METODE MELATIH KECERDASAN EMOSIONAL PADA ANAK

Tidak ada komentar 161 views
unmetered
unlimited
METODE MELATIH KECERDASAN EMOSIONAL PADA ANAK

(Studi Pada Ketrampilan Guru Melatih Kecerdasan Emosional Siswa

SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta)
Oleh Team www.web.unmetered.co.id
BAB. I

PENDAHULUAN

A. PENEGASAN ISTILAH
Untuk memperoleh gambaran dan pengertian yang jelas serta untuk menghindari salah tafsir tentang judul ini, maka dianggap perlu untuk memeberi penegasan istilah berkaitan dengan judul ini.
     Metode  berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari kata meta yang berarti melalui dan hodos yang berarti jalan. Jadi metode adalah jalan yang dilalaui.[1]Metode juga berarti cara kerja yang sistematis untuk mempermudah suatu kegiatan dalam mencapai  maksudnya.[2]
Penggunaan istilah metode dalam penelitian ini dengan maksud menyelidiki tentang berbagai cara yang digunakan sesuai dengan obyek yang diteliti.
2. Melatih Kecerdasan Emosional pada Anak
Melatih dapat diartikan dengan membiasakan diri atau belajar.[3]Menurut Daniel Goleman dalam bukunya “Emotional Intellegence”, Kecerdasan emosional adalah kemampuan memahami perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi yang baik pada diri sendiri dan hubungannya dengan orang lain.[4]
Jadi Emotional Intellegencemerupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memanage emosinya supaya dapat terarah, sehingga emosi dapat digunakan secara proposional pada saat melakukan suatu tindakan serta dapat mengenali efek positif dan efek negatif dari emosi itu.
Anak adalah seseorang yang pada suatu masa dan perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi cerdas.[5]Sedangkan anak menurut Zakiah Daradjat adalah manusia kecil yang berkisar antara umur 0-12 tahun.[6]Dengan demikian, yang dimaksud dengan melatih kecerdasan emosional pada anak dalam penelitian ini ialah memberikan pembelajaran atau pembiasaan diri pada anak, khususnya anak pada umur sekitar 6–9 tahun tentang kemampuan memahami perasaannya sendiri, orang lain, memotivasi diri dan juga mampu memanage emosinya secara proposional.
3. Studi
Studi berasal dari bahasa Inggris Study, diIndonesiakan melalui proses peminjaman kata dari bahasa asing dengan mengagantikan huruf y memjadi I, kemudian studi mempunyai arti penyelidikan.[7]
Agar lebih operasional, maka studi pada penelitian ini diartikan sebagai suatu penyelidikan tentang metode yang digunakan guru dalam melatih kecerdasan emosional siswa.
4. Praktek
Menurut Peter Salim dan Yenny Salim, praktek adalah cara pelaksnaan teori secara nyata.[8]Praktek yang dimaksud dalam skripsi ini adalah praktek guru dalam mengenali emosi siswa, mengendalikan perilaku–perilaku negatif siswa, menjalin komunikasi secara empatik, dan menanamkan nilai–nilai emosional dan sosial, seperti; kedisiplinan, kemandirian, motivasi diri, ketekunan, ketrampilan berkomunikasi dan tata krama sosial. Siswa di sini dikhususkan pada siswa kelas rendah yaitu kelas I, II, dan III sekolah dasar.
5. SD Muhammadiyah Suronatan
Adalah merupakan salah satu instansi sekolah yyang dirintis oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan yang didirikan pada tahun 1918. Sekolah ini berada dibawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka maksud dari judul skripsi “METODE MELATIH KECERDASAN EMOSIONAL PADA ANAK (Studi Pada Praktek guru Melatih Kecerdasan Emosional Siswa di SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta), adalah penelitian lapangan yang berusaha menggambarkan mengemukakan dan menguraikan data atau informasi sebagaimana adanya tanpa memberikan perlakuan terhadap subyek penelitian.

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Setiap anak yang lahir normal, baik fisik maupun mentalnya berpotensi menjadi cerdas. Hal yang demikian terjadi, karena secara fitrah manusia dibekali potensi kecerdasan oleh Allah SWT. Dalam rangka mengaktualisasikan dirinya sebagai hamba (`abid ) dan wakil Allah (khalifah) dimuka bumi.[9]Sebagaimana dalam firman Allah dalam surat al–Baqarah ayat 30:
واذ قال ربّك للملآئكة انّى جاعل فى الارض خليفة قلى قالوآ اتجعلمن فيها يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك  ونقدّس لك قلى قال انّى علم مالا تعلمون.(البقرة : 30)   
                                                      
 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:” Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi”, mereka berkata: “ Mengapa    Engkau  hendak   menjadikan khalifah di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesunguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.[10]
Demikian pula dengan pendapat Al-Ghazali bahwa:
“Anak dilahirkan dengan membawa fitrah yang seimbang dan sehat. Kedua orang tuanyalah yang memberikan agama kepada mereka. Demikian pula anak dapat terpengaruhi sifat–sifat yang buruk. Ia mempelajari sifat–sifat yang buruk itu dari lingkungan yang dihadapinya. Dari corak hidup yang memberikan peranan kepadanya dan dari kebiasaan–kebiasaan yang dilakukanya. Ketika dilahirkan, keadaan tubuh anak belum sempurna, kekurangan ini diatasinya dengan latihan dan pendidikan yang ditunjang dengan makanan. Demikian pula halnya dengan tabiat yang difitrahkan. kepada anak yang merupakan kebajikan yang diberikan al- Khalik kepadanya”.[11]
Pada masa sekarang ini, peran keluarga mulai melemah dikarenakan perubahan sosial, politik dan budaya yang terjadi. Keadaan ini memiliki andil yang besar terhadap terbebasnya anak dari kekuasaan orang tua, keluarga telah kehilangan fungsinya dalam perkembangan emosi anak.
Kehidupan anak-anak yang sudah memasuki usia sekolah sebagian waktunya dihabiskan di sekolah mulai pagi hingga siang hari. Hal ini tidak menutup kemungkinan bahwasanya mereka pun berinteraksi dengan gurunya dan teman-temannya, hasil interaksi inipun akan mempengaruhi pola perilaku mereka. Oleh karena itu sekolah merupakan rumah kedua setelah kehidupan mereka bersama orang tua dan saudaranya di rumah, di mana mereka dapat bermain dan belajar.
Pengaruh dari adanya perubahan sistem politik, sosial dan budaya yang menyebabkan melemahnya fungsi keluarga terhadap perkembangan emosi anak, maka peran sekolah di sini sangat penting dalam pembentukan pola perilaku anak-anak.
Pelaksanan pendidikan tidak mungkin lepas dari faktor-faktor psikologis manusia di samping faktor lingkungan sekitar, maka dalam proses pengajaran perlu bahkan wajib berpegang pada petunjuk-petunjuk dari para ahli psikologi terutama psikologi pendidikan dan psikologi perkembangan, termasuk psikologi agama. Menurut Al-Farabi dalam buku “Risalah Fissiyasah”, bahwasanya perlu untuk memperhatikan faktor pembawaan dan tabiat anak-anak. Anak-anak berbeda pembawaanya satu sama lain. Oleh karena itu apa yang diajarkan harus sesuai dengan perbedaan pembawaan dan kemampuan itu.[12]
Namun selama ini hanya sedikit orang tua yang memperhatikan perkembangan kejiwaan anak secara universal. Orang tua biasanya hanya memperhatikan pada aspek jiwa yang langsung dapat teramati saat itu juga. Seperti pada perkembangan aspek kognisi, orang tua akan merasa sangat bahagia bila anaknya yang masih balita sudah dapat menghafal abjad ataupun mengenal bahasa asing. Mereka tidak sadar bahwa anak akan mempunyai masalah-masalah di masa depan yang penyelesainya tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan orang tua dalam mengembangkan aspek kognisinya atau IQ (Intelellegence Qoutien)-nya, namun tak kalah penting adalah keberhasilan pengembangan aspek emosi anak juga merupakan salah satu faktor penting yang mementukan keberhasilan anak di masa depan.
Dalam kaitannya dengan hubungan tersebut maka upaya untuk membangun dan mengembangkan kecerdasan emosional anak patut diperhatikan karena secara psikologis bukan pikiran rasional saja yang dapat membantu anak mengalami perkembangan, tetapi pikiran emosional juga memberi dampak efektif. Hal ini melihat bahwa masa anak merupakan saat yang tepat untuk menerima dan menyerap informasi-informasi baru.
Jadi agar kecerdasan emosional anak dapat berjalan dan berkembang dengan baik, maka seyogyanya diberikan pendidikan dan bimbingan yang dilakukan oleh orang tua, dalam hal ini yang paling berkompeten adalah guru kepada siswa dalam masa pertumbuhannya agar ia memiliki kepribadian dan kecerdasan yang cemerlang baik kecerdasan logika maupun kecerdasan emosi.
Demikian uraian-uraian yang menjelaskan tentang betapa pentingnya arti kecerdasan emosional bagi kehidupan modern dewasa ini, yang dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan hidup. Maka kecerdasan emosional ini semakin perlu dipahami, dimiliki dan diperhatikan dalam pengembanganya karena mengingat kondisi kehidupan dewasa ini yang semakin kompleks. Kehidupan yang semakin kompleks ini memberikan dampak yang sangat buruk terhadap konstelasi kehidupan emosional individu. Dalam hal ini, Daniel Goleman mengemukakan hasil survey terhadap para orang tua dan guru yang hasilnya menunjukkan bahwa ada kecenderungan yang sama di seluruh dunia, yaitu generasi sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya. Mereka lebih kesepian dan pemurung, lebih beringasan dan kurang menghargai sopan-santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif.[13]
Dengan melihat hasil penemuan dari Daniel Goleman yang mengarah pada arti penting kecerdasan emosional (EQ) bagi kehidupan manusia dewasa ini. Khusus bagi anak-anak, ketrampilan kecerdasan emosional (EQ) perlu disuguhkan sedini mungkin agar nantinya anak-anak (siswa) ini dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat secara moral, emosional, dan sosial.
Merupakan tugas yang berat bagi orang tua dalam memilih sekolah yang berkualitas bagi pendidikan anak-anaknya. Sekolah pada umumnya jarang ditemukan adanya pendidikan yang berorientasi tidak hanya pada aspek kognitif dan psikomotirik saja melainkan aspek emosional siswanya pun mendapatkan posisi yang cukup penting diperhatikan. Seperti keberadaan SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta menempati posisi yang cukup diperhitungkan sebagai instansi yang patut dipilih bagi pendidikan anak-anak sekarang. Karena sekolah tersebut mempunyai iklim yang bagus bagi perkembangan emosional siswa.
Iklim yang mendukung terciptanya kecerdasan emosional anak ini nampak pada aktivitas belajar-mengajar baik di dalam maupun di luar kelas. Pola-pola kecerdasan emosional yang dikembangkan guru di dalam kelas dengan jalan mengintegrasikan dengan tiap-tiap mata pelajaran yang diajarkan guru. Hal ini dikarenakan banyaknya beban kurikulum yang harus diajarkan guru dan tidak tersedianya waktu yang memungkinkan bagi mereka untuk memberikan pelatihan kecerdasan emosinal secara khusus.
Dengan mempertimbangkan keterbatasan kemampuan penulis dalam memahami persoalaan kecerdasan emosional, khususnya tentang perkembangan kecerdasan emosional anak. Maka dalam penelitian ini penulis berusaha untuk menuangkan berbagai masalah emosional siswa yang dihadapi guru beserta  cara-cara guru dalam melatih kecerdasan emosional siswa di SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta. 
C. RUMUSAN MASALAH
Bertolak dari latar belakang masalah maka selanjutnya dapat dirumuskan permasalahan yang menjadi fokus dalam penelitian ini yaitu:
1.      Apa saja masalah-masalah emosional siswa yang dihadapi guru SD Muhmmadiyah Suronatan Yogyakarta?
2.      Bagaimana perspektif kecerdasan emosional bagi anak menurut SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta?
3.      Bagaimana cara guru melatih kecerdasan emosional siswa di SD  Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta?
D. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui masalah-masalah emosional siswa yang dihadapi guru SD Muhammdiayh Surontan  Yogykarta.
2. Untuk mengetahui perspektif kecerdasan emosional (EQ) menurut guru SD  Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta.
3.Untuk mengetahui cara-cara guru melatih kecerdasan emosional (EQ) siswa di SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta.
E. MANFAAT PENELITIAN.
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Bagi guru, penelitian ini menjadi umpan balik (feed back) dalam rangka meningkatkan kemampuan mengajarnya agar tidak semata mementingkan aspek kogntif, tapi juga memperhatikan aspek emosi peserta didik.
2. Bagi masyarakat umum, penelitian ini memberikan informasi tentang kecakapan guru dalam melatih kecerdasan emosional (EQ) kepada anak, khususnya siswa kelas I, II, dan III SD.
3. Menambah referensi bahan kajian ilmu, khususnya dalam wilayah ilmu Bimbingan dan Penyuluhan Islam tentang melatihS kecerdasan emosional anak.
F. KERANGKA TEORI.
1. Tinjauan Tentang kecerdasan Emosional (EQ).
a. Definisi Kecerdasan Emosional (EQ).
Untuk memahami kecerdasan emosional secara komprehensif, peneliti akan memaparkan terlebih dahulu makna dari emosi itu sendiri.  Hal ini dimaksudkan agar pijakan awal dalam membahas kecerdasan emosional tidak mengambang. Namun sebelum memaparkan definisi emosi, akan peneliti kemukakan mengenai kondisi-kondisi yang mendasari emosi. Kondisi-kondisi tersebut adalah:
a.       Perasaan, misalnya perasaan takut
b.      Impulsif dan dorongan, misalnya dorongan untuk melarikan diri
c.       Persepsi atau pengamatan, tentang apa-apa yang membangkitkan emosi.[14]
Demikian pula dalam bukunya Syamsu Yusuf LN, tertuang di dalamnya tentang pendapatnya Sarlito Wirawan mengenai emosi, bahwa menurutnya emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah atau dangkal maupun pada tingkat yang luas atau mendalam. Yang dimaksud warna afektif ini adalah perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi ( menghayati ) suatu situasi tertentu. Contohya; gembira, bahagia, putus asa, terkejut, benci atau tidak senang dan sebagainya.[15]
Berangkat dari kerangka dasar tentang emosi, sebuah teori yang komprehensif tentang emosi kaitannya dengan kecerdasan emosional yang dikemukakan pada tahun 1990 oleh Peter Soluvey dan John Mayer, mereka mula-mula mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi yang baik pada diri sendiri maupun orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.[16]Selanjutnya Goleman juga mengemukakan tentang kecerdasan emosional, yaitu kemampuan seperti kemampuan memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengandalkan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar bebas dari stress, tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa.[17]
Sebenarnya teori Goleman tersebut dapat disimpulkan dalam perubahan-perubahan Bahasa Arab, “Man Shobaro Dzofaro”, artinya “Barang siapa yang bersabar, ia akan sukses” peribahasa ini bisa disimpulkan bahwa orang yang sukses dalam hidupnya adalah orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi atau orang yang sabar. Keadaan ini menunjukan bahwa ada hubungan antara sukses dan kecerdasan. Kecedasan bias dibentuk dengan melatih kesabaran dan tekun dalam menempuh perjalanan sabar, seperti itulah seorang sufi yang menempuh perjalanan menuju Allah SWT. Ia tempuh berbagai bencana tetapi ia tetap sabar, itulahmengembangkan kecerdasan emosional.[18]   
Demikianlah definisi kecerdasan emosional menurut beberapa pakar. Kecerdasan emosional (EQ) ini memang merupakan istilah baru. Namun isi dari EQ ini adalah istilah-istilah, seperti; kesadaran diri, control diri, ketekunan, semangat, motivasi diri, empati, dan kecakapan social. Sebagai dasar-dasar dari kecerdasan emosional ini merupakan istilah lama yang pada substansinya adalah bagaimana seseoarang bisa mengenal, menguasai dan mengendalikan emosi yang ada dalam dirinya merupakan ekses dari sikap ini, seseorang dapat dewasa dalam emosi (kecerdasan emosi ).
b. Perkembangan Kecerdasan Emosional.
Mengingat pentingnya peran emosi dalam kehidupan anak, tidaklah mengherankan kalau sebagian keyakinan tradisional tentang emosi yang telah berkembang selama ini bertahan kukuh tanpa informasi yang tepat untuk menunjang ataupun menentangnya–sebagai contoh ada keyakinan yang telah diterima secara luas bahwa sebagian orang dilahirkan dengan sifat yang lebih emosional dibanding yang lainnya. Konsekuensinya, sudah menjadi kenyataan yang diterima masyarakat bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah karakteristik ini. Pada zaman dulu perbedaan emosionalitas ini dinyatakan sebagai hasil dari perbedaan keadaan jasmani, dan pendapat mutakhir mengatakan bahwa perbedaan emosionalitas merupakan akibat dari perbedaan dalam kelenjar endokrin.[19]
Dari kedua pandangan awam tersebut dapat dipahami, bahwa perbedaan emosionalitas ini bersifat genetik atau (diturunkan). Nampaknya keyakinan awam tersebut tidak bisa diubah sebelum bukti ilmiah diperoleh, bahkan keyakinan telah bertahan kuat hingga mempergauli cara orang tua dan guru (para pendidik) yang mempunyai peran pengganti dalam bereaksi terhadap emosi anak.
Namun berkat penelitian para pakar dalam berbagai bidang, khususnya para psikologi menunjukan bahwa sebenarnya faktor genetik bukanlah satu-satunya yang mempengaruhi emosionalitas anak, terdapat faktor lainnya yang sangat dominan, bahkan menentukan emosionalitas anak, yaitu faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini meliputi berbagai hal lainnya seperti lingkungan keluarga sebagai lingkungan yang pertama kali dapat mempengaruhi perkembangan emosionalitas anak; lingkungan sekolah; serta lingkungan masyarakat.
Berbagai faktor lingkungan tersebut akhirnya dapat menyebabkan adanya keberagaman emosi anak (ciri khas emosi anak), yang berbeda dengan emosi orang dewasa. Orang dewasa yang belum memahami akan ciri khas emosi anak ini cenderung menganggap anak kecil sebagai “tidak matang”. Padahal sebetulnya tidak logis jika orang dewasa menuntut agar semua anak pada usia tertentu mempunyai pola emosi yang sama. Perbedaan individu tidak dapat dielakkan karena adanya perbedaan dalam berbagai hal, diantaranya adalah pematangan dan kesempatan belajar.
Dari kedua faktor tersebut kesempatan belajar merupakan faktor yang lebih penting. Karena belajar merupakan sesuatu yang positif dan sekaligus merupakan tindakan preventif. Maksudnya adalah bahwa apabila reaksi emosional yang tidak diinginkan dipelajari, kemudian membaur kedalam pola emosi anak, akan semakin sulit mengubahnya dengan bertambah usia anak, bahkan reaksi emosional tersebut akan tertanam kukuh pada masa dewasa dan untuk mengubahnya diperlukan bantuan ahli.
Sebagai akibat dari kedua faktor tersebut, maka dapat dipahami bahwa emosi anak seringkali sangat berbeda dari orang dewasa.. Namun terlepas dari adanya perbedaan individu dan faktor-faktornya, ciri khas emosi anak membuatnya berbeda dari emosi orang dewasa diantaranya yang menjadi ciri khas (pola umum) emosi anak adalah emosi takut dan marah. Inilah yang menjadi faktor fundamental dari emosi.
Sebagai faktor lain dari kecerdasan emosi adalah peran orang tua. Apabila seseoarng menjadi orang tua, maka terjadilah suatu keganjilan yang patut disesali, dimana mereka akan mulai memainkan suatu peran tertentu, dan lupa bahwa sesungguhnya mereka adalah pribadi manusia. Kini sebagai orang tua mereka memiliki tanggung jawab untuk menjadi lebih baik daripada sekedar sebagai manusia. Beban tanggung jawab yang berat ini merupakan tantangan bagi orang tua di mana mereka merasa bahwa mereka harus selalu bersikap konsisten dalam perasaan-perasaan mereka, harus selalu menyanyangi anak-anak, harus menerima dan bersikap toleran tanpa syarat, dan yang terpenting adalah tidak boleh membuat kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya.
Selain peran orang tua, guru sebagai pihak lain yang ikut terlibat dalam memupuk kecerdasan emosi anak memiliki peranan penting. Bahkan sering kali didapatkan, anak lebih manurut pada perintah gurunya dari pada perintah orang tuanya. Hal tersebut sah-sah saja, karena memang guru memiliki banyak peranannya tidak sebagai pengajar, tapi juga sebagai pendidik dan pembimbing.[20]Dalam perananya ini guru perlu mengusahakan diri agar dapat melaksanakan semuanya. Ketika perannya sebagai guru ia perlu yang harus dilakukannya, meskipun ketiga bidang ini dapat tumpang tindih sifatnya, tetapi masing-masing mempunyai tekanan perhatian dan pendekatan yang berbeda-beda.
Quantum teaching, memberikan enam kunci bagi para guru untuk membangun suasana yang menyenangkan:[21]
1)      Kekuatan terpendam niat, maksudnya adalah seseorang guru harus mempunyai niat yang kuat atau kepercayaan akan kemampuan dan motivasi siswa.
   Dari teorinya Deporter ini dapat dijadikan sebagai metode dalam melatih kecerdasan emosional siswa adalah dengan melakukan  empati.  Sebagaimana juga yang terdapat dalam metode mendidik anak dalam ajaran Islam, seperti dalam firman  Allah  SWT:
وليخس الذين لوتركوا  من  خلفهم ذرية ضعفا خافوا عليهمفليتقوالله واليقولو قولا سديدا.(النساء:9)
“Dan hendaklah takut pada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang  mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka mengucapkan perkatan yang` benar”.(QS. An-Nisa:9)[22]
   Ayat tersebut di atas dapat dijadikan pegangan oleh pendidik, bahwa sebelum mereka mendidik tentu saja harus bertakwa kepada Allah SWT dan berkata dengan perkataan yang benar dan diharapkan menjurus pada hukum yang benar. Dengan jalan menempatkan diri (berempati) pada orang lain sembari menghayati kelemahan mereka, niscaya ia akan benar-benar memperhatikan perkataan yang benar dan berdasarkan kepada takwa semata-mata karena Allah SWT, sehingga  mereka tidak menghiraukan anak yang  lemah.[23]
                  Sedemikian pentingnya niat kuat ini sehingga akhirnya dapat   berdampak pada peran psikologis siswa dalam belajar, dan dengan memperhatikan emosi siswa, maka guru dapat mempercepat pembelajaran siswa.  Demikian dengan memahami emosi siswa, guru dapat  membuat pembelajaran lebih berarti dan permanen.        
2)      Jalinan rasa simpati dan saling pengertian. Dengan adanya dua sifat ini maka keterlibatan antara siswa dan guru akan semakin erat, karena dengan hubungan, akan membangun jembatan menuju kehidupan bergairah siswa.
                  Dalam ajaran Islam, bersikap lemah lembut dan penuh kasih saying merupakan dasar dalam bermuamalah dengan anak. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam bergaul dengan anak-anak, beliau memperlakukan mereka dengan penuh kelembutan baik didalam sikap atau perkataan beliau. Apabila ada  kesalahan yang dilakukan anak, beliau tidak segan-segan untuk  menegur dengan lembut dan memberi penjelasan tentang letak kesalahnnya dengan memakai argumentasi yang logis dan  mudah dipahami oleh mereka. Sehingga mereka tidak mengalami kesalahan untuk yang kedua kalinya.
                  Telah diriwayatkan oleh Aisyah ra. Rasulullah SAW bersabda:
اِن الله رفيق يحب الرفق  في الأمر كله.(رواه بخاري ومسلم)
“Sesungguhnya Allah adalah zat yang lembut, dan setiap perkara senang pada kelembutan”. (HR. Bukhori  dan  Muislim)[24]
                                    Muslim meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, bahwa Rasulullah SAW mengutusnya bersama Mu’adz ke negeri Yaman, dan Rasulullah  SAW berkata pada mereka berdua:
يسر ولاتعسر وعلما ولا تنفرا.(رواه مسلم)
                        “ Permudahlah dan janganlah kalian persukar, ajarkanlah ilmu dan  janganlah  kalian berlaku  tidak simpati” [25]
3)      Keriangan dan ketakjuban. Dengan keriangan kegiatan belajar-mengajar akan lebih menyenangkan. Kegembiraan membuat siswa siap belajar dengan lebih mudah dan bahkan dapat mengubah sifat negatif. Untuk menambah kegembiraan dapat digunakan afirmasi, yaitu suara-suara untuk mengaktifkan dialog internal, sebagai cerminan nilai-nilai dan keyakinan guru serta berpengaruh kuat pada pengalaman guru setiap saat; memberi (dan menerima) pengakuan, di mana pada dasarnya, setiap siswa senang diakui atau diterima. Jadi, akuilah setiap usaha siswa, tidak hanya usaha yang tepat; merayakan kerja keras, hal ini akan mendorong siswa memperkuat rasa tanggung jawab dan mengawali proses belajar mereka sendiri. Selanjutnya dengan ketakjuban sebagai alat belajar asli dapat menambahkan arti lebih pada belajar, jika belajar diawali dan dicari melalui ketakjuban.
               Selanjutnya menurut Utsman Najati, bahwa afirmasi juga  berarti bahwa guru  menyediakan situasi yang  baik bagi  perkembangan emosi anak, dan mendukung melalaui cara yang jelas  yang dikenali anak seperti memberikan ganjaran pada siswa.[26]
               Rasulullah SAW, menggunakan ganjaran dalam membangkitkan dan memperkuat semangat serta gairah untuk berlomba  lari. Beliau  bersabda:
“ “Siapa menang, ia akan mendapatkan sesuatu dariku”. Lalu mereka mereka berlomba lari dan menubruk dada beliau, segera beliau memeluk dan mencium  mereka”[27]
4)      Pengambilan resiko. Setiap belajar mengandung resiko setiap kali seseorang bertualang untuk belajar sesuatu yang baru ia mengambil resiko besar diluar zona nyamannya. Dengan resiko ini akan membawa siswa melampaui batas mereka sebelumnya dan menambah dampak pengalamannya.
                     Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari; Rasulullah  SAW  bersabda:
“  Ilmu  itu  hanya dapat dikuasai  dengan belajar; kecerdikan juga begitu. Barang siapa mengerjakan kebaikan ia  mendapatkannya. Sedangkan barang  siapa yang menghindari kejelekan ia akan terjaga darinya”.( HR. Thabrani dan al- Doruquthny)[28]
               Maksud  hadits di atas,  menurut Utsman Najati  adalah bahwa belajar hanya dapat ditempuh dengan mengerahkan segenap upaya  serta berpartisipasi aktif dan efektif  dalam proses belajar.[29]
5)      Rasa saling memiliki. Dengan adanya saling memiliki akan mempercepat proses pengajaran dan meningkatkan rasa tanggung jawab siswa
                     Mendidik siswa dengan adanya rasa saling memiliki, menurut Nashih  Ulwan  juga  berarti mendidik dengan  penuh pehatian. Yang dimaksud mendidik dengan perhatian adalah mencurahkan, memperhatikan dan senantiasa mengikuti perkembangan anak dalam pembinaan akidah dan moral, persiapan, spiritual dan sosial, disamping selalu bertanya  tentang situasi pendidikan jasmani dan daya  hasil ilmiahnya. [30]
                     Di bawah ini ayat tentang keharusan memperhatikan dan mengkontrol dalam mendidik siswa.يأيها الذين امنوا قوا انفسكم واهليكم  ناراوقودهاالناس والحجارةعليها ملئكة غلاظ شدادلايعصون الله ماأمرهم ويفعلون مايؤمرون.(التحريم:6)
 “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah keluargamu dan dirimu  daripada neraka, yang  bahan bakarnya  manusia dan batu, sedang  penjaganya malaikat-malaikat yang  kasar dan keras, mereka tidak mendurhakai Allah tentang apa-apa yang disuruhnya dan mereka memperbuat apa-apa yang diperintahkan kepadanya”. (QS.  At-Tahrim: 6)[31]
  
