PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM TUAN GURU HAJI MUHAMMAD SOLEH CHAMBALI BENGKEL AL- LOMBOK

unmetered
unlimited
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM TUAN GURU HAJI MUHAMMAD SOLEH  CHAMBALI  BENGKEL AL- LOMBOKI
 Oleh Team www.web.unmetered.co.id

A.     Penegasan Judul Posting
Untuk memperjelas apa yang dimaksud dengan Pemikiran Pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al-Lombokimerupakan sebuah keharusan untuk kembali mempertegas judul yang dimaksud dalam penulisan ini
1.       Pemikiran
Menurut kamus besar bahasa Indonesia pemikiran adalah: proses, cara, perbuatan memikir, problem yang memerlukan dan pemecahan[2]. Sehingga pemikiran adalah hasil dari sebuah peroses berpikir, merenung, kontemplasi atas berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, bahkan agama sebagai tawaran solusi yang paling benar menurut seseorang dengan tujuan untuk menjawab problematika yang tengah terjadi di suatu tempat dan masa.
2.       Pendidikan Islam
 Menurut BAB I Ketentuan Umum pasal 1 ayat 1, Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; pendidikan adalah:
Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan susunan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara[3].
Sedangkan Pendidikan Islam; menurut beberapa orang ahli pendidikan Islam berbeda-beda akan tetapi pada intinya memiliki tujuan yang sama; diantaranya:
a.       Sayid Sabiq mendifinisikan: pendidikan Islam dengan mempersiapkan anak baik dari segi jasmani, akal dan rohaninya sehingga dia menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, baik untuk dirinya maupun umatnya.
b.       Athiyah Al Abrosyi: sesungguhnya maksud pendidikan Islam adalah mempersiapkan individu agar ia dapat hidup dengan kehidupan yang sempurna.
c.       Anwar Jundi: sesungguhnya yang namanya pendidikan Islam, ialah menumbuhkan manusia dengan pertumbuhan yang terus-menerus sejak ia lahir sampai ia meninggal dunia[4]   
Dari definisi Pendidikan dan Pendidikan Islam di atas, yang paling mendekati pemaknaan pendidikan Islam dalam konteks tulisan ini adalah: mempersiapkan anak didik melalui kegiatan terstruktur, terencana secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
3.       Tuan Guru
Sebelum melangkah kepada pemahaman makna sebutan Tuan Guru perlu dikemukakan beberapa landasan untuk memahami Tuan Guru di Pulau Lombok. Setidaknya ada dua penelitian yang dapat dijadikan rujukan utama yang akan mengantarkan kepada penjelasan mengenai Tuan Guru itu sendiri.
Pertamapenelitian yang dilakukan oleh Zamakhsyari Dhofier mengenai pembagian dan definisi kiai;
1.       Benda atau hewan yang dikeramatkan, seperti kiai Plered (tombak), kiai Naga Wilaga (gamelan perayaan sekaten di Yogyakarta, kiai Rebo dan kiai Wage (gajah dikebun binatang Gembira Loka Yogyakarta).
2.       Orang tua pada umumnya.
3.       Orang yang memiliki keahlian dalam agama Islam, yang mengajar santri di pondok Pesantren[5].
Kedua hasil penelitian yang ditulis oleh DR. H. Ahmad Abd. Syakur, MA. mengenai menjelaskan pengertian Tuan Guru:
1.       Sama halnya dengan Kiai (Tokoh Agama Islam).
2.       Orang yang sering diundang dalam acara do’a bersama dalam rangka kenduren berkaitan dengan perkawinan, kenduren dst.
3.       Dikalangan Wetu Telu adalah sebutan dari pimpinan agama dikalangan mereka yaitu penghulu yang berfungsi sebagai penghubung antara mereka dengan tuhan.[6]
Sehingga yang dimaksud dengan Tuan Guru dalam konteks pemahaman Kiai adalah tokoh agama Islam yang mengajar di pondok pesantren begitupun sebaliknya.
4.       Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel[7]  Al- Lomboki
Nama kecilnya memang Muhammad Soleh, ayahnya bernama Hambali bin Gore.  Beliau lahir sekitar tahun 1896 M pada hari Senin malam, dari keluarga miskin, yang taat beragama.
Muhammad Soleh remaja mendapat kesempatan belajar agama di pondok pesantren Nurul Qur’an Pagutan Ampenan asuhan Tuan Guru Haji Abdul Hamid.
Kemudian, melanjutkan studi di Makkah selama 9 (sembilan) tahun, ia belajar ilmu agama pada beberapa Ulama Mekkah, baik ilmu fiqih, tafsir, qur’an, tasawuf dan ilmu-ilmu ke Islaman lainnya. Sekembalinya dari tanah suci beliau mendirikan pondok pesantren “Darul Qur’an” Bengkel Lombok Barat.
Kecintaan beliau dalam ilmu pengetahuan pula yang membuatnya mengajarkan ilmu-ilmu agama untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang pernah di pelajarinya[8].    Strategi yang dipergunakan untuk menyampaikan buah pikirannya tergolong luar biasa; di samping mengajarkan ilmu pengetahuan secara langsung (lisan) kepada para muridnya, beliau juga menggunakan media tulis berbahasa Melayu dalam kitab-kitabnya untuk mentransformasikam ide dan ilmu-ilmunya hingga saat ini. Di antara karya-karyanya adalah:
1.       Ta’limu al-Shibyan bi Ghayat al-Bayan, (1354 H/1934M) yang berisi tauhid, fiqh dan tasawuf.
2.       Mawa’idh al-Shalihiyah, kitab hadits, terjemah dari kitab Mawa’idh al-Ushfuriyah fi al-Ahadits al-Nabawiyah karya Imam al-Ushfuriy, (1364H/1944).
3.       Inten Berlian Perhiasan Laki Perempuan, buku fiqh keluarga, (1371H/1951 M).
4.       Bintang Perniagaan, berkenaan dengan fiqh mu’amalah, (1376 H/1956 M).
5.       Cempaka Mulia Perhiasan Manusia, tentang tasawuf dalam bentuk tulisan tangan (manuskrip), tanpa tahun.
6.       Washiyat al-Musthafa, terjemah dari Washiyat al-Musthafa Rasulullah kepada Sayyidina Ali, tulisan tangan, tanpa tahun.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa  yang dimaksud dengan “Pemikiran Pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali  Bengkel Al- Lomboki” adalah: buah pikiran Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al-Lomboki mengenai konsep-konsep, kaidah-kaidah pendidikan Islam yang dikemukakannya melalui karya-karyanya, pengakuan murid-muridnya sebagai solusi terhadap realitas pendidikan yang berkembang pada masa itu.                             
B.     Latar Belakang Masalah
Di setiap zaman ada kejadian fenomenal yang membuat orang terkesan, keheranan penuh kagum.  Dalam konteks ini kekaguman tersebut bisa kepada benda, hewan, ataupun orang sehingga disebut sebagai “pusat perhatian/ tokoh”. Dimaksud dengan tokoh oleh penulis disini adalah orang yang mendapat pengakuan secara umum dan luas karena kedalaman ilmu, kesolehan, dan akhlak yang mulia dari masyarakat sekitarnya atau biasa disebut Ulama.
Dalam persfektif al-Qur’an, dengan tidak bermaksud untuk mengotak-atik istilah ulama yang sudah terkesan baku, sebutan bagi orang-orang yang berilmu pengetahuan bermacam-macam yaitu Ulama’, Ulul ‘Ilmi, Ahludzikri, Arrasikhun Fil ‘Ilmi, Ulul-albab.  Kata Ulama disebut dua kali dalam al- Qur’an yaitu terdapat dalam surat as Syura 197 dan surat al Faathir 28.[9]
Para ulama memiliki peranan besar memberikan pengajaran kepada seluruh masyarakat di manapun mereka berada, tidak terlepas dengan Indonesia. Di mulai semenjak Islam masuk ke Indonesia abad 7 Masehi[10]kebenaran ini diperkuat dengan lahirnya tokoh Walisongo yang menyebarkan Islam keseluruh tanah Jawa.
Sedangkan agama Islam masuk ke pulau Lombok sekitar abad ke 16 disebarkan oleh Sunan Prapen putra Sunan Giri Al Fadhal, Sangupati dan lain-lain. Islam masuk ke Lombok dari dua arah yaitu:
a.          Melalui utara (Bayan) yang disebarkan oleh Sunan Penggiring dari Jawa Tengah. Ajarannya yang banyak adalah Sufi yang mengarah kepada singkretisme Hindu-Islam. Karenanya mudah diterima secara sukarela oleh masyarakat yang kemudian golongan ini dikenal dengan Wetu Telu.
b.          Dari arah timur (Lombok Timur) yang disebarkan oleh pendatang terutama pelaut-pelaut Makasar dan para pedagang dari Jawa. Sebagaimana diketahui bahwa pusat kerajaan Selaparang Islam semula di Labuhan Lombok sekarang yang kemudian ke bekas ibukota kerajaan Selaparang Hindu yaitu Watu Parang. Dari sini agama Islam oleh raja Rangke Sari disebarkan keseluruh Lombok[11].
Tiga abad kemudian semenjak Islam memasuki Lombok,[12]tepatnya pada abad 19 telah lahir tokoh-tokoh agama terkemuka di pulau ini seperti: Tuan Guru Pejeruk (1870), Tuan Guru Haji Mustafa Sekarbela, Tuan Guru Muhammad Ro’is (Wafat 1867), Tuan Guru Haji Abdul Hamid Pagutan (1827-1934).[13]Sedangkan abad 20 terdapat nama-nama tokoh penyebar agama Islam seperti: TGH. Muhammad Amin, TGH. Asyari, TGH Mukhtar Abdul Malik, TGH Abdul Karim, TGH. Abdul Hamid, TGH. Ibrahim, TGH. Muhammad Soleh Chambali (1896-1968), TG.KH. Zainuddin Abdul Majid, dan masih banyak lagi para tokoh Islam Pulau Lombok. Tokoh-tokoh di atas seluruhnya pernah menimba ilmu di Makkah al Mukkaramah bahkan sebagian di antara mereka telah menjadi pengajar agama Islam di Makkah. Akan tetapi karena pergolakan politik di kota suci Makkah saat itu sehingga mengakibatkan mereka terpaksa harus kembali ke Pulau Lombok Indonesia.
Sekembalinya ke tanah air mereka kemudian mendirikan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Di antara sekian banyak ulama Lombok yang terpaksa harus kembali pada awal abad 20 adalah Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al- Lomboki (1896-1968).
Ketokohan beliau sebagai seorang individu dan sebagai ulama pada masa itu tidak diragukan lagi.[14] Hal ini terbukti dengan seringnya mendapat tamu-tamu agung yang menyempatkan diri berkunjung ke kediaman beliau di antaranya: Presiden RI: Ir. Soekarno, Menteri Agama: KH. Saifuddin Zuhri, Menteri Koordinator Keamanan: Jenderal AH. Nasution, Rois ‘Am PBNU: KH. Abd. Wahab Hasbullah, Ketua Umum PBNU: KH. Idham Khalid, Ketua PBNU: H. Subhan ZE, Tokoh NU: Anwar Musaddat, KH. Ma’shum ayah KH. Ali Ma’shum, KH. Hamid Wijaya: Ketua Anshar, Gubernur Pertama NTB: R. Aria Ruslan Cakraningrat dan lainnya.[15]Sehingga tidak terlalu berlebihan apabila Dr.  H. Ahmad Abd Syakur menempatkan beliau sebagai agen pengembang akulturasi nilai-nilai Islam melalui Pendidikan Agama Islam Abad 20 di Pulau Lombok.[16]
Kehebatan seseorang sebagai pendidik sebuah lembaga pendidikan dengan struktur sistem pendidikan belum bisa dikatakan sempurna apabila dikemudian hari lembaga dan sistem yang dikembangkannya ternyata output yang dihasilkan tidak mampu berbicara banyak dalam kancah yang lebih besar. Begitu pula sebaliknya, tidak sedikit lembaga pendidikan yang memiliki organisasi kelembagaan yang tidak terlalu rapi, dikatakan hebat, besar serta disegani oleh karena memiliki siswa, mahasiswa yang mampu berbicara banyak di kancah lokal, maupun nasional.
Melihat dari barometer ini maka Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali memiliki apa yang dikemukakan sebagai output (murid) yang mumpuni[17] hal ini dibuktikan dengan keberhasilan para muridnya menjadi tokoh/ pemuka agama dan hampir seluruhnya menjadi Tuan Guru dengan masing-masing lembaga pendidikan yang mereka pimpin. [18]
Merupakan ujian berat bagi setiap orang yang ingin mempertahankan keyakinan sebagai pilihan hidup. Oleh karena itu landasan idiologi sebagai pijakan atas konsep-konsep agama yang diinternalisasikan ke dalam dunia pendidikan merupakan suatu kekuatan mutlak dan wajib dimiliki oleh seorang pengasuh pendidikan agar tetap eksis saat itu.  
Tuan Guru Muhammad Soleh Chambali adalah sosok pemikir yang lebih dikenal dengan mengutamakan ubudiah dan tasawuf Al Ghazali yang tidak pernah memikirkan popularitas semata, sehingga tidak mengherankan apabila kitab-kitabnya bercorak tauhid, fiqih, dan tasawuf.
Meskipun demikian, khalayak tidak pernah mendengar gaung beliau sebagai seorang tokoh pemikir pendidikan Islam.[19] Dengan demikian recovery pemikiran pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali yang tertuang, tersebar dalam karya-karyanya kedalam sebuah bangunan utuh merupakan sisi menarik yang harus mampu dikemukakan dalam penulisan skripsi ini.  
Di samping masih kurangnya partisipasi penelitian para sarjana pendidikan Islam Indonesia tentang para tokoh pemikir pendidikan Islam lokal. Juga semakin luasnya kemungkinan untuk melakukan studi sejarah tentang tema-tema lokal di luar aspek ekonomi dan politik yang memiliki relevansi dengan kehidupan bangsa Indonesia seperti pemikiran pendidikan Islam.[20]
 Kedua hal tersebut di atas (menemukan pemikiran pendidikan Islam dan studi tokoh ke Islaman lokal) yang menyebabkan penulis merasa tertantang melakukan sebuah penelitian tentang “Pemikiran Pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al- Lomboki”.
C.     Alasan Pemilihan Judul
Secara singkat setidaknya ada dua hal mendasar yang menyebabkan Pemikiran Pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali urgen untuk ditelaah yaitu:
1.       Partisipasi kesarjanaan Indonesia dalam penulisan sejarah lokal masih sangat kurang sehingga perlu mendapat perhatian tersendiri.
2.       Masih terbuka kemungkinan memperluas tema-tema penelitian sejarah lokal di luar aspek ekonomi dan politik yang memiliki relevansi dengan kehidupan bangsa Indonesia, seperti masalah pemikiran pendidikan Islam dan pembiayaan pendidikan.
3.       Hingga proposal ini ditulis belum ada satupun penelitian yang pernah mengkaji pemikiran pendidikan Islam tokoh ini.
D.        Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas timbul dua permasalahan yang penting untuk diketahui serta harus dijawab yaitu: 
1.       Bagaimanakah pemikiran pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh    Chambali?
2.       Apa relevansi pemikiran Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali konteks kekinian?
E.      Tujuan dan Kegunaan
Tujuan penelitian ini adalah: mengetahui pemikiran pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel al- Lomboki.
Adapun kegunaannya adalah: menambah khazanah pengetahuan dan kepustakaan tentang pemikiran para tokoh pemikir pendidikan Islam Republik Indonesia serta sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya
F.      Tinjauan Pustaka
Tulisan orang yang secara langsung membahas tokoh ini: Drs.L. Shoimun Faisal, MA., Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel al-Anfanani dan Tasawuf al-Ghazali, Laporan Hasil Penelitian STAIN Mataram. Mengenai pengaruh Tasawuf al-Ghozali terhadap corak tasawuf yang dipraktikkan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali.
Oleh karena jarang dan kurangnya penulisan tentang tokoh ini apalagi yang secara langsung mengupas pemikiran pendidikan Islamnya merupakan tantangan tersendiri dan menempatkan tulisan ini sebagai penelitian pertama yang membahas tentang pemikiran Pendidikan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al- Lomboki.
G.     Kerangka Teoritik
 Menjembatani agar ambiguitas pemahaman atas Pemikiran Pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al- Lomboki tidak terjadi, penulis mengajukan pendapat Moch Eksan: Diskursus tentang pemikiran pendidikan Islam, setidak-tidaknya mencakup delapan hal yaitu[21]:
Pertama, Hakekat Pendidikan Islam: HM. Chabib Thoha mengemukakan bahwa hakekat pendidikan Islam adalah proses pemeliharaan sifat dan potensi insani untuk menumbuhkan kesadaran dalam menemukan kebenaran[22].
Kedua, Tugas dan Fungsi Pendidikan Islam: menurut M. Arifin adalah membimibing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan manusia dari tahap ke tahap kehidupan anak didik sampai mencapai titik kesempurnaan yang optimal, sedangkan fungsi pendidikan Islam adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan yang dimaksud berjalan dengan baik dan lancar[23].
Ketiga, Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam: menurut Ahmad Tafsir terdiri dari: a. pertama, Al- Qur’an sebagai sumber ajaran Islam pertama, b, Hadits sebagai sumber ajaran Islam ke dua, dan c., akal disuruh untuk digunakan oleh Al Qur’an dan Hadits. Sedangkan Tujuan Pendidikan Islam berkaitan dengan tujuan Allah SWT menciptakan manusia dan menurunkannya kemuka bumi. Pertama, manusia diciptakan oleh Allah SWT supaya menjadi Abdullah (Qs. Adz- Dzariyat/ 51: 56), kedua, Allah menurunkan manusia ke muka bumi untuk menjadi khalifah fil ardh (Qs. Al An’am/ 6:165).[24]
Keempat, Komponen Dasar Pelaksanaan Pendidikan Islam: ada tiga komponen dasar pelaksanaan pendidikan Islam a., orang tua b., guru dan c., murid[25].
Kelima, Kurikulum Pendidikan Islam: menurut Prof. Dr. Nana Saodih Sukmadinata, Desain kurikulum klasik disini adalah Subject Sentred Design artinya kurikulum dipusatkan pada isi atau materi yang akan diajarkan. Kurikulum tersusun atas sejumlah mata-mata pelajaran, dan mata-mata pelajaran tersebut diajarkan secara terpisah-pisah.[26]
Keenam, Metode Pendidikan Islam: M. Arifin mengungkapkan bahwa  ayat-ayat al Qur’an apabila dikaji secara filosofis, mengandung nilai-nilai metodologis dalam pendidikan, yaitu: a., mendorong manusia berfikir analitik dan sintetik dan sintentik melalui proses berfikir induktif dan deduktif, b., metode perintah dan larangan serta praktik, c., metode motivatif, baik motivasi teogenetik, sosiogenetik maupun motivasi biogenetik, d., metode situasional, dan e., metode instruksional.[27]
Ketujuh, Evaluasi Pendidikan Islam: dalam merancang  evaluasi pendidikan Islam ada empat hal yang harus diperhatikan. a, tujuan evaluasi yaiut bertujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa, kelebihan dan kekurangan guru dalam mengajar pencapaian target kurikulum, serta untuk mengetahui kontribusi program pendidikan pada masyarakat. b, alat ukur yang digunakan, maksudnya evaluasi itu dirancang dengan memperhatikan kelebihan dan kekurangan alat ukur yang digunakan, baik tes lisan, tes tulis maupun tes tindakan. c., acuan yang dijadikan standar yaitu acuan nilai rata-rata kelas, patokan kurikulum dan nilai etis dan normatif yang berlaku. d., pelaksanaan pengukuran apakah berlangsung secara alami atau justru sebaliknya[28]       
Kedelapan, Kelembagaan Pendidikan Islam: Muhaimin dan Abdul Mujib lebih rinci membagi lembaga-lembaga pendidikan Islam pada: a,keluarga, b., Masjid, c., pondok pesantren, d., madrasah, e., masyarakat, termasuk di dalamnya adalah organisasi social kemasyarakatan dan kepemudaan, serta media informasi dan komunikasi, baik berupa media cetak maupun elektronik.[29]
Di sini letak pentingnya telaah kembali sebuah pesan Ahli Ushul dalam kaidahnya (baca: Ushuliyah) demi memahami studi-studi Islam: al Muhafadzatu ‘ala al-Qodiimi as-Shalih wa al- Akhdzu bi al-Jadidi al Ashlah (menjaga peninggalan yang baik dan mengambil penemuan baru yang lebih baik). Kerangka ini sangat menarik untuk memberikan penegasan-evaluasi kemudian menemukan relevansi pemikiran Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel dalam konteks kekinian yang berkaitan langsung dengan berbagai dinamika kehidupan pendidikan Islam saat ini.
Diharapkan dengan pembahasan ini dapat menemukan kembali ruh (nilai) pendidikan Islam yang sesuai dengan nilai-nilai yang diharapkan masyarakat karena tujuan utama dari pendidikan Islam adalah transformasi nilai untuk menjembatani kesenjangan antara pendidikan Islam dengan masyarakat.
H.     Metode Penelitian
1.       Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah kajian pemikiran tokoh yang menggunakan telaah kepustakaan (Library Research) karena itu panduan utama adalah kitab-kitab yang merupakan karya Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel al- Lomboki. Kajian ini mencoba memberikan gambaran tentang pemikiran seorang tokoh melalui karya-karyanya terutama sekali kitab Ta’limu al- Shibyan bi Gayat al Bayan.
2.       Sifat Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif analitik yaitu mengumpulkan atau memaparkan konsep-konsep pendidikan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali serta hubungannya dengan penomena pendidikan masa kini serta menganalisanya dengan menggunakan teori yang telah ada.
3.       Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam konteks penelitian ini Historis dan  Sosiologis  yang akan dijelaskan sebagai berikut:
Sosiologis: pendekatan dengan sosiologi digunakan untuk mengetahui setting kondisi masyarakat dan lingkungan sekitar tokoh, kaitan dengan pengaruh ekstrinsik kepenulisan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel dalam karyanya.            
4.       Sumber Data
a.       Data Primer
Kitab-kitab hasil karya tokoh yang langsung membahas persoalan  pendidikan Islam:  Ta’limu al-Shibyan bi Ghayat al-Bayan (1354 H/1934 M), Inten Berlian Perhiasan Laki Perempuan (1371H/1951 M), Cempaka Mulia, selanjutnya disebut data primer.
b.       Data Sekunder    
Data Skunder adalah sumber data kedua atau pendukung berupa tulisan tokoh atau orang lain yang secara tidak langsung membahas pemikiran pendidikan Islam namun berkaitan dengan pembahasan skripsi ini. Diantara karya yang dimaksud adalah Bintang Perniagaan, Perhiasan Manusia, Washiyat al-Musthafa (1376 H/1956 M), Mawa’idh al-Shalihiyah (1364H/1944 M), sedangkan tulisan orang  yaitu L. Shoimun Faishol, MA., Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al Ampenani dan Tasawuf Al Ghazali
c.       Metode pengumpulan data
Ada dua cara yang dilakukan: pertama, dokumentasi, yaitu pengumpulan sumber data primer dan tulisan orang tentang tokoh ini.   Kedua, wawancara langsung tidak terstruktur artinya wawancara bebas dengan beberapa tokoh dengan tidak menggunakan pedoman wawancara tertulis. Wawancara yang dimaskud adalah wawancara dengan  keluarga, murid dan tokoh yang berinteraksi langsung dengan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali seperti TGH. L.M. Turmudzi Badruddin (Murid), HM. Wahyudi Ma’ruf (murid dan pengurus GP Anshor se pulau Lombok 1952), Halisussabary (Cucu) sebagai pendukung data yang mengarah pada maksud tulisan ini.
d.       Analisis Data
      Pisau analisa yang digunakan adalah Content Analysis. Content Analysisberangkat dari aksioma bahwa studi tentang proses isi komunikasi itu merupakan dasar bagi ilmu sosial. Pembentukan dan pengalihan perilaku dan polanya berlangsung lewat komunikasi verbal. Kebudayaan dan pengalihannya di sekolah, di lembaga kerja, di berbagai institusi sosial berlangsung lewat komunikasi. Konflik sosial atau politik yang mungkin berpangkal dari kepentingan yang berbeda sukar dapat dipahami, komunikasi verbal dapat membantunya. Content Analysis merupakan analysis ilmiah tentang isi pesan suatu komunikasi demikian Barcus. Secara teknis content analysis mencakup upaya: 1). Klasifikasi tanda-tanda yang dipakai dalam komunikasi, 2). Menggunakan kriteria sebagai dasar klasifikasi dan 3). Menggunakan analisis tertentu sebagai pembuat prediksi.[30]Untuk mendiskripsikan cara kerja Content Analysis dalam penulisan skripsi ini setidaknya ditempuh beberapa langkah pertama, teks-teks dalam tulisan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel perlu diproses dengan aturan yang telah direncanakan, kedua, teks yang telah diproses secara sistematis; dimasukkan kedalam suatu kategori dari delapan kategori diskursus pemikiran pendidikan Islam Moch. Eksan, ketiga, dalam proses analisa diarahkan menuju jawaban relevansi pemikiran tokoh, keempatproses analisa tersebut berdasarkan pada deskripsi yang telah terlebih dahulu diuraikan.     
I.        Sistematika Pembahasan
Bagian ini membahas secara global isi tulisan yang akan dibahas. Isi selengkapnya sebagai berikut:
Bab Satu, merupakan pendahuluan, yang menggambarkan tentang penegasan judul, latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teoritik, metode penelitian dan sistematika pembahasan dengan demikian merupakan pengantar skripsi ini.
Bab Dua, pada bab ini akan mendiskripsikan Biografi tokoh yang terangkum dalam pembahasan: Latar belakang sosial- keagamaan, masa kecil dan pendidikan, karya-karya, aktifitas dan perjuangan.
Bab Tiga, yang merupakan pembahasan mengenai Konsep-konsep Pendidikan Islam tokoh; yang merupakan klimaks dari pembahasan tulisan ini. Bab tiga ini merupakan titik kulminasi sebagai jawaban atas pemikiran pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al Lomboki. Pembahasan skripsi ini yang terdiri dari dua sub bab yaitu: a). Pendidikan Islam Diskursus Teoritik yang terdiri: 1. Hakekat Pendidikan Islam, 2.Tugas dan Fungsi Pendidikan, 3. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam, 4. Komponen Dasar Pendidikan Islam. 5.  Kurikulum Pendidikan Islam 6. Metode Pendidikan Islam,  7. Evaluasi Pendidikan Islam 8. Kelembagaan Pendidikan Islam b. Relevansi Pemikiran Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali dalam konteks kekinian.
Bab Empat, yang merupakan bab penutup, berisi kesimpulan dari uraian yang telah dikemukakan dalam penulisan ini. Di samping memuat kesimpulan, bab ini juga memuat saran-saran atas segala kekurangan penulisan ini. Di samping itu bab ini juga dilengkapi dengan daftar pustaka.
BAB II
BIOGRAFI
TUAN GURU HAJI MUHAMMAD SOLEH CHAMBALI
BENGKEL AL-LOMBOKI
A.      Latar Belakang Sosial-Keagamaan
Di pulau Lombok kehidupan agama Islam sangat terbengkalai, karena kebanyakan diantara masyarakat Sasak[31] masih memeluk agama Islam yang belum sempurna yang menyerahkan urusan ibadah kepada kiai (pemimpin agama). Setelah abad ke 20 golongan ini memisahkan diri dari golongan Islam  dan menamakan dirinya penganut Islam Waktu Telu Selain percaya kepada Allah dan Nabi Muhammad sebagai rasul-Nya mereka masih percaya kepada dewa dan kekuatan gaib yang ditimbulkan oleh roh-roh, dewa yang tertinggi ialah Batara Guru.[32]Kepercayaan yang demikian disebabkan oleh karena agama Islam masuk di Lombok pada abad ke 16 hampir tidak ada pembinaan kontinyu. Apalagi mereka ditinggalkan oleh muballigh yang berasal dari Jawa dalam tingkat awal.
Para kiai yang ditugaskan untuk membina mereka tidak dapat melakukan tugasnya oleh karena tidak mendapat dorongan dan bantuan penguasa yang beragama Hindu (dari Abad ke 17 abad ke 19). Bahkan sebelum pertengahan abad 19 kerajaan Mataram (Karangasem-Bali)[33]pernah melakukan tindakan yang mengakibatkan terhambatnya pembinaan kehidupan agama Islam dan menyebabkan timbulnya penyimpangan dari ajaran yang terdapat di dalam al qur’an dan al hadits. Setelah kekuasaan Mataram Karangasem Lombok ditaklukan kolonial Belanda pada tanggal 5 Juli 1894[34]masyarakat Lombok kemudian dijajah Belanda.
Belanda semakin memperkeruh suasana masyarakat, mereka mendekati kaum bangsawan yang masih mempertahankan adat dan kebiasaan nenek moyang untuk memusuhi para tokoh dan penganjur Islam. Dengan cara melakukan propaganda kepada para bangsawan untuk tidak mau memeluk agama Islam yang mengajarkan persamaan hak, derajat dimata manusia yang membedakan manusia dengan manusia disisi Allah hanyalah ketakwaan. Keadaan itu terus berlanjut hingga kemerdekaan Indonesia.
Urusan ibadah menjadi kewajiban para pemuka agama (kiai) semata dan orang-orang yang bukan kiai tidak melakukan sembahyang dan puasa,[35]melihat kondisi ini beberapa orang ulama Lombok melakukan pertemuan di Ampenan yang membahas bagaimana menanggulangi keterbelakangan masyarakat.
Seorang ulama Arab bernama Ustadz Sayid Abdurrahman al Jufri  mengumpulkan para tokoh Islam di Ampenan[36]  dan hasil musyawarah saat itu adalah mendirikan lembaga pendidikan. Berdirilah madrasah “Darul Ulum”. Rencana itu selanjutnya terwujud setelah ustadz Sayid Abdurrahman al-Jufri dibantu oleh Sayid Salim al-Jufri dan tenaga-tenaga pengajar lainnya[37].
Madrasah inilah kemudian melahirkan para cerdik pandai tentang ke Islaman di Pulau Lombok. Alumni madrasah Darul Ulum ini kemudian mendirikan pondok pesantren sekaligus madrasah-madrasah baru di sekitar Ampenan.
Kesadaran masyarakat mulai terbangun melalui para ulama dan intelektual muda yang belajar dari berbagai madrasah-madrasah baru. Lahirlah konfrontasi-konfrontasi lokal untuk melawan penjajahan dengan berbagai kecenderungannya. Di antara para tokoh tersebut adalah Tuan Guru Haji Hafidz Kediri, Tuan Guru Haji Abdul Karim kediri, Tuan Guru Zainuddin Abdul Madjid, Tuan Guru Lopan, menggunakan metode perlawanan melalui pendidikan. Sedangkan metode yang dipilih Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali disamping lisan juga melalui tulisan.  
Perlawanan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali melalui tulisan terhadap penjajah dapat dilihat seperti yang selalu diungkapkannya dalam Muqaddimah Kitab-kitabnya:
a.                  Muqadimah Ta’lim Al Shibyan Bighayatu Al Bayan:
Menuntut ilmu itu faridatun, atas yang muslim dan muslimat. Hai anakku yang diharap mulia- Ilmu itu tanda bahagia- karena kelebihannya amatlah nyata- Qur’an dan Hadits telah berkata- Tauhid Fiqih Fardu ‘Ainnya- Demikian pula ilmu tasawufnya –Ketiganya itu pada ini risalah-  Akan didapatinya Insya Allah- Salam bapak serta hormat- Merdeka tetap dunia akherat[38].
b.                  Muqaddimah Bintang Perniagaan pada Kelebihan Berusaha:
Ayyuhai saudaraku yang disayang- Silakan baca ini Bintang – Ibaratnya terang menerang- Sebab diambil daripada gudang- Bagi yang berusaha di daerah- Al Dunia Mazra’atu al Akhirat- Salam Kami dengan Hormat- Merdeka tetap dunia akhirat[39].
c.                  Muqadimah Washiat al Musthofa Li Aliyi al Murtdha:
Hai Saudaraku yang terhormat- Barang siapa hapadz ini washiat- Ialah yang memuji Allah ahyaat- Lagi Mati di dalam Syahadat- Di bangkitkan Allah pada hari qiamat- Faqih ‘Alim dapat syafaat- Salam sempurna beserta rahmat –Merdeka tetap dunia akhirat[40].
d.                  Muqadimah Intan Berlian (Perhiasan) laki perempuan:
Wahai anakku laki dan perempuan- Silakan dengar ini pengajaran- Sepertinya intan berlian- Jadi perhiasan laki perempuan-Dipetik dari pada hadits Nabi-  Yang diriwayatkan oleh Ali – Dan isterinya bintang gerak- Ialah Fatimah Al Zahra – Silakan pakai malam dan hari- Supaya berselamat berlaki Isteri- Lagi senang mendapat rahmat- Ditambah pula dengan ni’mah- Salam Bapak dengan hormat- Merdeka tetap dunia akherat.[41]
e.                  Muqadimah Mawa’idzu Al Sholihiyah Fi al Ahadits al Nabawiyah:
Inilah Suatu Pendahuluan- Kehadirat ikhwati- Dicahayakan Allah muka seorang – Mendengar Hadits yang cemerlang –Maka ditunaikan ia kelain orang- Seperti yang di dengarnya dengan terang- Barang siapa menyampaikan kesaudaranya- Empat puluh hadits pada agamanya- Di bangkitkan Allah di hari qiamat – Masuk Syorga bareng pintunya- Pengatur ini (kitab) berkirim salam- Merdeka tetap sempurna dan tamam.[42]
B.      Sejarah Singkat Desa Bengkel
Desa  Bengkel  merupakan salah satu desa dari sepuluh desa yang ada di kecamatan Labuapi Lombok Barat NTB, yang terdiri dari lima dusun yaitu Dusun Bengkel Selatan, Bengkel Utara, Bengkel Timur, Bengkel Barat dan Dusun Datar, bersebelahan dengan bagian timur dari ibu kota Kecamatan.
Kata Bengkel berasal dari nama sebuah pohon besar yang dahulunya di wilayah desa Bengkel ini banyak di tumbuhi oleh pohon-pohon besar yang oleh masyarakat pada waktu itu disebut Pohon Bengken. Lama kelamaan sebutan ini berubah menjadi Bengkel dan di pergunakan sebagai nama desa sampai sekarang ini.
Dari terbentuknya hingga saat ini telah dipimpin oleh lima belas orang Kepala Desa dengan Kepala desa yang pertama bernama Amen Teker (bapak Taker) yang telah memimpin desa Bengkel selama 15 tahun.
Secara geografis desa Bengkel memiliki luas wilayah 4.000 M dengan batas –batas sebagai berikut: Sebelah Utara: Kelurahan Babakan, Sebelah Timur: Desa Merembu, Sebelah Selatan: Desa Kediri. Sebelah Barat: Kelurahan Dasan Cermen. Dengan ketinggian dari permukaan laut: 220, banyaknya curah hujan: 2000-2500mm/ tahun, topografi, dataran rendah dengan jumlah penduduk sebanyak: 7.268 seluruhnya merupakan pemeluk agama Islam.[43]
 C. Masa kecil dan Pendidikan TGH. Muhammad Soleh Chambali
Muhammad Soleh Chambali Bengkel dilahirkan dari keluarga miskin yang taat beragama; nama kecilnya memang Muhammad Soleh, ayahnya bernama Chambali bin Gore. Beliau lahir sekitar tahun 1313 H (1896 M)[44] pada tanggal tujuh malam Sabtu waktu Isya’ pada bulan Puasa dan meninggal pada hari kamis tanggal 08 November 1968 M. Nama Muhammad Soleh diberikan oleh seorang alim bernama Haji Ali  pada hari Senin[45].
Saat ia masih berumur enam bulan di dalam kandungan, bapaknya meninggal dunia sehingga ia diasuh oleh ibunya, melihat keadaan ekonomi keluarganya yang menyedihkan (miskin), sehingga salah seorang pamannya yang bernama bapak Rajab[46] memberi biaya kehidupan walaupun tetap dalam pangkuan ibunya.
Setelah enam bulan kelahirannya, ibu Muhammad Soleh meninggal dunia. Sehingga jadilah ia sebagai yatim piatu. Sepeninggal ibunya ia diasuh langsung oleh pamannya, bapak Rajab dan isterinya serta menjadikan Muhammad Soleh anak angkat, beliau dirawat, dibesarkan diberi pendidikan setelah Bapak Rajab naik haji lalu berganti nama menjadi Haji Abdullah[47]. Penderitaan hidup Muhammad Soleh Chambali Kecil boleh dikatakan sedikit berkurang setidak-tidaknya beliau memiliki pengasuh dari dua orang keluarga yang baik hati dan cukup kaya dan rela memperjuangkan, membesarkannya. Atas perjuangan Haji Abdullah dan isterinya pula Muhammad Soleh yang di kemudian hari dikenal sebagai seorang tokoh penulis. Ia dikenal dengan nama lengkap Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al Ampenani menjadi salah seorang tokoh yang sangat di kagumi di seluruh Negeri (Lombok) terutama di kalangan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (Lombok) abad 20.
Pada umur tujuh tahun Muhammad Soleh Chambali kecil kemudian di serahkan untuk belajar mengaji al Qur’an al Karim oleh bapak angkatnya kepada seorang guru  ahli tajwid bernama bapak Ramli guru Sumbawa,[48]setelah itu Soleh Chambali kemudian melanjutkan pendidikannya ke pesantren Nurul Qur’an Pagutan di bawah asuhan Tuan Guru Haji Abdul Hamid Ampenan.
Ketika Muhammad Soleh Chambali berumur dua belas tahun ia dibawa ke Makkah oleh kedua orang tua angkatnya naik haji  setelah beberapa saat menetap di Makkah ibunya meninggal dunia pada tahun 1325 H tepatnya pada bulan haji tanggal enam pada tahun itu. Sepeninggal ibu angkatnya Muhammad Soleh menetap di maulid nabi Muhammad Saw kemudian di maulid Ali RA selama sembilan tahun kurang sedikit untuk menuntut ilmu agama pada berapa orang Ulama, baik itu ilmu Fiqh, Tafsir, Tasawuf dan cabang-cabang ilmu agama lainnya.[49]Ia kembali ke Lombok (Indonesia) pada pertengahan bulan puasa pada permulaan perang di Makkah[50]
D. Guru-Guru
Selama belajar di kota suci Makkah Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al- Lomboki belajar ilmu agama kepada para syeikh yang faqih di bidangnya masing-masing, di antaranya adalah:
1.        Al ‘Alim al ‘Allamah, al Hafidz: Syeikh Muhammad Arsyad bin Tuan Guru Umar Sumbawa
2.        Tuan Guru Umar Sumbawa
3.        Tuan Guru Umar Kelayu Lombok Timur
4.        Tuan Guru Usman Serawak
5.        Tuan Guru Mukhtar Jakarta Bogor
6.        Tuan Guru Sulaim Cianjur
7.        Tuan Guru Abdul Hamid Pagutan Lombok
8.        Tuan Guru Haji Abdul Ghani Jimbrana
9.        Tuan Guru Abdul Rahman Jimbrana
10.     Tuan Guru Haji Usman Pontianak
11.     Tuan Guru Haji Asy’ary Sekarbele Lombok
12.     Tuan Guru Haji Yahya Jerowaru Lombok
13.     Syeikh Sa’id Al Yamani
14.     Syeikh Sholeh Bafadhal
15.     Syeikh Ali Maliki al Makky beserta mendapat ijazah ilmu dan silsilah guru-guru yang mutashil sampai Rasulallah Saw.
16.     Syeikh Hamdan Hindi
17.     Syeikh Said al Khudori Makky.
Adapun guru al Qur’an Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel al Lomboki secara keseluruhan penghafal Qur’an:
1.        Tuan Guru Haji Muhammad Arsyad Sumbawa (sebagaimana telah disebut di atas)
2.        Tuan Guru Haji Amin Pejeruk Ampenan Lombok    
3.        Syeikh Misbah Banten
4.        Syeikh Abdullah Sanggura
5.         Syeikh Ali Umairah al Fayumi al Mishri[51]
Sedangkan guru Thariqat dan Talqin Zikir Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel antara lain:
1.       Tuan Guru Haji Amin Pejeruk Ampenan Lombok
2.       Tuan Guru Haji Mukhtar Jakarta di Makkah dan
3.       Syeikh Hasan al Yamani
Di antara kitab yang pernah dipelajari Muhammad Soleh antara lain: kitab-kitab karya Imam al Ghazali seperti: Minhaj al Abidin, Bidyah al Hidayah dan Ihya’ Ulumuddin ditambah lagi dengan Kifayat al Atqiya karangan Sayid Abu Bakar bin Muhammad Syata Al- Dimyathi, yang merupakan syarah dari Hidayah al Atqiya’ ila Thariqil Awliya’ karangan Zainuddin al Malibari, kemudian kitab Hidayat al Salikin dan Sya’ir al Salikin karya Syeikh Abd. al Shamad al Palimbani yang memakai bahasa Melayu.[52]
E. Karya-Karya
Manifestasi keilmuan sosok ini lebih dari sekedar hanya penyerap kemudian diendapkan dalam kepala, melainkan berusaha ditransformasikan kedalam pribadi, tingkah laku dan tidak lupa beliau melakukannya melalui tulisan:
1.        Ta’limu al-Shibyan bi Ghayat al-Bayan, (1354 H/1934 M) yang berisi tauhid, fiqh dan tasawuf; yang ditulis tahun 1354 H, dicetak di Surabaya.
2.        Mawa’idh al-Shalihiyah, kitab hadits, terjemah dari kitab Mawa’idh al-Ushfuriyah fi al-Ahadits al-Nabawiyah karya Imam al-Ushfuriy, (1364H/1944) ditulis tahun 1364 H, diterbitkan di Surabaya.
3.        Inten Berlian Perhiasan Laki Perempuan, berisi fiqh keluarga, (1371H/1951 M) diterbitkan di Surabaya.
4.        Bintang Perniagaan, berisi fiqh, (1376 H/1956 M) dicetak oleh Yayasan Perguruan Darul Qur’an Bengkel.
5.        Cempaka Mulia Perhiasan Manusia, berisi tasawuf (akhlaq) dalam bentuk tulisan tangan, tanpa tahun.
6.        Washiyat al-Musthafa, terjemah dari Washiyat al-Musthafa Rasulullah kepada Sayyidina Ali, tulisan tangan, tanpa tahun.
F. Kiprah dan Perjuangan
Sekembalinya dari Makkah (tahun 1334 H/1913 M) Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali mendirikan pondok Pesantren Darul Qur’an (pada tahun 1915 M/1335 H) sebagai wahana pendidikan.[53] Beliau memulai mengajar dengan melakukan pengajian-pengajian bersifat halaqah[54]; pengajian-pengajian yang didirikan pada tahun pertama bukan tidak mendapat halangan dari masyarakat Bengkel sendiri sebagaimana diceritakan oleh kepala desa Bengkel Bapak Halissusabary (cucu) tentang Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali:.
Syahdan, menurut cerita yang saya dengar dari orang tua dahulu, ketika ninik (Kakek) mulai mengajar ilmu agama di Masjid (Masjid Bengkel) maka tiba-tiba terdengar suara musik gamelan dan sabung ayam untuk  menyaingi pengajian yang diselenggarakan oleh ninik. Sampai suatu ketika ninik berdo’a kepada Allah dari dalam masjid. Tiba-tiba terjadi angin ribut dan kebakaran hebat yang hanya terjadi di arena gamelan dan sabung ayam tersebut, yang mengakibatkan kacau balaunya pagelaran gamelan dan sabung ayam, mereka selanjutnya berlarian masuk ke masjid dan setelah mereka memasuki masjid api tersebut menghilang sirna[55]
              
