METAFISIKA JAWA DALAM SERAT WEDHATAMA Karya K.G.P.A.A. Mangkunegara IV

unmetered
unlimited
METAFISIKA JAWA DALAM SERAT WEDHATAMA ( Karya K.G.P.A.A. Mangkunegara IV )
 
Oleh Team www.web.unmetered.co.id

ABSTRAK
Wacana tentang metafisika yang merupakan hasil pemikiran filsafat yang bertolak dari eksistensi manusia dan alam-dunia sebagai wujud nyata yang dapat ditangkap dengan panca indera. Bukanlah dasar yang dicari dan dipertanyakan untuk mencapai kesempurnaan hidup seperti yang terjadi pada filsuf-filsuf Yunani, melainkan dari mana dan kemana semua wujud ini berasal dan berakhir atau dalam istilah Jawa disebut dengan sangkan paraning dumadi dan manungsa ( awal dan akhir dari alam semesta dan manusia berasal dari Tuhan)
     Dalam skripsi ini ada beberapa pokok permasalahan yang akan dibahas, pertama; bagaimana konsep metafisika dalam filosofi jawa, kedua; bagaimana konsep metafisika yang terkandung dalam serat Wedhatama, penulis memakai metode analisis dan pendekatan sejarah. Tema yang penulis angkat adalah masalah metafisika jawa yang terkandung dalam serat wedhatama hasil karya K.G.P.A.A Mangkunegara IV, penulis mencoba melakukan analisis terhadap konsep metafisika Jawa khususnya konsep metafisika yang terkandung dalam serat wedhatama.
     Sebagai salah seorang pujangga besar,. Mangkunegara IV ssdalam hasil karyanya banyak membicarakan tentang etika, seni, mistik, dan juga metafisika. Dalam serat wedhatamakonsep metafisika Mangkunegara IV adalah mencapai hidup tertinggi yaitu mencapai kesatuan kembali dengan Tuhan yaitu deangan jalan penghayatan dan penguasaan batin yang diolah dan dilatih dalam sembah catur sebagai tangga menuju insan kamil.
     Konsep metafisika Jawa dalam serat wedhatama menjelaskan bahwa manusia pada hakekatnya hidup pada alam tiga dimensi, dan eksistensi manusia tidak bisa lepas dari ketiga dimensi tersebut, baik yanag berupa alam benda, alam batin maupun alam ghaib. Tujuan hidup tertinggi menurut filosofi Jawa adalah untuk mencapai kesempurnaan, dalam serat wedhatama dijelaskan dan digambarkan bagaimana manusia harus meningkatkan atau mentransformasikan dirinya dari dunia materi yang fana menuju kehidupan mutlak dan kekal kepada Tuhan sebagai akhir dari kesempurnaan yang hakiki.
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Sejarah berdirinya suatu kerajaan, istana atau keraton mempunyai fungsi ganda. Di samping sebagai pusat pemerintahan, istana berfungsi pula sebagai pusat kebudayaan.[1]Sebagai pusat kebudayaan, Pemerintahan kerajaan banyak menghasilkan peninggalan bersejarah yang bersifat monumental berupa bangunan bersejarah yang mempunyai nilai seni yang tinggi dan masih dapat di saksikan hingga sekarang, Seperti Candi Prambanan maupun peninggalan kerajaan Mataram (Hindu),Candi penataran peninggalan kerajaan Majapahit, Candi Borobudur, Masjid Demak, serta istana Surakarta, dan istana Yogyakarta yang masih eksis hingga sekarang. Peninggalan bersejarah yang bersifat monumental itu dapat pula berupa karya sastra. Misalnya, Ramayana merupakan peninggalan kerajaan Mataram (Hindu), Mahabharata merupakan peninggalan kerajaan Medang, Arjuna Wiwaha (Karya Empu Kanwa) merupakan peninggalan kerajaan kahuripan, Baratayuda (karya Empu Sedahdan Empu Panuluh) merupakan peninggalan kerajaan kediri, negara kertagama (karya prapanca) merupakan peninggalan kerajaan Majapahit dan masih banyak lagi peninggalan-peninggalan kerajaan Islam yang berupa serat dan suluk, seperti; suluk syekh al-Bari merupakan peninggalan kerajaan Demak, serat nitipraya merupakan peninggalan kerajaan Mataram (Islam) dan sebagainya.[2]        
Sesudah kerajaan Mataram terpecah menjadi empat kerajaan, seperti, Surakarta, Ngayogyakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman, yang keempatnya telah kehilangan kekuasaan politik, kenegaraaan, dan otoritas pemerintahan diambil alih di bawah pengawasan pemerintah kolonial Belanda. Dengan kehilangan kekuasan politik dan kekuasaan pemerintahan, maka pemikiran aktivitas istana dapat dipusatkan bagi perkembangan rohani dan kebudayaan spiritual, usaha ini merupakan satu-satunya jalan untuk mempertahankan wibawa istana sebagai pusat kebudayaan jawa.[3]
Maka dimulailah penulisan karya sastra yang tidak lepas dari peran para pujangga sastra yang umumnya memang secara khusus ditunjuk oleh para raja untuk membuat tulisan pesanan yang biasanya berupa seluk beluk kerajaan serta silsilahnya, atau beberapa hal mengenai kebijakan pemerintah yang berisi tentang kebaikan raja dan kerajaan. Akan tetapi kadangkala seorang pujangga juga ditugasi oleh kerajaan untuk menulis syair, babad atau sejarah, ramalan, serta cerita wayang.[4]
Turut sertanya raja membangun sastra jawa sangat berpengaruh terhadap perkembangan sastra jawa di tengah masyarakat. Karena kedudukan raja sebagai tokoh sentral dalam masyarakat jawa yang serba magis dan mistis, sebagian besar masyarakat memandang serat-serat sastra karya para raja sebagai pedoman yang harus diikuti. Bahkan secara fisik, naskah miliknya dipandang sebagai benda pusaka yang memiliki tuah, sebagaimana benda-benda keraton lainnya yang mengandung nilai magis. Faktor tersebut kiranya menjadi salah satu pendukung berkembangnya sastra jawa abad XVIII dan XIX di Surakarta dan Yogyakarta. Masa tersebut oleh Pigeaud dinamakan renaissance sastra Jawa atau kebangkitan sastra Jawa.[5]
Kebangkitan rohani dan kesusastraan Jawa baru ini bermula semenjak pusat kerajaan Mataram di pindahkan dari kartasura ke Surakarta, atau tepatnya sejak  tahun 1757 M, dan berlangsung selama kurang lebih 125 tahun, yaitu sampai wafatnya Raden Ngabehi Ranggawarsita tahun 1773 M, yang sering disebut sebagai pujangga penutup (as the coping stone of Javanese write). Atau lebih tepatnya berakhir pada tahun 1881 M, dengan wafatnya penyair kenamaan Aryo Mangkunegara IV. Kebangkitan spiritual ini menghasilkan perkembangan dan kesusilaan (etika) kesusasteraan dan bahasa Jawa, serta kesenian, serta seni tari, musik dan Syair Jawa.[6]
Berkaitan dengan itu karya-karya sastra yang ditulis oleh para pujangga kraton, misalnya Babad Tutur dan serat Wedhatama, tentu saja tak lepas dari keinginan serta imajinasi pribadi penulisnya, kedua karya sastra tersebut dianggap representatif sebagai rujukan bagi sastra Jawa-Islam karena telah berhasil menampilkan refleksi dari keluarga kraton tentang realitas sosial (dalam Babad Tutur) dan serta nasehat atau pitutur bagi masyarakat tentang kehidupan beragama serta adab sopan santun dan kehidupan rumah tangga (serat Wedhatama).
Serat Wedhatama dan Babad Tuturyang yang ditulis oleh KGPA Mangkunegara IV pada abad XIX, merupakan dua buah karya sastra yang barangkali cukup representatif untuk mewakili gambaran umum sastra Jawa abad XVIII-XIX.[7]
Menurut Sri Suhandjati secara keseluruhan, isi serat Wedhatama merupakan sebuah refleksi dari olah cipta seorang penguasa kerajaan yang jauh dari kesan arogan dan feodalistik, sebaliknya pengaruh dari sebuah komitmen yang tinggi terhadap agama dan pelestarian budaya serta kemajauan negara tampaknya sangat kental. Hal ini terlihat dari beberapa karya atau tembang-tembang yang lain, yang tertulis dalam buku tersebut, terutama tentang ajaran sembah, budiluhur, ibadat, akhlak, serta beberapa nasihat tentang kehidupan berkeluarga, termasuk nasihat untuk pawestri (wanita).[8]
Sehingga Wedhatama pada zamannya sangat terkenal. Bukan saja didalam lingkungan istana Mangkunegaran saja tetapi juga istana kasunanan maupun kasultanan Yogyakarta. Bahkan Wedhatama dikenal dan dihafal sampai dipelosok-pelosok desa yang berbahasa Jawa, meskipun hanya satu dan dua bait tetapi mereka itu hafal luar kepala.[9]Sehingga Wedhatama merupakan sebuah falsafah atau petunjuk hidup. Karena Wedhatama bersifat relijius dan menjadi “agama ageming aji kang tumrap neng tanah Jawa”.[10]
Pada masa kini serat Wedhatama masih banyak dipelajari dan diteliti oleh para sarjana baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Akan tetapi kebanyakan yang dipelajari dan diteliti dalam serat Wedhatama adalah unsur etika dan mistiknya. Sementara kalau kita pelajari dan teliti lebih mendalam banyak sekali kandungan dan hikmah dalam serat Wedhatama itu, sebagaimana  dikatakan Drs.R.Parmono dalam bukunya yaitu; “pandangan serat Wedhatama dalam beberapa cabang filsafat” didalam naskah penelitian itu dikemukakan ada tiga cabang filsafat yaitu: metafisika, Filsafat manusia,dan etika atau filsafat tingkah laku.[11]
Sehubungan dengan hal diataslah yang mendorong penulis untuk mengungkapkan salah satu pandangannya tentang metafisika Jawa dalam serat Wedhatama  yang menurut penulis belum ada yang mengkaji dan meneliti tentang hal itu secara lebih mendalam, dalam rangka memperkaya khazanah kefilsafatan di Indonesia pada umumnya dan filsafat Jawa pada khususnya.      
Menurut Marbangun Hardjowirogo, semua orang Jawa itu berbudaya satu mereka berfikir dan berperasaan seperti moyang mereka di Jawa tengah dengan kota Solo dan Jogja sebagai pusat-pusat kebudayaan. Dalam penghayatan hidup budaya mereka, baik yang yang tinggal di pulau Jawa maupun yang tinggal di pulau-pulau lain bahkan juga yang tinggal di Suriname orientasi nilai mereka tetap terarah ke kota Solo dan Jogja. Oleh sebab itulah kesatuan budaya yang dipegang oleh orang Jawa sebagai penduduk terbesar di Indonesia ini mau ataupun tidak, mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap budaya Indonesia[12].
Suku-suku bangsa Indonesia khususnya Jawa sebelum kedatangan pengaruh Hinduisme telah hidup teratur dengan Animisme-Dinamisme sebagai akar religiositasnya, dan hukum adat sebagai pranata sosial mereka, adanya warisan hukum adat menunjukkan bahwa nenek moyang suku bangsa Indonesia asli telah hidup teratur dibawah pemerintahan atau kepala adat, walaupun masih dalam bentuk sangat sederhana. Religi Animisme-Dinamisme yang menjadi akar budaya asli Indonesia khususnya masyarakat Jawa cukup memiliki daya tahan yang kuat terhadap pengaruh kebudayaan-kebudayaan yang telah berkembang maju.[13]
          Seiring perjalan waktu, peradaban Jawa yang berpusat di istana raja-raja Surakarta dan Yogyakarta yang merupakan perpaduan yang bercorak mistis antara doktrin dan praktek Hindu-Budha dan Islam yang bercorak sinkretisme menghasilkan peradaban yang disebut kejawen. Yang dalam sejarah Jawa kemudian menyatu dalam sebuah filsafat mengenai prinsip-prinsip bertindak dalam kehidupan.
          Sebagai sebuah sistem penulisan, Jawanisme itu cukup rumit dan luas meliputi Kosmologi, Mitologi, seperangkat konsep-konsep yang Mistis  pada hakekatnya dan hal-hal lain yang serupa itu, muatan-muatan itu memunculkan antropologi Jawa sebuah sistem gagasan tentang watak manusia dan masyarakat yang pada gilirannya, mewarnai etika, adat-istiadat dan gaya hidup. Pendeknya, Jawanisme memberikan sebuah semesta umum pemaknaan ini berisi  sekumpulan pengetahuan tentang penafsiran masyarakat Jawa tentang kehidupan sebagaimana adanya dan bagaimana seharusnya.[14]
          Kepustakaan Islam kejawen adalah salah satu kepustakaan Jawa yang memuat perpaduan antara tradisi Jawa dengan unsur-unsur ajaran Islam. Terutama aspek-aspek ajaran tasauf dan budi luhur yang terdapat dalam perbendaharaan kitab-kitab tasauf.[15]Pada masa Surakarta, tahun 1744 pertumbuhan kepustakaan Islam kejawen mengalami masa gemilang, sesudah kerajaan dipecah menjadi tiga negara Surakarta, Yogyakarta, dan Mangkunegaran, semua kekuasaan dirampas oleh Belanda. Oleh karena itu seluruh perhatian dan kegiatan istana diarahkan untuk perkembangan kebudayaan rohani. Kegiatan ini menghasilkan perkembanagan dalam bidang kesusastraan dan berbagai cabang kesenian. Perkembangan dalam lapangan kesusastraan ini sedemikian indahnya, sehingga para peneliti barat, seperti G.W.J Drewes menilai sebagai masa renaisssance of modern Javanese letters, yaitu masa kebangkitan kepustakaan Jawa baru. Kebangkitan kepustakaan Jawa berlangsung selama 125 tahun, dari tahun 1757 sampai tahun 1873 (dengan wafatnya pujangga Ranggawarsita), atau bahkan sampai tahun 1881 (dengan wafatnya pujangga Ranggawarsita dan raja Mangkunegara IV).[16]
          Pada tahun 1940 Prof. Dr.I.J Brugmans seorang sarjana Belanda dengan gegabahnya mengatakan  bahwa di Indonesia tidak ada “Filsafat Pribumi” (autochtone philosophie) tetapi  yang ada adalah “Filsafat Barat” , jadi orang Indonesia tidak dapat berbicara tentang filsafat pribumi (Nusantara) pernyataan Brugman mendapat tanggapan dari Prof.Dr.P.J Zoet Mulder, bahwa memang benar ada perbedaan-perbedaan sistem filsafat Barat dengan pernyataan filsafat Timur (Jawa) itu sendiri. Di Timur orang mempelajari filsafat hampir boleh dikatakan, tidak pernah mempelajari filsafat demi ilmu filsafat itu sendiri dan sebagai arena aktivitas otak seperti yang terjadi di Barat.[17]
          Tetapi justru hikmah yang terpenting dan tertinggi yang menjadi puncak dari filsafat di Timur adalah mengenal Tuhan dan dan berhubungan dengan-Nya. Jadi filsafat Timur tidak meninggalkan “ngelmu atau olah rasa, yaitu sarana untuk mencapai kesempurnaan dalam mencapai kamuksan” atau ”kelepasan” sebagai akhir dari segala akhir tujuan hidup.[18]Pernyataan Brugman diatas sangat bertentangan sekali dengan fakta yang terjadi dilapangan dimana kesusastraan Jawa yang bernilai seni tinggi itu dimana mencapai puncaknya pada masa pujangga Ranggawarsita dan Mangkunegaran IV yang menghasilkan dokumen-dokumen tertulis karya para pujangga atau ahli sastra yang mengandung unsur-unsur filsafat Jawa antara lain: Serat Wedhatama, Serat Kalatidha, Serat Centini, Serat Hidayat Jati, Wulang Reh, cerita wayang  Mahabharata maupun Ramayana. Belum lagi yang terdapat dalam lagu-lagu rakyat, legenda, mitologi, cerita babad tanah Jawi dan sebagainya.[19]
          Dari pemaparan diataslah yang mendorong penulis untuk melakuan suatu kajian dan penelitian lebih mendalam tentang filsafat Jawa terutama tentang konsep metafisikanya dalam serat wedhatama.    