6)      Keteladanan. Bertolak dari pepatah “Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata”, ini mengandung arti bahwa diri seorang guru lebih penting daripada pengetahuannya. Karena dengan keteladanan dapat membangun hubungan, memperbaiki kredibilitas dan meningkatkan pengaruh.
                     Dalam Islam, Allah SWT telah menjadikan nabi Muhammad  SAW sebagai suri  tauladan, yang baik bagi manusia. Dalam al-Quran Allah SWT berfirman:
لقد  كان لكم في  رسول لله أسوة حسنة  لمن كان يرجواالله  واليوم الأخر وذكرالله كثيرا.(الأحزب:21)
   “ Sesungguhnya pada rasul Allah (Muhammad) ada ikutan  yang baik bagimu, yaitu bagi orang  yang mengharapkan (pahala) Allahdan hari yang kemudian, serta ia banyak mengingat Allah”. (QS. al-Ahzab: 21)[32]
                     Telah diakui bahwa kepribadian rasul sesungguhnya bukan hanya teladan buat satu masa, satu generasi, satu bangsa atau satu golongan. Tetapi merupakan teladan univeral, untuk seluruh manusia dan seluruh generasi. Teladan yang abadi dan tidak akan habis adalah kepribadian rasul yang didalamnya terdapat segala norma,nilai, dan ajaran Islam. [33]
                     Menurut an-Nahlawi, sebagaimana dikutip Sri Harini dan Aba Firdaus al-Hajwani, pendidikan melalui keteladanan ini dapat diterapkan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Keteladanan yang tidak sengaja adalah keteladanan dalam keilmuan, kepemimpinan, sifat ikhlas dan lain-lain. Sedangkan keteladanan yang disengaja, misalnya memberi contoh membaca yang baik, mengerjakan shalat yang benar dan lain- lain. Dalam pendidikan Islam kedua macam keteladanan tersebut sama pentingnya.[34]   
Dari uraian di atas, sudah jelas bahwa sementara guru mengajak siswa dalam proses belajar seumur hidup yang dinamis dan tak terlupakan, guru menciptakan suasana prima yang unik bagi para siswa, yang membuat siswa aman tapi tertantang, dimengerti dan dirayakan. Dengan menciptakan suasana yang prima tersebut, guru secara tidak langsung telah mendidik siswa memiliki kecerdasan emosi.
Demikian juga, dengan lingkungan masyarakat turut berperan dalam kecerdasan emosi siswa. Adapun lingkungan masyarakat yang berpengaruh adalah terutama teman-teman sebayanya yang bersangkutan, dimana dalam masa ini terjadi interaksi yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi pembentukan kecerdasan emosi.
2. Tinjauan Tentang Perkembangan Emosi Pada Anak.
Setelah menguraikan konsep kecerdasan emosional sebagaimana yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman, dalam bukunya “Emotional Intellegence” (1995), adalah juga perlu memperhatikan penjelasan teoritis tentang bagaimana perkembangan emosi yang terjadi pada anak-anak. Hal ini penting karena akan menjadi kerangka rujukan (Frame of Reference) dalam membicarakan cara-cara guru melatih kecerdasan emosional pada anak didiknya yang merupakan pusat perhatian dalam penelitian ini.
Menurut Elizabeth B. Hurlock, kemampuan anak untuk bereaksi secara emosional sudah ada semenjak bayi baru dilahirkan. Gejala pertama perilaku emosional ini adalah berupa keterangsangan umum. Dengan meningkatnya usia anak, reaksi emosional mereka kurang menyebar, kurang sembarangan, lebih dapat dibedakan, dan lebih lunak karena mereka harus mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan.[35]
Adapun ciri-ciri penampilan emosi pada anak menurut Hurlock ditandai oleh intensitas yang tinggi, sering kali ditampilkan, bersifat sementara, cenderung mencerminkan; individualitas, bervariasi seiring meningkatnya usia, dan dapat diketahui melalui gejala perilaku.[36]
Berikut ini ada beberapa pola emosi yang dijelaskan Hurlock, yang secara umum terdapat pada diri anak, yaitu:
a).Rasa Takut.
Dikalangan anak yang lebih besar atau usia sekolah, rasa takut berpusat pada bahaya yang bersifat fantastik, adikodrati, dan samar-samar. Mereka takut pada gelap dan makhluk imajinatif yang diasosiasikan dengan gelap, pada kematian atau luka, pada kilat guntur, serta pada karakter yang menyeramkan yang terdapat pada dongeng, film, televisi, atau komik
Terlepas dari usia anak, ciri khas yang penting pada semua rangsangan takut ialah hal tersebut terjadi secara mendadak dan tidak di duga, dan anak-anak hanya mempunyai kesempatan yang sedikit untuk menyesuaikan diri dengan situasi tersebut. Namun seiring dengan perkembangan intelektual dan meningkatnya usia anak, mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Selanjutnya reaksi rasa, seperti; intelegensia, jenis kelamin, status sosial ekonomi, kondisi fisik, hubungan sosial, urutan kelahiran, dan faktor kepribadian.
b) Rasa Marah
Pada umumnya, kemarahan disebabkan oleh berbagai rintangan, misalnya rintangan terhadap gerak yang diinginkan anak baik rintangan itu berasal dari orang lain atau berasal dari ketidakmampuannya sendiri, rintangan tehadap aktivitas yang sudah berjalan dan sejumlah kejengkelan yang menumpuk. Pada anak-anak usia sekolah, rintangan berpusat pada gangguan terhadap keinginan, gangguan tehadap aktivitas yang dilaksanakan, selalu di persalahkan, digoda dan dibandingkan secara tidak menyenangkan dengan orang lain atau anak lain.
Reaksi kemarahan anak-anak secara garis besar dikategorisasikan menjadi dua jenis yaitu reaksi impulsif dan reaksi yang ditekan. Reaksi impulsif sebagian besar bersifat menghukum keluar (extra punitive), dalam arti reaksi tersebut diarahkan kepada orang lain, misalnya dengan memukul, menggigit, meludahi, meninju, dan sebagainya. Sebagian kecil lainnya bersifat kedalam (intra punitive), dalam arti anak-anak mengarahkan reaksi pada dirinya sendiri.
c) Rasa cemburu
Rasa cemburu adalah reaksi normal terhadap kehilangan kasih sayang yang nyata, dibayangkan, atau ancaman kehilangan kasih sayang. Cemburu disebabkan kemarahan yang menimbulkan sikap  jengkel dan ditujukan kepada orang lain. Pola rasa cemburu seringkali berasal dari  takut yang berkombinasi dengan rasa marah. Orang yang cemburu sering kali merasa tidak tentram dalam hubungannya dengan orang yang dicintai dan takut kehilangan status dalam hubungannya itu.
Ada tiga sumber utama yang menimbulkan rasa cmburu; pertama merasa diabaikan atau diduakan. Rasa cemburu pada anak-anak umumnya tumbuh dirumah. Sebagai contoh, seorang bayi yang baru lahir yang pasti meminta banyak waktu dan perhatian orang tuanya. Sementara itu kakaknya yang lebih tua merasa diabaikan. Ia merasa sakit hati terhadap adiknya itu. Kedua, situasi sekolah, sumber ini biasanya menimpa anak-anak usia sekolah. Kecemburuan yang berasal dari rumah sering di bawa ke sekolah yang mengakibatkan anak-anak memandang setiap orang, baik guru atau teman-teman kelasnya sebagai ancaman bagi keamanan mereka. Untuk melindungi keamanan mereka, anak-anak kemudian mengembangkan kepemilikan pada salah satu guru atau teman sekelasnya. Kecemburuan juga bisa disulut oleh guru yang suka membandingkan anak satu dengan anak lain. Ketiga, kepemilikan terhadap barang-barang yang dimiliki orang lain membuat mereka merasa cemburu. Jenis kecemburuan ini berasal dari rasa iri yaitu keadaan marah dan kekesalan hati yang di tujukan kepada orang yang memiliki barang yang diinginkannya itu.
d) Duka Cita atau Kesedihan.
Bagi anak-anak, duka cita bukan merupakan keadaan yang umum. Hal ini dikarenakan tiga alasan; Pertama, para orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya berusaha mengamankan anak tersebut dari berbagai duka cita yang menyakitkan. Karena hal itu dapat merusak kebahagiaan masa kanak-kanak dan dapat menjadi dasar bagi masa dewasa yang tidak bahagia. Kedua, anak-anak terutama apabila mereka masih kecil, mempunyai ingatan yang tidak bertahan terlalu lama, sehingga mereka dapat dibantu melupakan duka cita tersebut, bila ia dialihkan kepada sesuatu yang menyenangkan. Ketiga tersedianya pengganti untuk sesuatu yang telah hilang, mungkin berupa mainan yang disukai, ayah atau ibu yang dicintai, sehingga dapat memalingkan mereka dari kesedihan kepada kebahagiaan. Namun, seiring dengan meningkatnya usia anak, kesediaan anak semakin bertambah dan untuk mengalihkan kesedihan dari anak-anak tidak efektif lagi.
e)  Keingintahuan
Anak-anak menunujukan keingintahuan melalui berbagai perilaku, misalnya dengan bereaksi secara positif terhadap unsur-unsur yang baru, aneh, tidak layak atau misterius dalam lingkunganya dengan bergerak kearah benda tersebut, memperlihatkan kebutuhan atau keinginan untuk lebih banyak mengetahui tentang dirinya sendiri atau lingkunganya untuk mencari pengalaman baru dan memeriksa rangsangan dengan maksud untuk lebih banyak mengetahui seluk-beluk unsur-unsur tersebut.
f) Kegembiraan
Gembira adalah emosi yang menyenangkan yang dikenal juga dengan kesenangan atau kebahagiaan. Seperti bentuk emosi-emosi  sebelumnya. Kegembiraan pada masing anak berbeda-beda, baik mencakup intensitas dan cara mengekspresikannya.
Pada anak-anak usia sekolah awal, sebagian kegembiraan disebabkan oleh keadaan fisik yang sehat, situasi yang ganjil, permainan kata-kata, malapetaka ringan, atau suara yang tiba-tiba sehingga membuat mereka tersenyum. Sebagian lainnya, disebabkan karena mereka berhasil mencapai tujuan yang mereka inginkan.
g) Kasih Sayang
Kasih sayang adalah reaksi emosional terhadap seseorang atau binatang atau benda. Hal ini menunjukan perhatian yang hangat, dan memungkinkan terwujud dalam bentuk fisik atau kata-kata verbal.
Anak-anak cenderung paling suka kepada orang yang menyukai mereka dan bersikap ramah terhadap orang itu. Kasih sayang mereka terutama ditujukan kepada manusia atau objek lain yang merupakan pengganti manusia, yaitu berupa; binatang atau benda-benda. Agar menjadi emosi yang menyenangkan dan dapat menunjang yang baik, kasih sayang dari anak-anak harus berbalas. Artinya harus ada tali penyambung yang menghubungkan dengan orang yang disayanginya.[ffice1] [37][ffice2] [ffice3] 
Demikinlah uraian-uraian mengenai penampilan-penampilan emosi yang sering tampak menurut teorinya Hurlock, yang patut dan bahkan menjadi sebuah kewajiban bagi orang tua dan para pendidik. Dalam hai ini yang paling berkompeten adalah guru. Sebab  dengan mengetahui dan memahami pola-pola emosi pada anak, guru akan lebih untuk memberikan latihan-latihan emosi secara  baik.
a. Implementasi Pengembangan Kecerdasan Emosional dalam Perkembangan Anak
Seorang psikolog Harvard, Jerome Kagan, mengemukakan bahwa temperamen seorang anak mencerminkan suatu rangkaian emosi bawaan tertentu dalam otaknya. Sebuah cetak biru untuk ekspresi emosi-sekaligus perilakunya sekarang dan di masa mendatang. Menurut Kagan, seorang anak yang pemalu lahir dengan amigdala yang mudah terangsang, barang kali karena kecenderungan turunan untuk mempunyai norepinofrin atau senyawa kimia otak lain berkadar tinggi yang merangsang pusat pengendali emosi pada otak secara berlebihan. Melalui penelitian bertahun-tahun, ia telah menemukan bahwa 2/3 anak yang lahir pemalu tumbuh menjadi anak yang kikuk, penyendiri dan mudah lebih cemas, penakut, dan mengalami hambatan dalam bergaul ketika dewasa. Anak-anak ini tampaknya tidak mengembangkan saluran-saluran saraf antara amigdala dan korteks yang akan memungkinkan bagian otak untuk berpikir membantu bagian otak emosi menenangkan diri.[38]
Jika manusia telah mengetahui besarnya pengaruh kecerdasan emosi dalam menunjang kesuksesan hidup seseorang, sudah sewajarnya pula orang tua perlu menyiapkan anak-anak untuk mencapai kecerdasan emosi pada kadar yang tinggi. Karena EQ tidak berkembang secara alamiah, artinya seseorang dengan tidak sendirinya memiliki kematangan EQ semata-mata didasarkan pada perkembangan usia biologisnya. Sebaliknya kecerdasan emosi sangat bergantung pada proses pelatihan dan bimbingan yang kontinue.[39]
Dengan contoh hasil penelitian tersebut, maka mekanisme pengembangan kecerdasan emosi pada anak dapat dimulai sejak anak masih bayi, karena bayi juga mempunyai kecenderungan-kecenderungan yang apabila tidak diperhatikan secara seksama dapat berdampak pada perkembangan emosinya tatkala ia besar nanti.
Anak-anak (dan orang tua yang kurang dewasa) cenderung memandang dunia sesuai dengan keinginan dan kebutuhan mereka. Ketika anak bertambah umur tujuh hingga delapan tahun, mereka menjadi lebih mudah berunding, berkompromi dan toleran. Tepat, seperti apa yang diketahui orang tua, proses ini mengalami pasang surut pada masa remaja. Banyak yang dapat dilakukan orang tua setiap hari untuk mengajarkan anak cara mengambil perspektif berbeda.[40]Untuk dapat memahami kehidupan bayi dan anak-anak yang masih sangat muda, maka kita harus banyak menyadarkan diri pada observasi tingkah laku anak-anak tersebut, sebab anak-anak itu tidak dapat bercerita tentang keadaan diri sendiri, dan tidak mampu mengungkapkan kehidupan psikisnya.[41]
Adapun pembentukan kecerdasan emosi pada anak dapat dilakukan melalui pemberian pelatihan EQ, menurut pandangan Goleman isi pelatihan emosional adalah sebagai berikut :
1)      Kesadaran diri
2)      Pengelolaan emosi
3)      Ketekunan
4)      Memotivasi diri
5)      Empati
b. Fungsi Kecerdasan Emosi Bagi Guru dan Anak.
Sebenarnya berbicara tentang fungsi kecerdasan emosi apabila ditinjau secara umum sudah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, yaitu agar seseorang dapat meraih kesuksesan dalam hidupnya. Walaupun kesuksesan itu sendiri masih dianggap sebagai sesuatu yang belum jelas, apakah kesuksesan dari segi materi atau non materi. Terlepas dari sukses dari segi materi atau non materi tersebut, disini peneliti akan mencoba menggagas tentang fungsi kecerdasan emosi bagi guru dan siswa dalam berbagai aspek, agar pendidikan memperoleh hasil yang maksimal.
Bertolak dari pemikiran seperti di atas, kesuksesan bagi seorang siswa di sekolah seringkali diasumsikan sebagai yang berhasil dalam prestasi akademiknya. Sehingga sangatlah wajar apabila dari siswa yang memiliki intelegensi yang tinggi diharapkan dapat diperoleh prestasi belajar yang   tinggi pula.
Untuk membahas kesuksesan siswa dengan menekankan kecerdasan emosi ini, peneliti akan melihat dulu pada apa yang dikatakan Gardner mengenai berbagi kecerdasan yang sebenarnya dimiliki anak.
Howard Gardner, dalam bukunya yang berjudul “Multiple Intelegence” menegaskan bahwa skala kecerdasan yang selama ini dipakai ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang. Gambaran mengenai spectrum kecerdasan yang luas telah membuka mata para orang tua, maupun guru tentang adanya wilayah-wilayah yang secara spontan akan diminati oleh anak-anak dengan semangat yang tinggi. Wilayah-wilayah tersebut adalah:
1) Kecerdasan Bahasa
Kecerdasan ini umumnya ditandai dengan ini kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa seperti membaca.
2) Kecerdasan Musikal
Adalah kecerdasan yang memuat kemampuan seseorang untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada di sekelilingnya, termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama.
3) Kecerdasan Visual Spasial
Kecerdasan ini memuat kemampuan seseorang untuk mendiami secara mendalam hubungan antara objek dan ruang.
4) Kecerdasan Kinestik
Kecerdasan yang memuat kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah.
5) Kecerdasan Interpersonal
Menunujukan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain, sehingga mudah dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekelilingnya.
6) Kecerdasan Intra-personal
Menunujukan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaannya sendiri. Anak-anak semacam ini selalu melakukan   intropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya, kemudian mencooba untuk memperbaiki diri, sehingga anak ini cenderung menyukai kesendirian dan kesunyaian, merenung dan berdialog dengan dirinya sendiri.
7) Kecerdasan Naturalis
Yaitu kemampuan seseoarng untuk peka terhadap lingkungan, misalnya senang berada di lingkungan alam terbuka seperti pantai.[42]
Dari ketujuh spectrum kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner di atas, Goleman mencoba memberi penekanan pada aspek kecerdasan intrapersonal atau pribadi. Inti dari kecerdasan ini adalah mencakup kemampuan untuk membedakan atau menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi, dan hasrat keinginan orang lain. Namun, menurut Gardner kecerdasan antar pribadi ini lebih menekankan pada aspek kognisi atau pemahaman. Sementara factor emosi atau perasaan kurang diperhatikan. Padahal, menurut Goleman, faktor emosi ini sangat penting dan memberikan suatu warna yang kaya dalam kecerdasan antar pribadi ini.
Di sini dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya kecerdasan emosi dikembangkan pada diri siswa. Karena betapa banyak dijumpai siswa, di mana mereka begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, bila tidak dapat mengelola emosinya; seperti mudah marah, mudah putus asa, atau angkuh dan sombong, maka prestasi tersebut tidak akan banyak bermanfaat untuk dirinya. Ternyata, kecerdasan emosi perlu dihargai dan dikembangkan pada anak sejak usia dini. Karena hal ini yang mendasari ketrampilan seseorang di tengah masyarakat kelak, sehingga akan membuat seluruh potensinya dapat berkembang secara lebih optimal.
Dengan demikian, jelaslah bahwa kecerdasan emosi dipentingkan bagi siswa dalam rangka mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan, tanpa harus memaksakan apa yang dikehendaki oleh orang tuanya.
3. Melatih Kecerdasan Emosional Anak
Sampai sejauh ini belum ada literatur yang secara spesifik yang membicarakan tentang bagaimana cara guru melatih kecerdasan emosi anak didiknya. Kebanyakan litelatur yang beredar lebih menyoroti tentang bagaimana cara orang tua membina EQ anak-anaknya. Seperti bukunya Maurice J. Elias dkk dengan bukunya “Cara efektif Mengasuh Anak dengan EQ” dan bukunya Joan Gottman dan Jean  De Claire dalam bukunya “Kiat-Kiat Membesarkan Anak yang Memiliki EQ” (1992).
Sebagai Joan Gottman dan Jean De Claire, mengidentifikasikan empat tipologi orang tua dalam menyikapi ungkapan emosi-emosi anak mereka beserta dampaknya yaitu:
a.  Orang tua yang mengabaikan
Mereka tidak menghiraukan dan menganggap sepi atau meremehkan emosi-emosi negatif anak. Akibatnya anak menganggap bahwa perasaan-perasaan itu keliru, tidak tepat atau tidak sah. Mereka mungkin merasakan ada yang salah dari perasaannya dan mungkin juga menghadapi kesulitan untuk mengatur emosi mereka sendiri
b.  Orang tua yang tidak menyetujui
Mereka bersikap kritis terhadap ungkapan perasaan-perasaan negatif anak mereka. Akibatnya bagi anak adalah sama denga tipologi pertama.
c.  Orang tua yang Laizees
Mereka menerima emosi anak-anak mereka dan berempati tetapi tidak memberikan bimbingan atau menentukan batas-batas tingkah laku anak mereka. Akibatnya, anak tidak belajar mengatur emosi mereka, menghadapi kesulitan untuk berkonsentrasi, dan sulit menjalin persahabatan atau bergaul dengan orang lain.
d.  Orang tua yang berperan sebagai pelatih emosi
Mereka menghargai emosi-emsi negatif anak sebagai sebuah kesempatan untuk semakin akrab, berempati dengan emosi yang dialami anak, namun mereka membimbing dan menentukan batas-batas tingkah laku anak-anak mereka. Akibatnya, anak belajar mempercayai perasaan perasaanya, mengatur emosi mereka sendiri, dan menyelesaikan masalahnya. Mereka juga mempunyai harga diri yang tinggi dan bergaul dengan orang lain secara baik[43]
Di bagian lain, pada buku yang sama Gottman dan De Claire juga menjelaskan lima prinsip dasar bagi orang tua dalam melatih kecerdasan emosional anak, yaitu:  
                                