Sejak saat itu masyarakat Bengkel mulai ikut mengaji dan mempelajari agama Islam, proses pembelajaran masyarakat Bengkel kemudian tersebar luas di kalangan masyarakat luar Desa Bengkel dan Lombok pada umumnya. Dari hari-ke hari masyarakat kemudian mulai datang berbondong- berbondong untuk mempelajari ilmu agama Islam ke Desa Bengkel sampai akhirnya terbentuklah pondok pesantren Darul Qur’an.
Di samping kesuksesan beliau membina pondok pesantren dan masyarakat dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, beliau juga merupakan tokoh sentral NU (Nahdlatul Ulama) Nusa Tenggara Barat. Beliau  adalah Rois Syuriah dan penggerak Partai NU semenjak menjadi Partai Politik  pada tahun 1952.[56]Kecintaan beliau terhadap Jamiyah Nahdlatul Ulama tercermin ketika beliau memfatwakan kepada jamaah pengajian dan kepada seluruh murid yang mengaji kepadanya, memilih Partai Nahdlatul Ulama hukumnya Fardhu Aridhi.[57]
Kegiatan pengajaran yang dilakukan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali sangat padat sehingga untuk menghadiri sebuah acara beliau harus menggunakan kendaraan Dokar (kereta pedati yang ditarik kuda). Dalam hal ibadah beliau sangat luar biasa, baik shalat sunnah maupun zikir dan amalan-amalan sunnah yang lainnya. Khusus pada bulan Ramadhan beliau selalu I’tikaf, terlebih pada akhir-akhir Ramadhan penghambaan kepada sang khaliq semakin diintensifkan sampai-sampai tidak seorang pun yang boleh mengganggu. Sedang di luar  bulan Ramadhan beliau berkhalwat di rumah, sambil menulis, mengarang serta melayani orang banyak yang waktunya telah diatur.[58]
Ketakwaan beliau kepada Allah merupakan muara dari karamah dan keistimewaan yang menjadikan beliau sering disebut sebagai Waliyullah. Dengan demikian tidak mengherankan apabila kemudian murid-murid beliau juga dari jenis Jin namun para Jin tersebut tidak diperalat untuk kepentingan tertentu sebagaimana yang seringkali dipraktikkan oleh para normal dan ahli nujum, para jin tersebut hanya mengaji kepada beliau.[59]
Pengabdian Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali kepada pendidikan sangat tinggi sehingga Dr. Abdul Syakur, MA., menempatkan beliau ke dalam golongan Ulama pembaharu Pendidikan Islam melalui nilai-nilai Kultural.[60]
Pengajaran yang disampaikan seluruhnya disandarkan kepada paham Ahlu Sunnah wal Jama’ah serta menganjurkan bahkan mewashiatkan kepada seluruh muridnya untuk selalu belajar meningkatkan pengetahuan kepada para guru-guru Ahlussunah wal Jama’ah. Untuk selengkapnya washiat Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel berbunyi:
Assalamu’alaikum Wr.wb.
Alhamdulillahirabbil ‘alamiin wa as sholatu wa as salam ‘ala asyrofi al mursaliin wa ‘ala alihi wa sohbihi ajma’in amma ba’du. Syukur alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah subhanahu wata’ala bahwa pertemuan ini dapat kita langsungkan pada hari ini, barangkali inilah pertemuan yang terakhir antara saya dan kamu sekalian; oleh Karena itu saya amanatkan sebagai berikut:
1.        Amalkan segala pelajaran dan pengetahuan yang kamu peroleh dari saya dan usahakan agar pengetahuanmu bertambah dengan menuntut ilmu pada Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.
2.         Selain dari itu saya amanatkan padamu semua agar dipelihara terus perguruan Darul Quran dan usahakan supaya berkembang menjadi besar.
3.        Peliharalah dan pertinggikan paham Ahlusunnah wal Jamaah dan jagalah persatuan dan kesatuan antaramu semua.
Inilah amanat saya padamu dan peliharalah baik-baik, dalil yang pertama sampai ketiga: 1. Man Amila Bima Alima Allamahullahul Ilma Maa Lam Ya’lam (al hadits). 2 sabda Nabi: Idza Mata Ibnu Adam, Inqoto’a Amaluhu Illa Min Tsalatsin: Shodaqotun Jariyatun, Wa Ilmun Yan Tafa’u Bihi, Wa Waladin Sholihin Yad’u lahu,  Ba’da Mautahu. 3. Qolalallahu: Wa’tashimu Bihablillahi Jami’an Walaa Tafarraqu.[61]    
G. Yayasan Perguruan Darul Qur’an  
1. Sejarah singkat Yayasan Perguruan Darul Qur’an
Darul Qur’an sebenarnya didirikan sekitar tahun 1915 M bertepatan dengan 1335 H, seiring dengan perubahan zaman pondok pesantren Darul Qur’an berubah nama menjadi Yayasan Perguruan  Darul Qur’an pada tahun 1961. Tujuan pendirian Yayasan Perguruan Darul Qur’an disebutkan sebagai berikut: memelihara, melanjutkan, menyempurnakan perguruan yang telah ada serta yang telah didirikan (dibina) Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali untuk mencetak putra-putrinya agar kelak menjadi manusia yang bersusila, cukup dalam pengetahuan agama Islam ala Madzhabil Arba’ah dan luas dalam pengetahuan umum.
Pondok pesantren sebagai peletak dasar pendidikan Islam di zaman dahulu merupakan sebuah tempat penggemblengan para santri. Pondok pesantren setidaknya memiliki lima elemen penunjang yang harus ada yaitu:
a.       Pondok sebagai asrama santri.Pesantren Darul Qur’an sendiri saat itu dibagi menjadi lima asrama yaitu; Asrama Syamsul Huda, Asrama Qomarul Huda, Asrama Badrul Huda dan Asrama Najmul Huda[62] ditambah sebuah asrama putri yang bernama Asrama Intan Berlian, Kelima asrama santri ini dibuat semacam penampungan bagi para santri yang berasal dari daerah lain. Jadi, penempatan santri pun dilihat dari daerah asalnya.
1.       Asrama Syamsul Huda dikhususkan untuk santri yang berasal dari Bengkel sendiri.
2.       Asrama Qomarul Huda adalah asrama santri campuran asal Bali dan Lombok
3.        Asrama Badrul Huda dikhususkan bagi santri yang berasal dari Lombok Timur
4.       Asrama Najmul Huda untuk menampung para santri yang berasal dari Lombok Selatan.
5.       Dan sebuah Asrama Putri yang bernama “Intan” yang berada disekitar kediaman beliau.
b.       Masjid Soleh Chambali sebagai sentral peribadatan. Masjid yang diperguanakan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali adalah masjid yang kini terletak di perempatan desa Bengkel, masjid ini boleh dikatakan sebagai sentral segala kegiatan bagi pondok pesantren maupun masyarakat setempat. Di sebelah utara masjid terdapat dua madrasah kembar yaitu madrasah Darul Quran dan satunya lagi madrasah Darul Hadits,[63] sebelah selatan dan barat masjid adalah asrama putra sedangkan asrama putri terletak disekitar rumah Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali sebelah timur masjid tersebut.
c.       Kitab-kitab klasik, sebagai sumber utama pengajaran. kitab-kitab yang dipelajari saat itu adalah: Fath al Qarib karya Syeikh Muhammad Ibnu Qasim  al Ghazali; Fath al Mui’n karya Zainuddin Abdul Aziz; Fath al Wahhab karya Abi Yahya Zakaria Al Anshori; Kifayatul Akhyar karya Taqiuddin Abu Bakar bin Muhammad Al ‘Asyim; Al Jurmiyah karya Ahmad Zein Dahlan; Al Fiyah Ibnu Aqil karya karya Jamaluddin Muhammad ibnu Abdillah, Ta’lim al Muta’allim Karya Ibrahim bin Ismail Az Zarnudji; Riyadhu al Sholihin karya Abu Zakaria Yahya An Nawawi; Al Arba’in An Nawawi karya Imam An Nawawi;  Bulugh al Maram karya Ibnu Hajar al ‘Atsqalani; Akhlaq lil Banin karya Ustadz Imam Baradja;  Nahwu al Wadhih karya Ali Jarimy dan Musthafa Amin; Qirat al Rasyidah; Al Iqna[64]. Kitab-kitab karya TGH. Muhammad Soleh Chambali sendiri antara lain:  Ta’lim al ShibyanBighayat al Bayan, Bintang Perniagaan pada kelebihan berusaha, Cempaka Mulia, Intan Berlian Perhiasan bagi Laki-Perempuan, Washiat al Musthafa li Ali al Murthadha, Mawa’idzzu al Sholihiyah[65].
              Walaupun telah tersebut sejumlah nama-nama kitab al Mu’tabarah di atas tadi namun penulis belum mampu mengklasifikasikan kitab-kitab mana saja yang diajarkan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali pada sejumlah lembaga pendidikan (Madrasah rendah dan lanjutan, Pengajian-pengajian, Taman kanak-kanak yang berdiri di Yayasan Perguruan Darul Qur’an.[66]
d.       Santri sebagai peserta didik, dan kiai sebagai pimpinan dan pengajar di pesantren. [67]
      2.. Tujuan Pendidikan Yayasan Perguruan Darul Qur’an
   Untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah disebutkan di atas Yayasan Perguruan Darul Qur’an membuka beberapa lembaga mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai sekolah lanjutan. Adapun lembaga-lembaga yang dibuka antara lain:
a.       Membuka madrasah-madrasah/ sekolah-sekolah rendah dan lanjutan.
b.       Membuka kursus-kursus pengetahuan agama dan umum
c.       Membuka pengajian-pengajian
d.       Membuka taman kanak-kanak
e.       Membuka taman perpustakaan
f.         Membuka taman pembacaan
g.       Membangun gedung-gedung/ asrama-asrama serta perlengkapannya.
h.       Memberi bantuan kepada pelajar-pelajarnya yang cerdas dan tak mampu untuk melanjutkan keperguruan yang lebih tinggi.[68]
3. Kekayaan Perguruan Darul Qur’an
      Kekayaan Yayasan Perguruan Darul Qur’an yang tertulis berdasarkan pada dokumen akte notaris tahun 1961, antara lain sebagai berikut:      
a.       Kekayaan pertama Yayasan ini diperoleh dari kekayaan Perguruan Darul Qur’an di Bengkel yang diserahkan kepada yayasan ini, yaitu terdiri dari:
b.       2 (dua) buah gedung Madrasah 12 (duabelas lokal dengan tanah pekarangannya, terletak di Bengkel.
c.       Sebuah gedung Kantor memakai 6 (enam) ruangan dengan tanah pekarangannya, terletak di Bengkel.
d.       Sebuah rumah guru dengan tanah pekarangannya, terletak di Bengkel.
e.       Sebidang tanah sawah, seluas 0, 75 ha (tujuh puluh lima are), terletak di Subak Bengkel, desa Bengkel, distrik Ampenan Barat. Tanah sawah 0,115 ha (Seratus Lima Belas Are.
f.          12 (duabelas) asrama pelajar dengan tanah pekarangannya terletak di Bengkel
g.       Barang infentaris madrasah dan kantor, terdiri dari:
150 (seratus limapuluh) stel meja dan bangku murid, 20 (dua puluh) stel meja guru, 3 (tiga) stel meja tulis, 2 (dua) buah almari, 1 (satu) stel meja tamu, 2 (dua) buah mesin tulis. Dan selanjutnya kekayaan yayasan ini diperoleh dari:
a.       Zakat dan Wakaf
b.       Sumbangan dari anggota donatur
c.       Sumbangan dari pemerintah
d.       Usaha-usaha lain yang sah    
h.        Susunan Pengurus Pertama Yayasan Perguruan Darul Qur’an Bengkel.
1.       Ketua                        : Ustadz Mahduddin
2.       Setia Usaha              : Ustadz Abdul Ghafur Rawiy
3.       Bendahara                 : Haji Muzaki
4.       Pembantu-pembantu  : Muhammad Asmak, Muhammad Yusuf,
BAB III
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM
TUAN GURU HAJI MUHAMMAD SOLEH CHAMBALI
BENGKEL AL-LOMBOKI
              
