan media gambar dapat memberikan kemudahan bagi anak usia prasekolah di TK Al-Islam kelompok B4 dalam menguasai kosakata Bahasa Arab?
2.      Adakah perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kosakata bahasa Arab yang menggunakan media gambar dengan pengajaran biasa (tanpa menggunakan media gambar)?

D.    Kerangka Teoritik

Dalam membahas masalah ini ada beberapa hal pokok yang menjadi dasar kerangka teoritik, yaitu:
1.      Tinjauan Media Pendidikan
a.       Pengertian Media Pendidikan
Kata media berasal dari kata latin “medius” yang artinya “tengah”. Secara umum media adalah semua bentuk perantara untuk menyebar, membawa atau menyampaikan sesuatu pesan (message) dan gagasan kepada penerima.[19] Sedangkan Yusuf Hadi Miarso dalam salah satu artikelnya memberikan batasan media pendidikan tersebut sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa, sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada siswa.
Drs. Amir Achsin menyatakan bahwa media pendidikan secara luas diartikan “setiap orang, bahan, alat atau kejadian yang memantapkan kondisi memungkinkan siswa dalam memperoleh pengetahuan dan ketrampilan sikap”.[20]
Berdasarkan pengertian yang disampaikan oleh para ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa media pendidikan merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perbuatan, minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi pada diri siswa.
b.      Fungsi Media Pendidikan
Sebagaimana yang disampaikan oleh Arief S. Sadiman dalam bukunya bahwa secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan sebagai berikut:
1)      Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik.
2)      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra.
3)      Dapat digunakan sebagai variasi dalam pengajaran. Dalam hal ini media berguna untuk :
a)      Menimbulkan gairah belajar.
b)      Memungkinkan interaksi langsung antara anak didik dengan lingkungan kenyataan.
c)      Memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
d)     Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan.
c.       Klasifikasi Media Pendidikan
Rudi Bretzsebagaimana dikutip oleh Arief S. sadiman membagi media dalam delapan klasifikasi, yaitu: 1) media audio visual gerak, 2) media audio visual diam, 3) media audio semi gerak, 5) media visual diam, 6) media semi gerak, 7) media audio, 8) media cetak. Sedangkan Gagne, tanpa menyebut jenis dari masing-masing medianya membuat tujuh macam pengelompokan media, yaitu benda untuk didemontrasikan, komunikasi lisan, media cetak, media gambar diam, gambar gerak, film bersuara dan mesin belajar.[21]
Selain klasifikasi diatas, masih banyak klasifikasi yang dikemukakan oleh para ahli yang secara umum mereka berpendapat bahwa media pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu media visual, media audio dan media audio visual.
2.      Tinjauan Mengenai Gambar.
a.       Pengertian Gambar
Gambar oleh Dr. Oemar Hamalik diartikan sebagai segala sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi sebagai curahan perasaan atau pikiran, yang terdiri atas lukisan, ilustrasi, karikatur, kartun, poster, gambar, seri, potret, dan slide.[22] Media gambar merupakan suatu sarana pengajaran yang berbentuk gambar yang mengandung makna, situasi, keadaan, peristiwa dan benda.
Menurut Kamal Ibrahim Barori dalam bukunya “Ta’limul Lughot Ajnabiyah Lidauroti Tadrisiyah Al-Maksyafah” menyatakan bahwa media gambar dalam pengajaran kosakata ada 2 macam yaitu:
1)      Gambar Murakkabah, yang meliputi judul-judul bacaan, dialog yang menggambarkan situasi. Gambar ini disajikan dengan menjelaskan sebagian mufrodat yang dimaksud dalam bacaan serta melatih pola kalimat.
2)      Gambar mufrodat, yang mencakup sesuatu yang tunggal yaitu satu benda, satu perbuatan dan lain-lain. Gambar ini disajikan untuk menjelaskan kata-kata terpisah dan menyajikan kata baru, misalnya nama hewan/tumbuhan. 
Gambar termasuk ke dalam bagian media visual. Fungsi media visual sama halnya dengan fungsi media pendidikan yaitu alat penyampaian pesan. Secara khusus media visual berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin untuk cepat dilupakan bila tidak digrafiskan. Siswa juga lebih meminati gambar terutama gambar-gambar berwarna, sederhana dan realisme.
Media gambar bila ditinjau dari pembuatannya dibedakan menjadi 2 yaitu gambar fotografi dan gambar tangan. Gambar fotografi dapat diproduksi dengan sengaja baik oleh foto sendiri maupun yang ada di pasaran. Sedangkan pembuatan yang mudah dan relatif murah harganya dengan cara menggambar sendiri di papan tulis/karton., selain itu dapat menggunting gambar-gambar dari majalah dan surat kabar. Bila dilihat dari isinya gambar untuk pengajaran ada dua yaitu satu perbuatan dan satu orang/benda. Sedangkan tipe kedua menggambarkan suatu situasi yang mengandung beberapa kegiatan, orang/benda.[23]
b.      Nilai Gambar dalam Pendidikan
Ada beberapa alasan dipilihnya gambar sebagai media yang paling efektif dan efisien dalam pengajaran, khususnya pengajaran kosakata bahasa Arab ini adalah sebagai berikut:
1)      Gambar bersifat konkrit.
2)      Gambar mengatasi ruang dan waktu
3)      Gambar mengatasi kekurangan daya maupun panca indera manusia
4)      Dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu masalah, karena itu bernilai terhadap semua pelajaran di sekolah.
5)      Gambar-gambar mudah didapat dan murah
6)      Mudah digunakan, baik untuk perorangan maupun untuk kelompok.[24]
3.      Tinjauan Kosakata
a.       Urgensi Kosakata
Sarinah Hardjono dalam bukunya Psikologi Belajar Mengajar Bahasa Asing mengemukakan bahwa dari semua aspek bahasa asing yang harus dikuasai siswa dalam proses belajar mengajar bahasa asing adalah aspek kosakata yang dianggap paling penting.[25]Dalam hal ini Dr Muhammad Al-Khuli dalam bukunya Assalib Tadris Al-lughoh Al-Arobiyah menyatakan bahwa pada kenyataannya penguasaan atau pengetahuan kosakata (mufrodat) mempunyai faedah bahkan penting sekali, karena penguasaan kosakata ini bermanfaat bagi orang non Arab yang ingin menulis atau mengarang dengan menggunakan bahasa Arab.[26]
Dengan adanya penguasaan bahasa yang memiliki fungsi untuk berkomunikasi dengan baik, maka seorang pembelajar bahasa harus menguasai kosakata, karena kosakata akan banyak membantu siswa dalam belajar bahasa asing terutama dalam menguasai keempat ketrampilan berbahasa yaitu menyimak, membaca, berbicara dan menulis.
Oleh karena itu dalam bahasa manapun, perihal kata mendapat perhatian yang besar untuk dipelajari tidak terkecuali bahasa Arab. Manusia mengungkapkan berbagai peristiwa dan pengalaman dalam hidupnya sehari-hari dengan menggunakan kata-kata yang tersusun dalam kalimat. Untuk itu penguasaan kosakata adalah suatu yang utama untuk dipelajari dan sebagai syarat bagi mereka yang ingin mahir dalam berbahasa karena kualitas berbahasa seseorang jelas tergantung pada kualitas dan kuantitas kosakata yang dimilikinya. Semakin banyak kosakata yang dimiliki, maka semakin besar juga kemungkinan untuk trampil berbahasa.[27]
b.      Teknik Pengajaran Kosakata
Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, dapat dimulai dengan meningkatkan penguasaan kosakata. Ada beberapa tehnik yang dapat dilakukan guru dalam pengajaran kosakata seperti yang diungkapkan oleh Dr. Mohammad Ali Khuli adalah sebagai berikut:
1)      Picture
Apabila ingin menerangkan suatu benda atau yang lain yang tidak dapat dibawa ke dalam kelas, maka bisa menggunakan gambar, foto-foto maupun lukisan untuk menjelaskan suatu arti.
2)      Action
Untuk menerangkan sesuatu dapat disampaikan melalui perbuatan (akting). Cara ini sangat baik untuk menerangkan kata kerja seperti berjalan, makan, berbicara dan lain-lain
3)      Context
Suatu kata dapat diterangkan dengan cara kata tersebut dibuat menjadi satu kelompok kalimat yang dapat menimbulkan pemahaman pada siswa.
4)      Synonym
Artinya satu kata baru dapat diterangkan artinya atau maknanya dengan menyebut padanan katanya, tentunya padanan kata tersebut yang sudah akrab dengan siswa. Hal itu merupakan suatu pengetahuan tambahan yang tidak mustahil akan mendorong siswa dalam menerima dan memahami keterangan dari guru dalam mengajarkan kosakata baru.
5)      Antonim
Merupakan kebalikan dari sinonim
6)      Definition
Dalam mengartikan kata-kata baru yang diajarkan, penyajiannya dapat melalui suatu definisi yang dapat dinyatakan dengan batasan yang ada dalam kelas, di lokasi maupun keterangan tertentu.
7)      Translation
Apabila keterangan tertentu merupakan suatu keterangan  yang abstrak, maka dapat digunakan padanan katanya dari bahasa asli (bahasa murid). Selanjutnya suatu padanan kata dapat diberikan apabila teknik yang lainnya dirasakan kurang efektif terhadap kata tersebut.
Berkaitan dengan penggunaan media gambar dalam pengajaran kosa kata ini, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh guru, diantaranya:
a)      Pemberian konteks. Guru memberikan arti/makna dari kata itu dengan gambar yang disajikan.
b)      Pengulangan kata itu. Para pelajar harus mengulang lafal kata itu tanpa konteks sampai mereka melafalkan dengan baik.
c)    Pengecekan arti kata dengan memberikan pertanyaan mengenai kata itu.
d)   Penggunaan kata dalam konteks situasi (gambar yang bermacam-macam).
e)    Pemberian kalimat contoh/model. Guru memberi kalimat contoh yang mengingat para pelajar bagaimana menggunakan kosakata dalam kalimat itu dalam konteks yang benar.[28]
Guru yang telah berpengalaman mengajar akan menerapkan teknik yang sekiranya tepat dan sesuai dalam pengajarannya yang disesuaikan dengan tingkat berpikir dan perkembangan anak. Untuk mengenalkan kosakata pada anak usia prasekolah ini dapat dilakukan dengan teknik langsung, artinya kosakata yang diajarkan langsung dihubungkan dengan benda-benda dengan melalui nyanyian-nyanyian atau dengan cara apa saja yang bisa ditangkap oleh anak.
c.       Evaluasi Pengajaran Kosakata Bahasa Arab
Dalam pengajaran kosakata bahasa Arab (mufrodat) perlu diadakan penilaian dengan mengadakan tes kosakata. Tes kosakata adalah tes yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa terhadap penguasaan kosakata dalam jumlah tertentu, baik yang bersifat reseptif maupun produktif. Tes kosakata ini dilakukan dengan tes lisan dan tes tulis yang disesuaikan dengan tingkat berpikir dan perkembangan anak.
4.      Tinjauan Anak Usia Pra Sekolah
a.       Pengertian Anak Prasekolah
Biechler dan Snowman (1993) sebagaimana dikutip oleh Dr. Soemiarti Patmonodewo dalam bukunya Pendidikan Anak Prasekolah mengartikan bahwa yang dimaksud dengan anak usia prasekolah adalah mereka yang berusia antara 3-6 tahun.[29]Sedangkan menurut Drs. M. Solehuddin, M.Pd, MA bahwa batasan tentang masa anak/anak usia prasekolah tergantung kepada dasar pembatasan yang digunakan dan atau teori yang dirujukinya. Dalam pandangan mutakhir yang lazim dianut di negara-negara maju, istilah anak usia dini (early childhood) adalah anak yang berumur antara 0-8 tahun, lebih lanjut dijelaskan oleh Solehuddin bahwa yang dimaksud dengan usia prasekolah adalah mereka yang berusia dibawah enam tahun.[30]
b.      Karakteristik Anak Usia Prasekolah
Karakteristik anak usia prasekolah/taman kanak-kanak menurut Syamsuar Mukhtar (1987: 23) adalah:
1)      Anak usia 3 (tiga) tahun:
a)      Gerakan-gerakan lebih halus dan lebih terkoordinasi
b)      Periode haus nama
c)      Egoistik dan lebih senang main secara soliter (sendiri)
2)      Anak Usia 4 (empat) tahun
a)    Gerakan-gerakan lebih terkontrol (dapat meloncat, melompat dan lain-lain)
b)   Anak senang bermain dengan kata-kata
c)    Dapat mengurus diri sendiri
d)   Belum dapat membedakan cerita sungguh-sungguh dengan cerita khayalan
e)    Sudah dapat membedakan antara satu dengan banyak
3)      Anak Usia 5 (lima) tahun
a)      Gerakan lebih terkontrol lagi (sudah dapat diajarkan bermain)
b)     Perkembangan bahasa sudah bertambah baik
c)      Dapat menyesuaikan diri
d)     Dapat bermain dan berkawan
e)      Peka terhadap situasi
f)      Mengetahui perbedaan kelamin dan status
g)     Dapat menghitung sampai sepuluh
h)      Mulai tidak menyukai cerita khayal
Dengan demikian secara umum karakteristik ciri anak usia taman kanak-kanak adalah:
1)      Dari segi fisikal, anak-anak dapat melakukan kegiatan dengan menggunakan otot badannya seperti lari-lari dan melompat-lompat.
2)      Dari segi intelektual, anak-anak sudah dapat berkomunikasi dengan perbendaharaan kata-kata (bahasa anak-anak) yang dimilikinya, belajar meniru (kongkrit), sudah dapat berimajinasi dan berfantasi.
3)      Dari segi emosional, anak-anak cenderung belum dapat mengendalikan emosi sebaik-baiknya.
4)      Dari segi sosial, anak-anak cenderung egosentrik.
Berdasarkan karakteristik umum tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa anak usia TK sudah memiliki sejumlah kemampuan dan keterbatasannya.[31]

E.    Alasan Pemilihan Judul

1.      Pengajaran bahasa pada anak apabila dimulai sejak dini akan lebih bagus dan optimal hasilnya dibanding mengajarkannya pada waktu dewasa. Untuk itu perlu dirumuskan bagaimana cara mengajarkannya.
2.      Kedudukan media pengajaran ada dalam komponen metode mengajar sebagai salah satu upaya untuk mempertinggi proses interaksi guru-siswa dan interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya. Media gambar sebagai salah satu bagian dari media visual yang paling efektif dan efisien dalam pengajaran kosakata bahasa Arab pada anak usia prasekolah ini. Selain dapat menarik perhatian dan minat siswa juga lebih mudah diingat dan lebih mendalam karena materi-materi tersebut akan lebih dekat dengan pelajar, yakni dengan menggunakan alat yang divisualisasikan dan dapat dinikmati dengan panca indra, khususnya indra penglihatan (visual). Untuk itu perlu dilakukan uji coba akan kebenarannya.
3.      Kecintaan penulis pada dunia anak-anak yang mendorong penulis untuk belajar bagaimana cara mengajar yang baik dan efektif di Taman Kanak-kanak, khususnya dalam mengajarkan bahasa Arab.
F.   Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1.         Untuk mendeskripsikan penggunaan dan manfaat media gambar dalam proses pengajaran bahasa Arab, terutama untuk memudahkan anak dalam mengenal dan menguasai kosakata bahasa Arab
2.         Untuk mengetahui perbedaan efektifitas dan efisiensi pengajaran kosakata bahasa Arab dengan menggunakan media gambar dan tanpa media gambar.
Sedangkan kegunaan penelitian ini adalah :
2.         Untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi pengelola pendidikan atau guru dalam memilih dan menggunakan media pendidikan terutama media gambar.
3.         Untuk memberikan stimulan bagi para peserta didik agar lebih tertarik dengan belajar bahasa Arab dan merangsang daya kreativitas dalam memenuhi kebutuhan belajar bahasa Arab.
4.         Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam rangka mempermudah penguasaan kosakata bahasa Arab bagi anak usia pra sekolah.
5.         Penelitian ini juga berguna untuk menambah pengalaman dan pengetahuan penulis sebagai guru bahasa Arab, khususnya yang berkaitan dengan penggunaan media gambar dalam pengajaran kosakata bahasa Arab bagi anak usia prasekolah.

