Pendidikan Ketrampilan Saka Tarunabumi dalam Gerakan Pramuka

unmetered
unlimited
Pendidikan Ketrampilan Saka Tarunabumi dalam Gerakan Pramuka
Oleh www.web.unmetered.co.id
BAB I
PENDAHULUAN
A.        Penegasan Istilah.
Sebagai upaya memberikan gambaran yang jelas dari maksud rumusan judul tersebut diatas agar terhindar dari kesalahpahaman bagi para pembaca, maka perlu kiranya penulis memberikan penegasan istilah yang terkandung dalam judul diatas.
1.      Pendidikan Keterampilan.
a.      Pendidikan.
Dalam arti kata yang luas pendidikan didefinisikan sebagai suatu proses sepanjang hayat yang mementingkan seseorang memungkinkan untuk mengembangkan kapasitas dirinya sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat secara menyeluruh dan berkesinambungan.[1]
b.      Keterampilan.
Keterampilan asal kata dari “terampil” yang bermakna cakap dalam menyelesaikan tugas; mampu dan cekatan, sedang pengertian Keterampilan adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas.[2]
Pendidikan keterampilan yang menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini adalah bentuk-bentuk keterampilan dalam Saka Tarunabumi bagi peserta didik/generasi muda agar menjadi terampil yang dikembangkan oleh Gerakan Pramuka melalui salah satu wadah pembinaan Satuan Karya Pramuka  dan relevansinya tarhadap pendidikan Islam.
2.         Saka Tarunabumi.
             Satuan Karya Tarunabumi adalah satuan karya tempat peningkatan dan pengembangan pengetahuan, pengalaman, keterampilan, kecakapan dan pengalamannya di bidang pertanian.[3]
3.         Gerakan Pramuka.
Gerakan Pramuka adalah nama organisasi yang merupakan suatu wadah proses pendidikan kepramukaan yang ada di Indonesia.[4]Sedangkan dalam Keputusan Presiden RI nomor 34 Tahun 1999 dan Keputusan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 107 Tahun 1999 tentang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka dijelaskan bahwa Gerakan Pramuka adalah gerakan kepanduan nasional Indonesia yang merupakan sebagai organisasi pendidikan yang keanggotaannya bersifat sukarela, tidak membedakan suku, ras, golongan, dan agama.[5]
4.        Relevansi
Relevansi didefinisikan sebagai kesesuaian, kecocokan, hubungan, kaitan.[6]Dalam hal ini kesesuaian pendidikan keterampilan dalam Gerakan Pramuka dengan pendidikan Islam.
5.        Pendidikan Islam.
Secara terminologi pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran pendidikan Islam.[7]sedangkan menurut Anwar Jundi, yang dimaksud dengan pendidikan Islam ialah menumbuhkan manusia dengan pertumbuhan yang terus menerus sejak ia lahir sampai ia meninggal dunia.[8]
Dengan demikian, maksud penulisan yang berjudul “PENDIDIKAN KETERAMPILAN SAKA TARUNABUMI DALAM GERAKAN PRAMUKA             ( Relevansinya terhadap Pendidikan Islam )” ini terkandung maksud dan tujuan suatu penelitian kepustakaan yang ingin memahami dan manganalisis tentang peranan Gerakan Pramuka dalam memberikan pendidikan keterampilan bagi peserta didik/generasi muda yang ada relevansinya dengan pendidikan Islam yang secara khusus penelitian ini akan membahas  pendidikan keterampilan Satuan Karya Pramuka Tarunabumi dalam Gerakan Pramuka.
B.     Latar Belakang Masalah.
Saat ini bangsa Indonesia tengah mengalami perkembangan yang sangat kompleks akibat pengaruh derasnya arus informasi, baik melalui media elektronik maupun media cetak. Dalam kondisi demikian, masyarakat Indoensia akan selalu berubah, baik yang berada di pedesaan maupun diperkotaan. Mempertimbangkan kondisi seperti itu, idealnya pendidikan tidak  lagi hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini saja, tetapi sudah seharusnya bisa mengantisipasi dan membahas masa depan. Pendidikan hendaknya dapat melihat jauh kedepan, memikirkan apa saja yang dihadapi peserta didik kelak.
Khazanah nilai-nilai dan budaya masyarakat Indonesia yang religius dan majemuk ternyata belum dimanfaatkan secara optimal sebagai landasan yang kokoh bagi pendidikan nasional yang relevan bagi masa depan Indonesia. Sejauh ini memang dapat disimpulkan bahwa hampir semua perumusan dan pendefinisian pendidikan berinti pada penyiapan masa depan. Namun kelemahan definisi ini terletak pda usaha sadar yang mengakibatkan pendidikan nasional mudah terjebak pada dimensi-dimensi formalnya saja.
Persoalan yang dihadapi pendidikan Islam saat ini bukan lagi sekedar memberantas buta huruf, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat dewasa ini menuntut bagaimana peserta didik/manusia mampu memiliki pengetahuan yang luas dan memiliki keahlian/keterampilan agar mampu beradaptasi dan mengimbangi perkembangan yang terjadi sehingga pendidikan dituntut untuk berbenah diri. Hal tersebut menyebabkan adanya dua arus pemikiran mengenai tujuan pendidikan, yaitu satu sisi pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan anak didik dari kebodohan, akan tetapi dipihak lain pendidikan dituntut untuk bisa memproduksi manusia yang mempunyai bekal keterampilan, dengan demikian sistem pendidikan harus mampu membuka cakrawala yang lebih luas bagi tenaga yang dihasilkan, khusunya dalam membuka lapangan kerja.
Dorongan dan kebutuhan akan pendidikan, ledakan penduduk, dan perubahan sosial yang pesat menyebabkan sistem pendidikan formal tidak mampu lagi menampung tuntutan tersebut. Penduduk Indonesia yang berjumlah 206.264.595 (BPS, 2002),[9]selanjtnya jumlah pendudukan usia 15 tahun sampai dengan 2001 sebanyak 144,033 juta orang atau kurang dari 70% dari keseluruhan jumlah penduduk. Jumlah angkatan kerja dari jumlah tersebut sebanyak 98,8 juta atau 68,6% dimana jumlah 90,8 juta orang merupakan pekerja/buruh dan sebanyak 8 juta orang adalah pencari kerja (pengangguran), sehingga tingkat pengangguran sampai dengan tahun 2001 adalah sebanyak 8,10%. Angka ini merupakan angka yang mengerikan, sebab apabila pertumbuhan ekonomi kita hanya rata-rata 3,5% dan daya serap tenaga kerja hanya 1 juta orang pertahun, maka dipastikan kemungkinan tingkat kerawanan di masyarakat akan relatif semakin meningkat.
Berdasarkan jumlah pekerja yang berjumlah 90,8 juta orang dijabarkan sebagai berikut: 17,5 juta adalah pekerja mandiri, 20,3 juta pekerja membantu usaha di Rumah Tangga dan hanya 2,8 juta yang merupakan sebagai pekerja tetap. Buruh sebanyak 26,6 juta sedangkan yang bekerja dibidang pertanian hanya 3,6 juta dan diluar pertanian sebanyak 2,4 juta serta sisanya berjumlah 17,6 juta pekerja dengan penghasilan tidak tetap.
Jika di cermati kondisi yang terjadi saat ini tidak imbangnya antara peluang-peluang kerja dengan lulusan yang ada. Hal ini disebabkan kurangnya kemampuan individu baik skill, mental maupun intelektual. “Kesiapan diri” dalam semua aspek kehidupan, baik jasmani maupun rohani menjadi tanggungjawab bersama antara lembaga pendidikan yang memberi pengetahuan dengan peserta didik yang harus mengembangkan pengetahuan yang diperolehnya serta menambah pengetahuan di luar pendidikan formal.
Gerakan Pramuka sebagai organisasi pendidikan non formal yang turut berperan dalam pendidikan kaum muda Indonesia, tidak terlepas dari permasalahan-permasalahan. Tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana cara dan usahanya untuk menanggapi berbagai perubahan, terutama yang membawa dampak bagi kaum muda. Gerakan serta semangat reformasi yang kini bergulir intinya menghendaki perubahan tatanan baru dengan segala perbaikan, keselarasan dengan tuntutan yang lebih transparansi. Dilandasi dengan kejujuran, kebenaran, keadilan dan keidealan. Sementara disisi lain Gerakan Pramuka sebagai pelengkap pendidikan formal dan informal dituntut ikut memberikan kontribusi positif terhadap lahirnya generasi baru di masa datang, yang mampu diwarisi pesan-pesan moral reformasi itu sendiri.
Akan tetapi Gerakan Pramuka yang sudah berumur ini dianggap belum merakyat dan masih belum juga dikenal masyarakat atau masyarakat sengaja tidak mau kenal karena program yang dibuat tidak sampai menyentuh masyarakat terutama yang berada di pelosok-pelosok desa, apalagi keikutsertaan gerakan ini dalam membantu masyarakat yang kurang mampu belum menjadi prioritas dalam programnya.[10]
Disamping itu juga, selama ini kegiatan kepramukaan sering dipersepsikan sebagai kegiatan yang monoton, sejak menjadi anggota Praja Muda Karana (Pramuka) di Sekolah Dasar pada tingkatan Siaga sampai tingkatan Pandega (21-25 tahun/mahasiswa), yang dipelajari itu-itu saja. Tali temali, morse, menyanyi, P3K, dan kemah. Belum lagi persepsi yang memandang Pramuka sebagai kegiatan kuno. Seiring dengan kemajuan jaman, pramuka masih saja menggunakan alat-alat sederhana dan permainan yang kuno.[11]
Tentu saja persepsi ini tidak semuanya benar. Banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan kepramukaan yang tidak diketahui oleh masyarakat awam. Gerakan Pramuka sebagai organisasi gerakan kepanduan nasional Indonesia telah berupaya dengan optimal dan pola pembinaan yang selalu berkesinambungan dalam mengimbangi tuntutan dewasa ini, dengan kondisi tersebut melalui salah satu wadahnya, Gerakan Pramuka melakukan pembinaan bagi generasi muda/peserta didik dengan berbagai kegiatan diantaranya Satuan Karya Pramuka.
Gerakan Pramuka menyelenggarakan upaya pendidikan bagi kaum muda melalui kepramukaan dengan sasaran: pertama, meningkatkan sumber daya kaum muda, kedua, membentuk sikap dan prilaku positif, menguasai keterampilan dan kecakapan serta kecerdasan emosional sehingga menjadi manusia yang berkepribadian, yang percaya kepada kemampuannya sendiri, sanggup dan mampu membangnun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan masyarakat bangsa dan negara.[12]
Konsep dasar kepramukaan adalah pendidikan diri. Ini berarti setiap anggota muda dianggap sebagai pribadi yang unik, yang pada hakikatnya sudah memiliki potensi untuk berkembang keseluruh dimensi dan bertyanggungjawab atas pengembangan dirinya sendiri. Hingga saat ini pendidikan sekolah dan lingkungan ternyata kurang dapat memberikan sahamnya baik dalam pembangunan watak dan kerpibadian, membekali kemampuan otonomi untuk mandiri maupun dalam membekali nilai-nilai hidup.[13]
Sementara itu pendidikan Islam menekankan bahwa manusia harus benar-benar mengandalkan diri sendiri. Dalam arti, apapun yang dilakukan tidak selalu  tergantung pada orang lain sekalipun boleh saja mengharap bantuan orang lain karena manusia tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Maka akan lebih baik jika yang dihasilkan dan diperoleh adalah hasil dari jerih payah diri sendiri.
Salah satu faktor untuk menyelesaikan pekerjaan yang telah dierencanakan adalah keterampilan, keahlian atau kepandaian yang berpangkal pada pendayagunaan akal pikiran. Jika dengan keterampilan/keahlian suatu usaha dapat dikelola dengan baik dan kualitas barang dapat di tingkatkan, maka sebaliknya berani berbuat tanpa keterampilan/keahlian, akan menimbulkan kerugian dan malapetaka.
Untuk itu penulis mencoba membuka cakrawala bagaimana pendidikan keterampilan dalam Gerakan Pramuka mampu dikembangkan dalam pendidikan islam sebagai upaya memberikan bekal kemandirian pada peserta didik.
C.    Permasalahan.
Setelah mengetahui permasalahan tersebut diatas, guna memberikan penulisan dan pembahasan yang konkrit, penulis akan menuangkan karya tentang:
1.      Bentuk keterampilan apa saja yang dikelola Saka Tarunabumi dalam Gerakan Pramuka?
2.      Bagaimana relevansinya pendidikan keterampilan tersebut terhadap pendidikan Islam saat ini?
D.    Alasan Pemilihan Judul.
Ada beberapa hal yang mendorong penulis untuk membahas judul tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Bentuk-bentuk keterampilan yang dikelola oleh Satuan Karya Tarunabumi dalam Gerakan Pramuka relevan untuk dikembangkan dalam pendidikan Islam.
2.      Kurangnya pengetahuan keterampilan bagi generasi muda khususnya pengetahuan tentang keterampilan dalam Gerakan Pramuka di lingkungan pendidikan Islam.
3.      Asumsi bahwa konsep pendidikan Islam yang diterapkan dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam bukanlah sesuatu yang “final” artinya tidak tertutup kemungkinan masuknya gagasan baru yang selalu berkembang sesuai dengan perkembangan jaman.
4.      Besarnya peranan Gerakan Pramuka sebagai wadah pembinaan generasi muda, khususnya pembinaan dalam bidang tertentu yang tergabung dalam Satuan Karya Pramuka.
E.     Tujuan dan Kegunaan Penelitian.
  1. Mengetahui sejauhmana perkembangan pendidikan keterampilan dalam Gerakan Pramuka dalam meningkatkan pengetahuan keterampilan
  2. Mengetahui bentuk-bentuk keterampilan dalam Satuan Karya Pramuka khususnya Satuan Karya Tarunabumi dan relevansinya terhadap pendidikan Islam.
  3. Sebagai salah satu solusi bagi generasi muda baik dalam lingkup pendidikan Islam agar mampu berkarya dan membaktikan dirinya bagi masyarakat dengan meningkatkan keterampilan.
Kegunaan dari penelitian ini adalah memanfaatkan kesempatan bagi penulis dalam memberikan pemikiran atau wacana baru guna meningkatkan mutu pendidikan islam sebagai upaya mengembangkan prilaku mandiri, disamping itu dapat menambah wawasan keterampilan dalam kepramukaan bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya, selain itu juga untuk menambah khazanah pustaka IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta khusunya dan terlebih lagi menambah pengetahuan pembaca tentang keterampilan dalam Gerakan Pramuka.
F.         Telaah Pustaka.
Ada beberapa hasil penelitian, karya ilmiah dan literatur yang ada kaitannya dengan judul diatas antara lain:
Skripsi yang berjudul ”Pendidikan Keterampilan dalam rangka menyiapkan Angkatan Kerja di Workshop MAN Kendal” oleh M. Khaeruddin,  Skripsi ini memfokuskan pembahasannya tentang pelajaran keterampilan di MAN Kendal selaku pendidikan formal keagamaan, sebagai pelajaran ekstrakurikuler, yang menelaah masalah proses pengelolaan keterampilan yang meliputi (jenis, waktu, materi kegiatan metode pendidikan dan cara penyelenggaraanya), serta beberapa keterampilan yang diajarkan disekolah tersebut.
Skripsi saudara Samsuseno yang berjudul  “Pendidikan Keterampilan dalam mempersiapkan Angkatan Kerja Produktif di Balai Latian Kerja Kabupaten Sleman” dalam skripsi tersebut dibahas tentang suatu lembaga latihan kerja yang memberikan pendidikan keterampilan dalam berbagai jenis keterampilan sebagai usaha untuk mempersiapkan angkatan kerja yang produktif.
Buku “ Peranan Pendidikan dalam Pengentasan Masyarakat Miskin, Pendekatan Analisis Organisasi secara Kuantitaif ” karangan Wahyudi Ruwiyano. Buku tersebut pembahasannya ditekankan pada Lembaga Pendidikan Karya (LPK) yang menjadi terobosan dalam memecahkan masalah pengangguran, kemiskinan dan putus sekolah, baik diperkotaan maupun di pedesaan.buku tersebut merupakan  sebuah disertasi dengan judul “ Pengaruh Faktor-faktor Dinamika Organisasi Lembaga Pendidikan Karya terhadap Manfaat Sosioekonomi Warga Belajar ” dalam karya tersebut pokok bahasannya adalah pengkajian ilmiah tentang pengentasan masyarakat miskin dari tinjauan peranan sektor pendidikan.
Skripsi yang berjudul “Pendidikan Islam dalam Kegiatan Kepramukaan di Racana Sunan Kalijaga – Nyi Ageng Serang Pangkalan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta” yang di tulis oleh Achmad Fachrozi, membahas tentang usaha pelaksanaan pendidikan islam dalam rangka mempersiapkan anak didik  dan menumbuhkannya baik aspek jasmani, rohani maupun aspek akalnya melalui kegiatan kepramukaan di Racana Sunan Kalijaga – Nyi Ageng Serang pangkalan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pimpinan Saka Tarunabumi tingkat Nasional menerbitkan buku Pengembangan dan Pembinaan Saka Tarunabumi yang meliputi: Pengembangan Pembinaan Umum dan buku Syarat dan Gambar Tanda Kecakapan Khusus Krida Hortikultura; dalam buku tersebut dijelaskan bagaimana pengelolaan serta berbagai macam keahlian tertentu bagi peserta didik dalam memberikan bekal pengetahuan keterampilan.
Perbedaaan dalam penelitian ini dengan penelitian/tulisan sebelumnya adalah apabila dalam penelitian sebelumnya  belum mendapat tekanan berarti pada hasil penelitian dan buku diatas. Sedangkan dalam penelitian ini penulis menekankan pada pembahasan pendidikan keterampilan dalam Gerakan Pramuka dan relevansinya terhadap pendidikan Islam yang dikembangkan sebagai proses pembinaan generasi muda melalui salah satu wadah pembinaan Gerakan Pramuka, yang lebih khusus pembahasannya tentang Satuan Karya Pramuka Tarunabumi.
G.        Kerangka Teori.
1. Pendidikan Keterampilan dalam Gerakan Pramuka.
Pendidikan keterampilan sangat penting bagi generasi muda saat ini, karena dengan bekal tersebut generasi muda mampu hidup mandiri untuk berkarya. Menurut Reber (1988) Keterampilan adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai dengan keadaan untuk mencapai hasil tertentu.[14]
 Pembinaan keterampilan dalam Gerakan Pramuka yang dilakukan dengan latihan alat driya, kecerdasan, dan kejuruan melalui syarat-syarat kecakapan khusus dan kegiatan Satuan Karya.[15]Tujuan pembinaan keterampilan bagi peserta didik dalam Gerakan Pramuka agar peserta didik tampil berbuat dan berusaha, sehingga tumbuh sikap mental yang berani dan ulet serta kreatif untuk menjadi perintis keterampilan.
