Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Ngijiring pada Upacara Selametan Nyewu Dusun Mudal Argomulyo

unmetered
unlimited
Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Ngijiring pada Upacara Selametan Nyewu Dusun Mudal Argomulyo 
Oleh: Team www.web.unmetered.co.id

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Hasil pemikiran, cipta dan karya manusia merupakan kebudayaan yang berkembang pada masyarakat, pikiran dan perbuatan yang dilakukan oleh manusia secara terus menerus pada akhirnya menjadi sebuah tradisi.[1]Tradisi merupakan   proses situasi kemasyarakatan yang di dalamnya unsur-unsur dari warisan kebudayaan dan dipindahkan dari generasi ke generasi.[2]
Dalam sejarahnya, perkembangan kebudayaan masyarakat Jawa mengalami akulturasi dengan berbagai bentuk kultur yang ada. Oleh karena itu corak dan bentuknya diwarnai oleh berbagai unsur budaya yang bermacam-macam. Setiap masyarakat Jawa memiliki kebudayaan yang berbeda. Hal ini dikarenakan oleh kondisi sosial budaya masyarakat antara yang satu dengan yang lain berbeda. Kebudayaan sebagai cara merasa dan cara berpikir yang  menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan kelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial dalam suatu ruang dan waktu. Salah satu unsur budaya Jawa yang menonjol adalah adat istiadat atau tradisi kejawen.[3]
Simbol yang juga merupakan salah satu ciri masyarakat Jawa, dalam wujud kebudayaannya ternyata digunakan dengan penuh kesadaran, pemahaman, penghayatan tertinggi, dan dianut secara tradisional dari satu generasi ke generasi berikutnya.[4]Hal ini disebabkan orang Jawa  pada masa itu belum terbiasa berfikir abstrak, maka segala ide diungkapkan dalam bentuk simbol yang konkrit. Dengan demikian segalanya menjadi teka-teki. Simbol dapat ditafsirkan secara berganda. Juga berkaitan dengan ajaran mistik yang memang sangat sulit untuk diterangkan secara lugas, maka diungkapkan secara simbolis atau ungkapan yang miring (bermakna ganda).[5]
Di kalangan masyarakat Jawa terdapat kepercayaan adanya hubungan yang sangat baik antara manusia dan yang gaib. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai ritual sakral. Geertz menuturkan bahwa hubungan manusia dengan yang gaib dalam dimensi kehidupan termasuk cabang kebudayaan.[6]Salah satunya adalah Tradisi Ngijing pada Upacara Selametan Nyewudi Cangkringan Sleman. Tradisi ini merupakan implementasi kepercayaan mereka akan adanya hubungan yang baik antara manusia dengan yang gaib.
Tradisi ini tidak diketahui secara pasti asal-usulnya. Para pelaku tradisi hanya bisa mengatakan bahwa tradisi ini  mereka warisi dari nenek moyang mereka kurang lebih tiga atau empat generasi yang lalu.[7]
Ngijing merupakan bentuk kata kerja dari kijing yang artinya nisan, dengan demikian arti ngijingadalah meletakkan nisan diatas makam. Makna upacara dalam tema ini lebih mengarah pada kronologisasi ritual selametan nyewu. Selametan berasal dari kata selamat, masyarakat Jawa memaknainya sebagai sebuah media untuk memanjatkan doa memohon keselamatan bagi yang meninggal dan yang ditinggal.  
Selametan nyewu atau selamatan seribu hari adalah prosesi ritual paling penting, karena selametan nyewu merupakan upacara penutup dari rangkaian upacara selamatan orang meninggal. Pada masyarakat Jawa, apabila salah seorang keluarganya meninggal maka ada serangkaian upacara yang dilaksanakan, antara lain upacara pada saat kematian (selametan surtanah atau geblag), hari ketiga (selametan nelung dina), hari ketujuh (selametan mitung dina), hari keempat puluh (selametan patang puluh dina), hari keseratus (selametan nyatus), peringatan satu tahun (mendak sepisan), peringatan kedua tahun (mendak pindo) dan hari keseribu (nyewu) sesudah kematian.[8]Dan ada juga yang melakukan peringatan  saat kematian seseorang untuk terakhir kalinya (selametan nguwis-uwisi).[9]Pada setiap upacara yang dilakukan selalu diadakan tahlilan dan doa untuk memohon ampunan kepada Tuhan atas kesalahan dan dosa arwah yang meninggal. Prosesi selametan nyewu pada masyarakat Jawa umumnya sama. Lain halnya dengan selametan nyewu yang ada di Dusun Mudal, nyewu bukan hanya sekedar selametandengan tahlil dan doa, melainkan disertai dengan upacara ngijingyang terkesan sekedar simbolis. Makam hanya dibongkar untuk diambil pasaknya (kayu penutup jenazah) kemudian jenazah yang telah menjadi tulang belulang didoakan layaknya mendoakan jenazah yang baru diletakkan di liang kubur, kemudian liang kubur tersebut ditimbun  dengan tanah dan dipasang batu nisan (kijing). 
Setidaknya ada dua fungsi yang terkandung di dalam tradisi ini. Pertama hanya sebagai syarat sebelum dipasangi batu nisan (kijing), pasak yang umumnya terbuat dari kayu harus dicabut karena khawatir keropos sehingga tidak mampu menahan beban berat batu nisan yang terbuat dari batu tatahan.
Fungsi yang kedua, tradisi ini juga merupakan implementasi kepercayaan mereka akan adanya siksa kubur dengan melihat posisi tulang-belulang yang terlihat berantakan seperti tengkorak kepala ada di kaki, hal itu merupakan siksa kubur yang diterimanya sebagai imbas dari perbuatan buruknya selagi hidup di dunia. Begitupun sebaliknya ketika mereka mendapati tulang- belulang dalam keadaan utuh seperti saat raga dikebumikan, mereka percaya  bahwa semasa hidupnya  almarhum orang yang baik. Kepercayaan mereka tentang adanya siksa kubur versi tulang-belulang seringkali terbukti, karena durasi seribu hari adalah waktu yang singkat  untuk membuktikannya. Tentunya kepercayaan ini akan lebih mengingatkan manusia bahwa suatu saat manusia pasti akan mengalami hal seperti itu, sehingga seseorang tersugesti untuk merefleksikan jalan hidupnya menjadi lebih baik.[10]
Pemaknaan tersebut yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian, adanya korelasi antara agama dan tradisi yang kemudian keduanya saling mempengaruhi dan menyentuh berbagai aspek kehidupan.
Sebelum tradisi Ngijing dilaksanakan, ada beberapa tahapan yang dilakukan. Tahap pertama yaitu tiga hari sebelum prosesi, pada malam harinya mengadakan tahlilan. Tahap kedua  yaitu dua hari sebelum prosesi, pada malam hari mengadakan yasinan. Tahap ketiga yaitu satu hari sebelum prosesi, pada malam harinya orang yang berhajat mengadakan khataman al Qur’an. Semua proses ini melibatkan para kerabat terdekat dan warga sekitar dengan dipimpin oleh seorang modin.[11]Kaum lelaki ikut serta dalam proses tersebut, sedangkan para perempuan membantu urusan dapur.
Rangkaian prosesi ini jelas mencerminkan nilai-nilai ke Islaman yang terdiri dari nilai aqidah, nilai syari’ah dan nilai akhlaq. Nlai-nilai fundamental dalam Islam ini kemudian oleh penulis dijadikan kajian pokok dalam kajian budaya ini. Penulis berusaha mengungkapkan nilai-nilai tersebut dengan berlandaskan pada Naqal (Al-Qur’an dan Hadits).  
Di antara semua kewajiban sosial, menurut Niels Mulder, kewajiban untuk turut ambil bagian dalam upacara kematian dianggap paling penting. Tidak ambil bagian dalam peristiwa penuh duka yang merupakan puncak dalam lingkaran kehidupan dianggap sebagai bukti penghinaan terhadap tata tertib yang baik. Akibatnya ia dapat dikucilkan dari kehidupan sosial, orang enggan datang bila dia mengadakan slametan dan juga tidak mau membantu berbagai keperluannya. Ia hidup diluar partisipasi ritual dan sosial, di luar kehormatan dan secara sosial ia mati. Penolakan serupa itu adalah sarana sosial guna menandaskan batas-batas di dalam mana kerukunan dan keadaan slamet harus diutamakan.[12]
Penelitian ini penting dilakukan mengingat Tradisi Ngijing Pada Upacara Selametan Nyewu merupakan rangkaian sejarah masa lalu yang mengandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melihat realitas sekarang ini, yakni masuknya budaya luar yang dapat berdampak positif maupun negatif, maka diperlukan usaha penanaman kembali nilai-nilai moral melalui tradisi yang ada. Selain itu juga untuk mendokumentasikannya agar tradisi ini tidak hilang ditelan jaman.

B.     Pembatasan dan Perumusan Masalah

Fokus penelitian ini adalah Tradisi Ngijing Pada Upacara Selamatan Nyewu  di dusun Mudal, Argomulyo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman. Dengan menitik beratkan pada analisa nilai-nilai Islam.  Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang melatar belakangi dilakukannya Tradisi Ngijing  pada Upacara Selametan Nyewu di dusun Mudal, Argomulyo, cangkringan, Sleman?
2.      Nilai-nilai Islam apa yang terkandung dalam Tradisi Ngijing?
3.      Apa pengaruh nilai-nilai Islam dalam tradisi Ngijing terhadap prilaku keagamaan masyarakat dusun Mudal?
C.    Tujuan dan Kegunaan
Tujuan penelitian ini adalah:
1.      Untuk menjelaskan latar belakang dilakukannya Tradisi Ngijing Pada Upacara Selametan Nyewu.
2.      Untuk menjelaskan nilai-nilai Islam  dalam tradisi Ngijing pada upacara selametan nyewu.
3.      Untuk menjelaskan nilai-nilai Islam dalam tradisi Ngijing yang mempengaruhi prilaku keagamaan masyarakat dusun Mudal.
     Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat berguna:
1.      Sebagai acuan atau pembanding dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam realitas kehidupan.
2.      Untuk memperkaya khazanah kebudayaan Islam.
3.      Untuk menambah wawasan khususnya wawasan tentang nilai-nilai Islam dalam Tradisi Ngijing Pada Upacara SelametanNyewu.
4.      Memperluas khasanah kebudayaan lokal yang ada di Indonesia.
D.    Tinjauan Pustaka
Dari pengamatan peneliti selama ini, belum ditemukan buku ataupun tulisan yang berkaitan dengan Nilai-nilai Islam dalam Tradisi Ngijing Pada Upacara Selametan Nyewu. Hal ini tidak menyurutkan semangat penulis untuk melanjutkan penelitian yang kemudian merujuk pada perbandingan pustaka. Dengan kata lain penulis mencari tema-tema yang relevan dengan tema yang diangkat antara lain:
Drs. Moh. Rofangi dalam penelitiannya tentang Sedekahan di Yogyakarta (Suatu study tentang pola interaksi sosial), sedekah atau shodakoh dimaksudkan untuk mensyukuri nikmat Tuhan sebab adanya kelahiran dan perkawinan dengan membagikan besek. Pada  ritual upacara kematian, sedekahan dilakukan dengan niat pahala shodakohnya di limpahkan kepada almarhum agar almarhum dijauhkan dari siksa kubur. Masyarakat Cangkringan pun demikian, sedekahan mewarnai norma kesusilaan mereka. Sedekahan bukan hanya sekedar makna ritual saja, toleransi dan kerukunan beragama adalah hal terpenting dalam menilai arti sebuah tradisi[13].          
Drs. H. Zarkasyi A. Salam dalam hasil penelitiannya[14]tentang ritual kematian yang mempunyai makna toleransi dan kerukunan beragama yang tinggi.
Seperti penelitian yang penulis lakukan, ritual seputar kematian mempunyai fungsi dan pengaruh yang sarat dengan norma-norma kehidupan bermasyarakat.
Muhamad Hisyam dalam skripsinya[15]membahas beberapa aspek akulturasi Islam di Jawa. Di antaranya tentang rangkaian selametan yang diadakan bertepatan dengan saat-saat penting di dalam kehidupan (dari masa kehamilan sampai keseribu sesudah kematian).
Adanya penggunaan simbol dalam bentuk sesajen[16]yang menyertai doa-doa berbahasa Arab menjadi bukti adanya akulturasi Islam di Jawa. Relevansinya dengan tema yang diangkat terletak pada akulturasi Islam di Jawa. Penggunaan sesajen sebagai sebuah simbol, dengan pemaknaan yang mendalam dan penuh kesadaran ataupun hanya sekedar mengikuti kebiasaan, selalu diikutsertakan dalam melangsungkan tahlilan dan doa yang tentunya bernafaskan Islami.
Koentjaraningrat dalam bukunya,[17]memaparkan secara komprehensip tentang kebudayaan orang Jawa dari akar budayanya sampai dengan ritual dalam lingkaran kehidupan dari kelahiran sampai dengan kematian. Karya etnografi tersebut merupakan sumber primer dalam penelitian ini, karena tema yang diusung oleh penulis juga merupakan bagian dari bahasannya.
Penelitian ini memfokuskan pada Nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Tradisi Ngijing Pada upacara Selametan Nyewu.
E.     Landasan Teori
Kebudayaan cenderung di ikuti oleh masyarakat pendukungnya secara turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya, meskipun sering terjadi anggota masyarakat itu datang silih berganti disebabkan munculnya bermacam-macam faktor, seperti kematian dan kelahiran.[18]
Menurut Malinowski dalam Magic, Science and Religion, (Boston, 1984), hlm. 33-35, kematian merupakan krisis yang paling  atas dan paling akhir, serta krisis yang paling penting. Kematian menimbulkan dalam diri orang yang berduka-cita suatu tanggapan ganda cinta dan segan, sebuah ambivalensi emosional yang sangat mendalam dari pesona dan ketakutan yang mengancam baik dasar-dasar psikologis maupun sosial eksistensi manusia. Orang-orang yang berduka-cita ditarik ke arah almarhum oleh rasa kasih sayang kepadanya, disentakkan  belakang darinya oleh perubahan yang ditimbulkan oleh kematian. Ritus-ritus pemakaman, dan praktik-praktik duka-cita yang menyertainya, berpusat di sekitar hasrat paradoksal ini baik untuk memelihara ikatan berhadapan dengan kematian maupun  dengan segera dan sama sekali memutuskan ikatan itu, dan menjamin dominasi kehendak untuk hidup atas kecendrungan untuk berputus-asa. Ritus-ritus kematian menjaga kelangsungan kehidupan manusia dengan mencegah orang-orang  yang berduka-cita dari penghentian entah dorongan untuk lari terpukul-panik dari keadaan itu  atau sebaliknya, dorongan untuk mengikuti almarhum ke kubur[19].  
Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologis, yaitu pendekatan yang menggunakan nilai-nilai yang mendasari perilaku tokoh sejarah, status dan gaya hidup, sistem kepercayaan yang mendasari pola hidup dan sebagainya.[20]Dengan pendekatan ini, penulis mencoba memaparkan situasi dan kondisi masyarakat yang meliputi kondisi sosial budaya dan kondisi keagamaannya. Antropologi memberi bahan prehistoris sebagai pangkal bagi tiap penulis sejarah. Kecuali itu, konsep-konsep tentang kehidupan masyarakat dikembangkan oleh antropologi, akan memberi pengertian untuk mengisi latar belakang dari peristiwa sejarah yang menjadi pokok penelitian.[21]Pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.[22]
 Teori adalah kreasi intelektual, penjelasan beberapa fakta yang telah diteliti dan diambil prinsip umumnya.[23]Dalam Poerwadarminta teori adalah asas-asas dan hukum-hukum umum yang menjadi dasar sesuatu kesenian atau ilmu pengetahuan.[24]Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Hermeneutik oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911),  seorang filsuf Jerman yang menaruh perhatiannya pada sejarah dan lebih banyak dikenal dengan riset-riset historisnya. Dilthey memandang sebuah peristiwa sejarah sebagaimana ia memandang dunia yaitu dalam dua wajah, wajah luar (eksterior) dan  wajah dalam (interior). Secara eksterior, suatu peristiwa mempunyai tanggal dan tempat khusus atau tertentu; secara interior peristiwa itu dilihat atas dasar kesadaran atau keadaan sadar. Kedua dimensi dari peristiwa sejarah ini tidak bernilai sama. Bahkan dapat dikatakan bahwa kedua dimensi itu saling bergantung satu sama lain.[25]Eksterior sebagai sesuatu yang riil pastinya mengandung nilai yang abstrak atau interior,  Hermeneutik sebagai sebuah teori interpretasi  digunakan untuk mengungkapkan interioritas eksterior. Dalam kebebasanya yang inheren manusia membayangkan sebuah tema di dalam angan-angan dan mengevaluasi tema tersebut menurut kebebasannya. Bila seorang sejarawan berdiri ditengah-tengah reruntuhan dan memandangnya sebagai peninggalan masa lampau, sejarawan tersebut mengetahui person-person dan segala perbuatannya seakan-akan bermunculan dalam benaknya dengan segala corak dan warnanya sendiri yang khas. Sejarawan itu kemudian “mengaktifkan kembali” segala peristiwa yang ada dengan bantuan data yang terdapat dalam reruntuhan tersebut. karya semacam itulah yang disebut hermeneutik atau interpretasi. 
Dengan teori hermeneutik ini, penulis mencoba menganalisa data yang telah terhimpun untuk menjelaskan nilai aqidah, syari’ah dan akhlak sacara  sendiri-sendiri. Selain itu penulis mencoba memaparkan latar belakang dilakukannya tradisi Ngijing. Dengan pendekatan antropologi penulis menganalisa dapatkah nilai-nilai diatas  mendasari perilaku  keagamaan penganut tradisi tersebut.
F.     Metode penelitian
Dalam penelitian ini, penulis memerlukan sebuah metode penelitian yang berguna  untuk memperoleh  data yang akan dikaji. Metode pengumpulan data dalam kegiatan penelitian mempunyai tujuan mengungkap fakta mengenai variabel yang diteliti. Tujuan untuk mengetahui (goal of knowing) haruslah dicapai dengan menggunakan  metode atau cara-cara yang akurat.[26]
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah, yaitu sebuah proses yang meliputi pengumpulan dan penafsiran gejala, peristiwa ataupun gagasan yang timbul di masa lampau, untuk menemukan generalisasi yang berguna dalam usaha untuk memahami situasi sekarang dan meramalkan perkembangan yang akan datang.[27]
Metode sejarah meliputi empat tahapan sebagai berikut:
1.      Pengumpulan Sumber atau Heuristik
Heuristik sebagai tahap pertama dalam metode sejarah digunakan untuk mengumpulkan informasi-informasi yang terkait dengan penelitian yang akan dibahas. Untuk itu, pada tahap ini dilakukan cara-cara pengumpulan sumber sebagai berikut:
a. Metode observasi atau pengamatan dilakukan  agar dapat memberikan informasi atas suatu kejadian yang tidak dapat diungkapkan dan telah menjadi kebiasaan masyarakat setempat. Di samping itu, metode observasi juga digunakan sebagai langkah awal yang baik untuk menjalin interaksi sosial dengan tokoh masyarakat dan siapa saja yang terlibat dalam penelitian ini.
b. Metode Interview atau wawancara dilakukan dengan bertatap muka  dan mendengarkan secara langsung informasi-informasi dan keterangan-keterangan. Penulis melakukan tanya jawab secara langsung kepada pelaku tradisi, orang yang mengetahui tentang tradisi Ngijing pada Upacara Selametan Nyewu. Menurut prosedurnya penulis melakukan wawancara bebas terpimpin yaitu kombinasi antara wawancara bebas dan terpimpin dengan menyusun pokok-pokok permasalahan, selanjutnya dalam proses wawancara berlangsung mengikuti situasi.[28]
2.   Verifikasi atau kritik sumber
Penelitian ini menggunakan  kritik historis yaitu cara-cara untuk meneliti otentisitas dan kredibilitas sumber yang diperoleh.[29]  Kritik dilakukan dengan kritik ekstern dan intern.
a.        Kritik Ekstern
Kritik ekstern dilakukan untuk mengetahui tingkat keaslian sumber data guna memperoleh keyakinan bahwa penelitian telah dilakukan dengan mempergunakan sumber data yang tepat.[30]Dengan kritik ekstern ini penulis berusaha mendapatkan kebenaran sumber data dengan mengkaji berbagai faktor seperti adanya kesesuaian hasil wawancara dengan observasi dan penelitian yang penulis lakukan. 
b.       Kritik Intern
Kritik Intern adalah kelanjutan kritik ekstern bertujuan untuk meneliti kebenaran isi (data) sumber data itu.[31]Adapun terhadap sumber lisan, penulis melakukan kritik ini dengan melihat integritas pribadi informan, usia informan, jabatan informan, dan keterlibatan informan dalam pelaksanaan tradisi Ngijing.
3.   Interpretasi
Dalam tahap ketiga ini, penulis melakukan analisis terhadap sumber data yang telah diverifikasi dengan cara mengklasifikasikan sumber data di bawah tema-tema tertentu. Apabila terdapat data yang berbeda dalam suatu permasalahan  yang  sama maka peneliti membanding-bandingkan satu dengan yang lainnya untuk menentukan yang lebih mendekati kebenaran. Berdasarkan teori yang dipakai, penulis mencoba mengorganisasikan data berdasarkan tema-tema yang dibuat dan kemudian ditarik kesimpulan. [32]
4. Historiografi
Sabagai tahap terakhir dalam metode sejarah, historiografi disini merupakan cara penulisan, pemaparan atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan sehingga menjadi sebuah karangan sistematis yang dapat dibaca orang lain dan di dalamnya mengandung pelukisan tentang kehidupan suatu masyarakat dan kebudayaan di suatu daerah.[33]
           