A.            Pendidikan Islam Diskursus Teoritik
Yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah buah pikiran Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al-Lomboki mengenai konsep-konsep, kaidah-kaidah pendidikan Islam yang dikemukakannya melalui sejumlah karyanya.  
1.       Hakekat Pendidikan Islam
      Pendidikan Islam bertujuan untuk memberikan penyadaran kepada peserta didik akan dirinya sebagai seorang hamba (khalifah) yang mengerti akan kelebihan yang diberikan kepadanya; dengan demikian diharapakan setelah memperoleh pendidikan peserta didik sampai pada tujuan akhir dari seluruh aktifitas umat manusia yaitu takwa. Hal ini pula yang seharusnya memberi kesadaran penuh kepada peserta didik untuk mengerti apa saja yang memberinya jalan terang.
Seiring berubahnya zaman pemikiran dan orientasi manusia pun ikut berubah.[69] Dibarengi dengan tujuan-tujuan singkat keduniawian yang menganggap pendidikan sebagai sebuah investasi masa depan untuk meraih kehidupan dunia yang lebih baik, kemudian mengedepankan hasil dari pada proses panjang yang seharusnya dilalui.[70] Dengan demikian tujuan yang dicapai bukan buah instant yang hanya mampu bertahan sesaat tetapi pandangan dasar yang terbersit dalam angan manusia itu kemudian akan menggerakkan seluruh manifestasi serta gerak langkahnya.
      Pandangan tersebut tidak luput mempengaruhi pendidikan Islam, sehingga terjadi kekeliruan yang akhirnya menyebabkan seorang hamba lupa tujuan akhiratnya. Disini letak pentingnya sebuah proses dan sebuah proses itu harus dimulai dengan niat. Mengenai pentingnya niat Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel mengingatkan kembali janji manusia terhadap Allah semasa di dalam rahim ibu. Allah berfirman di dalam Al- Qur’an Surat Al-A’raf ayat 172 sebagai berikut:
            Artinya:
            Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.
     
      Ada dua hal yang penulis tekankan berkenaan ayat ini adalah pertama bahwa manusia tidak lahir “bim salabim” namun ada sebuah proses yang dilaluinya, kedua ayat ini juga memberikan peringatan kepada setiap jiwa manusia untuk meluruskan niatmengingat perjanjian yang telah di sepakati. 
      Persoalan proses dengan niat ini sangat penting karena menentukan arah pencitraan diri seseorang dalam proses pendidikan, dari persoalan pemahaman yang berbeda tentang hakikat pendidikan Islam.
Islam sangat menginginkan arus hubungan antara tujuan akhir setiap individu yang menghambakan diri kepada-Nya dengan tujuan sementara berupa penghidupan yang layak dan duniawi terpelihara sehingga memberikan petunjuk dalam perjalanan (pekerjaan duniawi), kesadaran hakekat kehidupan memberikan perasaan lapang dan tidak mudah dihinggapi penat dan stress, dengan kesadaran itu pula akhirnya mengembalikan segala sesuatunya keharibaan Allah.
Ilmuan Islam sejati selalu mengedepankan tanggung jawab dirinya sebagai seorang hamba seperti keluarga dan lingkungannya, rasionalisasi antara teori keilmuan yang dipelajarinya dengan realitas masyarakat harus seiring sejalan pada yang benar. Hal ini bertujuan untuk mencapai hakekat pendidikan Islam, karena gelar keduniawian yang kita sandang hari ini belum tentu mengantarkan kita ke dalam sorga bahkan diceritakan di dalam bukunya mengenai hal tersebut:
“Dan meriwayatkan oleh setengah ulama bahwa sesungguhnya orang yang lari dari pada ahlinya itu seperti menempati hamba yang lari dari tuannya yaitu tiada diterima baginya sembahyangnya dan tiada diterima pula puasanya hingga kembali kepada ahlinya (dan) diriwayatkan oleh setengah ulama banwa sesungguhnya pertama-tama yang bergantung dengan seorang laki-laki pada hari  kiamat itu yaitu ahlinya dan anaknya maka memperbantahkan mereka itu akan dia antara hadapan Allah ta’ala maka berkata oleh segala ahlinya: hai tuhanku ambil olehmu dengan hak kami  dari pada laki-laki ini bahwa sungguhnya orang ini tiada mengajarkan akan kami akan satu hukum yang kami jahil akan dia [71]”.
Penyatuan dua unsur dasar manusia baik jasmani maupun rohani ke dalam sebuah kaidah pemikiran pendidikan Islam yang komprehensip selalu di dasarkan pada tauhid kepada Allah. Untuk melihat lebih jauh hakikat pendidikan Islam tercermin dalam perumpamaan pendidikan yang diberikan Luqman kepada anak-anaknya di dalam surat al Luqman 15-17  [72]:
            Artinya:
            Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
            (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya).Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
            Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
     
      Kisah Luqman di atas menjelaskan beberapa rumusan penting dan dominan untuk mencapai hakekat pendidikan Islam antara lain:
a.       Luqman menyampaikan prinsip tauhid dan larangan syirik kepada putra–putrinya.
b.       Luqman mengajarkan ilmu pengetahuan (hikmah) dan batasan potensi manusia untuk mengetahui sesuatu.
c.        Luqman mengajarkan sholat untuk menumbuhkan amal shaleh.
d.       Luqman mendidik putra-putrinya akhlaqul karimah, baik pada diri sendiri, sesama manusia, alam terutama kepada Allah SWT.
e.       Luqman mendidik putra-putrinya untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar[73]
       Keseluruhan dari proses fungsi rububiyah Allah terhadap manusia, sejak dari proses penciptaan serta pertumbuhan dan perkembangan secara bertahap dan berangsur-angsur sampai sempurna, sampai dengan pengarahan serta bimbingannya dalam pelaksanaan tugas kekhalifahan dengan sebaik-baiknya.[74]  Implementasi proses rububiyah tersebut tercermin dalam tingkah laku dan akhlaq yang baik pada diri manusia, sebagaimana di tulisnya:
   Bahwasanya seyogyanyalah baginya bersifat dan berpakai ia dengan dia seperti adalah bahwa kelakuannya khusyu’ yakni rendah diri bagi Allah dan Mutawaddhi’ yakni merendahkan diri lagi zahid ia dari dunia, ridha hatinya dengan sedikit dari padanya, menafkahkan bagi yang yang lebih pada hajatnya dari pada barang yang ada pada tangannya lagi menasehat bagi hamba Allah takut atas ahli maksiat dari pada mereka itu, dan kasih sayang dengan mereka itu lagi menyuruh dia dengan ma’ruf mencegah ia dari pada segala mungkarat, dan bersegera ia pada kebajikan, jauh ia dari pada segala larangan-Nya, melazimkan dirinya bagi segala ibadah fardhunya dan sunnatnya, lagi banyak malu tiada menyakiti bagi orang bagi segala mukmin, benar lidahnya, sedikit perkataannya, berbuat baik bagi ibu bapaknya lagi menghubungi bagi segala kerabatnya, kasih sayang bagi segala saudara yang muslim takut akan Tuhannya, dan harap akan rahmat-Nya, dan memberi ia akan Allah, dan marah ia karena Allah, dan ridha ia karena Allah lagi kasih ia bagi Allah dan rasul-Nya dan bagi segala sahabatnya dan bagi ahli rumahnya dan kasih bagi Ulama’nya dan segala orang yang shaleh lagi baik sangka dengan Allah ta’ala dan dengan sekalian saudaranya yang mukminin.[75]                                                                                           
     
      Hakekat pendidikan Islam menurut Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali: memberikan pencerahan kepada anak didik agar menjadi manusia bermanfaat bagi kebanyakan orang yang belum mengerti (awam al muslimin), ikhlas hatinya semata-mata untuk mencari ridha Allah.[76]
2.       Tugas dan Fungsi Pendidikan
Muhammad Quthb mengatakan ciri khas sistem pendidikan Islam adalah metodologi Islam dalam melakukan pendidikan dengan melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia sehingga tidak ada yang tinggal dan terabaikan sedikitpun baik segi jasmani maupun segi rohani, baik kehidupannya secara fisik maupun phsikis dan segala kegiatannya di muka bumi. Islam memandang manusia secara totalitas, mendekatinya atas dasar apa yang terdapat di dalam dirinya, atas dasar fitrah yang diberikan Allah kepadanya, tidak ada sedikit pun yang diabaikan dan tidak memaksakan apapun selain yang dijadikan sesuai fitrahnya.
Di samping itu, pertumbuhan dan perkembangan alat-alat potensial fitrah manusia tetap dipengaruhi oleh alam sekitarnya, hal tersebut berpengaruh terhadap sikap manusia, cara pandang terhadap suatu masalah yang pada akhirnya nanti pengaruh lingkungan tersebut menjadi sandaran terhadap tingkah laku untuk selamanya atau hanya berlaku pada masa tertentu dan tempat di mana orang tersebut berinteraksi. Dalam hal ini Allah berfirman di dalam al Qur’an, surat al- Syams ayat 8-10:
Artinya:
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Sifat manusia bagai dua sisi mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan; manusia memiliki sifat yang mengarahkan dirinya kepada jalan yang lurus dan begitu pula sebaliknya dapat membawanya ke jurang nista dan penuh dosa. Melihat hal ini maka tugas pendidikan Islam adalah mengantarkan potensi baik manusia ke dalam permukaan tingkah laku dan selanjutnya berusaha menekan sifat jahat manusia.
Prof. H Muzayin Arifin, M.Ed. menegaskan pendapatnya tentang hal ini. Tugas pendidikan adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan manusia dari tahap ke tahap lain sampai meraih titik kemampuan yang optimal. Bimbingan dan pengarahan tersebut menyangkut predisposisi (kemampuan dasar) serta akal manusia yang mengandung kemungkinan-kemungkinan berkembang ke arah kematangan yang optimal. Potensi atau kemungkinan berkembang dalam diri manusia itu baru dapat berlangsung dengan baik bilamana diberi kesempatan yang cukup baik dan favorable untuk berkembang melalui pendidikan yang terarah. Kemampuan potensi diri manusia baru aktual dan fungsional bila disediakan kesempatan untuk muncul dan berkembang dengan menghilangkan segala gangguan yang dapat menghambatnya. Hambatan-hambatan mental dan spiritual banyak corak dan jenisnya seperti hambatan pribadi dan hambatan sosial yang berupa hambatan emosional dan lingkungan masyarakat yang tidak mendorong kepada kemajuan pendidikan sebagainya.[77]
Untuk mencapai tugas pendidikan Allah memberikan bagi manusia akal, dengan potensi akal ini diharapkan manusia dapat memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Keadilan Allah mengenai akal tidak pernah ditujukan kepada satu kaum saja akan tetapi diberikan kepada seluruh umat manusia yang membedakannya hanya pada kemampuan mengolah serta memanfaatkannya.
Prinsip kesamaan akal ini di tangkap oleh Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali sebagai sebuah modal dasar untuk mencapai tujuan hidup manusia:
Wajib atas sekalian mua’malah itu dan tiap-tiap seorang yang berbimbing itu dengan suatu dari padanya atas ilmu memelihara dari pada yang haram padanya dan demikian juga di fardhukan atasnya ilmu kelakuan hati dari pada tawakkal dan kembali kepada Allah dan takut dan ridha maka sekalian itu jatuh pada sekalian hal, adapun kemuliaan ilmu itu tiada tersembunyi atas seorang karena ia tertentu pada kemanusiaan.[78]
Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali menjelaskan ada dua tugas utama yang harus dipelajari oleh setiap peserta didik yang pertama; peserta didik harus lebih dahulu mengetahui segala yang fardhu ‘ain kemudian baru mempelajari ilmu fardhu kifayah.
Hendaklah mencegah orang yang belajar yang fardu kifayah dahulu dari pada selesai dari pada fardu ain bermula fardu ain itu membaikkan ia akan dhohirnya dan bathinnya dengan taqwa yakni dengan mengerjakan ibadah dhohir dan yang batin dan menjauhkan ma’shiat yang dhohir dan yang batin seperti yang tersebut di dalam bidayah wallahul hadi ila shirotil mustaqim[79]
Yang dimaksudkan dengan fardhu ain adalah pengetahuan individu mengenai hak dan kewajiban dirinya sebagai seorang pribadi seumpamanya: peserta didik terlebih dahulu harus mengetahui kewajibannya sebagai seorang hamba Allah dengan mempelajari hak dirinya kepada Allah serta kewajibannya kepada Nya, baru kemudian ia mempelajari ilmu yang berkaitan dengan hak dan kewajibanya bermuamalah dengan sesama manusia (lingkungan) bagaimana bersosial dengan masyarakat.[80]
Apabila tugas pertama (mengetahui yang fardhu ain dan fardhu kifayah), selanjutnya pada pembahasan fungsi dari pendidikan Islam itu sendiri, masih mengutip pendapat Prof. M. Arifin, M.Ed tentang pengertian fungsi pendidikan Islam sebagai berikut: menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan tersebut berjalan lancar. Penyediaan pasilitas ini mengandung arti dan tujuan yang bersifat struktural institusional.[81]
Syafii Ma’arif, mengatakan corak pendidikan yang diinginkan oleh Islam ialah pendidikan yang mampu membentuk manusia yang unggul secara intelektual kaya dalam amal serta anggun dalam moral dan kebijakan.[82]
Drs HM. Chabib Thoha, MA., mengatakan ditinjau dari sudut pandangan sosiologis dan antropologis fungsi utama pendidikan untuk mengembangkan kreatifitas peserta didik dan menanamkan nilai yang baik, karena itu tujuan akhir pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi kreatifitas peserta didik agar menjadi manusia yang baik menurut pandangan manusia dan Tuhan Yang Maha Esa[83]
Muchtar Buchori merumuskan fungsi pendidikan sebagaiman dikutip Drs. Marasudin Siregar yaitu[84]:
a.       Turut mempersiapkan bangsa untuk memungkinkan pelaksanaan usaha ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan aspirasi nasional
b.       Mempersiapkan bangsa untuk mempersiapkan diri dengan perubahan-perubahan yang dilahirkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi 
      Dari beberapa tinjauan para ahli pendidikan di atas sehingga tujuan dan fungsi pendidikan memang tidak boleh melanggar aturan yang ada dimuka bumi dan apa yang telah digariskan Allah, serta tidak begitu saja melupakan hakikat utama penciptaan manusia.
      Dari beberapa buku karya Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali, dapat di identifikasi tugas dan fungsi pendidikan Islam dimulai dari tahap yang paling dasar “pendidikan anak”. Oleh sebab itu materi yang digunakan harus sesuai dengan psikologis masa kanak-kanak. Materi awal yang di kemukakan terlebih dahulu adalah memberikan semangat kepada anak-anak agar mau belajar. Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali dengan menerangkan kelebihan-kelebihan bagi penuntut ilmu, misalnya:
a.        Bahwasanya malaikat merendahkan akan sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu karena sangat suka dengan perbuatannya.
b.        Sesungguhnya berpagi-pagi itu maka belajar ia akan satu bab dari pada ilmu niscaya terlebih baik dari pada bahwa ia sembahyang sunnah seribu rakaat.
c.        Bermula orang yang menuntut ilmu itu mengakui Allah ta’ala baginya dengan rizkinya.[85]
      Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tugas pendidikan Islam menurut Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali memberikan memberikan penyadaran kepada peserta didik kewajiban dirinya sebagai seorang manusia dan hamba dengan cara menyiapkan mereka dengan ilmu pengetahuan bagi kelangsungan hidupnya di dalam masyarakat.
   Maka wajib atas tiap-tiap mukallaf itu yakni orang yang akil baligh bahwa mengetahui ia akan barang yang mustahil dan barang yang jaiz, seperti demikian pula pada hak segala rasul termasuk para malaikat dan sebagainya yang semuanya itu dijelaskan di dalam ilmu tauhid[86]
     
