METODE CERITA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI TAMAN KANAK-KANAK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN

unmetered
unlimited
METODE CERITA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI TAMAN KANAK-KANAK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN
 Oleh Team www.web.unmetered.co.id

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Penegasan Istilah

Untuk menghindari kesalah pahaman juga untuk memudahkan dan meluruskan pemahaman serta pengertian  pada skripsi ini, berjudul “METODE CERITA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN” maka penulis merasa perlu memberikan penegasan judul sebagai berikut :
  1. Metode
Metode berasal dari bahasa latin “meta” yang berarti melalui dan “hodes” yang berarti jalan atau cara ke. Dalam bahasa arab disebut dengan “thariqah” artinya jalan, cara atau, sistem atau ketertiban dalam mengerjakan sesuatu. Sedangkan menurut istilah ialah suatu sistem atau cara yang mengatur cita-cita.[1]Metode yaitu cara kerja yang bersistem yang memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.[2]
Jadi yang dimaksud dengan metode disini adalah sistem atau cara yang digunakan dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam dalam diri anak dan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam  melalaui cerita.
 
  1. Cerita
Cerita adalah hiburan yang membentangkan bagaimana terjadinya sesuatu hal (peristiwa, kejadian dan sebagainya)[3]selain itu cerita juga bisa diartikan sebagai suatu ungkapan, tulisan yang berisikan runtutan peristiwa, kejadian yang bisa disebut juga dengan dongeng atau kisah, dengan demikian cerita adalah suatu ungkapan, tulisan yang dituturkan oleh seseorang kepada orang lain, kelompok, umum, baik itu mengenai pengalamannya pribadi maupun pengalaman orang lain yang benar-benar terjadi ataupun hanya merupakan khayalan atau imajinasi saja.
  1. Pendidikan Islam
a.       Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses, perbuatan, cara mendidik.[4]Menurut Marimba pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya manusia yang sempurna.[5]
b.      Sedangkan Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw dan ia adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan (amal).[6]
Pendidikan Islam adalah proses alih nilai (transfer of value) yang dikembangkan dalam rangka perubahan perilaku, dengan mengarahkan anak didik supaya dapat menjadi masa depan yang ideal sesuai dengan ajaran agama Islam, dengan cara menjadikan anak didik tersebut sebagai manusia yang lebih lengkap dalam dimensi religiusnya.[7]
  1. TK
Taman-Kanak-kanak (TK) adalah sekolah untuk anak-anak yang berumur 5-6 tahun.[8]Taman Kanak-kanak juga sebuah lembaga pendidikan yang mengelolah, membimbing, mengajar anak-anak untuk menjadi anak yang cerdas, kreatif dan berakhlak mulia.
  1. TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen
Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen merupakan lembaga pendidikan  yang dirintis dan didirikan oleh Muhamaddiyah Ranting Sapen Yogyakarta pada tanggal 27 Februari  1967, pendaftaran pertama tercatat sebanyak 40 anak, terdiri dari anak yang berumur 3 s/d 7 tahun.
Salah satu yang menjadi tanggung jawab sekolah yaitu mempersiapkan siswa agar mampu mengembangkan kepribadian yang selaras, seimbang antara kedewasaan jasmani dan rohaninya. Sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya atau yang diharapkan supaya dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas, sehat cerdas dan terampil.
Dalam Proses pendidikan, TK Aisyiyah Bustanul Athfal  sebagai institusi pendidikan, didalamnya tentu memuat berbagai macam kegiatan dan pelajaran baik yang dilaksanakan didalam kelas maupun diluar kelas, dan dengan berbagai macam metode, seperti metode bermain, bercerita, bernyanyi dan lain-lain. Mengingat banyaknya metode yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut, maka pada penelitian ini, penulis akan membatasi permasalahan atau memfokuskan diri pada metode cerita dalam pendidikan Islam Dari penjelasan dan penegasan beberapa istilah yang dimaksud dalam judul penelitian disini, yang ingin kami maksudkan adalah: ingin melihat bagaimana penerapan dan pengaruh metode cerita dalam pendidikan Islam yang dilaksanakan dan dikembangkan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal dalam rangka membentuk anak-anak yang berkualitas, sehat dan terampil.
Jadi yang dimaksud dari judul metode cerita dalam pendidikan Islam disini ialah menanamkan nilai-nilai ajaran Islam kepada diri anak dengan menggunakan metode cerita yang dilaksanakan/diterapkan di Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal sapen Yogyakarta.  

B.     Latar Belakang Masalah

Anak merupakan amanah dari Allah SWT. dengan demikian semua orang tua berkewajiban untuk mendidik anaknya agar dapat menjadi insan yang shaleh, berilmu, beriman dan bertaqwa. Hal ini merupakan suatu wujud pertangguang jawaban dari setiap orang tua kepada khaliqnya.
Untuk mewujudkan generasi Islami, dibutuhkan pembinaan dan pendidikan anak sejak dini, pendidikan anak merupakan hal yang amat penting dalam ajaran Islam, sebab anak termasuk bagian yang penting dalam ajaran Islam, karena anak merupakan generasi penerus. Sehubungan dengan hal tersebut al-qur’an surat At-Tahrim ayat 6 menjelaskan :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ 
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.[9]
Perintah menjaga diri sendiri dan keluarga dari siksa neraka itu apabila ditinjau dari segi pendidikan, ialah tuntutan kepada semua orang beriman untuk mendidik diri dan keluarganya, untuk memiliki kekuatan jiwa yang mampu menahan dari perbuatan-perbuatan yang menjerumuskan manusia kepada kesesatan, perebuatan-perbuatan yang menarik kepada durhaka kepada Allah yang akhirnya akan berakibat pada penderitaan yaitu siksa neraka.
Hadits Nabi SAW mengajarkan :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ (رواه مسلم)
Artinya: “Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda: apabila manusia meninggal dunia terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara ; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya”(HR. Muslim)[10]
Hadits nabi tersebut mengajarkan bahwa tujuan pendidikan anak dalam Islam adalah menjadikan anak untuk bertabiat shaleh yang tahu berterima kasih kepada kedua orang tuanya, dan hadits tersebut juga memberikan kabar gembira kepada para orang tua bahwa pendidikan anak yang sukses merupakan amal yang pahalanya terus mengalir walaupun yang bersangkutan telah meninggal dunia.
Setelah mengetahui pentingnya pendidikan kepada anak, terutama mencetak anak yang Islami tidaklah semudah teori, karena seorang pendidik di tuntut mampu memainkan peranan dan fungsinya dalam menjalankan tugas keguruannya. Hal ini untuk menghindari terjadinya benturan fungsi dan peranannya, sehingga pendidik dapat menempatkan kepentingan sebagai individu, anggota masyarakat, warga negara dan pendidik sendiri antara tugas keguruan dan tugas lainnya harus ditempatkan melalui porosnya.
Seorang pendidik harus mengetahui kondisi perkembangan anak lingkungannya dan kesukaannya, untuk memudahkan dalam menanamkan nilai-nilai Islami dalam diri anak, sebagaimana diketahui dalam perkembengan manusia ketika masih anak-anak sangat suka dengan cerita, kisah, dongeng dan sejenisnya.
Kisah ataupun cerita memang sangat menarik untuk dikaji, karena cerita itu sendiri mampu mengambil hati para pendengar / pembacanya baik itu orang dewasa apalagi anak-anak. Dari hal tersebut diatas saat ini banyak sekali dijumpai buku-buku cerita yang diterbitkan dan diperuntukkan bagi anak-anak maupun orang dewasa. Berbagai macam cerita tersebut tidak semuanya layak dikonsumsi (dibaca) oleh anak-anak. Para orang tua dan pendidik haruslah mampu untuk menyeleksi, memfilter buku-buku cerita yang pantas diberikan kepada anak-anaknya.
Tidak semua orang tua dan pendidik tahu pasti tentang buku-buku yang baik untuk anak mereka, oleh karena itu diperlukan adanya pedoman bagi mereka untuk mengetahui cara memilih  cerita yang baik. Sebab itu pula penulis tertarik untuk membahas hal tersebut, dengan asumsi bahwa pembahasan mengenai teknik memilih cerita yang baik ini dapat juga dijadikan salah satu bahan materi untuk melengkapi kajian ini.
Pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap anak didik untuk mengarahkan agar pertumbuhan jasmani dan rohani anak tidak bertentangan, menyimpang dari ajaran Islam, sehingga pendidikan anak diberikan mencakup keseluruhan aspek dan berusaha untuk mengantarkan manusia mencapai keseimbangan pribadi.[11]Adapun tujuan pendidikan Islam, adalah mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui latihan semangat, intelek rasional dan perasaan serta kepekaan tubuh.[12]Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak dalam perwujudan ketundukannya yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas maupun seluruh ummat manusia.[13]
Setiap proses pendidikan, diperlukan adanya metode yang digunakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam pendidikan itu sendiri. Dalam proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana yang bermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami dan diserap oleh anak didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.[14]
Pendidikan Islam adalah sebuah upaya membentuk kepribadian yang shaleh sesuai dengan ajaran Islam. Ajaran agama Islam itu sendiri bersifat sempurna, namun permasalahannya dengan cara atau metode bagaimana ajaran yang telah sempurna itu diajarkan dan ditanamkan kepada anak-anak didik. Harus diakui bahwa penggalian aspek metode dan media bagi pendidikan anak masih lemah, sehingga terus-menerus harus ditingkatkan lagi.[15]
Menurut T. Handayu pilihan buku (cerita) yang benar bisa menjadi faktor penting dalam perkembangan kepribadian anak. Sebuah studi menunjukkan adanya kekuatan cerita, bahwa anak yang dibesarkan dengan kisah-kisah tentang kemampuan tokoh mengatasi berbagai tantangan hidup, akan besar menjadi manusia yang memiliki tekad tinggi dalam memperjuangkan tujuan.[16]
Salah satu dari metode pendidikan Islam adalah metode pelajaran berhikmah dan kisah (cerita). Metode ini telah digunakan sejak diturunkannya wahyu sampai sekarang. Bahkan dalam perkembangannya metode ini telah menjadi bagian dari pelajaran bahasa dan telah ditentukan jam khusus untuk itu, hal ini telah ada dalam sistem pendidikan modern terbukti dengan dimasukkannya cerita dalam kurikulum sekolah.[17]
Munculnya berbagai macam buku-buku cerita sekarang ini perlu disambut dengan baik, karena hal itu berarti juga mendukung melengkapi adanya metode pendidikan dengan bercerita. Namun walau demikian perlunya tetap dilakukan seleksi terhadap buku-buku cerita tersebut (terutama buku-buku yang diperuntukkan bagi anak-anak). Hal ini dipandang perlu dilakukan guna memperoleh cerita yang baik, bagus dan menunjang proses pendidikan bagi anak-anak, sehinga anak-anak akan terhindar dari pengaruh unsur negatif dari ekses bacaan tersbut.
Kesalahan dalam memilih cerita akan berakibat antara lain ; mempengaruhi perilaku dan karakter anak yang cendrung negatif, anak bisa bersikap cengeng, ingin menang sendiri dan meniru sikap serta perilaku figur negatif pada cerita yang didengar/diketahuinya.
Penyeleksian dan pemilihan buku cerita untuk anak sangat perlu dilakukan karena pada akhirnya informasi dan peristiwa yang terkandung dalam cerita-cerita tersebut akan berpengaruh pada pembentukan moral dan akal anak, dalam kepekaan rasa dan bahasa.
 Dengan adanya berbagai macam jenis pilihan buku-buku cerita yang ada saat ini diperlukan pula suatu pedoman, petunjuk untuk dapat memilih cerita (buku) yang mengandung nilai-nilai Islam untuk mewujudkan anak shaleh yang didambakan.

C.    Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah tersebut, dapat dirumuskan beberapa pokok masalah sebagai berikut :
  1. Bagaimana kriteria memilih cerita yang baik dan dapat dijadikan panduan dalam pendidikan Islam di TK Aisyiatuh Bustanul Athfal Sapen?
  2. Bagaimana penerapan metode cerita dalam pendidikan Islam di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen dan kendala-kendalanya ?

D.    Alasan Pemilihan Judul

      Anak adalah harapan masa depan orang tua, bangsa dan agama maka, senantiasa harus mandapat perhatian dan bimbingan dengan metode yang sesuai dengan perkembangan anak, karena metode dalam pendidikan merupakan faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan dan juga sarana dalam mencapai tujuan. Bercerita adalah metode komunikasi universal yang berpengaruh kepada jiwa manusia bahkan al-Quran pun berisi banyak sekali cerita-cerita, tidak heran jika Allah menyebut al-Quran sebagai kumpulan cerita yang paling baik.
      Taman Kanak-kanak merupakan tempat yang sekarang ini dijadikan alternatif utama dalam mendidik anak-anak, melalaui pendidikan Taman Kanak-kanak anak diajari cara belajar, bertingkah laku yang baik, beribadah dan sebagainya. Untuk itu diperlukan metode atau cara yang tepat pula dengan perkembangan mereka.

E.     Tujuan dan Kegunaan Penelitian

  1. Tujuan Penelitian
1.        Untuk mengetahui cerita yang baik dan dapat dijadikan  panduan untuk pendidikan Islam yang digunakan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen. 
2.        Untuk mengetahui  penerapan metode cerita dalam proses pendidikan Islam di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen serta faktor pendukung dan penghambatnya.
  1. Kegunaan Penelitian
1.      Tulisan ini semoga dapat memberikan sumbangan ide maupun pemikiran kepada pihak sekolah.
2.      Dapat bermanfaat bagi para pembaca yang concern dalam dunia pendidikan Islam, terutama bagi para guru dan pengelolaan TK Bustanul Athfal.
3.      Bagi penulis pribadi, dapat memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman untuk kehidupan dimasa depan.

F.     Tinjauan Pustaka

Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan kajian dan studi tentang  metode pendidikan Islam untuk anak dengan cerita belum ada yang mengkajinya, akan tetapi sudah ada pula hasil karya yang hampir senada dengan hal tersebut, hanya objek yang dikaji agak sedikit berbeda. Skripsi tersebut antara lain yang ditulis oleh :
  1. Skripsi saudari Hidayatun Mahmudah Tahun 2002, Fakultas Tarbiyah, Jurusan Kependidikan Islam  dengan judul “Cerita Sebagai Metode Pendidikan Islam” menjelaskan tentang metode cerita secara umum dan teknik atau cara memilih buku yang baik untuk anak, serta menerangkan betapa pentingnya metode cerita untuk anak dalam pendidikan Islam karena cerita menjadi faktor yang penting dalam perkembangan kepribadian anak. Sebuah studi menunjukkan adanya kekuatan cerita, bahwa anak yang dibesarkan dengan kisah-kisah tentang kemampuan tokoh mengatasi berbagai tantangan hidup, akan besar menjadi manusia yang memiliki tekad tinggi dalam memeperjuangkan tujuan.
2.     Ada juga skripsi yang hampir senada yakni skripsi Sarjiyem, Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama Islam  dengan judul “Nilai-nilai Pendidikan Pada Doraemon” tahun 2001 penekanannya pada aspek pilosofi pendidikan yang tersirat dalam komik kartun Doraemon terhadap pendidikan anak. Skripsi tersebut memberikan berbagai macam gambaran tentang nilai-nilai yang patut diketahui :
a.       Nilai Pendidikan
1)      Pendidikan moral dan etika untuk anak berkaitan dengan sikap patuh, sopan kepada semua orang.
2)      Pendidikan religius yang berkaitan dengan sikap syukur, menepati janji, larangan dan lain-lain.
3)      Pendidikan kepribadian yang berkaitan dengan sikap baik (rajin, bertanggung jawab dan sejenisnya) dan jelek (malas, putus asa dan sebagainya).
b.      Relevansi dengan Pendidikan Islam
Adanya nilai-nilai pendidikan tersebut diatas dapat dijadikan bahan untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan sesuai dengan perkembangan diri anak, baik melalui lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah dan dalam kerangkan yang Islami.
Kemudian buku karangan T. Handayu dengan judul “Memaknai Cerita Mengasah Jiwa”, panduan menanamkan nilai moral pada anak melalui cerita, tahun 2001. dalam buku ini dipaparkan mengenai penanaman nilai-nilai moral melalui cerita, karena melaui cerita/dongeng itu pula kita bisa memahami jiwa anak-anak yang diperuntukkan bagi mereka .
Buku karya Abdul Majid berjudul “Mendidik Anak dengan Cerita” tahun 2002. dalam buku ini terdapat muatan-muatan mendidik melalui cerita dan kisi-kisi agar sebuah cerita dapat diminati anak-anak. Lewat cerita yang bermuatan petuah-petuah agama dan menegaskan bahwa bercerita pada anak sangatlah besar peranannya.