 a.  Menyadari emosi anak
Langkah pertama melatih anak merasakan emosi yang ada dalam diri orang tua itu sendiri ketika anak mengalami masalah emosional. Menyadari emosi diri sendiri sebelum merasakan emosi anak bukan berarti merubah secara frontal karakter pribadi orang tua atau mengungkapkan secara membabi buta apa yang mereka rasakan kepada anak, melainkan mengenali kapan orang tua merasakan suatu emosi, mengidentifikasikan perasaan-perasaannya, dan peka terhadap hadirnya emosi pada orang lain.
b. Mengakui emosi anak dan memanfaatkannya sebagai peluang untuk membangun kedekatan dan mengajar kecerdasan emosional pada anak.
Adalah penting bagi orang tua memanfaatkan saat-saat kritis yang terjadi pada anak seperti nilai lapor yang buruk, pergaulan yang terganggu, atau pengalaman-pengalaman negatif lainnya, untuk berempati dan membangun kedekatan serta mengajari cara-cara mengatasi perasaan tersebut kepada anak. Kemampuan selain banyak menolong anak menangani perasaan-perasaannya juga merupakan wujud konkrit dari tanggung jawab orang tua terhadap anak.
c.  Mendengarkan dan empati dan meneguhkan perasaan anak
Langkah ketiga ini merupakan langkah terpenting dalam melatih kecerdasan emosi anak. Mendengarkan dengan emosi berbeda dengan sekedar mengumpulkan data-data lewat telinga. Mendengarkan dengan empati berarti mengunakan mata untuk mengamati petunjuk  fisik anak, menggunakan imajinasi untuk melihat situasi dari titik pandang anak, menggunakan kata-kata untuk merumuskan kembali, menenangkan dan tidak mengancam, memberi pertolongan kepada anak untuk menamai (naming or labiling), dan akhirnya menggunakan hati untuk merasakan apa yang dirasakan anak.
d.  Menolong anak memberi nama emosi dengan kata-kata
Langkah ini mudah dan sekaligus sangat penting. Dalam melatih emosi anak, orang tua perlu menolong anak memberi nama emosi-emosi  mereka sewaktu emosi-emosi tersebut timbul, misalnya; tegang, cemas, sakit hati, marah dan sebagainya. Dengan cara ini pula, anak-anak ditolong untuk mengubah suatu perasaan yang tidak jelas, menakutkan dan tidak nyaman menjadi sesuatu yang dapat dirumuskan, mempunyai batas-batas, serta merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari.
e. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalahnya.
Langkah-langkah ini meliputi lima tahap, yaitu:
1) Menetukan batas-batas
Anak-anak perlu memahami bahwa perasaan mereka bukanlah masalah, tapi yang menjadi masalah adalah perilaku-perilaku mereka yang keliru. Semua parasaan dan hasrat itu dapat diterima tidak semua tingkah laku mereka dapat diterima. Oleh karenanya, tugas orang tua adalah menentukan batas-batas terhadap tindakan-tindakan anak bukan terhadap hasrat-hasratnya.
2) Menentukan sasaran
Untuk mengidentifikasi suatu sasaran disekitar penyelesaian masalah yang dihadapi anak, orang tua perlu bertanya kepada anak mengenai apa yang diinginkannya berkaitan dengan masalah yang dihadapi. Seringkali timbulnya perilaku-perilaku negatif pada anak disebabkan masalah yang sepele, namun mereka tidak dapat menjelaskannya. Oleh karenanya, dengan menuntun anak-anak menemukan sasaran disekitar masalah akan membantu mereka mengatasi masalah tersebut.
3) Memikirkan pemecahan masalah yang mungkin
Setelah menetapkan sasaran yang tepat, orang tua dapat bekerja sama dengan angka memikirkan pemecahan masalah yang mereka hadapi. Hal ini merupakan keuntungan tersendiri bagi anak karena memungkinkanya menemukan pemecahan alternatif. Tetapi penting sekali bagi orang tua menahan diri agar tidak mengambil alih masalah anak dan tetap mendorong anak mengemukakan gagasan-gagasan mereka.
Anak-anak yang masih kecil orang tua dapat menyampaikan pemecahan masalah melalui permainan-permainan yang akrab dengan anak. Sedangkan anak yang lebih besar, orang tua dapat menggunakan proses sumbang saran. Mereka membiarkan anaknya menyampaikan ide-idenya tanpa dibatasi.
4) Mengevaluasi pemecahan masalah yang diusulkan berdasarkan nilai-nilai keluarga
Setelah orang tua terlibat bersama anak mengemukakan gagasan-gagasannya. Mereka juga harus mendorong anak merenungkan setiap pemecahan secara terpisah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini; apakah pemecahan itu berhasil?, apakah pemecahan itu aman?, apa akibat dari pemecahan itu?, dan berbagai pertnayaan lainya. Hal ini membantu anak menjajaki pemecahan masalah yang akan dipilihnya.
5) Membantu anak memilih pemecahan masalah
Ketika pemecahan masalah telah dipilih bersama, orang tua juga perlu mendorong anak-anaknya mencoba pemecahan masalah tersebut.
Demikian kelima prinsip dalam melatih kecerdasan emosional anak yang dikemukakan oleh oleh Gottman dan Claire. Dimana prinsip-prinsip tersebut juga dapat diterapkan guru dalam melatih EQ murid-muridnya di sekolah. Tetapi ada perbedaan-perbedaan yang fundamental antara kondisi yang dihadapi guru di sekolah. Orang tua hanya menghadapi anak-anaknya sendiri yang semenjak lahir telah mereka ketahui bagaimana pertumbuhan fisik dan perkembangan emosinya. Orang tua relatif mengetahui bagaimana pola-pola penyimpangan emosi yang terjadi pada anak-anak mereka. Sebaliknya para guru menghadapi anak-anak yang berbeda dalam berbagai hal dan mereka tidak memiliki pengalaman yang spesifik tentang perkembangan emosi masing-masing muridnya.
Selanjutnaya, materi yang diajarkan orang tua kepada anak-anaknya lebih berorientasi kepada nilai-nilai moralitas dan sosial, sedangkan para guru selain menanamkan moralitas kepada murid-muridnya, mereka juga berkewajiban mengajarkan pengetahuan kognitif dan ketrampilan psikomotorik. Dengan kata lain, kondisi yang dihadapi guru di kelas adalah lebih kompleks dibandingkan dengan kondisi orang tua di rumah.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa guru tidak mungkin menyediakan waktu khusus untuk melatih EQ murid-muridnya. Mereka dapat mengembangkan EQ murid-muridnya dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari. Walaupun begitu tidak dapat dipungkiri bahwa emosi adalah faktor yang sangat menentukan keberhasilan belajar siswa.
G. METODE PENELITIAN.
Metode dalam skripsi yang digunakan adalah sebagai berikut:
1.  Penentuan Subyek dan Obyek Penelitian
Subyek penelitian adalah keseluruhan dari sumber informasi yang dapat memberikan data sesuai dengan masalah yang di teliti.[44]Subyek yang masuk dalam penelitian ini adalah guru kelas pemegang kelas rendah, yaitu kelas I, kelas II, dan kelas III. Adapun obyek dalam penelitian ini adalah proses pelaksanaan ketrampilan melatih kecerdasan emosional siswa SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa subyek ini harus dipandang sebagai informan yang di pilih secara purposive atau sistem “Gethok Tular” atau disebut juga dengan sistem “Snow Ball Sampling”. Subyek ini dianggap penting peneliti sebagai sumber informan (Key Information), karena mereka dapat mengenal dengan baik dunia pengalaman mereka dan dapat mengungkapkan pengalaman tersebut kepada peneliti. 
[MSOffice4] [MSOffice5] 44444.2.  Penentuan Tehnik Pengumpulan Data.
Untuk mengumpulkan data penelitian, maka peneliti menggunakan tehnik pengumpulan data sebagai berikut:
a. Observasi
Dalam konteks penelitian ini, observasi dilakukan dilingkungan yang alamiah, yaitu ruang kelas, dimana ditempat inilah berlangsungnya interaksi yang intensif antara guru dan siswa. Melalui observasi, peneliti dapat menemukan data-data yang tidak terungkap dalam wawancara dan sekaligus dapat membandingkan data wawancara tersebut dengan data observasi.
Selain itu dari segi penyelenggaraannya, penelitian ini menerapkan observasi sistematik. Artinya observasi dilakukan berdasarkan pedoman yang telah dipersiapkan sebelumnya. Hal ini bermanfaat karena dapat mengarahkan peneliti pada fokus penelitian. Di samping dapat menangkap peristiwa-peristiwa yang diperlukan secara lengkap dan utuh.
Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang perilaku emosi-emosi siswa dan proses pelatihan EQ siswa yang dilakukan guru terhadap siswanya.
b. Wawancara
Wawancara adalah dialog oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh data atau informasi dari terwawancara.[45]Adapun jenis wawancara dalam penelitian ini adalah wawancara bebas terpimpin, artinya dengan pertanyaan bebas namun sesuai dengan data yang ingin diketahui, dengan menyiapkan daftar pertanyaan secara garis besarnya. Sehingga memberikan kebebasan kepada informan untuk mengemukakan pendapatnya, namun tetap dalam konteks permasalahan penelitian.
Dalam tehnik wawancara ini, peneliti mengajukan pertanyaan yang mendalam (probing) seputar praktek guru melatih EQ siswa kepada informan.
c. Dokumentasi
Adalah cara mencari data mengenai hal atau variabel yang berupa catatan-catatan atau benda-benda tertulis, seperti; buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.[46]
Dalam pelaksanaanya, peneliti mempelajari dan mencatat dokumen yang relevan dengan penelitian. Metode ini digunakan untuk melengkapi informasi atas data yang telah diperoleh dari observasi maupun wawancara yang berhubungan dengan pelaksanaan melatih EQ siswa.
3.  Penentuan Keabsahan Data.
Untuk menguji keabsahan data digunakan triangulasi, yaitu tehnik pemeriksaan  keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data tersebut.
Dalam penelitian ini digunakan tehnik pemeriksaan data yang memanfaatkan penggunaan sumber yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang telah diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda. Hal ini dapat dicapai dengan jalan sebagai berikut:
a.       Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
b.      Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan dengan apa yang dikatakannya secara pribadi
c.       Membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan pada waktu itu
d.      Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang
e.       Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen[47]
4. Analisis Data
Analisa data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan interpretasikan.[48]Dalam menganalisa data yang penulis kumpulkan dari lapangan, penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu menginterpretasikan data-data yang diperoleh dalam bentuk kalimat-kalimat.[49]
Kemudian secara sistematis diinterpretsaikan kedalam laporan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Data yang dapat diambil dari hasil observasi, wawancara, studi dokumenter dipelajari dan dipahami dengan seksama, kemudian diambil kesimpulan.
PANDUAN WAWANCARA

A.  Wawancara Pada Informan

1.      Data pribadi informan
2.      Pengalaman mengajar selama menjadi guru kelas
3.      Peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian yang berkaitan dengan emosionalitas siswa yang berkesan bagi guru.
4.      Masalah-masalah emosional siswa yang dihadapi guru didepan kelas.
5.      Gejala-gejala yang dirasakan guru terjadi pada siswa yang mempunyai masalah emosional.
6.      Cara guru menangkap dan menilai masalah-masalah emosional yang dialami siswa.
7.      Cara guru menghadapi masalah-masalah emosonal siswa.
8.      Sumber emosional siswa yang dirasakan oleh guru.
9.      Hambatan yang dihadapi guru dalam melatih kecerdasan emosional siswa.
10.  Nilai-nilai EQ yang dilatihkan guru kepada  siswa.
11.  Cara guru melatih nilai-nilai EQ pada siswa.
12.  Wawasan guru terhadap konsep EQ. 

 

 

PANDUAN OBSERVASI

A. Umum

1.      Letak geografis lokasi SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta
2.      Situasi dan kondisi sekitar SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta
3.      Pengaturan lingkungan SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta

B. Kegiatan belajar mengajar di SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta

1.       Masalah-masalah emosional siswa yang muncul didalam kelas
2.       Gejala-gejala yang ditunjukkan siswa yang memiliki masalah emosional, baik berupa gerak tubuh, sikap, dan perkataan.
3.      Kata-kata atau istilah-istilah asli yang dikemukakan guru yang berhubungan dengan masalah- masalah emosional siswa dan kejadian-kejadiannya.
4.      Reaksi guru dalam menghadapi siswa yang mempunyai masalah emosional.
5.       Nilai-nilai EQ yang dilatihkan guru kepada siswa.
6.       Cara-cara atau tindakan-tindakan guru dalam melatih EQ siswa.
BAB II
GAMBARAN UMUM
A.    GAMBARAN UMUM SD MUHAMMADIYAH SURONATAN YOGYAKARTA
Sekolah dasar muhammadiyah Soronatan Yogyakarta adalah sebuah lembaga pendidikan formal yang bernaung dibawah persyarikatan Muhammadiyah dengan pendirinya KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1918. Pada awal berdirinya SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta diberi nama “Standart School” dan keberadaanya hanya dipeuntukkan bagi kaum lelaki saja, sedangkan untuk kaum perempuan ditempatkan di SD Muhammadiyah Kauman.
Seiring dengan adanya perkembangan zaman yang ditandai dengan persaingan prestasi pendidikan yang semakin ketat. Sekolah ini mengalami kemunduran, baik itu dalam hal prestasi yang diraih oleh SD tersebut ataupun animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya juga semakin menurun. Untuk membangun kembali sistem pendidikan yang unggul dalam prestasi, iman dan takwa, kemudoian di tahun 1974 sekolah tersebut digabung dengan SD Muhammadiyah yang berada di wilayah Kauman. Dengan penggabungan ini, muncl kembali kejayaan yang pernah diraihnya, dan peningkatan prestasipun semakin kuat dalam persaingan kancah dunia pendidikan di Indonesia khususnya di Yogyakarta. Mengingat SD Muhammadiyah Suronatan adalah SD Muhammadiyah yang pertama kali didirikan di Indinesia dan kualitas pendidikannya yang bermutu dan bernafaskan islami, maka animo masyarakat semakin berminat untuk menyekolahkan anaknya di Sd trsebut sampai sekarang[50].
1.      Dasar, Visi dan Misi SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta
a.       Dasar
Sekolah Dasar Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta beazaskan pancasila dan UUD 1945 serta berpedoman pada Al-Quran dan L-Hadits dan keberadaanya di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah Daerah Yogyakarta.
b.      Visi dan Misi SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta
Sesuai dengan motto yang dipegang oleh SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta yaitu “Creatif School With Islamic Insight” atau sekolah kreatif yang berwawasan Islam, maka visi yang akan dibentuk oleh SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta adalah siswa unggul berdasarkan IMTAK (Iman dan Takwa) dan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi), sedangkan misi yang dicanangkan oleh SD Muhammadiyah Suronatan adalah sebgai berikut:
            1) Menumbuh kembangkan hidup Islami dalam kehidupan sehari-hari
2) Melaksnakan pross kegiatan belajar-mengajar secara intensif sehingga    potensi siswa dapat berkembang secara optimal.
3) Mengembnagkan seluruh potensi warga sekolah untuk mencapai tingkat keunggulan
4) Meningkatkan IMTAK ( Iman dan Takwa) dan pengusaan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Tehnologi) dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan pihak terkait
5) Meningkatkan kedisiplinan dalam dalam berbagai aspek sehingga menjadi manusia unggul yang ber-akhlakul karimah.[51] 
2. Struktur SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta
Dinas P&P
Kota YK Yogyakarta

 

PCM
Ngampilan

 

 

    

 

Waka III

 

Waka II

 

Waka  I

 

Bendahara

 

Tata
Usaha

 

Komite Sekolah

 

Kepala Sekolah

 

   

 


Sumber data: Dokumentasi SD Muhammadiyah Suronatan  Yogyakarta,dikutip pada tanggal 28 April 2004
Keterangan:
1) PCM Ngampilan            : Sunari SH
2) Dinas P&P DIY             : Drs. Darno
3) Kepala Sekolah              : Kismadi S.Pd
4) Komite Sekolah              : Ahmad Husein SE
5) Tata Usaha                     : Sumardjiono S.Pd
6) Bendahara                      : Dwi Budi Ningsih S.Pdi
7) Wakil Kepala I               : Supiyana Ama.Pd
8) Wakil Kepala II              : Martini S.Pd
9) Wakil Kepala III                        : Refi Sardiyah S.Ag
10) Guru
11) Karyawan
12) Satpam
B.      KEBIJAKANSD MUHAMMADIYAH SURONATAN YOGYAKARTA DALAM MENERAPKAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA
1.      Kebijakan Secara Umum
Penerapan kecerdasan emosional siswa SD Muhammadiyah Suronatan secara formalitas bukan termasuk dalam kurikulum dan kegiatan belajar-mengajar (KBM) di sekolah yang dikemas kusus dan terstruktur oleh birokrasi tertentu serta ditangani oleh ahli profsinal. Namun penerapan kecerdasan emosional siswa di sini merupakan perpaduan yang sinergis antara proses pembelajaran di kelas dan pembentukan emosi anak yang dituangkan secara sderhana dan tidak memakan  banyak waktu.
Adapun kebijakan-kebijakan umum yang berhubungan dengan pengembangan kecerdasan emosional siswa SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta adalah melalui:[52]
a.                   Pertemuan orang tua atau wali murid dengan guru
Komunikasi orang tua siswa dengan guru adalah sangat penting bagi perkembangan siswa. Hal ini mengingat anak adalah manusia kecil yang tidak berdaya yang perlu sntuhan pembinaan, didikan dan perlindunagn dari orang dewasa sedini mungkin. Oleh karena itu, SD Muhammadiyah Suronatan berusaha memfasilitasi ruang dan waktu bagi guru dan orng tua siswa untuk saling bahu-membahu dalam mendidik anak.
Pertemuan orang tua murid dengan guru diadakan dalam putaran satu bulan sekali, agar kondisi anak semakin terkontrol dibawah pantauan guru dan orang tua siswa. Salah satu upaya dalam mengkontrol anak disediakan buku pantaun siswa dalam format yang sederhana yang berisi jadwal shalat lima waktu, jadwal tadarus, dan mata pelajran yang dipelajari setiap harinya dengan paraf orang tua dan guru.
b. Budaya Kedisiplinan Bagi Guru dan Siswa
  Guna menghasilkan lulusan SD Muhammadiyah Suronatan yang berkualitas secara intelektual, moral dan spiritualitas, diperlukan adanya budaya disiplin dalam ranah kehidupan belajar-mengajar di sekolah. Pendisiplinan ini tidak hanya diperuntukkan bagi siswa-siswinya, melainkan para guru dan pihak yang terkait didalamnya harus mampu memberi teladan kedisiplinan bgi anak-anak didiknya.
c. Kegiatan Non Akademik
               Upaya dalam menuangkan tujuan yang akan dicapai, sekolah menggunakan media untuk mencapai tujaun tersebut dalam wadah aktivits-aktivitas. Salah satu aktivitas tambahan yang menjadi wadah pembentuk bakat besrta alat yang menjadikan suatu komunitas yang utuh dan bersatu-padu, sebgi contoh kegiatan drum-band. Dimaan dalam kegiatan ini secar tidak langsung dapat membntuk perilaku siswa dan melatih siswa bersosialisasi dan berinteraksi dengan siswa lainnya. Hal ini dapat dibuktiakn dengan faktanya, bhwa pernah ada siswa yng merupakan salah satu anggota drum-band yang msih baru, sebelumnya anak ini berperilaku cenderung individualistik dan egosentris. Namun setelah diadakannya Training Centre tingkat nasional di Kaliurang, ia melihat adanya kekompakkan dari peserta drum-band dari sekolah lain, kemudian ia tergerak untuk menjadi sepeti kelompok lainnya.[53]  
d. Pertemaun Para Guru SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta
               Pertemuan para guru dan pihak yang terkait di SD Muhmmadiyah Suronatan, selain membahas mengenai perkembangan sekolah selanjutnya juga membahas perkembangan peserta didiknya baik itu prestasi belajar maupun perilaku siswa. Para guru di SD Muahmmadiyah Suronatan baik dalam mengajar dan mendidik siswa maupun dalam bergaul dengan siswa setiap harinya di sekolah harus menciptakan kedekatan dan keakraban dengan siswa di samping selalu memotivasi siswa untuk belajar dan berperilaku dengan baik dan sopan-santun. Dan yang sangat penting diharapkan  adalah adanya keterjalinan komunikasi antara guru dan siswa di luar kelas.
               Keterjalian komunikasi yang erat dengan guru, merupakan adalah satu cara penting untuk mengetahui apakah si anak mendapatkan kemajuan; apakah perilakunya makin positif atau negatif; apakah ia bersungguh-sungguh atau tidak. Hal itu akan membantu baik itu guru atau orang tua siswa untuk menentukan kapan harus memberikan imbalan dan kapan memberikan sangsi.
               Sebaliknya, ketika guru dan orang tua bertindak secara sendiri-sendiri dengan tujuan yang berlawanan, anak akan menderita. Namun, kalau mereka bekerja sama untuk mengubah perilaku anak, hasil yang dramatis bisa dicapai.
2. Kebijakan Secara khusus
               Penerapan kecerdasan emosional siswa dalam konteks kebijakan secara khusus, artinya kebijakan-kebiajakan yang dituangkan oleh personil SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta. Dalam hal ini khususnya para guru pemegang kelas atau yang dinamakan guru kelas pada kelas rendah, yaitu kelas I. II dan III. Adapun yang menjadi kebijakan guru dalam menerapkan kecerdasan emosional siswa adalah sebagai berikut:
a. Pengenalan Lingkungan Sekolah
               Siswa sekolah dasar yang baru pertama kali masuk ke lingkungan sekolah merupakan sesuatu yang asing dan menakutkan bagi siswa ayng bersangkutan. Aapalagi nuansa kehidupannya berbeda dengan yang ada di taman kanak-kanak (TK). Biasanya anak  yang memasuki lingkungan baru pastinya akan penasaran dengan apa yang mereka lihat dan mereka ingin tahu dari berbagai sudut ruangan yang ada di sekolah. Untuk itulah, di hari pertama sampai hari ketiga diawal anak masuk sekolah, guru akan memperkenalkan lingkungan sekolah dengan berjalan bersama dan berbaris secara teratur mengelilingi ruangan-ruangan yang ada di sekolah dimulai dari kantor kepala sekolah, ruang guru, ruang kelas kelas satu sampai kelas enam, kantin makan, tempat bermain dan berolah-raga dan bahkan sampai pada kamar kecil (toilet). Tujuan daripada diadakannya pengenalan lingkungan lingkungan sekolah adalah agar siswa tidak merasa asing dan takut[54].
b. Memberikan Permainan-Permainan
               Selain memperkenalkan lingkungan sekolah, guru juag memperkenalkan permainan-permainan pada siswa kelas satu pertama kali masuk. Dengan pertimbangan karena siswa kelas satu suasananya masih terbawa di taman kanak-kanak yang masih suka bermain-main, bercanda, ngobrol, berlari-lari dan sebagainya.
               Pemberian rangsangan seperti permainan ini diharapkan nantinya siswa dapat belajar tanpa rasa takut, cemas dan gelisah memasuki dunia barunya. Permainan ini diberikan pada hari ke-empat siswa masuk sekolah. Pemberian permaian ini tidak selamanya diberikan, tetapi hanya sekali atau dua kali dalam tiap bulannya sebagai selingan dalam belajar[55].
c. Siswa Boleh Ditunggu Oleh Orang Tuanya
               Siswa yang berada di kelas satu mengalami masa transisi dari taman kanak-kanak ke sekolah dasar, sehingga tidak mudah bagi anak untuk menerima lingkungan barunya. Ketergantungan pada orang tua masih dibawanya sampai ke jenjang berikutnya. Hal yang demikian bisa dikarenakan usia anak yang masih terlalu dini. Gejala-gejala yang muncul dari sifat ketergantungan ini salah satunya adalah minta ditunggu orang tuanya di sekolah, anak mersa cemas dan khawatir bila ditinggal orang tuanya.
               Untuk menyikapi masalah siswa yang minta ditunggui oleh orang tuanya, guru memberikan tiga langkah kebijakan yaitu: Pertama, orang tua menunggu siswa di dalam kelas dengan syarat tidak membantu pekerjaan siswa. Kedua, bial kondisi anak sudah menunjukkan gejala yang tidak kronis lagi, orang tua menunggu di laur kelas dan si anak bisa melihat orang tuanya  dari dalam kelas.  Ketiga, orang tua menunggu siswa di luar kelas yang tidak terlihat oleh siswa dan bila siswa tidak mempercayainya siswa boleh keluar untuk membuktikan orang tuanya masih berada di sekolah[56].
               Kebijakan pertama sampai kebijakan yang ketiga merupakan kebijakan yang diterapkan guru dalam melatih kecerdasan emosional siswa khusus bagi kelas satu. Sedangkan kebijakan yang lainnya berlaku secara umum baik itu kelas satu, kelas dua atau kelas tiga. Adapun kebijakan-kebijakan tersebut adalah:
d. Membuat ikatan perjanjian dengan siswa tenatng konsekuensi tau hukuman bila ada siswa yang melanggar tata tertib kelas
               Keberadaan dan aspirasi siswa di kelas sangat diperhatikan dan didengar oleh para guru dalam segala hal, samapi pada hukuman pun demikian. Guru tidak mengambil keputusan secara sepihak, melainkan dimusyawarahkan bersama siswa, seperti hukuman bagi siswa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR), sebelumnya telah disepakati bagi siswa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah konsekuensinya siswa diberi tugas empat kali lipatnya tergantung pada kondisi kejiwaan siswa. Demikian pula dalam masalah keterlambatan siswa, disepakati konsekuensinya berupa menghafalkan ayat-ayat pendek (Juz’ama) dan doa-doa, serta menjalankan shalat dhuha pada waktu jam istirahat[57].
e. Siswa-siswi diwajibkan menabung
               Menabung merupakan salah satu upaya guru dalam melatih siswa untuk hidup hemat dan bersikap dermawan terhadap yang membutuhkan. Adapun nantinya uang tabungan tersebut dapat digunakan untuk dana sosial bagi siswa yang orang tuanya kurang mampu, dana khitan, dan untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya di dalam kelas seperti untuk membesuk anak yang sakit dan sebagainya[58].
f. Mewajibkan siswa untuk piket kelas atau bersih-bersih kelas dan merapikan meja dan bangku belajar setelah jam belajar berakhir
               Kondisi dan kenyamanan kelas harus terjaga, untuk itulah supaya kelas tetap bersih dan nyaman, perlu untuk membentuk tim kecil dan secara bergilir membersihkan kelas setelah jam belajar selesai[59]. Tugas piket kelas ini hukumnya wajib dan semua siswa harus mematuhinya bila ada siswa yang melanggar, maka pelanggaran siswa tersebut dimasukkan dalam buku pelanggaran sekolah dan ditandatangani oleh orang tua siswa.
               Adapun bentuk pembagian tugas piket ini, selain agar kelas tetap terjaga kebersihannya juga untuk melatih siswa mandiri dan tanggung jawab, sehingga pada gilirannya siswa akan terbiasa dalam mengerjakan pekerjan rumah tangga dan mereka tidag sungkan untuk mengerjakannya di rumah. Ataupun sebaliknya, bila di rumah si anak biasa terlibatsecara fisik, mental dan emosional dalam mengatur dan memelihara rumah tangga, maka kemampuan berbuat yang sama pun akan diperbuatnya di sekolah dan aktivitas yang lain akan meningkat.
g. Memberiakn buku pantauan
               Buku pantauan paad dasarnya kebiajkan dari sekolah, namun kewenangannya pada akhirnya diserahkan pada guru kelas masing-masing kelas yang mampu memantau setiap harinya di kelas dan paad akhir tutup bulan dilaporkan pada kepala sekolah. Pemberian buku pantauan ini untuk melihat sejauhmana siswa melakukan aktivitasnya sehari-hari baik itu belajarnya atau aktivitas keagamaan seperti shalat  dan tadarus yang ditanda tangani langsung oleh orang tua siswa dan dilaporkan pada guru kelas setiap hari. Sehingga dari buku pantauan ini dapat terlihat jelas mana siswa yang benar-benar melakukan aktivitas belajar, shalat atau tadarusnya[60]. Selain mendorong siswa untuk belajar lebih tekun dan giat juag denagn buku pantauan ini diharapkan siswa untuk berlaku jujur terhadap guru dan orang tuanya.
h. Memberikan fasilitas-fasilitas yang menunjang kegiatan belajar-mengajar
               Fasilitas-fasilitas yang dimaksud adalah bisa berupa media elektronika, seperti alat mikrofon atau Wireless[61], denagn media tersebut siswa dapat mengaktualisasikan dirinya dengan menyanyi atau berpuisi, dan dengan alat ini pula siswa merasa terhibur dan senang. Melalui media ini terkadang digunakan guru untuk melatih percaya diri siswa yang pemalu untuk berbicara dengan alat bantuan seperti mikrofon dan nanatinya  didenagrkan sendiri oleh siswa yang bersangkutan dan pada gilirannya siswa akan mengetahui suaranya sendiri itu bagus dan membuat  siswa tersebut dapat percaya diri[62].
i. Merubah komposisi duduk
               Perubahan komposisi duduk sangatlah diperlukan disamping untuk kesehatan mata juag untuk merubah suasana belajar. Penempatan komposisi duduk siswa yang harus berbeda setiap minggunya juga akan mempengaruhi bagaimana siswa tersebut termotivasi untuk belajar dan mau tidak mau siswa harus menemui teman sebangku yang berbeda-beda pula[63]. Dengan demikian siswa dapat bersosialisasai secara luas.
j. Mencatat pelanggaran siswa ke dalam buku pelanggaran sekolah
               Semua jenis pelanggaran yang dilakukan siswa akan dimasukkan dalam buku pelanggaran dan setiap bulannya dilaporkan pada orang tua siswa serta dilaporkan dan ditandatangani oleh kepala sekolah[64]. Dengan buku pelanggaran tersebut siswa akan lebih berhati-hati untuk tidak melakukan pelanggaran lagi, sehingga disinilah perlunya ketekunan  siswa untuk tidak berbuat yang melanggar peraturan sekolah serta melalui buku pelanggaran ini siswa  dilatih untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya.                                                           
            