G.  Tinjauan Pustaka

Pembahasan dan penelitian tentang berbagai macam metode dan penggunaan beragam media dalam pengajaran bahasa Arab telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti, mulai dari media yang paling sederhana sekalipun hingga penggunaan media yang inovatif baik itu yang dilakukan dengan metode eksperimentasi maupun dengan metode deskriptif (kajian kepustakaan). Begitu pula dengan pembahasan tentang penggunaan media gambar dalam pengajaran bahasa Arab. Dalam hal ini penulis bukanlah orang pertama yang mengadakan penelitian tentang peranan media gambar dalam pengajaran bahasa Arab, sebab telah ada penelitian sebelumnya yang dapat penulis jadikan sebagai referensi awal untuk kemudian menyempurnakan atau hanya sekedar melengkapi.
               Studi eksperimen yang dilakukan oleh Eka Rosadi dalam skripsinya yang berjudul “Penggunaan Media Gambar dalam Pengajaran Kata Benda Bahasa Arab Bagi Siswa Kelas V MI Al-Huda Maguwoharjo Yogyakarta”, menyimpulkan bahwa media gambar merupakan alat bantu yang baik untuk mengajarkan bahasa Arab khususnya kata benda konkrit bagi pemula. Pembelajaran bahasa Arab (khususnya kata benda) dengan menggunakan media gambar lebih efektif dalam meningkatkan penguasaan kata benda bahasa Arab siswa kelas V MI Al-Huda dibandingkan dengan pengajaran kata benda tanpa media gambar.
Sedangkan penelitian tentang pengajaran kosakata dengan menggunakan media gambar pernah diangkat juga oleh Slamet Untung yang berjudul “Penerapan Gambar Bermakna Sebagai Pendekatan Komunikatif Dalam Pengembangan Kosakata di Madrasah Aliyah Yogyakarta II yang membahas bagaimana kosakata dapat dikembangkan dalam berbagai pola kalimat dengan menggunakan media gambar. Hasil penelitian Untung menyatakan bahwa penggunaan gambar bermakna dapat meningkatkan pengembangan kosakata bahasa Arab baik secara aktif maupun pasif.
Kepustakaan merupakan gagasan dan relevansi setiap penulisan, maka penelitian ini juga ditunjang dengan beberapa buku yang ada relevansinya dengan penelitian, diantaranya:
a.       Buku karya Dr. Arief S. Sadiman M.Sc. dkk yang berjudul “Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya” yang memaparkan tentang fungsi media, klasifikasi media dan bagaimana cara mengembangkannya.
b.      Buku karya Soemiarti Patmonodewo yang diterbitkan oleh Rineka Cipta dengan judul “Pendidikan Anak Prasekolah” yang memaparkan secara terperinci tentang berbagai hal yang berkaitan dengan anak usia pra sekolah mulai dari mengenal anak prasekolah, kurikulum untuk anak pendidikan prasekolah, beberapa alternatif program pendidikan prasekolah dan  bagaimana metode pendidikan yang seharusnya dilakukan.
Serta buku-buku lain yang dapat penulis jadikan referensi dalam penulisan skripsi ini, diantaranya buku karya Henri Guntur Tarigan yang berjudul Pengajaran Kosakata dan buku Media Pengajaran Bahasa karya Soeparno serta buku Evaluasi Pendidikan yang disusun oleh Prof. Drs. Anas Sudjiono dan lain-lain.
Dengan mengkaji beberapa pustaka diatas, kemudian penulis tergerak untuk meneliti pengajaran kosakata bahasa Arab pada anak usia prasekolah dengan menggunakan media gambar yang dilaksanakan di Taman Kanak-kanak Al-Islam I. Adapun perbedaan pembahasan terletak pada subyek yang akan diteliti yakni pada anak-anak usia prasekolah yang belum pernah mengenal bahasa Arab, untuk itu perlu dirumuskan bagaimana metode pengajaran yang efektif dan efisien dalam pengajaran bahasa untuk anak prasekolah ini. Berbagai macam media yang ada perlu diuji coba karena tanpa adanya eksperimentasi, maka guru tidak akan mengetahui pengaruh penggunaan media gambar dalam pengajaran mufrodat.

H.   Hipotesa Penelitian

Good dan Scates memberikan pengertian bahwa hipotesa adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah penelitian selanjutnya. Secara teknis, hipotesa dapat didefinisikan sebagai pernyataan mengenai populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dengan sampel penelitian.[32]
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dirumuskan, pengujian data dan hipotesisnya menggunakan data statistik maka hipotesa yang diajukan meliputi hipotesa nihil dan hipotesa alternatif. Hipotesa nihil biasanya digunakan untuk menyatakan suatu kesamaan atau tidak adanya perbedaan yang berantai antara dua kelompok atau lebih tentang suatu hal yang dipermasalahkan. Apabila ada penolakan dalam hipotesa nihil maka dimunculkan hipotesa alternatif yaitu untuk menyatakan adanya saling hubungan antara dua variabel atau lebih dan atau menyatakan adanya perbedaan dalam hal tertentu pada kelompok-kelompok yang berbeda.  Adapun hipotesa yang diangkat dalam penelitian ini adalah:
1.      Hipotesa Nihil (Ho)
a.       Media gambar tidak dapat membantu peningkatan penguasaan kosakata bahasa Arab bagi siswa TK Al-Islam I Kelompok B4

b.      Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pengajaran kosakata Bahasa Arab dengan menggunakan media gambar dan tanpa menggunakan media gambar

2.      Hipotesa Alternatif (Ha)
a.          Media gambar membantu peningkatan penguasaan kosakata bahasa Arab bagi siswa TK Al-Islam I kelompok B4
b.         Ada perbedaan yang signifikan antara pengajaran bahasa Arab dengan menggunakan media gambar dan tanpa media gambar

I.    Metode Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian eksperimen (experimental research) untuk mengetahui pengaruh penggunaan media gambar dalam mengenal dan menguasai kosakata bahasa Arab. Experimental Research adalah riset yang bermaksud untuk menyelidiki secara langsung hubungan sebab akibat dari suatu perlakuan dengan menggunakan suatu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang kemudian hasilnya dibandingkan. Ditinjau dari tujuannya, metode ini dibedakan menjadi dua jenis:
1.      Eksperimen Eksploratif (Explorative Experimental) adalah suatu eksperimen untuk mempertajam masalah dan perumusan hipotesa tentang hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih.
2.      Eksperimen pengembangan (Development Eksperimental) adalah suatu eksperimen untuk menguji, mengetes atau membuktikan hipotesa dalam rangka menyusun generalisasi yang berlaku umum.
Jenis eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen pengembangan yaitu untuk menguji, mengetes serta membuktikan hipotesa tentang penggunaan media gambar dalam pembelajaran kosakata bahasa Arab.
Adapun penelitian dengan metode eksperimen ini menempuh beberapa kegiatan pokok, sebagai berikut:
1.      Metode Penentuan Subyek dan Obyek
Penentuan subyek sama dengan penentuan sumber data dalam penelitian, yaitu sumber dimana data dapat diperoleh. Adapun yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah:
a.       Kepala Sekolah, Kepala Tata Usaha dan Guru kelas kelompok B TK Al-Islam I.
b.      Siswa siswi kelompok B4 di TK Al-Islam I Surakarta sebagai sumber data dan subyek penelitian.
Populasi dan Sampel Penelitian.
a.    Populasi
Populasi atau universe adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa yang terdaftar sebagai siswa kelas A TK Al-Islam I Jamsaren Surakarta yang diperoleh dari dokumentasi sekolah, yaitu terdapat 139 kelas B. Besarnya populasi dan sebarannya dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini:
Tabel I
Populasi dan Sebarannya
No.
Kelompok
Jumlah Siswa
1
B1
22
2
B2
40
3
B3
39
4
B4
38
Jumlah Siswa
139
b.    Sampel
Karena besarnya populasi yang akan dijadikan subyek penelitian, maka penulis mengambil 25% dari keseluruhan populasi, yaitu pada kelas B4 yang berjumlah 38 siswa. Dalam hal ini penulis membaginya menjadi dua kelompok A dan B yang dibagi secara acak. Kelompok A sebagai kelompok yang mendapat perlakuan (eksperiment group) dan kelompok B sebagai kelompok kontrol (control group) dimana  masing-masing kelompok berjumlah 19 anak. Sehingga penelitian ini disebut penelitian sampel. Hal ini sesuai dengan patokan yang diberikan oleh Dr. Suharsimi Arikunto:
 “Untuk sekedar ancer-ancer, maka apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semuanya, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subyeknya besar, maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih”.[33]
Pengambilan sampel ini berdasarkan observasi yang penulis lakukan,  penulis melihat bahwa antara kelompok A dan B sama-sama tidak memiliki pengetahuan tentang kosakata bahasa Arab atau sama-sama berangkat dari nol, selain itu dilihat dari umur mereka juga rata-rata memiliki umur yang sama antara 4-5 tahun, begitu juga dengan tingkat kemampuan dan kematangan mereka.
2.      Metode Pengumpulan Data
a.       Observasi
Observasi adalah cara menghimpun bahan keterangan/data yang dilakukan dengan menggunakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang dijadikan sasaran pengamatan.[34] Metode observasi digunakan untuk mengamati letak geografis TK, struktur organisasi dan untuk memperoleh data pada waktu guru bahasa Arab dan siswa terlibat dalam proses belajar mengajar serta mengetahui hasil belajar siswa.
b.      Metode Interview
Metode interview adalah metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab lisan secara sepihak yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian. Tehnik wawancara yang penulis gunakan adalah wawancara bebas terpimpin dimana pewawancara menyajikan daftar pertanyaan, akan tetapi cara bagaimana pewawancara menyajikan diserahkan kepada kebijaksanaan pewawancara.[35]
Dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai informan adalah:
1)      Kepala Sekolah/Wakil untuk mendapatkan informasi tentang sejarah dan tujuan berdirinya TK Al-Islam I Surakarta.
2)      Kepala Tata Usaha untuk memperoleh data tentang sarana prasarana.
3)      Guru kelas kelompok B, yaitu untuk memperoleh informasi tentang gambaran proses belajar mengajar di kelas yang meliputi tujuan, bahan/materi, metode, media dan evaluasi serta prestasi siswa.
c.       Metode Dokumentasi
Yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat, majalah dan sebagainya.[36]Sedangkan dokumen yang diteliti untuk penelitian skripsi ini adalah data-data yang berkaitan dengan struktur organisasi, keadaan guru, karyawan, keadaan siswa serta biodata dari seluruh siswa yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
d.      Metode Tes
Metode ini digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam penguasaan kosakata bahasa Arab sebelum dan sesudah diberikan pelajaran dalam bentuk pre test dan post test.
3.      Desain Eksperimen
Desain eksperimen adalah suatu rancangan percobaan dengan tiap langkah tindakan yang betul-betul terdefinisikan sehingga tiap informasi yang berhubungan dengan orang atau diperlukan untuk percobaan yang sedang diteliti dapat dikumpulkan. Dengan kata lain desain sebuah eksperimen merupakan langkah yang perlu diambil jauh sebelum eksperimen dilakukan agar data yang semestinya diperlukan dapat diperoleh sehingga akan membawa kepada analisis obyektif dan kesimpulan yang berlaku untuk persoalan yang dibahas.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dilaksanakan di TK Al-Islam I Jamsaren Surakarta. Waktu pelaksanaan eksperimen ini antara bulan Agustus sampai Oktober 2004. Pelaksanaan pengajaran yang menggunakan media gambar ini sebanyak 8 kali pertemuan, masing-masing pertemuan 1 x 45 menit sehingga total waktu eksperimen adalah     8 x 1 x 45 menit, begitu pula pengajaran di kelas kontrol memiliki kapasitas waktu yang sama. Adapun desain eksperimen yang dipilih adalah desain statis dua kelompok, sebagaimana digambarkan Nana Sudjana dan Ibrahim dalam buku penelitian dan penilaian pendidikan sebagai berikut:[37]
Gambar 1. Desain Statis Dua Kelompok
Kelompok
Perlakuan
(Variabel Bebas)
Pasca Test
(Variabel Terikat)
E (Eksperimentasi)
X
Y
C (Control)
-
Y
4.      Metode Analisa Data
Analisa data merupakan proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang mudah dibaca dan diinterpretasikan. Pada proses ini sering digunakan statistik, salah satu fungsi pokoknya adalah menyederhanakan data penelitian yang amat besar jumlahnya menjadi informasi yang lebih sederhana dan lebih mudah dipahami.
Data mentah yang telah dikumpulkan oleh peneliti tidak akan ada gunanya jika tidak dianalisa. Karena analisa data merupakan bagian integral dalam metode penelitian ilmiah. Data yang dianalisa dapat memberi makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian. Kemudian data mentah yang telah teridentifikasi diinterpretasikan dalam kelompok-kelompok, diadakan kategorisasi, manipulasi serta diolah sedemikian rupa sehingga data tersebut mempunyai makna untuk menjawab masalah dan bermanfaat untuk menguji hipotesa.
Adapun dalam penelitian ini menggunakan analisa data kuantitatif dimana perhitungan dan pengujian dengan metode statistik. Analisa data kuantitatif ini menggunakan sistem komputer dengan paket Seri Program Statistik (SPS 2000) edisi Sutrisno Hadi  dan Yuni Parmadiningsih dengan menggunakan rumus tes “t” atau “t”  tes. Uji t yang dilakukan dengan menggunakan rumus:

J.   Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan ini terdiri dari empat pembahasan, sebagai berikut:

Bab pertama adalah pendahuluan. Dalam bab ini berisi tentang penegasan istilah, latar belakang masalah, rumusan masalah, kerangka teoritik, alasan pemilihan judul, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, Hipotesa Penelitian, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab kedua adalah gambaran umum TK Al-Islam Jamsaren Surakarta. Bab ini berisi tentang letak greografis, sejarah singkat berdiri, struktur organisasi, keadaan siswa, guru dan karyawan, sarana dan fasilitas. Kemudian pada sub bagian kedua membahas tentang proses kegiatan belajar mengajar di TK Al-Islam , meliputi: tujuan, bahan/materi, proses pembelajaran, media dan evaluasi/penilaian.
Bab ketiga menguraikan tentang pelaksanaan penelitian yang sesuai dengan judul skripsi yaitu Laporan Hasil Eksperimen Media Gambar dalam Pengajaran Kosakata Bahasa Arab di TK Al-Islam Jamsaren Surakarta Jawa Tengah yang meliputi: deskripsi data, materi yang disajikan, prosedur eksperimen, pengukuran sebelum eksperimen, pelaksanaan eksperimen, materi pembelajaran, pengaruh pelaksanaan eksperimen terhadap hasil belajar dan analisa data.
Bab keempat adalah penutup. Dalam bab ini terdiri atas kesimpulan, saran-saran dan kata penutup.
Setelah pembahasan dari keempat bab tersebut maka pada bagian akhir dari skripsi ini disertakan beberapa lampiran yang dianggap perlu. Hal ini dimaksudkan untuk memperjelas dan menjadi rujukan dari inti pembahasan dalam skripsi ini.
BAB II
GAMBARAN UMUM  TAMAN KANAK-KANAK AL-ISLAM I
JAMSAREN SURAKARTA JAWA TENGAH
A. Gambaran Umum TK Al-Islam I Jamsaren

1.       Letak Geografis TK Al-Islam I Jamsaren

Taman Kanak-kanak Al-Islam I  Jamsaren berdiri pada tanggal 6 Mei 1966 dibawah naungan Yayasan Al-Islam yang beralamatkan di Jl.Veteran No. 261 Surakarta. Lokasi  TK Al-Islam I ini terletak di kawasan yang cukup ramai karena tempatnya yang berada di pinggir jalan raya yang merupakan jalur antar kota (Wonogiri-Sukoharjo) dan jalur alternatif menuju pusat kota Solo.
                Adapun batas-batas lokasinya adalah sebagai berikut:
1.       Sebelah barat berbatasan dengan Madrasah Aliyah (MA Al-Islam).
2.       Sebelah timur berbatasan dengan pertokoan.
3.       Sebelah selatan berbatasan dengan Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta.
4.       Sebelah utara berbatasan dengan jalan raya.
Untuk menjaga keselamatan anak didik, gedung TK Al-Islam I yang berada dalam satu lokasi dengan Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta ini dikelilingi dengan pagar besi yang cukup tinggi untuk ukuran anak-anak prasekolah, hal itu untuk mengantisipasi anak didik yang tengah bermain dan berlarian ke jalan saat isrtirahat.
Ditinjau dari kekondusifan suasana belajar, daerah ini kurang strategis untuk mendirikan sekolah Taman Kanak-kanak sebagai sarana belajar dikarenakan tempatnya yang bising oleh suara kendaraan yang lalu lalang di jalan raya. Selain itu sekolah yang berdekatan dengan jalan umum sangat rawan dan tidak aman, terlebih bagi anak-anak dibawah umur meskipun sekeliling sekolah dikelilingi pagar yang tinggi.
Mengenai sarana transportasi yang menuju lokasi ini tidak mengalami kesulitan, karena lokasi ini selalu dilewati angkutan umum setiap saat dan berada di pusat kota Surakarta.