G.    Kerangka Teoritik

            Penelitian ini mengarah kepada bagaimana mengembangkan metode cerita dalam pendidikan Islam di lembaga pendidikan Taman Kanak-kanak yang dilaksanakan di Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal dalam rangka penanaman nilai-nilai pendidikan Islam. Akan tetapi fokus penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa salah satu upaya untuk menanamkan pendidikan Islam kepada anak dengan cerita tersebut, terlebih dahulu harus dilakukan melalui faktor pendidik (guru) yang harus mengetahui tentang kriteria cerita yang baik untuk diajarkan kepada anak. Oleh karena itulah dalam penelitian kali ini, peneliti akan membatasi permasalahan pada asfek guru dan pemilihan cerita.
            Penelitian ini juga berangkat dari realitas bahwa antusias anak-anak sekarang ini terhadap berbagai macam buku cerita yang ada, baik buku cerita yang pantas untuk anak-anak maupun cerita yang tidak pantas untuk anak-anak dan itu perlu ada kontrol dari para orang tua dan guru untuk membimbing mereka dalam memilih cerita yang layak untuk anak-anak, supaya anak-anak dapat mengambil nilai-nilai fosifif dari cerita yang ada.
            Terkait dengan persoalan ini, sebagai lembaga pendidikan yang mengatur, membimbing dan mengajar anak-anak TK Aisyiyah Bustanul Athfal bertanggung jawab atas pendidikan para siswanya, diantaranya menyesuaikan metode pendidikan untuk anak dengan perkembangan jiwa anak, salah satunya dengan menggunakan metode cerita dalam pendidikan Islam.

      1.  Metode Cerita

Metode dalam pendidikan merupakan masalah penting dalam pencapaian tujuan, sebab metode merupakan salah satu faktor yang urgen dalam menentukan keberhasilan dan juga sarana dalam mencapai tujuan tersebut.
                  Cerita atau kisah merupakan salah satu cara mendidik anak pada masa lampau da modern, setiap took pendidikan tidak memungkiri pengaruh cerita pada jiwa pendengarnya. Cerita/kisah berkembang seiring dengan lahirnya manusia dan mengikuti perkembangannya, meskipun berbeda masa.
                  Cerita atau kisah termasuk salah satu metode yang sukses, ia berhasil dimana metode-metode yang lain gagal.[18]Dalam Islam metode cerita atau kisah ini telah dipergunakan sejak munculnya Islam itu sendiri. Hal ini terbukti, al-Qur’an dalam usahanya mendidik ummat manusia banyak menggunakan jalan mengungkapkan kisah-kisah yang mengandung suri tauladan yang baik. Dari keseluruhan ayat al-Qur’an yang berjumlah kurang lebih 6.342 ayat ada lebih dari 1600 ayat mengenai kisah-kisah.[19]
                  Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi ceita, dan menyadari pengaruhnya yang besar terhadap perasaan. Oleh karena itu Islam mengeksploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu metode atau teknik dalam pendidikan.[20]

      2.  Pendidikan Islam

Pendidikan Islam, yaitu bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain seringkali beliau menyatakan kepribadian utama dengan istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.[21]

      3.  Cerita yang Baik

                  Cerita sangat erat kaitannya dengan dunia terbiyah, konsekwensinya, setiap pendidik terlebih orang tua untuk senantiasa membiasakan mendidik anak dengan banyak bercerita, sebagaimana Allah memerintahkan kepada Rasulullah. Hal penting yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya adalah upaya untuk membantu mengembangkan pola pikir realistis, yaitu bersikap jujur dan terbuka. Melalui cerita disamping mengembangkan hal tersebut juga emosi anak perlu dilatih menghayati, merenungkan dan merasakan berbagai lakon kehidupan manusia.[22]
                  Sebelum seseorang bercerita, maka harus memahami terlebih dahulu jenis cerita apa yang hendak disampaikan, Karena cerita banyak sekali macamnya. Masing-masing cerita mempunyai karakteristik yang berbeda, oleh karena itu agar dapat bercerita dengan tepat, terlebih dahulu harus menentukan jenis ceritanya. Pemilihan jenis cerita ditentukan oleh tingkat usia pendengar, jumlah pendengar tingkat heterogenitas (keragaman pendengar), tujuan penyampaiaan materi, suasana acara, suasana (situasai dan kondisi) pendengar dan sebagainya.[23]
a.        Jenis- jenis Cerita
                  Jenis-jenis cerita dapat di bedakan dari berbagai sudut pandang yang berbeda dan jenis ceritanya dapat di ketahui dari beberapa hal sebagai berikut :
1)      Berdasarkan pelakunya:
a)      Fabel (cerita tentang dunia tumbuhan dan binatang).
b)      Dunia benda-benda mati.
c)      Campuran atau kombinasi.
d)     Dunia manusia.
2)      Berdasarkan kejadiannya :
a)      Cerita sejarah (tarikh).
b)      Cerita fiksi (rekaan).
c)      Cerita fiksi sejarah (campuran).
3)      Berdasarkan sifat waktu penyajianya :
a)      Cerita bergambar.
b)      Cerita serial.
c)      Cerita lepas.
d)     Cerita sisipan.
e)      Cerita ilustrasi.
4)      Berdasarkan sifat dan jumlah pendengarnya :
a)      Cerita privat :
Ø  Cerita pengantar tidur.
Ø  Cerita lingkaran pribadi (individu atau kelompok sangat kecil).
b)      Berdasarkan kelas :
Ø           Kelas kecil (kira-kira 20 anak).
Ø           Kelas besar (lebih kurang 20 – 40 anak).
c)      Cerita ketika forum terbuka
5)      Berdasarkan tehnik penyampaiannya :
a)      Cerita langsung atau lepas naskah (direc story).
b)      Membacakan cerita (story reading).
6)      Berdasarkan alat pembantu atau peraga.
a)      Bercerita dengan alat peraga.
b)      Bercerita tanpa alat peraga.[24]
b.      Pemilihan Cerita
Sebagian orang, secara piawai, mampu menceritakan suatu bentuk cerita tertentu dengan baik di bandingkan jenis cerita yang lain. Seperti penguasaan terhadap cerita-cerita humor, binatang, misteri, dan sebagainya. Memang sebaiknya pendongeng hendaknya memilih jenis yang sangat ia kuasai. Tetapi lain halnya untuk seorang guru, tampaknya ia agak sulit jika membatasi diri pada satu bentuk cerita. Sebab cerita yang akan di sampaikannya, khususnya apabila di ambil dari buku ini, memuat berbagai cerita dengan aneka bentuk. Sedangkan jika mengambil bahan dari selain buku ini maka sebaiknya guru memakai satu bentuk cerita saja. Namun, seorang guru tetap di tuntut untuk menguasai penceritaan dari berbagai jenis dongeng, tentunya dengan melakukan latihan yang terus-menerus.
Ada cerita yang bernada sedih dan gembira. Dalam hal ini, guru sebaiknya dapat memilih cerita yang sesuai dengan kondisi jiwanya saat akan bercerita. Antara yang menyedihkan dan yang menyenangkan. Karena keadaan jiwa pendongeng akan berpengaruh pula pada setiap ceritanya.
Ada faktor lain yang dapat membantu dalam pemilihan cerita, yaitu situasi dan kondisi siswa. Misalnya, di awal tahun sangat baik memilih cerita “Sakinah Dan Anaknya”. Karena tokoh-tokoh dalam cerita tersebut sangat dekat dan di kenal anak-anak sebelum masuk sekolah. Kemudian di akhir tahun cukup baik bila memilih kisah “Cerita Tak Berujung”. Sebab cerita ini akan memberi kesan di hati para siswa menjelang kelulusannya diakahir tahun. Dalam cerita ini di gambarkan sesuatu yang berulang-ulang dan terus-menerus berlangsung, yaitu gambaran semut memasuki gudang gandum, mengambil sebuah gandum lalu keluar. Kemudian semut yang lainnya memasuki gudang untuk melakuakan hal yang sama, dan seterusnya.
Adapun di pertengahan tahun, apa yang terjadi di luar dan di dalam kelas bisa membantu dalam pemilihan cerita. Misalnya, ada seorang murid yang datang terlambat tanpa alasan, maka guru dapat memilih cerita “Mahjubah Yang Malas”. Atau ketika seorang murid menemukan seekor tikus memasuki kelas, untuk menanamkan dasar budi pekerti yang baik maka dapat memilih cerita Singa Dan Tikus, dan seterusnya. Oleh karena itu, guru harus menyiapkan dan membaca seluruh cerita yang hendak di sajikan.
Sebagai catatan bagi guru, harus di ingat bahwa dalam menyampaikan cerita yang lucu dan sedih, ia harus bercerita dengan menggunakan cara yang tepat agar murid tidak salah mengekspresikannya. Misalnya, dalam cerita yang menyedihkan mereka mereka malah tertawa atau sebaliknya.[25]
c.         Kriteria Cerita yang Baik dan Islami
1)      Ciri-ciri cerita yang baik
Sebagai metode dalam pendidikan, kita juga harus mengetahui cerita yang berkualitas sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan jiwa dan watak anak-anak karena itu seorang guru harus memperhatikan beberapa hal dibawah ini :[26]
a)      Cerita itu memikat (absorsing) dan menghibur
b)      Cerita itu mengembangkan imajinasi anak
c)      Cerita itu yang memberikan pengalaman emosional yang mendalam
d)     Cerita itu menimbulkan rasa humor yang menyeluruh
e)      Cerita itu memperluas cakrawala pandangan anak
f)       Cerita itu memberikan kepuasan terhadap kebutuhan ekspresi diri
Dan tentu lebih dari itu semua, kita harus mempertanyakan cerita tersebut bersifat edukatif Islami atau tidak. Dalam hubungan ini penting untuk mengoreksi atau memilih cerita yang mempunyai kwalitas dalam mendukung dunia pendidikan.
Sebuah cerita yang baik disamping kriteria tersebut diatas, meskipun isinya baik harus diperhatikan pula misi yang dikandungnya atau makna yang ada didalamnya, untuk itu perlu menilai cerita yang didalamnya terdapat nilai-nilai yang negatif, berdampak pada aqidah dan akhlak, pemerosotan moral maka harus dihindarkan sifat-sifat cerita yang kurang mendidik :
a)                  Mengandung falsafah yang salah
b)      Tidak Islami (kebohongan, mistis, takhayyul, syirik, bid’ah dan khurafat)
c)                  Menanamkan rasa dendam, permusuhan dan kekerasan
d)                 Membuat anak malas untuk beribadah.[27]     
2)      Ciri-ciri Cerita yang Islami
Cerita yang Islami dikenal dengan sebutan kisah, yaitu sejenis cerita yang penyampaiannya berasal dari al-Qur’an dan kisah teladan lain yang dibaur.[28]
Dewasa ini buku-buku cerita Islami banyak diterbitkan dalam bentuk majalah aku anak shaleh, maupun dalam bentuk lain seperti buku cerita dan komik.
Adapun ciri-ciri cerita yang Islami antara lain :
a)      Menceritakan orang-orang terdahulu yang disebutkan dalam al-Qur’an dan tak pernah basi untuk diceritakan.
b)      Menceritakan kisah kepahlawanan para pahlawan Islami
c)      Mengajarkan sifat mulia para Nabi dan Rasul serta para salafus shaleh
d)     Menceritakan kehidupan sehari-hari dan cerita kehidupan yang mengandung nilai-nilai moral ajaran Islam
e)      Cerita yang dapat digunakan untuk berdakwah kepada anak-anak, yang mengandung kebaikan dan keburukan, sehingga anak dapat membedakannya
f)       Cerita yang didalamnya sarat dengan hikmah-hikmah
g)      Cerita yang diambil dari pengalaman rasulullah saw dan para sahabat-sahabatnya.[29]
Cerita, baik cerita umum maupun Islami dari buku maupun cerita langsung hendaklah menghindari sikap taklid, cerita bagi anak merupakan sarana untuk memperoleh petunjuk-petunjuk termasuk didalamnya budaya, agama dan cara pandang asing. Anak sebagai pribadi yang belum matang dapat mudah mengikuti segala hal yang diceritakan.  
d.      Metode Penyampaian Cerita
Setelah guru selesai mempersiapkan cerita ia bersiap-siap utnuk menyampaikan  saat waktunya tiba. Pada saat itu ia harus mempersiapkan hal-hal berikut :
1)      Tempat bercerita
Bercerita tidak selalu harus dilakukan didalam kelas, tetapi juga boleh juga diluar kelas yang dianggap baik oleh guru agar para siswa bisa duduk dan mendengarkan cerita. Bisa dihalaman sekolah, teras bawah pohon, dan sebagainya.
2)      Posisi duduk
Sebelum guru memulai bercerita sebaiknya ia memposisikan para siswa dengan posisi yang baik untuk mendengarkan cerita. Kemudian guru duduk ditempat yang sesuai dan mulai bercerita. Sebaiknya, guru tidak langsung duduk pada awal bercerita tetapi memulainya dengan berdiri kemudian duduk, bergerak mengubah posisi gerakan dan diusahakan jangan duduk terus.   
3)      Bahasa cerita
Bahasa cerita adalah bahasa yang baik dan mudah dimengerti. Bahasa dalam bercerita hendaknya menggunakan gaya bahasa yang lebih tingi dari gaya bahasa siswa sehari-hari, tetapi lebih ringan dibandingkan dengan bahasa cerita dibuku.
4)      Intonasi guru
Cerita itu mencakup pengantar, rangkaian peristiwa, konflik yang muncul dalam cerita dan klimaks. Pada permulaan cerita guru hendaknya memulai dengan suara tenang. Kemudian mengeraskannya sedikit demi sedikit. Perubahan naik turunnya suara disesuaikan dengan peristiwa dalam cerita.  
5)      Pemunculan tokoh-tokoh
Telah disebutkan bahwa ketika mempersiapkan cerita, seorang guru harus mempelajari terlebih dahulu tokoh-tokohnya agar dapat memunculkan secara hidup didepan para siswa.
6)      Penampakan emosi
Saat bercerita guru harus dapat menampakkan keadaan jiwa dan emosi para tokohnya dengan memberi gambaran kepada para pendengar bahwa seolah-olah hal itu adala emosi si guru sendiri. Jika situasinya menunjukkan rasa kasihan, protes, marah dan mengejek maka intonasi dan kerut wajah harus menunjukkan hal tersebut.
7)      Peniruan suara
Sebagian orang ada yang mampu meniru suara-suara binatang dan benda-benda tertentu, seperti suara singa, kucing, anjing, gemercik air, gelegar petir dan arus sungai yang deras. Sebagai seorang guru jangan malu-malu untuk melakukan itu supaya ceritanya akan lebih menarik untuk di perhatikan.
8)      Penguasaan terhadap siswa yang tidak serius
Perhatian siswa ditengah cerita haruslah dibangkitkan sehingga mereka bisa mendengarkan cerita dengan senang hati dan berkesan. Para siswa biasanya diam mendengarkan cerita, jika penyampaiannya bagus. Apabila guru melihat para siswa mulai bosan, jenuh dan banyak bercanda, maka ia harus mencari penyebabnya, mungkin ia sendiri yang menjadi penyebabnya, karena bercerita dengan gaya yang monoton.
9)      Menghindari ucapan spontan
Guru acapkali mengucapkan ungkapan spontan setiap kali menceritakan sesuatu peristiwa. Kebiasaan ini tidak baik karena bisa memutuskan rangkain peristiwa dalam cerita.
Kesembilan hal tersebut sangat penting untuk diketahui dan diperhatikan oleh guru ketika bercerita. Memang kita menganggap bahwa bercerita dengan cara yang baik, rata-rata adalah sesuatu yang bersifat alami dari pada dibuat-buat. Namun, kita tidak melupakan menfaat dari latihan dan belajar dalam menguasahakan metode yang tepat untuk itu.[30] 
         

