PEMBINAAN AGAMA ISLAM TERHADAP LANJUT USIA DI PANTI WREDHA BUDI DHARMA PONGGALAN UMBULHARJO YOGYAKARTA

unmetered
unlimited
PEMBINAAN AGAMA ISLAM TERHADAP LANJUT USIA DI PANTI WREDHA BUDI DHARMA PONGGALAN UMBULHARJO YOGYAKARTA

Oleh www.web.unmetered.co.id

BAB  I

PENDAHULUAN

APENEGASAN  ISTILAH
Skripsi ini berjudul “PEMBINAAN AGAMA ISLAM TERHADAP LANJUT USIA DI PANTI WREDHA BUDI DHARMA PONGGALAN UMBULHARJO YOGYAKARTA”. Untuk menghindari kesalahpahaman dalam menginterpretasikan judul tersebut, maka penulis akan memberikan penegasan atau penjelasan demi adanya ketegasan istilah judul dan permasalahan yang akan dibahas, dengan merinci kata-kata sebagai berikut :
Pembinaan
Pembinaan adalah usaha atau tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara   berdaya guna dan  berhasil guna untuk memperoleh hasil yang baik.[1]Maksud pembinaan disini untuk membentuk pribadi muslim yang ideal, yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran perlu diadakan suatu usaha pembinaan yang maksimal agar tujuanya tercapai, yaitu bahagia dunia dan akherat. Khususnya disini bagi lanjut usia yang menghabiskan sisa usianya di Panti Wredha Budi Dharma Ponggalan Umbulharjo Yogyakarta. Dalam kondisi yang tertekan, pemahaman agama yang kurang mereka sangat memerlukan pembinaan agama agar mereka merasa dekat dengan Tuhan sehingga tentramlah hatinya.
Agama Islam
 Menurut Abu Ahmadi dalam bukunya Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam (1994),  agama Islam adalah risalah yang disampaikan kepada Nabi sebagai petunjuk bagi manusia dan hukum-hukum sempurna untuk dipergunakan manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta mengatur hubungan dengan dan tanggung jawab kepada Allah.[2]
      Agama Islam adalah agama Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad untuk diteruskan kepada seluruh umat manusia yang mengandung ketentuan-ketentuan ibadah muamalah (syariah), yang menentukan proses berfikir, marasa, berbuat, dan proses terbentuknya kata hati.[3]
            Adapun yang dimaksud pembinaan agama Islam dalam judul tersebut adalah segala usaha dan kegiatan yang dilakukan Panti Wredha Budi Dharma, secara sistematis dan terencana mendidik dan mengarahkan obyek jamaah lanjut usia yang beragama Islam agar mereka mampu mengadakan perubahan, perbaikan, peningkatan dan pengalaman-pengalaman terhadap ajaran agama Islam sasuai dengan tuntunan Al-Quran dan Hadist. Khususnya dalam berakhidah dan beribadah.
Lanjut Usia
Lanjut usia adalah berarti pula para orang jompo. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, orang jompo adalah orang yang sudah tua.[4]
Adapun kriteria lanjut usia atau  orang jompo di Panti Wredha Budi Dharma adalah :
a.       Berusia 60 th keatas.
b.      Tidak mampu mencari nafkah untuk keperluan hidup sehari-hari .
c.       Tidak mempunyai sanak saudara yang dapat memberikan bantuan kelangsungan hidupnya
d.      Panti Wredha Budi Dharma Ponggalan Umbulharjo Yogyakarta
Panti Wredha Budi Dharma adalah sebuah unit pelaksanaan teknis Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Tingkat Pemerintah Daerah Yogyakarta yang memberikan pelayanan kepada seluruh masyarakat khususnya yang kurang beruntung. Secara sosial dan cuma-cuma, panti ini memberikan pelayanan terhadap lanjut usia. Di tempat ini para lanjut usia mendapatkan cinta kasih, perawatan jasmani dan rohani, sehingga mereka dapat menikmati hari tuanya dan mendapatkan ketentraman lahir dan batin.
            Panti Wredha Budi Dharma terletak di Ponggalan Umbulharjo VII 203 Yogyakarta. Jumlah klien di panti tersebut adalah  60 orang,  dengan mayoritas klien  beragama Islam yang berjumlah 57 orang. Sejak berdiri sampai sekarang panti ini  telah banyak mengalami perkembangan dan kemajuan berkat dukungan dan dorongan berbagai pihak.
Berdasarkan istilah tersebut maka penulis tegaskan bahwa maksud judul diatas adalah suatu penelitian tentang usaha atau kegiatan yang dilaksanakan oleh para pembina agama di Panti Wredha Budi Dharma yang berupa bimbingan terutama agama Islam yang diberikan kepada sekelompok lanjut usia  dalam rangka memperbaiki dan meningkatkan sikap, perbuatan dan tingkah laku agar selaras dan sesuai dengan ajaran agama Islam.
Dalam penelitian ini penulis batasi pada kegiatan pelaksanaan pembinaan agama Islam yang meliputi, kegiatan pembinaan agama Islam, dasar dan tujuan, subyek dan obyek, materi dan metode pembinaan agama Islam, keberhasilan pembinaan agama Islam.

B.  LATAR BELAKANG MASALAH

Untuk menjawab segala tantangan dan kemajuan zaman yang semakin modern,  pendidikan merupakan hal terpenting dalam kehidupan manusia. Dengan pendidikan pula manusia dapat mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan manusia akan sempurna jika kebahagiaan lahir dan batin terpenuhi dengan seimbang. Kebahagiaan batin akan terpenuhi karena adanya sebuah kepercayaan terhadap Tuhan atau agama. Dalam beragama diperlukan suatu peribadatan dengan cara-cara tertentu. Untuk mengetahui cara beribadah kepada Tuhan, manusia memerlukan sebuah pendidikan agama.
Agama Islam adalah agama yang dirahmati Allah. Segala tata cara peribadatan kepada Allah hanya akan diketahui melalui pendidikan agama Islam. Dalam Islam  telah dikenal pendidikan seumur hidup (Long Life Education), bahwa pendidikan itu dimulai dari sejak lahir sampai meninggal dunia. Pendidikan agama Islam secara continue perlu diadakan sebuah pembinaan. Pembinaan agama Islam dimaksudkan untuk membentuk pribadi muslim yang  kembali kepada Sang Pencipta dengan Khusnul Khotimah.
Pendidikan agama Islam yang telah ditanamkan sejak dari kecil akan mengakar kuat pada diri pribadi seseorang, sehingga dalam menapaki hari tua atau usia lanjut dapat merasakan ketentraman batin meskipun kondisi fisik maupun psikis mereka telah menurun. Dengan beribadah kepada Allah, lanjut usia akan tenang dan berserah diri pada Allah  dalam menanti ajalnya.
 Banyak lanjut usia yang mengalami penurunan kesehatan baik secara fisik maupun secara mental sehingga jiwanya goncang. Kecemasan. rasa putus asa, emosi, mudah marah, sedih dan lain sebagainya adalah gejala dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi para lanjut usia.  Keadaan tersebut hanya dapat ditangani melalui pembinaan rohani agar dapat merasakan ketentraman dan kebahagiaan.
Gejala dengan segala permasalahan  yang dihadapi lanjut usia perlu kita kaji usaha penangananya agar mereka dapat merasakan ketentraman dan kebahagiaan. Salah satu usaha yang dilakukan Panti Wredha Budi Dharma adalah pembangunan rohani untuk lebih membangkitkan perasaan dekat dengan Tuhannya, sehingga dalam batin mereka lebih tenang dan tentram.
Latar belakang diadakan pembinaan agama Islam bagi lanjut usia  adalah untuk mengatasi latar belakang para lanjut usia yang erat kaitanya dengan asal kehidupan mereka, yang sebagian berpendidikan rendah (buta huruf), rendahnya keyakinan agama, pengetahuan pemahaman serta pengamalan agama mereka.

C.  RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang diatas, penulis dapat mengambil rumusan masalah sebagai berikut :
  1. Mengapa pelaksanaan pembinaan agama Islam terhadap lanjut usia di Panti Wreda Budi Dharma Ponggalan Umbulharjo Yogyakarta dipandang perlu?
2.      Kegiatan apa saja yang menjadi program dalam rangka pembinaan agama Islam terhadap lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma Ponggalan Umbulharjo Yogyakarta?
  1. Apa hasil dari pelaksanaan pembinaan agama Islam terhadap lanjut usia  di Panti Wredha Budi Dharma Ponggalan Umbulharjo Yogyakarta?

D.  ALASAN PEMILIHAN JUDUL

  1. Bahwa lanjut usia yang dalam keadaan jauh berbeda dari usia sebelumnya merasa tidak berguna dan diperlukan lagi, perlu diadakan pembinaan terutama pembinaan agama Islam.
  2. Pembinaan agama Islam tidak hanya penting diberikan pada anak-anak, tetapi juga untuk lanjut usia agar mencapai derajat khusnul khotimah.
  3. Adanya upaya untuk pembinaan agama Islam terhadap lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma Ponggalan Umbulharjo Yogyakarta.

E.   TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN

Tujuan diadakan penelitian ini adalah :
1.      Ingin mengetahui kegiatan apa saja yang menjadi program dalam rangka pembinaan agama Islam terhadap lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma Umbulharjo Yogyakarta.
  1. Ingin mengetahui mengapa pembinaan agama Islam terhadap lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma Ponggalan Umbulharjo Yogyakarta di pandang perlu.
3.      Untuk mengetahui hasil pelaksanaan pembinaan agama Islam terhadap lanjut usia  di Panti Wredha Budi Dharma Ponggalan Umbulharjo Yogyakarta.
Setelah diadakan penelitian ini  diharapkan mempunyai kegunaan sebagai berikut :
  1. Dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat Yogyakarta khususnya.
  2. Dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi oleh pengelola Panti Wredha Budi Dharma Ponggalan Umbulharjo Yogyakarta agar kedepanya lebih maju.
  3. Sebagai tugas akhir dalam menempuh gelar sarjana SI di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