2.       Sejarah Singkat dan Tujuan Berdirinya TK Al-Islam I Jamsaren

Sejarah merupakan tonggak awal perjuangan untuk diingat kembali sebagai Titik tolak perjalanan selanjutnya menuju perkembangan dan kemajuan.
Taman Kanak-kanak Al-Islam I adalah sebuah Taman Kanak-kanak yang berasaskan Islam yang berdiri pada tanggal 6 Mei 1966 oleh Yayasan Perguruan Al-Islam Surakarta. TK Al-Islam I ini telah terdaftar di kantor wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Surakarta pada tahun 1991 dengan nomor 3900/103,51/DS/1988 dan nomor daftar induk: 095.[38] Selain itu, TK Al-Islam I juga telah diberi hak menurut hukum untuk menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran dengan surat keputusan yang diberikan oleh kantor wilayah Departemen Agama RI Propinsi Jawa Tengah pada tahun 1992 dengan nomor WK/5-6/2140/RA/Pgm/1992.[39]
Menurut sejarahnya, sepeninggal K.H Abu Amar sebagai pendiri Yayasan Pondok Pesantren Jamsaren yang berbadan hukum dengan akte notaris No. 35 tanggal 16 Juni 1959 dan disusul adanya pemberontakan G 30/S PKI tahun 1965, keadaan Pondok Pesantren Jamsaren sangat memprihatinkan dikarenakan masyarakat sekitar pondok justru banyak yang menjadi simpatisan PKI.
Menyadari hal itu maka timbul keinginan untuk mengarahkan masyarakat di lingkungan pondok agar mendapatkan bimbingan dan pendidikan yang mendukung keberadaan pondok pesantren Jamsaren. Sebab selama ini setelah bubarnya Madrasah Tahdzibul Wathon, pendidikan yang ada di Pondok Jamsaren cenderung hanya mendidik siswa dan mahasiswa yang datang dari luar kota Solo.
Maka dengan dibantu oleh pengurus yang ada KH. Ali Darokah beserta Ibu Ny. Ali Darokah memprakarsai berdirinya Raudhatul Athfal/TK pada tahun 1966, dan yang ditugasi untuk membina adalah pengurus Al-Islam bagian pendidikan yang diketuai oleh KH. Ma’muri yang juga termasuk pengurus Yayasan Pondok Pesantren Jamsaren. Oleh karena pengelolaan Roudhotul Athfal/TK tersebut bekerja sama dengan Yayasan Perguruan Al-Islam, maka RA/TK tersebut disebut dengan TK Al-Islam. Yayasan Pondok Pesantren bertanggung jawab terhadap sarana dan prasarananya, sedangkan perguruan Al-Islam bertanggung jawab dalam bidang edukatifnya. [40]
Walaupun RA/TK Al-Islam I ini didirikan sejak tahun 1966 namun hingga akhir periode K.H Ali Darokah belum memiliki gedung sendiri yang sampai tahun 1997 masih menempati aula dan pendopo. Kemudian setelah mendapat tanah wakaf dari Hj. Mas’adah Sahlan pembanguan RA/TK ini dimulai pada bulan November 1997 dengan modal biaya amal jariyah Ibu Ny. Ali darokah serta usaha dari pengurus RA/TK yang hingga saat ini pelaksanaannya belum selesai. Gedung yang digunakan sebagai sarana belajar mengajar saat ini masih menyewa sebagian gedung Pondok Pesantren Jamsaren.
Pada awal mula berdirinya RA/TK Al-Islam tersebut memiliki siswa 45 orang yang semakin tahun semakin bertambah pesat. Pada tahun ajaran 1997/1998 telah berkembang menjadi 164 orang dan pada tahun ajaran 2004/2005 ini jumlah murid telah mencapai 241 siswa.[41]  Sejak awal berdirinya, kurikulum pembelajaran TK Al-Islam telah mengacu pada kurikulum Depdikbud dan Depag RI, dimana isi kurikulum tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut berikut:[42]

Tabel II

Program Kegiatan Belajar (Program Pembentukan Perilaku)

No

Depdikbud
Dep.Agama
1
Moral Pancasila
Moral Pancasila
2
Agama
Agama
3
Perasaan/Emosi
Perasaan/Emosi
4
Kemampuan Bermasyarakat
Kemampuan Bermasyarakat
5
Disiplin
Disiplin
Program pembentukan perilaku ini bertujuan untuk mempersiapkan anak sedini mungkin yang didasari oleh nilai-nilai moral pancasila dan agama agar dapat hidup sesuai dengan norma yang dianut oleh masyarakat.
Selanjutnya adalah program kemampuan dasar, dalam program ini guru membimbing anak mengembangkan potensi yang dimilikinya. Program tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut ini:[43]

Tabel III

Program Pengembangan Kemampuan Dasar

No

Depdikbud
Dep. Agama
1
Daya Cipta
Daya Cipta
2
Bahasa
Bahasa
3
Daya Pikir
Daya Pikir
4
Ketrampilan
Ketrampilan
5
Jasmani
Jasmani
Kegiatan pengembangan kemampuan dasar tersebut adalah kegiatan yang dipersiapkan oleh guru untuk mencapai kemampuan-kemampuan tersebut sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Tujuan berdirinya TK Al-Islam I ini adalah:
1.       Meningkatkan prestasi belajar siswa
a.       Bidang pendidikan: dapat menghasilkan anak didik yang unggul secara intelektual, fisik maupun mental sebagai persiapan masuk SD.
b.       Non pendidikan: meraih prestasi dalam bidang seni, olah raga dan ketrampilan
2.       Memberikan bekal pada anak didik berupa akhlak/budi pekerti yang luhur, keimanan dan ketaqwaan agar dapat berperan dalam kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Visi berdirinya TK Al-Islam I adalah untuk membangun generasi penerus yang berilmu, beriman serta memiliki ketahanan fisik, mental dan intelektual. Sedangkan misi berdirinya adalah:
1.       Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan mutu pendidikan prsekolah
2.       Meningkatkan budi pekerti luhur melalui pemantapan keimanan dan ketaqwaan
3.       Mewujudkan lingkungan yang aman, tertib dan kreatif.
Dan untuk mewujudkan visi dan misinya tersebut, TK Al-Islam I berusaha unntuk menerapkan strategi sebagai berikut:
1.       Meningkatkan kedisiplinan.
2.       Meningkatkan kinerja sekolah.
3.       Melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien.
4.       Meningkatkan kerja sama dengan ortu, BP 3, alumni, masyarakat dan instansi terkait.
5.       Mewujudkan suasana kekeluargaan dengan saling hormat menghormati antara warga sekolah.
Taman Kanak-kanak Al-Islam I Jamsaren ini termasuk TK yang mengalami perkembangan yang cukup bagus, baik secara kualitatif maupun kuantitatif yang didukung oleh beberapa pendidik yang memang profesional di bidangnya. Hal ini juga terbukti dengan semakin bertambahnya jumlah murid dan beberapa prestasi yang diaraih oleh siswa-siswi TK berbakat. Beberapa prestasi tersebut dapat dilihat dalam tabel:[44]
Tabel IV
Prestasi Yang Pernah Dicapai
No
Prestasi Yang Dicapai
Juara
A. Guru
1
Lomba bercerita tk.kecamatan
Juara III
2
Lomba guru teladan tk.kodya
Juara harapan
B. Anak Didik
1
Lomba bola keranjang tk.kodya
Juara III
2
Lomba baca Al-Qur’an tk.kecamatan
Juara I
3
Lomba baca Al-Qur’an tk.kodya
Juara II
4
Lomba menyanyi tk.kecamatan
Juara III
5
Lomba menggambar&mewarnai tk.kec
Juara III
6
Lomba tilawah tk.kodya
Juara I
7
Lomba sholat berjamaah tk.kecamatan
Juara I
8
Lomba tartil tk.karisidenan
Juara II
9
Lomba karaoke tk.kodya
Juara I
10
Lomba koor tk.kodya
Juara II
11
Lomba koor tk.karisidenan
Juara II
C. Sekolah
1
Lomba administrasi sekolah tk.kecamatan
Juara I
2
Lomba gugus tk.kecamatan
Juara I
3
Lomba gugus tk.kodya
Juara III

3.       Struktur Organisasi  TK Al-Islam I Jamsaren

Struktur organisasi ini dapat diartikan sebagai suatu susunan dari berbagai personil yang mengelola TK sebagai satu kesatuan yang terarah dan teratur. Maksud dari pembuatan struktur organisasi tersebut adalah untuk mengetahui tugas, fungsi dan kewajiban masing-masing personil sehingga dalam melaksanakan tugasnya tidak terjadi tumpang tindih. Kepengurusan tersebut dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan.
Personil dan pengurus yang mengelola dan bertanggung jawab di TK Al-Islam I periode 2004/2005 adalah sebagai berikut:[45]
Penasehat                             : Ibu Hj. Abdul Basir
                                                  Ibu Marzuki
Ketua                                     : Ibu Muhadi Budiyanto
Wakil Ketua                         : Ibu Hj. Ngamar
Penulis                                   : Ibu Hj. Amini Abu Tholib
                                                  Ibu M. Anwar
Bendahara                            : Ibu Hj. Ali Darokah
                                                  Ibu Hj. Alfiah Wachid
                                                  Ibu Hj. Yusuf Hidayat
Seksi-seksi                             :
Pendidikan                            : Ibu Ummul Hidayah
                                                  Ibu Hj. Dra. Chusmiyatun
Humas                                   : Ibu Eni Sholeh
                                                  Ibu Hj. Ariani Supiarso
TK Al-Islam I Jamsaren juga dibantu oleh komite sekolah yang terdiri dari:
Ketua                                     : Ibu Sisardaya, BA
Wakil                                     : Ibu H.A. Supiarso
Penulis I                 : Ibu Gondo Lestari
                II                             : Ibu Setia Budi Wibowo
Bendahara                            : Ibu Didik Darmadi
                                                : Ibu A. Kuza’I
                                                  Ibu Lukman
Seksi-seksi                            
Pendidikan                            : Ibu Ummul Hidayah
                                                  Ibu H. Chusmiyatun
Humas                                   : Ibu Eni Sholeh
                                                  Ibu H. Supiarso
                Selain itu juga terdapat struktur organisasi yang langsung menangani program penddidikan. Mereka bertanggung jawab langsung atas jalannya proses pendidikan di TK Al-Islam ini. Bagan struktur organisasai dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:
Tabel V
Bagan Struktur Organisasi TK Al-Islam I Jamsaren
 


4.  Keadaan Guru dan Siswa TK Al-Islam I Jamsaren
a.       Keadaan Guru dan Karyawan
Latar belakang guru TK Al-Islam I sangat berbeda-beda, namun hampir semua guru kelas merupakan lulusan Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak (PGTK). Jumlah guru di TK Al-Islam Jamsaren pada tahun pelajaran 2004/2005 sebanyak 21 orang termasuk kepala sekolah, guru iqro’ dan guru ekstra kurikuler.
Setiap satu kelas dibimbing oleh 2 orang guru, satu diantaranya sebagai guru kelas dan seorang lagi sebagai guru iqro. Selain guru kelas yang bertanggung jawab penuh terhadap jalannya pembelajaran, ada beberapa guru yang mengajar di luar kelas yang bertanggung jawab terhadap program ekstra kulikuler, diantaranya; Drumband, tari, sempoa, angklung dan bahasa Inggris.[46]
Tabel VI
Keadaan Guru TK Al-Islam I Jamsaren
No
Nama
Ijazah Terakhir
Jabatan
1
Puji Rahayu
S1
Kepala Sekolah
2
Darmaning
LPPGTK
Guru Kelas B1
3
Sulastri
KPGTK
Guru Kelas B2
4
Tri Murni
KGTK D2
Guru Kelas B3
5
Noor Athiyah
PGSD D2
Guru Kelas B4
6
Suratminingsih
LPPGTK D2
Guru Kelas A1
7
Suprihatin
PGSD D2
Guru Kelas A2
8
Siti Marfu’ah
LPPGTK D2
Guru Kelas A3
9
Daryanti
LPPGTK
Guru Kelas A4
10
Siti Lestari
MAN II Skh
Guru Iqro’ B1
11
Sri Sunarni
PGSD D2
Guru Iqro’ B2
12
Nurul Azmi
MAN Ngawi
Guru Iqro’ B3
13
Iik Yulianti
SMEA
Guru Iqro’ B4
14
Choirur Royayah
S1 Staimus
Guru Iqro’ A1
15
Ikha Hirmamy
PGSD D2
Guru Iqro’ A2
16
Alfy Faizah
MA Al-Islam
Guru Iqro’ A3
17
Amin Rochmatin
S1 Staimus
Guru Iqro’ A4
18
Tarmadi
SMA
Guru Angklung
19
Joko Sutrisno
S1 Psikologi
Guru Drumband
20
Sukarti
S1
Guru Sempoa
21
Mahmud Ihsan
S1
Guru Bhs Inggris
                Selain guru, juga terdapat 3 orang karyawan yang bekerja disana. Satu diantaranya bertugas sebagai satpam dan dua orang lagi sebagai clening service. Untuk hal-hal yang berhubungan dengan keadministrasian langsung ditangani oleh kepala sekola, karena di TK Al-Islam I ini tidak mempekerjakan tenaga tata usaha.
b.       Keadaan Siswa
Siswa TK Al-Islam tahun pelajaran 2004/2005 berjumlah 241 siswa yang terdiri dari 126 putra  dan 115 putri yang terbagi menjadi 2 tingkatan yaitu kelas nol kecil dan kelas nol besar. Kelas nol kecil terdiri dari 4 kelas yaitu; A1, A2, A3 dan A4, begitu juga kelas nol besar yang terdiri dari 4 kelas pula yaitu; B1, B2, B3 dan B4. Khusus untuk kelas nol besar disana telah terjadi pengayaan, dalam artian anak yang memiliki  kemampuan standar atau daya tangkap sedikit lambat disatukan dalam satu kelas.
Tabel VII
Keadaan Siswa TK Al-Islam I Jamsaren
No
Kelas
Putra
Putri
Jumlah
1
A1
12
12
24
2
A2
9
13
22
3
A3
8
18
26
4
A4
16
10
26
5
B1
12
10
22
6
B2
25
17
42
7
B3
22
19
41
8
B4
22
16
38
Jumlah
126
115
241

5. Sarana dan Prasarana TK Al-Islam I Jamsaren

Kegiatan belajar mengajar tidak akan berlangsung dengan baik bila tidak didukung dengan fasilitas yang ada. Sarana dan prasarana di TK Al-Islam  I Jamsaren ini dipandang memiliki fasilitas yang cukup memadai.
                Adapun fasilitas-fasilitas tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut ini:[47]
Tabel VIII
Keadaan Fasilitas Gedung TK Al-Islam I Jamsaren
No
Fasilitas
Jumlah
Keterangan
1
Ruang belajar
8
Baik
2
Ruang kepala TK
1
Baik
3
Ruang tamu
1
Baik
4
Ruang guru
1
Baik
5
Ruang bermain
2
Baik
6
Ruang perpustakaan
1
Baik
7
Kamar mandi/WC
3
Baik
8
Tempat parkir
2
Baik
9
Tempat wudhu
1
Baik
Tabel IX
Fasilitas dalam Kelas Klasikal
No
Fasilitas
Jumlah
1
Gambar musik
2
2
Gambar macam pakaian
8
3
Gambar nama bintang
8
4
Gambar nama buah
8
5
Gambar tata surya
4
6
Gambar bunga
8
7
Gambar tarian
3
8
Gambar bentuk bunga
8
9
Gambar pahlawan
6
10
Gambar daftar nama
8
11
Pola bunga
8
12
Papan berhitung
8
13
Papan huruf hijaiyah
8
14
Papan abjad
8
15
Gunting
250
16
Buku gambar
245
17
Pengukur tinggi badan
1
18
Pensil warna/krayon
240
Permainan di luar ruangan adalah tempat yang paling disenangi oleh anak-anak, dimana di tempat tersebut mereka dapat bermain dengan bebas saat istirahat berlangsung hingga terkadang anak lupa dengan bunyi bel tanda masuk saat mereka sedang asyik dengan kegiatan bermainnya. Untuk lebih jelasnya, permainan apa saja yang tersedia di ruang bebas dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:
Tabel IX
Macam-macam Permainan Bebas di Luar
No
Nama Permainan
Jumlah
1
Ayunan ganda
1
2
Papan jungkitan besar
1
3
Prosotan
1
4
Ayunan kecil
3
5
Bak air
1
6
Bak pasir
1
7
Tangga
1
8
Putaran
1
9
Globe
1
Selain permainan yang ada di luar kelas, juga terdapat beberapa permainan yang ada di dalam kelas yang biasa digunakan sebagai media/alat peraga dalam proses belajar mengajar. Macam-macam permainan tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel XI
Macam-Macam Permainan dalam Kelas
No
Nama Permainan
Jumlah
1
Kotak kubus
21
2
Kotak kribel
10
3
Kotak lidi
8
4
Puzzle bangunan
8
5
Truk, mobil-mobilan
12
6
Pesawat terbang
5
7
Pohon berhitung
8
8
Maket macam pekerja
4 set
9
Maket macam kendaraan
4 set