H.    Metode Penelitian

               1.   Jenis Penelitian                                 
                     Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitis, yaitu memusatkan diri pada pemecahan-pemecahan masalah yang ada, kemudian data yang sudah terkumpul di susun, di jelaskan dan di analisis.[31]Menurut Sumadi Surya Brata, penelitian deskriptif bertujuan untuk mengetahui apa yang dikerjakan oleh orang-orang dalam menangani masalah masalah atau situasi yang sama, agar dapat belajar dari mereka untuk kepentingan pembuatan rencana dan pengambilan keputusan di masa depan.[32]
               2.   Metode Penentuan Subyek
Metode penentuan subyek sering di sebut metode penentuan sumber data, yaitu menetapkan sampel sebagai sumber untuk memperoleh data. Sedangkan yang dimaksud dengan sampel adalah suatu bagian dari polpulasi yang akan diteliti dan dianggap dapat menggambarkan populasinya.[33]
Sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah:
a.       Para guru, sebagai tenaga pendidik.
b.      Para siswa sebagai peserta didik.
Dari keseluruhan sampel diatas yang di jadikan sebagai sampel utama adalah para tenaga pendidik dan para siswa.
Secara keseluruhan, Jumlah tenaga pendidik yang ada di TK Aisyiyah Buatanul Athfal Sapen berjumlah 19 orang, terdiri dari 8  orang sebagai guru tetap dan 11 orang sebagai guru ekstra, sedangkan jumlah para siswa putra dan putri sekitar 77 orang, di bagi atas 3 kelompok yaitu kelompok A, B1 dan B2.
Untuk para tenaga pendidik (guru) dan siswa disini peneliti akan menggunakan metode sampel (meneliti dengan cara mengambil sebagian dari jumlah guru dengan bantuan Interiew/wawancara dan observasi). yaitu, meneliti sebagian dari jumlah populasi. Secara keseluruhan tenaga pengajar di TK ABA Sapen berjumlah 19 orang, sedangkan peserta didik di TK Aisyiyah Buatanul Athfal Sapen berjumlah 77 orang, akan tetapi mengingat keterbatasan waktu, biaya dan besarnya jumlah tersebut, maka dalam hal ini penulis akan meneliti sebagian saja yaitu 35% dari 19 orang guru (sekitar 6 orang) dan 77 orang siswa (sekitar 30 orang), adapun metode yang dipakai adalah melalui cara yang acak sederhana yaitu mengambil dari sebagian siswa dari kelompok A, B1 dan B2.
Adapun landasan pemikiran penulis didasarkan pada keterangan Prof. Dr. S. Nasution, MA menyatakan bahwa;
Tidak ada aturan yang tegas tentang jumlah sampel yang dipersyaratkan dalam penelitian dari populasi yang tersedia. Juga tidak ada batasan yang jelas apa yang dimaksud dengan sampel yang besar dan yang kecil. Sampel yang kecil lebih sedikit memakan biaya dan lebih mudah diolah.[34]
               3.   Metode Pengumpulan data
Untuk mendapatkan data yang valid dan relevan pada penelitian ini, maka penulis melakukan metode pengumpulan data dengan cara sebagai berikut;
a.       Data primer, yaitu data utama dan penting yang sangat dibutuhkan dalam penelitian. Data ini diperoleh dengan cara:
1)      Metode Interview (wawancara).
      Interview atau wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi.[35]Yaitu, cara menghimpun data dengan jalan bercakap-cakap, berhadapan langsung dengan pihak yang akan dimintai pendapat, pendirian atau keterangan.[36]Metode ini digunakan untuk berwawancara dengan para pengurus, para tenaga pendidik dan siswa TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen.
Adapun maksud dari wawancara dengan pengurus adalah untuk mencari data dan informasi berkenaan dengan sejarah berdirinya Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen, dan lain sebagainya. Sedangkan wawancara dengan tenaga pendidik dilakukan untuk mengetahui bagaimana memilih cerita yang sesuai untuk anak dalam proses pendidikan Islam, dan wawancara dengan siswa untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam metode ini maupun hal-hal yang terkait dengan penelitian ini.
Sebagaimana dikemukakan oleh M. Nazir bahwa yang dimaksud dengan wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya-jawab sambil tatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan mengunakan alat yang dinamakan “interview guide” (panduan wawancara).[37]
2)      Metode Kuesioner (angket).
                              Metode angket adalah: “Metode pengumpulan data dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan yang sudah di persiapkan sebelumnya secara tertulis melalui sebuah daftar pertanyaan.[38]
Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data atau informasi baik itu yang berupa anggapan pendapat atau sikap dari para wali siswa di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen terhadap pelaksanaan pendidikan di TK tersebut.
3)      Metode Observasi.
Metode observasi adalah suatu pengamatan di lakukan secara  langsung  maupun  tidak langsung  mengadakan  pencatatan yang sistematis.[39]Metode ini penulis gunakan untuk mengetahui keadaan obyektif Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal sapen serta untuk mengecek data atau hal yang diperoleh dari hasil observasi dengan realita yang ada.
4)      Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu, mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya.[40]Metode ini dilakukan untuk memperoleh data tentang gambaran umum TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen, letak dan keadaan geografis,  tujuan didirikannya, struktur organisasi dan struktur kerja, keadaan guru, siswa dan karyawan, keadaan sarana dan prasarana sekolah, dan lain sebagainya.
b.      Data Sekunder
            Data sekunder yaitu data pelengkap yang diperoleh sebagai penunjang dalam penelitian. Adapun yang penulis jadikan sebagai sumber penunjang disini adalah berupa literatur-literatur yang membahas tentang metode cerita dalam pendidikan Islam.
               4.   Metode Analisa Data
Dalam penelitian ini ada 2 macam data, yaitu ; data yang tidak berupa angka (data kualitatif) dan data yang berupa angka (data kuantitatif), maka untuk menganalisa kedua cara tersebut penulis menggunakan metode analisis yang berupa :
a.                                                                   Metode non statistik
Metode analisa penulis gunakan untuk mengolah data-data yang tidak berwujud angka atau bilangan.  Data-data yang telah terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analitis  yaitu, proses analisis di mana data-data yang telah terkumpul di gambarkan lebih dahulu kemudian di analisis secara kritis dengan mengunakan metode kualitatif.
 Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah :
1)      Menela’ah data yang berhasil dikumpulkan , yaitu data dari hasil penelitian.
2)      Mengadakan reduksi data yaitu mengambil data  yang sekiranya dapat diolah lebih lanjut.
3)      Menyusun data dalam satuan-satuan.
4)      Melakukan kategorisasi sambil melakukan coding.
5)      Mengadakan pemeriksaan keabsahan data.
6)      Menafsirkan data dan kemudian mengambil kesimpulan.[41]
b.                                                                  Metode statistik
Metode statistik adalah suatu cara mengumpulkan, mengelolah, menganalisa dan menyajikan data yang bersifat kuantitatif secara teratur, ringkas dan jelas dengan tujuan dapat memberikan gambaran tentang keadaan data yang dimaksud.
Bentuk analisa yang dipakai adalah statistik deskriptif atau statistik sederhana yaitu, statistik yang mempunyai tugas mengorganisasi dan meganalisa angka agar dapat memperoleh gambaran secara teratur, ringkas dan jelas mengenai suatu gejala peristiwa atau keadaan sehingga dapat ditarik kesimpulan atau makna tertentu.
Adapun dalam penggunaan statistik deskriptif ini adalah dengan menggunakan persentase pada hasil angket dari para wali murid dengan menggunakan rumus :
 


Keterangan :
P          : Angka Persentase
F          : Frekwensi yang dicari
N         : Jumlah responden
100            : Bilangan konstan.[42]

I.       Sistematika Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN.
Pada Bab Pendahulauan ini terdiri atas: Sub-sub bab penegasan istilah, latar belakang masalah, rumusan masalah, alasan pemilihan judul, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka toeri metode penelitian dan sistematika pembahasan.
BAB II GAMBARAN UMUM TAMAN KANAK-KANAK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN YOGYAKARTA
Pada bab ini membahas tentang: Letak geografis, sejarah berdirinya, tujuan didirikannya, struktur organisasi dan struktur kerja, keadaan guru, siswa dan karyawan, keadaan sarana dan prasarana sekolah.
BAB III METODE CERITA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI TAMAN KANAK-KANAK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN
7.      Macam- macam metode yang digunakan di TK ABA Sapen
8.      Dasar pemilihan cerita
9.      Penerapan Metode cerita Dalam Pendidikan Islam di TK ABA Sapen
10.  Hasil yang dicapai
11.  Faktor penunjang dan penghambat
12.  Kelebihan dan kekurangan
BAB IV PENUTUP.
Berisi tentang: Kesimpulan, saran-saran dan kata penutup.
BAB II
GAMBARAN UMUM TAMAN KANAK-KANAK AISYIYAH
BUSTANUL ATHFAL SAPEN YOGYAKARTA

A.    Letak Geografis dan Keadaan Bangunan

Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen secara geografis termasuk dalam wilayah Sapen, Kelurahan Demangan, Kecamatan Gondo Kusuman, Kotamadya Yogyakarta. Untuk lebih jelasnya alamat TK ABA Sapen yaitu ada di Sapen. Jalan Bimo Sakti GK I No.449, RT.26, RW.8. Adapun yang membatasi wilayah Sapen adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara                       :  Kampung Demangan
Selatan                                 :  Kampung Gendeng
Timur                                    :  Sungai Gajah Wong
Barat                                                :  Kampung Pengok (PJKA)
Dengan luas wilayah tanah milik Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen : 391 m2 yang terdiri dari : Bangunan gedung lantai 2 dan halaman.
1.      Bangunan Gedung Lantai Bawah  :
a.       3 Ruang kelas
b.      1 Ruang bermain
c.       1 Ruang UKS dan kepala sekolah
d.      1 Dapur
e.       1 Kamar mandi guru
f.       2 Kamar mandi anak
g.      1 Tempat pengadaan gizi
h.      1 Ruang kantor
2.      Bangunan Gedung Lantai Atas :
a.       1 Aula
b.      1 Ruang ibadah
c.       1 Ruang laboratorium
d.      1 Ruang perpustakaan
e.       1 Gudang
3.      Halaman Sekolah
a.       Untuk bermain bebas
b.      Untuk kegiatan olah raga
c.       Untuk upacara bendera
d.      Untuk parkir kendaraan
e.       Taman[43]

B.     Sejarah Berdirinya TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen

Pada tanggal 27 Februari 1967, berdirilah Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen Yogyakarta, yang awalnya dirintis dan didirikan oleh Muhammadiyah Ranting Sapen. Pendaftaran pertama tercatat sebanyak 40 anak, terdiri dari usia 3 s/d 17 tahun. Ada 17 anak yang berumur 3 s/d 7 tahun dinamakan Taman Kanak-kanak Muhammadiyah dan yang berumur 7 s/d 17 tahun dinamakan SD Muhammadiyah Sapen.
Pertama kali kegiatan belajar mengajar menempati rumah bapak Djahari Hisyam, SH di Sapen Tengah. Seiring dengan perkembangan dan kemajuan sekolah, maka oleh Muhammadiyah pengelolahnya diserahkan kepada Aisyiyah Ranting Sapen pada tahun 1970, pada waktu itu dipimpin oleh ibu Mukti Ali, karena kepindahan ibu Mukti Ali ke Jakarta mengikuti suami yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Agama RI. pada tahun 1971 diserahkan kepada ibu Hj. Asmuni dan ibu Hasan Balakonga, kemudian waktu itu karena tempat yang digunakan untuk sekolah akan diminta oleh pemiliknya maka dari pimpinan Muhammadiyah mencarikan tanah untuk Taman Kanak-kanak Muhammadiyah melalui bapak Kirmaji, selanjutnya dari keluarga bapak Arjo mewakafkan tanahnya untuk pembangunan sekolah Taman Kanak-kanak. Kemudian oleh pengurus Muhammadiyah dibangun untuk sekolah Taman Kanak-kanak, sekaligus untuk pembangunan masjid, yaitu masjid Safinah, yang menangani pembangunan masjid tersebut adalah bapak / ibu Asmuni dengan pamannya. Lama kelamaan jama’ah masjid makin banyak dan setiap jum’atan tidak mencukupi, maka pengurus prihatin dengan keadaan tersebut, sehinga pada tahun 1984 pengurus membeli tanah seluas 90 m. milik Bapak Suroyo. Selanjutnya panitia pembangunan gedung bekerja keras untuk pembangunan gedung sekolah Taman Kanak-kanak, waktu itu diketuai oleh bapak Prof. Drs. H. Asmuni AR dan bapak Sutrisno.
Pembangunan gedung sekolah Taman Kanak-kanak selesai pada tanggal 6 Juli 1986, dan langsung diadakan pengajian dan peresmian penggunaan gedung baru dengan mengundang jema’ah haji tahun 1983, pengawas TK/SD, semua anggota muhammadiyah dan aisyiyah menempati gedung ini sampai tanggal 15 April 2002, karena pimpinan ranting aisyiyah Sapen sudah membangun gedung TK yang baru, maka mulai tanggal 21 April 2002 pindah ke gedung sekolah Taman Kanak-kanak yang baru sampai sekarang.[44] 

C.    Tujuan Didirikan TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen

                        Salah satu sisi yang menjadi tanggung jawab sekolah yaitu mempersiapkan siswa agar mampu mengembangkan kepribadiannnya yang selaras, seimbang antara kedewasaan jasmaniyah dan rohaniyah. Sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya atau yang diharapkan akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehat cerdas dan terampil.