G.    Sistematika Pembahasan

            Rangkaian pembahasan penelitian harus selalu sistematis dan saling berkaitan satu dengan yang lain agar menggambarkan dan menghasilkan hasil penelitian yang maksimal. Sistematika pembahasan ini adalah deskripsi urutan-urutan penelitian yang digambarkan secara sekilas dalam bentuk  bab-bab.
            Garis besarnya, penelitian ini memuat tiga bagian yaitu pendahuluan pada bab pertama, isi atau hasil penelitian terdapat di dalam bab dua, bab tiga dan bab empat, sementara kesimpulan ada pada bab lima.
Bab Pertama, adalah  pendahuluan yang merupakan  latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan. Bab ini adalah kerangka pemikiran penelitian yang dimaksudkan untuk lebih memfokuskan proses penelitian yang dilakukan.
Bab Kedua, membahas situasi dan kondisi masyarakat dusun Mudal kecamatan Cangkringan, meliputi kondisi  geografis, kondisi sosial budaya dan kondisi keagamaan. Bab ini dimaksudkan memberikan gambaran tentang masyarakat dan lingkungannya yang menjadi latar belakang tradisi Ngijing pada Upacara Selametan Nyewu. Bab ini sebagai aplikasi bab pertama dan sebagai pengantar atas bab selanjutnya.
Bab Ketiga, membahas deskripsi Tradisi Ngijing pada Upacara Selametan Nyewu, yang ditekankan  pada latar belakang dilakukannya tradisi Ngijing. Pemaparan rangkaian ritual pra-prosesi tradisi Ngijing yang meliputi tahlilan, yasinan dan khataman Al-Qur’an. Persiapan dan perlengkapan tradisi Ngijing dan prosesi upacara selengkapnya.
Bab Keempat, membahas nilai-nilai Islam dalam tradisi Ngijing pada Upacara Selametan Nyewu yang mempengaruhi prilaku keagamaan masyarakat dusun Mudal yang terbagi dalam tiga hal yaitu nilai aqidah, nilai syariah dan nilai akhlaq.
Bab Kelima, merupakan penutup yang  berisi kesimpulan dari hasil pembahasan secara keseluruhan dan disertai dengan  saran-saran.
BAB II
GAMBARAN UMUM
 DUSUN MUDAL
A. Kondisi Geografis
Geografis berasal dari bahasa Belanda “Geografie”, yang berarti ilmu yang mempelajari keadaan dan peredaran di muka bumi tentang alamnya, tumbuh-tumbuhan, binatangnya, manusia dengan seluk beluknya serta yang berhubungan dengan tempat itu.[34]
Dusun Mudal merupakan salah satu padukuhan yang berada di kelurahan Argomulyo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Jogjakarta. Padukuhan ini letaknya kurang lebih 2,5 KM dari pusat pemerintahan kelurahan Argomulyo yang bersebelahan dengan pusat pemerintahan kecamatan Cangkringan, dan berjarak kurang lebih 25 KM dari ibu kota kabupaten Sleman ke arah timur laut. Meskipun letaknya  agak jauh dari pusat kota, dusun ini dilewati oleh dua jalur transportasi darat sehingga akses menuju kesana bukanlah hal yang sulit.
Secara geografis Dusun Mudal merupakan wilayah lereng gunung Merapi yang memiliki luas area 9.840.000 m². Wilayahnya merupakan dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata  415 m di atas permukaan air laut. Iklim tropis pegunungan terasa menyejukkan dengan suhu maksimum 32º C dan suhu minimum  17º  C. Dengan iklim tersebut sektor pertanian yang menghasilkan padi, palawija, sayur mayur, buah-buahan menjadi komoditas unggulan mereka. Sementara sektor perternakan hewan konsumsi sampai dengan pembibitan  ikan air tawar merupakan komoditas kedua setelah komoditas hasil pertanian.[35]
 Secara administratif dusun Mudal terdiri dari 2 RW dan 5 RT yang dibatasi dengan:
1.   Sebelah utara          : dusun Besulan
2.   Sebelah timur          : kecamatan Manisrenggo, Klaten
3.   Sebelah selatan       : dusun Gayam
4.   Sebelah barat          : dusun Bakalan
Sesuai dengan data monografi dinamis dusun Mudal jumlah penduduknya  adalah  341 jiwa dengan 199 kepala keluarga yang terdiri dari 162 pria dan 179 wanita. Masyarakat Mudal sebagian besar mempunyai mata  pencaharian sebagai petani.
B. Kondisi Ekonomi dan Pendidikan.
Ciri khas suatu masyarakat  di manapun ia berada adalah adanya kelompok-kelompok atau kelas-kelas sosial yang didasarkan pada klasifikasi tertentu. Mengenai kelas sosial dalam masyarakat Jawa, Koentjaraningrat membaginya dalam dua kelas, yaitu kelas wong cilik dan kelas priyayi.[36]Menurut Kuntowijoyo istilah wong cilik mengandung pengertian kelompok (kelas) dan kedudukan orang biasa atau orang kecil, kelompok ini terdiri dari para  pedagang dan petani. Sedangkan kelompok priyayi terdiri dari bangsawan dan pangreh praja.[37]    Berdasarkan klasifikasi sosial di atas, penulis merasa perlu membahas sedikit tentang kelas-kelas sosial yang terdapat di dusun Mudal dengan melihat mata pencaharian mereka. Dengan  melihat pada mayoritas mata pencaharian suatu masyarakat maka sepintas akan terlihat jelas kondisi sosial budaya, geografi dan kondisi keagamaannya. Berdasarkan monografi dinamis semester II oktober 2003 jumlah penduduk menurut jenis pekerjaan sebagai berikut:  
Jumlah Penduduk Menurut Pekerjaan
No
Pekerjaan
Jumlah
01
PNS
6
02
ABRI
3
03
Swasta
38
04
Wiraswasta / pedagang
41
05
Tani
63
06
Buruh tani
8
07
Pensiunan
5
08
Jasa
8
Meskipun sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, masalah pendidikan bagi generasi mudanya bukanlah hal yang terabaikan untuk mereka. Berdasarkan monografi dinamis semester II oktober 2003 jumlah penduduk menurut tingkat pendidikannya sebagai berikut:
 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
No
Status pendidikan
Jumlah
01
TK
21
02
SD
91
03
SLTP
45
04
SLTA
111
05
Akademi / D1-D3
12
06
Sarjana (S1-S3)
6
Kesadaran masyarakatnya untuk memberikan pendidikan kepada generasi mudanya timbul dari ungkapan “cukuplah orang tuanya saja yang bodoh, jangan sampai keturunannya mewarisi kebodohan orang tuanya”.  Dusun  Mudal sama sekali tidak memiliki sarana pendidikan formal. Para siswa SD maupun SMP harus menempuh jarak kurang lebih 500 m untuk  mengikuti pelajaran di sekolah yang terletak di dusun Gayam. Sedangkan para siswa tingkat menengah akhir harus menempuh jarak 2,5 KM ke sekolah tingkat SMA yang terdekat dari dusun. Sedangkan para akademisi atau para mahasiswa harus menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer untuk mencapai tempat pembelajarannya. Meskipun demikian, atas dorongan dari para orang tua dan kesadaran mereka sendiri akan arti pendidikan bagi masa depanlah yang mendorong mereka tetap bersekolah mengejar pengetahuan untuk menyongsong masa depan. Satu hal yang patut dibanggakan, meskipun tidak memiliki sarana pendidikan formal mereka membentuk  sarana pendidikan non formal seperti Taman Pendidikan Al- Qur’an Sarana pendidikan non formal ini dijadikan ajang aktualisasi diri bagi para akademisi dari warga dusun Mudal untuk  membagi ilmu yang telah mereka dapatkan dari pendidikan formalnya. Juga sebagai wujud tanggung jawab generasi muda dusun Mudal untuk memajukan tarap hidup masyarakat dusunnya.
C. Kondisi Sosial Budaya
Sesuai dengan kodratnya manusia diciptakan hidup bersama dengan orang lain yang berbeda agama, warna kulit, bahasa  dan lain sebagainya. Manusia sebagai mahluk sosial tidak bisa hidup dalam kesendirian dalam melaksanakan aktifitasnya.
Selain berada di antara orang lain, seorang manusia juga berada diantara mahluk lain dalam makrokosmos. Di dalam sistem makrokosmos tersebut, ia merasakan dirinya hanyalah sebagai suatu unsur kecil saja yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam semesta.[38]
Asumsi ini juga berlaku pada masyarakat Mudal, tradisi hubungan sosial antar individu yang tercermin lewat gotong royong masih terjalin kuat. Sifat gotong royong merupakan ciri khas kehidupan warga desa. Adapun ciri-ciri  kehidupan masyarakat desa secara umum adalah masyarakat berhubungan langsung dengan alam, hal ini berkaitan dengan mata pencaharian mayoritas warga desa. Tingkat kependudukan rendah, masyarakat  desa bersifat homogen, lapisan sosialnya tidak begitu nampak, kontrol sosial dan kesetiakawanan sosialnya  cukup tinggi.[39]   
Keragaman budaya adalah ciri khas kehidupan masyarakat indonesia. Ini dapat di lihat dari kebudayaan  yang berkembang di masyarakat Indonesia. Di Jawa, Islam menghadapi suasana dan kekuatan budaya yang telah berkembang secara kompleks dan halus yang merupakan hasil penyerapan  kerajaan-kerajaan Jawa. Maka di Jawa penyebaran Islam berhadapan dengan dua jenis kekuatan lingkungan budaya :
1.         Kehidupan para petani lapisan bawah yang merupakan bagian terbesar, yang hidup bersahaja dengan adat- istiadat yang di jiwai aleh animisme-dinamisme.
2.         Kebudayaan Islam yang merupakan tradisi agung berbenturan dengan unsur-unsur filsafat Hindu-Budha yang memperkaya dan mempengaruhi budaya tradisi lapisan atas.[40]   
Dalam sejarah perkembangannya, kebudayaan masyarakat Jawa mengalami akulturasi dengan berbagai bentuk kultur yang ada. Oleh karena itu, corak dan bentuknya diwarnai  oleh berbagai unsur budaya yang bermacam-macam seperti Animisme, Dinamisme, Hinduisme, Budhisme dan Islam. Salah satu bentuk budaya Jawa yang menonjol adalah adat istiadat atau tradisi kejawen (Islam Jawa). Maka ketika agama Islam dipeluk oleh sebagian besar masyarakat Jawa, kebanyakan dari mereka masih tetap melestarikan unsur-unsur kepercayaan lama seperti tradisi slametan serta pemberian sesajen kepada arwah leluhur dan mahluk-mahluk halus.
Secara umum selametan adalah suatu acara makan bersama, sebelum makanan itu dibagi-bagikan terlebih dahulu dibacakan do’a bersama-sama.[41] Upacara-upacaraselametan  yang seringkali dilakukan oleh masyarakat Mudal antara lain selametan yang biasanya dilaksanakan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa penting seperti puputanatau kelahiran bayi, tetakan atau khitanan, pernikahan dan rangkaian ritual kematian antara lain pada saat kematian (selametan surtanah atau geblag), hari ketiga (selametan nelung dina), hari ketujuh (selametan mitung dina), hari keempat puluh (selametan patang puluh dina), hari keseratus (selametan nyatus), peringatan satu tahun (mendak sepisan), peringatan kedua tahun (mendak pindo) dan hari keseribu (nyewu) sesudah kematian. Dan ada juga yang melakukan peringatan  saat kematian seseorang untuk terakhir kalinya (selametan nguwis-uwisi). Selain itu masiih ada hajatan-hajatan lain seperti memasuki rumah baru, nyadran (mengirim doa untuk leluhur) dan wiwit(mulai menanam padi). Dengan dilaksanakannya ritual-ritual tersebut masyarakat berharap keamanan desa  terwujud. Dengan demikian untuk menciptakan keharmonisan dalam bermasyarakat bukan sesuatu yang sulit apabila itu dipahami oleh masyarakat.
Latar belakang pedesaan sangat mempengaruhi nilai sosial budaya di dusun Mudal. Seperti halnya dengan berkomunikasi, bahwa bahasa Jawa adalah bahasa pengantar yang digunakan oleh warga dusun Mudal. Penggunaan bahasa Jawa dengan paramasastra ( tata bahasa) dan udanegaran ( tingkat bahasa) yang baik dan benar merupakan bukti  bahwa warga dusun ini secara konsekuen masih mempertahankan bahasa ibu dengan baik. Setiap keluarga terlihat dalam kesatuan bahasa yang jelas sehingga dengan mendengarkan mereka berkomunikasi kita dapat mengetahui dengan persis tata urutan dalam keluarga. Dalam tata pergaulan, sikap hormat sangat tebal dan beralasan pada strata atau tingkat yang dihormati, misalnya dalam tegur sapa pada waktu bertemu dengan sahabat seusianya ataupun yang dibawah usianya yang sederajat dengan menggunakan tataran bahasa akrab (ngoko), menggunakan tataran bahasa hormat (kromo) ketika bertemu dengan orang yang lebih tua, menggunakan tataran bahasa hormat sekali (kromo inggil) ketika bertemu dengan orang yang mempunyai pengaruh di lingkungan masyarakatnya dan tataran bahasa hormat sekali juga umumnya dipakai kepada orang yang baru dikenalnya.[42]  
 Dalam kehidupan masyarakat pedesaan, tolong menolong dan gotong- royong menjadi asas utama bermasyarakat. Ketika seseorang diundang untuk maksud baik atau di minta bantuan tenaganya, hendaknya dapat menghadiri undangan tersebut, dan apabila berhalangan hadir  di harapkan memberikan alasan yang jelas dan jangan sampai hal itu di sepelekan karena akan berimbas pada dirinya untuk satu hal yang sama. Nilai-nilai tersebut seolah-olah sudah  menjadi kesepakatan yang harus dipatuhi oleh warganya.
Lingkungan dusun Mudal  yang tenang dan beriklim sejuk menandakan kedamaian dan keharmonisan warganya. Keharmonisan itu ditunjukkan oleh kepedulian sosial yang tinggi dengan prinsip hidup tolong menolong antara sesama warga. Hal ini tercermin dalam sikap ikhlas  membantu tetangga yang ditimpa musibah, baik bantuan berupa tenaga maupun berupa materi. Kepedulian sosial itu terwujud pula pada kepatuhan pranata sosial  yang diciptakan dan telah berlangsung lama dengan istilah sambatan, baik yang didasarkan atas kesadaran sendiri seperti beberapa contoh di atas, maupun yang bersifat anjuran dari aparat pemerintahan setempat seperti kerja bakti perbaikan jalan, perbaikan sarana ibadah, penjagaan keamanan dan ketertiban lingkungan, bersih desa dan lain sebagainya.sehubungan dengan sosial ekonomi pedesaan sebagaimana yang terjadi di dusun Mudal. Jiwa gotong royong masyarakat tercermin  dalam kebiasaan yang disebut  sambatan, yang berasal dari kata sambat, artinya minta bantuan.[43]   Sambatan yang bersifat saling memberi  dan menerima ini nampak demikian dominan memperteguh kebersamaan dalam hubungan bermasyarakat.
Selametan dan sambatan merupakan kegiatan sosial yang bersifat umum, artinya melibatkan  semua warga baik bapak-bapak, ibu-ibu, remaja putra dan putri. Kegiatan sosial warga dusun Mudal yang bersifat khusus antara lain: Paguyuban Petani buah dan sayur mayur dusun Mudal. Wadah kegiatan sosial ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang bercocok tanam buah-buahan dan sayur-mayur seperti semangka, melon, mentimun, cabai, tomat, kacang panjang, sawi dan lain sebagainya. Paguyuban ini bertujuan mengangkat harkat martabat petani dusun Mudal yang kerap kali menjadi sasaran empuk bagi tengkulak ketika panen raya tiba, sehingga keuntungan yang di dapat tidak seimbang dengan jerih payah yang telah dilakukan. Pada kenyatannya paguyuban ini mampu memberikan kontribusi nyata dalam mengangkat perekonomian anggotanya dengan mendistribusikan hasil pertanian kepada pembeli yang saling menguntungkan.
Kegiatan sosial warga dusun Mudal yang bersifat khusus lainnya adalah PKK. Kegiatan sosial ini melibatkan kaum Ibu warga dusun Mudal. Kegiatan yang dilakukan juga berkisar rutinitas yang dilakukan kaum ibu yaitu mengadakan keterampilan memasak, merangkai bunga, arisan kaum Ibu, Posyandu dan konsultasi kesehatan. Dengan frekwensi  satu minggu sekali pertemuan pada hari minggu pagi diharapkan proses  komunikasi antar warga terjalin.  
D. Kondisi Keagamaan.
Agama merupakan  pedoman hidup bagi setiap manusia. Latar belakang keagamaan berpengaruh juga terhadap aspek kehidupan. Demikian halnya kondisi keagamaan masyarakat dusun Mudal yang mayoritas beragama Islam, terdapat juga pemeluk agama Kristen Protestan dan Katholik. Berdasarkan monografi dinamis semester II oktober 2003 jumlah penduduk dusun Mudal berdasarkan  penganut keagamaan sebagai berikut:
Jumlah Penduduk Menurut Agama
No
Agama
Jumlah
01
Islam
327
02
Kristen protestan
12
03
Katolik
2
04
Hindu
05
Budha
Perbedaan agama ini terjadi karena latar belakang kehidupan masyarakat yang berbeda satu sama lain. Meskipun penganut agama Islam di dusun Mudal mayoritas, mereka tetap saling menghargai dan memberikan kebebasan bagi penganut agama lain  untuk melakukan aktifitas keagamaannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, Islam sebagai agama dominan masyarakat Mudal direalisasikan oleh para penganutnya dengan mengadakan berbagai macam kegiatan keagamaan di antaranya dengan  mendirikan sarana dan prasarana untuk menunjang kekhusukan beribadah terdapat sebuah masjid dan sebuah mushalla. Akan tetapi apabila di lihat kegiatan keagamaan masyarakatnya masih kurang semarak. Hal ini terlihat dari sedikitnya orang yang mengaji dan melaksanakan sholat berjama’ah di masjid dan mushalla. Sunyinya masjid dan mushalla dari kegiatan keagamaan bukan berarti kurangnya syiar Islam, melainkan kegiatan keagamaan yang selama ini telah dijalani dilangsungkan di rumah warga yang kedapatan giliran. Masjid dan mushalla dijadikan sarana ibadah yang bersifat rutin dan besar seperti sholat jama’ah lima waktu, shalat jum’at, shalat dua hari raya, pengajian-pengajian akbar dan taman pendidikan Al-Qur’an. 
Ada berbagai bentuk kegiatan keagamaan warga dusun Mudal yang berjalan hingga kini,[44]antara lain:
a.       Pengajian untuk Bapak-bapak dan Ibu-ibu
Pengajian untuk para bapak diadakan tiap satu bulan sekali pada malam jum’at, yaitu dengan membaca yasin, ditempat orang yang mendapat giliran sebagaimana yang telah ditentukan pada pertemuan pengajian bulan yang lalu. Pengajian ini juga diselingi dengan acara pengundian arisan, maka siapa yang kejatuhan undian arisan maka para warga meminta kesediaan orang tersebut untuk mengadakan pengajian yasinan pekan depan di kediamannya. Pengajian untuk kaum Ibu sudah tidak aktif lagi dikarenakan aktifitas kaum Ibu jauh lebih padat. Sepulang bekerja atau pun sehabis membantu suami di sawah mereka masih harus mengurus keluarga.
b.      Pengajian anak-anak.
Pengajian anak-anak diadakan tiga kali dalam seminggu yaitu pada hari senin, rabu dan jum’at kesemuanya diadakan pada sore hari setelah sholat ashar sampai dengan menjelang waktu sholat maghrib. Bentuk pengajian anak-anak adalah taman pendidikan Al-Qur’an Qoimul Haq dengan metode iqra’. Para pengajarnya adalah anggota remaja masjid Qoimul Haq dari dusun tersebut. Kegiatan keagamaan bagi para remajanya bisa dikatakan vakum karena hanya beberapa anggota remaja masjid saja yang peduli akan eksistensi taman pendidikan Al-Qur’an. Sementara kegiatan keagamaan remaja yang pernah dilakukan seperti yasinan yang diselingi dengan arisan hanya tinggal arisannya saja yang berjalan, acara yasinannya dihilangkan karena khawatir ada diskriminasi agama terhadap peserta arisan yang non Islam.[45]   
Kondisi keagamaan yang kurang semarak ini menjadi agak berbeda ketika bulan Ramadhan tiba. Khusus pada bulan Ramadhan banyak kegiatan keagamaan dilakukan. Kegiatan buka puasa bersama dilaksanakan setiap hari dengan konsumsi yang telah disediakan  oleh warga dengan ikhlas.Semangat Ramadhan terlihat dari banyaknya warga yang melaksanakan sholat berjama’ah malam.  Setelah menunaikan ibadah shalat Tarawih, para remaja masjid membaca Al-Qur’an bersama-sama  sampai khatam tiga puluh juz atau dengan istilah lain deres. Pada akhir bulan Ramadhan, yaitu satu minggu sebelum hari raya para warga dusun yang beragama Islam mengumpulkan zakat fitrah sebanyak dua setengah kilo beras bagi setiap orang yang sudah baligh.  Setelah semua zakat dikumpulkan oleh amil dengan dibantu remaja masjid, beras zakat tersebut dibagikan kembali kepada warga yang lebih membutuhkan. Ketika hari raya Iedul Fithri tiba mereka berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan shalat Ied. Sesudah shalat mereka saling berma’af-ma’afan atau juga sungkeman, orang tua biasanya tinggal di rumah menunggu didatangi kerabat atau tetangganya yang lebih muda. Pada hari ini tidak ada kegiatan keseharian yang dilakukan masyarakat, seperti  berdagang dan bercocok tanam.. 
Masyarakat Jawa Islam juga dapat di klasifikasikan berdasarkan intensitas penghayatan keagamaan. Menurut Zaini Muchtarom, berdasarkan klasifikasi tersebut maka di dalam masyarakat Jawa terdapat dua golongan yaitu golongan santri dan abangan. Golongan santri adalah mereka yang memeluk agama dengan sungguh-sungguh dan dengan teliti menjalankan perintah-perintah agama Islam sembari membersihkan aqidah dari syiriq yang terdapat di daerahnya. Kebalikannya adalah golongan abangan yaitu orang Islam Jawa yang kurang memperhatikan dan mengamalkan  perintah-perintah  agama Islam  dan kurang teliti dalam memahami perintah-perintah agama golongan abangan pada dasarnya  juga keluarga muslim, tetapi dalam menjalankan praktek  keagamaannya masih tercampur dengan unsur lokal tradisional, yaitu kebudayaan pra-Islam, Hindu dan Budha.[46]
Berdasarkan intensitas penghayatan keagamaan, masyarakat dusun Mudal juga dapat diklasifikasikan kepada dua golongan yaitu golongan santri dan golongan abangan. Hal ini teridentifikasi dari adanya sebagian masyarakat Islam dusun Mudal yang taat menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan Ilahiyah serta meramaikan kegiatan keagamaan di lingkungannya. Meskipun demikian mereka masih melaksanakan tradisi-tradisi warisan leluhur diantaranya seperti tradisi Ngijing dan rangkaian selametan-selametandalam lingkaran kehidupan manusia.             Masyarakat Islam dusun Mudal yang diklasifikasikan sebagai Islam abangan teridentifikasi dari dilakukannya tradisi-tradisi kejawen oleh masyarakat Islam dusun Mudal. Golongan Islam abangan ini dalam menjalankan ibadah rutinnya masih bercampur dengan kepercayaan kejawen mereka. Mereka menjalankan sholat tetapi mereka juga masih menyalakan dupa dan sesajen sebagai persembahan kepada arwah-arwah yang bersemayam di alam gaib. Sebagian dari Islam abangan ini ada yang tidak menjalankan sholat dan mereka juga kurang resfonsip terhadap kegiatan keagamaan dilingkungannya seperti pengajian bapak-bapak sebagaimana telah disebutkan diatas.  
Kepercayaan masyarakat Jawa tentang roh dan kekuatan gaib, telah ada sejak zaman pra sejarah. Pada waktu itu nenek moyang orang Jawa telah beranggapan bahwa semua benda di sekelilingnya itu bernyawa, dan semua yang bergerak dianggap hidup serta mempunyai kekuatan gaib, ada yang berwatak baik maupun buruk.[47]Hal tersebut wajar, karena di dukung oleh keadaan alam yang penuh dengan gunung-gunung, bebatuan dan pepohonan besar, yang akhirnya menumbuhkan rasa takut, kagum dan hormat.[48]
Dengan kepercayaan tersebut, mereka beranggapan bahwa semua roh yang  ada, terdapat roh yang paling berkuasa dan lebih kuat dari manusia. Agar terhindar roh tersebut mereka menyembahnya dengan jalan mengadakan upacara yang disertai sesaji. Selain itu dikenal juga upaya menghubungi roh halus dengan lambang-lambang yang mempunyai arti tertentu. Hal tersebut merupakan perwujudan kebudayaan Jawa kuno peninggalan Hindu-Budha.[49]                                     
Upacara-upacara selametan seperti tersebut di atas merupakan  salah satu bentuk aktifitas ritual keagamaan warga dusun Mudal yang mayoritas beragama Islam. Menurut tradisi kejawen, selametan sebagai bentuk aktifitas ritual keagamaan disebabkan karena penyebaran agama Islam di Indonesia khususnya  di Jawa dilakukan dengan cara damai dan toleransi. Sikap toleransi Islam tersebut dapat dilihat dari penyebaran agama Islam yang menggunakan metode pendekatan kultural dengan menghormati tradisi budaya yang ada.
Menurut Yosselin de Yang, pengaruh Islam terhadap kebudayaan Indonesia bersifat “penetration pasifique of suggestivedan tolerante et constructive” (damai, mendorong dan membangun). Jadi tidak hanya damai dan mendorong saja tetapi juga membangun seperti pengaruh-pengaruh agama Islam dalam hari-hari besar Islam, upacara kematian, selamatan-selamatan, mengubur mayat, do’a, wakaf, warisan dan lain sebagainya.[50]
Metode penyebaran agama Islam seperti itulah yang memudahkan agama Islam cepat berkembang. Budaya yang sudah berkembang dimasyarakat tidak dihapus begitu saja, namun ditransformasikan dengan ajaran-ajaran Islam, sehingga tidak heran apabila dalam kehidupan masyarakat, antara Islam dengan kebudayaan pra Islam, Hindu-Budha, berjalan beriringan. Misalnya masih dilaksanakannya tradisi dalam upacara-upacara dengan berbagai sesajen (sesaji) yang sebenarnya merupakan praktik ritus kepercayaan lama yang kemudian di dalamnya diisi dengan do’a-do’a yang bernuansa Islami. 
Varian keagamaan yang bersifat politis juga terdapat di dusun Mudal antara lain Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai basis massa lebih kuat dibanding basis massa Muhammadiyah. Walaupun demikian hal tersebut tidak mengganggu aktivitas keagamaan mereka. Basis massa Muhammadiyah yang lebih kecil cenderung membaur dengan warga Nahdliyin dusun Mudal dalam aktivitas keagamaannya. Mereka bersama-sama mengadakan pengajian-pengajian yang diadakan di dusunnya, mereka juga terkadang terlihat bersama-sama menghadiri pengajian di dusun tetangga terdekat.
BAB II
GAMBARAN UMUM
 DUSUN MUDAL
A. Kondisi Geografis
Geografis berasal dari bahasa Belanda “Geografie”, yang berarti ilmu yang mempelajari keadaan dan peredaran di muka bumi tentang alamnya, tumbuh-tumbuhan, binatangnya, manusia dengan seluk beluknya serta yang berhubungan dengan tempat itu.[51]
Dusun Mudal merupakan salah satu padukuhan yang berada di kelurahan Argomulyo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Jogjakarta. Padukuhan ini letaknya kurang lebih 2,5 KM dari pusat pemerintahan kelurahan Argomulyo yang bersebelahan dengan pusat pemerintahan kecamatan Cangkringan, dan berjarak kurang lebih 25 KM dari ibu kota kabupaten Sleman ke arah timur laut. Meskipun letaknya  agak jauh dari pusat kota, dusun ini dilewati oleh dua jalur transportasi darat sehingga akses menuju kesana bukanlah hal yang sulit.
Secara geografis Dusun Mudal merupakan wilayah lereng gunung Merapi yang memiliki luas area 9.840.000 m². Wilayahnya merupakan dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata  415 m di atas permukaan air laut. Iklim tropis pegunungan terasa menyejukkan dengan suhu maksimum 32º C dan suhu minimum  17º  C. Dengan iklim tersebut sektor pertanian yang menghasilkan padi, palawija, sayur mayur, buah-buahan menjadi komoditas unggulan mereka. Sementara sektor perternakan hewan konsumsi sampai dengan pembibitan  ikan air tawar merupakan komoditas kedua setelah komoditas hasil pertanian.[52]
 Secara administratif dusun Mudal terdiri dari 2 RW dan 5 RT yang dibatasi dengan:
5.   Sebelah utara          : dusun Besulan
6.   Sebelah timur          : kecamatan Manisrenggo, Klaten
7.   Sebelah selatan       : dusun Gayam
8.   Sebelah barat          : dusun Bakalan
Sesuai dengan data monografi dinamis dusun Mudal jumlah penduduknya  adalah  341 jiwa dengan 199 kepala keluarga yang terdiri dari 162 pria dan 179 wanita. Masyarakat Mudal sebagian besar mempunyai mata  pencaharian sebagai petani.
B. Kondisi Ekonomi dan Pendidikan.
Ciri khas suatu masyarakat  di manapun ia berada adalah adanya kelompok-kelompok atau kelas-kelas sosial yang didasarkan pada klasifikasi tertentu. Mengenai kelas sosial dalam masyarakat Jawa, Koentjaraningrat membaginya dalam dua kelas, yaitu kelas wong cilik dan kelas priyayi.[53]Menurut Kuntowijoyo istilah wong cilik mengandung pengertian kelompok (kelas) dan kedudukan orang biasa atau orang kecil, kelompok ini terdiri dari para  pedagang dan petani. Sedangkan kelompok priyayi terdiri dari bangsawan dan pangreh praja.[54]    Berdasarkan klasifikasi sosial di atas, penulis merasa perlu membahas sedikit tentang kelas-kelas sosial yang terdapat di dusun Mudal dengan melihat mata pencaharian mereka. Dengan  melihat pada mayoritas mata pencaharian suatu masyarakat maka sepintas akan terlihat jelas kondisi sosial budaya, geografi dan kondisi keagamaannya. Berdasarkan monografi dinamis semester II oktober 2003 jumlah penduduk menurut jenis pekerjaan sebagai berikut:  
Jumlah Penduduk Menurut Pekerjaan
No
Pekerjaan
Jumlah
01
PNS
6
02
ABRI
3
03
Swasta
38
04
Wiraswasta / pedagang
41
05
Tani
63
06
Buruh tani
8
07
Pensiunan
5
08
Jasa
8
Meskipun sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, masalah pendidikan bagi generasi mudanya bukanlah hal yang terabaikan untuk mereka. Berdasarkan monografi dinamis semester II oktober 2003 jumlah penduduk menurut tingkat pendidikannya sebagai berikut:
 Jumlah Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
No
Status pendidikan
Jumlah
01
TK
21
02
SD
91
03
SLTP
45
04
SLTA
111
05
Akademi / D1-D3
12
06
Sarjana (S1-S3)
6
Kesadaran masyarakatnya untuk memberikan pendidikan kepada generasi mudanya timbul dari ungkapan “cukuplah orang tuanya saja yang bodoh, jangan sampai keturunannya mewarisi kebodohan orang tuanya”.  Dusun  Mudal sama sekali tidak memiliki sarana pendidikan formal. Para siswa SD maupun SMP harus menempuh jarak kurang lebih 500 m untuk  mengikuti pelajaran di sekolah yang terletak di dusun Gayam. Sedangkan para siswa tingkat menengah akhir harus menempuh jarak 2,5 KM ke sekolah tingkat SMA yang terdekat dari dusun. Sedangkan para akademisi atau para mahasiswa harus menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer untuk mencapai tempat pembelajarannya. Meskipun demikian, atas dorongan dari para orang tua dan kesadaran mereka sendiri akan arti pendidikan bagi masa depanlah yang mendorong mereka tetap bersekolah mengejar pengetahuan untuk menyongsong masa depan. Satu hal yang patut dibanggakan, meskipun tidak memiliki sarana pendidikan formal mereka membentuk  sarana pendidikan non formal seperti Taman Pendidikan Al- Qur’an Sarana pendidikan non formal ini dijadikan ajang aktualisasi diri bagi para akademisi dari warga dusun Mudal untuk  membagi ilmu yang telah mereka dapatkan dari pendidikan formalnya. Juga sebagai wujud tanggung jawab generasi muda dusun Mudal untuk memajukan tarap hidup masyarakat dusunnya.
C. Kondisi Sosial Budaya
Sesuai dengan kodratnya manusia diciptakan hidup bersama dengan orang lain yang berbeda agama, warna kulit, bahasa  dan lain sebagainya. Manusia sebagai mahluk sosial tidak bisa hidup dalam kesendirian dalam melaksanakan aktifitasnya.
Selain berada di antara orang lain, seorang manusia juga berada diantara mahluk lain dalam makrokosmos. Di dalam sistem makrokosmos tersebut, ia merasakan dirinya hanyalah sebagai suatu unsur kecil saja yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam semesta.[55]
Asumsi ini juga berlaku pada masyarakat Mudal, tradisi hubungan sosial antar individu yang tercermin lewat gotong royong masih terjalin kuat. Sifat gotong royong merupakan ciri khas kehidupan warga desa. Adapun ciri-ciri  kehidupan masyarakat desa secara umum adalah masyarakat berhubungan langsung dengan alam, hal ini berkaitan dengan mata pencaharian mayoritas warga desa. Tingkat kependudukan rendah, masyarakat  desa bersifat homogen, lapisan sosialnya tidak begitu nampak, kontrol sosial dan kesetiakawanan sosialnya  cukup tinggi.[56]   
Keragaman budaya adalah ciri khas kehidupan masyarakat indonesia. Ini dapat di lihat dari kebudayaan  yang berkembang di masyarakat Indonesia. Di Jawa, Islam menghadapi suasana dan kekuatan budaya yang telah berkembang secara kompleks dan halus yang merupakan hasil penyerapan  kerajaan-kerajaan Jawa. Maka di Jawa penyebaran Islam berhadapan dengan dua jenis kekuatan lingkungan budaya :
3.         Kehidupan para petani lapisan bawah yang merupakan bagian terbesar, yang hidup bersahaja dengan adat- istiadat yang di jiwai aleh animisme-dinamisme.
4.         Kebudayaan Islam yang merupakan tradisi agung berbenturan dengan unsur-unsur filsafat Hindu-Budha yang memperkaya dan mempengaruhi budaya tradisi lapisan atas.[57]   
Dalam sejarah perkembangannya, kebudayaan masyarakat Jawa mengalami akulturasi dengan berbagai bentuk kultur yang ada. Oleh karena itu, corak dan bentuknya diwarnai  oleh berbagai unsur budaya yang bermacam-macam seperti Animisme, Dinamisme, Hinduisme, Budhisme dan Islam. Salah satu bentuk budaya Jawa yang menonjol adalah adat istiadat atau tradisi kejawen (Islam Jawa). Maka ketika agama Islam dipeluk oleh sebagian besar masyarakat Jawa, kebanyakan dari mereka masih tetap melestarikan unsur-unsur kepercayaan lama seperti tradisi slametan serta pemberian sesajen kepada arwah leluhur dan mahluk-mahluk halus.