B.  Proses Kegiatan Belajar Mengajar di TK Al-Islam I Jamsaren

1. Tujuan Pembelajaran di TK Al-Islam I Jamsaren
TamanKanak-kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan yang menyediakan pendidikan dini bagi anak usia 4 tahun sampai memasuki pendidikan dasar. Tujuan pendidikan di TK menurut keputusan menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0125/U/1994 tentang TK, tujuan pendidikan TK diuraikan menjadi: meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, ketrampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.[48]
Tujuan tersebut merupakan suatu acuan yang digunakan sebagai pedoman dalam proses belajar mengajar di TK Al-Islam I ini. Untuk menyederhanakan lingkup program dan menghindari tumpang tindih, serta guna memudahkkan guru menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan pengalaman mereka, maka isi program itu dipadukan dalam program kegiatan belajar yang utuh yang mencakup:
1.        Program Kegiatan Belajar dalam rangka pembentukan perilaku melalui pembiasaan yang terwujud dalam kegiatan sehari-hari di TK yang meliputi pengembangan moral Pancasila, agama, disiplin, perasaan/emosi dan kemampuan bermasyarakat.
2.        Program Kegiatan Belajar dalam rangka pengembangan kemampuan dasar melalui kegiatan yang dipersiapkan oleh guru, meliputi pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta, ketrampilan dan jasmani.
Pembentukan perilaku dan pengembangan kemampuan dasar tersebut dicapai melalui tema yang sesuai dengan lingkungan anak dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang kemampuan yang akan dikembangkan.
Sehubungan dengan hal ini, dalam proses belajar mengajar guru harus betul-betul memperhatikan perkembangan anak didik serta melaksanakannya melalui kegiatan yang terencana dengan baik, sehingga anak dapat mengembangkan diri secara dini aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara integral dan menyeluruh.[49]Pernyataan ini mengandung maksud bahwa anak didik Taman Kanak-kanak dinyatakan berhasil belajarnya apabila diperhatikan tingkat perkembangan dalam mencapai tujuan pendidikan Taman Kanak-kanak yang telah ditetapkan.
Dalam hal ini, bidang pengembangan kemampuan berbahasa merupakan salah satu bidang pengembangan yang diajarkan di Taman Kanak-kanak. Kemampuan berbahasa di Taman Kanak-kanak sangat penting. Sesuai dengan kurikulum pendidikan Taman Kanak-kanak, kemampuan berbahasa meliputi:
1.        Mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara tepat guna (efektif).
2.        Membangkitkan kemampuan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, sikap dan pendapat melalui bahasa yang sederhana secara tepat.
3.        Mengembangkan kemampuan menangkap pembicaraan orang.
4.        Mengembangkan kosa kata anak
5.        Mengembangkan kemampuan berpikir logis dan sistematis. (Depdikbud, 1988:1)
Pembelajaran bahasa Arab yang diberikan kepada anak-anak adalah suatu bentuk pengembangan dari kurikulum Depag dan Depdikbud dalam bidang pengembangan kemampuan dasar, yaitu bahasa. Pengembangan tersebut bukan hanya dalam bentuk pelajaran bahasa Arab saja, namun juga dalam bentuk pelajaran bahasa Inggris. Akan tetapi, TK Al-Islam I tidak memiliki kurikulum pembelajaran bahasa secara khusus dari Depag dan Depdikbud. Pihak TK berusaha membentuk konsep tujuan pembelajaran bahasa Arab dan Inggris secara mandiri, karenanya pembelajaran bahasa Arab dan Inggris masuk dalam program ekstra kurikuler.
Tujuan pembelajaran bahasa di TK adalah sebuah langkah pengenalan agar anak mengetahui kosakata baru tentang benda-benda yang ada di sekitarnya, sehingga mereka tidak merasa asing dan kesulitan lagi saat menginjak ke jenjang yang lebih tinggi lagi.[50] Tujuan pembelajaran tersebut sebagai tolok ukur/acuan yang digunakan guru dalam menentukan materi yang akan disampaiakan, metode, media, dan evaluasi yang akan digunakan.

2.  Materi/Tema dalam Proses Pembelajaran di TK Al-Islam I

Agar pelaksanaan kegiatan belajar mengajar lebih bermakna dapat dilakukan melalui pembahasan tema yang diambil mulai dari lingkungan yang terdekat dengan anak sampai yang lebih jauh, serta melalui pilihan-pilihan tema yang sesuai dengan lingkungan anak dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang kemampuan yang hendak dikembangkan. Tema-tema tersebut merupakan pokok bahasan yang perlu dikembangkan lebih lanjut oleh guru menjadi program kegiatan pembelajaran yang operasional. Maksud diberikannya tema adalah agar kegiatan yang dibuat oleh guru dapat lebih berarti, menarik dan dapat memperkaya pengalaman dan perbendaharaan kata anak.
Perkiraan alokasi waktu untuk setiap tema, disesuaikan dengan banyak sedikitnya bahan yang ada di lingkungan. Tema-tema tersebut juga telah dialokasikan untuk masing-masing catur wulan dalam satu tahun. Pembahasan setiap tema hendaknya secara tuntas sesuai dengan alokasi waktu pembahasan tema, sebagai contoh tema keluarga 2 minggu, pakaian 1 munggu dan sebagainya. Namun demikian, dalam pelaksanaannya bila perlu guru masih dimungkinkan untuk mengubah susunan urutan tema tersebut dengan memperhatikan:
a)        Mempertimbangkan situasi lingkungan setempat
b)       Minggu efektif untuk masing-masing cawu sesuai kalender pendidikan yang berlaku.
c)        Waktu untuk masing-masing tema yang dipindah.
d)       Pemindahan yang diharapkan dicapai dari tema.[51]
Dalam kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru di TK Al-Islam I ini diutamakan mengacu pada kemampuan yang dicapai dan sedapat mungkin dikaitkan dengan tema yang sedang dibicarakan. Apabila guru mengalami kesulitan dalam menghubungkan kemampuan denagn tema, maka dalam memilih dan menentukan kegiatan belajar mengajar diutamakan pada kesesuaian dengan kemampuan yang akan dicapai dan bukan pada tema. Namun demikian, bukan berarti tema tersebut tidak perlu dibahas tetapi tetap dibicarakan. Dengan kata lain, tema tidak bersifat mengikat pada kemampuan yang akan dicapai.[52]
Tema-tema yang digunakan dalam KBM di TK Al-Islam I sesuai dengan Garis-Garis Besar Program Kegiatan Belajar (GBPKB) Taman Kanak-kanak adalah sebagai berikut:
1.        AKU: Identitas diri (misal: kepala, tangan, kaki), anggota tubuh (misal: kepala, tangan, kaki), ciri-ciri tubuh (misal: warna kulit, macam rambut, bentuk badan), kesukaan (misal: makanan, warna, permainan, kegiatan)
2.        PANCA INDRA: Alat/macam indera (misal: mata, telinga, hidung, kulit, lidah), fungsi alat indera (misal: mata untuk melihat, telinga untuk mendengar), macam-macam rasa (misal: manis, asam, asin), macam-macam perabaan (misal: kasar, halus, tajam, panas, dingin), macam-macam pembauan (misal: wangi, amis, busuk), macam-macam suara (misal: keras lembut, nyaring, melengking), macam-macam penglihatan (misal: jelas, buram, jauh, dekat, silau, gelap, terang, samar)
3.        KELUARGA: Anggota keluarga (misal: ayah, ibu, kakak, adik, kakek, nenek, paman, bibi), fungsi/tugas tiap-tiap anggota keluarga (misal: Ayah mencari nafkah), kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga: sehari-hari (misal: ibu menyiapkan makanan, saya menyapu lantai), sewaktu-waktu (misal: rekreasi ke laut, masak bersama), tata tertib dalam keluarga (misal: bila pergi pamit terlebih dahulu), binatang peliharaan keluarga (misal: disesuaikan dengan yang ada di rumah anak masing-masing)
4.        RUMAH: Guna rumah (misal: untuk berteduh, melindungi diri dari panas dan hujan, tempat beristirahat, tempat berkumpul keluarga), macam rumah dilihat dari bahan pembuatannya (misal: dibuat dari bambo, ijuk, kayu), jenis-jenis rumah: rumah tinggal, kantor, istana, tempat ibadah (nama-nama tempat ibadah untuk berbagai agama, rumah adat (misal: rumah joglo, rumah panggung, rumah berobat (puskesmas, rumah sakit, poliklinik), rumah untuk binatang (misal: kandang) dan lain-lain, bagian-bagian rumah (misal: pintu, jendela, atap, ruang tamu, garasi, kamar mandi, kebun, ruang tidur, dapur), alat-alat dan perkakas di dalam rumah (misal: kursi, meja, tempat tidur, kasur, taplak meja, pisau, sendok), lingkungan rumah (misal: kebun/halaman, warung, tetangga)
5.        SEKOLAH: Kegunaan sekolah (misal: di TK tempat belajar sambil bermain), gedung dan halaman  sekolah; gedung (misal: kantor, kelas, ruang guru, ruang bermain, kamar mandi/WC, perpustakaan, dapur, gedung), halaman sekolah (misal: pagar, tanaman, binatang peliharaan, alat permainan), orang-orang yang ada di sekolah (misal: kepala sekolah, guru, murid, pembantu/pesuruh, tenaga tata usaha), alat-alat yang ada di sekolah dan kegunaannya; alat permainan di dalam (misal: pusel, kubus), alat permainan di luar (misal: papan titian), perabot sekolah (misal: papan tulis, kapur), obat-obatan (misal: obat merah, perban), tata tertib di sekolah; di dalam kelas (misal: berdoa sebelum makan), di luar kelas (misal: berbaris, bermain bergantian), lingkungan sekolah; orang dan kegiatan yang ada di lingkungan
6.        MAKANAN DAN MINUMAN: Manfaat makanan/minuman (misal: untuk menghilangkan lapar/haus, untuk kesehatan), jenis makanan dan minuman (misal: 4 sehat 5 sempurna, sayur, lauk pauk, buah-buahan, susu, teh), asal makanan/minuman (misal: padi-beras-nasi), tata tertib makan/minum (misal: duduk yang rapi), persyaratan makanan sehat (misal: bersih, dimasak, tidak basi, ditutupi), alat-alat makan/minum (misal: piring, gelas, sendok, serbet), tata cara menyajikan makanan/minuman (misal: di meja makan).
7.        PAKAIAN: Manfaat pakaian; kesehatan (misal: melindungi tubuh), keindahan, cara memakai pakaian (misal: yang benar, yang salah), jenis-jenis pakaian (misal: baju, kaos kaki, celana dalam, singlet, kemeja, celana panjang, rok), penggunaan pakaian sesuai situasi, keperluan, iklim (misal: jika ke sekolah memakai seragam, jika sakit memakai baju hangat/jaket), pakaian daerah (baju bodo, baju kurung, kebaya, dsb).
8.        KEBERSIHAN, KESEHATAN DAN KEAMANAN: Manfaat kebersihan dan kesehatan (misal: menghindari penyakit), cara memelihara kebersihan dan kesehatan; kebersihan dan kesehatan diri sendiri (misal: mandi, gosok gigi, berpakaian, pemeliharaan hidung, telinga, mata), kebersihan dan kesehatan lingkungan (misal: lingkungan rumah, sekolah), alat-alat kebersihan, akibat-akibat hidup tidak bersih dan tidak sehat (misal: sakit), macam-macam penyakit yang ditimbulkan karena tidak memelihara kesehatan dan kebersihan (misal: sakit/diare, cacingan, sakit kulit), cara mencegah bahaya yang disebabkan oleh benda-benda dan obat-obatan tertentu (misal: korek api, pisau, racun, paku, pecahan kaca).
9.        BINATANG: Jenis binatang/macam binatang; binatang kesayangan (misal: kucing, anjing), binatang ternak (misal: ayam, sapi, kambing), binatang liar (misal: hariamau, serigala, kancil, rusa), serangga (kupu-kupu, semut, kecoak), burung, ikan, makanan binatang (misal: sapi dan kambing makan rumput, harimau makan daging), tempat hidup binatang; di air (misal: ikan dan binatang-binatang laut), di udara (misal: burung), di tanah (misal: cacing, semut), di kandang (misal: ayam kambing), perkembangbiakan binatang (misal: mulai dari telur sampai anak), bahaya binatang (misal: mencakar, menggigit), ciri-ciri binatang (misal: berkaki dua, berkaki empat, bertanduk, bersayap), kegunaan binatang (misal: ayam dagingnya dimakan, bulunya untuk membuat pembersih, sapi dapat untuk membajak, cacing menyuburkan tanah).
10.     TANAMAN: Macam-macam tanaman; pohon (misal: cemara, pisang, mangga), perdu/semak (misal: cabe, tomat, terong), rumput, lumut (misal:alang-alang), fungsi tanaman; untuk dimakan (misal: buah-buahan, sayuran, beras), untuk hiasan (misal: tanaman hias), cara menanam tanaman; dengan biji (misal: kacang, jagung), dengan batang (misal: singkong, bunga mawar), dengan daun (misal: cocor bebek), dengan anak/tuans (misal: pohon pisang), cara memelihara tanaman (misal: disiram, dipupuk, dibersihkan), bagian-bagian tanaman (misal: akar, batang, ranting, daun, bunga, buah)
11.     KENDARAAN: Macam-macam kendaraan; kendaraan darat (misal: mobil, kereta api, dokar), kendaraan laut (misal: kapal laut, perahu), kendaraan udara (misal: kapal udara/pesawat udara, pesawat ruang angkasa), guna kendaraan (misal: sebagai alat pengangkut orang atau barang), nama bagi pengendara/pengemudi (misal: pilot untuk pesawat udara, masinis untuk kereta api, sopir untuk mobil, nahkoda untuk kapal laut), tempat pemberhentian dan pemberangkatan kendaraan (misal: stasiun, terminal, pelabuhan, bandara), dengan apa saja kendaraan dapat bergerak (misal: karena ada mesin, bensin, ditarik kuda), bagian-bagian dari kendaraan (misal: roda, kemudi)
12.     PEKERJAAN: Macam-macam pekerjaan (misal: guru, dokter, polisi, sopir, pengantar surat/pak pos, tukang sampah, tukang sayur, pedagang), tugas-tugas/pekerjaan dari macam-macam pekerjaan (misal: pak pos tugasnya/pekerjaannya mengantar surat; dokter tugasnya menolong orang sakit; petani tugasnya/pekerjaannya menanam sayur, padi dan sebagainya), tempat bekerja (misal: pegawai di kantor, dokter di rumah sakit, guru di sekolah), alat-alat perlengkapan yang dipakai (misal: dokter perlengkapannya: termometer, stetoskop, jarum suntik dll).
13.     REKREASI: kegunaan rekreasi, tempat-tempat rekreasi, perlengkapan rekreasi, tata tertib rekreasi (misal: tidak boleh mencorat-coret di batu, dinding, tidak boleh mencabut bunga).
14.     AIR DAN UDARA: Guna/manfaat air (misal: diminum, untuk masak, mandi, gosok gigi, untuk menyiram tanaman, mengairi sawah), bahaya air (misal: banjir, kekurangan air, air limbah), asal air (misal: dari sumur, tanah, gunung, hujan, sifat air (misal: jernih/keruh, tidak berbau, tidak berwarna, bentuknya menurut tempat, mengalir dari tempat yang tinggi ke rendah dan ke segala arah), kegunaan udara (misal: untuk bernafas), angin.
15.      API: sumber-sumber api (misal: matahari, batu bara, kayu, korek api, listrik), warna-warna api (misal: merah), sifat-sifat api (misal: panas), kegunaan api (misal: untuk masak, penerang, penghangat, penggerak atau sumber energi), bahaya yang ditimbulkan (misal: terbakar/kebakaran, tersengat aliran listrik), arang, bara, asap, abu.
16.     NEGARAKU: Nama negara: Indonesia, lambang negara: burung Garuda, bendera: merah putih, presiden dan wakil presiden, ibu kota negara: Jakarta, lagu kebangsaan: Indonesia Raya, lagu-lagu wajib yang mudah dihafal anak, suku-suku bangsa yang ada di Indonesia yang paling dekat dengan anak, pahlawan-pahlawan yang paling dikenal di daerah tersebut, hari-hari besar nasional.
17.     ALAT-ALAT KOMINIKASI: Macam-macam alat komunikasi (misal: radio, televisi, telepon, pos, koran, majalah, video, dll), guna alat komunikasi (misal: radio untuk mendengar berita tentang keadaan lingkungan dan dunia luar), bentuk fisik alat-alat komunikasi, cara menggunakan alat-alat komunikasi, macam-macam benda pos.
18.     GEJALA ALAM: Macam-macam gejala alam, yaitu: siang dan malam, banjir, gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor, angin puyuh, halilintar/petir, ombak, pelangi, sebab terjadinya gejala alam, pemeliharaan lingkungan supaya tidak terjadi gejala alam yang merugikan.
19.     MATAHARI, BULAN, BINTANG DAN BUMI: Kegunaan matahari, bulan, bintang dan bumi, yang menciptakan matahari, bulan, bintang dan bumi, kapan dapat dilihat? (misal: bila malam, siang, tidak hujan)
20.     KEHIDUPAN DI KOTA, DESA, PESISIR, DAN PEGUNUNGAN: Keadaan lingkungan kota, desa, pesisir dan pegunungan, tata cara kehidupan/kebiasaan di kota, desa, pesisir dan pegunungan, macam-macam mata pencaharian di kota, desa, pesisir dan pegunungan.