F.   KERANGKA TEORITIK

1.   Pembinaan Agama Islam
a.   Pengertian Pembinaan Agama Islam.
Dalam Al-Quran QS. Ali Imron ayat 9 disebutkan bahwa agama disisi Allah hanyalah agama Islam. Untuk melestarikan agama Allah tersebut, perlu dilaksanakan sebuah pembinaan secara terus menerus dari generasi kegenerasi. Karena Rasulullah adalah rasul terakhir pengemban ajaran Islam, maka pembinaan ini dilaksanakan sejak zaman  turunya ajaran Islam hingga akhir zaman.
Pengertian pembinaan menurut bahasa atau asal katanya, pembinaan berasal dari بنى- يبنى- بناء yang berarti membangun, membina, mendirikan. Dalam hal ini yang dimaksud penulis adalah pembinaan agama Islam. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits :
بنى الاسلام على خمس شهادة أن لا آله الا الله  وإيقام  الصلاة  وإيتاء الزكاة  وصو م رمضان (رواه البخارى)
Artinya : “Dibina Islam atas lima sendi yang terpokok yaitu meyakini ke-Esaan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat fitrah dan berpuasa dibulan Romadhon. (H.R.. Buchori).[5]
Praktek pembinaan agama Islam pada dasarnya adalah proses pendidikan. Pendidikan ini seyogyanya diberikan sejak dari buaian hingga meninggal dunia, dari linkungan keluarga sekolah dan masyarakat, baik melalui pendidikan formal maupun non formal.
Menurut Drs. H Zuhairi dkk, Pendidikan agama Islam adalah usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik supaya mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.[6]
Menurut Drs. H Abdul Rachman Saleh, Pendidikan agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik supaya kelak setelah selesai pendidikanya dapat memahami dan mengamalkan   ajaran-ajaran  agama Islam serta menjalankan sebagai way of life (jalan hidup).[7]
b. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
1)   Dasar Pendidikan Agama Islam
Dasar Pendidikan Agama Islam adalah Al-Quran dan Hadits. Melaksanakan pendidikan agama adalah merupakan perintah Tuhan dan merupakan ibadah kepada-Nya. Allah telah mengutus seorang rosul untuk menyempurnakan akhlak manusia agar manusia beribadah kepada Tuhan melalui ajaran Islam yang sangat diperlukan sekali pembinaanya. Allah berfirman dalam QS At Tahrim ayat 6. Selain itu Allah juga berfirman dalam QS Ali Imron  ayat 104 yang berbunyi :
ولتكن منكم بأمة يدعون إلى الخير ويأمرون المعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون (آل عمران:104)
Artinya :”Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.[8](Q.S. Ali Imron : 104)
Hadist Nabi :
بلغوا عنى ولو آية (رواه البخارى)
Artinya : Sampaikan ajaranku kepada orang walaupun hanya satu ayat.[9](H.R. Buchori)
Ayat dan hadits Nabi tersebut diatas memberikan pengertian kepada kita bahwa selaku umat Rasulullah diwajibkan untuk mengajarkan agama Islam kepada keluarga maupun orang lain sesuai kemampuan.
2)   Tujuan Pembinaan  Agama Islam
Dalam suatu usaha pasti ada tujuan, begitu halnya dalam pembinaan agama Islam pasti ada tujuan. Tujuan adalah sasaran yang hendak dicapai  dari suatu aktivitas, karena setiap aktivitas pasti mempunyai tujuan tertentu yang berfungsi untuk mengarahkan, mengontrol, memudahkan evaluasi suatu aktifitas.
Menurut Prof. Dr. Omar Muhammad Al Toumy Al Syaibani, tujuan pendidikan agama Islam adalah perubahan yang diingini yang diusahakan dalam proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapainya baik pada tingkah laku individu dari kehidupan pribadinya atau kehidupan masyarakat serta pada alam sekitar dimana individu itu hidup atau pada proses pendidikan itu sendiri dan proases pengajaran sebagai suatu kegiatan asasi dan sebagai proposisi diantara profesi asasi dan masyarakat.[10]
Agar pelaksanaan pendidikan agama Islam tersebut terlaksana maka akan dijelaskan  tujuan secara umum dan secara khusus. 
a)   Tujuan Umum Pendidikan
Tujuan umum pendidikan agama adalah membimbing anak agar menjadi muslim sejati, beriman, beramal sholeh, bertaqwa dan berguna bagi masyarakat, agama, dan negara.
Tujuan tersebut adalah tujuan yang ingin dicapai dalam  setiap pendidikan agama Islam. Allah berfirman :
وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون (الذارية: 56)
Artinya: “Dan Aku tidak akan menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.[11](Q.S. Adzaariyat: 56) 
Bahwasanya manusia itu diciptakan agar supaya menyembah dan beribadah kepada Allah. Ada tata cara tertentu agar ibadah manusia tersebut diterima oleh Allah. Untuk mengetahuinya tidak mungkin tanpa adanya sebuah pendidikan, bimbingan dan binaan agama Islam itu sendiri.
Dengan sebuah pendidikan, pengetahuan tentang ibadah diketahui manusia. Setelah segala pengetahuan tersebut diketahui manusia maka terbentuklah manusia yang taat beribadah. Manusia beribadah adalah manusia yang segala tingkah laku dan perbuatanya bertitik tolak pada ajaran agama Islam, berdasar atas Al-Qur’an dan Hadist. Sehingga manusia dapat menikmati kebahagiaan di dunia maupun di akherat
b)   Tujuan  Khusus
Tujuan khusus pendidikan agama Islam adalah tujuan pendidikan dalam setiap tahap yang dilalui.[12]Berbicara tentang tahap khusus ini penulis membagi kedalam dua tahap yaitu :
(1)  Tahap Dewasa
Dalam tahap ini orang dewasa percaya pada suatu agama dan mampu melaksanakanya dengan penuh kesadaran. Zakiah Darodjat dalam bukunya Ilmu Jiwa Agama hal 162 disebutkan bahwa orang yang telah melewati usia remaja mempunyai ketentraman jiwa, ketetapan hati dan kepercayaan yang tegas baik dalam bentuk positif maupun negatif.
Dalam usia ini pembinaan agama Islam dimaksudkan untuk mempertebal keimanan, menambah ketaqwaan kepada Allah swt, karena keyakinan seseorang belum tentu dibawa sampai akhir hayatnya.
(2)  Tahap Orang Tua (Lanjut Usia)
Dalam kondisi mental yang jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya, lanjut usia perlu diberikan sebuah pembinaan agama Islam agar selalu ingat terus dengan Allah dan menambah amalan ibadah, mendekatkan diri pada Allah, pasrah jiwa raga kepada Allah, sehingga mencapai derajat khusnul khotimah.
Setelah semua tujuan pembinaan agama Islam tercapai maka akan tercipta empat hubungan yang baik yaitu, hubungan dengan Allah, hubungan dengan orang lain, dengan dirinya sendiri dan dengan makhluk lain.
Karena klienya adalah lanjut usia maka tujuan dilaksanakan pembinaan agama Islam di Panti Wredha Budi Dharma adalah untuk membimbing para lanjut usia yang kondisinya jauh berbeda dari sebelumnya untuk lebih mendekatkan diri dengan Allah, agar hati dan jiwanya tentram serta merasa berguna dalam mengisi sisa usianya.                    
b.      Proses Pembinaan Agama Islam
Pembinaan agama bukanlah suatu proses yang dapat terjadi dengan cepat dan dipaksakan, tapi haruslah secara berangsur-angsur wajar, sehat dan sesuai dengan pertumbuhan, kemampuan dan keistimewaan umur yang sedang dilalui.
Proses pembinaan agama itu terjadi melalui dua kemungkinan:
1)  Melalui Proses Pendidikan
Pembinaan agama melalui proses pendidikan itu harus terjadi sesuai dengan syarat-syarat psikologis dan pedagogis, dalam ketiga lembaga pendidikan, yaitu rumah tangga, sekolah dan masyarakat.
Hal ini berarti bahwa pembinaan agama itu harus dimulai sejak lahir, karena setiap jenjang yang dilalui anak akan menjadi bagian dari pribadinya yang akan bertumbuh nanti. Apabila kedua orang tuanya mengerti akan agama, maka pengalaman anak yang menjadi bagian pribadinya mengandung unsur-unsur agama pula.
Kemudian setelah pembinaan agama itu ditanamkan di dalam rumah tangga harus dilanjutkan di lingkungan sekolah, dimana pembinaan diteruskan dan pengertian sedikit diberikan sesuai dengan pertumbuhan yang dilaluinya. Setelah anak mulai sekolah, banyak pengaruh-pengaruh masyarakat dan lingkungan menimpanya, baik yang positif maupun yang negatif. Semua pembinaan yang diberikan dirumah dan disekolah sangat mempengaruhi dalam perkembangan anak tersebut.
Agar pembinaan agama tercapai, maka ketiga lembaga pendidikan (rumah, sekolah dan masyarakat) harus bekerja sama dan berjalan seirama, tidak bertentangan satu sama lain.
2)   Melalui proses pembinaan kembali.
Yang dimaksud poses pembinaan kembali, ialah memperbaiki moral yang telah rusak, atau membina moral kembali dengan cara yang berbeda dari pada yang pernah dilaluinya dulu. Biasanya cara ini ditunjukkan pada orang dewasa yang telah melewati umur 21 tahun.[13]
Yaitu bagi mereka yang berumur lebih dari 21 tahun, yang belum pernah terbina agamanya, baik karena kurangnya pembinaan agama yang dilaluinya dulu, maupun karena belum pernah sama sekali mengalami pembinaan agama dalam segala bidang dilembaga pendidikan yang dilaluinya.
Orang seperti inilah yang menjadi sasaran dakwah. Bermacam-macam pula tingkat pendidikan dan tingkat kedudukan sosial. Untuk mengadakan pembinaan diperlukan kecakapan, pengalaman dan seni tertentu. Karena bagi masing-masing sasaran, ada keadaan dan pengalaman-pengalaman masa lalu yang telah mewarnai pribadinya dan telah membuat pengaruh tertentu terhadap moralnya. Ada yang perlu ditangani secara perorangan dan ada pula yang dapat ditangani secara kelompok.
Pembinaan agama Islam di Panti  Wredha Budi Dharma merupakan sebuah proses pembinaan kembali terhadap lanjut usia yang mana mereka sebelumnya mungkin telah mendapatkan pendidikan atau pembinaan ini terlaksana karena dalam rangka perbaikan moral para lanjut usia yang tinggal disana.
d.  Unsur-unsur Pembinaan Agama Islam
1)  Subyek Binaan
Subyek binaan yang dimaksudkan di sini adalah pelaku pembinaan. Pelaku pembinaan dapat berupa :
–     Petugas khusus yang ditunjuk untuk tugas khusus tersebut (fulltimer) dan disingkat sebagai karyawan dengan tugas yang khusus untuk menangani masalah agama.
–     Petugas sambilan atau petugas rangkap yaitu petugas dari suatu bagian, bertugas pula selaku pembina rohani karena keahlianya.
–     Petugas tetap, tetapi berstatus honorer atau harian.
–          Ulama atau mubaligh setempat yang sewaktu-waktu mengisi pembinaan.[14]
Adapun syarat pelaku pembinaan adalah sebagai berikut :
–  Berpengetahuan agama yang mandiri.
–   Penuh dedikasi.
–   Patut dijadikan contoh.
–   Pantas dijadikan ikutan.
–   Mempunyai rasa tanggung jawab berbangsa dan bernegara.
Pada dasarnya pembina sama saja dengan pendidik. Untuk wewujudkan pendidik yang profesional, sebaiknya mengacu pada tuntunan Nabi saw, karena beliau adalah satu-satunya pendidik yang paling berhasil sebagai uswah hasanah pengemban ajaran Islam.
Pendidik Islam yang professional harus memiliki kompentensi-kompentensi sebagai berikut :
–          Penguasaan materi al-Islam yang komprehensif serta wawasan dan bahan pengayaan, terutama pada bidang yang menjadi tugasnya.
–          Penguasaan strategi (mencakup pendekatan, metode, dan teknik) pendidikan Islam termasuk evaluasi.
–          Penguasaan ilmu dan wawasan kependidikan.
–          Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan pada umumnya guna keperluan pengembangan pendidikan Islam.
–          Memiliki kepekaan terhadap informasi secara langsung atau tidak langsung yang mendukung kepentingan tugasnya.[15]
2)  Obyek Binaan
Obyek pembinaan ini tentunya adalah para jemaat pembinaan. Dalam suatu perkumpulan tentunya terdapat perbedaan, mulai dari latar belakang ekonomi, kondisi jiwa dan lainya. Adapun Obyek binaan di Panti Wredha Budi Dharma adalah lanjut usia. Dengan latar belakang para lanjut usia yang berbeda-beda diharapkan para pembina mampu menyampaikan Pendidikan Agama Islam dengan mengambil metode dan materi yang tepat agar nilai-nilai syariat Islam terserap oleh para lanjut usia.
3)  Materi Pendidikan Agama Islam
Inti dari ajaran pokok agama Islam adalah meliputi :
–  Masalah keimanan (akidah).
–  Masalah keislaman (syariah).
–  Masalah ikhsan (akhlaq)
a)  Akidah: adalah bersifat i’tikad batin, berfungsi mengajarkan ke-Esaan Allah, Esa sebagai Tuhan yang mencipta, mengatur dan meniadakan alam ini.
b)  Syariah: adalah berhubungan dengan amal lahir dalam rangka mentaati semua peraturan semua hukum Tuhan, yang mengatur hubungan antar manusia dengan Tuhan, dan mengatur pergaulan hidup dan kehidupan manusia.
c)  Akhlak: adalah suatu amalan yang bersifat pelengkap penyempurna bagi kedua amal diatas dan mengajarkan tentang tata cara pergaulan hidup manusia.[16]
Dari ketiga inti ajaran pokok tersebut dijabarkan kedalam bentuk rukun iman, rukun islam, akhlaq. Dan dari ketiganya lahirlah beberapa keilmuan agama yaitu:
1. Ilmu Tauhid.
2. Ilmu Fiqih.
3. Ilmu Akhlaq.
4)  Metode Pendidikan Agama Islam
Untuk mencapai suatu tujuan khususnya pendidikan agama Islam diperlukan sebuah metode. Metode adalah suatu cara yang ditempuh agar maksud suatu usaha itu tercapai. Allah berfirman :
فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك (ال عمران: 159)
Artinya :”Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.[17](Q.S. Ali Imron : 159)
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa  mendidik itu diperlukan suatu metode, harus dengan cara yang deduktif, metodis artinya dengan cara yang  tepat. Allah berfirman :                        
ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين (النحل: 125)
                                           
Artinya :”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.[18](Q.S. An Nahl : 125)
Dari berbagai macam metode yang telah ada dalam pendidikan, penulis memilih metode yang dianggap tepat bagi lanjut usia antara lain :
–  Metode ceramah.
–  Metode tanya jawab.
–  Metode contoh/suri tauladan.
–  Metode demonstrasi.
–  Metode latihan.
5)   Media Pendidikan Agama Islam
Media pendidikan agama ialah perantara yang dapat digunakan dalam rangka pendidikan agama.[19]Pemakaian media dalam pendidikan dimaksudkan agar semua materi pendidikan dapat diterima dengan mudah oleh para siswa. Dalam hal ini obyek bina adalah para lanjut usia, maka dengan media diharapkan para  lanjut usia dapat dengan mudah menangkap Pendidikan Agama Islam.
Adapun macam dari media pembinaan tersebut adalah sebagai berikut:
– Lisan
– Tulisan
– Audio Visual
e.   Kriteria Keberhasilan Pembinaan.
Kriteria pembinaan dapat dikatakan berhasil apabila obyek atau sasaran pembinaan setelah mendapatkan pembinaan telah mengalami perubahan sikap dan tingkah laku.
Dengan melihat perubahan sikap dan tingkah laku tersebut, maka akan diketahui tingkat keberhasilan dari pembinaan serta dapat lebih meningkatkan proses pembinaan sehingga pembinaan akan berhasil sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
2.   Pendidikan Agama Islam Bagi Lanjut Usia Merupakan Pendidikan Orang Dewasa.
Islam telah mengenal pendidikan seumur hidup. Proses balajar manusia berlangsung terus melalui pendidikan formal, non formal maupun in formal. Baik melalui media pengalaman, bacaan, pergaulan, melalui kursus atau media belajar yang diselenggarakan oleh masyarakat, sehingga pendidikan dikatakan bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup.
Proses pembinaan agama Islam bagi para lanjut usia di panti ini merupakan salah satu wujud dari pendidikan orang dewasa, karena manusia yang berusia lanjut adalah orang yang telah melewati usia dewasa yang diistilahkan dengan recontruction of personality atau proses pembinaan kembali.
Pendidikan orang dewasa tidak dapat disamakan dengan pendidikan anak. Namun hendaknya baik dalam proses pemberian materi atau faktor lainya. Harus dilihat apa pendorong bagi orang dewasa dalam belajar dan hambatan yang dialaminya serta harapan dan perhatian yang didambakan dari orang dewasa harus diperhatikan.
Pendidikan orang dewasa yang dituntut adalah adanya perubahan tingkah laku yang mestinya terjadi karena adanya perubahan atau penambahan pengetahuan, ketrampilan serta adanya perubahan sikap. Tapi yang perlu diingat bahwa pertambahan pengetahuan belum menjamin berubahnya tingkah laku apabila masih adanya sikap tidak percaya diri, ketertutupan untuk melakukan pembaharuan sikap yang demikian merupakan sikap utama dari orang dewasa atau para lanjut usia.
Menempatkan para lanjut usia sebagai subyek pendidikan orang dewasa adalah tepat, karena mereka yang hidup di panti ini sebelumnya telah memiliki prinsip hidup, pola hidup, etika hidup yang mereka pegang kuat, sehingga bagi pembimbing agama Islam perlu mempelajari seluk beluk orang dewasa berikut psikologi mereka agar tujuan dari pembinaan agama Islam dapat dicapai.
a. Pengertian Pendidikan Orang Dewasa.
Dari uarian yang telah disebutkan diatas, dapat diketahui bahwa pendidikan bagi orang dewasa itu sangat penting, begitu juga bagi para lanjut usia yang terkadang susah diatur. Perlu kita ketahui bahwa tujuan pendidikan orang dewasa adalah perubahan tingkah laku, sesuai dengan definisinya :
Adult education is a proses where by persons whose mayor sosial rules are caracteristic of adult status undertake systematic and sustaimed learning activities for the porpuse of bringing about changes in knowledge attitudes vacues or skills.[20]
Artinya : Pendidikan orang dewasa adalah dimana seseorang memiliki perasaan sosial yang besar, berkarakter berusaha secara sistematis sebagai status orang dewasa aktifitas yang menunjang pembelajaran bagi penambahan yang membawa perubahan terhadap nilai-nilai perilaku pengetahuan atau ketrampilan.
Sedangkan berdasarkan konferensi terbuka UNESCO pada tahun 2000 bahwa pendidikan orang dewasa itu lebih menekankan pada pendidikan orang dewasa dari segi methodologi dan maksud serta tujuanya. Bahwa keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan baik itu isi, tingkatan maupun metodenya, formal dan tidaknya, yang melanjutkan maupun yang menggantikan pendidikan sekolah, pendidikan kursus dan universitas atau latihan kerja, yang membuat oerang dianggap dewasa oleh masyarakat atau mengembangkan kemampuanya, memperkaya pengetahuan, meningkatkan kualitas teknik dan keahlianya, meningkatkan kualifikasi teknik dan keahlianya yang menyebabkan adanya perubahan sikap dan perilaku dalam persepektif perkembangan pribadi yang utuh serta partisipasi yang seimbang dan dalam perkembangan sosial ekonomi dan budaya yang bebas.
Pendidikan orang dewasa merupakan komponen integral dari seluruh rencana dan merupakan penerapan pendidikan seumur hidup yang mempunyai harapan memberikan bantuan kepada mereka yang ingin mengembangkan pribadinya, meningkatkan prestasi sosial dan mengakibatkan adanya perubahan perilaku yang mengarah pada yang pola hidup yang lebih baik. Dari pernyataan tersebut jika dilaksanakan akan terwujud tujuan pendidikan agama Islam dan dapat pula mengubah watak seseorang dari yang tidak baik menjadi baik.
b. Tujuan Pendidikan Orang Dewasa.
Dari definisi yang diberikan oleh UNESCO diatas, dapat diambil suatu batasan tentang tujuan yang akan dicapai dalam pendidikan orang dewasa. Dari batasan itu pula banyak para tokoh pendidikan memberi batasan tentang tujuan pendidikan orang dewasa yang tercantum dalam buku Adult Educations. In action 1936 :
John Erskine yang mengatakan : To return to creative endiarvor (kembali kepada usaha-usaha yang kreatif).
Glenn Fronc yang mengatakan : To better our social order (memperbaiki aturan-aturan sosial kita).[21]
Definisi diatas mengatakan bahwa tujuan pendidikan orang dewasa adalah mengembalikan aturan-aturan sosial yang dimiliki dengan usaha-usaha kreatif yang menunjang.
Pendidikan Agama Islam bagi Lanjut Usia Merupakan Suatu Bentuk Pendidikan Luar Sekolah.
Proses belajar telah terjadi semenjak manusia diciptakan. Pendidikan berlanjut dari generasi ke generasi dengan arah dan tujuan yang jelas. Proses belajar setiap individu dimulai dari semenjak lahir hingga meninggal. Biasanya, proses belajar akan dihubungkan dengan proses belajar dalam rangka pendidikan formal di sekolah yaitu mulai dari TK sampai dengan Perguruan Tinggi. Ada yang beranggapan bahwa jika seseorang telah keluar dari sekolah berarti selesai proses belajarnya.
Dengan kemajuan zaman, canggihnya teknologi, maka belajar dalam segala hal harus terus berjalan agar tidak ketinggalan dengan negara-negara maju. Proses belajar dapat berlangsung setiap saat dan dimanapun berada baik di sekolah maupun luar sekolah.
Pendidikan luar sekolah terjadi pada setiap kesempatan terdapat komunikasi yang teratur dan terarah diluar sekolah dalam memperoleh informasi, pengetahuan, latihan, maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan kehidupan, dengan tujuan mengembangkan tingkat ketrampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan untuk menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga, pekerja bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya.[22]
Berdasarkan pengertian tersebut bahwa Pendidikan luar sekolah memiliki unsur-unsur yang terdapat dalam sistem pendidikan yaitu adanya anak didik, pendidik, materi, tujuan dan lain-lain.  Bila ditinjau dalam arti luas, pendidikan luar sekolah maupun pendidikan sekolah dapat dibagi menjadi sub sistem. Dari masing-masing sub sistem muncul kegiatan pendidikan formil, informil, dan non formil yang dapat dibagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil.
Berkaitan dengan pembinaan agama Islam yang dilakukan di Panti Wredha Budi Dharma ini, penulis beranggapan bahwa pembinaan ini merupakan salah satu bentuk dari pendidikan luar sekolah dan lebih spesifiknya adalah pendidikan non formal. Dengan sistem yang dipergunakan adalah  adult education.
Minat Lanjut Usia Terhadap Keagamaan.
Suatu analisis dari studi penelitian yang berhubungan dengan sikap terhadap kegiatan keagamaan pada usia tua membuktikan bahwa ada fakta-fakta tentang meningkatnya minat terhadap agama sejalan dengan bertambahnya usia. Orang berusia lanjut lebih ternarik pada kegiatan keagamaan karena pertimbangan kegiatan  tersebut merupakan titik perhatian baru. Diungkapkan oleh Covalt bahwa kegiatan keagamaan mempunyai kelompok rujukan yang memberi dorongan dan rasa aman kepada mereka, sedang orang yang tidak masuk dalam kelompok agama manapun tampaknya kurang mendapatkan dorongan sosial.
Di Panti Wredha Budi Dharma terdapat satu bentuk pelayanan kebutuhan psikologis bagi para penghuninya yaitu dengan diadakannya        pembinaan keagamaan. Dalam pembinaan agama Islam ini diperlukan suatu cara yang mampu menarik minat para klien dalam mengikuti kegiatan pembinaan agama Islam. Hal tersebut tidak terlepas dari perhatian bahwa orang lanjut usia banyak mengalami perubahan-perubahan fisik dan psikologisnya yang otomatis diperlukan suatu metode yang tepat bagi proses pelaksanaan pembinaan.