Satuan Karya adalah wadah pendidikan kepramukaan guna menyalurkan minat, mengembangkan bakat, dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan pengalaman para Pramuka dalam berbagai bidang kejuruan serta meningkatkan motivasinya untuk melaksanakan kegiatan nyata dan produktif sehingga dapat memberi bekal bagi kehidupan dan penghidupannya, serta bekal pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa dan negara, sesuai dengan aspirasi pemuda Indonesia dan tuntutan perkembangan pembangunan, dalam rangka peningkatan ketahanan nasional.[16]
Pendidikan keterampilan yang dikembangkan oleh Satuan Karya Pramuka Tarunabumi dalam Krida Holtikultura antara lain:
1.          Keterampilan Budidaya Tanaman Buah-buahan
  1. Keterampilan Budidaya tanaman Rambutan
  2. Keterampilan Budidaya tanaman Mangga
  3. Keterampilan Budidaya tanaman Nenas
  4. Keterampilan Budidaya tanaman Salak
  5. Keterampilan Budidaya tanaman Pepaya
  6. Keterampilan Budidaya tanaman Jeruk
  7. Keterampilan Budidaya tanaman Jambu Biji.[17]
2.   Keterampilan Budidaya Tanaman Sayur-sayuran
  1. Keterampilan Budidaya tanaman Tomat
  2. Keterampilan Budidaya tanaman Cabe
  3. Keterampilan Budidaya tanaman Bayam
  4. Keterampilan Budidaya tanaman Sawi
  5. Keterampilan Budidaya tanaman Wortel
  6. Keterampilan Budidaya tanaman Bawang-bawangan
  7. Keterampilan Budidaya tanaman Seledri
3.   Keterampilan Budidaya Tanaman Hias.
  1. Keterampilan Budidaya tanaman hias Anggrek
  2. Keterampilan Budidaya tanaman hias Mawar
  3. Keterampilan Budidaya tanaman hias Melati
  4. Keterampilan Budidaya tanaman hias Kaktus
  5. Keterampilan Budidaya tanaman hias Bonsai.[18]
Gerakan Pramuka sebagai organisasi pendidikan non formal di Indonesia yang menunjang pendidikan di rumah dan di sekolah, mempunyai tugas dan fungsi semakin berat, dalam rangka peningkatan sumber daya manusia pembangunan yang cakap, profesional dan bersemangat sesuai dengan tuntutan perkembangan keadaan dan kemajuan bangsa dan negara serta dunia. Terkait dengan masalah tersebut Gerakan Pramuka berupaya untuk menerapkan sistem pendidikan dan pembinaan yang dititik beratkan pada life skill peserta didik agar memiliki kecakapan hidup melalui keterampilan-keterampilan dan pelatihan khusus yang diharapkan dapat membekali peserta didik masa depan. [19]
Menurut Kent Davis (2000:1) Kecakapan hidup adalah “manual pribadi” bagi tubuh seseorang. Kecakapan ini membantu peserta didik belajar bagaimana memelihara tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya, bekerjasama secara baik dengan orang lain, membuat keputusan yang logis, melindungi dirinya sendiri dan mencapai tujuan di dalam kehidupannya.
Kecakapan hidup dapat dipilah menjadi empat jenis, yakni :
a.       Kecakapan personal (personal skill) yang mencakup kecakapan mengenal diri (self awareness), dan kecakapan berfikir rasional (thinking skill).
b.      Kecakapan sosial (social skill)
c.       Kecakapan akademik (academic skill), dan
d.      Kecakapan vokasional (vocational skill).[20]
Dengan bekal keterampilan, generasi muda dapat mengembangkan dirinya dengan mengembangkan kreatifitasnya, hal tersebut sangat potensial jika dikembangkan dengan berbagai model/trend masa kini. Banyak hal yang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebagi upaya memupuk kemandirian dan berkarya untuk penghidupan dan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.
Jika mengacu pada uraian arti kiasan lambang Pramuka dalam keputusan Kwarnas Gerakan Pramuka nomor 6/KN/72 Tahun 1972 Tentang Lambang Gerakan Pramuka, yaitu: nyiur dapat tumbuh dimana saja, yang mebuktikan besarnya daya upaya dalam menyesuaikan diri dalam masyarakat dimana ia berada dan dalam keadaan yang  bagaimanapun juga, maka Gerakan Pramuka harus mampu menjawab tantangan jaman dan harus mampu berada di komunitas manapun juga.
Meski tidak hanya mencari popularitasnya  saja, kembali dimasyarakatkannya Gerakan Pramuka telah mampu menjawab tantangan jaman, seperti, adanya Pramuka Net, yang menunjukkan kepada masyarakat bahwa selain bisa tepuk tangan dan bernyanyi, juga bisa dengan menghadirkan format Pramuka modern dengan Pramuka Net-nya.[21]
2. Nilai-nilai Pendidikan Keterampilan dalam Pendidikan Islam
Pendidikan Islam sebagai suatu proses pengembangan potensi kreatifitas peserta didik, bertujuan untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt., cerdas, terampil, memiliki etos kerja yang tinggi, berbudi pekerti luhur, mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya, bangsa dan negara serta agama. Proses itu sendiri sudah berlangsung sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Dari satu segi, bahwa pendidikan Islam lebih ditujukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain. Segi lainnya, pendidikan Islam tidak hanya bersifat teoritis saja, tetapi juga praktis.[22]Dari pengertian tersebut diatas menunjukan bahwa pendidikan sudah seharusnya dimulai sejak usia anak dini, hal ini akan memberikan bekal bagi anak, jika proses pendidikan anak sejak kecil mendapat perhatian dan diberikan pengetahuan keterampilan, yang merupakan salah satu tanggungjawab orang tua, sebagaimana Rasulullah SAW sangat menekankan hal tersebut, Sabda beliau sebagai berikut:
عن أ بي را فع رضي ا لله عنه قال: قال رسول ا لله صلى ا لله عليه وسلم: حق الولدعلى الوالد أن يعلمه الكتابة، والسباحه، والرماية، وان لايرزقه إلاطيبا.    (رواه الحكم).
Artinya: “Dari Abi Raafi’ ra, telah berkata: telah bersabda Rasulullah SAW: “Kewajiban orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya tulis baca, mengajarinya berenang dan memanah, tidak memberinya rezeki kecuali rezeki yang baik.” ( H.R. Hakim ).[23]
Selain itu Sabda Nabi Muhammad SAW juga menyebutkan hal-hal yang perlu diajarkan kepada anak, yaitu :
 لماذا لا تعلمها الحيكة كما تعلمها الكتبة ؟           (رواه النسائ). 
Artinya: ” Mengapa tidak diajarkan padanya menenun sebagaimana dia telah diajarkan baca tulis” ( H.R. Al-Nasai ).[24]
Dari penjelasan hadits tersebut sudah semestinya peserta didik dapat memiliki pengetahuan diantaranya adalah keterampilan yang sangat diperlukan untuk mendapatkan penghasilan serta bekal bagi kehidupan, penghidupan dan pengabdian kepada masyarakat.
Pendidikan keterampilan yang dikembangkan oleh Gerakan Pramuka memiliki implikasi dan nilai-nilai positif yang terkandung dalam pendidikan Islam, nilai-nilai tersebut sebagai aplikasi dari sebuah proses pembinaan yang dilakukan, antara lain :
a.           menumbuhkan keimanan dan ketakwaan
b.          memiliki prilaku yang tekun dan bersungguh-sungguh
c.           menumbuhkan sikap kasih sayang
d.          melatih kesabaran
e.           mencintai keindahan
Hal tersebut dalam Islam sangat di tekankan, agar peserta didik selain ia mampu memiliki keahlian / keterampilan akan tetapi peserta didik juga mampu memiliki dasar prilaku sebagai bekal utama dalam menjalani kehidupannya.
Ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan, karena perkembangan masayarakat Islam, serta tuntutannya dalam membangun seutuhnya (jasmani dan rohani) sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan yang dicerna melalui proses pendidikan. Proses pendidikan Islam tidak hanya menggali dan mengembangkan sains, tetapi juga, dan lebih penting lagi, dapat menemukan konsep baru tentang sains yang utuh sehingga dapat membangun masyarakat Islam sesuai dengan keinginan dan kebutuhan yang diharapkan.[25]
            Sayid Sabiq berpendapat bahwa yang dimaksud pendidikan Islam ialah mempersiapkan anak didik baik badannya, akalnya dan ruhaninya, agar ia menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi dirinya dan bagi masyarakatnya. Jadi tujuan akhir pendidikan Islam menurut definisi ini ialah terbentuknya manusia yang bermanfaat, baik bagi dirinya maupun masyarakatnya. [26]                            
Sedangkan Dr. Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani menjeleskan tunjuan “antara” dalam pendidikan Islam ada tiga tujuan yaitu tujuan individual, tujuan sosial, dan tujuan profesional. Ketiga tujuan itu secara terpadu dan terarah diusahakan agar tercapai dalam proses pendidikan Islam. Dengan tujuan ini pula, jelas kemana pendidikan Islam diarahkan. Pendidikan Islam berdasarkan tujuan diatas, pertama-tama berusaha memberkali anak didik dengan keterampilan-keterampilan yang perlu bagi kepentingan dirinya dan masyarakat.[27]
3.          Tinjauan tentang Relevansi
Relevan memiliki pengertian kait mengkait, bersangkut paut berguna secara langsung. Sedangkan yang dimaksud dengan relevansi adalah hubungan, kaitan.[28]Dalam hal ini penulis berupaya menuangkan tulisan terkait dengan keterampilan yang dikembangkan oleh Gerakan Pramuka yang ada relevansinya dengan perkembangan dan peningkatan mutu pendidikan Islam.
Dalam pandangan Zakiah Daradjat masalah relevansi pendidikan dapat ditinaju dari tiga segi, yaitu :
  1. Relevansi pendidikan dalam lingkungan hidup murid.
Dalam menetapkan bahan pendidikan yang akan diajarkan hendaknya dipertimbangkan sejauh mana bahan tersebut sesuai dengan kehidupan nyata yang ada di sekitar murid.
  1. Relevansi dengan perkembangan kehidupan sekarang dan masa yang akan datang
  2. Relevansi dengan tuntutan dalam dunia pekerjaan.[29]
            Konsepsi pendidikan Islam yang berdasarkan Al-qur’an dan Hadits memiliki jangkauan kedepan, karena itu falsafah pendidikan Islam lebih tepat jika menggunakan falsafah progresifisme, artinya bahwa pendidikan mendahului gerak perubahan sosial.[30]
Pendidikan Islam masa kini berupaya mengacu pada lima visi dasar pendidikan manusia abad XXI (termasuk Pendidikan Islam) dimana telah diajukan oleh UNESCO, yaitu: Pertama learning how to think (belajar bagaimana berfikir) yang memuat aspek-aspek pendidikan yang mengedepankan rasionalitas, keberanian, bersikap kritis, mandiri, hobi membaca. Kedua learning how to do ( belajar untuk bekerja). Yang memuat aspek keterampilan pribadi dalam menyelesaikan masalah kehidupan sehari-hari. Ketiga learning how to be (belajar menjadi diri sendiri) yang berarti aspek mendidik orang agar dikemudian hari bisa tumbuh berkembang sebagai pribadi yang mandiri, punya harga diri dan bukan hanya memiliki heaving (materi). Keempat learning how to learn(belajar untuk belajar) yang berarti menyadarkan bahwa pengalaman sendiri itu tidak akan pernah cukup sebagai bekal hidup, orang perlu juga mengembangkan sikap kreatif, daya pikir dan imajinatif. dan Kelima learning how to live together (belajar untuk hidup bersama) yang mensyaratkan pendidikan memberikan ruang bagi pembentukan kesadaran bahwa kita hidup dalam sebuah dunia yang global bersama banyak manusia dari berbagai latar belakang etnik, budaya dan sebagainya.[31]
Umat Islam harus merubah sikap pandangannya yang lama yaitu dari pandangan terhadap lembaga pendidikan Islam hanya sebagai gudang ilmu atau bank transfer dan transmisi kultural menjadi sentrum pengolahan ilmu yang alamiah dan ilmiah yang mengacu pada masyarakat yang thoyyibah warobbun ghafur. Oleh karena itu berbagai model pendidikan Islam yang berorientasi perspektif kemasa depan merupakan jawaban yang tepat guna. Pendidikan Islam yang mampu berperan inovatif  adalah pendidikan yang berorientasi kepada kebutuhan hidup manusia di masa mendatang.
H.        Metode Penelitian.
1.Jenis Peneltian.
Penulisan skripsi ini merupakan penelitian kepustakaan ( library research ) karena menggunakan sumber tertulis. Dalam proses pengumpulan data yaitu dengan mengadakan penelitian yang obyek utamannya buku-buku kepustakaan atau literatur-literatur lainnya serta tulisan-tulisan yang berkaitan dengan permasalahan diatas.
2.Metode Pengumpulan Data.
Sesuai dengan sifat penelitian yaitu penelitian kepustakaan (library research), maka penulis mengumpulkan data yang relevan. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, yaitu dilakukan dengan cara membaca, mempelajari, menelaah buku-buku, majalah, surat kabar, catatan, agenda seminar dan benda-benda tertulis lainnya yang ada relevansinya dengan pembahasan dalam skripsi ini.[32]
Sumber data primer adalah sumber informasi yang langsung dan tanggung jawab pengumpulan atau penyimpanan data. Dalam hal ini literatur-literatur yang menjadi sumber data primer dalam penelitian ini adalah buku Satuan Karya Tarunabumi, buku Petunjuk Teknis Krida Hortikultura I dan buku Petunjuk Teknis Krida Hortikultura II (Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pimpinan Saka Tarunabumi Tingkat Nasional),
Sumber data skunder adalah informasi yang tidak secara langsung mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap informasi yang ada. Dalam hal ini berupa literatur-literatur yang mendukung sumber primer sebagai bahan penulisan. Sumber ini berasal dari buku, terutama buku-buku yang menunjang pembahasan antara lain: Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung : Trigenda Karya, 1993), Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis karya Samsul Nizar (Jakarta : Ciputat Pers, 2002), Zakiah Daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta : Bumi Aksara, 1992), Mahmud Ahmad Assayyid,  Mendidik Generasi Qur’ani (CV. Pustaka Mantik, 1992), A. Mudjab Mahabi, Adab dan Pendidikan dalam Masyarakat (Yogyakarta : BPFE, 1984), Filsafat Pendidikan dalam Al-Qur’a karya Muhammad Fadhil Al-Jamaly (Surabaya : PT. Bina Ilmu, 1986), ‘Abdul Hamid Al Hasyimi, Mendidik Ala Rasulullah, penerjemah Ibn Ibrahim,  (Jakarta, Pustaka Azzam, 2001), ANAK SHALEH, Cara Mendidik Anak dalam Islam 2 karya Umar Hasyim (Surabaya : PT. Bian Ilmu, 1983), serta berasal dari artikel dalam majalah atau jurnal, dan karya ilmiah yang membahas tema-tema serupa.
3.      Metode Analisis Data.
Untuk menganalisa data primer dan data skunder dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif analitis, yang dimaksud dengan metode deskriptif dan analitis ialah setelah data terkumpul, maka diklasifikasikan sesuai dengan masalah yang dibahas dan dianalisa isinya (content analysis), dibandingkan antara dua data yang satu dengan yang lainnya, kemudian diinterpretasikan dan diakhirnya diberi kesimpulan.[33]
Langkah-langkah yang digunakan dalam pengolahan data ini adalah :
a.       Langkah deskriptif
b.      Langkah interpretatif
c.       Langkah komparatif
d.      Pengambilan keputusan atau menarik kesimpulan.
4.      Metode Pembahasan.
Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan pola pikir ilmiah, yaitu :
a.       Metode berfikir Deduktif
Metode yang digunakan dengan mengambil data yang didasarkan pada pengetahuan atau keadaan bersifat umum untuk menganalisa keadaan yang bersifat khusus untuk mengambil kesimpulan, sebagaimana dikemukakan oleh Sutrisno Hadi, bahwa apa saja yang dipandang benar pada semua peristiwa dalam suatu kelas atau jenis, berlaku juga sebagai hal yang benar pada semua peristiwa yang termasuk dalam kelas atau jenis.[34]
b.  Metode berfikir Induktif
Metode yang digunakan dengan cara mengumpulkan fakta-fakta suatu masalah, kemudian fakta-fakta yang sama diambil konklusinya sebagai standar secara umum, sebagaimana pendapat Sutrisno Hadi, yang dimaksud dengan berfikir induktif berangkat dari fakta-fakta yang khusus, seperti peristiwa-peristiwa yang kongkrit itu ditarik generalisasi yang bersifat umum.[35]
I.           Sistematika Pembahasan.
Secara garis besar, ulasan skripsi ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup.
Sebelum ketiga bagian tersebut diungkap, terlebih dahulu dipaparkan bagian formalitas dan diakhiri dengan lampiran-lampiran. Ketiga bagian tersebut dibagi menjadi empat bab yang setiap babnya terdiri sub-sub bab.
Bab pertama diawali dengan Pendahuluan yang mencakup : penegasan istilah, latar belakang masalah, rumusan masalah, alasan pemilihan judul, tujuan dan kegunaan penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua meliputi tentang perkembangan Gerakan Pramuka yang terdiri dari pengertian Gerakan Pramuka, sejarah dan perkembangan Gerakan Pramuka, tujuan, fungsi dan tugas pokok Gerakan Pramuka, prinsip dasar dan metode kepramukaan, kode kehormatan Gerakan Pramuka, ciri-ciri dan sifat Kepramukaan, Kepramukaan sebagai sistem pendidikan, Satuan Karya Pramuka dan keanggotaan Gerakan Pramuka.
Bab ketiga tentang bentuk-bentuk keterampilan dalam Satuan Karya Tarunabumi dan relevansinya terhadap pendidikan Islam, tujuan dan fungsi Satuan Karya Tarunabumi, bentuk-bentuk keterampilan, materi pendidikan keterampilan, Implikasi Nilai Pendidikan Keterampilan terhadap Pendidikan Islam.
Bab keempat penutup, yang berisi tentang kesimpulan, saran, dan kata penutup.
BAB II
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN GERAKAN PRAMUKA
A.        Pengertian Gerakan Pramuka, Pramuka, dan Kepramukaan
Gerakan Pramuka adalah nama organisasi yang merupakan suatu wadah berlangsungnya proses kepramukaan yang ada di Indonesia.[36] Istilah Pramuka adalah sebutan bagi anggota muda Gerakan Pramuka atau praja muda karana, yaitu rakyat muda yang suka berkarya.[37]
Sedangkan yang dimaksud Kepramukaan adalah suatu proses pendidikan yang dilaksanakan di luar sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan yang menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur. [38]
Dalam bukunya BP’s Outlook, Bapak pandu Sedunia – Lord Baden Powell – menyebutkan :
“Scouting in not a science to be solemny studied, NOR is it a collection of doctrine and texsts, No!  It is a jolly game in the out of doors, where boy-men an boy can go adventuring together as leader an younger brothers, picking up health and happiness, handricraft and helpfulness.”
“Kepramukaan bukanlah suatu ilmu yang harus dipelajari secara tekun, bukan pula suatu kumpulan dari ajaran-ajaran dan naskah-naskah buku, bukan! Kepramukaan adalah suatu permainan yang menyenangkan di alam terbuka, dimana orang dewasa dan anak-anak pergi bersama-sama, mengadakan pengembaraan seperti kakak beradik, membina kesehatan dan kebahagiaan, keterampilan dan kesediaan memberi pertolongan.”[39]
Gerakan Pramuka dilihat dari pengertian statis adalah wadah yang menghimpun sejumlah orang yang mempunyai minat yang sama. Wadah tersebut berupa kebersamaan dengan generasi muda dalam mewujudkan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan menyenangkan/menarik, untuk membentuk kepribadian yang tangguh sebagai bagian dalam usaha mempersiapkan calon-calon pemimpin yang berkualitas.
Gerakan Pramuka dilihat dari pengertian dinamis adalah proses kerjasama sejumlah orang untuk membantu generasi muda yang sedang tumbuh dan berkembang, agar menjadi warga negara Indonesia yang mengerti dan mampu menjalankan  hak dan kewajibannya. Selanjutnya dilihat dari segi anggota sebagai pelaksana, Gerakan Pramuka dapat dikategorikan sebagai organisasi voluntir, yakni organisasi yang keanggotannya bersifat sukarela dan kegiatan serta tujuannya berorientasi sepenuhnya pada pengabdian dalam bidang kemanusiaan. Dengan kata lain seseorang menjadi anggota Gerakan Pramuka motivasi pokoknya adalah untuk ikut serta dalam proses mengisi kedewasaan generasi muda, yang keanggotannya terdiri dan bersumber dari seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan status sosial ekonominya.[40]
B.     Sejarah Gerakan Pramuka.
Fajar menyising menyongsong secercah harapan bagi para tokoh bangsa Indonesia untuk bercita-cita berdirinya suatu negara Indonesia, cita-cita tersebut dirintis dengan mendirikan perkumpulan yang bernama Budi Utomo pada tahun 1908 oleh dr. Soetomo, Cipto Mangunkusumo dan Wahidin Sudirohusodo. Tujuan yang utamanya adalah memberikan dorongan kepada para pemuda Indonesia untuk berjuang memajukan bangsa Indonesia melalui upaya perluasan pendidikan.