BAB III
METODE MELATIH KECERDASAN EMOSIONAL PADA ANAK
A. PENYAJIAN DATA
Setelah melakukan penelitian di lapangan, pada akhirnya diperoleh data-data yang berkaitan dengan ketrampilan guru melatih kecerdasan emosional siswa. Data ini diperoleh berdasarkan hasil pengamatan secara langsung dan hasil wawancara dengan informan, dalam bab ini akan dibahas tentang permasalahan emosional yang dihadapi guru beserta nilai-nilai dan cara-cara guru dalam melatih kecerdasan emosional. Ketrampilan dalam hal ini adalah pemahaman guru tentang melatih kecerdasan emosional yang diterapkan secara bersama dengan kegiatan belajar-mengajar di kelas setiap harinya.
Lebih jelasnya berikut ini akan dibahas tentang ketrampilan guru dalam melatih kecerdasan emosional pada setiap jenjang pendidikan secara terperinci, hal ini di karenakan permasalahan emosional siswa yang dihadapi guru dalam setiap kelas berbeda dan gejala-gejala yang tampak pada siswa kelas 1, 2 dan 3 juga berbeda. Begitu pula dalam melatih kecerdasan emosional ini diklasifikasikan berdasarkan tingkat intelektualitas dan perkembangan pribadi siswa.
Adapun bentuk-bentuk ketrampilan guru dalam melatih kecerdasan emosional siswa adalah sebagai berikut:
1.   Ketrampilan Guru Melatih Kecerdasan Emosional Siswa Kelas I
a.  Masalah Emosional Siswa di Kelas I
1) Ketidakdisiplinan
Ketidakdisiplinan, terutama ketidakdisiplinan dalam belajar merupakan masalah yang dominan dihadapi guru. Hal ini disebabkan karena siswa masih terbawa kebiasaan di taman kanak-kanak, yang ditandai kesenangan untuk bermain-bermain dan tingginya ketergantungan kepada orang tua. Adapun bentuk-bentuk ketidakdisiplinan siswa tersebut adalah:
a)      Membuat keramaian di dalam kelas.
Siswa pada umumnya suka mengobrol dengan teman sebangkunya, suka bermain-main, dan bersenda gurau. Padahal perilaku-perilaku ini menciptakan suasana gaduh di dalam kelas dan membuat siswa lainnya tidak berkonsentrasi pada tugas-tugas mereka.[65]
b)      Terlambat datang ke sekolah
Sebagian besar siswa diantar jemput oleh orang tua mereka ke sekolah. Hanya saja, karena siswa biasanya belum mampu mempersiapkan dirinya sendiri  dan jarak rumah mereka dengan sekolah yang cukup jauh, maka biasanya mereka terlambat sekolah. Hal ini diakui oleh guru kelas 1B, sebagai berikut:
“ Saya kira wajar ya… apabila anak yang baru masuk kelas satu dan terlambat, sebabnya banyak anak-anak yang rumahnya jauh dan apalagi mereka’kan masih kecil, jadi belum bisa menyiapkan perlengkapan sekolahnya dan masih perlu bantuan orang tuanya. Pertama masuk ke kelas dan terlambat anak ini takut dan malah nggak mau masuk ke kelas. Kalau kejadiannya seperti saya anjurkan pada orang tua supaya tidak terlambat lagi mengantarkan anaknya”[66]
c)      Tidak mengerjakan pekerjaan rumah.
Pekerjaan rumah adalah sesuatu yang masih asing bagi siswa kelas satu, karena di jenjang sebelumnya mereka tidak pernah mendapatkan tugas semacam itu. Oleh karenanya, bagi sebagian siswa pekerjaan rumah dirasakan sebagai beban dan dianggap mengurangi waktu bermain mereka. Akibatnya siswa sering melalaikan tugas tersebut dan menganggapnya tidak membawa konsekuensi apapun.[67]
2) Ketergantungan
Tingginya tingkat ketergantungan siswa kepada orang tuanya selama di taman kanak-kanak ternyata masih dibawa kejenjang berikutnya. Pada umumnya siswa masih dibangunkan oleh orang tuanya, dimandikan, dan perlengkapan belajarnya juga masih dipersiapkan oleh orang tuanya.. Kebiasaan-kebiasaan inilah yang biasanya memicu keterlambatan mereka datang ke sekolah.[68]
3) Cemas bila ditinggalkan orang tua di sekolah
Rasa cemas juga merupakan masalah emosional siswa yang sering dihadapi guru. Sumber kecemasan ini adalah rasa takut yang ditimbulkan oleh lingkungan yang masih asing, kehadiran guru yang belum dikenal, dan khawatir kalau ditinggal sendirian oleh orang tuanya di sekolah. Terkait dengan hal yamg terakhir yang disebutkan, gejala-gejala kekhawatiran siswa ditandai beberapa perilaku berikut ini:
a)      Menengok orang tuanya yang berada di luar kelas.
Walaupun siswa sudah berada di dalam kelas dan mereka telah duduk di tempatnya masing-masing, namun isyarat mata mereka dengan jelas menunjukan perhatian mereka sebenarnya masih tertuju kepada oreang tua mereka yang berada di luar kelas
b)      Sesekali menemui orang tua mereka di luar kelas.
Memperhatikan orang tua mereka dari dalam kelas ternyata belum mencukupi. Untuk itu sesekali mereka langsung menemui orang tua di luar kelas, guna memastikan bahwa orang tua mereka setia menunggu. Perilaku diatas hanya berlangsung sebelum guru kelas memulai proses belajar mengajar. Apabila guru sudah memasuki kelas dan proses belajar mengajar telah di mulai; maka perhatian siswa kepada orang tua mereka sedikit demi sedikit berkurang.
c)      Memperhatikan orang tua lewat jendela kelas.
Walaupun siswa sudah mulai berkonsentrasi pada pengajaran guru di muka kelas, bukan berarti rasa cemas siswa pudar secara keseluruhan. Kadangkala mereka masih memperhatikan orang tua melalui jendela kelas.[69]
4)   Perilaku Asosial
a)      Pemalak atau pengompas
Fenomena pemalakan, hampir ada di setiap sekolah. Perilaku meminta uang atau barang milik orang lain secara paksa yang dilakukan oleh anak yang bermasalah itu jelas membuat lingkungan sekitar tidak aman.
Istilah pemalak yang di kenal di sekitar sekolah disebut dengan ngompasi. Anak yang berbuat perilaku seperti pemalak biasanya beroperasi setiap jam istirahat, dimana ia merasa tidak puas bila tidak meminta secara paksa dari sasarannya.Adapun yang menjadikan anak berperilaku menjadi pemalak kecil adalah kurangnya perhatian dari orang tua atau bisa juga dari mereka yang memiliki orang tua yang tidak lengkap (single parent) dan ada yang disebabkan karena mereka tidak di beri uang jajan oleh orang tua mereka. Sebagaimana yang dikatakan oleh guru kelas 1A:
“ Yang menggangu hubungan sosial siswa khususnya di kelas yang saya pegang angkatan tahun kemarin sekarang sudah kelas dua ada anak yang sukanya minta jajanan atau uang jajan sama temannya secara paksa atau kalau di sini namanya ngompasi, kalau temannya itu tidak mau memberi kadang di tendang atau dijambak rambutnya sampai anak itu menangis”[70]
b)      Perkelahian
Perilaku asosial yang sering ditampakkan oleh anak-anak biasanya dalam bentuk perkelahian. Pemicu dari pertengkaran atau perkelahian biasanya dari rasa jengkel dan dongkol anak terhadap anak lainnya yang dianggapnya telah mengganggu dan mengejeknya[71].
c)      Berbohong
Anak yang berbohong biasanya dalam masalah nilai yang jelek. Ketika anak mendapatkan nilai yang jelek, ada yang diantara orang tua mereka yang tidak mau menerima nilai yang jelek dari anaknya.
Untuk menghindari perlakuan dari orang tua yang keras, anak berusaha menutupi kejelekannya seperti nilai jelek tersebut digantikannya dengan nilai yang bagus. Berbohong disini maksudnya lebih mengarahkan pada rasa ketakutan anak terhadap orang tuanya, tapi sebenarnya mereka adalah anak-anak yang jujur bila berada di sekolah. Apabila mereka berhadapan di gurunya mereka selalu jujur karena mereka merasa lebih dekat dan menuruti gurunya daripada orang tuanya.
“ Anak berbohong biasanya dalam masalah nilai yang mereka peroleh itu tidak memuaskan. Pernah ada siswa yang kalau dapat nilai jelek itu dipukul oleh bapaknya, sehingga kalau dia setiap mendapatkan nilai jelek digantikannya dengan nilai yang lebih bagus dengan cara menggantikan angka yang lebih tinggi yang tidak diperolehnya. Anak berbohong dibawah umur sepuluh tahun, karean tidak tahu baik-buruk suatu perbuatan karena mereka melihat sesuai dengan apa adanya, melainkan ia berusaha untuk menjauhi dan melindungi diri dari perbuatan orang yang lebih dewasa dalam hal ini orang tua, sehinga untuk menjelaskan tentang berbohong ini beserta dampaknya bukan dengan cara nasihat tentang dosa atau tidaknya suatu perbutan, tapi dengan cara menjelaskan pada mereka tentang surga dan neraka.” [72]
d)      Bertutur kata yang kurang sopan dan santun
Bertutur kata bagi anak-anak seusia yang masih dini ini lebih menirukan gaya orang yang lebih besar disekitarnya. Peniruan ini mereka dapatkan lebih banyak dilingkungan rumahnya, dan  dibawa ke sekolah yang kemudian ditirukan oleh anak-anak lainnya yang sebelumnya tidak tahu. Di dalam kelas mereka berseloteh dengan kata-kata yang kurang sopan seperti “monyet” atau “orang edan” dan sebagainya.[73]
b. Nilai-Nilai dan Cara-Cara Guru Melatih Kecerdasan Emosional Siswa di Kelas I
Pelbagai masalah emosional di atas adalah alasan utama yang menyebabkan para guru di SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta merasa enggan menjadi guru kelas satu. Mereka pada umumnya memilih untuk menjadi guru kelas di jenjang lainnya, karena masalah-masalah yang dihadapi di jenjang tersebut tidak sekompleks di kelas satu, yang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan ekstra dari guru. Oleh karenanya, walaupun menghadapi tingkat kesulitan yang lebih tinggi, guru yang bertindak sebagai guru kelas satu merasa enggan ketika dipercayai menjadi guru kelas tersebut.
Selanjutnya, untuk mengatasi masalah-masalah emosional tersebut guru berusaha menanamkan nilai-nilai dengan cara-cara berikut ini:
1) Kedisiplinan
Untuk mengatasi keramaian, kelalaian siswa dalam mengerjakan pekerjaan rumah, dan menghindari keterlambatan siswa datang ke sekolah. Guru menekankan pentingnya kedisiplinan kepada siswa. Nilai ini dilakukan dengan cara-cara berikut ini:
a) Menghukum siswa
Hukuman yang diberikan guru kepada siswa-siswinya merupakan salah satu langkah yang cukup efektif dalam menghadapi masalah-masalah pembelajaran yang bersumber dari emosi siswa. Namun hukuman ini tidak layaknya hukuman klasikal seperti yang dipakai oleh sekolah-sekolah  dulu yang monoton.Hukuman yang diberikan ini lebih mempertimbangkan pada kondisi kejiwaan siswa yang ditakutkan akan melemahkan mental anak-anak. Guru lebih memilih dengan memakai hukuman yang cukup sederhana seperti siswa yang datang terlambat; pertama mengisi buku pelanggaran tata tertib sekolah, mengulang kembali cara-cara memasuki ruang kelas dengan  sopan dan santun dan yang terakhir bila siswa tersebut terlalu sering terlambat maka disuruh membaca doa-doa dan menghafalinya (seperti doa ketika dan sesudah makan) atau di suruh melaksanakan shalat Dluha.[74]
Adapun dalam mnghadapi siswa yang ramai di dalam kelas, guru biasanya memberikan pengayaanyang bertujuan untuk mengalihkan perhatian siswa dengan memberikan tugas pada siswa yang bersangkutan untuk mengerjakan soal-soal latihan dan bisa dikerjakan di dalam atau di luar kelas.[75]
b) Menegur dan mengancam
Teguran kepada siswa dilakukan guru apabila siswa tidak memperhatikan pengajaran guru, tidak berkonsentrasi pada tugas yang diberikan, siswa yang suka jalan-jalan di dalam kelas (keliling kelas) dan tidak duduk pada tempat duduknya masing-masing. Biasanya guru menegur siswa dengan menyebutkan nama siswa yang bersangkutan;
 “Faizir… bisa diam tidak ?, kalau tidak bisa diam nanti kamu baca doa sendiri”[76]
c) Nasihat dengan cerita
Dalam menangani masalah emosional siswa guru lebih seringnya menggunakan cara dengan memberikan nasihat-nasihat.Nasihat-nasihat ini berupa cerita atau kisah nabi, dongeng-dongeng tentang binatang (fabel), atau kisah kocaknya si Abu Nawas. Nasihat ini juga bisa berupa ungkapan-ungkapan yang diambil dari hadist nabi, seperti dalam menangani anak yang suka meminta-minta dengan secara paksa (pemalak), guru biasanya memberikan wejangan-wejangan dan memberikan nasihat bahwa:
        “Tangan yang di atas lebih baik dengan tangan yang ada di bawahnya”[77]
Atau dengan mengatakan kepada siswa tersebut bahwa:
        “Meminta secara paksa pada teman sama saja dengan mencuri, merampok dan menodong dan itu dosa, kalau dosa berarti kamu nanti masuk neraka yang ada apinya”.[78]
2) Kemandirian.
Kemandirian merupakan salah satu bentuk kecerdasan emosional yang secara mencolok sering diberikan guru, teruatama pada masa awal siswa memasuki sekolah dasar. Adapun cara guru melatih kemandirian siswa adalah:
a)      Mengecek tingkat kemandirian siswa
    Hal ini dilakukan dengan bertanya kepada siswa seputar kegiatan pribadi yang dilakukan siswa secara mandiri. Sebagai contoh pada satu waktu guru bertanya kepada siswa:
“Siapa yang tadi pagi dibangunkan ibunya masih rewel?, Tasya… kamu tadi pagi bangunnya jam berapa dan shalat shubuh tidak?”[79]
Menanggapi pertanyaan guru, siswa pada umumnya langsung mengangkat tangannya.
b)       Memberi petunjuk tentang aktivitas-aktivitas mandiri yang dapat dilaksanakan siswa.
Selain mengecek tingkat kemandirian siswa, guru juga menyebutkan urutan langkah-langkah yang harus dilakukan siswa sebelum berangkat ke sekolah. Pada saat itu guru mengatakan:
“ Baik anak-anak mulai besok pagi harus bangun lebih awal kemudian shalat shubuh, mandi, sarapan dan baru berangkat sekolah, kalau anak-anak bangunnya adzan shubuh jadinya tidak terlambat masuk sekolah”[80]
Kedua pendekatan ini menurut guru cukup efektif karena siswa-siswinya ternyata mengikuti saran-sarannya. Bila ditanya perihal apakah mereka benar-benar telah mempersiapkan dirinya sendiri sebelum berangkat ke sekolah, siswa dengan antusias menunjukan jarinya dan hal ini membuktikan bahwa mereka benar-benar mengikuti saran guru.
3) Keberanian     
Seiring dengan nilai kemandirian, keberanian juga merupakan salah satu nilai kecerdasan emosional yang secara intensif di lakukan guru kepada siswa-siswanya. Hal ini dilatihkan guru agar siswa dapat mengatasi ketakutan mereka dalam menghadapi situasi yang baru. Adapun cara guru melatih siswa adalah sebagai berikut:
a) Meminta siswa untuk maju ke muka kelas
Meminta siswa tampil ke muka kelas pada awal pertemuan untuk memperkenalkan dirinya adalah salah satu langkah yang di tempuh guru untuk mengembangkan keberanian siswa. Walaupun setiap siswa telah mengenakan tanda pengenal di dada bagian kanan masing-masing,  mereka tetap diminta guru untuk maju ke depan dan menyebutkan identitas dirinya. Kendati sebagian  besar siswa tampak masih malu-malu, pendekatan ini sedikit banyak telah melatih keberanian siswa. Mereka belajar untuk mengatasi ketakutan, rasa canggung dan bersedia di nilai orang lain.[81]
b) Mengelilingi lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah adalah rumah kedua setelah kehidupan mereka di keluarganya masing-masing. Untuk itulah, betapa pentingnya mengenalkan lingkungan sekolah kepada siswa kelas satu. Langkah ini merupakan langkah yang cukup ampuh dalam memupuk keberanian kepada siswa dalam lingkungan barunya yaitu sekolah dasar.
Pengenalan terhadap lingkungan sekolah ini diadakan tiga hari  setelah siswa masuk ke sekolah. Adapun pengenalan sekolah dilakukan dengan cara mengelilingi lingkungan sekolah yang dipandu langsung oleh guru kelas,langkah pertama siswa berbaris rapi kemudian berjalan bersama mengelilingi berbagai sudut ruangan di sekolah, seperti ruang kantor kepala sekolah dan guru, ruang-ruang kelas, kantin makan serta kamar kecil (toilet).[82] 
c)  Meminta siswa mengerjakan soal-soal di muka kelas
Mengerjakan soal-soal di muka kelas, disamping befungsi untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap pelajaran  yang sudah diajarkan guru, ternyata juga melatih keberanian siswa. Tampil ke muka kelas dan mengerjakan soal-soal latihan bukan pekerjaan yang mudah bagi siswa. Tapi sebaliknya tugas ini membutuhkan persiapan mental yang memadai. Jika siswa tidak memiliki keberanian dan masih diliputi rasa malu, ia tidak akan bersedia melakukan hal tersebut. Sebaliknya jika siswa memiliki keberanian, ia tidak akan menghindari permintaan guru, bahkan mampu mengaktualisasikan dirinya tanpa diminta oleh guru.[83]
d) Membantu guru membagikan buku latihan
Hal ini sepertinya sangat sepele, namun kenyataannya mempunyai dampak psikologis yang cukup besar bagi siswa. Ketika guru meminta siswa membagikan buku latihan yang sudah dikoreksi, ternyata mereka yang mendapatkan tugas merasa dipercayai oleh guru, sehinga siswa  sangat antusias dan seringkali berkompetisi untuk mendapatkan kesempatan melaksanakan tugas tersebut[84].
4)   Membina Persahabatan
Perilaku asosial siswa, seperti meminta uang jajanan pada temannya, dipandang guru dapat menghambat hubungan sosial antar siswa. Untuk itulah guru juga memperhatikan terjalinnya persahabatan antar siswa adalah sebagai berikut:
a) Menganalogikan hubungan antar siswa sebagai sebuah keluarga.
Sebagai contoh dalam sebuah pertemuan guru mengatakan kepada siswa:
“Kita ini satu keluarga, kalau di rumah yang menjadi orang tua kalian adalah bapak dan ibu kalian, tapi di sekolah, ibulah yang bertindak sebagai ayah dan ibu kalian. Makanya jangan rebut dan jangan berantem dalam satu keluarga”[85]
Dari sini terlihat jelas, bahwa guru memandang persahabatan sebagai nilai yang sangat penting. Ia menganalogikan hubungan antara guru dan siswa denagn siswa lainnya adalah seperti sebuah keluarga, di  mana guru bertindak sebagai orang tua yang menggantikan peran ayah dan ibu mereka di rumah dan setiap siswa terikat dalam hubungan persaudaraan.
b) Memanggil siswa yang berperilaku asosial
Selain memberikan nasihat kepada siswa tentang pentingnya persahabatan, guru juga memberikan perhatian pada penanganan kasus-kasus yang dapat merusak persahabatan antar sesama siswa. Misalnya ketika guru mendapat laporan tentang kenakalan siswa yang suka meminta jajan kepada temannya dan memaksanya jika tuntutannya tidak dipenuhi. Begitu menerima laporan guru langsung memanggil siswa yang bersangkutan. Guru bertanya;
 “kenapa minta uang sama temannya?”, “tidak dikasih uang jajan Bu…”, jawab siswa. “kalau begitu, besok bawa makanan dari rumah”. Ujar guru selanjutnya. Kemudian guru menasihati siswa tersebut dengan mengatakan, “Tangan di atas itu lebih baik daripada tangan yang dibawah, tahu kan apa artinya itu?, artinya kamu itu lebih baik memberi bukannya meminta apalagi dengan memaksa, kalau meminta jajan pada temanmu dengan cara paksa berarti kamu sama saja denga pencuri, perampok dan yang sejenisnya, kamu mau dikatakan pencuri?, nggak mau’kan?, ya udah sekarang kamu minta maaf Risa”[86]
2.   Ketrampilan Guru Melatih Kecerdasan Emosional Siswa Kelas II
a. Masalah-masalah emosional siswa yang dihadapai guru
1)   Ketidakdisiplinan
Ketidakdisiplinan tidak hanya terjadi di kelas I, masalah ini bisa terjadi di kelas II. Hanya saja tingkat kesulitannya lebih rendah untuk mengatasi hal tersebut, guru biasanya menegur siswa agar mengubah perilakunya tersebut. Adapun bentuk-bentuk ketidakdisiplinan tersebut adalah:
a)  Keramaian di dalam kelas
Keramaian ini biasanya dipicu oleh kebiasaan siswa yang suka berbincang-bincang selama mengerjakan tugas atau bersenda gurau waktu menyerahkan tugas kepada guru.[87]
b) Tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR)
Seperti halnya di kelas I, kecenderungan siswa untuk melalaikan PR juga masih terjadi di kelas II. Untuk menutupi keteledorannya ini, siswa biasanya beralasan bahwa PR tersebut tertinggal di rumah atau lupa dikerjakan.
“Anak yang manja dan pemalas yang lebih sering melalaikan tugas dan beralasan bukunya tertinggal di rumah, sebenarnya belum mengerjakan karena kebiasaannya kalau ada PR di kerjakan saudara atau pembantunya”[88]
c) Melanggar peraturan sekolah
Melanggar peraturan yang biasanya dilakukan oleh siswa itu tidak memakai seragam sekolah sacara lengkap; seperti tidak memakai tanda pengenal atau tidak memakai sabuk.[89]
2)   Motivasi belajar yang rendah
Rendahnya motivasi diri, terutama motivasi belajar siswa, disamping guru merasa kesulitan dalam mengelola pembelajaran, juga berdampak pada rendahnya prestasi belajar siswa. Siswa yang mempunyai motivasi belajar yang rendah di tandai perilaku berikut ini:
a) Tidak terkonsentrasi dan tidak mau mengerjakan tugas
Biasanya siswa yang tidak terkonsentrasi maupun tidak mau mengerjakan tugas dikarenakan oleh keadaan siswa dari rumah di bawa ke sekolah; seperti anak yang biasa dimanja di rumah, siswa tersebut akan kesulitan ketika di kelas di beri tugas latihan oleh guru atau siswa yang mempunyai permasalahan di rumah; seperti siswa yang di hadapi masalah percekcokan atau pertengkaran yang terjadi pada kedua orang tuanya. Siswa-siswa yang demikian akan sulit untuk berkonsentrasi dalam pelajarannya, perilaku ini biasanya ditandai dengan melamun atau bermalas-malasan di dalam kelas.[90]
b) Lambat dalam mengerjakan tugas
Masalah siswa yang lambat dalam mengerjakan tugas juga dipicu oleh keadaan ataupun kebiasaan siswa di rumah dan di bawanya di sekolah. Siswa yang manja biasanya lambat dalam mengerjakan tugas di dalam kelas, hal ini biasanya disebabkan kebiasaan siswa kalau ada PR dikerjakan oleh orang lain ataupun tanpa bimbingan orang tua.[91]
3) Perilaku asosial
Perilaku asosial siswa yang pada umunya merupakan kebiasaan yang dibawa dari rumah; seperti siswa yang suka atau cepat marah, maka apabila di dalam kelas ada temannya yang mengejeknya langsung marah dan tidak ragu-ragu untuk membalasnya dengan pukulan atau tendangan. Ada pula siswa yang manja diejek sedikit sama temannya langsung menangis. Kurangnya sopan santun siswa juga yang terjadi di dalam kelas, seperti menerima barang dengan tangan kiri atau berkata yang tidak sopan di dalam kelas, walaupun hanya celotehan siswa, adalah kebiasaan-kebiasaan siswa yang sering dilakukan siswa, yang tidak sesuai dengan norma sosial. Oleh karena itu, tata krama sosial siswa juga diperhatikan guru di dalam kelas.[92]
b. Nilai-Nilai dan Cara-Cara Guru Melatih Kecerdasan Emosional Siswa.
1) Kedisiplinan
Nilai ini mendapat prioritas utama karena masalah kedisiplinan masih dominan terjadi. Untuk melatih nilai ini kepada siswa, guru melakukan langkah-langkah berikut ini:
a) Menegur dan mengancam siswa
Menghadapi siswa yang ramai di dalam kelas, tindakan pertama yang dilakukan oleh guru biasanya menegur secara langsung pada siswa yang bersangkutan. Teguran ini biasanya dilakukan guru ketika ada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru atau ketika siswa ramai di dalam kelas; seperti jalan-jalan di dalam kelas. Sebagaimana ada kejadian ketika kondisi kelas ramai, maka guru mengatakan:
“Anak-anak tahu tidak kalian?, yang boleh jalan di dalam kelas hanya yang diberikan tugas untuk mengumpulkan buku latihan dan yang lainnya yang tidak berkepentingan duduk di bangkunya masing-masing!”[93]
Terkadang guru juga menggunakan ancaman dalam menghadapi kelalaian siswa, sebagaimana kejadian ada siswa  yang tidak mengumpulkan tugas latihan ataupun buku evaluasi nilai (Raport), oleh guru dikatakan demikian:
“Yesa, kalau kamu besok tidak mengumpulkan buku raport, ibu tidak mau menaikkan kamu kelas tiga!”[94]
b) Memberi hukuman dengan meminta siswa mengerjakan tugas
Keaadan kelas satu dengan kelas dua jelas berbeda, di mana kenakalan di kelas satu bisa ditolerir karena sudah dianggap wajar, tapi di kelas dua guru sedikit keras dalam menanganinya. Seperti halnya ketika ada siswa yang melanggar peraturan sekolah dengan tidak memakai seragam secara lengkap, maka langkah pertama yang diambil guru adalah dengan memasukkan pelanggaran siswa tersebut kedalam buku pelanggaran sekolah.
 Selain memasukkan pelanggaran siswa kedalam buku pelanggaran, siswa pun diberikan nasihat tantang penting dan manfaatnya berpakaain rapih dan bersih, yang mana guru memberikan nasihat-nasihat tentang kisah teladan atau dengan memberikan nasihat bahwa “kebersihan merupakan sebagian dari iman”, dan langkah yang terakhir, bila siswa tersebut melakukan kesalahan secara berulang-ulang, maka guru memberikannya hukuman dengan meminta siswa untuk berdiri di muka kelas atau menyapu di dalam dan di luar kelas.[95]
Adapun bagi siswa yang tidak mengerjakan PR, maka guru menawarkan kepada siswa agar mengerjakan PR-nya sebanyak lima kali lipatnya. Tapi dengan melihat ekspresi wajah siswa yang menunjukan keberatan dengan hukuman tersebut, membuat guru memberikan keringanan hukuman. Akhirnya siswa diminta mengerjakan PR-nya sebanyak dua kali lipat dan dikerjkan di teras kelas.[96]
2) Tanggung jawab
Bertanggung jawab atas aktivitas belajar adalah salah satu kecerdasan emosional yang dilatihkan guru kepada siswa. Hal ini dilakukan terutama untuk mengatasi siswa yang tidak mau mengerjakan tugasnya dan siswa yang selalu terlambat dalam mengerjakan tugas. Adapun cara guru dalam melatih nilai tersebut adalah sebagai berikut:
a) Mewajibkan siswa menyelesaiakan tugasnya sesudah jam belajar di sekolah
Menghadapi siswa yang tidak berkonsentrasi dan tidak mau mengerjakan tugasnya sera siswa yang selalu terlambat dalam mengerjakan tugasnya, guru mewajibkan mereka setelah jam belajar di sekolah . Mereka dilarang pulang apabila tugas tersebut belum tuntas dan baru diperkenankan pulang kalau sudah menyelesaikannya[97].
 Cara ini selain melatih tanggung jawab siswa terhadap aktivitas belajarnya juga melatih ketekunan dan kesabaran siswa.
b) Mewajibkan siswa melaksanakan piket kebersihan kelas
Pada saat yang sama, guru juga melatih siswa agar bertanggung jawab terhadap kebersihan kelasnya. Untuk itu guru membuat jadwal piket siswa, di mana setiap siswa yang termasuk dalam jadwal piket pada hari tertentu harus membersihkan kelas selesai jam belajar di sekolah.[98]
3) Ketekunan dan kesabaran
Ketekunan dan kesabaran adalah modal utama dalam meraih prestasi belajar. Dalam konteks ini, guru melatih ketekunan dan kesabaran dengan cara memperhatikan setiap siswa yang sedang mengerjakan tugas-tugas latihan dengan mengelilingi ruangan kelas. Di samping itu juga melatih ketekunan dan kesabaran siswa ketika siswa mengalami kesulitan mengerjakan tugas, maka siswa yang bersangkutan maju ke meja guru dan kemudian diberikan pengarahan dan penjelasan dari guru.[99]
4) Motivasi berprestasi
Untuk memotivasi semangat siswa dalam meraih prestasi belajar yang tinggi, guru selalau memberikan pujian pada siswa yang terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mampu menjawab pertanyaan guru dengan benar.[100]
5) Kejujuran
Untuk melatih kejujuran pada siswa, guru biasanya meminta siswa  menyebutkan nilai yang diperoleh dengan mengangkat tangan setiap kali guru menyebutkan nilai yang mungkin mereka peroleh yang kemudian diteliti guru secara bergilir.[101]
Di samping itu juga guru memberikan nasihat dengan cerita-cerita untuk membiasakan anak berlaku jujur. Dalam melatih kejujuran, guru biasanya menggunakan cerita tentang orang-orang yang berlaku tidak jujur beserta akibatnya.[102]
6) Membina persahabatan
Untuk melatih kesetiakawanan sosial siswa dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya, guru melakukan langkah-langkah berikut:
a) Memindahkan tempat duduk siswa secara berkala
Kecenderungan siswa pada usia sekolah dasar yang suka membentuk kelompok sepermainan, pada gilirannya membuat mereka sering tidak toleran dengan kehadiran orang lain. Bahkan mereka tidak mau berhubungan dengan orang lain di luar kelompoknya. Oleh karena itu, dengan memindahkan tempat duduk siswa setiap minggu sekali, mereka harus belajar menerima kehadiran orang lain dan bersedia bekerjasama dengannya.
Di samping melatih ketrampilan sosial siswa, menrut guru cara ini juga bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Dengan membagi komposisi duduk siswa secara seimbang, guru berharap bahwa siswa yang kemampuan belajarnya rendah termotivasi untuk meraih prestasi belajar yang lebih baik.sebaliknya siswa yang kemampunnya lebih dapat membantu siswa yang kemampunnya kurang. Untuk menjamin tercapainya tujuan tersebut, guru mempertimbangkan tiga hal, yaitu prestasi belajar siswa, daya konsentrasi, dan kesehatan mata siswa.[103]
b) Meminta siswa untuk meminjamkan alat tulis
Kehidupan di dalam kelas antara satu siswa dengan siswa lainnya tentunya saling membutuhkan satu sama lain; Seperti dalam meminjamkan alat tulis-menulis, hal yang demikian perlu ditekankan pada siswa untuk saling tolong-menolong. Seperti halnya apabila ada siswa yang tidak membawa pensil berwarna, guru biasanya meminta kepada siswa yang mempunya pensil berwarna untuk meminjamkannya pada temannya yang membutuhkan.[104]
7) Memiliki tata krama sosial
Tata krama sosial merupakan ketrampilam sosial yang diperhatikan guru. Apalagi muncul perilaku-perilaku siswa yang tidak sesuai dengan norma-norma sosial, guru langsung menegur dan memperingatkan siswa yang bersangkutan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi. Sebagai contoh ketika guru menjumpai ada siswa yang menyerahkan buku tulis kepada gurunya tersebut dengan tangan kirinya. Secara spontan guru biasanya menegur seketika itu, dengan tindakan guru tidak mau menerima buku tulis itu. Menanggapi teguran guru, siswa tersebut langsung menarik tangan kirinya dan memajukan tangan kananya. Ia mengerti bahwa menerima segala sesuatu dengan tangan kiri yang dipandang tidak sopan secara sosial.[105]
Pada situasi yang lain, guru menjumpai siswa yang terlambat dan langsung masuk ke kelas tanpa mengucapka salam terlebih dahulu, maka guru menegurnya dengan mengatakan:
“Nazam…ayo keluar!, coba kamu ulangi lagi bagaimana cara masuk ke kelas dengan baik”[106]
Setelah mendapatkan intruksi dari guru, siswa tersebut menuruti perintah gurunya dan langsung mengulangi tata cara masuk ke kelas dengan sopan-santun.
Dua peristiwa di atas secara eksplisit menunjukkan bahwa tata krama sosial adalah nilai yang sangat yang diperhatikan guru kepada siswanya.
3. Ketrampilan Guru Melatih Kecerdasan Emosional di Kelas III
a. Masalah-masalah emosional siswa yang dihadapi guru
1) Pengelompokan sosial dan kecemburuan terhadap lawan jenis
Masalah-masalah emosional siswa yang dihadapi guru pada masing-masing jenjang pendidikan berbeda-beda sesuai dengan pertambahan usia, kematangan dan perkembangan intelektual siswa. Selain itu ada kecenderunagn terjadinya dominasi salah satu emosi atas emosi lainnya pada jenjang tertentu. Tetapi selanjutnya dominasi emosi tersebut digantikan dominasi emosi lainnya.
Demikian halnya di kelas III, masalah emosional yang menonjol adalah meningkatnya solidaritas siswa terhadap kelompoknya yang didasarkan pada kesamaan jenis kelamin. Gejala ini dapat dilihat dari keengganan mereka untuk berpisah tempat duduk dari teman akrabnya.
“Ada anak yang tidak cocok dengan kehadiran teman  lainya, tapi mereka harus menerima  berbagi bersama  dan mau tidak mau  dia tidak boleh memilih teman sebangkunya semaunya sendiri, dalam hal ini harus  ada  persamaan antar teman satu dengan  teman lainnya. Kalau ada yang merasa tiak cocok  saya tekankan pada mereka untuk menepisnya dan tidak boleh  memilih salah satu”[107]
Pada saat yang sama, kecenderungan tersebut juga diikuti dengan munculnya rasa cemburu terhadap lawan jenis karena di pandang mendapatkan perlakuan istimewa dari guru. Sebagai contohnya; ketika guru menyajikan mata pelajaran bahasa Indonesia yang kemudian diisi dengan latihan menyanyi maju ke muka kelas dengan menggunakan wireless. Ada sekelompok siswa yang berantusias untuk unjuk kebolehannya dalam menyanyi, mereka menyanyi secara berkelompok dan ada yang sendiri. Tetapi dari semua rangkaian acara tersebut yang mencoba uji kebolehan dalam menyanyi hanya siswa putera saja dan siswa puteri hanya diam dan menyaksikan teman puteranya bernyanyi, mereka enggan menyanyi meskipun guru sudah membujuknya. Melihat situasi seperti ini guru tidak mengambil tindakan yang inisiatif untuk membujuk siswa puteri agar mau bernyanyi.[108]
Dari contoh tersebut di atas siswa puteri merasa kelompoknya sesama puterinya dikalahkan oleh kelompok putera, sehingga kelompok puteri lebih menerima kekalahannya dengan diam dan memgambil tindakan untuk tidak menyanyi di depan kelas.
2) Ketidakdisiplinan
Beberapa bentuk perilaku indisipliner yang dilakukan siswa antara lain:
a) Melanggar tata-tertib dan perintah guru
Hal ini diwujudkan dengan cara berjalan-jalan di dalam kelas dalam prosese belajar-mengajar berlangsung, bersiul-siul dan memukul-mukul meja, menggangu suasana kelas, secara tidak langsung perbautan tersebut juga menyerang otoritas dan kewibawaan guru[109].
b) Melalaikan tugas
Siswa sering terlambat mengerjakan tugas, tidak bersedia maju ke depan apabila diminta guru, tidak konsentrasi dalm pelajaran: sering melamun dan tidak mengerjakan tugas, biasanya dipicu oleh keadaan yang dibawa dari rumah. Berikut ini kutipan wawancara dengan guru kelas IIIA:
“Di kelas yang saya  pegang ini, dulu pertama awal masuk kelas  tiga  ada  ada tiga siswa yang bermasalah;  yang pertama bernama  Jenny, Jenny ini orang tuanya tidak rukun, di kelas ia sering  melamun dan susah  memahami pelajaran. Gejala ini seringkali  muncul setiap ada  permasalahan dari rumahnya, maka untuk membantunya kembali bersemangat dalam  pelajaran saya berikan dia  tugas tambahan disamping itu juga saya  beritahukan pada orang tuanya dalam pertemuan bulanan dengan orang tua siswa dan setiap gejala tersebut muncul seperti bermalas-malasan di meja belajar saya dekati dia dan saya beri nasihat. Kemudian si Hanum, kalauHanum permasalahnnya sama seperti Jenny dan cara melakukan pendekatannya pun sama seperti Jenny. Kedua siswa ini saya perhatikan pemahaman tentang ajaran agama masih sangat kurang, seperti tidak bisa mengaji karena keadaan kelurga yang kurng begitu menpehatikan  masalah  agama. Sehingga dalam hal ini saya berikan mereka dengan pendekatan  agama;  seperti dengan  nasihat bahwa “kalau kamu tidak bia mengaji,  maka apabila sudah menjadi  mayat dan  kubur di  liang  lahatnya gelap  nggak  ada  cahayanya makanya  ngaji ya!” Sedangkan untuk Sanny masalahnya adalah ia punya ibu tiri yang tidak memperhatikannya, sehingga ia menjadi anak pemalas dan kurang berkonsentrasi dalam belajar, maka untuk menyelesaikannya pun sama dengan kedua siswa tadi.  Selanjutnya untuk ketiga siswa ini saya letakkan meja belajarnya  paling depan dengan  pertimbangan pusat perhatian  mereka terfokuskan  pada pelajaran yang saya sampaikan di samping itu juga agar perhatian pada mreka lebih terkontrol. Demikian juga untuk memotivasi mereka saya menempatkan siswa yang pintar untuk menemani  mereka belajar  dan bisa  meniru siswa yang  pintar  tersebut.  Kalau saya temptkan mereka di belakang  cenderung ramai dan tidak terkonsentrasi.  Alhamdulillah sekarang mereka bertiga ada perubahan yang menonjol pada kenaikkan nilai yang mereka  peroleh.”[110]
 Penyebab lainnya dari siswa yang suka melalaikan tugas adalah dari adanya rasa tidak berminat maupun tertarik dari mata pelajaran tertentu, seperti pelajaran bahasa Indonesia dan PPKN. Mereka beranggapan bahwa kedua mata pelajaran tersebut membosankan dan tidak menantang, sehingga yang membuatnya sering melalaikan tugasnya, sedangkan mata pelajaran yang mereka meresa tertantang dan tertarik adalah mata pelajaran yang bersifat eksak; seperti pelajaran matematika dan IPA. Hal ini diakui oleh guru kelas IIIB:
“ Mereka juga terkadang malas mengerjakan PR, biasanya mereka tidak suka pada mata pelajaran yang sifatnya  hafalan  seperti  PPKN  dan bahasa Indonesia, mereka  kurang  meresponi dan kurang semngat  dan nilainya  pun jelek”[111]  
Terkait dengan masalah ini, menurut guru; kebiasaan siswa yang melalaikan tugasnya merupakan indikator yang digunakan untuk mengidentifikasikan apakah siswa memiliki masalah emosional atau tidak. Selain indikator tersebut guru juga memperhatikan gejala-gejala yang tampak dalam perilaku siswa.
3) Perilaku asosial
Perilaku asosial siswa biasanya ditandai dengan adanya pertengkaran antar siswa, di mana pertengkaran ini dipicu oleh kebiasaan siswa yang suka menggoda temannya satu sama lain; seperti berkelahi dan kejahilan siswa putera yang suka menggoda siswa puteri dengan membuka jilbabnya.
“Dalam hubungan dengan temannya, terkadang yang suka jahil dan yang berbuat nakal itu siswa putera, pernah ada yang iseng membuka  jilbabnya  siswa  puteri dan  si siswa  puteri  tidak mau  meneriama perlakuan temannya itu dan jadi marah”.[112]
b. Nilai-Nilai dan Cara-Cara Guru Melatih Kecerdasan Emosional Siswa
                Dalam menghadapi pelbagai masalah emosional siswa tersebut di atas, ada beberapa nilai keceradasan emosional dan langkah-langkah yang ditempuh guru yaitu:
1) Kedisiplinan
Perilaku-perilaku indisipliner siswa, seperti melanggar tata tertib kelas, melalaikan tugas dan sebagainya dihadapi guru dengan melatih nilai-nilai kedisiplinan denagn cara-cara sebagai berikut:
a) Menegur siswa
Cara tercepat yang selalu digunakan guru dalam menangani kedisiplinan atau kenakalan siswa adalah dengan memberikan teguran Di dalam kondisi kelas ramai, guru mengatakan:
“Anak-anak ayo…duduk di tempat duduk kalian masing-masing!”[113]
Walaupun dapat mengatasi situasi dengan segera, namun teguran tidak membawa perubahan yang dapat lama. Menurut situasi yang demikian tidak dapat berlangsung lama dan selang beberapa menit kemudian siswa ramai kembali. Keadaan seperti ini dianggapnya wajar oleh guru dengan mempertimbangkan tingkat usia dan perkemabangan emosional siswa yang belum matang.
b) Mengancam siswa
Guru dalam menghadapi siswa yang tidak mengerjakan PR atau tugas latihan terkadang dengan menggunakan ancaman. Ancaman ini diberikan dengan maksud hanya untuk menakuti siswa dan memotivasii siswa untuk belajar dan tidak mengulangi perbuatannya lagi[114].
2) Kejujuran
Memperoleh prestasi belajar yang tinggi dengan cara yang jujur dan disamping perbuatan jujur yang lainnya seperti dalam hubungannya dengan guru-gurunya, orang tuanya atau teman-teman di sekitar siswa adalah nilai yang sangat ditekankan oleh guru kepada siswa-siswinya. Nilai-nilai yang dilatihkan guru kepada siswa dengan cara:
a) Memperingatkan siswa
Apabila guru memdapatkan siswa yang berbuat tidak jujur biasanya siswa yang bersangkutan langsung diperingatkan dengan memberikan nasihat-nasihat dan cerita. Pemberian nasihat dan cerita tidak hanya diberikan ketika siswa bermasalah, tapi juga sebagai pengantar sehari-hari sebelum mata pelajaran di mulai. Adapun tujuan guru memberikan nasihat dan cerita ini agar siswa nantinya dapat belajar dengan semangat, menambah suasana kelas agar lebih segar dan ceria serta yang lebih penting adalah menanamkan nilai keagamaan pada siswa.
“Terkadang saya menggunakan nasihat dan cerita untuk membimbing anak untuk menjauhi perilaku yang tidak jujur, baik itu dilakukan seketika menghadapi anak yang ketahaun tidak berbuat jujur atau pun secara klasikal sebelum jam pelajaran pertama dimulai, biasanya saya berikan pada mereka nasihat dan cerita-cerita tentang kisah nabi, kematian atau atau cerita tentang  kiamat dan konsep surga-neraka.tapi anak-anak kalau sudah di ceritakan, mereka melah tertarik pada cerita dan enggan melanjutkan pada mata pelajaran”[115]
b) Meminta siswa saling memeriksa tugas dengan teman sebangkunya
Dalam memberikan tugas latihan atau PR pada siswa, biasanya guru apabila tugasnya sudah di kerjakan oleh siswanya, guru dalam memberikan nilai dengan cara  meminta pada siswa supaya hasil kerjanya ditukarkan dengan teman sebangkunya, setelah itu baru dikoreksi secara bersama. Cara yang demikain digunakan guru untuk menghindari perilaku tidak jujur pada siswa.[116]  
3) Motivasi berprestasi
Siswa mempunyai karakter dan cara yang berbeda dalam meraih prestasi, selain tergantung pada dirinya sendiri juga pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Pendampingan dengan cara pendekatan secara individu merupakan salah satu usaha guru dalam memotivasi siswa agar berprestasi. Adapun cara guru dalam pendampingan ini biasanya guru langsung mendekati siswa yang yang di nilai kurang prestasinya dengan memberikannya arahan-arahan, pengertian, dan nasihat.
“Biasanya kalau saya melihat siswa yang bermalas-malasan, seperti tidur-tiduran di meja dan siswa itu biasanya ramai dan ceria menjadi diam, langsung saya dekati ke mejanya dan langsung menanyakan masalahnya apa dan ada apa di rumah, apakah siswa itu sakit dan sebagainya. Karena saya sudah terbiasa dekat dengan anak-anak, maka si anak biasanya kalau ada masalah langsung cerita sama saya. Setelah anak bercerita tentang masalahnya, saya langsung beri dia nasihat dengan cerita. Biasanya saya memberikan cerita-cerita yang diambil dari kisah 30 kisah teladan atau juga terkadang tentang kisah 25 Rasul dan sebagainya yang penting ada nilai-niali Islamnya.”[117]
Disamping itu juga guru memberikan pelajaran tambahan yang dikerjakan sesudah jam belajar. Pemberian jam pelajaran tambahan ini khususnya diberikan pada siswa yang kurang terkonsentrasi dalam belajar atau terlambat mengerjakan tugas.
“Siswa yang kurang paham terhadap pelajaran yang baru saja diberikan dan siswa yang tidak mau mengerjakan tugas, biasanya saya berikan mereka pelajaran tambahan dan dikerjakan sesudah jam belajar di sekolah sekitar jam sebelas dan mereka di perbolehkan pulang setelah dzuhur”[118]
4) Membina persahabatan
Untuk melatih persahabatan antar siswa, guru menasihati agar siswa memelihara etika pergaulan. Misalnya ketika menghadapi siswa yang berbuat kurang sopan terhadap siswa puteri dengan membuka jilbabnya, guru langsung mengambil tindakan dengan menegurnya yang kemudian diberikan peringatan dengan nasihat seperti di bawah ini:
“Anak putera dengan anak puteri yang bukan muhrimnya atau sauadranya itu tidak boleh memperlihatkan auratnya termasuk juga rambut.”[119] 
Seperti halnya juga ketika guru menghadapi pertengkaran antar siswa, guru berusaha untuk tidak membela salah satunya.
“Kalau ada anak yang bertengkar, saya sengaja untuk diam, saya biarkan saja mereka berkelahi. Biasanya kalau saya diamkan mereka malah berhenti sendiri, setelah itu baru saya panggil anak yang bertengkar tadi untuk menjelaskan kejadiannya seperti apa dan bagaimana sampai bisa terjadi dan kemudian saya meminta mereka untuk saling memaafkan dan tentu saja siswa yang bertengkar ini saya masukkan ke buku pelanggaran”[120]
Disamping tindakan-tindakan yang bersifat insidental dari guru dalam menanamkan nilai-nilai persahabatan pada siswa, ada satu cara lagi yang yang dilakukan guru dalam hal ini seperti memberikan nasihat dan cerita-cerita secara klasikal di dalam kelas sebelum jam pelajaran dimulai. Adapun nasihat yang diberikan guru biasanya tentang nilai dan ajaran agama Islam seperti tentang konsep persaudaraan yang isinya demikian :
“Umat Islam yang satu dengan umat Islam yang lainnya itu bersaudara, apabila yang satu sakit, maka yang lainnya pun merasakan sakit, untuk itu kalian tidak perlu berantem untuk menyelesaikan suatu masalah kalian”[121]
B. ANALISIS
Sebagaimana telah disinggung dalam bab pertama yang dimaksud melatih kecerdasan emosional siswa di SD Muhammadiyah Suronatan tidak dilakukan secara dan terencana serta terprogram, melainkan melatih kecerdasan emosioanl di sini dilakukan secara terintegrasi sejalan dengan proses pembelajaran di dalam kelas. Hal ini dikarenakan SD Muhammadiyah Suronatan adalah salah satu institusi pendidikan yang Islami, maka secara tidak langsung di dalam proses pembelajaran akan terciptanya nilai-nilai Islam yang di tanamkan oleh institusi kepada anak-anak didiknya.
Dengan demikian, dalam proses belajar-mengajar tentunya akan tersirat adanya upaya guru dalam melatih kecerdasan emosioanl siswa dengan berpijak pada nilai-nilai, ajaran dan norma-norma Islam. Dimana dalam salah satu ajaran tentang pergaulan antar manusia untuk tidak saling menyakiti.
Rasulullah Saw bersabda:
عن أبى هريرة رضى الله عنه قال:قال رسول الله صلعم:ألمسلم أخو المسلم لايخونه ولا يكذبه ولا يخذله.كل المسلم على المسلم حرام عرضه وماله ودمه.ألتقوى ههنا بحسب امرئ.من الشر ان يحتقر أخاه المسلم.(رواه ترمذى)
         “Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain tidak boleh         menghianatinya, membohonginya dan tidak boleh menghinanya. Setiap          muslim terhadap muslim yang lain haram kehormatannya, harta dan          darahnya. Takwa ini ada di sini (dihati). Seorang cukup berbuat keburukan             dengan menghina saudaranya sesama muslim.” (Tirmidzi)[122]
Di dalam sabda Rasul tersebut sebagai sesama manusia untuk saling menghormati dan dilarang untuk menyakiti satu sama lain. Dari konsep tentang persaudaraan ini terkandung makna kesadaran manusia untuk saling berinteraksi dengan secara simpati dan empati yaitu untuk tidak saling menyakiti.
Untuk itulah di dalam pembahasan ini akan diulas data yang diperoleh dari lapangan dengan mempertautkan teori-teori yang relevan, sehingga pada gilirannya akan terlihat adanya kekurangan dan kelebihan guru dalam melatih kecerdasan emosional siswanya.
 