G.  METODE PENELITIAN

Agar penelitian ini dapat tercapai sesuai dengan tujuan yang dikehendaki, diperlukan adanya metode. Adapun metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah :
  1. Metode Penentuan Subyek
Metode  penentuan subyek dapat diartikan sebagai usaha penentu sumber data, bagaimana data dalam penelitian itu akan diperoleh.[23]
Dalam penelitian ini yang dijadikan subyek adalah :
a. Ketua beserta staf Panti Wredha Budi Dharma Ponggalan UH Yogyakarta sebanyak 17 orang.
b. Tenaga pembina sebanyak 2 orang.
c.  Para klien (lanjut usia) sebanyak 48 orang.
  1. Metode Pegumpulan Data
Dalam mengumpulkan data atau memperoleh data, penulis menggunakan beberapa metode yaitu :
a.       Metode Observasi
Metode observasi adalah sumber pengamatan yang khusus dan pencatatan yang sistematis yang ditujukan pada satu atau beberapa fase masalah yang dihadapi dalam rangka penelitian, dengan maksud untuk mendapatkan data yang diperlukan untuk memecahkan persoalan yang dihadapi.[24]
Penggunaan metode ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran umum dan keadaan Panti Wredha Budi Dharma serta untuk mengamati tentang pembinaan agama Islam terhadap lanjut usia di Panti tersebut.
b.      Metode Wawancara
Wawancara atau interviu adalah suatu bentuk komunikasi verbal jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi.[25]
Sedangkan wawancara yang penulis lakukan adalah penulis menyampaikan pertanyaan-pertanyaan pada pihak yang terkait secara lisan dan mendalam kepada pengurus, pembina dan klien Panti Wredha Budi Dharma Ponggalan Umbulharjo Yogyakarta untuk mengetahui pembinaan agama Islam.
c.       Metode Dokumentasi
Matode dokumentasi adalah sebuah metode untuk mencari data yang bersumber  dari tulisan-tulisan, seperti buku-buku, majalah, dokumen-dokumen dan lain-lain.
Adapun metode ini digunakan untuk memperoleh data atau informasi tertulis, data tentang letak, sejarah berdirinya, struktur organisasi, keadaan pembimbing, keadaan klien, data pengasuh dan lain-lain yang berhubungan dengan Panti Wredha Budi Dharma tersebut.
  1. Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Artinya data yang dikumpulkan kemudian disusun dan diklasifikasikan, selanjutnya diolah dan dianalisis.
Analisis berfikir yang digunakan dalam metode deskriptif  kualitatif adalah metode berfikir induktif, berarti bahwa pencarian data bukan dimaksudkan untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan sebelum penelitian diadakan.[26]  Dalam proses analisa ini teori yang sudah ada ditunjukkan kemudian dicari  contoh atau kasus dari kenyataan yang ada di lapangan.

H.  SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam penulisan skripsi ini terbagi menjadi 5 bab yang secara ringkas diuraikan sebagai berikut:
Bab pertama, memuat tentang pendahuluan yang meliputi : penegasan istilah, latar belakang masalah, rumusan masalah, alasan pemilihan judul, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teoritik, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua, membahas kondisi dan gambaran umum tentang Panti Wredha Budi Dharma yang meliputi: letak geografis, sejarah berdiri dan perkembanganya, struktur organisasi, kondisi umum tentang ; pengurus, pembina agama Islam, para klien dan sarana prasarana.
Bab ketiga, membahas tentang pembinaan agama Islam terhadap manula di Panti Wredha Budi Dharma yang meliputi : dasar dan tujuan diadakan pembinaan agama Islam, subyek dan obyek pembinaan agama Islam, metode dan media pembinaan agama Islam, hasil yang dicapai serta faktor penghambat dan pendukung pembinaan agama Islam di Panti Wredha Budi Dharma Ponggalan Umbulharjo Yogyakarta.
Bab keempat, memberikan analisis mengenai  pembinaan agama Islam terhadap lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma.
Bab kelima, merupakan akhir dari penelitian skripsi yang berisi kesimpulan, saran-saran dan kata penutup.
BAB II

GAMBARAN UMUM PANTI WREDHA BUDI DHARMA

LETAK GEOGRAFIS

Panti Wredha Budi Dharma terletak kira-kira 1 km kearah selatan dari terminal lama melewati Jl. Pramuka dan 500 m sebelum terminal baru di Giwangan, tepatnya di Desa Ponggalan UH VII / 203, Rt 14 Rw V  Umbulharjo Kotamadya Yogyakarta, secara geografis berbatasan dengan daerah-daerah sebagai berikut :
Sebelah Utara     : Desa Tegal Gendu, Kecamatan Kota Gede.
Sebelah Timur    : Desa Karangsari, Kecamatan Kota Gede.
Sebalah Selatan  : Desa Ponggalan, Kecamatan Umbulharjo.
Sebelah Barat     : Desa Giwangan, Kecamatan Umbulharjo.
Letak Panti Wredha ini sangat strategis. Yaitu terdapat di daerah yang masih bernuansa pedesaan sehingga udaranya masih belum begitu terkena polusi serta mudah terjangkau dengan  alat transportasi. Jika ingin berkunjung ke Panti tersebut dari arah kampus UIN hanya menggunakan satu jalur bis yang menuju kearah sana karena terdapat jalur  utama menuju terminal Giwangan.[27]
Panti ini didirikan diatas tanah seluas kurang lebih 5769 m2 dan luas bangunan 591 m2. Area yang cukup luas memberikan kenyamanan tersendiri bagi para penghuni panti. Pepohonan yang cukup rindang dan tanaman hias yang terdapat di sekitarnya menambah kenyamanan dalam menikmati suasana panti.
SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA PANTI WREDHA BUDI DHARMA DAN PERKEMBANGANYA
Panti Wredha Budi Dharma didirikan untuk mengatasi permasalahan yang menjadi tanggungjawab pemerintah dalam mengamalkan UUD 1945 Pasal 43 yaitu : “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”.
Permasalahan tersebut antara lain :
  1. Ketiadaan sanak keluarga, kerabat dan masyarakat lingkungan yang dapat memberikan bantuan tempat tinggal dan penghuninya.
  2. Ketidak mampuan keuangan atau ekonomi  dari keluarga untuk menjamin penghidupan yang layak.
  3. Kebutuhan penghidupan tidak dapat terpenuhi melalui lapangan kerja yang ada.
Dari permasalahan-permasalahan tersebut, maka pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Yogyakarta mendirikan sebuah panti yang diberi nama Panti Wredha Budi Dharma. Panti ini berdiri sejak th 1952. Sebagai pencetus adalah Bapak Budhi Haryono dan Bapak Dharmo. Terletak di Jl. Solo No. 63 Yogyakarta (sekarang Hotel Sri Manganti)
Pada waktu itu panti ini masih bersifat umum yaitu menampung anak-anak nakal (anak-anak gepeng), para gelandangan, tuna wisma maupun jompo terlantar. Kurang lebih berjalan 15 tahun, pemerintah memisah panti ini berdasarkan kelompoknya sebagai berikut :
  1. Anak terlantar ditempatkan di Gowongan Kecamatan Jetis Yogyakarta.
  2. Para Gepeng berada di kampung Karanganyar Kecamatan Mergangsan  Yogyakarta.
  3. Panti Jompo ditempatkan di rumah Bapak Mulyoharjono di Tegalgendu Kecamatan Kotagede Yogyakarta.
Panti jompo tersebut pindah ke Tegalgendu pada tanggal 15 Agustus 1967 dengan kondisi mengontrak rumah penduduk selama 10 tahun. Kemudian pada tahun 1976 panti ini baru dipindahkan secara resmi di kampung Ponggalan Kecamatan Umbulharjo hingga sekarang ini. Sebagian besar penghuni panti ini berasal dari hasil razia. Hingga sekarang ini terdapat lebih dari 60 klien dan telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam segi apapun.[28]

DASAR DAN TUJUAN BERDIRINYA

Panti Wredha Budi Dharma adalah tempat yang memberikan cinta dan kasih sayang terhadap orang tua khususnya bagi mereka yang terlantar hidupnya. Di panti sosial ini para lanjut usia mendapatkan pelayanan dan terpenuhi kehidupanya.
Adapun dasar-dasar didirikanya panti adalah sebagai berikut :
1.                              Landasan Idiil Pancasila.
2.   Landasan Strukturil UUD 1945
a.       Pasal 34             :   “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”.
b.      Pasal 27 ayat 2  :   “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”.
3.   Landasan Operasional
a.       Undang-undang No. 4 tahun 1965 tentang pemberian bantuan penghidupan orang jompo.
b.      Undang-undang No. 6 tahun 1975 tentang ketentuan-ketentuan pokok kesejahteraan sosial.
c.       TAP MPR No. 2 / 1983 tentang GBHN, bidang kesejahteraan sosial antara lain bahwa pemeliharaan dan penyantunan sosial bagi orang-orang lanjut usia yang tidak mampu, fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu dan rehabilitasi bagi orang tersesat dilaksanakan dengan bekerja sama dengan masyarakat dan lembaga-lembaga sosial (Dep Sos, 1987: 7)
4. Landasan teknis, profesi pekerjaan sosial yang mempunyai tujuan dan prinsip-prinsip khusus.
Adapun tujuan pendirian panti adalah untuk menyantuni dan merawat lanjut usia yang terlantar disebabkan antara lain karena kemiskinan, ketidakmampuan, baik secara fisik maupun ekonomis. Dengan demikian kebutuhan-kebutuhan mereka dapat terpenuhi baik jasmani dan rohani sehingga dapat menikmati hari tuanya dengan ketentraman lahir dan batin.
Sedangkan visi misi didirikanya Panti wredha Budi Dharma berdasarkan sumber data adalah sebagai berikut :
1.      Visi
      Meningkatkan kesejahteraan sosial yang adil, oleh dan untuk masyarakat serta terwujudnya kemandirian masyarakat dalam pembangunan.
2.      Misi
    1. Meningkatkan harkat, martabat dan kualitas hidup, mencegah, mengatasi dan melayani penyandang masalah kesejahteraan sosial serta menggalang potensi sumber kesejahteraan sosial.
    2. Mengembangkan sistem perlindungan jaminan sosial.
    3. Memperkuat ketahanan dan integritas sosial.
    4. Memberdayakan individu atau kelompok masyarakat dalam pembangunan.[29]


STRUKTUR ORGANISASI DAN PEMBAGIAN TUGAS

Struktur Organisasi
Ketua UPDT

 

              Bendahara               Staf Umum & RT         Staf Pelayanan    Staf Bang/Ling

 

   Harian Lepas
                                                   
              Juru Masak            Pramurukti               Penggali Kubur                 Keamanan
Keterangan :
Kepala UPDT                                  : Dra. Haniyah
Staf  Umum dan RT                        : Desi RS Kristyanto
Bendahara                                       : Windarti
Staf Pelayanan                                : Suharto
                                                          Suhardi
Staf Bangunan / Lingkungan         : Wijayadi
Harian Lepas / Tenaga Dapur        : Suginah
                                                         Subaryani
                                                         Kecuk Suwandi
Pramurukti                                     : Imron
                                                         Priyono
                                                         Ratna Kristiana
Penggali Kubur                             : Heru Fitrianto
Keamanan                                     : Sutapan
                                                        Anang Rustanto
                                                        Rita C Cahyo
                                                       Andri H                      
Pembagian Tugas
 Kepala UPDT
Menghimpun dan mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijaksanan teknis, pedoman dan petunjuk teknis serta bahan-bahan lainya yang berhubungan dengan tugas-tugas pengelolaan Panti Jompo sebagai pedopan dan landasan kerja.
Mengumpulkan, mengolah data dan informasi, menginventarisasi permasalahan-permasalahan serta melaksanakan pemecahan permasalahan yang berhubungan dengan tugas-tugas bidang pengelolaan Panti Jompo.
Menyusun program kerja dan anggaran UPDT Panti Jompo.
Melaksanakan penyantunan bagi orang jompo dalam panti dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, papan serta kebutuhan mental spiritual.
Melaksanakan ketatausahaan dan rumah tangga UPDT Panti Jompo.
Menyiapkan bahan telaahan stef sesuai bidang tugasnya.
Melaksanakan evaluasi dan menyusun laporan pelaksanaan tugas Panti Jompo.
Melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan bidang Panti Jompo yang diberikan oleh Kepala Dinas Sosial.[30]
b.   Staf Umum & RT
Melaksanakan perintah dari atasan sesuai dengan petunjuk dan pengarahan
Menyusun kegiatan rutin, terhadap dan insidentil yang mengacu pada rencana kegiatan atasan.
Menyelenggarakan tata cara, persiapan dan pengadaan perlengkapan yang diperlukan dalam penyelenggaraan tata cara kegiatan Sub Sie Perawatan penghuni penti.
Menyelenggarakan tata cara, menghimpun bahan-bahan laporan orang lanjut usia dari pendataan kecamatan maupun kelurahan dari keluarga atau masyarakat yang menyerahkan orang lanjut usia.
Menyelenggarakan tata cara kegiatan penyelenggaraan perawatan, pendidikan, ketrampilan, pendidikan kerohanian dan kegiatan lain yang berkaitan dengan instansi tertentu.
Menyusun bahan laporan pelaksanaan semua kegiatan lain yang berkaitan dengan instansi tertentu.
c.   Bendahara
1)      Membuat rencana belanja kebutuhan  Sub Sie Perawatan penghuni panti dengan mencatat dalam buku bantu agar segala kegiatan keperluan tercukupi sesuai anggaran yang tersedia
2)      Menyerahkan rencana belanja kepada pemimpin dan pihak yang bersangkutan dengan menunjukkan konsep pembelanjaan untuk mendapatkan persetujuan.
3)      Membuat laporan mengenai pelaksanaann tugas dengan tertulis maupun lisan sebagai bahan laporan.
d.   Staf Pelayanan
1)      Melaksanakan perintah atasan sesuai dengan petunjuk dan pengarahan
2)      Menyusun rencana kegiatan yang mengacu kepada jadwal kegiatan panti
3)      Menyiapkan perlengkapan perawatan terhadap penghuni panti dan merinci kebutuhan pelengkapan kamar tidur dan tempat tidur atau mengganti dan mencukupi kebutuhan perlengkapan lain untuk penghuni panti.
4)      Mengontrol penghuni panti dengan melakukan pengawasan keliling keruang-ruang, menertibkan keamanan ruangan, menyarankan menata dan membenahi ruangan.
5)      Memberikan saran dan pengarahan dalam media pertemuan kepada penghuni panti untuk berperilaku baik, rajin, taat dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
6)      Melayani makanan penghuni dan merencanakan membuat daftar menu makanan bergizi, menyerahkan daftar menu kepada juru masak dan membantu memasak dengan cara yang benar, menghidangkan dan menyuapi bila ada yang perlu disuapi agar pelayanan baik dan kesehatan penghuni terjaga.
d.   Staf Bangunan / Lingkungan
1)      Menjaga kebersihan lingkungan panti.
2)      Memperbaiki sarana prasarana apabila terjadi kerusakan
e.       Harian Lepas (Tenaga Dapur) bertugas menyiapkan makanan penghuni     panti.
f.       Pramurukti
1)      Melaksanakan perintah atasan sesuai dengan  petunjuk dan pengarahan.
2)      Melakukan pelayanan dan perawatan kepada penghuni panti.
g.   Penggali Kubur
1)      Mengelola pemakaman mulai dari penggalian sampai selesai pemakaman.
2)      Mengelola perawatan jenazah sampai penguburan.
h.   Keamanan
1)      Melakukan pengawasan terhadap lingkungan panti demi menjaga keamanan.