3.       Proses Pembelajaran di TK Al-Islam I Jamsaren

Proses belajar mengajar di Taman Kanak-kanak tentu berbeda dengan proses belajar mengajar yang dilaksanakan di sekolah-sekolah setingkat SD dan yang lebih tinggi, karena program pendidikan di TK bukan sekedar mengajarkan hal-hal yang sudah tertera dalam kurikulum. Para guru TK harus aktif melakukan upaya pengembangan anak. Artinya bahwa dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar, kebutuhan, minat dan kemampuan anak didik harus mendapat perhatian yang seimbang.
Usia Taman Kanak-kanak adalah masih dalam tahap bermain, oleh karena itu kegiatan belajar di TK dilaksanakan dalam bentuk belajar sambil bermain. Sifat program pendidikan di TK adalah mengikuti serta mengarahkan perkembangan anak. Proses kegiatan belajar mengajar di TK Al-Islam I Jamsaren ini dapat dilihat dalam tabel jadwal kegiatan dibawah ini:[53]
Tabel XII
Jadwal Kegiatan Belajar Mengajar di TK Al-Islam I Jamsaren
Jam
Jadwal Kegiatan
06.30-07.30
Siswa masuk ke kelasnya masing-masing (di dalam kelas wali kelas bersama guru iqro membimbing siswa membaca iqro selama 60 menit)
07.30-08.00
Siswa berbaris di halaman sekolah (Guru kelas dan asistennya mengatur barisan siswa kelasnya masing-masing untuk bersama-sama melakukan hafalan surat pendek dan doa-doa dengan dibimbing salah satu guru didepan dan yang lainnya membantu dan mengawasi bacaan dan barisan siswa)
08.00-09.15
Proses belajar mengajar mulai dilakukan (Pengajaran yang berisi latihan mewarnai, menggunting, menempel, menggambar, menulis, membaca dan berhitung)
09.15-09.30
Istirahat/makan dan bermain bebas diluar
09.30-10.00
Siswa masuk dalam kelas (guru membimbing siswa kembali menghafal doa, surat-surat pendek, membacakan cerita  dan dramatisasi)
10.00
Siswa pulang ke rumah masing-masing dan bagi siswa yang mengikuti kegiatan ekstra kulikuler dilaksanakan setelah jam pelajaran usai.
Selain kegiatan belajar mengajar dalam kelas klasikal, pihak sekolah juga mengadakan kegiatan ekstra kulikuler bagi siapa saja ingin mengikutinya yang bertujuan untuk melatih dan mengembangkan kemampuan anak serta melatih bakat dan minat mereka. Diantara kegiatan ekstra kulikuler yang ditawarkan yaitu: Drumband, angklung, sempoa, tari dan bahasa Inggris.
Meskipun pada pelaksanaan proses belajar mengajar di TK berbeda dengan sekolah-sekolah yang lebih tinggi. Seperti halnya pada sekolah-sekolah yang lebih tinggi pendidikan di TK juga tidak terlepas dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan penilaian belajar. Pelaksanaan program kegiatan belajar seperti yang tercantum dalam GBPKB di TK dilaksanakan secara bertahap dan berulang sesuai dengan kemampuan anak.
Dalam kegiatan perencanaan, sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar, seorang guru harus terlebih dahulu menyusun program satu catur wulan, satuan mingguan dan satuan kegiatan harian. Penyusunan program satu catur wulan didasarkan pada GBPP yang dituangkan dalam program satu catur wulan, mulai dari tujuan kurikuler, tujuan umum, bahan, jumlah jam pertemuan yang dijabarkan dalam minggu-minggu dari bulan pertama, kedua dan ketiga. Satuan kegiatan harian disusun berdasarkan program satu catur wulan dengan meletakkan bidang pengembangan secara urut berpedoman dengan langkah-langkah penyusunan satuan kegiatan yang telah ditetapkan .
Satuan kegiatan harian merupakan program yang diuraikan untuk satu hari dimana penyusunannya berpedoman pada satuan kegiatan mingguan. Satuan kegiatan harian merupakan kegiatan belajar mengajar untuk satu hari yang berisi materi, kegiatan belajar mengajar, alat peraga, metode, dan penilaian terhadap hasil belajar.
Perencanaan harian ini terdiri dari kegiatan pembukaan, kegiatan inti, kegiatan makan/istirahat dan penutup.[54]
1)       Pembukaan
Sifat kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan. Kegiatan tersebut terutama adalah kegiatan yang berhubungan dengan tema dan sub tema. Urutan kegiatan yang dapat dilakukan adalah:
a.        Mengucap doa dan salam
b.        Mendiskusikan dengan anak tentang tema atau sub tema yang akan diberikan hari ini. Kegiatan ini berupa tanya jawab antara guru dan anak didik, lebih banyak mengungkapkan pendapatnya. Tema berikut sub tema yang dibawakan diambil dari tema-tema yang ada dalam buku II PKB TK 1994 sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Jika pada waktu diskusi terjadi kejenuhan, diharapkan guru membuat variasi kegiatan misalnya kegiatan motorik kasar, permainan melatih pendengaran anak dan jenis permainan lainnya.
c.        Pengorganisasian kelas pada saat pembukaan dilaksanakan secara klasikal.
2)       Inti
Sifat dari kegiatan inti adalah kegiatan yang mengaktifkan perhatiannya, kemampuan dan sosial emosi anak. Kegiatan ini terdiri atas bermacam-macam kegiatan bermain yang dipilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang hendak dicapai melalui:
a.        Kegiatan yang mengacu pada kemampuan dan sedapat mungkin dikaitkan dengan tema.
b.        Kegiatan bermain yang memberi kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi dan bereksperimen.
c.        Kegiatan yang meningkatkan pengertian-pengertian dan konsentrasi.
d.        Kegiatan-kegiatan yang dapat dipilih anak untuk memunculkan inisiatif, kemandirian dan kreativitas anak.
e.        Kegiatan-kegiatan yang dapat memantau dan mengembangkan kebiasaan bekerja yang baik.
Sifat kegiatan ini mengacu pada pembentukan kebiasaan bekerja yang baik dan membutuhkan konsentrasi tinggi maka kegiatan musik/perkusi dan sebaiknya tidak di kegiatan ini. Dari sejumlah kegiatan inti, ada beberapa yang diharapakan tuntas dan ada yang bersifat terus menerus diulang-ulang sampai tercapai kemampuan yang diharapkan.
Dalam kegiatan inti, guru dapat menggunakan kesempatan untuk membantu anak yang masih membutuhkan pertolongan dalam mencapai kemampuan yang hendak dicapai. Pengorganisasian anak pada kegiatan inti disesuaikan dengan kebutuhan, bisa berbentuk individu, kelompok dan juga klasikal. Untuk menunjang kegiatan inti tersebut hendaknya disiapkan sarana sebanyak-banyaknya. 
3)       Istirahat/makan
Kegiatan ini kadang-kadang dapat dipakai untuk mengisi kemampuan yang hendak dicapai yang berkaitan dengan kegiatan makan, misalnya; tata tertib makan, macam makanan yang bergizi serta doa sebelum dan sesudah makan. Setelah kegiatan makan selesai, waktu yang tersisa dapat digunakan untuk bermain dengan alat permainan di luar kelas yang bertujuan mengembangkan motorik kasar dan sosialisasi. Apabila dianggap waktu istirahat kurang, guru dapat menambah sendiri waktu istirahat dengan cara mengambil waktu kegiatan lainnya.
4)       Penutup
Bagian waktu yang terakhir ini diisi dengan kegiatan yang bersifat menenangkan anak. Kegiatan ini diberikan secara klasikal, kegiatan yang diberikan adalah:
a.        Membacakan buku cerita
b.        Dramatisasi suatu cerita
c.        Pantomim
d.        Apresiasi musik dari berbagai daerah
e.        Tanya jawab misalnya kegiatan yang telah dilakukan pada hari ini.
f.         Mengulang hafalan surat-surat pendek dan doa harian
Jika pada pembukaan belum disebutkan kejadian penting sekitar kita yang sebaiknya diketahui anak, maka pada kesempatan penutupan dapat diisi dengan membicarakan kejadian tersebut.

4.       Media Pembelajaran di TK Al-Islam I Jamsaren

Media merupakan suatu komponen penting dalam proses belajar mengajar sebagai sarana yang dapat memberikan pengalaman kepada siswa antara lain untuk memberikan pengalaman kepada siswa, mendorong motivasi belajar, memperjelas dan mempermudah konsep yang abstrak serta mempertinggi daya serap atau retensi belajar.
Walaupun ada beberapa macam media yang dapat dimanfaatkan untuk membantu suksesnya jalannya proses pembelajaran yaitu media visual, auditory, audio visual dan lain-lain, namun media pembelajaran yang lebih efektif digunakan di Taman Kanak-kanak adalah media visual sebab anak-anak belum mampu berpikir secara abstrak. Mereka lebih mengedepankan alat indera mereka dan selalu berusaha memvisualisasikan informasi yang telah mereka terima.
Diantara media visual yang tersedia di TK Al-Islam I Jamsaren ini adalah beberapa papan tulis dan gambar-gambar, baik itu berupa gambar sebuah benda atau hanya berupa tiruan dari sebuah benda. TK ini belum menggunakan media elektronik, hal tersebut karena belum adanya biaya yang memadai untuk memfasilitasinya. Namun, terkadang pihak guru TK tersebut juga menggunakan contoh kongkrit sebuah benda seperti belalang, bunga, korek api dan lain-lain sebagai sarana pembelajaran, sehingga anak-anak menjadi senang dan bersemangat oleh karena mereka dapat melihat bendanya secara langsung.
Selain itu, alat-alat peraga lain yang digunakan adalah: balok, kubus, mobil-mobilan, bentuk-bentuk geometri, ukuran panjang-pendek, besar-kecil, tebal-tipis, halus-kasar, puzzle, manik-manik, gunting, pola-pola, bola, pohon hitung, kartu huruf, huruf-huruf hijaiyah, gambar bunga dan lain sebagainya.
Pemilihan metode dan sarana belajar disamping disesuaikan dengan bahan yang akan disampaikan, juga harus memperhatikan kebutuhan, minat dan kemampuan anak sehingga dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak dalam segala segi perkembangannya.

5.       Evaluasi Pembelajaran di TK Al-Islam I Jamsaren

Tujuan diadakannya evaluasi adalah untuk mengetahui seberapa jauh anak dapat menerima materi yang telah diberikan guru. Dan secara umum penyelenggaraan evaluasi di Taman Kanak-kanak tidak seperti halnya evaluasi yang diselenggarakan di SD,SMP, SMU dan Perguruan Tinggi yang menggunakan tes tertulis/lisan. Evaluasi yang dilaksanakan di TK Al-Islam I ini adalah berupa pengamatan, artinya guru masing-masing kelas mengamati setiap perilaku anak dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak sekolah, dan penilaian tersebut dilakukan sejak dimulainya pembelajaran. [55]
Dalam penilaiannya, guru mengamati setiap perkembangan anak dalam pembelajaran, kemudian guru membuat catatan dalam buku harian kegiatan belajar. Setelah itu, catatan tersebut diolah setiap guru kelas masing-masing yang kemudian dituangkan dalam rapot dalam bentuk deskripsi.
Penilaian bahasa Arab/Inggris dalam rapot tersebut dibuat secara umum, yaitu masuk pada bagian kemampuan berbahasa. Pada umumnya kemampuan berbahasa anak baik, jika anak sudah dapat:
a.        Mengenal kata yang menunjukkan posisi
b.        Mengenal kata yang menunjukkan gerakan
c.        Menyanyikan lagu anak
d.        Berbicara lancar dengan kalimat sederhana
Khusus untuk hafalan doa-doa dan surat-surat pendek diadakan tes lisan. Saat istirahat berlangsung, mereka dites satu persatu oleh guru kelas yang dibantu oleh guru iqro’ masing-masing. Tes ini dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan anak dalam menghapal, setelah itu anak akan mendapatkan kartu penilaian yang berisi hasil nilai akhir mereka, dimana bentuk penilaian tersebut berupa huruf abjad A, B, C dan D.
Ada 3 fungsi pokok evaluasi pembelajaran yang dilakukan di Taman Kanak-kanak, diantaranya adalah:
1.        Mengetahui kemajuan dan perkembangan anak didik setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu.
2.        Mengetahui sampai dimana keberhasilan metode dan media pembelajaran yang digunakan serta materi yang disampaikan.
3.        Dengan mengetahui kekurangan serta kelebihan yang diperoleh dari hasil evaluasi tersebut, selanjutnya kita dapat berusaha untuk mencari perbaikan.[56] 
Evaluasi tersebut bukan hanya untuk kebaikan anak didik dan guru saja, namun juga untuk kebaikan sekolah, dimana dengan diadakannya evaluasi dapat mengetahui kualitas kurikulum pembelajaran yang sedang dilaksanakan, kualitas guru pengajar dan dapat pula meningkatkan kemajuan sekolah itu sendiri.
Demikian gambaran umum tentang Taman Kanak-kanak Al-Islam I Jamsaren Surakarta Jawa Tengah. Semoga Bermanfaat.
BAB III
LAPORAN HASIL EKSPERIMEN MEDIA GAMBAR DALAM PENGAJARAN KOSAKATA BAHASA ARAB DI TK AL-ISLAM JAMSAREN SURAKARTA JAWA TENGAH

A.   Deskripsi Data Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Untuk memberikan gambaran tentang anak didik Taman Kanak-kanak Al-Islam I Jamsaren yang dijadikan subyek penelitian, berikut akan penulis sajikan data siswa berdasarkan data dokumentasi daftar pribadi siswa. Berturut-turut akan disajikan data tentang jenis kelamin, sebaran usia sampel serta latar belakang usia orang tua.
Jenis Kelamin
Pelaksanaan uji coba/eksperimen media gambar di Taman Kanak-kanak Al-Islam I Jamsaren ini dengan mengambil sampel dalam satu kelas (B4) yang berjumlah 38 siswa, yang terbagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok A sebagai kelompok eksperimen dan kelompok B sebagai kelompok kontrol. Adapun sebarannya bila ditinjau dari jenis kelaminnya, sebagaimana tertera dalam tabel berikut ini:
Tabel XIII
Data Siswa Menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Kel. Eksperimen
Kel. Kontrol
Jumlah
Laki-laki
11
11
22
Perempuan
8
8
16
Jumlah
19
19
38
Data Siswa
Variabel lain yang perlu diseimbangkan antara lain adalah usia anak. Adapun sebaran usia siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol disajikan pada tabel berikut:

Tabel XIV

Sebaran Usia Sampel
No
Kelompok
Usia (Tahun)
Total
1
Eksperimen
4
2
5
16
6
1
2
Kontrol
4
3
5
15
6
1
Jumlah
38
Latar Belakang Pendidikan Orang Tua Siswa

Tabel XV

Latar Belakang Pendidikan Orang Tua Siswa

Kelompok
Pendidikan Terakhir
Jumlah
Eksperimen
Akademik
9
SMU
8
SMP
1
SD
1
Kontrol