1. Ketrampilan Guru Melatih Kedisiplinan Siswa
a) Penyebab ketidakdisiplinan siswa
Menurut guru, penyebab ketidakdisiplinan siswa yang diwujudkan dalam bentuk keramain di dalam kelas, suka bermain-main dan sebagainya, disebabkan karena siswa masih terbawa suasana di taman kanak-kanak, pandangan ini bisa dibenarkan karena umumnya di taman kanak-kanak, guru masih sangat toleran terhadp perilaku-perilaku siswa yang menunjukkan kenakalan, seperti berteriak-teriak, berlari-lari dan bermain-main bersama teman-temannya, dan menganggap hal tersebut wajar dalam perkembangan pribadi mereka.
Menurut Jan Prasetyo, sebagimana dikutip Sinta Ratnawati, pendekatan guru yang demikian berangkat dari hakekat play group dan taman kanak-kanak itu sendiri yang sebenarnya untuk mempersiapkan kematangan afeksi-sosial anak dalam mengahadapi kehidupan di luar lingkungan keluarga.[123]
Kalaupun ada praktek pengajaran yang dilakukan guru menyangkut penguasaan materi secara kognitif, hal tersebut hanya menyentuh kemampuan tingkat dasar. Siswa hanya diajarkan mengeja huruf, membaca kata-kata atau kalimat pendek, menuliskan huruf atau angka, mewarnai, menggambar dan melakukan penjumlahan sederhana. Tetapi ketika mereka memasuki jenjang pendidikan dasar, suasana yang mereka jumpai bertolak belakang dengan suasana jenjang sebelumnya.

Demikian juga di sekolah dasar mereka harus mentaati peraturan sekolah yang diterapkan secara ketat dan harus mengerjakan pekerjaaan rumah (PR), yang bagi kebanyakan siswa merupakan beban tersendiri. Apabila kenyataan ini diikuti dengan pengelolaan kelas guru banyak menerapkan hukuman, ancaman dan kritik yang berlebihan, maka minat siswa terhadap aktivitas belajarnya bisa pudar sama sekali.