Gerakan kepanduan di Indonesia yang bergerak dibidang pendidikan, merupakan gerakan yang sejalan, seirama dan sejiwa dengan gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sejarah Gerkan Kepanduan Indonesia merupakan bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia.[41]
Dalam perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekannya, Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia memiliki kontribusi yang sangat besar. Para perintis kemerdekaan sejak tahun 1920-an, telah secara dini melihat bahwa gerakan anak muda yang dinamakan gerakan kepanduan, dapat menjadi wadah  pendidikan watak, pembentukan jiwa patriotisme dan nasionalisme bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, bukanlah suatu kebetulan, bahwa dalam perjuangan politik maupun perjuangan fisik merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sebagian besar dari para pemimpin, memiliki landasan watak, akhlak, disiplin dan rasa kebangsaan yang ditumbuhkan oleh gerakan kepanduan itu.[42]
Sejarah kepramukaan berkaitan erat dengan usaha bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya, bahkan seterusnya berkaitan erat dengan usaha mempertahankan dan mengisi kemerdekaan itu. Kaitan dan hubungan yang erat itu hanya dapat terungkap dengan jelas, apabila orang mengkaji sejarah kepramukaan, dan juga memahami sejarah pergerakan bangsa Indonesia di samping sejarah Indonesia secara umum.
            Perkembangan Kepramukaan di Indonesia dimulai dengan adanya cabang “Nederlandse Padvinders Organisatie” (NPO) pada tahun 1912, yang pada saat pecahnya Perang Dunia I tahun 1916 memiliki kwartir besar sendiri serta kemudian berganti nama menjadi “Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging” (NIPV).
            Organisasi kepramukaan yang diprakarsai bangsa Indonesia adalah “Javaanse Padvinders Organisatie” (JPO); berdiri atas prakarsa S.P Mangkunegara VI di Surakarta pada tahun 1916.
            Kenyataan bahwa kepramukaan senapas dengan pergerakan nasional, seperti tersebut diatas dapat diperhatikan pada adanya “Padvinder Muhammadiyah” yang pada tahun 1920 berganti nama menjadi “Hisbul Wathon” (HW); Nationale Padvinderij” yang didirikan oleh Budi Oetomo; Syarikat Islam mendirikan “Syarikat Islam afdeling Padvinderij” yang kemudian diganti menjadi “Syarikat Islam Afdeling Pandu” dan lebih dikenal dengan SIAP, Nationale Islamietishe Padvinderij (NAPTIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB) dan Indoneisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) didirikan oleh Pemuda Indonesia.[43]
            Semangat Sumpah Pemuda 1928 yang menjiwai gerakan kepanduan Indonesia pada waktu itu, sehingga kepanduan Indonesia makin berkembang dan menjadi tak terpisahkan dari gerakan perjuangan Indonesia. Sekalipun pada saat itu (penjajahan Jepang) gerakan kepanduan dilarang menggunakan kata “Padvinder” atau “Padvinderij” bagi kepanduan nasional Indonesia, maka K.H. Agus Salim mencetuskan idenya dengan mengganti istilah Padvinder menjadi Pandu.
            Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia timbulah kembali keinginan untuk menghidupakn organisasi kepramukaan Indonesia. Pada akhir September 1945, disusunlah Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia. Dan atas dorongan      Ki Hajar Dewantara untuk mengadakan kesatuan kepramukaan, maka diselenggarakan kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Surakarta pada tanggal 27 s/d 29 Desember 1945 dengan suara bulat memutuskan membentuk organisasi kesatuan kepanduan dengan nama “ Pandu Rakyat Indonesia”.[44]
            Berbagai hasrat bersatu sebenarnya sangat besar dan tak terbendungkan lagi, sehingga pada tanggal 16 September 1951 terbentuklah Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO), kemudian pada tahun 1954 pandu golongan puteri membentuk Persaudaraan Organisasi Pandu Puteri Indonesia (POPINDO) dan Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia (PKPI). Pada tahun 1960 IPINDO sebagai federasi golongan putera itu kemudian berfederasi dengan golongan puteri dan terbentuklah  PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia).
            Memperhatikan keadaan yang demikian itu dan atas dorongan para tokoh kepanduan saat itu, pada hari Kamis tanggal 9 Maret 1961 para tokoh yang mewakili organisasi kepanduan yang ada di kumpulkan di Istana Merdeka untuk mendengarkan amanat Presiden selaku mandataris MPRS, untuk lebih mengefektifkan organisasi kepanduan sebagai suatu komponen bangsa yang potensial dalam pembangunan negara dan bangsa. Oleh karena itu beliau menyatakan pembubaran semua organisasi kepanduan Indonesia dan meleburnya kedalam satu organisasi kepanduan baru, bernama “Gerakan Pramuka”, dengan lambang Tunas Kelapa.[45].
            Tanggal 14 Agustus 1961 organisasi Gerakan Pramuka resmi diperkenalkan pada rakyat Indonesia. Setelah menyaksikan defile dari anak dan pemuda Indonesia yang menjadi anggota Gerakan Pramuka, Presiden menyampaikan amanatnya dan dilanjutkan penganugerahan tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia kepada Gerakan Pramuka yang diterima Sri Sultan Hamengku Buwono IX selaku Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka yang pertama (Bapak Pramuka). Peristiwa yang terjadi pada tanggal 14 Agustus ini kemudian ditetapkan sebagai “ Hari Pramuka “. Gerakan Pramuka tetap merupakan gerakan pendidikan kepanduan yang disesuaikan dengan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia serta berasaskan Pancasila.[46]Dengan bantuan seorang mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sastra Jawa lalu dipanjangkan menjadi PRA : Praja (masyarakat), MU : Muda, KA : Karana (kata asli dalam bahasa Sanskrit “KRNA” yang berarti kreatif dan berkarya). Dengan demikian Pramuka bermakna anak muda yang kreatif berkarya.
            Kelahiran Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan yaitu:
1.  Pidato Presiden/Mandataris MPRS di hadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai “Hari Tunas Gerakan Pramuka”.
Tanggal 20 Mei adalah hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan dilingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai “Hari Permulaan Tahun Kerja”.
Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka, dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada tanggal 30 Juli 1961. peristiwa ini kemudian disebut sebagai “Hari Ikrar Gerakan Pramuka”.
2.  Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti oleh defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan panji-panji Gerakan Pramuka, pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai “Hari Pramuka”.[47]
C.    Tujuan, Fungsi dan Tugas Pokok Gerakan Pramuka
1. Tujuan Gerakan Pramuka.
Gerakan Pramuka bertujuan mendidik anak-anak dan pemuda Indonesia dengan Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia, agar mereka menjadi :
a.       Manusia yang berkepribadian, berwatak dan berbudi pekerti luhur yang:
1)          beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kuat mental, dan tinggi moral.
2)          tinggi kecerdasan dan mutu keterampilannya.
3)          kuat dan sehat fisiknya.
b.      Warganegara Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia; serta menjadi angota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan, baik lokal, nasional, maupun internasional. [48]
Tujuan tersebut merupakan cita-cita Gerakan Pramuka. Karena itu semua kegiatan yang dilakukan oleh semua unsur dalam Gerakan Pramuka harus mengarah pada pencapain tujuan tersebut.
2. Fungsi Gerakan Pramuka.
Gerakan Pramuka berfungsi sebagai lembaga pendidikan di luar sekolah dan di luar keluarga serta sebagai wadah pembinaan dan pengembangan generasi, menerapkan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kerpamukaan serta Sistem Among, yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan, dan perkembangan bangsa serta masyarakat Indonesia.[49]Fungsi Kepramukaan antara lain :
a.       Kegiatan menarik bagi anak atau pemuda. Kegiatan menarik di sini dimaksudkan kegiatan yang menyenangkan dan mengandung pendidikan. Karena itu permainan harus mempunyai tujuan dan aturan permainan, jadi bukan sekadar main-main, yang hanya bersifat hiburan saja, tanpa aturan dan tujuan, dan tidak bernilai pendidikan. Karena itu lebih tepat kita sebut saja kegiatan menarik.
b.      Pengabdian (job) bagi orang dewasa. Bagi orang dewasa kepramukaan bukan lagi permainan, tetapi suatu tugas yang memerlukan keikhlasan, kerelaan, dan pengabdian. Orang dewasa ini mempunyai kewajiban untuk secara sukarela membaktikan dirinya demi suksesnya pencapaian tujuan organisasi.
c.       Alat ( means ) bagi masyarakat dan organisasi. Kepramukaan merupakan alat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, dan juga alat bagi organisasi untuk mencapai tujuan organisasinya. Jadi kegiatan kepramukaan yang diberikan sebagai latihan berkala dalam satuan pramuka itu sekedar alat saja, dan bukan tujuan pendidikannya.[50]
Salah satu upaya pendidikan adalah menciptakan suasana senang, ajaran Islam memberikan prioritas pada upaya menggugah suasana gembira dibanding dengan ancaman dan hukuman. Dalam pelaksanaan prinsip ini hendahnya kita (guru, pendidik) tanggap akan adanya berbagai iklim dan kondisi yang dihayati siswa selama proses belajar mengajar. Sikap tanggap terhadap iklim dan kondisi siswa ini didukung dengan mengambil faedah dari materi yang pernah mereka pelajari. Secara umum, kita temukan bahwa menciptakan suasana gembira hendaknya lebih diutamakan daripada menakut-nakuti.
3.      Tugas Pokok Gerakan Pramuka.
a.       Tugas pokok Gerakan Pramuka adalah menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi kaum pemuda Indonesia, menuju ke tujuan Gerakan Pramuka, sehingga dapat membentuk tenaga kader pembangunan yang berjiwa Pancasila dan sanggup serta mampu menyelenggarakan pembangunan masyarakat, bangsa dan negara.
b.      Dalam melaksanakan pendidikan kepramukaan tersebut Gerakan Pramuka selalu memperhatikan keadaan, kemampuan, kebutuhan dan minat peserta didiknya.
c.       Gerakan Pramuka hidup dan bergerak di tengah masyarakat dan berusaha membentuk tenaga kader pembangunan yang berguna bagi masyarakat. Karenanya Gerakan Pramuka harus memperhatikan pula keadaan, kemampuan, adat dan harapan masyarakat, termasuk orang tua Pramuka, sehingga Gerakan Pramuka terutama pada satuan-satuannya dapat menyiapkan tenaga Pramuka sesuai dengan apa yang diharapkan orang tua Pramuka dan masyarakat setempat.
d.      Dalam pelaksanaan kegiatannya, Gerakan Pramuka menggunakan Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan, Sistim Among dan berbagai metode penyajian lainnya. Para Pramuka mendapat pembinaan dalam satuan gerak sesuai dengan usia dan bidang kegiatannya dengan mengikuti ketentuan pada Syarat Kecakapan Umum, Syarat Kecakapan Khusus dan Syarat Pramuka Garuda.[51]
e.       Sasaran yang ingin dicapai dengan pendidikan kepramukaan adalah menyiapkan kader bangsa yang :
1)              Memiliki kepribadian dan kepemimpinan yang berjiwa Pancasila.
2)              Berdisiplin yaitu berpikir, bersikap dan bertingkah laku tertib
3)              Sehat, dan kuat mental, moral dan fisiknya
4)              Memiliki jiwa patriot yang berwawasan luas dan dijiwai nilai-nilai kejuangan yang diwariskan oleh para pejuang bangsa.
5)              Berkemampuan untuk berkraya dengan semangat kemandirian, berpikir kreatif, inovatif, dapat dipercaya, berani dan mampu menghadapi tugas-tugas. [52]
D.    Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan
Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan merupakan prinsip yang digunakan dalam pendidikan kepramukaan, yang membedakannya dengan gerakan pendidikan lainnya.
Baden-Powell sebagai penemu pendidikan kepramukaan telah menyusun Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan dan menggunakannya untuk membina generasi muda melalui pendidikan kepramukaan. Beberapa prinsip itu didasarkan pada kegiatan anak atau remaja sehari-hari.
Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan itu harus diterapkan secara menyeluruh. Bila sebagian dari prinsip itu dihilangkan, maka organisasi itu bukan lagi gerakan pendidikan kepramukaan.
Dalam Anggaran dasar Gerakan Pramuka dinyatakan bahwa Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan ialah :
1.      Prinsip Dasar Kepramukaan.
Prinsip Dasar Kepramukaan adalah :
a.       iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b.      peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya;
c.       peduli terhadap diri pribadinya;
d.      taat kepada Kode Kehormatan Pramuka.
Prinsip Dasar Kepramukaan sebagai norma hidup seorang anggota Gerakan Pramuka, ditanamkan dan ditumbuhkembangkan melalui proses penghayatan oleh dan untuk diri pribadinya, bagi peserta didik dibantu oleh pembina, sehingga pelaksanaan dan pengamalannya dilakukan dengan penuh kesadaran, kemandirian, kepedulian, tanggungjawab serta keterikatan moral, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat.
Menerima secara sukarela Prinsip Dasar Kepramukaan adalah hakekat pramuka, baik sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, makhluk sosial, maupun individu yang menyadari bahwa diri pribadinya :
a.           mentaati perintah Tuhan Yang Maha Esa dan beribadah sesuai tata-cara dari agama yang dipeluknya serta menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
b.          mengakui bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan hidup bersama dengan mahkluk lain yang juga diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, khususnya sesama manusia yang telah diberi derajat yang lebih mulia dari mahkluk lainnya. Dalam kehidupan bersama didasari oleh prinsip perikemanusiaan yang adil dan beradab.
c.           diberi tempat untuk hidup dan berkembang oleh Tuhan Yang Maha Esa di bumi yang berunsurkan tanah, air dan udara yang merupakan tempat bagi manusia untuk hidup bersama, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan rukun dan damai.
d.          memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sosial serta memperkokoh persatuan, menerima kebhinnekaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
e.           memerlukan lingkungan hidup yang bersih dan sehat agar dapat menunjang/ memberikan kenyamanan dan kesejahteraan hidupnya. Karena itu manusia wajib peduli terhadap lingkungan hidupnya dengan cara menjaga, memelihara dan menciptakan lingkungan hidup yang baik. [53]
Islam menawarkan prinsip pendidikan yang sesuai dengan kondisi seluruh manusia, baik kondisi sosialnya, psikologisnya, dan lain-lain. Dibawah ini ada beberapa kiat yang ditawarkan pendidikan Islam, [54] yaitu:
  1. ketika Allah memerintah manusia untuk menyembah-Nya, Allah memberi manusia bekal kemampuan membedakan baik dan buruk. Artinya, Allah memberikan kebebasan memilih kepada manusia serta menjelaskan konsekuensi pilihan yang akan dirasakan manusia di akhirat kelak. Dalam hal ini, Allah telah menentukan takdir setiap manusia, sehingga ada manusia yang memilih jalan kebaikan, ada juga yang memilih keburukan.
  2. Allah memberikan ajang kompetisi dalam kebaikan tetap terbuka bagi manusia. Prinsip yang Dia tekankan adalah penyesuaian balasan di akhirat kelak dengan perbuatan manusia di dunia. Yang membedakan balasan Allah kepada manusia hanyalah ketakwaan manusia kepada-Nya.
  3. Allah menjadikan penghambaan dan ketaatan manusia kepada-Nya sebagai tujuan tertinggi. Hanya itulah yang menjadi tolok ukur aktualisasi diri dalam Islam sehingga jelaslah, mana aktualisasi yang tepat dan mana aktualisasi yang tidak tepat. Artinya, aktualisasi bukanlah tujuan akhir kehidupan manusia. Itu hanya sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
  4. Beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits menjelaskan pentingnya manusia beraktivitas atau bekerja sesuai dengan kesiapan dirinya. Artinya, setiap manusia memiliki kesiapan-kesiapan yang satu sama lain berbeda tanpa kehilangan semangat untuk memperolah petunjuk Allah. Untuk itu Allah swt berfirman:
سبح اسم ربك الأعلى، الذي خلق فسوى، والذي قدر فهدى ( الأعلى :1-3)
Artinya: “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi. Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya). Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (Q.S. Al-A’la : 1-3)[55]
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
 وقل اعملوا فسيرى الله عملكم ورسوله والمؤمنون وستردون الى علم الغيب والشهادة   فينبِئكم بماكنتم تعملون ( التوبة : 105)
Artinya: ” Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu…………” (Q.S. At-Taubah : 105)[56]  
Rasulullah SAW pun bersabda ;
 إعملوا فكل ميسرلما خلق له
Artinya : “Bekerjalah kamu, maka setiap orang akan dimudahkan menuju sesuatu yang diciptakan Allah untuknya.”
Ayat dan hadits diatas mengisyaratkan bahwa Allah menciptakan manusia dan alam semesta ini dengan kemampuan atau kompetensi yang membawa manusia pada perbedaan profesi sesuai dengan keahliannya. Dalam Tuhfatut al-Maududi bi Ahkami al-Maulud, Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata:  “Hal yang harus menjadi pegangan, seorang anak harus mengerjakan sesuatu sesuai dengan kesiapan dan kesanggupannya dengan tetap berada dalam jalur yang islami. Jika kita mengetahui pekerjaan yang memang diminati anak, dia tidak boleh dipaksa melakukan pekerjaan lain. Pemaksaan untuk melakukan pekerjaan yang hanya akan menghasilkan kesia-siaan. Jika seorang anak memiliki pemahaman baik, daya tangkap yang shahih serta hafalan yang bagus, tanda-tandanya dia respon dan siap menerima ilmu pengetahuan begitupun sebaliknya. Dimanapun seorang anak ditempatkan, dia harus dibekali dengan kesadaran beragama.[57]                                                                                                                                      
                                                        
2.      Metode Kepramukaan.
a.       Metode Kepramukaan merupakan cara belajar progresif melalui :
1)      pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
2)      belajar sambil melakukan;
3)      sistem berkelompok;
4)      kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani pesertadidik;
5)      kegiatan di alam terbuka;
6)      sistem tanda kecakapan;
7)      sistem satuan terpisah untuk putera dan untuk puteri;
8)      sistem among. yakni Ing Ngarsa Sung Tulada (didepan menjadi pemimpin), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun kemauan), Tut Wuri Handayani (di belakang memberi daya/dorongan).[58]
Seiring dengan itu, seorang pendidik/guru dituntut agar cermat memilih dan menetapkan metode apa yang tepat digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik. Seperti halnya sistem berkelompok yang mengandung arti bahwa siswa dalam suatu kelas dibagi kedalam beberapa kelompok baik kelompok yang kecil maupun kelompok yang besar agar satu dengan yang lain saling mengenal dan mampu bekerja sama dengan baik.
Diantara berbagai metode pengajaran menurut ajaran Islam, ditemukan dua kaidah yang berkaitan dengan sikap memperhatikan karakteristik situasi belajar mengajar, pertama:  memperhatikan kondisi dan karakter murid serta faktor-faktor lingkungannya, dan kedua: memperhatikan waktu yang tepat untuk melangsungkan kegiatan belajar mengajar sambil berusaha agar murid tidak merasa bosan. Hal ini dapat pula peserta didik diberikan hal yang baru dan menantang sebagai upaya memotivasi peserta didik untuk maju.
Disamping itu pula, metode yang dikembangkan yaitu metode karya wisata atau disebut juga dengan kegiatan alam terbuka, menurut H. Zuhairini dkk., metode karya wisata adalah suatu metode pengajaran yang dilaksanakan dengan jalan mengajak anak keluar kelas untuk dapat memperlihatkan hal-hal atau peristiwa yang ada hubungannya dengan pelajaran. Tim Didaktik Metodik Kurikulum menjelaskan, bahwa metode karya wisata adalah suatu metode mengajar dimana siswa dan guru pergi meninggalkan sekolah menuju suatu tempat untuk menyelidiki atau mempelajari hal tertentu.[59]Dalam hal ini Allah swt berfirman dalam surat Al-Haj ayat 46:
افلم يسيروا فىالارض فتكون لهم قلوب يعقلون بها او اذان يسمعون بها……(الحج : 42)
Artinya: “Maka apakah mereka tidak berjalan dimuka bumi, lalu mereka mempunyai qolbu yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?……”(Q.S. Al-Haj : 46).[60]
Selain metode tersebut diatas, metode dalam pendidikan Islam adalah metode Teladan yang baik. Maksud dari metode teladan adalah metode pendidikan dan pengajaran Islam dengan cara pendidik/guru memberikan contoh-contoh teladan yang baik kepada anak didik, agar ditiru dan dilaksanakan. Nabi Muhammad saw sebagai pendidik dan pengajar agung telah diberi anugerah predikat oleh Allha swt sebagai “Uswah Hasanah”, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahjab ayat: 21:
لقد كان لكم فى رسول الله اسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الاخر وذ كر الله كثير  (الا حزاب : 21)
Artinya: “Sesungguhnya  telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) pada Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah.”[61]
Jika dicermati historis pendidik di zaman Rasulullah saw dapat dipahami bahwa salah satu faktor terpenting yang membawa beliau kepada keberhasilan adalah keteladanan (uswah). Rasulullah ternyata banyak memberikan keteladanan dalam mendidik para sahabatnya. Keteladanan merupakan hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh oleh seseorang dari orang lain. Namun keteladanan yang dimaksud disini adalah keteladanan yang dapat dijadikan sebagai alat pendidikan Islam, yaitu keteladanan yang baik, sesuai dengan pengertian “uswah”  dalam ayat yang telah disebutkan diatas.[62]
            Metode Kepramukaan pada hakekatnya tidak dapat dilepaskan dari Prinsip Dasar Kepramukaan. Keterkaitan itu terletak pada pelaksanaan Kode Kehormatan. Metode Kepramukaan sebagai suatu sistem, terdiri atas unsur-unsur yang merupakan subsistem terpadu dan terkait, yang tiap unsurnya mempunyai fungsi pendidikan yang spesifik dan saling memperkuat serta menunjang tercapainya tujuan.
                 Guna meningkatkan dan mengembangkan proses pendidikan kepramukaan sesuai dengan metode yang ada dalam Gerakan Pramuka, peserta didik diberikan bekal serta pola yang berkesinambungan dalam pendidikan kepramukaan yang meliputi unsur :
1.      Bina Diri ( kepentingan pribadi ), artinya kegiatan tersebut ditujukan untuk membina dan mengembangkan diri Pramuka baik secara jasmani maupun rohani
2.      Bina Satuan ( kepentingan Gerakan Pramuka ), artinya kegiatan tersebut ditujukan untuk pembinaan kepemimpinan dan keterampilan baik pengelolaan dalam satuan/Kwartir dalam Gerakan Pramuka serta darma baktinya kepada Gerakan Pramuka.
3.      Bina Masyarakat, artinya kegiatan tersebut ditujukan untuk pembinaan kepemimpinan dan keterampilan pembangunan masyarakat serta darma baktinya kepada masyarakat, bangsa dan negara.[63]
E.     Kode Kehormatan Gerakan Pramuka
Kode Kehormatan Pramuka yang terdiri atas Janji yang disebut Satya dan Ketentuan Moral yang disebut Darma merupakan satu unsur dari Metode Kepramukaan dan alat pelaksanaan Prinsip Dasar Kepramukaan. Kode Kehormatan Pramuka dalam bentuk Janji yang disebut Satya adalah :
1.          janji yang diucapkan secara sukarela oleh seorang calon anggota Gerakan Pramuka setelah memenuhi persyaratan keanggotaan;
2.          tindakan pribadi untuk mengikat diri secara sukarela menerapkan dan mengamalkan janji;
3.          titik tolak memasuki proses pendidikan sendiri guna mengembangkan visi, intelektualitas, emosi, sosial dan spiritual, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat lingkungannya.
Kode Kehormatan Pramuka dalam bentuk Ketentuan Moral yang disebut Darma adalah :
a.         alat proses pendidikan sendiri yang progresif untuk mengembangkan budi pekerti luhur.
b.         upaya memberi pengalaman praktis yang mendorong peserta didik menemukan, menghayati, mematuhi sistem nilai yang dimiliki masyarakat dimana ia hidup dan menjadi anggota.
c.         landasan gerak Gerakan Pramuka untuk mencapai tujuan pendidikan melalui kepramukaan yang kegiatannya mendorong Pramuka manunggal dengan masyarakat, bersikap demokratis, saling menghormati, memiliki rasa kebersamaan dan gotong royong;
d.        kode etik organisasi dan satuan Pramuka, dengan landasan Ketentuan Moral disusun dan ditetapkan bersama aturan yang mengatur hak dan kewajiban anggota, pembagian tanggungjawab dan penentuan putusan.
Kode Kehormatan Pramuka bagi peserta didik disesuaikan dengan golongan usia dan perkembangan rohani dan jasmani peserta didik, yaitu :
1.      Kode Kehormatan bagi Pramuka Siaga terdiri atas :
a.       Janji yang disebut Dwisatya selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Dwisatya Pramuka Siaga
Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
1)      Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengikuti tatakrama keluarga.
2)      Setiap hari berbuat kebajikan.
b.      Ketentuan moral yang disebut Dwidarma selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Dwidarma Pramuka Siaga
1)      Siaga berbakti kepada ayah bundanya.
2)      Siaga berani dan tidak putus asa.
2.      Kode kehormatan bagi Pramuka Penggalang terdiri atas :
a.       Janji yang disebut Trisatya selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Trisatya Pramuka Penggalang
Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
1)      menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila
2)      menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat
3)      menepati Dasa Darma.
b.      Ketentuan moral yang disebut Dasa Darma selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Dasa Darma Pramuka
Pramuka itu :
1.      Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2.      Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3.      Patriot yang sopan dan kesatria
4.      Patuh dan suka bermusyawarah
5.      Rela menolong dan tabah
6.      Rajin, terampil, dan gembira
7.      Hemat, cermat, dan bersahaja
8.      Disiplin, berani, dan setia
9.      Bertanggungjawab dan dapat dipercaya
10.  Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.
3.      Kode kehormatan bagi Pramuka Penegak, Pramuka Pandega dan anggota Dewasa terdiri atas :
a.       Janji yang disebut Trisatya selengkapnya berbunyi :
Trisatya Pramuka Penegak, Pramuka Pandega dan Anggota Dewasa
Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh :
1)          menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila
2)          menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat
3)          menepati Dasa Darma.
b.      Ketentuan moral yang disebut Dasa Darma selengkapnya berbunyi :
Dasa Darma Pramuka
Pramuka itu :
1.      Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2.      Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
3.      Patriot yang sopan dan kesatria
4.      Patuh dan suka bermusyawarah
5.      Rela menolong dan tabah
6.      Rajin, terampil, dan gembira
7.      Hemat, cermat, dan bersahaja
8.      Disiplin, berani, dan setia
9.      Bertanggungjawab dan dapat dipercaya
10.  Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.[64]
Kode kehormatan tersebut, sebagai pedoman bagi anggota Gerakan Pramuka baik dalam perbuatan maupun ucapan. Dengan memiliki kepribadian tersebut anggota Gerakan Pramuka mampu menjadi pribadi yang baik. Dalam Islam ciri-ciri pribadi muslim yang baik yaitu kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya, baik tingkah laku, kegiatan jiwa, filsafat hidup maupun kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan dan penyerahan diri kepada-Nya.
Secara rinci manusia yang berkepribadian muslim mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      beriman dan bertakwa
2.      giat dan gemar beribadah
3.      berakhlak mulia
4.      sehat jasmani, rohani dan aqli
5.      giat menuntut ilmu
6.      bercita-cita bahagia dunia dan akhirat.[65]
Hasil dan upaya pendidikan Islam diharapkan agar peserta didik mampu menerapkan nilai-nilai agamanya dan kegiatan hidup bermasyarakat, seperti berakhlak mulia dalam pergaulan, disiplin dalam menjalankan norma-norma agama dalam kaitannya dengan orang lain.
F.     Ciri-ciri dan Sifat Kepramukaan.
1.      Ciri-Ciri Kepramukaan
Perbedaan antara Gerakan Pramuka dengan organisasi lainnya adalah karena Gerakan Pramuka memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Sukarela
Kepramukaan adalah gerakan pendidikan untuk anak muda yang keanggotaannya bersifat sukarela. Siapapun yang menjadi anggota adalah atas kehendaknya sendiri, atau apabila pada permulaannya atas anjuran keluarga atau teman sebayanya, maka akan tiba saatnya nanti di mana ia mengambil keputusannya sendiri untuk tetap menjadi anggota atau tidak.
  1. Nonpolitik
Sebagai gerakan pendidikan, kepramukaan bersifat non-politik, dalam arti kata tidak terlibat dalam perjuangan meraih kekuasaan yang biasanya menjadi kepentingan suatu organisasi politik. [66]Gerakan Pramuka bukan organisasi kekuatan sosial politik dan bukan bagian dari salah satu organisasi kekuatan sosial politik manapun. Semua jajaran Gerakan Pramuka tidak dibenarkan ikut serta dalam kegiatan yang bersifat politik praktis.[67]
  1. Bebas
Kepramukaan akan sepenuhnya mencapai tujuan pendidikannya apabila jati dirinya yang khas dapat selalu dijaga. Gerakan Pramuka harus tetap bebas, dengan berdaulat atas kewenangan pengambilan keputusan sendiri pada semua tingkat. Yang dimaksud bebas dalam hal ini adalah setiap penawaran atau penerimaan bantuan, atau setiap bentuk kemitraan dengan organisasi lain, hanya dapat dibenarkan apabila menunjang dan menumbuhkan apa yang ingin dicapai oleh Gerakan Pramuka, yaitu tujuan pendidikannya.[68]
  1. Sistem Nilai
Kepramukaan didasarkan pada suatu perangkat nilai, artinya berbagai program yang dilaksanakan oleh Gerakan Pramuka melalui jalur pendidikan di luar sekolah dan di luar lingkungan keluarga bertujuan untuk menanam, memupuk dan mengembangkan nilai-nilai didalam diri anggota Gerakan Pramuka.[69]
  1. Persaudaraan
Hubungan antar anggota Gerakan Pramuka adalah seperti layaknya hubungan antar anggota keluarga yang didasari atas cinta kasih, keakraban, dengan diselimuti kejujuran, keadilan, kepantasan dan keberanian berkorban.[70]
2.      Sifat Kepramukaan
Berdasarkan Resolusi Konferensi Kepramukaan Sedunia tahun 1924 di Kopenhagen, Denmark, menyatakan bahwa Kepramukaan mempunyai tiga sifat, yaitu :
a.         Nasional, yang berarti suatu organisasi yang menyelenggarakan kepramukaan di suatu negara haruslah menyesuaikan pendidikannya itu dengan keadaan, kebutuhan dan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.
b.      Internasional, yang berarti bahwa organisasi kepramukaan di negara manapun di dunia ini harus membina dan mengembangkan rasa persaudaraan dan persahabatan antara sesama Pramuka dan sesama manusia, tanpa membedakan kepercayaan/agama, golongan, tingkat, suku dan bangsa.
c.       Universal, yang berarti bahwa kepramukaan dapat dipergunakan di mana saja untuk mendidik anak-anak dari bangsa apa saja, yang dalam pelaksanaan pendidikannya selalu menggunakan Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan.[71]
G.    Kepramukaan sebagai Sistem Pendidikan.
Pendidikan yang diselenggarakan oleh Gerakan Pramuka merupakan pendidikan non-formal, yang berbeda dengan pendidikan non-formal lainnya, dan mencakup empat sendi atau “soko guru” , yaitu:
1.      Belajar Mengetahui ( learning to know )
untuk memiliki pengetahuan umum yang luas dan untuk dapat bekerja secara mendalam dalam beberapa hal, juga memanfaatkan peluang-peluang pendidikan sepanjang hidup.
2.      Belajar Berbuat ( learning to do ).
Bukan hanya untuk memperoleh kecakapan / keterampilan kerja, melainkan juga memiliki keterampilan hidup yang luas, termasuk hubungan antar pribadi dan hubungan antar kelompok.
3.      Belajar Hidup Bersama ( learning to live together ).
Untuk menumbuhkan pemahaman tentang orang lain, menghargai salng ketergantungan, keterampilan dalam kerja kelompok dan menyelesaikan pertentangan-pertentangan dengan baik, serta menghormati sedalam-dalamnya nilai-nilai kemajemukan, saling pengertian, perdmian dan keadilan.
4.      Belajar Menjadi Seseorang ( learning to be ).
Agar dapat lebih mengembangkan watk, serta dapat bertindak dengan otonomi / kemandirian berpendapat dan bertanggungjawab pribadi yang makin besar.[72]
Pendidikan kepramukaan adalah sistem pendidikan yang terorganisasi dan lengkap dengan lima komponen utamanya, yaitu :
1.      Tujuan Pendidikan
yaitu pengembangan potensi anak muda sebagai pribadi dan anggota masyarakat yang mandiri, yang siap membantu sesama, bertanggungjawab dan berkomitemen.
2.      Yang Dididik
yaitu putra-putri Indonesia mulai dari usia 7 tahun sampai dengan 25 tahun, yang digolongkan menjadi Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang, Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega.
3.      Yang Mendidik
disebut pembina ( bukan guru, pelatih  atau instruktur ), yang bertindak sebagai kakak lebih dewasa yang membantu anak mengembangkan diri, dengan menerapkan metode kepramukaan.
4.      Metode Pendidikan
yaitu pendidikan  diri yang progresif, yang tertuang dalam Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan (PD & MK), yang merupakan titik kuat dan kekhasan Gerakan Pramuka.
5.      Materi Pendidikan atau Kurikulum
tertuang dalam Program Kegiatan Peserta Didik, yang membentuk kegiatan yang mengandung kaidah pendidikan. Kegiatan yang menarik dan menyenangkan, sehat, berperaturan dan berguna, serta dilaksanakan di alam terbuka.
Pendekatan yang digunakan dalam kepramukaan adalah pendekatan yang utuh dan menyeluruh (holistik). Namun demikian, kepramukaan tetap merupakan pelengkap jalur-jalur pendidikan lainnya dan memberi kontribusi kepada keseluruhan anak muda.[73]
H.    Satuan Karya Pramuka
1. Pengertian Satuan Karya Pramuka
“SAKA adalah singkatan dari Satuan Karya Pramuka, dalam lingkungan World Scouting disebut “Scout Service Brigade”, merupakan wadah pendidikan guna menyalurkan minat, mengembangkan bakat dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan pengalaman Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega dalam berbagai bidang kejuruan/teknologi, serta memotivasi mereka untuk melaksanakan kegiatan karya nyata dan produktif sehingga dapat memberi bekal bagi kehidupan dan pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa dan negara sesuai dengan aspirasi pemuda Indonesia dan tuntutan perkembangan pembangunan dalam rangka peningkatan ketahanan nasional”.[74]
Satuan Karya sebagai bagian dari Gerakan Pramuka yang  merupakan wadah pembinaan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan peserta didik sebagai pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan aspirasi peserta didik.
2. Tujuan Satuan Karya Pramuka.
Tujuan dibentuknya Satuan Karya Pramuka bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega adalah pemantapan ketahanan dan ketangguhan mental, moral fisik, ientelektual, emosional dan sosial peserta didik, sehingga mereka pada saat meninggalkan Gerakan Pramuka benar-benar siap sebagai kader bangsa yang sekaligus kader pembangunan yang bermoral Pancasila.[75]
Keanggotaan Satuan Karya Pramuka adalah Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega putera dan puteri anggota Gugusdepan di wilayah Ranting yangbersangkutan tanpa melepaskan diri dari keanggotaan Gugusdepannya. Dan juga pemuda/pemudi non Pramuka yang berminat dapat menjadi anggota Satuan Karya melalui tata cara penerimaan anggota.
3. Jenis-jenis Satuan Karya Pramuka.
Dijelaskan bahwa sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat dewasa ini, maka Satuan Karya terdiri atas beberapa bidang , yaitu:
a.           Saka Bahari, Satuan Karya tempat peningkatan dan pengembangan pengetahuan, pengalaman, keterampilan, kecakapan dan pengamalannya di bidang kebaharian.
b.          Saka Bakti Husada, Satuan Karya tempat peningkatan dan pengembangan pengetahuan, pengalaman, keterampilan, kecakapan dan pengamalannya di bidang kesehatan.
c.           Saka Bhayangkara, Satuan Karya tempat peningkatan dan pengembangan pengetahuan, pengalaman, keterampilan, kecakapan dan pengamalannya di bidang kebhayangkaraan (keamanan dan ketertiban masyarakat)
d.          Saka Dirgantara, Satuan Karya tempat peningkatan dan pengembangan pengetahuan, pengalaman, keterampilan, kecakapan dan pengamalannya di bidang kedirgantaraan
e.           Saka Keluarga Berencana, Satuan Karya tempat peningkatan dan pengembangan pengetahuan, pengalaman, keterampilan, kecakapan dan pengamalannya di bidang kependudukan dan keluarga berencana
f.           Saka Tarunabumi, Satuan Karya tempat peningkatan dan pengembangan pengetahuan, pengalaman, keterampilan, kecakapan dan pengamalannya di bidang pertanian.
g.          Saka Wanabakti, Satuan Karya tempat peningkatan dan pengembangan pengetahuan, pengalaman, keterampilan, kecakapan dan pengamalannya di bidang kehutanan.[76]
            Kegiatan Satuan Karya sebagian besar diarahkan pada kegiatan nyata untuk berkarya dan membaktikan diri kepada masyarakat, lingkungan alam, bangsa dan negara; dengan tetap memperhatikan kabutuhan masyarakat, minat, bakat, pengetahuan dan kemampuan fisik dan mental peserta didik.
Semua Gerakan Pramuka berusaha menerapkan prinsip-prinsip pendidikan yaitu:
1.            Pendidikan berlangsung sepanjang hayat (life long education).
2.            Pilar pendidikan :
a.       belajar mengetahui (learning to know)
b.      belajar berbuat (learning to do)
c.       belajar hidup bersama, hidup dengan orang lain (learning to live together, to live with other)
d.      belajar menjadi seseorang (learning to be).
Bertumpu pada arah kegiatan tersebut, kegiatan Satuan Karya Pramuka hendaknya :
  1. Praktis dan nyata
  2. Reguler, dalam arti teratur, terus menerus dan berkesinambungan
  3. Alam terbuka merupakan arena kegiatan Saka
  4. Mandiri, dalam arti merencanakan sendiri kegiatn yang di kehendaki dan melaksanakan dengan memanfaatkan fasilitas sarana/prasarana yang dimiliki oleh Gerakan Pramuka
  5. Unggul, dalam arti berkualitas
  6. Berkepribadian pancasila; dan tetap
  7. Afiat, dalam arti sehat dan selamat.
Satuan Karya Pramuka yang mengembangkan pendidikan dalam bidang keahlian tertentu, bertujuan agar peserta didik memiliki keterampilan dan mampu mengaplikasikannya untuk berkarya guna menjadi pribadi yang mandiri sehingga nantinya peserta didik tidak selalu tergantung pada orang lain. Sehubungan dengan pendidikan keterampilan, ternyata dalam ajaran Islam juga menekankan mengenai pendidikan keterampilan. Hal ini dapat dilihat dari hadits yang mendasari ajaran tersebut yaitu antara lain:
وعن المقدام ابن معديكرب رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم  قال: ما اكل احد طعاما قط خيرا من ان يأكل من عمل يديه، وان نبِي الله داود عليه السلام كان يأكل من عمل يده (رواه البخاري)
Artinya: “Dari Al Miqdam bin Ma’dikariba r.a. dari Nabi saw beliau bersabda : “Tidak ada seseorang makan-makanan yang lebih baik daripada makan hasil usahanya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Allah Daud ‘alaihissalammakan dari usahanya sendiri”. (H.R. Bukhori).
وعنه رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال  :  كان داود عليه  السلام لايأكل إلا من عمل يد يه (رواه البخاري)   
Artinya: “Abu Hurairah r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda: adalah Nabi Daud ‘alaihissalamtidak makan kecuali dari usaha tangan sendiri.” (H.R. Bukhori)[77]
Dari kedua hadits tersebut diatas menunjukkan bahwa pada dasarnya manusia dianjurkan untuk selalu berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki.
Karena hukum Islam itu tidah kaku dan bersifat fleksibel, maka usaha yang dicontohkan oleh Nabi Daud ‘alaihissalam, yakni makan dari hasil usaha tangan sendiri, untuk saat ini kita dituntut untuk memiliki keterampilan, sehingga dengan keterampilan tersebut dapat kita jadikan bekal untuk usaha sendiri.
Pendidikan Islam tidak mengabaikan masalah mempersiapkan seseorang untuk mencari kehidupannya dengan jalan mempelajari beberapa bidang pekerjaan, industri, dan mengadakan latihan-latihan. Tujuan ini nyata sekali dari ucapan Ibnu Sina: “Bila seorang anak sudah selesai belajar Al-Qur’an, menghafal pokok-pokok bahasa, setelah itu barulah ia mempelajari apa yang akan dipilinya menjadi bidang pekerjannya, dan untuk itu haruslah ia diberi petunjuk”. Artinya, seseorang itu dipersiapkan untuk berkarya, berpraktek, dan berproduksi sehingga ia dapat bekerja, mendapat rezeki, hidup dengan terhormat, serta tetap memelihara segi-segi kerohaniaan dan keagamaan.[78]
I.       Keanggotaan Gerakan Pramuka.
Anggota Gerakan Pramuka adalah warga negara Republik Indonesia yang terdiri atas anggota muda dan anggota dewasa, yaitu :
1.              Anggota Biasa:
a.           Pramuka Siaga
b.         Pramuka Penggalang
c.         Pramuka Penegak
d.        Pramuka Pandega
e.         Pembina Pramuka
f.          Pelatih Pembina Pramuka
g.         Pembina Profesional
h.         Pamong dan Instruktur Satuan Karya
i.           Andalan
j.           Anggota Majelis Pembimbing
2.      Anggota Kehormatan:
a.         Pandu dan Pramuka Purna Bakti
b.         Orang-orang yang berjasa kepada Gerakan Pamuka dan Kepramukaan
c.         Orang-orang yang bersimpati kepada Gerakan Pramuka.[79]
Untuk warga negara asing dapat tergabung dalam suatu gugusdepan sebagai anggota tamu. Dalam hal ini warga negara asing yang ikut serta dalam kegiatan yang diselenggarakan di lingkungan Gerakan Pramuka. Prosedur keikutsertaan Anggota Tamu diserahkan kepada satuan atau Kwartir yang bersangkutan.[80]
Perkembangan keanggotaan Gerakan Pramuka setiap tahunnya bervariasi jumlahnya, namun perbedaannya tidak terlalu mencolok. Dalam buku “4 Windu Gerakan Pramuka” catatan terakhir (tahun 1992) menunjukkan jumlah anggota sebesar 22.492.454, terdiri dari peserta didik 21.305.105 orang remaja dan 1.187.349 orang dewasa.
Pada akhir periode 1988-1993 jumlahnya 19.754.365; pada akhir periode 1993-1998 jumlahnya 23.388.076 dan tahun 2000 tercatat sejumlah 20.884.921 peserta didik dan 569.559 orang dewasa, seluruhnya 21.454.580.[81]Jumlah keanggotaan di akhir tahun 2003 adalah 17.999.670 orang,[82]dengan rincian sebagai berikut :
1.  Satuan – satuan Gerakan Pramuka, yaitu :
a. Kwartir Daerah berjumlah 30 Daerah (Propinsi se-Indonesia).
b. Kwartir Cabang berjumlah 391 Cabang (Kabupaten/Kota se-Indonesia)
c. Kwartir Ranting berjumlah 4.504 Ranting (Kecamatan se-Indonesia)
d.Gugusdepan berjumlah 290.028 Gugusdepan (Sekolah/Peguruan Tinggi)
2.      Anggota Muda, yang disebut sebagai Peserta didik terdiri dari Pramuka Siaga, Pramuka Penggalang, Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega, berjumlah 17.365.744 orang.
3.      Anggota Dewasa yang terdiri dari Pembina dan Pelatih berjumlah 329.949 orang.
4.      Anggota Dewasa lainnya, yaitu: Andalan, Majelis Pembimbing, dan Pimpinan Satuan Karya Pramuka berjumlah 303.977 orang.
BAB III
BENTUK-BENTUK KETERAMPILAN SATUAN KARYA TARUNABUMI
DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM
Pembahasan tentang relevansi (keterkaitan/kesesuaian) antara satu bagain dengan bagian lain perlu memperhatikan berbagai aspek, sehingga penerapannya mendapatkan hasil yang lebih baik. Terutama terkait dengan proses pendidikan yang pada akhirnya peserta didik diharapkan mampu menjadi lebih baik. Sebagaimana pendapat yang diungkapkan oleh Zakiah Daradjat bahwa masalah relevansi pendidikan dapat ditinjau dari tiga segi, yaitu :
  1. Relevansi pendidikan dalam lingkungan hidup murid.
Dalam menetapkan bahan pendidikan yang akan diajarkan hendaknya dipertimbangkan sejauh mana bahan tersebut sesuai dengan kehidupan nyata yang ada di sekitar murid.
  1. Relevansi dengan perkembangan kehidupan sekarang dan masa yang akan datang
  2. Relevansi dengan tuntutan dalam dunia pekerjaan.[83]
A.    Tujuan  dan Fungsi Satuan Karya Tarunabumi.
Satuan Karya Pramuka sebagai bagian integral dari Kepramukaan, merupakan wadah pendidikan yang mutlak diperlukan oleh Gerakan Pramuka disamping gugusdepan. Dengan adanya Satuan Karya Pramuka, Kepramukaan memberikan perhatian terhadap pengembangan minat dan bakat serta meningkatkan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman peserta didik dalam berbagai bidang kejuruan sebagai bekal anggotanya bukan sekedar “mengetahui tentang apa” melainkan untuk “menjadi apa”. Hal ini berarti Satuan Karya Pramuka memotivasi para Pramuka anggota Gugusdepan khususnya Pramuka Panegak dan Pramuka Pandega untuk berkarya nyata dan produktif serta meningkatkan pengabdiannya kepada masyarakat, alam, bangsa dan Negara, sehingga dibentuk Satuan Karya Tarunabumi. Tujuan pembentukan Satuan Karya Tarunabumi adalah untuk memberi wadah pendidikan bagi para pramuka Penegak, Pandega dan pemuda calon anggota Pramuka untuk :
1.      “mengembangkan bakat, minat, pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan pengalaman dalam bidang kejuruan tertentu.
2.      meningkatkan motivasi melaksanakan kegiatan nyata dan produktif;
3.      memberi bekal bagi kehidupan dan penghidupannya;
4.      memberi bekal bagi pengabdiannya pada masyarakat, bangsa dan negara guna menunjang pembangunan nasional. sehingga dapat meningkatkan mutu dan taraf kehidupan serta dinamika Gerakan Pramuka, serta perannya dalam pembangunan nasional”.[84]
Sehingga dapat meningkatkan mutu dan taraf kehidupan serta dinamika Gerakan Pramuka, serta peranannya dalam pembangunan pertanian.
Pembinaan yang dilakukan oleh Satuan Karya Tarunabumi yang maksimal akan membuahkan hasil yang optimal guna menumbuhkan pribadi mandiri karena didalamnya bukan sebatas hanya mengetahui akan tetapi mampu mengaplikasikannya. Dalam adagium ushuliyah dikatakan bahwa “Al-Umur bimaqoshidiha” adalah setiap tindakan dan aktivitas harus berorientasi pada tujuan atau rencana yang telah ditetapkan. Hal ini karena dengan berorientasi pada tujuan itu dapat diketahui bahwa tujuan dapat berfungsi sebagai standar untuk mengakhiri usaha serta mengarahkan usaha yang dilalui dan merupakan pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain. Disamping itu, tujuan dapat membatasi gerak usaha agar kegiatan dapat terfokus pada apa yang dicita-citakan dan yang terpenting lagi dapat memberi penilaian pada usaha-usahanya.[85]
Pendidikan Islam merupakan proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak didik melalui penumbuhan dan perkembangan potensi fitrahnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya.
Tujuan utama pendidikan Islam adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-Ghozali yang menyebutkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah sebagai wujud ibadah kepada Allah, pembentukan akhlakul karimah dan mengantarkan peserta didik mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.[86]
Sudah sangat jelas dikemukakan baik oleh tokoh-tokoh pendidikan maupun pertemuan-pertemuan yang membahas pendidikan Islam. sebagaimana pula pendapat Ibnu Khaldun yang mangatakan ada tiga tingkatan tujuan yang hendak dicapai dalam proses pendidikan, yaitu :
1.      Pengembangan kemahiran (almalakah atau skill) dalam bidang tertentu. Orang awam bisa memiliki pemahaman yang sama tentang suatu persoalan dengan seorang ilmuwan. Akan tetapi potensi almalakah tidak bisa dimiliki oleh setiap orang, kecuali setelah ia benar-benar memahami dan mendalami satu disiplin tertentu.
2.      Penguasaan keterampilan profesional sesuai dengan tuntutan zaman (link and match). Dalam hal ini, pendidikan hendaknya ditujukan untuk memperoleh keterampilan tertentu yang tinggi pada profesi tertentu.
3.      Pembinaan pemikiran yang baik. Kemampuan berfikir merupakan garis pembeda antara manusia dengan binatang. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya diformat dan dilaksanakan dengan terlebih dahulu memperhatikan pertumbuhan dan pengembangan potensi-potensi psikologis peserta didik.[87]
Sedangkan Satuan Karya Pramuka Tarunabumi memiliki fungsi sebagai :
1.      Wadah pengenalan awal, pembinaan dan pengembangan pengetahuan dan keterampilan di bidang kejuruan tertentu.
2.      Sarana untuk pelaksanaan kegiatan nyata dan produktif, serta bakti kepada masyarakat.
3.      Pelengkap pendidikan kepramukaan di gugusdepan
4.      Alat untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka.[88]
            Satuan Karya sebagai bagian integral memiliki fungsi strategis dalam membina dan mengembangkan potensi peserta didik, sama halnya dengan Pendidikan Islam yang berfungsi menyediakan segala fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan Islam tersebut tercapai dan berjalan dengan lancar. Penyediaan fasilitas ini mengandung arti dan tujuan yang bersifat struktural dan institusional.
Arti dan tujuan struktural menuntut terwujudnya struktur organisasi yang mengatur jalannya proses kependidikan, baik dilihat dari segi vertikal maupun segi horizontal. Faktor-faktor pendidikan dapat berfungsi secara interaksional (saling mempengaruhi) yang bermuara pada tujuan pendidikan yang diinginkan. Sebaliknya, arti dan tujuan institusional mengandung implikasi bahwa proses kependidikan yang terjadi didalam struktur organisasi itu dilembagakan untuk menjamin proses pendidikan yang berjalan secara konsisten dan berkesinambungan mengikuti kebutuhan dan perkembangan manusia dan cenderung kearah tingkat kemampuan yang optimal.
Menurut Kurshid Ahmad, fungsi pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
1.            Alat untuk memelihara, memperluas, dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial, serta ide-ide masyarakat dan nasional.
2.            Alat untuk mengadakan perubahan, inovasi, dan perkembangan yang secara garis besarnya melalui pengetahuan dan skill yang baru ditemukan, dan melatih tenaga-tenaga manusia yang produktif untuk menemukan perimbangan perubahan sosial dan ekonomi.[89]
Jelaslah bahwa fungsi Satuan Karya Pramuka Tarunabumi memiliki kesamaan dengan fungsi pendidikan Islam baik dalam pengertian luas maupun sempit, sehingga penerapan beberapa bentuk keterampilan Satuan Karya Tarunabumi relevan untuk dikembangkan dalam pendidikan Islam.
Dari pemahaman tersebut, diharapkan peserta didik dapat memiliki pengetahuan keterampilan khusus yang dapat dikembangkan secara produktif dan kreatif menuju mandiri. Sebagaimana Rasulullah SAW juga menegaskan bagaimana agar peserta didik tidak hanya diajarkan tentang ilmu baca tulis saja melainkan keterampilan sebagai bekal dalam mengembangkan potensi mereka masing-masing. Sabda Nabi SAW sebagai berikut:
 لماذا لا تعلّمها الحيكة كما تعلّمها الكتبة ؟     (رواه  ا لنسائ)
Artinya: ” Mengapa tidak diajarkan padanya menenun sebagaimana dia telah diajarkan baca tulis” ( H.R. Al-Nasai ).[90]
Berdasarkan penjelasan hadits Nabi tersebut, jelas bahwa peserta didik harus memiliki keterampilan sebagai bekal untuk penghidupan dan kehidupan masyarakat bangsa dan negara. Karena hadist tersebut mengandung arti bagaimana peserta didik/anak harus mempunyai keterampilan-keterampilan yang pada akhirnya mampu mandiri dengan memiliki keterampilan yang profesional, produktif dan kreatif.
Keterampilan juga mempunyai arti lain yaitu bekerja, maka berwiraswasta, mencari nafkah untuk bekal hidup. Hendaknya sesorang memiliki kemampuan dasar profesional. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 135:
قل يقوم اعملوا على مكانتكم اني عامل فسوف تعلمون من تكون له عاقبة الدّار.           (الأنعا م : 135 )
Artinya: “Dan katakanlah, “Hai Kaumku, bekerjalah menurut profesimu masing-masing, sesungguhnya Aku adalah orang yang bekerja pula, maka kamu akan mengetahuinya pula siapakah (diantara kita) yang memperoleh hasil yang baik dari dunia ini.” [91]
Seorang anak didik juga akan mudah diarahkan, apabila kita mengetahui tentang kemampuan dan potensi yang dimilikinya, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi:
 كلّ ميسّر لما خلق له
Artinya: “Setiap individu dimudahkan, sesuai dengan (bakat) yang diciptakan untuknya.”
Jadi jelaslah, bahwa untuk keberhasilan tujuan pendidikan, seorang anak didik harus diarahkan sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya. Ibnu Sina, seorang cendikiawan Muslim yang ternama berpendapat, bahwa pendidikan itu diarahkan untuk mengantarkan anak atau individu kepada kesempurnaan sesuai dengan pembawaannya.[92]
B.     Bentuk-bentuk Keterampilan
Bentuk-bentuk keterampilan dalam Satuan Karya Tarunabumi Krida Hortikultura terbagi menjadi tiga bagian yaitu keterampilan budidaya tanaman buah-buahan, keterampilan budidaya tanaman sayur-sayuran dan keterampilan budidaya tanaman hias, yang meliputi :
1.      Keterampilan Budidaya tanaman buah-buahan mencakup:
  1. Keterampilan Budidaya tanaman Rambutan
  2. Keterampilan Budidaya tanaman Mangga
  3. Keterampilan Budidaya tanaman Nenas
  4. Keterampilan Budidaya tanaman Salak
  5. Keterampilan Budidaya tanaman Pepaya
  6. Keterampilan Budidaya tanaman Jeruk
  7. Keterampilan Budidaya tanaman Jambu Biji.[93]
2.  Keterampilan Budidaya tanaman sayur-sayuran mencakup:
  1. Keterampilan Budidaya tanaman Tomat
  2. Keterampilan Budidaya tanaman Cabe
  3. Keterampilan Budidaya tanaman Bayam
  4. Keterampilan Budidaya tanaman Sawi
  5. Keterampilan Budidaya tanaman Wortel
  6. Keterampilan Budidaya tanaman Bawang-bawangan
  7. Keterampilan Budidaya tanaman Seledri
3.  Keterampilan Budidaya tanaman hias mencakup:
  1. Keterampilan Budidaya tanaman hias Anggrek
  2. Keterampilan Budidaya tanaman hias Mawar
  3. Keterampilan Budidaya tanaman hias Melati
  4. Keterampilan Budidaya tanaman hias Kaktus
  5. Keterampilan Budidaya tanaman hias Bonsai.[94]
Sesungguhnya penganalisa kependidikan psikologi pastilah memperoleh dalam pendidikan Nabi perhatian khusus dan jelas terhadap pertanian. Perhatian ini terpancar dari hakikat-hakikat penting dalam pendidikan Islam dimana seluruh bumi ini di tundukkan Allah SWT bagi manusia, penundukkan ini menuntut tindakan nyata, penelitian, dan pembangunan. Dan bumi adalah makhluk (ciptaan) yang penurut lagi tunduk, angin menggiring awan dan penyerbukan tumbuh-tumbuhan.
Contoh-contoh pendidikan harus diambil dan diperoleh dari lingkungan yang dihuni oleh mayoritas penduduk dalam masyarakat tersebut. Lingkungan yang aman sentosa bagi masyarakat Mukmin pertama adalah Kota Madinah Al-Munawwaroh, ia adalah bumi pertanian yang subur, memiliki air yang melimpah, tanam-tanaman, dan pepohonan, maka agraris adalah watak pertama bagi masyarakat Madinah. Dan kaidah pertama dalam mempergunakan media-media pendidikan dan pengajaran, hendaknya materi dan contoh-contohnya menurut lingkungan yang telah dikenal olehnya. Berarti pemilihan contoh-contoh pertanian—dan dengan perhatian khusus—karena manusia berhubungan erat dengannya dan menyukainya, sekalipun dalam masyarakat industri.
Pengetahuan tentang pertanian merupakan hal yang sangat penting, hal tersebut sebagaimana Rasulullah SAW juga telah banyak menceriterakan dan kita mendapatkan penyuluhan pertanian ini dalam hakikat-hakikat berikut:
a.       Produksi pertanian:
            Sedekah jariyah baik yang memakannya manusia ataupun hewan. Rasulullah SAW bersabda:
مامن مسلم يغرس غرسا إلا كان ما أكل منه له صد قة، وما سرق منه له صدقة، ولايرزقه أحد إلا كان له صدقة إلى يوم القيمة
Artinya: ” Tidaklah dari seorang Muslim yang menanam tanaman terkecuali apa yang dimakan darinya merupakan sedekah baginya, apa yang dicuri darinya merupakan sedekah baginya, dan tidaklah seorang pun akan menguranginya terkecuali semua itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat.”
            Telah diriwayatkan bahwa seorang laki-laki melewati Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu dan ia sedang menanam tanaman, maka berkata: “Apakah kamu sedang menaman ini, sedangkan kamu adalah orang tua renta, dan tanaman ini hanya akan berbuah begini, begini selama setahun.” Abu Darda’ berkata: “Dan apa yang ada atasku balasannya akan menjadi milikku, dan orang selainku akan makan darinya.”
b.      Pertanian adalah manfaat kehidupan:
Sesungguhnya penyuluhan Nabi SAW memberikan contoh yang baik dalam menganjurkan untuk bertani dan mengerjakannya dengan sempurna sehingga seseorang tidak membiarkannya berada dalam hari-hari yang penuh ancaman yang menakutkan. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kiamat telah terjadi dan ditangan salah satu dari kalian terdapat bibit pohon kurma, maka jika mampu agar bangkit berdiri sampai menanamnya, maka lakukanlah.”
c.       Para sahabat adalah petani mahir:
Rasulullah SAW telah menangani penyuluhan pertanian ini dalam membangun masyarakat, dengan penanganan kerja lapangan dengan memerintahkan untuk bertani di tanah-tanah sempit di Kota Madinah Munawwarah, dan para sahabat menghadapi pertanian dengan sambutan yang besar, mereka memetik banyak kebaikan darinya, sehingga apa yang ada di dalam Kota Madinah (tuan rumah hijrah) bercocok tanam pada sepertiga dan seperempat tanahnya.
d.      Sesungguhnya mereka adalah para petani:
Masyarakat Islam pada peradaban pertama telah mengetahui kecenderungan terhadap pertanian, untuk mengembangkan kebaikan-kebaikan di bumi. Kami berikan kepada kalian peristiwa ke-Nabi-an yang ajaib bersama laki-laki dan penduduk Sahara. Pada suatu hari Rasulullah SAW menceriterakan, disisi beliau terdapat laki-laki dari penduduk Sahara, bahwa seorang laki-laki dari penduduk surga meminta izin kepada Rabbnya untuk bercocok tanam. Maka Allah SWT berkata kepadanya: “Bukankah kamu bisa berbuat semaumu?” Dia Berkata: “Ya, akan tetapi aku ingin sekali bercocok tanam.”
Beliau berkata: “Maka ia menaburkan benih, dan bergegas tumbuhnya dan meratanya, dan waktu mengetamnya—tanaman-tanaman itu—seperti gunung. Allah SWT berkata kepadanya: “Tanpamu wahai putra Adam, karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang akan memuaskanmu.” Maka laki-laki Baduwi berkata: “Demi Allah, kamu tidak akan mendapatkan kecuali orang Quraisy dan Anshor karena sesungguhnya mereka adalah para petani. Sedangkan kami bukanlah petani.” Rasulullah SAW tertawa mendengarnya.
e.       Keseimbangan antara pertanian dan selainnya:
Disana terdapat beberapa nash yang mengecam pertanian, bagaimanakan bisa demikian? Sesungguhnya pertanian memiliki tujuan pendidikan dan manfaat ekonomi yang sangat  besar. Namun, tidak boleh tenggelam hanya dalam bidang pertanian saja.