Untuk mewujudkan harapan tersebut maka Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen  perlu mengadakan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan anak didik dan kegiatan yang menunjang untuk tercapainya usaha kesehatan sekolah untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan siswa serta menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia seutuhnya. Sehingga dapat memupuk kebiasaan hidup sehat dan mempertinggi derajat kesehatan siswa.[45]

D.    Struktur Organisasi TK ABA Sapen Yogyakarta

TK ABA Sapen adalah suatu lembaga pendidikan dan pengajaran un tuk anak-anak yang menjadikan pendidikan agama Islam sebagai identitas lembaganya. Setiap lembaga pendidikan sudah tentu memiliki struktur organisasi, karena struktur organisasi dalam suatu perkumpulan atau lembaga sangat penting keberadaannya. Dengan adanya struktur organisasi tersebut, orang akan mudah mengetahui sejumlah personil yang menduduki jabatan tertentu dalam suatu lembaga dan memperlancar tugasnya agar tercapai dengan efisien dan efektif.
Secara struktural, organisasi TK ABA Sapen yang berjalan sekarang ini adalah sebagai berikut :

STRUKTUR ORGANISASI LEMBAGA

TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN

YOGYAKARTA

 


                                    
 


Keterangan :
                       =  Garis Instruksi
                       =  Garis Konsultasi
Penjelasan :
      PRA Sapen                                                           : Bag. Dikdasmen

Kepala Sekolah                                                     : Siti Arifah

Administrasi                                                          : Fatmiriana

Keuangan                                                              : Rohani

Pendidikan, Pengajaran dan Kurikulum              : Nuryati

Sarana dan Prasarana                                            : Nining. H
Kegiatan Ekstra Kurikuler                                    : Sumarsih
Kemuhammadiyaan dan Ke’Aisyiayaan              : Isnindiyah
Berdasarkan struktur organisasi di atas, maka tugas dan tanggung jawab dari masing-masing jabatan dapat dipaparkan sebagai berikut :
1.   PRA Sapen
Pengurus Ranting Aisyiyah Sapen adalah sebuah lembaga yang ada dibawah naungan Aisyiyah Yogyakarta. Dan memberikan amanah kepada Bagian Pendidikan Dasar Menengah untuk membina masyarakat lewat pendidikan salah satunya ialah Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen  yang ada di wilayah Sapen Yogyakarta.
2.   Kepala Sekolah
Tugas kepala sekolah adalah memimpin dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keseluruhan kegiatan pendidikan di Taman Kanak-kanak berdasarkan peraturan-peraturan yang berlaku, mengatur keseluruhan proses belajar-mengajar, administrasi, pembinaan siswa, hubungan dengan masyarakat, mempersiapkan calon guru / karyawan teladan, dan membina karir guru dan karyawan.
3.   Administrasi
Tugas administrasi adalah melaksanakan tugas yang berkaitan dengan urusan administrasi dan pelayanan secara umum yang meliputi: administrasi perkantoran, kepegawaian, surat-menyurat, dan lain-lain.
4.   Keuangan
Tugas dari keuangan adalah mengatur sirkulasi keuangan yang ada di TK ABA Sapen baik itu dari uang masuk seperti; SPP, donatur, infaq, dan sebagainya serta uang yang keluar seperti; pembagian honor untuk para guru dan karyawan, pembelian barang-barang untuk pemenuhan fasilitas sekolah dan lain-lain.  
5.   Pendidikan, Pengajaran dan Kurikulum
Tugas adalah menyusun jadwal pelajaran, jadwal evaluasi belajar, jadwal ujian, jadwal penerimaan buku raport dan ijazah, , kegiatan ekstra kurikuler, dan menyusun kriteria dan persyaratan naik atau tidaknya siswa.
6.   Sarana dan Prasarana
Tugas dari Sarana dan prasarana adalah membantu kepala sekolah dalam memelihara inventaris sekolah, baik berupa alat-alat pengajaran maupun alat-alat lainnya. Memelihara, mengembangkan, mengamankan, dan mendaya gunakan sarana dan prasarana baik berupa perangkat keras maupun perangkat lunak.
7.   Kegiatan Ekstra Kurikuler
Tugas mengatur jadwal dan waktu kegiatan ekstra kulikuler yang dilaksanakan di TK ABA Sapen
8.   Kemuhammadiyaan dan Ke’Aisyiayaan
Tugas mengajar dan memperkenalkan kepada murid tentang muhammadiyah dan aisyiyah. mengadakan koordinasi dengan para guru dan wali murid, menyusun program Kemuhammadiyan dan Keaisyiyaan, baik program tahunan, semesteran maupun bulanan; menjalin kerjasama lain serta menyusun laporan pelaksanaan.
9.     Dewan Guru dan Staf  Pengajar
Selain harus bertanggunng jawab kepada kepala sekolah, dewan guru dan staf pengajar juga melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien yang meliputi pembuatan satuan pelajaran, lembar kerja siswa, kisi-kisi soal, melaksanakan kegiatan penilaian hasil belajar, meneliti daftar hadir siswa, dan mengadakan pengembangan setiap bidang pengajaran atau pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.

E.     Keadaan Guru, Karyawan, dan Siswa TK ABA Sapen

1.     Keadaan Guru dan Karyawan
Didalam penyelenggaraan pendidikan, keadaan dan pengadaan guru perlu diperhatikan, hal ini mempengaruhi mekanisme kerjanya. Salah  satu faktor penentu keberhasilan dalam proses pendidikan adalah adanya peranan tenaga pengajar. Tugas tenaga pengajar ini antara lain mempersiapkan materi pelajaran yang menjadi wewenang tanpa melalaikan kewajiban untuk membina dan mengarahkan kepribadian subyek didik.
Guru yang ada di TK ABA Sapen mencukupi. Hal ini diadakan  karena  sesuai dengan jumlah siswa dan kelas di TK ABA Sapen. Guru-guru tersebut merupakan alumni dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta antara lain : UNY, IAIN, Sunan Kalijaga, ISI dan perguruan tinggi lainnya.
Status guru yang bertugas di TK ABA Sapen pada umumnya adalah guru tetap (GT), akan tetapi ada juga yang berstatus sebagai guru tidak tetap (Guru Ekstra/GE). Lihat tabel berikut ini :

1.      Kedaan Guru

Guru persyerikatan               : 5 Orang
Guru DPK                            : 1 Orang
Guru Persyarikatan              : 1 Orang
Pesuruh Persyarikatan          : 1 rang
Jumlah                                  : 8 Orang

Tenaga Guru Persyarikatan Sejak Sekolah Berdiri :

1.      Bapak Sutrisno
2.      Ibu Raminah
3.      Ibu Sri Puji
4.      Ibu Marsihwati
5.      Ibu Zulfa
6.      Ibu Busro
7.      Ibu Isnindiyah
8.      Ibu Nining Haihati
9.      Ibu Rohani
10.  Ibu Siti Arifah
11.  Ibu Sumarsih
12.  Ibu Fatmiriana

Tenaga Guru DPK / Depag Sejak Berdiri

1.      Ibu Budi
2.      Ibu Nuryati
3.      Ibu Uswatun
TABEL
DAFTAR GURU TK ABA SAPEN TAHUN 2003-2004
NO
Nama
Jabatan
Pendidikan
1.
2
3
4
5
6
7
Siti Arifah
Isnindiyah
Nurhayati
Nining H
Dra. Rohani
Sumarsih, S.Pd
Fatmiriyana, SE
Kep Sek
GT
GT
GT
GT /TU
GT
GT
SP IAIN
PGAN
SPG TK
PGAL
S 1
S 1
S 1
No
Nama
Jabatan
Pendidikan
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
Almuna, S.Ag
Siti Aminah
Syafifiyati
Beti Handayani
Nurbait
Siti Desima
Miskiyah
Indri Asruti
Nita
Is Sugiarto
Nugroho
Heru
GE TPA
GE TPA
GE TPA
GE TPA
GE TPA
GE TPA
GE TPA
GE TPA
GE Tari
GE Lukis
GE Drum Band
GE Musik
IAIN SU-KA
PGA SU-KA
IAIN SU-KA
PGA
AIAN SU-KA
PGA
IAIN SU-KA
IAIN SU-KA
I S I
I S I

Dari tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa, keadaan guru di TK ABA Sapen dapat dirinci sebagai berikut :
a.   Guru tetap sebanyak 7 orang semuanya perempuan
b.  Guru Tidak tetap sebanyak 12 orang (3 orang laki-laki dan 9 orang perempuan)
TABEL
KARYAWAN TK ABA SAPEN
NO
Nama
Jabatan
Pendidikan
1
2
Rohani
Indarti
TU
Pesuruh
S 1
SMP
Dari tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa, keadaan karyawan di TK ABA Sapen berjumlah 2 0rang.

2.      Keadaan Siswa

Sejak berdiri hingga sekarang, keadaan siswa di TK ABA Sapen tidak stabil dan ini  dapat dilihat dari tabel berikut:
TABEL
KONDISI SISWA TK ABA SAPEN
NO
Tahun Ajaran
Laki-Laki
Perempuan
Jumlah
Ket
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
1991-1992
1992-1993
1993-1994
1994-1995
1995-1996
1996-1997
1997-1998
1998-1999
1999-2000
2000-2001
2001-2002
2002-2003
2003-2004
26
32
36
35
30
35
36
38
35
35
25
27
35
37
29
28
26
36
41
45
36
35
35
42
41
42
63
61
64
61
66
76
81
74
70
70
67
68
77
Siswa merupakan faktor penting dalam dunia pendidikan, karena tanpa adanya siswa, kegiatan belajar-mengajar di TK ABA Sapen tidak dapat berlangsung. Jumlah siswa yang belajar di TK ABA Sapen pada tahun akademik 2003 / 2004 seluruhnya berjumlah 77 orang. Jumlah tersebut berasal dari kota Yogyakarta.
Jumlah tersebut di atas adalah jumlah keseluruhan siswa dari kelompok A, B1dan B2. Adapun rinciannya dapat dilihat dalam tabel berikut:
TABEL
KEADAAN SISWA TK ABA SAPEN
TAHUN AJARAN 2003/2004
NO
Kelompok
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1
2
3
A
B1
B2
14
10
11
12
16
15
26
26
26
Jumlah
35
42
77
              Dari Tabel di atas dapat dijelaskan bahwa, keadaan siswa-siswi TK ABA Sapen tahun pelajaran 2003/2004 dapat dirinci sebagai berikut :
a.     Kelompok A terdiri dari 14 Laki-laki dan 12 Perempuan dengan jumlah 26 siswa
b.    Kelompok B1 terdiri dari 10 Laki-laki dan 16 Perempuan dengan jumlah 26 siswa
c.       Kelompok B2 terdiri dari 11 Laki-laki dan 15 Perempuan dengan jumlah 26siswa

F.     Keadaan Sarana dan Prasaran

Sarana adalah segala sesuatu yang dapat digunakan secara langsung untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan dengan cara tidak langsung.
Dalam rangka menunjang tercapainya tujuan pendidikan, maka faktor sarana dan prasarana sangat diperlukan. Dengan tersedianya sarana dan prasarana ini tentu saja dapat membantu kelancaran proses belajar mengajar di TK ABA Sapen ini, dan sampai saat ini dan seterusnya sarana dan prasarana yang masih dirasa kurang memenuhi terus diusahakan untuk dipenuhi sesuai dengan kebutuhan yang ada.
TABEL
INVENTARIS FASILITAS TK ABA SAPEN
NO
Barang
Jumlah
Kondisi
1
2
3
4
5
6
7
8
Kursi siswa
Meja Siswa
Kursi Guru
Meja Guru
Lemari
Kotak Sampah
Sapu Pembersih
Kemucing
91 Buah
38 Buah
15 Buah
6 Buah
13 Buah
7 Buah
10 Buah
8 Buah
90 %
90 %
90 %
90 %
85 %
80 %
75 %
75 %
Adapun sarana dan prasaran yang ada dan digunakan pada saat ini diantaranya :
1.      Alat-alat Penunjang Kegiatan Belajar
a.       Buku-buku penunjang
b.      Perpustakaan
c.       Alat-alat peraga yang ditempel dikelas
d.      1 buah almari di masing-masing kelas
2.      Alat-alat Permainan sudut
a.       Sudut Agama
1)      Boneka
2)      Tabel
3)      Jujudan
b.      Sudut Keluarga
1)      Almari pakaian
2)      Almari makanan
3)      Tempat masak
4)      Kompor 
c.       Sudut Alam Sekitar
1)      Aquarium
2)      Biji-bijian
d.      Sudut Pembangunan
1)      Balok-balokan
2)      Kubus
3)      Puzzle
3.      Alat-alat Bermain diluar Kelas
a.       Bola dunia
b.      Mangkok putar
c.       Peluncur
d.      Ayunan
e.       Jungkitan
f.       Tangga
g.      Jembatan
h.      Kolam ikan
i.        Ban-ban bekas
j.        Titian mainan pasir[46]
BAB III
METODE CERITA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI TAMAN KANAK-KANAK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN

Macam- macam Metode yang Digunakan di TK ABA Sapen

1.      Metode Bercerita
            Kanak-kanak mempunyai pikiran yang terbatas dan pengalaman yang sedikit serta percobaan yang kurang. Mereka hidup dengan akal pikirannya dalam alam yang nyata yang dapat mereka ketahui dengan melalui panca indra. Mereka belum dapat memikirkan soal-soal maknawi, soal-soal abstrak dan hukum-hukum yang umum. Bahkan mereka belum dapat memikirkan dalil-dalil akal dan teori-teori yang dalam, seperti hukum-hukum akal dan burhan-burhan yang tersebut di dalam al-Kalam. Karena semuanya itu persoalan-persoalan filsafat yang belum dapat dipikirkan oleh akal pikiran anak-anak.[47]
            Sehubungan dengan hal di atas, pendidikan yang akan diberikan kepada anak-anak haruslah sesuai dengan keadaan mereka itu, sesuai dengan akal pikirannya, sifat-sifatnya sebagaimana telah tersebut. Pendidikan agama yang diberikan adalah pendidikan dalam bidang-bidang yang praktis, berupa amal perbuatan dan akhlak mulia. Oleh sebab itulah Mahmud Yunus berpendapat bahwasanya metode pendidikan pada saat ini berupa kisah-kisah.[48]
            Salah satu metode pendidikan cerita yang efektif itulah, maka TK ABA Sapen menggunakan metode ini didalam dalam upaya penanaman nilai-nilai Islam pada anak. Alasan TK ABA Sapen menggunakan metode ini dikarenakan TK ABA Sapen sebagai sebuah lembaga pendidikan yang membimbing dan mengajar anak-anak, dan metode  cerita banyak disukai oleh anak-anak, tidak ketinggalan jaman, serta dapat dilakukan inovasi-inovasi di dalam bercerita yang berkaitan dengan masalah tema cerita. Sebagai contoh, guru dapat menghubungkan tema cerita dengan kehidupan anak-anak dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Hal ini dilakukan agar anak dapat lebih mudah memahamnya, karena cerita-cerita yang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga lebih kelihatan modern.[49]
            Penerapan cerita untuk saat ini harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi jaman sekarang serta imajinasi anak. Cerita tidak hanya sekedar pengantar tidur dan hiburan belaka, namun didalamnya mengandung hubungan bathin (kasih sayang) antara orang tua degan anak, guru dan murid serta kepekaan dan imajinasi anak.
            Cerita membangkitkan bisikan dan panggilan dari dalam hati, karena cerita itu berisi ikhtibar dan pengajaran. Ikhtibar dan pengajaran itu akan masuk sedikit demi sedikit ke dalam otak dan hati, kemudian anak akan terpengaruh dan akan mengikutinya dengan patuh karena ia memperoleh ikhtibar dan pengajaran dalam hatinya sendiri tanpa diketahuinya dan pikirannya sendiri serta tanpa paksaan orang lain.[50]
            Salah satu gambaran ilustrasi ketika ibu Miskiyah mengajar cerita kepada anak sebagai berikut. Cerita yang dibawakan tentang Nabi Yusuf ketika menyebut Yusuf AS, vokalnya mengecil dan diikuti oleh mimik dan intonasi suaranya yang diatur sesuai dengan alur cerita.[51]
            Dari pengamatan penulis saat mengikuti dan melihat langsung pelajaran cerita dikelas B2 dengan jumlah 32 murid yang mengikuti pelajaran cerita anak-anak begitu terpesona terhadap cerita yang dibawakan oleh ibu Miskiyah. Mereka seperti terhipnotis, sehingga emosi mereka terbawa dalam alur cerita yang dibawakan. Di saat cerita menggambarkan suasana kesedihan mereka terbawa dalam kesedihan, begitu pula saat cerita menggambarkan kegembiraan anak-anak pun turut gembira. Untuk mengetahui seberapa paham dari penangkapan anak saat mendengar cerita, penulis menemui lima anak untuk memberikan gambaran masing-masing dari apa yang mereka dengar. Dengan pertanyaan-pertanyaan ringan “apa  judul ceritanya, bagaimana ceritanya, siapa yang jahat dan yang baik, bolehkah meniru yang jahat ?”. Dan pertanyaan ringan lain, penulis berusaha untuk mengetahui seberapa pemahaman dari si anak.[52]
            Anak-anak yang penulis temui, mereka senang sekali akan cerita yang dibawakan oleh ibu Miskiyah. Mereka memahami bentuk-bentuk dan pesan-pesan moral yang diselipkan dalam setiap cerita. Mereka memahami mana saja hal-hal yang baik dan layak untuk diikuti dan hal-hal yang buruk untuk ditinggalkan.
                        Wujud dari pemahaman mereka adalah ketika penulis menanyakan apa isi dan kesimpulan cerita yang baru saja mereka dengar, mereka akan menggambarkan bagaimana tokoh yang baik akan selalu mendapatkan teman-teman yang baik, berteman dengan orang yang baik dan suka menolong, dan bentuk-bentuk perbuatan yang baik akan selalu mendapatkan imbalan yang baik pula dari Tuhan maupun orang lain. Namun penggambaran tokoh yang jahat akan selalu celaka, banyak musuh serta akan selalu mendapatkan balasan yang tidak baik. Selain hal itu, juga menyebutkan tentang beberapa perbuatan yang harus dilakukan serta perbuatan yang harus ditinggalkan, seperti yang telah mereka dengar dari cerita. Dari gambaran ini menunjukkan bahwa anak memahami pesan yang disampaikan melalui cerita.
                        Berikut ini sebuah transkip cerita dari ibu Miskiyah yang berisi tentang pesan-pesan akhlak serta pesan-pesan lain yang sekiranya bermanfaat bagi anak, yang berjudul :

“Kisah Nabi Yusup AS”

Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.
Anak-anak yang manis, apakah anak-anak pernah mendengar nama Nabi Yusuf as. ? Nah, anak-anak kali ini Ibu akan meceritakan kisah Nabi Yusuf as. Maukah anak-anak mendengarkannya? Iya, semoga anak-anak senang mendengar kisah ini. Tapi sebelumnya Ibu mau bertanya dulu, berasal dari manakah Nabi Yusuf as. Itu ? Iya, anak-anakku semuanya, Nabi yusuf as. Berasal dari sebuah kampung yang bernama Faddab Araam di negeri Irak, beliau adalah anak dari Nabi Ya’kub as. Saudara nabi Yusuf sangat banyak anak-anak, ada berapa ? siapa yang tahu ? Saudara nabi Yusuf 11 orang. Banyak bukan anak-anak ? Nah, suatu hari nabi Yusuf yang masih kecil bermimpi melihat sebelas bintang, bulan dan matahari bersujud kepada dirinya. Kemudian mimpi itu di ceritakan pada ayahnya, lalu ayah Nabi Yusuf berkata kepadanya : “Wahai anakku, janganlah kau ceritakan mimpimu pada saudara-saudaramu karena dalam hatinya ada rasa iri kapadamu niscaya akan celaka dirimu”.
Anak-anakku, kenapa ayah Nabi Yusuf berkata demikian, karena saudara-saudara Nabi Yusuf memang suka iri hati dan dengki bahkan sampai hati untuk mencelakakan terhadap saudaranya sendiri. Saudara-saudara nabi Yusuf selalu merasa bahwa kasih sayang yang di berikan pada Nabi Yusuf oleh ayahnya berbeda dengan mereka. Ini menyebabkan rasa benci mereka kepada yusuf bertambah besar, pada hal nabi Ya’kub selalu sama dalam memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya.
Anak-anakku semua, bagaimana sikap Nabi Yusuf terhadap saudara-saudaranya walaupun mereka membencinya namun Yusuf tetap menghormati mereka. Lebih-lebih terhadap orang tuanya, Yusuf sangat menghormati , taat dan patuh dan tak pernah menunjukan sikap membangkang ataupun melawan sedikitpun. Ini menyebabkan ayahnya bertambah enggan untuk jauh-jauh dari Yusuf. Rasa sayangnya makin bertambah.
Karena rasa benci mereka terhadap Yusuf, maka mereka merencanakan ingin membuang Nabi Yusuf ataupun membunuhnya, karena mereka tak ingin berdekatan dengan Yusuf yang menyebabkan kasih sayang orang tuanya berkurang. Akhirnya, pada suatu pagi, mereka meminta izin pada ayahnya untuk membawa Yusuf kesuatu tempat untuk di ajak ikut bermain.
Namun ayahnya sangat berat untuk melepaskan kemudian mengatakan  :
“Janganlah kamu membawa Yusuf besertamu karena suatu waktu nanti kau akan lengah menjaganya dan dia bisa di terkam serigala”.
“Janganlah engkau risaukan ayah, kami akan menjaganya sebaik mungkin.” Jawab mereka. akhirnya mereka bersaudara jadi berangkat dengan membawa serta Yusuf. Sesampainya ditempat yang di rencanakan, mereka mulai bermain dengan riangnya dan Yusuf pun tak menyadari akan apa yang terjadi  terhadap dirinya. Ketika Yusuf lengah maka langsung di masukan ke dalam sumur tempat untuk mengambil air para musyafir yang kelelahan.
Kemudian mereka meninggalkannya sambil berkata :
“Mari kita tinggalkan Yusuf di situ, suatu saat nanti ada salah seorang musafir yang akan membawanya pergi.”
Dan mereka tak menghiraukan teriakan Yusuf yang memanggil-manggil minta pertolongan.
Apa yang di lakukan mereka kemudian anak-anak ? sebelum pulang mereka menangkap seekor domba dan darahnya di usapkan pada gamis/baju Yusuf untuk di laporkan pada ayahnya bahwa Yusuf di makan serigala hutan ketika mereka lengah. Sesampainya di rumah cerita bohong itu di laporkan pada ayahnya. Apa yang terjadi anak-anak, ayah mereka tidak percaya, namun karena tidak dapat berbuat apa-apa akhirnya ayahnya hanya pasrah dan berdo’a kepada Allah SWT. Betapa sedih hati sang ayah, siang malam hanya berdo’a untuk keselamatan Yusuf sambil menangis tak henti-hentinya sehingga sampai kering air matanya dan Nabi Ya’kub menjadi buta kedua matanya. Anak-anak, sementara itu kita tinggalkan tentang ayahnya, kita kembali ceritakan Yusuf yang ada di dalam dasar sumur.
Pagi tersebut ada kafilah yang berhenti di tempat itu, kemudian salah seorang mengambil air kedalam sumur itu dan naiklah yusuf di atas timba. Betapa terkejutnya orang itu melihat anak kecil duduk di timba tersebut. Kemudian Yusuf ditanyai namanya dan di jual murah kepada seorng pejabat kerajaan di negeri Mesir.
Bagaimana kemudian dengan nasib Yusuf ? Ternyata Nabi Yusuf di pelihara dan di angkat jadi anak oleh pejabat kerajaan. Semakin lama Yusuf semakin besar, namun malang bagi yusuf anak-anak, istri pejabat yang bernama Siti Zulaikha menaruh hati pada Nabi Yusuf, kemudian Zulaikha memfitnah, yang akhirnya Nabi Yusuf di penjarakan.
Ketika Yusuf di penjarakan kemudian dia bertemu dengan dua orang yang juga masuk dalam penjara, kemudian mereka berkenalan. Kemudian keduanya menanyakan mimpi yang di alami semalam.
“Hai Yusuf sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur.”
“Aku bermimpi membawa roti di atas kepalaku dan sebagian di makan burung. Apa sebenarnya tabir mimpi kami ? Ceritakanlah ya Yusuf.”
Sebelum Yusuf menjawab tabir mimpi tersebut, Yusuf menyeru kepada keduanya untuk menyembah hanya kepada Allah dan masuk pada agama yang lurus. Kemudian Yusuf menjelaskan bahwa yang seorang akan memberi tuannya khamar, sedangkan yang satunya lagi akan di salib lalu burung akan mematuk sebagian dari kepalanya. Maka Yusuf pun berkata kepada yang akan selamat di antara keduanya :
“Katakanlah kepada tuanmu tentang keadaanku.”
Maka tatkala mereka telah keluar dari penjara lupa dengan pesan Yusuf untuk tuannya. Akhirnya Yusuf mendekam di penjara selama bertahun-tahun, sementara di dalam kerajaan raja sedang bingung oleh mimpinya yang aneh beliau memenggil para ahli nujum untuk membuka tabir mimpinya namun tak ada yang sanggup memberikan jawaban. Mendengar itu, orang yang merasa selamat ketika dulu di penjara ingat pada Yusuf. Lantas dia menghadap raja bahwa di dalam penjara ada seorang anak muda yang sangat pandai menyikap tabir mimpi. Kemudian di panggillah Yusuf untuk menghadap raja.
Yusuf kemudian di tanya oleh raja
“Hai Yusuf, aku sesungguhnya telah bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk di makan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan butir gandum yang hijau dan tujuh butir gandum yang kuning. Ceritaknlah apa artinya semua itu ?”
kemudian Yusufpun menjawab :
“Supaya engkau menanam seperti biasa tujuh tahun lamanya, kemudian apa yang kamu tuai sedikit kamu kamu makan dan sedikit kamu simpan kemudian akan datang masa sulit dalam tujuh tahun yang akan menghabiskan apa yang kamu simpan dan setelah itu akan datang masa subur, manusia diberi hujan dan di masa itu mereka akan memeras anggur.”
Setelah itu anak-anak, sebagai imbalannya Yusuf di bebaskan dari penjara. Dan ternyata apa yang diceritakan Yusuf benar-benar terjadi. Negeri itu ditimpa masa penceklik selama tujuh tahun dan kemudian disusul masa subur yang membahagiakan. Karena raja menuruti kata Yusuf untuk menyimpan bahan makanan cadangan maka rakyat negeri itu tidak menderita pada saat penceklik.
Anak-anakku ternyata datang juga masa bahagia. Kemudian Yusuf yang cerdas diberi kadudukan oleh raja. Nabi Yusuf memilih dijadikan menjadi bendahara kaerajaan.
Setelah Nabi Yusuf mendapat kedudukan, beliau tiada melupakan saudara-saudaranya. Beliau tidak merasa dendam walaupun pada waktu kecil diperlakukan secara tidak adil. Bahkan mereka diajak tinggal bersama di istana, juga ayah yang di rindukan selama bertahun-tahun dibawanya serta. Demi mencium bau anaknya dan mencium bajunya, maka matanya yang buta jadi melihat lagi. Demikianlah kebahagiaan yang dimiliki Nabi Yusuf bersama-sama ayah dan keluarganya. Itulah anak-anak ketabahan dan kesabaran dan rasa hormat kepada orang tua menjadikan kebahagiaan yang tiada terkira. Terutama besok diakhirat akan menemui kebahagiaan selamanya. Anak-anak semoga kisah ini bermanfaat bagi anak-anak dan dapat mencontoh sikap yang baik yang dimiliki oleh Nabi Yusuf.[53]
Selanjutnya transkip cerita yang disampaikan oleh ibu Sumarsih yang bercerita dibantu dengan alat peraga (buku cerita bergambar) tentang persahabatan.
“Mengabaikan Nasehat Teman”
(Pengarang Bondan Widodo)
Hal. 5         : (gambar pertama)
Gambar      : Suasana pulang sekolah
Tulisan       : Nita dan Tini selalu pulang bersama, karena rumah   mereka  berdekatan
Hal. 6         : (gambar kedua)
Gambar      : Dalam perjalanan pulang kerumah, Nita dan Tini melihat
                    seekor  kupu-     kupu.          
Tulisan       : Nita  ingin  menangkap  kupu – kupu,   tapi  oleh  Tini  dicegah,   
                    biarlah mereka bebas seperti kita.
Hal. 7                     : (gambar ketiga)
Gambar      : Nita mengejar kupu-kupu sedangkan Tini pulang sendiri.
Tulisan       : Karena Nita tidak dapat dicegah akhirnya Tini pulang sendiri.
Hal. 8                     : (gambar keempat)
Gambar      : Nita mengejar kupu-kupu sampai masuk hutan.
Tuluisan     : Kupu-kupu terbang jauh Nita mengejar sampai kehutan.
Hal. 9         : (gambar kelima)
Gambar      : Nita capek sekali dan beristirahat dibawah pohon melepaskan
                    lelah.
Tulisan       : Nita sangat lelah dan kecewa karena kupu-kupu tadi enghilang.
Hal. 10       : (gambar keenam)
Gambar      : Nita menangis dan seorang kakek yang sedang lewat
                    menolongnya.
Tulisan       : Nita menangis terisak-isak seorang kakek datang menghampiri,
                    Nita takut sekali.
Hal. 11       : (gambar ketujuh)
Gambar      : Nita disuruh memakan bekal yang dibawah kakek.
Tulisan       : Ternyata kakek itu baik hati Nita disuruh makan bekalnya, Nita
                    makan dengan laparnya.
Hal. 12       : (gambar kedelapan)
Gambar      : Ayah dan ibu Nita merasa sedih sekali karena anaknya belum
                    juga pulang kemudian mereka mencari Nita.
Tulisan       : Ayah dan ibu Nita sudah susah sekali mereka mencari kesana-
                    kemari.
Hal. 13       : (gambar kesembilan)
Gambar      : Nita diantar pulang oleh kakek.
Tulisan       : Hari menjelang petang, Nita diantar pulang oleh kakek.
Hal. 14       : (gambar kesepuluh)
Gambar      : Nita memeluk ibunya.
Tulisan       : Ibu………..Nita. Mereka berpelukan menyesal karena
                    mengabaikan nasehat temannya.
Hal. 15       : (gambar kesebelas)
Gambar      : Kakek berpamitan pulang kepada keluarga Nita.
Tulisan       : Kakek permisi pulang, Nita melambaikan tangan, ibu dan 
                    bapak mengantarkan kakek sampai kedepan halaman rumah.
Hal. 16       : (gambar kedua belas)
Gambar      : Pada kesempatan lain bapak dan ibu Nita berkunjung kerumah.
                    kakek
Tulisan       : Pada hari minggu Nita diajak berkunjung kerumah kakek, Nita
                    senang sekali, karena punya kakek lagi.
                 
Selesai membacakan cerita ibu Sumarsih mengulas secara garis besar, bahwa dalam cerita tersebut mengandung ajaran kepada anak-anak tentang kebiasaan yang kurang baik, seperti selesai sekolah terus pulang, jangan toledor, tidak boleh mampir-mampir, sebaiknya pulang kerumah dulu, kalau ingin bermain harus memberi tahu ibu/bapak terlebih dahulu. Dalam cerita tadi juga mengajarkan kepada anak-anak supaya jangan suka mengabaikan nasehat teman, akibat dari kelalaian itu menyebabkan Nita tersesat dihutan. [54]
Kesimpulan :
a)      Kalau pulang sekolah tidak boleh kemana-mana, pulang kerumah dulu kalau mau main minta izin orang tua dulu.
b)      Jangan suka mengabaikan nasehat teman.
c)      Contohlah sifat-sifat kakek yang baik hati suka menolong dan sebagainya.[55]    
2.      Metode Permainan atau Bermain
            Kegiatan bermain tidak dapat lepas dari dunia anak-anak, karena bermain merupakan kebutuhan yang sangat penting dan berpengaruh pada aspek fisik dan psikologis, sehingga permainan berpengaruh juga pada tinggi rendahnya prestasi anak-anak. Dimana pun dan dalam keadaan apa pun kegiatan anak yang paling penting adalah bermain. Sampai usia tertentu sebelum anak disibukkan dengan kegiatan lain yang rutin seperti belajar, bekerja dan lain-lain, kehidupan seorang anak hanya akan didominasi oleh permainan. Kegiatan bermain menjadi acara yang sangat penting bagi seorang anak, karena dengan bermain itulah ia menguak isi dunianya.[56]
            Para ahli psikologi dan pendidikan berpendapat, permainan bagi anak mempunyai peranan yang sangat penting untuk tugas-tugas perkembangan jasmani dan rohani serta kepribadian anak. Kesempatan bermain berarti melatih diri dan merupakan syarat mutlak bagi anak dalam masa pertumbuhannya. Karena itu penyediaan waktu dan sarana bermain sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak tersebut.
            Adapun manfaat bermain bagi anak-anak adalah :
a.       Masa kanak-kanak merupakan masa perkembangan yang sarat potensi dan dinamika, sehingga lewat bermain pengembangan potensi dan dinamika dapat disempurnakan.
b.      Dengan bermain, langsung atau tidak langsung anak-anak dapat merefleksikan suasana emosionalnya, sehingga anak dapat terbuka dan mudah dipahami. Hal ini memudahkan pembentukan psikologis dan kepribadiannya.
c.       Bagi anak yang mengalami gangguan psikologis atau bermasalah, bermain merupakan salah satu obat penyembuh penyakit tersebut. Bagaimana pun dapat memberikan bekal dan persiapan kepada anak-anak agar kelak dimasa selanjutnya nanti mereka siap memikul tanggung jawab.[57] 
            Melihat begitu pentingnya sebuah permainan bagi anak, maka TK ABA  Sapen juga melakukan hal demikian. Hanya teknisnya saja yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Bermula dari mendengaran cerita, anak-anak diajak untuk menggambar, menghafal, membuat mainan, menyanyi, puisi, drama dan lain-lain.[58]
3.      Metode Diskusi
            Metode ini bertujuan lebih memantapkan pengertian dan sikap pengetahuan anak didik terhadap sesuatu masalah dan memecahkannya dengan baik. Metode ini dilaksanakan di TK ABA Sapen,  misalnya ada diantara anak yang bertentangan pendapatnya dengan penjelasan dari guru ataupun bertentangan dengan teman sendiri.
4.      Metode Tanya-Jawab
            Metode ini digunakan di TK ABA sapen dengan harapan agar pengertian dan pengetahuan anak didik lebih dimantapkan, sehingga bentuk kesalah pahaman, kelemahan daya tangkap terhadap pelajaran yang diberikan dapat dihindari.[59]
5.      Metode Imtsal
            Selain metode cerita, metode imtsal juga sangat efektif dalam proses pendidikan Islam untuk anak di TK ABA Sapen  sebagai contoh perumpamaan tentang kekuasaan Allah sebagaimana dalam firman-firman-Nya.
6.      Metode Sosiodrama
Metode yang dilaksanakan di TK ABA Sapen tentang metode sosiodrama, yaitu cara memerankan beberapa peran dalam suatu cerita tertentu yang menuntut integrasi diantara para pemerannya. Pada umumnya peranan yang dimainkan diangkat dari kehidupan sehari-hari dimasyarakat. Dalam metode ini diutamakan mengembangkan kemampuan berekspresi, sehingga anak dapat menghayati berbagai bentuk perasaan.
7.      Metode Pemberian Tugas
Metode ini dilakukan di TK ABA Sapen untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan oleh guru sehingga anak dapat mengalami secara nyata dan melaksanakan secara tuntas. Tugas yang diberikan secara berkelompok ataupun individual.[60]
8.       Metode Karya Wisata
Para guru dan siswa TK ABA Sapen biasanya sekali dalam satu bulan mengadakan acara wisata, ini berfungsi selain untuk bersantai juga dilaksankan kegiatan belajar-mengajar, melalui kunjungan secara langsung ke obyek-obyek wisata yang sesuai dengan bahan kegiatan yang sedang dibahas dilingkungan kehidupan anak.[61]
  

Dasar pemilihan cerita

      Dalam melakukan pemilihan jenis-jenis cerita yang dilakukan oleh para guru TK ABA adalah jenis cerita yang sesuai dengan ajaran Islam, adapun jenis cerita yang sering digunakan oleh guru-guru TK ABA Sapen adalah sebagai berikut :
1.      Berdasarkan pelakunya, para guru TK ABA sapen cendrung mengunakan jenis cerita campuran/kombinasi, yaitu jenis cerita yang menggambarkan dunia manusia dengan lingkungan alam sekitarnya, baik benda-benda yang hidup maupun benda-benda yang mati. Tema dari cerita ini diambil dari kehidupan manusia sehari-hari yang lebih realistis dan dapat diambil dari aktivitas keseharian anak-anak, sehingga cerita akan lebih mudah dipahami oleh anak. Selain itu cerita ini lebih mudah dan lebih luas pengertian serta pengembangannya, terutama dalam berimprovisasi saat bercerita, karena tema cerita ini diambil dari kehidupan sehari-hari. Misalnya; ada salah satu anak yang terjatuh pada mau masuk kelas, itu akan menjadi sebuah tema cerita, ada apa dan kenapa kita bisa terjatuh.
2.      Berdasarkan kejadiannya (sejarah), cerita yang digunakan oleh guru-guru TK ABA Sapen, adalah jenis cerita sejarah (tarikh), cerita yang mengisahkan kejadian-kejadian yang riil dimasa lampau. Berbagai cerita yang pernah terjadi dimasa lalu, cerita ini kebanyakan diambil dari al-Qur’an dan buku-buku sejarah diantaranya ; cerita tentang para nabi, sahabat Rasulullah saw, pejuang Islam, perjuangan para pahlawan nasional dan sebagainya. Cerita sejarah dimaksudkan untuk mengajak anak-anak mengambil intisari, hikmah ataupun iktibar dibalik peristiwa lewat cerita yang pernah terjadi pada masa lalu.[62]
3.      Berdasarkan khayalan (fiksi), cerita ini pada dasarnya hanyalah rekaan, semua tokoh dan alur ceritanya fikif belaka. Melalui cerita inilah guru dituntut untuk memiliki keluasan yang maksimal tentang pengetahuan. Kemungkinan penggunaan improvisasi dan memunculkan unsur-unsur kegiatan terbuka lebar. Misalnya cerita kancil yang cerdik.
4.      Berdasarkan legenda (fiksi sejarah), cerita jenis ini banyak digandrungi saat ini, yaitu mengenai cerita-cerita yang kebenarannya belum pasti ada, tetapi dikaitkan dengan alur cerita sejarah, sehingga seolah-olah benar-benar terjadi dan sering kali sukar dibedakan antara cerita yang benar-benar sejarah dan cerita yang cuma rekaan belaka. Misalnya cerita Malinkundang (legenda dari Sumatera Barat) tentang anak yang durhaka kepada orang tuanya.       

Penerapan Metode Cerita dalam Pendidikan Islam di TK ABA Sapen

Penerapan sebuah metode cerita atau bercerita, ada beberapa hal yang sangat penting yang dilakukan oleh para guru TK ABA Sapen supaya cerita yang akan disampaikan dapat lebih efektif, efisien dan enak untuk disampaikan, sehingga dapat dinikmati bagi pendengar cerita/siswa dan lebih  mudah menangkap pesan nilai-nilai pendidikan Islam dalam sebuah cerita, cerita lebih mudah difahami serta tertanam dihati sehingga dapat bermenfaat bagi pendengarnya.
Beberapa hal tersebut antara lain :
1.      Persiapan
    Persiapan disini adalah menentukan jenis cerita atau tema cerita dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut ;
a.       Usia pendengar
b.      Kondisi anak didik
c.       Suasana anak didik
d.      Keadaan alam
                Hal-hal yang dilakukan oleh guru-guru TK ABA Sapen dalam persiapan diatas sangat menentukan sekali dalam mencapai tujuan bercerita seperti yang diinginkan. Dengan tema dan jenis cerita yang sesuai dengan hal-hal diatas diharapkan akan berhasil mempengaruhi pendengar untuk masuk dalam dunia cerita, sehingga pesan tentang nilai-nilai pendidikan Islam yang ada didalam sebuah cerita akan ditangkap dengan mudah oleh anak.
2.      Penyampaian Cerita
                Teknik penyampaian cerita kepada anak, para guru TK ABA sapen  menggunakan beberapa  cara  agar cerita yang disampaikan dapat menarik pendengar, yaitu :
a.       Komunikasi
                        Keterampilan komunikasi yang dimiliki oleh guru sangat bagus sehingga dalam berhubungan dengan pendengar (anak didik) tercipta dengan baik. Komunikasi yang baik dari para guru TK ABA Sapen tercipta dengan adanya latihan-latihan dan pengalaman yang banyak, setelah beberapa lama berkecimpung dengan dunia anak, untuk menarik perhatian anak memang memerlukan keterampilan tertentu, apalagi dalam hal ini adalah komunikasi dengan anak yang berjumlah puluhan yang secara kepribadian dan sikapnya akan berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini dibuktikan dengan pendengar yang dibuat terpana dan mendengarkan cerita dengan serius.
b.      Variasi Suara
                        Dengan ditunjang oleh ekspresi wajah yang menggambarkan sang tokoh, guru juga membeda-bedakan suara dan ekspresi wajah setiap tokoh cerita. Guru cerita harus mempunyai kemahiran dalam menirukan suara orang tua, anak-anak, suara orang laki-laki maupun perempuan serta suara-suara binatang dan bermacam-macam suara yang lain, misalnya suara angin, air dan lain-lain. Sehingga cerita dapat kelihatan lebih hidup dan menarik untuk disimak. Dalam hal ini sejauh mungkin guru menghindari dari suara atau ekspresi yang monoton.
c.       Penggunaan Alat Peraga
                        Saat menyampaikan cerita kepada anak selain dengan intonasi suara yang teratur dan ekspresi yang sesuai dengan alur cerita, juga didukung dengan alat peraga, seperti boneka, gambar-gambar dan sebagainya. Supaya cerita akan lebih menarik dan anak akan semakin terfokus perhatiannya.
d.      Pertanyaan Pancingan
                        Pertanyaan-pertanyaan ini dilakukan untuk memancing seberapa paham anak dalam menangkap cerita, selain itu berfungsi untuk mengkondisikan kembali keadaan anak didiknya, misalnya ada anak terlihat bosan dan kurang berkonsentrasi.
                        Pada dasarnya teknik penyampaian cerita yang dilaksanakan di TK ABA  Sapen hampir serupa dengan teori cerita yang tertulis dalam buku-buku teknik bercerita. Namun ada satu hal yang menarik yang selama ini belum tertulis dalam buku-buku tersebut. Yaitu rasa ikhlas, rasa ikhlas dalam bercerita yang dilaksanakan di TK ABA Sapen ini sangat menentukan bagaimana guru dapat begitu gembira disaat sedang bercerita. Rasa ikhlas inilah yang akan membawa suasana tersendiri dalam setiap melakukan kegiatan bagi guru cerita, maupun bagi pendengarnya.[63]
   

Hasil yang Dicapai

Dari usaha-usaha yang dilakukan di TK ABA Sapen tentunya akan membuahkan hasil-hasil yang diharapkan dari penerapan metode cerita ini. Minimal akan bermanfaat bagi anak didik, para guru yang mengikuti kegiatan belajar mengajar di TK ABA Sapen tersebut, dan menjadikan apa yang telah dilaksanakan di TK ABA Sapen sebagai sebuah motivator untuk lebih giat dalam mendidik anak dan mendapat inspirasi untuk lebih kreatif dalam mendidik anak bagi para pendidik. Adapun hasil-hasil yang terwujud dari usaha TK ABA Sapen adalah sebagai berikut :
1.      Adanya motivasi dan pengarahan dari kegiatan yang dilakukan oleh TK ABA Sapen, para orang tua merasa terbuka pikirannya dalam hal mendidik anak. Munculnya gambaran tentang pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak dengan teori-teori yang baru merupakan semangat tersendiri bagi para guru dan orang tua. Kesan yang timbul dari mereka adalah merasakan adanya perubahan dan motivasi yang baru mengenai teori dan pengembangan dari metode mendidik anak. Untuk itu pemahaman kesadaran akan pentingnya pendidikan Islam bagi anak sejak dini, tentang ajaran nilai-nilai Islam sehingga akan lahir anak-anak yang cerdas terampil dan berakhlak mulia.[64]
2.      Melalui cerita yang telah didengarkan oleh anak-anak, perubahan yang terjadi adalah tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma agama atau norma-norma masyarakat yang diketahuinya dari cerita. Anak-anak dapat menangkap pesan-pesan moral dari cerita dari pada lewat nasehat, karena pesan tersebut masuk kedalam hati dan pikiran anak-anak tanpa adanya paksaan, dan proses penanaman ajaran Islam tersebut mereka sukai. Cerita-cerita selalu terngiang dalam benak anak-anak mulai dari hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk, jadi secara tidak langsung akan mempengaruhi tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari.[65]
3.      Agar lebih memperkuat hasil dari penelitian yang penulis lakukan di TK ABA Sapen tentang hasil dari penerapan metode cerita yang dilaksanakan, penulis menggunakan angket (quesoner) untuk para wali murid yang berisikan tentang  pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan keberhasilan sekolah dalam mendidik anak dan peran orang tua sebagai pendidik utama dalam mendidik anak. Adapun hasil dari angket tersebut dapat dilihat sebagai berikut :

TABEL I

PERAN AKTIF ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN  ANAK
No
Jawaban Responden

F

%
1
2
3
Ia, selalu
Tidak
Kadang-kadang
26
4
86,6
13,4
30
100
Sumber : Pengolahan data hasil penelitian tahun 2004
Secara jelas telah diungkapkan oleh tabel 1 diatas mengenai peran orang tua murid memperhatikan anak-anaknya dalam proses pendidikannya, dari tabel diatas menerangkan bahwa ada 26 orang tua murid yang aktif dan  4 orang tua murid yang kurang aktif dalam membantu proses pendidikan anak dari 30 responden. Untuk mengetahui peran serta orang tua dalam mendidik anak dengan metode cerita, dapat dilihat pada tabel berikut :

TABEL  II

KEBIASAAN ORANG TUA BERCERITA/MENDONGENG KEPADA ANAK
No
Jawaban Responden

F

%
1
2
3
Ia, selalu
Tidak pernah
Kadang-kadang
6
2
22
20
6,7
73,3
30
100
Sumber : Pengolahan data hasil penelitian tahun 2004
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa wali murid juga berperan dalam pengembangan metode cerita dalam pendidikan anak meskipun tidak rutin dilakukan, terbukti ada 6 wali murid yang melakukan selalu, 22 wali murid yang kadang-kadang dan 2 wali yang tidak pernah. Kemudian untuk mengetahui peran guru dalam pendidikan anak, dapat dilihat pada tabel berikut :

TABEL III

USAHA-USAHA WALI MURID MENGATASI KEKURANG MAMPUAN ANAK DALAM BELAJAR
No
Jawaban Responden

F

%
1
2
3
Menyerahkan pada guru sekolah
Diajari sendiri
Mengundang guru privat
14
14
2
46,7
46,7
6,6
30
100
Sumber : Pengolahan data hasil penelitian tahun 2004
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa ada 14 responden yang mempercayakan pada guru sekolahnya, 14 responden yang mengatasi sendiri, dan 2 responden yang mengundang guru privat. Kemudian terakhir bagaimanakah keberhasilan dari proses pendidikan Islam kepada Anak, dapat kita lihat di tabel berikut ini :
TABEL IV
KEBIASAN ANAK MENGUCAPKAN SALAM
No
Jawaban Responden

F

%
1
2
3
Ia, selalu
Tidak
Kadang-kadang
22
8
73,4
26,6
30
100
Sumber : Pengolahan data hasil penelitian tahun 2004
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa ada 22 orang siswa yang sudah terbiasa mengucapkan salam dan ada 8 orang siswa yang masih kadang-kadang. Ini salah satu dari ajaran Islam yang pernah guru ajarkan.
Namun kesemuanya itu tidak lepas dari peran orang tua yang sangat vital dalam mendidik anak-anak mereka. Pemahaman dan pengetahuan akan metode pendidikan yang dilakukan oleh TK ABA Sapen bagi para orang tua sangatlah penting mengingat TK ABA Sapen tersebut tidak mutlak dan utama dalam mendidik anak-anak. Apapun alasannya, pendidik yang utama dan terbaik adalah orang tua, hanya saja para orang tua perlu untuk mendapatkan teori dan metode yang baik serta yang bersifat kreatif inovatif sehingga dalam usaha mendidik anak-anak mereka tidak terasa monoton atau kejenuhan. Karena jiwa manusia, terlebih lagi anak-anak yang suka terhadap hal-hal yang menyenangkan, untuk itu maka cerita merupakan salah satu metode efektif bagi pendidikan Islam untuk anak.
      

Faktor Pendukung dan Penghambat

Dalam melakukan proses belajar mengajar, ada beberapa faktor pendukung dan penghambat dari usaha yang di laksanakan di TK ABA Sapen.
1.      Faktor Pendukung
a.       Guru sudah ahli dalam bercerita sehingga terlihat menarik dan mengasikkan ketika menyimak cerita.
b.      Metode cerita lebih disukai oleh anak-anak, sehingga mereka senang mendengarkan cerita tanpa disadari telah tertanam nilai-nilai Islam serta tidak adanya suatu paksaan.[66]
c.       Para orang tua sangat antusias pada metode ini sehingga tergerak hatinya untuk mencari bahan cerita agar nantinya bisa di sampaikan pada anak-anaknya saat di rumah.[67]
2.      Faktor Penghambat
a.       Kebanyakan orang tua sungkan dan pesimis untuk bercerita kepada anaknya karena merasa kurang mampu.
b.      Kebanyakan orang tua bingung memilih cerita.
c.       Ada perasaan malu pada diri orang tua untuk bercerita kepada anaknya.
d.      Orang tua kurang begitu peduli dengan waktu yang luas, pada hal itu kesempatan yang sangat penting untuk menganjarkan pada anak-anak tentang ajaran Islam melalui metode cerita.[68]

Kelebihan dan Kekurangan

Setiap metode dalam pendidikan apapun pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun yang penting di perhitungkan adalah dalam menetapkan metode, harus mengetahui batas-batas kelebihan dan kekurangan metode yang di gunakan sehingga memungkinkan merumuskan hasil atau pencapaian tujuan. Oleh karena yang di bahas dalam metode ini adalah metode cerita, maka ada baiknya bila di sebutkan beberapa kelebihan dan kekurangan metode ini, serta cara mengatasi kekurangannya.
Kelebihan metode cerita antara lain :
1.      Cerita mampu menarik dan memikat perhatian pendengar tanpa memakan waktu lama.
2.      Cerita mampu menyentuh nurani manusia dalam keadaan utuh dan menyeluruh
3.      Cerita memberikan kesempatan untuk mengembangkan pola pikir kreatif.[69]
4.      Cerita mampu merangsang pendengar atau pembaca untuk mengikuti alur cerita.[70]
5.      Cerita di sukai sesuai dengan sifat alamiah manusia.[71]
Adapun faktor kekurangannya :  
1.      Bila pendengar dan pembaca tidak cerdas, maka akan sulit menangkap pesan-pesan yang ada dalam cerita.
2.      Kebanyakan pendidik merasa pesimis untuk menerapkan metode ini, karena untuk menghasilkan cerita yang baik memerlukan keterampilan tertentu.
3.      Cerita tidak dapat dilakukan terus-menerus, namun membutuhkan waktu-waktu tertentu.
                        Untuk mengatasi kekurangan-kekurangnnya yang ada dalam metode ini ada beberapa hal yang perlu di lakukan, yaitu :
1.      Setelah bercerita di lakukan penjelasan maksud dari cerita yang telah di sampaikan, berikut mengenai nilai-nilai ajaan Islam yang ada dalam cerita.
2.      Perasaan pesimis perlu di hilangakan, untuk bercerita telah banyak ditulis mengenai teori-teori bercerita yang baik dalam buku-buku. Disini tergantung bagaimana pendidik mau mempelajari atau tidak mengenai teori bagaimana bercerita dengan baik.
3.      Disini diperlukan saat/waktu yang tepat agar saat bercerita bisa lebih mengesankan bagi pendengar terutama para anak didik.
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Pendidikan Islam merupakan sesuatu yang sangat penting untuk mengarahkan anak dalam menghadapi masa selanjutnya untuk itulah TK ABA Sapen melakukan hal-hal yang terkait dalam pendidikan Islam dengan metode cerita. Selain metode cerita juga ada metode lain yang dilaksanakan disana diantaranya ; metode bermain, diskusi, tanya-jawab, imtsal, sosiodrama, pemberian tugas, karya wisata, metode bernyanyi dan lain sebagainya.
Dari pemaparan mengenai metode cerita diatas, mulai dari pentingnya cerita sebagai salah satu metode yang efektif dalam pendidikan Islam, sampai dengan menerapkan metode tersebut didalam pendidikan Islam, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Kriteria Cerita yang Baik
Kriteria cerita yang baik menurut para guru TK ABA Sapen adalah cerita yang sesuai dengan ajaran dan mengandung nilai-nilai pendidikan Islam. Untuk mengetahui kualitas sebuah cerita itu baik atau tidak, para guru TKA ABA Sapen mengambil dari jenis cerita. Adapun jenis cerita yang digunakan di TK ABA Sapen sebagai berikut :
Jenis cerita campuran/kombinasi.
Jenis cerita sejarah (tarikh).
Jenis cerita fiksi (khayalan)
Jenis cerita Legenda (fiksi sejarah).
Penerapan Metode Cerita di TK ABA Sapen
Dalam penerapan metode cerita yang dilaksanakan di TK ABA Sapen ada dua hal yang dijadikan panduan, diantaranya :
Persiapan
Untuk menyampaikan sebuah cerita kepada anak persiapan menjadi sangatlah penting, supaya cerita yang disampaikan dapat dengan mudah didahami oleh pendengar.
Penyampaian Cerita
Teknik penyampain cerita juga termasuk hal yang urgen dalam penyampaian cerita, supaya cerita akan menjadi sesuatu hal yang menarik dan tidak menjemuhkan.
Metode cerita dapat dilakukan oleh siapapun, karena setiap orang yang telah mendengar cerita atau dongeng tentunya terdorong untuk menceritakan apa yang telah didapatkan kepada orang lain. 
 

Saran-saran

Dari hasil yang telah penulis lakukan, dapat penulis kemukakan bahwasanya dari pentingnya cerita bagi anak-anak, khususnya dalam proses pendidikan Islam, tidak dapat dilakukan begitu saja oleh satu lembaga pendidikan semata. Jadi dalam hal ini penulis menyarankan agar semua pihak yang terkait dalam pendidikan Islam khususnya anak-anak, baik perorangan maupun kelompok turut serta dalam menggunakan metode cerita dalam mendidik anak-anaknya. Bentuk dari saran penulis antara lain :
Hendaknya para pendidik (guru, orang tua, ulama’ dan lain-lain) dapat menguasai teknik bercerita sehingga dapat mendukung upaya dalam penanaman pendidikan Islam kepada orang lain, terlebih kepada anak-anak.
Walaupun metode cerita sangat efektif terutama dalam penanaman pendidikan Islam bagi anak, namun anak-anak harus dijauhkan dari cerita yang mengandung tema nilai-nilai keburukan. Seperti cerita yang cendrung akan merusak mental anak, misalnya cerita horor, cerita tentag tokoh-tokoh jahat, cerita tentang tokoh-tokoh antagonis yang dari cerita tersebut akan membawa anak-anak kepada hal-hal yang tidak terpuji.
Buat para guru khususnya guru TK yang ingin disenangi oleh anak didiknya, dituntut untuk mempunyai kemampuan dalam bercerita kepada anak.
Buat para orang tua yang menginginkan hubungan dirinya dengan anaknya tambah dekat hendaknya ia rajin bercerita. Walaupun sekarang ini sudah ada televisi dan buku-buku tetapi sebuah cerita / dongeng tetap lebih menarik bagi mereka.
Buat para guru TPA, guru pengajian anak-anak, bahkan seorang mubaligh pun perlu memiliki keterampilan bercerita yang baik dan bagus jika ingin sukses.
Kemampuan bercerita, dalam arti  kemampuan untuk  menggambarkan sesuatu dengan sangat hidup dan meyakinkan dan akan sangat berguna bagi orang yang bekerja melayani orang lain.
Adabaiknya bila metode cerita dimasukkan dalam pelajaran-pelajaran, baik dalam pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah.

Kata Penutup

Demikianlah hasil perjalanan penulis dalam penelitian ini, tentunya disana-sini masih banyak kesalahan dan kekurangan baik dalam penulisan maupun dalam penyusunan “Tak ada gading yang tak retak” itu kata pepatah lama.namun penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan sebuah karya yang sekiranya akan bermanfaat bagi para pendidik , calon pendidik dan bagi para orang tua serta bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan pendidikan terutama pendidikan Islam dan lebih khusus lagi untuk anak-anak. Karena pendidikan akan lebih berhasil dan dapat tertanam dalam diri manusia ketika pendidikan dimulai sejak dini. Dengan metode yang tertulis dalam karya yang sederhana ini penulis berharap agar salah satu metode ini (cerita) selalu mendapat tempat dihati dan pikiran para pendidik mengingat, mengingat salah satu metode yang efektif dalam pendidikan Islam, metode ini juga banyak sekali menfaatnya dalam kaitannya dengan hubungan komunikasi antara pendidik dan yang terdidik.

Semoga ini dapat bermanfaat, penulis mengharapkan kepada semua pihak untuk memberikan masukan dan kritik yang konstruktif guna kesempurnaan penulisan ini.    

 

 

Keadaan Guru dan Siswa

Kedaan Guru

Guru persyerikatan                  : 5 Orang
Guru DPK                               : 1 Orang
Guru Persyarikatan                 : 1 Orang
Pesuruh Persyarikatan             : 1 rang
Jumlah                                     : 8 Orang

Tenaga Guru Persyarikatan Sejak Sekolah Berdiri

  1. Bapak Sutrisno
  2. Ibu Raminah
  3. Ibu Sri Puji
  4. Ibu Marsihwati
  5. Ibu Zulfa
  6. Ibu Busro
  7. Ibu Isnindiyah
  8. Ibu Nining Haihati
  9. Ibu Rohani
  10. Ibu Siti Arifah
  11. Ibu Sumarsih
  12. Ibu Fatmiriana

Tenaga Guru DPK / Depag Sejak Berdiri

  1. Ibu Budi
  2. Ibu Nuryati
  3. Ibu Uswatun
PENGURUS UKS DAN KEGIATAN SEHARI-HARI
TAMAN KANAK-KANAK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN YOGYAKARTA
Pembina      : Bpk. Krissusetyo                            (Lurah Demangan)
Koordinator         : Ibu Siti Arifah                       (Guru TK)
Ketua                   : dr. Ana M                              (Komite)
                     Drg. Wahyu Sediasih            (Puskesmas)
Sekretaris   : Ibu Fatmiriana                       (Guru TK)
                     Ibu Suryadi                                     (Komite)
Bendahara  : Ibu Rohani                                      (Guru TK)
                     Ibu Atik Widagdo, SH           (Komite)
Bagian Gizi : Ibu Kunto Wibisono                       (Komite)
                     Ibu Kustilah                                    (Komite)
                     Ibu Endang Setiyawati          (Komite)
Bagian Sosial       : Ibu Lusi Andini                     (Komite)
                     Ibu Sri Wahyuni                    ((Komite)
Anggota      : Ibu Dra. Djalidar Martono              (Aisyiyah)
                     Ibu Silan Karjanto                          (Aisyiyah)
                     Ibu Slamet PS                        (Aisyiyah)
                     Ibu Hj Marsum                      (Aisyiyah)
                     Ibu Jeje Zainuddin                           (Aisyiyah)
                     Ibu Ir. Anida                                   (Aisyiyah)                                        
PEMBAGIAN TUGAS / KERJA GRU TKA AISYIYAH SAPEN YOGYAKARTA

TUGAS

PENANGGUNG JAWAB
1.      FISIK
a.       Fisik Sekolah / Pergedungan
b.      Sarana dan Prasarana
c.       Halamn dan Pekarangan
d.      Perpustakaan
Ibu Sumarsih, S.Pd
Ibu Nining Haihati
2.      TENAGA KEPENDIDIKAN
  1. Kepala Sekolah
  2. Guru
  3. Tenaga Non Guru
Ibu Rohani
Ibi Fatmiriana
3.      KURIKULUM
  1. Melaksanakan BKB TK ‘Aisyiyah
  2. Melaksanakan  GBBP ‘Aisyiyah
  3. Ke-Aisyiyahan
  4. Ke-Muhammaddiyaan
  5. Ekstra Kurikuler
  6. Pengetrapan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Ibu Siti Arifah
Ibu Nueryatio
4.      KEGIATAN SEKOLAH
  1. Anggota Siaran
  2. Peringatan Hari-hari Besar Agama / Nasional
  3. Kegiatan Publikasi Media Komunikasi
  4. Hubungan Masyarakat
Ibu Isnindiyah
5.      RUANG UKS
Ibu Arifah
6.      PROGRAM UNGGULAN
Semua Guru
GURU TK IDEAL
  1. Selalu berpakaian yang rapi da bersih
  2. Menunjukkan kasih saying kepada anak
  3. Periang
  4. Menggunakan bahasa sederhana, baik, benar dan dimengerti anak
  5. Pandai bergaul dan bermain dengan anak
  6. Mencip[takan suasana sekolah yang menyenangkan
  7. Memberikan tauladan yang baik da;lam tingkah laku
  8. Memperhatikan kesehatan dan kebersihan anak
  9. Menanamkan sopan santun kepada anak
  10. Berlaku adil terhadap anak
 
Kedaan Siswa
Kelompok A               : 26 Anak : Laki-laki = 14 Anak,  Perempuan = 12 Anak
Kelompok B 1             : 25 Anak : Laki-laki = 10 Anak,  Perempuan = 15 Anak
Kelompok B 2             : 26 Anak : Laki-laki = 11 Anak,  Perempuan = 15 Anak
Jumlah                         : 77 Anak : Laki-laki = 35 Anak,  Perempuan = 42 Anak
JADWAL KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
DI TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN
YOGYAKARTA
1.      Pembukaan  + 45 Menit
Ø  Do’a Pembukaan
Ø  Salam
Ø  Hafalan :
Surat-surat Pendek
Do’a Sehari-hari
Bacaan Shalat
Hadits Sederhana
Ø  Mengucap Ikrar
Ø  Menyanyi Mars TK Aisyiyah
Ø  Menyanyi, Syair dll.
2.      Inti + 60 Menit
3.      Istirahat + 30 Menit
Ø  Cuci tangan
Ø  Do’a mau makan
Ø  Membersihkan tempat
Ø  bermain
4.      Penutup + 15 Menit
Ø  Do’a Penutup
Ø  Kalimat Ihsan/Baik
Ø  salam
5.      Ekstrakurikuler + 45 Menit
JADWAL KEGIATAN BELAJAR EMNGAJAR
 FULL DAY DI TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN YOGYAKARTA
  1. Jam 11: 00 – 11: 30 : Kegiatan Interaktif
  2. Jam 11: 30 – 13: 00 : SHOMA (Istirahat Shalat Makan)
3.                                                                              Jam 11: 30 – 14: 00 : IQRO’/ hapalan Hadits / Surat-surat Pendek / Ayat-ayat  Pilihan / Bacaan Shalat / Bermain / Bermain terpimpin.
  1. Jam 14: 00 – 14: 15 : Makan Snack
  2. Jam 14: 15 – 15: 00 Baca / Tulis / Berhitung
 
IKRAR TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN
YOGYAKARTA

Bismillahhirrohmanirrohim

IKRAR

  1. Anak Bustanul Athfal Berjanji
  2. Menjunjung tinggi perintah agama Islam
  3. Hormat dan patuh kepada orang tua dan guru
  4. Berguna bagi agama masyarakat dan negara
  5. Bersikap jujur tertib dan sopan
  6. Rajin mengaji belajar dan beramal

Alhamdulillahirobbil’alamin

ANGKET UNTUK PENELITIAN
( Subjek : Wali Siswa TK ABA)

Pengantar

Assalamualakum Warahmatullahi Wabarokatu
            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah AWT. Yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita sekalian. Shalawat beriring salam kita curahkan kepada kekasih kita, junjungan kita nabi besar Muhammad saw.
            Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri saya kepada Bapak dan Ibu Wali Siswa TK ABA, bahwa saya yang bernama Habibi saat ini masih menempuh study di IAIN SU-KA semester akhir. Adapun maksud kedatangan saya ditengah-tengah para Wali Siswa sekalian adalah bermaksud ingin mengadakan penelitian ilmiah (skripsi) sebagai tugas akhir saya, dengan judul “Metode Cerita Dalam Pendidikan Islam di TK ABA Sapen”. Oleh karena itu saya sangat mengharapkan kemurahan hati Bapak/Ibu sekalian agar dapat membantu saya dalam penelitian ini dengan berkenan mengisi angket yang saya berikan dengan sebaik-baiknya. Dan bagi saya tak ada kata yang dapat saya ucapkan atas bantuannya, kecuali rasa terima kasih yang sedalam dalamnya, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan semoga Allah SWT. menjadikan kebaikan Bapak dan Ibu sekalian sebagai amal jariah, …Amin Ya Robbal Alamin
Jazakumullahu Khoiron Katsiroh.
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatu.