                        Menghadapi masalah ini seharusnya guru tidak menyimpulkan bahwa siswa yang masih suka bermain-main dan tidak disiplin otomatis nakal. Kesukaan siswa untuk bermain-main belum tentu berkemampuan rendah, sebaliknya kemungkinan menyimpan potensi yang sangat besar namun tidak teraktualisasikan secara memadai karena berbagai kendala.
                        Menurut Elizabeth B. Hurlock, bermain merupakan aktivitas yang sangat disukai anak-anak yang perkembangan pribadinya berlangsung dengan baik. Permainan justru membantu anak-anak mengembangkan ketrampilan sosialnya. Lewat permainan, mereka mengerti aturan sosial, memahami perasaan orang lain, dan mampu membangun kerja sama dengan teman sebayanya. Anak-anak yang tidak suka bermain dan lebih memilih untuk menyendiri justru dicurigai mengalami hambatan dalam perkembangan sosialnya.[124]
                        Oleh karena itu, guru harus tanggap terhadap kecenderungan ini dan mampu memilih metode yang tepat dalam mengantarkan anak memasuki masa transisinya dari taman kanak-kanak ke sekolah dasar.
                        Berangkat dari pendapatnya Elizabeth B. Hurlock, menurut peneliti sekiranya hal tersebut sudah di realiassikan oleh guru untuk mengatasi masa transisi siswa dari Tk ke SD dengan menggunakan metode-metode seperti; mengelilingi lingkungan sekolah dan memberikan permainan-permainan seperti di TK (permainan bongkar pasang huruf-huruf balok dan permainan dalam bentuk gambar yang siap diwarnai)
                        Sebagaimana menurut pendapatnya Elizabeth B. Hurlock bahwa bermain adalah aktivitas dan masanya anak-anak dalam kehidupannya. Begitu pula dalam ajaran Islam tidak pernah melarang anak-anak untuk bermain, justru Islam sangat menghargai bahkan mengajarkan anak-anak untuk bermain.
            Rasulullah bersabda:
من كان له صبي فليتصاب له (رواه ابن ابوبه وابن عساكر)                     
                                    “Barang siapa yang memiliki seoranganak kecil, maka          hendaknya dia bergaul dengan dia sesuai dengan akalnya”[125]
                        Selain kondisi transisional di atas, faktor lain yang juga mempengaruhi kedisiplinan anak adalah pola asuh orang tua. Orang tua yang permisif, serba memperbolehkan anaknya berbuat apapun, mengakibatkan anak tidak terlatih mengendalikan dirinya. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang diatur secara tertib.
                        Orang tua dengan model penerapan disiplin seperti itulah yang percaya bahwa membesarkan anak sama dengan memberikan kasih sayang yang tiada akhir dan tanpa syarat. Mereka beranggapan dengan cara ini dapat meningkatkan rasa penghormatan diri anak, dan menganggap disiplin sebagai sesuatu yang dingin dan keras. Padahal pemberian model seperti inilah yang nantinya akan merusak dan membingungkan anak.[126] 
            b. Cara melatih kedisiplinan siswa
                        Untuk melatih kedisiplinan siswa, pada umumnya guru disamping menerapkan cara-cara yang sudah baku dan cara yang telah dimodifikasi dengan cara Islami dengan memberikan nasihat-nasihat dan pemberian cerita-cerita yang diadopsi dari ajaran di dalam Al-Quran dan hadis Nabi SAW Sedangkan cara-cara yang bakupun masih banyak yang mereka gunakan, seperti menegur, mengancam akan memberitahukan perilaku siswa pada orang tua, menghukum siswa, memberi hadiah (reward), dan meminta siswa mewarnai gambar di buku pelajaran.
                        Dalam menerapkan hukuman mereka lebih condong dengan menggunakan pendekatan positif, seperti meminta siswa untuk mengerjakan tugas soal-soal latihan, meminta siswa untuk menghafalkan doa-doa pendek dan ayat-ayat pendek (juz’ama), serta meminta siswa mengerjakan shalat dhuha.
                        Sedangkan hukuman dengan pendekatan negatif jarang mereka gunakan, meskipun dalam lapangan masih ada yang menggunakan  pendekatan ini  ada satu atau dua guru saja. Hukuman dengan pendekatan ini seperti halnya meminta siswa yang melanggar peraturan sekolah secara berulang-ulang untuk berdiri di muka kelas, menyapu atau dijewer telinganya. Hukuman negatif ini mereka terapkan pada siswa kelas II dan kelas III, dengan pertimbangan menurut guru yang menerapkan hukuman ini, merasa kalau seumur anak di kelas II dan kelas III sudah matang kondisi kejiwaan dan intelektualitasnya, sehingga mereka tidak khawatir dengan pemberlakuan hukuman tersebut.
                        Lainhalnya dengan guru yang menerapkan hukuman dengan pendekatan positif, mereka lebih mempertimbangkan pada aspek kejiwaan siswa yang dikhawatirkan nantinya akan melemahkan kondisi mental anak dan ditakutkan nantinya siswa akan mempunyai persepsi yang tidak baik tentang gurunya yang identik dengan kekerasan.
                        Oleh karena masalah ketidakdisiplinan siswa dominan pada setiap jenjang. Berikut ini akan diulas cara guru dalam melatih sikap disipliner pada siswa.
1) Menegur siswa
Diantara cara-cara mendisiplinkan siswa, teguran merupakan cara yang seringkali digunakan guru. Cara ini memang dapat segera menghentikan tingkah laku siswa yang tidak dikehendaki guru. Misalnya dengan mengatakan “Ayo, jangan ribut ya…, duduk yang rapi ditempat kalian masing-masing!”. Umumnya siswa langsung merespon teguran tersebut. Tetapi dalam waktu yang tidak lama, mereka bertingkah laku sepeti semula.
Hal ini terjadi karena taguran guru kurang spesifik mengarah pada perilaku siswa yang tidak diinginkannya. Guru cenderung memerintah secara umum, sehingga siswa tidak memahami kesalahannya secara jelas. Seharusnya ketika menegur, guru dapat menyampaikan secara tegas, singkat serta mengungkapkan perasaan ketidaksukannya terhadap perilaku siswa. Misalnya dengan mengatakan “ Saya kecewa karena kalian masih mengobrol, padahal sudah dua kali ibu peringatkan!”. Dengan berkata semacam itu, siswa dapat belajar mengerti perasaan guru dan memhami kesalahannya, sehingga diharapkan tidak akan mengulanginya lagi.
2) Mengancam
Cara ini sebenarnya sudah mendapatkan kritik dari pendidik dan psikolog, namun kenyataannya sering digunakan guru. Ketika teguran tidak berhasil dalam memperbaiki perilaku siswa, guru mengancam siswa dengan mengatakan “Faizir… kalau kamu masih nakal terus, nanti saya beritahu sama ibumu!”. Dangan ancaman seperti ini, guru telah membangun steorotip tentang orang tua siswa sebagai figur yang menakutkan dan tidak mengerti perasan mereka.
Lebih jauh ancaman memberitahuakan pesan kepada siswa bahwa guru tidak menghargai kebutuhan meraka, sehingg membuat siswa merasa gelisah dan tertekan. Sebagaimana telah dijelaskan didalam Al-Quran bahwa salah satu sifat manusia yang berkeluh-kesah apabila mendapatkan cobaan.Firman Allah dalam Quran surat al-Ma’arij ayat 19-23:
إن الإنسان خلق هلوع(19) إذا مسه الشر جزوعا(20) وإذامسه الخير منوعا إلا لمصلين(22) الذين هم صلاتهم دائمون(23)                                        
     “Sesunguhnya manusia diciptakan keluh-kesah lagi kikir.     Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh-kesah, dan apabila ia      mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang-orang yang                   mengerajakan shalat, yang tetap berkesinambungan mengerjakan     shalatnya”[127]
Mendidik anak dengan ancaman sangatlah tidak tepat apabila diterapka pada anak seusia yang dini, sebab Al- Quran melarang bagi para orang tua dan pendidik supaya mengajarkan anaknya dengan lembut dan kasih-sayang. Sebagaimana dalam Al-Quran surat Luqman ayat 12 sebagai berikut:
وإذ قال لقمان لإبنه وهو يعظه يبني لا تشرك   بلله إن الشرك لظلم عظيم(12)                                 
        “ Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di      waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu         mempersekutukan Allah, sesunguhnya mempersekutukan Allah             adalah benar-benar kedzaliman yang besar”.[128]
Di dalam ayat tersbut di atas dalam menyampaikan pesan, Luqman al-Hakim memanggil anaknya dengan panggilan yang penuh kasih sayang: “Ya Bunayya (Wahai anakku yang masih lugu)”. Panggilan tersebut sangat sesuai untuk anak yang pada fase awal kehidupan mereka.
Ayat tersebut juga mengisyaratkan bagi para pendidik untuk tidak  menggunakan pelabelan pada anak yang berperilaku kurang baik, hal ini akan berakibat buruk pada anak karena dapat merusak harga diri dan konsep diri mereka.   
3) Menghukum siswa
Hukuman yang biasanya digunakan guru pada umumya adalah meminta siswa untuk mengerjakan tugas, menghafalkan doa-doa dan surat-surat pendek (juz’ama) ataupun meminta siswa untuk mengerjakan shalat dhuha. Sebagian  dari guru-guru ini masih ada yang menggunakan hukuman secara fisik, seperti menyuruh siswa berdiri di depan kelas selama 10 menit, meminta siswa menyapu halaman, ataupun menjewer telinga siswa.
Cara-cara ini boleh saja diterapkan guru, karena dengan menerima hukuman, siswa dapat belajar dari kesalahannya dan mengerti bahwa tingkah lakunya tidak diterima guru. Akan tetapi hendaknya hukuman hendaknya dipilih sebagai alternatif terakhir, setelah guru memakai cara yang lain yang lebih bisa tolerir dan tidak membahayakan kondisi mental anak. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW:
مرو أولادكم بالصلاة وهم أبنأ سبع سنين واضر بوهم عليها وهم ابنأ عشر سنين. (رواه أبو دود والترمذي)                                     
“ Perintahkanlah anak-anak kalian melakukan shalat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah mereka (jika masih meninggalkan) kalau sudah berumur sepuluh tahun.”( HR. Abu Daud dan Tirmidzi)[129]
Satu hal yang perlu menjadi catatan penting untuk para pendidik dalam menerapkan hukuman sebaiknya memperhatikan masalah konsistensi. Bersikap konsisten adalah cara yang terbaik untuk membuat anak mengetahui bahwa guru bersungguh-sungguh dengan apa yang mereka katakan. Penerapan aturan secara konsisten dan hukuman yang wajar bagi siswa yang melanggar aturannya, akan memberikan efek lebih kuat pada diri anak dalam jangka waktu yang panjang, dibandingkan dengan sikap inkonsistensi yang di sertai hukuman berat.
Di samping menerapkan hukuman pada anak, sebelum diterapkannya hukuman ini siswa diajak oleh guru untuk menentukan hukuman yang sesuai dengan kesalahan yang diperbuat siswa itu  terlebih dahulu dimusyawarahkan secara bersama. Jadi dalam usia yang dini ini siswa sudah diajak untuk menentukan keputusan.
Metode memecahkan masalah ini secara tidak langsung akan melatih anak untuk dapat memutuskan masalah secara sistematis dan dengan cara yang logis. Bila anak terlatih dengan pemecahan semacam ini, kelak mereka akan mudah mengenal pemecahan masalah yang dihadapi.
Memecahakan suatu masalah bersama siswa dalam hal mengambil keputusan konsekunsi yang akan diterima siswa bila siswa berperilaku yang melanggar tata tertib, berarti merupakan suatu contoh yang patut ditiru oleh para pendidik yang lainnya, sebab dalam hal ini guru menyadari akan eksistensi siswa yang mempunyai hak untuk bersuara atau mengemukakan suatu pendapat.
 Sehingga dapat dikatakan dalam hal ini guru berusaha untuk menghindari sikap kesewenang-wenengan terhadap siswanya, untuk itulah segala sesuatunya yang berhubungan dengan siswa, baik itu bersangkutan dengan penetapan hukuman atau yang lainnya di putuskan bersama siswa dengan cara menjelaskan secara langsung dan sederhana apa yang menjadi keinginan dan harapan guru terhadap siswa, sehingga     disini siswa tidak kehilangan haknya untuk bersuara.
Berkaitan dengan masalah tersebut di atas dalam Al-Quran diterangkan  secara tersirat adanya sikap empati bahwa untuk menjauhi sikap kesewenang-wenangan dan dilarang menghardik atau dengan kata lain dilarang membentak dalam mendidik anak.
Allah SWT berfirman dalam Quran surat ad-Dluha ayat 9-10:
فأمااليتيم فلا تقهر وأماالسائل فلا تنهر(9-10)   
            “Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku           sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta janganlah         kamu menghardiknya.”[130]
Namun perlu ditegaskan di sini bahwa antara hukuman dengan konskuensi itu berbeda dalam hal antara lain; pertama, konsekuensi membuat anak belajar mengenai sesuatu, sedangkan hukuman jarang sekali memberi pelajaran; kedua, efek samping dari pemberlakuan hukuman adalah anak menjadi pendedam dan sikapnya kasar,sehingga akan menimbulkan hukuman lain, sebaliknya konsekuensi mengajarkan hal baik kepada anak karena menunjukkan perilaku yang benar sebagaimana yang guru inginkan, dengan cara yang konkrit yang mudah dipahami anak; ketiga, dalam menyampaikan dengan cara hukuman biasanya dalam kondisi marah, sebaliknya apabila yang digunakan itu adalah konsekuensi  dengan menunjukan rasa sedih dan empati, sehingga konsekuensi yang diberikan menunjukkan bahwa tanggung jawab ada di pundak si anak dan ia tidak bisa berdebat atas konsekuensi yang diterimanya. Hasilnya anak akan belajar mengenai bagaimana harus bersikap baik karena jika ia bertingkah, maka ia sendiri yang akan mengalami kesulitan.[131] 
Sebagai catatan tambahan dalam penerapan hukuman yang tentunya berbeda dengan konsekuensi di sini dimaksudkan agar  guru lebih baik memilih konskuensi sebagai alternatif pertama dalam menangani masalah perilaku siswa. Sebab bagi anak, konsekuensi terasa seperti hukuman bila tidak disertai dengan persaan empati.
Sebagaimana dalam sabda nabi SAW memberikan pesan agar dapat mengendalikan marah ketika mengahadapi perilaku anak agar tetap tenang sebagai bentuk dalam mengelola emosi diri.
عن أبى هريرة رضيىالله عنه,أن رسول الله صلى ا لله عليه وسلم قال: ليس الشديد باالصرعة إنما الشديد الذي يملك نفسه عندالغضب.(رواه بخاري و مسلم)
        “Dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW,          bersabda: “bukankah orang yang kuat itu karena banyak berkelahi,         hanyalah orang yang kuat itu orang yang dapat mengusai nafsunya         ketika marah””. (HR. Bukhari dan Muslim)[132]
 
Dari hadits di atas mengisyaratkan bahwa dalam memberikan konsekuensi pada anak tidak dalam keadaan marah, sebab memberikan konsekuensi sesunguhnya mendidik bukannya memaksa, sehingga seorang pendidik harus menyadari apa yang dilakukan.  
4) Mengalihkan Perhatian Siswa
Untuk menghindari kemungkinan siswa membuat keributan di dalam kelas, guru meminta siswa yang sudah menyelesaikan tugasnya untuk mewarnai gambar atau mengisi tugas-tugas yang secara sengaja oleh guru dengan cara mengkopi tugas itu dan diberikannya kepada anak yang cenderung ramai bila sudah mengerjakan tugas. Tugas-tugas yang dikopi ini yang oleh guru dinamakan dengan pengayaan.
Cara yang demikian patut diuji, karena dengan cara tersebut guru dapat mengantisipasi situasi yang tidak diharapkan sekaligus mengalihkan pehatian siswa dari kegiatan yang cenderung membosankan kepada kegiatan yang disukai mereka . Cara seperti itu juga merupakan sarana untuk pelepasan emosi siswa. Dengan cara pelepasan emosi biasanya menadapatkan manfaat yang sehat, di mana pada saat anak yang sedang marah, mereka tanpa disadari membutuhkan alat untuk pelepasan emosinya, sehinggga apabila pelepasannya tidak pada tempatnya jusrtu akan membuat suasana kelas menjadi semakin ramai dan gaduh.
Tapi apabila pelepasan ini ditempatkan pada tempatnya akan menghasilkan kemarahan menjadi akal sehat, seperti dengan menulis puisi atau menggambar. Psikiater Italia Roberto Assagioli mengatakan bahwa menulis adalah katarsis yang hebat.[133]
Selain dengan cara tersebut, untuk mengalihkan perhatian dan kebosanan siswa, guru juga dapat mengajak siswa menggerakkan badannya, menarik nafas yang dalam, dan memainkan pemainan yang ringan.
5) Memberi hadiah atau ganjaran
Metode ini berangkat dari prinsip yang sangat populer, yaitu jika guru hendak memperbesar atau mengembangkan suatu tingkah laku yang positif, maka diberi sesuatu yang menyenangkan sesudah perbuatan yang dikehendaaki itu dilaksanakanya.
Prinsip ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang mengisyaratkan adanya urgensi ganjaran dalam mendukung perilaku tertentu yang di tuntut untuk dipelajari. Dalam sebuah riwayat Ibnu Majah diartikan:
“ Berikanlah upah seorang buruh sebelum kering keringatnya”[134]
Memberi penghargaan atau imbalan kepada anak yang berperilaku baik yang sesuai dengan keinginan guru adalah sangat penting. Namun, di sini perlu diperhatikan bahwa dalam memberikan imbalan ini tidak harus dengan imbalan yang berupa materi (uang, permen atau mainan), melainkan yang lebih berharga dari semua itu adalah pujian dan motivasi yang positif bagi siswa yang dapat meningkatkan harga diri dan rasa tanggung jawab siswa. Berkaitan dengan istilah imbalan (reward), Harris Clemes, Ph. D & Reynold Bean, Ed. M, memberikan istilah reward sebagai hal-hal yang dihargai anak atau hal-hal yang dibutuhkan olehnya.[135]
Pemberian imbalan dalam lapangan, sebagian guru menggunakan dengan pemberian imbalan dalam bentuk non materi yaitu dengan pujian, seperti ketika guru ingin memotivasi siswa untuk meraih prestasi dan semangat dalam belajar. Sebagai contohnya ketika guru meminta siswa untuk maju ke muka kelas untuk membaca buku atau untuk menyanyikan sebuah lagu dalam pelajaran bahasa Indonesia, seketika siswa selesai membacakannya guru tidak segan untuk memberikan pujian dan meminta siswa lainnya untuk memberikan tepuk tangan yang meriah.
Pujian guru terhadap muridnya tersebut dapat membantu percepatan dan kemajuan belajar siswa. Untuk itulah dapat dilihat bahwa mendidik anak dengan ganjaran atau imbalan ini merupakan cara yang efektif bila dibandingkan mendidik anak dengan hukuman (fisik). Hukuman fisik akan menimbulkan pengaruh yang buruk dalam kepribadian seorang murid; yang bisa menyebabkan adanya perasaan rendah diri dan si anak menjadi stres, karena selalu dibawah bayangan hukuman yang menakutkan, terkadang bukannya membuat anak berubah dalam arti positif, tapi berubah ke arah yang lebih buruk.
6) Memberi nasihat
Sebenarnya, metode mendidik anak dengan nasihat tidak hanya diterapkan untuk melatih kedisiplinan, namun pemberian nasihat ini cakupannya lebih luas, yang mana hampir semua guru menggunakan metode nasihat untuk membimbing dan mendidik anak di semua jenjang pendidikan. Dengan tujuan untuk meningkatkan mutu potensi anak, baik akal, emosi, sosial dan spiritual.
Adapun dalam menerapkan metode ini, guru biasanya menggunakan nasihat-nsihat yang merujuk pada ajaran-ajaran moral dalam agam Islam. seperti halnya ketika guru mengajarkan anak untuk bersikap saling menolong dan toleransi sesama temannya. Dalam melatih persahabatan antar siswa ini, guru mengambil nasihat dalam sabda nabi SAW seperti berikut ini:                                                              أن رسول الله صلعم قال:وهو على المنبار وذكرالصدقة والتعفف والمسئلة :أليد العليا خيرمن اليد السفلى, فااليد العليا هي المنفقة والسفلى هي السا ئلة.          
(رواه بخارى ومسلم)                                                        ” Sesungguhnya Rasulullah SAW khutbah di atas mimbar dan menyebut sedekah dan minta-minta, maka bersabda: “Tangan di atas     itu lebih baik dari tangan yang dibawah, tangan yang di  atas itu  yang                 memberi dan yang di bawah yang meminta”. (Bukhari dan Muslim[136]
             
Dengan memberikan nasihat dapat membukakan mata anak-anak pada hakikat sesuatu, dan mendorongnya menuju situasi luhur, dan menghiasinya dengan akhlak mulia, dan membekalinya dengan prinsip Islam. maka tidak heran, apabila Al-Quran memakai metode ini, yang berbicara pada jiwa dan mengulanginya dalam beberapa tempat dan nasihat seperti dalam Al-Quran surat Luqman dari ayat 12 sampai ayat 19.[137]
Pemberian nasihat dalam mendidik anak ini yang diterapkan oleh guru merupakan cara yang tepat dan sesuai dengan ukuran usia anak di akhir fase perkembangan anak, yaitu antara umur 6-12 tahun. Di usia ini mereka mulai berfikir logis, kritis, sudah mampu membandingkan apa yang di rumah dengan yang mereka lihat di luar dan nilai-nilai moral yang selama ini ditanamkan secara absolut, mulai dianggap relatif. Maka dalam hal ini guru diharapkan mampu menjelaskan, memberikan pemahaman yang sesuai dengan tingkat berfikir mereka di usia dini.
7) Memberi cerita
Selain memberikan nasihat, guru juga menggunakan media cerita atau dongeng pada siswa. Guru biasanya mengambil cerita yang diberikan pada siswa diambil dari cerita tentang kisah 25 nabi, 30 kisah teladan, kisah Abu Nawas ataupun kisah yng menceritakan tentang nikmatnya surga dan sengsaranya bila ada di neraka.
Di samping cerita tersebut, terkadang guru memberikan suatu kisah yang dihubungkan dengan fenomena alam dan kehidupan sosial dan akhlak manusia. Seperti pada materi pelajaran IPA (Ilmu Pengetahaun Alam), guru menghubungkannya dengan menceritakan tentang tanda-tanda kiamat yang diambil dari ayat Al-Quran, sedangkan pada pelajaran IPS (Ilmu Pengetahaun Sosial) juga dihubungkan dengan hadits-hadits yang memberi pesan pada konsep hubungan antar manusia (Hablumminnas), dan begitu pula guru memberikan ajaran tentang perilaku anak yang harus sesuai dengan akhlakul-karimah yang di hubungkannya dengan materi pelajaran PPKN (pedoman pendidikan kewarganegaraan), dan sebagainya.
Metode dengan memberikan cerita seperti tersebut di atas membawa pengaruh antusiasme siswa dalam belajar sekaligus lebih membekas dalam jiwa anak yang membawa pesan moral kehidupan yang pada gilirannya dapat membentuk kepribadian anak yang lebih matang pada saat dewasanya nanti.
Pengaruh tersebut berjalan seiring dengan kematangan dan emosi anak yang dalam penyampaiannya dengan argumentasi yang logis[138].
Sebagaimana dalam firman Allah surat Yusuf ayat 3, yang di dalamnya mengisyaratkan adanya metode pemberian cerita dengan tamsil.
نحن نقص عليك أحسن القصص بما أوحينا إليك هذا القرأن وإن كنت من قبله لمن الغافلين(3).
                                    “Kami menceritakan kepadamu kisah yang baik dengan       mewahyukan Al-Quran ini kepadamu, sesungguhnya kamu sebelum            (kami mewahyukan)-nya adalah temasuk orang-orang yang belum          mengetahui” [139] 

     2. Ketrampilan Guru Melatih Kemandirian Siswa

a.  Penyebab ketergantungan siswa
Masalah ketergantungan siswa dominan terjadi di kelas I, Menurut guru, siswa biasanya masih terbawa suasana di taman kanak-kanak, yang ditandai ketergantungan yang tinggi kepada orang tuanya. Segala aktivitas hidup mereka, seperti makan, mandi, berangkat ke sekolah, dan lain sebagainya masih memerlukan bantuan orang tua. Kebiasaan-kebisaan inilah yang pada gilirannya menimbulkan permasalahan ketika mereka berada di  Sekolah Dasar.
Menurut Jan Prasetyo, sebagaimana dikutip Sinta Ratnawati , ketergantungan anak tidak terlepas dari pola asuh orang tua yang terlalu melindungi anak, sehingga tidak memberi kesempatan kepada anak untuk bergaul dengan orang lain. Padahal dalam melatih kemandirian anak, sejak dini seharusnya orang berhubungan dengan orang lain.[140]
Orang tua melatih anak untuk tidak terlalu terikat kepadanya dan membiasakan mereka berhubungan dengan orang lain. Kebiasaan ini akan memudahkan anak beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya, sehingga akan mengurangi keluhan tentang keengganan belajar. Sebagai contoh, di Taman Kanak-Kanak, orang tua masih suka menunggu anaknya di sekolah, padahal kebiasaan ini membuat anak tergantung kepada orang tuanya dan dibawanya hingga ke sekolah dasar.
b.Cara Melatih Kemandirian Siswa
Untuk melatih kemandirian siswa, biasanya guru memberikan petunjuk kepada siswa tentang aktivitas-aktivitas yang bisa di lakukan mereka secara mandiri, terutama pada saat awal mereka di kelas I. Usaha guru dalam melatih kemandirian siswa ini didukung dan dibantu oleh orang tua siswa, dengan melalui media buku pantaun jadwal aktivitas yang dikerjakan siswa setiap harinya; seperti jadwal shalat lima waktu, baca Al-Quran, dan jadwal belajar yang ditanda tangani oleh orang tua dan setiap harinya dilaporkan pada guru serta ditandatangani oleh guru pemegang kelas masing-masing.         
Selain melalui buku pantuan, cara lain dalam menerapkan aktivitas-aktivitas sehari-hari yang dapat dilakukan siswa adalah adanya komunikasi dengan orang tua siswa. Komunikasi guru dan orang tua siswa ini dapat dilakukan setiap kali ada kesempatan bertatap muka dengan orang tua siswa, seperti pada pertemuan bulanan atau setiap orang tua siswa mengantarkan anaknya ke sekolah.
Dengan menjalin komunikasi dengan orang tua siswa ini, guru dapat mengontrol sejauhmana siswa-siswanya telah melakukan aktivitas kehidupan mereka secara mandiri, seperti makan, mandi, berpakain dan sebagainya, tanpa bantuan orang tua mereka. Dengan cara ini pula guru dapat memperoleh informasi yang lebih kaya mengenai siswa-siswanya.
Hanya saja, cara ini mempersyarat orang tua agar tidak memanjakan anaknya. Padahal kebanyakan orang tua masih membiarkan anaknya tergantung kepadanya. Sebagai contoh, para ibu menganggap bahwa anak balita belum waktunya disuruh makan sendiri, karenanya wajar jika harus disuapi. Menurut Penelope Leach sebagaimana dikutip Sinta Ratnawati, mengenai kemampuan anak untuk makan sendiri. Menurutnya pada usia 8 bulan, anak mulai bisa mengambil sedikit makanan dan menjilatinya dengan sendok. Awalnya mungkin makanan tersebut akan berceceran pada baju, meja, lantai, wajah dan rambutnya. Tetapi jika orang tua terus bersabar melatihnya, dalam waktu beberapa minggu ia dapat melakukanya dengan baik[141]