Ilmu ekonomi  modern berpendapat: dengan keadaan apapun tidak boleh bagi suatu umat hendak menjadi kuat pada satu sisi saja dan kekuatan ekonomi dihadapan tantangan-tantangan dan sergapan-sergapan untuk puas dengan satu sumber kekayaan tanah air. Hanya dengan bersandar kepada pertanian akan menjadikan ekonomi lemah dan mudah digoyang, kita harus mengarahkan pertanian  dengan bentuk-bentuknya kepada apa yang bermanfaat bagi perindustrian. Umat yang waspada adalah yang menjaga keseimbangan yang kuat dan seksama antara tiada penopang ekonomi; pertanian perindustrian, dan perdagangan. Arahan Nabi SAW mengandung anjuran bertani dan mempelajarinya dengan sempurna, dan keutamaan melakukannya, beserta menjaga keseimbangan ekonomi didalamnya, Al-Qur’an Al Karim mengisyaratkan hal itu, untuk tidak berlebih-lebihan disertai kesempurnaan perhatian dan penjagaan.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-An’am ayat 141:
 وهو الذى انشا جنت معروشت وغير معروشت والنحل والزرع محتلفا اكله والزيتون والرمان متشا بها وغير متشا به، كلوا من ثمره اذآ اثمر واتوا حقه يوم حصاده ولاتسرفوا انه لايحب المسرفين (الأنعام : 141 )
Artinya: “Dan dialah yang telah menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan tidak berjunjung, pohon korma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam bauhnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama rasanya. Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakat); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak  menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q.S. Al-An’am : 141) [95]
Dari uraian diatas maka jelaslah, bahwa pengetahun tentang keterampilan sangat penting artinya, lebih-lebih bila dilakuan dengan sempurna yang akan mendapatkan penghasilan lebih baik. Penjelasan diatas mendorong , agar peserta didik mampu memahami dan melakukan ilmu tentang pertanian yang dikembangkan menjadi keterampilan-keterampilan sebagai bekal bagi dirinya dalam mencapai kemandirian guna penghidupan dan kehidupan baik diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara.
C.    Materi Pendidikan Keterampilan.
Dalam menumbuhkan dan meningkatkan pengetahuan keterampilan bagi peserta didik agar dapat memahami dan melakukan dengan mandiri secara baik maka diadakan beberapa pelatihan dan pembekalan materi, antara lain :
1. Materi untuk keterampilan budidaya tanaman buah-buahan meliputi :
  1. Keterampilan Budidaya tanaman Rambutan, materi yang disampaikan:
1)      Pendahuluan
2)      Jenis-jenis rambutan
3)      Budidaya
4)      Panen dan paska panen.[96]
  1. Keterampilan Budidaya tanaman Mangga, materi yang disampaikan:
1)      Pendahuluan mencakup pengertian mangga
2)      Jenis-jenis mangga
3)      Perbanyak tanaman
4)      Pemilihan tanah
5)      Pengolahan tanah
6)      Penanaman dan pemeliharaan
7)      Panen dan paska panen.[97]
  1. Keterampilan Budidaya tanaman Nenas, materi yang disampaikan:
1)      Pendahuluan
2)      Lingkungan tumbuh
3)      Varietas yang dikembangkan
4)      Perbanyak tanaman
5)      Penanaman
6)      Pemupukan
7)      Pemeliharaan
8)      Pengendalian organisme pengganggu
9)      Penen dan paska panen.[98]
  1. Keterampilan Budidaya tanaman Salak, materi yang disampaikan:
1)      Pendahuluan
2)      Syarat tumbuh
3)      Jenis-jenis salak
4)      Budidaya
5)      Panen dan paska panen.[99]
  1. Keterampilan Budidaya tanaman Pepaya, materi yang disampaikan:
1)      Pendahuluan
2)      Syarat tumbuh
3)      Budidaya
4)      Panen dan paska panen.[100]
  1. Keterampilan Budidaya tanaman Jeruk, materi yang disampaikan:
1)      Pendahuluan
2)      Syarat tumbuh
3)      Jenis-jenis jeruk
4)      Budidaya
5)      Panen dan paska panen.[101]
  1. Keterampilan Budidaya tanaman Jambu Biji, materi yang disampaikan:
1)      Pendahuluan
2)      Jenis-jenis jambu biji
3)      Budidaya jambu biji
4)      Panen dan paska panen.[102]
2. Materi untuk keterampilan budidaya tanaman sayur-sayuran adalah sebagai berikut :
a.       Keterampilan Budidaya tanaman Tomat, materi yang disampaikan:
1)      Pendahuluan
2)      Jenis-jenis tomat
3)      Budidaya
4)      Panen dan paska panen. [103]
b.      Keterampilan Budidaya tanaman Cabe, materi yang disampaikan:
1)      Pendahuluan
2)      Jenis-jenis cabe
3)      Budidaya
4)      Panen dan paska panen.[104]
c.       Keterampilan Budidaya tanaman Bayam, materi yang disampaikan:
1)      Pendahuluan
2)      Jenis-jenis bayam
3)      Budidaya tanaman bayam cabut
4)      Budidaya tanaman bayam tahunan
5)      Panen dan paska panen.[105]
d.      Keterampilan Budidaya tanaman Sawi, materi yang disampaikan:
1)      Pendahuluan
2)      Syarat-syarat tumbuh
3)      Pembibitan dan persemaian
4)      Bercocok tanam dan pemeliharaan tanaman
5)      Hama dan penyakit
6)      Pemungutan hasil dan penggunaannya
7)      Pemasaran.[106]
e.       Keterampilan Budidaya tanaman Bawang-bawangan, materi yang disampaikan:
1)      Jenis-jenis bawang
2)      Budidaya bawang
3)      Panen dan paska panen.[107]
f.       Keterampilan Budidaya tanaman Seledri, materi yang disampaikan:
1)      Jenis-jenis seledri
2)      Kegunaan
3)      Pemeliharaan
4)      Cara perbanyak tanaman
5)      Panen dan paska panen.[108]
3. Materi untuk Keterampilan Budidaya Tanaman Hias yaitu :
  1. Keterampilan Budidaya Tanaman Hias Anggrek, materi yang disampaikan meliputi :
1)      perbanyak tanaman
2)      pemeliharaan
3)      hama dan penyakit
4)      pemanenan
5)      pengemasan.[109]
  1. Keterampilan Budidaya Tanaman Hias Mawar, materi yang disampaikan meliputi:
1)      pemanfaatan mawar
2)      jenis-jenis mawar
3)      cara perbanyak tanaman
4)      pemeliharaan tanaman
5)      hama yang menyerang.
6)      penyakit yang menyerang
7)      pemanenan
8)      pengemasan.[110]
  1. Keterampilan Budidaya Tanaman Hias Melati, materi yang disampaikan melaiputi :
1)      jenis-jenis melati
2)      cara perbanyak tanaman
3)      pemeliharaan tanaman
4)      hama dan penyakit[111]
  1. Keterampilan Tanaman Hias Kaktus, materi yang disampaikan adalah:
1)      media tanaman
2)      pemeliharaan tanaman
3)      perbanyak tanaman
4)      menyambung tanaman kaktus
5)      hama dan penyakit
6)       beberapa jenis hama.[112]
  1. Keterampilan Budidaya Tanaman Hias Bonsai, materi yang disampaikan adalah :
1)      pendahuluan, mencakup pengertian dan istilah bonsai
2)      gaya bonsai
3)      syarat-syarat
4)      budidaya
5)      pemeliharaan. [113]
Unsur materi pendidikan memang bukan pengetahun saja, tetapi meliputi keterampilan dan sikap atau nilai-nilai.
Materi keterampilan yang disampaikan tersebut dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Manusia sebagai makhluk bilogis mempunyai unsur mekanisme jasmani yang membutuhkan kebutuhan-kebutuhan lahiriyah, misalnya makan dan minum, bertempat tinggal yang layak, dan kebutuhan biologis lainnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut harus dipenuhi secara layak, dan salah satu diantara persiapan untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan yang layak adalah melalui pendidikan. Dengan pendidikan, pengalaman dan pengetahuan seseorang bertambah dan dapat menentukan kualitas dan kuantitas kerja seseorang. Hal ini karena dunia kerja dewasa ini semakin banyak persaingan dan jumlah perkembangan penduduk jauh lebih pesat daripada penyedian lapangan kerja.
Sebagai konsekuensinya, kurikulum pendidikan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kerja. Hal ini ditujukan setelah keluar dari lembaga sekolah, peserta didik mempunyai kemampuan keterampilan yang profesional, produktif dan kreatif, mampu mendayagunakan sumber daya alam, sumber daya diri dan sumberdaya situasi yang mempengaruhinya.[114]
Dalam merumuskan isi kurikulum, perlu diperhatikan beberapa prinsip, yaitu :
1.            Materi yang disusun tidak menyalahi fitrah manusia.
2.            Ada relevansinya dengan tujuan pendidikan Islam, yaitu sebagai upaya dalam rangka ibadah kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan.
3.            Disesuaikan dengan tingkat dan usia anak didik.
4.            Perlunya membawa anak kepada obyek empiris, sehingga peserta didik mempunyai keterampilan yang memenuhi kebutuhan masyarakat dan dapat mencari penghidupan yang layak.
5.            Adanya penyusunan kurikulum yang integral, terorganisasi dan terlepas dari segala kontradiksi antara materi yang satu dan materi yang lainnya.
6.            Materi yang disampaikan memiliki relevansinya dengan masalah-masalah yang mutakhir, yang sedang dibicarakan dan relevan dengan tujuan negara setempat.
7.            Adanya metode yang mampu menghantarkan tercapainya materi pelajaran dengan memperhatikan perbedaan masing-masing individu.
8.            Materi yang diajarkan tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga bersifat praktis.
9.            Materi yang disusun mempunyai pengaruh terhadap bidang tertentu.
10.        Memperhatikan pendidikan kejuruan, teknik, industri analisis untuk mencari penghidupan.
11.        Adanya ilmu alat untuk mempelajari ilmu-ilmu lain.[115]
Disamping itu pula, ilmu-ilmu yang perlu dijadikan materi pendidikan Islam adalah sebagai berikut :
a.       Hukum Sunnatullah, antara lain mencakup tentang ilmu-ilmu untuk mengetahui tumbuh-tumbuhan seperti ilmu botani dan lain sebagainya.
b.      Hukum Dinullah, antara lain mecakup ilmu-ilmu untuk mengetahui Al-Qur’an dan Al-Hadits
c.       Ilmu-ilmu untuk berhubungan baik dengan Allah
d.      Ilmu-ilmu untuk berhubungan baik dengan manusia, seperti ilmu sosial, ilmu ekonomi, ilmu politik, ilmu seni, ilmu filsafat, ilmu pendidikan dan lain sebagainya.
e.       Ilmu-ilmu untuk berhubungan baik dengan alam, seperti ilmu pertanian, ilmu perikanan, ilmu peternakan, ilmu pembangunan, ilmu perindustrian, ilmu lingkungan hidup dan lain sebagainya.
Ilmu-ilmu tersebut tidak begitu saja dapat dijadikan materi pendidikan Islam pada semua tingkat atau jenjang pendidikan, karena ilmu-ilmu tersebut bersifat global dan luas sekali. Oleh karena itu ilmu-ilmu tersebut dapat diajarkan dan dididikkan kepada peserta didik, maka terlebih dahulu harus diadakan seleksi (pemilihan), perincian dan penjabaran serta pengaturan dengan seksama.[116]
Bentuk-bentuk keterampilan yang di kembangkan Satuan Karya Tarunabumi Krida Holtikultura sangat relevan dengan pendidikan Islam, sebagaimana uraina tersebut diatas yang menekankan salah satu materi pendidikan Islam adalah tentang pertanian dan tumbuh-tumbuhan, yang memiliki manfaat lebih besar jika dikelola dengan baik dan sempurna.
D.    Implikasi Nilai Pendidikan Keterampilan terhadap Pendidikan Islam.
Sejalan dengan misi agama Islam yang bertujuan memberikan rahmat bagi sekalian makhluk di alam ini, maka pendidikan Islam mengidentifikasikan sasarannya yang digali dari sumber ajaran Al-Qur’an, meliputi empat pengembangan fungsi manusia[117]yaitu:
1.      menyadarkan manusia secara individual pada posisi dan fungsinya di tengah makhluk lain, serta tentang tanggung jawab dalam kehidupannya.
2.      menyadarkan fungsi manusia dalam hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakat itu. Oleh karena itu manusia harus mengadakan interrelasi dan interaksi.
3.      menyadarkan manusia terhadap Pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepada-Nya. Oleh karena itu manusia sebagai Homo divinans (makhluk yang berketuhanan), sikap dan watak religiusitasnya perlu dikembangkan sedemikian rupa sehingga mampu menjiwai dan mewarnai kehidupannya.
4.      menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap makhluk lain dan membawanya agar memahami hikmah Tuhan menciptakan makhluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya.
Aktivitas Satuan Karya Pramuka dalam meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan keterampilan peserta didik berupaya  menyediakan kegiatan yang lebih menarik karena menyajikan berbagai keterampilan dalam mengembangkan hobi yang dapat digunakan dalam kehidupannya, lebih memberi tantangan karena mengarah pada pembinaan profesi dan lebih menyenangkan karena diselimuti oleh upaya berbakti bagi masyarakat. Sehingga kegiatan Satuan Karya Pramuka mampu mendorong peningkatan semangat kepeloporan (agen perubahan), kemandirian, kepedulian dan persaudaraan.
Dalam upaya tersebut, tentunya Satuan Karya terus mengembangkan keahlian baik individu maupun kelompok yang nantinya dapat diaplikasikan kepada orang lain atau masyarakat umum, kiranya perlu diketahui beberapa macam kecakapan hidup yang perlu diintegrasikan melalui proses pembelajaran sehingga pembekalan kecakapan hidup merupakan pesan pendidikan yang keberhasilannya sangat tergantung pada cara penyampainnya. Adapaun kecakapan hidup dapat dipilah menjadi empat jenis, yakni :
e.       Kecakapan personal (personal skill) yang mencakup kecakapan mengenal diri (self awareness), dan kecakapan berfikir rasional (thinking skill).
f.       Kecakapan sosial (social skill)
g.      Kecakapan akademik (academic skill), dan
h.      Kecakapan vokasional (vocational skill).[118]
Kecakapan kesadaran diri pada dasarnya merupakan penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, anggota masyarakat dan warga Negara, serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus menjadikan sebagai modal dalam meningkatkan dirinya sebagai individu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya.
Kecakapan berfikir rasional mencakup: (1) kecakapan menggali dan menemukan informasi (information serching), (2) kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan (information processing and decision making skill), (3) kecakapan memecahkan masalah secara kreatif (creative problem solving skill).
Kecakapan sosial atau kecakapan antar personal (inter personal skill) mencakup antara lain kecakapan komunikasi dengan empati, kecakapan bekerjasama (collaboration skill).
Kecakapan akademik (akademic skill) yang sering kali juga disebut kemampuan berfikir ilmiah pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecakapan rasional pada kecakapan yang bersifat umum atau kecakapan hidup generik. Jika kecakapan rasional bersifat umum, kecakapan akademik lebih menjurus kepada kegiatan yang bersifat keilmuan.
Sedangkan kecakapan vokasional (vocasional skill) sering kali disebut dengan kecakapan kejuruan artinya kecakapan yang di kaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat dimasyarakat. Perlu ditelusuri bahwa dalam kehidupan nyata, anatara general skill dan  spesific life skill  yaitu antara kecakapan mengenal diri, kecakapan berfikir rasional, kecakapan sosial, dan kecakapan akademik serta kecakapan vokasional tidak berfungsi secara terpisah-pisah atau tidak berpisak secara eksklusif. Hal yang terjadi adalah peleburan kecakapan-kecakapan tersebut, sehingga menyatu menjadi sebuah tindakan individu yang melibatkan aspek fisik, mental, emosional dan intelektual. Derajat kualitas tindakan individu dalam banyak hal dipengaruhi oleh kualitas kematangan berbagai aspek pendukung tersebut diatas.[119]
Dalam pandangan Islam akal merupakan potensi manusia yang paling penting, itulah yang mendasari pemahaman dan kesempurnaan akal dalam rukun iman, lebih jauh lagi Al-Qur’an, menganjurkan penggunaan akal dalam merenungi tanda-tanda kebesaran Allah yang ada pada diri manusia atau yang ada pada alam semesta.[120] Dalam pandangan Al-Ghazali bahwa akal sebagai sumber lmu pengetahun tempat terbit dan sendi-sendinya. Ilmu pengetahuan berlaku dari akal sebagaimana berlakunya buah-buahan dari pohon, sinar dari matahari dan penglihatan dari mata.
Akal adalah sumber ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Akal dapat dipergunakan untuk menemukan dan menciptakan alat-alat yang berguna baginya untuk menghadapi problem-problem kehidupan manusia. [121]Al –Qur’an sebagai sumber inspirasi dan wawasan serta pandangan hidup universal, memberikan dorongan motivatif manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan melalui rasio (akal pikiran) sejauh mungkin sampai pada dzat Allah yang tidak mungkin dicapai oleh rasio itu; rasio manusia dalam memperdalam dan memperluas dimensi ilmu pengetahuannya tidak terlepas daripada orientasi kepada Tuhannya, karena ia menempatkan kekuasaan Allah diatas segalanya, termasuk kemampuan manusia itu sendiri. Dengan orientasi demikian maka manusia tidak bersikap takabbur (arogan) seolah-olah dengan kemampuan akal pikirannya sendiri tanpa batas.[122]
Selanjutnya kaitannya dengan kecakapan sosial. dalam hal ini, melalui pendidikan, Islam bertujuan mengarahkan manusia menjadi masyarakat muslim yang mampu mewujudkan penghambaannya kepada Allah, semata-mata lewat aplikasi penghambaan tersebut terealisasilah segala keutamaan kehidupan sosial, seperti kerjasama, tanggung jawab, saling menjamin, atau saling mencintai. Melalui pendidikan Islam, dalam diri anak akan berkembang keterikatan pada masyarakat, kecenderungan untuk meneladani masyarakat dan bangga sebagai umat Islam.[123]
Secara sosiologis, manusia adalah makhluk sosial Zoon Politicon – Homo Socios; ia tidak dapat hidup seorang diri dan terpisah dari manusia yang lain, manusia senantiasa hidup dalam kelompok-kelompok yang saling menguntungkan, baik kelompok kecil seperti keluarga maupun kelompok besar seperti masyarakat. Dalam Ihya Ulumuddin Juz I Al-Ghazali sebagaimana dikutip  Hamdani Ihsan dan A. Fuad Ihsan yang menyatakan: “Akan tetapi, manusia itu dijadikan Allah swt dalam bentuk yang tidak dapat hidup sendiri, karena tidak dapat mengusahakan sendiri seluruh keperluan hidupnya baik untuk memperoleh makanan dengan bertani dan berladang, memperoleh roti dan nasi, memperoleh pakaian dan tempat tinggal serta menyiapkan alat-alat untuk semuanya, dengan demikian manusia memerlukan pergaulan dan saling membantu.”[124]
Diperlukannya kecakapan vokasional karena saat ini banyak generasi muda yang mengarahkan kegiatan intelektualnya semata-mata untuk tujuan mendapatkan pekerjaan atau status sosial yang dapat menjamin perolehan rezekinya. Dalam hal ini, pendidikan Islam menjadikan aktivitas mencari harta sebagai ibadah dan pendekatan diri kepada Allah swt. Artinya, aktivitas itu digunakan untuk kemaslahatan umat, seperti untuk memberi nafkah kaluarga dan lain sebagainya.