Akademik

8
SMU
7
SMP
3
SD
1
Total
38
Dari tabel diatas tampak bahwa antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki kondisi latar belakang yang seimbang, baik dari sebaran jenis kelamin, usia dan latar belakang pendidikan orang tua, sehingga variabel ini diabaikan dan tidak diperhitungkan dalam perbedaan hasil belajar kosakata antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Persiapan sebelum Pelaksanaan Eksperimen
Perencanaan Instrumen
Sebelum eksperimen ini dilaksanakan, penulis telah melakukan observasi langsung mengenai proses kegiatan belajar mengajar di TK Al-Islam I Jamsaren ini selama 1 minggu. Setelah penulis melihat respon anak-anak terhadap alat peraga (media pendidikan) yang digunakan dalam proses pembelajaran, maka dengan penuh semangat penulis mengangkat media gambar sebagai media untuk mengenalkan kosakata bahasa Arab pada anak usia prasekolah di TK Al-Islam Jamsaren ini.
Namun setelah observasi dilakukan, eksperimen media gambar di Taman Kanak-kanak ini tidak segera dilaksanakan karena penulis mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diselenggarakan pihak fakultas Tarbiyah bekerjasama dengan Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat UIN Sunan Kalijaga selama 2 bulan di desa Umbulharjo Cangkringan Sleman Yogyakarta sebagai persyaratan bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan program sarjana (S1).
Jauh hari sebelum pelaksanaan eksperimen dimulai, penulis sudah mempersiapkan model media yang akan ditampilkan yaitu dengan model yang bermacam-macam karena eksperimen ini dilakukan beberapa kali. Hal ini dilakukan agar anak-anak tidak merasa bosan dengan model/bentuk yang sama. Kesempatan emas melaksanakan KKN pun tidak penulis gunakan dengan sia-sia. Penulis ingin mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah dengan mengajarkan bahasa Arab pada santri TPA Al-Iman Umbulharjo Cangkringan Sleman yang dilaksanakan seminggu sekali.
Pengajaran bahasa Arab yang dilaksanakan di TPA Al-Iman ini masih sangat sederhana hanya sebatas pengetahuan bermacam-macam kosakata bahasa Arab yang ada di lingkungan sekitar anak dan dengan menggunakan media yang sederhana pula. Dan  akhirnya timbul suatu ide untuk mengujicobakan media gambar yang telah penulis persiapkan sebelumnya. Ternyata, dengan model pengajaran kosakata semacam ini mendapat respon yang sangat positif dari para santri dan dapat menarik minat mereka untuk lebih giat  mempelajari  bahasa Arab, hingga akhirnya hasil pengajaran membuktikan bahwa pengajaran kosakata bahasa Arab dengan menggunakan media gambar lebih efektif dalam meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Arab.
Setelah keberhasilan ini diperoleh di TPA Al-Iman, maka penulis berusaha mengembangkan ide menerapkannya pada pengajaran bahasa Arab khususnya kosakata di lembaga formal.  Dan dipilihlah TK Al-Islam I Jamsaren Surakarta sebagai tempat penelitian karena di Taman Kanak-kanak ini belum mengajarkan bahasa Arab secara intensif .
Waktu yang diperlukan
Pembuatan Media Gambar
Karena gambar yang akan digunakan dalam mengenalkan kosakata bahasa Arab (mufrodat) mempunyai model dan cara yang berbeda-beda, maka penulis harus merancang dan mendesain gambar terlebih dahulu yang disesuaikan dengan tema. Desain pembuatan media gambar membutuhkan waktu kurang lebih 10 hari.
Uji Coba Media Gambar
Media gambar merupakan media yang paling efektif digunakan dalam proses pembelajaran di Taman Kanak-kanak. Adapun secara formal uji coba media gambar dalam pengajaran bahasa Arab  dengan berbagai model ini  belum sering dilakukan sebelumnya di Taman Kanak-kanak Al-Islam I ini. Akan tetapi secara kontinue pemakaian media gambar ini pernah diujicobakan pada para santri di TPA Al-Iman tempat penulis menjadi pengajar khusus bidang bahasa Arab ketika melaksanakan program KKN. Program ini dilakukan secara intensif selama 2 bulan.
Eksperimentasi di TK Al-Islam I Jamsaren
Pada awalnya penyusun berkeinginan untuk melaksanakan eksperimen ini pada semester akhir, namun dikarenakan dengan terbenturnya pelaksanaan KKN UIN semester genap, maka penyusun mengganti waktu eksperimen pada semester awal ketika siswa baru memulai aktifitas sekolahnya. Dalam pelaksanaan eksperimen di TK Al-Islam I Jamsaren tersebut, penyusun memerlukan waktu 2 bulan. Sedangkan proses penelitian seluruhnya dilakukan selama kurang lebih 3 bulan.
Kisi-Kisi Soal Pre Test dan Post Test
Berikut ini tampilan dari kisi-kisi soal pre test dan post test yang diberikan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
TABEL XVI
Kisi-Kisi Soal Pre Test dan Post Test
No
Tema
Sub Tema
Soal Pre Test
Soal Post Test
Indikator
1
Panca Indra
Alat/macam indra
Mata,telinga, hidung,lidah, kulit (tangan)
Mata,lidah, tangan,
1. Siswa dapat menirukan dan mengucapkan kosakata baru dengan baik dan benar
2
Keluarga
Anggota keluarga
Ayah,Ibu,kakek,nenek,saudara laki,saudara perempuan
Ayah,nenek,saudara perempuan
3
Sekolah
Alat-alat yang ada di sekolah
Papan tulis, meja,kursi,buku,tas
Papan tulis, meja,buku
2. Siswa dapat mengenal dan menyebutkan kembali kosakata baru
4
Kendaraan
Macam-macam kendaraan
Sepeda,mobil,pesawat,kapal laut,kereta api
Kereta api, mobil,pesawat

Jumlah

21
12
Prosedur Eksperimen
Pengukuran sebelum Eksperimen
Sebelum eksperimen dilakukan, terlebih dahulu perlu diteliti apakah 38 siswa yang dipilih sebagai subyek penelitian betul-betul berangkat dari Titik tolak yang sama, dalam hal ini adalah variable non eksperimen yang diperkirakan akan mempengaruhi bias hasil penelitian, sehingga apabila terjadi perbedaan semata-mata karena pengaruh variabel eksperimental.
Variabel non eksperimental yang dirasa perlu dikondisikan dalam penelitian ini adalah ruang tempat berlangsungnya eksperiemen, pengaturan tempat duduk dan lain sebagainya. Dari pengamatan penulis, ruang kelas dan tempat duduk dimana eksperimen berlangsung tidak jauh berbeda dengan kelas kontrol. Dengan adanya pengontrolan tersebut berarti sumber kesesatan dapat dikendalikan.
Dalam penelitian di lapangan, eksperimen dilaksanakan dalam satu kelas saja karena banyaknya jumlah siswa dalam tiap kelas yang dapat menyulitkan peneliti dalam mengelola kelas, yakni pada kelas nol besar kelompok B4 yang berjumlah siswa 38 anak. Penulis membaginya menjadi 2 kelompok berdasarkan nomor urut absensi. Kelompok A dari nomor urut 1-19 sebagai kelompok eksperimen dan kelompok B dengan nomor urut 20-38 sebagai kelompok kontrol. Kedua kelompok tersebut dianggap memiliki kondisi yang sama.
Variabel non eksperimen yang juga perlu diperiksa sebelum pelaksanaan eksperimen adalah waktu pelaksanaan dan waktu test. Waktu pelaksanaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ini memang berbeda mengikuti jadwal yang telah diatur oleh peneliti/penulis atas koordinasi guru kelas, namun durasi waktunya tetap sama yaitu 1 x 45 menit dalam setiap pertemuan yang dilaksanakan pada pagi hari saat anak berbaris di halaman sekolah yakni sebelum siswa mengikuti pelajaran inti.
Pemberian pre test pada kedua kelompok tersebut dilakukan secara bersamaan pada hari kamis tanggal 26 Agustus 2004 yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah anak-anak TK Al-Islam I Jamsaren baik kelompok A maupun B benar-benar tidak mengetahui tentang kosakata bahasa Arab sama sekali, sebagaimana yang pernah diungkapkan Ibu Noor Athiyah sebagai guru kelas bahwa anak-anak belum pernah diajarkan bahasa Arab (mufrodat).
Setelah pre test dilaksanakan terbukti bahwa memang benar anak-anak tidak mengetahui sama sekali tentang kosakata bahasa Arab, baik yang menyangkut tema panca indra, sekolah, rumah ataupun kendaraan dan lain-lain. Hanya saja antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sama-sama hafal bilangan bahasa Arab 1-10.  Dalam pelaksanan pre test penulis menggunakan metode tanya jawab secara klasikal kemudian membagikan sebuah kertas yang berisi beberapa gambar benda (gelas) untuk kemudian anak disuruh mewarnai dan menghitung jumlah benda tersebut dengan menggunakan angka bahasa Arab. Selain melatih ingatan anak, pre test ini juga bertujuan untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas anak.
Pelaksanaan Eksperimen
Setelah kedua kelompok dianggap sepadan dan telah diberi pre test, maka selanjutnya adalah mengadakan treatment yaitu melaksanakan pembelajaran kosakata bahasa Arab dengan menggunakan media gambar pada kelompok eksperimen dan pengajaran biasa (tanpa menggunakan media gambar) pada kelompok kontrol. Pelaksanaan eksperimen dimulai pada bulan Agustus sampai dengan Oktober tepat pada semester awal tahun ajaran 2004/2005. Setelah diadakan observasi dan penyepadanan serta balancing antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sesuai dengan schedule yang telah ada, eksperimen media gambar ini menempuh 8 kali pertemuan dengan durasi waktu 1 x 45 menit yang dilaksanakan pada saat anak-anak berbaris di halaman kelas.  Adapun treatmen atau perlakuan pada kelompok eksperimen dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pengaturan Tempat Duduk
Sebelum memulai pengajaran kosakata bahasa Arab (mufrodat) ini, penulis terlebih dahulu menyuruh anak-anak untuk membalik kursi mereka masing-masing menghadap kedepan untuk memusatkan pandangan dan konsentrasi mereka dalam satu arah., karena dalam proses pembelajaran biasanya mereka duduk secara berkelompok dan berhadapan satu sama lain. Tempat duduk yang diatur menghadap satu arah ini dilakukan bertujuan untuk mempermudah komunikasi antara guru dan anak didik.
Gambar 1. Posisi Duduk dalam Pengajaran
Mengenalkan Gambar
Setelah anak-anak duduk dengan posisi menghadap kedepan semuanya, penulis mengeluarkan alat peraga dan gambar sekaligus, setelah itu penulis menerangkan satu persatu gambar yang akan disajikan agar anak-anak tidak kesulitan (bingung) dengan gambar yang ditampilkan.
Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa tujuan pembelajaran bahasa Arab di TK adalah sebuah langkah pengenalan. Dengan demikian metode yang digunakan dalam pembelajaran tersebut adalah metode audio lingual, audio visual dan bernyanyi. Metode tersebut dianggap lebih efektif untuk pembelajaran bahasa Arab pada anak usia prasekolah ini.
Metode audio lingual adalah metode yang melatih kecakapan/kemampuan anak dalam mendengarkan dan mengucapkan. Dalam pembelajarannya langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut:
1.       Guru membacakan kosakata di depan kelas, dan murid mendengarkan tanpa melihat kepada teks.
2.       Kemudian guru membacakan kembali kosakata tersebut satu persatu dan murid menirukan kosakata yang diberikan guru.
3.       Guru terus mengulang-ulang dan murid mengikutinya.
4.       Anak yang sudah hafal disuruh memperagakannya di depan kelas
Metode ini dianggap kurang baik dan efektif sebab anak-anak tidak belajar secara aktif, anak belajar karena ada rangsangan dari guru pengajar. Jadi yang aktif disini adalah guru, sedangkan murid hanya menirukannya saja dan pasif. Namun, bila ditelaah lebih lanjut pada tujuan pembelajaran bahasa Arab dan materi yang diberikan, maka metode audio lingual ini telah sesuai, sebab pada tujuan pembelajaran bahasa Arab ini anak tidak dituntut untuk aktif dan kreatif, karena usia mereka yang masih dini dan sulit untuk memahaminya.
Selanjutnya adalah metode audio visual, yaitu metode yang melatih kemampuan anak dalam hal mendengarkan dan melihat. Jadi yang disajikan disini bukan hanya tulisan saja, namun gambar adalah salah satu pendukung dalam penyampaian materi bahasa Arab. Karena pembelajaran bahasa Arab akan lebih menarik dan menyenangkan serta bersemangat bila didukung dengan gambar.
Sedangkan langkah-langkah penyajian materi bahasa Arab dengan menggunakan metode audio visual untuk anak-anak TK adalah sebagai berikut:
1.       Guru membacakan kosakata di depan kelas dengan menggunakan media visual/benda aslinya dan murid hanya melihat dan mendengarkan.
2.       Guru mengulangi lagi dan murid ikut membaca dengan melihat gambar/benda aslinya.
3.       Guru terus mengulang membacakan kosakata tersebut dan murid mengikuti.
4.       Anak yang telah hafal disuruh memperagakan di depan kelas.
Bernyanyi adalah kegiatan yang sangat menarik bagi anak-anak, dimana dengan bernyanyi anak dapat mengurangi kebosanan mereka. Langkah-langkah pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan metode bernyanyi adalah sebagai berikut:
1.       Guru menyebutkan kosakata satu persatu untuk memperjelas bacaan, kemudian anak-anak menirukannya.
2.       Guru mencoba menyanyikan kosakata tersebut dengan menggunakan nada lagu yang berbeda-beda hingga selesai dan anak-anak mendengarkannya.
3.       Guru menyanyikan kembali satu persatu kosakata tersebut kemudian murid menirukannya.
4.       Setelah siswa benar-benar bisa, kemudian mereka dengan diikuti oleh guru menyanyikan bersama secara bersama-sama dan mengahafalnya.
Tidak ada satu metode pun yang paling benar dan baik. Semua metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Begitu pula dengan ketiga metode yang digunakan TK tersebut, ketiganya bertujuan untuk membantu kelancaran proses pembelajaran bahasa Arab. Dalam hal ini penulis berusaha mengaplikasikan ketiga metode tersebut secara bersamaan dengan model pembelajaran yang berbeda-beda guna memperoleh hasil yang optimal.
Model Pengajaran
Dalam mengenalkan kosakata  bahasa Arab, penulis menggunakan beberapa model pengajaran. Adapun beberapa model pengajaran yang digunakan dalam pelaksanaan eksperimen ini meliputi 3 model yaitu:
1.       Model silang (menarik garis)
2.       Model menjodohkan
3.       Model  membalik
Ketiga model tersebut dilaksanakan secara berurutan mulai dari model silang (menarik garis), model menjodohkan dan model membalik. Ketiga model tersebut sedikit banyak memang memiliki kemiripan, hanya proses pembelajarannya yang dibuat agar berbeda, hal ini dilakukan agar anak-anak tidak merasa jenuh dan bosan.
Pada model silang (menarik garis), penulis telah mempersiapkan alat peraga yang berupa 5 gambar indra dan 6 gambar anggota keluarga beserta arti/makna dari masing-masing kosakata yang telah penulis desain dalam tempat khusus. Setelah proses pembelajaran kosakata bahasa Arab berlangsung anak-anak disuruh maju kedepan untuk menarik garis/menyilang antara gambar-gambar tersebut dan makna/arti dalam bahasa Indonesianya masing-masing. Pada model kedua yakni model menjodohkan ini tidak jauh berbeda dengan model silang (menarik garis), hanya saja siswa disuruh menjodohkan antara gambar dan maknanya yang telah diacak dengan menempelkannya di sebelah gambar.
Dan pada model membalik, penulis telah mempersiapkan gambar dan menuliskan artinya dibelakang gambar tersebut, dalam model ketiga ini penulis ingin mengajarkan bagaimana cara membaca dan menulis baik pada anak didik baik itu dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia.
Ketiga model yang dilaksanakan tersebut diharapkan mampu mencapai kemampuan anak didik dalam rangka pengembangan kemampuan dasar  sebagaimana yang tercantum dalam GBPKB TK sebagai berikut:
Dalam bidang bahasa:
a.       Menirukan kembali 2 s.d 4 urutan angka, urutan kata (latihan pendengaran). (1)
b.       Menggunakan dan dapat menjawab pertanyaan apa, mengapa, dimana, berapa, bagaimana dsb. (3)
c.        Mengurutkan dan menceritakan isi gambar. (14)
2)  Dalam bidang Daya pikir
a.       Membilang (mengenal konsep bilangan dengan benda-benda). (2)
b.       Menyebutkan sebanyak-banyaknya benda yang ada di sekitar. (9)
c.        Menyebutkan kembali benda-benda yang baru dilihatnya (ingatan). (20)
3)  Dalam Bidang Ketrampilan
a.       Menarik garis datar, tegak, miring kanan, miring kiri, lengkung berulang-ulang dengan alat tulis secara bertahap. (1)
b.       Mencontoh  dan menulis angka 1-10 (dalam bahasa Arab). (3 dan 5)
c.        Mewarnai bentuk gambar sederhana. (15)
Treatmen ini dilakukan sebanyak delapan kali pertemuan. Masing-masing treatmen berdurasi waktu 1 x 45 menit. Adapun jadwal pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
Tabel XVII
Jadwal Pelaksanaan Eksperimen

