Syekh Imam al-Ghazali

Tidak ada komentar 95 views
unmetered
unlimited
Sejarah Biografi Wali Qutub, Ulama Sufi Tasawuf, Pendiri Tarekat,  Ajaran Tasawuf
Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Dia adalah seorang teolog Islam , ahli hukum , filsuf , kosmologi , psikolog dan mistik dari Persia dan tetap salah satu yang paling diakui dalam sejarah Sunni dan khazanah pemikiran Islam. Dia juga yang memperpadukan dan menjadikan tasawuf dapat sejalan dengan syariat Islam. Dia dianggap sebagai pelopor methodic keraguan dan skeptisisme. Dalam salah satu buah karya utamanya, The inkoherensi dari para filsuf , dia mengubah arah filsafat Islam awal , pergeseran itu jauh dari metafisika Islam dipengaruhi oleh Yunani kuno dan Helenistik filsafat , dan menuju filsafat Islam berdasarkan sebab-akibat yang ditentukan oleh Allah atau antara malaikat , suatu teori yang kini dikenal sebagai occasionalism .

Ghazali memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan pandangan sistematis Sufisme dan integrasi dan penerimaan dalam Islam mainstream. Dia adalah seorang sarjana Islam Sunni, milik Syafi’i sekolah Islam yurisprudensi dan ke Asharite sekolah teologi . Ghazali menerima gelar banyak seperti Sharaful A’imma, Zainuddin, Hujjatul Islam, yang berarti (Proof of Islam). Dia dipandang sebagai anggota kunci dari sekolah Asharite berpengaruh filsafat Islam awal dan paling penting refuter Mu”tazilites . Namun, ia memilih posisi sedikit berbeda dibandingkan dengan Asharites; keyakinan dan pikirannya berbeda, dalam beberapa aspek, dari sekolah Asharite.

Selain karyanya yang berhasil mengubah program filsafat Islam-awal Islam Neoplatonisme yang dikembangkan atas dasar filsafat Helenistik, misalnya, begitu berhasil membantah dengan Ghazali yang tidak pernah sembuh-ia juga membawa ortodoks Islam waktu di kontak dekat dengan Sufisme . Para teolog ortodoks masih pergi cara mereka sendiri, dan begitu juga dengan mistik, tapi keduanya mengembangkan rasa saling menghargai yang memastikan bahwa tidak ada penghukuman menyapu bisa dilakukan oleh satu untuk praktek-praktek yang lain. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.

Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau

Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali).

Sebagian lagi mengatakan penyandaran nama beliau kepada pencaharian dan keahlian keluarganya yaitu menenun. Sehingga nisbatnya ditasydid (Al Ghazzali). Demikian pendapat Ibnul Atsir. Dan dinyatakan Imam Nawawi, “Tasydid dalam Al Ghazzali adalah yang benar.” Bahkan Ibnu Assam’ani mengingkari penyandaran nama yang pertama dan berkata, “Saya telah bertanya kepada penduduk Thusi tentang daerah Al Ghazalah, dan mereka mengingkari keberadaannya.” Ada yang berpendapat Al Ghazali adalah penyandaran nama kepada Ghazalah anak perempuan Ka’ab Al Akhbar, ini pendapat Al Khafaji.

Yang dijadikan sandaran para ahli nasab mutaakhirin adalah pendapat Ibnul Atsir dengan tasydid. Yaitu penyandaran nama kepada pekerjaan dan keahlian bapak dan kakeknya (Diringkas dari penjelasan pentahqiq kitab Thabaqat Asy Syafi’iyah dalam catatan kakinya 6/192-192). Dilahirkan di kota Thusi tahun 450 H dan memiliki seorang saudara yang bernama Ahmad (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/326 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193 dan 194).

Kehidupan dan Perjalanannya Menuntut Ilmu

Ayah beliau adalah seorang pengrajin kain shuf (yang dibuat dari kulit domba) dan menjualnya di kota Thusi. Menjelang wafat dia mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, “Sungguh saya menyesal tidak belajar khat (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya.”

Setelah meninggal, maka temannya tersebut mengajari keduanya ilmu, hingga habislah harta peninggalan yang sedikit tersebut. Kemudian dia meminta maaf tidak dapat melanjutkan wasiat orang tuanya dengan harta benda yang dimilikinya. Dia berkata, “Ketahuilah oleh kalian berdua, saya telah membelanjakan untuk kalian dari harta kalian. Saya seorang fakir dan miskin yang tidak memiliki harta. Saya menganjurkan kalian berdua untuk masuk ke madrasah seolah-olah sebagai penuntut ilmu. Sehingga memperoleh makanan yang dapat membantu kalian berdua.”

Lalu keduanya melaksanakan anjuran tersebut. Inilah yang menjadi sebab kebahagiaan dan ketinggian mereka. Demikianlah diceritakan oleh Al Ghazali, hingga beliau berkata, “Kami menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.” (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/193-194).

Beliau pun bercerita, bahwa ayahnya seorang fakir yang shalih. Tidak memakan kecuali hasil pekerjaannya dari kerajinan membuat pakaian kulit. Beliau berkeliling mengujungi ahli fikih dan bermajelis dengan mereka, serta memberikan nafkah semampunya. Apabila mendengar perkataan mereka (ahli fikih), beliau menangis dan berdoa memohon diberi anak yang faqih. Apabila hadir di majelis ceramah nasihat, beliau menangis dan memohon kepada Allah ta’ala untuk diberikan anak yang ahli dalam ceramah nasihat.

Kiranya Allah mengabulkan kedua doa beliau tersebut. Imam Al Ghazali menjadi seorang yang faqih dan saudaranya (Ahmad) menjadi seorang yang ahli dalam memberi ceramah nasihat (Dinukil dari Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/194).

Imam Al Ghazali memulai belajar di kala masih kecil. Mempelajari fikih dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Ar Radzakani di kota Thusi. Kemudian berangkat ke Jurjan untuk mengambil ilmu dari Imam Abu Nashr Al Isma’ili dan menulis buku At Ta’liqat. Kemudian pulang ke Thusi (Lihat kisah selengkapnya dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/195).

Beliau mendatangi kota Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini dengan penuh kesungguhan. Sehingga berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafi’i dan fikih khilaf, ilmu perdebatan, ushul, manthiq, hikmah dan filsafat. Beliau pun memahami perkataan para ahli ilmu tersebut dan membantah orang yang menyelisihinya. Menyusun tulisan yang membuat kagum guru beliau, yaitu Al Juwaini (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191).

Setelah Imam Haramain meninggal, berangkatlah Imam Ghazali ke perkemahan Wazir Nidzamul Malik. Karena majelisnya tempat berkumpul para ahli ilmu, sehingga beliau menantang debat kepada para ulama dan mengalahkan mereka. Kemudian Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad dan memerintahkannya untuk pindah ke sana. Maka pada tahun 484 H beliau berangkat ke Baghdad dan mengajar di Madrasah An Nidzamiyah dalam usia tiga puluhan tahun. Disinilah beliau berkembang dan menjadi terkenal. Mencapai kedudukan yang sangat tinggi.

Pengaruh Al-Ghazali
Ghazali memainkan peran yang sangat besar dalam mengintegrasikan tasawuf dengan hukum Islam ( Syariah ). Ia menggabungkan konsep tasawuf yang sangat baik dengan hukum Syariah. Dia juga yang pertama untuk memberikan deskripsi formal Sufisme dalam karya-karyanya. Karya-karyanya juga memperkuat status Islam Sunni melawan sekolah lain. The Batinite ( Ismailism ) telah muncul di wilayah Persia dan memperoleh kekuasaan lebih dan lebih selama periode Ghazali’s, sebagai Nizam al-Mulk dibunuh oleh anggota Ismailiyah. Ghazali membantah tegas ideologi mereka dan menulis beberapa buku tentang sanggahan terhadap Baatinyas yang melemah secara signifikan status mereka.