      Sedangkan pendidikan Islam berfungsi sebagai pembeda antara manusia dengan hewan. Yang dimaksudkan sebagai pembeda antara manusia dengan hewan, manusia memiliki aturan dan tata cara berkelakuan antara sesama manusia. Sehingga masyarakat dapat mengetahui dengan jelas awam al muslimin dengan alim  seperti yang di katakan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali:
   Wajib atasnya pula yang demikian itu, seperti ikhlas dan tawadhu’ dan ridha dari pada Allah ta’ala, dan tawakkal atasnya, dan sabar atas bala’ dan tawakkal atasnya, dan sabat atas bala, dan coba, dan sabar atas taat dan percaya dengan rizki dari pada Allah ta’ala, dan benci akan dunia dan memusuhi nafsunya dan memusuhi syaithon[87]
Di samping fungsi pembeda ia juga menjelaskan bahwa harus ada keseimbangan antara kehidupan sosial yang ada di dunia ini dengan kehidupan akhirat yang akan datang.                                                         
3.       Dasar danTujuan Pendidikan Islam
Berbicara tentang dasar pendidikan Islam tidak pernah terlepas dari dua pedoman hidup umat Islam al Qur’an dan al Hadits karena dari kedua warisan itu pula lahir berbagai macam ilmu pengetahuan.[88]Al Qur’an tidak pernah berubah semenjak diturunkan kepada nabi Muhammad sampai sekarang. Walaupun demikian selalu melahirkan berbagai teori pada setiap waktu seperti di bidang ekonomi, sosial, politik, kebudayaan yang spirit nafasnya dari al Qur’an. Sebagaimana disebutkan di dalam Qs. Ali Imran: 164.
Artinya:
 Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
2.. Al hadits
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ قَالَ أبو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَن    [89]
Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali sepakat al Qur’an sebagai dasar ilmu pengetahuan, sehingga beliau menyebutkan beberapa refrensi tentang kelebihan ilmu pengetahuan yang bersumber dari al qur’an di dalam kitabnya:
Soal    :               Berapa kelebihan ilmu itu dan apa dia
Jawab:                Bermula kelebihan ilmu yang memberi manfaat itu amat banyak yang tersebut
di dalam qur’an dan hadits nabi,….[90]
Penjabaran dari kedua dasar di atas (al Qur’an dan al Hadits) terdapat dalam enam  asas ke imanan dan lima dasar ke Islaman, bila di pandang dari aspek kehidupan nilai-nilai keIslaman tersebut dapat dikategorikan ke dalam tiga macam yaitu:
a.              Dimensi yang mengandung nilai yang meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia. Dimensi nilai kehidupan ini mendorong kegiatan manusia untuk mengelola dan memanfaatkan dunia ini agar menjadi bekal/ sarana bagi kehidupan akherat.
b.              Dimensi yang mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih kehidupan di akherat yang membahagiakan. Dimensi ini menuntut manusia untuk tidak terbelenggu oleh rantai kekayaan duniawi atau materi yang dimiliki, namun kemelaratan atau kemiskinan dunia harus diberantas, sebab kemelaratan duniawi bisa menjadi ancaman yang menjerumuskan manusia kepada kekhufuran.
c.              Dimensi yang mengandung nilai yang memadukan (mengintegrasikan) antara kepentingan hidup duniawi dan ukhrawi. Keseimbangan dan keserasian antara kedua kepentingan hidup ini menjadi daya tangkal, terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari berbagai gejolak kehidupan  yang menggoda ketenangan hidup manusia, baik yang bersifat spirituil, sosial, kultural, ekonomis, maupun ideologis dalam hidup pribadi manusia[91]
Dalam konfrensi Islam Sedunia yang pertama di Mekkah pada tahun 1977, diungkapkan mengenai tujuan pendidikan Islam berhasil dirumuskan secara komprehensip sistematik sebagai berikut: Pendidikan harus bertujuan mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasional, perasaan dan indera. Karena itu pendidikan harus mencapai pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya: spiritual, intelektual, imajinatif, fisik ilmiah, bahasa, baik secara individual maupun kolektif. Dan mendorong semua aspek ini ke arah kebaikan dan mencapai kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak dalam perwujudan ketertundukan yang sempurna kepada Allah baik secara pribadi, komunitas maupun seluruh umat manusia.[92]
Mengenai beberapa kaidah tentang tujuan pendidikan Islam di atas, Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali melukiskanya di dalam Ta’lim al Shibyan Bighayatu al Bayan Sebagai berikut:
“Tiada diharap dari hasil yang demikian itu melainkan bagi orang yang shah dari padanya niatnya, dan bermula shahnya yang demikian itu adalah kehendaknya di dalam menuntut ilmu itu menuntut akan yang digemari Allah Ta’ala yaitu mengerjakan taat dan menjauhkan maksiat dan lagi diamalkannya ilmunya pada yang memberi manfaat padanya dan isyarat keluar daripada kalam jahil kepada terang ilmu, maka inilah yaitu niat yang shahih yang dipuji atas kemudiannya itu di dalam dunia wabillahittaufiq[93].
         Tujuan pendidikan Islam yang lebih terperinci mengenai tugas manusia sebagai individu dihadapan Allah antara lain pernyataan beliau:
Soal                    : apakah yang wajib atas tiap-tiap mukallaf menunaikan dia itu?
Jawab                 : wajib atasnya menunaikan sekalian barang yang diwajibkan dia
                             oleh Allah atasnya, seperti sembahyang dan umpamanya.
Soal                    : apa yang wajib atas tiap-tiap mukallaf pula?
Jawab                 : wajib atasnya pula bahwa ditunaikannya akan yang wajib itu
                             dengan segala rukunnya dan syaratnya dan menjauhi ia akan
                             segala yang membatalkannya
Soal                    : apa yang wajib pula atas tiap-tiap mukallaf pula?
Jawab                 : wajib atasnya pula pula ketika balignya bahwa ‘azam ia yakni
                             menyengaja dan meniatkan ia akan memperbuat tiap-tiap yang
                             wajib atasnya dan bahwa ‘azam ia pula akan meninggalkan tiap-
                             tiap yang haram atasnya.[94]
   Tujuan Pendidikan Islam berkaitan dengan sosial, yang mendorong manusia bekerja keras untuk kehidupan akherat.
(Yaa Ali) Perbuat olehmu akan kebajikan dan jikalau serta orang hina sekalipun, kata Sayyidina Ali apakah yang hina itu yaa rasulullah? Sabdanya yaitu: orang yang diberi ingat akan dia tiada menerimanya akan peringatan dan apabila ditegah akan dia tiada tertegah dan tiada memperdulikan dengan barang yang dikata kepadanya.
(Ya Ali) Bermula sedekah sembunyi itu memadamkan ia akan murka Tuhannya dan membawa ia akan berkah dan rizki yang banyak dan berpagi-pagi olehmu dengan sedekah maka bahwasanya bala’ itu turun sebelum pagi maka menolak ia pada hawayakni udara.[95]  
Tujuan pendidikan Islam yang berkaitan dengan pekerjaan sebagai profesi misalnya:
Hai saudaraku, adapun menuntut dunia dan rizki yang halal karena buat nafkah dirinya dan nafkah anak bininya itu wajib pada hukum syara’ atas mukallaf, dan dunia membantukan agama itu dari pada agama juga. Seperti sabda nabi Saw:
Artinya: “bermula menuntut yang halal itu wajib atas tiap-tiap orang Islam”, dan lagi sabda nabi Saw:
Artinya: “Bermula dunia itu tempat berbidang (bertanam) akhirat, yakni dunia itu tempat menghasilkan akan bekal di dalam akherat karena dunia itu tempat perniagaan akhirat”. Dan lagi sabda Nabi Saw: “Bermula dunia ini manis lagi hijau, barang siapa mengusahai dari padanya harta dari pada yang halalnya dan mengeluarkan dia akan dia di dalam yang sebenarnya niscaya diberi Allah akan dia pahala dan memasukkan akan dia di dalam sorga dan barang siapa mengusahai dari padanya akan harta dari pada yang tiada halalnya dan dibelanjakan di dalam tiada sebenarnya niscaya memasukkan Allah Ta’ala akan dia ke dalam negeri yang hina, yaitu neraka jahannam.
Hai saudaraku, adapun menuntut dunia yang menjadi aib dan keji pada hukum syara’ lagi dibenci oleh Allah ta’ala itu yaitulah yang dibuat kekayaan dan kemegahan dan kebesaran semata bukan karena di belanjakan berbuat kebajikan dan bekal menuntut ilmu atau mengajar akan dia dan bersedekah dan barang sebagainya, atau dengan pencarian yang haram atau buat nafkah dan belanja yang haram karena sekaliannya itu membinasakan agama, seperti sabda Nabi Saw:
Artinya: dan jikalau adalah mencari itu karena takabbur dan kebesaran dan buat kelebihan semata-matanya niscaya adalah ia di dalam jalan syaiton.[96]
 Dari ungkapan di atas tujuan pendidikan Islam menurut Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali:
1.       Tujuan pendidikan Islam itu tergantung dari pada niat pencari pendidikan
2.       Pendidikan Islam berujuan mencapai ridha Allah, dan menjauhi larangan-Nya
3.       Pendidikan Islam bertujuan untuk melakukan tranmisi pengetahuan dengan cara mengamalkan apa yang telah di dapatkan selama belajar.
4.       Pendidikan Islam bertujuan untuk menghilangkan manusia dari alam kebodohan 
4.       Komponen Dasar Pendidikan Islam
Komponen dasar pendidikan Islam ada tiga yaitu orang tua, guru dan murid, karena apabila salah satu di antara ketiga komponen ini ada maka proses pendidikan Islam tidak dapat berjalan. Dalam suatu lembaga pendidikan misalnya telah memiliki seorang guru yang sangat handal, lembaga tersebut juga memiliki kurikulum yang baik dengan penerapan teori terbaru, sarana dan prasarana penunjang juga tersedia; sementara lembaga tersebut sama sekali tidak memiliki murid begitu pula sebaliknya. Sehingga yang dibicarakan pada sub bab ini ada tiga permasalahan, yaitu: orang tua, guru dan murid.
      Peran orang tua dalam komponen ini akan sangat menentukan pada proses pendidikan selanjutnya, karena pendidikan anak terlebih dahulu ada di tangan ibu-bapaknya. Posisi tawar orang tua di sisi Allah sangat tinggi, bagai perumpamaan seorang ulama yang mewarisi ilmu para Nabi, ridha Allah di tangan orang tua dan murka Allah ditangan orang tua. Dengan demikian sudah seyogyanya sebagai anak harus mengerti bagaimana bertingkah laku kepada kedua orang tua. Allah berfirman di dalam al Qur’an, surat al Isra ayat 23-25:
    Artinya:
         Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
         Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
     
      Adapun adab anak kepada orang tua dijelaskan oleh Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel di dalam Cempaka Mulia sebagai berikut:
a.        Mendengar dan mengikuti ia akan segala perkataannya ibu-bapaknya itu dan segala apa yang dicegahkannya itu wajib menjauhi akan dia.
b.        Hendaklah berdiri pada ketika berdiri ibu-bapaknya itu karena menta’tzimkan dia.
c.         Jangan berjalan dihadapan ibu-bapaknya
d.        Jangan ia mengangkat suaranya atas suara ibu bapaknya itu
e.        Apabila dipanggil ibu bapaknya maka hendaknya menjawabnya dengan sopan santun dengan suara lemah lembut
f.          Hendaklah sungguh-sungguh ia memelihara dan menuntut keridhaan ibu bapak dari pada perbuatan dan perkataan serta merendahkan dan menghina diri dihadapan orang tua.
g.        Jangan menyakitkan atas ibu-bapaknya itu dengan sebab berbuat kebajikan bagi keduanya itu dan dengan sebab memeliharakan
h.        Jangan menolak akan keduanya itu dengan tolakan marah akan keduanya itu.
i.          Jangan memasamkan muka dihadapan ibu-bapak sebab marah akan keduanya itu
j.          Jangan musafir melainkan dengan izin ibu-bapaknya melainkan musafirnya itu fardhu ain atasnya maka yaitu tiada berkehendak dengan izin ibu-bapak tetapi sunnah meminta izin dari pada kedua ibu bapak itu.[97]
     
Kemudian orang tua harus membekali anak terlebih dahulu dengan pendidikan-pendidikan pengantar akan dimatangkan nantinya di dalam sebuah lembaga pendidikan. Mengenai tugas orang tua sebagai pendidik, Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali menjelaskannya:
a.       Mengenalkan kepada anak-anaknya tentang Allah dan nabi Muhammad.
b.       Menyuruh anak-anaknya shalat
c.       Mencegahkan anak-anaknya dari yang haram dan mengajarkan segala yang wajib dari kewajiban syariat serta mengenalkan anak-anaknya tentang sunnat.[98]
Dalam perspektif pendidikan Islam, pendidik adalah murabbi, mu’allim dan sekaligus muaddib. Artinya seorang pendidik harus memiliki sifat-sifat rabbani  bijaksana, kasih sayang, terpelajar, tanggung jawab, terhadap peserta didik dan harus menguasai ilmu teoritik, kreatif, memiliki komitmen tinggi dalam mengembangkan ilmu dan sikap  menjunjung tinggi dalam mengembangkan dan menjunjung tinggi  nilai-nilai  ilmiah, serta mampu mengintegrasikan ilmu dan amal sekaligus.[99]
Islam sangat menghormati profesi seorang guru sehingga untuk mengisi tulisan tentang guru murid, Dr. Asma Hasan Fahmi harus mengutip beberapa keterangan dan tulisan  orang yang membicarakan tentang masalah pendidikan baik yang terdapat dalam kitab kesusteraan, agama, maupun yang membicarakan sendiri, memang jarang sekali terdapat suatu pembicaraan mengenai pendidikan tanpa menyinggung status guru, fungsinya dan sopan santunnya, serta kewajiban murid-murid dan kelanjutan yang berguna baginya dalam memperoleh ilmu pengetahuan.[100]
Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali memberikan penjelasan mengenai perilaku seorang guru sebagai berikut:
a.                Ihtimal: yaitu menanggung susah dan menerima suatu yang datang oleh murid dari pada  pertanyaan dan  pekerjaan yang menuyusahkan akan dia yakni hendaklah  orang yang alim itu  bersifat dengn sabar pada suatu yang di datangkan kepadanya dari pada segala yang menyusahkan akan dia dan jangan lekas marah pada muridnya itu.
b.               Luzumul Hilmi: seyogyanya bagi orang yang alim itu (Hibah) hilmi tiada lekas marah.
c.               Menundukkan kepala
d.               Meninggalkan takabbur atas sekalian hamba Allah ta’ala melainkan atas orang dzolim karena menegahkan dari pada dholimnya
e.               Tawadu’yaitu merendahkan diri pada perhimpunan orang yang banyak dan pada majlis orang yang banyak
f.                Meninggalkan bergurau dan bermain
g.               Kasih sayang dengan muridnya berperangai dengan lemah lembut dari pada pekerjaan dan perkataan
h.               Menanti atas pertanyaan Fulan yang dungu atau bebal
i.                 Membaikkan dan membetulkan akan orang yang bebal dan orang jahil dengan menunjukkan jalan kebajikan dan jalan yang benar serta meninggalkan marah bagi orang yang baharu belajar
j.                 Jangan malu mengatakan aku tidak tahu atau mengatakan Wallahu A’lam
k.               Hendaklah bersungguh-sungguh menghadap kepada orang yang bertanya akan masalah dan menuntut paham akan soal orang itu supaya menjawab ia akan masalah itu
l.                 Menerima dalil yang membenarkan perkataan orang atau perkataan murid dan jangan ditolaknya atau dalil itu karena malu kepada orang banyak karena menyangkut orang yang benar itu wajib dan jikalau dari pada  orang yang rendahan dari kita sekalipun
m.             mengikuti kepada yang benar dengan kembali kepadanya ketika bersalahan pada suatu masalah
n.               Mencegahkan ia akan orang yang belajar ilmu yang memberi mudharat akan dia
o.               Mencegahkan ia akan orang mengkasadkan dengan belajar ilmu yang bermanfaat akan yang lain dari pada wajah Allah.
p.               Hendaklah mencegah orang yang belajar yang fardu kifayah dahulu dari pada selesai dari pada fardu ain bermula fardu ain itu membaikkan ia akan dhohirnya dan bathinnya dengan taqwa yakni dengan mengerjakan ibadah dhohir dan yang batin dan menjauhkan ma’shiat yang dhohir dan yang batin seperti yang tersebut di dalam bidayah wallahul hadi ila shirotil mustaqim
q.               Hendaklah ia mengamalkan akan ilmunya itu supaya ia diikuti oleh tilmidznya yakni orang yang belajar itu akan ilmunya dan perkataannya wallahuttaufiq.[101]
Mengenai pendapatan dari hasil pengajaran ini dan orang yang berkewajiban memberikan dana untuk biaya pendidikan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali berpendapat:
Atas siapa upah mengajarkan kanak-kanak itu akan yang demikian itu? Bermula upah mengajarkan akan yang demikian itu yakni segala yang wajib dan upahnya seperti mengajar Qur’an dan adab itu pada hartanya kemudian atas bapaknya kemudian atas ibunya kemudian pada baitul maal kemudian atas segala orang muslim yang kaya.[102]
   