Implementasi kecakapan hidup dalam proses pembelajaran perlu memiliki kecakapan hidup yang relevan. Dan dalam pelaksanaananya dengan menekankan pada pola pembelajaran yang berprinsip learning to know, learning to do, learning to be and learning to live together. Hal tersebut sama halnya yang juga dikembangkan agar semua anggota Gerakan Pramuka berusaha menerapkan prinsip-prinsip pendidikan yaitu:
1.            Pendidikan berlangsung sepanjang hayat (life long education).
2.            Pilar pendidikan :
e.       belajar mengetahui (learning to know)
f.       belajar berbuat (learning to do)
g.      belajar hidup bersama, hidup dengan orang lain (learning to live together, to live with other)
h.      belajar menjadi seseorang (learning to be).[125]
Dengan kesadaran bahwa semua ilmu yang ada adalah milik dan berasal dari sang Khaliq. Maka dari itu, proses pengajaran dalam lembaga pendidikan Islam tidak perlu lagi terjebak pada pemilahan sebagaimana yang masih berlangsung sekarang ini, yakni materi yang diberikan dalam lembaga pendidikan Islam seperti menjauhi dunia, dan lebih banyak berorientasi pada ilmu keagamaan yang sarat pada daya jangkau keakhiratan semata.
Konsekuensi yang muncul dengan kesadaran tersebut adalah bahwa lembaga pendidikan Islam harus pula memberikan bekal pada peserta didik untuk melakukan tugas kemanusian di dunia. Artinya peserta didik dibekali ilmu-ilmu praktis yang relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan begitu terjadi kesinambungan antara ilmu yang diberikan dibangku pendidikan formal dengan realita kebutuhan riil masyarakat, dan ini secara langsung mengangkat citra pendidikan Islam di masyarakat.
Jika pranata yang dikemukakan diatas telah dikonstruksi ulang, maka harapan yang muncul adalah terciptanya lulusan pendidikan Islam yang mapan dengan basic keilmuan yang matang dilandasi keyakinan agama yang mapan. Kondisi tersebut pada gilirannya akan menjadikan lulusan lembaga pendidikan Islam siap  bersosialisasi dengan lingkungan tanpa harus canggung dan menunggu sampai munculnya kesempatan, tetapi justru menciptakan kesempatannya sendiri.
Semangat kerja yang muncul dalam diri lulusan, bukan pula sekedar materi semata, tetapi telah dilandasi oleh nilai moral keagamaan yang utuh. Dalam situasinya yang baru, lulusan tersebut diharapkan dapat menjadi uswah bagi sesamanya, serta menjadi pendorong (motivator) dan inspirator untuk melakukan kerja yang baik.[126]
Pendidikan keterampilan yang dikembangkan oleh Satuan Karya Tarunabumi, mulai dari persiapan, pengelolaan/perawatan, budidaya dan pemasaran sebagai upaya konkrit dalam memberikan pemahaman yang maksimal serta mampu mengaplikasikannya sendiri, banyak mengandung nilai-nilai pendidikan. Sehingga bentuk-bentuk keterampilan yang dikembangkan oleh Satuan Karya Tarunabumi relevan untuk dikembangkan pula dalam pendidikan Islam. Nilai-nilai tersebut antara lain meliputi:
1.            Menumbuhkan Keimanan.
Jarang orang menyadari bahwa kunci pendidikan terletak pada pendidikan agama di sekolah, dan kunci pendidikan agama di sekolah terletak pada pendidikan agama dalam rumah tangga. Kunci pendidikan agama dalam rumah tangga itu ialah mendidik anak menghormati Allah, orang tua, dan guru. Kunci menghormati Allah, orang tuan, dan guru terletak dalam iman kepada Allah SWT.
Melalui pembinaan keterampilan, peserta didik akan memperoleh peningkatan keimanan dengan mempelajari isi alam semesta terutama tumbuh-tumbuhan. Bahwasannya alam ini diciptakan berdasarkan kebenaran dan aturan-aturan yang baik. Dan sesungguhnya alam ini berjalan sesuai dengan aturan-aturan yang pasti. Manusia mesti mempelajari dan menyelidiki aturan-aturan alam, isi dan rahasia-rahasianya sesuai dengan kemampuan yang ada pada dirinya dan mengakui kebesaran Tuhan yang Maha Agung serta kekuasaan-Nya. Menambah keimanan kepada Allah yang Maha Tinggi sebab memikirkan dan  mengagumi keindahan alam semesta.
Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 10 yang berbunyi:
خلق السموات بغير عمد ترونها والقى فيهاالارض رواسي ان تميد بكم وبث فيها من كل دابة وانزلنا من السمآء مآء فانبتنا فيها من كل زوج كريم.      ( لقمن : 10 )
Artinya: “ Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan Gunung-gunung di permukaan bumi supaya bumi itu tidak menggoyahkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang; dan kami turunkan air hujan dan langit, lalu Kami tumbuhkan segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.”[127]
2.            Ketekukan atau kesungguhan
Salah satu faktor keberhasilan adalah ketekunan dan sungguh-sungguh. Didalam aktifitas yang dikelola Saka Tarunabumi ditekankan agar peserta didik melakukan dengan tekun dan sungguh-sungguh dalam menerima dan mengaplikasikan pengetahuan keterampilan budidaya tanaman, sehingga nantinya diharapkan akan memperoleh hasil yang sangat baik. Dari proses pengadaan barang, pembibitan, penyemaian, penanaman, perawatan, pemanenan dan pemasaran diperlukan sikap yang tekun dan sungguh-sungguh dalam dalam merawat dan pengelolaannya.
Sesungguhnya bekerja dan berusaha merupakan harapan dan tempat penilaian umat manusia. Dengan bekerja dan beramal mereka akan mendapatkan kekayaan lahir batin, mendapatkan kebahagiaan dan kemasyhuran. Kita dapat melihat serta menyaksikan terhadap mereka yang menkuni pekerjaan ataupun peribadatan, orang-orang tersebut akan mencapai kemasyhuran, sekalipun dalam usahanya semata-mata tidak hanya mnecari kemasyhuran. Sebagai misal, para Ulama dan orang-orang kaya, mereka tentu akan menjadi orang yang masyhur. Pedagang, pemburu dan pekerja lainnya mempunyai sikap sungguh-sungguh didalam berusaha tentu akan mendapatkan prestasi yang tinggi yang mendatangkan kemasyhuran dalam bidang ahli mereka masing-masing.
Kalau dianalisa dengan sebenarnya, bahwa kemasyhuran dan keberhasilan merupakan berkah dari kesungguhan, baik kesungguhan dalam bekerja maupun beramal. Yang demikian sesuai dengan apa yang ditegaskan Allah SWT dalam sebuah hadits-qudsi:
يا عبدي حرك يدك أنزل عليك الرزق.  (الحد يث القد سى)
Artinya: “Wahai hambaku, gerakkanlah tanganmu (berjalan) tentu akan mendatangkan rizki buatmu.”[128]
Hadits qudsi ini telah menegaskan, bahwa pada dasarnya Allah SWT memerintahkan kepada umat manusia agar supaya berusaha dan beramal , karena Allah tidak akan memberikan rizki dengan begitu saja, tanpa manusia itu sendiri melakukan usaha. Demikian juga kesuksesan dalam bidang yang lain, tentu harus disertai usaha dengan segala potensi yang ada.
3.            Menumbuhkan sikap Kasih Sayang
Yang dimaksud dari sikap kasih sayang adalah bagaimana peserta didik dalam mengelola tanaman, mempunyai rasa memiliki terhadap apa yang telah dikelolanya, sehingga perlu perawatan yang dilakukan dengan baik. Dalam hal ini peserta didik harus pandai merawat, menyirami memberikan pupuk serta membersihkan batang atau daunya yang sudak layu/mati, sehingga akan mendapatkan hasil yang maksimal.
Seorang muslim yang memelihara agamanya selalu bersikap toleran karena ilmunya, menyebarkan kasih sayang dan memancarkan sumber kasih sayang dari hatinya. Ia sadar sebab datangnya Rahmat dari langit.
Seorang muslim bahkan dituntut menyebarkan kasih sayang kepada kelompok yang lebih luas, tidak terbatas kepada keluarga, anak cucu, karib kerabat, atau kawan-kawannya saja, bahkan mencakup segenap umat manusia dari ciptaan-Nya.Abu Musa Al Asy’ari meriwayatkan:
لن تؤمنوا حتى تراحموا، قالوا : يارسول الله ؟ كلنا رحيم، قال : انه ليس برحمة أحدكم صاحبه، ولكنّها رحمة العامة.  (رواه الطبرانى)
Artinya: “Nabi SAW besabda: tidaklah sempurna iman kalian sehingga kalian saling berkasih sayang kepada sesama kalian, mereka (para sahabat) berkata: wahai Rasulullah kami semua manaruh kasih sayang Nabi bersabda: kasih sayang yang dimaksud bukan sekedar ditujukan kepada salah seorang sahabatnya dalam lingkup terbatas, tetapi rasa kasih sayang hendaknya bersifat menyeluruh.” (HR.Thabrani).[129]
4.            Melatih Kesabaran
Ashshobru nisful iimani, sabar adalah separo iman. Alangkah tingginya nilai sabar itu, tetapi sulit mendakinya. Dalam proses budidaya tanaman yang dikembangkan oleh Saka Tarunabumi mendidik peserta didik agar memiliki kesabaran, karena sejak proses yang dilakukan dari awal sampai pada pemanenan bahkan pemasaran diperlukan waktu yang tidak sedikit, sehingga peserta didik harus rajin merawat, menyirami dan memberikan pupuk agar diperoleh hasil yang baik. Sabar bukannya menyerah pada takdir tanpa berikhtiyar, bukannya fatalismu, tetapi tahan uji diakala menerima percobaan. Arti kata sabar ialah tahan, yakni tahan uji. Itulah seberat-berat menahan rasa, karena kesabaran diperlukan dikala sulit dan lapang, diakala sakit dan sehat, dikala miskin dan kaya, dikala kalah dan menang, dikala gagal dan berhasil, dikala mujur dan malang, dikala sedih dan gembira, dan didalam semua sikap hidup.[130]Maka tanamkanlah rasa kesabaran pada anak-anak/peserta didik, karena kesabaran itu pun termasuk kerangka Agama Islam juga.
5.            Mencintai Keindahan
Keindahan adalah faktor yang berpengaruh dalam kehidupan manusia, ia adalah perlambang kesenangan perasaan dan kepuasan batin manusia. Tanaman hias merupakan salah satu bagian dari keindahan, dalam hal ini peserta didik diberikan pengetahuan tentang tanaman hias yang tentunya mengandung nilai-nilia keindahan yang memiliki daya tarik bagi diri sendiri maupun orang lain. Tanaman hias yang dirawat dan ditata dengan baik tentu akan memperindah suasana, dari proses tersebut diharapkan peserta didik akan memiliki rasa mencintai keindahan sehingga nantinya pesrta didik dapat dengan baik mengaplikasikannya baik untuk kepentingan diri sendiri maupun orang lain.
Makhluk Allah SWT sudah pasti mencintai keindahan atau kecantikan yang bertebaran dijagat raya ini, sebab ia adalah mencerminkan keteraturan dan kerapihan yang mendatangkan kepuasan batin, sesorang yang mengagumi keindahan, pastilah orang yang memiliki perasaan jiwa yang kuat. Hilangnya rasa keindahan, menandakan pula hilangnya rasa keteraturan dan kehalusan hati.[131]
Bumi yang didalamnya terdapat kebun-kebun yang berpemandangan indah, dan tumbuh-tumbuhan dengan bentuk-bentuknya yang hampir serupa dari berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah, AlBahjah:kebagusan, keindahan dan keteraturan. Allah SWT berfirman dalam surat An-Naml ayat 60 yang artinya: “Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah.”[132]
Selanjutnya dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 5 Allah SWT berfirman yang berbunyi:
….وترى الارض هامدة فإِذا انزلنا المآء اهتَزت وربت وانبتت من كل زوج بهيج   ( الحج : 5 )
Artinya: “….Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila kami turunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”[133]
Nilai-nilai tersebut tentunya tidak akan berhasil jika tanpa adanya bimbingan dan pembinaan dari orang dewasa. Sehingga peserta didik mampu menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari baik demi kepentingan dunia maupun akhirat. Dari berbagai keterampilan yang dikembangkan memiliki nilai pendidikan, sehingga peserta didik mendapatkan bekal dan keahlian/kecakapan hidup yang mampu membawa dirinya menjadi mandiri serta memberikan manfaat baik bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kalimat yang baik yang teguh akarnya, kelestarian eksistensinya dan besar faedahnya bagi manusia. Ia seperti pohon yang baik dan berbuah yang berada dalam tanah yang kokoh, daunnya, bunganya dan kayunya. Allah SWT berfirman dalam surat Ibrahim ayat 24-25 yang berbunyi :
اَلم تَََََر كيف ضرب الله مثلا كلمة طيبة كشجرة طيبة اصلها ثابت وفرعها فى السمآء، تؤتى اكلها كل حين باذن ربها  ويضرب الله الامثال للناس لعلهم      يتذ كرون. ( إبرهيم : 24-25 )
Artinya: “Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat  perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) kelangit.”
“Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”[134]
Pada akhirnya, dari uraian tentang bentuk-bentuk keterampilan yang telah dikembangkan oleh Satuan Karya Tarunabumi, peserta didik diberikan bekal agar ia mampu memahami dan mengaplikasikannya bukan sebatas mengetahui saja, dengan memberikan pemahaman tentang cara pengelolaan, pemeliharaan sampai pemasaran yang baik, sehingga mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. Pembinaan dan pengembangan  peserta didik dibidang pertanian bertujuan mendidik mereka supaya mampu mandiri.
Mandiri berarti melakukan pekerjaan sendiri sesuai dengan kemampuannya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda; “Hendaknya salah seorang dari kalian mengumpulkan kayu bakar dengan mengikatkannya diatas punggungya adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada seseorang dan ia (mungkin) akan memberinya atau menolaknya.” (Muttafaq ‘Alaih).[135]
Manusia sebagai penghuni bumi ini dari tahun ketahun terus bertambah, yang semakin lama semakin memadati lahan yang tidak mungkin bertambah. Dalam keadaan itu semakin terbukti  bahwa hidup ini merupakan perjuangan yang tak habis-habisnya, sebagaimana difirmankan Allah SWT di dalam surat Al-Balad ayat 4 yang berbunyi:
 لقد خلقنا اللإ نسان فى كبد (البلد : 4 )
Artinya: “Sesungguhnya manusia itu Kami tempa dalam kancah perjuanagn hidup.” (Q.S. Al-Balad : 4).[136]
Maka pendidikan Islam mengupayakan dalam membantu anak didik agar menjadi mandiri, berkewajiban untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya, dan terus menerus menuntut ilmu yang berguna bagi kehidupannya dan yang di ridlai-Nya.
Pribadi mandiri selalu mampu melihat datangnya kesempatan terutama untuk merebut sukses material, sedangkan untuk merebut sukses spiritual selalu terbuka selama berada dalam perjalanan hidup sebagai nikmat dari Allah SWT. Kreatifitas dan inisiatif sebagai perwujudan berpikir positif dan maju, dalam menghasilkan sesuatu yang baru harus diusahakan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, agar berada dalam ridla Allah SWT. Orang-orang berkepribadian mandiri yang kreatif dan penuh inisiatif, mampu menciptakan kerja dan tidak menunggu kerja. Orang-orang tersebut pandai menyibukkan diri, dengan tidak membuang-buang waktu, disiplin waktu dan disiplin kerjanya sangat tinggi sehingga sukses dapat diraihnya.
BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan.
Setelah berakhirnya seluruh pembahasan dalam penulisan skripsi ini, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.  Gerakan Pramuka sebagai organisasi kepanduan Nasional, memiliki tugas pokok menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi pemuda Indonesia. Satuan Karya Tarunabumi sebagai salah satu wadah pembinaan Gerakan Pramuka memberikan perhatian terhadap pengembangan minat dan bakat serta meningkatkan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman peserta didik dalam berbagai  bidang kejuruan sebagai bekal  bagi anggota Gerakan Pramuka. Keterampilan yang dikelola Satuan Karya Tarunabumi yaitu:
2.  Keterampilan Budidaya Tanaman Buah-buahan, yang meliputi: Keterampilan Budidaya tanaman Rambutan, Keterampilan Budidaya tanaman Mangga, Keterampilan Budidaya tanaman Nenas, Keterampilan Budidaya tanaman Salak, Keterampilan Budidaya tanaman Pepaya, Keterampilan Budidaya tanaman Jeruk, Keterampilan Budidaya tanaman Jambu Biji.
3.  Keterampilan Budidaya Tanaman Sayur-sayuran, yang meliputi: Keterampilan Budidaya tanaman Tomat, Keterampilan Budidaya tanaman Cabe, Keterampilan Budidaya tanaman Bayam, Keterampilan Budidaya tanaman Sawi, Keterampilan Budidaya tanaman Wortel, Keterampilan Budidaya tanaman Bawang-bawangan, Keterampilan Budidaya tanaman Seledri.
4.  Keterampilan Budidaya Tanaman Hias, yang meliputi: Keterampilan Budidaya tanaman hias Anggrek, Keterampilan Budidaya tanaman hias Mawar, Keterampilan Budidaya tanaman hias Melati, Keterampilan Budidaya tanaman hias Kaktus, Keterampilan Budidaya tanaman hias Bonsai.
2.  Sedangkan relevansi pendidikan keterampilan yang dikembangkan oleh Satuan Karya Tarunabumi terhadap pendidikan Islam, ditinjau dari tujuan dan fungsinya memiliki kesamaan. Dan dalam pendidikan Islam dituntut agar peserta didik mampu mandiri dan bekerja dengan tangannya sendiri dalam arti benar-benar mengandalkan diri sendiri, disamping itu pula perlunya mempelajari hukum sunnatullah yakni tentang ilmu untuk mengetahui tumbuh-tumbuhan dan anjuran Rasulullah SAW tentang pentingnya mempelajari ilmu pertanian dengan sempurna. Alam sebagai salah satu ciptaan Allah swt memiliki potensi yang besar untuk digali dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Pendidikan Islam sebagai suatu proses pengembangan potensi kreatifitas peserta didik, bertujuan untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt., cerdas, terampil, memiliki etos kerja yang tinggi, berbudi pekerti luhur, mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya, bangsa dan negara serta agama.
3.  Unsur materi pendidikan memang bukan pengetahuan saja, tetapi meliputi keterampilan dan sikap atau nilai-nilai, pendidikan keterampilan yang dikembangkan oleh Gerakan Pramuka memiliki relevansi terhadap pendidikan Islam guna meningkatkan kemandirian peserta didik yang didalamnya mengandung nilai-nilai pendidikan, antara lain :
a.       menumbuhkan keimanan peserta didik kepada  Allah SWT.
b.      menanamkan pribadi yang tekun dan sungguh-sungguh.
c.        menumbuhkan sikap kasih sayang.
d.       meningkatkan prilaku sabar.
e.        mewujudkan kecintaan akan keindahan terhadap ciptaan Allah SWT.
4.  Dalam menerapkan sesuatu yang baru yang terkait dengan pendidikan perlu memperhatikan: relevansi pendidikan dalam lingkungan murid, relevansi dengan perkembangan kehidupan sekarang dan yang akan datang serta relevansi dengan tuntutan dunia pekerjaan. Dengan tujuan agar proses pendidikan  dapat mencapai: pengembangan kemahiran dalam bidang tertentu, penguasaan keterampilan profesional sesuai dengan tuntutan jaman dan pembinaan pemikiran yang baik.
B.     Saran
1.         Dalam mengembangkan pendidikan perlu memperhatikan dasar dan tujuan utama pendidikan sehingga proses pengembangannya tertata dan juga pendidikan harus memandang jauh kedepan terhadap pembinaan dan perkembangan peserta didik
2.         Perlunya memberikan keterampilan khusus kepada peserta didik sehingga mampu mandiri untuk berkarya yang bermanfaat baik bagi dirinya, maupun masyarakat, bangsa dan negara.
3.         Dalam menerapkan pendidikan keterampilan pada pendidikan Islam perlu memperhatikan berbagai aspek baik peserta didik (potensi), tingkatan, lingkungan serta manfaat dari materi yang diajarkan dan sesuai dengan dasar dan tujuan pendidikan Islam.
4.         Memperhatikan kondisi dan perkembangan peserta didik serta menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan akan tuntutan yang terjadi dalam masyarakat. Dan perlunya menanamkan bekal keterampilan sejak dini, agar anak dapat mengembangkan potensi dirinya menjadi lebih baik dan tidak terlepas dari bimbingan dan arahan orang dewasa serta meningkatkan daya kreatifitas dengan manambah wawasan keterampilan sehingga peserta didik mampu berkarya untuk mandiri.