Ijtihad adalah proses di mana ulama Islam dapat menghasilkan peraturan baru bagi umat Islam. Ijtihad adalah salah satu sumber pengetahuan Islam yang diakui oleh para sarjana Islam awal – yaitu, di samping Quran, Sunnah dan qiyas . Meskipun tidak secara luas disepakati bahwa Ghazali sendiri dimaksudkan untuk “menutup pintu ijtihad” lengkap dan permanen, seperti interpretasi karya Ghazali diyakini telah menyebabkan masyarakat Islam sebagai “membeku dalam waktu”. Karya-karya kritik Ghazali (seperti Ibn Rusyd, rasionalis a), serta karya-karya setiap filsuf kuno, diyakini telah dilarang dalam “masyarakat beku” selama berabad-abad. Akibatnya, semua peluang hilang secara bertahap merevitalisasi agama – yang mungkin telah kurang menyedihkan itu telah menyebar selama berabad-abad.

Apakah hasil sebenarnya “pembekuan pemikiran Islam pada waktunya” adalah tujuan Ghazali adalah sangat bisa diperdebatkan. Sementara ia sendiri adalah seorang kritikus para filsuf, Ghazali adalah seorang master dalam seni filsafat dan telah sangat mempelajari lapangan. Setelah sekian lama dalam filsafat pendidikan, serta proses refleksi panjang, ia mengkritik metode filosofis . Tapi hanya mengambil kesimpulan akhir Ghazali, sementara kurang pendidikan sebanding (dan proses refleksi) di daerah itu, dan sebagai akibatnya tidak bisa melacak Ghazali dalam proses pemikirannya, hanya memperburuk kemungkinan penyalahgunaan kesimpulan Ghazali.

Pandangan tradisional, bagaimanapun, telah dibantah oleh beasiswa baru-baru ini, yang telah menunjukkan bahwa kegiatan ilmiah dan filosofis terus berkembang di dunia Islam lama setelah dia. Sebagai contoh, Dimitri Gutas dan Ensiklopedia Stanford Filsafat mempertimbangkan periode antara dan 14 abad ke-11 untuk menjadi ” Golden Age “dari bahasa Arab dan filsafat Islam, yang diprakarsai oleh sukses integrasi’s Ghazali dari logika ke dalam Islam seminari Madrasah kurikulum. Emilie Savage-Smith juga telah menunjukkan bahwa Ghazali adalah sumber dorongan untuk studi kedokteran di abad pertengahan Islam , dan bahwa dukungannya untuk studi anatomi berpengaruh dalam kebangkitan pembedahan dilakukan antara dokter Muslim di abad ke-12 dan 13 .

Margaret Smith menulis dalam bukunya Al-Ghazali: The Mystic (London 1944): “Tidak ada keraguan bahwa karya-karya Ghazali akan menjadi orang yang pertama yang menarik perhatian para sarjana Eropa” (halaman 220). Lalu ia menekankan,

“Yang paling besar di antaranya penulis Kristen yang dipengaruhi oleh Al-Ghazali adalah St Thomas Aquinas (1225-1274), yang membuat studi dari para penulis Islam dan mengakui hutang kepada mereka. Ia belajar di Universitas Naples di mana mempengaruhi sastra Islam dan kebudayaan yang dominan pada waktu itu. ”

pengaruh Ghazali telah dibandingkan dengan karya Thomas Aquinas dalam teologi Kristen, tetapi dua sangat berbeda dalam metode dan keyakinan. Sedangkan Ghazali menolak filsafat metafisika Yunani seperti Aristoteles dan melihat itu cocok untuk menyanggah metafisik ajaran-ajaran mereka atas dasar “irasionalitas mereka”, Aquinas memeluk filsuf non-Kristen dan dimasukkan Yunani kuno, Latin dan pemikiran Islam ke dalam tulisan-tulisannya sendiri filosofis.

“Sebuah penelitian yang cermat karya Ghazali akan menunjukkan bagaimana menembus dan meluas pengaruhnya adalah pada para tokoh abad pertengahan Barat. Salah satu contoh adalah pengaruh Ghazali di St Thomas Aquinas – yang mempelajari karya-karya para filsuf Islam, khususnya Ghazali, di Universitas Naples . Selain itu, ‘bunga Aquinas dalam studi Islam dapat dihubungkan dengan infiltrasi’ bahasa Latin Averroism ‘di abad ke-13, khususnya di [Universitas] Paris “. [38]

sarjana Sebuah telah mencatat kesamaan antara Descartes Wacana pada Metode dan pekerjaan Ghazali, tapi berhenti singkat argumentasi bahwa Ghazali dipengaruhi Descartes kekurangan bukti untuk ini. [5] Penulis George Henry Lewes bahkan lebih jauh lagi dengan menyatakan bahwa “punya terjemahan itu [Kebangkitan Ilmu Agama] pada zaman Descartes ada, setiap orang memiliki berseru terhadap plagiarisme itu “.

Pengaruh Filsafat Dalam Dirinya

Pengaruh filsafat dalam diri beliau begitu kentalnya. Beliau menyusun buku yang berisi celaan terhadap filsafat, seperti kitab At Tahafut yang membongkar kejelekan filsafat. Akan tetapi beliau menyetujui mereka dalam beberapa hal yang disangkanya benar. Hanya saja kehebatan beliau ini tidak didasari dengan ilmu atsar dan keahlian dalam hadits-hadits Nabi yang dapat menghancurkan filsafat. Beliau juga gemar meneliti kitab Ikhwanush Shafa dan kitab-kitab Ibnu Sina. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Al Ghazali dalam perkataannya sangat dipengaruhi filsafat dari karya-karya Ibnu Sina dalam kitab Asy Syifa’, Risalah Ikhwanish Shafa dan karya Abu Hayan At Tauhidi.” (Majmu’ Fatawa 6/54).

Hal ini jelas terlihat dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perkataannya di Ihya Ulumuddin pada umumnya baik. Akan tetapi di dalamnya terdapat isi yang merusak, berupa filsafat, ilmu kalam, cerita bohong sufiyah dan hadits-hadits palsu.” (Majmu’ Fatawa 6/54).

Demikianlah Imam Ghazali dengan kejeniusan dan kepakarannya dalam fikih, tasawuf dan ushul, tetapi sangat sedikit pengetahuannya tentang ilmu hadits dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusnya menjadi pengarah dan penentu kebenaran. Akibatnya beliau menyukai filsafat dan masuk ke dalamnya dengan meneliti dan membedah karya-karya Ibnu Sina dan yang sejenisnya, walaupun beliau memiliki bantahan terhadapnya. Membuat beliau semakin jauh dari ajaran Islam yang hakiki.

Adz Dzahabi berkata, “Orang ini (Al Ghazali) menulis kitab dalam mencela filsafat, yaitu kitab At Tahafut. Dia membongkar kejelekan mereka, akan tetapi dalam beberapa hal menyetujuinya, dengan prasangka hal itu benar dan sesuai dengan agama. Beliau tidaklah memiliki ilmu tentang atsar dan beliau bukanlah pakar dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat mengarahkan akal. Beliau senang membedah dan meneliti kitab Ikhwanush Shafa. Kitab ini merupakan penyakit berbahaya dan racun yang mematikan. Kalaulah Abu Hamid bukan seorang yang jenius dan orang yang mukhlis, niscaya dia telah binasa.” (Siyar A’lam Nubala 19/328).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Hamid condong kepada filsafat. Menampakkannya dalam bentuk tasawuf dan dengan ibarat Islami (ungkapan syar’i). Oleh karena itu para ulama muslimin membantahnya. Hingga murid terdekatnya, (yaitu) Abu Bakar Ibnul Arabi mengatakan, “Guru kami Abu Hamid masuk ke perut filsafat, kemudian ingin keluar dan tidak mampu.” (Majmu’ Fatawa 4/164).

Polemik Kejiwaan Imam Ghazali

Kedudukan dan ketinggian jabatan beliau ini tidak membuatnya congkak dan cinta dunia. Bahkan dalam jiwanya berkecamuk polemik (perang batin) yang membuatnya senang menekuni ilmu-ilmu kezuhudan. Sehingga menolak jabatan tinggi dan kembali kepada ibadah, ikhlas dan perbaikan jiwa. Pada bulan Dzul Qai’dah tahun 488 H beliau berhaji dan mengangkat saudaranya yang bernama Ahmad sebagai penggantinya.

Pada tahun 489 H beliau masuk kota Damaskus dan tinggal beberapa hari. Kemudian menziarahi Baitul Maqdis beberapa lama, dan kembali ke Damaskus beri’tikaf di menara barat masjid Jami’ Damaskus. Beliau banyak duduk di pojok tempat Syaikh Nashr bin Ibrahim Al Maqdisi di masjid Jami’ Umawi (yang sekarang dinamai Al Ghazaliyah). Tinggal di sana dan menulis kitab Ihya Ulumuddin, Al Arba’in, Al Qisthas dan kitab Mahakkun Nadzar. Melatih jiwa dan mengenakan pakaian para ahli ibadah. Beliau tinggal di Syam sekitar 10 tahun.

Ibnu Asakir berkata, “Abu Hamid rahimahullah berhaji dan tinggal di Syam sekitar 10 tahun. Beliau menulis dan bermujahadah dan tinggal di menara barat masjid Jami’ Al Umawi. Mendengarkan kitab Shahih Bukhari dari Abu Sahl Muhammad bin Ubaidilah Al Hafshi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).

Disampaikan juga oleh Ibnu Khallakan dengan perkataannya, “An Nidzam (Nidzam Mulk) mengutusnya untuk menjadi pengajar di madrasahnya di Baghdad tahun 484 H. Beliau tinggalkan jabatannya pada tahun 488 H. Lalu menjadi orang yang zuhud, berhaji dan tinggal menetap di Damaskus beberapa lama. Kemudian pindah ke Baitul Maqdis, lalu ke Mesir dan tinggal beberapa lama di Iskandariyah. Kemudian kembali ke Thusi.” (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34).

Ketika Wazir Fakhrul Mulk menjadi penguasa Khurasan, beliau dipanggil hadir dan diminta tinggal di Naisabur. Sampai akhirnya beliau datang ke Naisabur dan mengajar di madrasah An Nidzamiyah beberapa saat. Setelah beberapa tahun, pulang ke negerinya dengan menekuni ilmu dan menjaga waktunya untuk beribadah. Beliau mendirikan satu madrasah di samping rumahnya dan asrama untuk orang-orang shufi. Beliau habiskan sisa waktunya dengan mengkhatam Al Qur’an, berkumpul dengan ahli ibadah, mengajar para penuntut ilmu dan melakukan shalat dan puasa serta ibadah lainnya sampai meninggal dunia.

Masa Akhir Kehidupannya

Akhir kehidupan beliau dihabiskan dengan kembali mempelajari hadits dan berkumpul dengan ahlinya. Berkata Imam Adz Dzahabi, “Pada akhir kehidupannya, beliau tekun menuntut ilmu hadits dan berkumpul dengan ahlinya serta menelaah shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Seandainya beliau berumur panjang, niscaya dapat menguasai semuanya dalam waktu singkat. Beliau belum sempat meriwayatkan hadits dan tidak memiliki keturunan kecuali beberapa orang putri.”

Abul Faraj Ibnul Jauzi menyampaikan kisah meninggalnya beliau dalam kitab Ats Tsabat Indal Mamat, menukil cerita Ahmad (saudaranya); Pada subuh hari Senin, saudaraku Abu Hamid berwudhu dan shalat, lalu berkata, “Bawa kemari kain kafan saya.” Lalu beliau mengambil dan menciumnya serta meletakkannya di kedua matanya, dan berkata, “Saya patuh dan taat untuk menemui Malaikat Maut.” Kemudian beliau meluruskan kakinya dan menghadap kiblat. Beliau meninggal sebelum langit menguning (menjelang pagi hari). (Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 6/34). Beliau wafat di kota Thusi, pada hari Senin tanggal 14 Jumada Akhir tahun 505 H dan dikuburkan di pekuburan Ath Thabaran (Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/201).

Karya-Karyanya

The Inkoherensi Islam
The inkoherensi dari para filsuf menandai suatu titik balik dalam filsafat Islam di penolakan keras atas Aristoteles dan Plato . Buku ini membidik pada filsafat, sebuah kelompok yang didefinisikan secara longgar dari filsuf Islam dari abd 8 sampai abad ke-11 (yang paling menonjol di antara mereka Ibnu Sina dan Al-Farabi ) yang menarik secara intelektual atas Yunani Kuno. Ghazali mengecam pahit Aristoteles, Socrates dan penulis Yunani lainnya sebagai non-Muslim dan orang-orang yang bekerja berlabel metode dan ide-ide sebagai koruptor dari iman Islam.

The inkoherensi dari para filsuf terkenal untuk mengusulkan dan membela teori Asharite dari occasionalism. Ghazali terkenal mengklaim bahwa ketika kebakaran dan kapas ditempatkan di kontak, kapas dibakar langsung oleh Allah dan bukan oleh api, sebuah klaim yang ia pertahankan dengan menggunakan logika . Dia berargumen bahwa karena Tuhan biasanya dilihat sebagai rasional, bukan sewenang-wenang, perilaku di biasanya menyebabkan peristiwa dalam urutan yang sama (misalnya, apa yang tampaknya kita menjadi penyebab efisien) dapat dipahami sebagai outworking alami alasan yang prinsip, yang kemudian kita menggambarkan sebagai hukum alam . berbicara dengan benar, tetapi, ini bukan hukum alam tetapi undang-undang oleh mana Allah memilih untuk mengatur tingkah laku sendiri (otonomi-nya, dalam arti sempit) – dengan kata lain, rasional kehendaknya.

Namun, Ghazali tidak menyatakan dukungan bagi metodologi ilmiah yang didasarkan pada demonstrasi dan matematika, sementara membahas astronomi . Setelah menggambarkan ilmiah fakta dari Gerhana matahari yang timbul dari Bulan datang antara Matahari dan Bumi dan Gerhana bulan dari Bumi datang antara Matahari dan Bulan, ia menulis:
Barang siapa yang berpikir bahwa untuk terlibat dalam perdebatan untuk menyangkal teori tersebut adalah sebuah kewajiban agama merugikan agama dan melemahkan itu. Untuk hal ini bertumpu pada demonstrasi, geometri dan aritmatika, yang tidak meninggalkan ruang bagi keraguan.

Dalam pembelaannya terhadap doktrin Asharite dari alam semesta diciptakan yang temporal terbatas , terhadap Aristotelian doktrin alam semesta yang abadi, Al-Ghazali mengusulkan modal teori kemungkinan dunia , dunia nyata dengan alasan bahwa mereka adalah yang terbaik dari semua kemungkinan dunia dari antara semua alternatif jadwal dan sejarah dunia bahwa Allah mungkin bisa dibuat. Teorinya paralel bahwa dari Duns Scotus di abad ke-14. Meskipun masih belum pasti apakah Al-Ghazali memiliki pengaruh pada Scotus, mereka berdua mungkin memiliki teori mereka berasal dari bacaan mereka Avicenna ‘s Metafisika.

Pada abad berikutnya, Ibn Rusyd (juga dikenal di Barat sebagai Averroes) menyusun sebuah bantahan panjang inkoherensi Ghazali berjudul The inkoherensi dari ketidaklogisan , namun perjalanan epistemologis pemikiran Islam sudah ditetapkan.

The Deliverance Dari Kesalahan

The autobiografi Ghazali menulis menjelang akhir hidupnya, The Deliverance Dari Kesalahan (-Munqidh min Al al-Dalal; beberapa terjemahan bahasa Inggris) dianggap sebuah karya sangat penting. Di dalamnya, Ghazali menceritakan bagaimana, sekali krisis skeptisisme epistemologis diselesaikan oleh “cahaya yang Allah yang Maha Tinggi dilemparkan ke payudara saya … kunci pengetahuan yang paling,” ia belajar dan menguasai argumen Kalam, filsafat Islam. Meskipun menghargai apa yang berlaku dalam dua pertama ini, setidaknya, ia memutuskan bahwa ketiga pendekatan tidak memadai dan nilai akhir hanya ditemukan dalam pengalaman mistik dan wawasan spiritual (Kerohanian Umat berpikir intuitif – Firasa dan Nur) ia mencapai sebagai akibat dari berikut praktek sufi. William James , di Varieties Pengalaman Keagamaan , dianggap otobiografi dokumen penting untuk “sastra murni mahasiswa yang ingin berkenalan dengan kekuatan batin dari agama-agama selain Kristen” karena kelangkaan dicatat pribadi agama pengakuan dan otobiografi sastra dari periode ini luar tradisi Kristen.

Dalam karya ini, Ghazali menyatakan dukungan bagi matematika sebagai ilmu pasti, tapi berpendapat bahwa tidak dapat digunakan sebagai bentuk bukti untuk atau metafisik doktrin agama karena mereka non- fisik alam. Dia berpendapat bahwa agama dan metafisika tidak membutuhkan matematika dalam arti bahwa puisi tidak membutuhkan matematika atau dalam arti bahwa filologi atau tata bahasa dapat dikuasai tanpa pengetahuan tentang ilmu matematika. Dia juga berpendapat bahwa setiap disiplin memiliki pakar-pakar sendiri dan yang ahli dalam satu disiplin, dalam hal ini matematika, mungkin gagal total dalam disiplin lain, dalam hal ini agama dan metafisika. Ghazali melihat kegunaan praktis matematika dan mengutuk orang-orang yang menolak ilmu matematika:
Kejahatan berat terhadap agama memang telah dilakukan oleh orang yang membayangkan bahwa Islam dipertahankan oleh penolakan dari ilmu-ilmu matematika, melihat bahwa tidak ada kebenaran terungkap dalam menentang ilmu-ilmu ini dengan cara baik negasi atau afirmasi, dan tidak ada dalam ilmu menentang kebenaran agama.

Kebangkitan Ilmu-ilmu Agama

Satu lagi karya besar yang Ghazali adalah Kebangkitan Ilmu Agama (Ihya ‘Ulum al-Din atau Ihya’ul Ulumuddin). Ini mencakup hampir semua bidang ilmu agama Islam: Fiqih (yurisprudensi Islam), Kalam ( teologi Islam ) dan tasawuf. Ini berisi empat bagian utama: Kisah ibadah (‘al Gosok-‘ibadat), Perilaku Hidup Sehari-hari (‘ al Gosok-‘adatat), Cara ke neraka (‘al Gosok-‘muhlikat) dan cara untuk Salavation (Rub ‘al-‘munjiyat). Dikatakan bahwa ia digunakan Abu Thalib al-Makki sebagai salah satu sumber itu. Dia kemudian menulis sebuah versi singkat dari buku ini di Persia dalam The Alchemy of Happiness (Kīmyāye Sa’ādat).

Dalam buku ini, ia diklasifikasikan matematika dan obat abad pertengahan Islam sebagai terpuji (mamdūh) ilmu dan menganggap mereka menjadi kewajiban masyarakat ( kifāyah hukumnya ). Dia menulis:
Ilmu pengetahuan yang dianggap kifāyah hukumnya terdiri [semua ilmu] yang sangat diperlukan bagi kesejahteraan dunia seperti: obat yang diperlukan untuk kehidupan tubuh, aritmatika untuk transaksi sehari-hari dan pembagian warisan dan warisan, serta lain. Ini adalah ilmu-ilmu yang, karena tidak adanya mereka, masyarakat akan berkurang menjadi sempit Selat Malaka.

atomisme

Ghazali bertanggung jawab untuk merumuskan sekolah Asy’ari dari atomisme . Dia berargumen bahwa atom adalah abadi, hanya ada hal-hal material, dan semua orang di dunia adalah “kebetulan” sesuatu yang berarti bahwa hanya berlangsung sesaat. Tidak ada yang kebetulan bisa menjadi penyebab apa pun, kecuali persepsi, seperti yang ada sejenak. peristiwa kontinjensi tidak tunduk pada sebab-sebab fisik alam, tetapi merupakan akibat langsung dari intervensi konstan Allah, tanpa yang tidak ada yang bisa terjadi. sifat demikian sangat tergantung pada Allah, yang konsisten dengan ide-ide lain Asy’ari Islam pada sebab-akibat , atau kekurangan itu.

Dalam teori atom , Ghazali menyinggung kemungkinan membagi atom. Dengan mengacu pada divisi luas di kalangan umat Islam, ia menulis: “Muslim begitu baik membagi bahwa mereka dapat membagi atom,. Jika Anda melihat dua muslim mungkin mereka milik 3 pihak”.

Pada abad keempat belas, Nicholas dari Autrecourt dianggap bahwa materi, ruang, dan waktu semua terdiri dari atom-atom dapat dibagi, poin, dan instants dan bahwa semua generasi dan korupsi terjadi dengan penataan ulang atom material. Kesamaan ide dengan orang-Ghazali menyatakan bahwa Nicholas akrab dengan karya Ghazali, yang dikenal sebagai “Algazel” di Eropa, baik secara langsung atau tidak langsung melalui Ibn Rusyd.

Harus dicatat bahwa Al Ghazali pernah menulis tentang proton, neutron, fisika atom bertabrakan atau pembentukan molekul. Teorinya hanya berkaitan dengan gagasan bahwa hal-hal yang bisa dipecah menjadi bagian-bagian yang sangat kecil, karena ada sejenak. Tulisan-tulisannya pernah mencapai tingkat detail yang fisika modern

Kosmologi dan Astronomi

Dalam kosmologi , berbeda dengan filsuf Yunani kuno seperti Aristoteles yang percaya bahwa alam semesta memiliki masa lalu yang tak terbatas tanpa awal, filsuf dan teolog abad pertengahan mengembangkan konsep alam semesta yang memiliki masa lalu hingga dengan awal ( finitism temporal ). Pandangan ini diilhami oleh keyakinan dalam ciptaan bersama oleh tiga agama Abrahamik : Yudaisme, Kristen dan Islam. Filsuf Kristen, John Philoponus , disajikan argumen seperti pertama terhadap gagasan Yunani kuno masa lalu yang tak terbatas. logika-Nya diadopsi oleh banyak orang, terutama dan Muslim filsuf, Al-Kindi (Alkindus); filsuf Yahudi, Saadia Gaon (Saadia ben Joseph), dan akhirnya Ghazali. Mereka mengusulkan dua argumen logis terhadap masa lalu yang tak terbatas, yang pertama adalah argumen “dari kemustahilan keberadaan tak terbatas yang sebenarnya”, yang menyatakan:
“Seorang yang tak terbatas sebenarnya tidak bisa eksis.”
“Sebuah regresi temporal yang tak terbatas adalah peristiwa aktual yang tak terbatas.”
“. • Sebuah regresi temporal peristiwa tak terbatas tidak dapat ada..”

Argumen kedua, argumen “dari kemustahilan menyelesaikan aktual yang tak terbatas dengan penambahan berturut-turut”, menyatakan:
“Seorang yang tak terbatas sebenarnya tidak dapat diselesaikan dengan penambahan berturut-turut.”
“Seri temporal peristiwa masa lalu telah selesai dengan penambahan berturut-turut.”
“. •. Temporal Seri peristiwa masa lalu tidak dapat menjadi tak terbatas yang sebenarnya.”

Kedua argumen diadopsi oleh Kristen kemudian filsuf dan teolog, dan argumen kedua pada khususnya menjadi lebih terkenal setelah diadopsi oleh Immanuel Kant dalam tesisnya dari antinomy pertama tentang waktu .

-Ghazali kritik fisika Aristoteles dan kosmologi Aristotelian memainkan peran penting dalam pengembangan astronomi independen selama beberapa abad berikutnya. Dari abad ke-12 dan seterusnya, astronomi Islam mulai menjadi ilmu pengetahuan terutama tergantung pada pengamatan daripada filsafat, terutama karena oposisi agama dari teolog Islam , yang paling menonjol Al-Ghazali, yang menentang campur tangan Aristotelianisme dalam astronomi , membuka kemungkinan untuk sebuah astronomi yang tidak dibatasi oleh filsafat Aristoteles. Contoh, Asy’ari doktrin mempengaruhi teolog Fakhr al-Din al-Razi (1149-1209) untuk menolak gagasan Aristotelian dari Earth’s sentralitas dalam alam semesta dan sebagai gantinya mengusulkan gagasan tentang multiverse yang terdiri dari banyak dunia dan semesta, “sedemikian rupa sehingga masing-masing dunia tersebut menjadi lebih besar dan lebih besar daripada dunia ini serta memiliki seperti apa dunia ini.” Al-Razi juga mengkritik gagasan Aristotelian padat celestial sphere dan menyarankan ini mungkin “hanya orbit abstrak dilacak oleh bintang-bintang”.

Adud teolog al-Din al-Iji (1281-1355), di bawah pengaruh doktrin Asy’ari Ghazali-Al occasionalism , yang menyatakan bahwa semua efek fisik yang disebabkan secara langsung oleh kehendak Allah bukan oleh sebab-sebab alamiah, menolak Aristoteles prinsip dari sebuah prinsip bawaan gerak melingkar dalam benda-benda langit, dan mempertahankan bahwa celestial sphere adalah “hal-hal yang imajiner” dan “lebih lemah dari laba-laba’s web”. Di bawah pengaruh tersebut, Ali al-Qushji (d ). 1474 menolak fisika Aristoteles dan benar-benar dipisahkan dari astronomi, astronomi memungkinkan untuk menjadi murni empiris sains dan matematika. Hal ini memungkinkan dia untuk mengeksplorasi alternatif gagasan Aristotelian dari Bumi diam, seperti ia menjelajahi gagasan Bumi bergerak . Ia menyimpulkan, berdasarkan bukti empiris daripada filsafat spekulatif, bahwa teori Bumi bergerak sama mungkin benar sebagai teori Bumi diam dan bahwa tidak mungkin untuk menyimpulkan secara empiris teori yang benar.

Logika

Dalam logika Islam , Al-Ghazali memiliki pengaruh penting pada penggunaan logika dalam teologi Islam , karena ia adalah orang pertama yang menerapkan sistem Avicennian dari temporal logika modal untuk teologi Islam. Ia juga mendirikan penerapan tiga jenis logis sistem dalam Islam Syariah hukum dan Fiqh yurisprudensi: penalaran dengan analogi , logika deduktif dan logika induktif . Dalam kasus yang memiliki beberapa hukum preseden , ia merekomendasikan penggunaan logika induktif, menyatakan bahwa “lebih besar jumlah potongan-potongan bukti tekstual adalah, semakin kuat kita menjadi pengetahuan.”

Psikologi

Dalam Psikologi Islam dan Psikologi sufi , Ghazali membahas konsep diri dan penyebab kesengsaraan dan kebahagiaan. Dia menggambarkan empat menggunakan istilah sendiri: Qalb (jantung), Ruh (roh), Nafs (jiwa) dan ‘aql (intelek). Dia menyatakan bahwa “diri memiliki keinginan yang melekat untuk ideal , yang berusaha untuk menyadari dan ini dikaruniai dengan kualitas untuk membantu mewujudkan hal itu. ” Dia lebih lanjut menyatakan bahwa diri memiliki motif motor dan sensorik untuk memenuhi kebutuhan tubuh nya. Dia menulis bahwa motif motor terdiri dari kecenderungan dan impuls , dan selanjutnya membagi kecenderungan menjadi dua jenis: nafsu makan dan kemarahan. Dia menulis bahwa nafsu makan mendesak lapar, haus, dan keinginan seksual, sementara kemarahan mengambil bentuk kemarahan, kemarahan dan balas dendam. Dia lebih jauh menulis bahwa impuls tinggal di otot, saraf, dan jaringan, dan memindahkan organ untuk “memenuhi kecenderungan”.

Ghazali adalah salah satu yang pertama untuk membagi motif indra ( ketakutan ) menjadi lima indera eksternal (klasik indra pendengaran , penglihatan , bau , rasa dan sentuhan ) dan lima indera internal: akal sehat (Hiss Mushtarik) yang mensintesis tayangan sensual dibawa ke otak saat memberikan arti kepada mereka; imajinasi (Takhayyul) yang memungkinkan seseorang untuk mempertahankan citra mental dari pengalaman; refleksi (Tafakkur) yang menyatukan pemikiran yang relevan dan asosiasi atau memisahkan mereka sebagai yang dianggap sesuai tetapi tidak memiliki kekuatan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang tidak sudah ada dalam pikiran; ingatan (Tadhakkur) yang mengingat bentuk luar dari obyek di memori dan recollects artinya; dan memori ( Hafiza ) di mana jejak yang diterima melalui indra disimpan. Dia menulis bahwa, sementara indra eksternal terjadi melalui organ-organ tertentu, indera internal berlokasi di berbagai daerah di otak, dan menemukan bahwa memori terletak di menghambat lobus , imajinasi terletak di lobus frontal , dan refleksi terletak di tengah lipatan otak. Dia menyatakan bahwa indra batin memungkinkan orang untuk memprediksi situasi masa depan berdasarkan apa yang mereka belajar dari pengalaman masa lalu.

Dalam Kebangkitan Ilmu Agama, ia menulis bahwa panca indera internal ini ditemukan di manusia dan hewan. Dalam Mizan Al Amal, bagaimanapun, dia kemudian menyatakan bahwa binatang “tidak memiliki kekuatan yang dikembangkan reflektif-baik” dan berpendapat bahwa kebanyakan hewan berpikir tentang “ide-ide gambar dengan cara sederhana dan tidak mampu asosiasi dan disosiasi kompleks ide abstrak terlibat dalam refleksi. ” Dia menulis bahwa “membawa diri dua kualitas tambahan, yang membedakan manusia dari binatang yang memungkinkan manusia untuk mencapai kesempurnaan rohani”, yang adalah ‘aql (intelek) dan Irada ( akan ). Dia berargumen bahwa kecerdasan adalah “kemampuan rasional mendasar, yang memungkinkan manusia untuk menggeneralisasi dan bentuk konsep dan mendapatkan pengetahuan . ” Dia juga berpendapat bahwa akan manusia dan hewan akan keduanya berbeda. Dia menulis bahwa kehendak manusia adalah “dikondisikan oleh intelek” sedangkan hewan akan adalah “dikondisikan oleh amarah dan nafsu makan” dan bahwa “semua kendali kekuasaan dan mengatur tubuh.” Dia lebih lanjut menulis bahwa Qalb (jantung) “kontrol dan memerintah atas mereka” dan bahwa ia memiliki enam kekuatan: nafsu, kemarahan, dorongan, ketakutan, intelek, dan kehendak. Dia menyatakan bahwa manusia memiliki semua enam sifat-sifat, sedangkan hewan hanya memiliki tiga (nafsu makan, amarah, dan dorongan). Hal ini berbeda dengan pemikir kuno dan abad pertengahan lain seperti Aristoteles, Ibnu Sina, Roger Bacon dan Thomas Aquinas yang semua percaya bahwa binatang tidak bisa menjadi marah.

Ghazali menulis pengetahuan yang baik dapat bawaan atau didapat. Ia membagi pengetahuan bawaan ke fenomenal , ( dunia material ) dan spiritual (berkaitan dengan Allah dan jiwa), dan pengetahuan yang diperoleh dibagi menjadi imitasi , penalaran logis , kontemplasi dan intuisi . Dia juga berpendapat bahwa ada empat elemen dalam sifat manusia : orang bijak (intelek dan alasan ), babi ( hawa nafsu dan kerakusan ), anjing (kemarahan), dan iblis ( kebrutalan ). Dia berargumen bahwa tiga elemen terakhir yang bertentangan dengan unsur mantan dan bahwa “orang yang berbeda memiliki kekuasaan seperti itu dalam proporsi yang berbeda”.

Ghazali membagi Nafs dalam tiga kategori berdasarkan Al-Qur’an: Nafs Ammarah (12:53) yang “mengajak seseorang untuk secara bebas menikmati memuaskan nafsu dan instigates untuk melakukan “jahat, Nafs Lawammah (75:2) yang adalah” hati nurani yang mengarahkan manusia menuju atau salah “benar, dan Nafs Mutmainnah (89:27) yang adalah” diri yang mencapai akhir perdamaian . ” Sebagai analogi antara psikologi dan politik, ia dibandingkan jiwa dengan seorang raja kerajaan berjalan, dengan alasan bahwa organ-organ tubuh seperti para pengrajin dan pekerja, intelek adalah seperti wazir yang bijak, keinginan seperti seorang hamba yang jahat, dan kemarahan seperti kepolisian. Dia berpendapat bahwa seorang raja benar dapat menjalankan keadaan dengan kembali kepada wazir bijaksana, berpaling dari hamba yang jahat, dan mengatur para pekerja dan polisi, dan bahwa dengan cara yang sama, jiwa seimbang jika “terus marah bawah kontrol dan membuat keinginan mendominasi intelek. ” Dia berargumen bahwa bagi jiwa untuk mencapai kesempurnaan, perlu berkembang melalui beberapa tahapan: sensual (seperti kupu-kupu yang memiliki memori tidak), imajinatif (lebih rendah hewan), naluri hewan yang lebih tinggi (), rasional (“melampaui tahap hewan dan benda apprehends di luar jangkauan indra-Nya “) dan ilahi (” apprehends realitas hal-hal rohani “).

Dia menyatakan bahwa ada dua jenis penyakit: jasmani dan rohani. Ia menganggap yang kedua lebih berbahaya, hasil dari “kebodohan dan penyimpangan dari Allah”, dan mendaftarkan penyakit rohani sebagai: orang yang berpusat diri ; kecanduan kekayaan, ketenaran dan status sosial, dan ketidaktahuan, pengecut, kekejaman, nafsu, waswas ( ragu), kedengkian, fitnah, iri hati, penipuan, dan keserakahan. Untuk mengatasi kelemahan rohani, Ghazali menyarankan terapi yang berlawanan (“penggunaan imajinasi dalam mengejar lawan”), seperti ketidaktahuan dan belajar, atau benci & cinta. Dia menggambarkan kepribadian sebagai integrasi “spiritual dan kekuatan tubuh” dan percaya bahwa “kedekatan dengan Allah adalah setara dengan normal sedangkan jarak dari Allah menyebabkan kelainan”.

Ghazali berpendapat bahwa manusia menempati posisi “tengah-tengah antara hewan dan malaikat dan kualitas nya membedakan adalah pengetahuan.” Dia berpendapat bahwa manusia yang dapat menimbulkan “tingkat malaikat dengan bantuan pengetahuan” atau jatuh ke “tingkat hewan dengan membiarkan kemarahan dan nafsu mendominasi dia.” Dia juga berpendapat bahwa Ilm al-Batin ( esotericism ) adalah hukumnya (incumbent) dan disarankan Tazkiya Nafs ( penyucian diri ). Ia juga mencatat bahwa “melakukan yang baik hanya bisa timbul dari dalam dan tidak perlu kehancuran total kecenderungan alam”.

Beliau seorang yang produktif menulis. Karya ilmiah beliau sangat banyak sekali. Di antara karyanya yang terkenal ialah:

Pertama, dalam masalah ushuluddin dan aqidah tauhid dan teologi:
1. Arba’in Fi Ushuliddin. Merupakan juz kedua dari kitab beliau Jawahirul Qur’an.
2. Qawa’idul Aqa’id, yang beliau satukan dengan Ihya’ Ulumuddin pada jilid pertama.
3. Al Iqtishad Fil I’tiqad.
4. Tahafut Al Falasifah. Berisi bantahan beliau terhadap pendapat dan pemikiran para filosof dengan menggunakan kaidah mazhab Asy’ariyah.
5. Faishal At Tafriqah Bainal Islam Wa Zanadiqah.
6. al-Munqidh min al-Dalal (Penyelamat dari kesesatan)
7. Hujjat al-Haq (Bukti Kebenaran)
8. al-Iqtisad fil-i `tiqad (Median dalam Kepercayaan)
9. al-maqsad al-Asna fi sharah Asma ‘Allahu al-Husna (Yang berarti terbaik dalam menjelaskan Nama Indah Allah)
10. Jawahir al-Qur’an wa duraruh (Perhiasan-perhiasan milik Al-Qur’an dan Mutiara perusahaan)
11. Fayasl al-tafriqa bayn al-Islam wa-l-zandaqa (Kriteria dari Perbedaan antara Islam dan kekafiran Bawah Tanah)
12. Mishkat al-Anwar ( The Niche of Lights )
13. Tafsir al-Yaqut al-ta’wil
14. Sirr al-`Alamin (semesta alam Rahasia)
15. al-Risalah al-Qudsiyyah (The Saluran Yerusalem)

Kedua, dalam ilmu ushul, fikih, filsafat, manthiq dan tasawuf,
beliau memiliki karya yang sangat banyak. Secara ringkas dapat kita kutip yang terkenal, di antaranya:
Karya Sufisme :
1. Mizan al-‘amal (Kriteria Aksi)
2. Ihya ‘ulum al-din, “Kebangkitan Agama Ilmu”, Ghazali yang paling penting pekerjaan
3. Bidayat al-Hidayah (Awal Bimbingan)
4. Kimyaye sa’ādat Kimiya ( The Alchemy of Happiness ) [versi kompak Ihya, dalam bahasa Persia]
5. Nasihat al-Muluk (Raja Konseling) [dalam bahasa Persia]
6. al-Munqidh min al-Dalal (Penyelamat dari kesesatan)
7. Minhaj Al-‘Abidin (Metodologi untuk penyembah

Karya Filsafat

1. Filsuf Maqasid al (Tujuan Filsuf) [ditulis di awal hidupnya, yang mendukung filsafat dan penyajian teori dasar dalam bidang Filsafat, terutama dipengaruhi oleh Avicenna bekerja]
2. Tahafut al-filsuf ( The inkoherensi dari para filsuf ), [dalam buku ini ia menyangkal Filsafat Yunani yang bertujuan Ibnu Sina dan Al-Farabi dan Ibn Rusyd yang menulis bantahan terkenal Tahafut al-tahafut (The inkoherensi dari inkoherensi)]
3. Miyar fi Ilm-fan al-Mantiq (Kriteria Pengetahuan dalam Seni Logic)
4. Mihak al-Nazar fi al-mantiq (Touchstone dari Penalaran di Logic)
5. al-al-Mustaqim Qistas (The Saldo Correct)

Yurisprudensi
1. Fatawy al-Ghazali (Putusan Ghazali)
2. Al-Wasit fi al-mathab (The [media mencerna] di sekolah yurisprudensi)
3. Tahzib Kitab al-Isul (Prunning pada Teori Hukum)
4. al-Mustasfa fi ‘ilm al-isul (The Klarifikasi dalam Teori Hukum)
5. Asas al-qiyas (Yayasan penalaran analogis)

(1) Al Mustashfa Min Ilmil Ushul. Merupakan kitab yang sangat terkenal dalam ushul fiqih. Yang sangat populer dari buku ini ialah pengantar manthiq dan pembahasan ilmu kalamnya. Dalam kitab ini Imam Ghazali membenarkan perbuatan ahli kalam yang mencampur adukkan pembahasan ushul fikih dengan pembahasan ilmu kalam dalam pernyataannya, “Para ahli ushul dari kalangan ahli kalam banyak sekali memasukkan pembahasan kalam ke dalamnya (ushul fiqih) lantaran kalam telah menguasainya. Sehingga kecintaannya tersebut telah membuatnya mencampur adukkannya.” Tetapi kemudian beliau berkata, “Setelah kita mengetahui sikap keterlaluan mereka mencampuradukkan permasalahan ini, maka kita memandang perlu menghilangkan dari hal tersebut dalam kumpulan ini. Karena melepaskan dari sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sangatlah sukar……” (Dua perkataan beliau ini dinukil dari penulis Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al Mustashfa hal. 17 dan 18).

Lebih jauh pernyataan beliau dalam Mukaddimah manthiqnya, “Mukadimah ini bukan termasuk dari ilmu ushul. Dan juga bukan mukadimah khusus untuknya. Tetapi merupakan mukadimah semua ilmu. Maka siapa pun yang tidak memiliki hal ini, tidak dapat dipercaya pengetahuannya.” (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asya’irah dari Al Mustashfa hal. 19).

Kemudian hal ini dibantah oleh Ibnu Shalah. beliau berkata, “Ini tertolak, karena setiap orang yang akalnya sehat, maka berarti dia itu manthiqi. Lihatlah berapa banyak para imam yang sama sekali tidak mengenal ilmu manthiq!” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Demikianlah, karena para sahabat juga tidak mengenal ilmu manthiq. Padahal pengetahuan serta pemahamannya jauh lebih baik dari para ahli manthiq.

(2) Mahakun Nadzar.

(3) Mi’yarul Ilmi. Kedua kitab ini berbicara tentang mantiq dan telah dicetak.

(4) Ma’ariful Aqliyah. Kitab ini dicetak dengan tahqiq Abdulkarim Ali Utsman.

(5) Misykatul Anwar. Dicetak berulangkali dengan tahqiq Abul Ala Afifi.

(6) Al Maqshad Al Asna Fi Syarhi Asma Allah Al Husna. Telah dicetak.

(7) Mizanul Amal. Kitab ini telah diterbitkan dengan tahqiq Sulaiman Dunya.

(8) Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi. Oleh para ulama, kitab ini diperselisihkan keabsahan dan keontetikannya sebagai karya Al Ghazali. Yang menolak penisbatan ini, diantaranya ialah Imam Ibnu Shalah dengan pernyataannya, “Adapun kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, bukanlah karya beliau. Aku telah melihat transkipnya dengan khat Al Qadhi Kamaluddin Muhammad bin Abdillah Asy Syahruzuri yang menunjukkan, bahwa hal itu dipalsukan atas nama Al Ghazali. Beliau sendiri telah menolaknya dengan kitab Tahafut.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329).

Banyak pula ulama yang menetapkan keabsahannya. Di antaranya yaitu Syaikhul Islam, menyatakan, “Adapun mengenai kitab Al Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, sebagian ulama mendustakan penetapan ini. Akan tetapi para pakar yang mengenalnya dan keadaannya, akan mengetahui bahwa semua ini merupakan perkataannya.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/329). Kitab ini diterbitkan terakhir dengan tahqiq Riyadh Ali Abdillah.

(9) Al Ajwibah Al Ghazaliyah Fil Masail Ukhrawiyah.

(10) Ma’arijul Qudsi fi Madariji Ma’rifati An Nafsi.

(11) Qanun At Ta’wil.

(12) Fadhaih Al Bathiniyah dan Al Qisthas Al Mustaqim. Kedua kitab ini merupakan bantahan beliau terhadap sekte batiniyah. Keduanya telah terbit.

(13) Iljamul Awam An Ilmil Kalam. Kitab ini telah diterbitkan berulang kali dengan tahqiq Muhammad Al Mu’tashim Billah Al Baghdadi.

(14) Raudhatuth Thalibin Wa Umdatus Salikin, diterbitkan dengan tahqiq Muhammad Bahit.

(15) Ar Risalah Alladuniyah.

(16) Ihya’ Ulumuddin. Kitab yang cukup terkenal dan menjadi salah satu rujukan sebagian kaum muslimin di Indonesia. Para ulama terdahulu telah berkomentar banyak tentang kitab ini, di antaranya:

Abu Bakar Al Thurthusi berkata, “Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya’ dengan kedustaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saya tidak tahu ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasail Ikhwanush Shafa. Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat diusahakan.” (Dinukil Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/334).

Dalam risalahnya kepada Ibnu Mudzaffar, beliau pun menyatakan, “Adapun penjelasan Anda tentang Abu Hamid, maka saya telah melihatnya dan mengajaknya berbicara. Saya mendapatkan beliau seorang yang agung dari kalangan ulama. Memiliki kecerdasan akal dan pemahaman. Beliau telah menekuni ilmu sepanjang umurnya, bahkan hampir seluruh usianya. Dia dapat memahami jalannya para ulama dan masuk ke dalam kancah para pejabat tinggi. Kemudian beliau bertasawuf, menghijrahi ilmu dan ahlinya dan menekuni ilmu yang berkenaan dengan hati dan ahli ibadah serta was-was syaitan. Sehingga beliau rusak dengan pemikiran filsafat dan Al Hallaj (pemikiran wihdatul wujud). Mulai mencela ahli fikih dan ahli kalam. Sungguh dia hampir tergelincir keluar dari agama ini. Ketika menulis Al Ihya’ beliau mulai berbicara tentang ilmu ahwal dan rumus-rumus sufiyah, padahal belum mengenal betul dan tidak memiliki keahlian tentangnya. Sehingga dia berbuat kesalahan fatal dan memenuhi kitabnya dengan hadits-hadits palsu.” Imam Adz Dzahabi mengomentari perkataan ini dengan pernyataannya, “Adapun di dalam kitab Ihya’ terdapat sejumlah hadits-hadits yang batil dan terdapat kebaikan padanya, seandainya tidak ada adab dan tulisan serta zuhud secara jalannya ahli hikmah dan sufi yang menyimpang.” (Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala 19/339-340).

Imam Subuki dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah (Lihat 6/287-288) telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al Ihya’ dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abul Fadhl Abdurrahim Al Iraqi mentakhrij hadits-hadits Al Ihya’ dalam kitabnya, Al Mughni An Asfari Fi Takhrij Ma Fi Al Ihya Minal Akhbar. Kitab ini dicetak bersama kitab Ihya Ulumuddin. Beliau sandarkan setiap hadits kepada sumber rujukannya dan menjelaskan derajat keabsahannya. Didapatkan banyak dari hadits-hadits tersebut yang beliau hukumi dengan lemah dan palsu atau tidak ada asalnya dari perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka berhati-hatilah para penulis, khathib, pengajar dan para penceramah dalam mengambil hal-hal yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin.

(17) Al Munqidz Minad Dhalalah. Tulisan beliau yang banyak menjelaskan sisi biografinya.

(18) Al Wasith.

(19) Al Basith.

(20) Al Wajiz.

(21) Al Khulashah. Keempat kitab ini adalah kitab rujukan fiqih Syafi’iyah yang beliau tulis. Imam As Subki menyebutkan 57 karya beliau dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/224-227.

Aqidah dan Madzhab Beliau

Dalam masalah fikih, beliau seorang yang bermazhab Syafi’i. Nampak dari karyanya Al Wasith, Al Basith dan Al Wajiz. Bahkan kitab beliau Al Wajiz termasuk buku induk dalam mazhab Syafi’i. Mendapat perhatian khusus dari para ulama Syafi’iyah. Imam Adz Dzahabi menjelaskan mazhab fikih beliau dengan pernyataannya, “Syaikh Imam, Hujjatul Islam, A’jubatuz zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi Asy Syafi’i.”

Sedangkan dalam sisi akidah, beliau sudah terkenal dan masyhur sebagai seorang yang bermazhab Asy’ariyah. Banyak membela Asy’ariyah dalam membantah Bathiniyah, para filosof serta kelompok yang menyelisihi mazhabnya. Bahkan termasuk salah satu pilar dalam mazhab tersebut. Oleh karena itu beliau menamakan kitab aqidahnya yang terkenal dengan judul Al Iqtishad Fil I’tiqad. Tetapi karya beliau dalam aqidah dan cara pengambilan dalilnya, hanyalah merupakan ringkasan dari karya tokoh ulama Asy’ariyah sebelum beliau (pendahulunya). Tidak memberikan sesuatu yang baru dalam mazhab Asy’ariyah. Beliau hanya memaparkan dalam bentuk baru dan cara yang cukup mudah. Keterkenalan Imam Ghazali sebagai tokoh Asy’ariyah juga dibarengi dengan kesufiannya. Beliau menjadi patokan marhalah yang sangat penting menyatunya Sufiyah ke dalam Asy’ariyah.

Akan tetapi tasawuf apakah yang diyakini beliau? Memang agak sulit menentukan tasawuf beliau. Karena seringnya beliau membantah sesuatu, kemudian beliau jadikan sebagai aqidahnya. Beliau mengingkari filsafat dalam kitab Tahafut, tetapi beliau sendiri menekuni filsafat dan menyetujuinya.

Ketika berbicara dengan Asy’ariyah tampaklah sebagai seorang Asy’ari tulen. Ketika berbicara tasawuf, dia menjadi sufi. Menunjukkan seringnya beliau berpindah-pindah dan tidak tetap dengan satu mazhab. Oleh karena itu Ibnu Rusyd mencelanya dengan mengatakan, “Beliau tidak berpegang teguh dengan satu mazhab saja dalam buku-bukunya. Akan tetapi beliau menjadi Asy’ari bersama Asy’ariyah, sufi bersama sufiyah dan filosof bersama filsafat.” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 110).

Adapun orang yang menelaah kitab dan karya beliau seperti Misykatul Anwar, Al Ma’arif Aqliyah, Mizanul Amal, Ma’arijul Quds, Raudhatuthalibin, Al Maqshad Al Asna, Jawahirul Qur’an dan Al Madmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi, akan mengetahui bahwa tasawuf beliau berbeda dengan tasawuf orang sebelumnya. Syaikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud menjelaskan tasawuf Al Ghazali dengan menyatakan, bahwa kunci mengenal kepribadian Al Ghazali ada dua perkara:

Pertama, pendapat beliau, bahwa setiap orang memiliki tiga aqidah. Yang pertama, ditampakkan di hadapan orang awam dan yang difanatikinya. Kedua, beredar dalam ta’lim dan ceramah. Ketiga, sesuatu yang dii’tiqadi seseorang dalam dirinya. Tidak ada yang mengetahui kecuali teman yang setara pengetahuannya. Bila demikian, Al Ghazali menyembunyikan sisi khusus dan rahasia dalam aqidahnya.

Kedua, mengumpulkan pendapat dan uraian singkat beliau yang selalu mengisyaratkan kerahasian akidahnya. Kemudian membandingkannya dengan pendapat para filosof saat beliau belum cenderung kepada filsafat Isyraqi dan tasawuf, seperti Ibnu Sina dan yang lainnya. (Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyariyah 2/628).

Beliau (Syeikh Dr. Abdurrahman bin Shalih Ali Mahmud) menyimpulkan hasil penelitian dan pendapat para peneliti pemikiran Al Ghazali, bahwa tasawuf Al Ghazali dilandasi filsafat Isyraqi (Madzhab Isyraqi dalam filsafat ialah mazhab yang menyatukan pemikiran dan ajaran dalam agama-agama kuno, Yunani dan Parsi. Termasuk bagian dari filsafat Yunani dan Neo-Platoisme. Lihat Al Mausu’ah Al Muyassarah Fi Al Adyan Wal Madzahibi Wal Ahzab Al Mu’ashirah, karya Dr. Mani’ bin Hamad Al Juhani 2/928-929). Sebenarnya inilah yang dikembangkan beliau akibat pengaruh karya-karya Ibnu Sina dan Ikhwanush Shafa. Demikian juga dijelaskan pentahqiq kitab Bughyatul Murtad dalam mukadimahnya. Setelah menyimpulkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap beliau dengan mengatakan, “Bantahan Ibnu Taimiyah terhadap Al Ghazali didasarkan kejelasannya mengikuti filsafat dan terpengaruh dengan sekte Bathiniyah dalam menta’wil nash-nash, walaupun beliau membantah habis-habisan mereka, seperti dalam kitab Al Mustadzhiri. Ketika tujuan kitab ini (Bughyatul Murtad, pen) adalah untuk membantah orang yang berusaha menyatukan agama dan filsafat, maka Syaikhul Islam menjelaskan bentuk usaha tersebut pada Al Ghazali. Yang berusaha menafsirkan nash-nash dengan tafsir filsafat Isyraqi yang didasarkan atas ta’wil batin terhadap nash, sesuai dengan pokok-pokok ajaran ahli Isyraq (pengikut filsafat neo-platonisme).” (Lihat Mukadimah kitab Bughyatul Murtad hal. 111).

Tetapi perlu diketahui, bahwa pada akhir hayatnya, beliau kembali kepada ajaran Ahlusunnah Wal Jama’ah meninggalkan filsafat dan ilmu kalam, dengan menekuni Shahih Bukhari dan Muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Penulis Jawahirul Qur’an (Al Ghazali, pen) karena banyak meneliti perkataan para filosof dan merujuk kepada mereka, sehingga banyak mencampur pendapatnya dengan perkataan mereka. Pun beliau menolak banyak hal yang bersesuaian dengan mereka. Beliau memastikan, bahwa perkataan filosof tidak memberikan ilmu dan keyakinan. Demikian juga halnya perkataan ahli kalam. Pada akhirnya beliau menyibukkan diri meneliti Shahih Bukhari dan Muslim hingga wafatnya dalam keadaan demikian. Wallahu a’lam.”

*************************************************************

unlimited
author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Syekh Imam al-Ghazali"