Secara umum selametan adalah suatu acara makan bersama, sebelum makanan itu dibagi-bagikan terlebih dahulu dibacakan do’a bersama-sama.[58] Upacara-upacaraselametan  yang seringkali dilakukan oleh masyarakat Mudal antara lain selametan yang biasanya dilaksanakan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa penting seperti puputanatau kelahiran bayi, tetakan atau khitanan, pernikahan dan rangkaian ritual kematian antara lain pada saat kematian (selametan surtanah atau geblag), hari ketiga (selametan nelung dina), hari ketujuh (selametan mitung dina), hari keempat puluh (selametan patang puluh dina), hari keseratus (selametan nyatus), peringatan satu tahun (mendak sepisan), peringatan kedua tahun (mendak pindo) dan hari keseribu (nyewu) sesudah kematian. Dan ada juga yang melakukan peringatan  saat kematian seseorang untuk terakhir kalinya (selametan nguwis-uwisi). Selain itu masiih ada hajatan-hajatan lain seperti memasuki rumah baru, nyadran (mengirim doa untuk leluhur) dan wiwit(mulai menanam padi). Dengan dilaksanakannya ritual-ritual tersebut masyarakat berharap keamanan desa  terwujud. Dengan demikian untuk menciptakan keharmonisan dalam bermasyarakat bukan sesuatu yang sulit apabila itu dipahami oleh masyarakat.
Latar belakang pedesaan sangat mempengaruhi nilai sosial budaya di dusun Mudal. Seperti halnya dengan berkomunikasi, bahwa bahasa Jawa adalah bahasa pengantar yang digunakan oleh warga dusun Mudal. Penggunaan bahasa Jawa dengan paramasastra ( tata bahasa) dan udanegaran ( tingkat bahasa) yang baik dan benar merupakan bukti  bahwa warga dusun ini secara konsekuen masih mempertahankan bahasa ibu dengan baik. Setiap keluarga terlihat dalam kesatuan bahasa yang jelas sehingga dengan mendengarkan mereka berkomunikasi kita dapat mengetahui dengan persis tata urutan dalam keluarga. Dalam tata pergaulan, sikap hormat sangat tebal dan beralasan pada strata atau tingkat yang dihormati, misalnya dalam tegur sapa pada waktu bertemu dengan sahabat seusianya ataupun yang dibawah usianya yang sederajat dengan menggunakan tataran bahasa akrab (ngoko), menggunakan tataran bahasa hormat (kromo) ketika bertemu dengan orang yang lebih tua, menggunakan tataran bahasa hormat sekali (kromo inggil) ketika bertemu dengan orang yang mempunyai pengaruh di lingkungan masyarakatnya dan tataran bahasa hormat sekali juga umumnya dipakai kepada orang yang baru dikenalnya.[59]  
 Dalam kehidupan masyarakat pedesaan, tolong menolong dan gotong- royong menjadi asas utama bermasyarakat. Ketika seseorang diundang untuk maksud baik atau di minta bantuan tenaganya, hendaknya dapat menghadiri undangan tersebut, dan apabila berhalangan hadir  di harapkan memberikan alasan yang jelas dan jangan sampai hal itu di sepelekan karena akan berimbas pada dirinya untuk satu hal yang sama. Nilai-nilai tersebut seolah-olah sudah  menjadi kesepakatan yang harus dipatuhi oleh warganya.
Lingkungan dusun Mudal  yang tenang dan beriklim sejuk menandakan kedamaian dan keharmonisan warganya. Keharmonisan itu ditunjukkan oleh kepedulian sosial yang tinggi dengan prinsip hidup tolong menolong antara sesama warga. Hal ini tercermin dalam sikap ikhlas  membantu tetangga yang ditimpa musibah, baik bantuan berupa tenaga maupun berupa materi. Kepedulian sosial itu terwujud pula pada kepatuhan pranata sosial  yang diciptakan dan telah berlangsung lama dengan istilah sambatan, baik yang didasarkan atas kesadaran sendiri seperti beberapa contoh di atas, maupun yang bersifat anjuran dari aparat pemerintahan setempat seperti kerja bakti perbaikan jalan, perbaikan sarana ibadah, penjagaan keamanan dan ketertiban lingkungan, bersih desa dan lain sebagainya.sehubungan dengan sosial ekonomi pedesaan sebagaimana yang terjadi di dusun Mudal. Jiwa gotong royong masyarakat tercermin  dalam kebiasaan yang disebut  sambatan, yang berasal dari kata sambat, artinya minta bantuan.[60]   Sambatan yang bersifat saling memberi  dan menerima ini nampak demikian dominan memperteguh kebersamaan dalam hubungan bermasyarakat.
Selametan dan sambatan merupakan kegiatan sosial yang bersifat umum, artinya melibatkan  semua warga baik bapak-bapak, ibu-ibu, remaja putra dan putri. Kegiatan sosial warga dusun Mudal yang bersifat khusus antara lain: Paguyuban Petani buah dan sayur mayur dusun Mudal. Wadah kegiatan sosial ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang bercocok tanam buah-buahan dan sayur-mayur seperti semangka, melon, mentimun, cabai, tomat, kacang panjang, sawi dan lain sebagainya. Paguyuban ini bertujuan mengangkat harkat martabat petani dusun Mudal yang kerap kali menjadi sasaran empuk bagi tengkulak ketika panen raya tiba, sehingga keuntungan yang di dapat tidak seimbang dengan jerih payah yang telah dilakukan. Pada kenyatannya paguyuban ini mampu memberikan kontribusi nyata dalam mengangkat perekonomian anggotanya dengan mendistribusikan hasil pertanian kepada pembeli yang saling menguntungkan.
Kegiatan sosial warga dusun Mudal yang bersifat khusus lainnya adalah PKK. Kegiatan sosial ini melibatkan kaum Ibu warga dusun Mudal. Kegiatan yang dilakukan juga berkisar rutinitas yang dilakukan kaum ibu yaitu mengadakan keterampilan memasak, merangkai bunga, arisan kaum Ibu, Posyandu dan konsultasi kesehatan. Dengan frekwensi  satu minggu sekali pertemuan pada hari minggu pagi diharapkan proses  komunikasi antar warga terjalin.  
D. Kondisi Keagamaan.
Agama merupakan  pedoman hidup bagi setiap manusia. Latar belakang keagamaan berpengaruh juga terhadap aspek kehidupan. Demikian halnya kondisi keagamaan masyarakat dusun Mudal yang mayoritas beragama Islam, terdapat juga pemeluk agama Kristen Protestan dan Katholik. Berdasarkan monografi dinamis semester II oktober 2003 jumlah penduduk dusun Mudal berdasarkan  penganut keagamaan sebagai berikut:
Jumlah Penduduk Menurut Agama
No
Agama
Jumlah
01
Islam
327
02
Kristen protestan
12
03
Katolik
2
04
Hindu
05
Budha
Perbedaan agama ini terjadi karena latar belakang kehidupan masyarakat yang berbeda satu sama lain. Meskipun penganut agama Islam di dusun Mudal mayoritas, mereka tetap saling menghargai dan memberikan kebebasan bagi penganut agama lain  untuk melakukan aktifitas keagamaannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, Islam sebagai agama dominan masyarakat Mudal direalisasikan oleh para penganutnya dengan mengadakan berbagai macam kegiatan keagamaan di antaranya dengan  mendirikan sarana dan prasarana untuk menunjang kekhusukan beribadah terdapat sebuah masjid dan sebuah mushalla. Akan tetapi apabila di lihat kegiatan keagamaan masyarakatnya masih kurang semarak. Hal ini terlihat dari sedikitnya orang yang mengaji dan melaksanakan sholat berjama’ah di masjid dan mushalla. Sunyinya masjid dan mushalla dari kegiatan keagamaan bukan berarti kurangnya syiar Islam, melainkan kegiatan keagamaan yang selama ini telah dijalani dilangsungkan di rumah warga yang kedapatan giliran. Masjid dan mushalla dijadikan sarana ibadah yang bersifat rutin dan besar seperti sholat jama’ah lima waktu, shalat jum’at, shalat dua hari raya, pengajian-pengajian akbar dan taman pendidikan Al-Qur’an. 
Ada berbagai bentuk kegiatan keagamaan warga dusun Mudal yang berjalan hingga kini,[61]antara lain:
c.       Pengajian untuk Bapak-bapak dan Ibu-ibu
Pengajian untuk para bapak diadakan tiap satu bulan sekali pada malam jum’at, yaitu dengan membaca yasin, ditempat orang yang mendapat giliran sebagaimana yang telah ditentukan pada pertemuan pengajian bulan yang lalu. Pengajian ini juga diselingi dengan acara pengundian arisan, maka siapa yang kejatuhan undian arisan maka para warga meminta kesediaan orang tersebut untuk mengadakan pengajian yasinan pekan depan di kediamannya. Pengajian untuk kaum Ibu sudah tidak aktif lagi dikarenakan aktifitas kaum Ibu jauh lebih padat. Sepulang bekerja atau pun sehabis membantu suami di sawah mereka masih harus mengurus keluarga.
d.      Pengajian anak-anak.
Pengajian anak-anak diadakan tiga kali dalam seminggu yaitu pada hari senin, rabu dan jum’at kesemuanya diadakan pada sore hari setelah sholat ashar sampai dengan menjelang waktu sholat maghrib. Bentuk pengajian anak-anak adalah taman pendidikan Al-Qur’an Qoimul Haq dengan metode iqra’. Para pengajarnya adalah anggota remaja masjid Qoimul Haq dari dusun tersebut. Kegiatan keagamaan bagi para remajanya bisa dikatakan vakum karena hanya beberapa anggota remaja masjid saja yang peduli akan eksistensi taman pendidikan Al-Qur’an. Sementara kegiatan keagamaan remaja yang pernah dilakukan seperti yasinan yang diselingi dengan arisan hanya tinggal arisannya saja yang berjalan, acara yasinannya dihilangkan karena khawatir ada diskriminasi agama terhadap peserta arisan yang non Islam.[62]   
Kondisi keagamaan yang kurang semarak ini menjadi agak berbeda ketika bulan Ramadhan tiba. Khusus pada bulan Ramadhan banyak kegiatan keagamaan dilakukan. Kegiatan buka puasa bersama dilaksanakan setiap hari dengan konsumsi yang telah disediakan  oleh warga dengan ikhlas.Semangat Ramadhan terlihat dari banyaknya warga yang melaksanakan sholat berjama’ah malam.  Setelah menunaikan ibadah shalat Tarawih, para remaja masjid membaca Al-Qur’an bersama-sama  sampai khatam tiga puluh juz atau dengan istilah lain deres. Pada akhir bulan Ramadhan, yaitu satu minggu sebelum hari raya para warga dusun yang beragama Islam mengumpulkan zakat fitrah sebanyak dua setengah kilo beras bagi setiap orang yang sudah baligh.  Setelah semua zakat dikumpulkan oleh amil dengan dibantu remaja masjid, beras zakat tersebut dibagikan kembali kepada warga yang lebih membutuhkan. Ketika hari raya Iedul Fithri tiba mereka berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan shalat Ied. Sesudah shalat mereka saling berma’af-ma’afan atau juga sungkeman, orang tua biasanya tinggal di rumah menunggu didatangi kerabat atau tetangganya yang lebih muda. Pada hari ini tidak ada kegiatan keseharian yang dilakukan masyarakat, seperti  berdagang dan bercocok tanam.. 
Masyarakat Jawa Islam juga dapat di klasifikasikan berdasarkan intensitas penghayatan keagamaan. Menurut Zaini Muchtarom, berdasarkan klasifikasi tersebut maka di dalam masyarakat Jawa terdapat dua golongan yaitu golongan santri dan abangan. Golongan santri adalah mereka yang memeluk agama dengan sungguh-sungguh dan dengan teliti menjalankan perintah-perintah agama Islam sembari membersihkan aqidah dari syiriq yang terdapat di daerahnya. Kebalikannya adalah golongan abangan yaitu orang Islam Jawa yang kurang memperhatikan dan mengamalkan  perintah-perintah  agama Islam  dan kurang teliti dalam memahami perintah-perintah agama golongan abangan pada dasarnya  juga keluarga muslim, tetapi dalam menjalankan praktek  keagamaannya masih tercampur dengan unsur lokal tradisional, yaitu kebudayaan pra-Islam, Hindu dan Budha.[63]
Berdasarkan intensitas penghayatan keagamaan, masyarakat dusun Mudal juga dapat diklasifikasikan kepada dua golongan yaitu golongan santri dan golongan abangan. Hal ini teridentifikasi dari adanya sebagian masyarakat Islam dusun Mudal yang taat menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan Ilahiyah serta meramaikan kegiatan keagamaan di lingkungannya. Meskipun demikian mereka masih melaksanakan tradisi-tradisi warisan leluhur diantaranya seperti tradisi Ngijing dan rangkaian selametan-selametandalam lingkaran kehidupan manusia.             Masyarakat Islam dusun Mudal yang diklasifikasikan sebagai Islam abangan teridentifikasi dari dilakukannya tradisi-tradisi kejawen oleh masyarakat Islam dusun Mudal. Golongan Islam abangan ini dalam menjalankan ibadah rutinnya masih bercampur dengan kepercayaan kejawen mereka. Mereka menjalankan sholat tetapi mereka juga masih menyalakan dupa dan sesajen sebagai persembahan kepada arwah-arwah yang bersemayam di alam gaib. Sebagian dari Islam abangan ini ada yang tidak menjalankan sholat dan mereka juga kurang resfonsip terhadap kegiatan keagamaan dilingkungannya seperti pengajian bapak-bapak sebagaimana telah disebutkan diatas.  
Kepercayaan masyarakat Jawa tentang roh dan kekuatan gaib, telah ada sejak zaman pra sejarah. Pada waktu itu nenek moyang orang Jawa telah beranggapan bahwa semua benda di sekelilingnya itu bernyawa, dan semua yang bergerak dianggap hidup serta mempunyai kekuatan gaib, ada yang berwatak baik maupun buruk.[64]Hal tersebut wajar, karena di dukung oleh keadaan alam yang penuh dengan gunung-gunung, bebatuan dan pepohonan besar, yang akhirnya menumbuhkan rasa takut, kagum dan hormat.[65]
Dengan kepercayaan tersebut, mereka beranggapan bahwa semua roh yang  ada, terdapat roh yang paling berkuasa dan lebih kuat dari manusia. Agar terhindar roh tersebut mereka menyembahnya dengan jalan mengadakan upacara yang disertai sesaji. Selain itu dikenal juga upaya menghubungi roh halus dengan lambang-lambang yang mempunyai arti tertentu. Hal tersebut merupakan perwujudan kebudayaan Jawa kuno peninggalan Hindu-Budha.[66]                                     
Upacara-upacara selametan seperti tersebut di atas merupakan  salah satu bentuk aktifitas ritual keagamaan warga dusun Mudal yang mayoritas beragama Islam. Menurut tradisi kejawen, selametan sebagai bentuk aktifitas ritual keagamaan disebabkan karena penyebaran agama Islam di Indonesia khususnya  di Jawa dilakukan dengan cara damai dan toleransi. Sikap toleransi Islam tersebut dapat dilihat dari penyebaran agama Islam yang menggunakan metode pendekatan kultural dengan menghormati tradisi budaya yang ada.
Menurut Yosselin de Yang, pengaruh Islam terhadap kebudayaan Indonesia bersifat “penetration pasifique of suggestivedan tolerante et constructive” (damai, mendorong dan membangun). Jadi tidak hanya damai dan mendorong saja tetapi juga membangun seperti pengaruh-pengaruh agama Islam dalam hari-hari besar Islam, upacara kematian, selamatan-selamatan, mengubur mayat, do’a, wakaf, warisan dan lain sebagainya.[67]
Metode penyebaran agama Islam seperti itulah yang memudahkan agama Islam cepat berkembang. Budaya yang sudah berkembang dimasyarakat tidak dihapus begitu saja, namun ditransformasikan dengan ajaran-ajaran Islam, sehingga tidak heran apabila dalam kehidupan masyarakat, antara Islam dengan kebudayaan pra Islam, Hindu-Budha, berjalan beriringan. Misalnya masih dilaksanakannya tradisi dalam upacara-upacara dengan berbagai sesajen (sesaji) yang sebenarnya merupakan praktik ritus kepercayaan lama yang kemudian di dalamnya diisi dengan do’a-do’a yang bernuansa Islami. 
Varian keagamaan yang bersifat politis juga terdapat di dusun Mudal antara lain Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai basis massa lebih kuat dibanding basis massa Muhammadiyah. Walaupun demikian hal tersebut tidak mengganggu aktivitas keagamaan mereka. Basis massa Muhammadiyah yang lebih kecil cenderung membaur dengan warga Nahdliyin dusun Mudal dalam aktivitas keagamaannya. Mereka bersama-sama mengadakan pengajian-pengajian yang diadakan di dusunnya, mereka juga terkadang terlihat bersama-sama menghadiri pengajian di dusun tetangga terdekat.
BAB III
DESKRIPSI TRADISI NGIJING PADA UPACARA
SELAMETAN NYEWU
A.    Latar Belakang Dilakukannya Tradisi Ngijing
Berdasarkan dari sumber lisan yang didapat, penduduk tidak dapat menceritakan sejak kapan tradisi Ngijing ini dilakukan. Mereka hanya dapat menyatakan bahwa upacara ini sudah sejak dulu dilakukan, kini mereka tinggal meneruskan adat yang telah berlaku turun temurun.[68]Tradisi Ngijing Pada Upacara Selametan Nyewu merupakan salah satu bentuk upacara tradisi yang diwariskan  leluhur. Upacara itu dilaksanakan di pemakaman setempat atau yang lebih dikenal dengan nama pasareyan. Di dusun Mudal terdapat tiga pasareyanyaitu pasareyan lor, pasareyan kidul dan pasareyan Mudal.
            Ngijingberasal dari kata kijing. Dalam tata bahasa jawa, perubahan konsonan “k” menjadi “ng” berarti juga mengubah makna, kijing artinya nisan (kata benda), sedangkan ngijing adalah kata kerja yang berarti pemasangan kijing.[69]
            Tradisi ini mempunyai tujuan untuk memberikan tanda makam sebagai wujud penghormatan mereka terhadap keluarga mereka yang telah meninggal. Pada saat jenazah dikebumikan sampai dengan tradisi ngijing dilaksanakan, makam hanya berbentuk gundukan tanah dengan papan nisan di kedua ujungnya.[70]
Umumnya tradisi ini dilakukan pada pagi hari. Kalaupun ada yang melakukannya di siang hari atau sore hari biasanya bukan sekedar ngijing, tetapi juga memindahkan kerangka jenazah keluarganya yang kebetulan dimakamkan di luar daerah agar dimakamkan dekat dengan makam para kerabatnya atau di pemakaman keluarga. Kasus seperti ini jarang terjadi kecuali atas permintaan dari keluarga almarhum.[71]
Tradisi Ngijing dengan pemindahan kerangka jenazah dilakukan dengan prosesi yang sama yaitu ada tiga hari sebelum tradisi ini dilakukan. Perbedaannya terletak pada pembuatan makam baru untuk kerangka jenazah yang dipindahkan. Sementara  tradisi Ngijing yang dibahas dalam penelitian ini adalah memberikan kijing pada makam yang sama  seperti saat si jenazah dikebumikan. Meskipun demikian keduanya tetap dilakukan pada upacara selametan nyewu.  
Tradisi Ngijingmerupakan suatu jenis kebudayaan lokal tradisional orang Jawa.[72]Dengan demikian tradisi Ngijing dapat diklasifikasikan sebagai kebudayaan Jawa.[73]
Unsur-unsur animisme-dinamisme hingga kini pengaruhnya masih mewarnai sendi-sendi kehidupan mayarakat, terutama dalam ritualitas kebudayaan. Hal ini bisa diamati pada seremonial-seremonial budaya dalam masyarakat masih menunjukkan akan kepercayaannya terhadap makhluk supranatural. Jika ditelusuri sejak masuknya Islam ke Jawa sekitar abad ke-7,[74]sampai adanya tradisi Ngijing yang masih dilakukan di abad 20. Di lihat dari periodesasi waktu, jelas terpaut tenggang yang  yang cukup lama. Meskipun demikian pada kenyataannya tradisi Ngijing tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Islam.
Tradisi Ngijingpada Upacara Selametan Nyewu pada dasarnya hanya  tumbuh dan berkembang dalam masyarakat yang beragama Islam. Indikasinya terlihat dari  di ikutkannya prosesi Ngijing pada  Selametan Nyewu. Selametan atau Wilujengan menurut C. Geertz, sebagaimana yang dikutip Koentjaraningrat adalah suatu upacara pokok atau unsur terpenting dari hampir semua ritus  dan upacara dalam sistem religi orang Jawa pada umumnya, dan penganut  agama Jawi khususnya.[75]Kentalnya warna animisme-dinamisme dalam Tradisi Ngijing tidaklah kemudian dimaknai sebagai bentuk sinkretis, melainkan suatu bentuk dari kemampuan adaptasi kultural [76]yang dimiliki oleh masyarakat setempat untuk mempertahankan nilai-nilai luhur yang melembaga dalam ritualitas kebudayaan masyarakat.     
            Bagi orang Jawa, hidup ini penuh dengan upacara. Upacara-upacara itu berkaitan dengan lingkaran hidup manusia sejak  dari kandungan ibunya, kanak-kanak, remaja, dewasa sampai dengan saat kematian dan setelahnya, atau juga upacara-upacara yang berkaitan dengan aktifitas kehidupan sehari-hari. Upacara-upacara itu semula dilakukan dalam rangka untuk menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang tidak dikehendaki yang akan membahayakan bagi kelangsungan kehidupan manusia. Dalam kepercayaan lama, upacara dilakukan dengan mengadakan sesaji yang disajikan kepada daya-daya kekuatan gaib (roh-roh, mahluk halus, dewa-dewa) tertentu. Tentu dengan upacara itu harapan pelaku adalah agar hidup senantiasa dalam keadaan selamat.[77]                                                  Secara luwes Islam memberikan warna baru pada upacara-upacara itu dengan sebutan kendurenatau  selametan. Di dalam upacara selametan  ini yang pokok adalah pembacaan doa yang dipimpin oleh orang yang di pandang memiliki pengetahuan tentang Islam, apakah seorang modin, kaum, lebai atau kiai. Selain itu terdapat seperangkat makanan yang dihidangkan bagi peserta  selametan yang disebut berkat. Makanan-makanan itu di sediakan oleh penyelenggara upacara atau yang sering di sebut dengan shahibul hajat.[78] 
Dalam pengejawantahannya orang-orang jawa melakukan berbagai ritual yang kemudian diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Salah satu tradisi yang dilakukan di dusun Mudal adalah tradisi Ngijing. Tradisi  ini masih tetap dilaksanakan hingga sekarang karena berbagai hal yang terkandung di dalamnya.
Pelaksanaan tradisi Ngijingini merupakan simbol ketaatan kepada tradisi leluhur sebagai penerus tradisi yang pernah ada. Di samping itu tradisi Ngijing  berfungsi menjaga pandangan masyarakat tentang status sosial seseorang. Orang yang tidak melakukan tradisi tersebut, walaupun tidak disingkirkan atau di asingkan, tetapi akan mendapat kesan negatif dari anggota masyarakat lainnya. Kesan negatif yang paling sering terjadi adalah diasingkan dalam pergaulan sehari-hari, karena dianggap tidak menghormati leluhur.[79]
B.     Rangkaian Ritual; Pra Prosesi Tradisi Ngijing
Sebelum prosesi Ngijing dilaksanakan  ada tiga tahapan yang dirangkai dalam tiga malam. Tahap pertama yaitu tahlilan yang dilakukan pada malam pertama dari tiga malam Tahap kedua yaitu malam kedua sebelum prosesi mengadakan yasinan. Tahap ketiga yaitu satu malam sebelum prosesi, orang yang berhajat mengadakan khataman al-Qur’an. Untuk lebih memudahkan dalam mendeskripsikan tahapan-tahapan tersebut selanjutnya dalam bab ini akan diuraikan satu-persatu rangkaian ritual tersebut.
B.1.  Tahlilan
Tahlilan dilakukan pada malam pertama dari tiga malam sebelum tradisi Ngijing dilakukan. Tahlilan adalah bentuk ritual keagamaan yang penuh dengan puji-pujian kepada Allah YME. Tahlilan ini melibatkan kaum pria sebagai wakil dari keluarganya. Dengan dipimpin seorang modin, tahlilanini biasanya dilakukan setelah shalat Isya, dan atau lebih malam lagi jika berbenturan dengan kegiatan sosial keagamaan yang lain, seperti kenduren, selametan, puputan dan lain sebagainya. Pada kasus seperti ini waktu pelaksanaan tahlilan diserahkan kepada modin yang mengatur masalah sosial keagamaan warga dengan kesepakatan dan kesiapan yang berhajat[80].
Tempat pelaksanaan  tahlilan umumnya di kediaman yang berhajat. Pada pagi harinya sebelum tahlilan dilakukan, yang berhajat dengan sendirinya atau meminta bantuan orang lain yang bisa bertutur kata halus untuk memberitahukan kepada tetangga dan kerabat terdekat dan mengundangnya untuk datang. Apabila merasa belum cukup dengan hal tersebut yang berhajat meminta bantuan kepada takmir masjid untuk mengumumkan undangan tahlilan tersebut. Dengan demikian warga  mengetahui dan dengan sendirinya memberikan bantuan tenaga dan materi yang biasanya berupa gula pasir, teh, dan lain sebagainya.
Para undangan umumnya datang bersama-sama yang kemudian disambut oleh tuan rumah dan dipersilahkan untuk menempati ruang yang kosong dan saling berhadapan sambil menunggu acara dimulai biasanya bapak-bapak berbincang-bincang ringan mengenai masalah keseharian mereka, dan terkadang membicarakan kondisi aktual sosial politik yang mereka dapatkan informasinya dari media cetak maupun elektronik. Dengan demikian tahlilan bukan hanya menjadi ajang aktualisasi keagamaan, tapi juga merupakan ajang sillaturrahmi dan komunikasi antar warga.
Ketika semua masyarakat berkumpul, acarapun dimulai. Seorang pembawa acara yang sudah ditunjuk membuka acara dan mengurutkan acara-acara yang akan dilaksanakan. Acara yang pertama adalah pembukaan yang menguraikan maksud di undangnya para warga ke acara tersebut. acara yang kedua adalah sambutan dari tuan rumah atau yang mewakili untuk menyampaikan ucapan terima kasih atas kedatangan para undangan dan mohon bantuan do’a yang seikhlas-ikhlasnya. Agar rangkaian acara ini berjalan lancar dan mendapat ridho Allah Swt.
Acara yang ketiga yaitu tahlilan yang dipimpin langsung oleh modin atau yang mewakili jika modin berhalangan hadir. Sebelum memasuki acara inti modinjuga menyampaikan ceramah keagamaan berkenaan dengan pentingnya mengirim do’a kepada sanak saudara yang telah meninggal. Karena  hal ini akan dapat melapangkan alam kubur mereka dan meringankan siksa kubur almarhum.
Setelah selesai dengan kata-kata sambutan, para undangan dipersilahkan untuk mencicipi hidangan berupa jajanan pasar dan teh hangat sebagai pelengkapnya. Setelah dirasa cukup dengan hidangan pembuka, modin memberikan isyarat dengan beberapa kali tepuk tangan agar pembacaaan tahlil segera dimulai. Tuan rumah diminta untuk mengeluarkan sebuah nampan beralaskan daun pisang berisi sesajen yang terdiri dari sesisir pisang raja, kembang setaman, uang logam, kemenyan, jenang, palawija, jadah pasar dan telur.  Sesaji ini sebagai syarat pelengkap dan simbol kehadiran almarhum.[81]
Pada umumnya prosesi tahlilanyang dilakukan di dusun Mudal sama dengan tahlilan di tempat lain. Pembacaan surah Al-Fatihah pertama diniatkan kepada nabi Muhammad Saw. dan  keluarganya. Pembacaan alfatihah kedua diniatkan kepada para malaikat , para nabi, para ulama dan kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani. Alfatihah ketiga diniatkan kepada kaum muslim secara umum dan kepada almarhum beserta keluarga khususnya. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil, tahmid dan tasbih dan diakhiri dengan do’a.
Pembacaan tahlil di Mudal sedikit berbeda dengan pembacaan tahlil secara umum terutama pada saat pembacaan kalimat tahlil. Pembacaaan kalimat tahlil secara umum biasanya dengan langgam yang monoton, tetapi di Mudal pembacaannya itu diselingi dengan singiran berlanggam jawa yang dibawakan oleh beberapa orang tua. Adapun langgamnya adalah:
Allahumma salli wa sallim ala sayyidina wa maulana  Mohammad
Eling-eling  manungsa ing dina mbenjing
Uripiro aneng donyo datan lama
Tanprayoga wong bagus ngendelke rupa
Gebagusan iku wujut kelakuhan
Keluhuran iku wujut kepinteran
Aja pisan nindaake kesewenang-wenang
Kabeh iku bakal kumpul maring manungsa
Udarana isine kitab Qur’an
Gih punika pusaka saking Pangeran
Lewih apik nindakna solat sembayang
Nabi Ayub luwih lara solat sembayang
Nabi Yusuf luwih bagus solat sembayang
Nabi sulaiman luwih sugih solat sembayang
Mengewelingka kabeh pada netepana
Dawuhana Pangeran Kang Maha Kuasa
Artinya
Ya Allah shalawat dan salam kepada junjungan kita nabi Muhammad
Ingat-ingat manusia pada hari esok
Hidup di dunia itu tidak lama
Akan hancur raga bercampur dengan tanah
Tidak ada guna orang cakap mengandalkan rupa
Kecakapan itu bentuk dari kelakuan
Keluhuran itu bentuk dari kepintaran
Jangan sekali-kali melakukan kesewenang-wenangan
Semua itu akan berkumpul dengan manusia
Bukalah isinya kitab Al-Qur’an
Karena itu pusaka dari Pangeran
Lebih baik menjalankan sholat  sembahyang
Nabi Ayub lebih sakit tapi dia sholat sembahyang
Nabi Yusup lebih cakap juga sholat sembahyang
Nabi Sulaiman labih kaya juga sholat dan sembahyang
Itu semua mengingatkan kita kepada apa yang telah ditetapkan
Titahnya Pangeran Yang Maha Kuasa [82]
Mekanisme pembacaan  kalimat tahlil yang diselingi dengan singiran berlanggam jawa tersebut, yaitu para warga membaca kalimat tahlil dengan nada datar dan mars tanpa berhenti . Pada setiap pembacaan kalimat tahlil memasuki hitungan ketiga beberapa orang tua dengan nada agak tinggi melafalkan satu kalimat tahlil seperti bernyanyi langgam jawa yang terus diikuti dengan melafalkan singiran berlanggam jawa yang kemudian diakhiri dengan pembacaan satu kalimat tahlil dan begitu seterusnya. Sementara para warga membaca tahlil terus menerus sampai singiran berlanggam Jawa selesai dibacakan. Modin mengakhirinya dengan isyarat tepuk tangan. Kemudian Modin membaca do’a dan menutup rangkaian acara. Setelah do’a selesai dibacakan, maka tuan rumah mempersilahkan para undangan untuk mulai menyantap hidangan. Hidangan ini merupakan ungkapan terimakasih atas kesediaannya membantu mendo’akan almarhum. Ketika hendak kembali ke rumahnya masing-masing, mereka diberi besek sebagai wujud shadaqah yang mana pahalanya diniatkan untuk almarhum. Besek adalah wadah hidangan yang terbuat dari anyaman bambu yang berbentuk kubus bertutup. Seiring perkembangan zaman penggunaan besek mulai tergantikan dengan kotak kardus. Isi besek biasanya terdiri dari nasi putih, nasi gurih, kerupuk, ayam goreng, pisang, pecel, urab, dan lain sebagainya sesuai kemampuan yang berhajat.
Besek tersebut dibawa pulang dengan maksud agar isi besek dapat dinikmati oleh satu keluarga. Pemberian besek lebih diutamakan ketimbang hidangan penutup yang hanya bisa dinikmati oleh para undangan saja. Mereka beranggapan besek yang dinikmati sekeluarga lebih besar pahala shadaqahnya dibanding hidangan penutup yang dinikmati oleh tamu undangan saja.
Hidangan pembuka dan penutup tadi merupakan bentuk sebuah sedekah. Sedekah menurut seorang antropolog Belanda J. van Baal, adalah suatu pemberian, dan bahwa suatu pemberian terutama merupakan cara untuk mengadakan komunikasi simbolis dan untuk berpartisipasi dalam kehidupan serta pekerjaan dari orang yang diberi, dan bukan hanya merupakan cara untuk memuaskan kebutuhan fisik seseorang, untuk “menyuap”, atau untuk mengembalikan jasa. Oleh karena itu sebagai suatu pemberian, sedekah merupakan alat untuk berkomunikasi secara simbolik dengan mahluk-makhluk halus di dunia gaib.[83]  
Ketika para tamu meminta izin pulang, tuan rumah menyalami dan mengucapakan terima kasih serta berpesan agar besok malam kembali hadir di acara Yasinan.
B.2.  Yasinan   
Yasinan adalah pembacaan surat Yasin yang dilakukan pada malam kedua sebelum tradisi ngijing dilakukan. Mekanisme acaranya sama dengan acara tahlilan. Akan tetapi di acara ini tidak ada acara ceramah keagamaan. Tuan rumah menyampaikan kata sambutan dan ucapan terima kasih. Tiga pembacaan surat Al-Fatihah seperti tahlil tetap dilakukan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan surat yasin yang dipimpin oleh modin dengan perlahan-lahan secara bersama-sama. Hal ini bertujuan agar pembacaan dapat dilakukan dengan khidmat dan juga agar para orang tua dan orang yang tidak lancar mengaji tidak ketinggalan dalam melafalkannya.
Pada acara ini, nampan berisi sesajen masih digunakan seperti saat acara tahlilan.Umumnya ketika acara selesai para undangan hanya diberi hidangan penutup, sementara besek tidak diberikan, tetapi itu semua terserah kepada kemampuan yang berhajat.
B.3. Khataman Al- Qur’an
Khataman Al-Qur’an adalah pembacaan ayat –ayat suci Al-Qur’an sampai selesai tiga puluh juz. Khataman Al-Qur’an ini dilaksanakan pada malam ketiga sebelum pelaksanaan tradisi Ngijing. Mekanisme acaranya sama dengan acara yasinan, yang membedakannya adalah setelah pembacaan Al-Fatihah sebanyak tiga kali kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dilakukan bersama-sama. Para undangan dipersilahkan untuk mengambil juz-juz Al-Qur’an yang telah disediakan oleh modin. Agar khataman ini tidak memakan waktu, maka dibutuhkan tiga  puluh orang untuk membacanya. Jika yang menghadiri lebih dari tiga puluh orang, khataman akan menjadi lebih cepat karena bagi mereka yang bacaan Al-Qur’annya lambat bisa berbagi bacaan dalan juz yang sama dengan rekannya. Jika yang hadir kurang dari tiga puluh orang, maka yang lebih muda dan dipandang bisa membaca  Al-Qur’an dengan baik dan lancar diminta untuk melengkapi kekurangan orang tersebut artinya orang itu bisa membaca dua atau tiga juz sekaligus. Pembacaannya memang di lakukan bersama –sama tetapi dengan gayanya masing-masing. Ada yang membaca dengan perlahan, ada yang membaca dengan tempo sedang, namun umumnya mereka membaca Al-Qur’an dengan cepat sehingga bacaan yang terdengar lebih mirip suara mendengung.
Setelah masing-masing selesai dalam pembacaannya, modin kemudian membacakan doa khatamanseperti yang terlampir di halaman terakhir pada sebuah Al-Qur’an. Kemudian modinmenutup acara sambil menyampaikan pesan shahibul hajat agar warga membantu dalam pemasangan kijing yang akan dilaksanakan keesokan harinya.
    
C. Prosesi Tradisi Ngijing.
C.1. Persiapan dan Perlengkapan Prosesi Tradisi Ngijing
Dalam  penyelenggaraan tradisi Ngijingdiadakan dua jenis persiapan, yaitu persiapan fisik dan nonfisik.  Yang dimaksud persiapan fisik adalah wujud benda-benda dan perlengkapan yang diperlukan dalam penyelenggaraan tradisi ngijing. Adapun persiapan nonfisik yaitu berwujud suatu tradisi yang selama ini dilaksanakan, yaitu sikap dan perbuatan yang harus dilaksanakan sebelum berlangsungnya upacara tersebut seperti berpuasa dan membersihkan makam dari rumput-rumput liar. Hal ini dilakukan oleh keluarga yang berhajat sementara berpuasa hanya dilakukan oleh kepala keluarganya.
Beberapa hari sebelum diselenggarakan tradisi Ngijing, yang berhajat mulai mempersiapkan perlengkapan yang dibutuhkan nantinya. Ada dua macam perlengkapan yang dibutuhkan yaitu perlengkapan yang berupa material (bahan bangunan) dan perlengkapan berupa sesaji.
            Adapun perlengkapan material yang dipersiapkan adalah:
1.      Kijing adalah batu yang berbentuk persegi panjang yang digunakan untuk tutup dan tanda kuburan. Kijing mudah didapatkan dan bisa dipesan di tempat industrri pembuat kijing atau nisan makam dengan harga yang bervariasi. Kijing ada dua bentuk. Bentuk yang pertama terbuat dari  batu asli yang di tatah atau dibentuk sepertikijing pada umumnya. Contohnya seperti makam para raja dahulu.  Bentuk yang kedua terbuat dari campuran semen dan pasir yang dibentuk menjadi nisan dan biasanya dibentuk berdasarkan pesanan. Bentuk inilah yang sering dipilih konsumen. Selain bentuknya yang bisa dipesan harganya juga lebih ekonomis dan lebih praktis pada saat pemasangannya karena bobotnya lebih ringan dibanding dengan kijing dari batu asli.
2.      Semen, air, pasir dan batako yang nantinya akan digunakan untuk membuat semacam altar di atas makam untuk meletakkan kijing.
3.      Cangkul, ember dan sekop yang digunakan untuk mengolah campuran bahan-bahan material, dua buah balok panjang dan tambang besar yang digunakan untuk mengangkat kijing.
Sedangkan perlengkapan yang digunakan untuk sesaji antara lain[84]
1.      Nampan, keranjang tempat sesaji
2.      Pisang raja satu sisir
3.      Kembang setaman, yaitu tujuh macam bunga harum
4.      Kemenyan
5.      Uang logam
6.      Jenang;  ada enam warna jenang yaitu merah, hitam, putih, hijau, kuning dan merah putih.
7.      Palawija
8.      Jadah pasar
9.      Telur
10.  Daun pisang sebagai alas sesaji di atas nampan
Masing-masing sesaji di atas tentunya hadir bukan dengan tanpa maksud atau makna. Adapun makna dari sesaji tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1.      Pisang Raja sebayak satu sisir melambangkan kesatuan dan kerekatan tali persaudaraan.
2.      Kembang Setaman, terdiri dari kembang yang berbau harum ini bermakna bahwa manusia harus berlaku baik agar meninggalkan kebaikan ketika meninggal. Harum/wangi diidentikkan dengan kebaikan.
3.      Kemenyan, berasal dari kemebul (asap sarung yang dibakar) artinya agar do’a mereka terkabul
4.      Uang logam seratus rupiah artinya adalah sebagai wujud penghargaan terhadap sesuatu.
5.      Jenang yaitu terdiri dari:
·         Jenang merah melambangkan nafsu
·         Jenang hitam melambangkan asal mula kejadian manusia
·         Jenang putih melambangkan kesucian manusia
·         Jenang hijau melambangkan pengenalan manusia terhadap dunia
·         Jenang kuning melambangkan sifat batin yang mudah berubah
·         Jenang merah-putih melambangkan tempat asal manusia
6.      Palawija melambangkan penghargaan dan penghormatan terhadap peraturan lingkungan
7.      Jadah Pasar yaitu berasal dari cepeto pasrah artinya bahwa macam-macam buah dan jajanan itu gambaran warna-warni keadaan hidup di dunia. Oleh karena itu cepatlah pasrah kepada Yang Maha Kuasa.
8.      Telur yaitu terdiri dari tiga bagian, yaitu cangkang (kulit telur) putih telur dan kuning telur, melambangkan tiga bagian kehidupan manusia, kulit luar melambangkan kehidupan yang selalu bergesekan dengan orang lain, terhadap pribadinya sendiri dan terhadap pencipta. Putih telur menjadi simbol niat baik manusia. Kuning telur menjadi simbol hati manusia.
Demikianlah bentuk persiapan yang umumnya dilakukan dalam menyambut pelaksanaan tradisi ngijing. selanjutnya akan dipaparkan selengkapnya mengenai prosesi tradisi ngijing. 
C.2. Prosesi Tradisi Ngijing Selengkapnya
Setelah dilakukan berbagai persiapan dan kelengkapan prosesi ngijing telah dipersiapkan dan telah melewati tiga ritual sebelumya, tahlilan, yasinan dan khataman al-Qur’an, maka pada hari keempatnya pada waktu yang telah di tetapkan, para warga membantu, yang berhajat dan modin memulai memasuki area pemakaman. Perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan dibawa termasuk nampan berisi sesajen.
Kemudian Modinmendekati makam yang akan dibongkar yang telah dibersihkan sebelumnya. Selanjutnya modin berdiri di selatan kuburan atau di dekat letak kaki si almarhum. Modin mengangkat kedua tangannya dan berdo’a dengan diamini warga yang kebetulan hadir. Modin memulai pembongkaran dengan mencangkul tanah makam dengan dibantu beberapa warga secara bergantian. Pencangkulan dilakukan dengan hati-hati karena khawatir pasak penutup jenazah yang terbuat dari kayu keropos dan tak kuat menahan beban berat pengngali sehingga akan mengakibatkan pasak amblas dan langsung menutupi jenazah. Hal ini pernah terjadi, meskipun demikian acara tetap dilanjutkan walaupun ada acara yang paling bermakna menjadi hilang, yaitu melihat kerangka jenazah yang kemudian dengan proses visualisasi  tersebut timbul pemaknaan akan keyakinan mereka tentang adanya siksa kubur.
 Penggalian makam terus dilakukan sampai terlihat pasak. Pasak yang terlihat tadi kemudian diambil satu persatu dengan hati-hati dimulai dari pasak yang menutupi tulang kaki almarhum. Setelah semua pasak telah diangkat maka nampaklah tulang-belulang yang telah berusia seribu hari. Sedangkan orang yang mangangkat pasak kemudian naik keatas liang lalu bersama-sama modin dan para warga mengitari makam. Modin berdiri disebelah timur makam dan menghadap Qiblat lalu membacakan doa-doa keselamatan bagi si almarhum di akhirat dan bagi keluarga yang ditinggalkan didunia. Adapun doanya sama seperti doa setelah tahlilan, sebagaimana terlampir di lampiran skripsi ini.
Setelah doa selesai dibacakan, mereka mulai menutupi liang makam dengan tanah. Lain halnya dengan kasus pemindahan kerangka jenazah. Tulang belulang  tersebut diangkat satu persatu yang dimulai dari kaki dan dimasukkan kedalam peti kayu yang telah diberi alas kain putih atau kain kafan.
Penguburan liang makam diawali oleh modin dengan menggunakan cangkul. Modin  mulai menutupi tulang belulang almarhum dengan tanah, dan dilanjutkan oleh warga yang membantu. Setelah terkubur makam disiram dengan air, ini di maksudkan agar tanah menjadi lebih padat sehingga mampu menahan beban kijing yang berat.
Uraian di atas bisa juga dikatakan sebagai tahap pertama, karena setelah meratakan makam dengan tanah sekitarnya mereka beristirahat di pendopo pasareyan sambil menikmati hidangan yang disediakan shahibul hajat. Hidangan ini merupakan ucapan terima kasih dan juga imbalan jasa bagi warga yang membantu. Imbalan berupa uang hanya diberikan kepada tukang bangunan yang bertugas mengkalkulasi kebutuhan pemasangan kijing selengkapnya.[85]
Setelah merasa cukup dengan hidangan tadi, para warga memasuki tahap kedua yaitu pemasangan kijing. Warga bahu membahu mengangkat batako, campuran pasir dan semen ke makam untuk dijadikan altar. Mereka mengangkat material-material tersebut dari luar komplek pemakaman karena merupakan hal yang tabu bagi mereka menaruh dan mengolah barang-barang  material tersebut di dalam komplek pemakaman. Bagi mereka komplek pemakaman adalah tempat yang suci maka ketika mereka memasukinya harus melepaskan alas kaki yang dipakainya.
Setelah altar yang di bangun mengering dan menjadi keras, beberapa orang warga mengambil dua batang kayu dan tambang besar yang telah dipersiapkan kemudian mengikatkannya pada kijingdan mengangkatnya untuk diletakkan di atas altar yang kering tadi. Proses kerjasama sangat di butuhkan karena kijing bukanlah barang ringan. Dan jika tidak berhati-hati dalam mengangkatnya bukanlah hal yang tidak mungkin kalau kijingyang dibawa menghantam kijing-kijing lainyang sudah terpasang ketika melewati makam-makam tersebut.
Setelah kijingdiletakkan di atas altar dan telah dirapikan, modin meminta orang yang paling tua dari keluarga yang melaksanakan tradisi Ngijing untuk meletakkan dua stupa kijing yang terletak di atas kedua ujung kijing.Pemasangan stupa kijing dimulai dari stupa kepala dengan di sertai kalimat doa berbahasa Jawa sesuai keinginan orang tersebut, karena tidak ada patokan khusus tentang kalimat doa berbahasa Jawa ini. Namun intinya doa tersebut berisi tentang permohonan keselamatan almarhum di akhirat dan mohon akan bimbingannya di akhirat kelak[86]. Stupa kaki kemudian di pasang, maka lengkaplah pelaksanaan tradisi ngijingpada upacara selamatan nyewu. Warga kembali ke rumahnya masing-masing dengan membawa pemahaman dan keyakinan tersendiri akan makna tradisi ini dilaksanakan.
BAB IV
ANALISIS NILAI-NILAI ISLAM DALAM TRADISI NGIJING
PADA UPACARA SELAMETAN NYEWU
A.  Definisi Nilai
Nilai adalah hal-hal atau sifat yang bermanfaat dan penting untuk kemanusiaan.[87]Nilai yang dibicarakan dalam bab ini adalah nilai keagamaan. Nilai keagamaan merupakan sebuah bagian dari nilai budaya.
Nilai keagamaan adalah konsep tentang penghargaan suatu warga masyarakat terhadap masalah-masalah pokok dalam kehidupan beragama yang suci sehingga merupakan pedoman bagi tingkah laku keagamaan warganya. Nilai budaya yaitu merupakan konsep abstrak  sehubungan  dengan masalah dasar yang bernilai dan sangat penting bagi kehidupan manusia.[88]
Pada dasarnya nilai keagamaan berhubungan dengan kemampuan jiwa manusia dalam melaksanakan dan memahami  berbagai bentuk kepercayaan, ritual-ritual dan lain sebagainya. Karenanya, berbicara tentang nilai religius akan selalu berhubungan dengan aspek kejiwaan manusia yang termanifestasikan dalam bentuk ritual agama dan ritual budaya.[89]
Nilai-nilai yang amat menentukan etika dan kepribadian  manusia timbul karena manusia tidak puas dengan hanya apa yang terdapat dalam alam kebendaan. Hal itu disebabkan manusia memiliki wawasan dan tujuan hidup tertentu sesuai dengan kesadaran dan cita-citanya. Karena itu, ada enam nilai budaya yang amat menentukan wawasan etika dan kepribadian manusia maupun masyarakat. Keenam nilai budaya tersebut adalah nilai teori atau nilai rasional, nilai ekonomi, nilai agama, nilai estetik, nilai kekuasaan dan nilai solidaritas.[90]
Dalam masyarakat Indonesia asli -khusususnya masyarakat Jawa- yang masih bersahaja[91], nilai agama menjadi nilai utama yang bersifat mengikat dan mempengaruhi nilai-nilai yang lain. Nilai agama menggejala dalam kepercayaan serba mistik, yang kemudian mempengaruhi adat dengan berbagai tatacara dan rangkaian upacaranya yang kompleks. 
Nilai dalam konsep pemikiran keagamaan Jawa tidak bisa dipisahkan dari unsurnya. Ini  merupakan prinsip utama  yang tersusun dari wadah dan isi. Alam, bentuk, fisik tubuh dan kesalehan normatif semuanya adalah wadah. Allah, Sultan, jiwa, iman dan mistisisme semua merupakan isi. Tujuan wadahadalah untuk menjaga, menahan, dan membatasi isi, sebaliknya isi, justru “meruntuhkan” itu semua. Kalangan mistikus Jawa meyakini, pada akhirnya isi lebih berarti daripada wadah sebab merupakan kunci kesatuan mistik,   tetapi dengan menerima hubungan kosmologis dan metafisik dua konsep tersebut, maka tidak ada yang bisa diabaikan.[92]
Berdasarkan kerangka teori diatas penulis mengklasifikasikan wadah Islam yang terdapat dalam tradisi Ngijing seperti tahlilan, yasinan, khataman Alqur’an dan Ngijing merupakan wadah yang berdasarkan kepada kesalehan normatif.   Sementara Wadah budaya Jawa yang tedapat dalam tradisi Ngijing seperti sesaji, Singiran berlanggam Jawa dan kijing merupakan wadah yang berdasarkan kepada bentuk fisik semata.
Berdasarkan wadah tersebut, penulis mencoba menganalisa  nilai-nilai atau juga isi yang tersirat dengan memfokuskannya kepada nilai-nilai Islam   dalam tradisi Ngijing yang memepengaruhi prilaku masyarakat dusun Mudal.
B. Nilai-Nilai Islam Dalam Tradisi Ngijing Yang Mempengaruhi Prilaku Keagamaan Masyarakat.
Islam adalah agama bagi umat manusia dan pesannya bersifat universal. Islam membimbing manusia sesuai dengan petunjuk-petunjuk Allah SWT yang diterima Rasulnya, Muhammad SAW. Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad dengan kitabnya Al-Qur’an merupakan agama untuk manusia dan alam semesta ini.
Islam sebagai agama, bertujuan untuk membangun manusia sejahtera lahir batin dan berbahagia di dunia dan akhiratnya.Islam menyebarkan ajarannya melalui media dakwah. Tanpa melalui dakwah Islam sulit berkembang. Di Jawa, Islam menyebarkan ajarannya melalui berbagai macam cara seperti melalui media tradisi. Tradisi digunakan sebagai salah satu media untuk memperkenalkan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam masyarakat, seperti tradisi Ngijing pada upacara Selametan Nyewu.
Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan menjelaskan bahwa prilaku keagamaan masyarakat dusun Mudal secara kualitas adalah baik. Ini terlihat dari maraknya acara-acara keagamaan yang dilakukan seperti memperingati maulid Nabi Muhammad dan lain sebagainya. Warga dusun Mudal yang mayoritas beragama Islam tetap memberikan kebebasan menjalankan ibadah bagi para pemeluk agama lainnya. Tentunya hal ini tidak terlepas dari pemahaman masyarakat akan arti pentingnya kerukunan beragama, dan juga pemahaman keagamaan warganya tentang ajaran agamanya masing-masing. Bagi pemeluk agama Islam, terutama bagi mereka yang masih melakukan tradisi-tradisi warisan leluhur. Tentunya mereka tidak hanya sekedar mewarisi ritusnya saja, tetapi juga mewarisi nilai-nilai yang terkandung dalam ritus-ritus tradisi yang mereka lakukan. Pewarisan nilai-nilai tersebut kemudian mendasari prilaku mereka dalam bermasyarakat secara umum dan beragama khususnya. Dengan demikian antara ajaran agama dan tradisi  terdapat korelasi yang kemudian keduanya saling mempengaruhi dan menyentuh berbagai aspek kehidupan.
Tradisi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Tradisi merupakan manifestasi dari pikir, rasa dan karsa. Islam membenarkan adanya pelaksanaan tradisi sepanjang tidak menimbulkan kemungkaran. Tradisi dapat digunakan sabagai salah satu metode dakwah. Untuk itu penulis mencoba menganalisis nilai-nilai Islam dalam tradisi Ngijing pada upacara Selametan Nyewu yang terbagi dalam tiga hal, yaitu nilai aqidah, syari’ah dan akhlak. Nilai Islam sebagaimana yang dikatakan oleh Sidi Gazalba adalah sebagai tata Rabbani yang bersumber pada naqal(Wahyu dan Hadits).
           
B.1. Aqidah
            Aqidah secara etimologis berarti ikatan, sangkutan dan secara teknis berarti kepercayaan Iman. Aqidah menurut Ibnu Taimiyah mewajibkan beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari kebangkitan, dan beriman kepada Qodlo dan Qodar.[93] 
Aqidah berkaitan dengan emosi keagamaan individu yang bersifat abstrak, oleh karena itu tidak dapat diuraikan perkembangan ataupun penurunannya secara kuantitas melainkan secara kualitas. Adapun pembatasan periode yang dilakukan bukan untuk menguraikan kuantitas pelaksanaan tradisi ini melainkan untuk menerangkan prilaku  keagamaan masyarakat yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam dalam tradisi Ngijing pada kurun waktu tersebut.
Dalam konteks tradisi Ngijing, Tahlilan  diklasifikasikan sebagai unsur Islam karena dalam prosesinya dilantunkannya puji-pujian yang menggunakan bahasa Arab. Pembacaan kalimat tahlil yaitu “la ilaha illallah” adalah inti dari prosesi ini.  Arti kalimat tahlil adalah “tiada Tuhan selain Allah”. Merujuk kepada artinya berarti menanamkan nilai-nilai Islami yang bersumber pada nilai aqidah. Aqidah dan Iman merupakan hakekat yang meresap ke dalam hati dan akal. Ia merupakan masalah fundamental dalam Islam[94]. Seseorang yang melafalkan kalimat tahlil walaupun di mulut saja maka ia telah berikrar menjadi seorang penganut dari sebuah keyakinan. Tahlilan merupakan wadahyang terwujud dalam kesalehan normatif. Isi dari tahlilan adalah penanaman nilai aqidah.
Pembacaan kalimat Istighfaryaitu “astagfirullah” yang mempunyai arti “aku memohon ampun kepada Allah”  juga merupakan bentuk penguatan nilai aqidah. Setelah seseorang  ditanamkan nilai aqidah atau kalimat tahlil dan mengakui bahwa dia seorang hamba, maka aqidah seseorang perlu di perkuat, ketika ia melakukan perbuatan yang tidak di ridhoi oleh Tuhannya, ia merasa perlu untuk meminta ampunan atas kesalahan yang diperbuatnya. Kalimat istighfarmerupakan wadah yang terwujud dalam kesalehan normatif. Isidari  kalimat ini adalah penguatan  nilai aqidah.
Pada intinya tahlilan adalah sebuah ritual Islami yang mengandung nilai-nilai filosofis keagamaan. Nilai-nilai filosofis keagamaan, bagi orang Islam yang mengikuti tahlilan, mengucapkannya di mulut dan memaknainya secara mendalam di hati kemudian menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Maka kemudian pemaknaan tersebut mendasari perilaku mereka dalam bermasyarakat. Seseorang tadi akan menjaga hubungannya dengan Allah dan juga menjaga hubungan dengan sesamanya. Seseorang tadi tidak akan melakukan hal-hal yang tidak di ridhoi oleh Allah, misalnya ia sering mencaci maki sesamanya. Karena itu  secara tidak langsung telah memutuskan hubungannya dengan Allah dan secara langsung memutuskan hubungannya dengan sesamanya. Hal demikian merupakan salah satu nilai yang mendasari masyarakat dusun Mudal untuk lebih menghormati keyakinan beragama orang lain, sehingga kerukunan antar umat  beragama didusun Mudal -sebagaimana yang dipaparkan pada bab dua tentang kondisi keagamaan- tercipta.
Penanaman nilai aqidah pada acara Tahlilan ini mempengaruhi prilaku keagamaan masyarakat Mudal sehari-hari. Mereka lebih memahami arti ibadah dengan menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang ajaran agama. Para orang tua dusun Mudal melarang anaknya untuk tidak melakukan aktivitas yang kurang berguna di malam hari seperti bergadang di pinggir jalan yang cenderung mengarah kepada perbuatan negatif seperti  berkumpul sambil berjudi dan minum-minuman keras yang kerap sekali menimbulkan keresahan warga dengan membuat kegaduhan di malam hari karena mabuk sehingga warga menjadi resah dan khawatir.
 Dengan demikian tahlill dan istighfar(bagian dari dzikir) apabila dipahami secara mendalam maka akan membawa ketenangan hati. Ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur-an yang berbunyi[95]:
الا بذكرالله تطمئن القلوب
Artinya :
“Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah hati kita menjadi tenang”.
           
Dzikir sebagaimana yang diungkapkan oleh Koentjaraningrat, selalu disertakan dalam upacara selametan keagamaan yang bersifat keramat.[96]Getaran emosi keagamaan yang keramat seringkali timbul dalam diri para keluarga yang mengadakan upacara selametan, karena suasana hidmat yang tercipta pada waktu itu, yang juga dapat merasuki jiwa orang-orang lain yang hadir pada upacara itu, terutama pada waktu pengucapan dzikir. Upacara-upacara selametan yang benar-benar bersifat keramat dan menggetarkan emosi keagamaan seseorang adalah, selametan dalam rangkaian upacara kematian pada hari ketujuh, keempat puluh, keseratus, dan keseribu. Selametan yang tidak bersifat keramat, yaitu misalnya pada waktu penyerahan mas kawin.[97]
Tradisi Ngijingmenurut aqidah Islam merupakan wujud kepercayaan masyarakat akan adanya alam gaib. Alam gaib yang dimaksud adalah alam kubur, bahwa orang yang masih hidup masih mempunyai hubungan dengan kerabatnya yang telah meninggal, dan diejawantahkan dalam bentuk slametan sebagai wujud bakti mereka jika yang meninggal adalah orang tuanya. Dan sebagai wujud kasih sayang jika yang meninggal adalah saudaranya. Kepercayaan mayarakat dusun Mudal tentang adanya alam kubur diikuti dengan keyakinan mereka akan adanya siksa kubur. Dengan demikian tradisi Ngijing yang dilakukan masyarakat Mudal  bermaksud mendoakan orang tua maupun kerabatnya yang telah meninggal dunia agar selamat dari siksa kubur.
             
B.2. Syari’ah
Syari’ah merupakan cara dan jalan yang ditempuh dalam pengabdian kepada  Allah SWT.[98]Berdoa adalah sesuatu yang telah disyari’ahkan sebagai salah satu jalan untuk mengabdi dan memohon pertolongan serta berkomunikasi dengan Allah SWT.
 Tahlilan  dalam konteks tradisi ngijing adalah pembacaan do’a yang dimaksudkan untuk keselamatan almarhum dari siksa kubur. Dalam ceramah keagamaannya pada pra prosesi ini modin berbicara tentang kekuatan doa  yang dapat menembus alam gaib dengan berdasarkan pada hadits Nabi yang berbunyi:[99]
قال رسوالله صلىالله عليه وسلم : اذامات الانسان انقطع عمله الا من ثلاث, من ولد صالح يدعواله او صدقةجارية او علم ينتفع به.(بخارى مسلم)
      
Artinya:
Rasulullah Saw. bersabda: Ketika manusia  meninggal, maka putuslah amal perbuatannya, kecuali tiga hal : doa dari anak yang shaleh, shadaqah Jariyah dan ilmu yang bermanfaat.
(H.R. Bukhari-Muslim)
Yasinan dan khataman Al-Qur’an adalah dua macam ritual keagamaan yang melengkapi tradisi Ngijing. Kedua  wadah tersebut jelas sekali merupakan unsur Islam dengan kata kuncinya Al-Qur’an.  Surat Yasin merupakan bagian dari ayat-ayat Al-Qur’an. Dibacakannya surat Yasin pada sesi tersendiri yaitu pada malam kedua sebelum tradisi Ngijing dilakukan, merupakan pertanda bahwa surat Yasin mempunyai keutamaan tersendiri.[100]Umumnya masyarakat tidak mengetahui keutamaan surat Yasin dibanding dengan surat-surat yang lain. Mereka mendahulukan melaksanakan Yasinan tersebut hanya sebatas mewarisi prosesi tradisi, di mana prosesi tradisi Ngijing memang demikian rangkaiannya.
Al-Qur’an adalah kitab agama Islam yang memuat berbagai aspek kehidupan ummat manusia, baik dalam hal aqidah, ibadah, hukum, hikmah, sastra, akhlak, kisah-kisah, nasihat-nasihat, ilmu pengetahuan, berita, hidayah, dan pijakan argumentasi. Al-Qur’an adalah dasar-dasar risalah tauhid, kasih sayang yang disandarkan pada hubungan ummat manusia, dan sebagai penuntun yang jelas untuk menggapai sebuah kebahagiaan dan kesejahteraan hidup.[101]
Dalam konteks tradisi Ngijing, yasinan dan khataman Al-Qur’an dilaksanakan sebagai wujud totalitas masyarakat muslim dusun Mudal dalam mendoakan keluarganya yang telah meninggal. Sebagai wujud penghormatan terhadap keluarganya yang telah meninggal. Diharapkan dengan pembacaan surat Yasin  dan pembacaan Al-Qur’an dapat memberikan syafa’at bagi almarhum khususnya, dan secara umum bagi pembacanya.
            Singiran  atau juga ajakan kepada kebaikan yang dilanggamkan pada tradisi Ngijing memakai bahasa Jawa krama atau juga bahasa ibu. Dengan demikian masyarakat akan mampu dan mengerti makna yang tersimpan dalam tiap bait syairnya. Hal menggunakan bahasa Jawa krama dikategorikan sebagai unsur budaya Jawa.
  Singiran dalam konteks tradisi Ngijing memberikan makna tentang sebuah peringatan bahwa hidup manusia di dunia tidaklah lama. Ketika kita mati, harta dan rupa bukanlah apa-apa, maka semasa kita hidup pelajarilah isi kitab Al-Qur’an dan laksanakanlah sholat karena itu merupakan perintah dari Allah Yang Maha Kuasa. Sementara penggalan singiran yang terkadang tidak disertakan pada acara tahlilan berbunyi[102]:
Rukun Islam kang rinibto
Yeki lima sada yekti
Kang dingin iku syahadat
Solat ingkang kaping kalih
Zakat ingkang kaping tri
Siam ingkang kaping catur
Munggah haji ping limane
Maring Mekah tanah suci
Sampun terang iku kabeh lakonana.
Artinya:
Rukun Islam yang ditentukan
Itu lima yang sebenarnya
Yang pertama membaca syahadat
Sholat yang kedua
Zakat yang ketiga
Puasa yang keempat
Naik haji kelimanya
Ke Mekah tanah suci
Sudah terang itu semua laksanakanlah.
Nilai syari’ah yang tercermin dari singiran ini adalah anjuran kepada umat Islam untuk menjalankan sholat serta berbuat baik selagi kita hidup karena itulah yang akan jadi penolong kita di akhirat kelak. Islam mewajibkan umatnya untuk melaksanakan rukun Islam yang berjumlah lima yaitu syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. 
Tentunya ajaran yang terdapat dalam singiran  ini sesuai dengan hadits Nabi yang berbunyi:
حديث ابن عمر رضىالله عنهما قال:قال رسول الله صلىالله عليه وسلم: بنى الاسلام على خمس: شهادة ان لا اله الا الله وان محمدا رسوالله واقام الصلاة وايتاء الزكاة والحج وصوم رمضان
Artinya:
Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: Islam didirikan di atas lima perkara; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, Haji dan menunaikan puasa  pada bulan Ramadhan (Bukhari-Muslim)”.
Masyarakat dusun Mudal yang mayoritas beragama Islam dalam aktivitas keagamaannya sesuai dengan apa yang telah di syariatkan seperti kandungan hadits Nabi di atas. Mereka mendirikan sholat lima waktu, mengeluarkan zakat, menunaikan puasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji oleh beberapa warga yang mampu secara materi.
B.3. Akhlak
Kehadiran agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia sejahtera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat  berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna.[103]
Menurut bahasa akhlak adalah budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi’at. Akhlak merupakan sikap jiwa yang telah tertanam dengan kuat yang mendorong pemiliknya untuk melakukan perbuatan. Demikian juga iman atau kepercayaan adalah bertempat dalam hati yang mempunyai daya dorong terhadap tingkah laku atau perbuatan seseorang. Hanya sikap jiwa belum tentu menjurus pada hal-hal yang baik.[104] 
Menurut pandangan Islam, Akhlak yang baik haruslah berpijak pada keimanan. Iman tidaklah cukup sekedar disimpan dalam hati, melainkan harus dilahirkan dalam perbuatan yang nyata berupa amal saleh atau tingkah laku yang baik[105]
Pemaknaan visual versi tulang-belulang tentang siksa kubur juga merupakan sesuatu yang menarik dari tradisi ini. Bagaimana seseorang dengan jiwa keagamaannya yang masih hidup, ditarik untuk melihat kerangka jenazah kerabatnya sendiri. Maka yang terlintas dalam benaknya pertama kali adalah “kelak aku akan seperti itu, hanya tinggal tulang-belulang dan sendirian dalam kegelapan liang lahat”.  Hal ini tentunya dapat menggetarkan emosi keagamaan, sehingga mereka tergugah kesadarannya bahwa semua yang bernyawa pasti akan mati dan kita tidak bisa menghindari kematian. Al-Qur’an menjelaskan dalam surat An-Nisaa’ ayat 78 yaitu:[106]
اينما تكونوا يدرككم الموت ولو كنتم في بروج مشيدة…
Artinya:
            “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang kokoh”…
Nikmat kubur dan siksa kubur yang mereka dapatkan adalah imbalan dari perbuatan mereka sewaktu di dunia. Itu menyangkut dengan bagaimana hubungan almarhum dengan Allah dan bagaimana juga hubungan si almarhum dengan sesamanya. Jika selama hidupnya ia menjaga hubungan baik dengan makhluk dan Khaliknya maka ia mendapatkan nikmat kubur, sebaliknya jika selama hidupnya ia dzalim kepada makhluk dan Khaliknya maka ia mendapat siksa kubur. Modin dalam ceramah keagamaannya  pada  pra prosesi tradisi ngijing sering mengutip ayat Al-Qur’an surat An-Najmu ayat 39-40.[107]
وان ليس للانسان الا ماسعى. وان سعيه سوف يرى.
Artinya :
“Dan bahwasanya seorang manusia tidaklah memperoleh selain apa yang telah dusahakannya. Dan bahwa usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya”)
Ada beberapa pengalaman religius yang dirasakan oleh masyarakat Mudal, menurut mereka durasi seribu hari adalah durasi waktu yang singkat. Di mana seseorang yang mengenal almarhum semasa hidupnya kemudian menyaksikan pemakaman almarhum, sangat mungkin untuk menyaksikan  pembongkaran makam almarhum dalam tradisi Ngijing pada Upacara Selametan Nyewu. Dan dengan keyakinan mereka akan siksa kubur atau nikmat kubur versi tulang-belulang ini acapkali terbukti, almarhum yang dipandang baik semasa hidupnya bisa di pastikan kerangkanya utuh dan tertata rapi.  Sebaliknya almarhum yang dipandang berkelakuan buruk semasa hidupnya bisa dipastikan kerangkanya berantakan.
 Berdasarkan pengalaman ini maka masyarakat Mudal –yang jiwa keagamaannya masih hidup- lebih tersugesti untuk melakukan kebaikan selagi ia hidup agar nantinya tidak meninggalkan kesan negatif bagi keluarga yang ditinggalkannya.  Menurut tata kelakuan masyarakat Mudal, adalah merupakan sebuah aib ketika saudaranya yang telah meninggal menjadi gunjingan masyarakat karena keadaan kerangka jenazah berantakan.[108]    
            Pemberian nama tradisi Ngijing atau peletakan batu nisan diambil dari bahasa Jawa yaitu Kijing yang dalam Kamus Pepak Basa Jawa berarti watu, lsp. di wangun pesagi dawa kanggo tutup lan tenggering kuburan.[109]  Dalam pelaksanaannya, nilai-nilai Islam sangat kentara seperti sikap saling tolong-menolong dan gotong-royong yang didasarkan pada kandungan ayat suci Al-Qur’an tentang saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa, serta tidak saling tolong-menolong dalam perbuatan buruk dan dosa.
            Tradisi ini juga berfungsi untuk mengintensifkan solidaritas anggota keluarga mereka. Biasanya anggota keluarga dari masyarakat dusun Mudal yang merantau ke luar daerah akan pulang sejenak untuk membantu pelaksanaan tradisi ini. Prilaku seperti ini merupakan cerminan nilai Islam yang bersumber pada ukhuwah Islamiyah. Para anggota keluarga melakukan iuran bagi biaya perawatan makam kerabatnya yang nantinya secara rutin setiap tahunnya makam akan di ziarahi dengan upacara Nyadran atau juga ziarah sewaktu-waktu seperti Nyekar. Dalam pra prosesi tradisi Ngijingsecara keseluruhan, musyawarah amat ditonjolkan. Seorang kepala keluarga yang mengadakan tradisi ini meminta pendapat anggota keluarga yang lain, ini bertujuan agar tidak terjadi kesalah pahaman persepsi masing-masing. Di dalam Islam, musyawarah untuk mufakat dalam mencapai suatu maksud sangat dianjurkan. Dengan demikian musyawarah merupakan nilai Islam yang berpangkal pada nilai akhlaq.
            Nilai akhlaq terhadap diri sendiri dan terhadap sesama juga tercermin dari pemaknaan simbol yang terdapat dalam sesajen. Sesaji atau sesajen merupakan salah satu unsur budaya Jawa. Sesaji diklasifikasikan sebagai media budaya Jawa yang berhubungan dengan simbol-simbol kesatuan.[110]Sesaji yang terdiri dari berbagai macam umbarampe, pada setiap bagiannya mempunyai makna tersendiri sebagaimana yang  telah  diuraikan pada halaman 54-56. Pemaknaan tersebut lebih lanjut mengandung nilai-nilai Islam yang mempengaruhi prilaku keagamaan masyarakat dusun Mudal. Seperti makna kembang setaman yang melambangkan kebaikan. Ini dimaksudkan manusia harus berlaku baik agar nantinya ia meninggalkan kesan baik ketika  meninggal. Makna jenang dan teluryang melambangkan lingkaran kehidupan manusia. Ini dimaksudkan agar manusia sadar akan identitas kemanusiaannya.  Para pelaku tradisi Ngijing yang mengerti akan makna–makna tersebut terutama dari kalangan orang tua lebih tersugesti untuk mengimplementasikan pemaknaan tersebut ke dalam   kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dalam berprilaku sesuai dengan nilai akhlaq yang Islami.
            Satu hal yang patut disayangkan generasi muda dusun Mudal  sudah tidak begitu peduli dengan eksistensi tradisi ini, banyak dari mereka tidak bisa melanggamkan singiran, tidak dapat memahami makna dari simbol-simbol yang digunakan dan tidak memahami maksud dilakukannya tradisi ini. Dalam melakukan tradisi ini mereka hanya sekedar membantu tekhnis pelaksanaan tradisi yang dilakukan oleh orang tuanya. Orang tua kesulitan untuk menjelaskan maksud dilakukannya tradisi ini karena para pemudanya  kurang berminat untuk mengetahuinya. Mereka lebih disibukkan dengan tanggung jawab akan masa depan, sehingga banyak dari mereka merantau keluar daerah dan secara tidak langsung meninggalkan adat dan  tradisi daerah asalnya. Tentu hal seperti diatas lambat laun dapat menghilangkan kesyakralan tradisi Ngijing yang dapat menggetarkan emosi keagamaan masyarakat. Seharusnya pelestarian tradisi ini menjadi tanggung jawab generasi mudanya.
BAB V
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
      Dari pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Tradisi Ngijingdilakukan masyarakat dusun Mudal pada rangkaian upacara selamaten nyewuyang merupakan prosesi terakhir dalam rangkaian selametan orang meninggal. Pelaksanaan tradisi Ngijing merupakan simbol ketaatan kepada tradisi leluhur, dan juga sebagai  perekat tali kekeluargaan.Tradisi Ngijing  berfungsi menjaga pandangan masyarakat tentang status sosial seseorang. Orang yang tidak melakukan tradisi tersebut,  setidaknya akan mendapat kesan negatif dari anggota masyarakat lainnya karena di anggap tidak menghormati leluhur dan tidak melestarikan kebudayaan.
2.      Tradisi  Ngijing merupakan tradisi yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Islam Jawa, khususnya masyarakat Islam dusun Mudal. Di dalam pelaksanaan tradisi tersebut dapat dilihat adanya unsur-unsur nilai Islam yang dapat diklasifikasi menjadi tiga macam yaitu nilai aqidah, nilai syari’ah dan nilai akhlaq.  
3.      Nilai-nilai Islam yang terkandung dalam tradisi Ngijing sangat berpengaruh terhadap prilaku keagamaan masyarakat dusun Mudal. Nilai aqidah dan nilai syariah mempengaruhi prilaku mereka dalam beribadah. Nilai akhlaq mempengaruhi prilaku masyarakat dalam bersosialisasi sesuai dengan tuntunan agama Islam.
       
B.     SARAN
1.      Setiap masyarakat pasti memiliki ciri khas tradisi yang melembaga dalam ritualitas kehidupan sehari-hari. Ciri-ciri tersebut telah menjadi identitas yang hendaknya harus dihormati sebagai wujud pergulatan rasionalitas bagi para penganutnya. Oleh karena itu, tradisi  Ngijingyang dilakukan masyarakat Islam dusun Mudal, hendaknya jangan dipahami sekedar ritualitas belaka, melainkan memiliki dimensi spiritualitas yang mendalam yang harus diteliti, digali dan diungkapkan.
2.      Kepada masyarakat dusun Mudal khususnya yang menganut agama Islam haruslah berhati-hati dalam melaksanakan tradisi Ngijing. Bentuk kehati-hatian tersebut bisa dilakukan dengan meluruskan niat yang semata-mata ditujukan hanya kepada Allah, Hal ini dikarenakan niat merupakan modal  yang sangat penting dalam melakukan suatu perbuatan.
3.      Untuk menghindari adanya kesalah pahaman tentang tradisi Ngijing yang masih dianggap syirik oleh sebagian masyarakat, maka perlu bagi pemerintahan setempat untuk menerbitkan buku yang menjelaskan tentang ritual tersebut, terutama dari sudut pandang agama Islam.
4.      Hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna, untuk itu diharapkan di masa mendatang ada penelitian yang berusaha menggali nilai-nilai yang belum terungkap dalam karya ilmiah ini.

[1] Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa ( Jakarta: Balai Pustaka, 1984 ), hlm. 322.
[2] Thomas Dawes Elliot, dalam Henry Pratt Fair Child (ed.), Dictionary of Sociology and Related Sciences (New Jersey: Little Field, Adam & Co., 1975), hlm. 322. 
[3] A. Syahri, Implementasi Agama Islam Pada Masyarakat ( Jakarta: Depag, 1985), hlm. 2.
[4] Budiono Herusatoto, Simbolisme Dalam Budaya Jawa (Yogyakarta: Hanindita 2001), hlm. 1.
[5] Simuh, Sufisme Jawa (Yogyakarta: Bentang Budaya, 1999), hlm. 130.
[6] Clifford Geertz, Abangan, Santri dan Priyayi Dalam Masyarakat Jawa, Terj. Aswab Mahasin (Jakarta: Pustaka Jawa, 1983), hlm. 8.
[7] Wawancara dengan beberapa pelaku tradisi yang kemudian disimpulkan oleh penulis bahwa mereka melaksanakan tradisi ini sebagai wujud penghormatan  mereka terhadap leluhur dan untuk melestarikan kebudayaan.
[8] Rudini, dkk., Profil Propinsi Republik Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, (Jakarta:   Penerbit Yayasan  Bhakti Wawasan Nusantara, 1992), hlm. 93. 
[9] Ismawati, “Budaya dan Kepercayaan Jawa Pra-Islam”, dalam Islam dan Kebudayaan Jawa,  editor Darori Amin (Yogyakarta: Gama Media, 2000), hlm. 7.
[10] Wawancara dengan pelaku tradisi, Bapak Pardjono, tanggal 5 september 2003. Cangkringan.
[11] Modin adalah sebutan orang Jawa bagi Lebai atau Ulama di kampung, biasanya dipanggil untuk memimpin dan membacakan do’a. Kamus Besar Bahasa Indonesia,Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Jakarta: Balai Pustaka, 1992), hal. 231. 
[12] Niels Mulder, Jawa – Thailand, Beberapa Perbandingan Sosial Budaya (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1983), hlm. 67.
[13]  Drs. Moh. Rofangi, Sedekahan di Yogyakarta “suatu study tentang pola interaksi sosial”, (Yogyakarta: P3 M IAIN Sunan Kalijaga, 1980).
[14]  Drs. H. Zarkasyi A. Salam, “Ritual Kematian Dalam Toleransi Dan Kerukunan Beragama”  Kasus di Desa Sapen, Gondokusuman, Yogyakarta, 1996. (Yogyakarta:  P3 M IAIN Sunan Kalijaga, 1996).
[15] Muhamad Hisyam, Beberapa  Aspek  Akulturasi Islam di Jawa(skripsi S-1 di Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, 1978).  
[16] Sesajen adalah penyerahan sajian pada saat-saat tertentu dalam konteks kepercayaan terhadap mahluk halus yang dilaksanakan di tempat-tempat tertentu seperti di bawah tiang rumah, di pekuburan, di persimpangan jalan, dibawah pohon-pohon besar, di tepi sungai serta di tempat-tempat lain yang dianggap keramat. Lihat Koentjaraningrat, Manusia dan kebudayaan di Indonesia(Jakarta: Penerbit Djembatan, 1980), hlm. 341.
[17] Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa (Jakarta: Balai Pustaka, 1994)
[18] Soejono Soekamto, Pengantar Ilmu Sosiologi, (Jakarta: Geramedia, 1969), hlm. 79
[19] Sebagaimana dikutip oleh Cliffor Geertz dalam Kebudayan dan Agama, hlm. 95-96.
[20] Sartono Kartodirjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Pendekatan Sejarah (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1991), hlm. 4.
[21] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1990), hlm. 35-36.
[22] Abudin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 35.
[23] Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 63.
[24] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), hlm. 1054.
[25] E.Sumaryono, Hermeneutik, Sebuah Metode Filsafat(Yogyakarta: Kanisius, 1999), hlm. 47.
[26] Saifuddin Azwar M.A, Metode Penelitian (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm 91.
[27] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar Metode dan Tehnik (Bandung: Tarsito, 1980), hlm. 123.
[28] Cholid Narbuko Abu Ahmadi, Metodologi Penelitian (Jakarta: Bumi Aksara, 1999), hlm. 85.
[29] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian, hlm. 135.
[30] Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial(Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998), hlm. 80.
[31] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian, hlm. 135.
[32] Dudung Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1992), hlm. 67.
[33]  Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: Aksara Baru, 1989), hlm. 44.
[34] Adi Nugraha, Kamus Penyerta Umum, cetakan ke-II, (Jakarta, Bulan Bintang, 1953). Hlm. 4.
[35] Data  Monografi Statis Dusun Mudal, Oktober 2003.
[36] Koentjaraningrat, Masyarakat Mesa di Indonesia Masa Ini, (Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi U I, 1967). Hlm. 140.
[37] Kuntowijoyo, “Muslim Kelas Menengah Indonesia 1910-1950”, dalam Paradigma Islam, Interpretasi Untuk Aksi, ed. A. E. Priyono (Bandung: Mizan, 1993). Hlm. 82 
[38] Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, (Jakarta : Gramedia, 1974). Hlm. 64
[39] M. Munandar Sulaiman,  Ilmu Sosial Dasar : Teori dan Konsep Ilmu Sosial, (Bandung : PT. ERESCO, 1991). Hlm. 74-82.   
               