KEADAAN PENGELOLA DAN KLIEN

Keadaan Pengelola
Pengelola Panti adalah mereka yang  ditunjuk oleh Dinas Kesejahteraan Sosial untuk mengelola Panti Jompo dengan sebaik-baiknya.  Kedudukan pengelola panti berada dibawah naungan Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial dengan status Pegawai Negeri Sipil sebanyak 6 orang.. Untuk lebih memudahkan dan mencukupi segala keperluan, pengelola panti mengangkat lagi pembantu sebagai pegawai honorer. Yang termasuk pegawai honorer adalah mereka yang menduduki jabatan Harian Lepas, Pramurukti, Penggali Kubur dan Keamanan sebanyak 11 orang. Secara keseluruhan pengelola panti  berjumlah 17 orang.
Sedangkan para pembimbing atau pembina khusus dalam setiap kegiatan yang ada, baik keagamaan maupun non keagamaan  adalah mereka yang langsung diterjunkan dari Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial maupun sukarela.
Para pembina tersebut antara lain :
Pembina agama Islam            : Bpk H. Zamzani
                                                        Ibu Bartuni
Pembina musik                      : Rusyadi
Pembina ketrampilan             : Bpk Dariman
Pembina senam Lansia          : Ibu Rochyati
Untuk lebih jelasnya akan kami jelaskan secara khusus status para pembimbing atau pembina agama Islam. Bpk Drs H. Zamzani adalah pembimbing yang ditugaskan langsung oleh Dinas Sosial. Beliau adalah  alumni dari IAIN Sunan Kalijaga Fakultas Usuluddin. Sedangkan Ibu Bartuni adalah pembina suka rela yang mula-mula diundang untuk mengisi pengajian (berhonor). Kemudian atas kemurahanya dan suka rela beliau meminta jadwal khusus untuk mengisi pengajian secarta rutin setiap seminggu sekali yaitu pada hari senin. Beliau seorang pensiunan guru di salah satu SMA yang ada di Yogyakarta.[31]
Para pengelola panti secara langsung maupun tidak langsung harus juga ikut ambil bagian dalam hal pembinaan/siap membina selain memberikan pelayanan atau segala keperluaan dalam pembinaan.
Keadaan Klien
Jumlah klien Panti Wredha Budi Dharma  sampai sekarang ini berjumlah 60 orang, dengan mayoritas klien beragama Islam berjumlah 57 dan sisanya beragama Nasrani. Tidak semua penghuni panti dalam kondisi sehat jasmani. Ada beberapa yang sudah mengalami penyakit-penyakit tua (pikun, rabun, pendengaran berkurang dan lain-lain) meskipun kondisi fisiknya terlihat sehat kira-kira ada sekitar 25 %.[32]
Ditinjau dari segi agama, mayoritas penghuni panti beragama Islam. Terdapat 3 orang penghuni panti yang beragama Nasrani. Sedangkan ditinjau dari segi pendidikan, para lanjut usia yang tinggal di Panti Wredha Budi Dharma adalah berpendidikan SD yang sebagian diantaranya ada yang tidak tamat. Dengan demikian penulis simpulkan bahwa pendidikan mereka sangat rendah.
Keragaman penghuni Panti Wredha Budi Dharma jika dilihat dari segi umur, asal usul, kondisi fisik pendidikan dan pengetahuan serta pengalaman agama yang relatif rendah menyebabkan perilaku yang berbeda-beda. Mereka ada yang suka bercanda, ada yang manja, cepat tersinggung, ada yang tidak betah tinggal panti dan selalu ingin pulang. Hal ini disebabkan karena masih sulit menyesuaikan diri dan masih terbawa dengan kondisi lingkungan dan kebiasaan sebelum masuk panti. Untuk itu mereka memerlukan pendekatan yang berbeda dan menuntut kualitas pembimbing yang bisa menangani mereka dengan sebaik-baiknya..
Latar belakang penghuni panti
Latar belakang lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma adalah sebagai berikut :
1)      Ketiadaan sanak keluarga, kerabat dan masyarakat lingkungan yang dapat memberikan bantuan tempat tinggal dan penghidupanya.
2)      Kesulitan dalam berhubungan maupun komunikasi dengan keluarga dimana selama ini ia tinggal.
3)      Ketidakmampuan  memenuhi kebutuhan hidup mereka disebabkan kondisi fisik mereka maupun tidak adanya lapangan pekerjaan bagi mereka.
Pada hakekatnya tempat tinggal yang paling baik dan nyaman bagi lanjut usia adalah di lingkungan keluarga atau anak cucu mereka, tetapi lanjut usia adalah bagian dari masyarakat yang mengalami banyak persoalan sosial. Kepedulian pemerintah dalam menangani hal ini adalah salah satunya dengan mendirikan panti-panti.
b.   Prosedur penerimaan penghuni panti.
 Prosedur-prosedur yang harus dipenuhi bagi para calon penghuni panti  adalah sebagai berikut :
1)      Usia minimal 60 tahun.
2)      Terlantar (kondisi sosial, ekonomi lemah / tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar).
3)      Sehat jasmani dan rohani tidak berpenyakitan menular yang dinyatakan oleh dokter atau puskesmas setempat.
4)      Mandiri (masih mampu untuk mengurus diri sendiri dan memenuhi aktifitas minimal sehari-hari berupa makan, mandi, ibadah dan lain sebagainya)
5)      Bersedia tinggal di panti dan menerima pelayanan dengan memenuhi aturan yang ada.
6)      Ada penanggung jawabnya.
7)      Mengisi blangko permohonan beserta lampiranya.
c.   Cara-cara penerimaan penghuni panti.
1)      Penyerahan dari masyarakat
Dinyatakan oleh masyarakat sekitar bahwa keadaan sesungguhnya sungguh-sungguh terlantar tidak ada keluarganya, untuk itu perlu disantuni, kemudian oleh aparat desa dilaporkan kepada Dinas Sosial untuk ditangani.
2)      Penitipan dari keluarga yang tidak mampu.
Apabila ada keluarga yang tidak mampu lagi merawat orang tua yang jompo karena ekonominya tidak mencukupi maka dapat dititipkan kepanti dan harus melalui prosedur yang berlaku.
3)      Penitipan dari rumah sakit
Panti Wredha juga menerima penitipan dari pihak rumah sakit Dr. Sarjito untuk ditampung dan disantuni.
4)      Penyerahan dari Dinas Sosial dan Kepolisian dari razia gelandangan.
d.   Jenis pelayanan
Jenis pelayanan yang diberikan oleh Panti Wredha Budi Dharma adalah :
Pelayanan kebutuhan makan dengan pengaturan menu sesuai kebutuhan gizi lanjut usia yang telah dikonsultasiakan dengan Puskesmas.
Penempartan klien di kopel (tempat tidur, kasur, seprei, almari dan pemenuhan kebutuhan sandang).
Pelayanan kesehatan (disediakan obat-obatan, periksa di Puskesmas, periksa Dr. Swasta atau periksa di RSUD Wirosaban)
Bimbingan rohani berupa bimbingan mental keagamaan dan bimbingan masyarakat sebanyak 3 kali.
Bimbingan fisik dilaksanakan dalam bentuk senam khusus lanjut usia seminggu 1 kali.
Bimbingan ketrampilan, pengisian waktu luang dengan kegiatan usaha ekonomi (rekreatif)
Kegiatan lomba dalam rangka kegitan tertentu (Hari Lanjut Usia/Halun pada bulan mei, HUT RI, dan lain sebagainya.
Kegiatan rekreasi di luar panti untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan mengurangi kejenuhan dalam panti yang dilaksanakan satu tahun sekali.[33]
Berikut adalah daftar-daftar klien Panti Wredha Budi Dharma beserta umurnya :
1). Asal dari penyerahan masyarakat/tidak punya keluarga.

No

Nama

Umur

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
34
35
36
37
38
Ny. Yatin
Bp. Sentot
Ny. Samirah
Ny. Warti Suwito
Ny. Titik Maryati
Ny. Pepeh
Ny. Kromodiharjo
Ny. Mujiyah
Ny. Sebrung
Ny. Suratmi
Ny. Leginem
Ny. Surti
Ny. Suharsih
Ny. Mangun
Ny. Mergo Utomo
Ny. Merto Waginem
Ny. Mulyo Hartono
Ny. Siti
Ny. Adnan Aryadi
Ny. Slamet
Ny. Somo Pawiro
Bp. Achiyat
Ny. Tukijah
Bp. Subroto
Bp. Mulyo Suprapto
Ny. Ratinah Kromorejo
Bp. RM. Soerdiyono
Bp. Endro Pratomo
Bp. Sukadi
Ny. Aminah
Ny. Harjo Prayitno
Bp. Kliwon
Ny. Ngatiyem SW
Ny. Siti Salichah
Bp. Sayono
Ny. Nngatinah
Ny. Mulyati
Ny. Dwi Romiyah
Ny. Malijah
Bp. Karso Sentono
Bp. Suparjo
Bp. Sukidi Harjowiyono
77
85
83
81
63
71
86
81
90
91
91
86
76
84
81
79
82
78
83
79
79
78
105
80
80
83
76
75
75
78
81
69
86
76
79
77
78
60
78
79
71
76
2).  Asal dari penyerahan Poltabes.

No

Nama

Umur

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Ny. Surip
Bp. Suharto
Ny. Parjilah
Bp. Suwandi
Ny. Suparmi
Bp. Sutejo
Bp. Sagiman
Bp. Kristanto
Bp. Guntoro
Ny. Martinah
Ny. Pardilah
Ny. Farida 
73
78
77
79
71
69
74
71
77
71
61
61
3). Asal dari Penyerahan Rumah Sakit Sarjito atau RSJ Magelang.

No 

Nama

Umur

1
2
3
4
5
Bp. Salimin
Ny. Tukiyem
Ny. Sara
Ny. Rondiyah
Ny. Rubinem
77
68
65
64
77

SARANA PRASARANA

Sarana dan prasarana yang ada di Panti Wredha Budi Dharma telah tergolong cukup bahkan lebih dari cukup. Sarana prasarana tersebut dapat dikategorikan sebagai berikut :
1. Sarana fisik, antara lain :
– 8 Kopel
– 1 gudang
– 1 dapur
– 1 aula (pendopo) untuk pertemuan.
– 1 mushola.
– 1 Rumah dinas pimpinan (kantor)
–    1 tempat parkir sepeda
Untuk memperjelas dari saran yang. berupa fasilitas fisik dapat penulis terangkan sebagai berikut : 8 kopel berfungsi sebagai tempat tinggal para lanjut usia, tiap kopel mempunyai luas 8×10 m2, dan tiap kopel berisi rata-rata 9 orang. Tiap kopel terdapat 1 kamar mandi dalam. Gudang merupakan tempat penyimpanan barang-barang fasilitas yang dimiliki panti terletak disebelah belakang kantor. Dapur tempat menyiapkan makan para penghuni dan pengelola.
Aula atau pendopo pertemuan sebagai tempat pembinaan, baik keagamaan (pengajian) maupun non keagamaan serta tempat berbagai acara pertemuan. Sedangkan mushola berfungsi sebagai tempat untuk sholat berjamaah dan berdzikir bagi para lanjut usia. Ruang kantor sebagai tempat ruang kerja pimpinan dan para pengelola, juga terdapat tempat/ruang untuk menerima tamu.
2.                                          Sarana peralatan kantor dan rumah tangga.