Komponen ketiga dalam pembahasan ini adalah murid, Tuan Guru Haji Muahammad Soleh Chambali memberikan apresiasi  yang sungguh luar biasa terhadap pendidikan anak ini terbukti hampir seluruh kitabnya menggunakan khitab anak-anak sebagai media menjelaskan hukum-hukum, etika serta adab yang baik, hal ini dicontohkannya sebagai berikut:
Dan aku aturkan dia atas jalan soal dan jawab, supaya mudah bagi diriku dan bagi segala kanak-kanak yang baharu belajar mempahamkan dia dengan jalan showab maka barang yang ada padanya yang betul maka dari pada segala asalnya dan barang yang ada padanya dari pada yang salah maka dari padaku tiada dari padanya[103].
Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali memberikan penjelasan mengenai urutan-urutan bagi murid dalam menuntut ilmu. Pertama,  beliau memulainya dengan hukum menuntut ilmu, macam-macam ilmu, setelah itu beliau berbicara mengenai berbagai kelebihan ilmu, kelebihan bagi orang yang menuntut ilmu, buah (hasil) dari pada menuntut ilmu, kemudian beliau membahas hal-hal yang menyebabkan kuat atau lemahnya hafalan bagi seorang murid dan yang menyebabkan lupa.[104]    
   Kedua, kaidah menutut ilmu pengetahuan yang semakin hari kita lupakan adalah berdo’a sebelum dan sesudah belajar adapun doa yang dianjurkan oleh Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali adalah:
Doa sebelum belajar:
بسم الله سبحان الله والحمدلله ولااله الاالله اكبرولاحول ولاقوةالابالله العلي العظيم العزيز العليم عدد كل حرف كتب ويكتب ابد الأبدين ودهر الداهرين
Do’a sesudah belajar:[105]
امنت باللهالواحدالأحدالحق وحده لاشريك له وكفرت بماسواه
Ketiga, kaidah ilmu pengetahuan yang perlu dihadirkan kembali kebumi pendidikan Islam adalah cara seorang penuntut ilmu untuk meraih ilmu itu sendiri. Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali memberikan beberapa kiat dalam belajar bagi seorang penuntut ilmu:
Bermula sekuat-kuat sebab jadi hafidz itu bersungguh-sungguh dan mengalakkan yakni memperhatikan, dan mensedikitkan makan-makanan dan sembahyang pada waktu tengah malam, dan membaca qur’an dilihat, dan membaca qur’an dengan dilihat itu terlebih afdhal[106]
Seorang murid harus membersihkan dirinya dari kotoran sebelum ia menuntut ilmu, karena belajar adalah semacam ibadah, dan tidak sah ibadah kecuali dengan bersih hati, bersih hati artinya menjauhkan diri dari sifat-sifat yang tercela seperti dengki, benci, menghasud, takabbur, menipu berbangga-bangga dan memuji diri dan menghiasi diri dengan akhlaq mulia seperti benar, taqwa, zuhud, dan merendahkan diri sebagaimana dikatakan oleh Dr. Asma Hasan Fahmi.
a.       Hendaklah tujuan belajar itu ditujukan untuk menghiasi ruh dengan sifat keutamaan, mendekatkan diri dengan tuhan dan bukan untuk bermegah-megahan dan mencari kedudukan.
b.       Dinasehatkan agar para pelajar tabah memperoleh ilmu pengetahuan dan supaya merantau, sekiranya keadaan menghendaki untuk pergi ke tempat yang jauh untuk memperoleh seorang guru, maka ia tidak boleh ragu-ragu untuk itu, demikian ia juga dinasehatkan agar ia tidak sering menukar guru, kalau keadaan menghendaki ia harus menanti sampai dua bulan sebelum menukar seorang guru.
c.       Wajib menghormati guru dan bekerja untuk memperoleh kerelaan guru, dengan mempergunakan bermacam-macam cara.[107]   
   Adapun mengenai adab murid kepada guru, Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali menyebutkan di dalam Kitab Cempaka Muliasebagai berikut:
a.        Apabila bertemu dengan gurunya hendaklah ia memberi salam
b.        Bahwa jangan membanyakkan berkata-kata di depan gurunya
c.         Bahwa jangan ia berkata-kata dengan barang yang tiada ditanya oleh gurunya itu
d.        Jangan bertanya pada gurunya melainkan setelah mendapat izinnya
e.        Jangan ia meninggalkan perkataan gurunya dengan katanya si Fulan menyalahi yang engkau katakan itu barang sebagainya.
f.          Bahwa jangan ia memberi marah pada gurunya itu yang menyalahi akan bicara gurunya menjaga ia lebih benar daipada gurunya maka yang demikian itu kurang adab kepada gurunya lagi kurang berkah.
g.        Bahwa jangan berpaling ia kekiri dan kekanan di hadapan gurunya tetapi hendaklah ia duduk tunduk lagi beradab seolah-olah di dalam sembahyang.
h.        Jangan membanyakkan soal tatkala ia capai
i.          Apabila berdiri gurunya maka hendaklah ia berdiri pula karena ta’zimkan akan gurunya dan jangan di ikuti pada katanya
j.          Jangan jahat sangka dengan gurunya[108]
Dari uraian mengenai adab guru murid di atas dapat disimpulkan bahwa: Pertama, akhlak itu menempati tempat yang lebih penting dari ilmu, dan ini merupakan prinsip dasar yang harus digunakan untuk pembinaan guru dan pelajar bersama-sama sebagaimana wudhu’ mendahului sembahyang, maka demikian pula pembersihan jiwa harus di dahulukan dari pada belajar, karena ilmu sebagian dari ibadah.
Atas dasar inilah orang Islam menganggap bahwa pekerjaan yang pokok bagi seorang guru adalah menanam akhlak dan membentuk sifat-sifat yang utama. Tidak dapat diragukan lagi bahwa yang demikian itu terdapat inti hikmah dan tujuan pelajaran, karena pendidikan yang tidak berasaskan akhlak pasti merupakan pendidikan yang gagal, dan tiap-tiap perubahan  yang tidak berakar pada kebaikan dan sifat-sifat yang utama adalah peradaban yang palsu dan bohong, seperti fatamorgana. 
Kedua, Mensucikan ilmu dan para ulama. Sebenarnya sikap ini adalah sebagian dari gejala-gejala pendidikan Islam yang terbaik, dan padanya terdapat pengaruh yang luar biasa dalam memperkuat kecondongan yang ideal pada perorangan, kecondongan mana yang dapat mengisi jiwa seseorang dengan kehusyu’an, keimanan dan ketabahan. Mensucikan guru akibat dari mensucikan ilmu. Akan tetapi kita tidak mengingkari bahwa berlebih-lebihan dalam sikap mensucikan guru dapat menjurus kepada keterikatan cara perfikir pada waktu kita menghendaki adanya keseragaman sikap dan kesatuan tujuan. Kalau sekiranya kita mengecam masa yang lalu karena berlebih-lebihan mensucikan ilmu dan para ulama maka zaman modern sekarang ini terdapat sikap yang berlebihan dalam keragu-raguan dan ketidak satuan paham, sehingga dapat mengakibatkan kerenggangan sosial, kebingungan dan ketidak tenangan. Meskipun demikian kecondongan ini kadang-kadang merupakan salah satu gejala asimilasi pemikiran yang mengakibatkan terciptanya satu hal yang baru yang lebih kukuh dan harmonis serta lebih sesuai dengan kebutuhan zaman modern.
Ketiga, mencurahkan perhatian yang mendalam untuk memperkuat hubungan perorangan dan ikatan kasih sayang antara guru dan pelajar. Kepada guru dimintakan untuk mendahulukan kasih sayang dalam pergaulan dengan para pelajar sehingga merupakan salah satu pergaulan antara seorang bapak dengan anak-anakanya. Dari pihak para pelajar di tuntut utuk mentaati guru dan menghormatinya, menjaga ketenangan dan berusaha untuk memperoleh kerelaannya.[109]
5. Kurikulum Pendidikan Islam
Pengertian kurikulum secara bahasa dalam pendidikan Islam, kita akan kembali kepada kamus-kamus bahasa Arab, maka kita akan dapatkan kata-kata manhaj yang dimaksudkan sebagai jalan terang, atau jalan terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai kehidupannya.[110]
Kurikulum menurut Dr. Omar Muhammad Al Toumy Al Syaibany: sejumlah kekuatan, faktor-faktor pada alam sekitar pengajaran dan pendidikan yang di sediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya di dalam dan di luarnya, dan sejumlah pengalaman-pengalaman yang lahir dari pada interaksi dengan kekuatan dan faktor ini.[111]
Definisi di atas mengantarkan kita pada beberapa ciri kurikulum pendidikan Islam, di antara ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam, berdasar pada apa yang telah disebutkan di atas dapat disebutkan sebagai berikut:
Pertama, menonjolnya ciri agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan-kandungan, metode-metode, alat-alat dan tekniknya bercorak agama.
Kedua, meluasnya perhatian dan menyeluruhnya kandungan-kandungannya. Kurikulum yang betul-betul mencerminkan semangat pemikiran, ajaran-ajarannya adalah kurikulum yang luas dan menyeluruh dalam perhatian dan kandungannya
Ketiga, ciri-ciri keseimbangan yang relatif di antara kandungan-kandungan kurikulum dari ilmu-ilmu dan seni, atau kemestian-kemestian, pengalaman-pengalaman, dan kegiatan-kegiatan pengajaran yang bermacam-macam.
Keempat, kecenderungan pada seni-halus, aktivitas pendidikan jasmani, latihan militer, pengetahuan teknik, latihan kejuruan, bahasa-bahasa asing, sekalipun atas dasar perseorangan dan juga bagi mereka yang memiliki kesediaan dan bakat-bakat bagi perkara-perkara ini dan mempunyai  keinginan untuk mempelajari dan melatih diri dalam perkara itu.
Kelima, berkaitan dengan antara kurikulum dalam pendidikan Islam dengan kesediaan-kesediaan pelajar-pelajar dan minat, kemampuan, kebutuhan dan perbedaan-perbedaan perseorangan di antara mereka.[112]     
Kurikulum pendidikan klasik lebih menekankan isi pendidikan dari pada prosesnya; hal ini berdasarkan pada pemahaman bahwa peninggalan masa lalu telah sangat refresentatif dan cukup baik bagi peserta didik, tinjauan klasik ini lebih menekankan pada apresiasi seorang guru yang akhirnya menyebabkan peserta didik menjadi pasif, mengenai tugas guru sebagai pengajar kurikulum klasik Prof. Dr. Nana Saodih Sukmadinata mengatakan sebagai berikut: tugas guru dan para pengembang kurikulum adalah memilih dan menyajikan materi ilmu tersebut disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik. Sebelum dapat menyampaikan materi ilmu pengetahuan tersebut secara sempurna, para pendidik atau calon pendidik terlebih dahulu harus mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.[113] 
Tugas guru atau para pendidik bukan hanya mengajarkan materi pengetahuan tetapi juga melatih keterampilan dan menanamkan nilai. Mendidik nilai tidak sama dengan mengajarkan pengetahuan yang berbentuk penyampaian informasi, tetapi perlu dimanifestasikan dalam perilaku sehari-hari.
Menurut konsep pendidikan klasik, guru atau pendidik adalah ahli dalam bidang ilmu juga contoh atau model nyata dari pribadi yang ideal. Siswa merupakan penerima pengajaran yang baik, tetapi sebagai penerima informasi sesungguhnya mereka pasif. Meskipun demikian dalam pendidikan klasik siswa bekerja keras menguasai apa-apa yang di ajarkan dan ditugaskan oleh guru. Pendidikan lebih menekankan perkembangan segi-segi intelektual dari pada segi emosional psikomotor.
Dalam menyusun kurikulum pendidikan Islam setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
a.       Nilai materi atau mata pelajaran, karena pengaruhnya dalam mencapai kesempurnaan dan keutamaan jiwa dengan cara mengenal Tuhan yang Maha Esa.
b.       Nilai mata pelajaran karena mengandung nasehat untuk mengikuti jalan hidup yang baik dan utama.
c.       Nilai mata pelajaran karena pengaruhnya yang berupa latihan, atau nilainya dalam memperoleh kebiasaan yang tertentu dari akal yang dapat berpindah kelapangan-lapangan yang lain bukan lapangan mata pelajaran yang melatih akal itu pada kali pertama.
d.       Nilai mata pelajaran yang berfungsi pembudayaan dan kesenangan otak (intellect)
e.       Nilai pelajaran karena diperlukan untuk mempersiapkan seseorang guna memperoleh pekerjaan atau penghidupan.
f.         Nilai pelajaran karena ia merupkaan alat atau media[114].
Kurikulum pada masa kejayaan Islam menurut Mahmud Yunus, diklasifikasikan  pada:
Pertama, rencana pengajaran kuttab (pendidikan dasar) yaitu meliputi: membaca al Qur’an dan menghafalnya., b. pokok-pokok agama Islam, seperti cara berwudhu’, sholat, puasa dan sebagainya., c. menulis., d. kisah atau riwayat orang-orang besar Islam., e. berhitung., Pokok-pokok nahwu dan sharaf ala kadarnya.[115]
      Kedua, rencana pengajaran tingkat menengah, yaitu meliputi: al Qur’an., b. bahasa Arab dan kesusasteraannya., c. fiqh., d. tafsir., d. hadits., e. nahwu/ sharaf/ balagah., f. ilmu-ilmu pasti., g. mantiq., h. ilmu falaq., i. tarikh., j. ilmu ilmu alam., k. kedokteran; l. musik. [116]
Dalam konfrensi pendidikan Islam se Dunia kedua di Islamabad, Pakistan pada tahun 1980, berhasil dirumuskan pola kurikulum pendidikan Islam, yaitu  kelompok 1, pengetahuan abadi, terdiri dari: pertama, al Qur’an mencakup di dalamnya bacaan (qira’ah), hafalan (hifdz) dan tafsir (tafsir), kedua, Sunnah., ketiga, sirah nabi mencakup sahabat-sahabat nabi, dan para pengikut mereka pada awal sejarah Islam, keempat, tauhid., kelima  ushul fiqh., dan keenam bahasa Arab Qur’an mencakup fonologi, sintaksis dan simantik, dan kelompok 2, pengetahuan yang diperoleh terdiri dari: pertama, imajinatif mencakup seni, arsitektur Islam, bahasa dan sastra, kedua, ilmu-ilmu intelektual mencakup studi sosial, filsafat, pendidikan ekonomi, ilmu politik, sejarah, peradaban Islam, geografi, sosiologi, linguistik, psikologi, dan antropologi, ketiga,  ilmu-ilmu yang mencakup filsafat ilmu pengetahuan, matematika, kimia, ilmu-ilmu terapan yang mencakup rekayasa dan teknologi  (Sipil dan Mesin sebagai contohnya), obat-obatan  dan sebagainya, kelimailmu-ilmu praktis mencakup perdagangan, ilmu-ilmu administerasi perusahaan, ilmu perpustakaan, ilmu-ilmu komunikasi dan lain sebagainya.[117]
Karel A. Steenbrink, menyebutkan beberapa materi pelajaran yang ada di lembaga pendidikan Islam klasik sebagai berikut:
a.              Para murid pengajian ini umumnya masuk asrama dalam lingkungan lembaga pendidikan agama yang disebut pesantren.
b.              Mata pelajaran yang diberikan meliputi mata pelajaran yang lebih banyak dari pada pengajian al Qur’an. Fase pertama pendidikannya pada umumnya dimulai dengan pendidikan bahasa.
c.              Pendidikan diberikan tidak hanya secara individual tetapi juga secara kelompok.[118]
Beberapa teori di atas cukup gamblang dan jelas menggambarkan beberapa mata pelajaran yang diajarkan pada tingkat pertama atau sekolah rendah, kedua sekolah menengah dan ketiga sekolah tinggi.
Kurikulum yang diajarkan yang diajarkan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali berdasarkan pada kitab-kitabnya.
a.       Tauhid, Fiqih,  Tasawuf
Berapakah segala ilmu yang dituntut akan dia dan diamalkan dengan dia itu fardhu ‘ain yaitu tiga perkara (pertama) ilmu tauhid (dan ke dua) ilmu fiqih (dan ketiga) ilmu tasawuf.[119]
Mengenai ke tiga materi pelajaran ini, Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali memberikan penekanan yang sangat khusus, terlihat di dalam sebuah syair :
Belajar olehmu ayuhai ikhwani                            Karena adalah ilmu pengetahuan
Kepada ahlinya menjadi kemuliaan                     Alamat terpuji serta kelebihan
Adakan olehmu mendapat faidah                       Setiap hari bertambah-tambah
Berenanglah engkau dilautan faidah                   Agar jalanmu tiada tersalah
Fiqih pula ayuhai ikwani                                      Ialah sebagus-bagus perpegangan
Kejalan taqwa ia ujutkan                                     Seadil yang adil ia sebutkan
Jalan petunjuk ia ujutkan                                     Ialah pagar yang memeliharakan
Daripada sekalian kesengsaraan                        Demikian pula dari pada kejahilan
Seribu orang beribadah senantiasa                    Kepada mereka syaiton sangat gemarnya
Tetapi Faqih wara’ seorang dirinya                     Syaiton itu lebih enggan dari padanya
Hai saudaraku, dari karena inilah kata Imam Malik RA., artinya barang siapa menuntut ilmu tasawuf dan tiada ia mengetahui ilmu fiqih yang fardu ‘ain itu maka sanya jadi zindik ia, dan barang siapa menuntut ilmu fiqih dan tiada menuntut ilmu tasawuf, maka ia sanya jadi fasiq ia, dan barang siapa dan barang siapa menghimpunkan antara keduanya maka sanya jadilah ia ulama yang tahqiq yakni yang sebenar lagi arif.[120]   
b.       Pengajaran Adab
Mengenai mata pelajaran adab, Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali menuliskannya di dalam mukaddimah Cempaka Mulia:
Wa ba’du, kemudian dari pada itu. Maka inilah suatu risalah yang mukhtasar yang di dalamnya beberapa akhlaq dan adab yang baik-baik aku petik akan dia dari pada kebun ulama al ‘amilin dari pada ahlus Sunnah wal Jamaah.[121]
c.       Pengajaran al Qur’an
Mengenai al qur’an Tuan Guru Haji Muhamad Soleh Chambali mengatakan di dalam Ta’lim al Sibyan Bi Ghayatu al Bayan sebagai berikut:
Soal     : Atas siapakah upah mengajarkan kanak-kanak itu akan yang demikian
 Itu?
Jawab : Bermula upah mengajarnya akan yang demikian itu. Yakni segala yang
wajib dan umpamanya seperti mengajarkan al Qur’an dan adab itu pada
hartanya, kemudian atas bapaknya, kemudian atas ibunya, kemudian kepada baitul
maal kemudian atas segala orang muslimin yang kaya.[122] 
d.       Pengajaran mengenai Fiqih Ibadah dan Fiqih Mu’amalah dan Fiqih Keluarga
1. Materi fiqih ibadah:
Wajib pula atasnya bahwa menyuruh ia akan kanak-kanak itu dengan sembahyang dan jikalau kada’ sekalipun dan dengan segala syaratnya[123]
2. Materi fiqih mu’amalah:
Hai saudaraku, maka wajib atas orang yang berkehendak berjual beli bahwa ia belajar dan mengetahui akan yang demikian itu yakni segala kiatnya, syarat-syaratnya dan rukun-rukunnya dan jikalau tiada niscaya ia makan riba, berkehendak ia atau tiada, dan diriwayatkan bahwasanya sayidina Umar RA. Ia berkeliling di pasar dan memukul ia akan setengah saudagar dengan cemeti dan berkata ia: jangan menjual pada pasar kami melainkan seorang alim pada ilmu fiqih dan jika tiada niscaya ia makan riba[124]
3. Materi Fiqh keluarga
Wahai anakku laki dan perempuan- Silakan dengar ini pengajaran- Sepertinya intan berlian- Jadi perhiasan laki perempuan-Dipetik dari pada hadits Nabi-  Yang diriwayatkan oleh Ali – Dan isterinya bintang gerak- Ialah Fatimah Al Zahra – Silakan pakai malam dan hari- Supaya berselamat berlaki Isteri- Lagi senang mendapat rahmat- Ditambah pula dengan ni’mah- Salam Bapak dengan hormat- Merdeka tetap dunia akherat.[125]
e.       Pengajaran kitab Hadits.
Materi tentang hadits terdapat di dalam Mawa’idzhu al Sholihiyah:
Inilah Suatu Pendahuluan- Kehadirat ikhwati- Dicahayakan Allah muka seorang – Mendengar Hadits yang cemerlang –Maka ditunaikan ia kelain orang- Seperti yang di dengarnya dengan terang- Barang siapa menyampaikan kesaudaranya- Empat puluh hadits pada agamanya- Di bangkitkan Allah di hari qiamat – Masuk Syorga bareng pintunya- Pengatur ini (kitab) berkirim salam- Merdeka tetap sempurna dan tamam.[126]
6. Metode Pendidikan Islam
Metode diartikan sebagai cara mengerjakan sesuatu, cara itu mungkin baik ataupun sebaliknya buruk dan berakibat fatal. Dalam pengertian letterlijk, kata “metode” berasal dari bahasa greek yang terdiri dari meta yang berarti  “melalui” dan hodos yang berarti “jalan”. Jadi metode artinya “jalan yang dilalui.”[127]
Di kalangan masyarakat kita, masih terdapat pandangan yang membedakan pengertian antara apa yang dimaksud dengan pendidikan dan apa pengajaran. Dua istilah itu dalam persoalan teknis pedagogis tidak pernah diperdebatkan,[128] oleh karena itu dalam pembahasan metode pendidikan khususnya pendidikan Islam, perlu melihat semua aspek dari kegiatan pendidikan dan pengajaran baik di lihat dari pendidik maupun anak didik.
a.       Pendidik dengan metodenya harus mampu membimbing, mengarahkan dan membina amal didik menjadi manusia yang matang atau dewasa dalam sikap dan kepribadiannya, sehingga tergambarlah dalam tingkah lakunya nilai-nilai ajaran Islam dalam dirinya.
b.        Anak didik yang tidak hanya menjadi obyek pendidikan atau pengajaran, melainkan juga menjadi subyek yang belajar, memerlukan suatu metode belajar agar dalam proses belajarnya dapat searah dengan cita-cita pendidik atau pengajarnya.[129]
   Secara umum, dapat dikatakan di dunia Muslim terdapat dua sistem pendidikan yang mengikuti dua metode pengajaran, yang modern dan tradisional. Menurut metode tradisional, para pelajar diharapkan telah menerima Qur’an dan Sunnah sebagai kebenaran mutlak dan telah melanjutkan penjelajahan terhadap sumber-sumber pengetahuan lain. Dengan demikian kerangka metafisika yang disediakan oleh Islam membantu pelajar untuk menggunakan logika sambil menjelaskan atau menafsirkan sesuatu ide atau merumuskan konsep-konsep baru.[130]
Prof. HM Arifin, M.Ed., menjabarkan metode pengajaran yang disandarkan pada khitab Allah di dalam al Quran sebagai berikut:
a.       Mendorong manusia untuk menggunakan akal fikirannya dalam menelaah dan mempelajari gejala kehidupannnya sendiri dan gejala kehidupan alam sekitarnya.
b.       Mendorong manusia untuk mengamalkan ilmu pengetahuan dan mengaktualisasikan  keimanan dan takwanya dalam kehidupan sehari-hari atau perintah dan larangan.
c.       Mendorong berjihad, dalam hubungan ini maka metode yang di gunakan menggunakan pendekatan motivatif dari tiga aspek yaitu: teogenetis yang memberikan dorongan berdasarkan nilai agama, sosiogenetis yang memberikan dorongan berdasarkan nilai-nilai dari kehidupan masyarkat serta motivasi biogenetis yang mendorongnya berdasarkan kehidupan biologisnya selaku manusia.
d.       Dalam usaha meyakinkan manusia bahwa Islam merupakan kebenaran yang hak, Tuhan sering pula menggunakan metode pemberian suasana pada suatu kondisi tertentu
e.       Metode mendidik secara kelompok yang dapat disampaikan dengan metode mutual education, seperti nabi mengajarkan shalat dengan mendemonstrasikan gerakan-gerakan shalat di depan para sahabat
f.         Metode pendidikan dengan menggunakan cara instruksional, bersifat mengajar yang lebih menitik beratkan pada kecerdasan dan ilmu pengetahuan, misalnya Allah mengajarkan tentang ciri-ciri orang yang beriman dalam bersikap dan bertingkah laku agar mereka mengetahui bagaimana sebenarnya cara bersikap dan bertingkah laku[131]
Ibnu Khaldun berpendapat tentang perbedaan metode yang diajarkan pada anak-anak diberbagai kota Islam: mengajar anak-anak mendalami al Qur’an merupakan  suatu simbol dan pekerti Islam. Orang Islam memiliki al Qur’an dan mempraktekkan ajarannya, dan menjadikannya pengajaran, ta’lim, disemua kota mereka. Hal ini akan mengilhami hati dengan suatu keimanan, dan memperteguh keyakinan kepada Allah dan matan-matan hadits.[132]  
H. Abu Tauhid MS, dalam bukunya Beberapa Aspek Pendidikan Islam menyebutkan dengan mempelajari sumber al Qur’an, al Hadits dan pendapat-pendapat para ulama, kita dapat mengetahui adanya beberapa metode pendidikan Islam yang dapat kita terapkan antara lain: At- Thoriqatu Bi al Mau’idzah, At- Thoriqatu Bi al Kalami al Shrih, At- Thoriqatu Bi al Qudwati al Sholihah, At- Thoriqatu Bi al Su’al li Maqashidi al Ta’lim, At- Thoriqatu Bi Riyadhati al Atfal, At- Thoriqatu Bi al Ibrah wa bi al Qisshah, At- Thoriqatu Bi al Targhib wa al Tarhib, At- Thoriqatu Bi Mura’ati al Isti’dadi wa al Tabi’y, At- Thoriqatu Bi al Tadarruji, At- Thoriqatu min al Makhsushi ila al Ma’quli, At- Thoriqatu Bi al Qiyasiyah, At- Thoriqatu Bi al Bahtsiyah. [133]
Perbedaan-perbedaan yang terjadi memang sebuah keharusan karena satu lembaga pendidikan dengan yang lainnya tidak bisa disama-ratakan walaupun pada tataran isi dan nilai yang diajarkannya sama, misalnya diakalangan pesantren tradisional menggunakan sistem sorogan dan bandongan, tapi tidak sedikit yang mengkombinasikannya dengan sistem pendidikan klasikal dengan menambahkan kurikulum pendidikan umum di dalamnya.[134]
Penulis berkeyakinan apa yang diatur oleh suatu lembaga pendidikan tidak akan jauh menyimpang dari tujuan pendidikan itu sendiri, melihat konteks ini maka metode pengajaran yang dilakukan oleh Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkeldi dalam kitab-kitabnya dapat disebutkan sebagai berikut:
a.              Metode Tanya jawab
                      Dalam Kitab Ta’lim Ashibyan Bighayatul Bayan misalnya: Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali mengatakan dalam pengantarnya sebagai berikut:
          “Dan aku aturkan dia dengan jalan soal dan jawab, supaya mudah bagi diriku dan bagi segala kanak-kanak yang baharu belajar mempahamkan dia dengan shawab[135]
b.              Metode bahtsiyah (induktif)
                      Penulis memandang bahwa sesungguhnya Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali secara tidak langsung ingin mengatakan kepada kita mengenai penalaran yang digunakan dalam menulis karya-karyanya.[136] ini terbukti dengan pernyatan beliau pada kitab-kitabnya, mengenai beberapa sumber rujukan pengambilan materi kitab-kitab beliau, dengan memberikan contoh sebagai pembuktian dari metode ilmiah
a.       Ta’lim Al Shibyan Bighayatu al Bayan
“Maka inilah suatu risalah yang mukhtasarah, aku ambil akan dia dari pada beberapa bilangan kitab yang mu’tabarah, maka setengah dari padanya itu Riyadhah al Wardiyah dan Safinah dan hidayah[137]
b.       Bintang Perniagaan pada kelebihan berusaha
“Dan kemudian daripda itu, maka inilah suatu risalah yang mukhtasahrah, aku ambil akan dia dari pada beberapa tokoh ulama yang mu’tabarah, dari pada ahlussunah wal jamaah, pada menyatakan kelebihan berniaga dan hukum berjual beli dan mu’amalah”.[138]
c.       Washiyat al Mustafa li Ali al Murthadha
“Dan kemudian dari pada itu maka inilah suatu washiat yakni pesan dan nasihat nabi  al Musthafa Muhammad Saw kepada sayidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah diterjemahkan dia dengan bahasa Indonesia oleh Hamba Allah yang Faqir lagi bodoh ialah Muhammad Shaleh Chambali Bengkel”.[139]
d.       Intan Berlian perhiasan Laki Perempuan
“Kemudian dari pada itu inilah sebuah risalah yang ada di dalamnya beberapa hadits Nabi Saw dan perkataan ulama aku petik akan dia dengan pendek dari pada kebun ulama yang mu’tamad, buat khusus pengajaran pada anakku laki perempuan  yang disayang keduanya seperti intan berlian”.[140]
e.       Mawa’idzzu al Shalihiyah fi al Hadits An Nabawiyah
“Ini Kitab bernama Mawa’idzzu al Shalihiyah fi al Hadits An Nabawiyah terjemah dari pada Mawaidzul Usfuriyah fi al Ahadits An Nabawiyah. Dan Ialah yang melengkapi atas ampat puluh dari pada beberapa hadits nabawiyah, beserta beberapa paidah tarikhiyah, dan beberapa hikayat shufiyah, dan beberapa kebaikan adabiyah dengan bahasa melayu (Indonesia)  oleh hamba Allah oleh hamba Allah al mudznib al Jani, Muhammad Shaleh Chambali Bengkel Lombok”.[141] 
f.         Cempaka Mulia
“ Dan kemudian dari pada itu maka inilah sebuah risalah yang mukhtasarah yang di dalamnya bebrapa akhlaq dan adab yang baik-baik aku petik akan dia dari pada beberapa kebun ulama al amilin dari pada ahlussunah wal jama’ah maka setengah dari padanya itu  Bidayah al Hidayah bagi Imam Ghazali”[142].  
c.               Metode Pembiasaan
Mengenai metode pembiasaan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali  merujuk pada hadits nabi tentang perintah shalat bagi anak-anak, untuk lebih lengkapnya, penulis kutibkan pandangan beliau seperti yang tertulis dalam Ta’lim al Shibyan Bighayatu al Bayan:
 “Bermula hikmah yang demikian itu yakni suruh dan pukul atasnya itu yaitu menggemarkan atas ibadah supaya di adatkan dia maka tiada meninggalkan dia apabila ia balig Insya Allah.[143]
Mengenai siapa yang berhak memukul peserta didik itu, adakah seorang pendidik dengan serta merta boleh memukul peserta didik, dalam kaitan dengan ini Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali membolehkan seorang guru memukul peserta didiknya apabila terlebih dahulu mendapatkan izin dari kedua orang tuanya (walinya), beliau menjelaskan:
apa yang harus bagi guru atas kanak-kanak itu ? harus baginya atasnya itu menyuruh tiada memukul melainkan dengan izin walinya; wallahu A’lam.[144]
d.              Metode Mau’idzhah
Kata Mau’izhah berarti petunjuk, nasehat atau menasehati, metode ini digunakan untuk menasehati peserta didik mengenai hukum-hukum, ajaran-ajaran yang baik di dalam kehidupannya kini esok dan yang akan datang. Metode ini juga digunakan oleh Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel untuk memberi penjelasan kepada peserta didik agar selalu ingat akan maksiat dan dosa dengan satu tujuan peserta didik menjauhinya:
Kepada waqi’ aku adukan                       jahatnya hafadzku aku khabarkan
Lalu ia segera bilangkan                         segala maksiat tinggalkan
Ingatlah lagi wahai ikhwani                     menghafadz itu ialah kelebihan
Dari padanya tuhan bersifat rahman     kepada yang ‘ashi tiada diberikan [145]
e.             Metode Cerita (Perumpamaan)        
            Contohnya terdapat di dalam Washiyat al Musthafa li Ali al Murthada dan Mawa’idzu al Sholihiyah
 “Hai Ali engkau dari padaku bagai menempati Harun dari pada Musa As lainnya bahwasanya aku berwhasiat jika engkau pelihara akan dia niscaya hidup engkau yang dipuji dan mati engkau mati sabil”.[146]
            Beberapa cerita lain terdapat di dalam Mawa’idzzu al Sholihiyah misalnya, hadits yang ke empat belas:
Dengan Isnad yang muttasil kepada Anas bin Malik RA.  Katanya: adalah kami duduk pada sisi nabi alaihissalam tiba-tiba berhadapan atasnya  seorang laki-laki dari pada setengah shahabatnya  dan dua betisnya mengalir darah maka sabda nabi Alaihissalam apa ini katanya hai Rasulullah bahwasanya aku berjalan dengan anjing si Anu yang munafik maka menggigit ia akan daku maka sabda nabi Saw duduk olehmu, maka duduk ia dihadapan rasulullah maka tatakala adalah kemudian dari pada sesaat tiba-tiba berhadap seorang laki-laki yang lain dari pada shahabatnya dan dua betisnya mengalir darah maka katanya hai rasulullah bahwa sanya aku berjalan dengan anjing si Anu yang munafik maka menggigit ia akan daku  maka bangun nabi  Saw   maka sabdanya bagi sahabatnya marilah kamu dengan kami kepada ini anjing hingga kami bunuh akan dia maka berdiri mereka itu sekalian, dan menanggung oleh tiap-tiap  seorang akan pedangnya maka tatkala datang mereka itu akan dia dan berkehendak  mereka itu bahwa memukul  mereka itu akan dia dengan pedang terhunus ia dihadapan rasulullah Saw dan berkata ia dengan lidah yang Fasih: jangan kau bunuh akan daku maka bahwa sanya aku percaya dengan Allah dan dan rasulnya, maka sabdanya apa bagimu kamu gigit ini dua laki-laki maka katanya hai rasulullah bahwasanya hamba anjing yang disuruh bahwasanya  gigit seorang yang memakai  barang Syidina Abi Bakar dan Umar RA.; sabda nabi Saw hai dua ini laki-laki tiadakah kedua kamu dengar akan barang yang dikata oleh anjing;  kata keduanya hai Rasulullah bahwasanya kami seperti yang demikian itu dan sekarang ini taubat kami kepada Allah Ta’ala dan rasulnya.[147]            
f. Metode Bertanya untuk mengetahui kemampuan Murid
            Metode ini digunakan untuk menguji kemampuan seorang murid memecahkan sebuah persoalan, yang sebenarnya guru telah mengetahui jawabannya. Metode ini digunakan oleh Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali untuk menguji LM. Turmudzi saat menjadi santri Darul Qur’an sebagaimana diceritakan oleh TGH. LM. Turmudzi sendiri:            
            Syahdan, pada suatu ketika Datok Soleh memanggil saya, kemudian beliau bercerita bahwa lumbung padi telah habis, lalu datok berkata tolong selesaikan masalah ini. Mendengar masalah tersebut LM Turmudzi muda kemudian mengumpulkan seluruh guru muda (Naib al Ustadz) untuk mengutus setiap santri pulang kampung selama satu hari untuk mengambil perbekalan masing-masing satu ikat padi.[148]
7. Evaluasi Pendidikan Islam
             Salah satu rumusan mengenai pengertian evaluasi adalah perbuatan yang dipertimbangkan berdasarkan seperangkat kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggung jawabkan.[149]Sedangkan tujuan dilaksanakannya evaluasi pendidikan adalah dalam rangka pengendalian mutu pendidikan nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.[150] Tujuan evaluasi bahan pelajaran atau buku sumber dapat dilihat dari berbagai segi secara fungsional, yakni:
a.       Untuk memilih bahan pelajaran mana yang sebaiknya  digunakan sebagai sumber bahan belajar, baik dari peserta maupun bagi pengajar atau pelatih, pemilihan bahan ini perlu dilakukan, terutama jika berhadapan dengan sejumlah bahan dan bermaksud memilih bahan yang paling relevan dengan dengan kebutuhan kurikuler dan instruksional.
b.       Untuk mengamati apakah prosedur penggunaan sumber bahan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Penilaian dari segi ini penting dilakukan sebab, andaikan cara ini keliru, besar kemungkinan bahan tersebut kurang atau tidak berdaya guna dan berhasil dalam proses pembelajaran yang efektif
c.       Untuk memeriksa hingga mana derajat ketercapaian tujuan pengunaan bahan pengajaran. Upaya pemeriksaan ini penting dilakukan, terutama dalam kaitannya dengan ketercapaian tujuan instruksional  (PBM)
d.       Untuk mengetahui tingkat kemampuan pengajar atau pelatih dalam menggunakan bahan atau buku sumber tersebut. Penggunaan bahan secara efektif oleh pelatih atau pengajar sesungguhnya dapat diamati pada waktu yang bersangkutan sedang mengajar. Pelatih atau pengajar yang kurang mampu menggunakan buku sumber dapat mengakibatkan hasil PBM nya kurang baik.
e.       Untuk memperoleh bahan informasi bagi kepentingan administratif. Informasi tersebut penting, terutama dalam kaitannya dengan upaya pengadaan, pemeliharaan, dan penyimpanan buku sumber pada lembaga yang bersangkutan seperti Pulna dan Pulap, Balai, dan Cabang Balai Diklat.
f.         Untuk memperoleh informasi dalam kerangka memperbaiki bahan pengajaran itu sendiri, terutama dalam kaitannya dengan persyaratan atau kritetria yang telah ditentukan bagi setiap buku sumber yang “baik”[151]
Peninjauan yang luas menyebabkan penulis perlu membedakan instrumen yang digunakan dalam melakukan evaluasi pendidikan Islam yang berdasarkan pada pemikiran pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel yang termaktub dalam beberapa kitab beliau, adapun dimensi yang dimaksud sebagai instrumen adalah: instrumen yang pertama digunakan untuk mengevaluasi dimensi kualitatif dan yang kedua untuk mengevalusi perkembangan dan prestasi yang dicapai anak didik.
Pertama Evaluasi pendidikan yang berdasarkan pada buku-buku teks karya Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali, berkaitan dengan pemikiran-pemikiran beliau yang tertuang di dalam teks-teks tersebut. Dan membutuhkan pengamatan ekstra dari seorang penelliti. Hal ini disebabkan pemikiran beliau terklasifikasi di dalam tiga ruang bangunan ilmu keagamaan, sebagaimana dinyatakan sendiri oleh Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali:
                Bahwasanya ilmu yang dituntut akan dia dan diamalkan dengan dia itu fardu ain[152]
                yaitu tiga perkara (pertama) ilmu tauhid (dan kedua) ilmu Fiqih (dan ketiga) ilmu tasawuf.[153]
Dengan demikian maka pembicaraan tentang evaluasi pendidikan selalu akan mengarah kepada tauhid, fiqih dan tasawuf. Dimensi tauhid fiqih dan tasawuf bukan barang baru, bahkan boleh jadi pemikiran keagamaan setiap tokoh ulama di Nusantara pada abad 19 dan 20 selalu bercorak demikian. Menurut hemat penulis skripsi penyebabnya lebih pada pengaruh penjajahan, dan kemunduran pemikiran Islam. Dimana tidak ada lagi Negara Islam yang memelihara khazanah ke Islaman. Sehingga para tokoh agama Islam merasa putus asa kemudian lari ke dalam dunia berbeda yang di dalamnya hanya mengedepankan kepentingan pribadi yang sifatnya hanya untuk kemanfaatan dirinya dan terhindar dari api neraka.
Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali pun sama dengan tokoh-tokoh Nusantara lainnya tenggelam dalam nuansa prustasi dan penuh dengan kegamangan, imbasnya karya-karya yang dihasilkan hanya bersifat saduran dan komentar-komentar.[154]Mengenai saduran-saduran tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
a.        Ta’lim Al Shibyan Bighayatu al Bayan
“Maka inilah suatu risalah yang mukhtasarah, aku ambil akan dia dari pada beberapa bilangan kitab yang mu’tabarah, maka setengah dari padanya itu Riyadhah al Wardiyah dan Safinah dan hidayah[155]
b.       Mawa’idzzu al Shalihiyah fi al Hadits An Nabawiyah
“Ini Kitab bernama Mawa’idzzu al Shalihiyah fi al Hadits An Nabawiyah terjemah dari pada Mawaidzul Usfuriyah fi al Ahadits An Nabawiyah. Dan Ialah yang melengkapi atas ampat puluh dari pada beberapa hadits nabawiyah, beserta beberapa paidah tarikhiyah, dan beberapa hikayat shufiyah, dan beberapa kebaikan adabiyah dengan bahasa melayu (Indonesia)  oleh hamba Allah oleh hamba Allah al mudznib al Jani, Muhammad Shaleh Chambali Bengkel Lombok”.[156] 
c.       Cempaka Mulia
“ Dan kemudian dari pada itu maka inilah sebuah risalah yang mukhtasarah yang di dalamnya bebrapa akhlaq dan adab yang baik-baik aku petik akan dia dari pada beberapa kebun ulama al amilin dari pada ahlussunah wal jama’ah maka setengah dari padanya itu  Bidayah al Hidayah bagi Imam Ghazali”[157].  
 Nuansa sufi Ghazaliyah sangat kenatal dengan pemikiran Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali pada awal-awal masa kepenulisannya seperti kitab Ta’lim al Shibyan Bighayatu al Bayan yang terbit pada tahun 1934 dan Mawa’idzdzu al Sholihiyah terbit pada tahun 1944 atau tepatnya sebelum Indonesia merdeka. Pandangan keakhiratan ini mengalami titik balik (kulminasi) setelah Indonesia Merdeka, dengan terbitnya buku “Bintang Perniagaan pada Kelebihan Berusaha”. Dalam buku tersebut beliau mulai memiliki gairah kehidupan baru dengan mengetengahkan penyeimbang antara kehidupan dunia dengan akherat, dengan mengemukakan pendapatnya:
Hai saudaraku, bermula harta dan kemegahan yang halal bagi tiap tiap orang yang alim al amil pada masa ini dipuji ia supaya tiada menghinakan dirinya bagi seorang seperti kata imam syati’I: tiada boleh tidak bagi orang alim dari pada harta dan kemegahan supaya tiada hina ia bagi seorang dan tiada berhajat ia kepada seorang.[158]   
Pada instrument pertama, dapat di simpulkan bahwa sesungguhnya terjadi perubahan pandangan antara fase penjajahan dan setelah kemerdekaan, walaupun demikian beliau tetap menyandarkan tingkah laku dan prinsip keagamaannya pada tasawuf. 
Kedua instrument evaluasi yang digunakan, mengenai hasil belajar peserta didik. Murid-murid Tuan Guru Haji Muhammad sangat banyak dan semuanya menjadi pemuka agama, apakah di tingkat kampung atau menjadi pimpinan pondok pesantren. Di antara murid-murid beliau adalah TGH. L Turmudzi Badruddin Bagu, TGH. Ishlahuddin Bukhari Tembelok, TGH. Zainuddin. TGH. Asyari, Masbagek, TGH. Ishaq Hafidz Masbagek, dll.
Melihat alumni beberapa nama alumni Darul Qur’an di atas, menunjukkan bahwa evaluasi pendidikan yang digunakan oleh Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali adalah tes kepribadian seorang siswa seperti akhlaq, ibadah. Artinya beliau tidak menggunakan tes terstruktur seperti yang digunakan masyarakat akademik saat ini.   
8.       Kelembagaan Pendidikan Islam
Mendengar pemberbicaraan tentang kelembagaan pendidikan Islam, bayangan yang muncul pertama kali dikepala adalah kitab suci, ustadz, dan bangunan tempat pembelajaran yang tak teratur. Meninjau dari sejarah kelembagaan pendidikan Islam; yang tertua adalah pondok pesantren,[159] secara terminologi pesantren terdapat berasal dari India dengan menganut sistem pendidikan agama hindu di India.[160]
 Konstelasi teoritik yang mengetengahkan lembaga pendidikan seorang tokoh menurut penulis lebih pada pembenaran integritas ketokohan atau validitas pemikiran tokoh itu sendiri, asumsi ini yang mengantarkan penulis pada kesimpulan ada atau benarkah seseorang tokoh pendidikan bisa dikatakan tokoh apabila ia tidak memiliki lembaga sendiri sebagai media penuangan ide dan pandangannya terhadap pendidikan.
Dari kacamata ini maka Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali memiliki sebuah lembaga pendidikan yang berbentuk Yayasan pada tahun 1961.
            Darul Qur’an sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam di Pulau Lombok pada masa hidup Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali mengalami masa gilang gemilangnya, ini terbukti dengan beberapa tokoh yang menyempatkan diri hadir untuk sekedar berkunjung dan bersilaturrahmi. Daya tarik Darul Qur’an sesungguhnya terletak pada pengasuhnya yaitu Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali. Setelah beliau meninggal Darul Qur’an mengalami kemundurannya. Tidak lagi kita ketemukan dimana asrama yang dahulu menjadi asrama santri, yang tersisa saat ini dua bangunan Darul Qur’an dan Darul Hadits, dan satu bangunan yang dulunya digunakan sebagai asrama putri “intan”.
B. Relevansi Pemikiran TGH. Muhammad Soleh Chambali konteks kekinian
Pada tahun 19 15 M dimulai babak baru pengajaran Islam dengan mengajarkan agama bagi masyarakat Bengkel dan sekitarnya, dengan beberapa materi yang telah dibahas sebelumnya. Berangkat dari pemikiran yang tersebar dari buku buku di atas penulis berusaha memaparkan relevansi pemikiran pendidikan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali dengan konteks masyarkat sekarang.
1. Peran Niat dan Tauhid 
Kemajuan teknologi dengan penemuan mutakhir yang tidak pernah berhenti menggiring masyarakat pada satu tatanan baru yang penuh dengan dinamika kehidupan. Lebih jauh lagi penemuan alat bantu bagi kehidupan manusia semakin membawanya pada perasaan egosentris serta melupakan hakikat kehidupan manusia.
Penghalalan segala cara demi sebuah tujuan, tidak ada teman abadi ataupun lawan abadi yang ada hanyalah kepentingan abadi.[161] Dalam pada itu kita diingatkan oleh Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali untuk kembali kepada khittah perjanjian awal kita kepada Allah (Tauhidu al Uluhiyyah), dalam hal ini beliau menulis:
Soal             : Siapakah sahabat dan tauladanmu yang tidak bercerai ia akan kamu
 di dalam hadirmu dan dalam pelayaranmu dan lain-lain?
Jawab         : Bahwasanya tauladan kita dan sahabat kita yang tiada bercerai dengan
 kita di dalam hadir kita yakni negeri kita dan di dalam safar kita yakni
pelayaran kita, di dalam tidur kita dan jaga kita, dan di dalam hidup kita dan mati kita itu, yaitu Tuhan Kita dan penghulu kita yang menjadikan kita manakala kita sebut akan dia yaitu seolah-olah duduk ia dengan kita karena firman Allah Ta’ala di dalam hadits qudsi;
“Wa Allahu a’lam    : Aku seolah-olah duduk dengan orang yang menyebut akan daku[162]        
Dimanapun kita berada, pada jabatan tinggi apapun, bahkan pada kekuasaan tertinggi sekalipun, manusia harus semakin menyadari bahwa terhadap kaki dan tangannya, segala tingkah lakunya diperhatikan Allah. Dengan demikian diharapkan ada rem yang mencegah kita untuk berbuat jahat dan lalai dari kekuasaan Allah.  
Selanjutnya dengan bahasa yang santun namun lugas memperingatkan kita agar hal pertama yang kita perbaiki adalah niat.[163]Mengapa harus niat ? karena segala sesuatu yang kita perbuat di atas muka bumi landasan utamanya adalah niat. Apabila niat kita baik dan benar, insya Allah perbuatan yang akan kita lakukan akan baik dan begitu pun sebaliknya, beliau menjelaskan mengenai niat yang seharusnya bagi manusia:
“Tiada diharap dari hasil yang demikian itu melainkan bagi orang yang shah dari padanya niatnya, dan bermula shahnya yang demikian itu adalah kehendaknya di dalam menuntut ilmu itu menuntut akan yang digemari Allah Ta’ala yaitu mengerjakan taat dan menjauhkan maksiat dan lagi diamalkannya ilmunya pada yang memberi manfaat padanya dan isyarat keluar daripada kalam jahil kepada terang ilmu, maka inilah yaitu niat yang shahih yang dipuji atas kemudiannya itu di dalam dunia wabillahittaufiq[164].
 Masyarakat  modern saat ini sering dihinggapi perasaan ragu dan bimbang padahal keterpenuhan akan kehidupan baik sandang, papan bahkan tertier memadai. Perasaan gersang dan penuh dengan ketidak percayaan ini melahirkan sebuah ekosistem baru yaitu masyarakat yang penuh dengan kecurigaan, masyarakat yang tidak tahu malu, sehingga salah berpegang. Ketidak stabilan ekosistem ini menjadi pertanyaan besar pada abad 21 dan jawabannya sangat sederhana “sadari dirimu dengan cara memikirkan hasil ciptaan Allah dan jangan pernah memikirkan Allah itu sendiri. Pengedepanan konsep tauhid di dalam keduniaan kita memberikan satu keyakinan dan satu perasaan tenang dan damai karena manusia tidak lagi bergantung kepada suatu kekuatan animisme ataupun juga dinamisme. Dengan tauhid, manusia hidup dengan penuh arti, karena menyakinkan dirinya akan mendapatkan balasan yang baik atas segala kebaikannya.
2.. Metode Bahtsiyah (Induktif)
Relevansi pemikiran pendidikan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali dalam konteks pendidikan masa kini pada penghargaan beliau terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Pembaharuan teoritik ilmu pengetahuan terus dikembangkan sekarang ini, berbagai uji coba dan penelitian dilakukan oleh banyak orang, hingga akhirnya bermunculan banyak teori ilmiah disegala bidangnya. Awal abad 21 banyak kritikus teori ilmiah mengatakan bahwa kelemahan ulama-ulama klasik dalam penulisan buku/kitab pada metodologi ilmiah.
Kritik penulis kontemporer yang menempatkan penulis-penulis yang berbau klasik kekurangan metodologi tidak berlaku bagi tulisan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel, karena beliau mengetengahkan tulisan-tulisanya dengan penulisan yang memiliki sumber rujukan yang jelas, sehingga penulis kontemporer (masa kini) bisa melacak arah pola pemikiran beliau dari berbagai dimensinya, tergantung kecenderungan yang ingin dibangun penulisnya.
Dengan demikian diharapkan generasi sekarang ini lebih mampu memberikan pencerahan melalui karya ilmiah yang lebih originaltanpa harus terkait dengan komentar-komentar apalagi hanya mampu pada tataran penerjemahan yang sejak abad 10 M pun telah dilakukan.
3. Pembiayaan Pendidikan
Guru dan murid merupakan satu kesatuan yang tidak dipisahkan dalam dunia pendidikan, pandangan tentang keagungan seorang guru memang masih dipertahankan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali namun sisi menariknya pandangan beliau terdapat di dalam penempatan sisi kemanusiaan seorang guru yang sama dengan manusia kebanyakan yang membutuhkan sandang, pangan dan papan.
Penomena kehidupan yang semakin keras menuntut seorang guru (intelektual) harus kaya dan tidak lagi tergantung pada hanya pemberian gaji dan honor semata akan tetapi seorang guru ideal masa kini, pada kemampuannya mempertahankan ke agungan martabat seorang guru, dalam hal ini Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali menegaskan pandangannya:
Hai saudaraku, haram minta-minta kepada orang yang atas orang yang mampu dan kuat mencari itu karena sabda Nabi Saw, artinya: “Bahwasanya minta-minta pada orang itu tiada dihalalkan bagi orang mampu dan kuat mencari”.
Hai saudaraku diharuskan meminta bagi orang yang menghabiskan segala waktunya di dalam menuntut ilmu yang memberi manfaat atau di dalam mengajarkan dia akan sekedar hajatnya dan jikalau ia kuasa berusaha sekalipun seperti sabda Nabi Saw: “adalah bagi orang yang meminta itu hak dan jikalau ia datang meminta itu berkendaraan atas kuda sekalipun”.
Hai saudaraku, harus bagi orang yang mampu itu mengambil pemberian orang apabila diberi orang akan dia dengan tiada meminta kepadanya itu, karena sabda Nabi Saw: “Barang siapa disampaikan dia dari pada saudaranya oleh kebaikan dari pada ketiadaan meminta dan tiada tama’ nafsunya maka hendaklah ia terima akan dia maka hanyasanya rizkinya yang dahulukan dia oleh Allah Ta’ala”.
Hai saudaraku, bermula harta dan kemegahan yang halal bagi tiap tiap orang yang alim al amil pada masa ini dipuji ia supaya tiada menghinakan dirinya bagi seorang seperti kata imam syati’i: tiada boleh tidak bagi orang alim dari pada harta dan kemegahan supaya tiada hina ia bagi seorang dan tiada berhajat ia kepada seorang[165]   
Lebih lanjut beliau ingin menyeru kepada orang-orang, badan-badan yang bertanggung jawab dengan pendidikan supaya memberikan jalan pendidikan bagi peserta didik cerdas akan tetapi karena persoalan ekonomi mereka tidak mampu mengaktualisasikan diri. Beliau menulisnya sebagai berikut:
Soal             : Atas siapakah upah mengajarkan kanak-kanak itu akan yang demikian
  Itu?
Jawab         : Bermula upah mengajarnya akan yang demikian itu. Yakni segala yang
  wajib dan umpamanya seperti mengajarkan al Qur’an dan adab itu pada
  hartanya, kemudian atas bapaknya, kemudian atas ibunya, kemudian kepada baitul
  maal kemudian atas segala orang muslimin yang kaya.[166] 
Menurut beliau ada empat komponen masyarakat yang wajib memberikan hartanya untuk kepentingan pendidikan yaitu bapaknya, ibunya, baitul mal (baca: Negara), dan orang-orang kaya. Pendapat ini memiliki arti penting agar diperhatikan bagi seluruh masyarakat Indonesia, karena saat ini persoalan yang sangat mendasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan lagi apa yang harus dimakan hari ini akan tetapi mampukah masyarakat membiayai sekolah anak-anaknya besok lusa.  
4. Penguatan di bidang Ekonomi
Pandangan tajam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali mampu menembus urat nadi kehidupan sentral manusia dengan mengetengahkan sebuah kitab yang khusus membahas tentang tata cara seorang muslim berusaha, “Bintang Perniagaan pada Kelebihan Berusaha” sebagai contoh kongrit yang di dalamnya membahas tentang bagaimana seharusnya memperoleh kehidupan dunia dengan penguatan pada bidang ekonomi namun tidak kering dari nilai-nilai ibadah.
Hai saudaraku, adapun menuntut dunia dan rizki yang halal karena buat nafkah dirinya dan nafkah anak bininya itu wajib pada hukum syara’ atas mukallaf, dan dunia membantukan agama itu dari pada agama juga. Seperti sabda nabi Saw:
Artinya: “bermula menuntut yang halal itu wajib atas tiap-tiap orang Islam”, dan lagi sabda nabi Saw:
Artinya: “Bermula dunia itu tempat berbidang (bertanam) akhirat, yakni dunia itu tempat menghasilkan akan bekal di dalam akherat karena dunia itu tempat perniagaan akhirat”. Dan lagi sabda Nabi Saw: “Bermula dunia ini manis lagi hijau, barang siapa mengusahai dari padanya harta dari pada yang halalnya dan mengeluarkan dia akan dia di dalam yang sebenarnya niscaya diberi Allah akan dia pahala dan memasukkan akan dia di dalam sorga dan barang siapa mengusahai dari padanya akan harta dari pada yang tiada halalnya dan dibelanjakan di dalam tiada sebenarnya niscaya memasukkan Allah Ta’ala akan dia ke dalam negeri yang hina, yaitu neraka jahannam.
Hai saudaraku, adapun menuntut dunia yang menjadi aib dan keji pada hukum syara’ lagi dibenci oleh Allah ta’ala itu yaitulah yang dibuat kekayaan dan kemegahan dan kebesaran semata bukan karena di belanjakan berbuat kebajikan dan bekal menuntut ilmu atau mengajar akan dia dan bersedekah dan barang sebagainya, atau dengan pencarian yang haram atau buat nafkah dan belanja yang haram karena sekaliannya itu membinasakan agama, seperti sabda Nabi Saw:
Artinya: dan jikalau adalah mencari itu karena takabbur dan kebesaran dan buat kelebihan semata-matanya niscaya adalah ia di dalam jalan syaiton.[167]
           