B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas memunculkan beberapa pokok permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
  1. Bagaimana konsep metafisika dalam filsafat Jawa ?
  2. Bagaimana konsep metafisika yang terkandung dalam serat Wedhatama ?

C.     Tujuan Penelitian

Tujuan terpenting yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah bagaimana mendapatkan gambaran yang jelas dan utuh mengenai konsep metafisika dalam filsafat jawa, khususnya tentang konsep metafisika dalam serat wedhatama.
Penelitian juga diharapkan dapat memberikan pemahaman dan kesadaran tentang arti pentingnya penghayatan dan pengamalan konsep filosofi Jawa terutama tentang konsep metafisika Jawa dalam serat wedhatama sebagai pedoman dari dampak arus globalisasi yang banyak menyesatkan manusia.

D.    Telaah Pustaka

Serat Wedhatama yang dikarang oleh;  Mangkunegara IV pada abad XIX merupakan falsafah hidup khususnya bagi masyarakat Jawa pada masa itu.[20]Namun dalam perkembangannya hingga kini serat Wedhatama yang berisi tentang petunjuk atau pedoman untuk menjadi manusia yang berbudi luhur dalam mencapai keberhasilan hidup lahir dan batin. Sangat digemari baik kalangan muda dan tua karena Serat Wedhatama adalah suatu kitab yang padat dan ringkas yang disusun dalam bentuk sekar macapat dengan sastra yang amat indah, terutama sangat digemari oleh para pecinta kepustakaan dan kesenian Jawa. Bahkan isi dan kandungan ajarannya tentang budiluhur (etika) disejajarkan dengan etika dan pemikir-pemikir besar dunia Barat dan mirip dengan etika Aristoteles (384-322 SM).[21]
Sehingga sangat wajar bila Serat Wedhatama banyak dikaji dan ditelaah oleh para pemikir-pemikir dan sastrawan dalam negeri maupun Barat seperti terjemahan Serat Wedhatama oleh; Drs. S.Z. Hadisutjipto yang dikeluarkan oleh; yayasan Mengadeg tahun 1975, “Wedhatama Jinarwa” oleh: R.Tanoyo yang diterbitkan oleh Fa. Triyana 29 juli 1963, Soedjonoredjo R.”Wedhatama winardi” dalam huruf Jawa krama inggil disertai penjelasan arti dan maknanya, Menyingkap Serat Wedotomo oleh: Anjar Any Semarang: Aneka Ilmu,1986.
Kajian tentang Serat Wedhatama banyak juga dikaji oleh beberapa mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga yang penulis ketahui kurang lebih ada 12 orang yang mengangkat tentang Serat Wedhatama sebagai kajian dalam skripsinya diantaranya: penelitian yang dilakukan oleh; Siti Nur a’ini sukrillah dengan judul “Konsepsi Moral Dalam kitab Wedhatama” (1981), Bahron Zidni Rais dengan judul “Manusia Menurut Serat Wedhatama” (1983), H.M Mubari dengan judul”Ajaran Mistik Dalam Serat Wedhatama” (1982), Warits Lukmatun Hakimah dengan judul “Muatan Etika dalam Serat Wedhatama” (1998), dan sebagainya. Dari kedua belas judul skripsi yang ditulis tentang Serat Wedhatama tersebut belum ada satupun yang membahas tentang kajian metafisika, kebanyakan skripsi yang mereka angkat tentang persoalan etika, manusia, dan mistik Islam kejawen dalam dalam kajiannya.
          Sementara itu dalam bukunya yang berjudul;  “Menggali Unsur-unsur Filsafat Indonesia” Yang di tulis oleh; Drs.R. Parmono yaitu “pandangan Serat Wedhatama dalam beberapa cabang Filsafat”. Didalam naskah penelitian yang dikemukakan bahwa dalam serat Wedhatama terdapat tiga cabang filsafat yaitu; Metafisika, Filsafat manusia, dan Etika.
          Berangkat dari penjelasan Drs.R.Parmono yang mendorong penulis untuk mengkaji dan menulis skripsi tentang “Metafisika Jawa dalam Serat Wedhatama “ dalam hal ini penulis ingin meneliti tentang kajian metafisika yamg terdapat dalam Serat Wedhatama yang belum banyak diungkap dan dikaji secara luas, dalam hal ini yang penulis ketahui baru Drs. Parmono dalam bukunya “Menggali Unsur-unsur Filasafat Indonesia “ terbitan Yogyakarta: Andi Offset 1985 halaman 94-101, yang juga merupkan hasil penelitian DPPM 1981/ 1982, yang menyinggung persoalan Metafisika dalam Serat Wedhatama, tetapi apa yang diungkapkan dan diteliti oleh Drs.Parmono dalam bukunya tersebut masih secara garis besar dan belum mengungkapkan serta menganalisa seluruh pandangan Serat Wedhatama Mengenai Metafisika secara lebih luas dan mendalam.
          Dalam penulisan skripsi ini penulis mencoba mengungkap kandungan metafisika Jawa yang terkandung  yang penulis angkat yaitu “Metafisika Jawa Dalam Serat Wedhatama”.        

E.     Metode Penelitian

           Penelitian ini adalah kepustakaan  (library research),yaitu menelusuri literatur-literatur yang ada relefansinya dengan masalah yang sedang dibahas  maka penulis menggunakan dua model sumber data yaitu sumber data primer dan sumber data skunder.
          Sumber data primer adalah yang berhubungan langsung dengan konsep yang sedang dikaji yaitu buku yang mengkaji tentang Serat Wedhatama terutama Serat Wedhatama karya K.G.P.A.A Mangkunegara IV sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari literatur-leteratur lain  yang relevan dengan topik kajian ini baik dari buku, artikel, majalah, maupun sumber-sumber terkait lainnya.
          Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis, yaitu suatu bentuk penelitian yang meliputi proses pengumpulan data, penyusunan, penjelasan atas data kemudian dianalisis, sehingga metode ini sering disebut sebagai metode analitis.[22]Yaitu berupaya memaparkan isi ajaran metafisika yang terkandung dalam Serat Wedhatama secara sistematis dan sedetail mungkin. 

F.      Sistematika Pembahasan

      Untuk memperoleh hasil yang utuh dan sistematis agar memudahkan proses penelitian dan masalah yang diteliti dapat dianalisa secara tajam, maka pembahasan dalam penelitian ini disusun sebagai berikut:
     Bab Pertama adalah berupa Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, telaah pustaka, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.
      Bab Kedua adalah, metafisika dalam filsafat jawa yang berisi tentang pengertian metafisika, metafisika dalam filsfat Jawa dan metafisika dalam kesusastraan Jawa.
         Bab ketiga adalah, merupakan bagian yang mengupas tentang Serat Wedhatama, biografi Mangkunegara IV, penulis Serat Wedhatama, isi ringkas Serat Wedhatama.
          Bab Keempat adalah, merupakan inti dari pembahasan Tentang Serat Wedhatama terutama tentang kajian metafisika yaitu; Tuhan sebagai dzat yang mutlak, Dualisme tunggal, Kosmologi dalam Serat Wedhatama, Yang Fana dan Abadi.
          Bab Kelima Merupakan bab akhir yang  berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan, saran dan kata penutup.
BAB II
 METAFISIKA DALAM FILSAFAT JAWA
Pengertian Metafisika
Sebagai sebuah disiplin filsafat, metafisika telah dimulai sejak zaman yunani kuno, mulai dari filosof-filosof alam sampai Aristoteles (284-322 SM). Aristoteles sendiri tidak pernah memakai istilah ”metafisika” Aristoteles menyebut disiplin yang mengkaji hal-hal yang sifatnya di luar fisika sebagai filsafat pertama (proto philosophia)untuk membedakannya dengan filsafat kedua yaitu disiplin yang mengkaji hal-hal yang bersifat fisika. Istilah metafisika yang kita kenal sekarang, berasal dari bahasa Yunani ta meta ta physika yang artinya “yang datang setelah fisik”. Istilah tersebut diberikan oleh Andronikos dari Rhodos (70 SM) terhadap karya-karya Aristoteles yang disusun sesudah (meta) buku fisika.[23]
                        Aristoteles dalam bukunya yang berjudul Metaphysica mengemukakan beberapa gagasannya tentang metafisika antara lain:
  1. Metafisika sebagai kebijaksanaan (sophia), ilmu pengetahuan yang mencari pronsip-prinsip fundamental  dan penyebab-penyebab pertama.
  2. Metafisika sebagai ilmu yang bertugas mempelajari yang ada sebagai yang ada (being qua being) yaitu keseluruhan kenyataan.
  3. Metafisika sebagai ilmu tertinggi yang mempunyai obyek paling luhur dan sempurna dan menjadi landasan bagi seluruh adaan, yang mana ilmu ini sering disebut dengan theologia.[24] 
                        Dari ketiga keterangan Aristoteles tentang metafisika tersebut,  sebenarnya terdapat dua obyek yang menjadi metafisis Aristoteles yaitu, (a) yang ada sebagai yang ada being qua beingdan (b) yang Ilahi. Namun demikian Aristoteles sendiri tidak menjadikan dua obyek kajian sebagai obyek bagi dua disiplin ilmu yang berbeda. Seorang filosof  Jerman bernama Christian Wolff cenderung meyakini bahwa pembicaraan tentang yang ada sebagai yang ada dan yang Ilahi harus dipisahkan dan tidak dapat dibicarakan bersama-sama. Oleh karenanya, Wolff memilah filsafat pertama Aristoteles menjadi metaphysica generalis (metafisika umum) atau juga sering disebut ontologi dan methapysica specialis (metafisika khusus).
                        Metafisika umum membahas mengenai yang ada sebagai yang ada, artinya prinsip-prinsip umum yang menata realitas, sedang metafisika khusus membahas penerapan prinsip-prinsip umum ke dalam bidang-bidang khusus: teologi, kosmologi dan psikologi. Pemilahan Wollf tersebut didasarkan pada dapat tidaknya dicerap melalui perangkat inderawi suatu obyek filsafat pertama. Metafisika umum (untuk seterusnya digunakan istilah ontologi) mengkaji realitas sejauh dapat diserap melalui indera sedang metafisika khusus  (metafisika) mengkaji realitas yang tidak dapat diserap indera, apakah itu realitas ketuhanan (teologi), semesta sebagai keseluruhan (kosmologi) maupun kejiwaan (psikologi). Kedua disiplin filsafat  pada dasarnya tidak sepenuhnya terpisah satu sama lain karena menurut Wollf sendiri pembahasan metafisika tentang realitas supra inderawi, terkait dengan pembahasan ontologi tentang prinsip-prinsip umum yang menata realitas inderawi.[25]  Terlepas dari perbedaan mengenai istilah  metafisika dan keengganan orang akan metafisika, kedudukan metafisika dalam dunia filsafat sangat kuat. Pertama, metafisika sudah merupakan sebuah cabang ilmu tersendiri dalam pergulatan filosofis. Kedua, seperti yang dikatakan Heideggaer, setiap telaah filosofis terdapat unsur metafisik.[26]
                        Metafisika, berbeda dengan kajian-kajian tentang wujud partikular yang ada pada alam semesta. biologi mempelajari wujud dari organisme bernyawa, geologi mempelajari wujud bumi, astronomi mempelajari wujud bintang-bintang, fisika mempelajari wujud perubahan pergerakan dan perkembangan alam. Tetapi metafisika mempelajari sifat-sifat yang dimiliki bersama oleh semua wujud ini.[27] 
                        Kajian tentang metafisika dapat dikatakan sebagai suatu usaha sistematis, refleksi dalam mencari hal yang berada di belakang fisik dan partikular. Itu berarti usaha mencari prinsip dasar yang mencakup semua hal dan bersifat universal, seperti istilahnya C.E.M joad, dalam bukunya  A Critique of logical positivism, yang dikutip oleh Harold Titus dkk. Sebagai “penyelidikan tentang Tuhan”,[28]bisa juga dikatakan sebagai “penyelidikan tentang dunia ilahi yang transenden”.[29]
           