Identitas Resonden

  1. Nama   Wali                             :
  2. Umur                                       :
  3. Jenis Kelamin                          :
  4. Alamat                                                :

III   Jawablah Pertanyaan dibawah ini dengan sebaik-baiknya

Petunjuk Pengisian :
  1. Bacalah pertanyaan dibawah ini dengan sebaik-baiknya !
  2. Pilihlah salah satu jawaban dari pertanyaan dibawah ini yang sesuai dengan keadaan sesungguhnya !
  3. Berilah tanda kurung ( ) pada jawaban yang anda pilih !
Pertanyaan
1.      Apakah putra/putri Ibu/Bapak sudah mengucapkan salam “Assalamu’alaikum”. Setiap berangkat dan pulang sekolah ?
a.       Ya, selalu diucapkan
b.      Tidak
c.       Kadang-kadang
2.      Apakah putra/putri Ibu/Bapak sudah salim (cium tangan)pada saat berangkat dan pulang sekolah ?
a.       Ya, selalu
b.      Tidak pernah
c.       Kadang-kadang
3.      setiap mau berangkat sekolah, meninggalkan rumah, apakah putra/putri Ibu/Bapak selalu ?
a.       berdoa terlebih dahulu
b.      menangis dan bermalas-malasan
c.       membawa mainan
4.      Apakah Ibu/Bapak sering menanyakan pelajaran yang diberikan kepada anak?
a.       Ya
b.      Tidak
c.       Kadang-kadang
5.      Apakah putra/putri Ibu/Bapak sudah melaksanakan shalat 5 waktu sewaktu dirumah ?
a.       Ya, selalu
b.      Tidak
c.       Kadang-kadang
6.      Apakah Ibu/Bapak menerapkan jadwal belajar dirumah bagi putra-putrinya?
a.       Ya
b.      Tidak
c.       Terserah
7.      Apakah putra/putri Ibu/Bapak sudah mengenal huruf-huruf Arab (Baca Qur’an) ?
a.       Ya
b.      Belum
c.       Tidak tahu
8.      Jika pilihan diatas ia dimanakah putra/putri Ibu/Bapak belajar ?
a.       Di sekolah
b.      Mengundang guru privat
c.       Di Masjid
9.      Jika pilihan diatas belum apakah ada usaha/upaya yang Ibu/Bapak lakukan?
a.       Menyerahkan pada guru sekolah
b.      Diajari sendiri
c.       Mengundang guru privat
10.  Seandainya putra/putri Ibu/Bapak mencuri (mengambil barang orang lain tanpa izin) hukuman apa yang Ibu/Bapak berikan ?
a.       Memarahi dan memukulnya
b.      Menasehatinya bahwa itu perbuatan dosa
c.       Membiarkan saja
11.  Jika putra/putri Ibu/Bapak bertutur kata yang tidak sopan apa yang Ibu/Bapak lakukan ?
a.       Melaporkan kepada guru sekolahnya
b.      Menasehatinya
c.       Memarahi dan memukulnya
12.  Apakah putra/putri Ibu/Bapak dibiasakan membantu kegiatan dirumah ?
a.       Sering sekali
b.      Kadang-kadang
c.       Amat sulit
13.  Pernahkah Ibu/Bapak bercerita atau mendongeng untuk putra/putri (Ibu/BapakO) setiap mau tidur ?
a.       Pernah
b.      Tidak pernah
c.       Kadang-kadang
14.  Cerita/dongeng apa saja yang ibu/Bapak sampaikan kepada Putra/putri Ibu/Bapak ?
a.       Cerita Nabi-nabi dan Islami
b.      Cerita Bebas/umum
c.       Cerita Horor/hantu
 
    
INTERVIEW GUIDE
                                           (PEDOMAN WAWANCARA)            
Topik :
“Metode Cerita Dalam Pendidikan Islam” (Diskripsi Dan Penerapannya)
  1. Mengingat banyaknya metode yang di gunakan dalam pendidikan, maka dalam rangka membentuk anak-anak yang berkualitas, cerdas, terampil dan sehat. Usaha-usaha/metode apa saja yang telah di lakukan oleh TK ABA selama ini ?
  2. sesuai dengan usianya anak-anak TK tentunya sangatlah sulit menanamkan niali-nilai agama tanpa contoh-contoh kongkrit. Bagaiman gurupengajar mempersiapkan penyajian ini ?
  3. menyanyi, menari, bercerita, membuat hast karya (kerjinan tangan) adalah kegiatan sehari-hari yang tidak pernah berhenti di TK ABA ini. Bagaimana upaya sekolah, guru membagi jam-jam pengjaran secara proporsional ?
  4. Dalam pengajaran tentunya menggunakan alat bantu atau alat peraga. Apakah dalam metode cerita dalam pendidikan Islam mendapatkan kesulitan-kesulitan, kendala baik secara Internal maupun secara Eksternal ?
  5. Acuan atau sumber-sumber yang di gunakan dalam pengajaran apakah di rasakan ada banyak faktor-faktor penghambat ?
  6. Pedoman yang di gunakan guru atau pengajar dalam memilh buku-buku cerita yang bermutu dan memiliki nilai-nilai Islami ?
  7. Kekuatan cerita, dongeng, kisah sangatlah tidak di ragukan lagi dalam rangka membantu pribadi anak. Bagaimana pendapat Ibu ?
  8. Pengajaran di sekolah dan pendidikan di rumah haruslah seimbang komunikasikan hal ini kepada orang tua siswa ?
  9. Kriteria apa yang digunakan sekolah guru dalam memilih bacaan/buku-buku cerita yang baik ?
  10. Tidak semua orang tua atau guru di dalam kelas pandai bercerita. Bagaiman pendapat dan kesannya tentang ini ?
  11. Penanaman etika, moral dan sopan santun serta kedisiplinan proses pendidikan yang panjang dan butuh keteladanan, bagaimana menurut pendapat Ibu ?
  12. Untuk membantu perkembangan imajinasi anak. Di dalam kelas siswa sering di minta untuk mengulang, menghafal cerita-cerita pendek. Apakah setuju dengan metode ini ?
  13. Tugas-tugas keguruan sangtlah banyak apalagi di era sekarang iniglobalisasi pengaruh TV, CD, Film kartun dan bacaan menerpa anak-anak
Bagaimana antisipasi guru dalam hal ini ?
  1.  Banyak cerita buku-buku bacaan layak di baca, namun harganya mahal. Bagaimana mengatasi problema ini ?
  2. Mengajar tentunya memerlukan persiapaan-persiapan khususnya untuk metode cerita ini pengayakan guru bagaimana ?

[1] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, Untuk Fakultas Tarbiyah komponen MKDK, (Bandung : Pustaka Setia, 1998), Hal. 123
[2] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembimbing dan Pengembangan Bahasa Dep.  Pendidikan dan Kebudayaan Kamus Besar Bahasa Indonesia.(Jakarta : Balai Putaka, 1989), Hal. 581
[3] W.J.S. Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia,(Jakarta : Balai Pustaka, 1976), Hal. 202
[4] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Op. Cit, Hal. 204
[5] Ahmad Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : PT. Al-Ma’arif, 1964), Hal. 19
[6] Sayid Sabiq, Aqidah Islam (Ilmu Tauhid), (Bandung : CV. Diponegoro, 1988), Hal. 15
[7] Muslih Usa (ed.), Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta : PT. Tiara Wacana, 1991), Hal. 99
[8] W.J.S. Poerwodarminto, Op. Cit, Hal. 1000
[9] Mahmud Yunus, Tafsir Qur’an Karim,(Jakarta : P.T. Hida Karya Agung, 1992), Hal. 839
[10] Shahihul Muslim, Al-Washiyah, No. 3083
[11] H.M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1994), Hal. 3
[12] Ibid, Hal. 11
[13] Ashari Ali, Horison Baru Pendidikan Islam, (Jakarta : Pustaka Firdaus, Cet II, 1997), Hal. 107
[14] Hamdani Ihsan, , Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 1998), Hal. 163
[15] T. Handayu, Memaknai Cerita Mengasah Jiwa, (Solo : Era Intermedia, 2001), Hal. 17
[16]  Ibid, Hal. 103
[17] Abdul Aziz Abdul Majid, Mendidik Dengan Cerita, (Bandung : Remaja Rosda Karya,Cet II, 2002), Hal. VIII
[18] Abdurrahman Umdirah, Metode Al-Qur’an Dalam Pendidikan, Pent. Abdul Hadi Basulthanah, (Surabaya : Mutiara Ilm.t.t.), Hal. 246
[19] A. Hanafi, Segi-segi Kesusastraan pada Kisah-kisah Al-qur’an, (Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1984), Hal. 22 
[20] Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, Pent. Salman Harun, (Bandung : PT. Alma’arif, 1993), Hal. 382
[21] Jamaluddin dan Abdulah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam Untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKK, (Bandung : Pustaka Setia, 1998), Hal. 9
[22] T. Handayu, Op. Cit, Hal. 74
[23] Jaudah Muhammad Anwad, Mendiddik Anak Secara Lisan, (Jakarta, Gema Insani Press, 1995), Hal. 3
[24] NH. Bamabang Bimo Suryono, Memahami Berbagai Aspek Bercerita,(ARDIKA SPA Yogyakarta), Hal 3.
[25] Abdul Aziz Abdul Majid, Op. Cit, Hal. 30
[26] Sukanto SA. Seni Bercerita Islami, (Cimanggis Depok : Bina Mitra Press, Cet. II, 2001), Hal. 20
[27] Sukanto SA, Op. Cit, Hal. 21
[28] T. Handayu, Op. Cit, Hal. 116
[29] Ibid, Hal. 124
[30] Ibid, Hal. 47-54
[31] Winarno Surakhmad, Pengembangan penelitian ilmiah,  (Bandung; Tarsito, 1989), Hal. 146.
[32] Sumadi Surya Brata, Metodologi penelitian, (Jakarta; Rajawali Press, 1995). Hal 19.
[33] Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu social lainnya, (Bandung; Remaja Rosda Karya, 1995), Hal. 57.    
[34] S. Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah), (jakarta; Bumi Aksara, 2003), Hal. 101.
[35] Ibid, Hal. 113
[36] Koentjaningrat, Metode-metode penelitian masyarakat, (Jakarta; Gramedia, 1980). Hal 162.
[37] Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta; Ghalia Indah, 1988), Hal. 234.
[38] Anas Sudijono, Pengantar statistik pendidikan, (Jakarta; Rajawali Press, 2000), Hal. 27.
[39] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, (Jakarta; Cipta karya, 1991), Hal. 20.
[40] Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek, (Jakarta; Rineka Cipta, 1998), Hal. 236.
[41] Lexy J Moeloeng, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung : Rosda Karya, 2000), Hal. 103.
[42] Anas Sudjiono, Op. Cit, Hal. 40
[43] Hasil wawancara dengan ibu Siti Arifah (Kepala Sekolah ), pada tanggal 12 Juni 2004
[44] Dikutip dari arsip TK ABA Sapen (sejarah berdirinya TK ABA Sapen)  Tgl. 16 Juni 2004
[45] Ibid
[46] Hasil obsevasi disekolahan, dipertajam dengan wawancara bersama ibu Siti Arifah (Kepala Sekolah), yang dilakukan pada tanggal 16 Juni 2004
[47] Mahmud Yunus, Mendidik Khusus Pendidikan Agama, (Jakarta : Hidakarya agung, 1983), Hal. 9
[48] Ibid, Hal. 10
[49] Wawancara dengan Sumarsih (Guru Tetap), Tgl. 16 Juni 2004
[50] Wees Ibnu Sayy, Sebagaimana di muat dalam Majalah GATRA, Dongeng Mendorong Minat Baca, 25 Oktober 1997
[51] Pengamatan penulis saat mengikuti pelajaran cerita, serta dipertajam dengan wawancara dengan ibu Miskiyah (guru TPA), Tgl 16 Juni 2004
[52] Bicara santai dengan anak-anak, sesaat setelah cerita selesai dalam pelajaran cerita. sapen 16 Juni 2004
[53] Ibu Miskiyah, Op. Cit, 16 Juni 2004
[54] Pengamatan penulis saat mengikuti pelajaran cerita, dengan ibu Sumarsih (Guru Tetap), Tgl 23 Juni 2004
 [55]  Ibid.
[56] Alex Sobur, Anak Masa Depan, (Bandung : Angkasa, 1991), Hal. 245
[57] Jaudah Muhammad Anwad, Op. Cit, Hal. 17-18 
[58] Dept. Pendidikan dan Kebudayaan, Kurikulum Taman Kanak-kanak, 1994, Hal. 10
[59] Ibid
[60] Ibu Siti Arifah (Kepala Sekolah), Op, Cit. Tgl. 16 Juni 2004
[61] Ibid.
[62] Wawancara dengan Ibu Siti Arifah (Kepala Sekolah), Tgl 15 Juni 2004
[63] Pengamatan penulis saat mengikuti pelajaran cerita, serta dipertajam wawancara dengan ibu Miskiyah (guru TPA), Tgl. 16 Juni 2004.
[64] Pengamatan penulis saat mengikuti pelajaran cerita, serta dipertajam dengan Wawancara dengan ibu Nurhayati (wali siswa), Tgl. 18 Juni 2004
[65] Ibid.
[66] Wawancara dengan dengan ibu Miskiyah (guru TPA), Tgl 16 Juni 2004
[67] Wawancara dengan ibu Nurhayati (wali siswa), Tgl 18 Juni 2004
[68] Ibid
[69] Abdurahman An-Nahlawi Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam Dalam Keluarga, sekolah dan Masyarakat, Bandung : Diponegoro, 1992 hal. 332-335.
[70] A. Hanafi, Op.Cit, Hal. 22.
[71] Muh. Quth, Op. Cit, Hal. 347.
unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "METODE CERITA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI TAMAN KANAK-KANAK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN"