PESAN DAKWAH DALAM PEMENTASAN TADARUS PUISI TEATER ESKA IAIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

unmetered
unlimited
PESAN DAKWAH DALAM PEMENTASAN TADARUS PUISI
TEATER ESKA IAIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
 Oleh Team www.web.unmetered.co.id

Latar Belakang Masalah

Dalam konteks sosial budaya, fungsi pengembangan kesenian bernafaskan Islam adalah untuk menjalin silaturahmi, khususnya dalam memperlihatkan, menawarkan dan mengajak sesama manusia untk mendekatkan diri kepada-Nya melalui cara yang bijak dan baik. Dengan demikian, seni ditempatkan sebagai aspek integral dari dakwah.10)
Namun demikian, itu tidak berarti bahwa seni Islam harus selalu berisi nasehat, hukum, arahan, dan sebagainya. Bentuk seperti itu justru akan merusak nilai kesenian itu sendiri. Seni, di satu sisi, memang mempunyai fungsi tertentu, tetapi ia juga tidak boleh diberi beban melebihi kadar kemampuanya. Keindahan dan pesona merupakan sifat azali kesenian, dan fungsi apapun yang dibebankan kepadanya harus selalu dalam batas-batas yang tidak merusak atau mengurangi pesona keindahannya.  Bentuk-bentuk ekspresi keindahan harus selalu dikembangkan agar kekuatan pesonanya sama besarnya dengan kekuatan muatan pemikirannya.11)
Seni sebagai media dakwah, dapat dijalankan oleh siapa saja tanpa harus berpijak pada profesionalisme (status kesenimanan). Sedangkan untuk menciptakan seni secara hikmah, menuntut adanya spesialisasi atau  kesungguhan, pendalaman dan pengetahuan serta prosedur-prosedur yang melingkupi.12)
Pertama, praktik-praktik seni sebagai media dakwah di ruang publik, telah memperlihatkan diri ke arah kecenderungan-kecenderungan budaya yang bersifat praktis, rekreatif dan lebih menonjolkan bentuk keindahan luar. Tidak lebih dari sekedar memberi nilai atau muatan Islam terhadap bentuk seni tradisi atau modern yang telah ada dan populer.13)
Sedangkan yang kedua, proses-proses penciptaan dan pertunjukan seni secara hikmah, membiaskan ciri-ciri kultural yang bersifat integralistik, kontemplatif dan selalu berusaha untuk mewujudkan bentuk keindahan dalam. Oleh sebab itu, setiap momentum seni yang memiliki kemungkinan untuk diberi “model” harus ditempuh dan dieksplorasi secara maksimal, sehingga hampir seluruh dan sepenuh proses penciptaannya, merupakan bagian, bukti atau esensi dari kebenaran Islam itu sendiri yang ditampakkan secara plastis dan simbolik.14)
Perkataan hikmah biasa diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan bijaksana atau kebijaksanaan. Muhammad Abduh dalam Tafsirnya al-Manar mendefinisikan hikmah dengan memahamkan rahasia dari tiap-tiap sesuatu, juga sebagai ilmu yang shaheh (benar dan sehat) dan mengarahkan kemauan untuk melakukan sesuatu perbuatan yang bermanfaat. 15)
Untuk mentransformasi seni kedalam hikmah, secara tidak langsung telah memunculkan faham estetika ke dalam proses imajinasi, ekspresi dan kreativitas serta alternatif-alternatif seni sebagaimana yang disetujui oleh al-Qur’an. Bahwa seni, apapun bentuknya, menghendaki adanya kesadaran relegiusitas sebagai konsekwensi logis dari pertautannya dengan ajaran Islam. Oleh sebab itu, setiap nilai keindahan yang memancar dari seni Islam, mencuatkan faham penolakan yang serius terhadap penciptaan dan akibat-akibat seni yang menyeret manusia  kearah kerusakan moral dan kemurtadan spiritual.16) Untuk mencapai tujuan itu,  berbagai kemungkinan seni yang dapat ditransformasi kedalam hikmah, dapat diturunkan pengertian dan makna konotatifnya kedalam prosedur-prosedur teologis maupun estetis yang malandaskan dinamikanya pada sumber-sumber al-Islam. Yakni al-Qur’an, al-Hadits, hukum dan pengetahuan yang dikeluarkan dari keduanya serta penafsiran dan kontekstualisasinya dalam kehidupan dan sejarah kebudayaan manusia. Tercakup juga didalamnya, visi dan orientasi, motivasi dan prestasi, inovasi dan orisinalitas serta intensitas dan konsistensi seni maupun seniman yang membias dalam cermin agama. Melalui penalaran tersebut, hampir tidak mungkin bagi seniman untuk dapat memperteguh keyakinan dan faham estetisnya tanpa membaca ulang dan mandalami sekuatnya terhadap sumber inspirasi, isyarat-isyarat, metafora dan spiritualitas keindahan yang dipancarkan oleh al-Qur’an. Meneliti dan mendekati berbagai fakta historis dari pertumbuhan dan perkembangan ekspresi estetik seni Islam itu sendiri yang telah menyata dalam ruang kebudayaan.17)
Sama halnya dengan Teater Eska, dimana sebagai lembaga kesenian di lingkungan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah sebuah wadah berkesenian yang memiliki cita-cita kesenian yang sesuai dengan konsep kesenian Islam. Ini dapat dilihat dari visi, misi dan orientasinya yang menekankan keseimbangan antara estetika dan etika untuk mewujudkan kesenian yang transendental. Di dalam proses kreatif, yang tertuang dalam program kerja, dalam bentuk-bentuk pementasannya tidak pernah terlepas dari cita-cita tersebut. Salah satu bentuk pementasan yang khas –digagas oleh Teater Eska– adalah pementasan ‘tadarus puisi‘ yang pada awalnya dikemas untuk mengisi kegiatan bulan Ramadhan. Hingga tahun 2002 telah 11 kali mementaskan tadarus puisi dengan format dan materi yang beragam, sesuai dengan perkembangan pemahaman para kreatornya dalam berproses dan menciptakan bentuk-bentuk pementasannya.
Berdasarkan pemaparan diatas inilah yang mendorong penulis untuk melakukan sebuah penelitian dengan menjadikan pementasan tadarus puisi sebagai obyek penelitian, yaitu:
1.      Keluk Gurindam (1998)
Dipentaskan pada Ramadhan 1419 H (19 desember 1998) di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sutradara  oleh Edeng Syamsul Ma’arif, penata gerak Brojo Seno Adjie, penyusun naskah dan penata musik Faaizi L. Kaelan. sebagai pengadaptasi dan  pengaransement musik pada pementasan ini.
Tanggal 26 April 2002 dipentaskan di Auditorium Universitas 17 Agustus Cirebon pada acara Muhibah Seni atas undangan Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus dan Dewan Kesenian Cirebon.
2.      Kabar Dari Langit (2000)
Pementasan dilaksanakan pada Ramadhan 1421 H (10 Desember 2000) , bertempat di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penyusun naskah dan sutradara Solichul Hadi.
3.      Ziarah Abadi (2001)
Pementasan dilaksanakan pada Ramadhan 1422 H (5 Desember 2001) di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pengadaptasi naskah dan Sutradara Zuhdi Siswanto.
Tanggal 9 Desember 2001 dipentaskan di Auditorium STIE Kerjasama Yogyakarta dalam acara Ramadhan di Kampus atas undangan Teater GEMA STIE Kerjasama Yogyakarta.
Sedangkan dalam skripsi ini penulis mengkonsentrasikan pada pesan apa saja yang terkandung dalam pementasan tadarus puisi. Ketiga pementasan tersebut, penulis melihat kesamaan dalam inti dari sebuah pesan religius dari perjalanan seorang dalam mencari dan mengenal Tuhannya untuk kembali melihat eksistensi diri sebagai hamba yang diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang sempurna.
Dari keinginan yang kuat untuk mengetahui pesan religi yang terkandung dalam sebuah pementasan tadarus puisi yang diselenggarakan oleh Teater Eska.

Rumusan Masalah

Berdasarkan deskripsi di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah yang berhubungan dengan penelitian dan penyusunan skripsi ini, yaitu:
§  Apa pesan dakwah yang terdapat dalam Pementasan Tadarus Puisi ?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian dan penyusunan skripsi ini adalah :
§  Untuk menggali dan menguraikan muatan dakwah yang terdapat dalam Pementasan  Tadarus Puisi.

Kegunaan Penelitian

Kegunaan Teoritis
Melengkapi khazanah pengetahuan Ilmu Dakwah secara akademis.
Menjadi sumbangan secara tertulis bagi para da’i ataupun calon da’i dalam pengembangan kualitas keilmuan.
Kegunaan Praktis
Mejadi acuan bagi lembaga lain yang akan mengembangkan dakwah melalui pementasan.
Pelurusan sejarah kebaradaan Teater ESKA, baik di dunia kesenian   maupun kontribusinya terhadap dakwah Islamiyah.

Kerangka Pemikiran Teoritik

Tinjauan tentang Pementasan
Pengertian Pementasan.
Pementasan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti proses, cara, perbuatan mementaskan18). Ada sebuah kata yang sepadan dengan pementasan yaitu kata pemanggungan yang berarti proses, cara, perbuatan memanggungkan.19)
Pementasan merupakan aktivitas kompleks dan beragam, berupa penerjemahan potensi naskah, skenario atau perancangan improvisasi menjadi aktual. Secara normal sebuah pementasan membutuhkan usaha kreatif dan kerjasama beberapa personal, yaitu penulis naskah, sutradara, aktor, perancang dan teknisi.20)
1). Penulis naskah, orang yang menulis, pengarang – naskah. 21)
Beberapa penulis naskah yang baik, gagal ketika harus menghadirkan karyanya di atas panggung. Hal ini dikarenakan mereka tidak memahami seni panggung. Seni panggung adalah karya visual, sedangkan penulis, pelukis dan penari, tetap harus menggunakan warna, garis, ruang dan cahaya dengan cara yang unik. Seni panggung adalah seni meruang dan mewaktu dilengkapi dengan irama dan suara serta musik.22)  
2). Sutradara, pemimpin yang bertanggung jawab atas jalannya sebuah pementasan. Ia mengatur irama jalannya pementasan hingga berakhir.23)
Ada empat tahap proses penyutradaraan menurut sejarah kehadirannya, yaitu:
1.      Sutaradara-Guru; Penyutradaraan pada awal kemunculannya dianggap sebagai bentuk pengajaran atau pendidikan. Orang Yunani menamakan sutradara sebagai didaskalos yang berarti ‘guru’. Di abad pertengahan orang Eropa menyebut sutradara dengan master. Dalam pengertian pendidikan, tugas seorang guru adalah memindahkan pengetahuan kepada seseorang yang dipandang belum berpengalaman. Sering terjadi seorang pengarang menyutradarai sendiri naskahnya dalam rangka mengajarkan pada para aktornya memahami naskah. Cara ini seperti yang dilakukan oleh Moliere dan Shakespeare, dan cara ini menjadi  model yang efektif bagi seorang sutradara-guru-pengarang diabad XVII, dan juga dimasa sekarang.24)
2.      Sutradara Realis; Menjelang akhir abad XIX muncul beberapa sutradara yang mempelajari kembali berbagai konvensi pertunjukan dengan berusaha keras dan dengan berbagai cara membuatnya lebih keseharian. Pelopor aliran ini adalah George II Duke of Saxe Meiningen (1887), Andre Breton yang memulai gerakan realisme di Paris melalui Theatre Libre, dan Constantin Stanilavsky di tahun 1889. Ketiganya memulai penyutradaraan dengan konsep-konsep dan teknik pelatihan akting.25)
3.      Sutradara Stilisasi; Tahap ini merupakan gabungan antara kerja penyutradaraan dengan penulisan non realis dalam rangka menghasilkan pementasan stilisasi modern.  Sutradara stilisasi lebih mementingkan kreasi mereka tentang originalitas, teatrikalitas dan gaya di setiap penyutradaraannya. Tujuan sutradara stalisasi adalah menggali kecerdasan, keindahan dan kegairahan teatrikal, dan mendorong kelompoknya pada eksplorasi tentang teater murni dan imajinasi teater murni. Vsevohold Meyerhold, murid Stanislavsky memulai penyutradaraan stilisasi dengan konsepnya biomechanical constructivismsebagai bentuk yang bertentangan dengan realisme. Gerakan gaya penyutradaraan stalisasi mengenalkan rancangan simbolis, ekspresif, abstrak, dan penampilan-penampilan eksplosif, serta metode-metode akting baru tertentu. 26)
4.      Sutradara Kontemporer; Fungsi penyutradaraan berubah dari mengajarkan apa yang sebenarnya menjadi mencipta sesuatu yang aneh dan tidak dikenal. Layaknya seorang sutradara menghadapi kanvas kosong tetapi ditangannya terdapat palet dan cat warna-warni. Konsep masa lalu tidak dibuang di keranjang sampah tetapi siap dihidupkan kembali dengan efek-efek yang lebih menggetarkan. Dalam konsep penyutradaraan kontemporer, tak ada pertanyaan yang terjawab secara otomatis, tak ada gaya yang wajib dianut, tak ada penafsiran yang selalu benar. Jean Paul Sartre mengatakan bahwa manusia mendapat hukuman dengan hidup secara bebas.27) 
Adapun tugas sutradara adalah:
1). Menemukan nada dasar yang  tepat untuk pementasan,
2). Menentukan casting,
3). Menentukan teknis dan tata rias,
4). Menyusun mise en scene, segala perubahan yang tejadi pada daerah permainan yang disebabkan oleh perpindahan pemain atau setting,
 5). Menguatkan dan melemahkan naskah yang dipentaskan,
6). Menciptakan aspek-aspek laku,
7). Mempengaruhi jiwa aktor/aktris.28)
Unsur penting dari kemunculan seorang sutradara tidak terbatas pada penciptaan bentuk-bentuk baru, tetapi mereka juga menghadirkan cara menafsirkan karakter secara psikologis. Hasilnya adalah pemaknaan-pemaknaan karakter yang tak terbatas. Pada saat sisi psikologis manusia manjadi titik pusat analisis, peran dan tugas seorang sutradara menjadi lebih sekedar “guru”. Ia menjadi seorang analis, sekaligus terapis, bahkan ahli mistik. Substansi fungsi kerjanya meningkat.29)
3). Aktor atau seniman pemeranan adalah seniman yang mewujudkan lakon (sosok-sosok pelaku di dalam sebuah cerita atau lakon) kedalam realitas seni pertunjukan.30)
Bagi seorang aktor, seni akting merupakan sublimasi kombinasi antara kebebasan yang muncul tanpa nama dengan kepuasan ego yang hadir dalam bentuk eksibisionisme. Jadi para aktor biasanya mengungkap-kan “hilangnya diri mereka”, tetapi sekaligus “menemukan diri mereka“ dalam permainan. Keadaan ini berlangsung secara simultan.31)
4). Perancang, orang yang merancang, kata kerjanya merancang yang berarti mengatur segala sesuatu (sebelum bertindak, mengerjakan atau melakukan sesuatu); merancang. Kata bendanya adalah rancangan yang berarti sesuatu yang sudah dirancang, hasil merancang, rencana, program, desain.32) 
5). Teknisi, ahli teknik yang berasal dari kata teknik yang berarti:                  1). Pengetahuam dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri (bangunan/mesin); 2). Cara (kepandaian dsb.) membuat atau melakukan sesuatu yang berkenaan dengan seni; 3). Metode atau sistem mengerjakan sesuatu.33)
Unsur-unsur Pementasan
Menurut Waluyo, pentas adalah bagian dari area pertunjukan yang ditata sedemikian rupa menjadi tempat pertunjukan. Sedang penataan tempat merupakan hasil yang dibentuk dari visi naskah kedalam kenyataan panggung. Adapun perlengkapan pentas terdiri dari tata panggung, tata rias, tata bunyi, tata sinar, dan tata pakaian.34)
1.)    Tata panggung (dekorasi) adalah pemandangan yang menjadi latar belakang dari sebuah tempat yang digunakan untuk pementasan atau bagian yang bertugas untuk membantu dan mengatur perlengkapan (property), menciptakan suasana tempat dimana pemain tampil untuk membawakan lakon, tarian, nyanyian berdasarkan naskah.35)
2.)    Tata rias adalah seni menggunakan bahan kosmetika untuk mewujudkan wajah peranan. Tata rias digunakan untuk merubah atau menyesuaikan wajah dan tubuh asli si pemain menjadi wujud lain untuk memenuhi kebutuhan artistik, perwatakan dalam naskah, memperindah penampilan dan penegasan karakter.36)
Tata rias perlu memperhatikan dua hal, yaitu penyinaran lampu/lighting dan jarak antara penonton dengan yang ditonton.37)
Titik tolak pemikiran tata rias adalah:
a.       Melihat jelas apa yang dikemukakan untuk suatu peran tertentu,
b.      Kepribadian pemain, seperti jenis bangsa, watak dan usianya,
c.       Berhubungan dengan keseluruhan pertunjukan harus diperhatikan hakekat dramanya.38)
3.)    Tata bunyi, eksistensi pertunjukan adalah bersifat audio visual, yaitu bisa didengar dan bisa dilihat.39) Maka tata bunyi sangat diperlukan karena mempunyai tujuan untuk menghidupkan suasana lakon secara kreatifitas. Tata bunyi merupakan hasil suara yang berasal dari dialog pemain, efek bunyi dan alat musik.40) Namun demikian, musik bagi sebuah pemanggungan atau untuk film berbeda dengan musik yang berdiri sendiri.41)
4.)    Tata sinar adalah seni menggunakan lampu yang tujuannya menerangi dan menyinari pentas.42)
5.)    Tata pakaian (kostum) adalah segala pakaian dan perlengkapannya (aksesoris) yang dikenakan untuk pemain baik yang kelihatan maupun yang tidak oleh penonton di dalam pentas.43)
Tahap Perancangan Pementasan
Ada empat tahap perancangan pementasan,44) yaitu:
1.)    Perancangan; panggung diterjemahkan dari naskah ke konsep kerja panggung, yaitu diwujudkan melalui ruang, waktu, karakter dan warna panggung oleh sutradara.
2.)    Pelatihan; merupakan tanggung jawab sutradara untuk melihat bahwa pemanggungan diterjemahkan melalui audio visual, suara dan tubuh aktor, serta perancangan kostum dan skenario.
3.)    Pemanggungan; penulis, pengedit, penterjemah naskah, sutradara dan perancang menyaksikan bersama jalannya pemanggungan, sementara manager panggung dan teknisi membantu aktor menghadirkan pertunjukan kehadapan penonton.
4.)    Pemberitaan; publikasi dan promosi menentukan keberhasilan atau kegagalan menjaring penonton. Untuk itu diperlukan tim kerja produksi pemberitaan yang kompak dan tepat. Tugas tim adalah memilih media-media promosi, dan menentukan golongan penonton dengan kecenderungan selera tertentu yang diharapkan menghadiri pementasan.
Tinjauan tentang Dakwah
a)      Pengertian Dakwah
Secara etimologis dakwah berasal dari bahasa arab yang berarti ajakan, seruan, panggilan, undangan. Dalam ilmu tata bahasa Arab kata dakwah merupakan bentuk dari isim masdar yang berasal dari fiil (kata kerja) “    يدع  –   عى د“, yang berarti memanggil, mengajak, menyeru. 45)
Syeikh Ali Makhfuz dalam kitabnya ‘Hidayatul Mursyidin’  memberikan definisi dakwah sebagai berikut:
حث للنّاس على الخير والهدى والامر بالمعروف والنهي عن المنكر ليفوذوا بسعادة العاجل الاجل
“Mendorong manusia agar memperbuat kebaikan dan menurut petunjuk, menyeru mereka agar berbuat kebajikan dan melarang mereka dari perbuatan munkar agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan di akherat.”46)
Menurut Slamet Muhaimin Abda dakwah berarti mengajak, baik pada diri sendiri ataupun pada orang lain untuk berbuat baik sesuai dengan ketentuan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tercela (yang dilarang) oleh Allah dan Rasul-Nya.47)
Arti dakwah secara luas adalah penjabaran, penterjemahan dan pelaksanaan Islam dalam perikehidupan dan penghidupan manusia (termasuk didalamnya politik, ekonomi, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, kesenian, kekeluargaan dan sebagainya.48)
Sedangkan dakwah Islam berarti mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Allah, untuk kemaslahatan dan kebahagiaan di dunia dan di akherat.49)
Andy Dermawan memberikan pembagian terhadap definisi dakwah Islam dengan dakwah normatif dan dakwah historis.
1.      Dakwah Normatif, yakni dakwah Islam yang bersumber asli dari al-Qur’an dan hadits Nabi SAW. Yang dikaji secara sistematik-dialektis-hermeneutik agar ajaran moralnya dapat ditangkap secara utuh tanpa melakukan reduksi atas keduanya.
2.      Dakwah Historis, yakni dakwah Islam yang berkembang paska Rasulullah SAW wafat sampai dengan saat sekarang ini yang dijadikan pertimbangan untuk memahami kedua sumber tersebut (al-Qur’an dan Hadits). Sedangkan karekteristik dari dakwah historis ini adalah selalu terbuka untuk menerima perubahan, dikritisi dan memberikan pemaknaan dan pemahaman kembali terhadap realitas dakwah yang ada. Inilah dakwah proses.50)
Berangkat dari beberapa pengertian di atas, dakwah dapat dipahami sebagai :
1.      Suatu usaha atau aktivitas yang dilakukan dengan sadar dan sengaja.
2.      Usaha yang dilakukan itu berupa:
a.       Mengajak orang untuk beriman dan mentaati Allah SWT, atau memeluk agama Islam,
b.      amar ma’ruf, perbaikan dan pembangunan masyarakat (ishlah),
c.       nahi munkar, mencegah terhadap kemunkaran.
3.      Proses penyelenggaraan usaha tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akherat dengan ridho Allah SWT.51)
b)      Dasar dan Tujuan
Prinsip-prinsip dasar Dakwah Islamiyah tidak bisa dilepaskan  dari al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber dari segala sumber hukum dalam agama Islam. Firman Allah SWT. dalam surah Ali Imran ayat 104 :
ولتكن منكم امة يدعون الى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر واولئك هم المفلحون (ال عمران : 104)
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang senantiasa menyerukan kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”52)
Hadits Nabi Saw. dari Abi Said al-Khuduriy ra. yang berbunyi:         
من رأى منكم منكرا فليغيره بيده وان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه وذلك اضعف الايمان
“Barangsiapa diantara kamu melihat kemunkaran hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaan), jika tidak sanggup maka dengan lisannya (nasehat), jika tidak sanggup juga maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan setuju, tinggalkan!), dan adalah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim)53)
Dari ayat al-Qur’an dan Hadits Nabi tersebut dapat dimengerti bahwa tugas keda’ian merupakan kewajiban bagi setiap orang muslim, sesuai dengan propesi dan kapasitas masing-masing.
Proses penyelenggaraan dakwah yang terdiri dari berbagai aktivitas dilakukan dalam rangka mencapai nilai tertentu. Nilai tertentu yang diharapkan dapat dicapai dan diperoleh dengan jalan melakukan penyelenggaraan dakwah itu disebut tujuan dakwah. Bagi proses dakwah tujuan adalah merupakan salah satu faktor yang paling penting dan sentral. Tujuan menjadi dasar landasan penentuan strategi dan sasaran,  dalam rangka menentukan arah serta scope aktivitas dakwah.54)
Adapun tujuan dakwah sebagai sebuah proses dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1.      Tujuan utama (mayor objective) dakwah, yaitu nilai atau hasil akhir yang ingin dicapai atau diperoleh oleh keseluruhan tindakan dakwah. Tujuan utamanya seperti yang dirumuskan dalam devinisi dakwah, yaitu terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akherat yang diridhoi oleh Allah SWT.55)
Atas dasar ini, maka tujuan dakwah pada hakekatnya adalah juga merupakan tujuan hidup manusia. Bahwa setiap manusia menurut ajaran al-Qur’an senantiasa menginginkan kebahagiaan dan kesejahteraan  di dunia dan di akherat.56) Firman Allah SWT. dalam surah al-Baqarah   ayat 201:
…..ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار (البقرة : 201)
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”57)
2.      Tujuan Departemental (tujuan perantara) dakwah, yaitu nilai-nilai atau hasil-hasil yang harus dicapai oleh aktivitas dakwah pada masing-masing segi atau bidang.58)
Hal ini memberikan kita sinyal bahwa dalam berdakwah tidak dapat memprediksikan hasil sekali jadi, dan dakwah harus dilakukan secara bertahap dan terus menerus.59)Sebagaimana diturunkannya al-Qur’an secara bertahap dan berangsur-angsur, sebagai indikator bahwa proses dakwah pun perlu dilakukan secara bertahap dan berangsur-angsur pula.60)
Sementara itu tujuan dakwah dapat dibagi dua, berkaitan dengan aspek obyek dan materi dakwah.
a.       Dari aspek tujuan obyek:
1.      Tujuan perorangan, pribadi yang taat kepada Allah dan berakhlak mulia,
2.      Tujuan keluarga, keluarga sakinah,
3.      Tujuan masyarakat, yang damai, sejahtera dan Islami,
4.      Tujuan umat manusia, terciptanya masyarakat dunia yang penuh dengan kedamaian, ketenangan serta tegaknya keadilan tanpa adanya diskriminasi dan eksploitasi.
b.      Dari aspek materi:
1.      Tujuan aqidah, tertanamnya aqidah Islam,
2.      Tujuan hukum, taat hukum,
3.      Akhlak, berbudi luhur berakhlak mulia.61)
c)      Unsur-unsur Dakwah
Kegiatan berdakwah dalam beberapa hal dapat dilihat sebagai kegiatan komunikasi. Sebab dalam setiap proses komunikasi setidak-tidaknya ada lima kompunen komunikasi yang harus diperhatikan, yaitu komunikator, isi pesan, medium, komunikan dan feed back (umpan balik).62)
Dakwah dapat dikatakan sebagai komunikasi yang khas. Kekhasannya terletak pada cara dan tujuan yang akan dicapai. Kalau dalam komunikasi tujuannya adalah mengharap partisipasi dari komunikan atas ide dan pesan yang disampaikan tersebut akan terjadi perubahan sikap dan tingkah laku. Dalam dakwah juga demikian, namun pada dakwah menggunakan cara yang persuasip, (informative, melayani, bukan instruktif dan membebani, apalagi mengancam63)) Dan tujuannya adalah terjadinya perubahan sikap dan tingkah laku sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam.64)
Adapun unsur-unsur dakwah adalah:
1.      Subyek dakwah,
Kalau selama ini kita cenderung melihat makna komunikator (subyek dakwah) atau penyampai pesan adalah mereka yang dapat disebut ulama, atau muballigh, maka makna itu harus diperluas. Kita harus mempersepsikan bahwa sesungguhnya kita semua mempunyai tugas kedai’an.65)
Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Hasan Al-Bana pendiri gerakan (harakah) Ikhwanul Muslimin di Mesir yang mengatakan bahwa kegiatan dakwah identik dengan Islam itu sendiri yang memiliki pengertian yang luas, yakni sistem nilai yang komprehensif, mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia dalam segala aspeknya, sehingga bagi Al-Bana aktivitas dakwah itu bisa dilakukan oleh siapa saja menurut kapasitas subyeknya.66)
Sedangkan karakteristik seorang juru dakwah menurut Hasan Al-Bana adalah:
1). Pondasi teologis yang kokoh,
2). Berkepribadian yang kuat,
3). Berakhlak mulia,
4). Berpengetahuan luas,
5). Memiliki semangat jihad yang tinggi,
6). Istiqomah.67)
Bekal juru dakwah yang lainnya adalah kecerdasan emosional (emotional intelegence), yaitu kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, juga menggunakan perasaan-perasaan tersebut untuk memandu pikiran dan tindakan.68)
Tiga unsur komunikator menurut Ilmu Komunikasi adalah:
1)      Kredebilitas,
2)      Atraksi,
3)      Kekuasaan yang akan cukup mempengaruhi terjadinya perubahan yang ada pada audience.69)
2.      Obyek dakwah
Khalayak atau target audience maknanya juga perlu diperluas, bukan hanya di mesjid, musholla, majelis taklim, tetapi juga mereka yang berada ditempat lain seperti kantor, perusahaan, rumah sakit dan lain-lain. Semua anggota masyarakat sebagai individu atau kelompok, yang kaya dan yang miskin, di perkotaan maupun di pedesaan, kaum terpelajar ataupun awam. Tentu saja dengan cara dan pendekatan yang berbeda disesuaikan dengan kondisi fisik dan psykologi, latar belakang dan kompleksitas kepribadian.70)
Slamet Muhaimin Abda membedakan sifat manusia sebagai obyek dakwah secara Psykologis dan sosiologis.
Secara Psykologis, yaitu:
1.      Sifat-sifat kepribadian (personality traits), segala yang menyangkut sifat-sifat manusia secara umum.
2.      Intelejensi, yaitu aspek kecerdasan seseorang, mencakup tingkat kewaspadaan, kemampuan belajar, kecepatan berfikir, ketegasan mengambil keputusan, kepekaan menangkap dan mengolah pesan.
3.      Pengetahuan (knowledges).
4.      Ketrampilan (skill).
5.      Nilai-nilai (values).
6.      Peranan (roles).
Secara Sosiologis, yaitu:
1.      Nilai yang dianut, kepercayaan, agama, tradisi dan sebagainya.
2.      Adat dan tradisi, yaitu kebiasaan yang turun-temurun.
3.      Pengetahuan (knowledges)
4.      Keterampilan (skill)
5.      Bahasa (language)
6.      Milik kebendaan (material possesion).71)
3.      Materi dakwah
Pada dasarnya materi dakwah hanyalah al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber pokok, tetapi pada perkembangannya sesuai dengan situasi dan kebutuhan jamannya, maka materi dakwah juga bersumber pada sumber-sumber dinamis berupa “al-Qur’an Besar” yaitu universum, langit dan bumi serta segala yang ada diantara keduanya. Jika dahulu bahkan sekarang muballigh dominan berbicara tentang akherat, sorga dan neraka, halal dan haram, maka materi dakwah kini perlu diperluas untuk juga menggeluti masalah-masalah dunia dan kekinian. Untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akherat.72)
Namun secara umum materi dakwah antara lain:
1.      Aqidah.
2.      Akhlak.
3.      Ahkam.
4.      Ukhuwah.
5.      Sosial
6.      Budaya.
7.      Pendidikan.
8.      Kemasyarakatan.
9.      Amar ma’ruf
10.  Nahi munkar.73)
4.      Metode dakwah
Metode dalam berdakwah  adalah menyangkut bagaimana  dakwah itu sebaiknya dilaksanakan. Dalam hal ini Allah SWT. sebenarnya telah memberikan petunjuknya dalam al-Qur’an. Seperti yang terdapat dalam surah an-Nahl ayat 125 yang berbunyi:
ادع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هي احسن (النهل : 125)
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”74)
Mempertimbangkan ruang lingkup dakwah yang meliputi segala aspek kehidupan manusia, sesuai dengan ayat diatas, maka metode dakwah dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu hikmah, nasehat yang baik dan mujadalah. Dimana dalam mengajak (dakwah) orang kepada suatu kebenaran haruslah mempertimbangkan kondisi obyektif dari orang atau masyarakat yang menjadi obyek dakwah.75)
Perkataan hikmah biasa diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan bijaksana atau kebijaksanaan. Syeikh Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar mendefinisikan hikmah dengan “memahamkan rahasia dan faedah dari tiap-tiap sesuatu, juga sebagai ilmu yang shahih (benar dan sehat) yang mengarahkan kemauan untuk melakukan sesuatu perbuatan yang bermanfaat.” 76)
Dakwah bil hikmah adalah dakwah yang dilakukan dengan terlebih dahulu memahami secara mendalam segala sesuatu yang berhubungan dengan proses dakwah, yang meliputi persoalan sasaran dakwah, tindakan-tindakan yang akan dilakukan, masyarakat yang menjadi obyek dakwah, situasi tempat dan waktu dimana dakwah akan melaksanakan dan sebagainya.77)
Menurut A. Ali Mukti dakwah bil hikmah adalah kesanggupan da’i atau muballigh untuk menyiarkan ajaran Islam dengan mengingat waktu dan tempat, dan masyarakat yang dihadapinya.78)
5.      Media dakwah
Pelaksanaan aktivitas dakwah senantiasa menyesuaikan kondisi dan situasi yang semakin mengarah kepada perubahan yang lebih maju, maka dituntut efesiensi dan efektivitas menyesuaikan secara kontekstual, kondisional, sarana dan prasarana dengan instrumen yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kegiatan dakwah. Instrumen-instrumen tersebut dapat dijadikan alat penghubung dakwah, meliputi instrumen yang bersifat auditif maupun audio visual.79)
Sementara itu A. Hasjmy dalam bukunya ‘Dustur Dakwah Menurut al-Qur’an’ menjabarkan media dakwah sebagai berikut:
1.      Mimbar dan khitabah, majelis taklim.
2.      Qalam dan kitabah, tulis menulis dalam media cetak.
3.      Masrah dan malhamah, pementasan dan penoramaan.
4.      Seni suara dan seni bahasa, lagu dan syair.
5.      Madrasah dan dayah, lembaga pendidikan.
6.      Lingkungan kerja dan usaha.80)
Tinjauan tentang Sastra
Puisi dan Sastra[1])
Pada mulanya puisi difahami sebagai susunan kata-kata. Sejumlah baris kalmat yang dijajar ke bawah, dan dinyatakan oleh penulisnya atau orang yang membacanya sebagai puisi. Namun pernyataan ini bukanlah definisi. Bukan juga konvensi yang dapat dipakai untuk mengenali seluk beluk puisi, apresiasi dan pengembangannya kearah yang lebih dekat dengan proses-proses ekspresi dalam penciptaan puisi, sehingga mudah orang mengatakan bahwa semua orang bisa menulis puisi.
Berbeda, ketika puisi dipahami sebagai bentuk ekspresi seni yang diwujudkan melalui kata-kata dan diciptakan berdasarkan konvensi aturan, konsep atau kriteria-kriteria tertentu seperti: kemampuan dan kesanggupan intelektif (penalaran), intuitif (perasaan) maupun reflektif (perenungan) dalam berkarya, maka semua orang akan percaya, bahkan meyakini, bahwa tidak semua orang dapat menulis  puisi.
Dengan berkembangnya pemahaman atau pemikiran manusia, puisi diakui sebagai ilmu pengetahuan dimana makna puisi dan proses-proses penciptaannya dapat di pelajari dan diajarkan oleh siapa saja.
Sebagai ilmu pengetahuan, puisi memiliki definisi yang beragam. Ada yang mengatakan bahwa puisi adalah susunan kata yang indah dan bermakna. Ada juga yang berpendapat, puisi adalah susunan kata yang terikat oleh konvensi, oleh aturan atau unsur-unsur bunyi. Sementara yang lain menganggap, puisi merupakan susunan kata-kata yang indah dan dirangkai dalam bentuk yang indah. Puisi juga sering disebut sebagai pernyataan jiwa, emosi, dan pengalaman yang diungkapkan melalui kata-kata terpilih, padat, dan singkat. Puisi juga berarti susunan kata yang keluar dari percampuran antara perasaan dan pikiran. Namun ada juga yang mendefinisikan sebagai rekaman peristiwa yang paling berkesan dalam kehidupan, dan dinyatakan dalam susunan kata yang hemat dan tepat.
Dari ragam definisi diatas, setidaknya dapat ditemukan beberapa unsur pokok atau konvensi yang menyebabkan susunan atau rangkaian kata-kata itu bisa disebut puisi, yakni:
–          Unsur penulisan (padat, singkat dan tepat)
–          Unsur keindahan (irama, bunyi dan nada)
–          Unsur perasaan (emosi, kesan, dan pengalaman)
–          Unsur pikiran (logika, penggambaran, atau penafsiran terhadap peristiwa), serta
–          Unsur Makna (arti, pesan, atau amanat)
Dalam perkembangan sastra Indonesia terkini, puisi sering juga disebut sajak, atau syair. Ketiganya merupakan istilah yang dapat dipakai secara bergantian dan sama sekali tidak mengandung perbedaan.
Sebagai ekspresi seni, puisi dapat ditulis atau dicipta memalui cara-cara tertentu, atau biasa disebut dengan poses kreatif, atau tahap-tahap yang mesti dilalui dalam penciptaan (penulisan) puisi. Proses kreatif dalam penciptaan puisi pada dasarnya tidak mengikat. Artinya, proses kreatif itu bisa berbeda antara orang (seniman) yang satu dengan yang lainnya. Namun dalam proses penciptaan puisi secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat tahap; yaitu penerapan, pengendapan, penulisan dan perbaikan.
Yang pertama, tahap penerapan menunjuk pada proses atau kegiatan sehari-hari untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, melalui membaca, melihat, merasakan terahdap berbagai peristiwa, kejadian, dan pengalaman yang bersifat individual (dalam kehidupannya sendiri), sosial (di tengah masyarakat) maupun universal (kemanusiaan dan ketuhanan).
Yang kedua, tahap pengendapan; berarti memilih atau menyaring informasi (masalah, tema, ide, gagasan) yang menarik dari tahap pertama, kemudian memikirkan, merenungkan dan menafsirkan sesuai dengan konteks, tujuan dan pengetahuan yang dimiliki. Dengan begitu, segala informasi yang diperoleh tidak langsung diterima, tetapi harus diolah dan dikaitkan, dibentuk dan dikembangkan seluas mungkin.
Yang ketiga, penulisan; merupakan proses yang paling genting dan rumit. Pada tahap ini, seluruh energi kreatif (kemampuan daya cipta) intuisi dan imajinasi (kepekaan rasa dan kecerdasan pikiran), pengalaman dan pengetahuan, berbaur menjadi satu untuk mencari dan menemukan kata-kata atau kalimat yang tepat, sengkat, dan padat, yang indah dan mengesankan, dan dianggap telah mewakili informasi dan hasil perenungan yang diperoleh dari tahap/kegiatan sebelumnya. Sampai kata-kata itu menjadi tersusun dan bermakna, terbentuk dan terbaca sebagai puisi.
Yang keempat, perbaikan: tahap ini dapat juga disebut pembacaan ulang terhadap puisi yang telah dilahirkan. Disini, ketelitian dan kejelian seseorang untuk mengoreksi seluruh rangkaian kata, kalimat, baris dan bait, sangat dibutuhkan. Kemudian mengubah, mengganti, atau menyusun kembali setiap kata atau kalimat yang tidak/kurang tepat; sehingga, seluruh susunan kata itu saling terkait, saling berhubungan, saling mendukung dan membiasakan gaya bahasa, deskripsi atau penggambaran yang bersifat unik (simbolik, metaforik), berkesan, utuh, dan mendalam. Oleh karena itu, bisa jadi proses perbaikan dapat memakan waktu yang lebih lama dari penulisannya, sampai puisi tersebut telah dianggap ”menjadi” tidak lagi dapat diubah atau diperbaiki.
Dalam bidang kesusastraan, proses kreatif sering ditafsirkan sebagai latar psikologis yang menyebabkan seorang memiliki keyakinan yang utuh untuk menekuni dan menulis karya satra. Namun, proses kreatif juga dapat dipersamakan dengan kecenderungan teknik dan metode penulisan yang dikembangkan oleh seorang sastrawan.
Sehingga karya-karya yang dihasilkan memiliki karakter khas yang bersifat unik dan orisinal, atau setidak-tidaknya dapat memenuhi kriteria dalam kualitas karya sastra, seperti puisi. Oleh karena itu, proses kreatif penulisan sastra memiliki jalinan erat dengan tingkat apresiasi, wawasan dan pengetahuan seorang pengarang terhadap bentuk dan jenis kesusastraan yang dipilih. Disamping itu juga proses kreatif, mengisyaratkan adanya minat dan bakat, perjuangan dan kepercayaan diri, sehingga jenis dan bentuk tulisan yang dihasilkan dapat dinyatakan oleh dirinya sendiri sebagai karya sastra atau telah dianggap memenuhi kualitas dan kriteria-kriteria dalam penciptaan puisi. Kemudian dipublikasikan melalui media massa yang bersifat konvensional, seperti dibacakan ditengah masyarakat, diberbagai tempat), elektronik (radio, televisi, dan lain sebagainya) maupun printikal (buku, koran, tabloid, majalah dan jurnal).
Dalam pengertian lain, pengembangan dapat dipahami sebagai aktivitas yang paling menentukan dalam proses kreatif penulisan puisi. Sehingga puisi-puisi yang telah dilahirkan dapat bertemu dan berkomunikasi secara langsung dengan pembacanya.
Sastra dan Komunikasi
Manusia telah menjadikan bahasa sebagai kebudayaan imflisit untuk mengungkapkan skema kognitifnya, yaitu skema fikiran, gagasan dan pengalamannya tentang dunia.81)Istilah sastra untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial, ekonomi dan keagamaan keberadaannya tidak merupakan keharusan. Hal ini berarti bahwa sastra merupakan gejala yang universal. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala universal itu mendapat konsep yang universal pula. Kriteria yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria sastra yang ada pada masyarakat lain.82)
Bahasa sastra juga bersifat dinamis, terbuka terhadap adanya kemungkinan penyimpangan dan pembaharuan, namun juga tidak mengabaikan fungsi komunikasinya. Penuturan kesusastraan pun pada hakekatnya dapat dipandang sebagai proses (usaha) komunikasi.83)
Fenomena yang universal sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama diliahat dari bahan bakunya, yaitu bahasa. Namun pemakaiannya berbeda dengan pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language) yang memberikannya sifat spesial (Lotman, 1972). Atau sering juga disebut menyimpang (ungrmatikalitis) (Riffaterre, 1978, Bdk., Ellis 1974), dan menimbulkan interpretasi ganda. Atau menurut Umar Yunus (1985) pengolahan dengan memanipulasi, hingga bahasa sastra memiliki susunan yang kompleks (Ellis, 1974). Bahasa sastra dicirikan sebagai bahasa (yang mengandung unsur) emotif dan bersifat konotatif sebagai kebalikan dari bahasa non sastra, khususnya bahasa ilmiyah, yang rasional dan denotatif.84)Bila pemakaian bahasa dalam kegiatan sehari-hari merupakan sistem pembentukan yang pertama, maka sastra merupakan sistem yang kedua, secondary modeling system (Lotman, 1972).85)
Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Oleh karena itu kehadiran karya sastra merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Pengarang sebagai subjek individual mencoba manghasilkan pandangan dunia (vision du monde) kepada subjek kolektifnya. Siknifikansi yang dielaborasikan subjek individual terhadap relaitas di sekitarnya menunjukkan sebuah karya sastra berakar pada kultur tertentu dan masyarakat tertentu. Keberadaan sastra yang demikian itu, menjadikan ia dapat diposisikan sebagai dokumen sosio-budaya.86)
Ada dua kelompok sastra menurut Goldman, yaitu karya sastra yang dihasilkan pengarang kelas utama dan kelas kedua. Karya sastra pengarang kelas utama adalah karya sastra yang strukturnya dibangun dengan struktur kelompok atau kelas sosial tertentu. Sedangkan karya sastra yang dihasilkan pengarang kelas dua adalah karya sastra yang isinya hanya sekedar reproduksi segi permukaan realitas sosial dan kesadaran kolektif.87)
Suatu karya sastra memiliki bangunan tidak saja dari segi intrinsik tetapi juga memiliki segi ekstrinsik yang kuat.
Segi intrinsik yang dimaksud adalah latar atau setting, penokohan atau perwatakan , tema dan gaya memiliki posisinya yang khusus dalam penelitian sastra. Sedangkan segi ekstrensik suatu karya sastra adalah hal-hal di luar karya sastra yang secara langsung ataupun tidak langsung berkaitan dengan keberadaanya, seperti faktor-faktor psikologis, sosiologis, geografis, ekonomis, politik dan relegiusitas.88)
Bahasa yang digunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra, pada hakekatnya, dalam rangka fungsi sastra berperan sebagai sarana komunikasi, yaitu untuk menyampaikan informasi. Dengan memperhatikan teori komunikasi yang dikemukakan oleh Eco, yang cenderung memperlihatkan gejala reduksi dan penyusutan dalam yang terkandung dalam informasi, maka memanipulasi kata pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal (Eco, 1976). Dalam kondisi informasi yang demikian, sastra merupakan alat komunikasi yang padat informasi. Ia menjadi alat tranmisi yang paling ekonomis dan paling kompak, alat yang mempunyai kemampuan menyampaikan  informasi yang tidak dimiliki oleh alat lain (Lotman, 1972).89)
Melalui karyanya pengarang ingin mengkomunikasikan sesuatu kepada pembaca lewat beberapa bentuk, bisa melalui karya puisi, cerpen, kisah, novel atau bisa juga dalam bentuk naskah drama. Masing-masing pengarang memiliki cara dan kekhasannya sendiri-sendiri, berdasarkan pernyataan dari seorang pakar sastra yang menyatakan bahwa penekanan karya sastra yang baik biasanya selalu memiliki akar yang jelas.90) 
Dalam Proses Komunikasi atau penyampaian pesan, Islam mengenalnya sebagai pendekatan dakwah Islamiyah, sasaran dakwahnya adalah pembaca, pendengar atau penonton dari sebuah karya sastra. Model pendekatan dakwah seperti ini sangat erat pula kaitannya dengan metode dakwah atau manajemen dakwah, yaitu perencanaan dan pengorganisasian elemen-elemen dakwah secara sistematis. 91)
Model transpormasi komunikasi sastra dengan komunikasi dakwah dimaksudkan terutama untuk menggali kekayaan dan menciptakan berbagai alternatif sisitem dakwah yang lebih bisa memenuhi kebutuhan jaman, dimana informasi tidak bisa terlepas dari bentuk-bentuk hiburan dan keseniaan pada umumnya . Oleh karena itu upaya mengungkap makna nilai-nilai relegius dan hubungannya dengan sistem simbol sebagai ciri khas dunia sastra, baik simbol menurut struktur bahasa sastra sendiri maupun unsur simbol yang  ada diluar sastra, dimana ia barada dalam masyarakatnya yakni sistem budaya, memerlukan ketelitian dan pencarian wawasan yang luas secara khusus.92)
Pesan moral dalam Sastra
Moral dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikannya kepada pembaca.93)
Moral dalam karya sastra dapat dipandang sebagai amanat, pesan, message. Bahkan, unsur amanat itu, sebenarnya, merupakan gagasan yang mendasari penulisan karya itu, gagasan yang mendasari diciptakannya karya sastra sebagai pendukung pesan.94)
Pesan moral sastra lebih memberat pada sifat kodrati manusia yang hakiki, bukan pada aturan-aturan yang dibuat, ditentukan, dan dihakimi oleh manusia.95)
Dari isi tertentu karya sastra, fiksi, dapat dipandang sebagai bentuk manifestasi keinginan pengarang untuk mendialog, menawar, dan menyampaikan sesuatu. Sesuatu itu mungkin berupa pandangan tentang suatu hal, gagasan, moral, atau amanat. Dalam pengertian ini, karya sastrapun, dapat dipandang sebagai sarana komunikasi. Namun, dibandingkan dengan sarana komunikasi yang lain, tertulis ataupun lisan karya sastra merupakan salah satu wujud karya seni yang notabene mengemban tujuan estetik, tentunya mempunyai kekhususan sendiri dalam hal menyampaikan pesan-pesan moralnya.96)
Pesan Moral dalam sastra sendiri dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1.      Pesan Relegius. Kehadiran unsur relegius dalam sastra adalah suatu keberadaan sastra itu sendiri. Bahkan, sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat relegius. Karena pada awal mulanya segala sastra adalah relegius.97) Istilah relegius membawa konotasi agama. Relegius dan agama memang erat berkaitan, berdampingan, bahkan dapat melebur dalam satu kesatuan, namun sebenarnya keduanya menyaran kepada makna yang berbeda. Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum yang resmi. Relegiusitas, dipihak lain, melihat aspek yang di lubuk hati, riak getaran nurani pribadi, totalitas kedalam pribadi manusia.98) Dengan demikian, relegius bersifat mengatasi, lebih dalam, dan lebih luas dari agama yang tampak, formal dan resmi.99)
2.      Pesan Kritik Sosial. Banyak karya sastra yang bernilai tinggi yang di dalamnya menampilkan pesan-pesan moral berupa kritik sosial. Namun perlu ditegaskan, bahwa karya-karya tersebut menjadi bernilai  bukan lantaran pesan itu, melainkan lebih ditentukan oleh koherensi semua unsur yang membangunnya. Pesan moral hanya merupakan salah satu unsur pembangun karya sastra, yang sebenarnya justru tidak mungkin terlihat dipaksakan dalam karya yang baik, walau hal itu mungkin sekali sebagai salah satu pendorong ditulisnya sebuah karya. Selain itu, pesan moralpun khususnya yang berupa kritik sosial, dapat mempengaruhi aktualisasi karya yang bersangkutan.100)
Sedangkan bentuk penyampaian pesan moral dalam karya sastra dapat dibagi dua,101)yaitu:
1.      Bentuk penyampaian langsung, artinya moral yang ingin disampaikan kepada pembaca dilakukan secara langsung dan eksplisit. Pengarang, dalam hal ini, tampak bersifat menggurui pembaca, secara langsung memberikan nasehat dan petuahnya. Pesan moral yang bersifat langsung biasanya terasa dipaksakan dan kurang koherensif dengan unsur-unsur yang lain. Hal itu tentu saja justru akan merendahklan nilai literer karya yang bersangkuatan. Karena karya sastra adalah karya estetis yang  memiliki fungsi untuk menghibur, memberi kenikmatan emosional dan intelektual. Untuk mampu berperan seperti itu, karya sastra haruslah memiliki kepaduan yang utuh diantara semua unsurnya.
2.      Bentuk penyampaian tidak langsung, artinya pesan moral yang ingin disampaikan tidak disampaikan secara langsung, tetapi hanya tersirat dan berpadu secara koherensif dengan unsur-unsur yang lain. Bukankah cara penyampaian yang demikian justru memaksa pembaca untuk merenungkan dan menghayati secara lebih intensif?
Bukankah salah satu sifat khas sastra adalah berusaha menungkapkan sesuatu secara tidak langsung? Berangkat dari sifat esensi inilah sastra tampil dengan kompleksitas makna yang dikandungnya. Hal itu justru dapat dipandang sebagai kelebihan karya sastra, kelebihan dalam hal banyaknya kemungkinan penafsiran, dari orang seorang, dari waktu ke waktu. Hal ini pulalah yang menyebabkan karya sastra sering tidak ketinggalan, sanggup melewati batas waktu dan kebangsaaan.
Persoalan yang dihadapi pembaca kemudian adalah: mampukah ia menemukan dan mengenali pesan-pesan moral itu, dan kalau mungkin mengambil hikmahnya.
Penelitian Sastra
Sastra merupakan bagian dari kelompok ilmu-ilmu humaniora, seperti halnya bahasa, sejarah, kesenian, filasafat dan etika. Keseluruhan ilmu-ilmu humaniora itu merupakan esensi kebudayaan. Penelitian sastra bermanfaat untuk memahami aspek kemanusiaan dan kebudayaan yang tertuang dalam karya sastra.102)
Abrams (1979), membagi model pendekatan dalam penelitian ke dalam empat kelompok besar,103) yaitu:
                                      i.      Model yang menonjolkan kajian terhadap peran pengarang sebagai pencipta karya sastra disebut ekspresif,
                                    ii.      yang menitik beratkan sorotannya terhadap peranan pembaca sebagai penyambut dan penghayat sastra disebut pragmatif,
                                  iii.      yang lebih berorientasi kepada aspek referensial dalam kaitannya dalam dunia nyata disebut memetik,
                                  iv.      sedangkan yang memberi perhatian penuh pada karya sastra sebagai struktur otonom dengan koherinsi intrinsik disebut pendekatan objektif.
Dalam penelitian ini memilih pendekatan pragmatif, dan menggunakan teori resepsi sastra.104) Teori ini dapat disebut sebagai aliran yang meneliti teks sastra dengan bertitik tolak pada pembaca yang reaksi atau tanggapan terhadap teks. Hal ini berarti bahwa karya sastra tidak sama pembacaan, pemahaman dan penilaian sepanjang masa atau dalam golongan masyarakat tertentu. Teori Resepsi Sastra dengan Jausz sebagai orang pertama yang telah mensistematiskan pandangan tersebut kedalam satu landasan teoritis yang baru untuk mempertanggung jawabkan variasi dan interpretasi sebagai sesuatu yang wajar.105)
Dalam perumusan teori ini, dalam memberikan sambutan terhadap suatu karya sastra, pembaca diarahkan oleh “horizon harapan” (horizon of ekspectation). Horison harapan ini merupakan interaksi antara karya sastra disatu pihak dan sistem interpretasi dalam masyarakat penikmat dipihak lain.106)Horizon harapan karya sastra yang memungkinkan pembaca memberi makna terhadap karya tersebut, sebenarnya telah diarahkan oleh penyair lewat sistem konvensi sastra yang dimanfaatkan dalam karyanya.107)
Konsep “horizon harapan” menjadi dasar teoeri Jausz ditentukan oleh tiga kriteria: (1) norma-norma umum yang terpancar dari teks-teks yang telah dibaca oleh pembaca; (2) pengetahuan dan pengalaman pembaca atau semua teks yang telah dibaca sebelumnya; (3) pertentangan antara fiksi dan kenyataan, misalnya kemampuan memahami teks baru, baik dalm horizon ‘sempit’ dari harapan-harapan sastra maupun dalam horizon ‘luas’ dari pengetahuan tentang kehidupan.108)
Konsep teori yang kedua dikemukakan oleh Wolfgang Iser, terutama terlihat dalam karangannya yang berjudul Die Appel-structur de texte (1975). Disini Iser membicarakan konsep efek (wirkung), adalah sebuah cara teks sastra mengarahkan reaksi pembaca terhadapnya. Menurut Iser sebuah teks sastra dicirikan oleh kesenjangan atau bagian-bagian yang tidak ditentukan (interdemenate sections). Kesenjangan tersebut merupakan satu faktor penting efek yang hadir dalam teks untuk diisi oleh pembaca. Jika kesenjangan itu sedikit, teks dapat mendatangkan kebosanan kepada pembaca, hal ini dipertentangkan dengan kesenjangan yang meningkat.109) Bagian-bagian yang tidak disebutkan itu disebut juga dengan istilah “tempat-tempat terbuka” (blank, openness)di dalam teks. Proses pemahaman sebuah karya sastra merupakan bolak-balik pembacaan untuk mengisi blank itu, sehingga seluruh perbedaan segmen dan pola perspektif teks dapat dihubungkan dalam satu kebulatan. Tempat terbuka itu terjadi karena sifat karya sastra yang asimetri, tidak berimbang antara teks dengan pembaca. Apabila pembaca berhasil menjembatani kesenjangan tersebut, maka berbagai kemungkinan komunikasi pun telah dimulai. Aktivitas pembacaan dalam proses menjembatani kesenjangan atau mengisi tempat terbuka itu dikontrol dan diarahkan oleh teks itu sendiri.110)
Kedua konsep dasar teori resepsi sastra ini, ialah “horizon harapan” dan “tempat terbuka”, merupakan pengetahuan dasar untuk memahami resepsi sastra. Kedua konsep ini dalam tahap berikutnya terlihat muncul kembali dalam masalah hubungan intertekstualitas. Pembacaan Iser misalnya, mempunyai kedekatan dengan tahap pembacaan retroaktif pada Riffaterre. Tahap pembacaan kedua ini bertujuan untuk membongkar kode (decoding)di dalam teks, sehingga ditemukan hipogram-nya yang akan membulatkan makna karya tersebut. Hipogram adalah teks lain yang menjadi landasan penciptaan suatu karya, baik dalam kesejajaran maupun dalam pertentangan.111)

Metode Penelitian

Sifat Penelitian.
Penelitian skripsi ini bersifat kualitatif, yakni dengan menitik beratkan pada segi alamiah dan mendasarkan pada karakter yang terdapat dalam data,112) yang menekankan pada faktor kontekstual.113)
Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah sumber data dari penelitian di mana data diperoleh.114) Adapun yang menjadi subyek pada penelitian ini adalah:
a). Para pendahulu Teater ESKA
b). Pengurus Teater ESKA
c). Anggota Teater ESKA
d). Para Sutradara Pementasan Tadarus Puisi, antara lain:
1.      Edeng Syamsul Ma’arif (Pementasan “Keluk Gurindam” 1998)
2.      Solichul Hadi (Pementasan “Kabar Dari Langit” 2000)
3.      Zuhdi Siswanto (Pementasan “Ziarah Abadi” 2001)
e). Pelaku dan Pengamat Kesenian
1.      Joni Ariadinata (Cerpenis, Pelukis, Essais, Redaktur Horison)
2.      Iman Budi Santoso  (Cerpenis, Penyair, Essais, Pelukis)
3.      Bambang JP. (Cerpenis, Penyair, Essais, Pelukis)
Obyek Penelitian
Obyek penelitian adalah masalah yang ingin diteliti atau masalah penelitian yang dijadikan obyek penelitian, yaitu suatu problem yang harus dipisahkan atau dibatasi melalui penelitian.115)
Adapun obyek penelitian ini adalah segala aktivitas kesenian Teater ESKA, yang kemudian akan dikhususkan pada Pementasan Tadarus Puisi.
Tehnik Pengumpulan Data:
sample, menggunakan purposive sampling,116)sampel yang biasanya sedikit dan dipilih menurut kepentingan dan tujuan penelitian.
intervieuw,117) pengumpulan data dengan komunikasi langsung antara     peneliti dengan subjek penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan  interviuew tak terstruktur.118)
dokumentasi,119)pengumpulan data mengenai hal atau variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.
Teknik Analisa Data
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif pada dasarnya merupakan langkah-langkah melakukan reinterpretasi obyektif tentang fenomena-fenomena yang terdapat dalam permasalahan yang diteliti.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus dimana objek yang diteliti dipandang sebagai suatu kasus yang diamati secara intensif dan mendetail untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter yang khas dari suatu kasus yang kemudian dari sifat-sifat khas tersebut akan dijadikan hal yang bersifat umum.

Sistematika Penulisan

Bab satu. Merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari Penegasan Judul, Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Kerangka Pemikiran Teoritik, dan Metode Penelitian.
Bab dua membahas tentang  Gambaran Umum  Teater ESKA IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yang terdiri dari Sejarah Berdirinya, Visi, Misi dan Orientasi, Struktur Organisasi & Program Kerja, Konsep Estetika dan Proses Kreatif.
Bab tiga  yang merupakan bab pembahasan Pesan Dakwah dalam Pementasan Tadarus Puisi.
Bab empat yang merupakan bab penutup terdiri dari Kesimpulan dan Saran.
BAB II
GAMBARAN UMUM  TEATER ESKA
IAIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

A.    Sejarah Berdirinya1)

Berkaitan dengan penelitian ini, pada awal tahun 80-an di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga pernah ada sebuah komunitas kesenian yang diberi nama “Kelompok Ushuluddin”. Kelompok ini sempat mementaskan naskah drama “Aduh” karya Putu Wijaya.2) Pada perjalanannya orang-orang yang terlibat dalam kelompok ini mencoba membentuk kelompok kesenian pada tingkat institut, agar cakupan kegiatan lebih luas dan dapat menampung apresiasi seni pada waktu itu.3)
53

 

Maka dibentuklah Teater ESKA, yang lahir sejak pentas perdana Kesadaran Yang Kembali, karya Uga Percesa Cs., pada tanggal 16 Oktober 1980,  dan dibentuk secara organisatoris pada tanggal 18 Oktober 1980.4) Komunitas ini didirikan oleh almarhum Rahmatullah HD (mantan Redaktur Agama Majalah Editor), Sunu Adi Purwanto (mantan Red. Pel. Tabloid Eksponen),  Deddy Hilman Haroen (kini Dekan III Fakultas Tarbiyah Universitas Cokroaminoto Yogyakarta) dan Solichin Wattimena (mereka berempat adalah alumni Pondok Modern Gontor) serta Sumanto (mantan wartawan Kedaulatan Rakyat) dan Ahmad Muharrom. Dengan motivasi utama untuk mewadahi “pemberontakan kultural” yang tidak terakomudasi oleh lembaga-lembaga kemaha- siswaan yang ada pada saat itu.5)

Pada tanggal 1 Februari 1983 terbitlah SK. Rektor No. 05/11/1983 yang mengakui Teater ESKA sebagai satu-satunya wadah kesenian dilingkungan IAIN Sunan Kalijaga.6) Pada periode ini Organisasi Ekstra kampus –dengan segala ideologi dan segala permasalahannya– begitu mendominasi aktivitas di lingkungan IAIN Sunan Kalijaga. Mereka berebut dan mengklaim organisasi kemahasiswaan sebagai bagian dari ideologi dan  bendera yang mereka bawa, tidak terkecuali teater ESKA. Hal ini membuat Teater ESKA bersikap dengan memposisikan diri sebagai antitesa konsep “underbow” dari organisasi-organisasi ektra tersebut. Bahkan memaksa anggotanya untuk menentukan pilihan: “ESKA atau Organisasi Ekstra !”.7)
Pada periode awal itu pula,  Teater ESKA telah dianggap sebagai lembaga “oposisi” dikalangan civitas akademik IAIN Sunan Kalijaga. Dan karena itu, ia pernah dicap sebagai “kelompok urakan” dan dibenci para aktifis maupun birokrat kampus. Akan tetapi dengan keyakinan dan keteguhannya, Teater ESKA tetap berjalan dan berproses dengan sumber daya yang dimiliki. Dan sampai kini telah mengalami 8 kali pergantian pengurus; tahun 1983-1984 dipimpin oleh Sunu Andi Purwanto. Kemudian tahun 1984-1988 dipimpin oleh Hamdy Salad, 1988-1991 oleh Aly D. Musyrifa, 1991-1994 oleh Otto Sukatno CR., 1994-1997 Oleh A. Muchlis HM.. Lalu pada tahun 1997-1999 oleh Edeng Syamsul Ma’arif,8) tahun 1999-2002 oleh Suhendra, dan sejak 2003 sampai sekarang dipimpin oleh Ismail Marzuki.9)
Berkedudukan sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa dalam Keluarga Besar Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berdomisili di IAIN Sunan Kalijaga  Yogyakarta.10)

B.     Visi, Misi dan Orientasi

Keberadaan Visi, Misi dan Orientasi adalah hal yang sangat krusial dalam sebuah organisasi. Karena setiap kebijakan yang diambil, baik yang bersifat intern maupun ekstern akan mengacu kepada tiga hal tersebut.
Misi, dengan kata lain, menjelaskan tujuan organisasi. Sedangkan visi memperjelas harus menyerupai apa tujuan itu, dan bagaimana tujuan harus berjalan agar bisa memenuhi misinya.11)
Bahkan ada sebuah analisis yang mengaitkan antara visi dan misi serta perkembangan eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal ini akan membawa suatu organisasi menemukan arah (orientasi) menuju yang paling strategis. Dengan begitu organisasi akan tetap menjadi relevan.12)
Adapun Visi, Misi dan Orientasi Teater Eska adalah sebagai berikut: 13)
a)      Visi
(1)   Menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai sumber kreatifitas dalam berkesenian.
(2)   Mewujudkan alternatif kesenian yang bersifat hikmah dan transenden.
b)      Misi
(1)   Mencerahkan pikiran, kesadaran, hati nurani dan keimanan melalui kesenian.
(2)   Menggali dan mengembangkan proses serta menciptakan karya seni yang sesuai dengan prinsip-prinsip Estetika Islam.
c)      Orientasi
Pengembangan Kesenian Islam Secara Progresif ( Aktif, Maju, Dinamis, Intensif dan Kontemplatif).

C.    Struktur Organisasi dan Program Kerja

Sebagai sebuah organisasi, Teater ESKA telah mengalami 3 kali perubahan administratif. Pada tahun 1983, Teater ESKA diakui sebagai satu-satunya teater institut (wadah kesenian) dikalangan civitas akademik dan diletakkan sebagai bagian dari pengembangan seni budaya pada Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Pada Masyarakat (sekarang bernama LP-3M). Kemudian pada tahun 1988, administrasi Teater ESKA secara langsung berada di bawah pengawasan Pembantu Rektor III. Dan pada tahun 1993, bersamaan dengan perubahan lembaga-lembaga kemahasiswaan, Teater ESKA tanpa pertimbangan apapun disebut sebagai UKM Teater, yang memiliki kedudukan sejajar dengan UKM-UKM lainnya.14)
a)       Struktur Organisasi 15)
Pelindung                                : Rektor IAIN Sunan Kalijaga    
                                          Yogyakarta
                                                              (Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah)
 Penanggung Jawab                 : Pembantu Rektor III
                                                              (Dr. H. Ismail Lubis, MA.)
 Pembina                                  : Drs. Bachrum Bunyamin, MA.
 Pengarah                                 : Drs. Hamdy Salad
                                                              Drs. Otto Sukatno CR.
                                                              Drs. Matori A. Elwa
                                                              Kholil Habibullah, S.Ag., S.Sn.
                                                              Aning Ayu Kusuma, S.Ag., M.Si.
 Ketua                                      : Ismail Marzuki (Sy/PMH/IX)
 Sekretaris                                : Fatchur Rohman (Dy/PMI/VII)
 Bendahara                              : Mariah (Uy/AF/IX)
 Bagian Kreatif
 Kepala Bagian                        : Muchlis Daroini (Dy/KPI/VII)
 Sastra                                      : Nasruddin (Uy/AF/VII) (Koord.)
                                                              Hendra Cipta (Uy/AF/VII)
                                                              Bustan Basyir (Sy/JS/IX)
Misbahul Hidayah (Ay/BSA/IX)
 Drama                         : M.S. Pranoto (Ay/BSA/VII) (Koord.)
                                                              Salmiwati (Uy/AF/VII)
                                                              Syafi’ie Maduri (Uy/AF/VII)
 Musik                         : SuryaTajuddin(Sy/PMH/VII) (Koord.)
                                                              Syaiful Malik (Ay/BSA/VII)
                                                              Nasrudin Rahman (Uy/AF/VII)
 Bagian Rumah Tangga
 Kepala Bagian                        : Rahmat Hidayat (Dy/BPI/VII)
 Kesekretariatan                      : A. Muis (Sy/PMH/VII)  (Koord.)
                                                              NurkhasanahIndrawati (Dy/KPI/IX)
  Tri Ernawati (Dy/KPI/IX)
 Perlengkapan              : Maftuhatul Fikriyah (Sy/PMH/VII)
                                                              Hasan Mansur (Uy/AF/VII)
 Bagian Humas
 Kepala Bagian                        : Aan Shoffuanuddin (Ty/TADFI/IX)
                                                              M. Hariri (Uy/AF/IX)
                                                              Asnil Bambani (Dy/KPI/IX)
b)       Program Kerja16)
Program Kerja Umum
1.      Pentas Produksi Ke XXVII
2.      UlangTahun Teater ESKA
3.      Work Shop, Studi Pentas dan Penerimaan Anggota Baru ke XV
4.      Rapat Kerja Pengurus
5.      Rembug Warga IX
Bagian Kreatif
Devisi Drama
a.       Latihan Improvisasi Bulanan
b.      Latihan Rutin 2 x seminggu (malam kamis dan minggu pagi)
c.       Pentas Laboratorium
Devisi Sastra
a.       Ruang Apresiasi:
–          Diskusi Rutin malam Jum’at
–          Pengadaan Buku sastra, naskah drama dan majalah sastra
–          Bedah buku sastra
–          Seminar sastra Nasional
b.    Ruang Ekspresi:
–          Pentas Sastra
–          Tadarus Puisi
 Devisi Musik
1.      Latihan Rutin 2x seminggu
2.      Dokumentasi album dan pementasan
3.      Pentas ilustrasi musik
4.      Inventarisasi alat musik
5.      Pentas Musik bertajuk (tematik).
Bagian Rumah Tangga
Bidang Kesekretariatan
1        Inventarisasi alat tulis kantor
2.      Perbaikan Kaset Video, album foto dan klise
3.      Pembenahan Panflet
4.      Pengadaan almari
5.      Penertiban arsip dan surat menyurat.
Bidang Perlengkapan
1.      Inventarisasi barang-barang sanggar
2.      Menjaga dan merawat barang-barang sanggar
3.      Pengadaan barang-barang yang dibutuhkan
Bagian Humas
1.      Membuat majalah/bulettin
2.      Menjalin hubungan dengan komunitas lain.

D.      Konsep Estetika17)

Konsep Estetika Teater ESKA secara garis besar tertuang dalam lambang organisasi Teater ESKA yang berbentuk segitiga sama sisi yang terbagi menjadi tiga tingkatan dan dilingkupi garis melengkung serta bertuliskan TEATER ESKA dibawah segitiga.18)                                                                                                                                                     
Pada segitiga tingkat pertama atau realitas obyektif, Teater ESKA menjadikan segala fenomena dan realita yang terdapat dalam hidup serta jagat raya yang universum sebagai sumber inspirasi proses kreatif berkesenian. Yang kemudian tertuang dalam karya-karya anggota Teater ESKA, baik karya individu maupun karya kolektif. Seperti pada puisi, cerpen, novel, essai, musik, lukisan dan naskah drama.
Pada segitiga tingkat kedua atau realitas estetik, Teater ESKA mencoba menciptakan bentuk-bentuk kesenian, sesuai dengan konsepsi pemanggungan yang dianut dalam hal ini non-relais atau bersifat abstrak. Dapat dilihat dari pencapaian–pencapaian artistik yang dilakukan terus-menerus dan berkesinambungan dari generasi kegenerasi. Apapun bentuk capaian artistiknya, selalu ada benang merah, dan akan dapat dilihat dan dinilai sebagai produk kesenian Teater ESKA.
Sedangkan pada segitiga tingkat ketiga atau realitas transenden,  merupakan cita-cita Teater ESKA dalam berkesenian. Hal ini sesuai dengan visi Teater ESKA yang tertuang dalam AD/ART, dan terealisasikan dalam pementasan. Atau bisa dikatakan, bahwa cita-cita kesenian Teater ESKA adalah Kesenian Transendental.
Adapun pada segitiga sama sisi yang membentuk huruf Sin dan Nun berarti Sunan Kalijaga, Teater ESKA sebagai lembaga kesenian yang bernaung di bawah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dilingkupi oleh garis lengkung, atau realitas panggung yang sesuai dengan norma-norma dan bersumber dari al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW.

Dan semua konsep estetika itu baru akan terlihat dengan jelas dalam setiap pementasan yang digagas dan digelar oleh Teater ESKA.

 

E.     Proses Kreatif

Perkembangan proses-proses kreatif Teater ESKA secara estetik maupun dramatik telah mengalami pergesekan-pergesekan yang cukup berbelit dalam tertib sosial dan kebudayaan. Hal ini dapat terjadi disebabkan oleh berbagai anasir yang mengitarinya. Baik yang berhubungan dengan unsur-unsur definitifnya sebagai teater kampus, dengan dasar simbolik yang mendasari keberadaannya maupun dengan perjuangan seni dan teater pada umumnya dalam wilayah yang tidak terbatas. 19)
Pada yang pertama, Teater ESKA telah mencoba untuk menampakkan diri sebagai bagian dari gerakan intelektual dan kebudayaan. Sehingga definitif teater kampus hanya diyakini dalam jaringan kebebasan dan kemerdekaan “tradisi berfikir” yang selalu mendorong untuk bergerak, menolak atau menghancurkan setiap kemungkinan otoriterianisme budaya yang mencengkeram keberadaannya. Dan karena itu, Teater Eska tidak pernah bersepakat untuk menjadikan dirinya semata “warung hiburan” atau berperan sebagai “pesolek” di antara civitas akademika maupun di tengah mahasiswa pada umumnya. Dengan begitu, jika kehadiran teater kampus dapat disandarkan kedalam lembaga formalitas (yang hanya berperan sebagai wadah program-program kesenian “dalam rangka” kegiatan kampus atau yang lainnya), sebagai lembaga pragmatis (yang memperlakukan kesenian sebagai mikropon pemberontakan di tengah mimbar politik dan sosial) dan lembaga kreatifitas (yang memposisikan seni sebagai tempat untuk berproses di tengah perubahan dan pergeseran budaya melalui wacana-wacana apresiatif, ekspresi dan kreatifitas teateral), maka Teater Eska telah menempatkan terompah kakinya pada yang terakhir itu.20)
Kedua, kebersatuan latar simbolik Teater ESKA dengan IAIN telah melahirkan pertimbangan-pertimbangan teologis yang menyeruak di antara realita empirik (subyek dan obyek teater), realitas estetik (identitas karekterisasinya) dan realitas transenden (relegiusitas, visi dan aksentuasinya). Pada wilayah empirikal, Teater Eska dituntut untuk berani memutuskan beberapa alternatif yang bersifat yudikatif (syar’iyah dan fiqhiyah) dalam proses-proses teater, baik diluar ataupun diatas panggung pertunjukan. Pada dataran estetik, penelusuran terhadap hakekat seni, keberagaman wacana, dan bentuk-bentuk perwujudannya dalam struktur “Islamic culture” telah menjejakkan Teater Eska untuk menempuh perjalanannnya diluar konsep realisme (sebentuk aliran seni yang tidak populer dalam estetisme Islam). Sedangkan dalam ruang transendensi, keyakinan-keyakinan teologis para pelaku dan pendukung Teater ESKA telah melibatkan secara langsung pada pokok-pokok pemikiran, penghayatan dan pengalaman yang bersifat spiritual dan alternatif-alternatif pemecahannya secara literel (pengayaan tematik dan pemilihan naskah) maupun eksperimental (penempuhan dan pencarian ide di atas maupun di luar panggung)21). Hal ini juga membawa konsekwensi pada penulisan naskah, banyak naskah yang kemudian diadaptasi dan ditulis sendiri oleh anggota Teater ESKA agar sesuai dengan konsep estetikanya. Hal ini juga menjawab fenomena kemandegan penulisan naskah yang melanda kelompok-kelompok teater pada umumnya.22)
Ketiga, di tengah perjuangan-perjuangan seni dan teater pada umumnya, keberadaan sebuah komunitas kreatif ( kelompok, group atau sanggar) tidak seharusnya untuk mengalienasi diri dalam ruang yang sempit. Dan karena itu Teater Eska senantiasa ingin hadir di sana dengan cara yang progresif, baik dengan dirinya sendiri atau sebagai varian (dan equilibrian) dalam khazanah teater pada umumnya. Namun, ketika “rezimentasi” praktek-praktek institusi dan kekuasaan seni ditengah khalayak telah menjelma sebagai makhluk kanibal, Teater ESKA mengandungi keniscayaan untuk berubah sebagai pemberontak dan pelawan yang siap untuk menerima akibat-akibatnya, meskipun harus menepi dalam kesendirian yang mencekam.23)Dalam usianya yang ke 23 Teater ESKA telah melahirkan berbagai kegiatan kreatif, baik secara produksional maupun kolaboratif, yang terdiri dari :
a)       Pementasan Teater, yang merupakan Pentas produksi: 24)
1.      Kesadaran Yang Kembali, Uga Perceka Cs., sutradara Deddy Hilman Haroen, Yogyakarta, 16 Oktober 1980.
Kisah anak-anak nakal yang kemudian mendapat bencana dan musibah, lalu mencoba kembali kejalan yang benar seperti apa yang diajarkan oleh agama.
2.      Syekh Siti Jenar, Vredi Kastam Marta Katamso, Yogyakarta, 2 April 1983.
Adaptasi dari kisah Syeh Siti jenar yang memiliki pemahaman dan metode pembelajaran agama yang dianggap menyimpang oleh sebagian ulama pada saat itu. Dengan mengatasnamakan penguasa beliau diadili dan dijatuhi hukuman mati.
3.      SLA (Shalom Alaichem), WS. Rendra, sutradara Rahmatullah HD., Yogyakarta, 3 maret 1984, Semarang, 24 April 1984. Perbedaan keyakinan antara murid dan guru, melahirkan perdebatan sampai akhornya menemukan titik temu.
4.      Layatan I, adaptasi Godlob, Danarto, Yogyakarta, 1984
Kisah seorang pejuang yang berkhianat pada masa perjuangan, ketika meninggal tak seorangpun yang mau mengurus jenazahnya, hingga tersia-sia dan menjadi makanan burung pemakan bangkai dan gagak.
5.      Layatan II, adaptasi cerpen Firman Tuhan, A. Qasyim Qahar, sutradara Hamdy Salad, APMD Yogayakarta, 1985
Kematian seorang warga dusun yang tidak diketahui dengan pasti penyebebnya. Hal ini menimbulkan fitnah dan saling curiga antara warga yang satu dengan lainnya.
6.      Persimpangan, P. Haryanto, Yogyakarta, 1985.
Sekelompok orang yang melakukan perjalanan untuk menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah perjalanan mereka menemukan berbagai macam peristiwa dan tanda-tanda yang membuat mereka bimbang dan ragu. Terjadilah perdebatan untuk menentukan jalan menuju kebahagiaan sejati.
7.      Graffito, Akhudiyat, Yogyakarta, 1985.
Kisah orang jalanan yang tidak menemukan kebahagiaan dalam perkawinannya karena perbedaan agama.
8.      Sang Dosa, Sanggar Kesenian Muslim (SKSM), sutradara Hamdy Salad, Yogyakarta, 1986.
Kisah seorang pendosa yang kemudian mati. Menerima siksa atas segala perbuataanya di dunia.
9.      Ken Arok, sutradara Hamdy Salad, Yogyakarta, 1987. Adaptasi kisah keberaniaan, kekuatan dan kesombongan Ken Arok untuk mendapatkan kekuasaan dengan cara membunuh setiap orang yang melawan. Lalu ia sendiri mati dibunuh oleh keturunannya sendiri.
10.  Potret: Improvisasi, Yogyakarta, 16 Maret 1987.
Mengisahkan tiga kelompok masyarakat yang saling menjatuhkan, namun kemudian menemukan mufakat untuk menyelesaikan perselisihan itu.
11.  Wahsy, adaptasi novel Nadjib Kailani, sutradara Hamdy Salad, Yogyakarta, 8 Desember 1988. Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) II, Yogyakarta, 12 Juni 1990.
Adaptasi kisah pembunuh Hamzah Singa Padang Pasir, yang kemudian bertobat dan memeluk agama Islam, namun sepanjang hidupnya selalu gelisah, karena dibayang-banyangi oleh perbuatannya dimasa lalu.
12.  Thengul, Arifin C. Noer, sutradara Hamdy Salad, Yogyakarta, 12-13 Maret 1990.
Kisah orang miskin yang mengadu nasib denganh berjudi, namun selalu mengalami kegagalan. Akhirnya, mencari kekayaan dengan pesugihan.
13.  Dor, Putu Wijaya, sutradara Mas Cholis, Yogyakarta, 27-28 November 1990.
Sebuah pengadilan terhadap seorang penguasa. Didakwa telah melakukan penyelewengan atas kekuasaan yang dimilikinya, baik terhadap hukum positif maupun etika masyarakat.
14.  Rintrik, adaptasi cerpen Danarto, sutadara Aly D. Musyrifa, Yogyakarta, 27-28 Desember 1991
Ditemukannya jabang bayi ditepi hutan, diduga dibuang oleh orang tuanya untuk menutupi aib karena hasil dari hubungan yang tidak sah. Kejadian ini kemudian dijadikan sebagai pelajaran, bahwa anak adalah amanat dari Tuhan.
15.  Parlemen Syetan, adaptasi puisi Iqbal, sutradara Kajey Habeb,                PP. Modern Darusslam Ciamis, 18-19 Oktober 1992, IAIN Semarang 18 Oktober 1993.
Kelahiran anak manusia yang merupakan kaki tangan syetan didunia. Mereka kemudian bersiasat untuk menggoda dan menjerumuskan manusia kedalam kenistaan, jauh dari ajaran agamanya.
16.  Kunci Surga, naskah/sutradara Otto Sukatno CR., Yogyakarta, 16-17 April 1993.
Kisah tentang Pemimpin yang memiliki sifat yang buruk, sehingga segala kebijakan yang diambil banyak ditentang oleh warganya.
17.  Si pandir, Lampu dan Matahari, naskah/sutradara Hamdy Salad, Purna Budaya Yogyakarta, 23 Februari 1994 
Seorang musyafir yang mengembara keberbagai penjuru dunia untuk menemukan lampu cahaya, hingga terbuka matahatinya untuk melihat berbagai sebab kejadian di dunia baik yang bersifat nyata maupun gaib.
18.  Untitle, naskah/sutradara Kajey Habeb, Teater Musim Panas, Purna Budaya Yogyakarta, September 1994.
Perjuangan seorang pemuda dalam memperkenalkan kebajikan terhadap para pejudi, pemabok, pezinah, pencuri dan pembunuh.
19.  Simurgh, adaptasi novel  Musyawarah Burung Fariruddin Attar, sutradara Fauzan Rafiq, Yogyakarta, 29 Okrober 1994. Sekelompok orang yang melakukan aktifitas ritual untuk bertemu dengan Simurgh, burung cahaya yang dikirim Tuhan ke bumi. Dalam upaya manusia menterjemahkan ayat-ayat Tuhan.
20.  Saru Siku, Otto Sukatno CR., sutradara A. Muchlis HM., Festival Teater Mahasiswa Nasional Institut Seni Indonesia, Yogyakarta Februari 1995. FKY VII, Purna Budaya TBY, Juni 1995.
Kisah tentang seorang ibu yang terkena musibah dan bencana, kemudian ditolong oleh anaknya yang taat beribadah.
21.  Dilarang Mencintai Bunga-bunga, adaptasi novel Kuntowijaya, sutradara Fauzan Rafiq dan Tommy Faisal Alim, FKY VIII, Purna Budaya TBY, Juni 1996.
Seorang kakek yang berusaha mengajarkan kepada cucunya tentang nilai-nilai keagamaan. Bahwa ibadah bukan hanya dzikir dan do’a, tetapi juga harus direliasasikan dalam bentuk amalan yang berhubungan dengan ghidup bermasyarakat.
22.  Tok Tok Tok, Ikranegara, sutradara Fauzan Rafiq, Yogyakarta, 28-29 Desember 1996.
Perjuangan seorang habib dalam memberantas penindasan dan membela kaum yang lemah.
23.  …dan anak-anak pun bertaring, naskah/sutradara Kajie Habeb, Yogyakarta, 27-28 Desember 1997.
Tokoh symbolis penguasa yang lalim, melahirkan keturunan yang lebih lalim, sampai akhirnya kehancuran melanda keluarga lalim tersebut.
24.  Berdiri di Tengah Hujan, naskah/sutradara Hamdy Salad, FKY X, Purna Budaya Yogyakarta, 29 Juli 1998.
Kisah seorang ibu yang diambil dari kisah Lithah al-Hamka yang merindukan seorang anak yang sholeh, namun dalam kenyataannya anak tersebut tersesat dan terseret oleh arus kemunafikan dan kemaksiatan.
25.  Kaki Langit, naskah/sutradara Edeng Syamsul Ma’arif, Yogyakarta, 18-19 Juni 1999. FKY XI, Purna Budaya Yogyakarta, 26 Juli 1999.
Wasiat kebaikan seorang kakek terhadap cucunya, tetapi kemudian disalah arti dan gunakan untuk berbuat kejahatan.
26.  Di Atas Bangku Kosong, Kajey Habeb dan Edeng Syamsul Ma’arif, sutradara Kajey Habeb, Societet Militer Yogyakarta, 27-28 Mei 2000. Rara Santang Cirebon, 24 Juni 2000. Teater Arena TBS Solo, 5 Juli 2000.
Kelaliman seorang penguasa yang kemudian terpuruk oleh kelalimannya sendiri dalam memperebutkan kekuasaan.
27.  Hingga Perbatasan Hari, naskah/sutradara Kajey Habeb, Purna Budaya Yogyakarta, 15-16 Oktober 2001. Rara Santang Cirebon, 27-28 Oktober 2001
Aktualisasi dari kisah ashabul Kahfi. Pertentangan antara keimanan danm mterialisme serta ateisme.
28.  TOGH OUT (Orang-orang Penggali Parit), naskah/sutradara Hamdy Salad, Purna Budaya Yogyakarta,  26-27 September 2003. Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 10 Oktober 2003.
Perjuangan seorang pemuda dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran, meski kemudian harus berhadapan dengan penjara dan siksaan.
b)       Pementasan Musik
Dalam proses kreatifnya, musik Teater ESKA yang dalam hal ini di bawah tanggung jawab Devisi Musik mengalami banyak perubahan, baik secara proses maupun dalam pilihan pemanggungannya. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kualitas anggota, iklim berkesenian pada saat itu, baik dalam komunitas ESKA maupun dalam komunitas kesenian secara umum.
1.      El-Kendor 1981
2.      Anak Cucu Adam 1984
3.      Keroncong Kreatif 1985
4.      Konser Rakyat 1985
5.      ESKA Rock Band 1987-1998
6.      Suluk 1994
7.      Busang FKY IX 1997
8.      Suluk II 1998
c)      Pementasan Tadarus Puisi25)
Sejak tahun 80-an Teater ESKA dalam hal ini Devisi Sastra, kerap menggelar acara pembacaan puisi. Baik yang bersifat rutin maupun yang bersifat eksidental (dalam rangka). Bentuk pembacaannya hanyalah seperti pembacaan puisi pada umumnya, yang menekankan pada naskah dan cara pembacaan yang baik.
Setelah mengikuti konfrensi sastra yang diadakan di Jakarta, Devisi Sastra termotivasi untuk membuat sebuah format pembacaan puisi dalam sebuah pementasan yang menarik, artinya tersentuh oleh estetika dan konvensi pemanggungan. Dan dapat dijadikan media penyampaian pesan moral dan bersifat reflektif.
Kalaupun kemudian Tadarus Puisi dilaksanakan pada bulan Ramadahan, hanyalah masalah pemilihan waktu yang dianggap tepat. Karena pada bulan Ramadhan inilah dianggap perlu menyuguhkan sebuah pementasan yang bersifat relegius dan penuh pesan moral, sarana bermuhasabah  dan menggali idiom/simbol-simbol atau praktek yang berkembang dalam masyarakat.
Konsep dasar Tadarus Puisi sendiri adalah kata darasa yang berarti belajar, berbeda dari konsep tadarus yang selama ini berkembang pada sebagian golongan masayarakat. Dengan penekanan pada pembelajaran / kajian terhadap teks-teks naskah yang dipentaskan.
Teks-teks naskah tadarus puisi sendiri pada awalnya diambil dari karya-karya anggota dan karya-karya umum lainnya. Kemudian meningkat pada puis-puisi karya penyair sufi seperti Jalaluddin Rumi dan Muhammad Iqbal, juga karya Jamaluddin at-Taar dan Nahjul Balaghoh karya Sayidina Ali ra.
Naskah-naskah itu sendiri ada yang berupa saduran murni ataupun adaptasi  bebas. Bahkan ada juga naskah yang ditulis sendiri oleh anggota yang mengambil tema dari fenomena dan realitas sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Hingga tahun 2002 Tetaer Eska telah mementaskan Tadarus puisi sebanyak 11 kali, yaitu:
1.      Tadarus Puisi 1987
2.      Manusia di Depan Sang Rahman, 1988
3.      Parlemen Syetan ,1990
4.      Pengembara, 1991
5.      Mutiara Nahjul Balaghoh, 1992
6.      Do’a Luka Dunia, 1995
7.      Puisi Iqbal dan Rumi, 1997
8.      Keluk Gurindam, 1998
9.      Kabar Dari Langit, 2000
10.  Ziarah Abadi, 2001
11.  Isyarat Jibril, 2002
Selain itu, khalayak sastra (terutama Yogayakarta) tak bisa berpaling begitu saja ketika hendak berbicara tentang sejarah sastra dikota ini. Banyak nama-nama yang merupakan elemen dan membawa Teater ESKA menempati ruang dalam sejarah tersebut. Buku-buku yang terlahir dari mata pena mereka tentu akan fakta konkrit bagi memperkokoh tradisi intelektual Teater ESKA.26) Adapun karya-karya tersebut baik secara individual maupun secara kolektif tertuang dalam beberapa penerbitan sebagai berikut:
a)      Antologi Puisi27)
1.      Nyayian Kampus 1982
2.      Sebuah Kelahiran 1984
3.      Sangkakala 1987
4.      Kafilah Angin 1990
5.      Museum 1991
6.      Alif Laam Miim 1992
7.      Aurora Cinta 1993
8.      Risalah Badai 1996
b)      Buku-buku hasil karya anggota28)
1.      Bachrum Bunyamin (Kepengurusan Sunu Andy Purwanto, 1983-1984):
Mata-mata di Pesta Purnama, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1999)
Anto Anak Yang Pandai, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1999)
Pengembara Dari Hutan Ganggong, (Yogyakarta: Kota Kembang, 1999)
2.      Hamdy Salad (Kepengurusan Hamdy Salad, 1984-1988)
Agama Seni: Refleksi Teologis Dalam Ruang Estetik, (Yogyakarta: Yayasan Semesta, 2000)
Novel Pak Kanjeng (Adaptasi naskah drama Pak Kanjeng karya Emha Ainun Najib), (Yogyakarta: Zaituna, 2000)
Sebuah Kampung di Pedalaman Waktu, (Yogyakarta: Bentang, 2001)
Rube’iyet Sebiji Sawi, (Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2004)
Sebutir di Tepi Jurang (Yogyakarta: Jendela, 2004)
Sajadah di Pipi Mawar (Yogyakarta: InterBud, 2004)
3.      Ahmad Syubbanuddin Alwy (Kepengurusan Hamdy Salad, 1984-1988)
Bentangan Sunyi, (Bandung: Forum Sastra Bandung, 1995)
4.      Abidah el-Khaleqy (Kepengurusan Aly D. Musyrifa, 1988-1991)
Ibuku Laut Berkobar, (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, 1998)
Perempuan Berkalung Surban, (Yogyakarta: Yayasan Kesejahteraan Fatayat, 2001)
Menari di atas Gunting, (Yogyakarta:                  , 2001)
Atas Singgasana, (Yogyakarta: Gama Media, 2002)
Geni Jora, (Yogyakarta: Mahatari, 2004)
5.      Ulfatin CH (Kepengurusan Aly D. Musyrifa, 1988-1991)
Selembar Daun Jati, (Yogyakarta: Pustaka Firdaus, 1996)
6.      Otto Sukatno CR., (Kepengurusan Otto Sukatno CR., 1991-1994)
Mahabbah Cinta, (Yogayakarta: Bentang, 1996)
Para mayoga (Ronggo Warsito), (Yogyakarta: Bentang, 2000)
Kitab Makrifat, (Yogyakarta: Bentang, 2002)
Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa, (Yogyakarta: Bentang, 2002)
Makrifat Cinta, (Yogayakarta: Penerbit Jendela, 2003)
Dieng Poros Dunia: Sebuah Jejak Surga Yang Hilang, (IRCISoD Yogyakarta, Februari 2004)
Pesan Buat Nurani: Misteri Sepotong Sepi menuju Puncak Cahaya (Kumpulan cerpen Religi), (Yogyakarta: Mitra Pustaka, Juni 2004
7.      Mathori A. Elwa. (Kepengurusan Otto Sukatno CR., 1991-1994)
Yang Maha Syahwat, (Yogyakarta: LKiS, 1997)
Rajah Negeri Istighfar, (Yogyakarta: yayasan Aksara Indonesia, 2000)
8.      Joni Ariadinata (Kepengurusan Otto Sukatno CR., 1991-1994)
Kali Mati, (Yogyakarta: Bentang, 1999)
Air Kuldera, (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2000)
Kastil Angin Menderu, (Yogyakarta: Indonesia Tera, 2000)
9.      Kuswaedi Syafi’ie (Kepengurusan A. Muchlis, 1994-1997)
Tarian Mabuk Allah, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999)
Memanjat Bukit Cahaya, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2000)
Pohon Sidrah, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002)
10.  Zaenal Arifin Thoha (Kepengurusan A. Muchlis, 1994-1997)
Eksotisme Seni Budaya Islam, (Yogyakarta: Buku Laela, 2002
11.  Wahyudin (Kepengurusan A. Muchlis, 1994-1997)
Mampir Mas, Spiritualitas dan Dunia Batin Perempuan Pelacur,  (Yogyakarta: Pustaka Utama, 2001)
Surat Cinta Pupa, (Yogyakarta: Buku Laela, 2002)
      Bidadari dari Kalkuta, (Yogyakarta: Bentang, 2004)
12.  Faaizi L. Kaelan (Kepengurusan Edeng Syamsul Maa’arif, 1997-1999)
18 + (Antologi Seratus Puisi Puisi), (Yogyakarta: Diva Press, 2003)
13.  Marhalim Zaini (Kepengurusan Edeng Syamsul Maa’arif, 1997-1999)
Kumpulan Sajak: Segantang Bintang Sepasang Bulan, (Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau, 2003)
Di bawah Payung Tragedi: Kumpulan Naskah Teater (Pekanbaru: AKMR Press, 2003)
Langgam Negeri Puisi: Kumpulan Puisi (Pekanbaru: Dewan Kesenian Bengkalis & Interbudaya, 2004)
Tubuh Teater: Kumpulan Essai, (Pekanbaru: Dewan Kebudayaan Bengkalis & Interbudaya, 2004)
BAB III
PESAN DAKWAH DALAM PEMENTASAN TADARUS PUISI
TEATER ESKA IAIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
A. Pesan Dakwah dalam Pementasan Tadarus Puisi
Format dasar dalam pementasan Teater ESKA ada lah non-realis, maka dalam pementasannya banyak menggunakan simbol-simbol, isyarat atau i’tibar sebagai pengejawantahan ide dan gagasan yang ingin dilontarkan kepada khalayak penonton. Dan ini sesuai dengan konsep seni dakwah, dengan tidak menunggangi kesenian sebagai media dakwah menuju seni hikmah. Artinya, dalam setiap pementasannya yang penuh dengan nilai dan pesan moral dan relegiusitas, berusaha untuk tidak mengenyampingkan unsur estetis pemanggungannya. Sehingga format dan materi pementasan dapat saling mengisi dan beriringan, menyatu (unity) dalam realitas panggung.
Tujuan dakwah Teater ESKA adalah mendorong pada para pelaku dan penonton pertunjukan untuk meningkatkan kualitas ketakwaan dan keimanan, berupa menyampaikan pengamalan dan perenungan ajaran Islam yang tersirat dalam pementasan, baik pada pementasan teater, sastra, maupun musik.
80

 

Sedangkan sasaran dakwah Teater ESKA adalah kelompok masyarakat yang terdidik yang bisa dianggap berfikir dan merenung, meskipun demikian Teater ESKA juga mempunyai program yang berkaitan pada masyarakat awam, dalam hal ini ditampilkan pada unsur musikal, baik pada ilustrasi pementasan maupun pada pementasan musik bertajug dalam sebuah produksi pementasan musik.[2])

Pada pembahasan pesan dakwah dalam pementasan Tadarus Puisi Teater ESKA IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam skripsi ini, setiap pementasan dibagi dalam tiga tinjauan, yaitu tinjauan naskah, tinjuan pementasan, kemudian diuraikan muatan dakwah yang terdapat didalamnya.
1.      Pementasan “Keluk Gurindam”
Dipentaskan pada Ramadhan 1998 (19 Desember 1998), di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sutradara oleh Edeng Syamsul Maarif, penata gerak Brojo Seno Adjie, pengadaptasi naskah dan penata musik Faaizi L. Kaelan.
a.       Naskah 2)
Naskah merupakan kumpulan syair karya Hamzah Fansuri “Bapak Bahasa Sastra Melayu”, yang lahir di Barus, Aceh. Hidup semasa Sultan Iskandar Muda dan Sultan Iskandar Thani, pada Abad ke-16 M. Penyair yang juga ulama besar ini pernah mengembara sampai ke Arab dan Persia, juga kepulau Jawa, Siam, Malaya dan Pesisir Sumatera. Menulis karyanya dalam bahasa Melayu, Arab dan Persia. Karya-karyanya antara lain: “Syair Perahu”, “Syair Dagang”, “Syair Burung Pingai”, ”Bismillahirrahmanirrahim”, ”Syair Burung Punguk”, ”Syair Sidang Fakir”, dan sebagainya.  
Dan Raja Ali Haji,  seorang pengarang yang leluhurnya adalah ahli waris kerajaan Melayu-Riau, lahir di pulau Penyengat, Riau 1809. Karya-karya mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti sastra, linguistik, sejarah, hukum tata negara, ilmu politik dan sebagainya. Karya-karyanya antara lain: “Gurindam Dua Belas” (1846), ”Syair Nikah”, “Syair Gemala Mustika” (1893), “Hikayat Abdul Muluk”, “Bustanul Katibin”, “Tuhfat al-Nafis” (1865), “Tsamratul Muhammah: Difayah lil-Umara wa lil-Ahli Mahjamah” (1860). Juga karya Sutardji Chaltsum Bakhri Yang dikolaborasikan dengan puisi karya Faaizi L. Kaelan sebagai penyusun naskah dan  pengaransement musik pada pementasan ini.
Naskah terdiri dari tujuh bagian, yang tiap bagian terdiri dari beberapa puisi, yang penyusunannya disesuaikan dengan unsur dramatikal pementasan yang ingin dicapai.          
b.      Pementasan 4)
–      Konsep Penyutradaraan
Ide dasar pementasan ini digagas oleh Faaizi L. Kaelan yang penyair sekaligus musisi, maka konsep penyutradaraannya pun tidak lepas dari latar belakang penciptaannya. Artinya, unsur sastra dan musikalnya terasa amat dominan.
Penyutradaraannya sendiri berbentuk team kreatif, Edeng Syamsul Ma’arif bertanggung jawab pada pembangunan unsur dramatiknya, kemudian Brojo Seno Adji pada komposisi gerak dan tari, sedangkan Faaizi L. Kaelan pada aransement musik.
Karena berbentuk team, mau tidak mau terjadi tawar menawar ide dan gagasan. Dalam proses latihanpun sering terjadi perubahan-perubahan yang membuat para aktor dan team artistik mengganggap proses ini berat, tetapi sekaligus menantang kreativitas.
–      Konsep Pemanggungan
Tadarus puisi kali ini mengacu pada konsep pemanggungan konvensional. Artinya tetap ada pemisahan ruang antara para pemain dan penonton. Panggung dibuat semi arena, dan penonton melingkupi ruang yang membentuk tapal kuda. Sehingga penonton lebih dekat dengan ruang pertunjukan, sebagai usaha  untuk meminimalisir jarak ruang antara pemain dan penonton.
Pementasan memadukan unsur teatrikal dari pembacaan puisi, musik dan gerak tari.  Bahkan unsur musikal terlihat lebih dominan, karena pengadaptasi naskah selain seorang penyair juga seorang musisi. Hingga dapat dikatakan pementasan kali ini lebih bersifat musikal.
Adapun keterlibatan penonton diharapkan lebih kepada respon terhadap unsur dramatikal yang ditawarkan, dan mereka dapat menangkap pesan yang ditawarkan sesuai dengan kapasitas pemahaman mereka masing-masing.
a)      Tata panggung
Panggung dibagi menjadi tiga bagian, bagian depan terdiri dari 4 buah level dengan ketinggian sekitar 30 cm. Pada bagian belakang terdapat beberapa buah level yang dijajar dari kiri sampai kanan panggung, dengan ketinggian level sekitar 50 cm. Pada level bagian depan masing-masing diisi oleh satu orang dengan casting pembaca puisi, dan pada bagian belakang berjajar 10 orang dengan casting penari dan koor. Sedangkan pada bagian tengah yang paling rendah, para musisi lesehan dengan alat musik masing-masing.
b)      Tata rias
Tata rias bertolak pada seberapa besar efek pencahayaan di panggung, artinya tata riaslah yang  akan menyesuikan. Dan tata rias disini hanyalah mengusahakan agar wajah para pemain tidak terlihat pucat di bawah cahaya lampu.
Kalaupun ada penekanan pada garis-garis wajah, hanya disesuaikan dengan karakter asli wajah para pemain. Artinya tidak ada pembentukan karakter yang berlebihan dalam tata rias.
c)      Tata cahaya
Tata cahaya selain berfungsi sebagai penerangan pada bagian panggung, juga diharapkan memberi efek tertentu pada panggung. Seperti pada bagian background yang menggunakan footlamp dan cahaya ditembakkan dari bawah ke atas, hingga membantu penciptaan efek gelombang pada tali rafia yang dibentangkan dan bergoyang-goyang bila tertiup angin.
Sumber cahaya yang lain adalah lilin, terutama pada bagian depan panggung bagi para pembaca puisi. Selain berfungsi sebagai penerangan diharapkan juga akan memberi efek tertentu pada permainan, karena lilin akan bergoyang-goyang bila tertiup angin dan menciptakan bayangan yang juga bergoyang-goyang.
d)     Tata bunyi
Karena pementasan kali ini bersifat musikal, maka tata bunyi mendapat porsi yang lebih dari pada penunjang pementasan yang lainnya. Selain berfungsi memberi nuansa dan penghidupan suasana (ilustratif), juga sebagai pengiring pada beberapa komposisi yang juga dilagukan. Hingga tidak pelak lagi membutuhkan sepasukan musisi dan seperangkat alat musik baik akustik maupun elektrik diusung dalam pementasan kali ini, seperti rebana, bass gitar, gitar akustik, accordion, kendang, bedug dan sebagainya.
Para musisi juga dilibatkan dalam pertunjukan, karena blockingyang dipilih sutradara adalah di tengah arena pertunjukan.  Hingga mereka juga berlatih tentang respon, penataan emosi, blocking, membangun tangga dramatik dan sebagainya, seperti halnya seorang aktor.
Beberapa komposisi dalam pementasan ini sebenarnya sudah jadi jauh-jauh hari sebelum latihan dilakukan, bahkan sebelum naskah sepakat diangkat dalam sebuah moment pertunjukan/pementasan tadarus puisi. Dikonsep oleh Faaizi L. Kaelan.
e)      Tata pakaian dan properti.
Tata busana dibuat se-realis mungkin, tidak ada kostum atau properti yang bersifat simbolik seperti pada pementasan yang bersifat absurt atau suryalis. Penekanan lebih kepada fungsinya sebagai penutup aurat yang mempunyai nilai estetis dan kepantasan.    
Unsur Melayu coba diangkat meski tidak dalam porsi yang menyolok, seperti pakai kopiah dan sarung selutut serta berbaju koko pada laki-laki. Sedangkan para wanita berbusana muslimah yang sopan dan menutup aurat.              
c.       Pesan Dakwah dalam Pementasan5)
1.      Puisi Faaizi L. Kaelan “Pada Duabelas Keluk Gurindammu” (Mengenang Raja Ali Haji)
Puisi sebanyak tiga bait ini dibacakan secara bergantian oleh tiga orang pembaca, dengan interpretasi, vokal, ekspresi, dan penekanan pilihan kata yang memberikan gambaran kepada penonton tentang ketakjuban terhadap Raja Ali Haji. Dalam perspektif ini, mengenang Raja Ali Haji adalah sebagai salah satu cara pendekatan yang sebenarnya dapat dimaksudkan untuk lebih memahami esensi karya dari seorang penyair Islam, yang memiliki interest terhadap ranah kebudayaan—dalam konteks ini Islam. Juga bukan merupakan pemujaan terhadap wujud manusianya, melainkan penghormatan kepada pemikiran serta tindakannya yang mencerminkan nilai-nilai Islam itu sendiri.
Sejalan dengan nuansa Melayu yang mengalir—tidak meledak-ledak sebagaimana puisi yang diciptakan oleh para penyair “pesisiran” atau generasi terkini yang kerap menggunakan metafor kecemasan-kecemasan–, cara pembacaannya pun mengambil pilihan irama mengayun. Sebuah ekspresi bahwa kebersahajaan atau muthma’inah adalah pilihan dalam memahami proses religiusitas.
Seperti pada kutipan berikut:
“Menggali catatan hari-hari, membaca tanda-tanda yang samar tersisa. Pada isyarat cahaya yang tak henti kautawarkan”6)
2.      Nukilan Gurindam Duabelas Raja Ali Haji
(acapela dan paduan suara lagu Nahawant)
Puisi ini dibacakan oleh lima orang pembaca secara bergantian dengan nada qiroat, yang mengandung i’tibarbahwa jalan menuju “keakraban” dengan Tuhan adalah dengan melakukan pembacaan terhadap diri. Dengan membukan kembali hikmah dari makna kerelaan—zakat—terhadap nikmat Tuhan yang menjadi hak orang-orang yang benar-benar membutuhkannya. Untuk mencapai pemahaman terhadap nilai ketuhanan juga ditempuh melalui cara menjaga perkataan agar tidak terjebak untuk bergunjing atau memuji secara berlebihan. Karena tubuh adalah wadah segala kebusukan dan kebaikan. Maka manusia dianjurkan untuk dapat menjaga segenap potensi dalam dirinya agar tidak menjadi sia-sia. Karena sekali manusia berbuat keburukan—yang disengaja, selamanya ia akan melanggengkan tindakan-tindakan itu.
3.      Lagu “Mak Inang Pulau Kampai”
(musik irama melayu arab)
Lagu ini dinyanyikan oleh seorang pelantun dengan cengkok Melayu. Bahwa sifat kikir merupakan cikal bakal lahirnya mental-mental penguasaan terhadap keduniawian. Sehingga cara memandang kebahagiaan hanya ditentukan oleh hitungan-hitungan materi, menumpuk kekayaan, dan tidak memberikan kesempatan bagi manusia lain untuk sama-sama menikmati rezeki Tuhan. Jika sudah demikian, cara yang paling mungkin dilakukan adalah menimba ilmu dari seorang bijak yang pandai mengendalikan hawa nafsu.
4.      Paduan Vokal Puisi
(Berisi nasehat-nasehat)
Puisi karya Raja Ali Haji ini dibacakan secara bergantian oleh lima orang pembaca dengan pola berbalas pantun. Diselingi oleh nada-nada riang sebagaimana pencerminan karakter kaum muda yang optimis memandang hidup dan kehidupannya. Sehingga ketika mereka mengemban amanah di hadapan masyarakat dan negerinya, tidak menempuh cara-cara zalim. Mereka pun dianjurkan untuk menjadi dirinya sendiri, sebagai bentuk semangat kebaruannya.
5.      Pembacaan Puisi-puisi Sutardji Calzoum Bakhri
Puisi-puisi karya Sutardji Calzoum Bachri tersebut  dibacakan secara bergantian oleh lima orang pembaca. Puisi yang diambil dari antologi “O, Amuk Kapak” ini mengisyaratkan sebentuk pencapaian terhadap kesimpulan tentang kuasa Tuhan. Bahwa manusia hanyalah satu jenis makhluk yang sedang bermain-main dengan takdir Tuhan. Yang mengakui kelemahannya sebagai  sosok yang tidak memiliki daya ketika menghadapi ketentuan-ketentuan ilahiyah. Sebentuk penghambaan yang mutlak diperlukan agar dapat lebih memahami keajaiban-keajaiban nasib dan takdir. Di sinilah akhirnya manusia harus menyepakati kekuatan di luar dirinya yang tak pernah sampai untuk disimpulkan.
Adaempat puisi yang diangkat dalam pementasan ini, yaitu “Walau” yang mengetengahkan keterbatasan ilmu manusia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, seperti sesetes air di lautan. Kemudian puisi yang berjudul “Orang Yang Tuhan”, berbicara tentang kaum sufi yang mabuk cinta dengan Tuhannya, dalam duka-derita, canda-tawa, bahkan geliat syahwat. Puisi ketiga adalah “Perjalanan Kubur” Tentang kehilangan orang yang dicinta, sebagai salah satu bentuk keterasingan. Dalam keterasingan itu manusia dituntut untuk introspeksi diri, hingga menemukan sebuah jawaban: “Segala sesuatu akan kembali kedalam pangkuan Sang Pencipta”
Puisi yang terakhir berjudul “Sudah Waktu”, berisi tentang diciptakannya bumi, langit dan seisinya untuk kesejahteraan manusia. Manusia wajib mensyukuri dan menjaganya, karena semua adalah amanat. Dan Allah berhak kapan saja untuk mengambilnya.
6.      Puisi Faaizi L. Kaelan “Ke Tanah Melayu”
(diiringi musik lagu “Musyafir Kelana”)
Puisi ini dibacakan oleh seorang pembaca dengan vibrasi Melayu. Sebuah upaya untuk mengingat, membuka, dan mengenang kembali nilai-nilai sejarah dan tradisi yang telah lama ditinggalkan. Semacam kerinduan terhadap fakta-fakta tentang konstruksi sosial, ritus-ritus, serta hikmah yang kini mulai ditinggalkan. Sebuah perubahan yang niscaya dan tak dapat dibendung, meski keterpaksaan-keterpaksaan senantiasa mengiringi perubahan yang tak dikehendaki seperti saat ini. Dan pada kennyataannya, sejarah kehidupan takkan pernah berhenti pada suatu zaman tertentu.
Dalam pandangan sang penyair, generasi sekarang sering melupakan karya-karya besar Raja Ali Haji dan Hamzah Fansuri, orang Melayu sekalipun.
Sedangkan dia yang orang Madura, begitu terpana dengan “Semalam di Malaya” hingga tersesat di Batanghari.
Mendayung perahu Hamzah Fansuri, hendak menemuinya yang terisak sendirian.
Namun sang penyair (seperti penyair pada umumnya), juga membawa luka, sebagai pengembara yang hina.
7.      Lirik Hamzah Fansuri “Sidang Ahli Suluk”
(pertama dibaca, kemudian dilagukan)
Dilagukan secara bergantian oleh dua orang pelantun. Dibarengi oleh latar tari Saman yang dimainkan oleh lima belas orang penari—yang pola geraknya mendekati konsep nilai tarian sebagaimana dianalogikan oleh tarian Rumi, atau konsep mengenai ekspresi gerak pencapaian nilai ilahiyah. Tarian ini juga merupakan visualisasi atas keterbatasan teks dalam menjabarkan dan menerjemahkan  maksud serta makna yang terkandung dalam setiap kata. Inilah pencapaian manusia paling sempurna dalam upaya mencari dan mengenal tuhannya. Tuhan telah mengejawantah dalam diri. Artinya, syair ini menempatkan proses mencari Tuhan dengan cara-cara terpuji, sebagai kesimpulan sementara yang dapat dilalui oleh manusia kebanyakan. Tuhan sebenarnya tak berjarak. Hanya karena kebodohan dan kesombongan manusialah yang mengakibatkan Tuhan menjadi samar dan tidak dikenal. Manusia tidak sungguh-sungguh mengupayakan kedekatan tersebut. Jika cara-cara tersebut ditempuh dengan segenap kesadaran untuk perubahan, niscaya manusia pada suatu waktu suatu ketika, akan mendapatkan tempat yang paling layak sebagai insan sempurna. Inilah jalan yang biasa ditempuh oleh manusia yang mengenal betul bagaimana dirinya harus mencapai derajat ketuhanan.
2.      Pementasan “Kabar dari Langit”
Pementasan dilaksanakan pada Ramadhan 2000 (10 Desember 2000), bertempat di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Adaptasi Naskah dan Sutradara Solichul Hadi.
a.       Naskah7)
Naskah merupakan adaptasi dari Puitisasi Terjemahan al-Qur’an karya Muhammad Diponegoro, penyair yang lahir di Yogyakarta, 28 Juni 1928. Mendirikan dan memimpin Teater Muslim Yogyakarta,  dan sempat menjadi Wakil Pimpinan Umum/Wakil Pimpinan Redaksi “Suara Muhammadiyah” tahun 1975-1982. Karya-karyanya antara lain: “Surat dari Gubernur”, ”Kabar Wigati dan Kerajaan” (1977), “Duta Islam untuk Dunia Modern” (1983; bersama Ahmad Syafi’ie Ma’arif), “Iblis” (1973), “Percik-percik Pemikiran Iqbal” (1983), “Siasat” (1984), “Yuk, Nulis Cerpen, Yuk” (1985), “Odah dan Cerita Lainnya: Antologi Puisi Manifestasi” (1963).
Istilah “Kabar dari Langit” pernah diangkat oleh Ahmad Bastari Asnin, yang pernah menjadi redaktur Majalah Tempo, ketika ingin menerbitkan koleksi puitisasi terjemah al-Qur’an dari para penyair Islam, meliputi Juz ‘Amma dan Surah al-Fatihah. Namun gagal naik cetak, karena tidak ada penerbit yang berani, dengan alasan tanpa disertai teks bahasa Arabnya.
“Puitisasi Terjemahan al-Qur’an” –demikian batasan yang diberikan oleh Muhammad Diponegoro– , Juz  ‘Amma dan Surat    al-Fatihah, diterbitkan oleh Budaya Jaya tahun 1977 dengan editor Ajip Rosidi. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, Suara Muhammadiyah menerbitkan puitisasi terjemahan al-Qur’an Juz 29.
Untuk kebutuhan pementasan, Solichul Hadi yang bertindak sebagai sutradara melakukan adaptasi bebas pada juz 29 dan 30 Puitisasi Terjemahan al-Qur’an karya Muhammad dipenegoro dan membaginya kedalam lima babak pengadeganan.
b.      Pementasan8)
–          Konsep Penyutradaraan
Konsep penyutradaraan pementasan adalah realis simbolik, dengan berpegang pada konvensi dramaturgi. Mencoba membangun karakter tokoh (aktor), alur cerita (plot), terutama unsur dramatikal.
Dalam penggarapannya yang memakan waktu tidak lebih dari 15 hari, sutradara bersikap terbuka dan akomodatif. Semua yang terlibat dari pemain, kru artistik dan kru panggung diberikan kebebasan untuk berekspresi. Tentu saja dalam batasan bebas dan bertanggung jawab. Sebelum dan sesudah latihan selalu dibuka forum diskusi untuk mendialogkan segala hal yang berkaitan dengan proses pementasan. Bahkan sutradara tekun mendampingi proses pencarian yang dilakukan oleh aktor, kru artistik dan kru panggung.
a)      Tata panggung
Area panggung berada di tengah, posisi penonton mengelilinginya. Sentra panggung adalah rangka baja persegi empat yang tingginya sekitar 1,5 meter, di atasnya terdapat sebuah level dengan ukuran 1X2 meter tempat dua orang “pembisik”.   
Empat buah level dengan ketinggian 30 cm diletakkan pada keempat sisi bangunan sentral. Seakan membentuk orbit planet-plenet pada matahari.
Pada bagian langit-langit digantung huruf-huruf hijaiyah yang juga mengorbit pada setting sentral. Sebagai perlambang atau simbol dari al-Qur’an yang diturunkan dari langit.
b)      Tata rias
Tata rias sekadar menghindari kesan pucat pada wajah para pemain ketika terkena sorotan lampu. Tidak ada penekanan karakter, kecuali pada dua orang “pembisik” yang mukanya diblok warna putih, mewakili dua sisi alam semesta, malam-siang, baik- buruk.
c)      Tata cahaya
Tata cahaya berangkat dari konsep lampu sebagai penerangan panggung. Yang harus disesuaikan dengan penataan panggung, tata pakaian dan make up. Namun juga pada beberapa bagian ditata untuk menciptakan efek bagi pementasan, seperti lampu ultra pada terowongan pintu masuk tepat di depan cermin. Juga pada balik lorong yang tepat menghadap penonton, sebagai teror.
d)     Tata bunyi
Konsep tata bunyi atau tata musik pada pementasan ini bersifat ilustratif, artinya mencoba memberi nuansa dan memperkuat suasana adegan-peradegan, walaupun sutradara memberi kebebasan untuk bereksplorasi baik pada bunyi ataupun jenis alat musik. Ilustrator mencoba memadukan alat musik elektrik dan alat musik akustik. Eksplorasi lebih kepada nada atau bunyi, yaitu yang bertemakan padang pasir, dalam hal ini Persia. Merujuk kepada komposisi Ali Khan pada album soundtrack Natural Born Killer arahan Oliver Stone dan Gibsy King pada album Jericho. Dan untuk ilustrasi, dalam hal ini efek-efek suara, menggunakan bantuan sound efek, sebuah sound efek digital Boss E-10 yang mempunyai kapasitas 200 tune bank. Seperti pada nuansa teror, suara melengking, dan sebagainya. 
e)      Tata pakaian dan properti.
Tata kostum berangkat pada pemaduan warna-warna kontras, seperti hitam-putih, merah-hitam, putih-merah.
c.       Pesan Dakwah dalam Pementasan9)
Adegan I.
(Pengkondisian penonton: Ketika memasuki ruangan pementasan, mereka harus melewati lorong hitam (dari balik lorong terdengar suara-suara bisikan) dan berakhir pada sebuah cermin besar, dan akhirnya diberi kebebasan untuk memilih pada dua pintu yang disediakan untuk memasuki ruang pementasan)
Pada lorong hitam menggambarkan suasana manusia ketika berada di dalam rahim, sebuah tempat yang amat sempurna diciptakan Allah untuk bersemayamnya orok manusia, dilindungi oleh tulang rusuk yang kokoh.
Adapun suara-suara bisikan adalah suara-suara yang mulai direspon sang jabang bayi. Ada sebuah ajaran dalam agama Islam untuk mengumandangkan ayat-ayat al-Qur’an serta sholawat, untuk membiasakan sang jabang bayi dengan kalimat-kalimat tayyibah. Yang kemudian diadaptasi oleh sebuah teori  dari Barat untuk membiasakan (sebentuk terapi) bagi jabang bayi sejak dalam kandungan untuk merespon musik sebagai terapi, terutama musik klasik yang dipercaya dapat merangsang kecerdasan sang jabang bayi.
Ketika berada di depan cermin, manusia dihadapkan kepada dirinya sendiri, memikirkan kembali, melihat kembali, siapakah dirinya yang sebenarnya? Sebelum kemudian menentukan pilihan, jalan mana yang akan ditempuh?
Adegan II.
(Dibuka dengan alunan suara seperti tradisi tarhiman sebelum dikumandangkan adzan sebagai tanda masuknya waktu sholat, oleh seseorang yang berada di atas level central bagian atas dengan casting sebagai bayangan. Kemudian dibacakan tiga buah puisi oleh tiga orang yang mengelilingi level central secara bergantian, dibacakan secara puitis.)
Puisi pertama, disarikan dari surah al-Fatihah ayat 1-7.
Sebuah surat yang juga disebut ummul kitab, induknya al-Qur’an. Surat yang utama, sehingga wajib dibaca ketika menunaikan ibadah sholat wajib dan sunat.
Puisi kedua, disarikan dari surah al-Mulk ayat 1-5.
Allah menciptakan alam semesta dan mengaturnya dengan segala kekuasaan dan kehendak-Nya. Ciptaan yang tanpa cela dan cacat, sebuah penciptaan dengan tujuan yang agung. Bahkan pada sebuah atom yang artinya tidak terbagi, disebut juga al-Jahratul Fard, Jauhar yang tunggal. Hingga ditegaskan dalam surah Ali Imran ayat 191: “Ya Tuhan kami, tidaklah semua ini engkau ciptakan dengan sia-sia”
Dialah yang menciptakan (menentukan) kematian dan kehidupan. Sebagai ujian terhadap manusia, siapa yang lebih baik amalnya. Yaitu orang-orang yang wara’ (menjaga diri) dari segala kemaksiatan dan paling cepat dalam ketaatan kepada Allah SWT. Seperti yang dijelaskan dalam Hadits tentang wara’: “Siapa diantara kalian yang paling baik akalnya, paling wara’ (menjaga diri) dari apa-apa yang diharamkan Allah dan paling cepat dalam mentaati Allah Azza Wajalla”
Keempat ayat pada permulaan surat ini membawa kita (manusia) untuk mempergunakan penglihatan (panca indera) untuk menghubungkan diri dengan Allah Sang Maha Pencipta, dengan perantaraan alam semesta.
Mengenai “bintang untuk melempar syetan”, Zamakhsyarie dalam tafsirnya al-Kasyaf mengatkan bahwa ramalan-ramalan bintang (astrologi), tukang tenung yang meramal dengan perhitungan bintang-bintang, yang penuh kepalsuan, karena ilmu nujum adalah ilmu syetan. Hal ini senada dengan penekanan Qatadah yang menegaskan bahwa Sesungguhnya Allah menciptakan bintang-bintang itu untuk tiga perkara, hiasan bagi langit, pelontar syetan, dan dan tanda-tanda yang dapat dijadikan petunjuk arah di darat dan di laut. Barang sipa yang membicarakannya diluar tiga hal tersebut, maka ia telah berbicara tentang apa yang tidak diketahuinya, melampaui batas dan dhalim.
Muhammad bin Ka’ab pun bersumpah demi Allah, bahwa tidak ada orang di bumi ini yang memiliki bintang di langit, yang sebenarnya mereka hanyalah ingin main tenung, lalu dihubung-hubungkankan dengan bintang di langit.
Puisi ketiga, disarikan dari surah al-A’laa ayat 1-11.
Maha suci Allah dari sifat-sifat yang merendahkan-Nya, seperti beranak dan diperanakkan (tertuang dalam ajaran Trinitas). Atau berjenis kelamin seperti Latta, Uzza dan Manaata.
Menciptakan segala sesuatu dengan prinsif keseimbangan, seprti pada padi atau gandum yang batang-batangnya sanggup menahan berat buahnya. Begitu juga pada penciptaan manusia yang adalah sawwa’: Diperseimbangkan oleh Allah SWT.
Dibahas juga tentang qaddara: mengatur. Yang menjadi salah satu tiang keimanan, yaitu percaya kepada qaddar Allah SWT. Masalah qaddar ini dalam agama Islam menciptakan lapangan pemikiran tersendiri dibidang teologi.
Dalam kehidupannya di dunia ini, manusia mendapat petunjuk dari Allah dalam dua jurusan. Yang pertama, bakat yang terdapat dalam dirinya, yang kemudian membedakannya dengan makhluk lainnya, yaitu akal. Dan yang kedua adalah wahyu, dengan perantaraan para Nabi dan Rasul.
Kemudian diberikan sebuah i’tibar tentang rumput, sebagai bagian dari mata rantai makanan. Betapa suku Badui amat tergantung dengan padang rumput dalam mengembalakan hewan ternak, sehingga mereka hidupnya selalu berpindah-pindah, dari savana ke savana, dari oase ke oase.
Disinggung juga tentang jaminan yang diberikan Allah terhadap hapalan Nabi Muhammad yang Ummiy. Imam al-Farra mengatakan bahwa sesungguhnya Allah tidak berkehendak melupakan Muhammad Saw. dari al-Qur’an , walaupun hanya sebagian. Pengecualian ini hanya untuk menjelaskan bahwa sekiranya Allah menghendaki agar Muhammad lupa, maka Ia mampu melakukannya.
 Sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Isra’ ayat 86 yang artinya: “Dan sesungguhnya jika Kami menhendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu”
Tentang kemudahan yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Az-zamakhsyari dalam tafsirnya mengatakan, bahwa  inilah satu berita gembira dari Allah kepada Rasul-Nya yang menunjukkan mu’jizat yang tinggi. Datang Jibril membacakan kepadanya, sampai ia ingat betul dan membacanya pula, sedang ia sendiri adalah ummmiy, tak pandai menulis dan tak pandai membaca, dia pun hapal dan tidak lupa lagi.
Dan Allah maha mengetahui apa yang ada di dalam fikiran dan benak manusia. Yang tersembunyi dan yang tampak.
Di dalam agama Islam, begitu banyak kemudahan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya. Baik dalam lapangan ibadah, maupun dalam lapangan muamalah. Semua berjalan seiring dengan pemahaman dan kemampuan untuk malaksanakannya.
“Maka berilah peringatan”, sebagai kewajiban misi kenabian Muhammad Saw., tetapi hendaklah ditilik ruang dan waktu, mungkin dan patutnya, supaya perigatan itu berhasil menuju sasarannya. Berilah peringatan “Bila peringatan itu memberi manfaat”. Jangan seperti menumpahkan air keatas pasir, hilang tak berbekas. Berilah peringatan kepada orang-orang yang telah tertanam pada dirinya bibit-bibit rasa kasy-yah, takut kepada Allah SWT.
Orang yang takut kepada Alah ada dua golongan. Pertama, orang yang taat dan mengakuinyaserta percaya bahwa Allah kelak akan membangkitkan hamba-hambanya untuk menerima pahala atau siksaan. Dan kedua, orang-orang yang masih meragukan hal-hal tersebut.
Manusia, ditinjau dari sisi dakwah Nabi Muhammas Saw. terbagi menjadi tiga golongan:
Pertama, Orang yang mengetahui dan meyakini kebenaran dakwahnya serta tidak ada keraguan sdikitpun padanya. Orang macam inilah yang disebut dengan al-Mu’minul kamil (mukmin yang sempurna) dan taqwa kepada Tuhannya.
Kedua, orang yang masih ragu dan menaruh curiga hingga tampak bukti yang menunjukkan kebenarannya. Orang-orang semacam ini jika menemukan bukti kebenaran segera membenarkan (beriman), ia berada setingkat dibawah yang pertama.
Ketiga, orang celaka dan ingkar. Yang hatinya tidak mempan dengan peringatan dan tidak tembus dengan dakwah. Orang seperti ini adalah sejahat-jahat orang dan sangat jauh dari kebaikan.
(Kemudian muncul 2 bayangan diatas level central, bersahutan membacakan puisi tentang kejadian manusia, jalan yang mereka tempuh dan ganjaran atas pilihan mereka.
Setelah itu “para pembisik” berputar mengelilingi level central sambil menyalakan lilin, sebagai lambang peredaran planet-planet pada matahari dalam tata surya Bimasakti, sambil membacakan puisi tentang kesaksian, yang banyak terdapat dalam juz 30. Seperti: Demi Langit dan Bintang Dini, Demi Fajar, Demi Malam, Demi Masa.
Kemudian musik fade in dengan komposisi padang pasir, diselingi pembacaan puisi yang disarikan dari Suluk. Bertema tentang kesaksian atas peristiwa di jagad raya sebagai akibat dari kerakusan dan keserakahan manusia dalam era globalisasi, seperti dalam kutipan berikut):
Kusaksikan rembulan yang tua
Kusaksikan langit yang terbuka
Kusaksikan wajah terluka
Kusaksikan tubuhmu yang beku
Kusaksikan  jalan-jalan mendaki
Kusaksikan pantai-pantai membeku
Kusaksikan taman-taman menyepi
Kusaksikan bintang-bintang luruh
Kusaksikan rumah-rumah terbakar
Kusaksikan bayang-bayang terbakar
Kusaksikan kubur-kubur terbakar
Kusaksikan jasad-jasad menghitam10)
(Diakhiri dengan menyebutkan nama dan tokoh pembangkang (antagonis) yang banyak disebutkan dalam al-Qur’an. Seperti: Fir’aun, Abrahah, Abu Lahab, Qarun, Kaum ‘Adalah, Kaum Tsamud dan sebagainya. Dengan balasan yang mereka terima atas segala perbuatannya. Seperti: Binasa, Hancur, Tenggelam, Terbakar, Tertimbun, dan sebagainya. Oleh dua orang bayangan dari level central secara bergantian.
Lalu dibacakan puisi keempat, yang disarikan dari surah al-Ma’arij ayat 1-9).
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas yang dirawikan oleh An-Nasa’i bahwasanya orang-orang musyrik berkata: “Sesungguhnya Muhammad hanya menakut-nakuti kita dengan siksa, maka apakah siksa itu? Dan untuk siapakah siksa itu?
Maka turunlah ayat ini.
Adzab Allah pasti datang, kapan dan di manapun Ia mau. Tanpa diminta penyegeraan dan pengundurannya. Dan Allah mengatur alam semesta berdasarkan tangga (tingkatan-tingkatan), sesuai dengan derajat makhluk ciptaan-Nya. Sedangkan maqam Allah amat jauh dan tinggi dibandingkan dengan maqamhamba-Nya. Karena manusia masih belum bisa melepaskan diri dengan dunia materi.
Atas ejekan kaum kafir tersebut Allah menyuruh Nabi Saw. Untuk bersabar dengan kesabaran yang indah.                
Kemudian Allah menyebutkan perumpamaan kiamat sebagai: “Saat langit mencair seperti cairan tembaga, dan gunung-gunung beterbangan seperti bulu.”
Puisi kelima, disarikan dari surah Nuh ayat 25-28.
Tenggelamnya kaum Nuh as. (yang ingkar), adalah balasan atas segala perbuatan mereka. Berdasarkan laporan dan pengaduan Nabi Nuh as. Setelah menyeru kepada meraka selama kurang lebih 950 tahun.
Lalu disebutkan alasan Nabi Nuh as., yaitu:
a)      Bila mereka tidak dibinasakan, maka akan mempengaruhi dan menghasut orang-orang yang beriman kepada kekafiran.
b)      Mereka akan melahirkan keturunan yang kafir dan durhaka.
Kemudian Nabi Nuh as. Memohonkan ampunan bagi dirinya, orang tuanya, serta orang-orang yang masuk ke dalam kapalnya (beriman) laki-laki dan perempuan. Serta menambahkan agar Allah tidak menimpakan terhadap kaum zhalim itu, yang kafir, kecuali kerugian dan kejauhan dari rahmat Allah SWT.
Ayah Nabi Nuh adalah Lamak bin Mutasyalak dan ibunya Syamkaak bin Anusy, keduanya adalah orang yang beriman kepada Allah. Bahkan Imam Thabi’in yang etrkenal yaitu ‘Atthak berkata bahwa jarak antara Nabi Nuh dengan Nabi Adam adalah sepuluh bapak, dan tidak ada satupun diantara sepulu itu yang tidak beriman.
Puisi keenam, disarikan dari surat Al-Humazah ayat 1-9.
Tentang balasan bagi kaum pengumpat, yang menyangka bahwa harta dunia akan membuat mereka kekal.
Tetapi apa balasannya? Mereka dilempar ke dalam Hutamah!
Puisi ketujuh, disarikan dari surah al-Qiyamah ayat 1-15.
Tentang hari kiamat dan kesanggupan Allah untuk membangkitkan manusia dengan menyusun kembali tulang belulang lengkap dengan jari-jemarinya. Pada hari itu, tidak ada tempat untuk bersembunyi, mengungsi, berlari. Dan hanya Allah tempat kembali.
(Adegan ini merupakan moment dramatik dari pementasan ini, pada adegan ini para pemain melakukan eksplorasi gerak dengan properti masing-masing. Bayangan I dan II membunyikan pecut, para pembisik ada yang memukul-mukul level, memukul-mukul tubuh, dan sebagainya. Dibantu dengan permainan lampu yang berganti-ganti fokus dan warna, juga musik teror yang melengking dan meraung sebagai pertanda jagat raya yang carut-marut diambang kehancurannya, kiamat.)
Adegan IV.
(Dibuka dengan puisi ke delapan, dibacakan oleh salah seorang pembisik dengan cara pembacaan puisi puitis, disarikan dari surah an-Naba’ ayat 1-16.)
Kaum kafir Quraisy selalu mempertanyakan kebenaran Muhammad dan ajaran yang dibawanya. Begitu juga terhadap keberadaan hari kebangkitan. Sebagian mereka menyangkal hari kebangkitan, sebagian yang lain mempercayainya tetapi hanya dalam bentuk ruh, karena jasad manusia telah musnah dimakan ulat.
Untuk itu Allah memberi peringatan terhadap orang yang mempertanyakan hari akhir, bahkan sampai dua kali, sebagai bentuk keseriusan dan beratnya ancaman terhadap orang-orang yang meragukan dan mempertanyakan keberadaan hari kebangkitan.
Lalu Allah memberikan i’tibar tentang penciptaan langit dan bumi serta segala apa yang ada di antara keduanya. Bumi yang terhampar, gunung yang menjulang, matahari, langit yang tersusun serasi, pergantian siang dan malam, manusia yang berpasangan, air hujan sebagai sumber kehidupan makhluk hidup, hingga tercipta kebun dan ladang yang subur, yang mengahasilkan biji-bijian dan buah buahan sebagai makanan pokok bagi manusia.
Menurut Ibnu Jarir ath-Tharij gelap malam itu meliputi seluruh diri kamu, sehingga walaupun kamu bertelanjang dan tidak tertutupi selembar benangpun, namun kegelapan malam itu sendiri sudah menjadi ganti dari pakainmu.
Dan munurut penafsiran Ibnu Jubair dan As-Suddy, yang dimaksud dengan ketenangan diri adalah tidur nyenyak dimalam hari unruk membangkitkan kembali tenaga untuk hari esok, serupa juga dengan mengganti pakaian yang telah kotor dan kumal dengan pakaian yang bersih.
Kalau Allah mampu menciptakan sesuatu, apakah mustahil bagi-Nya untuk membangkitkan dunia ini setelah kiamat?
(Puisi kesembilan,  dibacakan bergantian oleh para pembisik, disarikan dari surah al-Ghasyiyah ayat 1-26.)
Tentang penghuni neraka dengan segala azabnya dan penghuni surga dengan segala nikmatnya. Allah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan dan mempelajari gejala/hukum alam.
Kata al-Ghasyiah menurut A. Hasan dalam tafsirnya al-Furqan mengartikannya dengan “dahsyat”. Haji Zainuddin Hamidiy dan Fakhruddin H.S. memberi arti “yang menyelubungi”; karena semua orang di hari itu (hari perhitungan) akan diselubungi oleh rasa ketakutan dan kengerian menunggu keputusan nasibnya. Sedangkan penyusun tafsir ini memberi arti “yang mengerikan”.
Menurut tafsir al-Qayani, “yang bekerja, yang berpayah-payah” (ayat 3), adalah usaha orang-orang yang hendak melepaskan atau melarikan diri dari azab neraka. Atau bisa juga diartikan sebagai usaha manusia untuk mengejar kenikmatan dunia dengan menumpuk harta benda dengan menghalalkan segala cara. Namun tidak memberi faedah bagi kehidupan akherat kelak. Juga karena mereka berbuat tanpa dilandasi oleh iman.
Ayat 1-7 dalam surah ini membahas masalah neraka, sedangkan ayat 8-16 membicarakan tentang surga. Mengenai hal ini, diriwayatkan ketika Abu Bakkar Shiddiq ra. merasa dekat ajalnya berwasiat agar mengangkat Umar bin Khattab ra. sebagai khalifah pengganti beliau. Allah memberikan peringatan dan tuntunan kepada umat manusia dengan perantaraan rasulnya Muhammad Saw. Demikian itu adalah agar kita selalu ada harapan kepa Allah disamping takut terhadap azab-Nya, dan selalu takut akan azab-Nya disamping kita menaruh harapan.
Disaat kita disuruh memandang atau merenungkan ciptaan Allah, bukan semata-mata melihat dengan mata, melainkan membawa apa yang dilihat dengan mata kedalam alam fikiran dan renungkanlah! Itulah yang disebut memandang. Maka berkata Zamakhsyariy dalam tafsirnya,: arti ayat ini menyuruh memandang, ialah agar supaya mereka saksikan besarnya qodrat dan iradat Sang Khaliq. Dan manusia hanya tinggal memanfaatkannya saja.
“Maka berilah peringatan” (ayat 21). Ayat ini masih ada korelasinya dengan surah al-A’la ayat 9. Yang penekanannya pada cara dan metode dalam memberi peringatan. Hal ini sesuai dengan hadit Nabi Saw.: “Bercakaplah dengan manusia sesuai dengan kadar akal mereka.”
Adegan V (ending).
(Para pembisik melakukan gerakan seperti thawaf mengelilingi Ka’bah Baitullah sambil melafalkan talbik. Sebagai bagian dari ritual keagamaan dalam agama Islam, menunaikan rukun Islam yang kelima, pergi haji. Diakhiri dengan sujudnya para pembisik menghadap level central yang yang diibaratkan Ka’bah.
Kemudian seseorang yang berada dilevel central bagian bawah membacakan puisi yang disarikan dari surah an-Naas ayat 1-6. Dan diikuti oleh para pembisik.)
Tentang memohon perlindungan kepada Allah, Tuhan manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari segala godaan syetan yang bersembunyi dan membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia melalui kaki tangannya, jin dan manusia.
(Lampu kemudian black out, hingga panggung dalam keadan gelap, bayangan I dan II membacakan surah al-Ikhlash.)
3.      Pementasan “Ziarah Abadi”
                        Pementasan dilaksanakan pada Ramadhan 1422 H/ 2001 M, di Auditorium IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tanggal 5 Desember 2001 dan di Auditorium STIE Kerjasama Yogyakarta pada tanggal 9 Desember 2001. Adaptasi bebas dari Javid Namah (Kitab Keabadian) karya Sir Muhammad Iqbal. Adaptasi naskah dan Sutradara Zuhdi Siswanto.
a.       Naskah11)
Javid Namah ditulis oleh Muhammmad Iqbal, seorang doktor filsafat, “Bapak Spiritual” Pakistan, Penyair, ahli hukum, essais. Kelahiran 22 Februari 1873 di Sialkot, Punjab. Javid Namah ditulis oleh Iqbal untuk anaknya yang bernama Javid pada tahun 1932 dalam bahasa Persia.
Ditulis dalam bentuk prosa, mengisahkan tentang perjumpaan di luar ruang dan waktu, dalam bentuk perjalanan samawi, seperti Dialogues des Morts karya Lucien, La Divina Comedia karya Dante dan al-Ghufron karya Abu al-Ala Ma’ari. Yang kesemuanya diilhami oleh peristiwa Isra’ dan Miraj Nabi Muhammad SAW.
Sekalipun demikian, tidak berarti bahwa yang disampaikan di sini sekadar kisah sebuah misi, tetapi suatu pemaparan dari tema ke tema, yang dikembangkan dan dicirikan oleh berbagai tokoh yang dijumpai sang penyair dalam kunjungannya ke berbagai langit. Secara umum, dapat dikatakan bahwa “sajak ini membicarakan konflik abadi dalam jiwa, dan dengan menguraikan sejarah perjuangan umat manusia malawan kejahatan, menunjukkan kepada umat manusia jalan menuju kejayaan dan perdamaian.”
Di dalamnya motif perjalanan menembus ke langit itu menerima kandungan filsofis modern. Dipandu oleh Maulana Rumi, yang diserunya dalam permulaannya dan seolah-olah mengasumsikan perjalanan Jibril dalam perjalanan langit yang klasikal itu. Penyair ini membahas problem-problem politik, sosial dan relegius dengan para penghuni terkemuka berbagai langit. Pada akhirnya, ia berdiri seorang diri dalam hadirat Ilahi, yang “tumbuh tanpa menyusut”.
Pada naskah aslinya Javid Namah, terdiri dari 12 bagian, sedangkan pada versi adaptasi dengan pertimbangan tema serta teknis pementasan (visualisasi, durasi dan sebagainya), maka naskah Javid Namah kemudian diadaptasi bebas oleh saudara Zuhdi Siswanto menjadi 6 bagian untuk kebutuhan tematik, teknis dan dramatisasi pementasan.
b.      Pementasan12)
–          Konsep Penyutradaraan:
Penyutradaaran pada pementasan kali ini mengangkat tradisi sufi dalam melaksanakan ritual ibadahnya, atau penyatuan diri dengan Tuhannya.  Dari ide yang muncul itu kemudian diambillah bentuk tarian Rumi sebagai dasar pikiran dari pola penyutradaraan dalam tadarus puisi yang berjudul “Ziarah Abadi”.
–          Konsep Penggarapan:
Konsep penggarapan dalam pementasan “Ziarah Abadi” yaitu penggabungan antara tiga unsur yang terdiri dari teater, musik dan membaca puisi. Teater sebagai media pengolahan gerak dan ekspresi mandapatkan bagian dalam menentukan dan menggarap pemeranan pada tokoh-tokoh, dan juga mengatur alur dramatikal dalam pementasan tersebut. Musik yang juga termuat di dalamnya berbagai eksplorasi suara-suara, baik benda ataupun suara manusia, berperan untuk menciptakan nuansa dan suasana serta keadaan emosional yang hendak dicapai dalam pementasan itu. Sedangkan membaca puisi adalah bagian yang paling vital dalam penggarapan. Para pemain dituntut untuk mampu membacakan dan menyampaikan teks atau naskah yang dibacanya sebaik mungkin, sesuai dengan esensi dari naskah tersebut, juga sesuai dengan konsep penyutradaraan yang telah ditentukan.
Tiga unsur di atas sangat berperan penting, dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. sehingga yang terjadi adalah sebuah kolaborasi dari tiga bidang kesenian yaitu teater, musik dan seni membaca puisi, yang akhirnya berfungsi sebagai media penyampaian dari konsep penyutradaraan yang sudah ditentukan.
–          Konsep Pemanggungan:
Konsep pemanggungan tidak jauh berbeda dengan pertunjukan-pertunjukan teater pada umumnya. Yaitu memisahkan antara penonton dan panggung. Akan tetapi sedikit dari perbedaannya yaitu menempatkan para pemain musik atau para ilustrator juga di atas panggung, termasuk menjadi bagian dari pertunjukan dan terlihat oleh penonton.
1.      Tata panggung
Panggung terbagi menjadi tiga bagian. Dua bagian pertama sebagai tempat para pemain dalam menyampaikan teks atau naskah yang dibacakannya. Sedangkan bagian panggung yang ketiga, menjadi tempat para pemain musik ilustrasi. Panggung bagian pertama berada di lantai dengan menggunakan alas kain hitam yang direntang ke kiri dan ke kanan. Panggung bagian kedua adalah dua buah level setinggi 1m. dengan luas 1x1m. mengapit satu level di tengahnya dengan ukuran yang lebih rendah. Di sebelah kanan dan kirinya terdapat dua buah level setinggi 50 cm. Sementara panggung bagian tiga adalah tempat para pemain musik atau bisa juga disebut dengan musik ilustrasi memainkan perannya. Dengan tertutup oleh kain kasa yang transparan, menimbulkan kesan simbolik sebuah tempat yang jauh, hening dan sepi. Tempat menyatukan diri dengan Ilahi.
2.      Tata rias
Tata rias atau biasa disebut dengan make up tidak jauh berbeda dengan layaknya pertunjukan teater pada umumnya. Yaitu selain hanya sekadar memperhalus kulit wajah agar tampak jelas bila terkena sinaran lampu spot, juga banyak memberikan penekanan pada karakter yang dimainkan. Antara karakter protagonis dan antagonis serta yang netral harus dibedakan. Di sini make up sangat berperan penting, karena tak ada akting atau pergerakan pemain yang menyimbolkan karakter dan perwatakan selain hanya naskah atau dialog puitis yang mereka bacakan.
3.      Tata cahaya
Teknik pencahayaan dalam pementasan ini selain sebagai penerangan panggung, juga berfungsi untuk memberikan efek tertentu pada beberapa adegan. Misalnya, cahaya merah yang difokuskan pada pemain yang berperan antagonis dengan tehnik penyinaran dari bawah menggunakan footlamp. Selain itu, cahaya warna biru pada kru musik yang berada agak jauh di panggung bagian belakang sebagai simbol dari tempat para salik melakukan perjalanan rohani. Seperti goa Hira, tempat Nabi Muhammad berkhalwat dan bukit Sinai, tempat bertemunya Nabi Musa dengan Sang Khaliq. Dan di pengujung pementasan, sebuah spotlight warna putih disorotkan dari arah tengah panggung bagian belakang  yang menciptakan efek siluet kepada sang Aku (Zinda Rud) sebagai simbol pertemuannya dengan Sang Khaliq.
4.      Tata bunyi/tata musik
Selain berfungsi sebagai ilustrasi pendukung suasana dan membangun gradasi suasana (dramatikal), juga berfungsi untuk menciptakan suasana.
Ide dasar dari ilustrasi musik dalam pementasan ini adalah musik Arabian. Aransemennya bersifat perkusi, sedangkan instrumen yang digunakan antara lain adalah bedug, batu, kayu, biola dan vokal. 
5.        Tata pakaian dan properti.
Tata pakaian dalam pementasan ini menggunakan nuansa hitam dan putih sebagai simbol dari sifat manusia yang mempunyai dua sisi yaitu baik dan buruk. Sedangkan properti yang digunakan adalah buku besar dengan ketebalan kurang lebih 10 cm. Sebagai simbol dari risalah Ilahi yang tertuang dalam kitab suci.
c.       Pesan Dakwah dalam Pementasan13)
Dalam pementasan tadarus puisi ziarah Abadi ini terdapat lima bagian penting yang ingin disampaikan:
Pertama, diawali dengan seseorang yang berperan sebagai narator menyalakan lilin sebagai simbol penciptaan alam semesta. Selanjutnya disusul dengan suara-suara yang bersahutan seperti sebuah teror, yang menyampaikan titah yang harus dilaksanakan manusia untuk mensikapi penciptaan alam semesta.
Siapa yang mendapat perintah menaklukkan segalanya?
Untuk siapa langit terlihat penuh dalam pandangan?
Siapakah yang meminum cangkir daei tangan saqi, dan tahu nama benda-benda?
Siapa yang telah terpilih menjadi mahkota karya ciptaMu?
Pada siapa engkau singkapkan segenap misteri-misteri?14)
Lalu terdengar suara melengking yang menyatakan bahwa manusia adalah khalifah alam semesta, melebihi segala ciptaan Tuhan yang lainnya, seperti pada kutipan berikut:
Keagungan itu akan menjadi milik manusia
yang terbuat dari tanah,
Jauh melampaui para malaikat
Yang terbuat dari cahaya.15)
Kedua,  Seseorang yang berperan sebagai manusia itu sendiri. Membacakan puisi, seakan sedang bermunajat terhadap Tuhannya.  
Puisi ini berisi tentang kesadaran manusia akan pentingnya cinta terhadap Sang Pencipta (iman) sebagai dasar dari segala ilmu pengetahuan yang dimilikinya dalam melaksanakan fungsinya sebagai khalifah alam semesta. Bahwa segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia telah menjadikan dirinya lalai. Kegelapan yang terjadi dalam jiwanya adalah hasil dari apa yang diperbuatnya sendiri.  Kebebasan yang diberikan padanya justru membuat hidupnya terjerumus dalam kegamangan dan kebutaan atas segala persoalan yang terjadi, sehingga manusia tidak dapat melihat kebenaran yang bersumber dari Tuhan. Sebuah pengakuan yang mengurai kembali bahwa ilmu pengetahuan dalam hal ini filsafat sebagai capaian tertinggi  yang hanya akan menjadi tontonan fikiran yang carut marut dan kegilaan-kegilaan eksistensial jika tanpa didasari iman.
Ketiga, Terdengar suara gemuruh yang berasal dari hentakan kaki para pemain lainnya dan suara bedug. Menggambarkan sebuah perjalanan manusia dalam mengarungi kehidupannya.
Puisi ini menyampaikan pesan tentang tiga sudut pandang yang menjadi media introspeksi, dimana manusia akan dapat melihat keadaan jiwa dan raganya sendiri, yaitu kesadaran diri, kesadaran orang lain dan kesadaran Tuhan. Kesadaran diri yaitu melhat diri sendiri dari kacamata kejujuran yang tedapat dalam jiwa. Kesdaran orang lain, adalah melihat diri sendiri dari pandangan serta pendapat orang lain.  Sedangkan kesadaran Tuhan adalah melihat diri sendiri dari kebenaran yang bersumber dari Tuhan.
Keempat, pembacaan puisi oleh seseorang yang berada dalam keadaan yang gamang dalam mengarungi bahtera kehidupan. Mencoba becermin dengan fenomena serta peristiwa masa lampau yang terjadi dalam sejarah hidupan manusia.
Puisi ini berisi tentang orang-orang yang menentang Tuhan dalam hal ini para nabi dan rasul. Seperti Abu Jahal yang mengutuk Muhammad sebagai tukang sihir yang menggoda kesesatan dan menjauhkan manusia dari dewa-dewa,  mematikan cahaya Ka’bah dengan menyingkirkan patung Manaat, Lat, Hubbal dan dewa yang lainnya serta kepercayaan yang diwariskan oleh nenek moyangnya. Namun pada akhirnya Abu Jahal sendiri mati dengan cara yang menjijikkan, dan jasadnya ditinggalkan oleh semua orang. Dan sampai dialam kuburpun, ia tetap tidak mengakui kebenaran Muhammad Saw.
Sementara Fir’aun pada masa nabi Musa yang menemui ajalnya di laut merah. Bersama penyesalan dan pengakuannya akan risalah yang dibawa oleh nabi Musa as. Fir’aun bersama kesadarannya yang terlambat merupakan peringatan bagi manusia yang serakah dan menganggap kehidupan dunia adalah sesuatu yang utama. Jasadnya yang masih utuh adalah fenomena  yang abadi dari Tuhan, bahwa kedholiman tidak akan pernah mengalahkan kebenaran.
Kelima, seseorang yang mencoba lebih mendekatkan dirinya dengan Tuhan dengan menempuh jalan sufi dan bertemu dengan tokoh-tokoh sufi terdahulu. Dalam bagian ini terdapat visual tarian Rumi sebagai simbol salah satu ritual sufistik.
Puisi ini berisi pesan-pesan dari Hallaj dan Ghalib tentang hubungan manusia dan Tuhan. Bahwa Tuhan adalah dzat yang kekal, sedang manusia adalah makhluk yang pasti akan menemui kematian. Manusia dibatasi oleh sifat-sifat keduniawian, yang fana dan sarat akan pukauan kenikmatan yang menjerat manusia dalam kesesatan. Maka untuk mencapai Tuhannya manusia harus mampu melampaui dimensi keduniawiaan, barulah ia akan memahami makna diri dan Tuhannya.
Keenam, merupakan bagian terakhir atau ending. Seseorang sedang dimabuk cinta terhadap khaliknya.  Berdiri merentangkan tangan menghadap pada cahaya putih yang bersinar dari panggung bagian belakang. Terdengarlah suara ghaib dari luar panggung.
Engkau dibatasi oleh dinding dunia,
siapa yang hidup di dalamnya pasti mati.
Apabila engkau mencari hidup,
tinggalkanlah egomu akan kekayaan,
laluilah semua dimensimu.
Dengan cara ini engkau akan dapat mengerti dan melihat
siapakah dirimu dan siapakah diriKu
Engkau akan mengetahui
mengapa engkau harus mati dan bagaimana engkau dapat hidup. 16)
Manusia yang dimabuk cinta pada Tuhannya, menganggap perpisahan adalah sesuatu yang paling menyakitkan. Terpisah dari yang dicintai adalah salah satu bentuk keterasingan. Salah satu penyebabnya adalah jasadnya yang fana. Hingga, mungkin hanya kematian yang dapat menghilangkan jarak dengan Sang khalik. Dan sebuah syahwat yang paling besarpun dapat terpenuhi, “melihat wajah Tuhan“.  
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang terdapat dalam bab sebelumnya, dapat diambil beberapa kesimpulan berkenaan dengan penelitian skripsi ini, yaitu:
a)       
125