No

Tanggal
Materi
Model
1

26 Agustus 2004

Pre test (angka arab 1-10)
Tanya Jawab
2
31 Agustus 2004
Alat/macam panca indera
I
3
2 September 2004

Keluarga

I
4
7 September 2004
Alat-alat di sekolah
II
5
9 September 2004
Alat-alat di sekolah
II
6
14 September 2004
Macam-macam kendaraan
III
7
16 September 2004
Macam-macam kendaraan
III
8
21 September 2004
Post test
Evaluasi
Materi Pengajaran
Materi/isi gambar-gambar yang diberikan telah disesuaikan dengan tema pada cawu I, akan tetapi  atas persetujuan dari guru kelas B4 dan kepala sekolah ada satu tema yang diambil dari tema yang seharusnya diajarkan pada cawu II (tema kendaraan). Hal ini tidak menjadi suatu masalah yang signifikan, karena tidak begitu berpengaruh terhadap proses pembelajaran pada kegiatan inti. Pengajaran bahasa Arab yang dilaksanakan ini hanya bersifat tambahan (ekstrakulikuler) saja.  Adapun deskripsi penerapannya akan penulis jelaskan sebagai berikut:
Materi pada pertemuan kedua dan ketiga dengan menggunakan gambar yang berisi tema panca indra sebanyak 5 gambar dan 6 gambar anggota keluarga dengan menggunakan metode silang (menarik garis). Dengan rincian materi/isi gambar sebagai berikut:
Panca Indra sebanyak 5 gambar: mata, telinga, hidung, lidah, kulit (tangan)
Anggota keluarga sebanyak 6 gambar: Ayah, ibu, kakek nenek, saudara laki-laki, saudara perempuan
Materi pada pertemuan keempat dan kelima yaitu dengan menggunakan model menjodohkan dengan tema sekolah sebanyak 5 gambar, yaitu: papan tulis, meja, kursi, tas, buku.
Pada pertemuan keenam dan ketujuh dengan menggunakan model membalik yaitu tema kendaraan dengan menggunakan gambar sebanyak 5 buah, yaitu: sepeda, pesawat terbang, kereta api, mobil, kapal laut.
                                Gambar 2. Materi Pengajaran Kosakata Bahasa Arab
                1. Tema Panca Indra  5 gambar
                                 Mata                                                                                     Lidah                                                    
عَيْنٌ

 

لِسَانٌ

 

 

               
                                Hidung                                                                  Tangan
                               
                               
أَنْفٌ

 

يَـدٌ

 

 


Telinga
أُذُنٌ

 

O

2. Tema Keluarga 6 gambar
Ayah                                                                                          Ibu

 


Kakek                                                                                    Nenek
Saudara Laki-laki                                        Saudara perempuan

 


               
3. Tema Sekolah 5 gambar
Papan tulis                                                                             Meja
Kursi                                                                                     Buku
Tas
4. Tema Kendaraan
Pesawat terbang                                                                 Kereta Api
طَـيَّارَةٌ

 

قِـطَارٌ

 

 


Mobil                                                                                     Sepeda mini
سَـيَّارَةٌ

 

دَرَّاجَةٌ

 

 


Kapal laut

 


Situasi Eksperimen
Pertemuan Pertama
Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus 2004. Sebelum eksperimen berlangsung peneliti terlebih dahulu mengenalkan diri di hadapan anak-anak tentang maksud dan tujuan mengajar disana. Merupakan hal biasa bila siswa terlihat agak sedikit gaduh ketika melihat guru baru, mereka terlihat sangat senang dan antusias dengan kedatangan guru baru dan dengan proses pembelajaran yang sedikit berbeda dengan biasanya.
Kemudian terlebih dahulu peneliti memberikan pre test kepada siswa dengan materi bilangan/angka 1-10 dalam bahasa Arab. Peneliti dibantu guru kelas mengulang kembali ingatan anak tentang urutan angka dalam bahasa Arab  dari angka 1-10 sambil menuliskannya di papan tulis. Anak-anak sangat antusias mengikutinya dengan menggunakan jari-jari mereka. Dan untuk lebih mempermudah mereka mengingatnya, proses pembelajarannya dilakukan sambil bernyanyi.
Setelah mereka semua menguasai dan menghafal kosakata yang diajarkan, kemudian peneliti membagikan kertas yang telah didesain sebagai bahan pre test, yakni anak-anak disuruh mewarnai gambar gelas sesuai dengan daya imajinasi dan kreativitas mereka kemudian menghitung jumlah masing-masing gelas dengan menggunakan tulisan angka bahasa Arab.
Setelah proses pembelajaran selesai guru kembali mengulang-ulang kosakata tersebut agar anak selalu mengingatnya serta dapat melafalkannya dengan baik dan benar.
Pertemuan Kedua
Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari senin tanggal 30 Agustus 2004. Hari pertama penerapan eksperimen gambar  mufrodat ini anak-anak nampak senang sekali, karena hal ini merupakan suasana baru yang belum pernah mereka temui. Anak-anak tak henti-hentinya menanyakan apa arti tulisan Arab yang terpampang di sebelah gambar yang akan diajarkan, sehingga penulis agak sedikit kebingungan, karena anak-anak terus berlarian kedepan untuk melihat gambar yang ada di papan tulis. Suasana ini berlangsung kurang lebih 5 menit. Dan setelah penulis melihat bahwa anak-anak sudah puas dalam mengamati media, penulis segera menenangkan mereka dengan tepukan (tepuk anak sholeh) sehingga anak satu persatu berlarian menuju tempat duduk mereka masing-masing dan kemudian penulis segera memulai pembelajaran kosakata bahasa Arab (mufrodat) dengan tema panca indra.
Sebagai langkah awal penulis menanyakan satu persatu gambar yang ada dan ternyata anak-anak tidak mengalami kesulitan dalam memahami gambar, setelah itu penulis mengenalkan satu persatu bahasa Arab dari tiap gambar yang ada. Bagi anak usia dini menghafal lima mufrodat sekaligus sepertinya agak merasa kesulitan, maka penulis pun segera mengulang-ulang terus bahasa Arab dari gambar tersebut. Ternyata dengan cara diulang secara terus menerus anak-anak dapat mudah menghafal. Kemudian untuk mengetahui sampai dimana tingkat penguasaan mereka terhadap materi, penulis meminta mereka maju secara bergantian untuk menghubungkan gambar dengan tulisannya dengan cara menarik garis silang. Dan sampai pada langkah ini penulis mengalami kendala dikarenakan anak-anak 90% belum bisa membaca, tidak hanya berhenti sampai disitu saja penulis mencari ide yang lain supaya anak-anak lebih hafal dan tidak mudah lupa, maka penulis pun menyampaikannya melalui nyanyian. Dari sini penulis merasa senang sekali melihat anak-anak riang gembira dan merespon apa yang diajarkan penulis. Selain itu penulis juga sedikit menerangkan tentang fungsi dari masing-masing panca indra tersebut.
Pertemuan Ketiga
Pada pertemuan ketiga yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 2 September 2004. Pada pertemuan ini penulis sedikit mengulang materi yang diajarkan kemarin dan anak-anak pun sudah lancar menyebutkan dan menghafalkannya, karena selain dengan gambar mereka dapat langsung menggunakan panca indra mereka sebagai media yang paling efektif. Kemudian setelah itu penulis memberikan materi baru yaitu tentang anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, kakek, nenek, saudara laki-laki dan saudara perempuan. 
Akan tetapi, seperti yang sudah penulis paparkan diatas bahwa banyak anak-anak yang belum bisa membaca. Melihat hal ini penulis terus berusaha mengajarkan (mengenalkan tulisan Arab) tetapi sangat sulit bagi anak untuk menulis tulisan Arab. Maka setelah berkonsultasi dengan guru kelas dan penulis mendapat informasi bahwa anak-anak kelompok B4 rata-rata baru jilid 1 dan 2 dan hanya sedikit yang jilid 3, sehingga dengan melihat kenyataan ini penulis tidak memaksa anak untuk bisa membaca tulisan baik tulisan Indonesia ataupun bahasa Arabnya. Yang terpenting adalah anak-anak bisa menghafal kosakata (mufrodat) yang sudah ditargetkan dan sesuai dengan tujuan. Perlu penulis jelaskan bahwa pada pertemuan hari ketiga ini masih tetap menggunakan model pengajaran yang sama dengan pertemuan kedua yakni model menarik garis/ menyilang.
Pertemuan Keempat
Pertemuan keempat ini dilaksanakan pada hari selasa tanggal 7 September 2004 yaitu dengan menggunakan model menjodohkan dan mengacu pada tema sekolah, kosakata yang dikenalkan pun disesuaikan dengan benda-benda yang sudah dihafal anak-anak. Metode pembelajaran pada hari keempat ini sama dengan hari kedua, hanya saja yang membedakan disini adalah anak-anak disuruh mengambil gambar kemudian menjodohkan (mencocokkan) dengan tulisan bahasa Indonesia dan bahasa Arab yang sesuai, dimana sebelumnya penulis sudah menunjukkan dan memberikan contoh sampai 3 kali. Setelah penulis selesai memberi contoh, penulis menawarkan pada anak-anak siapa yang mau maju kedepan. Tidak terduga sebelumnya, ternyata anak-anak sangat antusias dan bersemangat menanggapi tawaran penulis. Suasana kelas pun kian gaduh dan ramai namun penulis segera mengatasinya dengan bertepuk dan suasana pun kembali kondusif seperti semula.  Anak-anak sangat serempak mengangkat tangan hingga ada pula yang maju kedepan tanpa disetujui penulis. Melihat semangat dan keriangan anak-anak, penulis sangat senang sekali dan seperti halnya pengajaran pada hari pertama yang didukung melalui nyanyian, pertemuan keempat pun dilakukan dengan kegiatan bernyanyi yang dapat mempermudah anak dalam menghafal semua kosakata yang diajarkan.
Pertemuan Kelima
Sebelum proses pembelajaran dimulai, penulis mencoba mengevaluasi dan menguji ingatan anak-anak satu persatu tentang beberapa kosakata yang telah diajarkan sebelumnya. Dan hasilnya ternyata sangat memuaskan. Pada pertemuan kelima yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 9 September 2004 ini model pembelajaran yang dilaksanakan masih sama seperti pada pertemuan keempat dengan materi yang sama pula. Di hari kelima ini penulis sama sekali tidak mengalami kesulitan karena hanya mengulang-ulang saja.
Pertemuan Keenam
Pada pertemuan keenam ini, penulis menggunakan model membalik gambar yang salah satu sisinya terdapat tulisan kosakata bahasa Arab beserta artinya (bahasa Indonesia). Penulis menunjukkan pada anak-anak tentang gambar yang sudah didesain kemudian menanyakan kepada anak-anak gambar dari masing-masing benda. Setelah anak-anak menyebutkan dan mengidentifikasi setiap gambar kemudian penulis melafalkan bahasa Arab dari masing-masing benda tersebut. Model membalik gambar ini bertujuan agar anak mengenal tulisan dari pelafalan tiap kosakata dan kemudian dapat menirukannya baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Akan tetapi tidak seperti biasanya, di hari keenam ini anak-anak agak kurang bersemangat dibandingkan hari sebelumnya. Akhirnya kosakata bahasa Arab  (mufrodat) yang dikenalkan pada hari itu selain dengan metode praktek langsung juga dengan melalui tepuk. Kebetulan materi hari kelima ini adalah mengacu pada tema kendaraan, jadi tepuknya adalah tepuk rumah. Dan Alhamdulillah dengan adanya tepukan ini, anak-anak sangat senang sekali dan kelas pun menjadi ramai dan kembali bersemangat.
Pertemuan Ketujuh
Seperti biasanya pada setiap satu materi yang diajarkan dilaksanakan dalam dua kali pertemuan, hal ini dimaksudkan agar anak-anak mudah mengingat kosakata yang diajarkan. Pertemuan ke tujuh ini dilaksanakan pada hari kamis tanggal 16 September 2004 dan masih dengan tema yang sama yakni kendaraan. Pada pertemuan ini penulis sedikit mengajak anak berdialog dan melakukan tanya jawab tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kendaraan, macam-macam kendaraan baik di darat, laut dan udara, nama bagi pengendara/pengemudi (sopir, masinis dll) serta tempat pemberhentian dan pemberangkatan kendaraan (stasiun, bandara dll).
Pertemuan kedelapan
Di hari kedelapan ini merupakan hari yang terakhir penulis mengadakan eksperimen, dan di hari ini pula seluruh kosakata bahasa Arab yang telah diajarkan dengan jumlah 21 kosakata diulang kembali mulai dari tema panca indra (5 kosakata), tema keluarga (6 kosakata) tema sekolah (5 kosakata) dan tema kendaraan (5 kosakata). Dan sampai hari yang terakhir ini penulis merasakan kegembiraan dan kebanggaan tersendiri karena penelitian ini telah terealisasi dengan baik dan insya allah berhasil dengan memuaskan.
Pada pertemuan terakhir ini juga dilaksanakan post test untuk mengevaluasi hasil belajar siswa, baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Rencana awal post test dilaksanakan dengan metode pemberian tugas saja, akan tetapi setelah melihat bahwasanya antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol 90% belum bisa membaca bahasa Arab dan juga bahasa Indonesia, maka akhirnya penulis mengambil dua metode yaitu metode pemberian tugas dan metode tanya jawab. Metode pemberian tugas ini dilaksanakan secara tertulis, metode ini penulis sesuaikan dengan kemampuan yang diharapkan dicapai dalam GBPKBTK yaitu pada kemampuan Daya Pikir 2 menghubungkan konsep bilangan dengan lambang bilangan 1-10. soal post test yang menggunakan metode pemberian tugas ini terdiri dari 12 kosakata bahasa Arab (mufrodat). Sebelum post test dengan pemberian tugas dilaksanakan atau sebelum lembar kerja dibagikan kepada anak, terlebih dahulu penulis memberi contoh tentang bagaimana cara mengerjakan soal tersebut. Pemberian contoh ini diharapkan agar anak-anak tidak kesulitan dalam mengerjakan lembar soal. Tetapi dari hasil post test dengan metode pemberian tugas ini sangat tidak memuaskan. Justru dengan metode tanya jawab hasilnya sangat memuaskan. Tanya jawab disini dilaksanakan secara berkelompok, dimana anak disuruh maju kedepan kemudian penulis dibantu guru kelas dan asistennya menanyakan satu persatu kemudian diucapkan bersama-sama.
Post test dengan metode tanya jawab ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui hasil yang sebenarnya, artinya anak dapat menyebutkan kata-kata sendiri tanpa bantuan guru atau orang lain. Dan sebagai hasil akhir, penulis mengambil dari hasil evaluasi dengan metode tanya jawab yang didukung dengan hasil pemberian tugas. Dari metode ini, sangat jelas terlihat bahwa kelompok Ā sebagai kelompok yang mendapat perlakuan rata-rata menguasai kosakata bahasa Arab (mufrodat) yang telah diajarkan dan melebihi kosakata yang telah ditargetkan. Kelompok eksperimen rata-rata hafal 19-21 kosakata, padahal penulis hanya menargetkan 15 kosakata pada tiga kali pertemuan (tiga hari sebagai pengulangan).  
Laporan Hasil Eksperimen
Pengujian Prasyarat Analisis
Agar hasil penelitian yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan, maka instrumen diujicobakan terlebih dahulu dan dicari validitas dan realibilitasnya, selanjutnya digunakan untuk mencari data.
Pengujian Distribusi Normal
                Pengujian normalitas distribusi yaitu untuk menguji hipotesa nihil yang menyatakan bahwa frekuensi yang diobservasi dari distribusi nilai-nilai yang sedang diselidiki normalitas distribusinya, tidak menyimpang secara signifikan dari frekuensi teoritiknya atau dengan bahasa yang lebih mudah bahwa uji normalitas ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah data yang dikumpulkan berdistribusi normal atau tidak.
                Untuk menguji sebaran normalitas sebaran dilakukan dengan komputer program uji normalitas edisi Sutrisno Hadi dan Yuni Parmadiningsih paket SPS 2000 (Seri Program Statistik).
                “Apabila harga X2hit < X2tab, maka Hoditolak dengan taraf signifikansi 5%. Ringkasan uji normalitas data disajikan pada tabel berikut ini. Sedangkan perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran I.
Tabel XVIII
Uji Normalitas Pre Test
Kelompok
X2hit
X2tab 5%
Keterangan
Eksperimen
4,191
11,070
Normal
Kontrol
5,823
11,070
Normal
                Dari tabel diatas ternyata X2hit < X2tab5%, maka dapat disimpulkan bahwa sebaran data penelitian berdistribusi normal untuk uji normalitas pre test. Sedangkan uji normalitas post test dapat dilihat dalam tabel berikut ini:
Tabel XIX
Uji Normalitas Pre Test
Kelompok
X2hit
X2tab 5%
Keterangan
Eksperimen
12,033
14,067
Normal
Kontrol
4,135
15,507
Normal
                Tabel uji normalitas post test diatas dapat diketahui juga bahwa harga X2hitlebih kecil dari X2tab. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa sebaran data penelitian berdistribusi normal.
Validitas
                Validitas berkenaan dengan alat ukur terhadap konsep yang diukur sehingga betul-betul mengukur apa yang seharusnya diukur. Ada tiga jenis validitas yang sering digunakan dalam penyusunan instrumen, yakni validitas isi, validitas bangun pengertian dan validitas ramalan.
        Dalam penelitian ini hanya memperhatikan validitas isi, yaitu dengan cara melakukan penyusunan tes kosakata yang telah dirancang dan didesain oleh penulis baik secara lisan maupun tulisan atas persetujuan dan kerjasama guru kelas yang bersangkutan dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran bahasa Arab pada anak usia Taman Kanak-kanak ini yakni dalam rangka proses pengenalan. Dalam hal ini penulis tidak menggunakan angka/nilai nominal sebagai hasil evaluasi yang telah dilaksanakan, tetapi berapa banyak jumlah kosakata bahasa Arab yang dikuasai anak.
Deskripsi Data Kemampuan Siswa
Data skor kemampuan awal penguasaan kosakata bahasa Arab pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel XX
Data Skor Pre Test
No.
Kelompok
Modus
Mo
Median
Me
Mean
M
Std. Deviasi
SD
Harga
Max
Min
1.
Eksperimen
5,00
8,000
7,3684
1,80156
10,00
5,00
2.
Kontrol
10,00
7,000
7,3158
2,02903
10,00
4,00
                                Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran II halaman…
Dari tabel tersebut apabila digambarkan dalam bentuk histrogram akan nampak sebagaimana terlampir pada halaman…
                Dan dari tabel yang terlampir tersebut tampak dengan jelas bahwa penguasaan kosakata awal kelompok eksperimen tidak jauh berbeda dengan kelompok kontrol yaitu dengan perbandingan bahwa jumlah kosakata tertinggi yang dikuasai oleh kelompok kontrol sebelum mendapat perlakuan sebesar 10 kosakata dan terendah sebesar 4 kosakata bahasa Arab dengan nilai rata-rata 7,3158. Sedangkan kelompok eksperimen juga menguasai kosakata bahasa Arab sebanyak 10 kata dan terendah 5 kosakata dengan mean sebesar 7,3684.
                Kemudian setelah diberi perlakuan yaitu dengan menggunakan media gambar bagi kelompok eksperimen dan pengajaran tradisional dengan tanpa menggunakan media gambar bagi kelompok kontrol, kemudian dilakukan tes akhir (post test). Adapun hasil post test secara global dapat dilihat dalam tabel. Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran II
Tabel XXI
Data Skor Post Test
No.
Kelompok
Modus
Mo
Median
Me
Mean
M
Std. Deviasi
SD
Harga
Max
Min
1.
Eksperimen
14,00
19,0000
18,1053
2,62244
21,00
14,00
2.
Kontrol
8,00
10,0000
9,7368
2,05053
14,00
6,00
Dari tabel tersebut jika digambarkan dengan grafik histogram sebagaimana terlampir pada halaman….. Grafik diatas menunjukkan bahwa jumlah kosakata yang banyak dikuasai oleh siswa (sering muncul) dari kelompok kontrol berada pada rentang antara 8-11 kosakata dengan rata-rata 9,737 dan standar deviasi sebesar 2,051.
Sedangkan grafik penguasaan kosakata akhir kelompok eksperimen menunjukkan bahwa jumlah kosakata tertinggi yang dikuasai oleh siswa yaitu antara 20 dan 21 dengan mean sebesar 18,105 dan standar deviasi 2,622.
Berdasarkan hasil tes awal dan tes akhir dari kedua kelompok tersebut, dapat diketahui adanya peningkatan penguasaan kosakata kelompok eksperimen yang diperoleh dengan membandingkan antara tes awal dan tes akhir. Perhitungan ini seluruhnya dilakukan dengan komputer dengan menggunakan paket SPS 2000 (Seri Program Statistik) edisi Sutrisno Hadi dan Yuni Parmadiningsih yang selengkapnya dapat dilihat pada lampiran III.
Dari perhitungan tersebut diperoleh mean difference pada kelompok eksperimen sebesar 10,7369 dan pada kelompok kontrol hanya sebesar 2,4210. selanjutnya untuk menguji hipotesa bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kosakata dengan menggunakan media gambar dan tanpa menggunakan media gambar maka akan diuji dengan menggunakan uji “t” atau t-test yang selengkapnya dapat dilihat pada lampiran III.
Dalam perhitungan tersebut terlihat bahwa dengan df sebesar 36, maka diperoleh harga t atau thitsebesar 10,958. Dalam keadaan seperti itu, penyusun menggunakan df yang terdekat yaitu df sebesar 35, dan dengan df sebesar 35 diperoleh ttabsebagai berikut:
Pada taraf signifikansi 5% : ttab   =   2,03
Pada taraf signifikansi 1% : t tab   =   2,72
Dengan demikian t atau to yang diperoleh dari hasil perhitungan jauh lebih besar dibanding ttab yaitu 2,03 < 10,958 > 2,72. Oleh karena itu  hipotesa nihil yang menyatakan bahwa tidak adanya perbedaan mean hasil pengajaran kosakata bahasa Arab dengan menggunakan media gambar dan mean hasil belajar kosakata bahasa Arab tanpa menggunakan media gambar ditolak yang berarti bahwa perbedaan keduanya adalah perbedaan yang signifikan.
Secara statistik peningkatan hasil tes penguasaan kosakata kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sangat jauh berbeda (sesudah treatment), sehingga hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara hasil penguasaan kosakata yang diajarkan dengan menggunakan media gambar dan pengajaran tanpa media gambar. Tetapi perlu penulis sampaikan juga bahwa dalam pengajaran tersebut kelompok eksperimen lebih antusias dalam merespon apa yang disampaikan penulis, sedangkan kelompok kontrol kurang semangat ketika proses belajar mengajar berlangsung. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya media gambar dalam pengajaran khususnya dalam mengenalkan kosakata bahasa Arab dapat memotivasi anak untuk lebih giat mempelajarinya.
BAB IV
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Setelah memaparkan seluruh hasil eksperimen secara detail, maka sebagai akhir dari pembahasan penelitian ini dapat penulis kemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.       Pengajaran bahasa Arab khususunya tentang kosakata (mufrodat) dengan menggunakan media gambar sangat efektif dan efisien dalam meningkatkan penguasaan bahasa Arab siswa TK Al-Islam kelompok B4, terbukti dengan perbedaan beda rata-rata sebesar 10,7369 bagi kelompok eksperimen dan hanya 2,4210 bagi kelompok kontrol..
2.       Ada  perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kosakata bahasa Arab dengan mempergunakan media gambar dengan pengajaran biasa (tanpa menggunakan media gambar). Dengan menggunakan uji “t” terbukti bahwa: dari df sebesar 36 diperoleh harga thit sebesar 10,958. Sementara pada taraf signifikan 5% harga ttab sebesar 2,03 dan pada taraf signifikan 1% harga ttab sebesar 2,72, sehingga harga thit jauh lebih besar dari harga ttab baik pada taraf signifikan 5 % maupun 1% (2,03 < 10,958 > 2,72).
B.      Saran
1.       Kepada Kepala TK Al-Islam I
a.       TK Al-Islam I Jamsaren sebagai lembaga yang bercirikan Islam alangkah baiknya bila pelajaran bahasa Arab tetap diajarkan pada anak didik di luar penelitian yang dilakukan penulis terlebih bila dimasukkan dalam kegiatan ekstra mengingat pentingnya mempelajari bahasa Arab bagi setiap umat muslim.
b.       Mengundang tenaga pengajar yang sesuai di bidangnya (bahasa Arab) apabila program ini dimasukkan.
2.       Saran Kepada Guru Kelas B4
a.       Hendaknya selalu mengajarkan (mengulang) kosakata yang sudah disampaikan atau diajarkan dan yang belum pada anak setiap hari supaya anak tidak mudah lupa.
b.       Hendaknya jika mengajarkan kosakata bahasa Arab meski sudah menggunakan media gambar juga diselingi dengan menyanyi menurut tema yang diajarkan.
3.       Saran Bagi Semua Pemerhati Pendidikan Khususnya Pada Anak Usia Prasekolah
a.       Sudah menjadi keyakinan kita bahwa usia dini memiliki peran yang cukup strategis (usia emas) maka gunakanlah kesempatan tersebut untuk menanamkan apa saja yang bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya.
b.       Bahwasanya wajib bagi setiap muslim untuk mengamalkan apa yang telah diketahuinya walaupun sedikit kepada saudaranya yang belum mengetahui.
c.        Sesederhana apapun hasil penelitian yang penulis lakukan, hendaknya disikapi sebagai usaha yang sangat bermanfaat dan perlu untuk ditingkatkan.
C.      Kata Penutup
Pada penghujung rangkaian kata nan penuh makna, puji syukur ke hadirat Sang Pencipta Allah SWT dan ucapan terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada semua pihak yang turut berpartisipasi memberikan sumbangsihnya yang tulus dalam penyelesaian skripsi ini.
Sejak awal penulis sadari bahwa penelitian eksperimen ini memiliki kelemahan dan kekurangan serta jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan.
Akhirnya hanya kepada Allah jualah segala asa bermuara, kepada-Nya kita berharap dan berserah diri.
Yogyakarta 3 Desember 2004
Penulis
Titik Nuryati