Metafisika Dalam Kesusasteraan Jawa
Dalam perkembangan dan penyebaran agama di jawa sebelum Islam datang, orang Jawa telah memiliki suatu kepercayaan berupa animisme dan dinamisme yang memuja roh nenek moyang, dan percaya terhadap kekuatan gaib yang terdapat pada benda, tumbuh-tumbuhan dan binatang yang dianggap memiliki kesaktian. Tetapi kepercayaan dan pemujaan diatas belum memiliki identitas keragaman yang nyata dan sadar. Setelah suku Jawa menerima pengaruh agama dan kebudayaan Hindu barulah para golongan bangsawan dan cendikiawan Jawa menerima pengarun Hinduisme yaitu mengerti bahasa sansekerta, yang akhirnya berkembang dengan mengolah huruf-huruf yang berasal dari Hindu sebagai dasar untuk menulis bahasa Jawa, d engan menggunakan tulisan huruf Jawa perhitungan tahun saka, merupakan modal bagi pertumbuhan dan perkembangan kesusasteraan Jawa.[30]
                         Dengan masuknya pengaruh kebudayaan India (Hindu-Budha), kebudayaan dari tanah India ini bersifat ekspansif. Sedangkan kebudayaan Jawa bersifat yang menerima pengaruh dan menyerap unsur-unsur Hinduisme-Budhisme, prosesnya bukan hanya sekedar akulturasi saja. Akan tetapi yang terjadi adalah kebangkitan kebudayaan jawa dengan memanfaatkan unsur-unsur agama dan kebudayaan India. Disini para budayawan Jawa bertindak aktif, yakni berusaha mengolah unsur agama dan kebudayaan Jawa.
                        Kisah Mahabharata dan Ramayana dari bahasa sansekerta yang di sadur dan diterjemahakan kedalam bahasa Jawa merupakan awal yang membawa pertumbuhan kesusasteraan Jawa, sehingga perkembangan kesusasteraan ini menjadi sarana efektif mengembangkan berbagai cabang kebudayaan Jawa. Perkembangan ini melahirkan pula kerajaan-kerajaan besar sesudah abad ke-5 M seperti Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram kuno, Singasari, Kediri, Majapahit, Demak, Mataram Islam, dan lain-lain sebagaimana telah diulas sebelumnya Kerajaan besar ini membawa pertumbuhan masyarakat dan kebudayaan feodal yang tumbuh subur.[31]
Sejak pertengahan abad ke-10 M hingga kira-kira pertengahan abad ke-15 M kepustakaan Hindu-Budha mengalami zaman keemasan naskah-naskah agama Siwa yang menjadi sumber pengetahuan tentang ajaran kepercayaan Hindu-Jawa mewujudakan buku-buku pegangan bagi pelaksanaan yoga dalam agama Siwa yang mempunyai maksud untuk memberi saran yang cocok kepada para murid supaya dapat terhubung dengan Tuhan, dengan Siwa.[32]
                        Sumber yang paling utama bagi konsep mengenai Tuhan atau ajaran tentang sangkan paraning dumadi (metafisika) dan ajaran tentang manunggaling kawula gusti (mistika) yang berasal dari paham Hinduisme dan Budhisme yang berkaitan dengan kebudayaan dan masyarakat Jawa pada zaman dahulu kala adalah syair Hanacaraka selain merupakan penciptaan abjad Jawa juga merupakan karya seni sastra Jawa yang berisi kebatinan. Penciptaan syair hanacaraka itu ialah Janabhadra orang Jawa asli yang menjadi dan pendeta Budha Hinayana dan menjabat Emban Tuwanggana dan mahapatih Mangkubumi dan maharaja Hindu Agastya bernam Sanjaya (723-744) yang berasal dari ras Arya, Janabhadra adalah orang yang pertama kali menjawanisasikan Hinduisme dan Budhisme atau yang disebut istilah “kebatinan” terhadap orang Jawa sendiri menyebutkannya dengan istilah kawruh Kejawen atau Jawaisme kebatinan ini merupakan kebudayaan spiritual keraton Jawa lama yang terdapat unsur sinkretisme antara mistik agama Hindu dan Budha yang berperan sebagai intinya dengan kepercayaan jawa kuno. Menurut Prof.Dr.H.M.Rasyidi, metafisika atau sangkan paraning dumadi merupakan suatu dasar konsepsi yang dapat membentuk thesis mistik, moral dan ilmu ghaib atau occultisme.[33]  
                        Sehingga Islam sufi sangat diminati wong cilk karena alam pikiran tarekat menyuburkan warisan religi animisme-dinamisme yang sebelumnya sudah menjadi kepercayaan bagi masyarakat terutama orang Jawa yang hidup didaerah pedesaan dan pesisir.
                        Keyakinan orang Jawa yang telah mengenal Islam terhadap Tuhan sangatlah mendalam dan hal itu dituangkan dalam suatu istilah sebutan Gusti[34]Allah Ingkang Maha Kuwaos.
                        Konsep keagamaan mengenai Tuhan dalam kejawen dilambangkan sebagai Dewaruci diadopsi oleh para pemimpin keagamaan, cendikiawaan, selama masa kekuasaan Islam masuk ke pulau Jawa, yang menulis kesusasteraan Jawa dengan unsur-unsur agama Islam di Mataram antara abad ke-16 dan abad ke-18. Kesusasteraan ini terdiri dari serat centini, primbon dan suluk. Konsep-konsep keagamaan yang berasal dari Dewaruci juga dimasukkan kedalam beberapa karangan yang mengandung pandangan magis dan mistik yang sangat berorientasi kepada kejawen, seperti serat Darmogandul dan serat Gatholoco. Konsep mengenai Tuhan juga dapat dijumpai dalam karya para pujangga kraton seperti YasadipuraI dan putranya Yasadipura II, serta Raden Ngabehi Ranggawarsita, dalam gubahannya yang berjudul serat Sasana Sunu Yasadipura II banyak menulis bait-bait mengenai sifat Tuhan dan mengenai hakekat dari hubungan antara Tuhan dan manusia.
             Dalam konsep mistik Dewaruci terdapat dua aliran yaitu:
  1. Pandangan tentang Tuhan yanag bersifat pantheistis yang menganggap Tuhan sebagai tak terbatas dan sebaliknya dapat berbentuk kecil yang terdapat pada diri manusia.
  2. Pandangan monistis yang menganggap Tuhan sebagai yang maha besar, tetapi berada didalam segala bentuk kehidupan dalam semesta, termasuk manusia yang hanya makhluk yang sangat kecil diantara segala yang ada. Kedua macam pandangan ini mempunyai perbedaan pokok dalam pandangan Islam orthodok yang sifatnya monotheistis yang menganggap bahwa Tuhan adalah maha besar dan maha kuasa, dan manusia hanya merupakan makhluk yang tidak berarti jika dibandingkan dengan Tuhan.[35]
                         Pertumbuhan Islam kejawen dalam hal ini yang  membahas tentang mistik islam kejawen lantaran mistik Islam menjadi inti kandungannya mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat setelah berdirinya kerajaan Demak dan kerajaan Jawa Islam Mataram, Diantara peninggalan kepustakaan mistik Islam kejawen yang paling tua, masih dapat ditemukan, dan menurut perkiraan berasal dari abad enam belas yaitu: dua manuskrip yang kemudian terkenal dengan nama  Het Boek van Bonang (buku sunan bonang) dans Een Javaanse Primbon Vit De Zestiende Eeuw (primbon Jawa abad enam belas) kitab yang terlebih dulu ada dari kedua manuskrip diatas, adalah serat suluk sukarsa, kitab ini berisi tentang ajaran mistik Islam kejawen yang mirip dengan kidung Hamzah fansuri.[36]
Metafisika Dalam pandangan Hidup Jawa
Didalam renungan filsafat Nusantara Indonesia terutama filsafat Jawa konsepsi mengenai Ada bukanlah diperoleh melalui penalaran rasio, melainkan melalui pengalaman atau penghayatan batin inner experience. Filsafat Jawa menurut Romo Zoet Mulder, yaitu: “pengetahuan (filsafat) yang merupakan sarana untuk mencapai kesempurnaan” . Dapatlah dirumusakan bahwa di Jawa filsafat berarti: cinta kesempurnaan (The love of perfection ) dengan memakai analogi philosophia Yunani.
                        Jika kita memakai bahasa Jawa, Maka filsafat berarti: ngudi kasampurnaan, yaitu berusaha untuk mencapai kesempurnaan. Sebaliknya philosopia Yunani dibaca dengan bahasa Jawa menjadi: ngudi kawicaksanan.[37]
                        Pencarian manusia untuk mencapai kasampurnan terkait kesadaran akan eksistensinya di dunia. Manusia mencurahkan seluruh eksistensinya, baik jasmani maupun rohani, untuk mencapai tujuan itu. Usaha itu dilakukan dengan sebuah pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan dengan menanyakan siapakah diri kita sebenarnya ?, Darimana asalnya ?, dan kemana akhirnya ?, kegelisahan itu bukan hanya seputar pada pertanyaan-pertanyaan eksistensi dirinya tetapi terus berlanjut dan tanpa batas akan hakekat segala sesuatu yang ada di alam semesta. Ungkapan tentang ada ( Ada alam semesta, Tuhan, Manusia) merupakan hasil pemikiran, pengalaman dan penghayatan manusia, yang termasuk dalam kajian metafisika.
  Ciri-ciri dasarnya adalah :
  1. Tuhan adalah ada semesta atau ada mutlak
  2. Alam semesta merupakan pengejawantahan Tuhan
  3. Alam semesta dan manusia merupakan satu kesatuan berupa makrokosmos dan mikrokosmos.
                        Pemikiran filsafat di atas bertolak dari eksistensi manusia dan alam dunia sebagai wujud nyata yang dapat ditangkap dengan panca indera, yang pada akhirnya melalui sebuah pemikiran dan penghayatan yang lebih mendalam sampai pada sebuah hakikat yaitu dari mana dan kemana semua wujud di alam semesta ini berawal dan berakhir. Pencarian manusia ini akan berakhir hanya dengan wikan, weruh, atau dalam istilah filsafat jawa mengerti akan sangkan paraning dumadi yaitu bahwa manusia dan segala yang ada di alam semesta ini adalah ciptaan atau berasal dari sang maha pencipta, Tuhan yang maha esa dan semuanya akan kembali ke asal.[38]
                        Dalam ungkapan jawa ada istilah urip iki prasasat mung mampir ngombe yang jika benar-benar dipahami istilah ini mengandung falsafah yang amat dalam berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia ini yang amat singkat, hingga dibutuhkan bekal kehidupan selanjutnya yang lebih abadi.[39]
                        Dalam serat sasangka jati terdapat dalam hasta sila  atau delapan sikap dasar yang terdiri dari dua pedoman yakni tri-sila dan panca-sila, sebagai pedoman pokok yang harus dilaksanakan oleh manusia setiap hari agar selamat di dunia dan akhirat yakni tiga hal yang harus di tuju oleh Budi dan cipta manusia di dalam menyembah Tuhan yaitu: Eling atau sadar, percaya dan mituhu.
a.           Eling atau sadar ialah sadar untuk selalu berbakti kepada Tuhan yang maha tunggal.[40]
b.          Percaya ialah terhadap sukma sejati atau utusannya yang disebut guru sejati.
c.       Mituhu adalah setia dan selalu menjalankan perintahnya yang disampaikan melalui utusannya.
                        Sebelum manusia dapat melaksanakan trisila tersebut diatas, ia harus berusaha untuk memiliki watak dan tingkah laku yang terpuji yang di sebut panca-sila yaitu rila atau rela, nrima atau menerima nasib yang di terimanya, temen atau setia pada janji, sabar atau lapang dada dan memiliki budi luhur yang baik.
                        Kelima dasar bertindak tersebut di atas merupakan sikap hidup yang harus selalu dipegang teguh oleh murid dan para guru pangestu yang merupakan salah satu aliran kebatinan yang ada dan tersebar di jawa. Sikap hidup yang terurai di atas, dapat dikatakan telah menjadi pedoman umum dan merupakan etika sosial dan bahkan telah menjadi ukuran moral masyarakat jawa.[41]
                       
BAB III
Gambaran Umum Serat Wedhatama

Biografi Penulis Serat Wedhatama (MangkunegaIV)