         Diharapkan, setelah membaca kitab tersebut orang Islam memiliki semangat hidup untuk berusaha keras mendapatkan kehidupan dunia demi menjaga eksistensi dirinya dari penghinaan dan kehinaan dunia.
BAB IV
PENUTUP
A.      Kesimpulan
          Pemikiran pendidikan Islam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel Al Lomboki tidak lepas dari delapan hal, yaitu  hakekat pendidikan Islam, tugas dan fungsi pendidikan Islam, komponen dasar pendidikan  Islam, kurikulum pendidikan Islam, metode pendidikan Islam, evaluasi pendidikan Islam dan kelembagaan pendidikan Islam. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan:
1.       Hakekat Pendidikan Islam
      Hakekat pendidikan Islam menurut Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali: memberikan pencerahan kepada anak didik agar menjadi manusia bermanfaat bagi kebanyakan orang yang belum mengerti (awam al muslimin), ikhlas hatinya semata-mata untuk mencari ridha Allah     
2.       Tugas dan Fungsi pendidikan Islam
      Tugas Pendidikan Islam menurut Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali mengenalkan peserta didik kewajiban dirinya sebagai seorang manusia dan hamba dengan cara menyiapkan mereka dengan ilmu pengetahuan bagi kelangsungan hidupnya di dalam masyarakat.
      Sedangkan pendidikan Islam berfungsi sebagai pembeda antara manusia dengan hewan. Manusia memiliki aturan dan tata cara berkelakuan antara sesama manusia. Sehingga masyarakat dapat mengetahui dengan jelas perbedaan awam al muslimin dengan alim.
      Di samping fungsi pembeda beliau juga menjelaskan bahwa harus ada keseimbangan antara kehidupan sosial yang ada di dunia ini dengan kehidupan akhirat yang akan datang.
3.       Dasar dan  Tujuan Pendidikan Islam
      Tujuan pendidikan Islam tergantung dari niat,  kehendak di dalam menuntut ilmu, mencari keridhaan Allah Ta’ala dengan mengerjakan taat dan menjauhkan maksiat, mengamalkannya ilmu yang bermanfaat serta keluar daripada kebodohan kepada cahaya terang ilmu.
4.       Komponen Dasar Pendidikan  Islam
      Ada tiga komponen sebagai dasar pendidikan Islam: orang tua, guru dan murid, ketiga komponen ini harus saling menunjang satu dengan lainnya. Orang tua             menurut Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali harus mendidik anaknya mengenai mengenal Allah dan rasulnya, lalu menuruhnya untuk belajar kepada seorang guru. Guru harus mendidik peserta didik dengan pelajaran yang baik demi tercapainya pendidikan Islam. Seorang murid harus mendengarkan memperhatikan dan menghafal apa yang diajarkan gurunya.
5.       Kurikulum Pendidikan Islam
      Beberapa pelajaran yang diajarkan yang diajarkan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali  berdasarkan pada kitab-kitabnya: tauhid, sirah Nabawiyah, Tasawuf, Adab, Alqur’an, Fiqih Ibadah dan Fiqh Mu’amalah dan Fiqh al Nisa, dan Hadits.
6.       Metode Pendidikan Islam
      Beberapa metode yang digunakan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali antara lain: metode tanya jawab, metode bahtsiyah (Induktif), metode pembiasaan, metode mau’idzhah, metode cerita, metode bertanya dengan tujuan menguji
7.       Evaluasi Pendidikan Islam
      Dalam evaluasi Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali tidak menggunakan tes terstruktur seperti sekarang ini, beliau lebih pada penilaian kepribadian para santrinya
8.       Kelembagaan Pendidikan Islam
      Darul Qur’an adalah sebuah lembaga besar dan dikagumi pada masa hidup Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali, kebesaran lembaga ini didukung oleh alumni-alumninya yang kemudian mendirikan madrasah-madrasah baru disekitar Pulau Lombok.
      Relevansi penting pemikiran Tuan Guru Haji Muhamad Soleh Chambali Bengkel dalam konteks kekinian  adalah:
1.   Peran Niat dan Tauhid 
Masyarakat modern saat ini sering dihinggapi perasaan ragu dan bimbang padahal keterpenuhan akan kehidupan baik sandang, papan bahkan tertier memadai. Perasaan gersang dan penuh dengan ketidak percayaan ini melahirkan sebuah ekosistem baru yaitu masyarakat yang penuh dengan kecurigaan, masyarakat yang tidak tahu malu, sehingga salah berpengang. Ketidak stabilan ekosistem ini menjadi pertanyaan besar pada abad 21 dan jawabannya sangat sederhana “sadari dirimu dengan cara memikirkan hasil ciptaan Allah dan jangan pernah memikirkan Allah itu sendiri. Pengedepanan konsep tauhid di dalam keduniaan kita memberikan satu keyakinan dan satu perasaan tenang dan damai karena manusia tidak lagi bergantung kepada suatu kekuatan animisme ataupun juga dinamisme. Dengan tauhid, manusia hidup dengan penuh arti, karena menyakinkan dirinya akan mendapatkan balasan yang baik atas segala kebaikannya.
2.. Metode Bahtsiyah (Induktif)
Kritik penulis kontemporer yang menempatkan penulis-penulis yang berbau klasik kekurangan metodologi tidak berlaku bagi tulisan Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel, karena beliau mengetengahkan tulisan-tulisanya dengan penulisan yang memiliki sumber rujukan yang jelas, sehingga penulis kontemporer (masa kini) bisa melacak arah pola pemikiran beliau dari berbagai dimensinya, tergantung kecenderungan yang ingin dibangun penulisnya.
Dengan demikian diharapkan generasi sekarang ini lebih mampu memberikan pencerahan melalui karya ilmiah yang lebih originaltanpa harus terkait dengan komentar-komentar apalagi hanya mampu pada tataran penerjemahan yang sejak abad 10 M pun telah dilakukan.
3.   Pembiayaan Pendidikan
Menurut beliau ada empat komponen masyarakat yang wajib memberikan hartanya untuk kepentingan pendidikan yaitu bapaknya, ibunya, baitul mal (baca: Negara), dan orang-orang kaya. Pendapat ini memiliki arti penting agar diperhatikan bagi seluruh masyarakat Indonesia, karena saat ini persoalan yang sangat mendasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan lagi apa yang harus dimakan hari ini akan tetapi mampukah masyarakat membiayai sekolah anak-anaknya besok lusa.  
4.   Penguatan di bidang Ekonomi
Pandangan tajam Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali mampu menembus urat nadi kehidupan sentral manusia dengan mengetengahkan sebuah kitab yang khusus membahas tentang tata cara seorang muslim berusaha, “Bintang Perniagaan pada Kelebihan Berusaha” sebagai contoh kongrit yang di dalamnya membahas tentang bagaimana seharusnya memperoleh kehidupan dunia dengan penguatan pada bidang ekonomi namun tidak kering dari nilai-nilai ibadah.
Diharapkan, setelah membaca kitab tersebut orang Islam memiliki semangat hidup untuk berusaha keras mendapatkan kehidupan dunia demi menjaga eksistensi dirinya dari penghinaan dan kehinaan dunia.
B.      Saran-Saran
Penelitian yang lebih konfrehensip tentang pemikiran Tuan Guru Haji Muhamad Soleh Chambali Bengkel masih terbuka untuk dikaji; untuk itu penulis berharap akan ada penelitian-peneitian lebih lanjut tentang pemikiran pendidikan beliau dari dimensi yang berbeda, sebagai bahan evaluasi penulis untuk kekayaan khazanah ilmu pengetahuan selanjutnya.
       
DAFTAR PUSTAKA
Agung, Dr. A.A. Gde Putra. Peralihan Sistem Birokrasi dari Tradisional ke Kolonial. Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2001.
Akhwan, Muzhoffar et. al. pendidikan Islam dalam peradaban Industrial, Yogyakarta: Aditya Media,1997.
Akte Pendirian yayasan Perguruan Darul Quran tahun 1961.
Amin MA, Drs. H.M. Darori. Islam dan Budaya Jawa, Yogyakarta: Gama Media, 2000.
Arifin, M.Ed, Prof. Muzayin. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
Ashraf, Ali. Horison Baru Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996.
Azhar, H. Biografi Soleh Chambali Bengkel, Hari Senin 14 Jumadi al Awal 1389 Hijriah.
Bastami, Sri. TGH. L.M. Turmudzi Badrudin dan Pengembangan Pendidiikan Islam al Ma’arif NU di Yayasan Pondok Pesantren, Qomarul Huda Bagu Lombok Tengah, Bagu:Skripsi STAIQH, 2003.
Bruinessen, Martin Van Kitab. Kuning Pesantren dan Tarekat Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, Jakarta: Mizan, 1999.
Budiwanti, Dr. Erni. Islam Sasak, Wektu Telu Versus Wektu Lima, Yogyakarta: LKiS, 2000.
Chambali, Soleh. Bintang Perniagaan pada Kelebihan Berusaha, Bengkel: Yayasan Perguruan Darul Qur’an, 1956.
_____________  Intan Berlian Laki Perempuan, Surabaya: Penerbit Salim Nabhan dan Ahmad, 1951.
______________ Cempaka  Mulia, tulisan tangan, tt.
______________ Mawa’idzu Al Sholihiyah Fi al Ahadits al Nabawiyah, Surabaya: Penerbit Salim Nabhan dan Ahmad, 1944.
______________ Ta’lim Al Shibyan Bighayatu Al Bayan, Surabaya: Percetakan Salim Nabhan dan Ahmad, 1934.
______________ Washiat al Musthofa Li Aliyi al Murtdha, tulisan tangan, tt.
Daradjat, Zakiyah Dkk. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan., Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2001.
______________Sejarah Pendidikan Daerah Nusa Tenggara Barat, Jakarta:Depdikbud, 1984.
Dhofier, Dr. Zamakhsyari. Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai; Jakarta: LP3ES, 1988.
Eksan, Moch. Kiai Kelana Biografi Kiai Muchith Muzadi, Yogyakarta: LKiS, 2000.  
Fahmi, Dr. Asma Hasan. Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam terj. Ibrahim Husen,MA., Jakarta: Bintang Bulan,1979.
Faishol, MA, Drs. L. Shohimun. Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel al-Ampenani dan Tasawuf al-Ghazali, Mataram: Laporan Hasil Penelitian STAIN Mataram, 1999.
Gottschalk, Louis. Mengerti Sejarah Terj. Nugroho Notosusanto, Jakarta: UI- Press, 1986.
Hamalik, Dr. Oemar. Evaluasi kurikulum, Bandung: Remaja Rosda karya, 1993.
Jamil, Dr. Abdul. Perlawanan Kiai Desa Pemikiran dan Gerakan Islam KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak, Yogyakarta: LKiS, 2001.
Kartadarmadja, Drs. M. Soenyata dan Kutoyo,Sutrisno. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Nusa Tenggara Barat, Jakarta: Puslit Depdikbud, 1978.
Khaldun, Ibnu. Mukaddimah terj Ahmadie Thoha, Jakarta: Pustaka Firdaus; 2001.
Ma’arif,.A.Syafi’I. Dkk. Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991.
Monografi Desa Bengkel Kecamatan Labuapi Lombok Barat NTB, Tahun 2002.
Muhadjir, Prof. Dr. Noeng. Metodologi Penelititan Kualitatif Edisi IV, Yogyakarta: Rake Sarasin, 2002.
Muhaimin, Drs. MA, et. al. Paradigma Pendidikan Islam Upaya mengefektifkan pendidikan agama Islam di sekolah, Bandung: Rosda Karya, 2004.
Mursal, M.Ag. Perkembangan Madrasah di Pesantren Studi Pada Pondok Pesantren di Pulau Lombok NTB, Yogyakarta: Tesis, IAIN 2002.
Quthb, Muhammad. Sistem Pendidikan Islam terj. Salman Harun, Bandung: Al Maarif, 1993.
Raharjo, M. Dawam. Ensiklopedi Al- Qur’an Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, Jakarta: Paramadina, 1996.
Rahman,Fazlul.  Islam, Bandung: Pustaka, 1984
Siregar, Drs. Marasudin. Konsepsi Pendidikan Ibnu Khaldun suatu analisa Fenomenologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.
Steenbrink, Karel A. Pesantren Madrasah Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, Jakarta: LP3ES,1994.
Sukmadinata, Prof. Dr. Nana Saodih. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, Bandung: Rosdakarya.
Syaibani, Prof. Dr. Omar Mohammad Al-Toumy. Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Syakur, MA, DR.H. Ahmad Abd. Islam dan Kebudayaan Sasak Studi Tentang Akulturasi Nilai-nilai Islam Kedalam Kebudayaan Sasak, Yogyakarta: Disertasi IAIN Sunan Kalijaga, 2000.
Tafsir, Dr. Ahmad. Ilmu Pendidikan dalam Persfektif Islam, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994.
Tauhid, H. Abu, Beberapa Asfek Pendidikan Islam, Yogyakarta: Sekretariat Ketua Jurusan Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, tt.
Tirmidzi, Sunan. Bab Ilmu ( CD Kutub al Tis’ah), Hadits ke 2570.
Toha, Drs. HM. Chabib. Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.
Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas dan penjelasannya, Yogyakarta: Absolut 2003.
Yusuf, Muhammad. Model Pengembangan Pendidikan Pesantren kasus di Pondok Pesantren Nurul Hakim NTB, Yogyakarta: PPM UIN SUKA, 2002.
Zakaria, Fath. Mozaik Budaya Orang Mataram, Mataram: Sumurmas al Hamidy,1998.
Zamroni, Dr. Paradigma Pendidikan Masa Depan, Yogyakarta: Bigraf Publishing, 2001.
Zuhairini, Dra., Dkk. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
Curriculum Vitae
Nama               : Lalu Agus Murzaki
T.tgl. Lahir         : Ranggagata, 23 Agustus 1981.
Alamat  Rumah  : Ranggagata, Kec. Praya Barat Daya Lombok Tengah
Alamat Yogya    : Jln. Karang Bendo Kulon No. 361; 05/12 Gatak Bangun Tapan – Bantul – Yogyakarta
                           55198.
           
Pendidikan       :
  1. SDN 1 Ranggagata  th.1988
  2. MTS- MA Da’wah Islamiyah PP. Nurul Hakim Kediri Lombok Barat- NTB th. 1994-2000.
  3. Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta th.2000.
Prestasi & Pengalaman Organisasi
  1. Ketua Umum Konsulat Persama (Persatuan Santri Sekecamatan Praya, Praya Barat & pujut) PP Nurul Hakim Kediri Lombok Barat NTB. th. 1998-1999.
  2. Peserta Training Guru-Guru Bhs. Arab & Kebudayaan Universitas Islam Madinah Munawwarah di Lombok th.1999.
  3. Juara II Lomba Pidato dan Kitab Kuning (Kategori Lomba Kitab Kuning) Kanwil Depag NTB th. 1999.
  4. Wk. Sekretaris Umum HMI Kom.Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga th. 2001-2003.
  5. Ketua Umum IKPM (Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa) Lombok Tengah Yogyakarta th. 2003- Sekarang. 
Haji Zaeinuddin, Haji Azizuddin Ma’arif 
   

[1] Khadim al Haramain asy Syarifain, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Madinah al Munawarah: Thiba’at Mushaf asy Syarif, tt), hlm.67 .
[2] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), hlm. 873.
                [3] Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas dan penjelasannya, (Yogyakarta: Absolut 2003), hlm. 9.
[4] H Abu Tauhid, Beberapa Asfek Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Sekretariat Ketua Jurusan Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, tt), hlm. 12. Selanjutnya disebut “Beberapa”
  [5] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai, (Jakarta: LP3ES, 1988), hlm 32.
[6] DR.H. Ahmad Abd. Syakur, Islam dan Kebudayaan Sasak Studi Tentang Akulturasi Nilai-nilai Islam Kedalam Kebudayaan Sasak, (Yogyakarta: Disertasi IAIN Sunan Kalijaga, 2000), hlm. 134. selanjutnya disebut “Studi”
[7] Selanjutnya Penyebutan Tuan Guru seringkali disandarkan pada nama tempat kelahirannya seperti TGKH. Zainuddin Abdul Madjid disebut Tuan Guru Pancor karena beliau dari Pancor Lombok Timur, Tuan Guru Islahudin Bukhari sebagai Tuan Guru Tembelok karena berdomisili di Tembelok Lombok Barat.
[8]. Drs. L. Shohimun Faishol, Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali Bengkel al-Ampenani dan Tasawuf al-Ghazali, (Mataram: Laporan Hasil Penelitian STAIN Mataram, 1999), hlm. 15. selanjutnya di sebut “Soleh Chambali dan Tasawuf”
[9] M. Dawam Raharjo, Ensiklopedi Al- Qur’an Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, (Jakarta: Paramadina, 1996), hlm.169. 
[10] Pendapat ini didukung oleh Hamka, dengan alasan berita Cina yang mengisahkan kedatangan utusan raja Ta Cheh kepada ratu Sima. Adapun raja Tah Cheh menurut Hamka; Raja Arab dan khalifah saat itu adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Peristiwa itu terjadi pada saat Mu’awiyah melaksanakan pembangunan kembali armada Islam. Pendapat ini diperkuat dengan beberapa bukti yang berupa Makam (batu nisan), masjid, ragam hias dan tata kota. Lih. Drs. H.M. Darori Amin, MA, Islam dan Budaya Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000), hlm. 28.
[11] Depdikbud, Sejarah Pendidikan Daerah Nusa Tenggara Barat, (Jakarta: Depdikbud, 1984), hlm. 3.
[12] Alasan penulis mengambil tiga abad kemudian lebih pada data-data tokoh Islam Pulau Lombok; hal ini bukan berarti mengindikasikan selang waktu antara abad 16-19 tidak ada tokoh penyebar Islam. Kedua karena para penulis kebanyakan menggunakan abad 19 sebagai barometer ketokohan Islam setelah dijajah selama 150 tahun oleh kerajaan Hindu Bali.
[13] Fath. Zakaria, Mozaik Budaya Orang Mataram, (Mataram: Sumurmas al Hamidy,1998), hlm. 143-157.
[14] Beliau termasuk dalam jajaran Ro’is Syuriah NU dan Pendiri Partai NU Nusa Tenggara Barat semenjak tahun 1952 hingga akhir hayatnya. 
[15] Drs. L Shoimun Faisol MA, Soleh Chambali dan Tasawuf…  hlm. 14.
[16] Dr. H. Abd Syakur, Studi…,  hlm. 143.
[17] Tuan Guru Haji L.M. Turmudzi misalnya, di samping sebagai dewan syuriah NU NTB beliau juga termasuk dalam jajaran Kiai Khos NU Indoensia.
[18] Di antara para murid beliau seperti: TGH. L. MuhammadTurmuzi Badrudin- Dewan Syuriah NU NTB,TGH. Izzuddin Bukhari, TGH. Ishaq Hafidz, TGH. Asyari, TGH. Ahmad Munir, TGH. Khairi Adnan dll, Lih. L Shohimun Faishol, Soleh Chambali dan Tasawuf…,  hlm 10.
[19] Bahkan buku Sejarah Pendidikan Daerah Nusa Tenggara Barat sama sekali tidak mencantumkan sosok Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali dan Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel Lombok Barat kedalam tabel pondok pesantren yang didirikan sebelum dan sesudah kemerdekaan sangat paradoks dengan tulisan Skripsi Sri Bastami yang menulis: saat itu 1940-an Pondok Pesantren Darul Qur’an memang sangat dikenal dikalangan masyarakat luas bahkan menjadi salah satu Pesantren terbesar di Lombok saat itu. Berbeda halnya dengan Tuan Guru Haji Zainuddin Abdul Majid Pancor Lombok Timur. Yang hampir disetiap lembar penelitian ilmiah selalu merujuk padanya.
[20] Dr. Abdul Jamil, Perlawanan Kiai Desa Pemikiran dan Gerakan Islam KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak, (Yogyakarta: LKiS, 2001), hlm. xv.
[21] Moch. Eksan, Kiai Kelana Biografi Kiai Muchith Muzadi, (Yogyakarta: LKiS, 2000), hlm 29. selanjutnya disebut “Kiai”    
[22] H.M. Chabib Thoha, M.A., Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 11-12. Selanjutnya disebut “kapita selekta”
[23] Prof. HM. Arifin, M.Ed., Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 33-34. Selanjutnya disebut “Filsafat”
[24] Ibid., hlm. 109.
[25] Zakiyah Darajat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm. 41-44. selanjutnya disebut “Ilmu”
  