[40] Simuh, Sufisme Jawa, Transformasi Tasawuf Islam Mistik Jawa,(Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1996), hlm. 122.   
[41] Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Inonesia,(Jakarta: Djambatan, 1971), hlm. 340
[42] Tata Kelakuan di Lingkungan keluarga dan Masyarakat Daerah Jawa Tengah,                      (Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990-1991), hlm. 14.
[43] Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, (Jakarta: Gramedia, 1975), hlm. 60.
[44] Wawancara dengan bapak Sutarto, tokoh agama, pada tanggal 20 april 2004.
[45] Wawancara dengan Haryo, mantan ketua pemuda dusun Mudal periode 2003, 15 april 2004
[46] Kuntowijoyo, “Muslim Kelas Menengah Indonesia 1910-1950”, dalam “Paradigma Islam:Interpretasi Untuk Aksi”, ed. A. E. Priyono, (Bandung:Mizan, 1993), hlm. 16.
[47] Budiono Herusatoto, Simbolisme dalam Budaya Jawa,(Yogyakarta: PT. Hanindita, 2001), hlm. 88.
[48] Depdikbud Jawa Tengah, Sejarah Daerah Jawa Tengah, (Jakarta: Depdikbud 1978), hlm. 28.
[48] Karkono Kamajaya Partokusumo, Kebudayaan Jawa, Perpaduan dengan Islam, (Yogyakarta: IKAPI, 1995), hlm. 275.
[50] Drs. Joko Tri Prasetyo, dkk., Ilmu Budaya Dasar (MKDU), (Jakarta, Rineka Cipta, 1991), hlm. 49-50.
[51] Adi Nugraha, Kamus Penyerta Umum, cetakan ke-II, (Jakarta, Bulan Bintang, 1953). Hlm. 4.
[52] Data  Monografi Statis Dusun Mudal, Oktober 2003.
[53] Koentjaraningrat, Masyarakat Mesa di Indonesia Masa Ini, (Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi U I, 1967). Hlm. 140.
[54] Kuntowijoyo, “Muslim Kelas Menengah Indonesia 1910-1950”, dalam Paradigma Islam, Interpretasi Untuk Aksi, ed. A. E. Priyono (Bandung: Mizan, 1993). Hlm. 82 
[55] Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, (Jakarta : Gramedia, 1974). Hlm. 64
[56] M. Munandar Sulaiman,  Ilmu Sosial Dasar : Teori dan Konsep Ilmu Sosial, (Bandung : PT. ERESCO, 1991). Hlm. 74-82.   
               
[57] Simuh, Sufisme Jawa, Transformasi Tasawuf Islam Mistik Jawa,(Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1996), hlm. 122.   
[58] Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Inonesia,(Jakarta: Djambatan, 1971), hlm. 340
[59] Tata Kelakuan di Lingkungan keluarga dan Masyarakat Daerah Jawa Tengah,                      (Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990-1991), hlm. 14.
[60] Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, (Jakarta: Gramedia, 1975), hlm. 60.
[61] Wawancara dengan bapak Sutarto, tokoh agama, pada tanggal 20 april 2004.
[62] Wawancara dengan Haryo, mantan ketua pemuda dusun Mudal periode 2003, 15 april 2004
[63] Kuntowijoyo, “Muslim Kelas Menengah Indonesia 1910-1950”, dalam “Paradigma Islam:Interpretasi Untuk Aksi”, ed. A. E. Priyono, (Bandung:Mizan, 1993), hlm. 16.
[64] Budiono Herusatoto, Simbolisme dalam Budaya Jawa,(Yogyakarta: PT. Hanindita, 2001), hlm. 88.
[65] Depdikbud Jawa Tengah, Sejarah Daerah Jawa Tengah, (Jakarta: Depdikbud 1978), hlm. 28.
[65] Karkono Kamajaya Partokusumo, Kebudayaan Jawa, Perpaduan dengan Islam, (Yogyakarta: IKAPI, 1995), hlm. 275.
[67] Drs. Joko Tri Prasetyo, dkk., Ilmu Budaya Dasar (MKDU), (Jakarta, Rineka Cipta, 1991), hlm. 49-50.
[68] Wawancara dengan semua narasumber, penulis kemudian menyimpulkan bahwa memang tidak ada kejelasan waktu tentang kapan dan siapa yang memulai melakukan tradisi ini. Mereka mengatakan bahwa tradisi ini telah diwariskan turun temurun selama tiga atau empat generasi.
[69] Sudaryanto Pranowo (ed), Kamus Pepak Basa Jawa, (Yogyakarta, Badan Pekerja Kongres Bahasa Jawa, 2001), hlm.442.
[70] Papan nisan untuk pria berbentuk runcing, dan untuk wanita berbentuk bulat di bagian atasnya. Papan yang akan ditanamkam di ujung kepala saja mengandung tulisan yang menyebutkan nama, tanggal lahir dan tanggal meninggalnya. Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm.361.
 [71] Wawancara dengan Bapak Suwahman, selaku Kadus Mudal, tanggal 5September 2004.
 [72] Orang Jawa yang dimaksud adalah manusia Jawa yang merupakan pendukung dan penghayat kebudayaan Jawa. Orang Jawa tersebar di daerah asal kebudayaan Jawa , Surakarta, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Cirebon di Jawa Barat. Marbangun Hardjowirogo, Manusia Jawa, ( Jakarta, Inti Idayu Press, 1986), hlm. 7.
  [73]Kebudayaan Jawa, adalah pengejawantahan atau penjelmaan budidaya manusia Jawa yang merangkum: dasar pemikirannya, citi-citanya, semangatnya, fantasinya, kemauannya, hingga kesanggupannya untuk mencapai keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup lahir dan batin. Dalam segala perkembangannya, kebudayaan Jawa masih tetap pada dasar hakikinya, yang menurut berbagai kitab-kitab Jawa Klasik dan peninggalan lain-lainnya dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) Orang Jawa percaya dan berlindung kepada Sang pencipta, Zat Yang Maha Tinggi, penyebab segala kehidupan, penyebab adanya dunia dan seluruh alam semesta, Yang awal dan Yang akhir. (2) Orang Jawa yakin, bahwa manusia adalah bagian dari kodrat alam, saling mempengaruhi dan menciptakan kebersamaan yang disebut gotong-royong dengan menghormati satu sama lain, tenggang rasa (tepa slira), rukun dan damai. (3) Rukun dan damai berarti tertib pada lahirnya dan damai pada batinnya, sekaligus membangkitkan sifat luhur dan perikemanusiaan, seperti semboyannya mamayu hayuning bawana (memelihara kesejahteraan dunia). (4) Sikap hidup yang dilandaskan pada adanya keseimbangan hidup lahir dan batin, antara kemampuan dan kesanggupan, antara amal ibadah dan partisipasinya dalam tata hiduplahir dan batin sampai pada keseimbangan antara Khalik dan makhluk. Ajaran ini menghasilkan sikap mawas diri yang amat didambakan oleh kebanyakan orang Jawa. Karkono Kamajaya Partokusumo, Kebudayaan Jawa; Perpaduannya  dengan Islam, (Yogyakarta, Ikatan Penerbit Indonesia, 1995), hlm. 194.  
[74] Masuknya agama Islam di Jawa sampai sekarang masih menimbulkan telaah yang sangat beragam. Ada yang mengatakan Islam masuk ke Jawa sebagaimana Islam datang ke Sumatera, yang diyakini pada abad pertama hijriah atau abad ke 7 masehi. Setidaknya pendapat ini disokong oleh Hamka, dengan alasan berita Cina yang mengisahkan kedatangan utusan Raja Ta Cheh kepada Ratu Sima. Adapun Raja Ta Cheh, menurut Hamka, adalah raja Arab dan khalifah saat itu adalah dan diaku armada Islam. Armada kapal ini berfungsi pula untuk melindungi armada niaganya. Oleh karena itu, tidaklah mustahil pada tahun 674 M Muawiyah dapat mengirimkan dutanya ke Kalingga. Anasom, “Sejarah Masuknya Islam di Jawa”, dalam Darori Amin (ed.), Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000), hlm. 28.
[75] Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994),  hlm. 344. Tentang agama Jawi, lihat juga halaman 310- 312, bentuk  agama Islam orang Jawa yang disebut  agama Jawi atau kejawen itu adalah suatu kompleks keyakinan dan konsep-konsep Hindu-Budha yang cenderung ke arah mistik, yang tercampur menjadi satu dan diaku sebagai agama Islam. 
[76] Adaptasi kultural merupakan ciri khas kebudayaan Jawa, yaitu kemampuan luar biasa kebudayaan Jawa membiarkan diri dibanjiri oleh gelombang kebudayaan yang datang dari luar. Hinduisme Budhisme dirangkul, tapi akhirnya “di Jawakan“. Agama Islam masuk ke pulau Jawa, tetapi kebudayaan Jawa hanya semakin menemukan identitasnya. Frans Magnis Suseno, Etika Jawa Sebuah Analisa Falsafi Tentang Kebijaksanaan Hidup Orang Jawa, (Jakarta: Gramedia, 1999), hlm.1      
[77] Ridin Sofwan, “interelasi Nilai Jawa dan Islam dalam Aspek Kepercayaan dan Ritual” dalam Darori Amin (ed), Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta, Gama Media, 2000), hlm. 130
[78]  ibid, hlm. 131.  
[79] Wawancara dengan Bapak Yamdi, selaku tokoh masyarakat Mudal pada tanggal 10 Januari 2004.
[80] Wawancara dengan Bapak Pardal, warga masyarakat, tanggal 15 Maret 2004.
[81]Wawancara dengan Bapak Sudiyono, warga Masyarakat,  tanggal 11 Januari 2004.  
[82] Wawancara dengan tokoh masyarakat, Bapak Yamdi, tanggal 15 Maret 2004. Dia tidak mengetahui  singiran ini bersumber dari mana, kemungkinan singiran ini bagian dari serat Wulang Reh.
[83] Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, (Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm. 365.
[84] Wawancara dengan Bapak Pardjono, pelaku tradisi,  tanggal 2 Maret 2004.   
[85] Wawancara dengan Widodo, warga masyarakat, tanggal 11 Januari 2004.
[86] Wawancara dengan Bapak Sutarto, modin Mudal,  tanggal 2 Maret 2004.
[87] Peter Salim dan Yenni Salim, Kamus Bahasa  Indonesia Kontemporer, (Jakarta: Modern English Press, 1991), hlm. 1035.
[88] Ibid.
[89] Burhanuddin Salam, Filsafat manusia (Antropologi Metafisika),(Jakarta: Bina Aksara, 1988), hlm. 153.
[90] Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa,(Jakarta: Teraju, 2003),  hlm. 1-3. Mengenai enam nilai budaya tersebut, St. Takdir Alisjahbana yang mengatakan:
Jika tujuan proses penilaian itu mengetahui alam sekitar yaitu menentukan dengan objektif identitas benda-benda dan kejadian-kejadian, kita menghadapi proses penilaian teori yang menuju ke arah pengetahuan yang kita sebut nilai teori. Jika tujuannya adalah memakai atau menggunakan benda-benda dan kejadian-kejadian, kita menghadapi proses penilaian ekonomi, yang berlaku menurut logika efisiensi dan menuju ke arah guna yang sebesar-besarnya untuk hidup dan kesenangan hidup, yaitu nilai ekonomi atau kegunaan. Kombinasi antara nilai teori dan nilai ekonomi yang senantiasa maju dissebut aspek progresif dari kebudayaan.
Jika dalam proses penilaian dunia sekitar dihadapi sebagai ekspresi daripada rahasia dan kebesaran hidup alam semesta, kita menghadapi nilai agama, kekudusan, yang terhadapnya manusia merasa takzim, penuh tremendum et facinans (kegemetaran dan ketakjuban). Jika yang dialami itu keindahan, kita menghadapi proses penilaian estetik, yang bersipat keekspresifan benda-benda dan kejadian-kejadian. Kombinasi antara nilai agama dan nilai seni yang sama-sama menekankan intuisi, perasaan, dan fantasi disebut aspek ekspresif dari kebudayaan.
Kita juga melihat sesama kita, yaitu dalam hubungan kekuasaan dan solidaritas. Dalam proses penilaian kekuasaan, yaitu kita merasa puas jia orang lain mengikuti norma-norma dan nilai-nilai kita, pendeknya kita mempunyai otoritas dan kuasa atas mereka. Dengan proses penilaian solidaritas, kita tiba pada hubungan cinta, persahabatan , simpati dengan sesama manusia, yaitu kita menghargai mereka sebagai individu atau golongan dengan kemungkinan-kemungkinannya sendiri, dan kita puas jika dapat membantu dalam perkembangan kemungkinan-kemungkinan mereka.
[91] Masyarakat yang bersahaja adalah masyarakat yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya. Berkaitan dengan masyarakat yang masih bersahaja, nilai solidaritas-yang dalam ungkapan Jawa disebut semangat gotong-royong dan rukun- cukup tinggi. Kemudian berkaitan dengan upacara religi, mantra, atau kidung-kidung untuk memohon bantuan ruh nenek moyang dan menolak segala penyakit, juga berkembang . adapun nilai rasional, ekonomi, dan nilai kekuasaan masih sangat rendah. Dengan demikian pola budaya Jawa asli, menurut  St. Alisjahbana, “masih dikuasai oleh nilai agama yang diikuti oleh niulai solidaritas dan nilai estetik, sedangkan dalam sifatnya yang demokratis nilai kuasa dalam susunan masyarakat adalah lemah. Nilai ilmu lemah, karena pemikiran rasional belum berkembang, sedangkan perasaan masih terlampau berkuasa dalam menghadapi alam. Nilai ekonomi juga belum berkembang.  Ibid., hlm. 46.
[92] Mark R Woodward, “Islam Jawa” Kesalehan Normatif Versus Kebatinan ,terj. Hairus Salim HS., (Yogyakarta, LkiS, 1999), hlm. 104.
[93] Musthafa Al-Alim, Aqidah Islam Menurut Ibnu Taimiyah, (Bandung: Al-Ma’arif, 1982), hlm. 7.
[94] Sidi Gazalba, Masyarakat Islam Pengantar Sosiologi Dan Sosiografi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm. 255.
[95] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, 1983), hlm. 320.
[96]Koentjaningrat membagi selametan  dalam dua bentuk yaitu upacara selametan keagamaan dan upacara selametan  adat dan antara upacara selametan yang bersifat keramat dan upacara selametan yang tidak keramat. Menurutnya upacara selametan yang bersifat keramat adalah upacara selametan dimana orang atau orang-orang yang mengadakannya merasakan getaran  emosi keramat. Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, ibid., hlm. 347.
[97] Ibid., hlm. 348.
[98] Abu A’la Maududi, Dasar-dasar Islam, (Terj.), Achsin Mohammad, (Bandung: Pustaka, 1984), hlm. 98.
[99] M. Munawi dan Faid Al-Qodir, Syariah Jami’ As-Shagir, (Beirut: Dar Al-Fikr, tt), V: 437.
                [100]Keutamaan surat Yasin adalah dapat memberikan syafa’at kepada almarhum karena isi dari surat Yasin meliputi nilai-nilai keimanan antara lain menceritakan bukti-bukti hari kebangkitan dan bahwa anggota badan manusia menjadi saksi pada hari kiamat atas segala perbuatannya di dunia. Al-Qur’an dan terjemahannya, ibid., hlm.705    
[101] Fahd Bin Abdurrahman Ar-Rumi, Ulumul Qur’an “Studi Kompleksitas Al-Qur’an”,  (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1996), hlm. 74.
[102] Wawancara dengan Bapak Yamdi, tokoh masyarakat, 15 Maret 2004.
[103] Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta:  Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 1.
[104] A. Mustafa, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: CV Pustaka Setia, 1997), hlm. 25.
[105] Ibid.
[106] Al-Qur’an dan Terjemahannya,Ibid.,  hlm.131.
[107]Ibid, hlm. 874.
[108] Wawancara dengan Bapak Yanto, warga masyarakat, tanggal 20 Maret 2004.
[109] Artinya; ” Batu, dan sejenisnya. Di bangun empat persegi panjang untuk tutup dan penanda kuburan.” Lihat Sudaryanto, Kamus Pepak Basa Jawa, ( Yogyakarta:Badan Pekerja Kongres Bahasa Jawa , 2001), hlm.442.
[110]  Tradisi dan tindakan orang Jawa selalu berpegang kepada dua hal. Pertama,  kepada filsafat hidupnya yang religius dan mistis. Kedua, pada etika hidup yang menjunjung tinggi moral dan derajat hidup. Pandangan hidup yang selalu menghubugkan segala sesuatu dengan Tuhan yang serba rohaniah, mistis dan magis, dengan menghormati nenek moyang., leluhur serta kekuatan yang tidak tampak  oleh indra manusia. Oleh karena itu, orang Jawa memakai simbol-simbol kesatuan, kekuatan dan keluhuran seperti berikut ini : pertama, simbol kesatuan yang berhubungan dengan roh leluhur; sesaji, membakar kemenyan, ziarah kubur dan selamatan. Kedua, yang berhubungan dengan kekuatan; nenepi (diam ditempat sepi), memakai keris, tombak, dan jimat atau sifat kandel. Ketiga, yang berhubungan dengan keluhuran seperti; laku utomo(tindakan utama, terpuji) dalam hasta sila, asta brata dan  panca kreti. Budiono Herusatoto, Ibid,hlm.80.  
www.web.unmetered.co.id
unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Ngijiring pada Upacara Selametan Nyewu Dusun Mudal Argomulyo"