C.    Kata Penutup.
Tiada daya dan upaya selain kekuasaan Allah SWT, sang raja penguasa alam semesta. Atas ijin-Nya pula akhirnya penulisan skripsi ini dapat berakhir, sekalipun minim akan kesempurnaan dan sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan. Akhirnya dengan penuh harapan skripsi ini dapat memberikan manfaat, baik bagi diri penulis, para praktisi dan lembaga pendidikan maupun masyarakat umum lainnya. Dan hanya kepada Allah swt jualah semuanya kembali.
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998.
Al-Hasyimi, ‘Abdul Hamid, Mendidik Ala Rasulullah,penerjemah Ibn Ibrahim Jakarta: Pustaka Azzam, 2001.
Al-Jamaly, Muhammad Fadhil, Filsafat Pendidikan dalam Al-Qur’an, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1986.
Assayyid, Mahmud Ahmad,  Mendidik Generasi Qur’ani, Solo: CV. Pustaka Mantik, 1992.
A. Fuad Ihsan, dan Hamdani Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: CV Pustaka Setia, 1998.
An-Nahlawi, Abdurrahman Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Shihabuddin (penterjemah), Jakarta: Gema Insani Press, 1995.
Al-Abrasy, Mohd. Athiyah,  Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, penerjemah Bustami A. Gani dan Djohar Bahry, Jakarta: Bulan Bintang, 1970.
Arief, Armai, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.
Bob Sunardi, Andri, Boyman, Ragam Latih Pramuka, Bandung: Penerbit Nuansa Muda,  2001
­Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: PT. Kumudasmoro Grafindo, 1994.
Daradjat, Zakiah,  dkk., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992.
Depdiknas, Dirjen Diklusepora Direktorat Tenaga Teknis, VISI Media Kajian Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Nomor 13 / TH X / 2002.
Depdikbud, Kamus  Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,  1991.
Irwan Febriansyah, (dkk), “Menjadi Manajer, Pedoman Manajemen Kegiatan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega”Jakarta: Dewan Kerja Nasional, 2003.
Hadi, Sutrisno, Metodologi Research, Jilid I, Yogyakarta: Andi Offset, 1993.
Hasyim, Umar, Anak Shaleh, Cara Mendidik Anak dalam Islam 2, Surabaya: PT. Bian Ilmu, 1983.
Hasyimi, Muhammad Ali, Apakah Anda berkepribadian Muslim? Jakarta: Gema Insani Press, 1993.
H. M. Arifin,  Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1994.
Jalal, Abdul Fatah,  Azas-azas Pendidikan Islam, Bandung: CV. Diponegoro, 1988.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Kepramukaan dan Pendidikan Anak Muda, Jakarta: 2001.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Gerakan Pramuka ( Keppres RI Nomor 34 Tahun 1999 dan Keputusan Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Nomor 107 Tahun 1999, Jakarta: 1999.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya, Jakarta: 1990.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pinsaka Tarunabumi, Saka Tarunabumi, Jakarta: 1996.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pinsaka Tarunabumi,  PetunjukTeknis Krida Holtikultura I, Jakarta: 1999.
Kwartir Nasional Gerakn Pramuka dan Pinsaka Tarunabumi, Petunjuk Teknis Krida Holtikultura II, 2000.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 40 Tahun Gerakan Pramuka, Jakarta: 2001.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Rekaman 25 Tahun Gerakan Pramuka, Jakarta: 1986.
Kwarnas Gerakan Pramuka, Rencana Strategik Gerakan Pramuka 2004-2009, Jakarta: 2003.
Kwarnas Gerakan Pramuka, Pendidikan Nilai Gerakan Pramuka, Jakarta: 1999.
Lemdikanas, Pengahyatan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka, Jakarta: 1999.
Marimba, Ahmad D., Pengantrar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Maarif, 1984.
Muhaimin, Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, Bandung: Trigenda Karya, 1993.
Muslehudin, Mahlin, Pendidikan Islam: Upaya Mencari Solusi, dalam Jurnal Pendidikan Coseptor, periode 1999-2001, Yogyakarta: BEM Jurusan KI Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Mahabi, A. Mudjab, Adab dan Pendidikan dalam Masyarakat, Yogyakarta: BPFE, 1984.
Nawawi, Hadari, Dasar-Dasar Manajemen dan Manajemen Gerakan Pramuka, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993.
Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.
———Panitia Muzakarah Ulama kerjasama Departemen Agama, Majelis Ulama Indonesia dan UNICEF, Memelihara Kelangsungan Hidup Anak menurut Ajaran Islam, Jakarta: 1987/1988.
Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan, suatu Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995.
Suryabrata, Sumadi, Metode Peneltian, Jakarta: Rajawali Press, 1992.
Syarif Badudu,Yusuf, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Bandung: [t.p] 1994.
Shabir, Muslich Riyadlus Shalihin, Semarang: CV. Toha Putra 1989.
Suhadi (Kepala Dinas Pendidikan Propinsi DIY) “Kebijakan Dinas Pendidikan Terhadap Perkembangan Kegiatan Kepemudaan tingkat Propinsi DIY” dalam Makalah Dialog Kepemudaan Propinsi DIY September 2003 di Youth Centre Sleman.
Riyadi, Christiono, Sejarah Singkat Gerakan Pramuka, dalam Makalah PAB XIX Pangkalan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Oktober 2002.
Tauhid, H. Abu, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, Yogyakarta: Sekretariat Ketua Jurusan Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1990.
Thoha, HM. Chabib, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1996.
Tadjab, dkk., Dasar-dasar Kependidikan Islam (Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan Islam), Surabaya: Karya Abditama (t.t.)
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Penegmbangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, Depdikbud, 1998.
Usman, Andy, Sekilas Mengenal Kepanduan/Kepramukaan di Indonesia dan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Kalimantan Barat, Pontianak: 2003.
Wijdan SZ, Aden dan Muslih Usa, Pendidikan Islam dalam peradaban Industrial, Yogyakarta: Aditya Media, 1997.
——–Majalah PRAMUKA, Inisiatif, Kreatif untuk Mandiri, 07-08 / Juli-Agustus 1999 – Tahun XX.
———Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat Esensi Nilai Kepramukaan bagi Pendidikan, Sabtu 12 Juli 2003.
———Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat,  Selasa Pon 9 September 2003 / 12 rejeb 1936.
———Surat Kabar Harian Suara Merdeka,  Membentuk Bangsa dan Satuan Karya, Kamis, 17 Juli 2003.
———Buletin Pramuka KAPATA, Life Skill dan Gerakan Pramuka di Era AFTA 2003, Kwarda Maluku, Nomor 05 Tahun 2003, Mei-Juni 2003.
———Surat Kabar Harian BERNAS, Mereka Bangga Menjadi Pramuka, Kamis 10 Juli 2003.
———Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Awal Kepramukaan di Indonesia, Sabtu Wage 12 Juli 2003.
——— Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat,   Kelahiran Gerakan Pramuka, Sabtu Wage 12 Juli 2003.
———Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka nomor 080 tahun 1988 tentang Pola dan Mekanisme Pembinaan Pramuka Penegak dan Pandega
———Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Kebijakan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dalam mengefektifkan dan mengefesienkan Satuan Karya Pramuka,Jakarta, 2003.

[1] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Kepramukaan Dan Pendidikan Anak Muda, (Jakarta : Oktober 2001), h. 2
[2] Depdikbud, Kamus  Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka,  1991), h.1043
[3] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya, (Jakarta:1990. h. 23
                [4]Andri Bob Sunardi, Boyman, Ragam Latih Pramuka, (Bandung : Nuansa Muda, 2001), h. 4
[5] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, AD/ART Gerakan Pramuka, (Jakarta : 1999), h.7
[6] Yusuf Syarif Badudu, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Bandung : [t.p] 1994), h. 1151
[7] Ahmad D. Marimba, Pengantrar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : Al-Maarif, 1984, h. 19
[8] H. Abu Tauhid, Ms. Beberapa Aspek Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Sekretariat Ketua Jurusan Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1990), h. 12
[9] Suhadi (Kepala Dinas Pendidikan Propinsi DIY) “Kebijakan Dinas Pendidikan Terhadap Perkembangan Kegiatan Kepemudaan tingkat Propinsi DIY ” dalam Makalah “Dialog Kepemudaan Propinsi DIY” September 2003 di Youth Centre Sleman, h. 1
[10] Majalah PRAMUKA, Inisiatif, Kreatif dan Inovatif, (Jakarta : Kwarnas Gerakan Pramuka), h. 38
[11] Surat Kabar Harian BERNAS, Mereka Bangga Menjadi Pramuka, Kamis 10 Juli 2003. h. 3
[12] Saifudin Ali Anwar, Membentuk Bangsa dan Satuan Karya, SKH Suara Merdeka, (Semarang : Kamis, 17 Juli 2003, h. 6
[13] Wisnu Wedotomo, Esensi Nilai Kepramukaan bagi Pendidikan, SKH Kedaulatan Rakyat, (Yogyakarta : Sabtu 12 Juli 2003)
[14] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, suatu Pendekatan Baru, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1995), h. 118
[15] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka, (Jakarta : 1999), h. 28
[16] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya, op. cit. h. 5
[17] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pinsaka Tarunabumi,  PetunjukTeknis Krida Holtikultura Saka Tarunabumi I, (Jakarta : 1999), h. iii
[18] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pinsaka Tarunabumi,  PetunjukTeknis Krida Holtikultura Saka Tarunabumi II, (Jakarta : 2000), h. iii
[19] Djoko Saputra, Life Skill dan Gerakan Pramuka di Era AFTA 2003, dalam Buletin Pramuka KAPATA, Kwarda Maluku, Nomor 05 Tahun 2003, Mei-Juni 2003, h.18
[20] Depdiknas, Depdiknas, VISI, Media Kajian Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, (Jakarta : Dirjen Diklusepora Direktorat Tenaga Teknis, 2002), h. 7
[21] Majalah PRAMUKA, Inisiatif, Kreatif untuk Mandiri, 07-08 / Juli-Agustus 1999 – Tahun XX, h. 8
[22] Zakiah Daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1992), h. 28
[23] Panitia Muzakarah Ulama kerjasama Departemen Agama, Majelis Ulama Indonesia dan UNICEF, Memelihara Kelangsungan Hidup Anak menurut Ajaran Islam, (Jakarta : 1987/1988)   h. 51
[24] I b i d, h. 52
[25] Muhaimin, Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung : Trigenda Karya), 1993, h. 103
[26] H. Abu Tauhid, Ms. op. cit.,h. 23
[27] Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1998), h. 7
[28] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Penegmbangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, Depdikbud, 1998), h. 738
[29].  Zakiah Daradjat, op. cit., h. 125
[30] HM. Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Pustaka pelajar Offset, 1996), h. 26
[31] Muslehudin Mahlin, Pendidikan Islam: Upaya Mencari Solusi, dalam Jurnal Pendidikan Coseptor, periode 1999-2001, (Yogyakarta : BEM Jurusan KI Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), h. 52
[32] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan dan Praktek, (Jakarta : Rineka Cipta, 1993), h. 202
[33] Sumadi Suryabrata, Metode Peneltian, (Jakarta: Rajawali Press, 1992), h. 87
[34] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Jilid I, (Yogyakarta: Andi Offset, 1993), h. 36
[35] I b i d, h. 42
[36] Andri Bob Sunardi, Boyman Ragam Latih Pramuka, (Bandung: Nuansa Muda, 2001),  h. 4
[37] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, AD/ART Gerakan Pramuka, (Jakarta: 1999), h. 47
[38]Ibid, h. 24
[39] Irwan Febriansyah, (dkk), “Menjadi Manajer, Pedoman Manajemen Kegiatan Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega”. (Jakarta: Dewan Kerja Nasional, 2003), h. 1
[40] Hadari Nawawi, Dasar-Dasar Manajemen dan Manajemen Gerakan Pramuka, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993), h. 3
[41] Andy Usman, Sekilas Mengenal Kepanduan/Kepramukaan di Indonesia dan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Kalimantan Barat, (Pontianak: 2003), h. 5
[42] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Kepramukaan dan Pendidikan Anak Muda, (Jakarta: 2001), h. 1
[43] Awal Kepramukaan di Indonesia, Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, (Yogyakarta), Sabtu Wage 12 Juli 2003, h. 13
[44] Christiono Riyadi, S.IP. Sejarah Singkat Gerakan Pramuka, dalam Makalah PAB XIX (Pangkalan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Oktober 2002, h. 17
[45] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 40 Tahun Gerakan Pramuka, (Jakarta: 2001), h.31
[46] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Rekaman 25 Tahun Gerakan Pramuka, (Jakarta: 1986), h. 14
[47] Kelahiran Gerakan Pramuka, Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, (Yogyakarta), Sabtu Wage 12 Juli 2003, h. 13
[48] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka, op.cit., h. 6
[49] Ibid, h. 25
[50] Andri Bob Sunardi, op. cit. h. 4
[51] Andy Usman, op. cit. h.4
[52] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka, op.cit, h. 24
[53] Ibid,  h. 9
[54] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), h. 120
[55] Departemen Agama RI, “Al-Qur’an dan Terjemahnya”, (Semarang: PT Kumudasmoro Grafindo, 1994), h. 1051
[56] Ibid, h. 298
[57] Abdurrahman An-Nahlawi, op. cit, h. 120
[58] Lemdikanas,Penghayatan AD/ART Gerakan Pramuka, (Jakarta: Kwarnas), h. 17
[59] Armai Arief, pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 168
[60] Abdul Fatah Jalal, Azas-azas Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro, 1988),    h. 180
[61] H. Abu Tauhid, Tauhid, Beberapa Aspek Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Sekretariat Ketua Jurusan Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1990), h.  87
[62]  Armai Arief, op. cit. h. 117
[63] Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka nomor 080 tahun 1988 tentang Pola dan Mekanisme Pembinaan Pramuka Penegak dan Pandega, (Jakarta : 1988), h. 12
[64] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, AD/ART Gerakan Pramuka, op.cit .h. 36
[65] H. Abu Tauhid, op.cit, h. 26
[66] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Kepramukaan dan Pendidikan Anak Muda, op.cit.  h. 8
[67] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, AD/ART Gerakan Pramuka, op.cit.h. 26
[68] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Rencana Strategik Gerakan Pramuka 2004-2009, (Jakarta: 2003), h. 5
[69] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Pendidikan Nilai Gerakan Pramuka, (Jakarta: 1999), h. 31
[70] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Rencana Stategik Gerakan Pramuka, op.cit. h. 6
[71] Andri Bob Sunardi,  op. cit. h. 4
[72] Kwarda Maluku, Buletin KAPATA, Nomor: 05 Tahun 2003, Mei-Juni 2003, h.13
[73] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Kepramukaan dan Pendidikan Anak Muda,       op. cit., h. 7
[74] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya Pramuka, (Jakarta: 1990), h. 5
[75] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Kebijakan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dalam mengefektifkan dan mengefesienkan Satuan Karya Pramuka, (Jakarta: 2003), h. 4
[76] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Petunjuk Penyelenggaraan Satuan Karya Pramuka, op.cit., h. 23
[77] Muslich Shabir, Riyadlus Shalihin, (Semarang: CV. Toha Putra, 1989),  h. 458
[78] Mohd. Athiyah Al-Abrasy,  Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam,  Bustami A. Gani dan Djohar Bahry (penerjemah),( Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h. 4
[79] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, AD/ART Gerakan Pramuka, op.cit., h. 11
[80] Ibid, h. 51
[81] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 40 Tahun Gerakan Pramuka, op. cit, h. 104-105
[82] Jumlah tersebut belum termasuk beberapa daerah yang tidak mengirimkan laporan Data Potensi dari masing-masing Kwartir Daerah. Lihat : Laporan Pertanggungjawaban Kwarnas masa bakti 1998-2003, h. 29
[83] Zakiah Daradjat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992),  h. 125
[84] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pinsaka Tarunabumi, Saka Tarunabumi, (Jakarta: 1996), h. 23
[85] Muhaimin dan Abdul Majid, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, (Bandung: Trigenda Karya, 1993), h. 153
[86] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 87
[87]  Ibid, h. 94
[88] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pinsaka Tarunabumi, Saka Tarunabumi, op.cit,. h. 25
[89] Muahimin dan Abdul Mujib, op. cit. h. 144
[90] Panitia Muzakarah Ulama kerjasama Departemen Agama, Majelis Ulama Indonesia dan UNICEF, Memelihara Kelangsungan Hidup Anak menurut Ajaran Islam, (Jakarta  :1987/1988).     h. 52
[91] Umar Hasyim, Anak Shaleh, Cara Mendidik Anak dalam Islam 2, (Surabaya: PT. Bian Ilmu, 1983), h. 156
[92] Mahmud Ahmad Assayyid,  Mendidik Generasi Qur’ani, S.A. Zemol (penterjemah), (Jakarta: CV. Pustaka Mantik, 1992), h. 51
[93] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pinsaka Tarunabumi,  PetunjukTeknis Krida Holtikultura Saka Tarunabumi I, (Jakarta : 1999), h. iii
[94] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pinsaka Tarunabumi,  PetunjukTeknis Krida Holtikultura Saka Tarunabumi II, (Jakarta: 2000), h. iii
[95] ‘Abdul Hamid Al-Hasyimi, Mendidik Ala Rasulullah, Ibn Ibrahim (penerjemah), (Jakarta: Pustaka Azzam, 2001), h. 208-211
[96] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pinsaka Tarunabumi,  PetunjukTeknis Krida Holtikultura Saka Tarunabumi I,op. cit. h. 6
[97] Ibid, h. 31
[98] Ibid, h. 44
[99] Ibid, h. 58
[100] Ibid, h. 62
[101] Ibid, h. 68
[102] Ibid, h. 76
[103] Kwartir Nasional Gerakn Pramuka dan Pinsaka Tarunabumi, Petunjuk Teknis Krida Holtikultura Saka Tarunabumi II, op. cit.  h. 7
[104] Ibid, h. 9
[105] Ibid, h. 13
[106] Ibid, h. 25
[107] Ibid, h. 42
[108] Ibid, h. 44
[109] Ibid, h. 59
[110] I b i d,  h. 62
[111] I b i d,  h. 64
[112] I b i d,  h. 66
[113] I b i d,  h. 69
[114] Muhaimin dan Abdul Majid, op.cit, h. 203
[115] Ibid, h. 211-212
[116]  Tadjab, dkk., Dasar-dasar Kependidikan Islam (Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan Islam), (Surabaya: Karya Abditama), h. 120
[117] H. M. Arifin,  Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994). h. 33
[118] Depdiknas, VISI, Media Kajian Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Dirjen Diklusepora Direktorat Tenaga Teknis, (Jakarta: 2002), h. 7
[119] Ibid,  h. 9
[120] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Shihabuddin (penterjemah), (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), h. 129
[121] Hamdani Ihsan dan A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam,(Bandung: CV Pustaka Setia, 1998), h. 253
[122]  H.M. Arifin,  Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), h. 111
[123] Abdurrahman An-Nahlawi,  op. cit, h. 130
[124] Hamdani Ihsan dan A. Fuad Ihsan, op. cit. h  255
[125] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Pola Dasar Pemantapan Satuan Karya Pramuka, (Jakarta: Kwarnas, 2003), h.11
[126] Muslih Usa dan Aden Wijdan SZ,  Pendidikan Islam dalam peradaban Industrial, (Yogyakarta: Aditya Media, 1997:, h. 196
[127] Muhammad Fadhil Al-Jamaly, Filsafat Pendidikan dalam Al-Qur’an, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1986), h. 19
[128] A. Mudjab Mahabi, Adab dan Pendidikan dalam Masyarakat, (Yogyakarta: BPFE, 1984), h. 157
[129] Muhammad Ali Hasyimi, Apakah Anda berkepribadian Muslim?. (Jakarta: Gema Insani Press, 1993), h. 37
[130] Umar Hasyim, op. cit. h.141
[131] Mahmud Ahmad Assayyid,  op. cit, h. 102
[132] Abdul Hamid Al-Hasyimi,op.cit, h. 279
[133] ­Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: PT. Kumudasmoro Grafindo, 1994), h. 512
[134] Ibid, h. 384
[135] Ibid, h. 208
[136] Departemen Agama RI, op. cit, h. 1061
www.web.unmetered.co.id
unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Pendidikan Ketrampilan Saka Tarunabumi dalam Gerakan Pramuka"