[26] Prof. Dr. Nana Saodih Sukmadianta, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, (Bandung: Rosda Karya, 2001), hlm. 113. Selanjutnya disebut “Pengembangan Kurikulum”
[27] Prof. H. M. Arifin, M.Ed., Filsafat…, 113-118.
[28] HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta…, 49-52.
[29] Moch. Eksan, Kiai…., hlm.46-47.
[30] Prof. Dr. Noeng Muhadjir, Metodologi Penelititan Kualitatif Edisi IV, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 2002), Cet. II, hlm. 68.
[31] Sasak adalah nama suku bangsa asli di Pulau Lombok.
[32] Dr. Erni Budiwanti, Islam Sasak Wektu Telu Versus Wektu Lima (Yogyakarta: LKis, 2000), hlm. 8-11.
[33]  Kerajaan Karangasem jatuh ketangan belanda setelah menjajah Lombok selama 150 tahun 1894 ditandai dengan ditawannya Raja  A.A. Gde Ngurah Karang Asem  dan putra mahkota A.A. Made Jelantik Bharayangwangsa. Lih. Drs. M. Soenyata Kartadarmadja dan Sutrisno Kutoyo, Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Nusa Tenggara Barat, (Jakarta: Puslit Depdikbud, 1978), hlm. 17. selanjutnya disebut “Kebangkitan”
[34] Dr. A.A. Gde Putra Agung, Peralihan Sistem Birokrasi dari Tradisional ke Kolonial,(Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2001), hlm. 75.
[35] Ibid. hlm. 28.
[36] Ampenan adalah nama kota kecamatan yang terletak di pesisir bagian barat pulau Lombok, di wilayah inilah tempat pelabuhan (Dermaga) pertama kali yang dibangun oleh penjajah Hindia Belanda, karena tempat ini merupakan daerah strategis untuk perdagangan bahkan hingga sekarang.
[37] Mursal, M.Ag., Perkembangan Madrasah di Pesantren Studi Pada Pondok Pesantren di Pulau Lombok NTB, ( Yogyakarta: Tesis IAIN, 2002), hlm. 72-74.
[38] Soleh Chambali, Ta’lim Al Shibyan Bighayatu Al Bayan, (Surabaya: Percetakan Salim Nabhan dan Ahmad, 1934), hlm. cover. Selanjutnya disebut “Ta’lim”
[39] Soleh Chambali, Bintang Perniagaan pada Kelebihan Berusaha, (Bengkel: Yayasan Perguruan Darul Qur’an, 1956), hlm. cover. Selanjutnya disebut “Perniagaan”   
[40] Soleh Chambali, Washiat al Musthofa Li Aliyi al Murtdha, (tulisan tangan, tanpa tahun), hlm. cover. Selanjutnya disebut “Washiat”
[41] Soleh Chambali, Intan Berlian Laki Perempuan (Surabaya: Penerbit Salim Nabhan dan Ahmad, 1951), hlm. cover. Selanjutnya disebut “Intan”
[42] Soleh Chambali, Mawa’idzu Al Sholihiyah Fi al Ahadits al Nabawiyah (Surabaya: Penerbit Salim Nabhan dan Ahmad, 1944), hlm. cover. Selanjutnya disebut “Al Ahadits al Nabawiyah”
[43] Monografi Desa Bengkel Kecamatan Labuapi Lombok Barat NTB, Tahun 2002.
[44] Pada saat Soleh Chambali dilahirkan kondisi pulau Lombok tengah dijajah oleh kerajaan Bali Karang Asem saat itu yang memerintah adalah Raja AA. Gde Ngurah Karang Asem 1870-1894, dan setelah gugur pada penyerangan Belanda atas kota mataram kemudian menunjuk AA. Made Jelantik Bharayangwangsa. Setelah kerajaan Karang Asem Mataram runtuh, kekuasaan pemerintahan atas Lombok Jatuh ketangan Belanda dan kemudian dilanjutkan oleh Jepang. 
[45] Haji Ali Adalah seorang ulama Mesir yang datang ke Lombok pada saat itu, Wawancara dengan TGH. Lalu  Turmuzi Badruddin, hari senin tanggal 21 Juni 2004.
[46] Bapak Rajab dan Isterinya tidak memiliki anak atau disebut Bangkol (Bahasa Sasak).
[47] Pernah menjadi kepala desa Bengkel Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat NTB.
[48] Dikatakan guru Sumbawa karena bapak Ramli berguru al-qur’an kepada seorang ahli tajwid dari seorang guru yang berasal dari Taliwang Sumbawa.
[49] L. Shohimun Faishol, Soleh Chambali dan Tasawuf, hlm 12.
[50] Pemberontakan keluarga Abdul Aziz bin Sa’ud  terhadap Syarif Husain
[51] Syeikh Ali Umairah al Fayumi al Mishri adalah seorang pengajar Qur’an di Masjid Madinah al Munawwarah  sekaligus juga menjadikan Qur’an sebagai bacaan wiridnya (Mewiridkannya).
[52] L. Shohimun Faisal, M.A., Soleh Chambali dan Tasawuf, hlm14-15.
[53] Akte Pendirian yayasan Perguruan Darul Quran tahun 1961hlm 2. Anggaran Dasar pasal 2 yang selengkapnya berbunyi: Yayasan ini bermaksud dan bertujuan: memelihara, melanjutkan, menyempurnakan perguruan yang telah ada serta yang telah didirikan (dibina), oleh Kiai Haji Muhammad Soleh Chambali sejak tahun seribu sembilan ratus lima belas masehi (Seribu tiga ratus tiga puluh lima hijriyah), untuk mencetak putra-putrinya agar kelak menjadi manusia yang bersusila, cukup dalam pengetahuan Agama Islam ala Madzahibil arba’ah dan luas dalam pengetahuan umum.   
[54] Kitab dibacakan keras-keras oleh kiai di depan sekelompok santri, sementara santri yang memegang bukunya sendiri memberikan harakat sebagaimana bacaan sang kiai dan mencatat penjelasannya, baik dari segi lughawi (bahasa), maupun ma’nawi (makna),. Lih. Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia (Jakarta: Mizan, 1999), Cet III, hlm. 18.
[55]  Halissussabary, Wawancara pada hari Minggu tanggal 20 Juni 2004.
[56] Soleh Chambali menjadi Rois Syuriah NU Semenjak tahun 1952 sampai meninggal dunia pada tahun 1968. Wawancara dengan TGH. L Turmudzi Badrudin, hari senin tanggal 21 Juni 2004.
[57] HM. Wahyudi Ma’ruf, Wawancara pada hari Senin tanggal 21 Juni 2004.
[58] L. Shohimun Faishol, Soleh Chambali dan Tasawuf,  hlm 2.
[59] Ibid., hlm 22.
[60] DR.H. Ahmad Abd. Syakur, Studi…, hlm. 154.
[61] H. Azhar, Biografi Soleh Chambali Bengkel, Hari Senin 14 Jumadi al Awal 1389 Hijriah.
[62] Sri Bastami, TGH. L.M. Turmudzi Badrudin dan Pengembangan Pendidikan Islam al Ma’arif NU di Yayasan Pondok Pesantren, Qomarul Huda Bagu Lombok Tengah, (Bagu:Skripsi STAIQH, 2003),  hlm. 42. Selanjutnya disebut “TGH. L.M. Turmudzi Badrudin”.
[63] Dari beberapa informasi yang penulis kumpulkan di salah satu ruangan Darul Qur’an inilah  Presiden RI pertama Ir. Soekarno;  memberikan pidato bagi masyarakat desa Bengkel. Tuan Guru Haji Muhamad Soleh Chambali bila mengajar Qur’an maka beliau menggunakan gedung Darul Qur’an sedang apabila mengajar Hadits beliau menggunakan gedung Darul Hadits. HM. Wahyudi Ma’ruf, Wawancara pada hari Senin tanggal 21 Juni 2004.
[64]  Melihat nama-nama Kitab-kitab yang digunakan di Pesantren ini tidak jauh berbeda dengan pesantren-pesantren klasik lain yang ada di Nusantara dan secara umum mengadopsi paham Asy’ariah dibidang teologis dan dibidang fiqh menggunakan paham Ahlu Al Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja), yang bermadzhab Syafi’i yang berdasar pada empat sumber. Lih. Muhammad Yusuf, Model Pengembangan Pendidikan Pesantren kasus di Pondok Pesantren Nurul Hakim NTB,(Yogyakarta: PPM UIN SUKA, 2002), Jurnal Aplikasi Voll. III No ! Juni 2002.
[65]Halissussabari, Wawancara pada hari Minggu tanggal 20 Juni 2004
[66] Eksistensi Darul Qur’an memang bukan Isapan Jempol karena termasuk dalam Lembaga pendidikan Swasta yang diselenggarakan oleh para ulama Islam pesantren, Darul Qur’an disejajarkan dengan Pesantren NW Pancor, Kelayu, Tanjung, Kopang, Praya, Kediri, Bengkel, Pagutan. Lih. Drs. M. Soenyata Kartadarmadja dan Sutrisno Kutoyo,  Kebangkitan,  hlm. 54.
[67] Sri Bastami,TGH. L.M. Turmudzi Badrudin,  hlm. 16. 
[68] Akta Notaris Yayasan Perguruan Darul Qur’an, Bengkel 14 April 1961. adapun para penghadap saat itu adalah Mahduddin,  Abdul Ghafur Rawiy, H. Muzaki, Muhammad Asmak, Muhammad Yusuf, H. Zainuddin.  
[69] Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam terj. Salman Harun, (Bandung: Al Maarif, 1993), hlm. 17. selanjutnya disebut “Sistem”
[70] Dr. Zamroni, Paradigma Pendidikan Masa Depan; (Yogyakarta: Bigraf Publishing, 2001), hlm. 34-35.
[71]  Soleh Chambali, Intan…, hlm 15.
[72] Al Qur’an merupakan kerangka dasar pemikiran Islam, mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya proses pendidikan dilaksanakan yakni ketika Luqman mengajarkan pengetahuan putranya  ketika pertama kali menyampaikan prinsip tauhid dan larangan syirik, karena syirik merupakan kejahatan terbesar. Kemudian ia mengajarkan ilmu pengetahuan Islami (hikmah), dan memberikan bagas-batas potensi manusia untuk mengetahui, mengajarkan shalat menumbuhkan amal shaleh, mendidik akhlaqul karimah, baik yang berkaitan dengan Allah Swt, diri sendiri dan  sesama manusia terutama orang tua yang dituakan- maupun dengan segenap isi alam dan akhirnya mendidik putranya agar terus menerus melakukan amar makruf nahi mungkar. Lih. A.Syafi’I Ma’arif, dkk., Pendidikan Islam di Indonesia antara Cita dan Fakta, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), hlm 56-57. Selanjutnya disebut “Cita dan Fakta”
[73] Moch Eksan, Kiai…,  hlm 30.
[74] Drs. Muhaimin, MA. Et. Al., Paradigma Pendidikan Islam Upaya mengefektifkan pendidikan agama Islam di sekolah, (Bandung: Rosda Karya, 2004), hlm. 28-29. Selanjutnya disebut “Paradigma”
[75] Ibid., hlm 90-91. 
[76] Mengajarkan kanak-kanak dengan sehingga nyata dan aku harapkan tuhan yang amat murah bahwa dijadikan dia memberi manfaat bagi segala kebanyakan orang awam al muslimin, dan ikhlas bagi wajah- Nya semata-mata. Lih. Soleh Chambali, Ta’lim…,  hlm. 3.
[77] Prof. Muzayin Arifin, M.Ed., Filsafat .., hlm. 33-34. 
           
            [78] Soleh Chambali,… Perniagaan…, hlm. 11.
[79] Soleh Chambali, Cempaka …, hlm. 7.
[80] Pertama, manusia sebagai seorang khalifah yang terdiri dari a. tugas kekhalifahan yang berkaitan dengan diri sendiri dijabarkannya (1) Menuntut ilmu, (2) menjaga dan memelihara diri sendiri dari yang menyebabkan bahaya dan kesengsaraan termasuk di dalamnya menjaga dan memelihara kesehatan fisik, memakan makanan yang halal dan sebagainya, (3) menghiasi diri dengan akhlak yang mulia; b. tugas kekhalifahan dalam keluarga, menyangkut tugas membentuk rumah tangga bahagia dan sejahtera atau keluarga sakinah dan mawadah wa rahmah, c. tugas kehalifahan dalam masyarakat (1) mewujudkan persatuan dan kesatuan ummat, (2) tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, (3) Menegakkan keadilan dalam masyarakat, (4) Bertanggung jawab atas amar ma’ruf nahi mungkar, (5) Berbuat baik terhadap golongan masyarakat lemah. d. tugas kehalifahan terhadap natur menyangkut tugas-tugas: (1)  mengkulturkan natur, (2) menaturkan kultur, (3) meng Islamkan kultur,  Kedua, manusia sebagai seorang hamba Allah. Lih. Drs Muhaimin, MA., Paradigma…,  hlm. 22-24.
[81]. Prof.  H.M. arifin, M.Ed., Filsafat…, hlm. 34.
[82] Syafi’i Ma’arif, …Cita dan Fakta, hlm.155.
[83]  Drs. HM. Chabib Toha, Kapita Selekta.. , hlm 59.
[84] Drs. Marasudin Siregar, Konsepsi Pendidikan Ibnu Khaldun suatu analisa Fenomenologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 106-107.
[85] Ibid., hlm. 6-7.
[86] Ibid., hlm. 10-11.
[87] Ibid., hlm. 88-89.
[88] Muhammad Quthb bercerita tentang dirinya sebagai seorang penulis: sudah sekian lama saya membaca quran tapi masih belum menyadari kenyataan itu. Namun, saya merasa bahwa di dalam alQur’an tampaknya terdapat banyak sekali tuntunan-tuntunan mengenai pendidikan, bahwa tuntunan-tuntunan itu mempunyai pengaruh tertentu dalam jiwa seseorang bila sudah merasakan dan menghayatinya, pasti akan mempunyai cara tertentu dalam bertingkah laku, berfikir dan merasa. Ia akan lebih dekat kepada kebenaran dan ketakwaan :akan menjadi seorang yang lebih peka dan lebih berperi kemanusiaan. Saya merasakan hal itu, karena logis dan jelas, tidak memerlukan suatu pemikiran yang sulit dan berat. Lih. Muhammad Quthb, Sistem…, hlm. 11.
[89]  Sunan At Tirmidzi, Bab Ilmu (CD Kutub al Tis’ah), Hadits ke 2570.  
[90] Soleh Chambali, Ta’lim…, hlm. 4.
[91] Prof. M Arifin, M.Ed., Filsafat…, hlm 109.
[92] Ali Ashraf, Horison Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), Cet III, hlm. 107. Selanjutnya disebut “ Horison”
[93] Soleh Chambali, Ta’lim…,hlm. 7.
[94] Ibid., hlm. 20.
[95] Soleh Chambali, Wasiat…, hlm7-8.
[96] Soleh Chambali, … Perniagaan, hlm. 6-7.
[97] Soleh Chambali, Cempaka…,. hlm. 9.
[98] Soleh Chambali, Ta’lim…,hlm. 29-30.
[99] Zakiyah Daradjat, Ilmu… , hlm 41-44.
[100]  Dr. Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam terj. Ibrahim Husen,MA., (Jakarta: Bintang Bulan,1979), hlm.164. selanjutnya disebut “Pendidikan Islam”
[101] Soleh Chambali, Cempaka …, hlm. 5.
[102] Soleh Chambali, Ta’lim…,hlm. 30.
[103] Ibid., hlm .5.
[104] Ibid., hlm. 1-10.
[105] Ibid, hlm. 8.
[106] Ibid 
[107] Dr. Asma Hasan Fahmi, Pendidikan Islam…, hlm. 174-175.
[108] Soleh Chambali, Cempaka…, hlm. 7.
[109]Dr. Asma Hasan Fahmi, Pendidikan Islam…, hlm. 176-178.
[110] Dr. Omar Mohammad Al Toumy Al Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarata: Bulan Bintang, 1979), hlm 478. selanjutnya disebut “Falsafah”
[111] Ibid, hlm 486-487.
[112] ibid, 489-518.
[113] Prof. Dr. Nana Saodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, (Bandung: Rosdakarya, 2001), Cet. IV, hlm. 8.
[114] Dr. Asma Hasan Fahmi, Pendidikan Islam…, hlm. 86-105.
[115] Zuhairini, Dkk., Sejarah…, hlm. 102.
[116] Ibid., hlm. 103.
[117] Ali Ashraf, Horizon…, hlm.116.
[118] Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah Pendidikan Islam dalam Kurun Modern, (Jakarta: LP3ES, 1994), Cet. II, hlm. 12. Selanjutnya disebut “Pesantren”
[119] Soleh Chambali, Ta’lim…, hlm. 4.
[120] Soleh Chambali, Perniagaan…., hlm 12-13.
[121]Soleh Chambali, Cempaka…, hlm. 1.
[122] Soleh Chambali, Ta’lim…,  hlm.30.
[123] Ibid.,hlm. 29
[124] Soleh Chambali, …Perniagaan, hlm 9-10.
[125] Soleh Chambali, Intan…, hlm. cover
[126] Soleh Chambali, al Ahadits al Nabawiyah, hlm. cover
[127] Prof. M.Arifin, M.Ed., Filsafat…., hlm. 89.
[128] Ibid.,  hlm. 90.
[129] Ibid., hlm. 91.
[130] Ali Ashraf, Horizon..,. hlm 75.
[131] Prof. HM. Arifin, M.Ed., Filsafat…,  hlm. 103-107.
[132] Ibnu Khaldun, Mukaddimah terj Ahmadie Thoha, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001), Cet. III, hlm 759.
[133] H. Abu Tauhid, Beberapa…, hlm 76-77.
[134] Banyak pesantren yang pada awal  1915-1938 misalnya menggunakan sistem halaqah saja akan tetapi pada perkembangan selanjutnya mengadopsi sistem pendidikan modern yang memasukkan pendididkan umum sebagai tambahan bagi para  santrinya: dalam kesempatan ini penulis mengajukan dua contoh pertama; pesantren tebu Ireng dibawah komando kiai Wahid Hasyim setelah kembali dari Mekkah memasukkan kurikulum pendidikan umum dan kedua adalah pesantren NW Pancor Lombok Timur, sebuah pondok pesantren modern pertama di Lombok yang mengadopsi  kurikulum umum ke dalam pendidikan madrasahnya.
[135] Soleh Chambali, Ta’lim …, hlm. 3.
[136] Menurut pendapat  penulis skripsi, metode ini di khususkan bagi para alim atau cerdik pandai. Dengan tujuan agar mereka dapat memberikan kritik dan masukan kepada diri Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali sebagai bahan pelacakan dan pengayaan khazanah intelektual. 
[137] Soleh Chambali, Ta’lim…,hlm. 3.
[138] Soleh Chambali, … Perniagaan …, hlm. 1.
[139]Soleh Chambali, Washiat…, hlm. 1.
[140] Soleh Chambali, Intan… ,hlm. cover.
[141] Soleh Chambali, …al Hadits An Nabawiyah ,hlm. 1.
[142] Soleh Chambali, Cempaka …,hlm. 1.
[143] Soleh Chambali, Ta’lim …,hlm. 29.
[144] Ibid
[145] Ibid, hlm. 8.
[146] Soleh Chambali, Washiat …, hlm.1.
[147] Soleh Chambali, …al Hadits an Nabawiyah, hlm. 69-70.
[148] Diceritakan kepada penulis pada hari senin tanggal 21 Juni 2004.
[149] Dr. Oemar Hamalik, Evaluasi kurikulum, (Bandung: Remaja Rosda karya, 1993), Cet II hlm. 2. Selanjunya disebut “Evaluasi”
[150] Sisdiknas tahun 2003, BAB XVI, bagian kesatu pasal 57, hlm 40. 
[151] Dr. Oemar Hamalik, Evaluasi…, hlm. 89-90.
[152]  Yang termasuk ilmu fardhu ‘ain dalam lingkungan pondok pesantren adalah ilmu-ilmu agama sedangkan yang termasuk ke dalam golongan ilmu fardhu kifayah adalah ilmu-ilmu umum. Lih. Muzhoffar Akhwan dalam pendidikan Islam dalam peradaban Industrial, yang disunting oleh Muslih Usa dan Aden Widan (Yogyakarta:Aditya Media, 1997), Cet I, hlm. 37.
[153] Soleh Chambali, Ta’lim…, hlm. 4.
[154] Kebiasaan menulis komentar-komentar yang sistematis, pada awalnya selalu disertai dengan penulisan-penulisan karya asli. Pada abad 6 H/ 12 M misalnya Fakhruddin al- Razi menulis sebuah komentar atas Ibnu Sina, tetapi juga mengarang beberapa karya yang independent. Tetapi dikemudian hari berkembanglah kebiasaan menulis komentar atas komentar, hingga karya asli yang asli yang menjadi subyek komentar tersebut hampir sama sekali terlupakan. Karya-karya tertentu mengenai teologi dogmatis tertimbun dalam lebih setengah lusin lapisan komentar. Komentar-komentar yang kemudian hanya menjadi catatan pinggir, dan biasanya menyangkut perbedaan-perbedaan pendapat yang superficial dan perbedaan-perbedaan verbal saja. Ini semua bersama dengan ringkasan-ringkasan yang singkat membentuk kurikulum madrasah. Lih. Fazlul Rahman, Islam, (Bandung: Pustaka, 1984), hlm 276.   
[155] Soleh Chambali, Ta’lim…,hlm. 3.
[156]Soleh Chambali, …al Hadits An Nabawiyah ,hlm. 1.
[157] Soleh Chambali, Cempaka…,  hlm. 1.
[158] Soleh Chambali, … Perniagaan, hlm. 9.
[159]Karel A. Steenbrink, Pesantren…, hlm. 20.
[160]Ibid
[161] Ungkapan di atas sangat populer dikalangan aktifis kampus saat menggambarkan tingkah laku para politisi
[162]  Soleh Chambali, Cempaka …., hlm. 1.
[163] Pengertian niat menurut Tuan Guru Haji Muhammad Soleh Chambali adalah menyengaja sesuatu padahal disertakan dengan memperbuatnya dan tempatnya itu dihati,.Lih. Ta’lim…,hlm. 33. 
[164] Soleh Chambali, Ta’lim…,hlm. 7.
[165] Soleh Chambali,… Perniagaan, hlm. 8-9.
[166] Soleh Chambali, Ta’lim…,  hlm.30.
[167] Soleh Chambali, … Perniagaan, hlm. 6-7
www.web.unmetered.co.id
unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM TUAN GURU HAJI MUHAMMAD SOLEH CHAMBALI BENGKEL AL- LOMBOK"