 

Nama Barang

Jumlah

Keterangan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
35
36
37
Keranda jenazah
Kursi roda
Krek/penyangga badan
Alat bantu jalan
Mesin cuci
Almari Es
Pesawat TV
Werelles
Penyangga micropon
Micropon
Radio tape
Timbangan badan
Kompor gas
Jam dinding
Mesin ketik
Bed besi
Bed kayu
Almari sorok
Almari kayu
Almari makan
Almari klien
Zice
Kursi klien
Kursi taman
Kursi lipat merah
Kursi krom hitam
Meja tulis
Meja kayu
Meja panjang
Meja makan
Gerobag dorong
Filling kabinet
Tensi meter
Amplifier
Tape recorder
Mesin potong rambut
Pesawat telepon
Kamera Foto
1 buah
3 buah
2 buah
1 buah
1 buah
1 buah
5 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
7 buah
2 buah
40 buah
28 buah
1 buah
1 buah
4 buah
25 buah
1 buah
50 buah
15 buah
84 buah
3 buah
17 buah
3 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 bauh
1 buah
1 buah
Rusak
3.      Sarana transportasi

No

Nama Barang

Jumlah

Keterangan

1
2
Mobil Pick Up
Sepeda
1 buah
1 buah
Layak pakai
Layak pakai
4.                                           Barang-barang habis pakai.
No

Nama Barang

Jumlah

Keterangan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
Baskom
Wajan
Soblok
Panci
Parut
Gilingan daging
Jrigen minyak
Ember
Tikar
Kalkulator
Papan tulis
Nampan/baki
Termos
Brankas
Piring milamine
Mangkok milamine
Cangkir milamine
Cangkir mug
Piring putih
Piring coklat
Piring coklat kecil
Sendok
Gelas
Ceret
Kompor minyak
Pacul
Arit
Gergaji
Sekop
Pukul besi
Tang
Kunci Inggris
Linggis
Kasur persediaan
Bantal persediaan
Jumbo
Seprei
Rontek
Bendera merah putih
Taplak meja panjang/besar
Taplak meja
Urung bantal
Pakaian pantas pakai (kebaya, blues, dll)
Kain kafan
Mikser
Tangga aluminium
Loyang
4 buah
6 buah
2 buah
6 buah
2 buah
1 buah
4 buah
2 buah
4 lembar
2 buah
2 buah
2 buah
1 buah
1 buah
42 buah
12 buah
14 buah
22 buah
60 buah
50 buah
18 buah
8 dosin
8,5 dosin
5 buah
7 buah
3 buah
3 buah
2 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
10 buah
10 buah
2 buah
14 buah
8 pasang
2 buah
2 buah
5 buah
29 buah
3 dos
1 lembar
1 buah
1 buah
1 buah
Semua tersebut adalah sarana prasarana yang ada di Panti Wredha Budi Dharma  yang telah terdata. Masih banyak lagi tambahan-tambahan inventaris yang telah masuk untuk melengkapi segala keperluan yang belum terdata. Untuk lebih sempurnanya data ini akan diperbaharui oleh pengelola panti pada kesempatan yang lain.[34]
G. KEGIATAN YANG ADA DI PANTI WREDHA BUDI DHARMA DAN SUMBER DANANYA
1.   Bentuk-bentuk kegiatan
Kegiatan yang ada di Panti Wredha Budi Dharma dapat dikategorikan menjadi dua yaitu yang bersifat rutin dan bersifat sementara.
a.       Kegiatan yang bersifat rutin meliputi :
1)   Bimbingan penyuluhan agama
Kegiatan penyuluhan agama terlaksana 2 kali pertemuan dalam seminggu. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengatasi problem agama yang mereka anut dan mau mengamalkan ajaran agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
2)   Pengajian bersama masyarakat sekitar yang terlaksana 1 minggu sekali.
2)      Penyuluhan ketrampilan
Kegiatan ini dilakukan atas kerjasama antara Dinas Sosial dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam kegiatan ini para lanjut usia diajari membuat sapu, sulak, keranjang, menyulam dan lain-lain sehingga mereka dapat mengisi waktu kosong dengan sebaik-baiknya (tidak jemu).
3)      Pemeriksaan kesehatan.
   Setiap bulan para lanjut usia mendapatkan pemeriksaan kesehatan.
4)      Pemeliharaan kebersihan.
Bagi para lanjut usia yang masih kuat diwajibkan untuk  membersihkan kamar masing-masing dan halaman sekitar.
b.Kegiatan yang bersifat sementara
Adalah kegiatan kegiatan yang diadakan pada waktu-waktu yang berhubungan dengan peristiwa tertentu. Kegiatan ini bersifat sementara atau kadang-kadang dilaksanakan atau tidak, hal ini sesuai dengan kondisi. Kegiatan-kegiatan ini dilaksanakan sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan emosi, jiwa dan intelegensinya. Kegiatan yang bersifat sementara meliputi :
a.       Kegiatan yang bersifat partisipatif yaitu kegiatan yang berkaitan dengan PHBI, ruwahan dan ramadlan.
b. Kegiatan atau acara yang dialkukan apabila ada tamu atau para simpatisan yang datang dan perlu disambut.
c. Penggunaan waktu luang (rekreasi, melidhat dan mendengarkan radio, jalan-jalan kesekitar panti)
2.                              Jadwal  kegiatan

No

Hari

Nama Kegiatan

Waktu

1
Senin
Pengajian
08.00-10.30
2
Selasa
Musik
08.00-11.00
3
Rabu
Pengajian
08.00-10.30
4
Kamis
Ketrampilan
08.00-14.00
5
Jumat
Senam Lanjut Usia
08.00-selesai
6
Sabtu
Kerja Bakti
08.00-11.00
7
Minggu
Pembinaan agama bagi yang Nasrani
Bersantai
08.00-10.30
3.      Sumber dana
Panti Wredha Budi Dharma memperoleh dana dari APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kotamadya Yogyakarta dan Yayasan Dharmais Jakarta. Selain itu dana berasal dari simpatisan atau masyarakat dermawan berupa uang, pakaian maupun makanan serta dari hasil kerajinan tangan yang telah laku terjual.[35]

BAB III

PEMBINAAN AGAMA ISLAM DI PANTI WREDHA BUDI DHARMA PONGGALAN UMBULHARJO YOGYAKARTA

A.      KEGIATAN DALAM RANGKA PEMBINAAN AGAMA ISLAM

Di Panti Wredha Budi dharma ada beberapa kegiatan yang bertujuan memberikan pembinaan agama Islam bagi para lanjut usia, antara lain:
1.      Pengajian
Pengajian yang dimaksud adalah suatu proses pembinaan terhadap lanjut usia melalui pendekatan pendidikan agama disampaikan secara face to face oleh pembina. Pengajian ini merupakan pokok dari pembinaan agama Islam dimana semua materi agama Islam (aqidah, ibadah, akhlak, sejarah) dapat disampaikan pada kesempatan ini. Kemudian dalam pelaksanaan praktek diberikan binaan tersendiri, seperti sholat berjamaah.
Pelaksanaan pengajian langsung dipimpin oleh pembina agama yang dibuka dengan salam kemudian berdoa bersama-sama membaca surat Al Fatehah dan doa mulai belajar. Dilanjutkan dengan memberikan kesempatan untuk  hal-hal yang perlu disampaikan atau pengumuman kepada para lanjut usia. Setelah itu memasuki acara inti yaitu pengajian atau ceramah keagamaan dari pembina yang pertama-tama pembina memberikan kesempatan bertanya tentang materi kemarin yang belum jelas dan menerangkan sebentar, diteruskan dengan pembahasan masalah baru. Disambung dengan session
tanya jawab seputar materi yang belum dipahami dan apa saja yang perlu ditanyakan tentang materi agama Islam. Terakhir adalah penutup yang ditutup langsung oleh pembina dengan salam pula.[36] 
Maksud diadakan pengajian ini agar para lanjut usia dapat mempertebal dan memperdalam pengetahuan tentang agama Islam terutama masalah keimanan. Selanjutnya para lanjut usia diharapkan melaksanakan syariat Islam dan dengan penuh kesadaran melaksanakan semua ajaran agama Islam.
Pengajian ini dilaksanakan 2 kali pertemuan dalam seminggu yang secara rutin dilaksanakan pada hari Senin dan  Rabu. Sesuai jadwal, pengajian ini dimulai pada pukul 08.00 sampai 10.30. Tempat pelaksananaan pengajian yaitu di aula atau ruang pertemuan dengan diikuti sekitar 37 lanjut usia.
Tidak semua klien bisa mengikuti pengajian ini karena kondisi fisik yang sudah tidak memungkinkan lagi atau sudah udzur (pikun), sehingga pengajian ini tiap kali pertemuan kira-kira diikuti sekitar 65 % dari jumlah lanjut usia secara keseluruhan.
Pengajian ini sifatnya tidak diwajibkan, akan tetapi dianjurkan bagi klien. Dengan penuh kesadaran para klien dapat mengikutinya. Untuk lebih memotivasi para lanjut usia, dalam setiap pengajian disediakan snack dan minuman.[37]
Selain ada pengajian di panti,  ada pengajian mingguan di rumah penduduk sekitar secara bergiliran. Klien lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma diberi kesempatan untuk mengikutinya. Namun tidak banyak yang bisa mengikuti karena kondisi fisik mereka. Artinya pengajian bersama penduduk hanya diperuntukkan bagi yang mampu atau kondisi fisiknya masih kuat.
Pengajian agama diberikan setiap hari secara rutin pada bulan Ramadhan. Pada  bulan Ramadhan ini pengajian terlaksana disela-sela shalat Isya dan sholat Tarawih. Sedangkan di bulan Ramadhan, pengajian rutin 2 kali seminggu diskors.
2.      Pembinaan sholat berjamah
Sholat adalah tiang agama yang harus ditegakkan dan dikerjakan oleh setiap umat. Sholat yang wajib dikerjakan adalah shalat fardhu 5 kali dalam sehari semalam. Dalam rangka pembinaan ibadah shalat, di Panti Wredha Budi Dharma  diadakan shalat berjamaah 5 kali yang bertempat di mushola. Hal ini bertujuan agar para lanjut usia termotivasi untuk mengerjakan shalat dengan tepat.
Pelaksanaan shalat berjamaah ditandai dengan adzan terlebih dahulu oleh salah satu penghuni panti dan sebagai imam adalah para pengurus yang terkadang juga salah satu dari klien. Untuk shalat Jumat dilaksanakan bergabung dengan penduduk sekitar. Tidak semua klien putra juga dapat mengikuti shalat jumat akan tetapi diikuti bagi yang kondisi fisiknya masih memungkinkan.
Selain pembinaan shalat wajib juga diajarkan shalat sunnat Ghaib yaitu shalat yang ditujukan untuk menyalatkan mayat. Hal ini dipandang perlu karena untuk meningkatkan rasa solider terhadap sesama lanjut usia yang sudah tua dan jauh dari sanak saudara  serta persamaan nasib dalam menunggu panggilan sang Kuasa. Shalat Ghaib juga biasa  mereka lakukan apabila tetangga sekitar Panti Wredha Budi Dharma ada yang meninggal dunia.
Terkadang sebelum pengajian dimulai diadakan shalat Dhuha berjamaah. Shalat Dhuha ini dipimpin oleh pembina agama. Pelaksanaan shalat Dhuha tidak terjadwal secara pasti.
Sholat Tarawih juga sebagai shalat sunnat dibulan Ramadlan yang tak lupa pula pihak panti menyelenggarakan shalat tarawih berjamaah. Selain itu juga diadakan shalat Idul Fitri dan Idhul Adha bergabung dengan penduduk kampung.
3.      Pembinaan Ibadah Puasa
Dalam pembinaan  ibadah puasa pembina tak jarang memberikan materi tentang puasa wajib. Pembina mengajak para lanjut usia yang masih mampu untuk melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadlan.
Untuk mendukung kegiatan ibadah puasa diadakan buka puasa bersama dan dilanjutkan shalat magrib sampai shalat sunnat tarawih dan tadarus bagi yang bisa baca Al Quran.