3. Ketrampilan Guru Mengatasi Kecemasan Siswa dan Melatih Keberanian Siswa

a. Penyebab kecemasan siswa
Kecemasan adalah emosi negatif yang biasa terjadi pada anak-anak, terutama ketika mereka pertama kali menginjakkan kakinya di sekolah dasar. Dari data di lapangan ditemukan bahwa reaksi yang menyertai kecemasan adalah keinginan anak untuk ditungui oleh orang tuanya  selama di sekolah dan memperhatikan orang tuanya lewat jendela kelas pada tahap yang mengkhawatirkan. Kecemasan anak terhadap sekolah, menurut Cici M. D Kaloh bisa diwujudkan dalam bentuk stres, muntah-muntah, sering buang air, dan ganggaun fisik lainnya.[142]
Pada umumya faktor yang menyebabkan kecemasan bersekolah pada diri anak adalah usianya yang masih terlalu dini. Tindakan orang tua yang menyekolahkan anaknya pada usia dini justru yang akan menimbulkan kecemasan pada diri anak. Ketidaksiapannya ditinggalkan orang tua di sekolah dan menghadapi lingkungan yang masih asing sendirian merupakan pengalaman yang traumatik bagi sebagian anak. Akibatnya setiap kali orang tua mereka memaksa  ke sekolah, mereka selalu mencari alasan agar bisa menghindari ke sekolah, seperti sakit perut, pusing, bangun kesiangan dan lain sebagainya. Kalaupun akhirnya mereka terpaksa berangkat ke sekolah, biasanya mereka ditunggui orang tuanya selama di sekolah.
Oleh karena itu, menurut Cici M. D Kaloh, sebagaimana dikutip Sinta Ratnawati, sebaiknya orang tua memasukkan anaknya ke sekolah ketiak mereka sudah siap dilepas oarng tuanya dalam waktu yang terbatas dan sudah mengenal institusi yang bernama sekolah. Jika tanda-tanda ini belum ditunjukkan anak, sebaiknya orang tua tidak boleh memaksa anaknya untuk bersekolah.[143]     
Tindakan orang tua untuk menyekolahkan anak pada usia dini diperkenankan sejauh hal tersebut merupaka keinginan anak itu sendiri. Ada pun waktu yang tepat untuk menyekolahkan anak adalah pada saat mereka mulai tertarik untuk bersekolah yang pada umumnya berlangsung pada usia 6 samapi 7 tahun.
b. Cara Mengatasi Kecemasan Siswa dan Melatih Keberanian Siswa
Untuk mengatasi kecemasan siswa dan melatih keberanian siswa, terutama ketika mereka petama kali duduk di kelas I, guru meminta siswa maju ke depan untuk memperkenalkan dirinya, menyuruh siswa mengerjakan di papan tulis, dan membantu guru membagikan buku-buku latihan. Cara ini memang cukup membantu bagi siswa yang memiliki kepercayaan yang tinggi. Tetapi bagi siswa yang memiliki kepercayaan dirinya rendah atau tidak mempunyai pengalaman pra sekolah, cara yang dilakukan guru justru membuat mereka merasa canggung dan beruasaha menghindari permintaan guru.
Untuk mengantisipasi siswa yang memiliki tingkat kecemasan yang tinggi dan kepercayaan dirinya yang rendah ketika pertama kalinya di sekolah guru  membuat langkah-langkah  sebagai berikut:
1)   Pada hari pertama masuk ke sekolah siswa tidak langsung diwajibkan  untuk menerima pelajaran, melainkan di hari pertama kalinya siswa masuk ke sekolah ini diisi dengan kegiatan orientasi, seperti dengan mengelilingi lingkungan  sekolah dan di hari ketiganya diisi dengan permainan.
2)   Bekerjasama dengan orang tua siswa untuk tidak menunggui anaknya di sekolah tetapi dengan menyakinkan anaknya bahwa perpisahan dengan mereka hanya sementara, dan setelah pulang sekolah mereka akan mejemputnya di gerbang sekolah atau bertemu kembali di rumah. Tetapi sekiranya siswa yang memiliki tingkat kecemasan yang cukup tinggi memdapatkan keringan bagi orang tua untuk menunggui anaknya di sekolah.
3)   Merubah komposisi tempat duduk siswa setiap seminggu sekali dengan  secara teratur dan berurutan secara bergilir. 
  Akan tetapi, disamping adanya kegiatan yang dapat mengatasi kecemasan dan melatih keberanian siswa tersebut di atas, ada kegiatan orientasi yang dipilih guru, seperti kegiatan baris-berbaris pada saat  pertama kali siswa masuk ke sekolah dasar ataupun kegiatan baris-berbaris yang dilakukan setiap harinya ketika akan masuk ke kelas sebaiknya dihindari karena membuat siswa kehilangan semangat dan merasa berhadapan langsung dengan suasana formal.                                 
                                                                   

4. Ketrampilan Guru  Melatih Motivasi Belajar dan Ketekunan

 Siswa
a. Penyebab Rendahnya Motivasi Belajar
     Rendahnya motivasi belajar siswa diwujudkan dalam keengganan mengerjakan tugas yang diberikan guru tidak berkonsentrasi dan selalu terlambat dalam mengerjakan tugas. Akibatnya, siswa yang bersangkutan memperoleh  prestasi belajar yang rendah.
     Dasar motivasi pada diri anak menurut Saphiro sebenarnya adalah keinginannya untuk menguasai lingkungan yang diwarisinya secara  genetis. Sejak kehadirannya di muka bumi, anak terlahir dengan keinginan untuk menguasai lingkungan sekitarnya dengan berguling-guling, duduk, berdiri, berjalan-jalan, dan berbicara. Tetapi ketika menginjak usia 7 samapi 8 tahun, pada saat memasuki sekolah dasar, mereka merasakan pekerjaan sekolah sebagai beban tersendiri. Akibatnya, mereka kehilangan semangat untuk belajar dan menemukan sesuatu.[144]  
     Menurut Martin Covington, sebagaimana dikutip Saphiro, bahwa anak yamg tidak termotivasi cenderung  mengharap keberhasilan yang seadanya dan mereka hanya menetapkan sasarannya di tingkat yang rendah pula. Motivasi diri juga mempengaruhi percaya diri anak. Apabila motivasi diri anak rendah, maka kepercayaan diri mereka juga rendah. Sebaliknya, jika motivasi diri anak tinggi, ia akan memiliki kepercayan diri yang tinggi dan mudah dalam menghadapi rintangan.[145]   
     Sementara data dari lapangan, penyebab dari rendahnya motivasi siswa dalam belajar adalah:
1)      Suasana emosional yanag diciptakan guru
Kebosanan menyebabkan motivasi belajar siswa yang menurun drastis. Menurut Elizabeth B. Hurlock, minat anak terhadap sekolah cenderung menurun seiring pertambahan usia dan digantikan dengan rasa bosan dan ketidaksukaan. Salah satu faktor yang memicu hal ini adalah suasana emosional yang diciptakan guru di dalam kelas.
  Dari data di lapangan, terlihat bahwa pola pengajaran yang diterapkan guru cenderung monoton. Setiap harinya siswa hanya menjalankan aktivitas pembelajaran yang rutin dan nyaris tanpa inovasi.  Setelah kegiatan belajar-mengajar dibuka dengan doa. Biasanya siswa diminta membaca dan memperhatikan penjelasan guru dan setelah itu siswa diminta mengerjakan latihan baik yang terdapat didalam buku pelajaran maupun di papan tulis. Akhirnya, setelah tugas tersebut selesai dikerjakan siswa, mereka diminta untuk mengoreksi dan menyebutkan nilai yang mereka peroleh. Hal ini berlangsung dari satu pelajaran ke pelajaran berikutnya, sehingga membuat siswa mudah mengalami kejenuhan.
2)      Kurikulum yang terlalu berat
  Kurikulun yang terlalu berat, menurut Mary Ann Flynn, sebagaimana dikutip Sinta Ratnawati, ditandai kecenderunag untuk lebih menekankan cakupan materi daripada pemahaman, mengorbankan kualitas kerja demi kuantitas materi, dan pengajaranyna lebih menekankan pada hafalan daripada kemampuan berfikir dan inovatif.
  Dari ciri-ciri diatas, kurikukum yang diterapkan guru juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa. Setiap hari siswa harus menyekesaikan pokok-pokok  bahasan yang sudah ditargetkan guru, yang belum tentu mereka kuasai sepenuhnya. Selanjutnya disetiap akhir pelajaran, guru selalu memberikan Pekerjaan rumah kepada siswa. Kondisi ini  menyebabkan siswa yang semula bergairah dalam belajar, dapat turun semangatnya karena terbebani tugas yang menumpuk.
  Dalam konteks ini, seharusnya guru tidak semata-mata memprioritaskan pada kurikulum yang ditargetkan, tetapi perlu memperhatikan minat, kebutuhan,  perbedaan serta tingkat pengusaan siswa terhadap pelajaran.
b. Cara Memotivasi dan Melatih Ketekunan siswa
Untuk memotivasi siswa, ada beberapa langkah yang telah dilakukan guru, yaitu:
1)      Meminta siswa saling mengoreksi dan menyebutkan nilai yang diperoleh
  Cara ini memang dapat memotivasi siswa agar berprestasi. Akan tetapi, bagi siswa yang tingkat intelegensinya rendah atau yang mempunyai kepercayaan dirinya yang rendah, cara ini justru membuat mereka malu dan merasa frustasi. Apabila hal tersebut berlangsung terus-menerus, perasan tersebut akan berkembang menjadi rendah diri yang akan merusak konsep dirinya
  Secara neurologis, emosi-emosi ekstrim yang ditimbulkan rasa malu akan mengambil jalan pintas dengan langsung menuju amigdala dan menghindari jalur normal ketika menuju neokorteks, tempat pencatatan informasi dan tempat penyimpanan ingatan dalam otak. Akibatnya emosi ekstrem tersebut akan menimbulkan efek langsung yang berpengaruh  dalam diri anak[146]
  Oleh karena itu, guru perlu berhati-hati dalam menerapkan cara ini. Ia perlu mempertimbangkan cara mana yang disukai dan menghasilkan prestasai tinggi bagi siswa, serta pelajaran mana yang kurang disukai dan menghasilkan prestasi rendah bagi siswa. Terhadap pelajaran pertama, cara ini pantas dilakukan guru . Namun jika cara ini gagal, sebaiknya guru menerapkan cara lain yang dapat membantu motivasi diri siswa., misalnya dengan memberikan hadiah.
2)      Memuji dan memberi tepuk tangan
Dalam memotivasi siswa, sebenarnya guru sudah melakukan cara ini, tetapi pujian tersebut cendrung bersifat umum dan tidak mengarah pada perilaku yang pantas dipuji. Misalnya dengan mengatakan, ‘Pintar”, “bagus”, dan sebagainya.
Menurut Haim Ginott, sebagaimaan dikutip Schaefer, pujian yang baik adalah pujian yang secara spesifik mengarah pada satu tingkah laku, bersifat deskriptif, dan tidak melebih-lebihkan.[147]Misalnya dengan mengatakan, “Tulisanmu rapi, tanpa coretan dan seluruh tandanya benar-benar kamu perhatikan”, dengan cara ini, selain siswa termotivasi ia juga mengerti tindakannya yang pantas dipuji guru.
Namun sebagai pedoman yang terpenting ialah bahwa pujian yang diberikan kepada anak hanya menyangkut kepada usaha anak untuk melakukan sesuatu. Pujian diberikan hanya menyangkut hasil-hasil yang dicapai anak dan bukan menyangkut pada watak dan kepribadian anak. 
Selain pada dua cara tersebut di atas yang mengarah pada cara guru memotivasi siswa dalam belajar, ada satu cara lagi yang terpenting bagi siswa untuk lebih bersemangat dalam belajar dan berperilaku yang lebih baik. Cara ini dipandang guru efektif dalam menangani siswa dalam kesulitannya yaitu dengan cara melakukan pendekatan sacara perorangan atau individu  atau juga dinamakan dengan pendampingan. Pendampingan ini diberikan pada siswa yang bermasalah maupun yang tidak; artinya siswa yang dalam batas-batas yang normal. 
Beban bathin yang dirasakan anak di sekolah berbagai macam bentuknya, dimulai dari beban yang dibawanya dari rumah, seperti merasa cemburu karena dinomorduakan oleh kehadiran sang adik dan juga sampai pada beban bathin yang mereka dapati di sekolah, seperti dicemoohkan oleh temannya, dan sebagainya. Beban bathin ini dapat dikatakan sebagai stress anak di sekolah, sebagai contohnya juga pekerjaan rumah yang diberikan guru dalam jumlah yang berlipat-lipat. Hal yang demikian yang menyebabkan anak tidak dapat berkonsentarsi dalam belajar, yang pada gilirannya anak berputus asa dan menunjukkan ketidaksangupannya dalam mengerjakan soal-soal latihan ataupun pekerjaan rumah.
 Guru sebagai orang tua di sekolah, melihat siswanya yang demikian, berusaha untuk membantu siswa melalui proses pendampingan dengan duduk bersama siswa yang bersangkutan untuk memecahkan masalah yang dihadapi siswa dalam keadaan yang tenang dan tidak dalam suasana belajar yang formal, yang membuat siswa tegang dan cemas. Membantu masalah di sini dengan maksud hanya mendorong dan membantu anak mencari jalan bagi pemecahan kesulitan..
Membantu siswa memecahkan masalah ini menurut M. Thalib, adalah merupakan upaya guru dalam membiasakan anak memecahkan kesulitannya sendiri dan sekaligus melatih anak bertangungjawab.[148]
Sebagaimana dalam ayat Al-Quran yang membei petunjuk kepada manusia untuk mencari kesulitan masalahnya dengan tidak berputus asa. Allaah berfirman dalam Quran surat Yusuf ayat 87:
يا بني  اذهبوا فتحسسوا من يوسف واخيه ولا تيئسوا من  روح الله إنه لاييئس من روح الله إلاالقوم الكفرين (87)
                                    “Hai anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang       Yusuf dan saudaranya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat            Allah, melainkan kaum yang kafir.” [149]
Langkah dengan pendampingan tersebut merupakan satu langkah yang kreatif yang diciptakan guru dalam memahami perasaan siswa dalam belajar, sehingga di sini dapat dikatakan dalam belajar tidak ada pengesampingan emosinal peserta didik. Belajar dapat dikatakan berhasil, bila terciptanya keseimbangan antara perasaan dan fikiran.
Namun alangkah baiknya bila guru menciptakan suasana dan gaya belajar yang sesuai dengan keinginan dan minat siswa; seperti yang dikatakan oleh Bobby De Porter, bahwa untuk melatih ketrampilan berprestasi siswa guru dapat mengajar sesuatu yang disenangi anak misalnya menemukan gaya belajar yang tepat, kiat-kiat menulis dengan penuh percaya diri dn sebagainya.[150]Demikian pula, perlunya guru untuk menanamkan sikap“Ketekunan dan Usaha” pada siswa yaitu dengan menghargai nilai ketekunan siswa dan memanfaatkan hobinya.
Sebagai implikasi adalah sikap mengantisipasi keberhasilan pada anak juga harus ditanamkan bagaimana menghadapi dan mengatasi kegagalan. Ajarkan kepada mereka bahwa keberhasilan seiring dibangun diatas kegagalan, dan membantu mereka merasakan ganjaran dari suatu keberhasilan atas kerjasama yang tidak mungkin dicapai oleh satu orang saja.

     5. Ketrampilan Guru Melatih Kejujuran Siswa

a. Penyebab Kebohongan siswa
Menurut Saphiro, anak-anak mulai berbohong hampir semenjak mereka mulai berbicara. Umumnya pada usia 2 sampai 3 tahun anak belum mencapai perkembangan kognitif dan bahasa. Ia juga belum mampu melihat hubungan langsung antara apa yang mereka katakan dengan apa yang mereka perbuat. Menginjak usia empat tahun, anak mulai mengerti bahwa berbohong yang dilakukannya untuk mengelabui orang lain merupakan perbuatan yang buruk[151].
Jika perilaku ini berkembang menjadi kebiasaan, anak yang suka berbohong cenderung tidak disukai gurunya dan terkucil dari pergaulan sosialnya, karena dipandang tidak dapat dipercayai dan suka menyepelekan orang lain
Selanjutnya menurut Paul Ekman dalam bukunya Why Children Lie, sebagaimana dikutip Saphiro, bahwa alasan yang menyebabkan anak berbohong adalah untuk menghindari hukuman, untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, dan semata-mata untuk mendapatkan pujian dari temannya.[152] 
Sementara dari data lapangan, yakni dalam konteks pembelajaran di dalam kelas, berbohong dilakukan siswa untuk menutupi kelalaian, menghindari hukuman guru, menutupi prestasi belajarnya yang rendah, dan keinginan untuk mendapatkan perhatian guru dan teman. Alasan yang lazimnya mereka kemukakan adalah lupa mengerjakan tugas atau tugas tertinggal di rumah.
b. Cara Melatih Kejujuran Siswa
Untuk melatih kejujuran kepada siswa, biasanya guru memperingatkan siswa agar tidak mencotek hasil pekerjaan temannya sebangku, saling mengoreksi tugas, dan meminta siswa menyebutkan nilai yang diperolehnya. Cara ini patut dipertahankan karena siswa dilatih bersikap jujur dan sportif. Hanya saja guru perlu berhati-hati terhadap siswa yang tidak mampu berkompetisi dan selalu memperoleh prestsi rendah.
Dengan meminta siswa menyebutkan nilainya,. Siswa yang bersangkutan justru frustasi dan merasa dipermalukan. Akibatnya, motiasi belajarnya bukan meningkat, tetapi justru semakin turun. Menghadapi siswa yang demikian, guru melakukan penedekatan secara personal untuk mengetahui penyebab dari kegagalannya itu dan juga dikomunikasikan dan mencari penyelesaian masalah dengan kerjasamanya orang tua siswa, sebagaiman telah dijelaskan di bagian memotivasi siswa dan melatih ketekunan siswa. 
Perlu ditegaskan bahwa, guru merupakan teladan bagi siswa dalam mempraktekan nilai kejujuran. Jika guru melanggar janjinya, siswa dengan cepat menagkapnya. Demikian juga apa yang dikatakan guru harus diikuti dengan tindakannya, agar tindakan ini pada gilirannya akan menajdi panutan bagi anak. Sebagaimana Rasululah SAW telah dijadikan teladan bagi segenap tingkah laku dalam kehidupan. Allah berfirman dalam Quran surat al-Ahzab ayat 21:
لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجواالله واليوم الآخر وذ كرالله كثيرا. (21)
                                    “Sesungguhnya pada Rasul Allah (Muhmmad) ada ikutan    yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan (pahala)         Allah dan hari yang kemudian, serta ia banyak mengingat Allah.”[153]
Untuk itulah, guru dijadikan teladan utama di sekolah, oleh sebab itu guru harus menjaga dan berhati-hati dalam berkata dan bertindak. Tindakan-tindakan yang dilakukan guru akan cepat diserap siswa. Mereka menganggap kebohongan adalah perilaku yang wajar bagi semua orang. Mereka juga akan belajar memparktekan kebohongan dalam pergaulan sosial mereka.
Dalam melatih kejujuran, disamping guru memberikan contoh yang baik pada siswa ataupun dengan memberikan nasihat dan cerita, guru perlu melatih kejujuran siswa dengan mengajak mereka bermain-main. Misalnya, permainan memasang ekor kuda yang sangat populer di tanah air, atau permaina jatuh ke belakang pada saat olah raga, dan permainan-permainan lainnya yang melatih siswa untuk mempercayai orang lain.

6. Ketrampilan Guru Melatih Ketrampilan Sosial Siswa

a. Penyebab Perilaku Asosial Siswa
Perilaku asosial siswa terjadi di semua kelas, misalnya siswa suka minta uang jajan kepada temannya secara paksa, pekelahian antar teman, serta adanya pengabaikan tata krama sosial seperti menerima buku dari gurunya dengan tangan kanan. Perilaku asosial ini juga ditunjukkan dengan munculnya antagonisme anak laki-laki terhdap anak perempuan, misalnya dengan mengejek, berteriak-teriak, dan membuka jilbab teman perempuan. Selain dapat merusak hubungan sosial antar sesama siswa, perilaku asosial tersebut juga membuat siswa yang bersangkutan terkucil dari teman-temannya.
Munculnya perilaku sosial di atas sebenarnya tidak lepas dari perkembangan sosial yang terjadi pada diri anak. Menurut Elizabeth B. Hurlock, bahwa seiring dengan pertambahan usia, anak semakin tertarik bergaul dengan teman sebayanya dan meninggalkan teman pergaulan dengan orang dewasa. Mereka juga lebih mempercayai norma-norma sosial yang dipegang kelompoknya daripada norma-norma yang mereka terima dari orang dewasa. Akibatnya, ketika terjadi perbenturan antar norma kelompok dengan norma sosial, mereka lebih menerima kelompoknya. [154] 
Lebih jauh menuruit Elizabeth B. Hurlock, ketika mulai sekolah anak memasuki  “usia geng”, yaitu usia yang pada saat itu kesadaran sosial anak berkembang dengan pesat. Mereka belajar membentuk atau menjadi anggota kelompok teman sebaya yang secara bertahap menggantikan keluarga dalam mempengaruhi perilaku.[155]
Gang merupakan usaha anak untuk menciptakan miniatur masyarakat yang sesuai bagi pemenuhan kebutuhan mereka. Gang pada umumnya terdiri atas anak-anak yang mempunyai minat bermain yang sama, dan tujuan utamanya adalah untuk bersenang-senang, yang kadangkala menjurus pada kenakalan, seperti mengganggu dan lain sebagainya.
Pada saat yang sama, sejak usia 6 atau 7 tahun, anak laki-laki dan anak perempuan mulai merasa senang apabila berada didalam kelompok yang sama jenis kelompoknya. Apalagi orang tua atau anggota keluarga lainnya juga menekan anak untuk menghindari pergaulan dengan lawan jenisnya, karena hal tersebut dipandang akan mengucilkan anak dari pergaulan sosialnya.
Dari sinilah sebenarnya bermula perilaku antagonisme siswa terhadap lawan jenisnya. Anak lelaki cenderung memandang rendah anak perempuan, sehingga mereka menghindari aktivitas yang dianggap sebagai aktivits perempuan. Apabila perekembangan ini diikuti dengan perlakuan yang diskriminatif dari guru, maka antagonisme tersebut akan menjurus pada tindakan-tindakan asosial lainnya, seprti mengejek, menjahili, dan menyakiti lawan jenisnya.
b. Cara Melatih Ketrampilan Sosial Siswa
Dalam menghadapi perilaku asosial siswa, guru telah melakukan langkah-langkah yang dapat mengantisipasi atau menghentikan perilku tersebut, seperti mengubah komposisi tempat duduk siswa setiap satu minggu sekali, menasehati siswa tentang artinya persahabatan, memberithu tata krama sosial yang harus diperhatikan siswa, dan menangani kasus-kasus sosial yang terjadi antar sesama siswa.
Cara yang demikian diperkuat dengan adanya tindakan guru yang mencoba melatih siswa untuk berkompetisi secara berkelompok, yakni dengan sistem belajar kelompok di dalam kelas, sehingga memungkinkan mereka untuk berinteraksi satu sama lain. Cara ini juga sekaligus mengurangi potensi terjadinya antagonisme tehadap lawan jenis, sehingga anggapan anak laki-laki yang yang semula memandang anak perempuan sebagai saingan (rival), berubah menjadi partner dalam bekerja.
Begitu pula dalam memelihara hubungan sosial dan melatih tata krama sosial siswa, guru telah memberikan nasihat tentang etika-etika pergaulan kepada kepada siswa dan melakukn koreksi ulang terhadap pelanggaran tata krama sosial yang dilakukan siswa, seperti membuang sampah sembarangan, menguap di depan umum, dan menerima barang dengan tangan kiri. Sayangnya, dalam menasihati guru tidak memfokuskan petunjuknya pada perilaku siswa secara spesifik . Akibatnya nasihat tersebut sulit dipahami dan dipraktekan siswa.
Lain halnya dengan ketika guru melatih tata krama sosial siswa, guru dapat memanfaatkan momentum pada saat guru menjumpai siswa yang datang terlambat dan masuk ke dalam kelas tanpa mengucapkan salam, di sini guru dapat mengoreksi ulang perilaku siswa yang bersangkutan dengan menyuruhnya keluar dari kelas dan mengulangi rangkaian tata krama yang harus dilakukannya, seperti mengetuk pintu sebelum masuk kelas, mengucapkan salam, dan memohon izin kepada guru perihal keterlambatannya.
Disamping itu, sebenarnya ada hal lain yang lebih penting diperhatikan guru daripada memberikan nasihat, yaitu melatih ketrampilan berkomunikasi siswa. Dengan hal tersebut disela-sela proses belajar-mengajar, waktu guru tidak tersita hanya untuk berceramah atau menangani kasus-kasus sosial siswa.
BAB. IV
PENUTUP

KESIMPULAN

Dari uraian yang telah dikemukakan dalam bab sebelumnya, dapat ditarik beberapa kesimpulan berikut ini:
Pada umumnya masalah-masalah emosional siswa yang dihadapi guru di sekolah dasar Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta khususnya kelas rendah yaitu kelas 1, 2 dan 3, adalah masalah ketidakdisiplinan yang ditandai dengan perilaku-perilaku siswa, sebagai berikut; ramai di dalam kelas, terlambat datang ke sekolah, tidak memakai seragam, tidak mengerjakan PR atau melalaikan tugas, pertengkaran antar siswa dan perbuatan asosial lain seperti pemalak, serta juga masalah tata krama siswa. Sedangkan secara khususnya masalah emosional siswa yang dihadapi guru adalah masalah emosional yang bersifat dominan terjadi pada tiap jenjang kelas. Sebagaimana halnya yang terjadi di kelas satu adalah masalah emosional, seperti rasa takut, cemas dan khawatir, yang pada gilirannya akan menimbulkan sikap ketergantungan pada orang tuanya. Masalah emosional yang dominan terjadi di kelas dua adalah motivasi belajar yang rendah, sedangkan di kelas tiga adalah meningkatnya solidaritas sesama jenis kelamin  dan kecemburuan terhadap lawan jenis.
 Konsep kecerdasan emosional anak menurut Perspektif guru di SD Muhammadaiyah Suronatan Yogyakarta adalah bahwa dalam hal mendidik siswa-siswinya, mereka lebih mementingkan aspek afektif siswa disamping aspek-aspek siswa lainnya, seperti aspek kognitif dan aspek psikomotorik. Perhatian guru terhadap aspek afektif siswa tersebut dituangkan kedalam bentuk kebijaksanaan-kebijaksanaan sekolah, seperti kegiatan intra sekolah atau kegiatan belajar-mengajar dan  dalam kegiatan ekstra kokurikuler. Lebih khususnya lagi pada proses pembelajaran, seperti pada penerepan hukuman terhadap siswa yang melanggar peraturan sekolah ataupun siswa yang berbuat tidak sesuai dengan tata krama sosial dan berbuat asosial. Dalam memberikan hukuman guru lebih menggunakan dengan hukuman yang tidak menyentuh fisik siswa dengan pertimbangan kondisi kejiwaan siswa, sehingga siswa dapat termotivasi dalam belajar dan berperilaku yang lebih baik.  
Cara guru melatih kecerdasan emosional siswa disesuaikan dengan masalah emosional yang dihadapai, baik yang bersifat persuasif (insidental) maupun yang bersifat kuratif (klasikal). Adapun secara umum guru dalam menghadapi masalah emosinal siswa adalah dengan cara; menegur, mengancam, memberi hukuman, memberikan nasihat dan cerita, serta melakukan pendekatan secara individual (pendampingan). Disamping itu pula guru mengambil tindakan secara khusus terhadap kelas satu, seperti dalam menghadapi masalah kemandirian siswa dan juga masalah ketakutan dan kecemasan siswa dengan memberikan kebijakan khusus pada orang tua siswa, memberikan permainan dan mengelilingi lingkungan sekolah, dengan tujuan untuk menghilangkan rasa cemas serta takut pada siswa. Demikian pula dalam melatih kemandirian siswa, guru memberikan  secara khusus pada siswa dengan mengecek tingkat kemandirian siswa serta memberi petunjuk pada siswa tentang aktivitas-aktivitas yang harus dilakukan siswa.   
        