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A) Mangkunegoro IV terlahir dengan nama Raden Mas Sudiro, lahir pada tanggal 1 Sapar tahun Jimakir 1736 windu Sancaya atau Masehi tanggal 3 Maret 1811, Minggu Legi jam 11 malam di dalam Hadiwijayan.[42]
Beliau putra Kanjeng Pangeran Harya Hadiwijaya I yang nomor 7 (atau nomor 3 yang laki-laki). Dari garis keturunan ayah beliau cucu Bandara Raden Mas Tumenggung Harya Kusumadiningrat, cicit (buyut) dari Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Hadiwijaya yang gugur di Kali Abu daerah Salaman Kedu (gugur tatkala melawan Kompeni/VOC). Ibu beliau adalah puteri Mangkunegoro II, jadi beliau ini cucu Mangkunegoro II dan ia diangkat sebagai anak sendiri oleh Mangkunegoro III yang kemudian dinikahkan dengan anaknya sehingga beliau menjadi menantu Mangkunegoro III.[43]
Ia mendapatkan pendidikan dari kakeknya Mangkunegara II, setelah berumur 10 tahun oleh kakeknya ia diserahkan kepada Sarengat alias Pangeran Rio, saudara sepupunya yang kelak menjadi Mangkunegoro III, Pangeran Rio diserahi tugas untuk mendidik Sudiro tentang membaca, menulis, berbagai cabang kesenian dan kebudayaan serta ilmu pengetahuan lainnya lima tahun ia belajar dengan tekun di bawah bimbingan Pangeran Rio.
Pada usia muda sekitar 15 tahun ia telah masuk dinas militer, dan menjadi taruna infantri legiun Mangkunegoro, tiga tahun kemudian ia diangkat menjadi Kapten, lalu ia nikah dengan puteri KPH Surya  Mataram dengan sebutan baru RMH Gondokusumo. Karena kecakapan dan memiliki bobot kepemimpinan yang tinggi ia memperoleh kepercayaan dan terpilih menjadi pembantu dekat Mangkunegoro III dengan mengangkat pepatih Dalem(patih raja dalam urusan dalam) selanjutnya menjadi ajudan dalam dan terakhir menjadi komandan infantri legiun Mangkunegoro dengan pangkat Mayor. Agar lebih menjadi akrab lagi dengan Mangkunegoro III, maka ia dinikahkan pula dengan puterinya yang sulung bernama BRA Dunuk.[44]
Karena kepribadiannya yang kuat, cita-citanya yang tinggi, wawasannya yang jauh, kewibawaan yaitu dalam kemiliteran, ketrampilannya dalam pemerintahannya, kedalaman perasaannya dalam agama dan seni budaya, ia diangkat menjadi pengganti Mangkunegara III setelah beliau wafat, ia diangkat dengan sebutan Prabu Prangwadana letnan kolonel infantri legiun Mangkunegaran pada tanggal 14 Rabiul Awal tahun Jimawal 1781 atau tanggal 24 Maret 1853. Adapun gelar Mangkunegoro IV diraihnya pada hari Rabu Kliwon 27 Sura tahun Jimakir 1786, berdasarkan Surat Keputusan tanggal 16 Agustus 1857 dalam usia 47 tahun.[45]
Mangkunegoro IV telah mencapai kematangan dalam berbagai bidang sejak sebelum menjadi raja Mangkunegaran, oleh sebab setelah ia menduduki jabatan tersebut, ia segera mengambil inisiatif dalam bidang politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, seni budaya dan lain-lain, sehingga ia memiliki otonomi penuh mengenai urusan ke dalam seperti halnya Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Dan ia berhak mengatur pemerintahan sendiri, mengatur rakyatnya menjamin ketenteraman dan kesejahteraan mereka sebagai penguasa penuh di daerahnya. Bahkan ia merasa sebagainya raja ketiga di samping Sunan Surakarta dan Sultan Yogyakarta sehingga pada masa pemerintahannya daerahnya bertambah luas hingga daerah Sukawati (Sragen) berkat bantuannya kepada pemerintah Inggris dalam menundukkan pemberontakan Sultan Yogyakarta.[46]
Dalam masa pemerintahan Mangkunegoro IV diterangkan bahwa beliau mengalami kemajuan dalam segala bidang sehingga Mangkunegoro IV merupakan negarawan yang cukup terpandang. Kebesaran Mangkunegoro IV terutama sebagai seorang sastrawan dan kebudayaan Jawa, dapat dilihat dalam karya-karya sastra yang dihasilkannya yakin antara lain, Tripama, Manukarsa, Nayakawara, Yogatama, Paramnita, Pralambang lara kenya, Langen swara dan lain-lain. Dari hasil-hasil karya sastra di atas, Mangkunegoro IV dipandang sebagai salah seorang sastrawan dalam masa kebangkitan[47]  kembali kesusastraan Jawa baru dalam masa Surakarta.

Versi Lain Penulis Serat Wedhatama 

Tentang siapa penulis Serat Wedhatama yang asli hingga kini ada beberapa versi dan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa Serat Wedhatama itu hasil karya R. Ng. Ronggowarsito. Alasan yang mempunyai pendapat ini karena wileda (ikatan) kata demi kata sedemikian indah dan praktisnya sehingga mudah dihafal, itu ciri khas pujangga Ronggowarsito.
Ada lagi yang berpendapat bahwa Wedhatama itu karya Raden Ngabehi Wiryokusumo, seorang bangsawan Mangkunegaran yang mengabdi di istana dengan Pangkat Mantri Langenprojo Mangkunegaran.
Meskipun tidak begitu seterkenal seperti pujangga Ronggowarsito, tetapi ternyata Rn. Ng. Wiryokusumo. Ini hasil karyanya digemari oleh umum pada zamannya, yaitu antara lain : Tembang Prana, Panitisastra dan lainnya lagi.[48]
Masalah tentang siapa pengarang Wedhatama mendapat perhatian penulis Barat antara lain Dr. P.A. Rinkes yang meragukan jika seluruh penulisan Wedhatama itu dikarang Mangkunegora IV karena penulisannya telah ikut di dalamnya Pakubuwono IX, Ronggowarsito, dan Wiryokusumo sebab sastra dan gaya bahasa dalam Wedhatama sangat berbeda dengan karya-karya yang lain. Tetapi para penulis Indonesia pada umumnya dan penulis suku Jawa khususnya tidak meragukan bahwa Wedhatama adalah karya Mangkunegara IV. Hal ini terlihat dari berbagai penelitian di Indonesia khususnya di Jawa maupun dalam percakapan sehari-hari atau dalam bahasa lisan, kesemuanya mengatakan bahwa Wedhatama itu adalah karya Mangkunegara IV dengan beberapa pertimbangan yaitu :
1) Gaya bahasa dan kandungan isi Wedhatama.
2) Pencantuman nama pengarang dalam penerbitan Wedhatama mencantumkan Mangkunegara IV sebagai pengarangnya.
Berdasarkan analisis kandungan isi dan berbagai penerbitan yang penulis baca, penulis cenderung untuk berpendapat bahwa Serat Wedhatama adalah karya Mangkunegara IV, setidak-tidaknya karya yang dinisbahkan kepadanya.[49]

 

Arti  Serat Wedhatama

Dilihat dari arti katanya, Wedhatama berasal dari bahasa Sansekerta. Wedhatama, Menurut kamus Kawi-Indonesia karangan L. Mardiwasito, kata “wedha” berarti ilmu pengetahuan[50], sedang kata “tama” dari utama berarti baik.[51]
Menurut R. Tanojo, arti kata Wedhatama berarti pepathokaning putra. Dari kata wedha berarti pepakem (pathokan) dan tama/utama: berarti anak. Pepathokaning putra berarti pedoman bagi putra putrinya.[52]
Wedha adalah kawruh (bahasa Jawa): pengetahuan/ilmu/ajaran, sedang tama adalah utama: baik, luhur, dan sebagainya. Jadi Wedhatama adalah pengetahuan/ilmu/ajaran untuk mendapatkan/memiliki budi/jiwa yang baik/luhur bagi setiap insan.[53]
S. de Jong mengartikan Wedhatama sebagai “ajaran kesempurnaan” merupakan sebuah syair pendek, tetapi tersohor yang mengandung petunjuk-petunjuk praktis bagaimana hendaknya orang-orang priyayi mengatur hidupnya.[54]
R. Ng. Satyo Pranowo menyatakan bahwa Wedhatama merupakan atining tatakramamendorong dan mendekatkan diri pada tercapainya cita-cita manunggal, yaitu tentang kebulatan sikap lahir batin berserah diri dan bersatu diri sepenuhnya dengan Penguasa Agung Yang Maha Tunggal (Tuhan YME).[55]

Ringkasan Isi Serat Wedhatama

Mangkunegara IV sebagai pengarang Serat Wedhatama bertujuan memberi nasihat dan petunjuk kepada ahli warisnya untuk memakai dan tetap melaksanakan ilmu agama yang telah turun temurun menjadi pegangan para kerabat kerajaan, yaitu Agama ageming aji  agama yang disandang para bangsawan. Nasihat ini dituangkan dalam empat bab, setiap bab memuat pola tembang pattern of a song yang sesuai dengan isi nasihat, pokok nasihat adalah petunjuk tata laku susila di dalam masyarakat dan di dalam menjalankan ibadat Islam, baik secara lahir maupun batin the observance of Islam in exotic and esoteric sense sehingga mencapai kenyataan dan pengetahuan tertinggi, ialah ma’rifat.
Bab I menggambarkan tingkah laku anak muda yang bertindak angkuh karena merasa mempunyai darah bangsawan dan mengandalkan cara ibadat Islam lahiriah saja.
Bab II memberi tata laku untuk orang muda dengan mengambil contoh Panembahan Senopati, raja pertama Mataram. Manusia harus dapat mengurangi keinginan naluri dasarnya, yaitu mengurangi makan dan tidur serta gelora nafsu lainnya. Untuk memantapkan hidup kemasyarakatannya harus menguasai tiga hal : arta – wirya –winasis : harta – kedudukan – pengetahuan.
Bab III menegaskan bahwa untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan, kita harus menjalankan tata laku susila dengan usaha pertama pandai mengendalikan nafsu angkara murka. Dalam hidup sehari-hari bersikap sila –trima – legawa : sila – menerima – serah diri.
Bab IV memerinci penerapan empat macam cara ibadat menuju kesempurnaan diri, yaitu sembah raga, kalbu, jiwa dan rasa. Wedhatama sebenarnya berisikan hasil pengamatan empiris secara cermat terhadap penghayatan hidup yang mempunyai tiga dimensi, kehidupan lahir (inner Life) dan kehidupan alam ghaib (the world of the unseen). Tata laku susila ditujukan terhadap ketiga dimensi kehidupan itu yang berpuncak pada penghayatan dan pengetahuan hakekat hidup dengan perjumpaan manusia dengan Tuhan sebagai Manunggaling Kawula – Gusti.[56]
Sesuai dengan judulnya Wedhatama yang berarti pengetahuan yang utama, maka Wedhatama adalah sebuah kitab wulang. Penulisan Serat Wedhatamamerupakan hasil dari refleksi yang dalam dari kondisi kehidupan masyarakat Surakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pada dasarnya isi Serat Wedhatama berisi tentang cara mendidik anak yang baik dan nasihat-nasihat yang mulia. Dalam hal ini Serat Wedhatama terbagi menjadi 4 pupuh yaitu : pangkur, sinom, pucung, gambuh.[57]
1. Pupur Pangkur. Dalam Serat Wedhatama ingin mengajarkan ilmu yang sempurna, yang menjadi pedoman bagi setiap orang yakni berisi tentang sopan santun. Syarat utama untuk memperolehnya ialah dengan mawas diri. Orang yang berhasil mawas diri akan menemukan dalam dirinya ketenteraman dan keserasian sehingga dapat menguasai dunia, itulah rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa.
2. Pupuh Sinom. Berisi tentang keberhasilan mawas diri, adegan dalam Senopati, raja Mataram yang dalam hal ini mendapat gelar wong Ngeksigondo (orang yang hambanya) seorang raja teladan, ramah dan memasyarakatkan serta secara teratur menjalankan tapa (puasa), tetapi selamanya beliau tidak pernah mengasingkan diri dari masyarakat. Beliau telah mendapatkan pengalaman mistik, misalnya di pantai selatan beliau diberi pengertian mengenai sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh manusia pada umumnya.
3. Pupuh Pucung. Berisi tentang kebijaksanaan sejati, kebijaksanaan yang sejati tidak pernah terlihat pada suatu tempat, sebagai contoh orang yang membanggakan pengetahuan dari Mesir,Belanda tetapi esensi dan sesuatu yang dicari terletak pada kepribadiannya sendiri.
4. Hakekat kebijaksanaan tersebut adalah harus selalu dilaksanakan. Kedewasaan hidup menurut Mangkunegara IV meliputi : lilo (rela) narima dan legawa atau rela batinnya sudah pasrah, tetap sabar tulus ikhlas serta tawakkal atau berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Barang siapa ingin menghayati ilmu, harus dengan jalan mengekang hawa nafsu, perasaan tawakkal berserah diri terhadap kekuasaan Tuhan.[58]
5. Pupuh Gambuh. Yakni mengungkapkan limpahan anugerah Tuhan YME harus ditebus dengan penghayatan mutlak, didasarkan pada kesucian batin, menjauhkan diri dari watak angkara murka (sifat egois yang berlebih-lebihan), serta ketekunan melakukan sembahyang 4 macam.[59]
Ringkasan ajaran dalam Wedhatama dapat diringkas menjadi 2 kelompok :
1. Ajaran bagi para taruna (golongan muda)
a.  Dianjurkan agar mempelajari tata busana dan sopan santun, serta memahami sumber ilmu pengetahuan yang benar.
b.  Hendaknya yang bersikap angkuh atau menyombongkan diri (mentang-mentang mempunyai ilmu kekebalan) karena ilmu tersebut sebenarnya tidak dapat diandalkan, jangan sekali-kali bersikap sombong, mentang-mentang ayahnya berkuasa.
c.  Hendaknya dapat menilai dengan cermat segala macam ajaran sehingga akan dapat menempatkan ajaran tersebut dan memilih ilmu mana yang sekiranya sesuai dengan bakat pribadinya sendiri.
d.  Sadarlah dengan apa yang dimaksud menunaikan darma, yakni selagi hidup di dunia wajib bagi setiap manusia untuk berikhtiar meraih trisarana hidup, yaitu wisya, arta, wasis (keilmuwan, harta, kepandaian).
2. Ajaran bagi golongan tua
Ilmu atau cara mendidik anak
Bagaimana caranya menentukan atau meyakinkan kebenaran suatu ilmu.
Bagaimana caranya menjalankan sembah sujud kehadirat Tuhan yang maha kuasa supaya tidak sia-sia usahanya menghadap Tuhan.
Orang yang dianggap tua adalah orang yang berilmu dan memahami ruas-rasa dan bukanlah tua karena umurnya.[60]
Jadi Wedhatama berarti ilmu pengetahuan tentang kebaikan. Tetapi bukan hanya pengetahuan yang baik tentang lahirnya saja tetapi baik dalam artian lahir maupun batin.

E. Naskah Serat Wedhatama

Serat wedhatamaberbeda dengan serat-serat piwulang lainnya, karena kedudukannya yang sangat penting sejak dahulu sampai sekarang maka tidak mengherangkan jika ia lebugh banyak diminati, di bahas dan dikaji orang dari pada serat piwulang lainnya. Permasalahan serat Wedhatama  menyangkut dua hal pertama masalah naskah dan penerbitan, kedua masalah pengarangnya. Dalam hal ini sekurang-kurangnya ada empat macam versi Wedhatama:
  1. Wedhatama sayembara, terdiri atas Pupuh pangkur 14 bait, Sinom 15 bait, Gambuh 21 bait, jumlah seluruhnya 65 bait.Dalam naskah Serat Wedhatama ada dua versi yang satu berjumlah 100 bait yang terdiri dari tembang : Pangkur, Sinom, Pucung, dan Kinanthi. Tetapi ada yang hanya terdiri dari 72 bait terdiri dari Pangkur, Sinom, Pucung dan Gambuh saja. Menurut yang berkeyakinan hanya terdiri dari 72 bait mengatakan bahwa yang 18 bait itu hanya tambahan saja.
  2. Wedhatama terbitan Van Der Heidi en.co 1885, di Surakarta, terdiri atas; Pupuh Pangkur 14 bait, Sinom 15 bait, Pucung 15 bait, Gambuh 20 bait jumlah seluruhnya 69 bait.
  3. Wedhatama terbitan Ki Padma Susastra, Pujaarja Java Institut. S.Z. Hadi Sutjipto terdiri dari Pupuh pangkur 14 bait, Sinom 18 bait,  Pucung 15 bait, Gambuh 25 bait, dan jumlah seluruhnya 72 bait.
  4. Wedhatama lanjutan terbitan Java Institut dan Yayasan Mengadeg, terdiri atas 5 Pupuh pangkur 14 bait, Sinom 18 bait, Pucung 15 bait, Gambuh 25 bait, Gambuh (lanjutan) 18 bait, jumlah seluruhnya 100 bait.
Keempat versi Wedhatama tersebut memperlihatkan beberapa persamaan dan perbedaan tentang jumlah pupuh Wedhatama versi pertama, kedua dan ketiga memperlihatkan persamaan sedangkan versi keempat di samping empat Pupuh tersebut masih ada lagi Pupuh lanjutan dan Kinanti.[61]
Menurut Anjar Any bahwa Serat Wedhatama yang asli adalah 72 bait dengan alasan sebagai berikut :
  1. Di dalam buku yang bertuliskan huruf Jawa dari museum Mangkunegoro, setelah bait 72 itu ada tanda “titi” artinya selesai. Kemudian pada halaman sebaliknya  ada keterangan “Sambungan dari Serat Wedhatama yang berdiri sebagai judul tersendiri. Dan pada akhir bait 100 ada tanda “titi” lagi.
  2. Dan kebiasaan memakai kata dapat dilihat bahwa antara 72 bait didepan dan 18 bait terakhir ada tanda “titi” lagi.
  3. Pada bait 1 s/d 72, apakah akan berganti tembang tentu ada kode. (mulanya wong anom sami….. akan masuk sinom, “pamucunge wring ….. akan masuk Pucung, “anggambar mring …..” akan masuk Gambuh).
Tetapi pada bait  73 dan seterusnya akan masuk Tembang kinanthi tidak ada kode seperti itu. Hanya setelah tembang itu tembang kinanthi ada petunjuk tentang Kinanthi Mangka kanthining tumuwuh.[62]
BAB IV
KONSEP METAFISIKA DALAM SERAT WEDHATAMA
A. Konsep Tuhan Dalam Serat Wedahatama
1.Tuhan Sebagai Dzat Yang Mutlak
Dalam setiap agama selalu diajarkan tentang Tuhan sebagai suatu prinsip dasar dari ajaran agama itu sendiri dan Tuhan dinyatakan sebagai pencipta semua yang ada ini. Semua agama prinsip dasarnya adalah keyakinan terhadap Tuhan.[63]
Tuhan yang merupakan sangkan paran hidup manusia haruslah dipatuhi dan dilaksanakan segala perintahnya dan dijauhi segala larangannya, agar kehidupan yang manusia jalani di dunia ini tidaklah menjadi sia-sia. Manusia sebagai makhluk Tuhan tergantung kepada Tuhan hendaklah manusia berserah diri dan berusaha agar manusia mendapat rahmat Tuhan.
Orang Jawa yang terbentuk karena kebudayaan Jawa akibat pengaruh filsafat Hindu dan filsafat Islam[64], meyakini terhadap Tuhan sebagai Sang Pencipta, karena dialah penyebab dari segala kehidupan, dunia dan seluruh alam semesta dan mengakui hanya ada satu Tuhan (ingkang Maha Esa).
Tuhan mereka sebut Gusti Allah dan Nabi Muhammad adalah Kanjeng Nabi. Menurut konsepsi agama Jawa, Tuhan adalah keseluruhan dalam alam dunia ini, yang dilambangkan dengan wujud suatu makhluk Dewa yang sangat kecil sehingga setiap waktu dapat masuk ke dalam hati sanubari orang. Tetapi Tuhan sekaligus juga besar dan luas seperti samudra, tidak berujung dan tidak berpangkal seperti angkasa, dan terdiri dari semua warna yang ada di dunia ini. Pandangan orang Jawa ini sifatnya pantheistis.[65]
Konsep keagamaan Jawa mengenai Tuhan dilambangkan sebagai Dewa Suci diadopsi oleh para pemuka agama dan para cendekiawan dan orang-orang yang selama kekuasaan Islam masuk ke pulau Jawa dan menulis kesusasteraan Jawa dengan unsur-unsur agama Islam di Mataram antara abad ke-16 dan abad ke-18. Kesusasteraan ini terdiri dari Serat Centhini, Dewa Ruci, Serat Darmo Gandhul, Serat Wedhatama dan Serat Gatholoco.[66]
Dalam Serat Wedhatama uraian tentang Tuhan, yakni mengenai zat, sifat, asma dan af’alnya, sesungguhnya hampir tidak disinggung secara jelas. Namun penyebutan Tuhan sebagai Dzat yang mutlak disini menggunakan istilah yang berbeda-beda, sesuai dengan konteksnya. Seperti yang diungkapkan dalam pupuh pocung bait ke 12:
Bathara gung         
Inguger graning jajantung      
Jenek Hyang Wisesa        
Sana pasenedan suci
Nora kaya si mudha mudhar
Angkara
Arti:
Yang maha baik di tempatkan di
Dalam hati, yang maha kuasa
Kerasan ditempat peristishatan
Yang suci. Tidak seperti ulah
Si muda yang menuruti nafsu angkara.[67]
Kata Bathara gung pada ungkapan diatas merupakan nama lain untuk penyebutan Tuhan yang berada pada disetiap manusia, sehingga Tuhan Maha Mengetahui apapun yang diperbuat oleh hambanya didunia. Oleh karena itu segala perbuatan dan tingkah laku manusia haruslah diniatkan kepada Tuhan sebagai penghambaan dirinya kepada sang pencipta yang menguasai segala sesuatu.
Dalam pucuh pocung bait ke 11 diterangkan :

Lila lamun kelangan nora 

Gegetun, trima yen ketaman
Sakserik sameng dumadi
Tri legawa nalangsa ing Bathara
Arti:
Rela apabila kehilangan tidak
Masygul (kecewa), menerima (sabar) bila
Mendapat sesuatu yang menyakitkan
Hati dan orang lain, Tiga: ikhlas, menyerahkan
Kepada Tuhan.[68]                      
Maksud dari bait diatas adalah : manusia adalah makhluk Tuhan dan segala sesuatu yang terjadi pada alam ini dan manusia tergantung kepada Tuhan. Oleh karena itu manusia harus berserah diri, sabar dan ikhlas dalam menjalankan kehidupan ini, manusia dilarang berputus asa apabila segala keinginannya tidak tercapai karena semuanya adalah milik Tuhan. Manusia hanya wajib berusaha dan sabar menjalankan perintah Tuhan tetapi segala keputusan diserahkan dan mutlak ada di tangan Tuhan Yang Esa.
Menurut Ibn Al ’Arabi sebagai salah seorang tokoh sufi besar Islam berpendapat bahwa Tuhan adalah mutlak, adanya Allah ialah karena dan untuk dirinya sendiri. Dia tidak terikat dan tidak disebabkan oleh sesuatu yang lain. Dia tidak menyebabkan segala sesuatu akan tetapi yang menjadikan akibat dan sebab. Alloh tidak terperikan oleh dan dengan segala sesuatu predikat apapun, karena ia tunggal. Dia adalah ada mutlak dan tunggal, maka sudah semestinya ada adanya oleh adanya Allah, dan tentunya ada adalah tunggal. Secara hakiki, bahwa ada bukanlah yang berganda atau jamak. Jadi dari yang tunggal mengalir yang ada tunggal, meskipun tampak sebagai kejamakan. Berdasar itu maka dapat dikatakan bahwa didalam Allah terdapat sesuatu keanekaan yang tidak bertentangan dengan ketunggalannya, dalam hal ini yang dimaksud adalah keanekaan logis dan berkaitan dengan yang dapat diungkapkan mengenai ada yang tunggal, tanpa menghancurkan ketunggalan tersebut[69], dan af’al Tuhan, Maha ungkapan yang-ada mutlak, yang tunggal, Allah tersebut. Bagi Ibnu Al’Arabi merupakan kenyataan tertinggi dan mutlak dalam dirinya serta untuk dirinya sendiri. Dia merupakan Dzat yang menjadi sebab bagi akibat dan sebab-sebab berikutnya. Sehingga Dia dipandang pula sebagai awal dari yang awal dan yang akhir. Meskipun tidak akan pernah berakhir, karena keazalian-Nya. Ke-Tunggalan-Nya menunjukkan pada sisi sifat yang dilekatkan pada-Nya. Sedang asma (nama) tumbuh sebagai akibat dilekatkannya sifat pada-Nya. Kemudian af’al (perbuatan) merupakan wahana bagi Dzatnya, yakni sebagai bukti keberadaan-Nya.[70]
Dalam Serat Wedhatama ada beberapa nama (istilah-istilah) yang digunakan untuk menyebut Tuhan seperti :
Allah       (pangkur bait 12)  (Maha Esa)
Bathara Gung  (pocung bait 12)   (Maha Agung)
Hyang Wisesa  (pocung bait 12)   (Maha Kuasa)
Hyang Manon   (gambuh bait 6)    (Maha Melihat)
Hyang Sukma   (gambuh bait 16)   (Maha Roh/jiwa)
  Ingkang Mahasuci(gambuh bait 30)  (Yang Maha Suci)[71]
Adanya berbagai macam istilah yang digunakan untuk penyebutan Tuhan dan Serat Wedatama dikarenakan sesuai dengan tingginya kebudayaan Jawa dan khazanah bahasa Jawa yang amat kaya dan halus sehingga peristilah untuk penyebutan Tuhan disesuaikan dengan situasi dan kondisi batin hambanya dalam penghayatan kepada Tuhan yang dianggap sebagai suatu Dzat mutlak.
2. Yang Fana dan Abadi
Eksistensi Tuhan bersifat abadi dan tidak pernah berhenti, sehingga Tuhan sesungguhnya tidak pernah berhenti untuk mencipta dan penciptaan akan terus terjadi, karena penciptaan adalah bagian dari eksistensi Tuhan sendiri. Kerusakan hanya akan terjadi dalam wujud-wujud eksistensinya atau dalam ciptaan-Nya, termasuk manusia sebagai makhluk ciptaannya yang paling sempurna yang kadang bersifat sombong dan merasa paling hebat dengan kedudukan, harta dan akalnya sehingga membutakan dirinya sebagai makhluknya yang fana, tetapi pada eksistensi Tuhan sebagai sang Khaliq tidak akan mengalami kerusakan dan kebinasaan karena Dia bersifat mutlak dan abadi.[72]
Dalam Serat Wedhatama diterangkan bahwa alam semesta yang dihuni oleh makhluk hidup dibedakan menjadi dua alam yakni alam yang selalu berubah (fana’) dan alam yang tetap (abadi). Konsep mengenai hal tersebut antara lain termuat dalam pupuh pangkur bait ke 14 yang berbunyi :

Sejatine Kang mangkana

Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi
Bali alaming  ngasuwung,
Tan karem karameyan
Ingkang sipat wisesa winisesa wus,
Mulih mula mulanira
Mulane wong anom sami.
Arti:
Sebenarnya yang demikian itu
Sudah mendapat anugerah Tuhan
Kembali ke alam kosong,
Tidak mabuk keduniawian
Yang bersifat kuasa menguasai,
Kembali ke asal mula
Oleh karena itu wahai anak muda.[73]
Dari kutipan diatas ditarik kesimpulan bahwa disamping alam tempat hidup manusia sekarang ini, dalam Serat Wedhatama berpandangan bahwa ada suatu alam lainnya yang disebut sebagai alam suwung.Ini merupakan tempat asal dan sekaligus tempat kembalinya manusia yang dapat memperoleh karunia Tuhan. Alam sekarang ini disebut pula alam kinaot(pupuh gambuh bait ke 13) yakni alam yang tinggi tingkatannya atau alam yang sangat istimewa indahnya.
Oleh karena kesempurnaan hidup merupakan tujuan utama bagi setiap manusia agar tercapai kebahagiaan hidup sejati baik pada kehidupan ini (fana’) maupun  kehidupan setelah mati. Kebahagiaan hidup sejati didunia ini bukan diukur dari keadaan terpenuhinya kebutuhan materil secara melimpah  tetapi sebaliknya berupa pemenuhan kebutuhan yang wajar, adil dan seimbang bagi keperluan jasmani serta rohaninya.[74]
Disamping itu  alam suwungipun disebut alam lama maot yang terdapat pada pupuh gambuh bait ke 17 yaitu:
Sayekti luwih perlu,
Ingaranan pepuntoning laku,
Kalakuwan tumrap kang bangsaning batin,
Sucine lan awas emut,
Mring alaming lama maot.
Arti:
Sebenarnya lebih penting
Disebut penghabisannya tindakan,
Tindakan yang bersangkutan dengan batin,
Pembersihnya dengan awas dan ingat
Kepada alam yang Maha Besar (dapat memuat)
Alam kelanggengan.[75]
Alam lama amot (maot) secara harfiah bermakna alam yang dapat memuat dalam waktu yang lama atau dengan perkataan lain langgeng atau abadi. Dapat pula diartikan sebagai alam baka atau alam akhir.
Dalam alam akhir inilah kita akan mengalami kehidupan akhirat sebagai lawan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang berjangka panjang, dan jauh, kehidupan ini akan dialami oleh semua manusia tanpa terkecuali sesudah mati, kehidupan ini tidak bisa dijelaskan secara keilmuwan, karena diluar jangkauan keilmuwan sehingga untuk memahami realitas kehidupan akhirat harus melalui perenungan yang transenden, yang melintasi batas-batas dimensi fisik, ruang dan waktu yang terbatas. Melalui pengembaraan iman yang cerdas, yang secara ghaib menembus dinding dan pembatas yang berada dalam ruang dan waktu yang bersifat fisik, hakikat kehidupan ini tidak berada pada kepentingan-kepentingan duniawi yang sifatnya sementara seperti permainan yang segera berakhir.
Oleh karena itu hakikat kehidupan adalah kehidupan akhirat kehidupan jangka panjang yang hanya bisa dicapai dengan menekan keakuan dititik rendah, sebuah perjalanan yang amat panjang, yang hanya dapat dihayati dengan menjauhkan diri dari kesombongan.[76]
Dari uraian diatas maka jelaslah bahwa bagi Serat Wedhatama ada kehidupan yang abadi yakni alam suwung yang merupakan alam asal dan tempat kembalinya manusia yang mendapat karunia Tuhan. Disamping itu alam suwung ini pun merupakan tempat bersemayamnya Tuhan itu sendiri. Hal ini diungkapkan  dalam pupuh pocung bait ke 12 :
“…Hyang Wisesa
sana pasenedan suci…”[77]
yang bermakna bahwa yang maha kuasa itu bersemayang dialam yang suci
Dari kehidupan dunia yang fana’ ini manusia akan menuju ke alam akhirat yaitu alam keabadian. Dalam Islam kehidupan akhirat adalah kehidupan yang berjangka panjang dan jauh yaitu sebuah perjalanan yang mengharuskan melalui tahapan-tahapan, baik untuk istirahat, membersihkan diri atau mengisi dan membawa bekal untuk perjalanan  berikutnya yaitu harus mengalami, hari kiamat, kebangkitan, pengadilan, hukuman dan pembalasan, baik sorga ataupun neraka adalah bagian dari kehidupan akhirat itu sendiri.
Pada hakikatnya kehidupan akhirat adalah perjalanan panjang menuju Tuhan, bukan perjalanan menuju sorga atau menghindari neraka. Karena  sesungguhnya kita semua berasal dari Tuhan dan akan kembali juga kepadanya, perjalanan panjang menuju Allah dalam kehidupan akhirat dilakukan manusia pada tahapan nafsu dan nafs pada hakikatnya adalah transendental dari nafs yang terbatas menuju nafs yang tak terbatas (Tuhan).
B. Dualisme Yang Tunggal (Manunggaling Kawula Gusti)
Ajaran sangkan paraning dumadi yang berarti pangkal atau mula dan arah tujuan semua kejadian, menggambarkan suatu (filsafat) proses, kesinambungan awal-akhir, bagaimana permulaannya dan juga kesudahannya. Hal ini menumbuhkan pemahaman manungaling kawula Gusti.
Dalam Islam, konsep diatas bisa dipahami melalui perkataan yang selalu diucapkan seorang mukmin jika ada musibah, yaitu innalillahi wa inna ilayhi rojiun(sesungguhnya semua datang dari Allah dan akan kembali ke Allah). Pemahaman seperti itu menunjukkan bahwa apa yang menjadi sehat antar awal-akhir hidup ialah itu kita sendiri[78], untuk mencapai kemanggulangan antara hamba dan Tuhan (Manunggaling Kawula Gusti) manusia harus mengatasi belenggu yang mengikat setiap individu dengan eksistensi fenomenal, seperti nafsu dan rasionalitas duniawi, yang menggiring manusia pada persepsi yang menyesatkan tentang kebenaran. Seorang yang ingin mencapai kemanunggalan (ahli mistik) harus bisa mengatasi egoismenya, bebas dari pamrih dalam melaksanakan kehidupannya.[79]
Kemampuan untuk memiliki sikap-sikap semacam itu dapat diperoleh dengan hidup sederhana dalam arti yang sesungguhnya, hidup bersih, tetapi juga kemampuan untuk berkonsentrasi dengan jalan pengendalian diri dan melakukan berbagai latihan semedi. Melalui latihan semedi diharapkan agar orang dapat membebaskan dirinya dari keadaan sekitarnya, sehingga hal ini dapat memberikan keheningan pikiran, dan membuatnya mengerti dan menghayati hakekat hidup serta keselarasan antara kehidupan rohaniah dan jasmaniah. Apabila orang sudah bebas dari beban kehidupan duniawi, maka orang itu setelah melalui beberapa tahap berikutnya, yang pada saatnya akan dapat bersatu dengan Tuhan (pembimbing kawula Gusti, atau Manunggaling Kawula Gusti).[80]
Dalam Serat Wedhatama disinggung tentang landasan mengenai unsur fundamental realitas kehidupan yakni terkandung dalam pupuh pangkur bait ke 12 sebagai berikut :

Sapantuk wahyuing Allah

Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit
Bakat mikat reh mangukut,
Kukutaning jiwangga
yen mangkono kena sinebut, wong sepuh
Lire sepuh sepi hawa,
Awas loroning atunggil
Arti :
Barangsiapa mendapatkan wahyu Illahi ia akan segera memiliki kemampuan yang cemerlang dan mempelajari ilmu. Dan ia akan mampu mendapatkan dan mengatasi tata tertib bersamadi. Manusia yang demikian keadaannya baru dapat dikatakan sebagai juga sebab-sebab yang dimaksudkan dengan tua itu (haruslah mengandung makna) telah terbebas dari hawa nafsu dan waspada terhadap adanya dua macam unsur yang sebenarnya merupakan dwi tunggal.[81]
Berdasarkan isi pupuh diatas maka jelaslah bahwa menurut Serat Wedatama unsur fundamental daripada kenyataan itu adalah yang disebut jiwangga. Jiwanggaadalah kependekan dari dua perkataan dalam bahasa Jawa “jiwa” dan “angga” yang artinya yakni jiwa dan raga atau badan. Dalam pupuh tersebut juga dijelaskan sekaligus, bahwa kedua unsur fundamental ini meskipun bagi orang kebanyakan atau pada umumnya kelihatan sebagai dua, namun bagi semua “sepuh” sebenarnya dapat diketahui sebagai tunggal. Jadi yang dua unsur tersebut dengan demikian sebenarnya merupakan satu hal juga. Dalam peristilahan Wedhatama disebut loroning manunggal (monodualisme).[82]
Dalam penghayatan paham Manunggaling Kawula Gusti menjadi tujuan hidup bagi orang yang bijaksana, hal ini diungkapkan dalam pupuh pangkur bait 13 sebagai berikut:

Tan samar pamoning sukma

Sinuksmaya winahya ing ngasepi,
Sinimpen telenging kalbu,
Pambukaning warana,
Tarlen saking liyep layaping
Aluyup
Pindha pesating sumpena,
Sumusuping rasa jati.
Artinya :
Agar tiada ragu terhadap bersatunya sukma Penghayatan ini terbuka di dalam penyepian tersimpan didalam kalbu Adapun proses terungkapnya tabir (penutup alam gaib)Laksana terlintasnya dalam kantuk bagi orang yang sedang mengantuk Penghayatan gaib itu datang laksana hiasan mimpi.[83]
Dari ungkapan diatas, Serat Wedhatama mengandung paham kesatuan manusia dengan Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dapat berarti beradanya manusia dalam Tuhan. Disanalah tempatnya yang sejati kesanalah ia harus kembali, karena oleh manusia ia seolah-olah berada diluar Tuhan. Dalam paham adalah bukan Tuhan, tetapi juga bukan dari pada Tuhan.
Selanjutnya dalam  pupuh gambuh bait 20, 21 dan 22 diterangkan tentang penghayatan makrifat pada Tuhan sebagai berikut :
Tarlen mung pribadinipun,
Kang katon tinonton kono.
Nging aywa salah surup,
Kono ana sajatining urub,
Yeku urub pangarep uriping budi,
Sumirat-sirat narawung,
Kadya kartika katonton.
Yeku wenganing kalbu,
Kabukane kang wengku-winengku
Wewengkone wis kawengku neng sireki,
Nging sira uga kawengku,
Mring kang pindha kartika byor.
Arti :
Tak lain hanya diri pribadinya
Yang tampak terlihat disitu.
Akan tetapi jangan salah pengertian
Karena disitu ada nyala sejati,
Yakni nyala yang menghidupkan budi,
Bersinar gemerlap
Laksana bintang yang tampak.
Itulah proses terbukanya kalbu
Menjadi nyata (antara Tuhan dan manusia) adalah saling cukup mencakup
Kerajaannya telah tercakup dalam dirian akan tetapi lain juga dikuasai
Oleh Dzat yang laksana bintang gemerlapan.[84]
Dalam penghayatan makrifat diatas tampak apabila rasa was-was telah hilang, yang ada hanyalah yakin dan percaya akan berlakunya takdir Tuhan.
Banyak istilah-istilah yang dipakai dalam mistisisme untuk menamai pengalaman mistik ini seperti, Pamoring Kawula Gusti, Jumbuhing Kawulo Gusti, Curiga Manjing Warangka, Warangka Manjing Curiga, union Mystica, Manunggal dan lain-lain. Thomas Aquinas menyebutnya dengan istilah Cognitio dei Experimentalis.Dalam pencapaian Manunggaling Kawula Gusti ada suatu tahap yang ingin dicapai manusia kepada level tertinggi  yaitu insan kamil dalam konsep Islam, aturan kepercayaan menyebutnya jalma winilis. Kalau dalam konsepsi Jawa menyebutnya (artinya penandhita seorang ilmuwan Barat Tielhard de Chardin memakai istilah titik omega sementara Radhakhishnan menyebutnya dengan istilah Samvadanya.[85]
Dalam Serat Wedhatama ilmu yang berusaha mencapai penghayatan dengan Tuhan disebut juga “Ngelmu Kang Nyata/Ngelmu Luhung/Ilmu Tarekat, untuk mempelajari ngalam nyata ini orang harus belajar pada seorang guru yang disebut Sarjana Kang Martapi, yaitu para pertapa yang bijaksana. Dan atau untuk mencapai penghayatan manunggal dengan Tuhan dalam Serat Wedhatama dirumuskan menjadi sembuh catur (empat macam sembah). Hal ini diungkapkan dalam pupuh gambuh bait I
Samengko ingsun tutur,
Sembah catur supaya lumuntur,
Dhihin raga, cipta, jiwa rasa, kaki
Ing kono lamun tinemu,
Tanda nugrahanung Manon,
Arti:
Sekarang saya berkata,
Empat buah sembah agar mawaris (kau tiru)
Pertama: Raga, Cipta, Jiwa dan Rasa anakku.
Disitu bila tercapai,
itu pertanda kebesaran Allah.[86]
Sembah Mangkunegara IV ada empat macam, yaitu:
Sembah raga: Menyembah Tuhan yang dilakukan seperti orang yang melakukan perjalanan, cara bersucinya dengan air (wudlu) dilakukan secara fisik, lima kali dalam sehari semalam, dijalankan sengan taat, tekun dan sabar, ditepati segala peraturannya menurut syari’at yang telah ditentukan.
Sembah kalbu: Menyembah Tuhan yang dilakukan dengan mengutamakan peranan kalbu, yang karenanya tdak disucikan dengan air, tetapi dengn menyucikan hati dan sifat-sifata tercela, dan berbaai bujukan hawa nafsu dan dengan memperbanyak latihan spiritual sehingga kalbunya dalam kondisi yang suci.
Sembah jiwa: Menyembah Tuhan dengan mengutamakan rasa awas dan ingat selalu kepadaNya, yang perlu dilakukan sehari-hari, yang disertai ketebalan iman dan keteguhan hati, memegang teguh niat dan tujuan, tidak mudah terpengaruh dan terkecoh apa saja yang terlihat dalam pengalaman rohaniahnya.
Sembah rasa: Menyembah Tuhan dengan rasa yang ada didalam inti jiwa atau ruh, sehingga terasalah hakikat kehidupan yang sebenarnya, sembah ini dilakukan secara batiniah semata-mata dengan penghayatan inti jiwa yang paling dalam.[87]
Dalam konsep sembah yang diajarkan oleh Mangkunegara IV menekankan aspek sembah lahiriah dan batiniah, yang sebetulnya konsep ini merupakan gradasi dari ajaran tasauf seperti syari’at, tariqat, hakikat,dan sampai puncaknya pada tahap makrifat.
C. Kosmologi Dalam Serat Wedhatama
Kenyataan alam semesta pada hakikatnya adalah kenyataan yang dibangun dari kenyataan-kenyataan besar (makrokosmos) dan kenyataan besar sebagai keseluruhan pada dasarnya sangat gaib, metafisik, bersifat abstrak, yang pada hakekatnya tersusun dari satuan kenyataan-kenyataan kecil yang dapat dilihat, ditangkap dan ditimbang. Tetapi yang abstrak itu tidak berarti tidak ada, karena bangunan dan dasarnya bangunannya memang berasal dari kenyataan ada dan yang ada pada kenyataan-kenyataan satuan kecil yang secara empirik dapat dilihat, ditangkap dan ditimbang.
Dalam tahap ini, sesungguhnya ada dua kenyataan, yang pertama adalah kenyataan yang besar, keseluruhan yang abstrak, metafisik, gaib, yang hanya dapat dimengerti melalui konsep, dan kedua adalah kenyataan kecil (mikokosmos) satuan empirik yang dilihat, ditangkap dan ditimbang, oleh peralatan indera fisik. Dengan demikian, pembahasan kosmologi memperoleh posisi pengertian yang lebih jelas, yang pada dasarnya mencoba membahas hakikat alam semesta sebagai eksistensi Illahi. Tentang kenyataan alam besar, suatu wujud keseluruhan jenis, yang bersifat abstrak, yang dapat ditangkap dan dimengerti melalui konsep filsafat.[88]
Dalam Serat Wedhatama dapat kita jumpai suatu ajaran tentang konsep alam semesta yang terbagi menjadi tiga dunia (triloka), ajaran ini merupakan pengaruh dari filsafat Hindu yang mempunyai konsep mengenai dunia, manusia, dunia bawah dan dunia atas, tetapi dalam uraian ini tidak dijelaskan secara pasti, sebagaimana yang tercantum dalam pupuh pocung pada bait ke 2:
Angkara gung
Neng angga anggung gumulung,
Gegolonganira
Triloka lekere kongsi,
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.
Arti:
Nafsu angkara yang besar
Didalam diri selalu berkumpul dengan kelompok nafsu
Sampai menguasai tiga dunia
Bila dibiarkan berkembang menjadi bahaya.[89]
Dalam kandungan diatas terdapat suatu peristiwa tentang perlunya pengolahan raga dan pengolahan jiwa, agar tercapainya kesatuan dari ke dalam daya kosmos universal sebagai tujuan untuk mencapai kesempurnaan dan kontrol terhadap sikap individualitasnya. Tindakan itu berupa pembebasan diri dari belenggu alam empiris (bersifat materi) menuju pada kondisi eksistensial secara transenden, dan terciptanya kesatuan mutlak manusia, yang digambarkan secara emanatif, sebagai penerang (cahaya) dan ia harus kembali ke asalnya (paraninng dumadi) yaitu Dzat kosmos (yang Illahi/mutlak). Untuk mencapainya kita harus bisa melawan dan melenyapkan ego kita, yakni perasaan yang menyibukkan kita dengan hal-hal yang bersifat duniawi dan semu, sehingga menjauhkan kita dari segala yang konkrit yaitu sang pencipta dunia. Oleh karena itu kita harus mencapai kebebasan batin secara sempurna, yaitu dari material menuju tingkatan menjadi diri mutlak yang identik dengan ada mutlak (kenyataan hidup sejati).[90]
Sementara dalam pupuh gambuh bait ke 18 disebutkan:

Ruktine ngangkah ngukut

Ngiket ngruket triloka kakukut
jagad agung ginulung lan gagad alit,
Den kandelkumadel kulup,
Mring kelaping alam kono.
Arti:
Memeliharanya (caranya dengan)
berusaha menguasai, mengikat
merangkul tiga jagad dikuasai
jagad besar diguling dengan jagad kecil
perkuatlah kepercayaanmu anaku,
terhadap keadaan gemerlapnya alam itu[91]
Dari urian diatas dijelaskan bahwa manusia hidup dalam tiga “alam” (triloka) meliputi alam sejati, badan halus serta badan kasar. “Ada” yang tak berubah adalah suksma kawekas (Allah SWT). “Ada” yang kembali adalah sukma sejati (Rasulullah) dan Roh suci adalah “ada” manusia dalam badan halus. Ketiga-tiganya menurut ajaran R. Soenarto disebut Tri purusa, cermin dari  Tri purusa dalam badan halus inilah yang disebut Aku ego. Ego ini bertugas melindungi roh suci dari dorongan nafsu. Untuk itulah ego berdaulat dengan kemampuan angan-angannya yang berupa cipta, nalar, dan pengertian. Dalam hubungannya dengan tri purusamestinya aku selalu eling, percaya dan mituhu.[92]Yang dimaksud  eling atau sadar ialah sadar untuk selalu berbakti kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Dengan selalu sadar terhadap Maha Tunggal maka manusia akan dapat bersifat hati-hati hingga dapat memisah-misahkan yang benar dan yang salah, yang nyata dan yang bukan, yang berubah dan yang tidak berubah.
Yang dimaksud percaya ialah percaya terhadap suksma sejati atau utusan-Nya yang disebut guru sejati. Dengan percaya terhadap utusan-Nya yang disebut guru sejati berarti pula percaya kepada jiwa peribadinya sendiri serta kepada Allah, karena ketiga-tiganya adalah tunggal yaitu yang disebut tri purusa tadi. Sedangkan yang dimaksud mituhu ialah setia kepada dan selalu melaksanakan segala perintah Nya yang disampaikan melalui utusanNya. Sebab semua tugas baik yang diterima  manusia pada hakekatnya adalah tugas yang diberikan Allah.[93]
Dengan berlaku eling, percaya dan untuk manusia akan merasa yakin dan benar bahwa kehidupan tidak sekedar sekarang ini dan disini saja, melainkan masih berkelanjutan. Dengan dasar bahwa masih terdapat kehidupan yang nyata yaitu manusia harus kembali ke asal tujuannya, yakni Dzat hidup/jiwa alam semesta. Dzat kosmos/Brahman kapan manusia kembali ke asal tujuannya atau manunggal ? Berdasar pada pandangan mereka yang mengetahui adanya Dzat mutlak dan tertinggi, sebagai asal tujuan, maka jawaban terhadap pertanyaan tadi adalah bahwa hal tersebut terjadi dua tahap, pertama manusia sebelum meninggal dunia, dan kedua setelah manusia meninggal dunia. Meninggalnya manusia dengan dzat kosmis setelah meninggal dunia tidak dijelaskan secara jelas.[94]Manusia yang dalam Serat Wedatama mengalami tiga dunia (triloka) dimaksudkan sebagai alam semesta tempat manusia hidup yang disebutnya juga sebagai “jagad besar (ageng)” (makrokosmos).
BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Serat Wedhatama yang merupakan salah satu hasil dari kebangkitan kesusasteraan Jawa masa Surakarta bukan saja berisi nasihat tentang etika pergaulan hidup bagi keluarga kerajaan agar mencapai keselamatan hidup didunia saja tetapi yang terpenting bagi K.G.P.A.A. Mangkunegoro IV sebagai pengarang Serat Wedhatama, adalah:
1. Bahwa tujuan hidup tertinggi bagi manusia adalah mencapai kesempurnaan  dalam pemahaman filosofi Jawa  yaitu mengerti akan sangkan paraning dumadi (asal dan akhir) hidup manusia,ekisistensi manusia yang menyadari hal ini, akan selalu eling (ingat), dan memahami akan kekuasaan Tuhan sebagai suatu dzat yang mutlak, untuk itu totalitas kehidupan manusia yang bersifat sementara ini diserahkan sepenuhnya kepada sang khalik sebagai suatu bentuk kepatuhan, dengan menjaga perdamaian dan kesimbangan alam yang sudah menjadi tugas dan kewajiban manusia sebagai khalifah di muka bumi.      
2. Dalam Serat Wedhatama hal ini diterangkan dalam konsepnya tentang metafisika, walaupun pandangannya yang bersifat metafisis ini tidak dijelaskan secara rinci dan detail dalam berbagai pupuhnya yang tersebar, namun dari isinya akan terlihat jelas pandangannya tentang metafisika yang isinya secara garis besar adalah sebagai berikut :
a. Tuhan merupakan suatu Dzat yang mutlak, sebagai penyebab dari segala sesuatu sehingga terciptalah makhluk dan dunia seisinya, dan Dialah  pengatur segala alam ini karena Tuhan mempunyai sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh siapapun seperti Maha Esa, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Suci dan sebagainya.
b. Dalam Serat Wedhatama dinyatakan bahwa Tuhan bersemayam (imanen) dalam diri manusia, sehingga tujuan hidup tertinggi bagi manusia adalah mencapai penghayatan Manunggaling Kawula Gusti (kesatuan hamba dengan Tuhan) adapun untuk mencapai penghayatan manunggal dengan Tuhan dalam Serat Wedhatama diterapkan dalam sembah catur (empat macam sembah) yaitu: sembah raga, sembah kalbu, sembah jiwa dan sembah rasa.
c. Kosmologi dalam Serat Wedhatama yaitu pandangan  tentang alam semesta  terdiri dari makro kosmos (jagad kecil) sementara manusia hidup dalam tiga alam (triloka) meliputi alam sejati, badan halus serta badan kasar.
d. Kehidupan yang dijalani oleh manusia pada saat ini didunia adalah bersifat sementara (fana’) dan manusia akan menuju pada kehidupan selanjutnya yang  bersifat abadi yaitu alam suwung yakni alam dimana tempat kembali dan bersemayamnya Tuhan, disana manusia akan mempertanggung jawabkan selama hidup didunia.
Dari beberapa pandangan metafisika dalam Serat Wedhatama diatas sesungguhnya K.G.P.A.A Mangkunegoro sebagai penulis Serat Wedhatama mengajarkan akan pentingnya kehidupan yang religius dan menjadi “agama agamaning aji, kang tumrap neng tanah Jawa” yaitu berpedoman dan berpegang teguh pada nilai-nilai ajaran agama yang terdapat dalam Serat Wedhatama khususnya orang Jawa untuk mencapai kesempurnaan sebagai tujuan hidup tertinggi.
B.    Saran-saran
Setelah melakukan kajian terhadap metafisika jawa dalam serat wedhatama yang penulis angkat dalam skripsi ini, maka penulis menyampaikan saran sebagai berikut:
1. perlunya suatu kajian yang lebih mendalam untuk mengungkap unsur-unsur filsafat Jawa yang terkandung dalam serat wedhatama.
2. Sikap kritis untuk malaksanakan ajaran yang terkandung dalam serat wedhatama sebagai ajaran warisan nenek moyang yang mempunyai nilai-nilai luhur, tidak hanya pada dataran teoritis semata, yang dijadikan bahan renungan dan kajian ilmiah saja.
Daftar Pustaka
Amin, Darori.  Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Gama Media, 2000.
Anjar, Any.  Menyingkap Serat Wedotomo, Semarang: C.V Aneka Ilmu, 1986.
Ardani, Moh.  Al Qur’an Dan Sufisme mangkunegara IV, Yogyakarta: Dana Bakti Wakaf, 1995.
Asya’rie, Musa.  Filsafat Islam Sunnah Nabi Dalam Berpikir, Yogyakarta: Lesfi, 2001.
Bakker,Anton. Ontologi Metafisika Umum: Filsafat Pengada dan Dasar-dasar kenyataan, Yogyakarta: Kanisius, 1992.
Ciptoprawiro, Abdullah.  Filsafat Jawa, Jakarta: Balai Pustaka, 1986.
Chodjim, Ahmad. Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga, Jakarta: Serambi, 2003
Geertz, Clifford. Kebudayaan dan Agama, terj. Francisco Budi Hardiman, Yogyakarta: Kanisius, 1992.
Hady, Aslam. Metafisika Beberapa Filosof Islam, Jakarata: Rajawali Pers, 1988.
Herusatoto, Budiono. Simbolisme dalam Budaya Jawa, Yogyakarta: Hanindita, 1985.
Jatman, Darmanto.  Psikologi Jawa, Yogyakarta: Bentang Budaya, 1999.
Katsoff, Louis.  Pengantar Filsafat, terj. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1988.
Koentjoroningrat.  Kebudayaan Jawa,  Jakarta: Balai Pustaka, 1994.
Kusumajaya, Ashad.  Pewaris Ajaran Syekh Siti Jenar: Membuka Pintu Makrifat, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003.
Mangkunegara, K.G.P.AA.  terj. Wedatama, Surakarta: Yayasan Mengadeg, 1978.
Mardiwarsito, L.  Kamus Jawa Kuna Indonesia, Flores Ende: Nusa Indah, 1978.
Mulder, Niels.  Mistisisme Jawa, ter. Noor Cholis, Yogyakarta: Lkis, 2001.
Mulyono, Sri.  Wayang dan Filsafat Nusantara, Jakarta: Gunung Agung, 1982.
Murtadho,M. Islam Jawa: Keluar Dari Kemelut Santri VS Abangan, Yogyakarata:Lapera,2002.
Parmono,R.  Unsur-unsur Filsafat Indonesia, Yogyakarta: Andi Offset, 1985.
Romdon. Tasauf dan Aliran Kebatinan: Perbandingan Antara Aspek-aspek Mistikisme Islam dengan Aspek-aspek Mistikisme Jawa, Yogyakarta: Lesfi,1995.
Sardjono, Maria.  Paham Jawa, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995.
Simuh, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, Jakarta: UI Press, 1988.
_____ Sufisme Jawa, Yogyakarta: Bentang Budaya, 1996.
_____ Islam dan Pergumulan Budaya Jawa, Jakarta: Teraju, 2003.
Sujamto, Pandangan Hidup Jawa, Semarang:Dahara Prize, 2000.
Subagya, R. Kepercayaan Kebatinan, Kerohaniaan, Kejiwaan dan Agama, Yogakarta: Kanisius, 1989.
Sudarto. Metode Penelitian Filsafat, Jakarta: Rajawali Pers, 1996.
Sontag. Frederick. Pengantar Metafisika, Yogyakrta: Pustaka pelajar, 2002.
Tanoyo. R. Wedhatan Djinarwa, Surakarta: Fatriyasa, 1963.
Tebba, Sudirman. Syaikh Siti Jenar: Pengaruh Tasauf Al Hallaj di Jawa, Bandung: Pustaka Hidayah,2003.
Usman. Mistisisme Serat Wedhatama, Yogyakarta: Lap Penelitian IAIN Suka, 1999.
Zoet Mulder, P.j. Manunggaling Kawula Gusti, terj. Dick Hartoko, Jakarta: Gramedia. 1990.

      [1] Darsiti Suratman, Kehidupan Dunia Keraton Surakarta (1830-1939), (Yogyakarta: Yayasan Untuk Indonesia, 2000) hlm.4
      [2] Selamat Riyadi, Tradisi Kehidupan Sastra Di Kesultanan Yogyakarta, (Yogyakarta: Gama Media, 2002), hlm 3-4.
      [3] Simuh, Sufisme Jawa, (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2002), hlm. 155.
      [4] Depdikbud, Sejarah Nasional Isndonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1981), hlm. 49.
[5] Sri Suhandjati Sukri,  Perempuan dan Seksualitas dalam Tradisi Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2001), hlm. 45.
[6] Simuh, Op.Cit., hlm.155
[7] Sri Suhandjati, Op.Cit., hlm.25-26
[8] Ibid., hlm. 30.
[9] Anjar, Any, Menyingkap Serat Wedotomo, (Semarang: Aneka Ilmu, 1986), hlm. 10
[10] Sri Mulyono, Wayang dan Filsafat Nusantara, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hlm. 94.
      [11]R.Parmono, Menggali Unsur-unsur Filsafata Indonesia, (Yogyakarta: Andi Offset, 1985), hlm. 92.
      [12]Maria A. Sardjono, Paham Jawa, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995), hlm. 13-14.
      [13]Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa, (Jakarta: Teraju, 2003), hlm. 39-40.
[14]Niels Mulder, Mistisisme Jawa, (yogyakarata: LkiS, 2001), hlm. 8-9.
      [15]Simuh, Mistik Islam Kejawen, Raden Ngabehi Ranggawarsita, (Jakarta: UI Press 1988), hlm. 3.
      [16]Ibid., hlm.25
      [17]Sri Mulyono, Wayang dan Filsafat Nusantara, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hlm. 92.
      [18]Abdullah Ciptoprawiro, Filsafat Jawa, (Jakarata: Balai Pustaka, 1986), hlm. 12.
      [19]R.Parmono, Menggali Unsur-unsur Filsafat Indonesia, (Yogyakarta: Andi Offset, 1985), hlm. 92.
s     [20]Sri Mulyono, OP.Cit., hlm.95.
      [21]Anjar Any, OP.Cit., hlm. 5.
[22] Winarno Surachmad, Dasar dan Teknik Research (Bandung: Tarsito, 1978), hlm. 132.
[23]Loren Bagus, Matafisika, (Jakarta: Gramedia, 1991), hlm 18.
[24]Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, (Yogyakarta: Kanisius, 1988), hlm.154.
[25]Donny Gahral Adian, Matinya Metafisika Barat, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2001), hlm. 6.
[26]Anton Bakker, Ontologi Metafisika Umum: filsafat Pengada dan Dasar-Dasar Kenyataan ( Yogyakarta: kanisius, 1992), hlm.15
[27]Rhomo Philipus Tule (ed.), kamus filsafat (Bandung: Rosda, 1995 ), hlm.202-203.
[28]Harold Titus (dkk.), Persoalan-persoalan Filsafat, terj. Rasyidi (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), hlm. 362.
      [29]C.A. Van Peursen, Strategi Kebudayaan, terj. Dick Hartoko (Yogyakarta: kanisius, 1988) , hlm. 64.
[30]Simuh, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, (Jakarta: UI Press, 1988), hlm.1.
[31]Simuh, Sufisme Jawa, (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2002) hlm.119.
[32]Harun Hadiwiyono, Konsep Tentang Manusia Dan Kebatinan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka, 1983), hlm.31.
[33]Sufa’at M, Beberapa Pembahasan Tentang Kebatinan, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1984), hlm.27.
[34]Gusti adalah sebutan untuk raja dan permaisuri raja (Lihat Koentjoroningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Gramedia 1994}, hlm.322.
[35]Ibid., hlm.322.
                [36]Simuh, Op.Cit., hlm.23.
                [37]Abdullah Ciptoprawiro, Filsafat Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka,1986), hlm.14.
                [38]Ibid., hlm. 22.
                [39]Sujamto, Pandangan hidup jawa, (Semarang: Dahara Prize, 2000), hlm. 54.
                [40]Menurut R. Soenarto pediri ajaran pangestu yang dimaksud dengan Tuhan yang maha tunggal adalah kesaruan dari tiga sifat yaitu: sukma kawekas Allah ta’ala, sukma sejati atau Rasulullah dan sukma ayu roh suci atau jiwa manuisa yang sejati, ketiga-tiganya disebut tri purusa. 
[41]Budiono Herusatoto, Simbolisme dan Budaya Jawa, (Yogyakarta: Hanindita, 1985), hlm. 79.
             [42]   Moh. Ardani,  Al Qur’an Dan  Sufisme Mangkunegara IV (Studi Serat-Serat Piwulang), (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995), hlm.13.
[43] Anjar Any, Mengungkap Serat Wedotomo, (Semarang: Aneka Ilmu, 1986), hlm. 83.
[44] S.Z.Hadisutjipto, Serat Wedatama, (Surakarta: Yayasan Mengadeg), hlm. 73.
              [45]      Anjar Any, Op. Cit. , hlm.86.
[46] Moh. Ardani, Op.Cit., hlm. 18-19.
[47] Simuh, Sufisme Jawa, (Yogyakarta: Bentang Budaya), 1996, hlm. 248-249.
[48] Anjar Any, Op. cit., hlm. 15.
[49] Moh. Ardani, Op. cit., hlm. 42-47.
[50] L. Mardiwasito, Kamus Jawa Kuno – Indonesia, (Flores Ende: Nusa Indah), 1978, hlm. 670.
[51] Ibid, hlm. 577.
[52] R. Tanojo, Wedhatama Djinarwo, Surakarta, 1963, hlm. 13.
[53] Yayasan Mangadeg Surakarta, Terjemahan Wedhatama, (Jakarta: Pradnya Paramita), 1979, hlm. 47.
[54] S. de Jong, salah Satu Sikap Hidup Orang Jawa, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius), 1976, hlm. 47.
[55] R. Ng. Satyo Pranowo, Bahasan dan Wawasan atas Serat Wedhatama Karya K.G.P.A.A. Mangkunegoro IV, (Surakarta: KRT. Sarjono Darmosarkoro), 2000, hlm. 7.
[56] Abdullah Ciptoprawiro, Filsafat Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka), 1986, hlm. 50.
[57] S.Z. Hadisaputro, Serat Wedhatama, (Jakarta: Pradnya Paramitha, 1975), hlm. 71.
[58] R. Soedjonosedijo, Wedhatama – Winardi (bhs Indonesi), (Surabaya : Citra Jaya), 1987, hlm. 24.
[59] Anjar Any, Op.Cit,hlm. 74-77.
[60]  R. Parmono, Menggali Unsur-unsur Filsafat Indonesia, (Yogyakarta: Andi Offset), 1985, hlm. 93.
[61]  Moh. Ardani, Op.Cit., hlm.40-41.
[62] Anjar Any, op. cit., hlm. 29.
[63] Musa Asyarie, Filsafat Islam Sunah Nabi Dalam Berpikir, (Yogyakarta: LESFI, 2001), hlm. 165.
[64] Budiono Heru Satoto, Simbolisme Dalam Budaya Jawa, (Yogyakarta: Hanindita, 1985), hlm. 72
[65] Pandangan ini sebenarnya lebih tepat disebut pandangan theopanstis seperti yang disebut oleh ahli kesusasteraan Hindu Vath, ia menyarankan agar perbedaan antara pandangan pantheistis dan pandangan theopanstis ialah bahwa yang pertama “Semua adalah Tuhan”. Sedangkan, yang kedua adalah “Semua menjadi Tuhan.” Ahli kesusasteraan  Jawa P.J. Zoet Moelder, yang telah mengajarkan perbedaan itu menggunakan istilah pantheistis untuk kedua-duanya. Lihat Koentjoroningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm. 323.
[66] Ibid., hlm. 324
                [67]   K.G.P.A.A Mangkunegara IV, Serat Wedhatama, terj. S.Z.Hadi Stjupto (Jakarta: Pradnya Paramita , 1979) hlm.110-111.
[68]  Ibid,hlm.110..                 
[69] Zoet Mulder, Manunggaling Kawula Gusti, Pantheisme dan Monisme Dalam Sastra Suluk Jawa, terj. Dick Hattoko, (Jakarta: Gramedia, 1990), hlm. 26.
[70] Usman, Mistisisme Serat Wedhatama(Lap. Penelitian intelektual) IAIN, SUKA Yogyakarta, 1999, hlm. 29.
[71]      R. Parmono, Op.Cit,. hlm.96
[72] Musa Asy’arie, Op.Cit., hlm. 179
[73]    K.G.P.A.A. Mangkunegara IV, Op.Cit., hlm.90.
[74] Usman, Op.Cit., hlm. 111.
[75]   K.G.P.A.A. Mangkunegara, IV, Op.Cit,. hlm. 119.
[76] Musa Asy’arie, Op.Cit., hlm. 265.
[77]   K.G.P.A.A. Mangkunegara IV, Op.Cit,. hlm.111.
[78] Ashad Kusumajaya, Pewaris Ajaran Syekh Siti Jenar, Membuka Pintu Maarifat, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003), hlm. 31.
[79] Zoet Mulder, Mistisisme Jawa Idiologi di Indonesia, (Yogyakarta: LkiS, 2001), hlm. 101.
[80] Koentjaraningrat,Op.Cit., hlm. 404
[81] K.G.P.A.A. Mangkunegoro IV, Op.Cit., hlm. 88.
[82] R. Parmono, Menggali Unsur-unsur Filsafat Indonesia, (Yogyakarta: Andi Offset, 1985), hlm. 97.
[83]    K.G.P.A.A. Mangkunegara IV, OP.Cit.,   hlm.89.
[84]    K.G.P.A.A,  Op.Cit,. hlm. 122.
[85] Sujamto, Rekonstruksi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa, (Semarang: Dahara Prize, 2000), hlm. 69-70.
[86]   K.G.P.A.A, Mangkunegara IV, Op.Cit,. hlm.112.     
[87] Moh. Ardani, Al Qur’an Dan Sufisme Mangkunegara IV: Studi Serat-serat piwulang, (Yogyakarta: Dana BhaktiWakaf, 1995) hlm.365.
[88] Musa Asy’ari, Op.Cit., hlm. 195.
[89]   K.G.P.A.A, Mangkunegara IV, Op.Cit,. hlm.106. 
[90] R. Subagya, Kepercayaan Kebatinan, Kerohanian, Kejiwaan dan Agama, (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 89
[91] K.G.P.A.A. Mangkunegoro IV, Op.Cit,. hlm. 218-220.
[92] Darmanto Jatman, Psikologi  Jawa, (Yogyakarta: Bentang, 1999), hlm. 33.
[93] Budiono Herususanto, Op.Cit., hlm. 79
[94] Usman, Op.Cit., hlm. 71.
www.web.unmetered.co.id
unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "METAFISIKA JAWA DALAM SERAT WEDHATAMA Karya K.G.P.A.A. Mangkunegara IV"