B.  UNSUR-UNSUR PEMBINAAN AGAMA ISLAM

1.  Dasar dan Tujuan Pembinaan Agama Islam
Dalam setiap kegiatan, baik kegiatan yang berskala kecil maupun yang berskala besar pasti mempunyai dasar dan tujuan tertentu. Dasar suatu kegiatan dimaksudkan untuk menjadi landasan dan tempat berpijak serta memberikan arah pelaksanaan kegiatan tersebut. Sedangkan tujuan merupakan suatu yang ingin dicapai dengan adanya kegiatan tersebut. Begitu juga dengan kegiatan yang ada di Panti Wredha Budi Dharma, kegiatan ini dilaksanakan atas dasar dan tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebalumnya.
Adapun dasar dari pelaksanaan pembinaan agama Islam bagi lanjut usia adalah pelaksanaan dari QS. Al Ma’un ayat 3 dan QS. At Tahrim ayat 6 yang berbunyi :
ياأيها الذين ءامنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا… (التحريم: 6)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.[38](Q.S. At Tahrim : 6)
Dari dasar ini, maka pihak panti memutuskan untuk membimbing dan membina keagamaan para lanjut usia.
Menurut Bartuni selaku pembina agama Islam, pembinaan agama Islam di  Panti  Wredha  Budi  Dharma  bertujuan  untuk  membantu  para  lanjut usia agar dalam kehidupanya dapat mencapai derajat Husnul Khotimah.[39]
Sedangkan menurut Haniyah selaku ketua Panti Wredha Budi Dharma, tujuan pembinaan agama Islam adalah memberikan bekal terhadap lanjut usia dalam rangka untuk menghadapi masa tua yang hampir habis dengan bertaqwa dan mendekatkan diri pada Allah agar jiwanya tenang berbahagia dunia akherat.[40]
Hal yang sedemikian ini sangat perlu dilakukan sebab para lanjut usia tersebut berlatar belakang terlantar dari keluarganya, tidak tercukupi hidupnya. Dalam kondisi seperti ini tentunya Panti Wredha Budi Dharma tidak bisa tinggal diam, bertindak secara tepat untuk membantu mereka. Jalan yang tepat untuk mengatasi segala permasalahan yang menimpa para lanjut usia ini yang paling tepat adalah melalui ajaran agama Islam.
Menilik dasar dan tujuan tersebut, jelaslah bahwa pelaksanaan Pembinaan agama Islam bagi para lanjut usia di Panti tersebut mempunyai dasar yang kuat dan tujuan yang sangat mulia dan terarah, terprogram sesuai dengan aturan yang berlaku.
4.      Subyek dan Obyek Pembinaan Agama Islam
Pelaksana pembinaan agama Islam sebagai subyek dari pembinaan agama Islam atau pembina agama Islam adalah pihak yang ditentukan langsung dari Dinas Sosial Kota Yogyakarta dan pembina honorer yang dipanggil oleh pengelola panti jika sewaktu-waktu diperlukan atau siapa saja yang secara suka rela memberikan dan mencurahkan waktunya untuk membimbing dan membina para lanjut usia.
Para pengurus selaku pengelola panti juga terlibat dalam pembinaan agama Islam ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Seperti halnya dalam praktek ibadah sholat wajib, menyiapkan tempat dan lain-lain yang sifatnya membantu dalam pelaksanaan pembinaan agama Islam.
Pada kesempatan tertentu, terlaksana pembinaan agama Islam secara intensif yang dikelola oleh anak-anak PPL dari Perguruan Tinggi yang ada di Yogyakarta ini. Pembinaan dari PPL tidak merubah jadwal yang telah ada. Hal ini berarti pembina sewaktu-waktu dapat bertambah.
Dalam menyampaikan materi, para pembina menggunakan metode ceramah yang diselingi dengan metode tanya jawab, metode demonstrasi, metode cerita dan tidak ketinggalan pula metode keteladanan.
Berkaitan dengan teori yang diberikan, para pembina diserahi untuk menyampaikan materi sesuai dengan keilmuanya. Tidak menutup kemungkinan materi satu dikaitkan dengan materi yang lain. Agar materi tersebut mudah diterima, para pembina menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh para lanjut usia. Mayoritas penghuni panti adalah orang Jawa pendidikan rendah, kurang mengenal bahasa Indonesia dengan baik dan benar, maka pembina sering menggunakan bahasa Jawa.
Yang menjadi sasaran atau obyek penerima pembinaan yang dilaksanakan di Panti Wredha Budi Dharma adalah para lanjut usia yang usianya 60 tahun keatas. Mereka adalah orang-orang yang sangat memerlukan bantuan secara fisik maupun psikis, moral maupun spiritual. Secara ekonomi mereka memerlukan bantuan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sedangkan secara psikologis mereka sangat memerlukan dorongan untuk menjadi orang-orang yang berbahagia di dunia maupun di akherat.
Dalam kondisi fisik yang sudah tua, kebutuhan ekonomi yang tak tercukupi, sanak saudara yang jauh dari mereka mengakibatkan kondisi mental menurun sehingga segala permasalahan terjadi pada para lanjut usia. Kondisi seperti ini yang mengakibatkan para lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma sangat membutuhkan perhatian yang serius terutama masalah agama.
5.      Materi Pembinaan Agama Islam
Adapun materi-materi yang disampaikan kepada para lanjut usia adalah sebagai berikut :
a.       Pembinaan Aqidah
Akidah merupakan materi terpenting yang harus disampaikan dalam pembinaan agama Islam karena menyangkut kepercayaan terhadap Alloh SWT. Yang diberikan dalam pembinaan aqidah adalah masalah yang menyangkut taqwa kepada Allah SWT, sifat-sifat Allah dan segala materi tentang keimanan terhadap Alloh beserta hal-hal yang perlu diimani seperti terhadap malaikat, kitab, rosul, hari akhir, qodho dan qodhar.
Hal terpenting dalam menyampaikan materi aqidah agar diterima dengan mudah oleh para lanjut usia adalah menerangkan sifat-sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, sehingga para lanjut usia merasa aman dan tentram serta dijauhkan dari rasa takut.[41]
Dengan materi rukun iman diharapkan para lanjut usia akan merubah segala tingkah laku atau perbuatanya agar lebih diperbaiki dan dengan sadar menjalankan ajaran agama Islam. Dengan ketaqwaan, para lanjut usia akan membuat hidup mereka diliputi rasa aman tentram lahir dan batin dalam mengisi sisa usianya, sehingga tidak merasa takut dalam menghadapi kematian.
Berdasarkan observasi, dengan adanya materi pembinaan aqidah para lanjut usia menunjukkkan adanya ketaqwaan kepada Allah, seperti halnya yang telah dialami oleh dua orang lanjut usia yang mula-mula beragama Nasrani menjadi beragama Islam.
b.      Pembinaan Ibadah
Pembinaan ibadah ini diberikan karena ibadah merupakan suatu hal yang dapat menjadikan jembatan yang menghubungkan makhluk dengan Tuhanya agar selalu dekat.
Sesuai dengan hadits Nabi bahwa Islam itu dibina atas 5 sendi, maka materi yang diberikan dalam pembinaan ibadah adalah tentang rukun Islam. Materi utama yang sering dan selalu dianjurkan untuk dilaksanakan adalah tentang shalat dan berpuasa agar para lanjut usia mangerjakan shalat dan berdzikir secara rutin. Wujud kongrit dari pelaksanaan materi ini adalah adanya shalat berjamaah.
c.       Materi Akhlak.
Materi akhlak diberikan untuk membimbing para lanjut usia agar berakhlak mulia, berperilaku baik dalam sendi apapun. Dengan akhlak yang mulia para lanjut usia dapat hidup rukun, saling menyayangi dan mengasihi sesama.
Konflik yang sering muncul di panti adalah adanya saling percekcokan (padu) satu sama lain.[42]Hal tersebut menggugah para pembina untuk menyampaikan materi Akhlak kapada mereka agar saling hidup rukun. Hal ini terbukti dalam pengajian hari Senin tanggal 4 Oktober 2004 ada seorang simbah yang bertanya kepada pembina tentang hukum mengolok-olok atau menggunjing dan bagaimana sebaiknya mensikapinya.[43]Dengan tegas pembina mengatakan bahwa hal itu tidak boleh dan bagi yang diolok-olok atau digunjing sebaiknya berlapang dada dan memohon ampun kepada Allah.
d.      Materi Sejarah Nabi
Materi sejarah Nabi diberikan kepada para lanjut usia dimaksudkan agar mengetahui perjuangan, amal dan akhlaq perbuatan para Nabi dan kemudian dapat mengenalnya. Materi sejarah atau kisah para Nabi biasanya diberikan sebagai contoh dari materi-materi yang lain.
Materi-materi tersebut tidak diberikan secara khusus pada waktu tertentu atau ditetapkan sebelumnya, tapi diberikan tanpa terjadwal. Jadi materi terserbut diberikan kapan saja tanpa terikat oleh jadwal. Kadang materi dibarikan atas dasar pertanyaan yang diajukan oleh para lanjut usia sehingga pembina menjabarkan secara panjang lebar dan dikaitkan dengan yang lain. Terkadang materi juga diambil dari sebuah ayat Al Quran lalu diterjemahkan dan dijabarkan secara meluas.[44]
6.      Metode Pembinaan Agama Islam
Ada beberapa metode yang digunakan di panti Wredha Budi Dharma, sebab satu metode dirasa belum lengkap dan setiap metode mempunyai kekurangan dan kelemahan. Dengan menggunakan beberapa metode, diharapkan kesalahan dan kekurangan dapat tertutupi.
Adapun metode-metode yang dipakai dalam pembinaan agama Islam di Panti Wredha Budi Dharma adalah sebagai berikut :
a.       Metode Ceramah
Metode ini paling sering digunakan dalam pembinaan agama Islam karena paling efektif dan efisien. Dalam metode ceramah ini pembina menyampaikan materi dengan jalan berbicara secara langsung dihadapan para lanjut usia dan para lanjut usia mendengarkanya. Misalnya dalam menerangkan materi aqidah terutama masalah rukun iman.
b.      Metode Cerita
Metode cerita gunanya hampir sama dengan metode ceramah, hanya saja metode ini lebih banyak digunakan dalam menceritakan tentang kisah Nabi terdahulu atau peristiwa-peristiwa yang perlu diambil hikmahnya. Misalnya dalam rangka memperingati Isro’ Mi’roj Nabi SAW diisi dengan ceramah cerita tentang perjalanan Nabi ketika Isro’ Mi’roj.
Selain cerita tentang sejarah Nabi, pembina menggunakan metode ini dalam menceritakan kisah-kisah pengalaman pembina sendiri maupun orang lain yang banyak mengandung hikmah. Contoh  pembina menceritakan  tentang kisah sedihnya  yang perlu disyukuri karena mengandung banyak hikmah. [45]
c.       Metode Tanya Jawab
Metode ini digunakan dengan saling memberikan pertanyaan dan jawaban antara pembina dan lanjut usia. Jadi pembina memberikan kesempatan atau waktu kepada para lanjut usia untuk menanyakan tentang apa saja mengenai agama Islam. Metode ini paling banyak dilakukan sesudah ceramah, tetapi kadang digunakan secara penuh dalam session tertentu.
d.      Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi digunakan untuk lebih memperjelas apa yang telah disampaikan dalam ceramah. Dalam metode ini para pembina memberikan contoh-contoh melalui gerakan. Misalnya pada waktu menerangkan tentang sholat dan aurot, pembina mmemperagakan gerakan-gerakanya dan memperagakan bagaimana memakai sarung dan mukena yang benar.[46]
e.       Metode Keteladanan.
Metode ini dimaksudkan agar para lanjut usia termotivasi dalam melakukan segala peribadatan maupun bertingkah laku. Misalnya para pembina bertutur kata yang baik dalam berceramah, berbusana islami, sholat berjamaah  dan lain sebagainya.
f.       Metode Menghafal
Metode ini diberikan kepada para lanjut usia dengan memberikan materi hafalan do’a sehari-hari, bacaan sholat, kalimat thoyyibah dan lain-lain. Materi ini diberikan disela-sela ceramah pengajian atau 15 menit sebelumnya. Tujuan belajar menghafal ini selain membina perilaku lanjut usia juga membiasakan bagi mereka berkata baik, dapat berdoa dan sholat dengan menggunakan bacaan yang semestinya.
7.      Media Pembinaan Agama Islam
Pertemuan sebagai  sarana dalam pembinaan agama Islam di Panti Wredha Budi Dharma yang berdasarkan teori tergolong media  secara lisan.
Sedangkan alat-alat yang digunakan untuk menunjang sarana pembinaan adalah:
–          Ruangan atau aula dengan beberapa kursi
–          Mushola
Berdasarkan observasi, keadaan sarana atau alat yang digunakan cukup luas dan kursi lebih dari cukup untuk para lanjut usia.
Pembinaan agama Islam dilaksanakan di ruang pertemuan dan kadang-kadang di mushola apabila materinya tentang ibadah. Misalnya dalam pelaksanaan sholat wajib berjamaah, karena untuk menjelaskan materi ini mememerlukan praktek.
Berdasarkan observasi, pembinaan agama Islam tersebut jika ditinjau dari segi subyek, obyek, materi dan metode penyampaianya sudah dikatakan baik karena pembina telah memiliki kecakapan dalam menghadapai para lanjut usia dan dapat memilih metode dan materi secara tepat sesuai dengan taraf para lanjut usia.
C.     HASIL PELAKSNAAN PEMBINAAN ISLAM
Harapan dari suatu pelaksanaan kegiatan adalah memperoleh hasil yang baik. Begitu juga pelaksanaan pembinaan  agama Islam terhadap lajut usia di Panti Wredha Budi Dharma. Sebenarnya kriteria keberhasilan pembinaan agama Islam adalah bagaimana seseorang itu dapat selalu mengingati kematian. Dengan mengingati kematian, seseorang terdorong untuk memanfaatkan dan melakukan kebaikan serta beramal sholeh.
Dalam buku Tamu Terakhir karya Dr. Kholid Abu Syadi disebutkan bahwa:
Sebagian orang sholeh berkata, “Barang siapa yang selalu memperbanyak mengingati kematian, maka ia akan dimuliakan dengan 3 perkara, cepat-cepat bertaubat, hati yang qonaah (menerima dengan lapang segala apa yang diberi oleh Allah), dan giat dalam beribadah. Adapun orang yang lupa akan kematian ia akan dirugikan dengan 3 perkara, menunda-nunda taubat, tidak menerima dengan kerelaan rezeki yang diberikan oleh Allah kepada-Nya dan bermalas-malas dalam melakukan amal ibadah”.[47]
Sedangkan hasil yang diharapkan Panti Wredha Budi Dharma adalah agar para lanjut usia dapat merubah tingkah laku dan perbuatanya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Hasil ini akan nampak pada diri lanjut usia dalam intensitas ibadahnya, perilaku sehari-hari dalam pergaulan terhadap sesama klien, karyawan dan lingkungan.
Pengajian di Panti Wredha Budi Dharma biasanya diikuti oleh sekitar 37  klien. Peneliti melihat bahwa ada semangat dalam diri pada mereka untuk selalu mengikuti. Hal ini terlihat dengan  adanya umpan balik dari mereka. Hasil wawancara dengan mbah Marijah menuturkan bahwa beliau sebenarnya ingin juga mengikuti pengajian yang diadakan oleh masyarakat sekitar namun beliau tidak diperbolehkan mengikuti karena kondisinya yang sudah tidak memungkinkan lagi.
Salah satu bentuk aplikasi dari pembinaan agama Islam adalah pelaksanaan shalat yang diadakan secara berjamah 5 kali dalam sehari. Klien yang dapat mengikuti shalat berjamaah berjumlah sebanyak 9-11 simbah dalam keseharianya. Mereka yang sering dapat mengikuti shalat berjamaah ini antara lain : mbah Suminah, mbah Martinah, mbah Parmi, mbah Pepeh, mbah Malijah, mbah Suwito, mbah Surip, mbah Noto, dll. Ada beberapa lanjut usia yang melaksanakan shalat sendiri di tempat masing-masing karena kondisi fisik mereka yang tidak mampu berjalan sampai mushola. Seperti yang peneliti lihat bahwa mbah Minah  melaksanakan shalat sendiri dikamarnya.[48]
Untuk memulai shalat berjamaah, adzan dikumandangkan oleh salah satu dari mereka. Mbah Suharto adalah salah satu muadzin yang sebelum masuk panti beliau memeluk agama Nasrani. Berkat pembinaan agama Islam beliau dapat melaksanakan syariat Islam seperti shalat, adzan, dan lain-lain.[49]
Dalam pelaksanaan ibadah puasa, tidak semua dapat menjalankan disebabkan karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Namun ada sekitar 50 % mamapu menjalankan ibadah puasa. Berkat bimbingan akhidah, terdapat  beberapa simbah yang mula-mula memeluk agama Nasrani menjadi Muslim. Mereka adalah mbah Titik, mbah Suharto, mbah Sebrung, mbah Sayono. Menurut pengakuan mbah Titik beliau masuk Islam memang karena teman-temanya di Panti Wredha Budi Dharma  yang beragama Islam dan beliau tertarik mau mengikuti pengajian.[50]
Terdapat 10 simbah yang masih sering mengaji yaitu mbah Suminah,  mbah Noto, mbah Suwito, mbah Pepeh, mbah Sularsih, mbah Siti, mbah Somo Prawiro, mbah Farida, mbah Malijah, mbah Santoso. Menurut Sdri Ratna selaku Pramurukti mereka memang sudah bisa dari sebelumnya. Namun jika tidak didukung dengan pembinaan hal ini tidak mungkin terlaksana. Di Panti Wredha Budi Dharma memang tidak diajarkan bimbingan tutorial membaca Al Quran disebabkan keterbatasan kondisi fisik mereka dan sulitnya mengajari baca tulis bagi lanjut usia.
Shalat jumat terlaksana dengan penduduk sekitar yang bertempat dimasjid kampung. Sekitar 4 simbah yang masih sering mengikuti. Mereka antara lain : mbah Slamet, mbah Suwandi, mbah Endro Pramono, mbah Kliwon.[51]
Pertengkaran mulut (padu) secara berangsur-angsur dapat terkurangi. Dalam artian kasus ini tidak terjadi sesering dulu lagi. Hal ini terlihat sering bercanda dan bercengkrama ketika mereka lagi ngumpul.
Berdasarkan wawancara yang telah peneliti lakukan terhadap beberapa simbah bahwa mengikuti pengajian dan mengaplikasikan dengan sholat, berdzikir kepada Allah dan lain-lain dapat menjadikan hidup tenang madep mantep kalian ingkang kuwaos.[52]
BAB IV
ANALISA  PEMBINAAN AGAMA ISLAM DI PANTI WREDHA
BUDI DHARMA
A. PERLUNYA PEMBINAAN AGAMA ISLAM DI PANTI WREDHA BUDI   DHARMA
Pembinaan agama Islam adalah sebuah usaha yang bertujuan untuk mendekatkan diri  seseorang kepada Alloh agar menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa. Proses pembinaan agama Islam terhadap lanjut usia adalah sebuah proses pembinaan kembali.
Dengan agama manusia dapat mengatur dan mengendalikan sikap, pandangan hidup, kelakuan dan cara menghadapi masalah. Tanpa iman dan taqwa kepada Allah semua harta, kedudukan, pangkat dan lain-lain hanya akan membuat hidup sseorang sengsara dan tidak merasa tentram.
Pembinaan agama Islam sebaiknya diberikan dari sejak usia dini, namun pembinaan agama Islam ini juga perlu diberikan kapan saja manakala seseorang belum pernah mendapatkan pembinaan, masih kurang dalam mendapatkan pembinaan dan telah mengalami gangguan mental seperti yang terjadi pada lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma. Hal ini dinamakan dengan proses pembinaan kembali. Segala bentuk gangguan jiwa dan mental hanya akan dapat diatasi melalui pendekatan agama. Gangguan mental yang sering dialami banyak disebabkan karena putus asa. Putus asa banyak disebabkan karena kegagalan dalam segala hal, kemunduran fisik, kemerosotan penghasilan, hilangnya jabatan, usia tua mendekati kematian, hilangnya teman dan lain sebagainya. Hal ini akan menimbulkan efek perilaku seseorang yang kurang baik seperti emosi, mudah marah, cemas, dihinggapi rasa takut dan lain sebagainya. Mendekatkan diri pada Allah adalah salah satu jalan agar ketentraman jiwa tercapai.  Allah berfirman dalam QS. Ar Ra’du ayat 28-29 yang berbunyi :
الذين ءامنوا وتطمئن قلوبهم بذكر الله ألا بذكر الله تطمئن القلوب. الذين ءامنوا وعملوا الصالحات طوبى لهم وحسن مآب (الرعد: 28-29)
Artinya : “(Yaitu) orang-orang yang beriman, hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tentram. (Adapun) orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik”.[53](Q.S. Ar Ra’du : 28-29)
Pembinaan agama Islam yang dilaksanakan di panti Wredha Budi Dharma adalah usaha yang dilaksanakan pemerintah kota Yogyakarta dalam rangka penerapan sistem pendidikan luar sekolah untuk orang yang sudah dewasa dan lanjut usia. Hal ini sangat baik sekali diterapkan karena sesuai dengan apa yang tertera pada Pembukaan UUD ‘45 bahwa pemerintah berusaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Lanjut Usia khususnya yang ada di Panti Wredha Budi Dharma merupakan bagian dari kehidupan bangsa yang banyak mengalami gangguan mental karena berbagai macam  faktor penyebabnya. Untuk itu lanjut usia perlu mendapatkan penanganan yang serius, sehingga tidak ada anggapan bahwa lanjut usia adalah orang yang tidak berguna dan hanya orang dalam usia muda yang perlu diperhatikan. 
Zakiah Daradjat dalam buku Ilmu Jiwa Agama menjelaskan bahwa orang-orang yang gelisah, yang sedang mengalami kegoncangan batin mudah menerima ajakan yang dapat mengeluarkan dari rasa penderitaanya, baik penderitaan itu disebabkan oleh keadaan ekonomi, sosial, rumah tangga, pribadi atau moral. Bujukan itu akan segera diikutinya.[54]Maksudnya bahwa dalam kondisi seperti itu para lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma mudah mengikuti bujukan yang dapat menentramkan jiwa atau batinnya. Hal yang paling tepat adalah membujuk mereka untuk berpegang teguh di jalan Allah melalui sebuah pembinaan yaitu pembinaan agama Islam.
Manusia yang berpegang teguh dijalan Allah adalah manusia yang seutuhnya menurut Islam, yakni manusia yang berkeseimbangan. Untuk mewujudkan manusia seutuhnya itu manusia memerlukan pendidikan (binaan) dan harus mampu membentuk diri sendiri. Pendidikan akan membentuk pribadi manusia yang dilakukan dengan menanamkan akhlak yang baik sesuai tuntunan Al Quran dan Hadits Rasulullah yang shohih. Pendidikan juga harus merubah akhlak yang buruk di dalam jiwa manusia, dengan mengembalikanya pada sifat-sifat baik, atau dengan menjauhkan sifat-sifat tercela menjadi sifat-sifat yang terpuji, dalam mewujudkan kehidupan pribadi (aktualisasi diri), bermasyarakat, berbangsa dan beragama.[55]
Usia tua  adalah masa-masa menikmati apa yang telah didapat di usia muda, baik dalam hal pendidikan maupun harta. Dalam buku karangan Dr. Kholid Abu Syadi yang berjudul Tamu Terakhir disebutkan :
“Ketika orang-orang tua sudah mulai melahirkan anak-anak mereka, Dan ketika mereka mulai merasa renta dan lemah karena tubuhnya sudah tua dan rapuh. Dan ketika mereka telah terbiasa dengan datangnya berbagai penyakit maka ketahuilah bahwa hal itu menunjukkan bahwa masa panen tanaman”.[56] 
Maksud dari karangan tersebut adalah bagi lanjut usia seharusnya bersiap diri menghadapi  kematian dengan menikmati segala apa yang telah didapat di usia muda. Pembinaan agama yang telah diperoleh dapat dijadikan bekal dalam mengisi dan menghadapi usia tua dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Harta yang dicari di usia muda seharusnya menjadi bekal dalam mencukupi kebutuhan  hidup diusia tua. Semua itu akan tercapai dengan persiapan diri sedini mungkin, sehingga menjadi orang yang mencapai derajat husnul khotimah.
Tidak semua orang dapat memanage segala sesuatu dengan mulus. Tidak semua yang direncanakan manusia sama dengan rencana Tuhan dan berhasil dengan baik pula. Hal ini banyak tejadi pada diri lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma. Namun tidak ada kata terlambat bagi pemerintah ataupun umat Islam. Melalui sebuah lembaga dengan nama Panti Wredha budi Dharma pihak pemerintah membina dan membekali mereka. Allah Maha Pengampun dan Penyayang dan tidak mempersulit hambanya, sehingga tidak ada kata terlambat bagi para lanjut usia untuk mulai mencari bekal dalam menghadapi kematian yaitu dengan bertaubat. Bertaubat adalah salah satu jalan bagi lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma agar mencapai derajat husnul khotimah. Mengenai taubat ini telah banyak diterangkan dalam kitab Allah.
Berbagai hal tersebut diatas telah jelas bahwa pembinaan terhadap lanjut usia itu memang benar-benar perlu dilaksanakan. Hal tersebut diatas juga memberikan jawaban kenapa pembinaan Agama Islam terhadap lanjut usia di Panti Wredha Budi dharma sangat diperlukan.
B.  KEGIATAN DAN UNSUR PEMBINAAN AGAMA ISLAM
Pengajian merupakan hal yang paling baik dilakukan untuk memberi dukungan dan dorongan bagi para lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma  agar berpegang teguh pada jalan Allah (Hablu mina al-Allah). Hal ini disebabkan karena mengingat berbagai faktor yang telah terjadi pada diri lanjut usia seperti kondisi fisik yang telah menurun dan latar belakang pendidikan mereka. Lewat ceramah yang menarik seseorang dapat terpengaruhi seperti dalam politik, begitu halnya dalam  pembinaan agama Islam terhadap lanjut usia.
Pembinaan yang diberikan Panti Wredha Budi Dharma  dalam bentuk pengajian, pembinaan shalat berjamaah dan puasa yang selama ini terlaksana telah cukup tergolong baik. Namun, masih perlu ditingkatkan lagi atau ditambah kegiatan-kegiatan yang mampu mendorong para lanjut usia untuk berkehidupan sesuai dengan ajaran agama Islam.
Materi yang diberikan hanya yang berbobot ringan sebatas para lanjut usia dapat menangkap dan memahaminya. Karena daya pikir usia lanjut telah menurun.   Materi yang terpenting untuk disampaikan terhadap lanjut usia adalah seputar tentang pokok-pokok keimanan atau tauhid. Dengan materi ini  jika diuraikan akan meluas menjadi materi akhlak, materi syariah, dan ibadah. 
Metode yang paling sering digunakan dan dianggap baik dalam menyampaikan materi terhadap lanjut usia adalah metode ceramah dengan mayoritas  menggunakan Bahasa Jawa dan harus bersuara lantang. Sedangkan metode yang lain seperti metode tanya jawab, metode cerita, metode  hafalan, metode demonstrasi dan lain sebagainya adalah metode tambahan yang memang juga bagus diberikan sebagai metode pelengkap. Dari semua metode tersebut tidak lain adalah sebuah metode yang kebanyakan menggunakan media lisan. Dan hal ini telah cukup baik untuk digunakan dalam pembinaan agama Islam terhadap para lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma.
Penggunaan media visual seperti televisi, OHP, dan lain-lain hanya akan membuang-buang waktu dan biaya karena kebanyakan dari lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma adalah buta huruf dan tidak dapat berbahasa Indonesia ataupun kondisi penglihatan dan pendengaran yang telah menurun.
Setelah dijelaskan tentang bagaimana metode, materi, dan media bagi lanjut usia maka dapat diketahui bahwa seorang guru atau pembina agama Islam harus memiliki  kompetensi, mampu memahami kondisi obyek (anak didik), sehingga dapat menerapkan metode, media materi yang seefektif dan seefisien mungkin.
C. DESKRIPSI HASIL PEMBINAAN AGAMA ISLAM
Dengan pembinaan agama Islam diharapkan para lanjut usia mampu mengadakan perubahan, perbaikan, peningkatan pengalaman-pengalaman terhadap ajaran agama Islam sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Hadits, baik dalam berakhidah, beribadah dan bertingkah laku. Secara eksternal, pembinaan agama Islam ini dapat dikatakan berhasil dengan baik jika semua aspek dilaksanakan dengan aktif oleh  para lanjut usia. Sedangkan penghayatan merupakan hal yang bersifat internal  yang berhubungan antara Tuhan dengan masing-masing pribadi lanjut usia.
Penghuni Panti Wredha Budi Dharma sebanyak 60 klien. Namun, terdapat 48 klien yang peneliti anggap mampu menjalankan berbagai aktifitas pembinaan dan mampu menjalankan ajaran agama Islam. Terdapat 3 klien beragama Non Islam dan 9 klien dalam kondisi tidak memungkinkan (pikun, stress, strok, lumpuh, tuna netra dan lain-lain).
Berikut hasil pembinaan agama Islam berdasarkan keaktifan klien dalam mengikuti pengajian, keaktifan menjalankan ibadah shalat (berjamaah/tidak), puasa, membaca Al Quran, shalat Jumat. Data ini peneliti peroleh melalui observasi dan wawancara. Dalam hal ini peneliti mengadakan wawancara terhadap 10 klien dan dengan saudari Ratna selaku pramurukti yang tinggal di Panti Wredha Budi Dharma untuk memberikan pelayanan terhadap mereka. Secara otomatis pramurukti tersebut mengetahui perilaku dan kegiatan sehari-hari para klien.
                                                Tabel I
Hasil Pembinaan Agama Islam Berdasarkan Keaktifan Klien
No
Nama
Jenis Kegiatan
Pj
S
JS
P
MA
S J
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
Ny. Samirah
Ny. Warti Suwito
Ny. Titik Maryati
Ny. Pepeh
Ny. Kromodiharjo
Ny. Mujiyah
Ny. Sebrung
Ny. Suratmi
Ny. Leginem
Ny. Surti
Ny. Suharsih
Ny. Mergo Utomo
Ny.Merto Waginem
Ny. Mulyo Hartono
Ny. Siti
Ny. Adnan Aryadi
Ny. Slamet
Ny. Surip
Ny. Somo Pawiro
Bp. Suharto
Ny. Pardilah
Bp. Suwandi
Ny. Tukijah
Bp. Subroto
Bp. Santoso
Ny. Suparmi
Bp. Mulyo Suprapto
Ny. Ratinah Kromorejo
Bp. RM. Soerdiyono
Bp. Endro Pratomo
Bp. Sukadi
Ny. Aminah
Ny. Harjo Prayitno
Bp. Kliwon
Bp. Guntoro
Ny. Ngatiyem SW
Ny. Martinah
Ny. Siti Salichah
Bp. Sayono
Ny. Ngatinah
Ny. Mulyati
Ny. Sara
Ny. Rondiyah
Ny. Rubinem
Ny. Dwi Romiyah
Ny. Malijah
Bp. Karso Sentono
Bp. Suparjo
A
A
Sdg
A
Sdg
Sdg
Sdg
A
TP
A
A
Sdg
TP
TP
A
TP
A
Sdg
A
Sdg
A
A
TP
A
A
A
Sdg
Sdg
Sdg
A
TP
TP
Sdg
A
TP
Sdg
Sdg
A
A
Sdg
A
TP
A
Sdg
Sdg
A
A
TP
A
A
TP
A
A
A
A
A
TP
A
A
A
A
Sdg
A
Sdg
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
A
Sdg
TP
A
A
A
Sdg
A
A
Sdg
A
A
Sdg
A
A
Sdg
A
TP
A
A
A
Sdg
A
Sdg
TP
A
A
TP
TP
TP
TP
TP
Sdg
TP
TP
TP
TP
TP
TP
A
TP
TP
TP
TP
TP
TP
A
A
Sdg
TP
TP
TP
TP
tP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
Sdg
TP
Sdg
A
A
TP
A
A
TP
A
Sdg
TP
TP
Sdg
A
A
A
Sdg
TP
TP
A
Sdg
A
A
A
TP
A
A
TP
A
A
Sdg
A
A
TP
A
Sdg
A
Sdg
Sdg
A
TP
A
TP
TP
Sdg
Sdg
SdgSdg
TP
A
A
A
Sdg
Sdg
Sdg
TP
Sdg
TP
TP
TP
TP
TP
Sdg
TP
TP
A
TP
Sdg
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
Sdg
Sdg
Sdg
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
Sdg
TP
TP
TP
TP
A
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
A
TP
TP
TP
A
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP
TP