SARAN

Berangkat dari kesimpulan di atas, maka saran dari penelitian ini, adalah:
 Pada Guru.
Dalam menghadapi masalah emosional siswa yang cukup kompleks pada tiap jenjang pendidikan dari umur 7-9 tahun, memang tidaklah mudah bagi guru untuk secara optimal memberikan latihan-latihan dalam mengembangkan kecerdasan emosional siswa. Sehingga di sini perlunya perhatian  guru yang lebih luas terhadap kecerdasan emosional siswa dan kesadaran diri untuk meningkatkan ketrampilannya dalam melatih kecerdasan emosional siswa.
 Dalam mengajar, sebaiknya guru menghilangkan sikap diskriminasi terhadap siswa tertentu, artinya guru tidak memihak salah satu murid tertentu atau sekelompok siswa putera. Hal yang demikian akan memunculkan sikap antagonisme dan kecemburuan  siswa terhadap siswa lawan jenisnya
Dalam memberikan hukuman siswa dengan memberikan tugas yang berlipat-lipat, alangkah baiknya bila guru melihat kondisi kejiwaan dan kemampuan berpikirnya. Hal ini bila diabaikkan justru yang terjadi adalah siswa yang kurang mampu dalam berpikir akan membuatnya semakin takut dan enggan untuk sekolah. Sebaliknya bagi siswa yang berkemampuan lebih dalam berfikir, ia akan semakin semangat dan tertantang dalam belajar. Begitu pula dalam memberikan hukuman, sebaiknya guru memberikannya sebagai alternatif terakhir disertai dengan sikap empati. Artinya setelah guru memberikan hukuman pada siswa, guru bersikap seperti semula dan tidak membenci siswa setelah siswa melakukan kesalahan.
Langkah guru dengan melakukan pendekatan secara individual atau pendampingan, merupakan langkah yang tepat dan adanya ketanggapan guru terhadap masalah perasaan siswa. Jadi, dalam belajar di sini adanya keseimbangan antara perasaan dan pikiran. Demikian pula kedekatan guru dengan siswa perlu dipertahankan selama tidak menggangu dalam proses belajar-mengajar. Sebab hubungan guru dan siswa yang akrab dan harmonis akan memunculkan semangat belajar dan siswa akan lebih mencontoh segala perilaku gurunya sebagai orang terdekatnya. Untuk itulah perlunya guru agar lebih berhati-hati dalam bertindak dan berbicara, karena guru adalah tokoh panutan bagi siswa-siswanya sampai dewasa kelak. 
 Pemberian hukuman dengan jalan musyawarah bersama siswa di sekolah ini sanagtlah tepat dan sebaiknya dijalankan terus, karena disamping untuk memilih jalan yang terbaik menurut kesepakatan bersama. Musyawarah juga melatih siswa untuk mengambil suatu keputusan yang diambil secara bersama dan tidak mementingkan kepentingannya sendiri. Jadi disini siswa dilatih untuk tidak bersikap egois.
Pada Sekolah.
a. Kebijakan-kebijakan sekolah yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan emosional siswa, baik secara umum maupun secara khusus sudah menunjukkan adanya perhatian dan kepedulian sekolah pada aspek afeksi siswa. Namun hendaknya kebijakan ini lebih diluaskan lagi pada proses pelatihan kecerdasan emosional siswa secara terprogram dan masuk dalam kurikulum sekolah, jadi sifatnya tidak hanya komplementer untuk memperlancar proses belajar-mengajar.
b. Dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah khususnya sebelum jam belajar dimulai tepatnya ketika bel sekolah berbunyi siswa diwajibkan untuk baris-berbaris di depan kelas dan satu-persatu masuk ke kelas dan berjabat tangan dengan gurunya, walaupun kegiatan ini dengan tujuan agar siswa tertib dan rapi, tapi kegiatan ini secara tidak langsung membuat siswa tegang dan cemas dan kehilangan semangat karena menghadapi suasana sekolah yang formal. Alangkah baiknya bila kegiatan tersebut dighilangkan dan digantikan dengan kegiatan yang membuat siswa tenang, tidak tegang dan tetap semangat, seperti dengan memberikan permainan tebak-tebakkan dan bagi siswa yang bisa menjawabnya mendapat giliran masuk ke kelas dan berjabat tangan dengan guru. Permainan ini pun dapat dilakukan guru ketika  jam belajar selesai.
c. Sebaiknya pihak sekolah perlu mengantisipasi bagi calon siswa yang akan masuk ke sekolah pada usia yang masih dini. Sekolah hendaknya menganjurkan pada orang tua siswa untuk tidak menyekolahkan anaknya di sekolah dasar terkecuali bila keinginan masuk sekolah karena keinginan sendiri calon siswa tersebut. Hal ini perlu menjadi perhatian, sebab anak yang belum siap masuk ke tingkat sekolah dasar pada nantinya siswa akan ketinggalan dalam menangkap pelajaran dan yang lebih diutamakan adalah kondisi jiwa anak. Bila kondisi jiwamya belum siap maka yang terjadi adalah keengganan siswa umtuk belajar dan takut masuk sekolah. 

PENUTUP

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik walaupun dalam bentuk yang sederhana. Semua ini tidak terlepas dari karunia dan rahmat-Nya serta berkat pengarahan dari pembimbing.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Hal ini karena keterbatasan penulis dalam menelaah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan masalah ini. Oleh kartena itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan skripsi ini.
Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pada masyarakat pada umumnya. Akhirnya semoga segala rahmat-Nya tetap tercurah pada seluruh mahluk-Nya. Amin…
Yogyakarta, 16 Agustus ‏2004‏‏
Penulis
Nur Alimah 
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali Imam, Ikhtisar Ihya ‘Ulumuddin, terjemah Mochtar Rosyadi dan    Mochtar Yahya, [Yogyakarta: Al-Falah, 1981]
Amstrong Thomas, Setiap Anak Cerdas, [Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002]
Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, [Jakarta: Rineka cipta, 1996]
Awwad M. Jauddah, Mendidik Anak Secara Islam, [Jakarta: Gema Insani, 1995]
Bahreiz Husein, Kitab al-Jami’ush-Shahih, Hadist Shahih Bukhari Muslim, [Surabaya: Karya Utama, 1977]
Clemes Harris & Reynold Bean, Melatih Anak Bertanggung Jawab, [Jakarta: Mitra Utama, 2002]
Daradjat Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, [Jakarta: Bulan Bintang, 1970]
Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemahannya, [Jakarta: Katoda, 1993]
Deporter Bobbi, Quantum Teaching, Mempraktekkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas, terjemah; Ary Nilandari, [Bandung, Kaifa, 2000]
Deporter Bobbi & Mike Hernacki, Quantum Learning-Membiasakan Hidup Nyaman dan Menyenangkan, [Bandung: Kaifa, 1999]
Drever James, Kamus Psikologi, [Jakarta: Bina Aksara, 1980]
Elias J. Maurice dkk, Cara-Cara Efektif Mengasuh Anak Dengan EQ, [Bandung: Kaifa, 2001]
Goleman Daniel, Emotional Intellegence, [Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999]
Gottman Joan & Jean De Claire, Kiat-Kiat Membesarkan Anak Yang Memiliki Kecerdasan Emosional (EQ), [Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997]
Gunarso D. Singgih, Psikologi Praktis Anak, Remaja dan Keluarga, [Jakarta: Gunung mulia, 1995]
Hamid Muhyidin, Kegelisahan Rasulullah Mendengar Tangis Anak, [Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1999]
Hurlock B. Elizabeth, Perkembangan Anak, [Jakarta: Erlangga, 1997]
Kartono Kartini, Bimbingan dan Dasar-Dasar Pelaksanaannya, [Jakarta: Rajawali, 1985]
Kartono Kartini, Psikologi Anak, “Psikologi Perkembangan”, [Bandung: Mandar Maju, 1990]
Levy Rey & Bill O’Hanlon, Cara Membesarkan Anak Yang Suka Melawan Tanpa Harus Hilang Kesabaran, [Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002]
Moleong J. Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, [Bandung: Remaja Rosda Karya, 1997]
Najati Ustman, Belajar EQ dan SQ dari Sunnah Nabi SAW, [Jakarta: Hikmah, 2003]
Nasih ‘Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, [Semarang: Asy-Syifa, 1981]
Purwadarminta WJ.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, [Jakarta: Balai Pustaka, 1970]
Ratnawati Sinta, Keluarga Kunci Sukses Anak, [Jakarta: Kompas, 2000]
Salim Peter & Salim Yenny, Kamus Bahasa Kontemporer, [Jakarta: Modern English Press, 1991]
Saphiro E. Lawrence, Mengajarkan Emotional Intellegence Pada Anak, [Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998]
Schaefer Charles, Cara Mendidik dan Mendisiplinkan Anak, [Jakarta: Mitra Utama, 1990]
Suharsono, Melejitkan EQ, IE, dan IS, [Jakarta: Inisiani Press, 2002]
Sulaeman Dadang, Psikologi Remaja “Dimensi-Dimensi Perkembangan”, [Bandung: Mandar Maju, 1995]
Thalib .M., 50 Pedoman mendidik Anak Menjadi Shaleh, [Bandung: Irsyad Baitus-Salam, 1996]
Yusuf Syamsu .LN., Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, pengantar; M. Djawad Dahlan, [Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002]     
                                   

[1] Abu Tauhid, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Fakultas  Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1999),  hlm. 72
[2] Peter Salim  dan Yenny Salim, Kamus  Bahasa Indonesia dan Kontemporer, (Jakarta: Modern English Press, 1991), hlm. 973
[3] Ibid, hlm. 838
[4] Daniel Goleman,Emotional Intellegence,  terj. T. Hermaya (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991), hlm. 512
[5] Wasty Sumanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pimpinan Pendidikan, (Jakarta: Rinieka cipta. 1990), hlm. 166
[6] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970) ,hlm.109
[7] WJS. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1970), hlm.87
[8] Ibid, hlm. 1186
[9] Suharsono, Melejitkan IQ, IE dan IS, cet. I, (Jakarta: Inisiasi Press, 2002), hlm.13
[10] Deperetmen Agama RI, Al – Qur`an dan Terjemahannya, (Jakarta: CV. Kathoda, 1993), hlm.13
[11] Al-Ghazali, Ikhtisar Ihya `Ulumuddin, terjemah: KH. Mochtar Rosyadi & Mochtar Yahya, (Yogyakarta: Al-Falah, 1968), hlm. 15
[12] Busyairi Madjidi, Konsep Pendidikan Para Filosof Muslim, (Yogyakarta: Al-Amin Press, 1991), hlm.18
[13]  Syamsu Yusyf LN, op.cit, hlm.113
[14] Dadang Sulaeman, Psikologi Remaja “Dimensi-Dimensi Perkembangan”, (Bandung: Mandar Maju, 1995), hlm.51
[15]  Syamsu Yusuf LN, op. cit, 2002, hlm. 115
[16] Lawrence E. Saphiro, Mengajarkan Emosional Intelligence Pada Anak, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1998), hlm. 8
[17] Daniel Goleman, Emotional Intellegence, terj: T. Hermaya, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999), hlml.45
[18] Jalaluddin Rahmat, Meraih Cinta Ilahi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm.240
[19] Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, 1997), hlm.210
[20] Kartini Kartono, Bimbingan dan Dasar-Dasar Pelaksanaannya, (Jakarta: Rajawali, 1985), hlm.17
[21] Bobby Deporter, Quantum Teaching, Mempraktekan Quantum Learning di Ruang-Ruang  Kelas, terjemah; Ary Nilandari,  (Bandung: Kaifa, 2000), hlm. 17-39
[22] Departemen Agama RI, Op. Cit, hlm. 116
[23] Aabdul Fatah Jalal, Azas-Azas Pendidikan Islam, terjemah: Henry  Noer Ali, (Bandung: Diponegoro, 1988),  hlm. 178
[24] Muhyidin Abdul  Hamid, Kegelisahan Rasulullah Mendengar Tangis Anak, (Yogyaarta:  Mitra  Pustaka, 1999), hlm. 187-196
[25] Muhammad Nashih  Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam, (Semarang: asy-Syifa, 1981), hlm. 155
[26] Utsman Najati, Belajar  EQ dan SQ dari  Sunnah Nabi, Pengantar: Ary Ginanjar Agustian, (Bandung: Hikmah, 2002), hlm. 166
[27] Ibid
[28] Ibid, hlm. 170
[29] Ibid
[30] Muhammad  Nashih  Ulwan, Op.Cit, hlm.123
[31] Mahmud Junus, Tarjamah al-Quran al-Karim, (Bandung: al- Ma’arif, 1986), hlm. 505-506
[32] Ibid, hlm. 379
[33] Sri Harini  dan  Aba firdaus al-Hajwani, Mendidik  Anak Sejak Dini, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003), hlm. 
[34] Ibid
[35] Elizabeth B. Hurloock, op,cit, hlm.210-212
[36] Ibid, hal.216
[37] Ibid, hlm. 228
[38] Lawrence E. Saphiro, op.cit, hlm. 18 – 19
[39] Suharsono, op.cit, hal.64
[40] Maurice J. Elias dkk, Cara-Cara Efektif Mengasuh Anak dengan EQ, (Bandung: Kaifa, 2001), hlm.43
[41] Kartini Kartono, Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan), (Bandung: Mandar Maju, 1990), hlm.7
[42] Bobbi Deporter, op.cit, hlm.97-98
[43] Joan Goottman & Jean De Claire, Kiat-Kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional, (Jakarta: Gramedia, 1997), hlm.4-5
[44]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, (Jakarta: Rineka cipta, 1992), hlm 115 
[45] Suharsimi Arikunto, op.cit, hlm. 144
[46] Ibid, hlm. 131
[47] Moleong, op.cit, hlm. 178
[48] Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi (ed), Metodologi Penelitian Survei, (Jakarta:LP3S, 1995), hlm. 26
[49] Winarno Surahmad, Penganatr Penelitian Ilmiah, (Bandung: Tarsito, 1985), hlm. 162
[50] Wawancara dengan Bp. Kismadi, S.Pd, selaku Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Soronatan Yogyakarta, pada tanggal 17 Maret 2004 
[51] Dokumntasi profil SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta.
[52] Wawancara dengan Bp. Kismadi S.Pd, selaku Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Suronatan, tanggal 17 Maret 2004, pkl. 11.00 WIB, di ruang tamu 
                [53] Ibid
                [54]Wawancara dengan Ibu Martini, selaku guru kelas IA, selasa tanggal 27 April 2004
                [55]Ibid
                [56]Wawancara dengan Ibu Wiwik, selaku Guru Kelas I B, Senin  tanggal 26 April 2004
                [57]Wawancara denagn Ibu Martini, ibu Wiwik,  ibu Tri,  ibu Nurul dan bapak Budiono , di SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta
                [58]Ibid
                [59]Hasil observasi di kelas I, II dan III SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta.  
                [60]Dokumentasi kelas SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta, dikutip tanggal 27 April 2004
                [61]Observasi di kelas III A, di SD Muhammadiayh Suronatan Yogyakarta, tanggal 8 Mei 2004
                [62]Wawancara dengan Ibu Wiwik, tanggal 8 Mei 2004
                [63]Wawancara denagn seluruh informan, di SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta.  
                [64]Dokumentasi kelas SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta  
[65] Hasil observasi tanggal 4 Mei 2004, di kelas IA  dan IB
[66] Wawancara dengan Ibu Wiwik tanggal 26 April 2004
[67] Wawancara dengan Ibu Martini tanggal 27 April 2004 dan Ibu Wiwik tanggal 26 April 2004 
[68] Ibid
[69] Ibid
[70] Hasil wawancara denagn Ibu Martini tanggal 27 April 2004
[71] Hasil Observasi tanggal 25 April 2004, di kelas IA
[72] Hasil wawancara dengan Ibu Wiwik tanggal 26 April 2004
[73] Hasil observasi tanggal 4 Mei 2004, di kelas IA
[74] Wawancara dengan Ibu Martini tanggal 27 April 2004 
[75] Wawancara dengan Ibu Wiwik tanggal 26 April 2004
[76] Hasil observasi tanggal 4 nei 2004
[77] Wawancara dengan Ibu Martini tanggal 27 April 2004 
[78] Ibid
[79] Hasil obserbvasi tanggal 4 Mei 2004, di kelas IA
[80] Ibid
[81] Wawancara dengan Ibu Martini tanggal 27 April 2004
[82] Ibid
[83] Hasil obsevasi tanggal 4 & 8 Mei 2004, di kelas IA & IB
[84]  Ibid
[85] Wawancara dengan Ibu Martini tanggal 27 April 2004
[86] Ibid
[87] Hasil observasi tanggal 12 Mei 2004, di kelas IIA
[88] Hasil wawancara dengan Ibu Tri tanggal 27 April 2004, selaku guru kelas IIB SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta
[89] Wawancara dengan ibu Watiah tanggal 3 Mei 2004, selaku guru kelas IIA SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta
[90] Ibid
[91] Wawancara dengan ibu Tri tanggal 27 april 2004
[92] Hasil obsarvasi tanggal tanggal 12 Mei 2004, di kelas IIA
[93] Observasi tanggal 12 mei 2004, di kelas IIB
[94] Ibid
[95]Hasil wawancara denagn Ibu Watiah,  pada tanggal 3 Mei 2004
[96] Wawancara dengan Ibu Tri Ari Ruwantini,  pada tanggal 27 April 2004
[97] Observasi tanggal 12 mei 2004, di kelas IIB
[98] Ibid
[99] Hasil Observasi tanggal 11 & 12 Mei 2004, di kelaas IIA & IIB
[100] Hasil observasi tanggal 12 Mei 2004, di kelas IIB
[101] Ibid
[102] Hasil Observasi tanggal 11 Mei 2004, di kelas IIA
[103] Wawancara dengan Ibu Tri tanggal 27 April 2004 dan Ibu Watiah tanggal 3 Mei 2004
[104] Hasil observasi tanggal 15 Mei 2004, di kelaas IIA
[105] Hasil observasi 12 Mei 2004, di kelaas IIA
[106] Hasil observasi  tanggal 14 Mei 2004
[107] Hasil wawancara dengan Ibu  Nurul Arifah, selaku guru kelas IIIA SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta, tanggal 4 Mei 2004
[108]Hasil observasi tanggal 15 Mei 2004, di kelas IIIA
[109] Hasil observasi tanggal 14  Mei 2004, di kelas IIIA
[110] Hasil wawancara  dengan  Ibu Nurul  Arifah tanggal 4 Mei  2004
[111] Hasi wawancara dengan  Bp.  Budiono, selaku guru kelas IIIB SD Muhammadiyah Suronatan Yogyaakarta, tanggal  3 Mei 2004
[112] Hasi wawancara dengan Ibu Nurul  Arifah tanggal  4 Mei 2004
[113] Hasil observasi tanggal 13 Mei 2004, di kelas IIIA
[114] Hasil observasi tanggal 8 mei 2004, di kelas IIIB
[115] Hasil wawancara dengan Ibu Nurul Arifah tanggal 4 Mei 2004
[116] Hasil observasi tanggal 9 Mei 2004, di kelas IIIA
[117] Hasil wawancara dengan Ibu Nurul Arifah tanggal 4 Mei 2004
[118] Hasil wawancara dengan Bp. Budiono tangagl 4 Mei 2004
[119] Haasil wawancara dengan Ibu Nurul tanggal 4 Mei 2004
[120] Hasil wawancara dengan Bp. Budiono tanggal 4 Mei 2004
[121] Wawancara Ibu Nurul, tanggal 4 Mei 2004
[122]  Moh. Zuhri Dipl-Tafi dkk, Tarjamah Sunan at-Tirmidzi, (Semarang; as- Asyifa, 1992), hlm. 455
[123] Sinta Ratnawati, Kelurga kunci sukses Anak, (Jakarta: Kompas, 2000), hlm. 63
[124] Elizabeth B. Hurlock,Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, 1997),
hlm. 323.
[125] Jauddah M. Awwad, Mendidik Secara Islami, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hlm. 16
[126] Darlene Powell Hopson, Ph. D & Derek S. Hopson, Ph. D, Menuju Keluarga Kompak, 8 Prinsip Praktis MenjadiOrang tua yang Sukses, (Bandung: Kaifa, 2002), hlm. 163
[127] Al-Quran dan Terjemahannya, (Jakarta: katoda, 1992), hlm 974
[128] Ibid, hlm. 654
[129] Muhyidin Abdul Hamid, Op. Cit, hlm. 196
[130] Al-Quran dan Terjemahannya, Op. Cit, hlm.1070
[131] Ray Levy, Ph. D. & Bill O`Honlon, M. S, L. M. F. T, bersama Taylor Norris Goode, Cara Mmbesarkan Anak yang Suka Melawan, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm. 131-132
[132] Husein Bahrelz, Kitab al-Jami`ah-Hadist Shahih Bukhari-Muslim, (Surabaya: Karya Utama, 1997), hlm. 240
[133] Thomas Armstrong, Setiap Anak Cerdas,Panduan Membantu Anak Belajar dengan Memanfaatkan Multiple Intellegence-nya, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm.139  
[134] DR. M. Ustman Najati, Belajar EQ dan SQ dari Sunnah Nabi, pengantar: Ary Ginanjar Agustian, (Jakarta: Hikmah, 2002), hlm. 162
[135] Harris Cle mes, Ph. D. &  Reynold Bean, Ed. M,  Melatih Anak Bertanggung  Jawab Petun juk Praktis Bagi Orang Tua dan Guru, (Jalarta: Mitra Utama, 2001), hlm. 44 
[136] Muh. Fuad Abdul Baqi, Al-Lu’lu’ Waal Marjan, terj. Salim  Bahresz, (Surabaya: Bina Ilmu, 1995), hlm. 318
[137] Abdullah Nasih Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, (Semarang: Asy-Syifa`, 1981), hlm. 64-65
[138] Ibid, hlm. 77
[139] Al-Quran dan Terjemahnya, Op. Cit, hlm. 348
[140] Sinta Ratnawati, Op. Cit, hlm. 62
[141] Ibid, hlm. 67
[142] Ibid, hlm. 85
[143] Ibid, hlm. 85
[144]  Lawrence Saphiro, Mengajarkan Emosional Intellegence Pada Anak, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama),  hlm. 227
[145] Ibid, hlm. 230
[146] Lawrence E. Saphiro, Op. Cit, hlm. 75
[147] Charles Schaefer, Cara Mendidik dan Mendisiplinkan anak, (Jakarta: Mitra Utama, 1990), hlm. 38-39
[148] M Thalib, 50 Pedoman Mendidik Anak menjadi Shaleh, (Bandung: Irsyad Baitussalam, 1990), hlm. 1999
[149] Departemen Agama,  Op. Cit, hlm323
[150] Bobby De porter & Mike Hernacki, Quantum Learning-Membiasakan Hidup Nyaman dan Menyenangkan, (terjemah: Alawiyah Abdurrahman), (Bandung: Kaifa, 1999), hlm. 109
[151] Lawrence E. Saphiro, Op. Cit, hlm. 62
[152] Ibid, hlm. 63
[153] Prof. H. Mahmud Yunus, Tarjamah Al-Quran Al-Karim, (Bandung: Al-Ma`arif, 1986), hlm. 379
[154] Elizabeth B. Hurlock, Op. Cit, hlm. 261
[155] Ibid, hlm. 264
www.web.unmetered.co.id
unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "METODE MELATIH KECERDASAN EMOSIONAL PADA ANAK"