[1] Arief S. Sadiman, dkk, Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya (Jakarta : CV. Rajawali, 1993), hlm. 6
[2] M. Sastrapraja, Kamus Istilah Pendidikan dan Umum (Surabaya : Usaha Nasional. 1978), hlm. 167
[3] Depag RI, Kurikulum 1994 - GBPP Mata Pelajaran Bahasa Arab untuk MI (Jakarta : Dirjen Binbaga Islam Depag RI, 1994), hlm. 53
[4] WJS. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka, 1976), hlm. 524
[5] Ibid. hlm. 43 - 44
[6] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai Pustaka, 1990), hlm. 170
[7] Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Pra Sekolah (Jakarta : Rineka Cipta, 2000), hlm. 9
[8] Busyairi Madjidi, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab (Yogyakarta : Sumbangsih Offset, 1994), hlm. 1 
[9] Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab (Jakarta : Rajawali, 1994), hlm. 188
[10] Yus Rusnaya, Perihal Kedwibahasaan (Bilingualisme) (Jakarta : Depdikbud, 1989), hlm. 22
[11] Joan Beck, Meningkatkan Kecerdasan Anak (Jakarta : Pustaka Delapratasa, 1998), hlm. 141
[12] Nana Sudjana dan Ahmad Rifa’I, Media Pengajaran (Bandung : Sinar Algesindo, 2002), hlm. 1
[13] Depdikbud, Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-Kanak : Garis-Garis Besar Program Kegiatan Belajar (Jakarta : 1994), hlm 1
[14] Ibid, hlm 7
[15] Henry Guntur tarigan, Pengajaran Kosakata (Bandung : Angkasa, 1986), hlm. 2
[16] Muljanto Sumardi, Pengajaran Bahasa Asing, Sebuah Tinjauan dari segi Metodologis (Jakarta : 1974)
[17] Ahmad Rohani, Media Instruksional Edukatif (Jakarta : PT Rineka Cipta, 1997), hlm. 76
[18] Agus F. Tangyong dkk, Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak(Jakarta : Rasindo, 1994), hlm. 5-6.
[19] Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 77
[20] Basyirudin Usman, dan Asnawir, Media Pembelajaran (Jakarta : Ciputat Press, 2002), hlm. 33
[21] Arief  S. Sadiman, dkk, Op.Cit, hlm 20
[22] Oemar Hamalik, Media Pendidikan (Jakarta : PT Citra Aditya Bakti, 1986), hlm. 43
[23] Soeparno, Media Pengajaran Bahasa (Yogyakarta : IKIP, 1988) hlm. 45
[24] Oemar Hamalik, Op. Cit, hlm. 63-64
[25] Sartinah Hardjono, Psikologi Belajar Mengajar Bahasa Asing (Jakarta : Depdikbud,1988), hlm 71
[26] Moh. Ali Khuli, Assalibu Tadris Al-lughoh Al-Arobiyah (Riyad : Muthoba’ah al-Fazadiq at-Tijariyah, 1982), hlm. 99
[27] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Kosakata (Bandung : Angkasa, 1986), hlm. 2 
[28] Sri Utari Subyakto. Metodologi Pengajjaran Bahasa (Jakarta : Gramedia, 1988) hlm. 62
[29] Soemiarti Patmonodewo, Op.Cit, hlm 19
[30] M. Solehuddin, Konsep Dasar Pendidikan Pra Sekolah (Bandung : Depdikbud, 1997), hlm. 23
                [31] Syamsuar Mochtar, Orientasi Kurikulum TK yang Disempurnakan (Yogyakarta : Intan Pariwara, 1987), hlm. 23
[32] Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1998), hlm. 69
[33] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta : PT. Bina Aksara, 1989), hlm. 107 
[34] Anas Sudjiono, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta : PT Raja Gravindo Persada, 2001), hlm. 76
[35] Sutrisno Hadi, Metodologi Reseach (Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fakultas UGM, 1987), hlm. 206
[36] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta : Rineka Cipta, 1993), hlm. 120
[37] Nana Sudjana dan Ibrahim, Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Bandung : Sinar Algesindo, 1989) hlm. 37
[38] Kutipan Surat Keputusan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Surakarta No. 3900 tahun 1988.
[39] Kutipan Surat Keputusan Departemen Agama RI No. 2140 tahun 1992
[40] Abu Tholib, Riwayat Singkat Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta Sejak Berdiri Sampai Sekarang, Dokumentasi catatan resmi tentang searah berdirinya TK Al-Islam, diambil pada hari Senin tanggal 5 Juli 2004.
[41] Wawancara dengan Ibu Puji Rahayu sebagai Kepala Sekolah TK Al-Islam I ( hari Kamis, 8 Juli 2004)
[42] Depdikbud, Garis-Garis Program Kegiatan Belajar (GBPKB) (Jakarta, 1994) hlm. 4
[43] Ibid, hlm. 7 
[44] Dokumentasi Laporan Kegiatan Belajar di TK/RA Al-Islam I Jamsaren, diambil pada hari Jum’at tanggal 9 Juli 2004  
[45] Dokumentasi catatan pengurus dan komite sekolah TK Al-Islam I periode 2004/2005, diambil hari Jum’at tanggal 9 Juli 2004.
[46] Observasi non partisipan (hari Senin, tanggal 12 Juli 2004)
[47] Dokumentasi catatan perlengkapan TK Al-Islam I, diambil pada hari Rabu tanggal 14 Juli 2004
[48] Depdikbud, Op.Cit, hlm 1
[49] Depdikbud, Kurikulum TK. “GBPP Bidang Pengembanan Kemampuan Berbahasa” (Jakarta, 1987), hlm. 11
[50] Wawancara dengan Guru Bahasa Inggris (Bpk. Mahmud Ihsan) pada hari Rabu tanggal 14 Juli 2004
[51] Depdikbud, Perencanaan Kegiatan Belajar Mengajar (makalah disampaikan pada Diklat SPP Kepal/Guru TK Negeri/Swasta dan Pengawas TK/SD seluruh Indonesia 1996) hlm. 3
[52] Wawancara dengan Kepala Sekolah TK Al-Islam I (Ibu Puji Rahayu) pada hari Kamis 15 Juli 2004
[53] Obsevasi partisipan pada hari Senin tanggal 19 Juli 2004
[54] Depdikbud, Perencanaan Kegiatan Belajar Mengajar. Makalah, hlm. 4-6.
[55] Wawancara dengan Ibu Noor Athiyah (wali kelas B4) pada hari Kamis tanggal 15 Juli 2004
[56] M. Ngalim Purwanto,Prinsip-Prinsip dan Tehnik Evaluasi Pengajaran  (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1988), hlm. 4 
www.seowaps.com
author
No Response

Leave a reply "Media Gambar dalam Pengajaran Kosakata Bahasa Arab Di TK Al-Islam I Jamsaren Jawa Tengah"