Keterangan :
Pj     : Pengajian                                                 A       : Aktif               
S      : Shalat                                                      Sdg    : Sedang
JS    : Jamaah Shalat                                          TP     : Tidak Pernah
P     : Puasa
MA : Membaca Al Quran
SJ    : Shalat Jumat
Untuk memudahkan pendeskripsian hasil pembinaan agama Islam  tersebut peneliti mengklasifikasikan tiap-tiap kegiatan atau keaktifan kedalam tabel-tabel sebagai berikut :
                                                 Tabel 2
                  Keaktifan klien dalam mengikuti pengajian
Kriteria
Jumlah
Prosentase
Aktif
22
45.83%
Sedang
16
33.33%
Tidak Pernah
10
20.83%
Dari tabel tersebut diketahui bahwa minat lanjut usia dalam mengikuti siraman rohani berupa pengajian cukup tinggi. Data menunjukkan bahwa yang keaktifanya sedang ditambah yang tidak pernah mengikuti jumlahnya lebih besar dari yang aktif.  
                                                 Tabel 3
                       Keaktifan klien dalam beribadah shalat
Kriteria
Jumlah
Prosentase
Aktif
36
75%
Sedang
8
16.66%
Tidak Pernah
4
8.33%
Dari tabel tersebut diketahui bahwa keaktifan mereka dalam melaksanakan ibadah shalat sangat tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan ibadah sholat telah berhasil baik meskipun belum mencapai hasil maksimal.
                                                Tabel 4
           Keaktifan klien dalam melaksanakan ibadah puasa
Kriteria
Jumlah
Prosentase
Aktif
23
47.91%
Sedang
13
27.08%
Tidak Pernah
12
25%
Dari tabel tersebut diketahui bahwa keaktifan mereka dalam melaksanakan ibadah puasa cukup tinggi meskipun ada yang jarang melaksanakan atau tidak pernah dengan alasan karena tidak kuat menjalankan. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan ibadah puasa telah berhasil cukup karena jumlah yang keaktifanya sedang ditambah yang tidak pernah lebih besar dari yang aktif menjalankan ibadah puasa.
Tabel 5
      Keaktifan klien dalam melaksanakan ibadah sholat berjamaah
Kriteria
Jumlah
Prosentase
Aktif
8
16.66%
Sedang
5
10.41%
Tidak Pernah
35
72.91%
Dari tabel tersebut diketahui bahwa keaktifan mereka dalam melaksanakan ibadah shalat berjamaah masih sangat kurang karena dari kesekian klien hanya terdapat 13 orang yang melaksanakan ibadah shalat berjamaah. Hal ini berarti minat lanjut usia dalam melaksanakan shalat berjamaah sangat rendah.
                                                  Tabel 6
                Keaktifan klien dalam ibadah membaca Al Quran
Kriteria
Jumlah
Prosentase
Aktif
1
2.08%
Sedang
8
16.66%
Tidak Pernah
39
81.25%
Dari tabel tersebut diketahui bahwa keaktifan mereka dalam melaksanakan ibadah membaca AL Quran masih sangat rendah. Hal ini disebabkan antara lain karena berkurangnya fungsi indera mereka (penglihatan) atau tidak bisa membaca.
                                                Tabel 7
             Keaktifan klien dalam mengikuti ibadah shalat Jumat
Kriteria
Jumlah
Prosentase
Aktif
3
20%
Sedang
1
6.66%
Tidak Pernah
11
22.91%
Dari tabel tersebut diketahui bahwa keaktifan mereka dalam melaksanakan ibadah shalat Jumat sangat rendah. Dari 15 lanjut usia laki-laki hanya terdapat 4 lanjut usia yang mau melaksanakannya. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan ibadah sholat Jumat belum berhasil. Dari keempat orang tersebut berasal dari penyerahan masyarakat. Peneliti memberikan kesimpulan bahwa memang mereka telah aktif menjalankan ibadah shalat Jumat dari sebelum mereka masuk panti.
Dari tabel-tabel diatas, diketahui bahwa pembinaan agama Islam di Panti Wredha Budi Dharma  tergolong cukup atau dapat dikategorikan sedang. Hal ini dapat diketahui dari ke-6 tabel tersebut hanya terdapat 3 tabel yang menunjukkan jumlah keaktifanya cukup tinggi.

BAB V

PENUTUP

KESIMPULAN
Setelah penulis paparkan uraian pembahasan mengenai Pembinaan Agama Islam di panti Wredha Budi dharma dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.  Pembinaan agama Islam di panti Wredha Budi Dharma merupakan proses pembinaan kembali terhadap lanjut usia. Dipandang perlu karena untuk membantu kondisi lanjut usia yang banyak mengalami berbagai macam gangguan mental maupun spiritual. Segala macam gangguan hanya dapat diatasi dengan mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan proses pendekatan diri seseorang kepada Allah perlu terus dipupuk.
2.  Kegiatan-kegiatan yang menjadi program dalam rangka pembinaan agama Islam di Panti Wredha Budi Dharma meliputi pengajian, pembinaan shalat berjamaah dan ibadah puasa.
3.  Berkat adanya pembinaan agama Islam di Panti Wredha Budi Dharma, ajaran Islam dapat diamalkan oleh para penghuninya. Sedangkan pembinaan agama Islam tersebut berhasil cukup baik. Hal tersebut diketahui dari deskripsi hasil pembinaan agama Islam. Hal ini berarti bahwa ajaran agama Islam telah diamalkan oleh para lanjut usia di Panti Wredha Budi Dharma meskipun  berdasarkan deskripsi hasil pembinaan agama Islam belum tercapai secara maksimal.
SARAN-SARAN
1.      Kepada Pengelola
–      Agar dapat lebuh meningkatkan dalam memberikan perhatian dan motivasi  keagamaan pada klien. Meskipun sudah terlihat baik, alangkah lebih baik lagi untuk meningkatkan atau mempertahankan agar tidak menurun.
–      Memanfaatkan waktu untuk mengisi kekosongan dalam pembinaan agama Islam.
–      Menambah kegiatan  yang mengacu pada pembinaan agama Islam.
2.      Kepada Pembina
Dalam menyampaikan materi, metode yang dipakai sudah baik tapi mungkin akan lebih baik dan lebih tepat serta menarik jika menggunakan alat peraga dan menggunakan metode dan media yang inovatif.

C.  KATA PENUTUP

Puji syukur Alhamdulillah atas segala rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini meskipun masih banyak sekali kesalahan dan kekurangan serta jauh dari kesempurnaan.
Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja dan Panti Wredha Budi Dharma khususnya. Dengan ini harapan kami agar Panti Wredha Budi Dharma dapat meningkatkan Pembinaan Agama Islam yang cukup berarti selama ini. Selaku orang Islam kita selalu berusaha dapat mengajak sesama untuk bersama-sama menuju syurga Allah melalui Dinnul Islam dan mencari keselamatan bersama dari siksa api neraka.
Saran dan kritik yang membangun selalu penulis harapkan demi perbaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan selesai selain atas dukungan dan dorongan berbagai pihak.
Terimakasih kami ucapkan bagi siapa saja yang telah ikut menyumbangkan segala bentuk bantuanya baik moral maupun spiritual. Semoga kalian semua mendapatkan balasan oleh Allah. Jazaakumullahahsanal jazaa’. Amiin

DAFTAR PUSTAKA

A. Hasmy, Dustur Dakwat Menurut Al Quran, Jakarta : Bulan Bintang,              1974.
Abu Ahmadi, Dasar-dasar Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1994.
AG. Lunandi, Pendidikan Orang Dewasa, Jakarta : PT Gramedia Pustaka, [t.t.].
Al Imam Abdullah Muhammad ibnu Ismail ibnu Ibrahim ibnu Al Mughiroh  bin Baridziyah Al Bukhory Al Ja’fy,  Al Shohih Al Buchory,Turki : Daarul Fikri, 1981.
Andi Mappeire, Psikologi Orang Dewasa, Surabaya, : Usaha Nasional, 1983.
Departemen Agama RI, Al Quranul Karim dan Terjemahanya, Semarang : CV. Thoha Putra.
______, Tuntunan Praktis Penerangan Agama Islam, Jakarta : Multi Yoga dan CO, [t.t.].
Gordon G. Darkunwold Sharon B Merriam, Adult Education Fondation of Practice, New York : Hopper and Raw Bublisses, [t.t.].
Hadari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam, Surabaya : Usaha Nasional, 1993.
Kholid Abu Syadi, Tamu Terakhir, Jakarta : Gema Insani Press, 2002.
Lexy J. Moleong., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2002.
Mahfudz Sholahuddin, Metodologi Pendidikan agama, Surabaya : PT Bina Ilmu, 1987.
Muhaimin-Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung : Trigenda Karya, 1993.
Muhammad Al Thoumy Al Syaibani, Falsafah Pendidikan Agama Islam Terjemahan Dr.H. Langgulung, Jakarta : Bulan Bintang, 1979.
Sapari Imam Asy’ari, Metodologi Penelitian, Surabaya : Usaha Nasional, 1981.
S. Nasution, Metode Research, Jakarta : Bumi Aksara, 2001.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Ilmiah, suatu pendekatan praktis, Jakarta: Rineka Cipta, 1990
Soelaiman Yosoef & Slamet Santoso, Pendidikan Luar Sekolah, Surabaya : Usaha Nasional, 1979.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998.
UUD ‘45
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1971.
Zuhairi, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, Surabaya : Usaha Nasional, 1983.
Zakiyah Darodjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental, Jakarta : Bulan Bintang, 1982.
______, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta :  Bulan Bintang, 1994.
            Daftar Nama-Nama Klien Panti Wredha Budi Dharma
No
Nama
Umur
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
Ny. Yatin
Bp. Sentot
Ny. Samirah
Ny. Warti Suwito
Ny. Titik Maryati
Ny. Pepeh
Ny. Kromodiharjo
Ny. Mujiyah
Ny. Sebrung
Ny. Suratmi
Ny. Leginem
Ny. Surti
Ny. Suharsih
Ny. Mangun
Ny. Mergo Utomo
Ny. Merto Waginem
Ny. Mulyo Hartono
Ny. Siti
Ny. Adnan Aryadi
Ny. Slamet
Ny. Somo Pawiro
Bp. Achiyat
Ny. Tukijah
Bp. Subroto
Bp. Mulyo Suprapto
Ny. Ratinah Kromorejo
Bp. RM. Soerdiyono
Bp. Endro Pratomo
Bp. Sukadi
Ny. Aminah
Ny. Harjo Prayitno
Bp. Kliwon
Ny. Ngatiyem SW
Ny. Siti Salichah
Bp. Sayono
Ny. Ngatinah
Ny. Mulyati
Ny. Dwi Romiyah
Ny. Malijah
Bp. Karso Sentono
Bp. Suparjo
Bp. Sukidi Harjowiyono
Bp. Santoso
Ny. Surip
Bp. Suharto
Ny. Parjilah
Bp. Suwandi
Ny. Suparmi
Bp. Sutejo
Bp. Sagiman
Bp. Kristanto
Bp. Guntoro
Ny. Martinah
Ny. Pardilah
Ny. Farida 
Bp. Salimin
Ny. Tukiyem
Ny. Sara
Ny. Rondiyah
Ny. Rubinem
77
85
83
81
63
71
86
81
90
91
91
86
76
84
81
79
82
78
83
79
79
78
105
80
80
83
76
75
75
78
81
69
86
76
79
77
78
60
78
79
71
76
77
73
78
77
79
71
69
74
71
77
71
61
61
77
68
65
64
77
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan masyarakat
Penyerahan Poltabes
Penyerahan Poltabes
Penyerahan Poltabes
Penyerahan Poltabes
Penyerahan Poltabes
Penyerahan Poltabes
Penyerahan Poltabes
Penyerahan Poltabes
Penyerahan Poltabes
Penyerahan Poltabes
Penyerahan Poltabes
Penyerahan Poltabes
Penyerahan RSU
Penyerahan RSU
Penyerahan RSU
Penyerahan RSU
Penyerahan RSU
INTERVIEW GUIDE
  1. Kepada ketua dan staf Panti Wredha Budi Dharma.
1.      Identitas personal
2.      Situasi dan kondisi panti secara umum.
3.      Sejarah singkat berdirinya:
–          Kapan berdirinya.
–          Siapa pendirinya dan lain-lain.
4.      Dasar dan tujuan berdirinya panti.
5.      Kegiatan yang ada di panti meliputi:
–          Dasar dan tujuan diadakanya pembinaan.
–          Berapa jumlah tenaga pembina.
–          Keadaan agama penghuni panti sebelum dan sesudah penghuni panti.
–          Latar belakang penghuni panti sebelum masuk panti.
6.      Keaktifan para lanjut usia dalam melaksanakan ajaran Islam (mengikuti     kegiatan, dan menjalankan ibadah)
  1. Kepada pembina Agama Islam di Panti Wredha Budi Dharma.
1.      Identitas personal.
2.      Gambaran umum tentang pembinaan agama Islam di PWBD.
3.      Tujuan pembinaan agama Islam dan hasilnya.
4.      Materi yang diberikan dalam pembinaan.
5.      Metode yang dipakai dalam pembinaan.
6.      Frekuensi pembinaan dalam seminggu.
7.      Media dan sarana yang digunakan dalam pembinaan.
8.      Hasil yang dicapai apakah sesuai denagn tujuan.
9.      Keadaan penghuni panti sebelum dan sesudah masuk panti.
10.  Respon lanjut usia terhadap pembinaan agama Islam.
11.  Faktor pendukung dan penghambat. 
  1.  Kepada klien lanjut usia.
1.      Identitas personal.
2.      Respon terhadap pembinaan agama Islam (senang/tidak).
3.      Apakah pernah mendapat pembinaan agama Islam di     masyarakat/sebelumnya?
4.      Apakah taat menjalankan ajaran agama Islam (sholat, puasa dll)?
5.      Berat/tidaknya menjalankan ajaran agama Islam.
6.      Motivasi mengikuti pembinaan agama Islam.
7.      Materi yang disenangi.
8.      Perasaan yang dirasa setelah pembinaan.
9.      Bagaimana metode pembimbing dalam menyampaikan materi pembinaan agama Islam?
10.  Apakah pembimbing memberikanwaktu untuk bertanya atau bertukar fikiran setelah memberikan materi?
11.  Apakah pembimbing menjalankan ibadah sebagai praktek dari materi pembinaan?
12.  Apakah pembimbing sering memperagakan dalam memberikan materi pembinaan?
13.  Kesulitan apa saja yang dirasa dalam menerima materi?

[1] Tim Penyusun Kamus Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, 1998), hlm. 117.
[2] Abu Ahmadi, Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam (Jakarta : Bumi Aksara, 1994), hlm. 4.
[3] Ibid, hlm. 4.
[4] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia  (Jakarta : Balai Pustaka, 1971), hlm. 655.
[5] Al Imam ibnu Abdullah Muhammad ibnu Ismail ibnu Ibrahim ibnu Al Al Mughiroh bin Baridziyah Al Bukhori Al Ja’fy, Al Shohih Al Bukhori (Turki :Daarul Fikri, 1981),  Jus I,  hlm. 8.
[6] Mahfudh Sholahuddin, Metodologi Pendidikan Agama Islam(Surabaya : PT Bina Ilmu, 1987) hlm. 8
[7] Ibid,  hlm. 9.
[8] Depag, op cit, hlm. 50.
[9] Al Imam ibnu Abdullah Muhammad ibnu Ismail ibnu Ibrahim ibnu Al Mughiroh bin Baridziyah Al Bukhori Al Ja’fy, op cit,  hlm. 50.
[10] Muhammad Al Toumy Al Syaibani, Falsafah Pendidikan Agama Islam Terjemahan H. Langgulung (Jakarta : Bulan Bintang, 1979), hlm. 416.
[11] Depag, op. cit, hlm. 417.
[12] Zuhairi, op. cit, hlm. 46.
[13] Zakiah Darodjat, Pembinaan Agama Dalam Pembinaan Mental(Jakarta : Bulan Bintang, 1982), hlm. 72.
[14] Departemen Agama RI, Tuntunan Praktis Penerangan AgamaIslam (Jakarta : multi Yoga dan CO, [t.t.]), hlm. 172.
[15] Muhaimin-Abdul Mujib,  Pemikiran Pendidikan Islam (Bandung : Trigenda Karya, 1993), hlm. 173.
[16] Zuhairi, op. cit, hlm. 60.
[17] Depag, op. cit, hlm 56.
[18] Ibid, hlm. 224.
[19] Mahfudh Sholahuddin dkk, op. cit, hlm. 163.
[20] Gordon G. Darkunwold Sharon B Merriam, Adult education fondation of practice (New York : Hopper and Raw Publishess, [t.t.], hlm. 9.
[21] Ibid, hlm. 41-42.
[22] Soelaiman Yosoef & Slamet Santoso, Pendidikan Luar Sekolah (Surabaya : Usaha Nasional, [t.t.]), hlm. 19.
[23] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Ilmiah, suatu pendekatan praktis (Jakarta : Rineka Cipta, 1990), hlm. 20.
[24] Sapari Imam Asy’ari, Metodologi Penelitian (Surabaya : Usaha Nasional, 1981), hlm. 82.
[25] S. Nasution, Metode Research(Jakarta : Bumi Aksara, 2001), hlm. 113.
[26] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset, 2002), hlm. 6.
[27] Observasi pada tanggal 18 september 2004.
[28] Dokumentasi PWBD dikutip pada tanggal 19 September 2004.
[29] Ibid.
[30] Dokumentasi, SK UPDT dari Dinas Sosial, Pasal 19, dikutip pada tanggal 20 September 2004.
[31] Wawancara dengan Ibu Tumirah selaku Bendahara lama pada tanggal 18 September 2004.
[32] Wawancara  dengan Sdri Ratna selaku Pramurukti pada tanggal 25 Oktober 2004.
[33] Dokumenasi PWBD dikutip pada tanggal 21 September 2004.
[34] Dokumentasi PWBD dan wawancara dengan ibu Haniyah selaku Ketua PWBD pada tanggal 25 Oktober 2004.
[35] Dokumentasi PWBD.
[36] Observasi pada Pengajian Rutin hari Senin tanggal 4 Oktober 2004.
[37] Ibid.
[38] Depag, Al Quranul Karim dan Terjemahanya, (Semarang : Thoha Putra), hlm, 448.
[39] Wawancara dengan Ibu Bartuni selaku Pembina Agama Islam pada tanggal 4 Oktober 2004.
[40] Wawancara dengan Ibu Haniyah selaku Ketua PWBD pada tanggal 18 September 2004.
[41] Wawancara dengan Ibu Bartuni selaku Pembina Agama Islam pada tanggal 4 Oktober 2004.
[42] Wawancara dengan Mbah Marijah selaku Klien pada tanggal 4 Oktober 2004.
[43] Observasi pada Pengajian Rutin hari Senin 4 Oktober 2004.
[44] Ibid
[45] Ibid.
[46] Observasi dan wawancara dengan Ibu Bartuni selaku Pembina Agama Islam pada pengajian rutin hari Senin tanggal 4 Oktober 2004.
[47] Kholid Abu Syadi, Tamu Terakhir (Jakarta : Gema Insani Press, 2002),  hlm, 37.
[48] Observasi dan Wawancara dengan Sdri Ratna selaku Pramurukti pada tanggal 25 Oktober 2004
[49] Wawancara dengan Ibu Bartuni selaku Pembinaan Agama Islam pada tanggal 4 Oktober 2004.
[50] Wawancara dengan mbah Titik selaku Klien pada tanggal 25 Oktober 2004.
[51] Wawancara dengan Sdri Ratna selaku Pramurukti pada tanggal 25 Oktober 2004.
[52] Tawakkal, qonaah, taqorrub lillaahirobby.
[53] Depag, Al Quranul Karim dan Terjemahanya,  (Semarang : Thoha Putra)
[54] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta : Bulan Bintang, 1979),  hlm, 191.
[55] Hadari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam (Surabaya : Al-Ikhlas, 1993),  hlm, 402.
[56] Kholid Abu Syadi, Tamu Terakhir  (Jakarta : Gema Insani press, 2002),  hlm, 26.
www.web.unmetered.co.id
unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "PEMBINAAN AGAMA ISLAM TERHADAP LANJUT USIA DI PANTI WREDHA BUDI DHARMA PONGGALAN UMBULHARJO YOGYAKARTA"