 

Teater ESKA sebagai lembaga kesenian di lingkungan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah sebuah wadah kesenian yang memiliki cita-cita keinginan yang sesuai dengan konsep kesenian Islam. Ini dilihat dari visi, misi dan orientasinya yang menekankan keseimbangan antara estika dan etika untuk mewujudkan kesenian yang transendental. Konsep estetika tersebut terealisasikan dalam pilihan pementasannya yang sifatnya non-realis, yang banyak menggunakan simbol-simbol, isyarat atau I’tibar sebagai pengejawantahan ide dan gagasan yang ingin dilontarkan kepada audien. Salah satu bentuk pementasan yang digagas oleh teater Eska adalah ”Pementasan Tadarus Puisi” yang pada awalnya dikemas untuk mengisi kegiatan bulan Ramadhan. Hingga akhir tahun 2002 telah 11 kali mementaskan tadarus puisi dengan format dan materi yang beragam, sesuai dengan perkembangan pemahaman para kreatornya dalam berproses dan menciptakan bentuk-bentuk pementasannya.

b)        Konsep estetika teater Eska semua garis besar tertuang dalam lambang organisasi Teater Eska yang berbentuk segitiga sama sisi yang terbagi menjadi tiga tingkatan dan di lingkup garis melengkung serta bertuliskan TEATER ESKA dibawah segitiga. Dari lambang tersebut, masing-masing memiliki makna tersendiri yaitu:
Pada segitiga tingkat pertama atau disebut dengan realitas obyektif maksudnya adalah  Teater Eska menjadikan segala fenomena dan segala realitas yang terdapat dalam hidupnya serta jagad raya ini sebagai sumber inspirasi proses kreatif berkesenian, baik pada karya individu maupun karya kolektif anggota Teater Eska.
Pada segitiga tingkat kedua disebut sebagai realitas estetika, artinya Teater Eska mencoba menciptakan bentuk-bentuk kesenian, sesuai dengan konsepsi pemanggungan yang bersifat non-realitas atau abstrak.
Sedangkan pada segitiga tingkat ketiga disebut realitas transenden. Realitas transenden adalah tingkat yang paling tinggi karena merupakan cita-cita Teater Eska dalam berkesenian yang sesuai dengan visi Teater Eska, yang tertuang dalam AD/ART, dan terealisasikan dalam pementasan.
Pada segitiga sama sisi yang membentuk huruf Sin dan Nun diartikan sebagai Sunan Kalijaga. Dimana Teater Eska sebagai lembaga kesenian yang bernaung dibawah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Adapun dilingkupi oleh garis lengkung maksudnya adalah realitas panggung yang sesuai ada norma-norma yan gbersumber pada Al Qur’an dam Hadits, dimana semua konsep estetika itu baru akan terlihat dengan jelas, ketika dalam setiap pementasan yang digagas dan digelar oleh Teater Eska. Salah satunya adalah pementasan Tadarus Puisi.
c)        Tadarus puisi merupakan salah satu wujud kreatifitas seni yang digagas dan diselenggarakan oleh Teater Eska, dimana tadarus puisi adalah salah satu bentuk pementasan yang sarat dengan pesan dakwah, baik dalam pemilihan naskah, penataan artistik maupun dalam pemilihan konsep pemanggungan.
d)       Dari ketiga pementasan tadarus puisi yaitu Keluk Gurindam, Kabar dari Langit, dan Ziarah Abadi memiliki kesamaan dan inti sebuah pesan religi yang ingin disampaikan pada audien yaitu: ajakan pada manusia untuk melihat kembali eksistensi diri sebagai seorang hamba yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang sempurna. Sedangkan perbedaannya adalah proses/cara dari seseorang dalam pencarian jatidirinya untuk dapat mengenal Tuhannya lebih dekat lagi.
Saran-saran
Sebagai sebuah karya ilmiah, skrisi ini jauh dari sempurna aumtuk meneliti dan menggali pesan dakwah dalam sebuah pementasan, oleh karena itu perlu ditindak lanjuti, antara lain dengan:
1.         Diadakan penelitian khusus tentang pementasan, untuk menggali konsep estetika, gagasan dan muatan dakwah oleh orang yang ahli dibidangnya, baik perorangan maupun kelompok.
2.         Diadakan workshop dan pelatihan khusus yang berkesinambungan untuk menggali dan menemukan format pementasan yang ideal, syarat dengan pesan dakwah tetapi tidak mengurangi nilai keindahannya.
3.       Dibentuk sebuah lembaga kesenian yang khusus mengkonsentrasikan diri pada penelitian dan pementasan seni dakwah.
DAFTAR PUSTAKA
A. Rasyid Sholeh, 1977, Manajemen Dakwah Islam, Jakarta, Bulan Bintang
A. Hasjmy, 1974, Dustur Dakwah Menurut Al-Quran, Jakarta, Bulan Bintang
A. Teew, 1983, Membaca dan Menilai Sastra, Jakarta, PT. Gramedia
AD/ART Teater ESKA IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2003.
Adhi Asmara, 1984, Apresiasi Drama, Yogyakarta, Timbul.
Alimatul Qitbiyah, Aplikasi Teori Bandura Terhadap Dakwah, dalam Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah, No. 02, Th. 11, Januari-Juni 2000
Alo Lileweri, 2001, Gatra-gatra Komunikasi Antar Budaya, Yogyakarta, PustakaPelajar
Andy Dermawan, Strategi Dalam Dakwah Pendekatan Rasional Transendental, dalam Al-Jami’ah, Journal of Islamic Studies, Vol. 40, No. 1, Januari-June 2002
_____________, 2002, Metodologi Ilmu Dakwah, Yogyakarta, LESFI,
An-Nawawly, Imam Abu Zakarta Yahya bin Syarif, 1986, Riyadushsholihin, (Teori. Salim Bahsery), Bandung, Al-Ma’arif
Aswab Mahasin dkk.(edt), 1996, Ruh lslam dalam Budaya Bangsa: Konsep Estetika, Jakarta., Yayasan Festival Istiqlal
Anton Bakker, Achmad Charris Zubair, 1994, Metodologi Penelitian Filasafat, Yogyakarta, Kanisius, Cet. IV
Barmawie Umary, 1987, Azaz-Azaz Ilmu Dakwah, Solo, CV. Ramadhan
Burhan      Nurgiyanto, 2000, Teori Pengkajian Fiksi, Yogyakarta, Gadjah Mada, University Press
Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, 2001, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka
Casmini, Arti Penting Kecerdasan Emosi (Emotional Intelegence) dalam Dakwah, dalam Jurnal Dakwah Media Komunikasi dan Dakwah, Nomor 02, Th II, Januari-Juni 2001
Hamdy Salad, 2000, Agama Seni, Yogyakarta, Yayasan Semesta
___________, 2000, Terompah Kaki Teater, dalam Lephen Purwaraharja (edit), Ideologi Teater Modern Kita, Yogyakarta, Pustaka Ghondo Suli
H. Nasrudin Harahap, 1992, Dakwah Pembangunan, Yogyakarta, DPD GOLKAR Tk. I
Jabrohim dan Ari Wulandari (edit.), 2001, Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta, PT. Hanindita Graha Widya
Jalaluddin Rakhmat, 1985, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya
Khoiru Ummatin, Kontekstualisasi Misi Dakwah Islam, dalam Jurnal Dakwah; Media Komunikasi dan Dakwah, Nomor 03, Th. 11, Juli-Desember 2001.
KM. Newton, 1994, Menafsirkan Teks, Semarang, IKIP Semarang Press
Koentjaraningrat, 1997, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta, PT Gramedia, Pustaka Utama
Lexy Moloeng, 1998, Metodologi Penelitian Kualitalif, Bandung, Remaja Rosdakarya Offset
Made Suhada, 1987, Pembinaan Kritik Sastra Indonesia dan Masalah Sistematika Analisis Struktur Fisik, Bandung, Angkasa
Marwah Daud Ibrahim, 1994, Teknologi Emansipasi dan Trandensi, Wacana Peradaan dengan Visi Islami, Bandung, Mizan
Mujamma’ Al Malik Fahd li Thiba’at al-Mushhaf asy-Syarif, tt., Al-Qur’an dan Terjemahnya, Madinah al-Munawwarah
Musthofa, Emotional Intelegence sebagai Sarana Bagi Da’i dalam meningkatkan Efektifitas Dakwah, dalam Jurnal Dakwah Media Komunikasi dan Dakwah, Nomor 03, Th. 11, Juli-Desember 2001
Onong  Uchjana Effendy, 1992, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung, Remaja Rosdakarya
RMA. Harymawan, 1993, Dramaturgi, Bandung, PT. Rosdakarya.
Sapardi Djoko Damono, 2000, Direktori Seni dan Budaya Indonesia 2000, Surakarta, Yayasan Kelola
Slamet Muhaimin Abda, 1994, Pinsip-prinsip Metodologi Dakwah, Surabaya, Al-Ikhas
Suharsini Arikunto, 1989, Prosedur Penelitian, Suatu Penelitian Praktek, Jakarta, Bina Usaha
Suminto A. Suyuti, Nilai-nilai Didakdis Sastra, Makalah Seminar Nasional, UMY, Yogyakarta 14-15 Januari 1992
Sutrisno Hadi, 1991, 1deologi Research, Yogyakarta, Fak. Filsafat UGM
S. Nasution, 1988, Ideologi Penelitian Naturalislik Kualitutif, Bandung, Tarsito
S. Noor Chozin Suffi, Dakwah dalam Perspeklif Hasan Al-Bana, dalam Al-Jami’ah Jurnal of Islamic Studies, Vol. 38, Nomor 2, 2002
Suyatna Amirun, 1998, Menjadi Aktor: Pengantar Kepada Seni Peran untuk Pentas dan Sinema, Bandung, Studiklub Teater Bandung,
Tatang M. Arifin, 1995, Menyusun Rencana Penelitian, Jakarta, PT. Raja Grafika Persada
Tjoktroatmojo, 1988, Pendidikan Seni Drama, Surabaya, Usaha Nasional
Toba Omar Yahya, 1983, Ilmu Dakwah, Jakarta, Widjaya
Toto Tasmara, 1987, Komunikasi Dakwah, Jakarta, CV. Gaya Media Pratama
Umar Yunus, 1985, Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar, Jakarta, PT. Gramedia
Winarto Surachmad, 1990, Pengantar Penulisan Ilmiah, Bandung, Tarsito
YB. Mangunwijaya, 1982, Sastra dan Relegiusitas, Jakarta, Sinar Harapan
Yudiaryani , 2002, Panggung Teater Dunia, Yogayakarta, Pustaka Gondho Suli
www.web.unmetered.co.id

KABAR DARI LANGIT
Adegan I
Pengkondisian awal sudah dimulai ketika penonton melalui pintu masuk (yang berbentuk lorong dan tertutup kain hitam) satu persatu. Dari balik layar terdengar suara-suara, seperti orang berbisik.
Suara-suara          : “Katakanlah, Dia-lah Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia.
(Selain suara-suara itu, ada suara gemerincing, suara bergumam dan suara hairdryer). Suara-suara ini kemudian fade out, disusul kemudian oleh suara bedug yang perlahan-lahan semakin meninggi (tempo dan volume), kemudian fade out sampai semua penonton memasuki ruang pementasan. Kemudian muncul bayang-bayang (di sentra panggung bagian atas) meneriakkan kata-kata yang tidak jelas dan tidak berpola, disambut oleh bayangan kedua bersoliliqui dengan kata-kata yang jelas dan berkarakter. Kemudian musik meneror penonton bersamaan dengan lampu yang menyorot kesegala bagian panggung, kemudian fide out.
Adegan II
Lampu fide in pada ketiga lingkaran (dari sisi belakang). Orang I, II dan II perlahan-lahan berdiri sambil menutup mata, mulut dan kemaluannya.
Orang I  : “Ijinkan aku menutup mataku, karena mataku adalah imajinasi dan nafsuku”
Orang II : “Mulut ini harus dibungkam, mulut ini tak bisa kujaga, aku telah menjadi pembohong dengan mulut ini” (beberapa kali sampai bersoliliqui)
Orang III               : ”Ini harus dijaga, sebab………….” (beberapa kali kemudian yang terdengar hanyalah suara orang yang berbicara sendiri, kemudian lampu black out)
Musik fade inbersama suara hairdryer sampai klimaks.
Adegan II
Puisi pertama
Puja dan puji bagi Allah sendiri
Penyempurna segala alam perujudan
Penuh kasih penuh ampun
Raja hari keputusan
Cuma kepada-Mu kami semua sembah menghadap
Cuma pada-Mu kami semua paling harap
Bimbing kami ke lubuh lempang
Menjejaki siapa telah Kau beri hati
Bukan yang kau dera kemurkaan
Bukan pula yang hilang jalan
(Q.S. al-Fatihah ayat 1-7)
Puisi kedua
Kerajaan
Maha sucilah Dia yang menggenggam kerajaan dalam tangan-Nya
Ia menguasai segala-galanya
Yang mengadakan kematian dan kehidupan
Untuk mengujimu siapa yang terbaik amalnya
Ia Maha Perkasa, Maha Memaafkan
Yang telah menciptakan tujuh petak langit berlapis serasi
Takkan kau temui ketimpangan dalam ciptaan Sang Pengasih ini
Coba ulangi perhatikan!
Adakah bertemu di situ keporak-parikan?
Kemudian pandanglah lagi! Sekali lagi!
Penglihatanmu hanya akan kembali kepadamu
Dalam kebingungan dan lesu
Dan sungguh Kami telah memajang
langit terbawah dengan dian-dian
Dan itu Kami jadikan pelempar setan-setan
Dan Kamipun menyiapkan bagi mereka
Siksa api yang berkobar menyala.
(QS. al-Mulk ayat 1-9)
Puisi ketiga
Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi
Yang mencipta dan menyempurnakan
Dan yang membuat kepastian dan memberi bimbingan
Dan yang menumbuhkan rerumputan
Lalu membuatnya kehitam-hitaman
Kami akan membacakannya padamu dan kau tak akan lupa
Kecuali bila Allah menghendaki
Ia mengetahui apa yang terbuka dan apa yang tersembunyi
Dan Kami akan memudahkan kau kejalan yang gampang
Maka berikan peringatan!
Karena peringatan banyak gunanya
Orang yang takut akan mengindahkannya
Orang yang terkutuk akan menjauhinya.
(QS. al-A’laa ayat 1-11)
Lampu fade out, musik fade in (orkestra), bayangan I dan II muncul
Bayangan I                  : “Sungguh telah tiba suatu ketika dalam kehidupan insan tatkala ia belum jadi apa-apa untuk         diperkatakan”
Bayangan II                : “Kami mencipta insan dari campurannya air mani,   lalu nanti ia bakal Kami uji, maka kamipun membuat            ia bisa mendengar dan melihat”
Bayangan I                  : “Jalanpun Kami tunjukkan kepadanya sudah,          apakah ia akan bersyukur atau kufur, terserah!”
Bayangan II                : “Kami sediakan rantai, belenggu dan api berkobar”
Lampu fade in, orang I, II dan III membentuk komposisi, para pembisik menyalakan lilin kemudian berjalan ketengah dan mengelilingi level central. Lampu fokus.
Pembisik membacakan puisi:
Demi langit berbintang gemintang
Dan hari yang telah dijanjikan
Dan saksi serta yang disaksikan
Binasalah para penggali parit perlindungan!
Demi langit dan bintang dini
(ah, kau tahu apakah bintang dini?
…. Bintang pijar di wajah malam)
Tak satupun jiwa tanpa seorang pengamatnya
Maka merenung dari apa asal jadinya.
Demi waktu fajar
Dan malam yang sepuluh
Dan yang genap dan yang gasal
Dan malam bila berlalu
Di sini sebenarnya terkandung sumpah orang yang berakal
Demi malam bila menudungkan kegelapan
Dan hari bila terang benderang
Dan demi diciptanya lelaki perempuan
Sungguh usahamu berbeda-beda memang
Demi waktu sepenggalah matahari
Dan malam ketika senyap sunyi
Tuhanmu tiada meninggalkan kau, ataupun benci
Dan sesungguhnya apa yang akan terjadi
Lebih baik bagimu dari pada yang sudah
Lampu kemudian black out, musik fide in dengan komposisi padang pasir
Pembacaan puisi Suluk
Kusaksikan rembulan yang tua
Kusaksikan langit yang terbuka
Kusaksikan wajah terluka
Kusaksikan tubuhmu yang beku
Kusaksikan  jalan-jalan mendaki
Kusaksikan pantai-pantai membeku
Kusaksikan taman-taman menyepi
Kusaksikan bintang-bintang luruh
Kusaksikan rumah-rumah terbakar
Kusaksikan bayang-bayang terbakar
Kusaksikan kubur-kubur terbakar
                  Kusaksikan jasad-jasad menghitam
Secara bersamaan dan bergantian (Orang I, II dan III, bayangan dan pembisik):
Fir’aun !
Kaum Nuh !
Kaum Musa !
Kaum Tsamud !
Pengumpat !
Abrahah !
Abu Lahab !
Orang-orang Kafir !
Qorun !
Kaum ‘Ad !
Binasalah ! , binasalah ! , binasalah ! , hancurlah ! , terbakarlah ! , tenggelamlah !, tertimbunlah !, terbaliklah !, terkoyaklah !, terbelahlah !, musnahlah !
(Terus berlangsung sampai musik kemudian memecah suara-suara itu. Musik fide in sebagai ilustrasi azab yang diberikan kepada mereka)
Puisi keempat:
Seorang penanya telah bertanya
Tentang azab yang akan menimpa orang-orang kafir
Tak seorangpun bisa menyingkir
Datangnya dari Allah yang memiliki tangga tingkatan
Para malaikat dan Ruh naik kepada-Nya
dalam sehari yang panjangnya limapuluh ribu warsa
Maka kalian bersabarlah dengan kesabaran utama
Mereka menduga azab itu masih lama datangnya
Sedang kami melihatnya sudah dekat
Dihari kapan langit seperti cairan tembaga
Dan gunung-gunung bagaikan bulu domba.
                                                               (Q.S. Al-Ma`aarij ayat 1-9)
Puisi ketujuh
Aku bersumpah demi hari kebangkitan
Dan aku bersaksi demi jiwayang mnyesali diri
Apakah manusia mengira
Kami takkan menghimpun lagi tulang-tulangnya?
Oh, bahkan Kami kuasa melengkapakan kembali jari-jarinya
Namun manusia senantiasa berbuat dosa
Ia bertanya: “Kapan hari kebangkitan itu?”
Maka ketika penglihatannya menjadi nanar
Dan bulan menjadi redup pudar
Lalu matahari dan bulan saling dipertemukan
Hari itu manusia mengujar: “ Kemana harus lari? “
Tidak!, tak ada lagi tempat mengungsi!
Hari itu hanya Tuhanmu tempat kembali
Hari itu akan diberitakan pada manusia
apa yang dahulu dikerjakannya
apa yang dahulu dilalaikannya
Oh, bahkan manusia akan naik saksi atas perkaranya sendiri
Meskipun mereka berhelah dengan dalih-dalih
                                                                 (Q.S. Al-Haaqqah ayat 1-15)
( Disini adalah moment dramatik kabar dari langit, musik fade in dengan musik menteror, lampu, eksplor gerak)
Adegan IV
Ah, tentang apa mereka saling bertanya?
Saling bertanya tentang kabar wigati,tentang kabar yang mereka saling berselisih
Oh, mereka nanti bakal mengerti sendiri
Bukankah Kami hamparkan bumi jadi tempat berpijak
Gunung-gunung terhunjam menjadi pasak
Dan kalian jadi pasangan sejjoli
Waktu tidur pulas menjadi tempat kalian berhenti
Dan malam-malam terbebar jadi pakaian gebar
Dan siang-siang terang menjadi ruang penghidupan
Dan kami susun kokoh di atasmu langit lapis tujuh
Dan senyala kian berpendar kencar-kencar
Dan awan Kami curahkan air berlimpah
Lalu Kami bersihkan biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan
Dan kebun-kebun yang subur merimbun?
                                                              (Q.S. An-Naba` ayat 1-16)
Puisi kedelapan
Telah datang padamu berita tentang peristiwa yang membingunkan?
Hari itu tertunduk wajah-wajah
Berusaha keras, susah payah
Masuk ke dalam api yang menyala-nyala
Diberi minum dari mata-air mendidih
Tak mendapat makanan kecuali pohon berduri
Yang tak membuat segar, yang tidak menghapuskan lapar
Hari itu wajah berseri-seri, senang karena usahanya
Di dalam surga yang tinggi
Di situ omong kosong tak mau dengar
Di situ ada tahta yang di tinggikan
Dan tersedia piala-piala minuman
Dan bantal-bantal berjajaran
Dan permadani berhamparan
Apakah mereka tak melihat onta diciptakan
Dan langit betapa di tinggikan?
Dan gunung-gunung betapa di pasakkan?
Dan bumi betapa di bentangkan?
Maka berilah peringatn!
Engkau hanya juru ingat belaka
Bukan pula pengawal mereka
Tapi siapapun yang berpaling  dan ingkar
Akan disiksa Allah dengan azab yang besar
Sungguh, kepada mereka akan kembali
Dan perhitungan mereka tanggungan kami
                                                         (Q.S. Al-Ghasyiyyah ayat 1-20)
Adegan V (ending)
Musik kembali meneror dan lagu-lagu puisi nahawan oleh bayangan.
Lampu terfokus pada orang I, II, III dan Pembisik, on stage lampu fokus.
Katakanlah!, berlindunglah!, Aku pada penyempurna Manusia
Raja manusia
Tuhan manusia
Dari petaka bebisik tersembunyi
Berbisik menyusupi hati
Dari bangsa Jin dan Manusia
(Puisi dibaca bersama, kemudian Black Out, Bayangan I dan II membisikkan kembali surat Al-Ikhlas)
                           
I.               PUISI FAAIZI L. KAELAN “PADA DUA BELAS KELUK    GURINDAMMU” –mengenang Raja Ali Haji
Pada dua belas keluk gurindammu
aku akan mengalir seperti air
membaca ikan, batu di sungaimu
aku akan bertiup laksana angin
meraba luas angkasamu
Pada dua belas keluk gurindammu
menggali catatan hari-hari
yang lepuh tertimbun jauh
membaca tanda-tanda
yang samar tersisa
Pada dua belas keluk gurindammu
aku mencari dirimu
disaat tak mengerti lagi
pada isyarat cahaya
yang kau tawarkan tak henti-henti
II.            NUKILAN DARI GURUNDAM DUA BELAS RAJA ALI HAJI
(acappela dan paduan suara lagu nahawand)
Barang siapa mengenal Allah
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah
barangsiapa menegnal diri
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari
barangsiapa yang meninggalkan zakat
tiada hartanya beroleh berkat
apabila terpelihara lidah
niscaya dapat daripadanya faedah
hati itu kerajaan di dalam tubuh
jikalau dholim segala anggota pun rubuh
mengumpat dan memuji hendaklah fikir
disitulah banyak orang yang tergelincir
jika sedikitpun berbuat bohong
boleh diumpamakan mulutnya itu pekung
III.         LAGU “MAK INANG PULAI KAMPAI”
(Musik irama melayu arab)
Bakhil jangan diberi singgah
itulah perompak yang amat gagah
jika hendak mengenal orang mulia
lihat kepada kelakuan dia
cahari dirimu akan guru
yang boleh tahukan setiap seteru
apabila banyak berkata-kata
di situlah jalan masuk dusta
apabila kiat kurang siasat
itulah tanda pekerjaan hendak sesat
apabila banyak mencatat orang
itulah tanda dirinya kurang
apabila orang yang banyak tidur
sia-sia sahajalah umur
apabila perkataan yang  lemah lembut
lekaslah segala orang mengikut
IV.         PADUAN VOCAL PUISI
Daripada memuji diri hendaklah sabar
biar daripada orang datang khabar
keaiban orang jangan dibuka
keaiban diri hendaklah sangka
jika orang muda kuat berguru
dengan syaitan jadi berseteru
hendaklah berjasa kepada sebangsa
hendaklah jadi kepala buang perangai yang cela
hendak memegang amanat buanglah khianat
hendak amarah dahulukan hujjah
V.            PEMBACAAN PUISI-PUISI SUTARDJI KALZOUM BACHRI
WALAU
Walau penyair besar
takkan sampai sebatas Allah
dulu pernah kuminta Tuhan
dalam diri
sekarang tak
kalau mati
mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat
jiwa membumbung dalam baris sajak
tujuh puncak membilang-bilang
nyeri hari mengucap-ucap
dibutir pasir kutulis rindu-rindu
walau huruf habislah sudah
alifbataku belum sebatas Allah
1979
ORANG YANG TUHAN
orang yang tuhan
                          gelasnya oleng karena ombak tuak
yang bilang minum !
                          kau karam aku tidak !
orang yang tuhan
                          nenggelamkan ranjang denagn kasihnya
yang payau dalam geliat syahwat
                          yang bilang ahh!
                                                  aku sudah
orang yang tuhan
                          sungsang dalam sampainya
yang bilang wau !
                          gapaiku dedak !
orang yang tuhan
                          nyelinap dalam lukamu
                          minum arak lukamu
                          ketawa dari lukamu
                          berjingkrak dari lukamu
                          baring dalam lukamu
                          pulas dalam lukamu
                          bangun dari lukamu
                          pergi dari lukamu
orang yang tuhan
                          bertualang selalu
datang dan pergi
                          dari luka ke lukamu
dia masuk
              minumminum nyanyinyanyi ketawa
              senyumsenyum tidur
bangun
dan
jingkrakjingkrak dari luka kelukamu
assalamu’laikum
              dia membuka pintu
dan menyorongkan salamnya padamu
senyumsenyum mengajakmu masuk minum-minum
nyanyinyanyi ketawa senyumsenyumsenyum
tidur
bangun
jingkrakjingkrak
dan pergi
dari luka ke lukamu
PERJALANAN KUBUR
luka ngucap dalam badan
kau telah membawaku ke atas bukit ke atas karang ke atas gunung
ke bintang bintang
lalat-lalat menggali perigi dalam dagingku
untuk kuburmu alina
untuk kuburmu alina
aku menggaligali dalam diri
raja dalm darah mengaliri sungaisungai mengibarkan bendera hitam
menyeka matari membujuk bulan
teguk tangismu alina
sungai pergi ke laut membawa kubur-kubur
laut pergi ke laut membawa kubur-kubur
awan pergi ke hujan membawa kubur-kubur
hujan pergi ke akar ke pohon ke bunga-bunga
membawa kuburmu alina
1977
SUDAH WAKTU
sudah waktunya sekarang
kau mengembalikan
rumput
tangkai
ranting
pepohonan
kedalam dirimu
sudah waktunya
memasukkan kembali
seluruh langit
semua langit
setiap darat
kedalam dirimu
karena asal tanah itu kau
asal langit itu kau
asal laut itu kau
asal jagat itu kau
VI.         PUISI FAAZI L. KAELAN “KE TANAH MELAYU”
(diiringi musik lagu “Musafir Kelana”)
aku telah terpuruk begitu jauh
ketika surat yang kau kirim
dari pulau penyengat
menaburkan seperti mutiara
bagai buih disibak kapal
di pantai Dumai
tapi para nelayan membiarkannya
dipatuk camar
karena Bagansiapiapi
tak lagi menyalakan mercusuar
mereka pinsan dengan kail jala terbiar
sepertinya mereka telah lupa
menawar pukat dengan semangkuk garam
tentu bukan karena said dan tengku
menatapnya dengan diam
atau karena angin laut meniup kabar
dari Batam; igauan dari jauh
tapi mungkin karena tak tahu
Raja Ali Haji pernah menulis Gurindam
Begitu larut aku terperangkap
dalam Halimun rasa dan kata
Saat kau bangunkan aku
dengan semalam di Malaya
begitu jauh aku tersesat di Batanghari
mendayaung syair perahu Hamzah Fansuri
hendak menemui yang terisak sendiri
tapi jangan sambut aku dengan upacara
karena aku membawa luka,
karena aku hanyalah pengembara yang hina
1 / 1997
VII.      LIRIK HAMZAH FANSURI “SIDANG AHLI SULUK”
(Pertama; dibaca biasa. Kedua: dilagukan)

Sidang Ahli Suluk

Sidang fakir empunya kata
Tuhanmu zahir terlalu nyata
Jika sungguh engkau bermata
Lihatlah dirimu rata-rata
Kenal dirimu hai anak jamu
Janganlah lupa akan diri kamu
Ilmu hakekat yogya kau ramu
Supaya terkenal `ali adamu
Jika kau kenal dirimu bapai
Elokmu itu tiada berbagai
Hamba dan Tuhan da`im berdamai
Memandang diri jangan kau lalai
Kenal dirimu hai anak dagang
Menafikan diri jangan kau sayang
Suluh itsbat yogya kau pasang
Supaya mudah kau datang
Jika terdengar olehmu Firman
pada Taurat Injil Zabur dan Furqan
Wa Huwa ma`a-kum pada ayat Qur`an
Bil kulli syai`in muhil ma`nanya`iyan
Syari`at Muhammad ambilkan suluh
Ilmu hakikat yogya kau pertubuh
Nafsumu itu yogya kau bunuh
Mangkanya dapat sekalian luruh
Mahbubmu itu tiada berhail
Pada ayna-ma tuwallu janga kau ghafil
Fa tsamma wajhu Allah sempura wasil
Inilah jalan orang yang kamil

ZIARAH ABADI

Adaptasi JAVID NAMA karya Muhammad Iqbal

MUSIK MENGALUN. PANGGUNG GELAP. KEMUDIAN PERLAHAN LAMPU MENYALA. SEORANG PEMAIN ON STAGE DAN MEMBACA PUISI.
Dengan segenap kerinduan yang membakar wujudnya
dan memintanya bersenandung  melodi-melodi keindahan
ia menerawang semesta ini
tempat segala yang mati dihidupkan
tanpa iringan dentig detak jantung.
Samudra, belantara, bebukutan dan lembah-lembah hening bening.
Matahari, rembulan dan langit tercenung dalam diam
meski bintang gemintang kelap-kelip di angkasa.
Mereka lebih kesepian dari yang lain.
Semuanya juga pecundang sebagaimana kita
para pengembara tanpa daya di langit biru yang perkasa
meski mereka merakit sebuah kereta.
Meski tanpa perlengkapan,
mereka tetap melaju membelah semesta yang tak bertepi
sepanjang malam-malam abadi.

MUSIK FADE OUT. DISUSUL SUARA KOOR

Manusia penghuni semesta tujuh warna
Kala meratap, dia bagai lengking seruling

MUSIK TIBA-TIBA TERDENGAR KENCANG DISUSUL SUARA-SUARA

Siapa yang mendapatkan perintah menaklukkan segalanya ?
Untuk siapa langit terlihat penuh dalam pandangan ?
Siapakah yang meminum cangkir dari tangan saqi, dan tahu nama benda-benda ?
Siapa yang telah terpilih menjadi mahkota karya ciptaMu ?
Pada siapa Engkau singkapkan segenap misteri-misteri ?

MUSIK HABIS. LALU TERDENGAR SUARA BERNADA TINGGI

Keagungan itu akan menjadi milik manusia
yang terbuat dari tanah,
jauh melampaui para malaikat
yang terbuat dari cahaya.

DIBACA SECARA BERGANTIAN

PutusanMu telah menceraiberaikan hatiku:
pada mereka Engkau berfirman, {Koor}“Sebutlah NamaKu”
Dalam kepediha kuarungi kehidupan.
Kini aku berdo’a agar terlepas dari kegamangan.
Buka gerbang-gerbang tertutup itu untukku
dan biarkan manusia mengintip mimpi para malaikat
.
Tuhanku! Di kedalaman dadaku nyalakan api
demi membakar kegamangan
dan taburkan wewangian meski hanya sementara.
Karena sang api akan membara dan membakar dupa wewangian juga:
biarkan asapnya menggelenjar di tubuh bumi.
Sikap acuhMu luluh oleh sebuah tatapan
dan kendiku berkilau pendar cahaya.
Engkau tak terjangkau  penglihatan
dan hanya Engkau yang aku cari – ah tidak,
Engkau ada di mana-mana,
pandanganku terlalu kabur untuk menatapMu.
Kumohon singkapkan tabir ini, selubung mistis ini,
atau hapuslah hayat ini, hayat yang buta ini.
Pohon filsafatku kerontang,
tumbuhkan pcuk-pucuk hijau dedaunan musim semi
atau tumbangkan saja pohon ini.
Pengetahuan yang Engkau anugerahkan padaku,
membuahkan kegilaan sekarang
gairah batin yang bersumber dari cinta.
Ilmu kami hidup di sela jeruji kegamangan
sedangkan cinta bersemayam di hati-hati yang selalu terjaga.
Andai pengetahuan kami tidak bersumber dari cinta,
ia hanya tontonan pikiran yang terbang jumpalitan, hanya pertunjukan pagan.
Filsafat yang tidak diberkati Ruh Suci hanya hiasan belaka.
Para pemikir bersusah payah bergelut dengan pikiran yang carut-marut.
Tanpa pendar cahaya cinta
segenap hayat hanyalah kubangan kesedihan,
iman menjadi rantai belenggu dan akal tak berdaya.
Segenap dunia:
Gunung-gemunung, samudra dan hutan belantara
tidak memberi nyala cahaaya yang aku cari.
O biarkan hati yang berkelana ini mencapai tujuannya,
semburkan segenap cacat ini pada rembulan.
Meskipun kata-kata yang kutebar di tanah tidak tumbuh,
tangisan dan raungan perpisahan tidak berakhir.
Aku temukan diriku sendirian di dasar langit,
dan sekarang dari balik langit aku mendesah ”Aku dekat”,
dan dari rantai dimensi ini aku telah dibebaskan,
bukan dari Utara pun dari Selatan,
agar gairah Masa Lalu dan Masa Depan dapat kusisihkan
untuk melampaui matahari, bulan dan galaksi.
Berkahi aku kehidupan surgawi,
O Tuhan! Anugrahi aku segenap kekuatan
untuk melintasi jalan yang terlentang di depan.

MUSIK MENGGAMBARKAN PERJALANAN {BISA DARI PARA PEMAIN}                        

Tiga saksi akan melaporkan keadaanmu.
Apakah engkau hidup, mati atau sekarat.
Pertama sebagai saksi adalah kesadaran diri,
untuk melihat dirimu dengan cahayamu sendiri.
Kedua sebagai saksi adalah kesadaran lainnya
yang dapat engkau nyalakan untuk melihat dirimu.
Ketiga sebagai saksi adalah kesadaran Tuhan,
cahaya yang padanya engkau dapat melihat dirimu.
Seperti komet,
seorang lelaki hilang dalam pencarian abadi.
Dibayangi oleh keresahan   pelanet
Langit dan bumi
Memuja kegagalan demi kegagalan yang mematangkan dirinya
Dan ketidaksempurnaanya.
Dia hadapkan cerminnya ke langit.
Pikirannya menerawang wajah Jibril yang tersingkap.
Dia terbang menukik menyambar matahari, bulan;
Dan dengan secepat kilat mengelilingi cakrawala
Asapnya adalah asap itu sendiri,
Doanya mempersembahkan harapan pada Tuhan
Selamanya dia menyanyikan lagu cinta,
Dalam persatuan dan perpisahan dia sama-sama tajamnya
Seseorang :
Manusia yang terbuat dari tanah mempromosikan sebab-musababnya
Tatkala dia berkonfrontasi dengan cahaya dari dalam dirinya
Aku menangkapnya dalam jaring kehidupan
Dan aku menguasainya dalam eksistensi murni
Apakah aku menyewa selubung biru ini?
Apakah aku telah menumbuhkan langit,
atau mereka tumbuh dengan sendirinya?
Apakah mereka ada di dalam pikiranku,
atau apakah mereka menari melingkar di luarnya?
Hal apakah ini?
Dan dimana?
Apakah di dalam?
Apakah diluar?
Apakah makna lukisan yang bertemu dengan mata ini?
Dan mengapa?
Kurenggangkan dan kukepakkan sayapku ke langit yang lain
Hingga aku melihat dunia-dunia yang berbeda.
Dunia-dunia yang jauh lebih tua daripada bumi,
Yang dihiasi dengan lautan, pulau-pulau dan bebukitan
Juga sampah-sampah.
Dimataku,
Kenyataan demi kenyataan terdahulu tersingkap
Bagai mata air yang tercurah
mengguyur tanah kerontang bebatuan.
Di lembah kenabian Muhammad
Kulihat Abu Jahal menyalakan api di kepalanya
Dendam itu menguliti tubuhnya
Menggerogoti jiwanya yang dipenuhi amarah
Tapi jauh disana, di dasar laut
Fir’aun terbaring tak berdaya
Dilingkupi kegetiram dan gelap kematian
Inikah tanda-tanda dari Tuhan
Takdir bagi para penindas
O mendekatlah padaku wahai Sarosh
Pengembara di daerah asing
Perempuan yang dari ujung rambutnya menetes embun
Memekarkan kuncup-kuncup
Tiuplah seruling keindahanmu
Agar sirna lah gelap yang terlentang di jalan panjangku
Sarosh :
Dalam sebuah bayangan,
Aku takut engkau mendayung bahteramu
Berlayar mabuk kehidupan
Dan engkau terselubungi saat kematian berangkat berlayar
Tatkala aku mencuci mataku
Dari logam putih Razi,
Buku itu mengajarkan padaku
Mengapa bangsa jatuh dan tumbuh
O halilintar, sambarlah setiap padang,
Setiap kebun lembah dan daratan
Atau engkau hanya akan mati pucat di kedalaman alam.
Sudah lama kau mencari ke barat
Sehingga aku tahu; manusia
Baik itu tinggi ataupun rendah
Tiada hidup berkembang dipadang pasir ini
Apabila pencarianmu adalah hasrat mendalam
Mawar, karena harummu
Kini kau menguasai seluruh taman
Ego juga akan mati
O Zahid, aku setuju
Ombak berhutang pada gelembung
yang kau gagal melihat fenomena ini
Abu Jahal :
Muhammad telah menghancurkan jiwaku,
nafasnya mematikan cahaya Ka’bah.
Dia menawan hati setiap manusia
dengan lagu Caesar, dengan takdir Khosre.
Ia telah mengalahkan kepercayaan nenek moyang kita
Sihirnya telah menggoda manusia dari dewa-dewa
Berserakan sudah ia menghancurkan Manat dan Lat.
Dendamlah kepadanya oh semesta.
Fir’aun :
Aku telah berjudi,
kehilangan akal sehat dan keimanan,
aku tidak mengetahui tentang cahaya ini.
Pandanglah aku wahai manusia dunia
yang berjuang mati-matian demi kesia-siaan.
Musuhilah  orang-orang yang buta oleh ketamakan,
yang tidak berbagi debu kuburan dalam pencarian batu berharga.
Tubuhku yang dimukimkan
Hanya dapat membisu
Demi mengisahkan kebutaan manusia
O aku harus mencari
hati yang mengetahui dari  Musa.
Musa duhai Musa!
Seandainya saja aku bisa bertemu dengannya sekali lagi.
BERTEMU DENGAN JIWA-JIWA SUCI. SUASANA HENING.
SEORANG BERTANYA KEPADA MEREKA
Wahai Hallaj.wahai Ghalib
Jiwa-jiwa suci yang memilih hidup diluar surga.
Kehidupan dan kematian hanyalah gejolak takdir,
tapi tidak seorang pun yang mengetahui hakekat sapuannya ?
Hallaj:
Engkau yang mengatakan
bahwa hidup telah ditakdirkan dan dirancang terlebih dahulu,
dan bahwa dunia mematuhi hukum yang kukuh,
engkau tidak melihat egomu dan Tuhanmu.
Seseorang :
Wahai engkau pencari keabadian,
singkapkanlah apa makna ayat ini:
“Merpati hanyalah kerak abu dan burung bul-bul hanyalah sangkar warna”                O gairah ratap tanda apakah yang dapat dirasakan oleh hati ?
Ghalib:
Ayat ini adalah mozaik indah yang berkilau
meskipun tanpa warna dan bayangan.
Engkau tidak mengetahui keindahan setiap hati di dunia ini.
Dunia warna dan bebauan hanya ditimbang oleh tangisan saja.
Luluhkan dirimu ke dalamnya atau lampauilah segala batas warna,
hingga engkau menemukan jejak kaki kepedihan.
Renungilah dengan seksama
perintah yang boleh dan yang tidak boleh:
Setiap saat dunia lahir.
Setiap detak usaha dunia akan dianugrahi oleh kasih dunia.
Seseorang :
Aku belum dapat menangkap kebenaran itu.
Apabila engkau membakar api dalam dirimu, bakarlah aku juga.
Hallaj:
Dimanapun engkau melihat dunia warna dan bebauan
tempat hasrat bermekaran selain dari debu,
maka akan mendapat anugerah dari nur Mustafa
atau dari pengembara-pengembara  dalam pencariannya.
Apabila engkau mati,
Bangkit dan berkunpullah dengan pandangan yang Satu
Untuk menemui pusat dan tujuan kehidupan;
Pahatlah kesatuan pemikiran dan perilaku
Agar engkau dapat meraih kedaulatan
JIWA-JIWA SUCI TELAH  PERGI. TINGGAL SESEORANG SENDIRI YANG MASIH BERTANYA.
Dimanakah dunia?
Siapakah aku?
Dan siapakah Engkau?
Mengapa harus ada jarak?
Mengapa aku terkungkung dalam rantai keimanan?
Mengapa Engkau hidup dan aku harus rusak dan mati?
SEBUAH SUARA MENJAWAB   PERTANYAAN ITU.
Engkau dibatasi oleh dinding-dinding dunia,
siapa yang hidup di dalamnya pasti mati.
Apabila engkau mencari hidup,
tinggalkan egomu akan kekayaan,
laluilah semua dimensimu.
Dengan cara ini engkau akan dapat mengerti dan melihat
siapakah dirimu dan siapakah diriKu.
Engkau akan mengetahui
mengapa engkau harus mati dan bagaimana engkau dapat hidup.
Seseorang:
O seandainya aku dapat melihat wajah Mu
dengan segenap keutuhannya secara langsung,
bayangan kesedihan dan wajah duka
akan dapat aku telusuri dihadapanMu.
Demi melihat keindahanMu
aku mengembara seperti angin.
Di setiap jalan dan tempat,
dari puri dan pintu aku terus melaju,
tidak akan pernah berhenti.
Ah, perihnya perpisahan.
Dari dasar mataku mengalirlah air mata darah
yang menggenangi sungai dan ceruk dengan warna merah tua;
Sungai dan air mata yang hening dan bening
dilukisi seperti warna merah.
Kepedihan cintaku mengaduk-aduk cintaMu
di kedalaman tekstur jiwaku.
Ia membelokkan dan menyalaki setiap tambalan
dan benang yang menelusuri kainnya.
    
Zaman telah terbelenggu oleh rantai-rantai intelek
Akan kemana jiwa-jiwa resah sepertiku
Kehidupan telah lama melingkup diri untuk mepercantik diri
Jangan tersinggung bila kukatakan
Bumimu haus birahi manusia
Adalah membahagiakan,
bila Engkau dapat menemui hati
Yang masih bergetar di padang gersang ini
Engkau adalah rembulanku
Terangi rumah gulitaku dan jenguklah gundahku
Untuk sejenak waktu
Mengapa api malu membakar sehelai jerami?
Mengapa petir takut menggelegar?
Perjalanan terbang ke surga
Adalah sebuah kerinduan atas manusia
Yang akan bersaksi untuk-Nya
Jika tidak atas kerelaan dari-Nya 
Hidup kita hanyalah permainan warna-warna dan bebauan
Tiada yang tergak dihadapan yang keindahannya
Selain yang telah mencapai kesempurnaan
Wahai butiran pasir
Jangan sampai pendar cahayamu hilang
Egomu hendaknya engkau kencangkan
Cahamu bertambah cerah
Lalu hadapkan wajahmu pada matahari
Jika engkau dapat berubah dan berhasil dalam ujian
Engkau akan hidup dan dipuja
Atau bila tidak,
Api kehidupanmu akan menjadi asap dan lenyap begitu saja

1) Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001),  hal. 869.
2) Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), Cet. VI, hal. 37.
3) Ibid., hal. 232.
4) Slamet Muhaimin Abda, Pinsip-prinsip Metodelogi Dakwah, (Surabaya: Al-Ikhlash, 1994), hal. 29.
5) Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Op.cit., hal. 851.
6) Hamdy Salad, “Terompah Kaki Teater ESKA,” dalam Lephen Purwaraharja (edit), Ideologi Teater Modern Kita, (Yogyakarta: Pustaka Ghondo Suli, 2000), hal. 48.
7) Hamdy Salad, Op.cid., hal. 46. Juga pada Sapardi Djoko Damono, Direktori Seni dan Budaya Indonesia 2000, (Surakarta: Yayasan Kelola, 2000), hal. 191.
8) Hamdy Salad, Op.cid., hal. 46. Juga pada Sapardi Djoko Damono, Direktori Seni dan Budaya Indonesia 2000, (Surakarta: Yayasan Kelola, 2000), hal. 191.
10) Miranda Risang Ayu, “Problema Pengembangan Seni Kontemporer Islam”, dalam Aswab Mahasin dkk., (edit), Ruh Islam dalam Budaya Bangsa: Konsep Estetika, (Jakarta: Yayasan Festival Istiqlal, 1996), hal. 35.
11) Muhammad Anis Matta, “Seni Islam: Format Estetika dan Muatan Nilai”, pada Aswab Mahasin dkk. (edit), Op.cit., hal. 28. Lihat juga Hamdy Salad, Agama Seni, (Yogayakarta: Yayasan Semesta, 2000), hal. 53-56
12) Hamdy Salad, Ibid., hal.  58.
13) Ibid.,
14) Ibid., hal. 59.
15) Seperti yang dikutip oleh Alimatul Qitbiyah, “Aplikasi Teori Bandura Terhadap Dakwah”, dalam Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah, No. 02, Th. II, Januari-Juni 2001, hal. 66-67.
16) Hamdy Salad, Op.cit., hal. 61.
17) Ibid., hal. 62.
18) Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Op. Cit., hal. 851.
19) Ibid., hal. 822.
20) Yudiaryani, Panggung Teater Dunia,, (Yogayakarta: Pustaka Gondho Suli, 2002),   hal. 15.
21) Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasioanal, Op. Cit., hal. 1219.
22) Yudiaryani, Op. Cit., hal. 20.
23)Moh. Kanzunnudin, Kamus Istilah Drama, (Semarang: Yayasan Adhigama, 1995),        hal. 74.
24) Yudiaryani , Op. Cit., hal 227-228.
25) Ibid., hal. 229.
26) Ibid., hal. 230.
27) Ibid., hal. 235-236
28) Moh. Kanzunnidin, Loc. Cit., Bandingkan dengan Yudiaryani Op. Cit., hal. 344-345.
29) Yudiaryani, Ibid., hal. 229.
30) Suyatna Anirun, Menajdi Aktor: Pengantar Kepada Seni Peran untuk Pentas dan Sinema, (Bandung: Studiklub Teater Bandung, 1998), hal. 43.
31) Yudiaryani, Op. Cit., hal. 12.
32)Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Op. Cit. hal. 972
33) Ibid., hal. 1158.
34)Tjoktroatmojo, Pendidikan Seni Drama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1988), hal. 62.
35)RMA. Harymawan, Dramaturgi, (Bandung: PT. Rosdakarya, 1993), hal. 108.
36) Ibid., hal. 134.
37) Moh. Kamzunnudin, Op. Cit., hal. 75.
38) Ibid., hal. 76.
39) Ibid., hal. 75.
40) Tjokroatmojo, Op. Cit., hal. 71.
41) Yudiaryani, Op. Cit., hal. 14
42) RMA. Harymawan, Op. Cit., hal. 146
43) Adhi Asmara, Apresiasi Drama, (Yogyakarta: Timbul, 1984), hlm. 97. Juga pada Drs. Moh. Kanzunnudin, Loc. Cit.,
44) Yudiaryani, Op. Cit., hal. 347-348.
45) Toha Omar Yahya, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Widjaya: 1983), hal. 1. Lihat Juga A. Rasyid Sholeh, Manajement Dakwah Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hal. 17. Dan juga Slamet Muhaimin Abda, Prinsif-Prinsif Metodelogi Dakwah, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1994), hal. 29.
46) A. Rasyid Sholeh, Op. Cit.,  hal. 18.
47) Slamet Muhaimin Abda, Loc.cit.,
48) Menurut E.S. Anshari dalam Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta:   CV. Gaya Media Pratama, 1987), Cet. I, hal. 32.
49) Toha Omar Yahya, Loc. Cit.,
50) Andy Dermawan, “Strategi Dalam Dakwah Pendekatan Rasional Transendental”, dalam Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies,  Vol. 40, No. 1, Januari-June 2002, hal. 163. Juga dikutip oleh Alimatul Qibtiyah, “Aplikasi Teori Bandura Terhadap Dakwah”, dalam Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah, No. 02, Th. II, Januari-Juni 2001,  hal. 71.
51) A. Rasyid Sholeh, Op. Cit., hal. 19-20.
52) Departemen Agama RI, Al-qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: PT. Bumi Restu, 1974), hal. 93.
53) An-Nawawiy, Imam Abu Zakaria Yahya bin Syarif, Riyadush Sholihin, terj. Salim Bahsery, (Bandung: Al-Ma’arif, 1986), hal. 197.
54) A. Rasyid Sholeh, Op. Cit., hal. 29.
55) Ibid., hal. 31.
56) Ibid., hal. 34.
57) Departemen Agama RI, Op. Cit., hal. 49.
58) A. Rasyid Sholeh, Op.cit, hal. 37.
59) Ibid., hal. 38.
60) Marwah Daud Ibrahim, , Teknologi Emansipasi dan Transedensi: Wacana Peradaban dengan visi Islami, (Bandung: Mizan, 1994), hal. 195.
61) Khoiru Ummatin, “Kontekstualisasi Misi Dakwah Islam”, dalam Jurnal Dakwah; Media Komunikasi dan Dakwah, Nomor 03,  Th. II, Juli-Desember 2001, hal. 26-27.
62) Marwah Daud Ibrahim. Op. cit., hal. 193.
63) Ibid., hal. 195.
64) Toto Tasmara, Op. cit., hal. 39.
65) Marwah Daud Ibrahim, ibid., hal. 193.
66) S. Noor Chozin Sufri, “Dakwah dalam Perspektif Hasan Al-Bana”, dalam  Al-Jami’ah: Juornal of Islamic Studies, Vol. 38, Nomor 2, 2002, hal. 450.
67) Ibid., hal. 441.
68) Musthofa, “Emotional Intelegence Sebagai Sarana Bagi Da’I dalam Meningkatkan Efektifitas Dakwah”,  dalam Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah, Nomor 03, Th. II, Juli-Desember 2001, hal. 105-111. Juga pada Casmini, “Arti Penting Kecerdasan Emosi (Emotional Intelegence) dalam Dakwah”, dalam Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah, Nomor 02, Th. II, Januari-Juni 2001, hal. 98-107.
69) Jalaluddin Rakhmat, Psykologi Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1985),      hal. 264-275.
70) Marwah Daud Ibrahim, Loc. Cit.,
71)Slamet Muhaimin Abda, Op. Cit., hlm. 53-54.
72) Marwah Daud Ibrahim, Lock. Cit.,
73) Barmawie Umary, Azaz-azaz Ilmu Dakwah, (Solo: CV. Ramadhan, 1987), hal. 56.
74) Departemen Agama RI, Op. Cit., hal. 421.
75) H. Nasrudin Harahap, Dakwah Pembangunan, (Yogyakarta: DPD. GOLKAR Tk. I, 1992), hal. 15. Juga pada Slamet Muhaimin Abda, Op. Cit., hal. 80.
76) Seperti yang dikutip oleh Alimatul Qitbiyah, Op. Cit., hal. 66-67
77) A. Rasyid Sholeh, Op. Cit., hal. 83.
78) Ibid., hal. 84.
79)  Slamet Muhaimin Abda, Op. Cit., hal 89. Juga pada Marwah Daud Ibrahim, Op. Cit.,    hal. 194.
80) A. Hasjmy, Dustur Dakwah Menurut Al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974),           hal. 266-291.
[1]) Diolah dari sebuah artikel “Proses Kreatif Penulisan Puisi” oleh Hamdy Salad, Kedaulatan Rakyat, 28 April 2002 dan artikel puisi “Puisi; Dari Kata-Kata Menuju Makna, Kedaulatan Rakyat, 27 Januari 2002, serta berdasarkan hasil wawancara dengan Hamdy Salad tanggal 16 April 204.
81) Dr. Alo Lileweri, Gatra-gatra Komunikasi Antar Budaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hal. 111.
82) Siti Chamah Soeratno, “Penelitian Sastra, Tinjauan Tentang Teori dan Metodelogi: Sebuah Pengantar”, dalam Jabrohim dan Ari Wulandari (edit.), Metodelogi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya, 2001), hal. 9.
83) Burhan Nurgiyanto, Teori Pengkajian Fiksi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2000), Cet. III, hal. 275.
84) (Wellek dan Werren, 1956: 22-23) dalam Burhan Nurgiyantoro, Ibid., hal. 273.
85) Siti Chamamah Soeratno, Op.cit., hal 10. Lihat juga Burhan Nurgiyantoro, Op.cit.,         hal. 39.
86) Ismanto, “Penelitian Sastra dalam Presfektif Strukturalisme Genetika”, dalam Jabrohim dan Ari Wulandari (edit)., Op.cit., hal 59.
87) Ibid., hal. 61.
88) Made Suhada, Pembinaan Kritik Sastra Indonesia dan Masalah Sistematika Analisisi Struktur Fisik, (Bandung: Angkasa, 1987), hal. 48
89) Siti Chamah Soeratno, Lock.Cit., Juga Pada Burhan Nurgiyantoro, Ibid., hal. 40-41.
90) Suminto A. Suyuti, Nilai-nilai Didaktis Sastra,  Makalah Seminar Nasional, UMY, Yogyakarta 14-15 Januari 1992.
91) Marwah Daud Ibrahim, Op.cit,  hal. 91.
92) Made Suhada, Loc.cit.,
93) Burhan Nurgiayantoro, Op.cit., hal. 321.
94) Ibid.
95) Ibid., hal. 322.
96) Ibid., hal. 335.
97) YB. Mangunwijaya, Sastra dan Relegiusitas, (Jakarta: Sinar Harapan, 1982), hal. 11.
98) Burhan Nurgiyantoro, Op.cit., hal 327.
99) YB. Mangunwijaya, Op.cit., hal. 12. 
100) Burhan Nurgiyantoro, Op.cit., hal. 330-331.
101) Ibid., hal. 335-342.
102) Adi Triyono, “Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Penelitian Sastra”, dalam Jabrohim dan Ari Wulandari (edit), Op.cit., hal. 23.
103) Tirto Suwondo, “Analisis Struktural: Salah Satu Model Pendekatan dalam Penelitian Sastra” dalam Ibid., hal. 53.
104) Lebih jauh tentang Resepsi Sastra dan penerapan beserta contoh-contohnya dibahas oleh Umar Yunus, Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar, (Jakarta: PT. Gramedia, 1985). Juga pada KM. Newton, Menafsirkan Teks, (Semarang: IKIP Semarang Press, 1994), bagian “Teori Penerimaan dan Kritik Tanggapan Pembaca” hal. 157-185.
105) Imran T. Abdullah “Resepsi Sastra: Teori dan Penerapannya” Dalam Jabrohim dan Ari Wulandari (edit), Op.cit., hal. 108.
106)Jausz, 1975: 204 via Imran T. Abdullah, Ibid.,   hal. 109.
107) A. Teew, Membaca dan Menilai Sastra, (Jakarta: PT. Gramedia, 1983), hal. 21.
108) Segers, 1978: 41 via Imran T. Abdullah, Lock. Cit.,
109) Ibid.,
110) Iser, 1980: 12 via Imran T. Abdullah, Ibid.,
111) Riffaterre, 1979: 94 via Imran T. Abdullah, Ibid., hal. 110.
112) S. Nasution, Metodelogi Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung: Tarsito, 1988),    hal. 17.
113) Lexy Moloeng, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 1998), Cet. IX, hal. 2.
114) Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Bina Usaha, 1989), hal. 102.
115) Tatang M. Arifin, Menyusun Rencana Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafika Persada, 1995), hal. 92-93.
116) Ratna Indriani, “Populasi dan Sampel dalam Penelitian Sastra”, dalam Jabrohim dan Ari Wulandari (edit), Metodelogi Penelitian Sastra, (Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya, 2001),  hal. 40. Lihat juga S. Nasution, Op. Cit., hal. 11. Juga pada Lexy J. Moloeng, Op. Cit.,  hal. 165.
117) Sutrisno Hadi, Metodelogi Reserch, (Yogyakarta: Fak. Filsafat UGM, 1991), hal.136.
118) Lexy J. Moloeng, Op. Cit., hal. 138-139. Lihat juga Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1997), Edisi  ketiga, Cet. XIV,       hal. 138.
119)Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Bina Usaha, 1989), hal. 62.
1) Telah dicek ulang oleh Deddy Hilman Haroen pada tanggal 29 April 2004.
2) Agus Muhammad, “Teater ESKA: Lahir Dari Sebuah Keprihatinan”, dalam Epilog, Risalah Badai, Antologi Puisi Bersama, (Yogyakarta: Ittaqa Press, 1995),          hal. 63.
3) Ibid.
4) Hamdy Salad, “Terompah Kaki Teater ESKA”, dalam Lephen Purwaraharja (edit), Ideologi Teater Modern Kita, (Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli, 2000), hal. 46. Juga pada Sapardi Djoko Damono (edit), Direktori Seni dan Budaya Indonesia 2000, (Surakarta: Yayasan Kelola, 2000), hal. 191.
5) Hamdy Salad, Ibid.,
6) Ibid.,
7) Ibid.,hal. 67.
8)Hamdy Salad,Op.cit., hal. 47-48.
9) Wawancara dengan Ismail Marzuki, Ketua Teater ESKA Periode 2003-2005, tanggal 21 dan 23 Maret 2004.
10) AD/ART Teater ESKA IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2003.
11) John M. Bryson, Perencanaan Strategis bagi Organisasi Sosial, (terj. M. Miftahuddin), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hal. 112.
12) Mansour Faqih, “Perencanaan Strategis untuk Organisasi Sosial” Pengantar pada John M. Bryson, Ibid, hal. xvii-xviii.
13) AD/ART Teater ESKA IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2003.
14) Hamdy Salad, Op. Cit., hal. 46-47.
15) Arsip Pengurus Teater Eska Periode 2003-2005, Berdasarkan SK. Rektor No. 30 Tahun 2003, Tanggal 5 Maret 2003.
16) Arsip Teater ESKA Periode 2003-2005, Berdasarkan Raker Pengurus tanggal 12 Februari 2003.
17)Diolah dari AD/ART Teater ESKA hasil Rembug Warga 2003, wawancara dengan Ismail Marzuki Ketua Teater ESKA periode 2003-2005 pada tanggal 21 dan 23 Maret 2004. Dan telah dicek ulang oleh senior Teater ESKA (Bachrum Bunyamin, Hamdy Salad, Abidah el-Khaleqy, Otto Sukatno CR., dan Kajey Habeb).
18)Lambang Teater ESKA pada lampiran I.
19) Hamdy Salad, Ibid., hal. 48.
20) Ibid., hal. 49.
21) Ibid., hal. 49-50.
22) Marhalim Zaini, “Teater Eska IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta: Mengusung Ideologi” dalam Jurnal Stambul/Januari-Maret/Edisi 1/Th. I/2003, hal. 16.
23) Hamdy Salad, Loc.cit.,
24) Diolah dari beberapa Booklet Pementasan Teater ESKA, Telah diteliti ulang oleh Try Ernawati (Bagian Kesekretariatan, Kepengurusan Teater ESKA periode 2003-2005), pada tanggal 20 April 2004.
25) Diolah dari Harian Bernas, edisi Selasa Pahing 12 Desember 2000 dan Booklate Pementasan. Wawancara dengan Hamdy Salad, tanggal 29-30 Maret dan 16 April 2004,  dan Otto Sukatno CR, tanggal 31 Maret dan 16 April 2004.
26)Marhalim Zaini, Loc.cit.,
27) Sumber: booklet pementasan Teater ESKA. Telah diteliti ulang oleh Try Ernawati, Bagian Kesekretariatan, Kepengurusan Teater ESKA periode 2003-2005, tanggal 20 April 2004.
28) Sumber: booklet pementasan Teater ESKA dan para penulis.
[2]) Diolah dari wawancara dengan Hamdy Salad tanggal 29-30 Maret dan 16 April 2004 dan tulisannya tentang seni dakwah dalam Agama Seni, (Yogyakarta: Yayasan Semesta, 2000), Dan telah dicek ulang oleh senior Teater ESKA (Bachrum Bunyamin, Hamdy Salad, Abidah el-Khaleqy, Otto Sukatno CR., dan Kajey Habeb).
4)Diolah dari wawancara dengan Faaizi L. Kaelan tanggal 10-12 April 2004 dan Edeng syamsul Ma’arif 25-26 April 2004.
5)Diolah dari wawancara dengan Faaizi L. Kaelan, 10-12 April 2004, wawancara dengan Edeng Syamsul Ma’arif tanggal 25-26 April 2004 dan wawancara dengan Joni Aryadinata tanggal 6-7 Mei 2004, serta analisa terhadap naskah pementasan “Keluk Gurindam”.
6)Nukilan dari naskah pementasan tadarus puisi “Keluk Gurindam”. Bandingkan dengan puisi Taufik Ismail yang senada “Hamzah Fansuri: Sebutir Binang yang Mengirim Cahaya” dalam Bre Redana (edit.), Puisi Tak Pernah Pergi, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003), hal. 112.
7)Diolah dari wawancara dengan Solichul Hadi pada tanggal 20-22 April 2004 dan tulisan Muhammad Diponegoro dkk., Dialog dengan al-Qur’an, (Yogyakarta: Nafiri, 1979), dan Taufiq Ismail dkk., (edit)., Dari Fansuri sampai Handayani: Sastra Indonesia dalam Program SBSB 2001, (Jakarta: Horison, Kaki Langit, The Ford Foundation, 2001).
8)Diolah dari Wawancara dengan Solichul Hadi tanggal 20-22 April 2004 dan Rusmansyah tanggal  22 April 2004.
9)Diolah dari “Refleksi Lewat Tadarus Puisi”, Bernas terbitan Selasa Pahing, 12 Desember 2000. Wawancara  dengan Solichul Hadi pada tanggal 20-22 April 2004, dan Imam Budi Santosa pada tanggal 4 Mei 2004, serta analisa Naskah Pementasan Tadarus Puisi “Kabar Dari Langit”. dengan rujukan Ahmad Musthofa Al-Maragiy, Terjemah Tafsir Al-Maraghiy, (Semarang: CV. Toha Putera, 1989), Juz 29 dan 30 dan HAMKA, Tafsir al-Azhar, (Surabaya: Pustaka Islam, 1983), cet. IV, Juz 29 dan 30.
10) Nukilan Puisi “Suluk” karya Adi Wicaksana pada naskah Pementasan Tadarus Puisi Kabar Dari Langit.
11) Diolah dari wawancara dengan Zuhdi Siswanto tanggal 3-5 April  2004 dan beberapa buku seperti Eva Mayerovich, Pengantar alih bahasa Prancis dalam Mohammad Iqbal, Javid Namah, (terj. Dr. Mohamad Sodikin, Dsc.,), (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1987), hal. xiii-xv, dan Annemarie Schimmel, Dan Muhammad adalah Utusan Allah: Penghormatan Terhadap Nabi SAW dalam Islam, (Bandung: Mizan, 1991), hal. 237-238, 301, 316, 317, 324, 326, 330. Juga pada Abu Hasan Ali al-Husin an-Nadwi, Percikan Kegeniusan Dr. Muhammad Iqbal, (Bandung: INTEGRITA Press, 1985), hal. 44-49 dan 176-179.
12) Diolah dari wawancara dengan Zuhdi Siswanto tanggal 3-5 April  2004.
13) Diolah dari wawancara dengan Zuhdi Siswanto tanggal 3-5 April 2004, dan Bambang JP. tanggal 10 Mei 2004, serta analisa terhadap naskah pementasan “ Ziarah Abadi”.
14)Nukilan naskah pementasan Tadarus Puisi “Ziarah Abadi”.
15) Ibid.,
16) Ibid.,
 
unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "PESAN DAKWAH DALAM PEMENTASAN TADARUS PUISI TEATER ESKA IAIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA"